Break the Playboy’s Curse! (Prolog + Chapter 1)

Break the Playboy’s Curse!

Title : Break the Playboy’s Curse! (Prolog + Chapter 1)

Cast :

Kim Jong In

Yang Ah-Yeon

Other

Author : Lee Young

Lenght : Multichapter

Genre : Comedy-Romance, Teen

Rate : PG-17

Note : Halo, lagi-lagi Lee Young lagi. Saya nggak tahu deh kenapa saya suka banget nambah-nambahin kerjaan admin EXOFF karena harus posting fanfiksi saya lolol. Unlogical Married aja belum kelar di posting ya? Tapi jangan khawatir, UM udah tamat dari jaman sebelum chapter 1-nya diposting kok, jadi ya tinggal lempar aja. Berpetualang di dunia imajinasi saya bergaransi, nggak puas? uang kembali 100% *padahal nggak bayar.

Kali ini saya pengen banting karakternya abang Jong In. Mungkin ceritanya bisa ketebak ya? Tapi saya ingin menyajikan alur dengan usaha terbaik yang saya punya *halah. Walau pun udah ketebak, tapi no prob, saya ingin teman-teman menikmati tarian otak saya hh-hhaa… ayoo kita banting karakter Kim Jong In *ketawasetan.

Selamat membaca dan, saya tunggu responnya.

(Prolog)

Jong In berjalan di sepanjang trotoar sebari terus melambaikan tangan kepada setiap siswi yang melintasi atau dilintasinya. Dia berlagak sok kenal dengan semua gadis yang menatapnya terpesona. Terkadang, dia sampai harus berjalan mundur untuk sekedar memuji penampilan para gadis yang sebenarnya standar-standar saja.

Jong In memainkan telunjuk kedua tangannya, sambil bergumam. “Kau cantik hari ini!!!”

(Jong In’s)

Playboy?

Bagiku, menjadi playboy bukan sebuah pilihan, tapi takdir. Atau kau bisa menyebutnya sebagai kutukan? Terserah. Karena aku tidak pernah menginginkan berada di posisi ini.

Ini semua berawal ketika usiaku 10 tahun. Aku belum mengerti apapun tentang gadis. Ya, apapun dalam arti yang sebenarnya. Dulu, aku hanya tahu bahwa gadis adalah makhluk manis berambut panjang, yang akan memberiku pinjaman sapu tangan setiap aku terjerembab ketika bermain bola sepak. Mereka juga hobi menangis, dan berteriak paling keras ketika menyaksikan kami bertanding melawan adik atau kakak kelas ketika classmeeting.

Dulu, aku hanya tahu sebatas itu, hingga pada suatu hari, mereka membuatku menjadi seorang playboy.

“Yoboseyo? Ha Neul?” Jong In menempelkan ponsel ke telinga sesaat sebelum masuk ke dalam halaman sekolah.

“Ha Neul? Siapa Ha Neul, oppa? Aku Min Soo”

“Ah… ternyata kau Min Soo,” Jong In pura-pura terkejut. “Maafkan aku, Minie-ya, ponselku ganti dan semua nomor tidak ada yang selamat. Aku pikir kau adikku. Dia bilang mau menelepon pagi ini,” bohong Jong In. Dia bahkan sempat melambaikan tangan genit kepada gadis yang duduk di bangku taman sekolah.

“Oh, begitu. Oppa, hari ini kau pulang jam berapa? Kau bisa menjemput di sekolahku nanti?”

“Bukan masalah yang besar, Minnie,” Jong In menjawab sebari mendelik, dia siap-siap menjauhkan ponsel ketika mendapati sosok semampai yang duduk di depan perpustakaan. Song Ha Ye, the most wanted girl di SMA Jong In tahun ini, dan merupakan incaran terbaru seorang Kim Jong In.

“Bagus, oppa! Kalau begitu…”

Jong In tersenyum. Dia sudah mengabaikan suara Min Soo, dan langsung mematikan ponsel secara sepihak. Ah, urusan Min Soo bisa lewat sms saja!

“Song Ha Ye? Kok sendirian saja di hari sepagi ini?.” kata Jong In sebari menumpukan tangan kanannya ke tiang, tangan kiri yang masuk ke dalam saku celana, dan kedua kakinya yang menyilang. Pose keren.

(Chapter 1)

Yong In, 2007

Butiran salju turun dan saling bertumpuk di trotoar. Lagu-lagu natal terdengar mengalun di seluruh penjuru kota. Toko maupun kedai tampak semakin sibuk melayani pelanggan yang terus berdatangan. Rumah-rumah penuh keceriaan, gelegak tawa, dan kesibukan.

Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun tampak berjalan riang sebari membawa kotak hadiah berwarna merah muda dengan pita keemasan. Sore ini, tanggal 23 Desember, dia diundang ke pesta ulang tahun teman sekelasnya. Seorang gadis manis paling anggun dan kaya yang sudah menjadi teman sekelasnya selama hampir 4 tahun. Ya, mereka masih kelas 4 SD.

Bocah itu masih fokus dengan jalan, ketika seorang gadis berkuncir dua mendadak terjerembab tepat di hadapannya.

“Aaaigoo…” suara mencicit gadis itu terdengar sesaat setelah dia terjatuh. Dia tampak melihat kedua telapak tangannya yang kotor karena menghantam badan jalan.

“Kau tidak apa-apa?” tanya bocah laki-laki itu sebari membantu gadis itu untuk berdiri. Gadis itu menggeleng, dengan wajah pias. “Tidak apa-apa. Terimakasih, Jong In-a,” jawabnya lirih.

Jong In mengerutkan kening ketika melihat gadis itu bersikap jauh dari kata baik-baik saja. Gadis itu terus menggosok tangannya, sebari meringis kesakitan.

“Tapi sepertinya kau tidak baik-baik saja, Ah Yeon. Apa tanganmu terluka?,” tanya Jong In.

Ah Yeon menggeleng. “Tidak, tidak, hanya lecet saja. Pasti nanti sembuh kok. Oh ya, kau datang ke pesta Si Ryeon?”

Jong In tidak menggubris pertanyaan Ah Yeon. Bocah itu malah mengeluarkan sapu tangan, lalu meraih tangan Ah Yeon yang masih gadis itu kibaskan ke udara.

Tidak ada maksud apapun dalam diri Jong In, karena dia hanya ingat jika ibunya akan mengeluarkan sapu tangan untuk membersihkan telapak tangannya setelah dia terjatuh. Dan sekarang, dia akan melakukan hal yang sama kepada teman sekelasnya.

Ah Yeon mengerjap ketika Jong In mengusapkan sapu tangan kecil warna birunya ke telapak tangan Ah Yeon. Hingga satu detik berikutnya, pipi Ah Yeon bersemu merah.

“Nah, kalau begini tanganmu jadi bersih. Kau juga tidak merasa sakit lagi,kan?” Jong In bertanya dengan nada riang. Matanya melengkung lucu.

Jong In tersenyum lebar. “Baiklah kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanan ke rumah Si Ryeon. Kita bisa terlambat,” ucap Jong In bersemangat. Tapi Ah Yeon malah terdiam, hingga gadis itu tertinggal di belakang. Sementara Jong In sudah melanjutkan langkah lebarnya.

“Ah Yeon? Kenapa kau masih disitu?,” tanya Jong In setelah mendapati Ah Yeon masih berdiri mematung di belakang.

Ah Yeon gelagapan. Gadis itu masih berpikir akan menjawab apa, namun Jong In sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya. Bocah laki-laki itu menarik Ah Yeon untuk cepat-cepat.

Ah Yeon semakin malu. Bahkan gadis itu sama sekali tidak menanggapi Jong In yang sejak tadi berceloteh riang, hingga akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah Si Ryeon. Seorang gadis berambut sebahu tampak melambaikan tangan dari kejauhan.

Jong In segera melepaskan genggaman tangannya, untuk membalas lambaian Si Ryeon.

“Kalian kemana saja? Hanya kalian berdua yang belum datang. Ayo masuk,” Si Ryeon berkata riang lalu meraih tangan Jong In. Gadis itu langsung menarik Jong In untuk masuk ke dalam, tanpa peduli jika Ah Yeon sudah ternganga di belakang.

“Ah Yeon-a… kau juga, ayo masuk!” Si Ryeon hanya menoleh sekilas kepada Ah Yeon. Tapi tidak dengan Kim Jong In. Bocah itu sibuk meringis polos ketika Si Ryeon terus menariknya.

Oh Tuhan, apakah ini yang namanya patah hati? Ah Yeon merasa patah hati untuk yang pertama kalinya di usia 10 tahun.

Ah Yeon menjejakkan kakinya kasar ke rerumputan lalu menyusul Jong In yang sudah masuk ke dalam rumah. Gadis itu hanya mengucapkan selamat ulang tahun ke Si Ryeon, sebelum menghampiri Jong In yang tengah berbinar menatap berbagai kue dan permen yang tersedia di meja.

“Kim Jong In!” panggil Ah Yeon galak. Jong In menoleh, dengan tangan kanannya yang memegang muffin. Wajah bocah itu kelewat polos untuk menangapi ekspresi galak Ah Yeon.

“Waeyo?,” tanya Jong In polos.

Gadis kecil berkuncir dua itu langsung menunjuk Jong In tepat di hidungnya, lalu berteriak lantang. “Dasar Kim Jong In Playboy!!”

“…..Kim Jong In Playboy!!”

“…….Playboy!!”

Jlegeeeeeer

***

Seoul, 2015

Jong In tersenyum miring ketika seorang gadis di hadapannya tertunduk sebari menyerahkan sepucuk surat warna merah jambu.

“Aku mohon terima ini, seonbae!!,” gadis itu berkata gugup, hampir berteriak.

Jong In menyambut surat yang sudah sejak beberapa detik lalu terulur kepadanya, lalu menatapnya dengan satu alis yang terangkat. Well, seperti biasa, dia sudah tahu apa isinya. Jong In tertawa kecil, sebari memasukkan surat ke dalam saku seragam.

“Apa nanti malam kau punya waktu luang?,” bukannya menanggapi, Jong In malah bertanya dengan nada tebar pesona.

Gadis di hadapannya, sontan mengangkat wajah. Pipinya sudah bersemu merah.

“Nanti malam?”

Jong In mengangguk, membuat gadis itu segera menggeleng kuat. “Kalau begitu, nanti malam bertemu di Roti Boy, oke? Aku traktir,” Jong In berakhir tersenyum lebar.

Gadis itu mengangguk, seperti terhipnotis. Jong In bahkan dengan mudah mengusap rambut adik tingkat yang sudah terindikasi menyukainya.

Yaaaa, sekarang, siapa sih yang tidak suka dengan Kim Jong In? Laki-laki itu terkenal selalu terbuka kepada semua orang…. err…. gadis lebih tepatnya. Yah… tipe-tipe welcome… seperti keset.

***

Teng Tong Teng Tong… Teng Tong, Teng Tong…

Bel pulang berbunyi. Kelas Jong In langsung berubah menjadi pasar kaget. Guru sudah keluar dan sekarang para siswa sibuk saling lempar bola kertas, mengoceh, atau langsung main kejar-kejaran hingga keluar kelas.

Jong In yang duduk di paling belakang tampak beranjak sebari menyahut jas seragamnya yang tersampir di sandaran.

“Ya! Jong In-a! Ayo main futsal. Mumpung, hari ini kita free, tidak ada jadwal apapun hingga malam!,” suara melengking Baek Hyun terdengar. Jong In menoleh, dan langsung mengangkat tangan kanannya.

“Maafkan aku, brother! Aku harus menjemput adikku di sekolahnya. Aku sudah berjanji,” tolak Jong In. Dia segera nyengir lebar, lalu berjalan keluar kelas.

“Menjemput adikmu? Memang sejak kapan kau punya adik?” Se Hun yang sejak tadi sibuk merogoh laci meja ikut-ikutan nimbrung. Walau sesekali dia masih asik melongok melihat isi lacinya yang super kacau itu, tapi yakinlah, telinga Se Hun sudah setara dengan ibu sosialita penggila arisan. Tajam dan terpercaya.

Jong In mengibaskan tangannya. “Bukan adik kandung. Ini sepupuku. Sudah ya? Aku harus segera sampai disana sebelum pukul 3”

Jong In melambaikan tangan lalu segera keluar kelas, atau lebih tepatnya kabur? Karena laki-laki itu segera berekspresi aneh setelah berada di luar kelas.

Bagaimana tidak, jika lagi-lagi Jong In berbohong? Jong In sama sekali tidak akan menjemput adik atau pun sepupunya. Jong In akan menjemput Min Soo, pacar baru dan calon mantan-nya.

***

Jong In bersenandung lirih, menyanyikan beberapa lagu yang dengan asal dia sambung-sambung sesuka hati. Medley, katanya.

Dia berjalan ke arah gerbang sekolah Min Soo. Skenario bulus untuk membuat Min Soo tidak terlalu menempel dengannya nanti, sudah dia hafal di luar kepala.

Jong In hampir masuk ke pekarangan sekolah Min Soo ketika laki-laki itu menangkap Min Soo tengah berbincang dengan seorang siswa laki-laki di atas sepeda. Jong In tersenyum miring. Ah, kesempatan.

Jong In berdehem, lalu mengatur ekspresi wajah ketika Min Soo tersenyum riang sebari melambaikan tangan kepada temannya yang sudah menggayuh sepedanya menjauh. Jong In melangkah kasar.

“Son Min Soo!,” gertak Jong In. Pura-pura -_-

Min Soo menoleh. Gadis manis bermata bulat itu menatap riang pacarnya yang super duper tampan dan eksotis itu. Berkebalikan dengan Jong In yang mendengus, dengan kening berkerut ala kakek-kakek.

“Oppa!” Min Soo mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ketara sekali jika dia begitu senang melihat kehadiran pacar tercintanya.

“Siapa orang itu? Kau selingkuh?” oh ayolah… menggelikan!

Min Soo tampak bingung. Gadis itu memiringkan kepalanya. Selingkuh? Perasaan dia tidak melakukan apapun, kok bisa-bisanya selingkuh?

“Apa maksudmu, oppa?” tanya Min Soo polos.

Jong In berkacak pinggang. Dia segera menunjuk kearah siswa yang susah payah menggenjot sepedanya di jalan. “Dia! Laki-laki itu! Pasti kau selingkuh. Iya,kan? Mengaku saja!!”

Min Soo ikut-ikutan melihat kearah telunjuk Jong In. Gadis itu menggeleng. “Dia teman satu kelompokku, oppa. Namanya Jeong Kook”

“Mau Jeong Kook, mau Jong Kok, mau Jeon Jaeng (perang.red) sekalipun. Aku tidak peduli!! Kau sudah tertangkap basah, Min Soo. Kau selingkuh. Tega sekali kau…” ya, ya, ya, Jong In memang ahli memamerkan wajah memelas seperti ini. Wajah memelas yang memuakkan, sebenarnya.

Min Soo sudah hampir menangis. Gadis itu terus saja menggeleng, terlebih ketika Jong In menghempaskan tangan Min Soo. Dia dengan akal bulus-nya, tampak menarik sebuah napas panjang. Siap mengatakan senjata pamungkas.

“Aku tidak bisa memaafkanmu lagi, Min Soo. Kita putus!!!”

“Oppaaaaaa”

Seorang gadis yang sejak tadi memperhatikan dari halte bus di seberang jalan, dengan koper merah jambu plus sejuta tempelan stiker di sampingnya, tampak memasang wajah jijik.

Dia melipat tangan di depan dada, lalu membuang sisa permen karet ke arah pot bunga yang ada di samping halte. Gadis itu tersenyum miring, tidak percaya jika semakin lama laki-laki itu semakin memuakkan.

Jong In tampak melangkah kasar, sok keren meninggalkan Min Soo yang sudah terduduk di depan sekolah. Dan hal itu sukses membuat gadis berambut super pendek plus topi, dengan jaket jins, dan celana jins belel itu berdecak kesal.

“Dasar. Sekali lalat, tetap saja lalat,” gumamnya.

Dia menggeleng, lalu meraih koper untuk selanjutnya menyeberang jalan. Menghampiri mantan pacar Jong In yang diputus dengan cara yang amat sangat tidak elit.

Gadis itu membungkukkan tubuhnya. “Jeogiyo,” panggilnya lembut.

Min Soo malah semakin terisak. Gadis itu tidak menyangka jika Jong In akan mengakhiri hubungan yang baru berusia dua minggu ini. Padahal, Min Soo sudah senang sekali bisa berpacaran dengan Kim Jong In yang super duper tampan itu!

“Jeogi….” ulangnya.

Min Soo akhirnya mengangkat wajah. Dia menyesap hidungnya. Wajahnya merah. “Wae?” tanya Min Soo dengan suara serak.

Gadis tomboy itu tersenyum. Dia mengulurkan tangannya. “Kenapa tidak duduk di halte saja? Gaja, aku juga tengah menunggu bus.” ajaknya riang. Min Soo malah kembali menangis dengan suara keras.

Oh, ayolaaah… masa sih hanya karena Kim Jong In gadis semanis ini harus menangis?

Huaaaa….. bagaimana mungkin aku bisa duduk di halte jika aku baru saja diputus oleh pacarku?” for a god’s sake, mantan Jong In ini sama sekali tidak nyambung. Pantas saja tertipu–gadis itu segera menggeleng, menghilangkan pikiran buruknya tentang kebodohan Min Soo.

“A… geurae?” gadis itu pura-pura paham. Dia menoleh kearah menghilangnya Jong In, lalu tersenyum miring. Baiklah. Mungkin dia bisa melancarkan aksinya mulai detik ini.

“Jadi laki-laki dekil itu pacarmu?” tanyanya sebari menunjuk ke belakang.

“Dia tidak dekil,” Min Soo mengusap hidungnya. “Dia hanya sedikit lebih hitam. Eksotis”

Ya, ya, ya, terserah!

“Oh, begitu ya? Apapun itu, tapi, aku juga kenal siapa dia.” kalimat itu berhasil membuat Min Soo mengangkat wajah. “Namanya Kim Jong In, usianya 18 tahun, dan dia sekolah di SMA Dae Han, kelas 2-3. Asal kau tahu, bukan hanya kau saja mantan pacarnya. Aku, juga mantan pacarnya, malah lebih buruk lagi”

“Lebih buruk lagi?” tanya Min Soo, sedikit mengalihkan lidahnya yang ingin bertanya ‘Serius? Jong In oppa pernah berpacaran dengan gadis tomboy macam dirimu?’

Gadis itu mengerutkan wajahnya, aneh. “Ne, bahkan dia memutuskanku setelah membuatku…” dia menggantung kalimatnya, beralih menggerakkan tangan kanan untuk menepuk-nepuk perutnya.

Min Soo langsung pucat. “Hamil?”

Gadis itu mengangguk, membuat mata Min Soo membulat. Wajah Min Soo langsung berubah pias.

“Jadi, kau beruntung sudah putus sebelum dia menggerayangimu lebih jauh lagi,” lanjutnya, setengah berbisik. Sengaja membuat suasana menjadi sedikit lebih horor.

“Tapi… tapi… kenapa kau… ah maksudku, kandunganmu?” Min Soo tergagap. Bagaimana pun juga, gadis tomboy ini sama sekali tidak terlihat sedang hamil.

Gadis itu mengibaskan tangannya. “Ah, urusan gampang. Kau tidak perlu memikirkannya. Yang terpenting, bagaimana? Kau mau menunggu bus denganku atau tidak?”

***

Jong In menari di sepanjang trotoar menuju kompleks perumahannya. Dia berulang kali mengacungkan tangannya ke udara, menggerakkan kakinya, lalu berteriak Manse!! . Ya, dia baru saja putus, dan itu menyenangkan.

Menyenangkan, karena itu artinya Jong In tidak perlu repot-repot main kucing-kucingan jika harus bertemu dengan para gadis. Toh statusnya sekarang jomblo,kan?

Dan urusan Ha Neul?–nama yang sempat disebut Jong In tadi ketika Min Soo menelepon, gadis itu tengah berada di Jeju untuk study-tour. Toh statusnya masih HTS. Hubungan Tanpa Status. Ah, benar-benar…

Neoneun wae…. Neoneun wae… you’re gone away… come back home, can you come back home… ” Jong In bersenandung absurd, ketika membuka gerbang rumah.

Kakak perempuannya yang tengah menyiram bunga sampai mengerutkan kening keheranan.

“Apa yang terjadi di sekolah hingga kau muncul dengan lagu itu, eoh? Dan, tidak biasanya pulang lebih awal,” cibir Seon Na, kakaknya.

Jong In malah semakin khidmat melantunkan lirik selanjutnya, mendusir-dusir lengan kakaknya yang serius menyemprotkan air selang ke perdu. Seon Na berakhir mengarahkan selang ke Jong In, membuat tubuh adiknya basah kuyup.

“Ya!!! Noona!!!!”

“Salah sendiri bertingkah aneh. Ya! Kalau ada orang bertanya, dijawab baik-baik. Astaga, semoga anakku tidak sepertimu,” Seon Na mengelus perut buncit tujuh bulannya. Ya, kakak Jong In memang sudah berumah tangga, dan kebetulan bulan ini Seon Na dan suaminya tengah berkunjung ke rumah orang tua.

“Aigooo… aku hanya bertingkah layaknya adik kepada kakaknya. Toh, jam pulangku wajar. Aku memang pulang jam segini,” kilah Jong In sebari mengusap seragamnya yang basah.

Seon Na menghela napas. “Ya, tapi nanti malam keluyuran.” Jong In nyengir. Seon Na memutar bola matanya. “Sudah mengoleksi berapa puluh mantan di bulan ini, adikku?” cibir Seon Na.

Jong In langsung tertohok. Kakaknya sudah seperti paranormal saja. Padahal dia tidak pernah bercerita masalah mantan-mantan Jong In ke pihak keluarga. Pasti Seon Na punya intel!!–Jong In mulai ngasal.

“Kau pikir perangko? Tidak ada-lah!” bohong Jong In sebari bersiap masuk ke dalam rumah.

Seon Na hanya mengangkat bahu, bersamaan dengan suara gerbang terbuka yang terdengar sekali lagi.

“Kita akan dapat tetangga baru!” suara ibu mereka menyusul, membuat Jong In yang sudah membuka pintu, menoleh. Begitu pula Seon Na yang sudah kembali menyiram tanaman.

“Tetangga baru? Kau tahu darimana, eomma?” Seon Na mendahului Jong In yang hendak melontarkan pertanyaan yang sama.

Ibu Jong In menutup gerbang kecil halaman rumah, sebari meraih belanjaan yang sempat dia geletakkan di tanah. Dia tersenyum. “Aku bertemu salah seorang diantara mereka ketika di supermarket tadi. Katanya mereka akan menghuni rumah nomor 24”

“Dua puluh empat?” gumam Jong In. Dia sibuk melongok kearah nomor rumah yang tertempel persis di samping pintu. Nomor rumah mereka 25!

“Tepat di samping rumah ini, berarti” sambung Jong In sebari menunjuk rumah di sebelah rumahnya. Ibunya mengangguk.

Pikiran Jong In langsung berkelanan. Waah, kira-kira, di keluarga itu ada mangsa baru, tidak ya? Dan, jika ada, mungkinkah gadis itu lebih mempesona ketimbang Song Ha Ye?

Awwwh!!” Jong In memekik ketika kakinya diinjak seseorang.

“Apa aku harus selalu menginjak kakimu agar kau tidak menghalangi jalan?” ibu Jong In sudah menatap dengan wajah datar.

***

Jong In keluar rumah sebari melipat lengan kemeja panjangnya hingga sebatas siku. Benar kata Seon Na, malam ini Jong In keluyuran. Dia harus menepati janjinya kepada adik tingkat untuk bertemu di Roti Boy.

Jong In bersiul, bergerak menuju garasi yang masih terbuka sejak tadi sore. Ayah belum pulang kerja, jadi wajar jika ibunya masih membiarkan garasi ternganga seperti ini.

Laki-laki itu mengambil motor besar warna putih yang ada di tepi garasi, sebari meraih helm full-face dan jaket hitam yang tergantung di sampingnya. Perpaduan yang sempurna untuk menambah efek memabukkan seorang Kim Jong In.

Jong In mengeluarkan motornya, bersamaan dengan sebuah mobil picanto hijau yang berhenti di depan rumah nomor 24. Perhatian Jong In teralihkan. Jangan-jangan tetangga barunya sudah tiba?

Jong In melongokkan kepalanya, menatap dua orang dewasa yang sibuk mengeluarkan beberapa plastik kresek dari dalam mobil. Mobil bak terbuka terlihat menyusul dari belakang.

Jong In mengangkat bahu. Well, sepertinya tetangga barunya benar-benar sudah tiba. Dan sejauh ini, tidak ada yang menarik. Hanya dua orang seusia orang tuanya yang sibuk menyuruh para pekerja jasa angkut barang untuk membawa masuk barang-barang ke dalam rumah.

Jong In berakhir mengendarai motor, dengan pikiran yang berkelana untuk melaksanakan kencannya di Roti Boy. Bersamaan dengan itu, seorang gadis tomboy muncul dari belokan gang sebari menarik koper warna merah jambu.

Dia memposisikan topi hingga bayangan topi menutup separuh wajahnya, membuat Jong In yang melintas sama sekali tidak sadar dengan keberadaan gadis itu. Gadis itu memasang wajah datar, terlebih ketika suara derum mesin kendaraan Jong In terdengar semakin sayup di keheningan malam.

Ah, sudah lama sekali…

“Ya!!! Ah Yeon-a!!!! Kenapa jalanmu lambat sekali, eoh? Bantu kami menata barang di rumah!!!”

Gadis itu membuka topi, lalu memutar bola matanya jengah. Rambut hitam pendeknya berantakan.

Dia mempercepat langkah, kasar. “Neeee…” ucapnya serampangan.

“Aigoo… lihatlah anak ini! Lambat sekali!!”

***

“Jadi, sudah sejak kapan kau menyukaiku?” Jong In menatap nakal gadis yang duduk tersipu di hadapannya. Namanya Choi Hae Jin, nama yang cukup manis.

Hae Jin tertunduk. Dia mengulum senyumnya, sebari menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Kenapa seonbae bertanya seperti itu? Itu… membuatku sedikit…. malu.”

Jong In tertawa kecil. Dia menggerakkan kepala untuk melihat mata Hae Jin yang menatap permukaan meja. “Kenapa kau harus malu? Aku tidak akan menertawakanmu, Hae Jin-i,” Jong In sengaja menambahkan embel-embel –i di akhir nama Hae Jin.

Pipi Hae Jin langsung bersemu merah. Gadis itu melirik Jong In, “Sejak aku pertama kali melihatmu, oppa. Ketika penerimaan siswa baru beberapa bulan lalu,” jawab Hae Jin lirih.

“Waah, daebak!” Jong In menjentikkan jari ke udara. Laki-laki itu kembali menatap Hae Jin yang semakin tersipu, lekat-lekat. “Kalau begitu, bagaimana jika kita jalani saja dulu?”

Kening Hae Jin berkerut. Apanya yang dijalani?

Sementara Jong In sudah tersenyum penuh arti. “Kita pacaran dulu. Bagaimana?”

Dasar, Kim Jong In….

***

“Aku yakin!! Sumpah! Tadi aku melihat ada benda bercahaya terbang melintasimu!” Se Hun ngotot sambil menunjuk-nunjuk ujung kepala Baek Hyun. Baek Hyun yang tengah mengapit bola sepak dengan tangan kirinya, melirik ke atas. Se Hun memang suka sekali mengarang hal-hal berbau klenik.

“Cahaya senter?” Baek Hyun sengaja bertanya dengan wajah polos.

Se Hun mendesis. “Bukan cahaya senter! Lagipula siapa juga yang mau iseng menyorotmu dengan senter ketika kau sedang bermain bola?! Itu bola api, Baek Hyun! Bo-la a-pi!”

Baek Hyun mengangkat satu alisnya. “Kalau kembang api aku baru percaya. Kalau bola api? Bolanya saja aku pegang,” Baek Hyun menunjukkan bola sepaknya. Bahkan dia melemparkannya kepada Se Hun.

Se Hun menangkap bola, sebari mendengus. Kenapa sih daritadi Baek Hyun tidak percaya sama sekali?

Laki-laki berkulit putih susu itu berakhir memutar matanya, jengah. “Ya sudah kalau kau tidak percaya! Lihat saja nanti malam, kau diikuti ke kamar mandi!!”

Baek Hyun melirik Se Hun sebelum menggelengkan kepalanya heran. Dia memilih melihat kearah kedai di sepanjang trotoar yang mereka lintasi saat ini. Membiarkan Se Hun mengomel di sampingnya.

Kening Baek Hyun terlipat ketika laki-laki itu mendapati sosok Jong In tertawa-tawa di balik jendela kaca besar sebuah bakery dengan plang yang terbaca Roti Boy. Jong In terkadang meneguk minumannya, sebelum kembali tertawa kepada seseorang–yang sialnya tertutup oleh dinding bakery. Baek Hyun menggapai-gapaikan tangannya ke Se Hun yang memberengut sebari melempar-lemparkan bola ke udara.

“Ya! Ya! Bukankah itu kkamjjong?” Baek Hyun bertanya sebari menoleh sekilas.

Se Hun mengikutkan pandangannya kearah telunjuk Baek Hyun. Mata laki-laki itu memicing. “Iya, itu Jong In. Memang kenapa?” tanya Se Hun polos.

“Kau tidak penasaran kenapa dia ada disana? Sepertinya, dia mendapat mangsa baru lagi,” Baek Hyun berkata dengan tampang serius. Se Hun mengangkat bahu. “Bukan hal aneh kalau itu Jong In. Tadi siang saja sebenarnya aku tidak percaya jika dia akan menjemput adik sepupunya. Pasti dia menjemput adik yang lain. Kau ingat Son Min Soo? Atau Kang Ha Neul?”

“Ya! Bukankah menurutmu level playboy Jong In sudah keterlaluan? Aku saja tidak sampai seperti itu,” Baek Hyun menyesap giginya. “Selama 18 tahun aku hidup, aku hanya punya dua mantan, tiga gebetan, dan lima cinta bertepuk sebelah tangan”

“Itu sudah banyak, bodoh!” Se Hun mencibir.

“Tapi tidak dalam waktu sesingkat Jong In membuat seorang gadis berstatus menjadi mantan pacar. Aku ingat Jong In sudah empat kali pacaran dalam enam bulan terakhir,” Baek Hyun berkata sebari melongokkan kepalanya, berusaha melihat siapa lawan bicara Jong In.

Bersamaan dengan itu, Jong In menoleh. Baek Hyun langsung geragapan, tapi Jong In malah nyengir kuda sebari menunjuk-nunjuk seseorang di depannya. Setelah itu, Jong In membentuk simbol love dengan kedua tangan. Kita baru jadian….

“Benar,kan? Pacar baru!” Baek Hyun heboh.

Se Hun menggeleng tidak percaya. “Aku rasa, mulai besok kita harus memanggilnya, suhu (guru.red)”

***

Pukul 7 pagi.

Kelas Jong In masih riuh tidak karuan. Beberapa siswa sibuk main kejar-kejaran di belakang kelas, beberapa tebak-tebakan, dan tiga diantaranya memilih mojok di sudut ruangan. Tepatnya di meja Jong In.

Pagi ini, Jong In di kelilingi oleh dua manusia paling heboh yang duduk random dan terkesan asal. Baek Hyun duduk di meja, sementara Se Hun duduk di kursi dengan posisi terbalik, dagunya menempel di sandaran kursi sementara tangannya menggantung di udara. Aneh, dan sulit dideskripsikan.

Jong In mengerutkan kening. “Kalian kenapa?”

“Apa kau sudah punya pacar lagi?” tanpa ba-bi-bu, Baek Hyun bertanya. Jong In tersenyum, sebari mengangkat bahu. “Aku hanya mencoba menjalani sebuah lembar baru kehidupan.” Halah….

Se Hun serasa ingin muntah. “Kau berkata seakan-akan pacarmu yang baru ini adalah yang terakhir. Ya! Mengaku saja! Kemarin kau tidak menjemput adikmu, kan? Begini-begini aku cukup hafal dengan tabiatmu, Kim-Kkam-jjong!”

Jong In meringis. “Seratus. Kau berhak memperoleh predikat sebagai cenayang of the day Se Hun”

“Tapi kenapa kau harus berkata jika dia adikmu, sih? Memangnya kami apa? Ya, aku tahu jika kita bertiga tidak terlalu dekat, tapi bagiku, kau dan Se Hun sudah menjadi seperti partnerpartner saling contek, maksudnya–Baek Hyun melanjutkan dalam batin, tidak berminat menanggapi candaan Jong In tentang predikat cenayang yang disandang Se Hun.

“Karena kemarin memang hari terakhirku pacaran dengan Min Soo. Aku sudah putus, dan sekarang pacar baruku bernama Choi Hae Jin. Manis,kan?”

“Choi Hae Jin? Makhluk dari planet mana lagi itu? Dan bagaimana dengan Ha Neul? Kau menggantungnya?” tanggap Se Hun.

Jong In terkekeh. “Adik tingkat. Ha Neul? Hm… aku tidak yakin bisa melanjutkan hubunganku dengannya. Kami LDR, susah”

Baek Hyun rasanya ingin mengusap wajah Jong In yang selalu saja dihiasi cengiran lebar. Murah memang. “Beda sekolah kau bilang LDR! Dasar! Dan, ngomong-ngomong, bukankah kau sedang mengincar Song Ha Ye kelas sebelah? Tapi kenapa malah jadian dengan Hae Jin? Jangan bilang kau akan memutuskan Hae Jin setelah kalian jadian satu bulan? ” Baek Hyun mulai sangsi.

Jong In mengangkat bahu. “Entahlah. Hari ini saja aku sudah bosan dengan Hae Jin. Setelah berbincang semalam, aku merasa jika gadis itu monoton,” Jong In mengibaskan tangannya. “Aku tertawa karena terpaksa, asal kau tahu? Wajahnya saja imut, manis, menggemaskan, tapi topik pembicaraannya nol besar. Aku tidak suka”

Gila! Se Hun dan Baek Hyun berakhir ternganga mendengar jawaban Jong In.

“Aku pikir, otakmu perlu dicuci Kim Jong In. Kau benar-benar…” Baek Hyun sampai tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Se Hun hanya menatap cengo Jong In yang masih saja mengangkat bahunya berulang kali.

Sementara itu, seorang gadis berambut pendek berjalan dengan langkah mantap di lorong sekolah.

Dia sudah menggenakan seragam SMA Dae Han, yaitu kemeja putih berdasi motif kotak-kotak dengan bentuk menyilang di depan, jas warna coklat dengan simbol SMA di saku, dan rok kotak-kotak selutut. Seharusnya penampilan itu cukup feminin, tapi legging hitam melebihi lutut yang tampak di kaki kanannya malah membuat penampilan gadis itu terkesan berantakan.

Gadis itu berhenti sejenak ketika sampai di depan kantor guru yang tertutup, sekedar untuk menaikkan legging hitam hingga tidak tampak dari luar. Tidak lupa dia mengusap anak rambut yang relatif panjang jika dibandingkan dengan rambut pendek se-pangkal lehernya.

Dia berdehem, bersamaan dengan pintu kantor yang dibuka.

“Yang Ah Yeon?” guru Im bertanya sebari menunjuknya.

Ah Yeon tersenyum, lalu membungkuk sopan. “Selamat pagi, seonsaengnim,” sapanya manis.

Guru Im tersenyum. Dia menutup pintu geser kantor sebari melangkah ke samping Ah Yeon. “Bagus sekali. Kebetulan aku walikelas 2-3, kelas barumu. Dan jam pertama juga mata pelajaranku, jadi ayo, kita ke kelas”

Ah Yeon mengangguk dengan mata berbinar. Gadis itu untuk selanjutnya mengekor guru Im sebari sesekali menggoyangkan kepalanya, bermaksud menata rambut super pendeknya agar sedikit lebih keren.

***

Keriuhan di kelas Jong In mendadak berhenti ketika guru Im yang berdiri di ambang pintu, tampak menghela napas. Se Hun yang masih asik menghadap ke belakang, langsung memutar tubuhnya untuk menghadap depan. Tapi, bodoh, kursinya tidak harus dibalik juga, kali! Se Hun geragapan segera membalik kursinya dan duduk manis. Sementara Baek Hyun langsung melesat ke mejanya, dan melipat tangan di permukaan meja.

Kelas, kondusif.

“Apa sekarang kelasku menjadi kelas paling badung diantara enam kelas yang lain? Guru-guru melapor jika sekarang kelas 2-3 sedikit lebih gaduh jika dibandingkan dengan bulan pertama, dulu.” Tidak ada yang heran, guru Im memang hobi melontarkan kalimat bernada sarkastik semacam itu.

Sedikit-sedikit, bilang kalau kelas Jong In adalah kelas paling buruk. Padahal kelas Jong In bisa dibilang kelas paling berkilau. Syabang 샤방.. syabang 샤방. Mayoritas penduduk nya bersinar bagai rembulan dan bintang gemintang. Oke, mulai berlebihan.

Guru Im meletakkan tumpukan buku tebal fisika di meja, lalu menghela napas. Se Hun yang menjabat sebagai ketua kelas langsung berdiri. “Guru datang, beri hormat!”

“Annyeonghaseyo, seonsaengnim!!!!!” ucap seluruh penghuni kelas kompak.

Guru Im mengangguk samar, “Ye. Annyeonghaseyo”

“Baiklah, terimakasih Oh Se Hun, tapi aku minta untuk ke depannya pakai jas sekolahmu. Kau bukan preman”

Se Hun mengangguk, tangannya meraih jas seragam yang tersampir di sandaran kursi.

Hening.

Wajah tegas guru Im menatap seluruh penjuru kelas sesaat, sebelum wanita paruh baya itu tersenyum lembut. “Anak-anak, pagi ini kelas kita kedatangan teman baru,” kata guru Im.

Jong In yang tidak berniat memperhatikan sejak awal, sibuk mencoret-coret buku bagian belakang. Menggambar absurd.

Suara bisikan mulai terdengar. Baek Hyun yang sibuk bersedagu bahkan membulatkan mulut. Wah, teman baru.

“Dia akan bersama kalian hingga hari kelulusan nanti, jadi aku harap kalian berlaku baik kepadanya,” guru Im menarik napas. “Ya sudah langsung saja, silakan murid baru, perkenalkan dirimu,” kata guru Im ketika menoleh kearah pintu masuk.

Semua mata langsung tertuju ke pintu, bersamaan dengan seorang gadis super tomboy yang berjalan masuk sebari tersenyum lebar. Kedua tangannya memegang erat kaitan tas.

No respond. Anak-anak di kelas 2-3 sama sekali tidak tertarik dengan model teman baru seperti ini. Tomboy, tidak pantas dikorek sama sekali.

Tapi Ah Yeon tetap saja tersenyum. Dia menurunkan tangannya, dan membungkuk dalam. “Annyeonghaseyo, jeoneun, Yang Ah Yeon-imnida. Jal butakdeurigesseumnida. Kamsahamnida”

Ah Yeon menutup rapat mulutnya, bersamaan dengan gerakan tangan Jong In yang terhenti di atas buku. Siapa tadi namanya? Jong In mengerutkan kening, mulai mengangkat wajah untuk menatap ke depan. Sosok gadis bertubuh sedang dengan rambut pendek, dan senyum lebar langsung tertangkap oleh lensa mata Jong In. Mata Jong In membulat.

“Dasar Kim Jong In Playboy!!”

“…..Kim Jong In Playboy!!”

“…….Playboy!!”

Jlegeeeeeer

“Andwe….” Jong In bergumam tidak jelas. Wajahnya berubah pias. Sementara itu, Ah Yeon mulai berjalan kearah meja kosong yang ada tepat di sebelahnya. Gadis itu duduk anggun di kursi, sebari meletakkan tasnya di meja, lalu mencari buku.

Jong In ternganga lebar sebari menoleh kearah Ah Yeon yang belum melihat kearahnya. Laki-laki itu menelan ludah berulang kali, bahkan sesekali mengusap matanya. Ini pasti mimpi!

Tapi, tidak berselang lama setelah Jong In mengusap mata, Ah Yeon menoleh. Gadis itu menatap Jong In datar untuk dua detik, sebelum tersenyum lebar dan mengangkat tangan kirinya. Menggoyang-goyangkan jemarinya kepada Jong In.

“Lama tidak bertemu, Kim Jong In”

“Tidaaaaaak”

To Be Continued

Iklan

25 pemikiran pada “Break the Playboy’s Curse! (Prolog + Chapter 1)

  1. Sebenernya si Ah Yeon tu cemburu ya, tapi dia masih kecil. Dan malah nyebut Jongin Playboy. Emang dulu dia udah ngerti gitu apa makna playboy??? hahaha.
    uhhhh, salahkan kepribadian baik nya Jongin.
    Lucu deh kak. aku mau baca next chap nya… Hehehe. Si Kkamjong juga, lucu banget di ff ini. Cuma disapa sama Ah Yeon aja langsung pucat . 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s