Unlogical Married (Chapter 4)

CoverUnlogical

Title : Unlogical Married (Chapter 4)

Main Cast :

  • Oh Se Hun
  • Seo Young Ji (OC)

Other :

  • Do Kyung Soo
  • Park Chan Yeol
  • Byun Baek Hyun
  • Baek Dam Bi (OC)
  • Oh Dong Hoon (OC)
  • Hong Jang Mi (OC)
  • Son Na Ra (OC)
  • etc

Genre : Comedy-Romance, Marriage-life

Author : Lee Young

Lenght : Multichapter

Rate : PG-19

Summary : Let’s make it more logic

(Chapter 4)

Se Hun berdiri di depan rumah, dengan kedua telapak tangan yang masuk ke dalam saku celana ketika sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Kaca mobil terbuka perlahan.

“Kenapa kau diluar?,” tanya Baek Hyun. Kepala laki-laki itu menyembul dari dalam mobil.

Se Hun membungkuk, “Jangan pesta disini. Kita keluar saja,” katanya.

Chan Yeol yang duduk di sebelah Baek Hyun, mendekatkan tubuhnya ke jendela. “Wae? Kami tengah tidak punya uang untuk keluar,” tolak Chan Yeol.

Baek Hyun yang berada di belakang kemudi sedikit melirik Chan Yeol, lalu mengangguk. Begitu pula Kyung Soo.

“Aku yang traktir,” kata Se Hun. Ketiga manusia di dalam mobil langsung bersorak kegirangan. Se Hun menarik sebuah napas panjang, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

“Juuulbaaaaal!!!!,” sorak ketiga teman Se Hun bersamaan.

***

Se Hun tidak bisa berhenti menatap keluar jendela mobil di sepanjang perjalanan ke bar langganan mereka beberapa bulan terakhir. Semenjak usia mereka 19 tahun, mereka sudah berlagak menyebutkan nama satu bar untuk dijadikan sebagai langganan. Terlebih ke-empatnya didukung oleh kondisi finansial orang tua yang di atas rata-rata.

Tapi lupakan soal bar. Kini otak Se Hun sama sekali tidak memikirkan bar atau pesta yang selalu disebutkan oleh ketiga temannya. Se Hun tidak tahu apa yang terjadi, tapi sejak dia pulang dari supermarket, Se Hun ingin lari dari kehidupannya. Se Hun kira, bermain status dengan Seo Young Ji tidak akan berefek apapun pada dirinya, tapi faktanya, setelah melihat surat pernikahannya dan Young Ji yang masih tergeletak di nakas membuat Se Hun semakin merasa tidak tenang.

Seketika itu juga, Se Hun sadar jika secara hukum posisinya sama seperti pria yang menabrak bahunya tadi, posisinya sejajar dengan pria yang mengelus perut buncit istrinya tadi. Suami. Dan jujur saja, semua itu menganggu sekali. Sungguh.

***

“Cheersss!!!”

Se Hun mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menyenggolkan gelasnya ke gelas ketiga temannya di udara. Laki-laki itu tersenyum lebar, menikmati pesta kecil di sebuah bar mewah daerah Itaewon. Pikirannya beberapa saat lalu sudah menguap entah kemana. Yang ada di kepala Se Hun hanya bersenang-senang.

“Aigooo… kalau seperti ini aku lupa dengan sooneung dan semacamnya,” kata Baek Hyun. Laki-laki itu bersandar di sofa, lalu melambaikan tangan kearah beberapa gadis genit yang duduk di pojok ruangan.

Se Hun terkekeh. Dia mengangguk. “Walau pun aku belum mengalami sooneung, tapi aku bisa merasakan derita kalian. Pasti stress berat. Menyedihkan sekali,” kata Se Hun. Dia meneguk minumannya sekali lagi.

“Tunggu hingga kau mengalaminya sendiri. Pasti kau akan tahu jika menjadi siswa kelas 3 lebih dari menyedihkan. Aigoo…” sambung Chan Yeol. Kyung Soo tampak terkekeh sebari menuangkan wineke dalam gelas. Se Hun menghembuskan napasnya keras. Laki-laki itu mengulum bibir, sebari mengangguk setuju.

“Aku tahu akan hal itu,” kata Se Hun, “Rasanya dunia seperti akan berakhir” lanjut Se Hun.

Se Hun meraih botol winedi meja, berniat mengisi kembali gelasnya yang kosong ketika sudut matanya menangkap sosok itu berjalan masuk. Seo Young Ji bersama dengan beberapa temannya berjalan menuju ke meja yang bertuliskan reserved.

Kening Se Hun berkerut. Young Ji bilang dia akan pulang larut karena urusan pekerjaan, tapi kenapa malah ke bar?

Mata laki-laki itu tidak bisa lepas menatap Young Ji yang mulai duduk di sofa. Gadis itu tampak memesan minuman kepada pelayan yang mendekat, lalu terbahak ketika minuman yang dipesannya sama dengan yang dipesan oleh teman-temannya. Well, sebenarnya Se Hun tidak terlalu yakin. Tapi melihat ekspresi wajah Young Ji membuat Se Hun ingin menebak-nebak.

Se Hun masih belum melepaskan pandangannya, ketika Young Ji–secara tidak sengaja menatap kearahnya. Mata mereka bertemu, tapi demi Tuhan, Se Hun belum pernah diperlakukan secara tak manusiawi seperti ini! Young Ji berakhir melengos dan berbicara dengan teman-temannya. Jadi, baru saja istrinya pura-pura tidak kenal?

Well, mungkin ini terlalu berlebihan. Hanya saja, Se Hun bukan tipikal laki-laki yang mudah diacuhkan. Tahu sendiri, di sekolah dia punya begitu banyak fans yang selalu berteriak histeris ketika melihatnya melintas. Bahkan ketika dia pergi ke Thailand untuk menikahselama 4 hari, tumpukan hadiah sudah menggunung di rumah Baek Hyun. Tapi, sekarang apa? Istrinya sendiri mengacuhkannya? Pura-pura tidak kenal dengan Se Hun yang notabene-nya adalah suami sah di mata hukum?

Se Hun mendengus. Oh ya, tentu saja. Dia ingat jika pernikahan mereka hanya kontrak yang akan segera berakhir setelah Oh Dong Hoon meninggal. Se Hun terkekeh. Gila! Sepertinya otaknya perlu direparasi ketika laki-laki itu sempatmenginginkan perhatian dan sedikit.. err.. pengakuan dari Seo Young Ji. Bukankah mereka sudah sepakat jika status suami-istri hanya berlaku di depan Dong Hoon?

Se Hun ikut melengos. Laki-laki itu berakhir menuangkan wine dan melanjutkan obrolan seputar pria bersama dengan ketiga teman imbisilnya.

***

Young Ji langsung melengos ketika mendapati Oh Se Hun menatapnya dengan begitu tajam.

Jika boleh jujur, sebenarnya Young Ji ingin terbelalak. Kaget menemukan laki-laki seusia Se Hun sudah berkeliaran di tempat seperti ini. Selain karena barmasih menjadi tempat terlarang bagi Se Hun, barini memiliki daftar menu yang cukup menguras kantong. Dan Se Hun dengan santainya duduk, sebari menuangkan wine berulang kali.

Tapi, Young Ji memutuskan untuk tidak peduli. Lihatlah, kini dia tengah dikelilingi oleh rekan bisnisnya. Dan tidak ada satu pun rekan bisnis Young Ji yang tahu jika gadis itu sudah menikah.

Well, sebenarnya status Young Ji sebagai seorang istri boleh-boleh saja terekpos, tapi status suami Young Ji masih sedikit membuat gadis itu tidak nyaman. Masa sih seorang designerternama menikah dengan pelajar SMA? Apa kata dunia?

***

Pulang ke rumah, Seo Young Ji!

To : Seo Young Ji

Se Hun memencet icon send di layar ponselnya.

Triing..

Rumah? Aku sudah di rumah!

From : Seo Young Ji

Se Hun mendengus. Laki-laki itu menggerakkan jemarinya cepat di layar ponsel.

Rumahku! Kau tidak ingin ketahuan jika kita hanya pura-pura menikah, kan? Ayahku baru saja menelepon. Dia menanyakanmu. Aku bilang kau tidur.

To : Seo Young Ji

Triing..

Kau bilang ayahmu pergi hingga besok

From : Seo Young Ji

Se Hun sudah tidak bisa melanjutkan semua ini melalui pesan singkat. Laki-laki itu segera menempelkan ponsel ke telinga.

“Wae?” suara Young Ji terdengar serak. Ah, pasti gadis itu mabuk.

“Seo Young Ji, kau harus pulang”

“Apa maksudmu dengan pulang? Aku sudah pulang!,” jawab Young Ji.

Se Hun menghembuskan napasnya keras. Laki-laki itu berjalan kearah balkon kamar. “Pulang ke rumahku. Aku takut ayah tiba-tiba muncul dan memergoki kita terpisah. Kita baru menikah selama 4 hari, kau tahu?”

“Tsk, kau ini! Tidak mau! Aku tetap disini saja. Aku malas keluar apartemen. Aku mengantuk!”

“Seo Young Ji!!”

“Waeeee?!!”

“Kenapa kau jadi cerewet Oh Se Hun? Kau bilang, aku boleh melakukan hal sesukaku. Malam ini saja, Se Hun. Biarkan aku merasa bebas di apartemenku. Lagipula, kau juga suka jika bebas tanpa diriku, kan?,” Young Ji seperti bergumam. Se Hun menghela napas. Sekarang Young Ji pasti sudah hampir tertidur.

“Jadi… sebelum akting kita di hari selanjutnya, anggap saja jika kita sedang liburan Oh Se Hun. Kita menjadi diri kita yang sebenarnya,” lanjut Young Ji semakin tak jelas.

“Geurae… kalau itu maumu,” kata Se Hun.

Laki-laki itu menerawang langit malam, “Kita liburan sebelum besok kembali menjalankan kontrak,” lanjut Se Hun lirih. Terlebih ketika mengucapkan kata kontrakdi ujung kalimatnya.

Tidak ada jawaban. Hanya suara dengkuran halus yang terdengar dari seberang. Seo Young Ji sudah tertidur. Se Hun menjauhkan ponsel dari telinganya. Laki-laki itu mematikan sambungan, sebelum menatap langit malam kota Seoul.

Pikirannya berkelana.

Ya, ini hanya kontrak. Bukan sesuatu yang perlu dipusingkan.

Se Hun menghela napas. Boleh jujur atau tidak? Sebenarnya, Se Hun tidak begitu suka dengan semua hal yang berlangsung dalam kehidupannya saat ini. Se Hun tidak suka sesuatu yang berada di tengah-tengah–tidak jelas.

Hobi Se Hun dalam koding aplikasi mengajarinya untuk bisa mengambil langkah pasti. Posisinya sebagai leadertim basket sekolah membuat Se Hun selalu mengambil jalan logis. Tapi pernikahan ini, tidak demikian. Mungkin ini adalah keputusan paling tidak logis yang pernah diambilnya.

Jika dia bisa menghindar, dia sudah pasti menghindar sejak dulu. Tapi, sialnya, dia begitu menyayangi ayahnya.

Dia tidak ingin mengecewakan ayahnya secara terang-terangan. Walau pun Se Hun pernah tinggal kelas dan itu sempat membuat ayahnya marah besar, setidaknya hal itu bukan menjadi keinginan terbesar Dong Hoon untuk tetap hidup. Tidak seperti pernikahan ini, yang begitu diinginkan Dong Hoon sebelum pria itu meninggal.

Dulu, Se Hun ingin mengumpati dirinya sendiri ketika sadar jika dia harus berakhir mengambil keputusan ini. Menikah dengan Seo Young Ji. Pernikahan yang hanya sebatas ritual. Pernikahan yang sialnya membuat Se Hun sadar jika dia telah membohongi banyak pihak, termasuk Tuhan sekali pun.

Jelas-jelas dia berjanji di hadapan Tuhan, untuk mencintai istrinya, menjadi suami yang baik, menjaga keluarganya, tapi faktanya apa? Bahkan janjinya sebagai leader tim basket di hadapan pelatih masih bisa dia pegang teguh ketimbang janjinya di hadapan Tuhan.

Se Hun berakhir terdiam di balkon kamar. Menerawang langit-langit kota Seoul semakin lekat.

Satu sisi jiwanya ingin segera mengakhiri pernikahan ini, yang artinya sama seperti meminta kematian ayahnya sendiri. Sementara satu sisi jiwanya ingin agar ayahnya tetap hidup, yang artinya sama dengan mempertahankan pernikahan ini. Gila. Semua ini benar-benar membuat Se Hun gila.

***

Bugh!

Sebuah bantal mendarat di wajah Se Hun yang terlelap. Se Hun masih mendengkur, bahkan suaranya semakin keras karena tertutup bantal. Udara yang semakin menipis membuat suara dengkuran Se Hun tersendat.

“ngroook… erk..erk…ngroo..erk…”

Luar biasa. Se Hun hampir mati kehabisan napas tapi laki-laki itu belum bangun juga! Young Ji ternganga lebar. Laki-laki ini tidur atau pingsan sih?

“Astaga…” gumam Young Ji. Gadis itu memutuskan untuk mendekat, lalu mengambil bantal dari wajah Se Hun. Eeh…. Se Hun malah mengecap bibirnya sendiri. Laki-laki itu miring ke kanan, meraih guling. Mendengkur lagi.

“Ya! Oh Se Hun!,” pekik Young Ji, “sampai kapan kau tidur, eoh?”

“Hmmm…. ”

Young Ji memutar bola matanya. Gadis itu mengayunkan bantal ke udara, dan bugh bugh bugh! Tanpa ampun, Young Ji memukul tubuh Se Hun berulang kali. Laki-laki itu tersentak seketika. Matanya yang terpejam langsung sempurna terbuka. Pukulan bantal Young Ji, terasa seperti efek terjatuh dari lantai 15 di benak Oh Se Hun.

“Ya!! Bangun, tidak eoh?!!! Bangun!”

“Aigoo.. aigoo… aish… Ya!!”

“Bangun kau Oh Se Hun!! Bangun!,” Young Ji semakin brutal memukul tubuh Se Hun dengan bantal.

“Geurae!! Aku sudah bangun!! Ya! Seo Young Ji!!! Aigoo… sakit!! Ya!!!,” Se Hun berteriak sebari menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, menghalangi pukulan bantal Young Ji yang entah kenapa terasa sakit sekali.

Young Ji menghentikan pukulannya setelah melihat Se Hun sudah seperti kecoa yang ditendang hingga terbalik, kakinya bergerak-gerak tak jelas.

Gadis itu melempar bantal kepada Se Hun, lalu melipat tangan di depan dada.

Se Hun menangkap bantal dari Young Ji, mendengus. “Tidak bisakah kau membangunkanku dengan cara yang lebih manusiawi? Dan, kapan kau pulang?”

Young Ji melihat jam di pergelangan tangannya, “Aku tiba sekitar…. lima jam yang lalu”

“Lima jam yang lalu?!!! Jam berapa sekarang?!!!” pekik Se Hun. Mata laki-laki itu membulat, membuatnya semakin sadar jika cahaya matahari sudah menembus jendela. Ini sudah siang!!!!

“Jam 9,” jawab Young Ji singkat.

Se Hun segera melompat dari tempat tidur. Wajah laki-laki itu panik bukan main. Bahkan Se Hun sempat hampir terjungkal karena terlilit oleh selimut yang jatuh ke lantai. Dia segera mondar-mandir di dalam kamar. Ke lemari. Ke kamar mandi. Lemari lagi.

Young Ji yang melihat, mengerutkan kening.

“Jam 9? Jam 9?! Kenapa kau baru membangunkanku?!! Kau tidak ingat jika aku harus sekolah?!!,” omel Se Hun sebari mengobrak-abrik lemarinya. “Aish…kemana sih jas seragam sekolah ku? Ya! Seo Young Ji?! Kau tahu jas sekolah yang warna biru? Kok tidak ada ya?”

Young Ji menghela napas. Oh Se Hun benar-benar…

“Bagus!! Sekarang dasi… dasi…. ah, eomma… dimana kau meletakkan dasiku…” Se Hun sudah merengek sendirian.

“Oh Se Hun….” panggil Young Ji.

“Diam! Aku sedang panik!,” balas Se Hun lalu segera berlari ke kamar mandi.

Young Ji memutar bola matanya, “Kau yakin akan berangkat sekolah?,” Young Ji malah bertanya dengan nada ringan. Mengabaikan Se Hun yang tengah kebingungan meletakkan pakaiannya di kamar mandi. Biasanya sih, Se Hun akan bebas melepas pakaiannya di kamar. Tapi pasti Young Ji akan langsung menghajarnya jika dia melakukan hal itu.

“Tentu saja! Ini sama seperti ketika kau harus berangkat ke butik untuk bekerja!,” tanggap Se Hun ketus. Young Ji menggelengkan kepalanya. Gadis itu mengangkat bahunya acuh, lalu mengibaskan rambutnya ke udara, “Setidaknya, aku tidak berangkat bekerja ketika hari libur,” kata Young Ji lalu berjalan menuju sofa. Gadis itu duduk sebari menyahut majalah di meja.

“Libur?” kening Se Hun terlipat. Laki-laki itu menoleh kearah Young Ji yang sudah membaca majalah, “Kau bilang ini hari libur?”

“Lebih tepatnya, minggu”

For a God’s sake. Se Hun merasa harus membenturkan kepalanya ke tembok saat ini juga. Bodoh!

***

“Ayah dan ibu belum pulang?,” tanya Se Hun setelah mereka berdua hanya terdiam di kamar. Young Ji membaca majalah, sementara Se Hun merapikan kembali baju-bajunya.

Young Ji menggeleng.

Se Hun mengangkat bahunya.Well, sepertinya Young Ji tidak ingin banyak bicara.

Laki-laki itu beranjak untuk menuju Young Ji yang duduk di sofa. “Baiklah, kalau begitu sebelum mereka datang dan kita melanjutkan akting, apa yang ingin kau lakukan?”

Young Ji melirik Se Hun. Gadis itu menurunkan majalahnya, “Bagaimana jika, membicarakan kontrak?,” tanya Young Ji–sedikit berbisik. “Aku ingin secepatnya kita berpisah,” lanjut gadis itu.

Se Hun memutar bola matanya. “Itu artinya kau ingin ayahku segera meninggal”

“Oh, maaf,” Young Ji salah tingkah. Gadis itu meringis, menatap Se Hun yang sudah berwajah jengah. “Ah, atau kita sarapan saja? Kau pasti lapar, kan?” Young Ji mengalihkan pembicaraan. Gadis itu merasa sedikit bersalah atas kalimatnya barusan.

Se Hun menaikkan satu alisnya. Tumben gadis itu perhatian. “Kau menawariku untuk sarapan? Kau bisa masak? Atau jangan-jangan kau sudah masak?,” selidik Se Hun.

Young Ji mendesis. “Kau pikir aku akan memasakkanmu? Yang benar saja. Kau masak sendiri”

Se Hun menaikkan satu sudut bibir bagian atasnya, sebal. “Kalau begitu kenapa kau tanya?!”

“Aku salah? Aku bertanya bukan berarti aku perhatian. Siapa tahu kau mau masak”

“Aku payah dalam urusan dapur, asal kau tahu. Memang kau tidak lapar?”

Young Ji menggeleng. Kruuuuk. Tapi, suara misterius itu terdengar dengan begitu nyaring. Young Ji segera memegang perutnya sendiri. Mukanya bersemu merah.

“Mwoya?! Suara apa tadi, eoh?” Se Hun menggoda sebari menunjuk wajah Young Ji yang memerah. Young Ji mendengus. Iya, dia lapar!!

Se Hun langsung terbahak melihat ekspresi Young Ji. Membuat Young Ji langsung bangkit dan berjalan kasar keluar kamar. “Geurae!! Itu suara cacing-ku. Aku akan memasak untuk diriku sendiri,” kata Young Ji ketus.

Se Hun sempat ternganga. Tapi laki-laki itu segera berlari demi menyusul Young Ji yang sudah menuju dapur. Se Hun juga lapar, tahu!

***

Suara kemelotak sendok terdengar dari arah dapur, disusul oleh suara minyak yang beradu dengan air. Young Ji dan Se Hun berdiri bersisian memasak makanan masing-masing.

Young Ji bersenandung lirih, sebari menunggu omerice-nya matang. Sementara Se Hun menggaruk tengkuk, menatap telur dan beberapa bahan yang baru dia ambil dari kulkas.

Se Hun melirik Young Ji di sebelahnya. Bagaimana sih caranya membuat omerice?

“Young Ji-a…” panggil Se Hun.

“Hmm..”

“Aku… tidak tahu bagaimana caranya memasak,” Se Hun sudah memasang tampang melas. “Bisakah kau sedikiiit saja memberiku bantuan?,” lanjut Se Hun.

Young Ji menoleh. Kening gadis itu terlipat ketika melihat bahan-bahan Se Hun masih utuh di hadapan laki-laki itu. “Memang kau mau buat apa?”

“Apapun, asal aku makan,” jawab Se Hun. Young Ji menghela napas. Dasar laki-laki…

“Baiklah. Sekarang, pecah telurnya,” titah Young Ji. Gadis itu sempurna menghadap Se Hun yang mulai menurut. Sungguh, wajah Se Hun tampak begitu konyol jika seperti itu.

“Masukkan garam”

“Sedikit atau banyak?”

“Sedikit saja,” Young Ji memberi kode dengan tangan. Se Hun mengangguk. Oke, dia memasukkan garam.

“Kau bisa menambahkan lada jika kau mau. Biasanya aku pakai lada, untuk memberi sedikit rasa pedas”

“Tidak pasta cabe saja?”

“Kau pikir tteokbokki? Ini telur dadar. Jauh!”

“Oh”

“Kocok telur hingga merata,” Young Ji memberi kode dengan menggerakkan tangannya. Se Hun ragu-ragu mengikuti. Young Ji mengangguk. Iya, Se Hun benar.

“Geurae.. selanjutnya… goreng. Sebentar, aku tiriskan dulu punyaku,” Young Ji berbalik untuk meniriskan omerice-nya. Se Hun yang penasaran ikut mendekat. Laki-laki itu melihat Young Ji meniriskan omerice, sudah seperti nonton sirkus saja!

“Sekarang, giliranmu. Minyaknya masih panas,” Young Ji menoleh. Se Hun segera mendekatkan telur mentahnya. Tapi, laki-laki itu malah kebingungan. “Aku langsung masukkan atau bagaimana?,” tanya Se Hun.

“Kau putar-putar teflonnya agar merata,” jelas Young Ji.

“Tapi aku tidak bisa jika memutar teflon sambil menuang telur,” protes Se Hun. Young Ji menghela napas, “Geurae… aku yang memutar. Kau menuangkan telur. Lihat baik-baik,” Young Ji menunjuk wajah Se Hun galak.

Young Ji memberi kode agar Se Hun semakin mendekat. Gadis itu mengangkat teflon, “Kau tuangkan telurnya…pelan-pelaaan” Young Ji memberi aba-aba.

Se Hun dengan wajah serius menuangkan telur ke teflon. Mereka sampai tidak sadar jika jarak mereka begitu dekat.

“Iya, bagus Oh Se Hun. Putar-putar…”

“Omo..omo… minyaknya muncrat”

“Gwenchanna.. gwenchanna… tuang saja terus sampai merata!,” Young Ji terus memutar teflon, membuat telur dadar Se Hun merata di permukaan teflon. Suara minyak yang beradu dengan kandungan air telur terdengar nyaring.

Keduanya tenggelam dalam aktivitas masak bersama, hingga tidak sadar jika Dong Hoon dan Jang Mi sudah sejak 20 detik yang lalu menatap dari belakang.

“Aigooo.. romantis sekali!!!,” kehebohan Jang Mi tidak bisa ditahan. Wanita paruh baya itu memekik riang sebari mengepalkan tangan di depan dada.

Young Ji dan Se Hun yang masih sibuk dengan telur dadar mereka, otomatis menoleh. Orang tua Se Hun sudah pulang, rupanya.

Dong Hoon yang duduk di kursi roda, terkekeh bahagia, “Biasa, yeobo. Pengantin baru”

“Ah.. iya.. pengantin baru. Astaga.. manis sekali”

Se Hun dan Young Ji masih tidak mengerti. Tapi, ketika keduanya melihat satu sama lain, mereka sadar jika jarak mereka sudah terlalu dekat. Bahkan Se Hun seakan memeluk Young Ji dari belakang.

Kriik Kriik. Hening. Mereka terdiam, mencerna situasi. Lima detik kemudian, keduanya langsung menjauh satu sama lain.

“Ah… ann..aboji,” sapa Young Ji dengan wajah pias. Se Hun sibuk mengalihkan pandangan. Pura-pura melihat ke langit-langit dapur.

Dong Hoon dan Jang Mi terkekeh, “Pagi Young Ji-a.. sudah lanjutkan saja. Maaf kami menganggu. Kami pergi,” kata Jang Mi lalu mendorong kursi roda Dong Hoon. Meninggalkan Young Ji dan Se Hun sendirian.

Se Hun menghela napas, sementara Young Ji mulai merengek tak jelas. Pasti mereka berpikir yang tidak-tidak. “Aigo…. geugeon anindeee….,” rengek Young Ji, bersamaan dengan bau gosong yang tercium dari belakang.

Se Hun terperanjat. Laki-laki itu segera berbalik. Kini gilirannya yang merengek, “Telur dadarkuu”

***

Tidak ada yang dibicarakan di meja makan. Se Hun dan Young Ji sengajasibuk dengan makanan masing-masing. Sementara Dong Hoon dan Jang Mi hanya tersenyum sebari melihat anak dan menantunya tampak begitu salah tingkah. Mau diakui atau tidak, tapi jarak usia mereka sama sekali tidak terlihat. Young Ji dan Se Hun terlihat begitu serasi sebagai pasangan muda.

Tatapan Jang Mi dan Dong Hoon, membuat keduanya berdehem. Gugup.

“Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang kalian lakukan ketika kami tidak ada,” kata Jang Mi riang. “Kalian mengulanginya lagi?,” tanya Jang Mi.

Se Hun dan Young Ji segera menatap Jang Mi di hadapannya. Mengulanginya? Apanya yang diulang?

Kekehan Dong Hoon terdengar menyusul, “Aigo, yeobo. Bisa-bisanya kau bertanya seperti itu. Itu privasi, yeobo”

“Oh iya aku lupa,” Jang Mi meringis. Se Hun dan Young Ji saling melirik, tidak mengerti. Mata Young Ji terbaca ‘apanya yang di ulang? Nonton film?’.Se Hun mengangkat bahunya samar. Keningnya berkerut ‘tidak tahu!’

“Kita biarkan saja mereka, yeobo. Nanti kan hasilnya juga kelihatan,” Dong Hoon masih saja menggoda. Jang Mi mengangguk antusias, “Benar, benar!! Ah, Se Hun-a, Young Ji-a… jika kalian tidak keberatan, aku minta dua,” kata Jang Mi sebari memberi simbol dua dengan jemarinya.

“Dua?,” tanya Se Hun tidak mengerti.

“Dua cucu”

“uhuk…”

Oke, sekarang mereka tahu apa maksudnya dengan diulang.

Kepala keduanya langsung berdenyut. Kenapa semua malah meluber kemana-mana, sih? Kenapa orang tua Se Hun malah minta cucu ketika Young Ji ingin segera lepas dari status ini? Ya Tuhan, firasat Young Ji langsung tidak enak.

***

Se Hun menutup pintu kamar. Laki-laki itu menghela napas. Tampak Young Ji sudah mondar-mandir di kamar semenjak ibunya heboh membahas tentang cucu dan hal-hal tak pentingtentang rumah tangga.

“Kalau seperti ini, apa yang harus kita lakukan Se Hun?,” kata Young Ji panik. Se Hun menghela napas. Laki-laki itu duduk di tepi ranjang.

“Bahkan sekarang bukan hanya ayahmu yang menyukai pernikahan ini, ibumu juga. Aigoooo…. bagaimana ini… bagaimana ini..”

Se Hun pun tidak menyangka. Laki-laki itu menggeleng, “Kau pikir, kau saja yang terkejut? Aku apalagi. Masih mending kau yang baik-baik saja jika harus keluar membawa status sebagai istri orang, tapi aku? Menjadi suami di usia 19 tahun? Kau pikir ini kerajaan Joseon. Gila,” Se Hun berakhir bergumam sendirian.

Young Ji mengusap wajahnya. Gadis itu menyibak anak rambutnya ke belakang, “Kita harus mencari cara untuk keluar dari situasi ini Oh Se Hun!!!”

“Cara apa memang? Membunuh ayahku? Aku akan membunuhmu terlebih dulu, jika kau berniat membunuh ayahku” kata Se Hun asal.

“Ya! Siapa yang bilang seperti itu? Tentu saja cara yang logis. Seperti, bertengkar. Mungkin kita bisa pura-pura bertengkar,” Young Ji memberi ide.

“Apa alasannya?”

“Kau pura-pura selingkuh, atau pura-pura jadi gay!”

Se Hun memutar bola matanya tak percaya. Kenapa harus pihak Se Hun yang dipersalahkan sih? Dan apa tadi? Gay? Kenapa Young Ji bisa berpikir hingga sejauh itu?!

“Gay? Kau pikir aku apa hingga harus pura-pura menjadi gay?!”

“Apalagi jika bukan membuat semua orang yakin, kau tidak menyukaiku. Dan aku akan pura-pura depresi karena suamiku gay. Aku tidak pernah disentuh, aku tidak pernah di…”

Triing.Ponsel Se Hun berdering-tanda pesan masuk.

Se Hun memutuskan mengabaikan Young Ji yang masih mengoceh tentang pura-pura menjadi gay. Se Hun melihat pesan singkat. Dari Baek Dam Bi, ibu Young Ji.

Maafkan telah menganggumu, nak Se Hun.

Tapi, apakah anakku memperlakukanmu dengan baik? Apa dia bisa melayanimu dengan sempurna? Ah, mungkin pertanyaanku lancang, hhe-hhe. Tapi, asal kau tahu, aku merasa jika Young Ji tidak maksimal menjalankan tugasnya. Dia memberi tahumu tentang masa suburnya tidak? Kalau tidak, dia benar-benar keterlaluan.

Se Hun menaikkan satu alisnya. Laki-laki itu mengurungkan niat untuk memberi tahu Young Ji jika Dam Bi mengiriminya pesan singkat. Toh, Young Ji masih sibuk mondar-mandir tak jelas.

Nak Se Hun, asal kau tahu, sekarang tepat satu minggu Young Ji berhenti haid. Aku selalu menyimpan perhitungannya. Kau pasti penasaran kenapa aku memberi tahumu, tapi… sebagai seorang mertua, aku ingin menantuku tahu jika aku ingin segera menimang cucu.

Aku menunggu kabar baik, nak Se Hun.

Salam sayang, ibu mertuamu.

From : Young Ji’s mom

Se Hun menghela napas setelah membaca pesan super panjang dari mertuanya. Laki-laki itu memijat keningnya yang berdenyut. Kini bukan hanya pihak keluarga Se Hun yang menginginkan cucu, tapi keluarga Young Ji pun demikian. Bahkan ibu Young Ji memberi tahu Se Hun jika sekarang Young Ji tengah berada di masa subur. Sialan.

“… Oh Se Hun! Kau harus membantuku memikirkan jalan keluarnya. Kau ingin semua kembali normal, kan?,” Young Ji masih sibuk mengoceh di hadapan Se Hun.

Se Hun mengambil sebuah napas panjang. Laki-laki itu beranjak sebari melemparkan ponselnya ke kasur. Wajah Se Hun mengeras. Jujur saja, laki-laki itu sudah pusing dengan keinginan semua orang. Lagipula, kalau dipikir-pikir, sayang sekali jika Se Hun tidak menggunakan kesempatan sah ini. Iya,kan?!

Se Hun sudah tidak tahu apa yang dia pikirkan ketika laki-laki itu mendekatkan tubuhnya kearah Young Ji.

“Oh Se Hun… kau..kau kenapa?” Young Ji yang menyadari perubahan sikap Se Hun mulai ketakutan. Wajah gadis itu pucat.

Se Hun menyeringai. Dia terus berjalan, hingga membuat tubuh Young Ji menghantam dinding kamar. Tangan Se Hun segera menghalangi jalan keluar Young Ji.

“Iya…kau benar. Aku ingin semua kembali normal. Aku ingin hidup sebagai remaja berusia 19 tahun yang tidak memikirkan beban apapun,” kata Se Hun lirih.

Young Ji menelan ludah, “Geu..geu..geurae…. aku…juga..”

“Tapi…” suara Se Hun menajam, “Sepertinya semua sia-sia. Semua sudah terlanjur tidak bisa kembali normal, Seo Young Ji”

“Ap…apa maksudmu?” Young Ji bertanya dengan wajah pucat. Entah kenapa, siang ini Se Hun tampak begitu menakutkan.

“Kita turuti saja! Jika mereka ingin cucu,” Se Hun menunjuk ponselnya yang tergeletak di kasur, “Kita turuti saja…”

To Be Continued

Iklan

76 pemikiran pada “Unlogical Married (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s