The Third Team – Revenge Mission (Chapter 2)

poster 3rdteam

The Third Team – Revenge Mission Part.2

Created by : Alicia Kim | Edited by : Ririn Setyo

Park Chanyeol | Kim Minhee | Kim Jongin | Byun Baekhyun| Xiumin | Zhang Yixing

Other Cast : Kris Wu | Oh Sehun | Kim Joonmyun | Song Jiyeon.

Genre : Action, Romance ( PG – 15 )

FF ini juga publish di blog: http://www.kireinara89.wordpress.com and http://www.ririnsetyo.wordpress.com dengan menggunakan yang berbeda.

*

*

*

 

Mall

Show Time

“Hei kau! Berikan aku kotak yang ada di tanganmu!”

Chanyeol menunjuk Badge NTS dan FBI pada seorang penjaga toko yang masih berada di dalam Mall. Ia berhenti ketika melihat penjaga toko yang memegang satu set kotak kecil berisi gunting tajam menyerupai Tang, tidak butuh waktu yang lama bagi Chanyeol untuk menyadari isi kotak mini tersebut. Chanyeol pun merebut paksa kotak mini tersebut karena pemiliknya tak ingin memberikan padanya, ia pun berjalan meninggalkan orang tersebut yang berteriak meminta kotak mini nya dikembalikan.

“Jika ku kembalikan, aku pastikan kau akan terpangang seperti ikan asin!” teriak Chanyeol tanpa membalikkan tubuhnya, Jongin membalikkan tubuhnya singkat tanpa menghentikan langkahnya, menahan tawa karena melihat pemilik kotak mini terdiam begitu saja.

“Kau tunggu disini.” Jongin terdiam mendengar perkataan Chanyeol, lebih tepatnya perintah yang Chanyeol katakan padanya.

“Tidak! Aku akan ikut kemanapun kau pergi!” tolak Jongin.

“Ya! Aku mau ke toilet, apa kau mau ikut?!” Chanyeol menatap Jongin malas, dahinya berkerut membatin dalam hatinya, menyesali kenapa ia harus berada satu team dengan pria berparas tidak lebih tampan dari dirinya.

“Jadi apa kau mau ikut?” Chanyeol menunjukkan Smirknya, ia memasukkan kotak mini tersebut dalam saku belakang celananya. “Kembalilah bersama Baekhyun dan Minhee, mereka membutuhkanmu.” Jongin menganggukkan kepalanya menatap khawatir ke arah Chanyeol. “Hei, aku akan baik-baik saja! Kau tak perlu khawatir, aku sudah terlatih bukan?” Chanyeol menepuk wajah Jongin lembut.

“Kau harus kembali, harus!”

“Tentu saja, aku terharu kau menghawatirkanku.”

“Bukan.” perkataan  Jongin membuat Chanyeol menghentikan kegiatannya.

“Kau berhutang 100 Dollar padaku, dan jika kau tak kembali, siapa yang akan menggantinya?” Jongin menatap Chanyeol dengan tatapan memelas. “Karena itu kau harus kembali dengan selamat.” Jongin menunjukka senyumnya membuat Chanyeol mendengus kesal seraya melayangkan tangannya untuk memukul kepala Jongin .

“AISSH ANAK INI!” Chanyeol berlari meninggalkan Jongin.

“Kembali bersama mereka, perhatikan notes yang aku tulis disana. Aku akan membutuhkan bantuanmu!” teriak Chanyeol yang berlari menuju tempat kejadian perkara dan Jongin pun kembali kedalam tenda.

Chanyeol berlari bergabung dengan yang lain, ia memelankan langkahnya, menghampiri Kenzi serta membisikan sesuatu. “Aku akan mendekati Ny Wilhem untuk memutuskan kabel detonator yang ada dibelakang tubuhnya,”

“Kau yakin?” Chanyeol menganggukan kepalanya meyakinkan teman FBI nya ini bahwa ia bisa melakukannya. “Aku membutuhkan bantuanmu. Jika aku sudah berhasil memutus kabelnya, kau harus membawa Ny Wilhem menjauh dari sini. Masih ada lagi pekerjaan yang harus ku lakukan dan ini lebih berbahaya.” Kenzi menganggukan kepalanya, menatap Chanyeol singkat kemudian mengikuti arah padang Chanyeol yang menatap Bobby dengan tajam.

****

Sementara itu Minhee yang berada di dalam tenda tidak mengalihkan pandangannya pada monitor yang menampilkan keadaan di tempat kejadian. Minhee lebih memusatkan perhatianya pada rekannya Chanyeol, ia masih belum mengerti apa yang akan dilakukan temannya ini.

“Aku tahu!!” teriak Minhee tiba-tiba, membuat Baekhyun dan Jongin yang baru saja kembali ke dalam tenda, serta Yixing yang berada di Korea terkejut. Minhee menekan tombol Earphone yang terdapat di telinganya untuk memberikan informasi pada rekan-rekan yang berada di lapangan, setelah Chanyeol memberikan anggukan seraya menatap kamera CCTV yang berada tak jauh darinya.

“Chanyeol akan menutus kabel detonator yang terdapat di belakang tubuh Ny Wilhem, tolong alihkan perhatian Bobby sementara ia melakukannya dan jika sudah berhasil, aku minta beberapa Agent segera membawa Ny dan tuan Wilhem menjauh dari sana. SWAT akan bersiap menerima mereka diluar gedung.”

“Call The SWAT , Now!!” teriak Jongin pada anggota FBI yang ada didalam tenda, tanpa diminta dua kali salah satu anggota FBI mengangkat gagang telepon dan menghubungi anggota SWAT yang sudah berjaga-jaga diluar gedung Mall.

S.W.A.T (Special Weapons and Tactics) adalah team dari satuan penegak hukium yang menggunakan senjata militer dan taktik khusus dalam operasi-operasi yang beresiko tinggi yang berada diluar kemampuan polisi berseragam biasa. Tugas SWAT diantara lain untuk menghadapi kriminal bersenjata berat, melakukan misi penyelamatan sandera, Operasi kontra- terorisme.

Jongin berjalan keluar menemui anggota SWAT untuk membicarakan rencana selanjutnya. “Dengarkan aku baik-baik, dua orang sandera akan keluar dari dalam Mall bersama beberapa anggota FBI, kalian harus membawanya ke markas FBI dengan pengawalan yang ketat, disana ada NTS Byun Xiumin dan FBI Megan yang akan menerima mereka.” Jongin menatap beberapa pimpinan lapangan anggota SWAT.

“Dan aku minta beberapa anggota kalian secara perlahan untuk memasuki gedung Mall dari pintu belakang, bawa juga tim penjinak bom yang kalian miliki dengan perlengkapan khusus. Kalian mengerti!” tanya Jongin yang dijawab anggukan oleh beberapa pimpinan anggota SWAT yang masih berada disana.

“Apakah kalian yakin bisa menjinakkan bom yang dibawa oleh laki-laki yang tak dikenal itu?” tanya salah satu pimpinan SWAT yang belum mengetahui siapa nama laki-laki yang tiba-tiba muncul dan menodongkan senjata api.

“Bobby, namanya Bobby mantan anggota militer Amerika Serikat dan….” Jongin menghentikan perkataanya sejenak, berusaha meyakinkan dirinya jika Chanyeol dapat menghandle semuanya dengan baik. “Aku yakin, serahkan pada mereka didalam sana, kalian cukup melakukan apa yang aku minta.”

“Baiklah.” angguk para pimpinan lapangan anggota SWAT tersebut.

“Selamat bekerja dan berhati-hatilah, jika kalian membutuhkan ku kalian bisa menghubungi ku dengan penyentara ini.” Jongin memberikan beberapa Earphone pada 4 pemimpin lapangan Anggota SWAT sebelum memisahkan diri.

****

Seungwon, Aaron, Kenzi dan Kris, serta para anggota FBI lainnya yang berada disana pun mendengar instruksi yang diberikan oleh Minhee. Mereka saling menatap dan menganggukan kepala tanda mengerti atas apa yang dikatakan Minhee.

Chanyeol melangkahkan kakinya meninggalkan Kenzi menuju Ny Wilhem yang berjarak kurang lebih 10 meter darinya, perlahan, mengendap-mengendap, menuju bagian belakang tubuh Ny Wilhem. Chanyeol bersyukur karena kabel detonator yang ia maksudkan tidak tertutup oleh apapun, terlihat jelas oleh Chanyeol 4 warna kabel yang berbeda yang menghubungkan BOM di bagian belakang tubuh dengan bagian depan yang terletak di bagian depan tubuh Ny Wilhem.

“Merah, Hijau , Kuning dan Biru.” gumam Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari 4 kabel detonator tersebut. Chanyeol mengeluarkan kacamata khusus yang ia cipakan sendiri, kacamata yang dilengkapi dengan kamera mini untuk melihat dengan jelas jarak antara kabel satu dengan kabel lainnya, kacamata ini juga berguna untuk merekam sesuatu.

“Jongin, kau mendengarku?” Chanyeol menekan Earphone yang terpasang ditelinganya.

“Im Here!” Chanyeol tersenyum mendengar jawaban dari Jongin. “Buka halaman 45 pada notes yang kutinggalkan di depan Komputer tadi, lihat gambar4.5! Apakah sama dengan Bom yang terpasang dibagian belakang tubuh Ny Wilhem?” Chanyeol mengarahkan kamera mini yang terpasang pada sudut kacamata yang ia kenakan. “Bagaimana?” Chanyeol melanjutkan.

“Sama! Hoah Hyung kau sungguh handal!” Chanyeol tersenyum mendengar pujian yang diberikan oleh Jongin.

“Biru, Merah dan Kuning. Kau harus memotong kabel berwarna biru dahulu, kemudian merah dan yang terakhir kuning, jangan sampai kabel berwarna hijau ikut terputus ketika kau memotong kabel berwarna kuning.” Chanyeol menganggukkan kepalanya mendengar instruksi yang diberikan oleh Jongin.

“I got it, Everybody ready in positon!” Chanyeol berbisik memberi aba-aba kepada semua orang yang berada disana.

“Aku mulai mendekati Ny Wilhem, ingat jangan melakukan pergerakan apapun yang membuatnya terkejut atau menyadari kehadiranku!” Chanyeol melirik kekanan dan kekiri, ia mendapati Kenzi, dan Kris serta beberapa anggota FBI dan SWAT team yang sudah masuk kedalam Mall melalui pintu belakang menganggukan kepalanya mengerti.

Hyung?!” teriak Baekhyun tiba-tiba, Chanyeol terkejut dan menghentikan langkahnya.

Wae?” Chanyeol menunggu Baekhyun meneruskan perkataanya.

Saranghaeo!” Chanyeol mendengus setelah mendengar lanjutan dari perkataan Baekhyun. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menormalkan nafasnya akibat menahan emosi yang sudah memuncak, disaat seperti ini Baekhyun masih bisa mengatakan hal-hal yang tak perlu.

“Kau tidak mau membalas perasaanku?” tanya Baekhyun yang membuat Chanyeol benar-benar akan menggantungnya di tiang bendera gedung FBI setelah misi ini selesai.

“Aku akan membalasnya nanti, sekarang tutup mulutmu!” Chanyeol mengeram kesal membalas perkataan anggota termuda dalam team nya ini.

“Chanyeol-ah!”

“Apa lagi?” Chanyeol kembali menghela nafas ketika mendengar suara Minhee, ia tidak tahu lagi apa yang akan di lakukannya jika Minhee mengatakan hal yang sama tak pentingnya dengan yang Baekhyun katakan.

“Berhati-hatilah, aku mengandalkanmu!” Chanyeol tersenyum seketika.

“Kau memang yang paling waras Minhee ya! Terimakasih. Baiklah semua standby!” Chanyeol kembali memberi instruksi.

Chanyeol berhasil mendekati Ny Wilhem tanpa disadari oleh wanita itu, semua team melakukan sesuai dengan yang instruksikan oleh Minhee dan dirinya.

“He will cut the Blue one.” Baekhyun memberitahukan kepada anggota yang lain ketika melihat Chanyeol memotong kabel warna biru dengan gunting yang menyerupai tang berada ditangannya.

“Now, he will Cut The red One!” Baekhyun melihat Chanyeol yang kembali memotong kabel berwarna merah tersebut secara perlahan.

“Carefull darling!” Chanyeol terseyum mendengar suara Minhee dari Earphone miliknya.

“The Last one.” Baekhyun menatap ke arah layar monitor dengan seksama, ia menahan nafasnya ketika melihat Chanyeol mulai mengarahkan Tang tersebut mendekati kabel berwarna Kuning.

“Everybody Standby in position.” ujar Minhee perlahan yang dapat didengar oleh anggota FBI, NTS dan SWAT melalui earphone mereka.

Done!” bisik Chanyeol langsung mundur beberapa langkah dari Ny Wilhem setelah berhasil memutus kabel terakhir menggunakan tang tajam menyerupai gunting tersebut, Baekhyun yang mendengar kata-kata Chanyeol langsung memberikan aba-aba melalui Earphone miliknya.

“Everybody Go!! Go!! Go!! Go!!”

Dengan gerakan perlahan, Kenzi dan Kris dibantu oleh anggota SWAT segera menarik Ny dan Tuan Wilhem untuk segera keluar dari Mall, Ny Wilhem bersikeras untuk tidak meninggalkan Mall dan berusaha untuk menekan alat pemacu untuk meledakkan bom yang terdapat dalam tubuhnya, namun tidak juga berhasil. Ny Wilhem tidak menyadari Byunka kabel detonator yang terdapat ditubuhnya tidak lagi berfungsi.

Minhee, Baekhyun, dan Jongin menghela nafas lega melihat SWAT berhasil membawa Ny dan Tuan Wilhem keluar dari Mall. Seperti yang diinstruksikan oleh Jongin, SWAT team segera membawa mereka berdua menuju markas FBI untuk bertemu dengan Xiumin dan Megan yang siap untuk menggali informasi dari orangtua salah satu sandera tersebut.

Minhee memeluk Chanyeol yang baru saja kembali ke dalam tenda. “Thanks God, are you oke?” Chanyeol tersenyum menganggukan kepala menatap Minhee yang menghela nafas lega.

“Apa ada informasi lain tentang Bobby?” Chanyeol melangkahkan kakinya mendekati CCTV, ia menekan tombol pada keyboard sehingga membuat CCTV terfokus pada BOM yang terdapat di tubuh Bobby.

Bobby membuka kemejanya ketika Chanyeol sedang berusaha menjinakkan Bom yang terdapat di tubuh Ny Wilhem, Bobby merasa kesal dengan Aaron dan Seungwon yang tidak mau mengikuti permintaanya untuk berbicara dengan Menteri Departement Pertahanan Amerika Serikat. Jongin memutuskan untuk keluar dari dalam tenda ketika melihat sesuatu yang aneh dari layar monitor, ia melihat para FBI Agent dan SWAT team satu persatu mulai meninggalkan tempat dimana Aaron dan Seungwon berada saat ini.

Baekhyun bangkit dari kursinya seraya menerima sebuah kertas dari salah satu FBI analyst. “Ayah dari dua orang anak yang….“ perkataan Baekhyun terputus ketika mendengar teriakan dari Aaron dan Seungwon yang meminta mereka untuk segera menjauh dari lingkungan Mall.

****

“Bobby! Jangan nekat. Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik.” Aaron mengulurkan tangannya pada Bobby, memintanya untuk menyerahkan alat pemacu Bom kepadanya.

“Jangan coba-coba mengelabuiku, apapun yang kalian katakan padaku tidak akan membuat niat ku surut.” Bobby menatap Aaron dan Seungwon tajam.

Seungwon pun menghela nafas mengatakan sesuatu yang membuat Bobby dan seluruh Agent FBI terkejut. “Baiklah lakukan? Bukankah niatmu untuk meledakkan Bom ini?” Aaron membulatkan matanya, terkejut menatap Seungwon sedang memasukan handgun miliknya kembali saku belakang celana yang ia kenakan.

“Mr Cha, Apa yang anda lakukan?” Aaron memelankan suaranya, ia menatap Seungwon sekilas kemudian kembali menatap Bobby.

“Kau sudah tahu apa yang terjadi jika kau tetap meledakannya bukan? Kau akan menjadi serpihan tulang dan daging basah diantara reruntuhan gedung ini.” Bobby memandang Seungwon dengan wajah penuh kebingungan, ia kemudian memandang ke arah Aaron yang terlihat sama bingungnya.

“Jika kami mati, nama kami akan diingat oleh seluruh dunia, namun kau?” Seungwon tersenyum sinis seraya berjalan dua langkah kekanan, kemudian kembali melangkahkan kakinya 2 langkah kekiri terus saja seperti itu. “Kau hanya akan dikenal sebagai teroris. Amerika tidak akan pernah meninggatmu sebagai Militer yang baik. Kau akan dicap sebagai Militer yang buruk, pengedar narkoba dan teroris.”

“Aku tidak melakukannya, Aku bukan seorang pengedar narkoba!” Bobby berteriak membela dirinya, Seungwon yang mendengar reaksi yang diberikan oleh Bobby pun tersenyum.

“Tentu saja kau tidak melakukannya, aku percaya itu! Kau pasti terkejut kenapa aku bisa percaya denganmu? Dengan semua yang kau katakan itu. Aku bisa melihatnya dari matamu, kau hanya ingin melampiaskan kekesalanmu akibat tuduhan yang mereka tujukan padamu.” Seungwon tersenyum menatap Bobby.

“Everybody Put you’re Gun Down!” teriak Aaron yang sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Seungwon. Para Agent dan SWAT team mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh Aaron, namun mereka tetap menurunkan senjata tanpa harus diperintah dua kali.

“Rekanku benar, apa kau akan membiarkan mereka yang menuduhmu begitu saja bebas? Menikmati kematianmu dan membuat mereka terbebas dari hukuman yang seharusnya mereka terima?” Aaron pun melakukan hal yang sama dengan Seungwon, memasukan kembali Handgun miliknya kesaku belakang celananya.

“Jika kau ingin melakukannya, silahkan saja. Kami sudah berhasil mengevakuasi para pengunjung dan apa yang kau lihat? FBI dan SWAT team serta Agent NTS yang berada disini bersamamu.” ucap Seungwon.

“Dan kami yang berada disini sudah sangat terlatih dan memang ditugaskan untuk mati.” Aaron menatap Seungwon yang menganggukan kepalanya setuju. “Jadi lakukanlah, ledakkan kami!” lanjut Aaron lagi yang memberikan kode kepada para Agent FBI, SWAT team yang berada dibelakangnya untuk segera meninggalkan gedung Mall ini melalui tangan kiri yang ia sembunyikan dibalik tubuhnya.

Para Agent FBI, dan Team Squad keluar dengan  gerakan perlahan meninggalkan Aaron dan Seungwon untuk menenangkan Bobby. “Kau tidak akan melakukannya untukku kan?” Bobby sudah mulai bisa membaca kearah mana Seungwon akan meneruskan perkataannya.

“Tentu saja kami akan melakukannya. Kami akan membuat namamu bersih dan membuat mereka merasakan hukuman atas apa yang mereka perbuat padamu.” Aaron berusaha meyakinkan Bobby, Booby menatap keduanya dengan tatapan yang menunjukkan ketidakyakinan.

“You such a bad liar?!” Bobby berteriak.

“And Such a bad terorist! Oh Come on… If you want to blow that bom just blow, why you still negotiating with us?” Seungwon menaikkan nada bicaranya.

“Because you didnt want to do it right?” Aaron menatap Booby dengan tatapan menyelidik untuk mencari tahu bahwa dugaannya benar.

“If you like that, look at me in the eyes and put the trigger down but slowly.” Seungwon menantap sekilas kearah Aaron yang menganggukan kepalanya dengan yakin, Aaron perlahan bergerak menuju belakang tubuh Bobby, menunggu dengan pasti ia akan menurunkan alat pemicu bom tersebut.

“I’ll Promise you, please put the trigger down.” Seungwon mengatakannya dengan nada pelan.

Perlahan namun pasti Bobby menurunkan tanganya yang memegang alat pemicu bom. Melihat hal itu Aaron dengan cepat meraih alat pemicu tersebut dari tangan Bobby, sementara Seungwon, ia langsung menyergap Bobby memojokkannya ketembok. SeungWon meraih tangan kanan Bobby membawanya kebelakang tubuhnya dan melakukan hal yang sama dengan tangan kiri Bobby kemudian memborgolnya. Jongin yang berada tak jauh dari Aaron dan Seungwon langsung berlari mendekati mereka berdua, berusaha melepaskan Bom yang melekat pada tubuh Bobby dengan perlahan.

“Kenapa kau tidak pernah melakukan semuanya sesuai prosedur?” suara Seungwon terdengar frustasi, ia mengaitkan kedua tangan dan menaruhnya didepan dada, menatap Jongin yang datang tanpa menggunakan pelindung yang biasa digunakan oleh team penjinak Bom.

“Like the teacher like a student, Like Sunbae like Hoobae.”

Jongin mengedipkan sebelah matanya kepada Seungwon yang mendengus kesal melihat tingkah juniornya ini. Aaron sendiri tersenyum melihat tingkah kedua rekan berbeda negara dengan dirinya, namun senyumnya menghilang ketika ia melihat seorang laki-laki berusia 30 tahun, muncul dari sisi gedung sebelah kiri mereka berdiri saat ini. Laki-laki tersebut berjalan dengan cepat ke arah mereka dan Aaron dapat melihat sesuatu yang aneh pada diri laki-laki tersebut.

“Guys!” Seungwon, Jongin serta Bobby menatap Aaron yang menatap mereka.

We have to get out of here?” Aaron mengatakan perlahan terlihat gelisah.

Why?” Jongin menatap Aaron dengan mengerutkan dahinya, Seungwon yang menangkap nada tidak enak keluar dari mulut Aaron pun langsung mendorong Jongin dan Bobby berjalan mengikuti kemana Aaron pergi. Seungwon mengedarkan pandangannya dan mendapati laki-laki yang membuat Aaron sedikit cemas.

“Run! Run! Run!” Seungwon kembali mendorong punggung Jongin untuk berjalan lebih cepat. Seungwon mendengus karena Jongin tak juga mempercepat langkahnya, sehingga membuat Seungwon harus meninggalkannya dan membisikan sesuatu sebelum ia benar-benar berlari meninggalkan Jongin dengan Bobby.

Run or you will burn like meat.” Seungwon berlari menyusul Aaron, sementara Jongin menolehkan wajahnya menatap laki-laki yang sepertinya akan membuat dirinya menjadi daging panggang.

“This Ugly Ajhussi really!” gerutu Jongin mendorong Bobby untuk berlari bersamanya.

“BOM, EVERYBODY LEAVE THIS BUILDING!!” teriak Aaron yang keluar dari dalam Mall diikuti Seungwon, Jongin dan Bobby yang masih di borgol.

“GO!!!!!!” teriak Seungwon dan 10 detik kemudian Bom pun meledak, membuat tembok di beberapa bagian Mall runtuh. Seungwon, Kris dan Aaron serta Bobby terlempar 10 meter dari tempat mereka berada ketika mencoba berlari menjauh dari Mall akibat Bom yang meledak tersebut.

****

“Kalian baik-baik saja?” Minhee, Chanyeol, Baekhyun dan Kris, Kenzi dan beberapa anggota lainnya menghampiri Aaron, Seungwon dan Jongin.

“Aku baik-baik saja, apa ada yang terluka?” Aaron berdiri membersihkan debu yang menempel pada tubuhnya, ia melihat ke arah sekitar menatap para agent yang lain.

“Kami baik-baik saja” jawab Seungwon memeriksa keadaan dirinya dan melihat ke arah Jongin yang menganggukkan kepalanya seakan mengatakan kalau dia baik-baik saja.

“Apanya yang baik-baik saja, kalian terluka.” gerutu Minhee yang mengkhawatirkan keadaan rekan-rekannya.

“Kita harus segera kembali ke markas, SWAT team dan beberapa agent akan membereskan semuanya!” ujar Aaron yang diikuti anggukan oleh yang lainnya, mereka pun kembali ke markas besar FBI di Washington DC menggunakan Escalade milik FBI.

****

FBI Headquarters

Washington DC

Megan dan Xiumin menerima Tuan dan Ny Wilhem dari tangan SWAT Team, kedua agen beda negara ini membawa pasangan suami isteri kedalam sebuah ruangan. Ruangan yang sengaja dibangun untuk para FBI agent beristirahat atau sekedar berkumpul setelah menyelesaikan misi penting, ruangan yang tidak terlalu besar berdinding kaca namun tetap nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul. Megan mempersilahkan Tuan dan Ny Wilhem menempati kursi, berhadapan dengan Xiumin yang sudah duduk terlebih dahulu. Megan duduk bersebelahan dengan Xiumin, ia menekan sebuah tombol yang berada dibawah meja yang membuat seluruh dinding kaca tersebut berubah menjadi buram sehingga membuat siapapun tidak bisa melihat keluar atau pun kedalam ruangan.

“Ny Wilhem, aku tahu hari ini sangat berat untukmu, namun  izinkan kami untuk mengajukan beberapa pertanyaan.” Megan menatap Ny Wilhem yang menganggukan kepalanya dengan tatapan bersaha

“Rekan mendapati kau menerima sebuah telepon dari seseorang, bisa kau beri tahu siapa yang menghubungimu saat itu?”

“Aku tidak tahu siapa orang itu, yang aku tahu dia adalah seorang laki-laki.” Megan dan Xiumin saling bertatapan.

“Apa kau masih mengingat suara laki-laki tersebut?” Kali ini Xiumin mengambil alih pertanyaan, Ny Wilhem menatap Xiumin ragu, menolehkan wajahnya, menatap suaminya sekilas sebelum menjawab pertanyaan

“Ia menyamarkan suaranya, aku tidak bisa mengenali bagaimana suara aslinya. Maafkan aku… aku sungguh minta maaf.” Ny Wilhem terisak, Tuan Wilhem menarik Isterinya ke dalam pelukan seraya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Lalu bagaimana kau mendapatkan Bom dan semua perlengkapannya?” tanya Xiumin lagi.

“Aku mendapatkan kiriman paket 5 menit setelah pembicaraan kami berakhir, aku bahkan masih menyimpan kotak tersebut.” Ny Wilhem menghentikan perkataanya, ia mengerutkan dahinya sebelum melanjutkan perkataanya kembali. “Aku juga mendapatkan sebuah CD, tapi aku belum sempat melihatnya, saat itu aku sungguh kalut dan hanya berfikir aku harus melakukan apa yang mereka minta agar putera tunggalku selamat.” Ny Wilhem menundukkan kepalanya dan kembali terisak.

“Di mana kau menyimpan kotak beserta CD tersebut?” kali ini Megan bertanya, nada suaranya sedikit menuntut.

“Ruang kerja, aku menyimpan kotak tersebut dibawah meja kerja suamiku yang terletak di lantai 2 rumah kami.”

Setelah mendengar jawaban terakhir dari Ny Wilhem, Xiumin bergegas keluar dari ruangan, Ia meraih telepon gengam yang berada di saku jaketnya untuk menghubungi Granger. “Pergilah menuju lantai dua rumah keluarga Wilhem. Masuk kedalam ruang kerja, bawa kemari Kotak yang berada dibawah meja kerja. I hope we get lucky!” ujar Xiumin mengakhiri pembicaraanya.

****

FBI Agent Aaron, Kris, Kenzi tiba di markas besar FBI bersama NTS Agent Seungwon, Chanyeol, Minhee, Jongin, dan Baekhyun. Tak lama berselang Agent Granger datang, membawa Handphone yang digunakan oleh Ny Wilhem untuk berkomunikasi dengan tersangka, serta sebuah Kotak tanpa nama yang dikirimkan ke rumah keluarga Wilhem. Jongin beserta Kenzi meminta salah satu anggota FBI yang berjaga, membawa Bobby keruang tahanan sementara  mereka yang lain mengikuti Aaron menuju ruang Meeting. Semua agent larut dalam pikirannya masing-masing, Aaron dan Seungwon sepakat untuk memberikan para Agent waktu beristirahat setelah apa yang dialami oleh mereka. Entah hanya kebetulan atau memang sudah direncanakan, FBI memilih duduk bersebelahan dengan agent FBI lainnya, begitu pula dengan  agent NTS.

“Jenny! Tolong buatkan kami Coffee.” ujar Aaron pada Jenny, salah satu analyst FBI yang kebetulan melewati ruangan tersebut.

“Yes sir!” jawab Jenny.

“Do you have a beer?” seluruh agent FBI memandang Minhee yang lebih memilih berdiri menatap ke arah luar gedung FBI dengan heran.

“I prever to drink beer than Coffee, membuatku dapat berfikir dengan cepat.” Minhee membalikkan tubuhnya, menatap agent FBI lainnya.

“Minhee kami memang seperti itu, bukan hanya dia, tapi Jongin dan Chanyeol terkadang juga melakukan hal yang sama dengan Minhee.” jelas Seungwon pada Aaron yang masih tidak mengerti, Aaron tidak pernah mengizinkan anggotanya untuk meminum Beer atau minuman alkohol lainnya jika sedang bertugas.

“Aku rasa kita masih mempunyai persediaan, tunggu sebentar!” Kris meninggalkan ruang rapat menuju pantry untuk membawa beer yang dibutuhkan oleh Agent NTS.

“Did you feel what i feel?” Minhee menerima kaleng beer yang diberikan oleh Kris, membukanya dan meminumnya beberapa teguk sebelum melanjutkan perkataanya.

Something missing here, aku merasa kita melewatkan sesuatu.” ujar Seungwon yang  duduk berhadapan dengan Aaron.

“Kau merasakan juga Ahjussi?” Minhee berjalan menghampiri Seungwon.

Like What?” tanya Kenzi yang terlihat sangat lelah.

“Itu yang harus kita temukan.” Minhee menatap seluruh Agent bergantian. Sementara Seungwon menatap kosong ke arah Meja, memikirkan sesuatu yang terasa janggal dan terlewatkan.

“Siapa yang akan….” Baekhyun menghentikan perkataanya ketika melihat seorang Office boy masuk membawakan Coffee untuk para Agent. Baekhyun memang sengaja tidak meneruskan perkataanya, ia selalu mencurigai siapapun yang tidak ada kaitannya dengan kasus ini. “Siapa yang akan menginterogasi Bobby?” Baekhyun mengulangi pertanyaanya ketika Office boy sudah meninggalkan ruang rapat.

“Megan dan salah satu therapys expert FBI yang akan melakukannya.” jelas Granger diikuti oleh Megan yang menganggukan kepalanya membenarkan. “Dan untuk video tersebut sedang diteliti oleh Cyber team kami.” Granger menambahkan perkataanya lagi.

“SIR!” seorang Pegawai FBI mengetuk pintu ruang rapat. “Mr President and First lady wants to meet you and all agent?”

When?” tanya Aaron.

They are in Operation Room.” pegawai FBI tersebut meninggalkan ruang rapat begitu saja.

“Mari kita temui President dan ibu negara.” Aaron bangkit dari kursinya diikuti agent yang lain termasuk NTS Agent.

Seungwon menghentikan langkahnya sejenak, menatap Minhee dan Baekhyun yang berjalan diurutan belakang. “Minhee, setelah ini kau temani Megan untuk melakukan interogasi, buka mata dan telingamu baik-baik! Kau mengerti?!” Minhee menganggukkan kepalannya dengan pasti.

Setelah mendapatkan jawaban dari Minhee, Seungwon mengalihkan tatapannya pada Baekhyun. “Kau juga, setelah ini bergabunglah dengan Cyber Team, membantu mereka untuk mendapatkan apa yang kita perlukan.” ujar Seungwon berbisik namun penuh penekanan.

“Got It!”

****

FBI Operation Room

“Mr Presiden, aku perkenalkan kau dengan pemimpin kasus ini, Agent Thomas Gibson.” Leon Vance  yang merupakan Director FBI memperkenalkan Aaron kepada Presiden Amerika, Mark Taylor dan Ibu negara Jessica Taylor.

“Perkenalkan Mr. Cha Seungwon, 3rd team NTS Korea Selatan yang akan membantu kita untuk misi penyelamatan ini. Beliau membawa 5 agent terbaiknya, Xiumin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin dan….“ perkataan Aaron terhenti karena terkejut mendengar pertanyaan dadakan yang Seungwon tanyakan pada Presiden United State ini.

“Mr President. Aku ingin bertanya padamu, tolong jawab dengan cepat.” Seungwon menatap wajah President Amerika ini tajam, belum sempat Mark Taylor menjawab apakah ia setuju ataupun tidak, Seungwon sudah melanjukan pertanyaan yang membuat siapapun terkejut mendengarnya.

“Apa kau ada dibalik penculikan ini? Apa kau menculik mereka untuk menarik Simpatik rakyatmu? Apa kau ingin moment ini sebagai salah satu cara agar kau dapat menduduki kursi kepemimpinanmu lagi?” pertanyaan Seungwon membuat seluruh ruangan terdiam karena terkejut, beberapa di antaranya membulatkan mata mereka karena tidak percaya akan apa yang ia dengar. Belum pernah ada orang yang bersikap tidak sopan dengan orang nomor satu di Amerika itu.

“Mr Cha!!” Seungwon dapat mendengar Director FBI Leon berteriak padanya, namun Seungwon tetap menatap president, menuntut untuk segera menjawab pertanyaan yang ia utarakan.

“Mr President, Answer My Question!” Seungwon memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar. Seungwon menunjukkan telapak tangan kepada orang-orang yang berada disebelahnya untuk tidak ikut campur dengan hal ini, bagi orang yang tidak paham atas apa yang dilakukan Seungwon akan menganggapnya sudah gila.

He’s telling the truth.” ujar Minhee membuat Seungwon menghela nafasnya, dan tersenyum ramah menatap presiden.

Thankyou and Sorry Mr President!”  ujar Seungwon.

“What The Hell?!” President menaikkan nada bicaranya, menatap sembarang arah kemudian kembali menatap Seungwon dengan tatapan tidak bersahabat. ia tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Seungwon padanya.

“Mr Cha, What are you doing?” bisik Aaron yang membuat Seungwon menyungingkan senyumannya.

“Kau bersikap tidak pantas pada presiden, bagaimana mungkin kau menuduhnya dalang dibalik semua kejadian ini?” Director FBI Leon pun merasa geram.

“Kalau bukan beliau lalu anda?” celetuk Baekhyun dengan  senyum yang mengembang. Baekhyun mencondongkan tubuhnya guna menatap Leon yang terhalang oleh Minhee dan Chanyeol. Pertanyaan Baekhyun membuat seluruh Agent dan Presiden menatap Leon dengan tatapan penuh menyelidik.

“Jaga bicaramu anak muda, atau aku akan menuntutmu!” Ancam Leon menatap tajam ke arah Baekhyun yang menunjukkan V sign  dengan jarinya seraya kembali keposisinya semula.

“Maafkan kami, tapi kami harus melakukannya. Kami perlu mengetahui apa anda berkata jujur apa tidak.” ujar Seungwon menjelaskan.

What? ini bukan waktunya bermain-main!! Nyawa anakku dan anak- anak lain diluar sana kalian pertaruhkan untuk pertanyaan tidak penting kalian itu!” Jessica Taylor menatap Seungwon dan Agent NTs geram.

“Sekali lagi kami memohon maaf. Namun dengan cara itulah kami memutuskan akan tetap berada disini atau pulang kembali ke negara kami.” Minhee melangkahkan kakinya mendekati Ibu negara, berdiri bersebelahan dengan Seungwon.

“Dengarkan aku baik-baik! Aku sungguh bersusah payah untuk berada diposisiku saat ini, aku bahkan rela menjadikan Isteri dan anak-anakku menjadi urutan terakhir dalam skala prioritasku saat ini.” President memberikan penekanan disetiap kata-katanya.

“Aku ingin kalian menemukan Billy dan anak-anak yang lain dalam kondisi selamat. Jangan biarkan aku dan para orangtua mereka menyesal telah melakukan hal sama dengan yang ku lakukan!” Presiden meninggalkan Operation room begitu saja, diikuti oleh Secret Service yang mengawalnya.

“Apa kau seorang ibu Agent Kim?” Ibu negara melangkahkan kakinya mendekati Minhee, mendekatkan wajahnya pada Minhee yang kini berjarak 5 cm.

“No, Mam.” jawab Minhee, ia mengeraskan wajahnya berusaha menahan emosi yang tiba-tiba memuncak.

So you dont know what i feel. Aku tidak peduli siapa yang jujur atau tidak yang ku pedulikan hanyalah keselamatan anakku.” Jessica Taylor menatap Minhee tajam, sebelum akhirnya meninggalkan Minhee untuk menyusul suami nya.

“Aku memang tidak tahu perasaan anda.” ujar Minhee membuat First lady Amerika Serikat itu menghentikan langkahnya, berbalik menatap Minhee yang menolehkan wajahnya, menatap lekat ke arah Jessica Taylor.

“Tapi aku tahu bagaimana rasanya ketakutan dan merindukan kasih sayang orangtua. Anda tak perlu khawatir, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menemukan Billy dan yang lainnya.” Jessica Taylor membalikan tubuhnya, setelah mendengar perkataan Minhee, ia melangkahkan kakinya kembali meninggalkan Operation room diikuti oleh Agent Secret Services dibelakangnya.

“Minhee!” Chanyeol menangkap tubuh Minhee yang hampir saja jatuh bertepatan dengan pintu otomatis Operation Office tertutup. Minhee berusaha menahan Emosi dalam dirinya, perasaan marah serta sedih muncul begitu saja dan sekuat tenaga menahan air mata agar tidak turun dari kedua mata bening miliknya.

“Kau baik-baik saja?” bisik Chanyeol ditelinga Minhee, gadis itu menutup kedua matanya seraya menganggukan kepalanya.

“I need some air.” Minhee melangkahkan kakinya, meninggalkan Operation Office Room dengan cepat, para aggota NTS menatap punggung Minhee yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.

****

FBI Garden

Outside FBI Building – In The Byun

Minhee menghembuskan nafasnya berusaha menormalkan emosi yang berkecamuk dalam dirinya, ia mengigit bibir dalamnya berusaha menahan air mata yang akhirnya tetap meluncur dari kedua mata indahnya. Memori menyedihkan muncul kembali di ingatannya, bagaimana ia memohon ada Joonmyun untuk membangunkan ibunya yang sudah beristirahat dengan tenang, bagaimana ia menangis karena iri ketika teman-temannya selalu datang bersama kedua orangtua mereka, namun Minhee selalu datang bersama Joonmyun disetiap kesempatan, bagaimana ia selalu ingin diperhatikan dan dikhawatirkan oleh seseorang yang dipanggil IBU oleh anak-anak seumurannya saat itu, saat ia masih bersekolah dan hanya mempunyai Joonmyun yang harus bekerja keras memimpin perusahaan serta menjadi orangtua tunggal untuknya.

“Oh My God. Dad, Mom, I miss you a lot,” Minhee meyeka air matanya, mengingat insiden bagaimana kedua orangtuanya meninggal saat umurnya masih 12 tahun akibat sebuah kecelakaan, saat itu mereka ingin menghadiri  lomba fashion mendesign yang diikuti Minhee. Kecelakaan yang membuat Minhee menyalahkan dirinya sendiri, serta menjadikan beladiri dan senapan api sebagai pelampiasan atas penyesalannya.

Minhee mengeluarkan telepone gengam dari dalam saku celananya, ia tersenyum mendapati nama yang tertera pada layar Samsung Edge Miliknya.

Hai….” Minhee tersenyum mendengar balasan dari laki-laki yang selama 1 tahun terakhir ini menyandang status sebagai kekasihnya.

“Hai darling, how was there?!” Minhee selalu bisa mengontrol dirinya sendiri begitu mendengar suara berat namun menenangkan milik kekasihnya, Oh Sehun.

“Im Good, How’s Korea?”

“Not Good as When You here beside me.” Minhee tersenyum mendengar nada suara sang kekasih yang mengeluarkan jurus gombalnya. Jurus yang selalu dikeluarkan jika ia tahu Minhee sedang dalam keadaan tidak baik.

Dont try, you are failed!” Minhee berusaha menutupi tawa dengan punggung tangannya.

“Uh-uh you are smiling now, i know that, i know that voice.” Minhee kembali tersenyum mendengar Sehun tertawa puas karena berhasil menggoda Minhee dengan kata-kata gombalnya.

“Stop It.”

“I dont know whats happen darl, but If you feel you cant handle that, just go home.” Minhee tersenyum simpul mendengar perkataan Sehun yang lebih serius.

“Or Should i pick you up? Kau tahukan aku tinggal menghubungi pilot pribadiku dan “TING!” aku akan segera berada dihadapanmu.” tambah Sehun membuat Minhee tak lagi bisa menahan tawanya, mendengar bagaimana kekasih yang berprofesi sebagai pengusaha muda berbakat itu, berusaha menjadikan moodnya lebih baik dari sebelumnya.

“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku bisa mengatasinya, dan terima kasih karena mendengar suaramu, mood-ku menjadi jauh lebih baik.” suara Minhee terdengar lebih manis dan lebih baik dari sebelumnya. Sehun yang berada di Korea tersenyum setelah mendengar perubahan suara kekasihnya ini.

“Dengarkan aku sayang, apapun yang terjadi kau harus selalu memberitahuku. Pekerjaanmu sudah membuatku hampir gila, paling tidak beritahu aku jika kau baik-baik saja, terutama jika kau membutuhkan atau merindukanku.” ujar Sehun.

“Aku mengerti, terimakasih untuk semuanya. Aku mencintaimu!”

“Aku Lebih mencintaimu.” Minhee mengakhiri pembicaraanya setelah mendengarkan kata-kata cinta yang diutarakan oleh Sehun.

Minhee kembali tersenyum seraya mengenggam telepon gengamnya, ia merasa bersyukur memiliki Sehun yang mencintainya dan merasa bersyukur karena memiliki 3rd team yang selalu tahu apa yang ia perlukan saat ini. Minhee kembali mengotak-ngatik telepon gengamnya, mengetikan sesuatu yang ia kirimkan kepada salah satu 3rd team member Jongin, seseorang yang ia yakini sebagai penyebab dibalik telepon mendadak dari kekasihnya Sehun yang berada di Korea Selatan.

“Aku tahu apa yang kau lakukan. Terimakasih banyak, aku menyayangimu.”

Minhee menekan tombol Send pada Samsung Edge miliknya. Minhee bersyukur Sehun dan para anggota 3rd team mempunyai hubungan yang baik, tak jarang Sehun selalu datang dalam perayaan-perayaan yang diadakan oleh 3rd team dan diantara semua membern team, Sehun paling dekat dengan Jongin. Minhee bangkit dari tempat duduknya, memasukan telepon gengamnya kedalam saku celana miliknya namun kegiatannya terhenti ketika sebuah panggilan telepon masuk, Minhee pun langsung menjawab tanpa melihat siapa yang menghubunginya.

“Kim Minhee.”

“NTS Agent Kim, young lady with pretty face,  what are you doing here?”

Minhee mengeraskan wajahnya, ia menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, membalikkan tubuhnya menatap siapapun dengan tajam, mencari tahu siapa yang menghubunginya diantara para warga yang berlalu lalang dan para Agent yang sedang menghabiskan waktu istirahat mereka di taman  FBI yang terbuka untuk umum.

“Who are you?!” tanya Minhee penuh penekanan.

“Im someone you want to meet or rather that you and your team want to meet.” ujar seseorang yang Minhee yakini seorang Pria, penelepon atau penjahat tanpa nama yang NTS beri julukan sebagai “UNSUB”

“Where did you get my number?” tanya Minhee penuh penekanan, tetap mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu siapa dan dimana keberadaan unsub tersebut.

Aku tidak menyangka bahwa FBI terlalu payah, sehingga harus meminta NTS untuk membantu mereka.” ujar Unsub dengan nada sangat meremehkan.

“We are here not for help FBI to catch you, we here to take Korea Ambasaddor’s Sons back to his family.” jawab Minhee sengit, ia dapat mendengar laki-laki tersebut tertawa mendengar jawaban yang ia sampaikan.

Minhee menghentikan gerakan ketika kedua matanya menangkap seseorang  seperti sedang berbicara dengan orang lain melalui telepon gengamnya, seseorang yang duduk sendirian dikursi taman FBI, berpakaian seperti warga Amerika pada umumnya, Tshirt, Jaket, Topi berwarna senada, biru langit yang cerah. Dengan perlahan Minhee melangkahkan kakinya mendekati pria tersebut, meraih senjata api yang selalu berada di saku belakang celana miliknya. Minhee menghela nafasnya ketika melihat laki-laki tersebut ternyata sedang menunggu seorang wanita dan mereka pergi begitu saja.

Kau tak perlu susah payah untuk mencari keberadaanku dan teamku yang lain.” Minhee membulatkan matanya kembali menggerakan kepalanya kekanan dan kekiri, Minhee yakin jika “The Unsub” ini berada tak jauh dari tempatnya.

“Apa yang kau inginkan? Kenapa kau melakukan hal ini? Dan kenapa kau menggunakan anak-anak itu?” tanya Minhee yang kembali melangkahkan kakinya mencari keberadaan Unsub tersebut, Minhee kembali mengeram kesal ketika menyadari bahwa Unsub memperhatikan dirinya melalui kamera CCTV yang terdapat dibeberapa Tiang Lampu taman FBI.

Haii can see your face clearly from here, and you really looks pretty.” Minhee menatap tajam ke arah kamera.

“Katakan apa yang kau inginkan?!” tanya Minhee tanpa mengalihkan pandangannya dari kamera CCTV yang berada dihadapannya.

Apa yang aku inginkan?” Minhee kembali menahan geramanya ketika mendengar suara tawa dari lawan bicaranya. “Aku hanya ingin membunuh kalian semua, membuat mereka yang berada diatas merasakan balasan apa yang telah mereka lakukan pada kami.”

“Apa maksud perkataanmu? Aku akan membantumu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, kita bahkan bisa bernegosiasi untuk hal ini. Aku akan membantumu, kau dan teman-temanmu hanya perlu membebaskan anak-anak?” Minhee melembutkan nada bicaranya, meyakinkan kepada orang yang tidak dikenal tersebut bahwa ia akan membantunya.

“You a liar, all of You are Liar!! I dont need negotiate!”  ujar The Unsub terdengar marah kemudian mengakhiri pembicaraannya.

Minhee mendengus kesal seraya mengaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kasar. Ia kesal, karena tidak berhasil melakukan negosiasi dengan penculik tersebut. Minhee kembali menekan tombol telepon gengamnya untuk menghubungi Jongin.

Aku sedang berada di ruang pemantau interogasi, Megan sedang melakukan tugasnya, menginterogasi Bobby!” ujar Jongin yang menggantikan tugas yang diberikan Seungwon padanya 1 jam yang lalu.

“Aku berada di taman FBI, aku akan segera kesana!” ujar Minhee memasukan kembali senjata api miliknya kedalam saku belakang, melangkahkan kakinya menuju kedalam gedung FBI setelah mengakhiri pembicaraanya dengan Jongin.

Bump.. Bumpp — Aaaaaa .. Aaaaa

Minhee berjongkok, melindungi kepala menggunakan kedua tangannya ketika mendengar suara tembakan, lebih tepatnya beberapa suara tembakan yang berasal dari senapan yang menggunakan peredam suara, teriakan dari orang-orang yang berusaha menghindar dari peluru terbang yang bisa jadi menembus badan mereka mulai terdengar. Minhee bergerak secara perlahan, berlindung di balik tempat sampah besar yang terdapat tak jauh dari tempatnya saat ini, meraih kembali senjata miliknya dan mengarahkan ke beberapa tempat yang ia yakini sebagai tempat Sniper itu berada. Tak selang berapa lama tembakan pun berhenti, Minhee melihat 5 orang terbaring lemah karena terkena tembakan. Semua orang tak berani bergerak karena ketakutan, beberapa Agent FBI yang berada di taman juga melakukan hal yang sama dengan Minhee, menajamkan kedua mata mereka seraya mengarahkan senjata mereka masing-masing.

Minhee berusaha menghubungi NTS team yang berada didalam gedung FBI, namun tidak ada jawaban. “Sial! Siapapun tolong ingatkan aku untuk menuntut provider telepon Amerika ini.” umpat Minhee pada dirinya sendiri.

Perlahan namun pasti Minhee bangkit dari tempat persembunyiannya, berniat untuk masuk kedalam gedung FBI. Tidak hanya Minhee, beberapa Agent FBI dan pengunjung taman juga bangkit dari tempat persembunyian mereka. Beberapa diantara pengunjung memilih untuk pergi dari taman, namun beberapa di antaranya mendekati para korban bersama dengan Agent FBI yang berada di taman tersebut.

Minhee melangkah perlahan menuju salah satu Agent yang berada tak jauh dari dirinya berada, menghela nafas seraya menutup kedua mata salah satu Agent FBI yang bernama Kyle menurut FBI ID yang terdapat di saku Blazer yang ia kenakan. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju Pintu utama Gedung FBI dan disaat yang bersamaan ia kembali mendengar beberapa suara tembakan. Minhee membulatkan matanya terkejut ketika merasakan sesuatu yang aneh serta panas menembus bagian belakang tubuhnya. Minhee kembali mendengar suara tembakan, serta teriakan orang-orang bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh kelantai dengan posisi tertelungkup. Perlahan namun pasti Minhee menutup kedua matanya.

TBC

Iklan

13 pemikiran pada “The Third Team – Revenge Mission (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s