Guardian Devil High School (Prolog)

Guardian Devil High School

Tittle : Guardian Devil High School (Prolog)

Main Cast : EXO & OC

Other Cast : Find it~

Author : Nichan

Length : Chaptered

Genre : Fantacy, School-life, Romance, Mystery, Comedy

Author’s Note :

Ini fanfic EXO pertama Nichan. So, karna Nichan masih newbie dalam urusan fanfic, saran dan kritik yang membangun sangat di butuhkan. Storyline adalah hasil pemikiran Nichan sendiri. FF ini pernah di post di blog pribadi Nichan ( mysummerspringday.blogspot.com). No copas and plagiarisme.

Hope you enjoy this~

 

 

Choi Min Ra

“Sempurna!” Penampilan ku benar benar sempurna hari ini. Rambut coklat bergelombang sedada. Mata bulat yang telah dihiasi eye liner, mascara, dan eye shadow dengan indahnya. Hidung mancung sempurna. Pipi tirus dengan warna pink merona alami. Bibir tipis dan lembut menyunggingkan senyum semanis gula. Leher jenjang nan mulus dan putih. Kulit putih bersih. Seragam putih jernih dengan Pita merah terikat indah sebagai dasi. Blazer hitam yang masih tegang. Rok 15 centimeter di atas lutut. Kaus kaki hitam sedikit di bawah lutut. Sepatu wedges hitam dengan hak putih 7 centimeter.

“Terlalu sempurna!”

Tidak henti-hentinya Min Ra menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ya, dia memang cantik. Secara keseluruhan dia tidak memiliki cacat sama sekali. Ditambah lagi dengan seragam baru kinclong yang masih tegang itu. Tepat sekali! Hari ini adalah hari pertama nya memasuki jenjang sekolah menengah akhir. Setelah sebelumnya lulus smp dengan nilai yang biasa saja. Ya! Biasa saja. Seperti kata pepatah, ‘tidak ada manusia yang sempurna’ maka, dalam kasus kali ini karena Min Ra memiliki kecantikan agak di luar batas normal maka dia tidak dijadikan sebagai seorang yang pandai. Bukankah cukup adil?

“Hey, nenek narsis! Mau sampe kapan lo begitu? Liat jam bedon! Limabelas menit lagi jam tujuh! Itu artinya waktunya tinggal setengah jam lagi! Mana belum sarapan lagi! Belum lagi macet! Buruan turun!” Choi Min Ho tiba-tiba menyembulkan dirinya dari balik pintu dan mengomeli Min Ra. Yang benar saja, sarapan mereka sudah menunggu Min Ra berdandan selama setengah jam. Min Ho yang memang dari awal telah bangun pagi terpaksa harus menunggu segala tetek bengek yang di lakukan Min Ra di kamarnya.

“Aisshhh oppa ini tidak sabaran sekali sih!” Min Ra akhirnya turun kebawah takut di omeli oleh Minho lagi. Segera setelah sampai di ruang makan Min Ra menggeser kursi untuk dirinya dan meminum seperempat susu yang telah disiapkan oleh pelayan rumahnya di meja makan.

“Oppa, koper ku?” Min Ra bertanya pada Min Ho sambal menyuap nasi goreng miliknya. Enak! Pujinya dalam hati.

“Sudah di mobil. Dan inget ya nanti begitu sampai di sekolah langsung ke mading dan liat kamar lu nomor berapa. Ntar bakalan ada osis di lapangan. Nah ntar koper lu bakalan di kumpulin sama ntu osis dan bakalan di angkut sama mereka jadi lu terima jadi aja. tapi lu bakal bawa koper lu sendiri begitu kita sampai disana. Ngerti kan? Nah, gue juga ga bakalan bisa jagain lu terus-terusan disana. Lu usahain cari temen. Eh, geng lu waktu smp dulu masuk Green Leaf juga kan? Nah, kalo gitu lu berarti ga usah susah payah nyari temen. Tapi jangan mentang-mentang lu udah punya geng lu jadi gak mau bergaul sama yang lain. Disana juga lu jangan kegenitan sama cowok. Gue tau lu itu popular dan playgirl waktu SMP. Tapi sekarang lu udah SMA. Jadi kelakuan buruk pas SMP lu itu harus di buang jauh-jauh. Nanti di sekolah kita bakalan adain upacara penerimaan murid baru. Nah disitu lu bakalan baris menurut kelas masing-masing. Soal informasi kelas juga lu liat aja di madding. Seharusnya anak-anak osis udah nempelin semua informasinya di madding. Jadi lu jangan sampai salah masuk barisan. Nah, terus ntar….”

“Oppa… Nafas” Min Ra dengan santainya merespon kalimat dua paragraf Min Ho dengan dua kata sambil terus menyuap nasi gorengnya. Enak! Sekali lagi Min Ra berkata dalam hati.

“Gue ga bakalan lupa Nafas Bedon! Eh, lu dengerin kata-kata gue tadi kan?” Min Ho melanjutkan menyuap nasi goreng nya yang merupakan masih suapan ketiga sedari tadi.

“Oppa itu bukan kata tapi paragraph.” Enam kata yang benar-benar menjelaskan. Min Ho akhirnya melanjutkan sarapannya dengan gragas karena waktu mereka benar-benar tinggal sedikit. Salah siapa ini? Salah Min Ra yang kelamaan dandan kah? Atau salah kalimat Min Ho yang dua paragraph tadi ? ‘tentu saja salah Min Ra’ hardik Min Ho dalam hati.

 

 

Shin Chan Chan

 

“Kyaaa!!!!!!! Banjir Banjir ! Oppa tolong selamatkan komikku! Cepat! Nakayoshi ku cepat masukin ke pelampung!” Gadis pelor bernama Shin Chan Chan panik setelah di guyur air segayung.

“ yaa! Shin Chan Chan!!! Tidak ada banjir disini! Cepat bangun kau dasar bodoh! Waktunya tinggal setengah jam lagi!” Shin Jong Kook menjewer telinga kanan adiknya dengan sadis setelah mengguyur dengan segayung air dingin.

“ aa aa aa!! Telinga! Telinga!”

“ Kenapa telingamu hah? Cepat bangun kau dasar kerbau!” Joong Kook menghentikan jeweran maut feat mematikan miliknya dan menjitak adiknya dengan kedua tanganya secara bersamaan dari arah kiri dan kanan dan kemudian turun tanpa rasa bersalah.

“Yaa!!!! Kenapa aku bisa punya abang sepertimu!!! Malang sekali nasibku!” Chan Chan melemparkan guling nya ke pintu kesal setelah menjadi korban atas 3 tindakan kekerasan oleh abangnya.

“Cepat mandi kau Shin Chan Chan!!” Jong Kook berteriak dari bawah membuat Chan Chan terkejut dan panic mencari handuk.

“Iya ! Iya! Aku mandi! Jangan aniaya aku!” Chan Chan masuk kamar mandi dan segera mandi ala shao lin dengan hanya mencolek kedua ujung mata dengan jari telunjuk yang sebelumnya telah dibasahi air.

 

Enggak ding! Dia tidak sejorok itu!

 

Chan Chan mengancing seragamnya terburu-buru sehingga beberapa kali memasukkan kancing kedalam lubang yang salah. ‘aissh besok-besok aku beli seragam dengan menggunakan resleting saja.’

Emangnya ada?

Chan Chan berlari menuju dapur dan duduk di meja makan. Ia memakan roti selainya buru-buru dan menghabiskan milo nya dalam sekali teguk. Ia langsung berlari keluar rumah takut-takut dimarahi Jongkook yang dari tadi sudah menunggu di halaman dengan taxi yang baru saja di panggil.

“Chan Chan, Chan Chan. Kapan kau akan berubah nak?” Ibunya yang telah menunggu di depan bersama jong Kook hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya.

“Besok! Eh eh minggu depan! Eh eh tidak bulan depan eh eh begitulah pokoknya!” Chan Chan menyalam tangan ibunya. Rasanya sedih mengingat ini akan jadi yang terakhir kalinya mereka bertemu untuk 6 bulan kedepan. Ya! Chan Chan memasuki Green Leaf yang merupakan sekolah dengan system boarding school.

“Ibu jaga diri ya! Jangan rindu sama Chan Chan” Chan Chan memeluk ibunya erat dengan sedikit kesusahan karena ia hanya setinggi bahu ibunya.

“kau juga ya Chan Chan. Jangan terlalu heboh! Perhatikan sekitar! Dan jangan sampai tersandung ya?” ibu mengelus rambut Chan Chan mengingat betapa terharunya Ia Chan Chan dapat memasuki Green Leaf padahal nilai Chan Chan sangat lah pas-pasan.

“iya ibu. Hiks Chan Chan sayang ibu hiks jangan lupakan Chan Chan”

“Hey kau ! mau sampai kapan kau berdrama? Dan ini! Apa ini semua kopermu? Kenapa ada 5 ? apa saja yang kau bawa?” omelan Jong Kook dengan sempurna merusak suasana dramatisir antara Chan Chan dan ibu. Bagaimana tidak syok melihat 5 buah koper berjejer di depan pintu. Dan kelima koper tersebut semuanya milik seorang gadis kecil yang bahkan tingginya cuma 150 centi.

“ Sudahlah oppa angkut saja koper koper itu ke dalam taksi. Aku masuk duluan ke dalam taxi nya ya! Semangat!” Chan Chan berjalan bak artis di karpet merah berlenggak lenggok memasuki taxi.

“Ya! Kenapa berat sekali koper ini ? jangan bilang isinya komik?! ” Jong Kook berteriak keras merasa encok nya bakal kambuh mengangkut koper koper milik adiknya itu. ‘tepat sekali hihi’ Chan Chan di dalam mobil hanya tertawa sadis melihat Jong Kook kesusahan mengangkut kopernya yang ya! Benar sekali! Yang isinya merupakan komik komik manga miliknya.

 

Kang Gi Seul

 

Lama. Ini terlalu lama.

 

Gi Seul tak henti-hentinya mengumpat dalam hati dan mencaci maki teman-temannya. Yang benar saja! Waktunya tinggal 10 menit lagi! Berkali-kali Gi Seul melirik jam tangan kuning miliknya. Sial!

 

“Kang Gi Seul!!!!” seorang gadis mungil melambai tak tau malu kearah Gi Seul sambil berteriak dan menarik perhatian beberapa orang yang melihat. Pendek. Satu kesan yang dapat di ucapkan saat pertama kali meihatnya. Dia adalah Chan Chan. Atau lebih lengkapnya Shin Chan Chan. Dan di belakang gadis itu tampak seorang laki-laki dengan postur tubuh yang lumayan tinggi dengan model rambut cepak tengah kewalahan mengeluarkan koper satu-persatu dari dalam taxi.

 

“Shin Chan Chan! Lo kemana aja? Semalam lo bilang pengen dateng cepet hari ini. Tapi apa? Lu tau gak sih? Gue udah kaya orang bego nyasar berdiri di depan gerbang selama setengah jam Cuma buat nungguin lo! ” Gi Seul nyerocos dan meluapkan segala kekesalannya. Bayangkan saja sedari tadi ia menunggu Chan Chan sambil di liatin senior mereka yang berdatangan dari asrama menuju sekolah. Apa kata dunia ntar? Apa kata dunia kalo ngeliat Gi Seul dengan merananya berdiri di depan gerbang dengan kulit maaf tidak putih dan rambut coklat sebahu dgn menenteng sebuah koper coklat. Dan di tambah dengan efek efek angin sepoi sepoi ahh pas sekali untuk syuting film ‘ Bang Toyib’.

 

“hehe.. Maaf-maaf Gi Seul sayangku yang cantik. Maap kan Chan Chan yang bangun kesiangan ini yah?” Chan Chan mulai melakukan aegyo mematikan miliknya. Memposisikan kedua tangannya ke depan pipinya dan mulai menggerakkan telapak tangannya yang di kepal ke depan dan kebelakang dengan bibir yang di kerucutkan Dan ekapresi wajah yang dibuat sok imut. Yak pesiapan selesai dan…

 

‘bbuing bbuing’ eghhh tidak. Jangan jurus ini gue mohon. Gi Seul memohon dalam hati agar Chan Chan tidak mengeluarkan jurus andalan aegyo mematikan miliknya.

 

“eughh oke lo gue maafin,” yak kesok-polosan Chan Chan ternyata mampu merobohkan benteng pertahanan seorang gossiper sejati bernama Kang Gi Seul.

 

“assikkk… Giseul-ah kayanya kalo gak salah pengumuman kelas nya ada di mading? Ayo kita lihat!” Chan Chan dengan paksa menarik tangan Gi Seul segera menuju mading.

 

‘Eh eh koper gue buset dah.’ Koper Giseul belum sempat diambil ketika tangannya di tarik oleh Chan Chan. Dia hanya bungkam dan pasrah meninggalkan koper mereka di gerbang sekolah.

 

‘Yah paling di seret satpam. Sabodo teuing lah.’

 

“buset dah rame bener. Bagaimana kita bisa kedepan sono ngeliat madding?” Chan Chan jow drop saat tiba di depan madding sekolah baru mereka dan melihat keelitan anak anak green leaf yang katanya merupakan salah satu sekolah elit bertaraf international di seoul.

 

“lagi pada demo bbm kalik” Gi Seul sembarangan nyeletuk ikut-ikutan bingung bagaimana cara mereka bisa menerobos sekumpulan manusia di depan mereka ini.

 

“lah? Emang bbm naek lagi ye seul?”

 

“mana gue tau! Lo kira gue orang pertamina apa/? Eh eh Chan, coba deh lo liat cowok yang di sana. Gue denger-denger nih ya katanya itu cowok yang lulus ujian masuk dengan nilai tertinggi.” Gi Seul yang perhatian nya mendadak tercuri oleh sosok pria manis yang lumayan tinggi langsung saja mulai berbagi informasi yang entah dari mana di dapatkannya itu kepada Chan Chan.

 

“yang mana? Yang itu? Yang lagi jalan sambil tangannya sebelah dimasukin kantong itu? Wih serius lo? itu anak dapet nilai tertinggi? Buset itu otak apa otak? Di kasi makan buku kali sama emaknya. Eh, tapi kok lo udah tau aje hal hal begitu?” Chan Chan ikut-ikutan jaw drop melihat pria tersebut. Bagaimana tidak, nilai tertinggi? Nilai tertinggi ujian masuk yang hampir setengah soalnya make bahasa inggris? gila aja! ‘gue aja masuk gegara lagi nasib baik aja kali ya. Nilai ujian gua mah amburadul. Sadis.’

 

“tau lah. Gue kan orangnya itu kaga kudet kaya lo. Gue itu up to date ga kaya lo otaku cap badak kaki dua, duanya lagi kelindes truk. Namanya aja gue tau. Bahkan kalo lu nanyain ke gua berapa ukuran cd nya pun gua..”

 

tunggu dulu. Kayaknya ada yang salah dari informasi gue. Kayaknya yang nilai tertinggi itu cewek..

 

“lu tau? Beneran?”

 

“gue belom selese ngomong wei! Maksud gue bahkan kalo lo nanyain ke gua berapa ukuran cdnya pun gua bisa nanyain ke emaknye besok”

 

“yee kampret gue kira lo tau!” Chan Chan yang telah ‘merasa’ di bodohi oleh Gi Seul pun menoyor kepala Gi Seul. Ya meskipun Chan Chan kesusahan melakukannya akibat tinggi badan yang…. Yah taulah, tapi teteup Gi Seul nggak bisa lari dari ‘tempeleng maut’ tersebut.

“eh, ngemeng-ngemeng itu cowok namanya siapa?” Chan Chan yang penasaran pun mulai tertular kekepoan Gi Seul.

 

“ Kim Jong Dae. Namanya Kim Jong Dae.”

 

“hemm… Jong Dae toh. Eh woi! Noh buruan kosong tuh !” Chan Chan yang melihat adanya kesempatan menyelip di antara sekian banyak manusia tadi pun langsung memanfaatkannya. Karena badannya yang, maaf–kecil ia pun dapat menyelip dengan lihai. Segera di bacanya papan pengumuman setelah dia sampai di depan mading. Berbagai macam informasi rupanya tertempel di madding. dari yang formal sampai yang informal. Dari pengumuman kelas hingga tips tips menyamarkan tompel. Chan Chan langsung saja memfokuskan matanya ke kertas warna kuning besar yang terlihat paling menyolok. Dengan cepat matanya menelusuri setiap nama. Dan ya, dia di kelas 10 E.

Kelas 10 E.

Wali Kelas : Cho Kyu Hyun

Jumlah Murid : 23 Siswa

Lokasi : Gedung 2 Lantai 4

Murid :

  1. Ayumu Katou
  2. Byun Baekhyun
  3. Choi Min Ra
  4. Choi Sung Chan
  5. Do Kyung Soo
  6. Han Ni Chan
  7. Huang Zi Tao
  8. Kang Gi Seul
  9. Kim Jong Dae
  10. Kim Jong In
  11. Kim Joon Myun
  12. Kim Min Seok
  13. Kwon Da Yeon
  14. Min Hee Gi
  15. Oh Se hun
  16. Park Chan Yeol
  17. Park Chan Rin
  18. Shin Chan Chan
  19. Seon In Na
  20. Shin Min Yeong
  21. Wu Yi Fan
  22. Xi Lu Han
  23. Zhang Yi Xing

 

 

 

 

“10 E ya?” Chan Chan bergumam pada dirinya-sendiri dan segera keluar dari desakan para murid gragas itu. Nampaknya murid murid itu juga sudah tau kelas mereka masing-masing.

 

“ gua kelas 10 A woi!!”

 

“gue 10 C. lu kelas berapa?”

 

“aku kelas berapa ya? Ga keliatan.”

 

“hiks kita ga sekelas.”

 

“mpoz kelas gua jauh bener yah di lantai 4.”

 

“ permisi neng abang mau lewat ”

 

Berbagai macam kalimat, kata dan ekspresi yang di tunjukkan oleh siswa siswa elit Green Leaf.

 

“gimana ? lo liat nama gue sekalian gak?” Gi Seul bertanya sambil menguap lebar dengan elitnya.

 

“Kita berempat sekelas. 10E di gedung 2 lantai 4.”

 

“hah ? seriusan kita berempat sekelas?” GiSeul tak percaya kalau dia dan geng biang kerok nya dari smp yang beranggotakan 4 orang gadis yang jenis kelaminnya perlu di pertanyakan, ternyata sekelas di tahun pertama sma ini. Ya, Shin Chan Chan, dia, Choi Min Ra, dan Kwon Da Yeon akan sekelas lagi untuk setahun kedepan.

 

“Kampret apaan tuh”

 

“Putri keraton mane noh?”

 

“Buset cantik bener tu cewek”

 

“Alah cantikan juga gue”

 

“Abang mau dong neng kostumnya.”

 

Mendengar kehebohan barusan spontan Chan Chan dan Gi Seul sibuk mencar asal kericuhan tersebut.

 

“ Buset itu apaan? Cosplay? Ini sekolah apa bukan sih? Ato gue salah masuk?” Gi Seul heboh sendiri melihat seorang gadis dengan rambut biru di ikat dua dan kostum…. Apaan tuh? Biru? Sumpah lo?

 

“eh Chan, itu ap…” pertanyaan Giseul tertahan melihat ternyata di Chan Chan sudah menghilang entah kemana.

 

“ UWAAAAA KAMPRET ADE HATSUNE MIKU!!!!!”

 

“……ChanChan?”

 

 

Ayumu Katou

 

Aku adalah penghuni ekosistem bumi yang tidak dapat dinyatakan sebagai kingdom plantae ataupun fungi karena aku tidak memiliki klorofil untuk bertahan hidup. Karena aku lebih mendekati ciri homo sapiens secara fisik. Alias manusia.

 

Sepanjang aku melewati koridor ini dan meski aku melihat sekian banyak manusia bersileweran, berjalan cepat, duduk nongkrong bersama yang lain, bercengkerama dengan teman sekelompok, berteriak-teriak tidak jelas maupun hal bodoh dan tidak penting lainnya yang tengah mereka lakukan sama sekali tidak membuat ku tertarik untuk sekedar bergabung dan mengobrol bersama mereka.

 

Aku suka sendiri. Tidak ada teman mengobrol, tidak ada teman sebangku saat makan siang, tidak ada teman berkeluh kesah mengenai nasib sial, tidak ada teman untuk bertukar pikiran mengenai idola. Tapi bukan berarti akibat kesendirian ini kalian mencapku sebagai nerd.

 

Ouh tidak!

 

Tolong jangan samakan aku dengan para nerd dan itik buruk rupa yang dari segi fisik tak enak di pandang, tidak memiliki kelebihan, berjalan menunduk dan memohon belas kasihan itu.

 

Karena aku adalah seorang putri.

 

Seorang putri yang berjalan tegak menatap lurus kedepan!

 

Bukan maksudku menyombongkan diri. Karna aku memang sangat cocok menjadi seorang putri. No! I mean I definitely am the princess.

 

Sejak lahir, aku merupakan gadis yang lahir tanpa cacat sedikitpun. Baik dari segi fisik, otak serta materi. Fisik? Aku tinggi, aku langsing, kulitku bersih dan lembut, rambut hitamku halus terurai hingga pinggangku. Kaki ku panjang dan betisku kecil sehingga mebuat penampilanku menjadi lebih menarik. Hidungku mancung keturunan dari keluargaku. Bibirku tipis lembut berwarna pink kemerahan. Wajahku cantik natural tanpa pernah aku poles make up sedikit pun. Otak ? aku pintar. Aku tidak berbohong. Atau lebih tepatnya aku bisa dikatakan jenius. Aku dapat menghafal segala yang kubaca dan kudengar. Dengan kata lain aku penghafal audiovisual. Aku menyukai semua mata pelajaran disekolah ku. Bukan hanya suka, aku juga menguasai semuanya. Mulai dari sejarah yang sangat membosankan bagi murid seusiaku sampai kimia yang dianggap dapat membangkitkan penyakit kepala. Ya, aku jenius! Materi ? aku tidak ingin sombong sebenarnya. Yah, orang tua ku adalah pasangan idaman semua orang. Ayah ku yang tampan serta pandai dalam berbisnis kini tengah berada di Jepang untuk mengurus perusahaan dagang miliknya. Ibuku yang cantik serta pintar dalam merumuskan reaksi-reaksi kimia dalam kehidupan bumi kini tengah mengurus perusahaan penelitian arkeologi bumi di Indonesia.

 

Mereka menyayangiku. Meski mereka jarang pulang kerumah untuk menemaniku, aku tau mereka menyayangiku. Karena merekalah kini aku bisa menjadi sesempurna ini. Kecantikan alamiku yang kuyakini dari ibuku. Kejeniusan yang kudapat dari penggabungan ayah dan ibuku. Sikap tegas yang kudapat dari ayahku. Serta materi berlimpah yang telah mereka berikan padaku. Empat hal itu telah berhasil membuatku menjadi seorang putri jenius yang sempurna.

 

Selain kedua orang tuaku. Ada satu lagi tokoh penting dalam kehidupanku. Yaitu opa. Opa adalah orang yang sangat bijaksana dalam setiap perkataannya. Opa adalah orang yang selalu mendukungku untuk terus maju. Aku jamin, keberhasilan ku saat ini seperempatnya adalah hasil kerja opa. Sejak kecil, opa selalu menemaniku bermain. Opa pula lah yang memberiku nama indah yang kusandang sekarang. Ayumu katou. Ya, sebuah nama jepang. Karena opa ku merupakan pria kelahiran jepang. Harus diakui bahwa aku memang memiliki darah sakura di tubuhku.

 

Ayumu katou. Sejak dulu aku sangat bangga dengan namaku. Katou adalah margaku. Dan ayumu berarti berjalan. Jangan beranggapan aneh karena ada orang yang memberikan nama dengan arti ‘berjalan’ pada anaknya. Aku tau mengapa opa memberikan berjalan sebagai namaku. Karena ia ingin aku menjalani dunia ini dengan berjalan. Bukan berlari, menunduk, apalagi merangkak. Menikmati segalah keindahan dunia ini bak seorang putri yang tengah berjalan dengan anggunnya. Bukannya terseok seok meminta belas kasih maupun berlari lari kabur dari ketakutan. Ya, hanya berjalan. Walk like a princess.

 

Saat aku kecil, opa selalu membacakan buku sebelum aku tidur. Seperti buku “ proses dan dampak kejut pada jantung” atau “ pengenalan otopsi tubuh manusia untuk mengetahui penyebab kematian” dan “ 50 titik kematian pada tubuh manusia” dan sebenarnya masih banyak lagi.

 

Mungkin karena ini lah aku menjadi sangat penasaran dengan manusia. Bisa kau bayangkan? Satu sentuhan saja, saraf harus mmbawa rangsangan itu ke saraf sensori yang dihubungkan oleh saraf connector yang akan membawa rangsangan ke saraf motorik dan menghantarnya keotak atau ke sum-sum tulang belakang. Di otak segala hal diproses kembali. Otak besar yang bekerja sebagai pengenal rangsangan dan otak kecil sebagai pengendali keseimbangan. Dari situ, otak akan menyimpulkan bahwa rangsangan yang tadi itu merupakan sebuah sentuhan. Bisa kau bayangkan proses yang begitu panjang dapat di lakukan tubuh manusia hanya dalam waktu sepersekian detik? Bisa kau bayangkan berapa banyak hal yang harus dihantarkan ke otak dan dapat diselesaikan dalam waktu yang begitu singkat?

 

Aku sangat menyukai struktur kerja tubuh manusia. Tapi tolong,jangan samakan aku dengan nerds, geeks, maupun para psycho tidak normal di luar sana. Karena aku berbeda. Aku menyukai hal itu karena bagiku manusia adalah sebuah misteri. Ya, misteri yang sangat menyenangkan untuk di telusuri. Dari bagaimana jantung yang memompa tanpa sadar dapat tersentak dan berhenti dalam satu kali tekanan di titik kematian manusia. Kau tau di mana saja titik kematian itu? Aku tau. Ya, aku tau. Karena aku adalah seorang putri. A perfect princess.

 

Aku berjalan menelusuri koridor gedung sekolah ini. Green Leaf International Boarding School. Sebuah sekolah membosankan yang menyandang gelar international. Aku masih bingung mengapa opa mengirimku kesini. Padahal aku yang sebelumnya menjalankan sekolah menengah pertama ku di London dan berniat untuk melanjutkan sekolah menengah atas ku di New York mendadak disuruh pulang kembali ke Korea. Aku masih tidak habis pikir dengan pemikiran opa. Bagaimana mungkin ia menyuruh ku bersekolah di sekolah dengan siswa-siswi yang merasa sempurna akan kehidupan mereka ini. Karena hidupnya yang paling sempurna itu adalah aku. Ya, AKU.

 

Sebenarnya, di London aku juga tidak mengharapkan untuk memiliki teman. Ya, aku sudah mengatakannya bukan? Aku suka sendiri. Karena aku sempurna. Aku bersinar. Orang yang berada di dekatku hanya akan menjadi bayanganku. Karena aku terlalu bersinar.

 

Contohnya Kyrein. Dia adalah gadis yang sangat ingin menjadi temanku semasa aku di London dulu. Gadis dengan rambut sebahu yang suka memamerkan dadanya yang besar dngan menggunakan pakaian minim yang termasuk tidak sopan dan kurang ajar. Dia sangat cerewet dan selalu berada di dekatku. Menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling dekat dengaku. Menganggap bahwa dia adalah teman yang patut di banggakan. Sejujurnya, jika aku tak punya hati, aku bisa saja menyuruhnya menjauhiku dan tidak mengejar-ngejar maupun menggelayut manja padaku. Karena dia hanya bayangan! Bayangan berdada besar yang tidak tahu malu dengan kudis tersembunyi di balik plester yang selalu tertempel di betisnya. Bisa saja aku mengusirnya dari hidupku dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis bodoh yang mengaku pintar di hadapan semua orang padahal nilai kimia nya tidak lebih dari angka 5. Bisa saja aku mengusirnya dari hidupku dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis dengan mulut kadal yang tak bisa diam menyebarkan gossip rendahan tentang diriku keseisi sekolah. Bisa saja.. ah sudahlah. ada begitu banyak cara untuk mengusirnya. Tapi aku baik hati. Jadi aku tidak melakukannya. Ya. What A kind-hearted princess I am.

 

 

Membicarakan soal nilai, aku akan memberitahumu, disini, di Green Leaf ini, aku lah murid terpintar. Ya. Murid terpintar! Aku lah yang memiliki nilai tertinggi saat ujian masuk di sekolah ini. Yah, sekolah ini memang tidak sebanding dengan kecerdasanku. Atau lebih tepatnya kejeniusan ku. Padahal ketika ujian masuk aku baru saja pindah ke Seoul. Dan baru kurang lebih seminggu aku kembali membiasakan bahasa korea ku dengan opa ku. Dan aku tidak belajar sama sekali untuk menghadapi ujian masuk. Karena aku yakin, aku akan lulus tanpa harus bersusah payah. Ya. Dari dulu, apabila aku sudah yakin terhadap sesuatu. Aku akan mendapatkannya! Selalu.

 

 

 

 

 

 

 

Seon In Na

 

Jadi ini Green Leaf? Yah. Semoga saja akan ada hal yang menyenangkan terjadi.

 

Baiklah. Aku Seon In Na. Banyak yang bilang daya tarikku adalah mataku yang terlihat seperti mata kucing. Entahlah. Aku tidak terlalu peduli.

 

Ini hari pertama aku kembali ke Seoul. Yah, walaupun aku memang kelahiran Seoul dan mengabiskan hampir seluruh hidupku di Seoul, aku sempat pindah ke Pulau Jeju ketika aku berada di kelas 9 pertengahan semester satu. Aku memutuskan untuk mengakhiri sekolah menengah pertamaku di tempat Kakek dan Nenekku. Kehidupan di Jeju sangat menyenangkan. Setidaknya udara sejuk Jeju dapat memberiku kenyamanan baru tersendiri.

 

Mulai hari ini, aku akan memasang topengku kembali. Ya, topeng kebanggaanku. Senyum penuh kegembiraan. Walaupun wajahku terkesan kalem. Tapi aku sering tertawa lebar. Ya, itu adalah topengku. Kepalsuan dalam diriku.

 

Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah aku lakukan ketika kelas 9 di Seoul dulu. Kesalahan yang sangat fatal. Yang membawa petaka bagiku dan orang tersayangku, Lee Geum Hee. Gadis periang yang manis, sahabatku satu-satunya sejak aku masih anak-anak. Aku sangat menyayanginya.

 

Senyumnya yang manis. Bibirnya yang semerah buah cherry. Kulitnya yang membuatku merasa silau. Rambut sebahunya yang melambai di terbangkan angin. Ahhh kenangan yang lama sekali. Aku rindu padanya. Bagaimana kabarnya sekarang ya? Apa laki-laki itu masih saja menyakitinya? Entahlah. Yang pasti, dialah penyebabku memutuskan untuk pindah ke Jeju di akhir masa sekolah menengah pertamaku. Ya, gadis manis bernama Lee Geum Hee.

 

**

 

Jauh di sudut lantai 4 gedung dua Green Leaf, tepatnya ruang klub sastra. Terlihat seorang pria dengan eye smile yang menawan tampak tengah disibukkan oleh setumpuk proposal yang harus segera di selesaikannya. Dia adalah Kim Joon Myeon. Atau yang lebih akrab di sapa Suho yang berarti malaikat. Tampak beberapa kerut di ujung matanya akibat kekurangan tidur yang ia alami. Tapi tetap saja, hal itu tidak dapat mengurangi pesonanya.

 

“Hyung, kau sudah siap untuk pidato tahun ajaran baru nanti?” sebuah suara berat tiba-tiba terdengar diiringi dengan suara ‘beep.. beep’ dari video game miliknya. Kai.

 

“Tenang saja, aku sudah mengurus semuanya.” Suho menjawab tanpa lupa tersenyum di sela kesibukannya.

 

“Kau hebat hyung bisa membuat kita semua jadi sekelas” seorang namja bernama Baekhyun yang bertubuh mungil dengan senyum lebar menawan miliknya berkata sambil terus membaca komik Hai Miiko milik Chanyeol, lelaki jangkung yang tidak dapat di andalkan.

 

“Hehehe siapa dulu hyung gue” bocah jangkung yang baru saja di sebut namanya tadi yaitu Chanyeol membanggakan Suho sebagai hyung nya sambil menggigit sebuah apel yang tengah di pegang oleh namja bermata bulat bernama Kyungsoo yang tengah lewat di depannya.

 

“Chanyeol jangan makan apelku. Ini apel terbaik yang bisa aku temukan di kulkas. Dan sekarang menjadi tidak steril akibat kamu memakannya tanpa menggosok gigi terlebih dahulu” Kyungsoo mengomel. Padahal Ia sengaja bela-belain mencuci tangannya sebanyak 5 kali dan menggosok giginya 3 kali untuk menikmati sarapan apel terbaik yang telah di sterilkan oleh Chen,

 

Tiba-tiba Kai mengambil apel yang ada di tangan Kyungsoo,atau yang lebih akrab di panggil D.O. Ia menggigit apel yang sudah tidak berbentuk sempurna itu dan mengeluarkan sebuah apel baru dari saku celana seragam sekolahnya dan memberikannya ke tangan D.O

 

“Yang ini biar aku yang habiskan. Kau makan apel baru itu saja hyung. Tenang. Apel itu juga udah di sterilkan oleh Chen-Hyung kok pagi-pagi tadi. Hehe” satu pertanyaan. Pekerjaan asli Chen itu apa?

 

D.O langsung dagdigdugser-an melihat betapa gentle tindakan Kai tadi. Ehem maap salah genre. D.O langsung merasa kagum kepada Kai yang bertindak lebih dewasa dari Chanyeol yang jelas-jelas lebih tua dari Kai.

 

“ Ya! Kris hyung! Kau tidak boleh menggunakan beker gelas itu sebagai gelas untuk minum teh! Beker gelas itu akan kupakai untuk penelitian asal kau tau saja!” Teriakan Chen tiba-tiba terdengar di seluruh ruangan membuat masing-masing penghuni ruangan itu mematung.

 

“Eh? Eh maaf aku tidak tau kalau ini beker gelas eh bukan maksud ku aku tidak ah aku tadi di beri ini tadi oleh Lay jadi aku tidak tau soal gelasnya.” Kris gelagapan sambil memuncratkan kembali teh yang belum sempat di minumnya.

 

“ Ehm.. Chen maaf, itu perbuatan ku. Aku yang menyeduh teh di beker gelas milikmu. Maaf, soalnya Baekhyun belum mencuci peralatan makan kita. Maaf ya Chen.” Lay memotong dengan perasaan bersalah kepada Chen dan Kris

 

“ Cih. Yaudah kalo emang Lay hyung tidak sengaja.” Chen berpaling dan mulai melanjutkan eksperimennya di ruang khusus tersembunyi di dalam ruang klub sastra.

 

“ Ya Chen! Jadi kalau Lay tidak apa-apa dan kalau aku jadi masalah?” mendadak Kris menyadari perbedaan sikap Chen pada dirinya dan Lay.

 

“ Minseok-a , minta coklat yang itu.” Suara merdu Luhan terdengar sambil menyomot beberapa coklat yang menyisakan beberapa lelehan coklat di sekitar mulutnya.

 

“ Ambil sendiri dong Luhan. Aku lagi ngerjain tugas tambahan dari Jiho seonsaengnim nih. Aisshh! Dasar guru sialan! Kenapa disaat semuanya berlibur aku harus mengerjakan tugas setumpuk darinya!” Xiumin mengomel dan menyumpahi guru kebenciannya itu. Nun jauh di kantor guru sana, Jiho tengah bersin dan merasakan sensasi panas jahanam di telinganya.

 

“Nih Hyung.” Sehun yang baru saja memasuki ruang klub sastra dan mendengar percakapan luhan dan Xiumin pun senantiasa mengambilkan coklat yang di minta Luhan tadi.

 

“ Makasi Sehun. Kau memang baik.” Luhan berterima kasih dengan beberapa giginya yang terlihat kotor oleh coklat. Sehun tertawa geli melihat tingkah kekanakan luhan.

 

“ Disini ramai sekali. Untung saja ruang ini luas jadi bisa muat kita disini.” Tao yang masuk bersama dengan sehun menggerutu melihat ruang klub sastra yang telah di penuhi oleh 12 pria yang relative ganteng – maaf, maksudnya, GANTENG BANGET. Terimakasih.

 

Tiba-tiba senandung merdu bernadakan fur elise karya Beethoven terdengar samar di ruang klub sastra. Ke-12 anak SMA yang tengah sibuk sendiri pun menghentikan kegiatan mereka mendengar bel masuk sekolah mereka tersebut.

 

“ Saatnya kita berakting normal anak-anak.” suara pria dewasa yang sedari tadi tengah membaca Koran di sofa ruang klub sastra. Namanya Kyu Hyun.

 

 

 

Shin Min Yeong

 

Ahh, sekolah ini bagus sekali. Yah walaupun dari brosur sudah terlihat jelas kalau sekolah ini merupakan sekolah idaman, tetap saja aku tidak percaya kalau sekolah ini akan sebagus ini.

 

Sekolah ini sangat bagus. Saking bagusnya,

 

 

Aku tersesat.

 

Ya Tuhan, kenapa aku bisa sampai di ujung koridor begini. Dari tadi aku sudah berkeliling mencari tangga yang terhubung ke lapangan indoor. Tapi dimana? Dan kenapa aku malah balik ke lantai empat gedung dua ini?

 

Entah kenapa aku memiliki keberuntungan yang jelek sekali. Dewi fortuna jarang sekali berpihak padaku. Bahkan sejak aku lahir. Untuk melahirkan ku saja ibuku harus menjalani operasi karena bagian tubuhku yang keluar terlebih dahulu adalah tangan kiri ku. Akhirnya aku pun kesulitan untuk lahir akibat posisi ku yang salah.

 

Waktu sd, aku sering di bully. Dan bodohnya aku, aku hanya diam saja menjadi korban bully anak-anak sekelas. Akhirnya setelah lulus sd pun aku pindah ke smp yang lumayan jauh untuk melupakan kenangan burukku waktu sd. Aku memang tidak di bully lagi. Tapi saking biasanya aku, aku jadi seakan tidak terlihat. Bahkan sedikit sekali teman sekolahku atau bahkan teman sekelasku yang dapat mengingat namaku.

 

Aku memang tidak begitu pandai. Selalu mendapat nilai standart. Rambut ku pun selalu ku ikat kebelakang. Seragamku rapi mengikuti semua peraturan sekolah. Mungkin, inilah yang membuatku menjadi murid yang biasa-biasa saja. Ya, tidak punya kelebihan.

 

Aku pandai meramal. Aku mahir dalam menggunakan kartu tarot. Tapi aku tak bisa menganggap ini sebagai kelebihanku. Karena aku hanya bisa meramalkan nasib baik orang lain dan hanya bisa meramalkan nasib burukku. Yah, aku sudah menduga kalau hari ini nasib ku buruk. Aku juga sudah makan roti melon tadi pagi yang menurut horoscope adalah benda keberuntungan ku hari ini. Tapi kenapa aku malah sial? Bel sudah terdengar dari tadi dan aku masih saja tersesat di lantai 4. Seseorang tolong aku!

 

“Greekk”

 

Suara geseran pintu terdengar dari ujung koridor. Ruang apa itu? Persetan dengan nama ruang itu, tapi kenapa banyak anak cowok yang tampan keluar dari situ? Dan kenapa mereka berjalan ke arahku? Kenapa kini mereka berada di depanku?

 

“ Kau ingin bolos ya gadis manis?” laki-laki berperawakan tampan yang terlihat sedikit badboy menyapaku.

 

“ Aishh Xiumin-hyung. Dia pasti hanyalah kelinci manis yang tersesat” sahut seorang lagi laki-laki tinggi dengan telinga yang sedikit caplang berhasil membuatku ketakutan. Sepertinya aku telah berada di tempat yang tidak seharusnya aku berada.

 

“ Halo. Saya Kim Joon Myeon, Ketua Osis Green Leaf. Nama kamu siapa?” seorang malaikat eh tidak maksudku anak laki-laki yang ternyata adalah ketua osis green– tunggu. Tadi apa? KETUA OSIS? Aku benar-benar berada di tempat yang salah!

 

“ a-aa aku shi.. shi shin Min Yeo- Yeong” aku gugup. Sumpah. Ini merupakan hal yang tidak biasa bagi aku yang biasa-biasa saja.

 

“ Nama mu Tin Min Yeo Yeong?” satu hal yang ku tau. Cowok tinggi berkulit putih dengan rambut yang di cat warna warni ini cadel.

 

“ aissh! Sehun! Namanya tentu saja Shin Min Yeong!” tiba-tiba cowok berambut coklat menjitak cowok cadel tadi sambil tersenyum lebar. Ma, manis!

 

“ Ya! Baekhyun Hyung! Jangan jitak aku!”

 

“ Ehm Shin Min Yeong? Apa kamu tersesat? Mau ikut turun bersama kami?” Joon Mye- makudku, Ketua Osis yang baik hati menawariku untuk pergi bersama mereka. Ta- tapi,Tidak mungkin gadis dengan keberuntungan nol besar seperti ku yang tiba-tiba keberuntungannya naik menjadi satu juta watt akibat bertemu dengan ehm kira-kira 12 cowok ganteng ini masih ingin menaikkan nilai keberuntunganku menjadi satu triliun dengan turun kelapangan indoor bersama mereka. Aku tidak akan se rakus itu. Bertemu dengan cowok cowok setampan mereka saja sudah lebih dari cukup. Sungguh.

 

“ Ti, tidak. A- aku hanya ingin Tanya. Tangga yang menuju lapangan indoor yang mana ya?”

 

“ Yang di Tengah” cowok tinggi bermata sipit dengan tindikan di telinganya menjawab dengan ketus. Astaga dia juga ganteng.

 

“ Se- se- selamat tinggaaaaaaalllllllll!!!!!!!!” Aku berlari menuju tangga yang di tunjuk tadi sambil berteriak. Sepertinya aku sudah memakai habis keberuntunganku selama setahun ini. Maafkan aku dewi fortuna. Sepertinya aku sudah mengacaukan daftar keberuntunganmu.

 

 

 

Choi Sung Chan

 

 

Oke. Jangan gugup Sung Chan. Haha. Kenalin, aku Choi Sung Chan. Cukup panggil aku Sung Chan. Sebenarnya, hari ini adalah hari pertama aku berada di sekolah. Sekolah umum maksudku. Sebelumnya aku telah menjalani home-schooling selama 9 tahun pembelajaran. Karena itulah aku jarang keluar rumah, alhasil kulitku menjadi putih pucat.

 

Yah, ada yang pertama dalam segala hal. Tapi, rasa gugup pertama kali masuk sekolah apakah hal yang wajar? Uh, kuharap begitu. Sekolah ini, Green Leaf Seoul International High School kenapa begitu ramai? Apa hal yang wajar untuk di lakukan untuk anak SMA? Ah, apakah nanti aku akan belajar menjahit dan menyulam ? atau akan ada mata pelajaran minum teh?

 

Ah, harusnya aku catat saja petunjuk yang mama berikan waktu itu. Mamaku merupakan alumni SMA ini. Kata mama, sekolah ini adalah sekolah yang bagus di Seoul, bahkan di Korea. Mama juga menceritakan banyak pengalaman anehnya di sekolah. Seperti motret diam-diam guru yang sedang ngupil, bolos pelajaran dengan alasan dapet, tidur di kelas, dan masih banyak lagi. Ah, aku juga Ingin melakukannya. Aku ingin merasakan menjadi anak nakal.

 

Pertama, aku harus ke madding untuk mengetahui kelasku. Tapi, aku tidak punya cukup keberanian untuk ikut menerobos madding sambil dorong-dorongan asik seperti yang tengah murid-murid lain lakukan. Ya, dan disini lah aku. Di balik tembok sambil memandang jauh ke arah madding berharap tulisan itu dapat terlihat dari jarakku ini. Aku sungguh bodoh.

 

“Kamu ngapain ?”

 

Uwah, sejak kapan ada orang di belakangku?

 

“Ngapain kamu ngintip-ngintip dari sini?”

 

Cewek dengan rambut hitam yang diikat tinggi menjadi ekor kuda dengan ketus bertanya padaku. Aku terdiam. Auranya menakutkan. Aku bahkan tidak bisa melihat selain kearah nya.

 

“A.. Aku..” bodoh. Kenapa aku terbata-bata? Mama pasti akan kecewa banget kalau melihat sikapku yang satu ini.

 

Name tag yang tergantung di lehernya menarik perhatian ku. Selain terdapat fotonya, name tag itu juga mencakup informasi mengenai dirinya. Ah, namanya Kim Ah ra. Tunggu, selain fotonya yang memancarkan aura menakutkan, ada hal yang lebih menakutkan lagi ternyata. Dia wakil ketua osis? Yang benar saja? Sekarang di hadapanku ada orang dengan jabatan tertinggi nomor 2 di sekolah? Yah, yang nomor 1 ketua osis pastinya.

 

Aku tidak salah kalau mengatakan ketua osis adalah orang dengan jabatan tertinggi di sekolah ini. Karena, banyak masalah yang terjadi di sekolah ini di selesaikan oleh Ketua osis. Denger-denger nih, sekolah ini banyak misterinya. 2 tahun lalu, banyak kejadian aneh yang terjadi di sekolah ini. Misalnya saja nih, waktu itu, sepatu olahraga murid yang biasanya selalu di tinggal di loker mendadak hilang serempak dan di temukan di ruang laboratorium lama milik sekolah ini. Yah, aku sih gak tau gimana cerita pastinya, yang pasti, kemisteriusan itu jugalah yang bikin aku rela masuk sekolah umum dan menjadi satu-satu nya– mungkin, cewe katro di sekolah ini.

 

“Jawab yang benar!” Mendadak suara Ahra-sunbae memekak telingaku. Ah, dia menakutkan.

 

“ Anu, kak, sebenarnya saya mau melihat daftar kelas yang ada di mading. Tapi, ramai sekali. Jadi saya tidak berani.”

 

Ahra- sunbae menunjukkan wajah jutek yang lebih parah dari sebelumnya. Ah, sepertinya aku sudah salah bicara.

 

“ Ikuti saya !”

 

Ahra- sunbae berjalan cepat menuju mading. ‘sunbae, tolong tunggu aku.’ Hendaknya sih, aku mau ngomong gitu. Tapi tidak berani.

 

Di lihat-lihat, Ahra-sunbae gaya berjalannya anggun ya. Tegak, lurus, penuh keyakinan. Tidak seperti aku, yang lihat sana-sini dan ragu-ragu. Ahra- sunbae juga memiliki wajah yang tegas. Dan dari cara dia membentakku tadi, aku yakin sifatnya juga tegas. Mendadak aku jadi merasa kagum padanya.

 

Anak-anak yang awalnya rusuh mengerumuni mading mendadak senyap dan memberi jalan kepada Ahra- sunbae. Wah, bahkan murid- murid yang lain pun begitu takut ke pada sunbae. Aku menjadi tambah kagum.

 

“ Awalnya saya diam saja melihat kalian berkumpul memenuhi papan mading dengan rusuh seperti anak-anak tidak berpendidikan. Tapi, sepertinya ini sudah kelewatan.” Ahra- sunbae berkata dengan tenang seakan-akan kalimatnya tidak akan menyakiti hati siapapun. Oke, aku juga sebenarnya agak kaget.

 

“Saya tau kalian murid baru disini. Dan bahkan belum menjadi anggota sekolah ini secara resmi sampai upacara pembukaan nanti. Tapi, apa kalian tidak berfikir kalau tindakan sembrono kalian ini dapat memalukan nama sekolah apabila terlihat oleh pihak luar? apa kalian tidak bisa melihat mading dengan tenang?” Ahra- sunbae memang berkata dengan tenang dan anggun. tapi jelas ada ketegasan di balik cara pengucapannya yang anggun itu. Hal itu berhasil membuat murid-murid lain menjadi terdiam dan tertunduk.

 

“Sekarang saya minta kepada kalian semua. Bagi siapa yang sudah tau kelasnya silahkan pergi, dan yang masih belum tau silahkan melihat mading. Tapi, saya tidak mau mendengar keributan sekecil apapun lagi.” Pinta Ahra-Sunbae meskipun dengan nada otoritas. Setelah tersenyum manis, ahra-sunbae berjalan ke arahku. Oh,tidak. Apa aku akan di marahi?

 

“ Lain kali bersikaplah yang tegas.” Meskipun kalimat ahra-sunbae terdengar mendikte, tapi karena ia mengucapkannya sambil mengusap rambutku (walau tanpa senyum), aku pun menjadi tidak takut. Malah kebalikannya, aku menjadi semakin kagum padanya

 

Aku pun buru-buru melihat mading yang menjadi lebih sepi dan tenang dari sebelumnya.

 

Ah. Aku kelas 10E. Dari nama murid-murid nya sih, kelihatannya mereka menyenangkan.

Syukurlah.

 

Mendadak telingaku menangkap senandung fur elise yang menggema di seluruh penjuru gedung sekolah.

 

Itu bel masuk ?

 

Buru-buru kuambil buku panduan yang di berikan oleh mama, dan kubaca dengan cermat.

 

‘Akan terdengar melodi merdu fur elise yang menandakan di mulainya upacara pembukaan dan penerimaan siswa baru. Upacara akan di lakukan lapangan indoor di lantai 2. Cukup naik tangga yang berada di ujung koridor lantai 1.’

 

Makasih catatanny

 

 

2

Suho

 

“Selamat pagi anak- anak kesayangan saya yang kini tengah duduk di bangku kelas 11 dan 12. Saya juga mengucapkan selamat datang kepada siswa-siswi kelas 10 yang mulai hari ini akan menjadi keluarga Green leaf. Dari semua sekolah yang ada di Korea, orang tua kalian telah menitipkan kalian ke sekolah yang telah mereka anggap layak. Dan sekolah yang telah mereka pilih tersebut adalah sekolah ini. Berdasarkan perhitungan tenaga pendidik, fasilitas, serta berbagai macam pertimbangan lainnya.. bla bla bla”

 

Kepala sekolah, Lee Jung Ha sajangnim tengah memberi sambutan upacara penerimaan siswa baru yang selalu di lakukan setiap tahunnya dalam rangka penerimaan murid-murid kelas 10. Suara Lee Jung Ha sajangnim yang tegas dan menyenangkan, serta penampilannya yang rapi dengan rambut hitamnya yang di cepol keatas menambah wibawanya. Dia mungkin memang bukan guru yang dekat dengan murid, tapi dalam hal lain, dia merupakan guru yang bisa di andalkan untuk mengatur sekolah ini hingga sekarang.

 

Di samping nya,berdirilah Kyu Hyun seonsaeng-nim yang merupakan wakil kepala sekolah. Kebalikan dari Lee Jung Ha sajangnim, Kyu hyun seonsaeng-nim hanya menampakkan sedikit wibawa dan tampak kurang tegas. Kemeja biru muda yang di padukan dengan jas laboratorium putih yang selalu di kenakannya. Rambut nya yang lumayan panjang hingga menyentuh kuping membuatnya tampak lebih muda dari umur sebenarnya. Kyu hyun seonsaeng-nim merupakan salah satu guru kesenangan di sekolah ini. Dan dia pula lah yang di beri tugas untuk mengawasi murid-murid special yang ada di sekolah ini.

 

Dan di sini lah aku berada. Di samping Kyu Hyun Seonsaeng-nim dengan posisi yang agak berada di belakangnya. Ya, aku memang mendapat posisi special. Hal ini karena aku merupakan ketua osis sekolah ini. Sudah setahun terakhir ini aku menjabat sebagai ketua osis. Ketika aku menjadi murid baru dulu, aku langsung terpilih menjadi ketua osis mengalahlan calon dari kelas 11. Dan tahun ini pun aku masih akan menjabat sebagai ketua osis.

 

Para murid yang berbaris 7 langkah di depanku tampak senyap dan menghargai Lee Jung Ha sajangnim yang sedang berbicara. Yah, walaupun barisan belakang masih ada yang berbisik-bisik. Juga ada beberapa murid yang gelisah. Entah mereka capek, kepanasan atau pun kebelet pipis.

 

Lapangan indoor dengan sirkulasi udara yang baik ini setidaknya mampu mengurangi rasa capek yang di rasakan murid-murid yang harus mendengarkan pengarahan setiap minggu nya. Lapangan ini bagus. Cukup bagus malah. Sisi bagian kiri lapangan yang di lapisi oleh jendela tembus pandang dari ujung ke ujung membuat koridor ini tampak terang benderang. Beberapa dari jendela tersebut di biarkan terbuka agar udara pagi bisa berhembus kedalam. Tak kurang juga, di langit-langit lapangan di pasangi kipas angin yang lumayan banyak. Aku rasa, jika harus berada di lapangan dengan kondisi seperti ini, meski harus berlama-lama pun tak masalah.

 

“ Saya akan memberikan waktu untuk ucapan selamat datang dari ketua osis Green Leaf. Silahkan, suho.” Panggilan Lee Jung Ha sajangnim menyadarkanku. Aku pun segera bepindah ke posisi Lee Jung Ha sajangnim tadi dan memulai bebicara di depan mik.

 

“Selamat pagi semua. Saya Kim Joon Myeon, atau bisa di panggil Suho. Saya merupakan ketua osis Green Leaf dan tahun ini merupakan tahun kedua saya menjalani jabatan sebagai ketua osis. Tidak banyak yang ingin saya sampai kan, tentunya saya mengucapkan selamat datang kepada murid kelas 10 yang mulai hari ini akan menjadi siswa/i resmi Green leaf. Semoga sekolah ini akan selalu menjadi nomor satu bagi kalian. Dan saya harap, karena kalian kini telah masuk ke sekolah ini, kalian bisa menaati setiap peraturan yang telah di berlakukan.

 

Kemudian selanjutnya, saya akan menyampai kan mengenai Kelas Khusus. Ya, yang seperti beberapa Teman-teman ketahui, merupakan tradisi Green Leaf untuk membuat kelas khusus setiap 7 tahun sekali. Dan hanya orang-orang pilihan dan special yang bisa diterima di kelas ini. Mungkin dari teman-teman sudah melihat di mading siapa – siapa saja nama yang akan berada di kelas khusus ini, atau yang lebih tepatnya lagi 10 E. Sesuai tradisi sekolah, murid-murid yang memasuki kelas ini akan di berikan lencana emas khusus dari sekolah. Seperti yang teman- teman lihat, saat ini saya tengah memakai lencana yang saya maksudkan tadi di dada kiri saya. Ya, saya merupakan salah satu anggota kelas khusus tersebut. Mungkin teman-teman kaget karena saya harus mengulang kelas 10 untuk setahun lagi. Namun, sebagai siswa yang menaati peraturan dan tradisi yang telah berlangsung sejak lama ini, saya akan tetap memakai lencana dan menjadi anggota kelas khusus.

 

Begitu pula dengan murid-murid terpilih lainnya. Saya akan memanggil nama mereka satu per satu dan meminta Lee Jung Ha sajangnim supaya hendaknya menyerahkan lencana kepada masing-masing dari mereka.

 

Silahkan bagi nama- nama yang saya panggil untuk maju kedepan dan membuat sebuah barisan yang rapi.

 

Ayumu Katou

Byun Baekhyun

Choi Min Ra

Choi Sung Chan

Do Kyung Soo

Han Ni Chan

Huang Zi Tao

Kang Gi Seul

Kim Jong Dae

Kim Jong In

Kim Min Seok

Kwon Da Yeon

Min Hee Gi

Oh Se hun

Park Chan Yeol

Park Chan Rin

Shin Chan Chan

Seon In Na

Shin Min Yeong

Wu Yi Fan

Xi Lu Han

Zhang Yi Xing

 

Itulah orang-orang special yang telah diseleksi oleh Green Leaf. Silahkan Lee Jung Ha sajangnim untuk menyerahkan lencana emas nya. Terima Kasih.”

 

TBC

8 pemikiran pada “Guardian Devil High School (Prolog)

  1. castnya banyak o_O tapi aku tertarik ama shin chan chan. unik banget gitu kayaknya 😀
    konfliknya blum kelihatan. hm.. ditunggu kelanjutannya!! ^^

  2. Keren thor, ceritanya menarik bikin penasaran tapi yang bikin puyeng cast nya banyak buanget sampek kagak inget nama OC satu persatu hehe, overall daebakk, ditunggu next chapternya, author fighting ne 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s