Forbidden Feeling (Chapter 1)

Poster Kai 1

Forbidden Feeling – Part 1

By Ririn Setyo

Kim Jongin | Oh Sehun | Park Chanyeol | Song Jiyeon.

Other : Xiumin | Kim Suho | Huang Zitao

Romance ( PG – 15 )

NB : Beberapa Scene dan jalan cerita sudah diubah dan disempurnakan dari versi asli yang Publish di Blog pribadi Saiiya http://www.ririnsetyo.wordpress.com

_

_

_

 

High School – 02.30 pm

The Story Begin

.

Kim Jongin, laki-laki berwajah tampan yang terpahat nyaris tanpa cela, bertubuh atletis dengan tinggi badan menyentuh angka 182 centimeter. Laki-laki yang mempunyai kemampuan di bidang olah raga di atas rata-rata, berkulit coklat mempesona, senyum tengik memabukkan, wajah rupawan namun terkesan tengil yang memikat hati dan hal-hal brengsek lain yang melekat dalam pribadi laki-laki itu, namun sialnya selalu berakhir dengan kata menggoda jantung untuk berpacu lebih cepat dari biasanya.

Meluncur di atas papan skateboard tanpa T-shirt yang lebih nyaman tergeletak di atas pundaknya, mengekspos semua keseksian tubuh berotot sempurna yang sungguh membuat mata gadis-gadis di sekitar area lapangan, tak mampu berpaling dengan tatapan memuja. Berharap jika laki-laki berpredikat cuek, dingin dan tak tersentuh itu menghampiri mereka, mengulurkan tangan dan mengajak bergabung dalam gengaman tangan yang melumpuhkan seluruh otot tubuh mereka.

Jongin menghentikan pergerakan kakinya di atas papan skateboard, mata coklat Jongin menatap ke arah gadis di pinggir lapangan, bukan…bukan ke arah para gadis yang tengah menatap penuh harap ke arahnya. Namun ke arah seorang gadis cantik, berambut panjang sebatas pinggang yang duduk di sebuah bangku kecil tepat di bawah pohon rindang, tak jauh dari area pinggir lapangan.

Gadis berparas rupawan, bermata sebening crystal dengan jas dan kemeja Jongin berada di atas pangkuan, lengkap dengan tas punggung Jongin yang terasa berat oleh beberapa buku dictat Matematika dan Fisika yang tadi digunakan Jongin saat menerima materi belajar di kelasnya. Gadis yang selalu setia menunggu Jongin untuk bermain skateboard atau basket di jam pulang sekolah seperti sekarang.

“Sepertinya Jiyeon-mu sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah,” Jongin tidak mengalihkan pandangan untuk sekedar menatap laki-laki yang mengajaknya bicara, mata tajam Jongin masih terlihat sibuk memperhatikan semua gerak gerik Jiyeon di depan sana.

Gadis itu berkali-kali terlihat menatap ke arah jam tangan berwarna putih yang melingkar di pergelangannya, jam tangan yang di hadiahkan Jongin di ulang tahun gadis itu yang ke 14 hampir 2 tahun yang lalu.

Hey! Jangan terlalu lama memandangi adik-mu Jongin,”

Dengusan sebal terurai di udara saat Jongin menghembuskan nafasnya, pandangan Jongin kini sudah beralih pada sosok laki-laki tinggi dengan rambut warna warni seperti gulali yang berdiri di sampingnya. Kekehan laki-laki berwajah tak kalah tampan dari Jongin itu pun pecah tak tertahan, saat menatap wajah Jongin yang tertekuk, selalu seperti itu jika mereka sedang membahas Jiyeon dengan predikat adik-mu yang melekat di depan nama gadis itu. Predikat yang selama ini selalu Jongin benci, predikat yang membuat Jongin selalu merasa ada sebuah tembok tebal yang sulit untuk di rubuhkan di antara hubungan dirinya dan Jiyeon.

“Dia bukan adikku, dia hanya— anak angkat di keluargaku. Ingat itu Oh Sehun.” Jongin menatap sekilas ke arah Sehun yang hanya tertawa mengejek di sampingnya, tidak merasa gentar sedikit pun dengan tatapan tajam tak bersahabat yang di tujukan Jongin padanya saat ini.

“Tetap saja Jiyeon itu adikmu, Jongin.” Jongin tidak menjawab, hanya semakin menajamkan tatapannya pada Sehun, meraih papan skateboard lalu menyelipkannya di lengan sebelah kiri.

“Kau tidak sedang jatuh cinta pada adikmu kan?” kali ini Chanyeol si laki-laki paling jangkung di antara mereka dan yang selalu sok-tahu mulai bersuara, ikut bergabung dalam obrolan galau Jongin dan Sehun yang mulai menarik perhatian laki-laki bermata bulat si pemilik senyum yang terkesan menyebalkan.

Cih! Dia adik angkatku, benar begitu Oh Sehun?” Jongin bertanya sebelum Sehun sempat melontarkan protesnya. “Harus berapa kali aku bilang padamu, Park Chanyeol! Jadi mana mungkin aku menyukai adikku sendiri,” suara Jongin terdengar meragu, selalu seperti itu saat dua sahabatnya kembali menanyakan perasaan hatinya pada sosok adik angkatnya, Song Jiyeon

Yeah! Memang benar dia adik angkatmu, tapi apa kau tahu Jongin, jika tatapanmu tiap kali menatap Jiyeon seperti tatapan seorang laki-laki yang menyukai seorang gadis, bukan tatapan seorang kakak laki-laki pada adik perempuannya.”

Kali ini Jongin memberikan tinjuan kecil di lengan Chanyeol, laki-laki itu mulai kesal pada sabahat baiknya yang selalu merasa tahu segala hal yang ada di dalam hatinya. Walau sebenarnya Jongin selalu merasa terusik dan berakhir dengan bertanya ulang pada sang hati, apa mungkin semua yang di katakan Chanyeol itu benar adanya? Entahlah saat ini Jongin masih tak punya nyali lebih untuk mendengarkan jawaban sang hati.

“Lupakan pembicaraan konyol ini, aku mau pulang!”

Dalam satu gerakan cepat Jongin menyerahkan papan skateboard yang di pinjamnya kepada sang pemilik, Oh Sehun. Kembali memajongin t-shirt yang sejak tadi berjokol di atas bahunya, berjalan terburu menuju tempat Jiyeon menunggunya dan meninggalkan dua sabahatnya begitu saja di belakang sana.

***

Jongin mengayunkan kakinya ringan, menatap sesekali ke arah langit yang mulai redup kala senja mulai datang menyapa. Sejak tadi Jongin terlihat selalu tersenyum, sejak dia memaksa Jiyeon untuk menemaninya berjalan santai di taman kota yang penuh dengan bunga warna-warni yang sungguh memanjakan mata keduanya. Jongin kembali menatap Jiyeon yang berjalan diam di sampingnya, Jongin bahkan tak bisa menghitung ini sudah yang keberapa kalinya dia menatap gadis pendiam itu dengan senyum menawan yang terlukis di wajah tampannya.

Menatap gadis yang selalu berada di samping Jongin sejak gadis itu berumur 10 tahun, sejak kedua orang tuanya membawa gadis itu dari panti asuhan untuk tinggal bersama di rumah mereka sebagai saudara angkat. Menatap gadis yang berumur 2 tahun lebih muda darinya, menatap gadis yang dulu sangat dibenci Jongin karena merasa jika kedua orangnya lebih menyayangi Jiyeon ketimbang dirinya, menatap gadis yang selalu tersenyum dengan semua penolakan yang Jongin tunjukan kala itu.

Namun seiring berjalannya waktu semua berubah, semua terasa berbeda. Kini Jongin merasa selalu ingin berada di dekat Jiyeon, selalu merasa senang saat ibunya yang super cerewet, menitahkan untuk selalu menjaga Jiyeon dengan baik. Pergi dan pulang sekolah selalu bersama, mengantarkan ke manapun gadis itu pergi, dan tidak boleh membiarkan gadis itu sendirian. Titah yang dulu di benci Jongin namun kini sangat disyukuri Jongin, melebihi rasa syukur Jongin saat sang ayah menghadiahkan lapangan basket di halaman belakang rumah mereka yang sangat luas, dihari Jongin merayakan ulang tahun yang ke 13 lima tahun yang lalu.

Jongin tidak tahu apa nama rasa itu, tidak tahu sejak kapan rasa itu mulai tumbuh dan berakar di dasar hati, menjalar di tiap denyut nadi dengan efek samping yang berkembang bagaikan virus kanker yang terus tumbuh pesat tanpa bisa di kendalikan. Yang Jongin tahu dia ingin selalu bersama Jiyeon, selalu ingin melihat senyum dan tawa gadis itu. Yang Jongin tahu Jiyeon adalah si pembuat rindu dan penggangu hati yang selalu membuat jantungnya berdetak cepat, hingga Jongin merasa jika mungkin saja jantungnya rusak dan dia akan memerlukan operasi transplantasi jantung yang baru.

“Jiyeon, kancingkan kemejaku,”

Jongin menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya, melirik ke arah kemeja Jongin yang memang belum terkancing, hingga mencetak samar otot perut Jongin yang sempurna di balik t-shirt tipis yang membungkus tubuhnya. Tanpa penolakan Jiyeon langsung mengerakkan tangannya, mengancingkan kemeja Jongin satu persatu tanpa menatap Jongin yang kini tengah menatapnya dengan lekat.

“Kenapa Oppa selalu tidak mau mengancingkan kemeja yang oppa pajongin?” kini tangan Jiyeon sudah berada di kancing baris ketiga dari atas, berada tepat di depan dada Jongin yang bidang.

“Selama ada kau yang mengerjakannya, kenapa aku harus repot-repot melakukannya,” Jiyeon mendongak tersenyum manis dengan gelengan kecil di kepalanya, tangannya kini telah beralih pada kancing kemeja nomor 2 dari atas. Itu berarti tugas gadis itu sudah selesai.

Jongin mendengus sebal saat Jiyeon mulai memundurkan tubuhnya, karena sudah tidak ada lagi kancing kemeja yang belum terpasang. Dan sungguh demi dewa Poseidon penguasa lautan, Jongin memaki dengan sumpah serapah kepada siapapun yang menciptakan, jumlah kancing kemeja yang hanya berjumlah 6 biji saja di tiap kemeja yang dikenakannya, hingga membuat pekerjaan Jiyeon selesai dengan sangat cepat.

“Jiyeon-aa, apa kau pernah menyukai seseorang?” Jongin menunduk, menatap Jiyeon yang baru saja menyelesaikan pekerjaan rutin pada kancing kemejanya.

“Tidak! Memangnya kenapa?” jawab Jiyeon seraya mengeleng pelan, gadis yang bertinggi badan hanya sebatas bahu Jongin itu pun mendongak, menatap Jongin yang sedari tadi tidak mengalihkan tatapannya pada gadis itu.

“Maksudku apa kau pernah menyukai seorang laki-laki— heemm— laki-laki di sekolah kita?”

Senyum yang biasanya terlukis rupawan di wajah Jongin, kini terlihat kaku dan aneh. Jongin sangat gugup saat ini, menanti jawaban Jiyeon yang akan bertanggung jawab untuk kelangsungan kesehatan hatinya di masa yang akan datang. Namun lagi-lagi Jiyeon hanya mengelengkan kepalanya, membuat Jongin menghembuskan nafas seraya mengacak rambut hitamnya yang terlihat semakin berantakan tak beraturan.

Jongin memejamkan matanya sesaat, memutar otak pintarnya untuk kembali bertanya pada sosok yang selalu Sehun proklamirkan sebagai pencuri hati untuk seorang Kim Jongin. Kenyataan yang selalu di sangkal habis-habisan oleh Jongin, kenyataan yang pada kenyataannya selalu membuat jantung Jongin berdebar dengan wajah yang terlihat merona.

“Apa kau pernah merasa jantungmu berdetak terlalu cepat tanpa bisa kau kendalikan, saat berada sedekat ini dengan seorang laki-laki?”

Jongin memajukan wajahnya mendekat ke arah Jiyeon hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, menatap lekat Jiyeon yang hanya mengerjabkan mata beningnya 2 kali. Terlihat biasa saja tanpa ekspresi gugup yang sudah di bayangkan Jongin sebelumnya, padahal saat ini Jongin mati matian menahan degupan jantungnya yang semakin kencang, menahan dengan semua kemampuan yang ada agar pipi coklatnya tak berubah warna menjadi merah muda.

Namun tepat di detik ke 5 Jongin dengan cepat menjauhkan wajahnya, senyum kecut sarat kecewa pun sudah terpasang di wajah Jongin yang terlihat gusar, karena sekarang Jiyeon kembali melakukan gerakan yang paling di benci Jongin sejak tadi. Gadis cantik itu kembali mengelengkan kepalanya.

Ah! Sudahlah lupakan saja!” Jongin menarik kesimpulan jika usahanya untuk menaklukan hati sang pujaan hati kali ini gagal total. “Membicarakan hal picisan seperti ini denganmu benar-benar salah besar dan membosankan,” Jongin membuang nafas membungkus rasa kecewa dalam balutan tawa renyah seperti biasa, tawa yang selama ini selalu sukses membuat puluhan hati gadis cantik meleleh di buatnya.

“Hari sudah mulai gelap dan sepertinya sebentar lagi akan hujan,” Jongin menoleh memandang Jiyeon yang sedang menatap langit hitam di atas mereka.

“Iya sepertinya begitu, ayo kita pulang Oppa,” Jiyeon tersenyum mendapati Jongin yang masih setia memandanginya, membuat Jongin gugup seketika layaknya sang pencuri yang tertangkap saat sedang beraksi, ketika Jiyeon tertawa pelan seraya mengibaskan tangannya di depan wajah laki-laki itu.

Eoh! Yeah! Ayo kita pulang,” wajah Jongin berpaling dengan cepat, berjalan satu langkah di depan Jiyeon yang masih menahan tawa di belakang punggungnya.

Namun di langkah ke 5 mereka Jongin berbalik, tangan kekarnya bergerak meraih jemari Jiyeon lalu menggenggamnya dengan sangat erat, hingga membuat Jiyeon mengeryitkan dahinya karena gengaman itu sedikit menyakitinya.

Oppa ini terlalu erat,” Jiyeon bergumam, memajukan bibir semerah buah cherry miliknya dengan mimic wajah kesal yang terkesan di buat-buat. Ekspresi yang biasa ditampilkan Jiyeon, jika sedang merajuk pada kakak laki-lakinya itu.

Kekehan Jongin mengalun mengulung rasa sungkan yang tiba-tiba menyergap hati laki-laki tinggi itu, hingga genggaman tangan itu pun sedikit mengendur. Namun kali ini Jongin merangkul lengan Jiyeon seraya menarik tubuh tubuh gadis itu merapat kearahnya, Jongin pun menoleh canggung dengan memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi saat Jiyeon menatapya.

“Ibu selalu berpesan agar aku menjagamu dengan baik, jadi kau tidak boleh jauh jauh dariku, kau mengerti?”

Tanpa menunggu jawaban atau sekedar gerakan tubuh gadis itu sebagai jawaban, Jongin sudah berpaling. Menghembuskan nafas gugup sepelan mungkin dan berharap jika saat ini Jiyeon tak mendengar degupan jantungnya yang semakin bertalu talu terlalu kencang. Berjalan pelan dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas, Jongin tersenyum karena tiap kali tangan mereka bertaut, Jongin merasa hatinya berbunga, merasa jika tautan itu selalu terasa terlalu membahagiakan untuknya.

Dan setelah itu yang terdengar hanyalah suara Jongin yang menceritakan hal-hal lucu tentang kisah Poporo yang di tontonnya bersama Sehun kemarin siang, tawa kecil Jiyeon dan usapan-usapan sayang Jongin di kepala gadis cantik itu dengan tubuh yang semakin merapat.

****

YeomKwang High School

Memandangi wajah Jiyeon adalah kebiasaan Jongin akhir-akhir ini, bukan— bukan hanya akhir-akhir ini tapi kebiasaan ini sudah di mulai sejak…?? Ah! Entahlah Jongin juga tidak tahu pasti sejak kapan dia mulai menekuni kebiasaannya itu, tapi yang Jongin tahu saat ini dia sudah terjerat dalam kebiasaan memandangi Jiyeon dari jarak jauh maupun dari jarak dekat.

Kebiasaan yang selalu membuat mata Jongin berbinar senang, membuat dua sudut bibirnya tertarik ke atas hingga wajah tampan Jongin semakin terlihat menawan. Kebiasaan yang bahkan bisa membuat Jongin terbahak hingga mengangkat sebelah kakinya dan hanya menyisakan satu garis di kedua matanya, jika ekpresi Jiyeon yang sedang di pandanginya terlihat terlalu lucu untuk laki-laki itu.

Ah! Kebiasaan yang benar-benar membuat wajah Jongin selalu terbingkai senyuman indah, membuat suasana hati Jongin selalu berbunga, dengan efek samping degupan jantung yang bertalu-talu terlalu cepat dari rhitme biasa. Kebiasaan yang tak kenal kata bosan meski Jongin harus menghabiskan sisa hidupnya, hanya untuk memandangi makhluk Tuhan dengan wajah rupawan nyaris tanpa cela dan selalu Jongin anggap sebagai Malaikat Tuhan yang datang dari Surga untuk menemani hidupnya.

Kebiasaan yang di lain waktu berbeda membuat wajah Jongin terlihat serius, alis yang bertaut dan terkadang sampai memperlihatkan sedikit kerutan di dahi, saat Jongin tak mampu mengartikan ekpresi Jiyeon yang sedang di pandanginya. Kebiasaan yang terkadang membuat Jongin merasa sangat gugup setengah mati, wajah yang bersemu merah jambu, senyum gugup yang terlihat bodoh, saat Jiyeon tiba-tiba menangkap basah dirinya dengan kebiasaannya itu.

Seperti yang terjadi hari ini, mereka tengah duduk berhadapan di bangku taman yg terpisah meja kayu, di taman yang ada di belakang sekolah mereka di jam makan siang sama seperti hari-hari sebelumnya —mereka selalu makan siang bersama dengan bekal yang di buatkan ibu mereka—, Jongin kembali tertangkap mata sedang memandangi Song Jiyeon.

“Ada apa Oppa? Kenapa akhir-akhir ini oppa sering sekali memandangiku? Apa bedak di wajahku terlalu tebal?”

Mata favorit Jongin mengedip menatap dengan harapan penjelasan masuk akal yang sayangnya, tak bisa di utarakan Jongin sedikit pun. Otak laki-laki itu kosong seketika, tengelam ke dalam rasa kagum saat bolamata sebening crystal itu terus saja menatapnya.

Hey! Ayolah Jongin kau mulai terlihat berlebihan, kau bahkan memperlihatkan ekpresi wajah yang sangat bodoh saat ini. Memalukan!

Eoh! Benar sekali bedakmu terlalu tebal.” ucap Jongin dengan mata yang berkedip kedip, kebiasaan Jongin jika sedang binggung dan gugup.

Wajah Jiyeon tertekuk seketika sedikit tidak percaya dengan apa yang utarakan Jongin saat ini, panic gadis itu mengusap wajahnya asal dengan kedua tangannya. Ada rasa bersalah di hati Jongin saat Jiyeon berkali-kali bertanya tentang kadar bedak di wajahnya, tak tega saat gadis itu berkali-kali mengatakan jika di tiap paginya hanya menaburkan bedak sangat tipis di wajah putihnya.

“Apa aku harus menganti bedakku?”

Jiyeon masih sibuk mengusap wajahnya, tak menyadari jika Jongin sudah kembali memandanginya dengan lekat. Tanpa sadar tangan Jongin bergerak, menahan jemari Jiyeon yang ingin kembali mengusap wajahnya. Perlahan Jongin menyentuhkan telapak tangannya di pipi Jiyeon, mengantarkan rasa hangat yang membuat Jiyeon terdiam sesaat. Ini pertama kalinya Jongin menyentuh pipi gadis itu.

“Sudah cukup! Aku hanya bercanda.”

Tangan hangat Jongin tertahan, terlalu enggan untuk di tarik dari sesuatu yang sudah lama sekali ingin di sentuh Jongin, membiarkan jantungnya berdetak saat cepat saat bibir semerah Cherry milik Jiyeon mengerucut, tanda gadis itu sedang kesal pada kakak laki-lakinya itu. Ekpresi yang entah mengapa akhir-akhir ini selalu membuat Jongin merasa ingin—-

“Berhenti berekpresi bodoh seperti itu Jiyeon!” ucap Jongin dengan wajah yang di buat dingin.

Bukannya takut Jiyeon justru tertawa, tangan gadis itu bergerak untuk menarik jemari Jongin yang masih betah berada di pipinya. Mengenggamnya erat di atas meja dengan tetap tertawa, gadis itu benar-benar tidak sadar jika tindakannya mengenggam tangan Jongin, telah membuat laki-laki tinggi itu merasakan panas di pipi coklatnya yang kini samar-samar berubah warna.

“Berhenti menertawaiku dan cepat habiskan makan siangmu.”

Mengalihkan pandangan ke kotak bekal adalah pilihan yang tepat saat ini, Jongin benar-benar tidak ingin dia tak bisa menahan diri dan melakukan hal-hal yang menyakiti Jiyeon, jika tetap memandangi Jiyeon dengan ekpresi yang sungguh lagi-lagi membuat Jongin merasa ingin—-

Namun seketika wajah Jongin menegang dengan mata yang membulat tanpa kedipan, saat Jiyeon tiba-tiba menyentuhkan ibu jarinya di pinggiran bibir Jongin.

Oppa seperti anak kecil, bagaimana mungkin Oppa meninggalkan saus di ujung bibir,” dengan cepat Jongin menepis tangan Jiyeon, membuat gadis itu terdiam dalam keterkejutan.

“Jangan menyentuhku! Aku bisa mengurus diriku sendiri!”

Sungguh Jongin mengutuk dirinya sendiri saat tawa renyah Jiyeon hilang dalam sekejap, berganti dengan ekpresi takut yang dulu sering kali terlihat di wajah gadis itu. Ekpresi yang sejak dulu selalu Jiyeon perlihatkan, saat Jongin berucap dengan nada dingin tak bersahabat lengkap dengan tatapan tak suka yang tajam. Jongin tidak bermaksud menyakiti Jiyeon, Jongin hanya tidak ingin jika rasa yang tidak seharusnya hadir di hatinya akhir-akhir ini, semakin bertambah jika dia membiarkan Jiyeon menyentuhnya.

Jiyeon mengangguk pelan kembali menatap ke kotak bekal yang dia letakkan di samping tubuhnya, melahap roti isi dengan banyak keju di dalamnya yang baru dia gigit 3 kali. Tak ada kata-kata yang keluar di antara mereka hingga Jiyeon menyelesaikan makan siangnya, mereka kembali ke keadaan yang memang seharusnya tercipta di antara mereka sejak dulu, dingin, kaku tanpa tawa yang mengeringi, tanpa rasa yang tidak seharusnya hadir di antara mereka.

****

Jiyeon’s Class

Jiyeon meletakkan kepalanya di atas meja, mengerjab seraya kembali berpikir tentang perubahan sikap kakak laki-lakinya akhir-akhir ini. Perubahan sikap yang tak terbaca dan cenderung berubah ubah, terkadang terlalu manis namun di lain waktu kembali bersikap seperti biasanya, dingin dan tak tersentuh.

Sejak dulu Jiyeon tahu jika Jongin —kakak laki-lakinya— tidak menyukainya sama sekali, selalu bersikap dingin dan selalu memarahinya. Berkata kasar yang terkadang menyakiti hati gadis itu, namun Jiyeon bukan tipe gadis yang akan membenci orang-orang yang telah memberikan arti sebuah keluarga untuknya, untuk seorang gadis yatim piatu sejak kedua orang tua Jiyeon tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat saat gadis itu baru berusia 5 tahun. Apa lagi benci dengan kakaknya sendiri, sungguh itu mustahil untuk Jiyeon lakukan. Karena sejak Jiyeon masuk ke dalam keluarga Kim, gadis itu sudah berjanji akan menerima apapun dan selalu melakukan apapun untuk ayah, ibu dan kakak laki-lakinya— Kim Jongin.

“Melamun lagi?”

Jiyeon hanya tersenyum mendapati wajah sahabat dekatnya tepat di depan wajahnya, ikut menyandarkan kepalanya di meja sama seperti yang di lakukan gadis itu. Laki-laki Korea keturunan China yang sudah di kenal Jiyeon sejak gadis itu bersekolah di YeomKwang High School 2 tahun silam, bermata sipit nyaris tanpa kelopak yang jika tertawa garis matanya akan ikut tertarik ke atas.

“Kenapa kau belum pulang, Xiumin?”

“Karena aku melihatmu masih di kelas, jadi aku memutuskan untuk menunda jam kepulanganku.” Jiyeon hanya tertawa pelan, merasa sangat beruntung memiliki sahabat sebaik Xiumin.

“Ceritakan padaku jika kau ada masalah Jiyeon, bukankah itu gunanya sahabat?” Mata sipit Xiumin tertarik ke atas saat laki-laki itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi kelinci yang membuat wajah laki-laki itu terlihat tampan dan lucu dalam waktu yang bersamaan.

“Aku baik-baik saja, Xiumin.” Jiyeon menegakkan kepalanya, begitu pula dengan Xiumin. “Aku hanya sedikit lelah hari ini,” Jiyeon berdalih.

“Lelah? Kau bahkan tidak ikut pelajaran olahraga, bagaimana mungkin kau lelah.” Xiumin tertawa pelan. “Sudahlah jangan berbohong padaku Jiyeon,” Jiyeon ikut tertawa pelan, mendapati dirinya yang lagi-lagi tak mampu berbohong didepan sahabatnya ini.

Ah! Kenapa kau selalu saja tahu jika aku sedang berbohong, Xiumin?”

“Karena aku adalah seorang sahabat yang terlalu mengenal mu, Jiyeon.” Senyum sombong tercetak di wajah chubby milik Xiumin, lagi-lagi laki-laki itu tertawa hingga kembali memperlihatkan gigi kelincinya yang lucu.

“Baiklah aku mengaku, aku— hanya sedang bosan, hari ini aku pulang terlambat lagi karena Jongin oppa sedang mengerjakan—“ Jiyeon terkejut saat Xiumin menarik tangannya hingga gadis itu berdiri dari posisi duduknya.

“Kita ke perpustakaan saja, bagaimana?”

****

Library

The Angle Secret

“Semakin hari Jiyeon-mu terlihat semakin cantik saja, Jongin.” dua buku yang cukup tebal tergeletak asal di atas meja tepat di hadapan Jongin, membuat Jongin sedikit terkejut seraya mengerakkan mata coklatnya untuk melirik laki-laki yang baru saja membuyarkan lamunan Jongin, tentang apa yang terjadi di taman bersama Jiyeon beberapa jam yang lalu.

Namun laki-laki berambut warna warni itu tidak menyadarinya dan tampak tidak peduli, tetap berdiri di depan rak buku yang menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit, berjejer rapi mengelilingi meja mereka hingga sulit terlihat dari luar. Bibir laki-laki itu bergerak, bergumam menyebutkan judul buku dengan bahasa yang tak di mengertinya, mengerakkan jari telunjuk untuk menelusuri deretan buku sastra Perancis yang memusingkan, guna menyelesaikan tugas dari guru sastra mereka, Kim Heechul.

“Jika saja kau belum menjatuhkan hatimu pada Jiyeon, bisa ku pastikan aku akan mengejarnya,”

Laki-laki itu kembali berucap tetap dengan posisinya, posisi membelakangi Jongin yang terlihat mulai kesal. Jongin mendengus menutup kamus bahasa prancis yang sedang di bacanya, seraya melemparkan bolpoin yang ada di genggaman tepat di kepala laki-laki berrambut warna warni itu. Laki-laki itu mengaduh seketika seraya berbalik, menatap Jongin yang terlihat tak merasa menyesal dengan apa yang baru di lakukannya. Laki-laki itu mengusap pelan kepalanya yang terasa berdenyut, lemparan Jongin selalu saja tepat sasaran.

“Ini sakit Jongin?” laki-laki itu menunjuk kepalanya, berharap Jongin akan menyesali perbuatannya, namun sayang karena Jongin terlihat hanya memiringkan bibirnya dengan bahu yang terangkat tidak peduli.

“Sayangnya aku tidak peduli dengan kepalamu, Oh Sehun. Lagipula aku tekankan sekali lagi, Jiyeon adalah adikku.”

Jongin menjawab dengan acuh, menarik satu buku tebal yang tersaji di hadapannya seraya membuka lembar halamannya satu per satu. Mengabaikan Sehun yang pada akhirnya hanya mampu mengerucutkan bibirnya, sesaat sebelum duduk di hadapan Jongin. Mereka memulai untuk menyelesaikan tugas sastra mereka.

“Kau tidak perlu malu untuk mengakui jika kau menyukai Jiyeon,” Sehun kembali menarik topic yang sempat mereka lupakan selama beberapa menit di antara kesibukan mereka, dengan bahasa yg terdengar aneh untuk telinga orang Korea, melirik Jongin yang tak bergeming dari buku tebal di depannya.

“Aku dengar Jiyeon sangat dekat dengan Xiumin dan kabarnya ada banyak siswa laki-laki yang menyukai Jiyeon, salah satunya anak pemilik sekolah kita Kim Suho dia juga menyukai adik-mu,” Sehun tetap berceloteh walau tak mendapat sahutan.

“Jiyeon gadis pintar, cantik, ramah dan mudah bergaul jadi wajar saja jika banyak laki-laki yang menyukainya. Saranku adalah,—“ Sehun mengantungkan kalimatnya, menunggu reaksi Jongin. Namun sayangnya Jongin masih terdiam, masih bertahan pada rasa malu untuk mengakui perasaannya.

“Kau harus cepat-cepat mengakui perasaanmu pada Jiyeon, hingga gadis itu tahu dan tidak jatuh cinta pada laki-laki lain.”

Jongin tak juga berreaksi, tetap focus ke deretan kalimat dari negeri Jendral Napoleon yang tidak terlalu dimengerti Jongin, berusaha mengabaikan semua fakta yang di ungkapkan sahabatnya, Oh Sehun. Walau jauh di dasar hati, Jongin mulai merasa gusar, mulai merasa cemas jika seandainya Jiyeon juga menaruh hati pada salah satu laki-laki yang di sebutkan Sehun.

“Jiyeon dan Xiumin bersahabat sejak dulu, dan bisakah kau berhenti Sehun? Ocehanmu membuatku pusing.” Akhirnya Jongin menjawab walau hanya terdengar seperti gumaman, membuat Sehun tersenyum samar saat mendapati Jongin yang sedang mati-matian menyembunyikan wajah gusarnya.

Tidak sulit bagi Sehun untuk menerka apa yang sedang Jongin sembunyikan, Sehun terlalu hafal dengan semua ekpresi Jongin. Bersahabat sejak mereka masih sama-sama berusia 5 tahun, tentu saja membuat Sehun sangat mengerti segala sesuatu tentang sahabat dekatnya ini. Tentang Kim Jongin yang sudah sangat jatuh cinta pada seorang Song Jiyeon.

“Ini Korea Sehun, saudara angkat sama saja dengan saudara kandung. Jiyeon adikku, sampai kapanpun akan tetap seperti itu.”

Sehun kembali mengaduh saat tangan Jongin melayang di atas kepalanya, memukul kepala Sehun hingga laki-laki itu hampir saja berciuman dengan meja kayu di depannya, namun lagi-lagi laki-laki itu hanya kembali terkekeh pelan dengan mata yang nyaris menghilang.

“Aku hanya tidak ingin kau menyesal, Jongin—“ ucapan Sehun terhenti seketika saat Jongin mengangkat kepalanya dengan tatapan dingin yang terlihat angker, laki-laki berwajah tampan itu pun memutuskan untuk berhenti bicara saat Jongin terlihat ingin kembali memukul kepalanya.

****

“Memangnya kau tidak bosan membaca buku yang sama-sama berulang ulang, Jiyeon?”

Jiyeon tersenyum dengan gelengan kecil di kepalanya, memamerkan sebuah novel tebal karya JK Rowling yang baru saja di tariknya dari rak buku, novel yang selalu menjadi bacaan favorit Jiyeon sejak sang ayah memberikan seri pertama dari novel kelas dunia itu, sebagai hadiah di ulang tahunnya yang ke 11.

Xiumin menyandarkan bahunya di rak buku, laki-laki itu terlihat tidak membawa buku apapun di tangannya. Xiumin lebih memilih hanya menemani Jiyeon menjelajah rak buku, dengan celotehan lucu yang sesekali membuat Jiyeon tertawa pelan di buatnya. Perpustakaan mereka terkenal memang sangat lengkap, dari semua buku pelajaran hingga novel kelas dunia ada di sini.

“Aku sangat mengagumi tulisan JK Rowling, kau tahu itu kan?”

Xiumin mengangguk seraya mengekor Jiyeon yang berjalan menuju bangku baca, duduk di samping gadis itu dengan bersandar nyaman di sandaran bangku. Sesekali Xiumin mendekatkan tubuhnya, ikut membaca novel tentang dunia sihir itu bersama Jiyeon. Tak jarang Xiumin bertanya tentang siapa yang ada di dalam novel tersebut, laki-laki yang tidak begitu suka dengan novel favorit Jiyeon itu pun terlihat hanya mengangguk tanpa mengerti, saat Jiyeon menjelaskan isi cerita dari novel yang di bacanya.

Ah! Sepertinya aku harus mencari buku bacaanku sendiri, Harry Potter benar-benar membuat ku pusing sejak dulu,”

Jiyeon tertawa seketika gadis itu mengeleng saat Xiumin terlihat menertawakan dirinya sendiri, yang sejak dulu tak juga merasa minat dengan novel favoritnya. Di jam pulang sekolah seperti ini tak banyak murid yang datang ke perpustakaan, membuat Jiyeon dan Xiumin bebas tertawa sedari tadi. Dalam sekejab Xiumin sudah beranjak dan menghilang di balik rak buku yang tinggi, meninggalkan Jiyeon yang kembali larut dalam buku bacaannya seorang diri.

Tak sampai 1 jam Jiyeon sudah menyelesaikan bacaan yang berjumlah 636 halaman dalam versi Inggris, The Goblet of Fire seri ke 4 dari kisah petualangan Harry Potter di dunia sihir. Jiyeon menghembuskan nafasnya saat membaca pesan singkat Xiumin di handphone layar sentuh miliknya, laki-laki itu kini tengah sibuk bermain game di sudut perpustakaan bersama Chen, salah satu teman sekelas mereka yang juga keturunan China.

Jiyeon pun terlihat bangkit dari duduknya, menyilangkan tas selempangnya di atas bahu dan bermaksud untuk mengembalikan buku yang sudah di bacanya. Namun satu tepukan pelan di pundak gadis itu membuatnya terlonjak, seraya berbalik dan mendapati seorang laki-laki dengan senyum hangat sudah berdiri di depannya.

“Suho-ssi,”

****

Jongin dan Sehun memutuskan untuk berhenti setelah 2 jam berkutat dengan tugas sastra yang benar-benar membuat mereka berdua hampir berteriak frustasi, rambut Jongin terlihat acak acakkan dengan seragam yang kusut seraya menarik malas tas punggungnya di salah satu tangannya hingga hampir menyentuh lantai. Bahkan jas sekolahnya kini sudah bertengger rapi di salah satu pundak Jongin yang bidang, tak berbeda jauh dengan Sehun laki-laki itu juga terlihat sangat kacau.

Mereka berjalan lunglai menuju pintu perpustakaan, menelusuri jejeran rak buku yang tertata rapi dengan deretan buku super lengkap untuk menunjang jendela wawasan bagi semua siswa siswi YeomKwang High School. Namun tiba-tiba langkah Jongin terhenti saat matanya tak sengaja menatap siluet dari seseorang yang sangat di kenalnya, Jongin pun memundurkan tubuhnya dengan cepat seraya menjatuhkan jas sekolah dan tas punggunya di lantai begitu saja, membuat Sehun menoleh dengan tatapan binggung.

Hey! Apa yang kau lakukan, Jongin?”

Jongin tidak menjawab laki-laki itu terlihat berjalan cepat ke balik rak buku tanpa memperdulikan panggilan Sehun di belakangnya.

****

Jiyeon tertawa pelan dengan jari yang masih berada di atas rak, menarik perlahan seri ke 5 dari novel yang di bacanya barusan. Gadis cantik itu berkali-kali terlihat tertawa dengan semua ocehan Suho yang berdiri di sampingnya, menceritakan tentang kucing berbulu abu-abu peliharaannya di rumah. Satu fakta yang sejak dulu tak pernah berubah, Jiyeon selalu merasa nyaman dan bisa tertawa lepas jika sedang berada di dekat Suho.

Di dekat laki-laki yang selalu bersikap sangat manis pada dirinya, di dekat laki-laki yang telah menaruh hati padanya sejak beberapa bulan yang lalu, fakta yang baru di ketahui Jiyeon dari Xiumin. Tak jarang Suho juga mendapati Jiyeon yang sedang menangis, karena Jongin di taman belakang sekolah mereka.

Walau nyatanya Jiyeon tak pernah menceritakan masalahnya dengan Jongin pada Suho, gadis itu hanya mengizinkan Suho menghiburnya tanpa pernah memberi cela untuk laki-laki itu masuk ke dalam dunianya. Karena untuk saat ini Jiyeon merasa belum bisa jatuh cinta pada Suho dan memberikan harapan pada laki-laki sebaik Suho tentu bukan pilihan yang tepat.

“Kau harus datang ke rumah ku, untuk melihat langsung kenakalan yang di lakukan Gray padaku Jiyeon.”

Jiyeon mengangguk seraya mengedipkan matanya, gadis itu merasa tiba-tiba ada sesuatu yang masuk ke dalam matanya. Perih Jiyeon kembali mengerjab, mengusap matanya yang mulai berair membuat Suho terlihat panic.

Gwenchanayo?”

“Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke dalam mataku,” ucap Jiyeon seraya berusaha membuka matanya.

“Coba aku lihat.” Suho mendekatkan wajahnya, menatap mata Jiyeon yang mulai memerah dan baru saja Suho hendak meniup mata Jiyeon tiba-tiba, Suho merasa ada yang menarik bahunya hingga laki-laki itu berbalik dan—-

BUUKK!!!—

 

Dalam sekejab Suho tersungkur di lantai perpustakaan dengan teriakkan tertahan Jiyeon di belakangnya, Jiyeon terkejut menatap seorang laki-laki tinggi dengan wajah marah dan tatapan dingin kini sudah berdiri di depannya.

“Oppa,—“

Laki-laki itu tak mengubris panggilan Jiyeon yang terlihat panic, gadis itu bahkan sudah menjatuhkan buku tebal yang ada di tangannya. Laki-laki itu menatap dengan rahang mengeras ke arah Suho yang sudah berdiri seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Pukulan laki-laki tinggi di depan Suho itu memang cukup keras, Suho sangat yakin jika besok jejak lebam akan terlukis di wajahnya.

“Apa yang ingin kau lakukan pada adikku, Hah!!!” laki-laki itu berteriak kembali ingin melayangkan pukulannya, saat Suho hanya tersenyum dingin tanpa niat untuk menjawab.

“Jongin oppa,“ Jiyeon menahan lengan laki-laki itu dengan panic, menatap menyesal ke arah Suho yang masih diam dengan tatapan dinginnya.

“Jangan pernah berpikir untuk menyentuh Jiyeon apa lagi untuk menyakitinya, kau mengerti?” telunjuk laki-laki itu tertuju ke depan wajah Suho, menahan deru emosi yang membuat Jiyeon pucat pasi.

Oppa kau salah, Suho hanya,—“ Jiyeon terdiam seketika saat Jongin menoleh dengan bentakan keras di belakangnya, Jiyeon bahkan meneteskan airmatanya karena rasa takut saat Jongin menatapnya dengan tajam.

“DIAM KAU!!!”

Jongin meraih pergelangan tangan Jiyeon, tanpa kata laki-laki itu menarik Jiyeon untuk mengikuti langkah cepatnya meninggalkan Suho yang terdiam di belakang sana.

Jongin menarik Jiyeon dengan cepat, menyambar jas dan tas punggunya di lantai. Mengabaikan teriakkan tertahan Jiyeon saat beberapa kali kaki gadis itu, tersandung kursi atau meja yang ada di perpustakaan. Bahkan berkali kali Jiyeon terlihat hampir terjatuh karena tarikan Jongin yang sangat kuat, berusaha mengimbangi langkah panjang Jongin yang tidak mengendur sedikit pun. Jongin bahkan mengabaikan Sehun yang terlihat binggung, saat Jongin melewati laki-laki itu keluar dari perpustakaan.

****

Kim’s House

Jiyeon’s Room – 09.00 pm

Jiyeon duduk bersandar di pinggiran jendela kamar yang di biarkan terbuka, membiarkan tubuhnya menggigil saat sapuan angin malam menyambutnya, menelusup masuk dari balik baju tidur biru muda dengan motif bunga Canola kecil yang di kenakan Jiyeon, hingga menembus ke dalam tulang.

“Suho hanya ingin melihat mataku oppa, karena ada sesuatu yang masuk ke dalam mataku, dia hanya ingin membantuku, dia—“

“DIAM!!!”

“Oppa,—“

“Aku hanya ingin melindungimu dari laki-laki playboy itu Jiyeon, kau lupa jika aku selalu harus menjagamu demi ibu?”

 “Tapi Oppa salah paham, Suho—“

“Menjauh darinya! Aku hanya mengizinkanmu berteman dekat dengan Xiumin tidak dengan yang lain, kau mengerti?”

“Oppa,—“

“JANGAN MEMBANTAH KU, JIYEON ARRA!!!”

Jiyeon mendesah pelan tangan gadis itu semakin memeluk erat kedua kakinya yang tertekuk, memejamkan matanya seraya kembali berpikir tentang reaksi Jongin yang menurut gadis itu terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin Jongin langsung menghajar Suho tanpa alasan yang jelas, padahal sejak dulu Jongin tak pernah peduli dengan apa yang di lakukan Jiyeon. Tidak akan pernah peduli!

Tapi sekarang?

Jiyeon menolehkan kepalanya saat pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok tinggi Jongin di ambang pintu.

“Oppa,—“

Jongin hanya diam seraya berjalan mendekat, di tangan laki-laki itu terdapat selimut tebal berwarna biru. Tanpa kata Jongin membentangkan selimut biru sesaat sebelum melilitkannya di bahu Jiyeon, menarik jendela hingga nyaris tertutup dan hanya menyisakan sedikit cela untuk angin malam bisa menerobos masuk.

“Sudah tahu tidak tahan udara dingin, tapi kau membiarkan jendela terbuka selebar ini.”

Jongin berucap dengan suara lembutnya, mendudukkan tubuh tingginya tepat di samping Jiyeon, bahkan hingga bahu mereka bersentuhan. Jongin menoleh menatap Jiyeon yang menatapnya dengan takut, perlahan Jongin pun tersenyum hangat seraya mengerakkan tangannya untuk mengusap kepala Jiyeon dengan sayang.

“Aku tahu pasti jika kau akan duduk di pinggir jendela sambil menahan tangis tiap kali aku selesai memarahimu,” Jiyeon mengerjab merasa terkejut dengan fakta jika Jongin mengetahui kebiasaannya. “Mengenalmu selama 6 tahun terakhir ini, cukup bagiku untuk hafal dengan semua kebiasaanmu.” Jongin sedikit terkekeh.

Jiyeon menunduk merasa binggung untuk berucap walau hanya satu kalimat, merasa masih terbawa suasana risau karena kejadian di perpustakaan. Namun sesaat kemudian Jiyeon sudah membulatkan matanya, menatap khawatir ke arah lebam yang ada di punggung tangan kanan Jongin.

Oppa tangan mu,” Jiyeon meraih tangan Jongin ke dalam pangkuannya, menatap khawatir ke arah Jongin yang justru hanya tertawa.

“Aku sudah mengoleskan obat anti memar, kau lupa jika aku sudah terlalu sering mengalami lebam?”

Jiyeon hanya mengangguk samar, gadis itu masih sangat ingat jika Jongin terkadang memang suka terlibat perkelahian dengan teman-temannya yang tidak bisa menerima kekelahan, dalam pertandingan basket dari tim basket Jongin yang selalu menang hampir di tiap pertandingan. Hingga Jongin kerap kali mendapat omelan dari sang ibu saat mendapati luka lebam di tubuhnya, tak jarang laki-laki itu juga mendapatkan skorsing dari pihak sekolah.

Oppa,—“ Jiyeon mendongak menatap Jongin dengan ragu. “Suho benar-benar tidak menyakitiku dia hanya ingin membantuku, itu saja.” tatapan hangat Jongin berubah dingin seketika, laki-laki itu menatap Jiyeon dengan tajam seraya menjauhkan tubuhnya.

“Apa kau tidak mengerti juga? Jauhi dia Jiyeon, dia—“

“Dia tidak seperti yang Oppa pikirkan, lagipula kami hanya berteman.”

“Bertemanlah dengan yang lain, tidak dengan Suho. Dia bukan laki-laki yang baik, dia pasti akan menyakitimu cepat atau lambat,”

Oppa,—“

“Cukup!”

Jongin bangkit dari duduknya, rahang laki-laki itu terlihat mengeras saat mulai melangkah menuju pintu kamar Jiyeon. Namun sesaat kemudian Jongin menghentikan langkahnya, menatap sekilas ke arah Jiyeon yang masih terduduk di tempatnya. Berucap dengan dingin sebaris kalimat yang membuat Jiyeon membeku di tempatnya.

“Aku tidak akan membiarkan laki-laki lain menyakiti mu, karena hanya aku yang berhak untuk menyakiti mu dan membuat mu terluka, Song Jiyeon.”

~ TBC ~

Part 1 waktu itu pernah Saiiya kirim ke sini tapi abis itu saiiya lupa kirim part yg selanjutnya, jadi saya kirim ulang lagi dech setelah beberapa scene dan alur cerita Saiiya ubah dari versi aslinya, soalnya ada beberapa fakta, adegan, dan kalimat yang janggal.

Kritik dan sarannya ya, Enjoy^^

Iklan

17 pemikiran pada “Forbidden Feeling (Chapter 1)

  1. kak ririn ini cerita apa knp bikin baper giniTT jongin falling in love sama adek sendiri. knp dunia begitu rumit gini pleaseee. ini endingnya ntar gimana sad ending ya tebakan gue ah jgn dong kesian jongin gabisa forever together sama song jiyeon huhu(terserah authornya lah) yodah ini gue mo ikutin alurnya aja kan gue fans kak ririn yeee

  2. huaaaaaaa..daebaakkkkk,.kakkkk..
    ..aq baruu baca ff inii,.lebih tepatnya baruu nemu setelahh baca ff yg the night mistake..aq lanjut baca ff inii tp bukan di blog pribadimu kak,.
    sumfeehhh demii apaaa..baru chap 1 tapii udaaa bikiiinnn akuu gemess bacanyaa..ughh. feell aku lngsung dapettt..
    sii kkamjonggg..serba salah eohh..?? tp aq kagett sama perkataan dia dii akhir ituu kak,.
    dia kok ngmngnya gitu sihh..??? sadar engga tu orang..??
    ihhhh..bikin nyesekk + baperr bawaannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s