No Regret (Chapter 1)

No Regret

Title                             : No Regret (Chapter 1)

Author                         : Baby Panda

Main Cast                    : Kris Exo, Lee Haru

Supporting Cast           : Changmin

Length                         : Chapters

Genre                          : Romance, 17+

 

 

 

 

 

‘Besok jadi nemenin aku ke pesta pernikahannya Changmin oppa atau tidak?’

‘Entahlah,’

‘Kalau memang ada urusan yang lebih penting besok aku berangkat dengan eomma-appa saja,’

‘Beneran?’

‘Emm,’

‘Sudah malam, masuk sana,’

‘Emm, kau juga nanti langsung pulang, jangan mampir-mampir lagi,’

Namja setinggi 186 cm berambut blonde inipun mencium keningku.

‘Arasseo, aku pulang,’ Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kemudian berbalik.

‘Jalga~…’ Aku balas tersenyum dan melambaikan tanganku dibalik punggungnya yang mulai meninggalkan halaman rumahku.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar yang terletak di lantai 2 setelah menyapa eomma yang sedang menonton TV di ruang keluarga. Aku langsung merebahkan tubuhku diatas ranjang dan mendesah dengan cukup keras untuk meringankan dadaku yang terasa sesak.

‘Haru-ya…ada Changmin oppa, katanya ada yang mau dia bicarakan denganmu,’ Suara eomma diluar pintu kamarku mengagetkanku yang sedang mencoba menutup mata.

‘Ne eomma,’ Aku keluar kamar dengan baju yang masih sama seperti saat masuk tadi bahkan jaket dan kacamataku pun belum aku lepas.

‘Changmin oppa, tumben, ada apa?’ Aku menyapa namja setinggi 188 cm yang duduk di ruang keluarga.

‘Ada yang ingin kubicarakan. Bisa kita bicara diluar?’ Changmin oppa berdiri dan aku mengangguk mengikutinya ke taman rumahku.

‘Haru-ya, ada yang ingin ku bicarakan denganmu sebelum aku menikah besok. Aku tahu mungkin sekarang sudah terlambat tapi aku tidak mau menyesal di kemudian hari hanya karena aku tidak bisa jujur dengan perasaanku sendiri. Haru-ya, sebenarnya aku sudah mencintaimu sejak SMP. Kau tahu kenapa aku tidak pernah menyatakannya selama ini? Karena hubungan eomma kita yang kurang baik dan aku yang pengecut yang takut tidak akan sanggup menghadapi tentangan mereka bahkan sampai kemarin pun aku masih pengecut. Tapi sekarang aku sudah berbeda, aku sekarang sudah kuat dan siap untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Haru-ya, maukah kau menikah denganku?’

Aku kaget mendengar semua pengakuan pria tinggi yang sudah menjadi tetangga ku bahkan sebelum aku lahir ini.

‘Oppa ngomong apaan sih? Oppa mabuk ya?’

‘Aku 100 persen sadar,’

‘Oppa, besok oppa kan mau menikah, tidak baik lho bercanda seperti ini,’

‘Haru-ya, aku tidak bercanda. Aku tahu kalau kau juga sebenarnya menyukaiku jadi kenapa tidak kita hadapi semua tantangan itu bersama-sama?’ Changmin oppa menggenggam tanganku dan menatapku penuh harap.

‘Oppa, aku memang sempat menyukai oppa, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah punya orang yang sangat aku cintai, oppa juga sudah punya Hyerin eonni yang sangat mencintai oppa dan besok dia akan jadi istri oppa. Kenapa tidak kita coba lupakan saja, untuk kebaikan semua orang terutama orang-orang yang sayang sama kita.’

‘Haru-ya, terkadang hidup itu perlu melewati jalur yang tidak aman. Aku mengatakan semua ini karena aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Aku bahkan bersedia membatalkan perikahanku besok kalau kau mau menikah denganku, eoh?’

‘Oppa mianhae, aku rasa aku tidak sekuat dan setegar seperti yang oppa bayangkan. Aku bahkan sekarang sudah menganggap Changmin oppa seperti oppa kandungku sendiri, mianhae. Mungkin sekarang ini oppa Cuma gugup karena besok mau menikah, iya kan?’ aku mencoba membujuknya.

‘Sampai kapan kau mau mengorbankan perasaan mu untuk orang lain?’

‘Aku tidak merasa berkorban apa-apa kok, aku senang dengan hidupku yang sekarang ini. Oppa, sudah malam aku masuk dulu ya,’ Aku berdiri dan menepuk lengannya—menyemangatinya.

‘Aku akan menunggumu sampai besok,’ Aku mendengar suara Changmin oppa dibalik punggungku sebelum aku masuk rumah.

 

 

 

Aku langsung menutup korden dan mematikan lampu kamarku. Aku tidak ingin Changmin oppa melihatku masih terjaga. Ya, kamar kami memang berseberangan. Aku dulu suka sekali mengamati kamarnya, mencari tahu kira-kira apa yang sedang dilakukan pemiliknya. Aku memang mencintai Changmin oppa bahkan sampai tadi pun rasa itu masih ada—sedikit. Aku memang sempat tergoda dengan pernyataan Changmin oppa. Mungkin aku sedang menangis didepannya sekarang kalau saja aku tidak pergi lebih dulu. Mungkin juga aku akan bahagia hidup dengan orang yang sudah kucintai sejak dulu. Tapi buat apa juga aku bahagia kalau aku harus bermusuhan dengan eommaku. Kalau saja aku bisa sangat egois dan tidak peduli dengan perasaan semua orang disekitar kami yang mencintai kami………

 

DRRRT           DRRRT           DRRRT           DRRRT

 

Suara ponsel mengagetkanku yang sedang merenungi apa yang baru saja terjadi.

‘Yoboseyo…’

‘Kau sudah tidur ya?’ Aku melihat ponselku, rupanya tadi dia sms.

‘Emm, sorry……kau sudah sampai rumah?’ aku mencoba bicara dengan nada setenang mungkin.

‘Em, sepertinya kau capek sekali. Ya sudah lanjutkan lagi saja tidurnya, aku tutup dulu,’

‘Kau juga jangan begadang lagi. Jalja~…’

 

Ku tatap fotoku dengan seorang namja berambut blonde dimeja samping tempat tidurku. Di foto tersebut aku menempelkan telunjukku didepan mulut dengan mata menyipit dan headband berbentuk tanduk berwarna merah menempel dikepalaku, sedangkan namja disampingku memasang wajah kesal dan mengenakan headband berbentuk telinga kucing berwarna merah muda.

Sudah 2 tahun lebih aku menjalin hubungan dengan namja ini walaupun sebenarnya aku sudah mengenal namja ini sejak tahun pertama aku kuliyah. Kami memang berada dalam satu universitas tapi kami beda departemen. Namja ini teman dekat Taeyeon—sahabatku. Hampir setiap minggu kami selalu bertemu. Awalnya dia hanya berniat menemui Taeyeon—yang sayangnya selalu sedang bersamaku. Lama-lama dia tetap datang ke departemenku hanya untuk main-main atau lebih tepatnya menunjukkan wajahnya saja. Aku sering menyebutnya namja gila karena dia selalu datang dan pergi seenaknya sendiri. Bukan hanya itu saja, dia cerewet seperti seorang ahjumma, jahil dan punya penyakit narsis akut. Dia benar-benar berbakat membuat hariku jadi super kesal dan capek.

Dia tahu benar kemana harus mencariku dan Taeyeon. Dia akan menemui kami hanya untuk bercerita mulai dari topic tentang kuliah sampai tentang iklan yang sangat tidak penting. Kami tidak pernah bersusah payah mengusirnya kalau dia ribut, cukup diam saja dan jangan merespon maka dia akan merasa bosan dan dengan sendirinya akan pergi begitu saja. Suatu hari dia bahkan pernah datang menemuiku hanya untuk memamerkan kemaja barunya kemudian tidur sementara aku sibuk dengan tugasku sendiri.

Aku sendiri terkadang heran bagaimana bisa aku menyukai namja seaneh dia. Kalau dilihat dari wajah, postur tubuh, penampilan dan kesan pertama bertemu dengannya—bisa dikatakan dia sempurna. Aku dan Taeyeon sering bilang kalau dia bahkan bisa membuat seorang namja normal memutuskan untuk jadi seorang transeksual dan seorang yeoja penyuka sesama jenis jatuh cinta padanya hanya dengan sekali lirik saja. Tentu saja dia tidak boleh menunjukkan sikap aslinya dan tetap cool seperti saat pertama bertemu. Tapi sungguh, selama kuliah aku tidak pernah melihat sisi cool serta ketampanan namja ini bahkan setelah dia tinggal di Kanada dan pulang 2 tahun kemudian, aku masih belum merasa tertarik dengannya.

 

 

 

############

 

 

 

FLASHBACK

 

‘Ya! Lee Haru, ttarawa!’

Aku ingat pertemuan pertama kami setelah lulus kuliah. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah kedai kopi saat aku sedang bersama dengan teman-teman kantor. Dia tiba-tiba saja datang dan menyeretku duduk satu meja dengannya.

‘Ya! Kris Wu. Jadi kau tinggal di Kanada selama 2 tahun hanya untuk menyeret seorang yeoja ditempat umum, eoh?’ Aku mengibaskan tanganku dari genggamannya.

‘Kau mengikutiku ya?’ sergah pria bernama Kris tersebut.

‘Aku??? Ck, buat apa?’

‘Terus kenapa sekarang kau disini?’

‘Mau minum kopi lah, mau ngapain lagi coba?’

‘Kenapa juga dari sekian puluh kedai kopi di Seoul kau malah memilih tempat ini dan aku harus bertemu denganmu disini, ck?’ lanjutku—merasa frustasi dan terkejut.

‘Ya! Memangnya kau tidak mau bertemu denganku? Kau tidak kangen aku ya? Aku sekarang tambah keren kan?’

‘Ku pikir kau bakalan sembuh pulang dari Kanada, ck, ternyata narsis akut memang tidak ada obatnya,’

‘Sorry, aku terlahir keren, jadi tidak perlu narsis juga wanita dengan senang hati mendekat kok,’

‘Aishhh, kau mau apa pulang ke Seoul?’

‘Aku sudah bosan di Kanada. Nanti malam jalan yuk?’

‘Aku sibuk,’

‘Eiyyy, kau bohong. Kau pasti mau dinner sama namjachingumu, iyakan?’

‘Aku benar-benar sibuk dan tidak punya namjachingu,’

‘Mwo??? Jinjja? Ya! Lee Haru, bagaimana bisa selama 2 tahun ini kau masih juga belum punya namjachingu. Kau menyedihkan sekali, ck,’

‘Ya! Memangnya punya namjachingu itu wajib ya?’

‘Uwaaaaa neo jinjja……oke, kalau begitu mulai sekarang biar aku saja yang jadi namjachingu mu, ne?’

‘Mwo??? Makasih, aku lebih suka sendiri daripada punya namjachingu gila sepertimu,’

‘Wae? Kau harusnya senang punya namjachingu sekeren dan setampan aku. Ya sudahlah, nanti malam aku jemput jam 7.30, oke?’ aku sudah siap untuk protes lagi tapi Kris sudah keluar dari café, meninggalkan aku yang ternyata dari tadi jadi pusat perhatian teman-teman kantor.

 

 

Kris memang narsis, cerewet dan suka datang dan pergi seenaknya sendiri tapi dia tidak pernah mengingkari janjinya ataupun berbohong, dan aku sangat menghargai sikapnya yang satu ini. Asal kau tahu, jujur saja, dia sebenarnya teman yang baik dan cukup cerdas unutk ukuran seseorang yang cerewet dan suka membicarakan hal-hal yang sangat tidak penting. Kalau kau butuh bantuannya, dia pasti akan membantumu dengan sungguh-sungguh.

 

 

 

 

Malam itu aku benar-benar sedang tidak ingin keluar tapi dia tetap datang dan berhasil menyeretku keluar rumah—tentu saja dengan dukungan dari eommaku yang sudah mengenalnya.

‘Gwenchana?’ Tanyanya.

‘Eoh,’

‘Kau habis putus dengan namjachingu mu ya?’

‘Ani,’

‘Eiyyy, kau bohong. Sudahlah lupakan saja, kan sekarang sudah ada aku, namjachingu mu yang baru……’

‘Mwo? Ya! Kapan aku setuju jadi yeojachingumu?’

‘Kau boleh setuju sekarang kok. Ayo kita makan,’ Kris menyeretku ke sebuah restoran samgyeopsal langganan kami sewaktu kuliah dulu.

 

 

 

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukainya dan setuju untuk jadi yeojachingunya. Taeyeon bahkan kaget saat mendengar kami pacaran, katanya kami tidak kelihatan seperti sepasang kekasih. Kami memang jarang sekali terlihat mesra bahkan saat berdua saja aku masih merasa kalau kami mengobrol seperti saat kuliah dulu—seperti seorang sahabat. Aku memang bukan tipe gadis yang suka dengan hal-hal yang berbau romantis, tapi Kris benar-benar pria yang sangat tidak romantis. Kau tahu kan maksudku—setidaknya sebagai seorang namjachingu dia harus memperlakukanku dengan halus, tidak perlu manis cukup dengan mengurangi tingkah-tingkah konyolnya yang over confident itu, terutama saat kami hanya berdua.

Kami memang tidak setiap hari bertemu tapi kami—terutama aku—selalu memastikan setidaknya setiap hari memberi kabar masing-masing dan kau tahu?—dia jarang sekali, maksudku benar-benar jaraaaaaaang sekali mengatakan kata-kata ‘cinta’, ‘sayang’, bahkan ‘kangen’ setiap telfon ataupun mengirimiku pesan. Mungkin aku bisa menghitung berapa kali dalam setahun dia mengucapkan kata-kata tersebut yang bisa kupastikan jumlahnya tidak lebih dari jumlah ke-20 jari-jariku. Kami bahkan tidak punya panggilan sayang satu sama lain—kalau untuk yang satu ini aku memang tidak terlalu ambil pusing.

 

 

 

Suatu hari seperti biasa kalau dia tidak sibuk dia akan menjemputku seusai jam kerja dan kami terkadang makan malam bersama. Hari itu kami duduk dipinggir sungai Han untuk menikmati pemandangan malam disana, aku memutuskan untuk mengungkapkan rasa penasaranku selama ini dengan sangat hati-hati,

‘Kris-ah, apa kita sekarang benar-benar pacaran?’ Dia mengerutkan keningnya.

‘Uhm. Kau pikir selama ini apa yang kita lakukan?’

‘Maksudku……’ Aku mencari kata yang sesuai untuk situasi kami sekarang

‘Kau tidak percaya padaku?’ Aku diam—tidak bisa menjawab. Jujur saja, aku sangat mempercayainya karena aku telah mengenalnya bertahun-tahun dan dia tidak pernah sekalipun mengecewakanku.

‘Kau tahu kan walaupun aku ini pria idaman setiap wanita, aku tidak pernah sekalipun mempergunakan ketampananku untuk memikat dan mempermainkan mereka,’

 

BRUKKKKKKK

 

Aku pasti sudah menjitaknya kalau saja mood ku sedikit lebih bagus.

‘Ya! Aku serius,’

‘Aku juga serius, kau mau bukti?’

Kris merendahkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia membuat tubuhku membeku dengan tatapan seriusnya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku bisa merasakan nafas hangatnya yang teratur menghantam kulit wajahku dan mencium aroma tubuhnya yang harus kuakui—sangat manly, benar-benar bertolak belakang dengan sikap childishnya selama ini. Dia menempelkan bibir tipisnya ke bibir tebalku cukup lama—seperti meminta persetujuanku sebelum akhirnya dia meletakkan tangan kirinya dibelakang kepalaku untuk menahannya dan tangan kanannya digunakannya untuk menahan punggungku. Perlahan dia mulai menciumi bibir atasku kemudian beralih ke bibir bawah sebelum berhenti selama sepersekian detik agar kami dapat menghirup udara. Aku yang akhirnya bisa menggerakkan otot-otot tubuhku melingkarkan tanganku ke lehernya dan membalas ciumannya. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu didalam perutku. Inilah pertama kalinya aku merasa Kris sangat keren dan entah mengapa dia juga mendadak terlihat tampan dimataku. Malam itu kami melakukan ciuman pertama kami.

‘Kau mau aku berubah?’

‘Sedikit,’ Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.

‘Arasseo,’ dia membelai rambutku dengan sangat lembut.

Sepertinya dia benar-benar berubah, pikirku.

Asal kalian tahu, Kris tetaplah Kris yang jujur dan lurus. Dia benar-benar berubah sediiiiiiiikit sekali. Kris masih saja Kris yang over confident, cerewet, penuh hal-hal yang tak terduga dan konyol. Aku lebih suka menyebutnya tidak berubah.

 

END OF FLASHBACK

 

 

 

############

 

Iklan

5 pemikiran pada “No Regret (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s