Present Unreal (Chapter 1 : Strange Feelings)

PRESENT UNREAL

(Strange Feelings)

preun

| Author : Hyuuga Ace |

| Genre : Romance, School-life, Fantasy, AU| Length : Multichapter | Rate : PG |

|Main Cast : Min Heejin (OC) and EXO MEMBER (Guess it!) | Other Cast : EXO Members and OCs |

|Desclaimer : Plot’s story and original character are mine, do not plagiarism. Thank you|

Web : cynicalace.wordpress.com

Summary :

Dia seseorang yang tidak pernah kutemui dan juga seseorang yang tidak pernah kuketahui kebaradaannya. Dia hanyalah semacam delusi, ya delusi… Karena dia memang tidak ada.

Dia adalah sebersit ingatan dalam alam mimpiku yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun..

Aku mencintainya.

Previous Chapter :

Prolog (Meet You)

///

 

>>>Heejin’s PoV<<<

Garis wajahnya.. mungkin saja keras dan tegas.

Lalu rahangnya yang tajam membuatku merasa minder.

SREKK SREKKK

Matanya, aku tidak yakin.. tapi sepertinya memiliki iris berwarna kecoklatan.

Hidungnya, entahlah sepertinya tidak begitu mancung.. tapi proposional.

Bibirnya penuh.

SREKK SREKK

Kulitnya putih bersih namun ada sedikit luka di punggungnya.

Rambutnya sedikit berantakan dan tidak memiliki model yang jelas, tapi justru membuatnya terlihat sexy. Apalagi poninya yang panjang menutupi salah satu matanya. Oh ya, warna rambutnya sudah pasti hitam legam.

SREKK SREKKK

“Sempurna!”

Kutatap sekali lagi hasil karyaku dengan kebanggaan tersendiri. Lukisanku menunjukan seorang namja dengan punggung telanjang memunggungiku –luka di pundaknya jadi jelas terlihat-, namun menoleh ke arahku. Tatapannya mengintimidasi namun juga membuat seseorang yang melihatnya akan merasa kehangatan yang misterius.

Bibirnya yang penuh, tidak melengkung ke atas ataupun ke bawah. Ekspresinya datar, namun… tampan.

Kuraih penaku di meja lain dan segera menuliskan sesuatu di pojok kiri kanvas yang sedari tadi menjadi tempat di mana aku berfantasi.

Delusional Boy

“Andai saja kau benar- benar memiliki rupa seperti ini. Sungguh! Kau benar- benar sempurna, tipeku!” Aku terkikik sendiri dan segera berhenti ketika mendengar langkah seseorang seseorang yang memasuki ruangan.

Buru- buru aku berbalik dan..

“Chanyeol sunbae.”

Matanya terlihat dingin dan aku tahu, dia tidak suka dengan kegiatanku sekarang. Mata itu pun menelisik lukisanku dengan tatapan tajam. Seakan- akan dia mau merobek kanvasku menjadi dua bagian. Merusak lukisan indahku.

Dan aku tinggal menunggu sesuatu yang berasal dari mulutnya menuduhku adalah orang gila.

Satu menit penuh.

Dia masih tidak mengatakan apa- apa.

Dan ketika aku menoleh lagi ke arahnya, ia kini tengah menatapku sedih. Ada kekecewaan dan juga rasa sakit hati di balik bola matanya yang membuatku merasa terluka. Jadi.. sekarang aku harus menghadapi sisi Park Chanyeol –yang menyukaiku sebagai namja dan mencoba sekali lagi mengkonfirmasi perasaanku padanya.

Dia bergerak ke arahku, dan menarik pergelangan tanganku keluar dari ruangan di mana aku melukis dan menghabiskan waktu berhargaku.

 

>>>Author’s PoV<<<

“Kenapa kau melakukan hal ini padaku? Jika kau menolakku karena kau menyukai seseorang, aku akan menerimanya, Min Heejin! Tapi alasanmu selama ini, konyol!”

Seseorang dengan seragam yang sama dengan Heejin berdiri tegak dan menatap nyalang ke arah yeoja yang hanya bisa menunduk sedari tadi. Yeoja itu adalah Min Heejin, seorang yeoja berusia 18 tahun. Dia duduk di kelas 11 SMA Chonguk tahun ini, dan namja di hadapannya adalah Park Chanyeol. Sunbaenya sekaligus orang yang selalu menyukainya sejak ia masih kelas 10.

“Kau mempermainkanku, eoh?” Mata bulat Heejin membelalak dan segera ia mendongak untuk menyuarakan kata TIDAK dengan wajahnya. Tapi Chanyeol tidak mengerti dan menatap yeoja itu dingin. Sebelum ia mundur dan berbalik arah.

Meninggalkan Heejin sendirian di koridor sekolah yang sudah sepi. Membuatnya harus merasakan pahit sekali lagi karena apa yang ia sudah lakukan selama ini.

Park Chanyeol adalah namja yang sangat baik dan tulus, dia sudah mendekati Heejin dengan segala cara. Membuat yeoja itu merasa nyaman berada di sisinya dan berharap suatu saat yeoja itu juga akan menyukai Chanyeol di cara yang sama seperti yang selama ini namja itu lakukan. Heejin tahu itu.

Sayangnya Heejin hanya menyukai Chanyeol sunbaenya di cara yang ia rasakan. Sebagai seorang teman dan seorang sunbae yang banyak membimbingnya.

Hingga setengah tahun yang lalu Chanyeol menyatakan perasaannya dengan cara yang sangat romantis padanya. Namun Heejin memberikan sampah pada namja itu dengan mengatakan bahwa ia tidak bisa menyukai namja itu apalagi membalas perasaannya.

“Kau menyukai seseorang?”

Eoh..”

“Siapa?”

“Aku tidak ingin menceritakan tentangnya.”

“Ia lebih tampan daripadaku? Apa yang membuatmu menyukainya.. katakan padaku.”

Sampah lainnya adalah fakta bahwa dia adalah seorang yeoja tidak waras yang menyukai seseorang namja dalam delusinya sendiri.

“A.. aku tidak tahu. Siapa dia. Bagaimana rupanya. Aku tidak tahu.”

“Kau tidak mengenalnya?”

“Aku… aku hanya bertemu dengannya dalam mimpi- mimpiku.”

Heejin tidak bisa melupakan tatapan Chanyeol untuknya hari itu, Chanyeol sunbae yang selama ini menatapnya penuh sayang dan perhatian hari itu menatapnya seakan- akan Heejin adalah yeoja yang tidak waras dan sakit parah. Bahkan Heejin tidak bisa melupakan tatapan jijik dan marah yang menjadi satu di bola matanya.

“Kau mempermainkanku dan aku tidak tahu kenapa aku harus menyukaimu sedalam ini.”

Sesungguhnya Heejin pun merasakan penderitaan ketika ia harus menyakiti sunbae yang paling ia sayang, penderitaan dan luka itu membekas sampai sekarang. Setiap kali ia melihat Chanyeol dan merasakan bahwa namja itu masih menyukainya seperti dulu seirasional apapun alasan penolakannya. Setidaknyata apapun alasan itu bagi namja itu.

Tapi itu nyata baginya..

Perasaannya pada sosok dalam mimpinya bukan suatu delusi. Perasaannya nyata, walaupun namja itu memanglah tidak nyata.

Apakah ada orang di sini yang bisa merasakan debaran hati Min Heejin setiap kali ia hendak terlelap di setiap musim yang ia lewati? Betapa inginnya ia bertemu delusional boynya setiap kali ia tertidur.

Delusional boynya tidak datang setiap hari, ia hanya akan datang sekali setiap musimnya. Musim semi, gugur, panas, dan dingin.

Bayangkan Heejin hanya bertemu seseorang yang ia cintai 4 kali dalam setahun.

Dan perasaan itu sudah membekas lama di dalam dirinya, bahkan sebelum ia mengenal Chanyeol. Itu semua dimulai ketika ia berusia 13 tahun. Masih kelas satu di Junior High. Musim panas.

Ia memiliki perasaan itu selama 5 tahun lamanya, terhadap seseorang yang tidak pernah ada.

Adakah yang bisa merasakan betapa tersiksanya perasaannya?

Tidak ada yang mengerti, tidak ada yang mau mengerti. Ia takut di anggap gila oleh semua orang, ia menyembunyikan perasaannya setiap kali ia bernafas. Dan hanya menunjukannya di malam hari ketika ia ingin terlelap.

Lutut yeoja itu bergetar dan dia segera berjongkok. Air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya, ia benci fakta bahwa ia harus menangis karena merasa bersalah pada Chanyeol sunbae dan menangisi perasaan bodohnya yang sekeras apapun orang mengatakan itu tidak nyata, baginya perasaannya ada dan hidup. Sesungguhnya ia bukanlah yeoja macam ini.. tapi apabila seseorang sudah menyinggung soal perasaannya yang aneh ini, dia bisa saja menangis kapanpun dia mau.

“Heejin-ah!”

Di balik raungan tangisnya, ia mendengar seseorang berjalan ke arahnya dan memeluk pundaknya erat- erat. Orang itu pasti.. Jo Minhye.

Satu- satunya orang yang mau mengerti perasaannya ketika ia menceritakannya dan tidak menganggap Min Heejin sebagai orang gila.

Sahabat terbaik yang tidak akan kau temukan dalam waktu setahun atau dua tahun.

“Ayo kita pulang.”

Minhye selalu tahu bahwa setiap kali Heejin merasa down, ia tidak ingin membahas alasannya. Yeoja itu tidak akan menanyakannya, tidak ketika sahabatnya merasa buruk dan membahas alasan yang membuatnya buruk akan semakin memperburuk dan menyiksa sahabatnya.

“Menginaplah di rumahku malam ini, eommaku merindukanmu.”

Dia sahabat terbaik.

Heejin menghapus jejak air matanya dan menelan bulat- bulat tangisannya. Memaksakan sebuah senyum dan menyapa wajah ceria Minhye dengan anggukan kecil.

“Lagipula… tidak ada yang akan mencariku ketika aku pulang. Kaja.” Suara yeoja bermarga Min itu masih bergetar, tapi ia sudah lebih baik.

Sahabat selalu membuat segala sesuatu terasa lebih baik.

“Kalau mau nangis, teruskan saja di rumah. Jangan di sekolah. Kau akan tertangkap CCTV di koridor dan mempermalukan dirimu sendiri di depan kepala sekolah yang mengecek kamera CCTV setiap minggunya, sobat.” Gurauan Minhye membuat Heejin terkekeh bodoh.

Dalam beberapa detik saja, walau masih merasa sesak. Ia sudah membaik. Seperti biasanya.

“Apakah kau melukis sesuatu yang bagus hari ini, Min Heejin?” Tanya sahabat yeoja itu lembut ketika mereka sampai di mobil kecilnya. Minhye memasang seatbelt, begitupun Heejin. Lalu mobil terakhir yang terparkir di sekolah meluncur ke jalanan sore Seoul yang lengang.

Sebenarnya Heejin masih memiliki ekstra melukis sore itu, tapi kembali ke kelas pun ia sudah tidak niat. Ia bisa mengambil tasnya besok pagi. Lagipula, ekstra melukis itu tidaklah benar- benar ada.

Entah kenapa sekolahnya itu sangat maju di bidang akademik tapi di bidang seni, nol besar. Sehingga murid- muridnya jarang ada yang berminat mengikuti ekstra – ekstra sejenis itu. Termasuk di dalam ekstra melukis. Heejin adalah satu- satunya dari 1000 siswa Chonguk yang mengikuti ekstra itu. Well, mungkin faktor guru pembimbing yang tidak niat mengajar juga menjadi faktor.

Yeoja berusia awal 50 itu hanya datang sesekali, lalu memintanya –sebagai satu- satunya muridnya- melukis dengan tema tertentu, setelah itu ia pergi meninggalkan kelas. Jujur saja, Heejin sudah tidak ingat kapan terakhir Kim Songsaengnim menilai hasil karyanya.

Dan akhir- akhir ini, guru tua itu bahkan tidak pernah datang ke kelas. Ia hanya memberikan pesan pada Heejin tentang tema lukisan. Lalu Heejin akan melukisnya dan ketika ia selesai, ia akan pulang dengan sendirinya.

“Tidakkah kau merasa ruang kelas lukis sudah berubah menjadi galeri lukisanmu, kawan?”

Terkekeh kecil, Heejin mengangguk. “Aku memiliki galeriku sendiri di usia semuda ini.”

Well, memang benar perkataan Minhye. Seluruh gambar yang berada di ruang lukis adalah milik Heejin. Yeoja berambut panjang ini sungguh pandai menggambar. Gambarannya memang belum sekelas Picasso, tapi sudah sangat layak dipajang di museum seni milik Negara.

“Heejin-ah, kadang- kadang aku bingung. Kenapa kau masih harus mengikuti ekstra yang jelas- jelas tidak ada seperti itu?”

Heejin melirik ke arah sahabatnya di balik kemudi. Matanya memancarkan kebahagiaan yang aneh dan hanya ia sendiri yang mengerti rasanya.

“Mungkin.. mungkin karena aku selalu menyukai sesuatu yang jelas- jelas tidak ada.”

///

AHJUMMA!!!”

Suara riang yang sudah sangat dikenali Park Heenam terdengar menggema dari arah ruang tengah. Buru- buru ia mengelap tangannya yang basah dari aktivitas mencuci piring dan beranjak dari dapur.

Aigoooo~ uri Heejin akhirnya muncul lagi di rumah ini.” Sapa yeoja 40 tahun itu sambil memeluk sayang pada sahabat dari putri tunggalnya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.

Ahjumma, sepertinya aku akan menyusahkan keluarga kalian lagi dengan menumpang tidur dan makan di sini. Hehehe..” Heenam melepas pelukannya dan menggeleng pelan.

“Tidak mengganggu sama sekali kok. Kau sudah menjadi bagian dari kami. Bahkan kami berharap kau tinggal saja di sini seterusnya.”

Heejin tersenyum. Dia benar- benar merasa hangat setiap kali datang ke rumah sahabatnya ini. Dia sangat diterima di sini, dan ia merasa sangat bersyukur.

Sejak kejadian pahit di masa kecilnya. Tidak ada orang yang mau menerimanya setulus keluarga Minhye menerimanya.

Karena semua orang hanya menatapnya sebagai seorang anak yang ditelantarkan orang tuanya. Anak yang tidak layak untuk bahagia.

Orang- orang mempercayai cerita bahwa ibunya bunuh diri karena pertengkaran hebat dengan ayahnya. Dan ayahnya… kabur dari rumah karena perasaan bersalah.

Cerita yang semua orang percayai itu membuatnya harus tumbuh menjadi anak yang mengalami banyak sekali rasa sepi yang mencekam dan kegelapan yang begitu panjang.

“Heejin-ah?”

Heejin terperanjat dan segera mendapati wajah menunggu Heenam ahjumma di hadapannya. “Waeyo?”

Tersenyum kecil, sekali lagi Heejin memeluk yeoja yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri dalam 10 tahun terakhir. “Aku sangat bersyukur bertemu ahjumma, ahjussi, dan Minhye.”

Tapi seingin apapun ia untuk tinggal di rumah keluarga ini. Ada satu alasan mengapa ia tidak bisa melakukannya. Satu alasan yang telah mengikat batinnya dengan rumah kosong dan sepi yang ia tinggali 18 tahun hidupnya.

Di dalam rumah itu, ia tahu bahwa pernah ada tawa dan kebahagiaan. Walaupun tangisan dan nyanyian elegi tak hentinya dilantunkan. Tapi kenangan bahagianya mengisi hatinya ketika kesedihan mulai merasuki jiwa dan raganya. Membuatnya merasa hangat.

Kenangan itulah yang mengikatnya untuk berada di rumah itu, walau dalam sepi dan kosong sekalipun.

“Jadi ahjumma, masak apa hari ini? Untuk info saja, aku sangat lapar dan siap menghabiskan jatah makanan Minhye, kalau bisa.”

Minhye yang sedari hanya berdiam diri, mendengus dari belakang. Yang dibalas dengan tawa dari duet eomma dan sahabatnya.

Heuh! Kalau eommanya sudah bertemu dengan Min Heejin. Kadang- kadang yeoja itu lupa siapa sebenarnya anak kandung seorang Park Heenam.

Appa sudah pulang, eomma?”

“Belum. Dia masih menyelidiki sebuah kasus dan sepertinya tidak akan pulang hari ini.”

Kening Minhye berkerut dan rasa penasaran mulai merambati benaknya. “Kasus apa kali ini?”

Oh yah, untuk informasi. Ayahnya adalah seorang polisi yang tergabung dalam tim khusus yang mengkhususkan dalam pencarian orang hilang.

Appamu belum menceritakan secara jelas pada eomma, tapi terakhir kali dia bercerita tentang seorang namja yang telah dinyatakan hilang dalam 13 tahun –jejaknya benar- benar tidak bisa ditemukan. Namun secara aneh, seseorang melaporkan bahwa ia melihat namja hilang itu tengah berkeliaran di distrik Yongsan.”

“Yongsan? Bukankah itu daerah tempat tinggalmu, Jin-ah?”

Heejin menganggguk menanggapi pertanyaan Minhye.

“Kau harus hati- hati ketika di rumah. Terutama ketika malam. Kau tahu kan, orang hilang itu memiliki kesan negatif. Apalagi telah hilang selama 13 tahun. Mungkin saja dia orang jahat yang menjadi buronan pembunuhan?” Ucapan Minhye menimbulkan reaksi terkejut dari sahabatnya.

“Kau pikir begitu?”

“Ckkk.. aniyo, Heejin-ah. Minhye hanya terlalu banyak menonton film- film thriller. Otaknya sudah teracuni. Sudah, sekarang kita ke ruang makan saja. Kau bilang tadi kau sangat lapar. Kaja!” Park Heenam menarik lembut tangan Heejin dan membawanya ke ruang makan. Meninggalkan Minhye sendirian dengan wajah abstraknya.

“YAK!! AKU TIDAK DIAJAK!”

///

Angin berhembus kencang dari sebuah pintu yang terbuka dan yeoja kecil itu tidak bisa melakukan apapun selain menggigil. Langkahnya tergesa- gesa menaiki tangga, mata bulatnya sudah berair sejak ia tidak bisa menemukan eommanya di dalam rumah.

Eomma eodiya?

Dia tidak tahu kenapa, tapi kedua kaki mungilnya membawanya ke arah rooftop rumahnya. Digenggam erat boneka tedy yang dihadiahkan appanya pada ulang tahunnya yang ke 4 –tahun lalu.

EOMMA!” Suaranya cempreng, tapi kali ini terdengar begitu khawatir dan takut.

Min Heejin mulai melangkahkan kakinya atas lantai marmer rooftop rumahnya ketika ia melihat sesuatu yang membuat hidupnya tidak akan pernah kembali ke titik di mana ia berada sebelumnya. Sesuatu yang ia lihat, sesuatu yang terekam secara lengkap di memori hatinya.

“Shhhh…” Seseorang menyeringai ke arahnya, telunjuk berada di bibirnya menandakan bahwa orang itu menyuruhnya untuk diam. Orang itu, dia tidak tahu siapa. Heejin tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi jika suatu saat gadis kecil itu bertemu kembali dengan orang itu. Dia pasti bisa mengenalinya. Matanya, tatapan matanya.

Heejin berjanji akan membawa sampai ia mati bagaimana cara orang itu menatapnya.

“J..a..ngan menangis, Heejin-ah.” Lalu suara eommanya terdengar dan di detik itulah Min Heejin merasa jiwanya telah mati.

Ia bahkan tidak bisa berteriak atau bahkan menangis ketika ia melihat dengan kedua matanya sendiri. Eommanya yang sempat tergantung beberapa saat di pinggiran tembok atap rumahnya, terjatuh

Lalu semuanya gelap.

Seseorang menutup kedua matanya dengan tangannya.

“Kau mengingat kenangan buruk itu lagi, Jinie-ya.”

Orang itu! Kenapa Heejin harus bertemu lagi dengan delusional boynya di saat adegan rooftop sore itu merupakan latar mereka.

“Aku akan membawamu pergi dari sini.” Suara namja itu begitu tenang, membuat ketakutan yang merayap melalui sendi- sendinya mendadak sirna.

Lalu ketika matanya bisa melihat cahaya kembali, ia melihat ruang lukis di sekolahnya sebagai latar. Tempat yang paling ia sukai di dunia ini.

Ia hendak mengutarakan sesuatu pada namja itu, mungkin menanyakan alasan kenapa ia datang dengan latar kejadian di masa kecilnya. Tapi sepatah kata pun tidak bisa keluar dari mulutnya. Lalu Heejin mengingat bahwa ia pernah menjadi bisu di masa kecilnya.

Apakah ia memiliki kemampuan itu lagi? Untuk menjadi bisu dan tidak mampu mengatakan apapun.. bahkan kebenaran yang sesungguhnya?

Bahwa eommanya tidaklah bunuh diri seperti yang diberitakan. Eommanya dibunuh.

“Heejin-ah.. apakah kau ingat bahwa selama setahun kau tidak bisa berbicara. Kau selalu menangis dan menceritakan semuanya, kepadaku?”

Dia masih di sana.

Heejin ingin berbalik, tapi sesuatu menahan dirinya. Maka ia tetap bergeming dan menatap sebuah lukisan yang pernah ia buat. Ia pernah menggambar sebuah pintu yang setengah terbuka.. pintu yang sama seperti yang ada di ingatan masa kecilnya.

“Tentu saja kau tidak ingat. Aku yang menghapus semua ingatan tentang mimpi masa kecilmu.”

Apa yang dia bicarakan?

 

>>>Heejin’s PoV<<<

“Heejin-ah, kalau begitu. Apakah kau ingat aku pernah mengatakan sesuatu padamu, tentang identitas diriku yang bukan siapa- siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa- siapa? Kau perlu mengetahui sesuatu..”

Namja itu melangkah mendekatiku karena aku bisa merasakannya. Lalu sebuah tangan yang sangat kukenal membungkus pinggangku. Dan aku hanya bisa tercekat.

Dia memelukku.

Debaran di dadaku begitu nyata, bahkan aku mengirimkannya ke tubuh asliku yang sedang terbaring di dalam kamar Jo Minhye.

Aku jelas dapat merasakannya. Ini nyata!

“Aku akan melewati sebuah pintu… dan kau akan bertemu denganku.” Namja itu mengistirahatkan kepalanya di atas kepalaku. Dia sudah pasti jauh lebih tinggi daripada diriku. Menyimpannya dalam memori, aku merasa dia sedang mengucapkan kata perpisahan. Walaupun dia baru saja mengatakan bahwa kita akan bertemu.

Kenapa aku merasa seperti ini?

“Nanti.. ketika kita bertemu, berilah aku sebuah nama.”

Nama?

Aku sungguh tidak mengerti. Dan mengingat kondisi kebisuanku, itu membuatku semakin frustasi.

“Kuharap kau akan segera menemukanku, Jinie-ya.”

Lalu pintu yang pernah ku gambar, yang berada tepat di depan mataku. Terbuka jauh lebih lebar sehingga aku bisa melihat ke luar –apa yang sebenarnya berada di balik pintu.

Aku tahu, itu adalah pemandangan dari rooftop rumahku sore itu. Aku tahu karena aku yang menggambarnya. Tapi anehnya, tidak… yang sekarang kulihat bukanlah itu..

Kamar Jo Minhye.

ANDWAE!!”

Aku terlonjak dari kasur dan segera mengambil nafasku banyak- banyak. Mencoba menetralisir keadaan di mana tubuhku bangun secara tiba- tiba.

Apakah pintu tadi membawaku kembali ke dunia nyata?

Aku terbangun dan aku tidak yakin bisa tertidur lagi. Jadi sepanjang sisa malam aku hanya merenung. Mencoba memahami apa maksud dari mimpiku barusan..

Apakah itu sebuah tanda?

Atau hanya mimpi kosong. Ya bagaimanapun orang- orang hanya menyebut mimpi hanya sebagai bunga tidur belaka.

Tapi kenapa sesak mulai merayapi hatiku, seakan- akan aku mempunyai semacam perasaan yang aneh akan sesuatu. Sesuatu yang sejujurnya tidak kuketahui, tapi sesuatu yang akan kuhadapi.

Delusional boy, aku tidak akan bertemu dengannya di dunia nyata.

Tentu saja.

 

>>>Author’s Note<<<

Waktu terus bergulir –tak terasa sudah memasuki 2 bulan sejak saat itu- dan ingatan akan mimpinya yang terakhir kali, terus bersarang di benak Min Heejin. Menguliti akal sehatnya semakin parah. Apa maksud dari semua itu? Apa namja itu akan berhenti mengunjungi mimpinya? Dan mereka akan bertemu di dunia nyata?

Nah, kan.. di sinilah ia merasa akal sehatnya sudah lenyap entah ke mana.

Kata orang, orang yang jatuh cinta selalu mengorbankan selalu akal sehatnya dan mengutamakan kata hatinya. Tapi, orang- orang itu menyukai orang yang nyata. Bagaimana dengannya?

Menyukai seseorang yang tidak nyata, selain akal sehatnya… apalagi yang harus ia korbankan?

Sore ini, Heejin tengah dalam perjalanannya menuju rumahnya di Yongsan. Jarum di jam tangannya sudah menunjukan pukul 17.50. Berarti sebentar lagi matahari akan turun dari peraduannya dan kegelapan malam menyelimuti bumi –bumi bagiannya tentu saja.

Dia harus segera sampai di rumah.

TAP TAP TAP

Tunggu –

Heejin baru saja mendengar langkah seseorang, tidak jauh darinya. Ia berencana untuk menoleh ke belakang untuk memastikan siapa itu –kalau itu hanyalah Beom halmeoni, tetangganya- ia akan bernafas lega.

Tapi kalau itu adalah orang hilang selama 13 tahun yang ditemukan jejaknya di Yongsan seperti yang diceritakan Heenam ahjumma dan Minhye hari itu. Bagaimana…?

Sialan! Kata- kata Minhye membuatnya berpikir yang macam- macam…

Tapi wajar kan dia merasa merinding sekarang?

Dengan gerakan horror, Heejin menoleh ke belakang dan..

ZIING

Tidak ada siapa- siapa.

Tanpa Heejin sadari, langkahnya semakin cepat dan otaknya yang kadang- kadang suka ngawur itu malah berpikiran bahwa orang yang ia rasakan keberadaannya berjalan di belakangnya itu. Bukan seseorang, melainkan.. sesosok.

Mengerti, kan?

Heejin paling takut hal seperti itu!

TAP TAP

Terdengar lagi..

Duh sial, mana langit semakin gelap. Ketakutan Heejin semakin besar dan dia mulai mengucapkan mantra yang diajarkan eommanya waktu ia masih kecil, ketika gadis kecil itu mulai ketakutan karena petir di hari hujan. Kebiasaannya.

“Ada ibu kodok dan anaknya, mereka pergi ke pasar lalu membeli dua ekor capung terbang. Penjual capung wajahnya bulat- bulat seperti dimsum udang yang rasanya enak. Penjual capung mengenali ibu kodok, nah siapakah sebenarnya si penjual capung ini? Itu masih menjadi misteri. Ada ibu kodok dan anaknya, mereka pergi ke pasar lalu membeli dua ekor capung terbang…. “

TAP TAP

“HUAAA!!!! EOMMAAAAAAAAAAAA!!!!”

Lalu dengan bersungguh- sungguh, Heejin berlari sekencang- kencang ke arah rumahnya yang sudah ada di ujung matanya.

TAP

“Pftttt..”

Sosok itu mencoba menahan tawanya bulat- bulat. Heejin tidak salah ketika merasakan ada orang yang membututinya. Memang ada.

“Dia masih mengatakan mantra aneh dan bodoh itu sampai setua ini.”

Pertanyaannya, siapakah sosok itu?

 

>>>Heejin’s PoV<<<

“Tadi malam aku bermimpi! Tapi aku tidak tahu aku bermimpi apa.. HAHAHA!!” Sebuah suara menggelegar terdengar oleh telingaku ketika aku sedang menyantap makan siangku bersama Mihye di kantin.

“Bukankah kebanyakan dari kita tidak bisa mengingat apa yang kita impikan ketika kita terbangun? Well, mungkin samar- samar. Tapi tidak akan mengingatnya secara keseluruhan.” Aku melirik lewat ujung mataku dan mendapati segerombolan namja yang sedang berbicara dengan suara keras yang terdengar sampai ke mejaku. Sepertinya mereka adik kelas.

“Kau benar..”

Dia benar.

“Minhye-ah. Aku ingin bertanya sesuatu.” Aku menyipitkan mataku ke sesuatu yang tidak pasti, kebiasaanku ketika berpikir. Percakapan adik kelas itu membuatku teringat sesuatu.

“Setiap kali kau bermimpi, apakah kau akan mengingatnya ketika terbangun?”

Minhye kelihatan berpikir, lalu ia menggeleng tegas. “Tidak. Mungkin beberapa kuingat, tapi itu pun tidak jelas. Seperti berusaha bercermin di lumpur. Analoginya seperti itu. Kebanyakan aku malah tidak ingat sama sekali. Wae? Apakah kau memimpikan namja itu lagi?” Tanyanya dengan nada penasaran.

Well, memang iya –beberapa bulan yang lalu. Tapi fokusku lebih kepada hal lain kali ini.

“Kenapa aku selalu mengingat semua mimpiku tentang namja itu? Dalam artian, aku tidak hanya mengingat potongan- potongan mimpiku saja. Melainkan keseluruhannya.”

Jinjja?” Aku menatap sahabatku tepat di manik matanya dan mengangguk. “Apakah ada urusannya dengan perasaanmu? Karena kau menyukainya, kau jadi mengingatnya?”

“Aku tidak tahu.”

“Itu cukup aneh, kawan.”

Aku mengangguk singkat. Tapi lebih baik segera kulupakan, karena bel tanda istirahat telah berakhir, berbunyi.

“Kembali ke kelas!” Sahut Minhye keras dan terdengar malas.

“Geografi, yah? Aku belum mengerjakan tugas mencari indeks konektivitas –“

YEOKSI! Friendship are the strongest bonds!” Tandas Minhye dengan nada puas dan aku tidak mengerti ada apa dengannya.

“Apa?”

“Sama. Aku juga belum mengerjakan tugas. Hahaha..”

“YAK! Kukira apa!”

Lalu kami melangkah kembali ke kelas dengan tawa. Ada yah murid yang belum mengerjakan tugas namun tertawa- tawa bebas seperti kami? Apalagi alasannya karena kami sama- sama belum mengerjakan.

Idiotic friendship.

Tepat selangkah sebelum masuk ke dalam kelas, seseorang meraih pergelangan tanganku sehingga membuatku terpaksa mundur selangkah.

“Chanyeol sunbae?” Dia menarikku ke lorong dan mengatakan sesuatu yang membuatku terhenyak.

“Pulang denganku hari ini, Heejin-ah?”

Aku mengerjap beberapa kali. Dan baru hendak mengatakan sesuatu, di ujung mataku aku melihat Yuk sonsaengnim melangkah ke arahku –kelas lebih tepatnya. Aduh sial…

Dan well hubunganku dengan Chanyeol sunbae sejak sore itu – di mana aku berakhir dengan tangisan lagi- membaik secepat kau mengetikan kata “Qwerty” di keyboardmu. Dia meminta maaf padaku keesokan harinya dan aku tidak merasa dia melakukan hal buruk padaku. Lalu kami kembali normal –seperti sebelumnya dan sekarang.

“Okay, gomawoyo. Dan mian aku harus masuk kelas sunbae!” Ujarku terburu- buru. Bahkan kakiku mulai jalan di tempat, siap- siap untuk kabur.

Catatan saja, Yuk sonsaengnim sangat tidak suka murid yang datang telat ke kelasnya. Apalagi sehabis istirahat seperti ini.

“Aku mengerti.” Matanya mengarah pada Yuk saem yang semakin menyeramkan ketika ia makin dekat dengan kami.

Annyeong sunbae!”

Lalu aku benar- benar ngacir dari tempat itu, mengabaikan tawa renyah Chanyeol sunbae ketika ia melihat tingkahku. Sudah kukatakan, namja itu benar- benar baik. Andai saja ia tidak menyukaiku dan kita bisa berteman selayaknya, pasti aku sangat senang. Yang sampai saat ini tidak kumengerti adalah terkadang dia terlihat seperti memiliki 2 kepribadian. Yang konyol yang membuatku nyaman seperti barusan, dan yang serius dan tegas ketika ia mempertanyakan perasaanku padanya –membuatku merasa seakan- akan sedang terjepit di ruangan sempit.

Aku sampai di kelas lebih dulu dibanding Yuk sonsaengnim, aku baru saja menyelamatkan nyawaku. Hiperbola yah? Kkk. Dari bangku depan, Minhye memelototi aksiku yang malah menghilang beberapa saat.

Senyuman bodoh kuberikan padanya sebelum menunduk untuk mengambil diktat Geografiku dari dalam tas. Ketika aku melakukan hal itu, tiba- tiba aku mengingat bahwa sepertinya barusan Yuk saem tidak berjalan sendirian. Aku tidak jelas melihat siapa yang berada di belakangnya. Tapi aku melihat 2 orang namja. Mereka berdua sama- sama tinggi, hanya itu kesan yang kudapatkan.

Yah mungkin mereka adalah murid baru. Mengingat sekarang masih termasuk awal semester. Mari kita lihat, murid pintar jenis apalagi yang akan membuat sesak kelasku.

Siapapun yang masuk Chonguk Senior High School adalah murid pintar, mau taruhan? Hehehe, apakah aku baru saja mengatakan secara tidak langsung bahwa aku adalah murid pintar? Tapi sayangnya, aku lebih senang melukis dibanding mengikuti beragam olimpiade akademik yang membosankan.

“Murid- murid, harap tenang! Sebelum memasuki pelajaran, kita mendapatkan dua murid baru lagi untuk kelas ini.”

Nah kan… BINGO!

“Astaga mereka berdua tampan, Heejin-ah!” Jikyung yang duduk di sebelahku menyikutku dan aku langsung duduk tegak untuk membuktikannya sendiri seberapa tampan kedua murid baru yang dipastikan adalah seorang… namja.

“Silahkan perkenalkan dirimu.” Pak tua yang menjadi guru geografiku menyingkir sehingga akses melihat namja yang ‘kata Jikyung’ tampan ini terbuka lebar.

Ketika itulah, sengatan listrik tiba- tiba mengalir dari ujung tanganku.

Dan aku bukannya terpesona oleh ketampanan mereka –walaupun mereka memang tampan as hell!-, tapi salah satu di antara mereka berdua sedang melihat ke arahku dengan tatapan yang.. errr.. membuatku sedikit merinding.

Annyeonghaseyo. Oh Sehun imnida. Bangapseumnida.” Murid baru yang berkulit putih dan tubuh kurus menyapa terlebih dahulu. Suaranya terdengar riang dan menyenangkan. Dia pasti akan segera menjadi namja populer di sekolah ini.

“Kim Jongin.”

Dan yang satunya lagi… entahlah. Dia dingin dan sedikit menakutkan. Tapi tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi murid yang sangat populer. Bukankah biasanya yeoja menyukai namja yang cool?

Aku tersenyum kecil ke arah mereka berdua. Dan syukurlah salah satu di antara mereka yang tadi melihat ke arahku mengalihkan tatapannya ke arah lain setelah aku tersenyum.

Kim Jongin dan Oh Sehun.

Teman baruku…

Dan firasat bodohku baru saja mengatakan padaku bahwa kedua orang itu terlihat, tidak biasa.

 

TO BE CONTINUE

 

 

Present Unreal (Chapter 2 #The New Boys)

PREVIEW

 

Kim Jongin dan Oh Sehun.

Mereka terlalu diam untuk ukuran murid baru.

 

“Aku memikirkan si anak baru.”

“Sehun atau Jongin?”

“Dua- duanya.”

 

Speechless selama beberapa detik, Heejin masih yakin kalau Park saem akan menyebutkan marga Lee. Kenapa jadi Kim?

Dengan horror, Heejin menoleh lambat- lambat ke belakang dan menemukan namja bernama Jongin itu tengah menatapnya lurus. Yang menyebalkan adalah, seringaian yang terpatri di ujung bibirnya yang membuat Heejin ingin buru- buru menghadap lagi ke depan.

 

“Oh Sehun, kau sering memperhatikanku, yah?”

Well, aku selalu memperhatikan yeoja cantik di sekitarku.”

 

Don’t forget to give your opinion. RCL juseyooo~ hehehe 😀

See you next chapter ^^

32 pemikiran pada “Present Unreal (Chapter 1 : Strange Feelings)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s