Wafe Find Beach (Chapter 6)

mm

Wave Find Beach (Chapter 6)

“Kau tahu, kehidupan kita umpama ombak yang mencari tempat berlabuh”.

 “Dan kupikir kita sekarang sebagai ombak telah menemukan pantai yang tepat. Ya, kita bahagia berada di sini, berlabuh di nirwana ini”.

Author                      :    –     Ayse_Lyn
Main Cast                :    –     EXO’s member and OC

(Please read and you will know ^^ *pasangevilsmirk*)

Genre                                    :    –      Friendship, Romance, Gaje, dll, dsb, dst

Length                      :    –     Chaptered

Rating                       :    –     (+13)
Pesan & Saran       :

-ff ini adalah ff ketiga saya yang berani saya publish xD. Please don’t be plagiator, soalnya ff ni murni buatan saya dengan inspirasi dari berbagai sumber, dan tolong jangan dianggep serius soalnya ni ff cuma buat hiburan semata, mengingat imajinasi saya yang emang absurd horor nggak karu-karuan. Makasih banget buat readers yang udah nyempetin baca. Mian klw  banyak typo-nya, soalnya –lagi- saya nulis ni ff sambil mikirin  suami-suami(?) saya *ngelirik EXO -digantung EXO-L*. Well, langsung saja ke TKP……
Eh… ada yang nyelip,

Warning!! DON’T LIKE, DON’T READ…….

<EXO ♥ JJANG>

Preview

“Aku mengerti kau tersiksa karena permintaan bodohku, makanya aku minta maaf. Jeongmal mianhaeyo, Jin jin”.

“Chan….”, Jinhwa tak kuasa melengkapi kata-katanya. Air matanya telah siap sedia di pelupuk mata.

“Hanbonman, kumohon katakan berdasarkan apa yang kau rasakan. Benarkah kau ingin terlahir kembali dan rela melupakan semua yang telah kau alami?” obsidian Chanyeol memerah menahan amarah sekaligus kesedihan.

Jinhwa menunduk guna menghindari tatapan Chanyeol, dia menarik napas lalu menjawab, “Mianhae, aku memilih ‘ya’ untuk pertanyaan terakhirmu”.

“Ya Oh Sehun!”

“Walau kau bersujud sekali pun agar aku bergabung, aku tak akan sudi menerima tawaran tak pentingmu itu”, ujar Sehun melecehkan.

Kim Jongin, kenapa kalau sedekat itu dia jadi tampan? batin Saeron yang tampak terlena dengan aura mematikan Kim Jongin.

Kenapa aku jadi makin jengkel dengan makhluk gelap itu? batin seseorang dengan bibir mengerucut.

“Sunbae pasti akan mengadukanku besok. Asal sunbae tahu, aku memang tidak sopan, tapi aku tidak berbahaya”.

“Uhuk”, Jinhwa tersedak ludahnya sendiri, dia pun menatap horor junior di sampingnya.

Kalau perjuanganku ini berhasil, akan kubuat mereka semua menyesal dan bertekuk lutut sambil menangis darah, geram Sehun dengan murka yang memuncak.

“Berterimakasihlah padanya”.

Siapa? batin Sehun bingung.

<EXO ♥ JJANG>

Chapter 6

Time to go home, 05.00 pm KST.

            Jinhwa meluangkan waktu sejenak membaca artikel-artikel di mading utama sebelum pulang. Dia tertarik membaca ‘History of El-Dorado’ dan ‘What is Hypoplastic Left Heart Syndrome?’ Namun fokusnya terpecah begitu mendengar kekhawatiran tiga orang murid seangkatannya.

“Bagaimana bisa hilang?”

“Aku hanya memutar-mutarnya, dan tak sengaja benda itu terlempar entah ke mana”.

“Hishh… di sini tak ada”.

“Di sini juga tak ada. Lalu kita harus mencari di mana lagi?”

“Hisshh!! Kita sedang sial hari ini. Baru saja dapat omelan yang membuat gendang telinga ini berdengung, sekarang kita malah kehilangan kartu AS itu! Jinjja!”

Rekannya hanya manggut-manggut sependapat. Mereka memang sedang sial.

Tiba-tiba salah satunya mendapat pencerahan atas semua problematika yang tengah melanda, “Sttt…. Bagaimana kalau kita pura-pura tak tahu saja? Biarlah kartu AS kita lenyap, kita bisa memikirkan cara lain untuk membalas anak itu”, bisik salah satu murid –Taeyong-.

“Setuju. Anak itu bisa kesetanan bila tahu yang sesungguhnya, kudengar dia jago taekwondo”, bisik yang satunya –Jaehyun-.

“Dan ayahku tak segan-segan membekukan credit cardku kalau tahu tentang ini”, timpal satu lagi –Doyoung- pun berbisik.

Yang tentunya bisikan itu tak mampu terjangkau telinga Jinhwa.

“Ya sudahlah, kita menyerah saja”, Taeyong menormalkan suaranya.

“Geure. Tak ada gunanya dicari. Cincin sekecil itu sukar ditemukan. Sayang sekali”, timpal Jaehyun.

“Kalau begitu kita pulang saja, kajja!” ajak Doyoung.

Ketiganya pun sepakat memendam dalam masalah ini.

Cincin? Jinhwa berbalik dan memandang tiga punggung murid lelaki tersebut yang menjauh.

“Mereka pasti begitu sedih”, gumam Jinhwa prihatin.

“Apa aku bantu untuk mencarinya?”tanya Jinhwa pada diri sendiri.

“Baiklah, akan kucoba. Hwaiting!” Jinhwa mengepalkan tangan menyemangati dirinya sendiri. Gadis itu mulai mencari hingga ke sudut-sudut yang sulit terjangkau. Bahkan dia merelakan roknya berdebu sebab dia mencari sampai berlutut segala. Ketika dirinya tiba di depan sebuah pintu yang tertutup rapat, matanya menyipit melihat celah di bawah pintu.

Apa cincin itu menggelinding ke dalam?

Tanpa pikir panjang, Jinhwa pun berlutut dan membungkuk, mengintip melalui celah tersebut.

“Gelap sekali. Kalau begini mana bisa cincin itu terlihat? Hatci…” gumam Jinhwa yang langsung bersin akibat hidungnya kemasukan debu.

Gadis itu menyingkir dengan posisi yang tak berubah, matanya melotot di saat menangkap sebuah sepatu kets putih di hadapannya. Perlahan kepalanya menengadah.

Celana? Berarti dia lelaki, batin Jinhwa.

Blazer hitam? Berarti dia seangkatan, batinnya lagi.

Begitu bola matanya sampai pada wajah seseorang yang detik ini berdiri angkuh di hadapannya, Jinhwa terpaku. Sesuatu di dalam dadanya seakan meloncat keluar rongganya.

Kupikir Chanyeol satu-satunya yang tampan di dunia ini, tapi ternyata……

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya jauh dari kata ramah.

Cepat-cepat Jinhwa bangkit dan menepuk-nepuk roknya guna membersihkan debu yang menempel di sana.

“Mianhamnida, igeon…”

Seolah Jinhwa makhluk transparan, seseorang itu tak menghiraukannya dan memilih mengeluarkan gemerincing kunci dari tasnya. Dia membuka pintu ruangan tersebut dengan salah satu kunci.

‘Ceklek’, pintu itu pun terbuka. Seseorang itu masuk dan menutup rapat lagi pintunya tanpa basa-basi.

Seseorang itu rupanya Oh Sehun. Hal pertama yang dia dilakukan setelah menutup pintu yakni menyalakan saklar lampu. Menjadikan ruangan yang semula petang berganti benderang. Sehun menelisik ruang yang dulu merupakan ruang musik (dan Sehun mendapat kuncinya karena sebelumnya dia telah meminta izin ke ruang guru dan diizinkan oleh salah satu pembina klub musik), sayang sekarang berubah status menjadi ruang musik lama yang tak lagi dilirik, sebab ruang musik baru berada di tempat yang jauh lebih luas dengan alat-alat musik yang lebih berkelas. Lelaki itu meletakkan tasnya di sofa usang, melepas blazer dan menggantungya di tempat yang semestinya, lalu melonggarkan ikatan dasinya dan memutuskan duduk di sebuah kursi kayu yang di hadapannya bertengger sebuah piano penuh sawang. Sehun membuka tutup piano, dia mengelus tutsnya sekaligus membersihkannya dari debu yang menebal. Selanjutnya lelaki itu memainkan piano bahkan tanpa mengecek kondisi tutsnya terlebih dahulu. Dan asal tahu saja, Sehun bukanlah lelaki yang melankolis. Dia tak pernah berniat untuk dapat bermain piano, tetapi dorongan itu datang dari seseorang secara tersirat, seseorang yang berhubungan dengan seorang gadis di luar sana.

“Jinjja! Biarpun rupawan, tapi kalau sok begitu siapa mau? Hishh…”, omel Jinhwa sambil menghentakkan kakinya, tak sengaja dia merasakan sesuatu mengganjal di bawah sepatunya. Jinhwa berpindah posisi dan memungut sesuatu yang mengganjal tersebut.

“Heol!” serunya tak percaya.

“Tadi dicari tak juga menampakkan diri, sekarang malah datang sendiri. Jeongmal….”, Jinhwa mengamati sebuah cincin emas di tangannya.

“Sepertinya ada ukiran nama di dalam”, longok Jinhwa berusaha membaca nama yang tertera, sayang tulisannya teramat kecil, mata Jinhwa akhirnya menyerah juga.

“Mungkin aku butuh lup, atau malah mikroskop?”

Kegiatan Jinhwa terinterupsi oleh dentingan piano yang terangkai harmonis menjadi lagu yang indah. Jinhwa tersentak oleh irama lagu yang sangat menghanyutkan. Diam-diam dia menempelkan telinganya ke daun pintu supaya dentingan piano itu terdengar jelas.

“Jinjja!” kagumnya. Jinhwa langsung jatuh cinta dengan lagunya.

“Ini lagu apa, sih? Aku tahunya hanya river flow in you milik Yiruma dan love story milik Richard Clayderman”, oceh Jinhwa.

“Tunggu! Apa lelaki sok itu yang memainkannya?” Jinhwa pun menjauhkan telinganya dari daun pintu.

“Ha..ha.. seolma. Tentu bukan dia. Mana mungkin lelaki mirip es itu dapat memainkan lagu selembut ini? Pasti itu lagu yang diputar oleh radio”, Jinhwa mulai berspekulasi. Gadis itu pun berinisiatif mengintip lewat lubang kunci.

Setelahnya dia tersentak akan fakta yang tergambar jelas di depan matanya.

“Maldo andwe”, gadis itu menjauh, namun sedetik kemudian kembali mengintip.

“Mataku tak salah lihat kan?” Yah, pesona Oh Sehun membuat Jinhwa lupa caranya berkedip begitu melihat sosoknya yang terlihat berkilau.

“Tentu saja. Dia umpama bulan yang memancar terang di langit malam”.

Sontak Jinhwa menjauhkan kepalanya. Dia sependapat dengan Kyungsoo bahwa orang yang disuka itu akan tampak bercahaya, bersinar, berkilau, dan sejenisnya, karena kita menyukai mereka. Dan tadi sosok Sehun menebarkan efek berkilau di matanya. Itu bukan berarti dia…..

“Ha..ha.. mustahil”, Jinhwa tertawa konyol.

“Aku baru patah hati, mana mungkin aku move on secepat ini? Memangnya aku perempuan apaan?” Jinhwa pun menyelami perasaanya.

Tiba-tiba dia merasa cemas, dia menggigit bibir dalamnya.

Aku tidak menyukainya secepat ini kan? tanyanya dalam hati. Dia butuh 100 orang untuk disurvey dengan hasil terbanyak mengatakan, “Tidak. Kau tidak menyukainya. Hanya terlanjur kagum saja”.

‘Ceklek’, pintu ruang musik lama terbuka, Jinhwa tak sadar permainan Sehun telah berakhir empat menit yang lalu saking kalutnya memikirkan perasaanya.

Bergegas dia memunggungi Sehun dengan canggung, di sisi lain Sehun tetap tak menghiraukannya dan berlalu begitu saja. Berikutnya Jinhwa memandang kepergian Sehun ketika langkahnya terdengar jauh.

Namja itu… dia misterius sekali, batin Jinhwa penuh selidik.

08.45 pm KST, DuoL Net.

Sehun singgah di sebuah warnet yang secara rahasia pemiliknya adalah dua hacker handal. Sehun kenal dengan salah satu hacker –karena mereka dulu teman dekat di SD, meski terpaut lima tahun- dan telah membuat janji bertemu dengannya. Dan kini di sinilah Sehun berada, sebuah ruang khusus –setelah melalui lorong-lorong jebakan di warnet tersebut-, yang dipadati banyak komputer serta alat-alat canggih lain.

“Annyeong, Sehun –ah”, sapa pemilik yang Sehun kenal, Lee Hyukjae.

“Annyeong, hyung”, balas Sehun tersenyum samar.

“Ada perlu apa sebenarnya?”

“Seperti yang kukatakan via telepon”, Sehun mengambil ponselnya dari saku blazer dan menyerahkannya ke Hyukjae.

“Tolong carikan kontak Lee Soonji lewat nomer Park Chanyeol yang kunamai Park Idiot. Dengan nomernya kau pasti bisa mendeteksi ponsel Chanyeol beserta data di dalamnya kan, hyung?”

Hyukjae menerima ponsel Sehun dan menelusurinya sebentar.

“Kurasa bisa”, Hyukjae duduk di depan salah satu komputer. Dia mulai beraksi sebagai hacker kelas kakap. Sehun yang berada di sebelah Hyukjae hanya menatap bingung layar monitor yang menampilkan berbagai kode yang sukar dicerna oleh akal ceteknya akan dunia per’hacker’an.

“Donghae –ya”, panggil Hyukjae pada lelaki sebayanya yang baru saja memasuki ruang khusus.

“Ne?” sahut Lee Donghae –yang juga sang pemilik warnet plus hacker-.

“Tolong buka komputer lain. Dan cari kode if %cho%==Y goto LOCK if %cho%==y goto LOCK if %cho%==n goto END if %cho%==N goto END echo Invalid choice*ngarang lu, thor*emang iya*. Kita butuh dua koneksi”.

“Ne”, Donghae segera mengoperasikan sebuah komputer di dekatnya. Sehun sendiri hanya bisa berharap Hyukjae dan Donghae berhasil melaksanakan permintaannya.

Aku percaya pada kalian, hyungdeul.

 

               09.15 pm KST.

 

               Sehun memuji kinerja DuoL yang sesuai ekspektasi. Dia tak henti tersenyum bahagia menatap layar ponselnya yang menunjukkan sebuah nomer dengan nama ‘Soonji –ya’. Tetapi senyum yang mahal itu memudar kala Sehun melihat orang yang memenuhi memorinya tengah terisak karena dipukul kakaknya di halaman rumah mereka. Kontan Sehun berlari kencang ke tempat perkara. Dia berdiri melindungi Soonji yang bersimpuh merana, dia merelakan tubuhnya yang menjadi sasaran pukul kakak Soonji. Bahkan dia ikhlas babak belur asalkan Soonji baik-baik saja.

“Minggir kau bocah!” hardik kakak Soonji.

“Shirreo ya! Aku akan minggir jika hyung berhenti memukulnya!” teriak Sehun.

“Haisshhh…”

‘BUK!’

Pukulan keras itu menyebabkan Sehun terlempar ke samping Soonji, dan darah segar pun tanpa ragu muncrat dari mulutnya.

“Hajimaaa!!!” jerit Soonji putus asa.

“Dengar, gadis jalang! Jangan pikir hidupmu akan aman walau bocah tengik itu rela menjadi tamengmu. Awas saja kau!” ancam kakak Soonji dan berlalu menembus malam yang kian merambah.

Soonji menangis pedih. Lagi-lagi uang yang membutakan hati kakaknya, gara-gara uang dia harus selalu jadi sarana pukulan buah pelampiasan.

“Soo…Soonji –ya”, lirih Sehun menahan rasa perih yang menghujam sekujur tubuhnya.

Soonji menatap Sehun yang terkapar mengenaskan. Gadis itu menyeka air matanya dengan punggung tangan dan bergerak mendekati Sehun.

“Soonji –ya”, Sehun terduduk dengan kepala yang terasa pening.

“Jangan banyak bergerak”, cegah Soonji. Dia melepas cardigannya dan membersihkan darah di sekitar mulut Sehun dengan cardigan tersebut.

Soonji membiarkan hawa dingin menusuk-nusuk kulitnya sebab dia hanya mengenakan kaos lengan pendek. “Kenapa kau melakukan ini?” isaknya parau.

 

Sehun menghentikan tangan Soonji yang mengusap hati-hati bibirnya dengan cardigan berbahan kain yang lembut. Lelaki berkulit seputih susu itu ganti melepas blazernya dan memakaikannya ke Soonji.

“Aku tahu kau kedinginan”, ujarnya perhatian.

“Aku akan pulang, apa kau mau ikut ke panti dan tinggal sementara di sana?” tambahnya.

Ya, panti asuhan tempat Sehun tinggal dan rumah Soonji memang satu kompleks.

Soonji terdiam sepersekian detik lalu menggeleng lemah. Gadis cantik itu pun memilih berdiri.

“Jangan terlalu peduli padaku, Sehun –ssi. Kumohon berhentilah bersikap seperti ini. Kau hanya membuatku semakin tertekan”, seusai berkata demikian gadis itu beranjak masuk ke rumahnya, meninggalkan Sehun terpuruk sendirian.

Menyedihkan. Padahal belum sempat aku mengiriminya sms, tapi dia sudah lebih dulu menolakku. Kau sungguh menyedihkan, Oh Sehun, batin Sehun seraya tersenyum getir.

Sementara itu Soonji menutup rapat pintu rumahnya kemudian bersandar seraya meredakan napasnya yang tersengal akibat rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tak lama tubuhnya pun merosot dan dia duduk menekuk kakinya sambil menyembunyikan wajahnya, merenungi nasibnya yang tak seberuntung kedua sahabatnya, serta memikirkan sikapnya yang terlampau kejam pada Sehun yang merupakan keping masa lalunya. Ayah-ibunya telah lama menghilang semenjak mereka bercerai dan tak pernah memberi kabar sama sekali, sedangkan kakaknya yang diharapkan menjadi tumpuan malah membuat hidupnya semakin sengsara. Sebenarnya bisa saja dia hidup bersama keluarga Bibi Kim –ibu Jongin- yang merupakan adik ibunya, namun Soonji masih tahu diri untuk tidak bertindak layaknya parasit, dia tak mau merepotkan orang lain meski itu masih tergolong kerabatnya. Dan Soonji hanya mampu terisak sembari memeluk erat kakinya yang dingin dan bertambah dingin seiring hembusan angin yang menyusup lewat ventilasi rumahnya.

<EXO ♥ JJANG>

Orphanage, 06.00 am KST.

            Sehun mengusak rambutnya yang habis keramas dengan handuk di depan cermin. Lalu dia mengamati pantulan wajahnya yang membiru lebam akibat kejadian semalam.

“Untung masih tampan”, gumamnya narsis.

Sehun pun mengganti kaos rumahnya dengan seragam. Saat dia menuju gantungan untuk mengambil blazer yang biasanya ditaruh di sana, ia heran sebab tak melihat apa yang dibutuhkannya. Reflek lelaki dengan tinggi 175 senti itu menepuk dahinya, mungkin dampak pukulan dapat membuatnya amnesia sejenak. Sehun kemudian beralih membuka resleting di bagian kecil tasnya. Di mana dia selalu menyimpan benda berharganya di sana. Begitu tangannya merogoh ke dalam, Sehun panik karena indera perabanya tak menangkap apa pun. Dia lalu melongok ke dalam dan benar saja, bagian kecil tasnya kosong. Seketika otak Sehun bekerja cepat umpama dicekoki sinyal 3G, rahangnya pun mengeras. Dia meninju meja belajarnya hingga suara ‘bruk’ menggema dalam kamarnya. Persetan dengan ibu panti yang akan menceramahinya panjang lebar karena telah bertindak gegabah hingga membuat meja belajar kayunya sedikit retak. Sehun benar-benar marah sekarang.

“Tak akan kumaafkan mereka bertiga”, desisnya yang diliputi kabut kegelapan.

Seungri of Middle School, 08.57 am KST.

            Murid-murid kelas IX-1 tengah pelajaran biologi di udara terbuka, tepatnya di taman dengan hamparan tumbuhan yang dekat jalan masuk utama. Mereka disuruh menganalisis tumbuhan paku-pakuan dan bunga bernektar, kemudian tugasnya yaitu membuat laporan hasil pengamatannya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah nilai psikomotor mereka. Chanyeol selaku ketua kelas membagikan lembar laporan khusus yang telah disediakan oleh Guru Hwang, guru biologi. Dia membaginya seraya memamerkan senyum lebarnya yang bersahabat. Namun, tiba-tiba saja perkelahian yang tak terbayangkan terjadi. Sehun yang tadinya anteng, mendadak hilang kendali ibarat banteng yang mengamuk. Dia bertubi-tubi melayangkan bogem mentah ke wajah Taeyong, Jaehyun , dan Doyoung, memicu jeritan takut dari para gadis.

“Ya Oh Sehun!! Geumanhe!!” teriak Chanyeol sia-sia. Sedangkan Guru Hwang berlari mencari bantuan guru lain.

Terpaksa sang ketua kelas turun tangan. Dia berada di tengah-tengah untuk melerai, malangnya tak sengaja pukulan Sehun mendarat keras di pipi Chanyeol. Sehun terbelalak, dia menahan gerakan tangannya di udara hampa.

“Kubilang berhenti, Oh Sehun!” bentak Chanyeol yang pipinya sedikit sobek dan berdarah. Sementara ketiga serangkai sudah tergeletak tak berdaya di rerumputan, Sehun benar-benar ahli beladiri ternyata.

“Mwo? Jangan mentang-mentang ketua kelas kau bisa dengan mudah melarangku. Benar apa kata tiga pecundang itu. Kau terlalu bodoh jadi ketua kelas, Park!” Sehun balik membentak. Melihat Chanyeol yang ikut campur sekarang ini, menaikkan intensitas bencinya pada lelaki yang tingginya 1,5 senti di atasnya.

“Apa kau bilang?” Chanyeol tak percaya akan lidah Sehun yang ibarat belati.

“Apa kau tuli? Kubilang kau terlalu bodoh jadi ketua, Park Idiot!!”

‘BUK!’

Sehun memegang bibirnya yang bernasib sama dengan pipi Chanyeol. Sedang Chanyeol merinding memandang tangannya yang gemetar hebat, ini kali pertama ia memukul orang. Chanyeol merasa jahat sekarang, dia takut dengan dirinya sendiri.

Apa yang kulakukan?

‘BUK!’ Sehun membalas pukulan Chanyeol, menyebabkan Chanyeol terhuyung ke belakang. Tanpa jeda, Sehun menarik kerah Chanyeol dan memukulnya lagi di bagian perut.  Bahkan pukulan ketiga dan keempat tak luput diluncurkan. Baru pukulan pun berhenti saat Sehun menyadari kehadiran murid-murid kelas IX-2 yang memakai kaos olahraga. Dilihatnya Soonji yang menatapnya dengan mata panda yang memancarkan kekecewaan, di samping Soonji berdirilah Jinhwa yang menutup mulutnya dengan telapak tangan saking kagetnya. Sehun lalu menyerah dan melepas cengkeramannya di kerah Chanyeol dengan kasar.

“Uhuk…uhuk…”, Chanyeol terbatuk sampai memegangi perutnya yang teramat sakit.

Kemudian para guru pun berdatangan, mereka berencana mengusut kasus ini sampai tuntas hingga ke akar-akarnya. Namun, yang terpenting sekarang ialah membawa Chanyeol, Taeyong, Jaehyun, dan Doyoung ke UKS supaya mereka segera mendapat pertolongan pertama.

“Kupikir kau yang harus bertanggungjawab atas segalanya, Tuan Oh”, tuntut Guru Hwang.

Sementara Sehun hanya menatap tajam gurunya tanpa membuang raut dinginnya.

Selalu saja jadi kambing hitam, batin Sehun jemu.

Soonji dan Jinhwa menyempatkan diri menemani Chanyeol sebab tinggal tujuh menit lagi menjelang istirahat pertama. Jinhwa memperhatikan secara saksama perawat UKS yang dengan telaten menangani luka-luka yang diderita Chanyeol. Sedang Soonji terlihat berlayar ke dimensi lain bersama pikirannya sendiri.

“Mungkin sekitar seminggu lukanya akan sembuh total”, ujar perawat memecah keheningan.

“Chogi, apakah…apakah lukanya parah?” tanya Jinhwa takut-takut. Ya, dia bukan tipe yang bebas berbicara dengan orang asing –perawat itu asing, sebab Jinhwa pernah ke UKS sekali dan bukan wanita itu yang merawatnya-, jangan lupakan julukan anti sosial yang melekat pada dirinya itu.

“Menurutku ini cukup parah. Tapi tenang saja, tak ada organ dalamnya yang mengalami kerusakan. Mungkin saat sadar nanti, badannya akan sedikit shock”, jawab perawat itu pun tersenyum menenangkan ke arah Jinhwa dan Soonji.

Selang semenit lebih sepuluh detik kemudian, perawat itu pamit untuk merawat murid lain yang membutuhkan jasanya. Sepeninggal si perawat, Jinhwa menatap kondisi Chanyeol dengan iba.

“Tak pernah terbersit di benakku Chanyeol akan terlibat dengan insiden berbau kekerasan seperti ini”, ujar Jinhwa.

“Soonji –ya, apa kau mengenal lelaki yang memukul Chanyeol tadi? Kuperhatikan dia langsung berhenti memukul saat melihatmu”, tanya Jinhwa ingin tahu.

 

Soonji yang baru lepas dari lamunannya menoleh ke gadis berkucir satu itu.

“Entahlah, kupikir aku tak punya kenalan berandal. Apalagi dia telah bertindak keji hingga membuat Chanyeol seperti ini”, tak menunggu lama air mata Soonji pun luruh.

“Kenapa dia tega memukul Chanyeol?” isakan Soonji lolos dan gadis itu lekas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Soonji –ya”, Jinhwa pun memberanikan diri mengelus pundak sohibnya itu.

Tanpa diketahui oleh dua gadis yang larut dalam kenestapaan di dalam sana, Oh Sehun yang baru saja mendapat khotbah dari guru konseling –dan Guru Jihyo yang paling menggebu-gebu- serta wali kelasnya, tidak sengaja mendengar percakapan Soonji dan Jinhwa. Tangannya urung memutar kenop pintu begitu Soonji menyebutnya berandal. Sehun dapat merasakan jantungnya yang berdenyut nyeri, akhirnya remaja itu memilih pergi dari depan pintu UKS.

Rupanya Sehun memutuskan untuk menenangkan diri di atap sekolah. Lelaki itu berdiri di tepi atap seraya memandang kegiatan para murid di bawah sana dengan jenuh, di kepalanya terngiang percakapannya dengan Guru Jihyo.

FLASHBACK

“Kenapa kau memukul Taeyong, Doyoung, dan Jaehyun?”

 

“Karena mereka lancang mengusik privasiku”, jawab Sehun enggan menjelaskan tentang cincinnya yang hilang akibat ulah tiga sekawan tersebut. Sehun tak mau mengumbar urusan pribadinya pada gurunya.

 

“Lalu kenapa kau memukul Park Chanyeol?”

 

“Karena dia lancang mencampuri urusanku”, jawab Sehun dengan datar.

 

“Aigooo….. Sehun –ssi, kau tahu? Alasanmu itu membuat kepalaku rasanya hampir pecah. Kalau kau mengatakan alasan semacam itu, jelas saja kau yang akan menerima hukumannya”.

 

“Apa alasanku tak masuk akal?” Sehun menanyakan hal yang tak penting -_-“

 

“Aigooo….”, Guru Jihyo mengelus dadanya supaya sabar.

 

“Apa tak ada alasan yang lebih masuk akal lagi? Atau apa kau menyembunyikan sesuatu?”

 

“Animida”, jawab Sehun dalam tempo yang  sesingkat-singkatnya.

 

Guru Jihyo menghela napas, “Ya sudah, sekarang………. KELUAR DARI RUANGANKU DAN KAU DISKORS DUA MINGGU SERTA TETAP LAKUKAN LAYANAN SEKOLAH SELAMA DUA MINGGU ITU!!!!” suara Guru Jihyo menggema di mana-mana hingga menciptakan polusi suara yang sangat mengganggu, membuat orang-orang yang mendengarnya tak bernyawa seketika.

 

‘Cekrek’, dan Sehun keluar ruang konseling dengan ekspresi tak berarti.

 

END FLASHBACK

 

Sehun menghembuskan napas kasar. Dia sedikit iri ketika maniknya menangkap keakraban seorang murid perempuan dan seorang murid lelaki yang tengah bercanda sembari membawa segelas plastik pepsi di tangan masing-masing. Melihat itu seketika ingatannya mundur pada saat dia berusia sebelas tahun.

FLASHBACK

               09.05 am KST, Anyang Elementary School

 

               Hari itu di kelas Sehun diadakan ulangan harian matematika. Dia sangat serius mengerjakan semua soal. Begitu sampai nomor 15 dari 20 soal, tiba-tiba pensil yang digunakannya patah. Sontak Sehun panik karena dia tak membawa pensil cadangan, rautan pun ia tak punya. Keringat dingin lalu mengalir di pelipisnya, Sehun tak mau nilai ulangannya jelek hanya gara-gara pensil patah. Dia pun melirik teman-temannya –berharap ada yang peka akan kesulitannya- dengan takut-takut sebab guru matematika di depan sana yang kini sedang mengawasi merupakan guru yang galak dan tak segan-segan mengusir murid yang ketahuan berbicara pada temannya saat ulangan. Tanpa Sehun sadari, seorang gadis berkepang dua –yang duduk dua bangku di belakangnya di deretan berbeda- memperhatikan tingkahnya yang aneh. Gadis itu kemudian mengerti akan kecemasan yang melanda Sehun saat melihat pensil patah yang dipegang anak lelaki tersebut . Karena prihatin, gadis itu mengambil sebuah pensil yang masih bagus dari tempat pensilnya. Dia ingin memberikannya, namun dia ragu. Dia takut ketahuan dan dikeluarkan. Tetapi, menyadari tak ada satu anak pun yang peduli –bahkan sang guru juga terlihat cuek-, gadis itu beralih menatap lembar jawabannya di mana ada tiga nomor yang belum dia  kerjakan. Dia pun memberanikan diri melangkah mendekati meja Sehun dan mengulurkan pensilnya.

 

“Ini, pakailah punyaku”, ujarnya seraya tersenyum.

 

Sehun menatap lekat gadis itu dan sebuah perasaan aneh mendadak menyeruak di hatinya. Dengan malu-malu dan tanpa sepatah kata pun, Sehun menerima pensil tersebut.

 

Terang saja guru matematika yang melihat kejadian itu tampak murka. Tanpa perasaan dia pun menyuruh gadis itu keluar dan tak usah mengikuti pelajarannya selama dua minggu berturut-turut. Sehun ingin sekali membela gadis yang telah menolongnya itu, tapi dia sangat takut pada guru matematika, dia jua tak mau bila mendapat nilai jelek nantinya. Akhirnya gadis itu membungkuk dalam lalu melangkah keluar, sementara Sehun hanya menatapnya dengan perasaan bersalah.

 

               Nilai matematika telah dibagikan, seorang gadis dengan rambut dijepit yang duduk sendirian di bangku taman memandang angka 45 yang ditulis dengan tinta merah pada lembar jawabannya. Tanpa diduga, datanglah seorang anak lelaki menyodorkan sebuah susu kotak rasa strawberry. Perlahan gadis itu menatap siapa yang kini berdiri di hadapannya sambil menyodorkan susu tersebut, lalu tampaklah wajah Sehun yang gugup.

 

“Ini…. untukmu. Te…terimakasih dan…dan maaf. Gara-gara aku nilaimu jadi jelek”, ucap Sehun terbata.

 

Ya, sesungguhnya gadis itu mendapat nilai 45 bukan karena jawabannya banyak yang salah, malah yang salah hanya pada tiga nomor yang tidak dia isi. Masalahnya nilai 45 itu timbul akibat sikapnya yang dianggap lancang oleh guru matematika, makanya Sehun merasa teramat tak enak hati begitu mengetahui fakta tersebut. Dan bukannya marah, gadis yang ternyata bernama Lee Soonji itu malah tersenyum.

 

“Gwaenchana, ini bukan salahmu. Tak ada yang perlu minta maaf karena tak ada yang perlu disalahkan”, katanya dengan tenang.

 

Detik berikutnya, Sehun merasakan udara segar yang sejuk menyelimuti hatinya. Sejak saat itulah hubungannya dan Soonji menjadi lebih akrab. Bahkan tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama untuk belajar atau sekadar jalan-jalan begitu tahu bila tempat tinggal mereka berdua rupanya satu komplek. Soonji juga tak pernah mempermasalahkan status Sehun yang seorang anak yatim-piatu dan tinggal di panti asuhan kecil.

 

Namun, kejadian yang tak dinyana terjadi. Keluarga Soonji mengalami kemelut. Orangtuanya dihantam badai rumah tangga dan terancam bercerai. Semenjak orangtuanya sering bertengkar dan tak lagi mengacuhkannya, Soonji berubah drastic menjadi sosok yang pendiam, dingin, dan kaku. Bahkan dia selalu menghindar dari Sehun. Semua semakin parah ketika orangtuanya memutuskan bercerai, lalu dua hari berikutnya mereka menghilang tanpa jejak. Tak berselang lama hidup Soonji bertambah menyayat di kala kakaknya jadi sering memukuli dan memarahinya tanpa alasan yang jelas. Dan Soonji paham betul jika perubahan sikap kakaknya ini akibat broken home dan cibiran pedas orang-orang sekitar.

 

Hingga suatu hari Sehun –yang sudah mengetahui asal muasal di balik berubahnya sikap Soonji- menghadang jalan Soonji, mencoba berbicara empat mata dengan gadis itu. Sehun akui hidupnya terasa kurang dan hampa sejak Soonji tak lagi mau menemuinya atau hanya sekadar bertegur sapa.

 

“Aku mohon berikan waktumu lima menit saja”, pinta Sehun, namun Soonji hanya diam sembari menunduk. Gadis itu melangkah ke kanan dan Sehun melangkah ke kiri, menutup jalannya.

 

“Bukan lima, tapi tiga. Ya, hanya tiga menit saja”, Sehun berusaha bernegoisasi.

 

Soonji tetap diam dan beralih melangkah ke kiri, sedang Sehun ganti melangkah ke kanan, kembali menutup akses jalan.

 

“Kumohon…. Kita butuh bicara. Kita tak pernah punya masalah yang serius satu sama lain. Jadi kumohon jangan diam saja. Kita ini teman kan? Kita harus saling mengerti”.

 

Soonji masih diam. Dia pun melangkah ke kanan dan dengan sigap Sehun melangkah ke kiri.

 

“Soonji –ya….”, panggil Sehun putus asa.

 

Soonji tak menghiraukannya dan ganti melangkah ke kiri, sedang Sehun tentu saja melangkah ke kanan.

 

“Lee Soonji!” nada Sehun mengeras. Dia tak suka dengan Soonji yang dingin seperti ini. Ke mana Lee Soonji yang selama ini dia kenal?

 

“Geumanhe!!” bentak Soonji menahan tangisnya yang sedari tadi mendesak ingin keluar.

 

“Berhenti, Oh Sehun! Berhenti mengganggu hidupku. Berhenti ikut campur dalam urusan pribadiku! Kita tak pernah menjadi teman karena hubungan kita hanya sebatas kenal saja. Jadi, anggap saja sekarang aku hanya orang asing bagimu, sebab aku pun juga akan melakukan hal yang sama”, akhirnya bercucurlah airmata Soonji, namun dengan segera dia menyekanya.

 

Sehun mencelos, entah mengapa dadanya terasa nyeri. Hatinya seperti tergores silet yang tajam. Dia pun hanya mampu mematung dan membiarkan Soonji melewatinya begitu saja.

Tanpa Sehun ketahui bahwa Soonji tengah menangis dalam diam. Soonji berkata demikian karena dia merasa tak pantas berteman dengan Sehun setelah kasus yang membelit keluarganya. Dulu ketika keluarganya masih utuh dan harmonis, Soonji yakin untuk menjadikan Sehun temannya dan membuat anak lelaki itu bahagia jika berada di sampingnya. Tetapi, keluarganya yang berantakan melenyapkan semua angannya.  Soonji pikir, jika orang menyedihkan sepertinya terus bersama dengan Sehun, maka Sehun akan ikut-ikutan tidak bahagia. Sehun butuh teman dengan latar belakang baik-baik agar hidupnya juga membaik, bukan teman seperti dirinya yang hanya akan menyusahkan dan mungkin menyeret Sehun ke dalam banyak masalah. Sudah cukup Sehun menjalani hidupnya sebagai anak yatim-piatu, Soonji tak mau Sehun memiliki teman yang juga ‘yatim-piatu’. Ya, menghilangnya orangtuanya mungkin karena mereka tak menyayanginya lagi. Jadi, Soonji menganggap dirinya juga yatim-piatu bukan dalam arti yang sesungguhnya.

 

Dan semenjak itulah, hubungan Sehun dan Soonji memburuk. Mereka benar-benar mencoba untuk tidak saling mengenal. Walau berat, namun Sehun dan Soonji cukup mampu menahan hasrat masing-masing untuk saling peduli, ya, mereka berusaha saling acuh tak acuh. Meski realitanya ego Sehun selalu kalah oleh nuraninya. Sesungguhnya inilah latar belakang Oh Sehun memutuskan menjadi trainee. Selain ingin menjadi idola dan tidak dipandang rendah banyak orang, dia juga ingin mengalihkan pikirannya dari Soonji dengan cara menyibukkan diri. Akan tetapi, usaha itu tak sepenuhnya berhasil. Karena walau sudah diterima sebagai trainee dan memang dia menjadi sangat sibuk, bayangan Soonji tetap saja bersemayam indah dalam memorinya.

END FLASHBACK

 

Sehun mendongak dan memusatkan pandangannya pada permadani biru yang membentang luas di atas sana.

Mungkin karena aku yatim-piatu tak berguna dia lebih memilih Chanyeol yang memiliki segalanya, pikirnya sambil tersenyum miris melihat burung-burung yang beterbangan di angkasa.

Beberapa puluh menit selanjutnya Chanyeol siuman. Para guru pun memberinya keringanan supaya pulang lebih dulu. Wali kelas Chanyeol –yang baru menjabat sebagai wali kelas bergulir tiga bulan ini dan menggantikan wali kelas lama yang telah pensiun- berbaik hati mengantar anak didiknya tersebut sampai rumah. Sang wali kelas membutuhkan satu orang teman Chanyeol guna menunjukkan jalan ke rumah anak itu –mengetahui kondisi Chanyeol yang masih sulit mengeluarkan sepatah kata-, sebab beliau belum tahu rumahnya. Dan dengan berlapang dada Jinhwa membiarkan Soonji yang menemani Chanyeol beserta wali kelasnya tersebut. Jinhwa pun setia melihat mobil yang mengantar Chanyeol keluar dari gerbang, hingga mobil itu menghilang dari penglihatannya. Kemudian dia mengeluarkan kalung perak yang melingkar di lehernya. Disentuhnya benda bulat bernama cincin emas yang berperan sebagai bandul.

Aku harus segera mengembalikannya, tekadnya dalam hati.

<EXO ♥ JJANG>

TBC ^^

12 pemikiran pada “Wafe Find Beach (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s