Unlogical Married (Chapter 5)

CoverUnlogical

Title : Unlogical Married (Chapter 5)

Main Cast :

  • Oh Se Hun
  • Seo Young Ji (OC)

Other :

  • Do Kyung Soo
  • Park Chan Yeol
  • Byun Baek Hyun
  • Baek Dam Bi (OC)
  • Oh Dong Hoon (OC)
  • Hong Jang Mi (OC)
  • Son Na Ra (OC)
  • etc

Genre : Comedy-Romance, Marriage-life

Author : Lee Young

Lenght : Multichapter

Rate : PG-19

Summary : Let’s make it more logic 

(Chapter 5)

Se Hun menelan ludah berulang kali. Tidak banyak yang dia lakukan, selain duduk di sofa sambil sesekali melirik Young Ji di sampingnya.

Suasana diantara mereka menjadi sangat tidak menyenangkan setelah Se Hun mengatakan hal bodoh tentang membuat cucu kepada Young Ji, yang berakhir Young Ji menampar pipi Se Hun dengan begitu keras. Gadis itu memang luar biasa mengerikan.

“ngng… masalah yang tadi itu, aku min–”

“Diam!,” gertak Young Ji. Dia menatap Se Hun dengan tatapan membunuh, lalu mendengus. Se Hun segera mengangguk pasrah. “Aku tidak ingin mendengar apapun hingga makan malam nanti,” lanjut Young Ji. Gadis itu beranjak menuju pintu keluar.

“Kau… kau mau kemana?,” Se Hun bertanya dengan wajah bingung. Bagaimana tidak, jika sekarang Young Ji berniat untuk keluar, sementara tidak ada tempat lain yang bebas dari kedua orang tuanya selain kamar Se Hun sendiri? Gadis itu bilang, dia tidak ingin mendengar apapun. Justru kalau keluar, Young Ji akan lebih banyak mendengar hal-hal menjijikkan tentang cucu dan pengantin baru dari orang tua Se Hun.

Young Ji yang tidak menjawab memaksa Se Hun ikut beranjak dan menyusulnya. Dia tidak akan membiarkan kedua orang tuanya tahu jika mereka sedang tidak akur karena membahas masalah cucu.

Se Hun mempercepat langkah, berusaha menyamai langkah Young Ji. Gadis itu sesekali melirik, lalu mendengus. Kenapa sih Se Hun harus mengikutinya?

“Bisakah kau tidak mengikutiku?,” tanya Young Ji setelah menghentikan langkahnya. Se Hun menggeleng. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Young Ji, berbisik, “Aku tidak akan membiarkan ayahku tahu jika kita bertengkar karena masalah itu

“Bukankah itu bagus? Kita bisa cepat berpisah kalau mereka tahu kita sama sekali tidak cocok,” balas Young Ji tak kalah lirih.

Se Hun mendengus. Laki-laki itu berkacak pinggang. “Ya! Kau ingin mempercepat kematian ayahku? Beraktinglah dengan lebih profesional, Young Ji. Setidaknya kita harus bisa pura-pura sudah berusaha memberikan mereka cucu,” Se Hun melotot.

“Pura-pura sudah berusaha? Kau ingin kita pura-pura–”

“Cukup katakan, ‘Kami sedang mengusahakannya aboji. Doakan program kami berhasil’, itu saja,” potong Se Hun ketus. Young Ji menarik sebuah napas panjang. Mulutnya terbuka bersiap untuk membalas, namun suara kekehan Dong Hoon secara tiba-tiba terdengar.

Young Ji segera mengatupkan bibirnya. Gadis itu menatap Se Hun yang berada begitu dekat dengannya saat ini. Se Hun melirik kearah sumber suara.

“Aigo, sepertinya kalian selalu ingin menghabiskan waktu bersama-sama,” kata Dong Hoon.

Se Hun segera berbalik. Tangannya cekatan meraih tubuh kecil Young Ji. Laki-laki itu merangkul Young Ji sebari tersenyum lebar. Young Ji mau tak mau ikut tersenyum. Gadis itu pun refleks melingkarkan tangan kanannya di pinggang Se Hun.

“Aboji… mengagetkan saja,” kata Se Hun. Young Ji tersenyum semakin lebar.

“Kami mengganggu lagi?,” Dong Hoon bertanya dengan membulatkan mata, “Padahal kami ingin membicarakan sesuatu dengan kalian,” lanjut Dong Hoon sambil sesekali melirik Jang Mi yang berada di belakang kursi roda.

Se Hun dan Young Ji sama-sama terkekeh aneh, “Aniyo, aboji,” jawab mereka bersamaan.

“Kami sama sekali tidak terganggu. Benar kan, istriku?” Se Hun menekankan kata ‘istriku’, yang dibalas oleh anggukan dan kekehan aneh Young Ji. Gadis itu kadang mencuri kesempatan untuk melotot kepada Se Hun yang semakin mengeratkan rangkulannya. Dasar Oh Se Hun menjijikkan!

“Baguslah kalau begitu. Bagaimana jika kita bicara di ruang keluarga saja?,” Dong Hoon menunjuk ruang keluarga. Se Hun dan Young Ji mengangguk. Dong Hoon tersenyum, lalu meminta istrinya untuk menuju ruang keluarga. Se Hun dan Young Ji sengaja mengikuti di belakang.

Young Ji mencubit pinggang Se Hun ketika laki-laki itu tidak kunjung melepaskan rangkulannya di tubuh Young Ji. Se Hun melotot, menahan rasa nyeri di pinggangnya.

***

“Aku rasa, sudah saatnya kalian memikirkan masalah ini. Maaf jika aku ikut campur,” Dong Hoon membuka pembicaraan.

Sekarang mereka ber-empat tengah duduk melingkar di ruang keluarga. Oh Dong Hoon berada di tengah-tengah dengan Jang Mi di sisi kanannya dan Se Hun serta Young Ji di sisi kiri. Pembicaraan ini akan berlangsung serius, sepertinya.

Pria paruh baya itu tersenyum ketika Se Hun dan Young Ji menatapnya dengan wajah yang berkerut, penasaran. “Sudah semestinya kalian belajar menjalani kehidupan sendiri. Aku dan ibumu sudah sepakat jika kalian, kami beri kebebasan untuk memilih tinggal disini atau menyewa sebuah apartemen. Tapi kami harap, kalian tinggal di apartemen. Kalian urus diri kalian sendiri”

Dong Hoon mengatupkan bibirnya setelah melontarkan sebuah penjelasan singkat.

Tapi Se Hun malah seperti mendengar suara halilintar beruntun yang mengelilingi tempurung kepalanya. Apa tadi? Kehidupan kalian sendiri? Siapa yang dimaksud dengan kalian? Oh Se Hun dan Seo Young Ji?

“Maksud ayah, kami harus benar-benar tinggal seperti suam– awwh!,” Se Hun memekik kesakitan sebelum laki-laki itu sempat menyelesaikan kalimatnya.

Young Ji mencubit pinggang Se Hun diam-diam, ketika gadis itu sadar jika Se Hun hampir membuat rencananya sendiri, gagal. Bisa-bisanya laki-laki itu menambahkan kata ‘seperti’ di depan kata suami-istri? Ya, walau Se Hun belum sepenuhnya selesai mengucapkan kalimatnya, tapi Young Ji tahu pasti konten kalimat Se Hun.

Se Hun melotot ketika melirik Young Ji yang pura-pura tersenyum lebar. Gadis itu menatap Dong Hoon yang mengerutkan kening keheranan. Mengabaikan wajah protes Oh Se Hun.

“Ah, geurae? Jadi kalian memberi kami kebebasan?,” Young Ji pura-pura bertanya antusias.

Se Hun memutar bola matanya sebari menggosok punggungnya yang terasa seperti tersengat. Kadang gadis itu sulit sekali dimengerti. Se Hun masih ingat jika beberapa jam lalu, Young Ji ingin mereka segera bercerai tapi sekarang? Young Ji berakting seakan-akan mereka adalah pasangan muda yang bahagia. Non sense…

Dong Hoon segera mengangguk dengan senyum yang kembali melengkung di bibirnya. Pria itu bahkan melirik Jang Mi sekilas. Jang Mi ikut tersenyum sebari mengangguk mantap.

“Benar sekali, Young Ji-a. Kalian bisa memilih mulai dari sekarang. Kau bagaimana? Suamimu kurang mampu mencerna kata-kataku, sepertinya,” kata Dong Hoon sedikit mencibir. Se Hun langsung merasa tertohok. Ayahnya benar-benar…

Young Ji mengangguk bahagia–atau pura-pura bahagia?

Gadis itu tersenyum lebar dengan matanya yang berbinar. Dia segera beringsut untuk semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh Se Hun yang duduk di sebelahnya. Bahkan Young Ji menelusupkan tangannya ke lengan Se Hun, merangkulnya dengan manja.

Se Hun yang tengah sebal karena diremehkan ayahnya sendiri, tersentak. Dia menatap Young Ji yang sudah bergelayut manja di lengan tangan kirinya. Akting yang bagus sekali Seo Young Ji–cibir Se Hun dalam batin. Laki-laki itu menghela napas diam-diam.

“Aigooo… kau dengar apa yang ayah bicarakan? Beliau ingin kita memilih pilihan kita sendiri, yeobo,” sumpaaaah… Young Ji ingin menyikat lidahnya setelah ini.

Se Hun ternganga. Tampang laki-laki itu terlihat sangat bodoh saat ini.

“Ha?,” tanya Se Hun lirih. Young Ji tidak menanggapi. Dia malah semakin bergelayut manja di lengan Se Hun. “Bagaimana kalau kita tinggal di apartemen saja? Kebetulan apartemenku masih atas namaku, yeobo. Kau bisa membalikkan namanya, jika kau mau,” lanjut Young Ji.

Gadis itu tersenyum semakin lebar menatap Se Hun. Kening Se Hun berkerut. Jadi, Young Ji ingin mereka tinggal di apartemen? Hanya mereka berdua?

Dong Hoon dan Jang Mi yang melihat malah terkikik geli. Young Ji tampak sangat menggemaskan ketika bergelayut di lengan Se Hun seperti itu.

“Aigo, yeobo. Mereka manis sekali,” suara serak Dong Hoon terdengar.

“Geurae… aku bahagia melihatnya,” tanggap Jang Mi.

Se Hun yang mendengar menghela napas. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya sebari menggosok rambut bagian belakangnya yang sama sekali tidak bermasalah. Dia menatap kedua orang tuanya. “Tapi, kalian tahu kan jika aku masih sekolah? Aku belum bekerja,” kata Se Hun.

“Aku bisa saja mengabulkan keinginan Young Ji, ayah. Tapi, aku tidak yakin jika untuk kedepannya aku bisa membayar apartemen Young Ji,” Se Hun tersenyum, “Maafkan aku, tapi aku hanya mengatakan yang sebenarnya,” lanjutnya.

Suasana berubah menjadi sedikit lebih serius.

Young Ji melepaskan tangannya dari lengan Se Hun. Gadis itu menatap Se Hun dengan matanya yang berbinar lain. Tidak bisa dideskripsikan. Hanya saja, kalimat Se Hun terdengar sedikit tidak pantas untuk diucapkan oleh seorang suami. Entah kenapa, Young Ji merasa bersalah.

Tapi Dong Hoon tersenyum. Pria paruh baya itu menatap Se Hun semakin lekat, “Kau ingat jika ayahmu ini memiliki sebuah perusahaan konveksi?”

Se Hun mengangguk. Tubuh laki-laki itu secara refleks menegang. Jangan bilang jika dia disuruh menggantikan posisi ayahnya? Tidak mungkin! Hidup Se Hun bukan drama akhir pekan yang bisa didownload sehari setelah jam tayang! Cukup menikah saja yang menjadi beban berat Se Hun saat ini.

“Aku bisa memberimu pekerjaan jika kau mau. Tapi, hanya pekerjaan dengan kualifikasi seorang lulusan SMA, tentu saja”

Apa?!

Kini Se Hun malah ternganga lebar. Apa maksudnya?!!!

“Maksud ayah?,” tanya Se Hun.

Dong Hoon mengangkat bahu. “Kau akan aku perlakukan sama seperti pekerja-ku dengan lulusan SMA. Bukankah itu cukup adil di saat seperti ini? Aku sudah cukup baik dengan memberimu kelonggaran bekerja di perusahaan dengan status sebagai pelajar,” jawab Dong Hoon.

“Jadi aku bekerja paruh waktu, begitu? Tapi… ayah tahu sendiri jika aku masih harus sekolah!! Belum lagi aku harus latihan basket, dan bermain di turnamen selanjutnya,” protes Se Hun. Nada bicara laki-laki itu meninggi, hingga membuat Young Ji sedikit tersentak di sampingnya.

“Aku bisa menyuruh manager Jang mengatur jadwalmu. Kau bisa bekerja ketika kau luang. Lagipula, bukankah setiap minggu hingga kamis kau tidak ada jadwal lain selain sekolah? Bahkan di hari minggu, kau bisa bekerja seharian,” tanggap Dong Hoon.

Se Hun semakin ternganga. Dia tidak percaya jika ayahnya tega memberikan usulan gila semacam itu kepadanya.

Oke, ini sudah di luar dugaan. Se Hun kira, seluruh kehidupan laki-laki itu akan ditunjang oleh kedua orang tuanya hingga perceraian mereka–ya, Se Hun sudah memastikan akan segera bercerai dari Seo Young Ji. Tapi faktanya apa? Se Hun malah merasa jika dia benar-benar disuruh menjadi seorang suami sungguhan.

Se Hun sudah hampir memberontak, ketika tangan Young Ji diam-diam meremas lengan Se Hun, hingga membuat laki-laki itu menoleh kearahnya. Young Ji tampak menatap Dong Hoon dengan raut wajah tenang sebari tersenyum samar. Tangan Young Ji masih setia meremas lengan Se Hun.

“Maafkan aku, ayah. Tapi, Se Hun tidak perlu bekerja. Aku bisa menggantikannya untuk sementara. Toh, Se Hun harus sekolah. Aku tidak ingin sekolahnya terganggu hanya karena bekerja,” sambung Young Ji.

Hening.

Dong Hoon tampak menghela napas. Sorot mata Dong Hoon berubah, setengah kecewa setengah terpukul dengan pernyataan Young Ji. Bagaimanapun, Dong Hoon merasa jika Se Hun-lah yang harus bertanggung jawab penuh.

Sementara itu, Se Hun membelalakkan matanya. Dia menatap lekat Young Ji yang tersenyum semakin lebar kepada Dong Hoon.

“Aku cukup tahu diri akan hal itu, ayah,” lanjut Young Ji. Satu detik berikutnya, gadis itu menoleh, untuk menatap Se Hun yang menatapnya dengan matanya yang berbinar lain.

“Gwenchanna, jika harus aku yang bekerja. Kita jalani dulu kehidupan kita apa adanya. Lagipula… kau harus menyelesaikan pendidikanmu sebelum bisa mengurusku dengan baik”

Se Hun tahu jika Young Ji tidak pernah serius mengatakan hal itu. Tapi, dada Se Hun berdesir hebat sekali. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Entah kenapa, rasanya menyesakkan mendengar Young Ji mengatakan semua itu. Se Hun merasa sama sekali tidak berguna.

Young Ji kembali menatap Dong Hoon ketika Se Hun masih belum mau melepaskan tatapannya dari gadis itu.

“Gwenchanseumnida, aboji,” lanjut Young Ji.

Dong Hoon menghela napas. Dia melirik Se Hun yang seketika terdiam di sofa. “Kau serius dengan ucapanmu? Walau pun Se Hun adalah suamimu, kau tidak berniat menuntutnya untuk bertanggungjawab atas hidupmu?,” tanya Dong Hoon tajam, bersamaan dengan mata Se Hun yang berkaca tanpa sebab. Laki-laki itu entah kenapa malu sekali.

Young Ji menggeleng. “Dia sudah bertanggungjawab dengan menyelesaikan pendidikannya. Bukankah begitu, suamiku?”

Se Hun tidak mampu menjawab. Dia membalas tatapan Young Ji, tepat di manik mata gadis itu.

Young Ji mengangguk samar, meminta Se Hun untuk mengikuti alur yang telah dia buat. Tapi, demi Tuhan, Se Hun tidak mampu. Laki-laki itu seperti mendapat sebuah pukulan keras tepat di dadanya. Dadanya sakit sekali.

***

Penjelasan guru di depan kelas tidak ada satu pun yang masuk ke kepala Se Hun. Laki-laki itu sibuk memikirkan pembicaraan mereka dengan Dong Hoon, kemarin.

“Gwenchanna, jika harus aku yang bekerja. Kita jalani dulu kehidupan kita apa adanya. Lagipula… kau harus menyelesaikan pendidikanmu sebelum bisa mengurusku dengan baik”

“Kau serius dengan ucapanmu? Walau pun Se Hun adalah suamimu, kau tidak berniat menuntutnya untuk bertanggungjawab atas hidupmu?,” tanya Dong Hoon tajam.

Se Hun menghembuskan napasnya keras. Dia bersandar di dinding yang berada tepat di sampingnya, sebari memejamkan mata sekilas. Kenapa rasanya dia sama sekali tidak berguna? Sungguh, perasaan ini menyebalkan sekali.

“Maja! Kompetisi itu dilakukan untuk menyeleksi seorang teknisi freelance. Aku dengar bayarannya lumayan,” bisik-bisik teman di depannya membuat Se Hun ikut memperhatikan.

Laki-laki itu membenarkan posisi duduknya, sebari menajamkan pendengaran.

“Daebak! Bagaimana caranya?”

“Mudah. Kau mengirimkan saja aplikasi hasil modifikasi atau buatanmu sendiri”

“Jinjja? Hanya begitu saja?”

“Geurae.. lumayan mudah untuk pelajar seperti kita”

Kening Se Hun berkerut samar. Kompetisi IT untuk mencari teknisi freelance? Dan, apa? Bayarannya lumayan? Se Hun semakin mempertajam pendengarannya.

***

Suara bola basket yang terpantul di lapangan terdengar menggema di keheningan senja. Suara desau angin sesekali ikut terdengar diantara suara pantulan bola basket.

Se Hun terlihat memainkan bola basket kesayangannya, sendirian. Men-drible-nya berulang kali, memasukkan ke ring, melemparkannya asal ke tiang ring.

Se Hun masih belum berhenti memainkan bola basket hingga konsentrasi laki-laki itu buyar ketika matahari sempurna sudah tenggelam di ufuk barat. Bola basket Se Hun terpental dari ring, jatuh ke lapangan, dan menggelinding ke arah bangku yang ada di pinggir lapangan.

Tapi, Se Hun membiarkannya.

Laki-laki itu tampak memejamkan mata sejenak, dengan wajahnya yang berkerut aneh. Napasnya tersengal. Dia menerawang langit malam yang masih sedikit berwarna kemerahan. Pembicaraan itu masih saja mengganggu pikirannya, hingga hari ini.

Se Hun tidak tahu sejak kapan dia jadi seperti ini. Se Hun mulai sensitif dengan segala hal yang berkaitan dengan posisinya sebagai suami Seo Young Ji.

Laki-laki itu merasa jika tidak seharusnya dia membiarkan Young Ji bekerja sementara dia enak-enak saja sekolah. Ah, entahlah! Se Hun rasanya ingin menggorek seluruh isi kepalanya, dan membilas otaknya yang sudah mulai terkontaminasi pikiran-pikiran memusingkan kehidupan orang dewasa.

Bukankah dulu Se Hun hanya ingin pernikahan ini berjalan ritualnya saja? Bukankah Se Hun tidak akan membiarkan jiwa remajanya hilang karena statusnya sudah berubah? Oh ayolah, virus apa yang menjangkiti jiwa Se Hun hingga sempat lupa dengan semua itu?! Se Hun berakhir membuang napasnya keras. Ini semua benar-benar konyol!

“Aish… aku bisa gila!,” desis Se Hun sebari berjalan menuju ke bangku taman. Dia meraih botol minumnya, dan meneguknya cepat.

Triiing.

Ponsel Se Hun berdering, tanda pesan masuk. Se Hun meletakkan botol minumannya, sebelum meraih ponsel yang tergeletak di atas tas. Se Hun menaikkan satu alisnya. Pesan singkat dari Seo Young Ji.

Se Hun-a, aku pulang malam, hari ini. Jika kau sudah selesai latihan basket, pulanglah. Jangan lupa, beli makan malammu sendiri.

From : Seo Young Ji

Se Hun mendengus.

Dia segera menjatuhkan ponselnya ke atas tas, lalu duduk di bangku. Entahlah… Se Hun hanya tidak suka ketika Young Ji selalu mengirimkan pesan singkat tentang pulang malam.

Mereka sudah lebih dari 2 minggu menjadi pasangan suami-istri, tapi Young Ji sekali pun tidak pernah pulang lebih awal dari Se Hun. Young Ji selalu pulang malam, dan langsung tidur tanpa menyapa Se Hun sama sekali. Se Hun merasa menjadi sampah di kehidupannya sendiri. Sungguh.

Se Hun tampak mengacak rambutnya. Se Hun merasa jika dia sudah gila karena mendadak emosi seperti ini. Oh, ayolah Oh Se Hun… kenapa kau tidak menjalani kehidupan normalmu saja, eoh? Bersikaplah sebagai Oh Se Hun yang biasa saja! Jangan termakan keadaan –Se Hun berakhir meruntuk sendirian.

Se Hun menyahut botol minum, dan meneguknya sekali lagi. Matanya beredar menatap ke arah trotoar yang berada di sebelah luar lapangan. Sepasangan pria dan wanita tampak berjalan berdampingan sebari saling bergandengan tangan.

Se Hun hampir tersedak ketika sang pria tiba-tiba membungkuk di depan sang wanita lalu mengelus perut kecil wanita itu. Shit! Mereka suami-istri juga, ternyata. Se Hun langsung memalingkan wajahnya. Kenapa sih dia jadi sensitif seperti ini?!

“Oh Se Hun?” suara Baek Hyun terdengar.

Se Hun menoleh, dan mendapati Baek Hyun berjalan mendekat sebari membawa satu kantung plastik belanjaan.

“Tsk, tsk, tsk, bisa-bisanya kau masih berkeliaran di lapangan basket hingga jam segini? Kau sama sekali tidak istirahat sejak pulang sekolah tadi?,” tanya Baek Hyun ketika laki-laki itu tepat berada di samping Se Hun.

Se Hun mengangguk, “Seperti yang kau lihat”

Baek Hyun tertawa kecil. Dia duduk di samping Se Hun lalu merogoh soft-drink dari dalam plastik belanjaan. “Baiklah kalau begitu…. aigooo… aku jadi tidak ingin cepat-cepat pulang. Mau soft-drink?” tawar Baek Hyun.

Se Hun menggeleng, “Itu belanjaan ibumu, kan?”

“Hmm… bagaimana ya? Bisa iya, bisa tidak.” Se Hun menaikkan satu alisnya. Baek Hyun meringis, “Aku lebih banyak membeli keperluan-ku ketimbang daftar belanjaan ibuku. Ya! Kau tahu, supermarket saat ini sedang diskon besar-besaran!”

Se Hun memutar bola matanya, jengah. “Jangan bilang kau kalap”

“Hampir. Yakin tidak mau soft-drink? Ini rasa lemon”

“Tidak, terimakasih. Aku diet.” Baek Hyun mengangkat bahu setelah mendengar kalimat Se Hun. Mereka terdiam untuk beberapa detik.

“Baek Hyun-a,” panggil Se Hun.

Baek Hyun yang tengah meneguk soft-drinknya melirik, “Hmm?”

“Apa yang akan kau lakukan setelah lulus SMA nanti?,” tanya Se Hun dengan nada serius. Tapi sepertinya Baek Hyun gagal menangkap keseriusan Se Hun. “Makan-makan”

“Aku serius!”

Baek Hyun mengerutkan keningnya, heran. Kenapa Se Hun harus bertanya tentang rencananya setelah lulus SMA, jika semua orang tahu bahwa mereka pasti akan masuk universitas?!

“Kau lupa jika ada yang namanya perguruan tinggi? Ah, atau mungkin kau mengira aku akan masuk perguruan silat?” Baek Hyun ngasal.

“Ayolah, Byun Baek Hyun. Aku bertanya sungguh-sungguh. Maksudku, mungkin kau akan melakukan hal lain, seperti kuliah sebari bekerja atau mungkin… langsung menikah?” suara Se Hun mencicit di ujung kalimat.

Baek Hyun hampir tersedak. “Menikah?! Kau gila?!”

Matilah kau Oh Se Hun! Baek Hyun saja bilang jika menikah setelah lulus SMA adalah hal gila. 

Se Hun mengangkat bahu. “Itu hanya semisalnya saja, Baek Hyun”

“Oh, aku kira,” Baek Hyun membulatkan mulutnya. “Setelah lulus SMA nanti, aku akan masuk ke Universitas Kyunghee. Keren, kan?” laki-laki berdagu lancip itu meringis.

Se Hun mengangguk. “Begitu ya? Jadi kau sudah merencanakan kehidupanmu?”

“Tentu saja sudah!!”

“Oh, begitu….” Se Hun pura-pura mengangguk antusias. Laki-laki itu melirik Baek Hyun, dengan satu alisnya yang terangkat. “Berarti kau sudah tahu hal apa yang akan kau lakukan setelah kau menikah nanti?,” Se Hun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.

Faktanya, Se Hun memerlukan sebuah nasehat terkait masalah rumah tangga absurd-nya dengan Young Ji. Tapi, mustahil jika Se Hun menceritakan kepada Baek Hyun jika dia sudah menikah.

Karena di dunia ini, yang mengetahui statusnya sebagai suami orang hanya pihak keluarga, sahabat dekat Young Ji, dan tetangga satu apartemen mereka. Itu pun, untuk tetangga apartemen, tidak ada satu pun yang terlihat peduli.

Baek Hyun menoleh, menatap Se Hun dengan keningnya yang terlipat. “Kenapa kau bertanya hingga sejauh itu?”

Se Hun meringis, “Aku hanya ingin tahu seorang sepertimu punya pandangan macam apa, tapi sepertinya kau masih belum berpikir hingga sejauh itu. Ah, tentu saja, kau ragu kan akan menikah di usia berapa?,” Se Hun mengibaskan tangannya–dia berusaha mengalihkan kecurigaan Baek Hyun.

“Tsk, kau saja sulit mencari pacar. Apalagi mencari istri,” Se Hun terbahak.

Wajah Baek Hyun langsung berubah datar. “Kenapa kau ikut-ikutan meledekku dengan cara seperti itu? -_-”

Se Hun masih terbahak sadis di samping Baek Hyun.

Baek Hyun mendengus. “Aku akan menikah setelah aku yakin bisa membahagiakan istriku, tentu saja!” lanjut Baek Hyun tidak terima. Se Hun mengusap ujung-ujung mata, tawanya mereda. “Aku akan membuat istriku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena bersuamikan seorang Byun.Baek.Hyun,” kata Baek Hyun bangga.

Se Hun menahan napas. “Benarkah? Kau akan seperti itu walau pun kau tidak mencintai istrimu?”

Baek Hyun menoleh. “Tidak mencintai istriku? Ya! Mana mungkin aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai?!!” protes Baek Hyun.

“Siapa tahu kau berakhir dijodohkan karena tidak ada gadis yang mau kau lamar,” lagi-lagi Se Hun menggunakan peruntungan buruk Baek Hyun dalam mencari pacar untuk memancing lebih banyak lagi nasehat.

Baek Hyun menghela napas. Dia sepertinya benar-benar terpikir dengan kalimat Se Hun. Bagaimana ya?–mata Baek Hyun terbaca demikian. “Hmm… mungkin, aku bisa belajar,” kata Baek Hyun tegas.

“Belajar?”

“Ye. Aku bisa belajar mencintainya dan memberikan segala-galanya. Lagipula cinta datang dengan berbagai cara, kan?” Baek Hyun mulai mengeluarkan saran-saran cinta–yang sialnya tidak pernah manjur untuk dirinya sendiri. Tapi Se Hun tidak peduli. Dia semakin khidmat memperhatikan.

“Pertama, cinta datang karena pandangan pertama. Kedua, cinta datang karena terbiasa. Ketiga, cinta datang karena drama”

“Ha?”

“Seperti yang di drama-drama. Cinta datang setelah kau setengah mati membenci pasanganmu. Bukankah itu manis?,” Baek Hyun tersenyum lebar. Se Hun mendesis. “Dasar korban drama”

“Hidup kan memang penuh dengan drama”

Se Hun berdecak sekali lagi, sebelum laki-laki itu menerawang langit malam. Belajar mencintai dan memberikan segala-galanya? Kalimat yang satu itu seperti menggema di tempurung kepala Se Hun.

***

Pintu apartemen terbuka oleh Se Hun.

Laki-laki itu melangkah masuk sebari menyalakan lampu hingga membuat seluruh isi apartemen terlihat jelas oleh matanya. Sepertinya, Young Ji benar-benar pulang malam. Sekarang sudah hampir pukul 9 tapi gorden apartemen masih terbuka, dan seluruh alat makan mereka tadi pagi masih tergeletak di wastafel.

Se Hun mengambil sebuah napas panjang.

Dia meletakkan tas dan bola basketnya di sofa, lalu menutup gorden. Tidak hanya itu saja. Se Hun pun mencuci piring, mangkuk, gelas, dan alat makan yang mereka gunakan tadi pagi.

Se Hun merasa seperti sedang melakukan pekerjaan rumah karena dihukum ibunya saat ini. Keberadaan istri di kehidupan Se Hun sama sekali tidak dia rasakan.

Ah, bodohnya–Se Hun mengumpati dirinya sendiri.

Bagaimana bisa lagi-lagi dia lupa jika ini bukan sebuah pernikahan sungguhan? Mengenaskan sekali, bukan? Karena jika semua ini hanya permainan, seharusnya Se Hun tidak perlu repot menutup gorden dan mencuci piring seperti ini. Dia pun juga tidak seharusnya terbebani untuk memikirkan kata tanggungjawab yang dilontarkan Dong Hoon ketika itu. Tapi faktanya, Se Hun semakin hari malah semakin merasa jika semua ini tidak berjalan normal. Bagaimana pun juga, dia suami Seo Young Ji. Camkan itu baik-baik!

Se Hun menghela napas, lalu menumpukan tangannya di pantry.

Kenapa dia jadi emosi seperti ini sih? Kenapa mendadak dia merasa jika tidak seharusnya dia melakukan ini? Se Hun tidak tahu. Yang pasti, Se Hun pun ingin dirinya mendapatkan hak yang semestinya! Tapi apa? Young Ji sama sekali tidak menggubrisnya. Se Hun hanya dipandang sebagai seorang pelajar yang harus diurus karena belum mampu melakukan apa-apa. Ah, it’s more than frustating!!!

“Michigesseo!,” desis Se Hun. Dia menggeleng, lalu beranjak dari dapur menuju ke kamar mandi. Mungkin mandi bisa membuatnya sedikit merasa lebih baik.

***

Young ji masuk ke dalam apartemen sebari memijat bahunya sendiri. Hari ini banyak sekali pelanggan butik yang memintanya menjadi penasehat mode dadakan.

Gadis itu melepaskan high-heels lalu berjalan menuju sofa. Tapi pemandangan pertama yang dia lihat sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik.

Tas, kaos kaki, dan jaket Oh Se Hun berserakan di sofa. Bola dan sepatu laki-laki itu pun tampak menambah perasaan tidak nyaman dalam diri Young Ji.

“Dasar Oh Se Hun!,” desis Young Ji.

Gadis itu mendengus lalu mengambil kaos kaki Se Hun untuk selanjutnya dilemparkan ke tempat pakaian kotor. Bersamaan dengan itu, Se Hun muncul dari kamar mandi. Laki-laki itu hanya menggenakan handuk yang menutup separuh tubuh bagian bawahnya.

“Bisakah kau tidak membuat apartemenku berantakan?!” teriak Young Ji sebari berbalik.

Se Hun sedikit tersentak. Laki-laki itu ingin menyapa istrinya, namun malah mendapat gertakan yang sangat amat tidak disangka. Apa seperti ini sikap yang pantas seorang istri tunjukkan kepada suaminya? Se Hun mendengus, tidak percaya. Dia teringat dengan emosinya barusan.

“Apartemenmu?!” tanya Se Hun retoris.

Young Ji mengangguk setelah mati-matian mempertahankan ekspresi wajahnya ketika melihat penampilan Se Hun. “Ye, apartemenku! Kau seharusnya tahu jika aku pulang dalam keadaan lelah!! Tidak seharusnya kau–”

“Lelah kau bilang?,” Se Hun terkekeh hambar. Dia berkacak pinggang. “Kau pikir aku tidak lelah?!”

“Kau lelah karena sekolah dan latihan basket. It’s not a big deal!”

Demi Tuhan. Kalimat Young Ji barusan adalah kalimat paling menyakitkan yang pernah Se Hun dengar sepanjang kehidupannya bersama gadis itu.

Se Hun membelalakkan matanya. “Apa katamu?!”

Young Ji tidak menggubris. Gadis itu pura-pura lupa dengan ucapannya barusan, dan berniat pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Young Ji melintasi Se Hun, tapi laki-laki itu segera meraih pergelangan tangan Young Ji, menggenggamnya erat.

“Aku tanya, apa katamu?” Se Hun mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan nada dingin.

Young Ji menelan ludah. Dia berusaha keras melepaskan cengkeraman tangan Se Hun. “Ya! Lepaskan tanganku!! Ada apa denganmu, eoh?! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!,” kilah Young Ji.

Se Hun semakin mempererat genggaman tangannya. “Begitu?”

“Jadi, bagimu aku hanya seorang pelajar yang bermain basket?,” suara Se Hun semakin menakutkan di telinga Young Ji.

“Jika itu kenyataannya, apa lagi yang harus aku katakan eoh? Kau tersinggung?!”

“Tentu saja!!!,” teriak Se Hun.

Hening.

Gadis itu segera menatap Se Hun yang sudah menatapnya dengan sorot kemarahan yang begitu besar. Ah, tunggu dulu! Sorot mata Se Hun bahkan lebih dari sekedar marah. Ada seberkas kekecewaan, kesedihan, dan entahlah… sorot mata laki-laki itu terlampau menakutkan bagi Young Ji malam ini.

“Tentu saja, aku tersinggung! Aku tersinggung karena kau dengan begitu mudahnya memperlakukanku seperti ini!!”

Mata Young Ji membulat. Laki-laki itu telah mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah Young Ji sangka. Bahkan Se Hun masih menatapnya lekat, sorot matanya melunak.

Young Ji bisa merasa jika tubuhnya ditarik untuk mendekat. Aroma sabun masih bisa tercium oleh gadis itu ketika jarak mereka hanya beberapa sentimeter saja. Young Ji bisa merasakan jika jantungnya mendadak berdegup dengan cara yang tidak normal. Ada apa ini?–teriak Young Ji dalam batinnya.

Young Ji menatap Se Hun, ketika laki-laki itu semakin mendekatkan tubuh Young Ji ke tubuhnya.

Se Hun menundukkan wajahnya. Dia berbisik. “Setidaknya… perlakukan aku sebagai seorang suami, Seo Young Ji. Sekali saja, anggap aku ada,” suara lirih Se Hun terdengar jelas mengalun di telinga Young Ji. Hembusan napas laki-laki itu pun terasa hangat di pipi Young Ji.

Mata Young Ji semakin membulat. Kini, Se Hun malah melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadis itu.

Laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Young Ji, “Ayo kita belajar membuat pernikahan ini menjadi selogis mungkin, Seo Young Ji,” bisik Se Hun. Laki-laki itu mulai memejamkan mata, sebari mengarahkan bibirnya ke bibir merah muda gadis yang sudah sempurna berada di hadapannya.

Young Ji semakin tidak percaya. Apa kata Se Hun? Membuat pernikahan ini logis? Mungkinkah–

“Sekali ini saja, istriku. Sekali ini saja…”

cuuupppp

To Be Continued

 

Scene terakhirnya nanggung ya? LOL *dilempar protes. Dan bagi yang shock dengan adegan Se Hun ke Young Ji, (-_-‘)v Sorry, namanya juga marriage life. Mau ngapain aja sah, kan ya?

Ayoo tebak, mau ngapain noh? *tampar diri sendiri.

FYI, saya tidak akan membuat fanfiksi no children atau ff dengan rate lebih dari 19 tahun, jadi jangan menebak yang tidak-tidak ya untuk next chapter hha-hha-hha. Saya harus tetap keep on track. Lagipula Se Hun juga nggak mau privasinya dengan sang istri dinikmati umum. Biar dia sama istrinya aja yang tahu –ups (?)

Se Hun : Author (-____- “) *muka datar

Saya : Maaf, pak. Maaf! Nggak diulangi lagi, pak. Janji (u,u!)

Dan sedikit note dari saya untuk teman-teman yang membaca 😀 mungkin teman-teman yang membaca UM adalah author, atau calon author, atau pengen jadi author tapi belum ada ide nulis, atau udah ada ide nulis tapi belum nulis (?), saya cuma mau bilang ‘jangan takut dan ayo belajar’, dan entah kenapa kok saya pengen banget berbagi sedikit saja pengetahuan saya tentang budaya di negaranya dek Se Hun dkk, terlebih tentang kehidupan marriage life.

Hm… gimana ya jadi nggak enak (?), jadi gini, saya sering sekali membaca ff genre marriage life yang si cast cewek mendadak namanya berubah marga (misalnya, Seo Young Ji mendadak jadi Oh Young Ji), sebenarnya di Korea sendiri tradisi kayak gitu nggak ada hehehoho *ketawacanggung. Maafin saya yang kesannya sok menggurui 😦 saya cuma sedih aja karena banyak ff dengan alur bagus *superbagus malah, tapi untuk tradisi di negara settingnya kacau *piss, kan sayang tuh. Jadi ayoook, kita belajar yuk.. ya se-nggak nya buka-buka google sebelum nulis fanfiksi. (Ini bukan berarti saya tahu apa-apa-apa loooh ya -_- saya juga banyak yang miss, kayak di ff UM ini Se Hun manggil Young Ji nggak pake noona atau –ssi, itu karena karakternya Se Hun emang anak badung, dan Se Hun udah ngincer Young Ji jadi bininya, saya sih mikirnya : masa iya manggil istri sendiri pake noona lol *dihajar)

Oke, saya tunggu respon, kritik, saran, dan lain sebagainya. See You….  salam sayang selalu, tanpa mu, author hanya butiran debu

Iklan

53 pemikiran pada “Unlogical Married (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s