Forbidden Feeling (Chapter 2)

Poster Kai 1

Forbidden Feeling – Part 2

By Ririn Setyo

Kim Jongin | Oh Sehun | Park Chanyeol | Song Jiyeon.

Other : Xiumin | Kim Suho | Huang Zitao

Romance ( PG – 15 )

NB : Beberapa Scene dan jalan cerita sudah diubah dan disempurnakan dari versi asli yang Publish di Blog pribadi Saiiya http://www.ririnsetyo.wordpress.com

_

_

_

 

6 Year’s Ago

Kim’s House – 03.00 pm

First Time

“Aku tidak mau punya saudara angkat!”

Suara keras Jongin kembali terdengar, menatap sinis pada seorang gadis berumur 10 tahun yang berdiri membeku di samping Kim Minji —Ibunda Jongin— tak berani untuk menatap Jongin sedikit pun. Tangan gadis itu terlihat bergetar, menggenggam erat ujung dress biru muda polos selutut yang di kenakannya. Air muka gadis itu terlihat sangat takut hingga tanpa di sadari, kini setengah tubuhnya sudah bersembunyi di balik lengan Minji.

“Berhenti berteriak Jongin-aa kau membuat adik-mu ketakutan,”

Tangan hangat Minji memeluk bahu gadis kecil yang mulai terisak saat Jongin kembali berteriak, tangan bergetarnya memeluk pinggang Minji seraya menyembunyikan air mata ketakutannya di tubuh Minji yang masih sibuk berusaha menenangkan gadis kecil itu dengan usapan lembut di bagian kepala.

“Dia bukan adikku, Ibu!”

“KIM JONGIN!!”

Sang ayah Kim Jonghyun berdiri di samping Minji ikut berteriak, merasa jika sikap Jongin terlalu kekanakan walau nyatanya Jongin memang masih bisa di sebut anak-anak di usianya yang baru menginjak angka 12 tahun.

Mata dingin Jongin menatap Jonghyun dengan tidak percaya, sang ayah yang sangat di hormatinya berteriak padanya untuk pertama kali, hanya demi orang asing yang di bawa orang tuanya hari ini. Orang asing yang di bawa dari sebuah panti asuhan, untuk di jadikan saudara angkat yang sejak awal di tentang Jongin.

“Ayah membentakku hanya karena dia? Aku tidak butuh saudara angkat Ayah yang aku butuhkan kalian! Kalian berada di rumah menemaniku, bukan hanya sibuk bekerja hingga meninggalkanku berminggu minggu. Aku bahkan lupa bagaimana caranya merindukan kehadiran Ayah dan Ibu, jadi bisakah Ayah dan Ibu mengerti perasaanku selama ini?”

Tak tahan Jongin mengungkapkan semua rasa tentang kedua orang tuanya, selama ini Jongin hanya ingin orang tuanya bukan orang asing yang di paksa untuk menemaninya. Orang tua yang terlalu sibuk bekerja sebagai pengusaha dan Jongin selalu beranggapan jika mereka melupakan kehadirannya di dunia ini.

“Kami bekerja untukmu, Jongin.”

Jongin diam dengan masih menatap objek yang menjadi alasannya beradu pendapat pada orang tuanya, orang tua yang di rindukannya setelah 2 minggu menjalani perjalanan bisnis ke Miami. Seharusnya Jongin sangat senang hari ini, seharusnya Jongin menjabarkan semua cerita masa remaja yang sudah di siapkannya pada sang ayah. Bermanja manja dengan sang ibu yang akan membuatkan kudapan kesukaannya, di sela-sela Jongin merenggek untuk meminta sang ibu tetap tinggal di rumah hingga hari Thanksgiving minggu depan.

Tapi kini semua berantakan karena sosok yang tak di inginkan, semua tak berjalan sesuai rencana hanya karena dia. Gadis yatim piatu yang mulai detik ini akan tinggal bersama Jongin di rumah, berpredikat sebagai adik angkat yang tak kan pernah bisa Jongin bantah. Dia gadis kecil berambut hitam sebahu, bermata sebening crystal dan berumur 2 tahun lebih muda dari Jongin, gadis itu bernama Jiyeon, Song Jiyeon.

“Sampai kapan pun aku akan tetap membencinya dan tidak akan pernah menyukainya, apalagi menganggapnya sebagai adik-ku, TIDAK AKAN PERNAH!!!”

****

Now

Jongin’s Room

Morning

Tangan mungil Jiyeon terus bergerak merapikan buku buku pelajaran Jongin untuk selanjutnya di jejalkan ke dalam tas punggung laki-laki itu, mengecek sekali lagi jika semua yang di butuhkan Jongin hari ini tidak ada yang tertinggal hingga Jiyeon terhindar dari amukan Jongin yang mengerikan. Mata bening Jiyeon melirik Jongin, berdiri di depan kaca besar tepat di depan ranjang untuk bersiap dengan seragam sekolahnya. Rambut hitam Jongin terlihat masih berantakan, kemeja sekolahnya juga belum terkancing dan itu berarti tugas rutin Jiyeon di pagi hari jauh dari kata selesai.

Tiap pagi Jiyeon bagaikan seorang pelayan raja yang menyiapkan semua keperluan dan penampilan, dari seorang laki-laki dingin tanpa perasaan yang hobi memerintah. Tugas yang sudah menjadi keharusan untuk Jiyeon patuhi sejak 6 tahun yang lalu, sejak gadis itu mendapat predikat sebagai adik angkat untuk seorang, Kim Jongin.

“Jangan lamban Jiyeon, cepat rapikan penampilanku,”

Perintah dingin Jongin kembali menguar, serta merta Jiyeon beranjak dari meja belajar Jongin untuk beralih pada sosok si pemberi perintah dengan anggukan mengerti yang terlihat takut. Tangan Jiyeon bergerak mengancingkan kemeja Jongin sesaat setelah gadis itu berdiri di depan sosok Jongin yang menjulang, lalu memasangkan kemeja sekolah di bahu Jongin yang bidang.

“Apa Oppa sudah menyelesaikan tugas Kimia kemarin?“ tanya Jiyeon dengan menelusuri kemeja Jongin —memastikan jika tidak ada bagian yang terlipat atau kusut— sentuhan yang justru membuat Jongin menahan napasnya.

“Baru sebagian,”

Jawaban yang serta merta membuat Jiyeon mendonggak dengan helaan napas putus asa, menatap Jongin yang hanya mengangkat bahu tidak peduli sebelum berjalan menuju tas punggung yang tergeletak rapi di atas meja. Jiyeon mengikuti Jongin karena tugas gadis itu belum selesai, dia masih harus merapikan rambut Jongin yang kini telah duduk di tepi ranjang dan menyelesaikan tugas Kimia laki-laki itu.

Ya Jongin selalu memanfaatkan otak jenius Jiyeon untuk menyelesaikan tugas tugas sekolahnya, hingga nilai sekolahnya selalu terlihat sempurna. Jiyeon memang sangat pintar di bidang akademik, gadis itu bahkan bisa menyelesaikan sekolah 2 tahun lebih cepat dari usia yang seharusnya. Jiyeon baru berusia 16 tahun di tingkat akhir high school.

“Mungkin tinggal 10 dari 12 soal yang harus di selesaikan,”

Jawaban acuh Jongin di sela-sela jemari Jiyeon merapikan rambutnya, laki-laki itu melirik Jiyeon yang hanya mengangguk dengan senyum tertahan. Menatap wajah serius Jiyeon dengan semua tugas rutinnya di pagi hari, tanpa pernah gadis itu menyadarinya. Dan entah sejak kapan Jongin selalu menyujongin pagi di tiap harinya, berharap jika pagi hari akan selalu datang lebih cepat hingga dia kembali bisa merasakan sentuhan lembut Jiyeon di rambut dan tubuhnya.

Walaupun untuk mendapatkan semua itu Jongin harus menerima konsekuensi jantungnya bertingkah polah berlebih tanpa bisa dia kendalikan, Jongin harus berusaha sekuat tenaga menahan napas gugup tiap kali gadis itu menatapnya atau menyentuh tubuhnya. Jongin bahkan merasa jika jantungnya lupa untuk berdetak saat Jiyeon mengusap rambutnya dengan sentuhan lembut yang mengetarkan jiwa.

“Baiklah akan aku selesaikan selama perjalanan menuju sekolah,” Jiyeon menunduk menatap wajah Jongin lekat, memastikan jika penampilan laki-laki tampan itu sudah terlihat sempurna.

Jongin mengangguk kecil seraya bangkit berdiri dan segera berlalu keluar dari kamar, menghindar dari tatapan Jiyeon yang semakin menyempitkan paru-paru hingga Jongin merasa sesak. Mengabaikan semua yang terjadi di belakang punggungnya dengan melangkah semakin terburu, mengabaikan kejadian di mana Jiyeon terlihat kesusahan dengan semua beban di tangannya —tas punggung Jongin dan tas punggung miliknya— guna menyelamatkan jantungnya yang kian tak bersabahat dalam berdetak jika sudah berada terlalu dekat dengan Song Jiyeon.

Ah! Jongin pun semakin yakin jika Jiyeon mungkin seorang Mutan dengan keahlian merusak jantung manusia. Namun demi dewa Zeus penguasa langit Yunani Jongin menyujonginnya, benar-benar menyujongin semua reaksi mendebarkan tubuhnya terhadap seorang Song Jiyeon.

****

YeomKwang High School

Oppa, semua soal sudah aku selesaikan,” Jiyeon mengulurkan tas Jongin yang super berat itu sesaat setelah mereka baru saja turun dari mobil, membagi kotak bekal makan siang pada Jongin yang menyandarkan tubuh tingginya di pintu mobil.

Kotak bekal makan siang yang di siapkan ibu mereka, ya sejak 5 tahun yang lalu ibu Jongin memutuskan untuk menetap di rumah demi Jiyeon yang mempunyai kelainan fisik di tubuhnya hingga sang ibu merasa perlu untuk menjaga Jiyeon dengan ekstra. Kenyataan yang juga mengharuskan Jongin selalu berada di dekat Jiyeon untuk selalu menjaga gadis itu, kenyataan yang dulu di benci Jongin namun sekarang sangat di sukainya.

Song Jiyeon mengidap alergi aneh sejak dia berusia 1 tahun, alergi aneh dengan efek samping pada jantungnya yang bereaksi lebih cepat menyempit jika gadis itu berlari lebih dari 10 menit ataupun berada di suhu yang terlalu dingin. Alergi di 5 tahun yang lalu hampir membuat nyawa Jiyeon melayang karena sebuah kesalahan, kesalahan menakutkan yang selalu menjadi mimpi buruk untuk seorang Kim Jongin. Dia Song Jiyeon, alergi dengan air hujan.

“Kau saja yang membawa kotak bekalku dan aku akan menunggumu di taman belakang seperti biasa,”

Jongin menegakkan tubuhnya, meletakkan tali tas punggung di pundak kirinya, berjalan pelan menuju gedung sekolah yang menjulang di depan mereka. Namun baru 5 langkah Jongin terlihat berhenti, saat menyadari jika Jiyeon tak berada di sampingnya.

Jongin menoleh mendapati Jiyeon yang terlihat masih sibuk memasukkan kotak bekal ke dalam tas, membuat laki-laki itu tersenyum seraya berjalan mendekat. Namun senyum Jongin pudar seketika saat di kejauhan Jongin melihat sosok Suho yang di bencinya baru saja turun dari mobil hitamnya yang mewah, membuat kepalan tangan Jongin mengeras dan dengan segera Jongin meraih jemari Jiyeon hingga gadis itu terkejut.

Oppa,“

Tak ada jawaban dari Jongin laki-laki itu hanya menarik Jiyeon untuk mengikuti langkahnya, mengabaikan Jiyeon yang nyaris terjatuh karena tak siap dengan tarikan Jongin yang tiba-tiba.

“Masuk ke dalam kelasmu dan ingat jangan pernah menemui Kim Suho apapun alasannya, kau mengerti?”

Anggukan tanpa bantahan menjawab ultimatum Jongin barusan, Jiyeon benar-benar tidak berani bertanya apa alasannya pada Jongin, gadis itu lebih memilih untuk berlalu masuk ke dalam kelas sesuai dengan apa yang Jongin perintahkan.

****

Jongin’s Class

“Aku dengar kemarin kau berkelahi dengan Suho, benar begitu?”

Hempasan tubuh laki-laki tinggi dengan snack kentang berbumbu pedas di tangannya sedikit menimbulkan suara dencitan, membuat bangku yang di duduki Jongin bergeser. Serta merta Jongin menoleh, mendapati cengiran menyebalkan dari laki-laki yang sudah di kenalnya selama dia menjadi siswa di YeomKwang High School 3 tahun silam.

“Seisi sekolah tahu jika kemarin kau membuat wajah mulus Suho lebam kebiruan, dengan luka sobek di bagian bibir. Ini benar-benar berita hebat teman.“ satu tepukan bangga di berikan laki-laki itu di pundak Jongin, membuat Jongin mendelik dengan tatapan dingin yang sayangnya tak di hiraukan oleh laki-laki itu. “Apa kau melakukan adegan keren itu karena dia mendekati Jiyeon?”

Laki-laki bermata bulat itu menyodorkan snack kentang pada Jongin yang tidak bereaksi, kembali menarik snack ke arah dirinya saat Jongin hanya memberikan tatapan datar tak minat yang menjadi ciri khasnya.

Gosib tentang kejadian di perpustakaan memang sudah tersebar di seantero sekolah, Jongin bahkan sudah mendapat panggilan dari guru tata kerama sekolah untuk membahas masalah ini, panggilan yang di abaikan Jongin karena laki-laki itu tahu pasti dia hanya akan di jadikan objek bersalah tanpa bisa membela diri dalam masalah ini. Selalu seperti itu jika sudah berurusan dengan seorang Kim Suho.

“Sepertinya dia tidak main-main dengan ucapannya untuk mendekati adik-mu Jongin, dia benar-benar ingin membalas kekalahannya dengan cara melukai kelemahan mu,”

“Jiyeon bukan kelemahanku, dia adalah sumber kekuatanku. Aku bisa melakukan apapun jika sudah menyangkut tentangnya, Park Chanyeol.”

Chanyeol mengangguk mengerti, kembali memasukkan banyak snack ke mulutnya hingga pipinya mengembung seperti ikan koki peliharaan Sehun di rumahnya. Kebiasaan buruk Chanyeol yang membuat Jongin merasa mual, kebiasan memasukkan semua makanan ke dalam mulut hingga terisi penuh dan Chanyeol selalu akan tersedak dengan kebiasaan abnormal-nya itu. Chanyeol memang sangat aneh dalam segala bidang.

Jongin menatap tak peduli saat Chanyeol akhirnya tersedak, wajahnya merah padam dengan mata yang berair. Laki-laki itu memberi perintah tanpa suara untuk meminta air mineral, kepada siapa saja yang ada di dalam kelas yang masih merasa peduli padanya. Hingga Sehun datang tergopoh dari arah pintu dengan segelas kopi panas di tangannya, berjalan terburu ke arah Jongin dan Chanyeol berada.

“Jongin dia ingin bertemu denganmu setelah jam sekolah usai,”

Kopi panas tergeletak di atas meja, dengan sigap Chanyeol menyambarnya dan berharap bisa membantu masalah yang tengah di hadapi laki-laki itu. Namun sayang karena selang 1 detik masalah lain pun muncul, Chanyeol menjerit tertahan saat lidahnya terasa terbakar karena kopi panas Sehun. Chanyeol pun segera berlari pontang panting untuk mencari air dingin, meninggalkan kerutan kebingungan di dahi Sehun dengan apa yang dilakukan Chanyeol barusan.

“Tidak usah di pikirkan, dia tidak akan mati hanya karena kopi panas,” ucap Jongin saat Sehun menatapnya dengan tatapan butuh penjelasan.

“Tadi kau bilang apa, Sehun?” Sehun mengalihkan pandangannya dari Chanyeol yang sudah menghilang di balik pintu, kembali menatap Jongin dengan pembahasan masalah yang belum mendapat jawaban.

“Suho ingin bertemu denganmu, sepertinya dia ingin kembali membahas masalah di perpustakaan kemarin.”

Jongin menyeringai tak beranjak dari posisi duduknya walau hanya sekejab, laki-laki itu kembali teringat percakapannya dengan Suho beberapa bulan yang lalu, percakapan yang memicu kejadian di perpustakaan.

****

A Few Month’s Earlier

After The Match Basketball

“Seumur hidup aku tidak pernah kalah dari siapapun, Kim Jongin! Sekarang aku harus kalah dari laki-laki brengsek seperti mu? Cih! Itu bukanlah gayaku,”

Suho menyeringai menatap Jongin yang berdiri sombong di depannya, hari ini tim basket yang di pimpin Suho harus menerima kekalahan dari tim basket yang di pimpin Jongin. Kekalahan yang telah menelan harga diri seorang Kim Suho, anak laki-laki dari pemilik sekolah yang terkenal tak terkalahkan —lebih tepatnya tak pernah ada yang berani mengalahkannya— namun kali ini berbeda, Jongin si berandal penguasa sekolah tak merasa gentar sedikit pun dengan reputasi Suho.

“Sebenarnya kau tidak ingin kalah dariku dari permainan basket atau ada alasan yang lainnya, Kim Suho?” Senyum miring tercetak di wajah dingin Jongin, tatapan merendahkan sekali lagi di layangkan Jongin untuk semakin mengintimidasi sosok Suho yang hanya sebahunya itu.

Brengsek kau Kim Jongin!” Suho mulai geram. “Kau sudah terlalu banyak merebut apa yang selama ini menjadi milikku. Kau merebut Eunji dariku, kau mengalahkanku di audisi menari hingga kau yang mendapatkan peran utama di acara musical bulanan sekolah, dan sekarang kau mempermalukan aku di pertandingan basket. Aku tidak akan memaafkan semua ini.”

“Aku tidak pernah merebut Eunji darimu, ingatlah kalau gadis itu yang mengejar ku Suho bukan aku. Aku hanya berusaha lebih baik darimu di audisi menari dan aku rasa— kau terlalu lemah di pertandingan hari ini hingga aku dapat dengan mudah mengalahkan semua kesombongan mu, tuan muda Kim Suho,”

Kepalan tangan terbentuk seiring amarah Suho yang mulai naik ke ubun-ubun, buku buku tangan Suho memutih, deru napas yang memburu karena kali ini Jongin benar-benar sudah menginjak harga dirinya hingga habis tak tersisa.

“Aku akan membalasmu Jongin, aku akan menghancurkan kelemahanmu sampai kau menyesal jika telah melawan seorang Kim Suho. Ingat itu!!!”

Dalam satu gesture tubuh tak surut dari amarah Suho berbalik, menatap sinis ke arah Jiyeon yang duduk menegang di bangku pemain basket sesaat sebelum meninggalkan lapangan basket indoor yang terasa mencekam. Tatapan yang tertangkap penglihatan Jongin dan saat itu juga Jongin tahu, jika Kim Suho akan membalasnya dengan menyakiti Jiyeon apapun caranya.

****

Jiyeon Class

“Jiyeon sepertinya kakak-mu akan berkelahi dengan Suho di taman belakang.”

Jiyeon menatap panic ke arah Xiumin yang duduk di sebelahnya, mengurungkan niat untuk membereskan buku matematika ke dalam tas. Walaupun Jiyeon sudah terbiasa mendengar Jongin berkelahi dengan teman-teman sekolah atau pun preman di luar sekolah, tapi tetap saja gadis itu akan menangis dengan rasa khawatir yang membelengu hati jika melihat Jongin datang padanya dengan semua luka berdarah di wajah dan tubuhnya.

Apalagi kali ini Jiyeon sangat yakin, jika perkelahian ini ada hubungannya dengan kejadian di perpustakaan kemarin. Kejadian yang melibatkan dirinya. Tanpa kata Jiyeon meraih pergelangan tangan Xiumin, menarik sahabatnya itu untuk selanjutnya menuju taman yang di maksud temen satu kelasnya.

****

Jongin berdiri malas di depan Suho yang menatapnya sinis, di taman belakang sekolah seperti yang utarakan Sehun beberapa waktu yang lalu untuk membicarakan, sesuatu yang sebetulnya tak minati Jongin sedikit pun. Tak jauh dari tempat Jongin berdiri, tampak Sehun dan Chanyeol berdiri siaga dengan apa yang mungkin akan terjadi setelah perbincangan Jongin dan Suho.

“Apa yang kau inginkan Suho? Aku benar-benar tidak punya waktu jika hanya berbincang manis seperti anak perempuan yang tidak punya pekerjaan.”

Mata Suho menyipit menyembunyikan suatu hasrat untuk membalas lebam yang menghiasi wajahnya kini, namun semua di tahan Suho demi maksud lain di dalam hati. Laki-laki itu mengedarkan tatapan matanya satu kali, memastikan jika yang di tunggunya datang menghampiri taman hingga dia bisa menyelesaikan apa yang sudah di rencakan.

“Aku hanya ingin meminta maaf untuk semua kekacauan yang sudah terjadi,”

Tepat saat Jiyeon dan Xiumin muncul Suho mulai berdalih, memasang wajah setulus mungkin yang sayangnya terbaca oleh Jongin. Suho kembali berucap pelan, menyakinkan semua orang yang ada di taman jika dia benar-benar menyesal untuk semua yang terjadi antara dirinya dan Jongin di masa lalu. Namun sialnya Jongin si pria brengsek tanpa perasaan itu, tahu betul semua akal busuk Suho untuk mencuri perhatian semua orang terutama untuk menarik perhatian Song Jiyeon.

“Aku benar-benar tidak bermaksud menyakiti adik-mu Jongin, sungguh aku menyukainya dengan tulus,”

Jongin bisa melihat senyum kemenangan di sudut bibir Suho, menatap Jiyeon yang terkejut di ujung sana. Jongin mengepal tangannya dengan kuat, membuang muka seraya berlalu begitu saja dari hadapan Suho. Mengabaikan wajah murka Suho karena Jongin mengacuhkan ucapan palsu laki-laki itu.

“Untuk apa kau datang kemari?” tangan dingin Jongin menyambar lengan Jiyeon, mencengkramnya kuat hingga Jiyeon mengeryit menahan sakit. “Bukankah aku sudah bilang jangan mendekati Suho? Apa kau tidak—“

“Dia mengkhawatirkanmu Jongin,” Xiumin angkat bicara. “Dan kau menyakitinya dengan cengkramanmu itu.” Xiumin melanjutkan.

Jongin melepaskan cengkramannya segera, melirik sekilas Suho yang masih diam di posisinya sesaat sebelum menarik pergelangan tangan Jiyeon dan menyingkir dari taman tanpa sepatah kata pun.

****

Kim’s House – 03.30 pm

Living Room – After School

Minji tersenyum menyambut kepulangan kedua anaknya —Jongin dan Jiyeon— wanita yang terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya itu, merentangkan tangannya dan memberikan pelukan hangat secara bergantian pada Jongin dan Jiyeon. Namun selanjutnya Minji sudah memberikan pukulan kecil di kepala Jongin, saat menyadari jika Jiyeon yang membawakan tas punggung putranya itu.

“Berhenti menyiksa adik-mu dengan semua perintah konyolmu, Kim Jongin.”

Tak ada sahutan Jongin memilih untuk berlalu dari hadapan sang ibu menuju kamarnya di lantai dua, mengabaikan semua triakkan frustasi Minji di belakang sana. Jongin memang akan selalu seperti itu, jika Minji sudah mengomelinya dengan petuah “Aku membawa Jiyeon sebagai adik-mu untuk kau sayang, bukan untuk kau siksa” atau “Berhenti menjadikan Jiyeon sebagai pesuruh mu.” Dan masih banyak lagi.

“Bukan Oppa yang memerintahkannya Ibu, tapi aku yang memang mau melakukannya.”

Jiyeon angkat suara, tangan gadis itu mengusap bahu sang ibu dengan senyum tulus yang seketika membuat rasa kesal Minji pada Jongin menguap begitu saja. Tangan Minji terulur mengusap wajah putih Jiyeon dengan luapan rasa sayang yang tak terbatas, rasa yang terkadang membuat Jongin merasa iri. Sungguh Minji merasa sangat menyayangi Jiyeon —melebihi dia menyayangi putra kandungnya Jongin— dengan semua ketulusan yang di berikan gadis itu pada keluarganya.

“Berhenti membela kakak-mu Jiyeon, ibu tahu jika Jongin sering menyiksamu dengan tingkah kekanakannya.”

Helaan napas tak habis pikir Minji menguar di udara, kembali mengeleng tidak percaya saat Jiyeon hanya tersenyum tanpa pernah merasa keberatan dengan semua fakta yang baru saja terjabarkan.

“Selama ini Oppa selalu menjagaku dengan sangat baik ibu, jadi tidak ada salahnya jika aku membalasnya dengan semua yang bisa aku lakukan untuk membantu pekerjaannya.”

Selalu seperti itu, Song Jiyeon hanya akan tersenyum dengan semua perlakuan buruk Jongin padanya sejak dulu kala.

***

Jiyeon membuka pintu kamar Jongin perlahan, menatap sosok jangkung Jongin yang tertidur dengan posisi tertelungkup. Hanya menggunakan celana sebatas lutut tanpa pakaian yang menutupi tubuhnya dari pinggang ke atas. Kebiasaan Jongin di musim panas, laki-laki itu akan selalu tak berbaju jika sudah berada di dalam rumah.

Jiyeon merapikan pakaian sekolah Jongin yang berceceran di karpet hitam di depan ranjang, memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor. Selanjutnya Jiyeon berjalan menuju meja belajar Jongin yang juga jauh dari kata rapi, buku-buku yang berserakan, pulpen, spidol dan beberapa kertas berserakan di atas meja. Sepertinya Jongin baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya hari ini, hingga kelelehan dan tertidur di atas ranjang.

Oppa,—“

Jiyeon mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, menyapukan tangannya di wajah Jongin dengan sedikit menunduk. Gadis itu tertawa pelan saat Jongin mengeliat karena sentuhan tangannya.

“Apa Oppa sedang tidur?”

Dalam satu gerakan cepat Jongin menepis tangan Jiyeon di wajahnya seraya membalikkan tubuhnya, menatap tak suka ke arah Jiyeon yang sedikit terkejut walau ini bukan pertama kalinya Jiyeon mendapat reaksi Jongin seperti ini.

“Kenapa kau selalu bertanya pada orang yang sedang tidur, Jiyeon?”

Tatapan tak suka Jongin tak mengendur laki-laki itu mengacak rambut coklatnya hingga terlihat berantakan, terlihat seksi dengan tubuh berotot yang sedikit berkeringat yang terexspos sempurna. Belum lagi dengan wajah setengah tidur Jongin yang terlihat mengemaskan. Untuk ukuran normal seharusnya Jiyeon akan merasa tergoda dengan semua yang tersaji di depannya, tapi itu tidak akan terjadi karena nyatanya Jiyeon hanya akan tertawa dengan apa yang di lihatnya. Jongin —kakak laki-lakinya itu— hanya terlihat lucu di mata gadis itu.

“Itu karena Oppa tidak benar-benar tidur.” Jiyeon berdalih. “Dari 10 kali Oppa memejamkan mata, hanya 2 kali Oppa benar-benar tidur dan sisanya Oppa hanya memejamkan mata tanpa tidur,”

Erangan murka Jongin mulai terdengar, laki-laki itu mendudukkan tubuhnya dengan tangan yang sudah menyentil kening Jiyeon hingga gadis itu mengaduh kesakitan. Jongin menatap Jiyeon yang masih mengusap keningnya dengan tatapan yang tidak akan di mengerti oleh siapapun.

“Aku ingin ke toko buku Oppa, tadinya aku akan pergi dengan Xiumin tapi dia membatalkannya. Sejujurnya aku ingin pergi sendiri, tapi—“

“Ambilkan pakaianku, kita ke toko buku sekarang.”

Senyum lebar Jiyeon tercipta seketika, gadis itu dengan cepat mengangguk seraya berjalan menuju lemari pakaian Jongin, mengambilkan pakaian laki-laki itu dengan puluhan ucapan terima kasih yang lagi-lagi membuat Jiyeon mendapat sentilan di keningnya.

****

Book Store – 08.00 pm

“Berapa lama lagi?”

Ucapan yang terdengar bukan seperti pertanyaan itu kembali terdengar untuk ke 3 kalinya, Jiyeon yang sedang memilih buku pun akhirnya berhenti seraya menatap Jongin dengan takut. Gadis itu sudah menghabiskan waktu 2 jam dalam toko buku untuk membeli 5 buku komik kesukaannya, majalah yang membahas tentang Warner Bros yang meluncurkan taman hiburan ala Harry Potter di Universal Studio Florida. Taman yang di beri nama Wizarding World Of Harry Potter, dan sebuah buku tebal berisi resep praktis membuat Cup Cake kesukaan gadis itu.

“Sudah selesai, tinggal membayar.” jawab Jiyeon dengan suara lirihnya.

“Tunggu aku di halte depan aku akan mengambil mobil di parkiran bawah.”

Tanpa menunggu jawaban Jiyeon Jongin sudah berlalu menuju basement di mana mobilnya terparkir, meninggalkan Jiyeon dengan semua beban buku di tangannya. Jiyeon sudah terbiasa melakukan apapun sendiri, tak pernah meminta bantuan pada Jongin ataupun orang lain. Selama ini Jongin hanya mengantarkan kemana pun gadis itu pergi, tanpa membantu apapun dengan apa yang di kerjakana gadis itu. Jiyeon terlalu mandiri dalam segala bidang, karena selama masih ada matahari Jiyeon pasti bisa melakukan apapun sendiri.

****

Seperti yang sudah di perintahkan Jongin Jiyeon duduk di bangku yang ada di dalam halte yang berada beberapa meter dari toko buku, gadis itu sedikit mengusap lengannya yang mulai merasa kedingingan tanpa baju hangat yang membalut tubuhnya. Jiyeon mengedarkan pandangannya, malam ini terasa lebih sunyi dan mencekam, hingga pekerjaannya menanti kedatangan Jongin terasa sangat lama.

Tiba-tiba tanpa Jiyeon sadari tepat di hadapannya sudah berdiri 3 orang laki-laki bertubuh tegap, berwajah menyeramkan dalam balutan pakaian hitam yang membuat bulu kuduknya meremang. Ketiga laki-laki itu menatap Jiyeon penuh minat, mengerlingkan matanya seraya menyentuhkan jemari mereka pada wajah dan lengan Jiyeon.

Jiyeon berdiri seketika menjatuhkan semua buku yang di belinya begitu saja, gadis itu mulai ketakutan dengan tangan yang berusaha menghalau ke tiga laki-laki tak kenalnya itu. Tepat saat satu laki-laki ingin merengkuh wajah Jiyeon, sebuah mobil berhenti di depan halte menampilkan sosok Jongin yang terlihat marah.

Dalam satu gerakan cepat Jongin menghantam 3 laki-laki bertubuh lebih besar darinya itu, menyisakan jeritan tertahan Jiyeon dalam balutan rasa ketakutan yang membuat tubuh Jiyeon bergetar. Perkelahian pun berlanjut saling baku hantam yang mulai tak terlihat seimbang, 3 orang lawan 1 orang. Beberapa kali Jongin mendapat pukulan telak di perut dan wajahnya, darah segar mengucur dari pelipis Jongin yang robek. Begitu pun dengan 3 laki-laki itu mereka juga mengalami luka robek di bagian mulut karena pukulan Jongin.

Satu laki-laki mendekati Jiyeon membuat gadis itu berteriak kalut. “JONGIN OPPA!!”

Jongin pun lengah satu pukulan menghantam pundak laki-laki itu hingga Jongin tersungkur di trotoar, jalanan malam itu sangat sepi hingga tak ada satu orang pun yang datang menolong. Jiyeon menjerit gadis itu mendorong laki-laki berandal dengan segenap tenaga, meraih satu buku tebal di lantai halte lalu menghantamkannya tepat di kepala laki-laki yang sudah membuat Jongin terkapar.

“SIAL!!!”

Laki-laki itu menarik lengan Jiyeon dengan kuat hingga gadis itu merasakan nyeri di tulang tangannya, dengan brutal laki-laki itu merobek pakaian Jiyeon dengan dorongan hingga Jiyeon tersungkur di trotoar. Air mata Jiyeon sudah meleleh dalam ketakutan yang membuat Jiyeon menjerit sejadinya, laki-laki berandal itu menindih tubuhnya berusaha menjejalkan bibir busuknya ke seluruh wajah Jiyeon yang memucat.

“JONGIN OPPA!!!”

Jongin mengerjab dalam pandangannya yang mengabur, bisa di rasakannya jika 2 laki-laki berandal sedang menendang tubuhnya berkali-kali. Jongin menatap tubuh Jiyeon yang hampir tertutup oleh tubuh besar laki-laki berandal yang menghimpitnya.

“Jiyeon bukan kelemahanku, dia— adalah sumber kekuatanku. Aku bisa melakukan apapun jika sudah menyangkut tentangnya.”

Jongin mengerang seraya menangkis pukulan laki-laki berandal lalu bangkit melawan, menghantam 2 laki-laki berandal dengan sisa tenaga yang dia punya. Jongin berjalan terhuyung ke arah laki-laki yang masih menghimpit Jiyeon, menarik laki-laki itu seraya melayangkan pukulan keras tepat di wajah laki-laki itu. Tak hanya itu Jongin pun melayangkan tendangan berputar hingga laki-laki berandal terkapar di jalanan.

Jongin menatap 2 laki-laki berandal yang kembali hendak menyerangnya, namun tiba-tiba dari kejauhan terlihat beberapa orang menuju halte dengan tatapan curiga. Membuat kedua pria berandal segera memapah teman mereka lalu menaiki mobil mereka dan berlalu dari tempat itu.

Jongin mengalihkan pandanganya, menatap Jiyeon yang duduk bergetar dengan memeluk tubuhnya sendiri. Perlahan Jongin mendekati gadis itu, melepaskan kemeja yang di kenakannya lalu menutupi tubuh Jiyeon bagian atas yang sudah terbuka.

Op—oppa,”

Jiyeon bergetar dengan pandangan takut yang belum beranjak, gadis itu segera memeluk Jongin dengan erat dengan lelehan air mata ketakutan hingga membuat gadis itu tak mampu berkata-kata. Jongin merangkul tubuh bergetar Jiyeon dalam pelukan eratnya, mengusap punggung Jiyeon dan menyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Gwenchana semuanya sudah berakhir,” selanjutnya Jongin sudah mengangkat tubuh bergetar Jiyeon dengan kedua tangannya.

****

A Few Hour’s After Tragedy

Kim House

Dengan langkah terburu Jongin memasuki rumahnya, memeluk erat sosok Jiyeon di dalam rangkulan kedua tangannya, Jiyeon masih terisak dengan memeluk bahu Jongin erat. Minji yang baru saja keluar dari dapur untuk menyiapkan makan malam Jongin dan Jiyeon, terlihat mengurungkan niat untuk memahari dua anaknya yang pulang terlambat dan ikut berjalan terburu mengejar Jongin yang baru saja menghilang di balik pintu kamar Jiyeon.

“Jongin,—“

Jongin menoleh dan betapa terkejutnya Minji saat menatap semua luka dan darah yang bahkan masih mengalir dari pelipis Jongin yang robek, semakin terkejut saat melihat Jiyeon yang sudah duduk di atas ranjang sambil menangis hingga gadis itu terlihat sesak. Jiyeon bahkan menyembunyikan wajahnya di dalam rangkulan Jongin, gadis itu memeluk tubuh Jongin yang duduk di depannya dengan sangat erat. Jiyeon sama sekali tak mau melepaskan pelukannya di tubuh Jongin, tubuh Jiyeon terlihat gemetar dengan air mata yang semakin tak terbendung membahasi tubuh Jongin yang hanya terbalut singlet putih.

Minji berjalan mendekat, air mata Minji sudah mengalir begitu saja mendapati penampilan berantakan Jongin dan Jiyeon, wajah Minji memucat mengerakkan tangannya yang bergetar untuk menyentuh pundak Jongin yang masih terdiam. Mata sendu Jongin menatap dengan penuh penyesalan pada sosok sang ibu yang menegang di tempatnya berpijak, mengucapkan ribuan kata maaf tanpa suara saat Minji semakin tak bisa menahan air matanya.

“Ibu bisakah kau menelepon dokter Park sekarang?”

****

Minji masih berjalan modar mandir di dalam kamar Jiyeon, sesekali wanita itu menatap ke arah Jiyeon yang sudah tertidur karena efek obat penenang yang di berikan dokter Park pada gadis itu. Jiyeon terpaksa di beri obat penenang karena Jiyeon terus menangis dengan wajah ketakutan dan tidak melepaskan pelukannya pada Jongin sedikit pun. Meracau tak jelas dan berteriak histeris tiap kali Jongin ingin melepaskan pelukannya.

Minji menghembuskan napas gusarnya dengan tangan yang berkeringat, menanti penjelasan masuk akal yang akan Jongin katakan sebentar lagi, setelah laki-laki itu mendapatkan pertolongan pertama dari dokter Park untuk semua luka-lukanya. Ini pertama kalinya Minji mendapati Jongin dan Jiyeon terluka secara bersamaan, biasanya Minji hanya melihat salah satu dari mereka yang terluka, terlebih Jongin untuk semua tingkah brengseknya di luar sana.

Minji segera berbalik saat pintu kamar Jiyeon terlihat terbuka, menampilkan sosok Jongin dengan wajah yang di penuhi obat cairan antiseptic. Laki-laki itu berjalan mendekat hingga berdiri di depan Minji yang terlihat tak sabar dengan apa yang akan Jongin jabarkan padanya, Minji mengerakkan tangannya terulur ke arah luka di pelipis Jongin yang telah terutup perban.

“Apa yang terjadi?”

Suara Minji bergetar menahan semua rasa khawatir yang lagi-lagi membuat air matanya mengalir, terisak pelan saat tak ada kata yang mampu  untuk menggambarkan rasa khawatir Minji saat ini. Demi Tuhan selama ini Minji selalu rela untuk menukar nyawanya, demi keselamatan putra dan putrinya yang sangat dia sayangi di dunia ini.

“Ada 3 orang berandal menyerang kami di halte, mereka ingin menyakiti Jiyeon dengan tubuh brengsek mereka.”

Minji membekab mulutnya mengeleng tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya, Minji menatap Jiyeon sekali lagi sebelum kembali menatap Jongin. Air mata Minji kembali mengalir lebih deras saat Jongin menceritakan semua kronologi yang terjadi di halte. Tubuh Minji bergetar hebat menahan sesak yang menyakiti hati, menahan semua rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di alami putrinya.

Seorang anak perempuan yang sangat di sayangi Minji walaupun tak pernah terlahir dari rahimnya, anak perempuan yang dia adopsi dari sebuah panti asuhan atas inisiatifnya sendiri hanya untuk menemani putranya —Kim Jongin— yang selalu merasa sendirian saat dia dan sang suami sibuk bekerja sebagai pengusaha sukses di luar sana.

Ya Jongin adalah putra tunggal dari pasangan konglomerat Kim Jonghyun dan Kim Minji. Kim Minji adalah CEO dari JGreen Corporation sebuah perusahaan kosmetik terbesar yang ada di Korea Selatan, sedangkan ayahnya Kim Jonghyun adalah CEO dari Paradise Corporation pemilik sederet hotel bintang lima bertaraf internasional yang tersebar di sepanjang benua Asia hingga Eropa. Menjadikan keluarga Kim adalah keluarga terkaya no 5 di Korea Selatan, dengan tingkat kesibukan yang bahkan tak cukup jika di habiskan dalam 24 jam.

Jongin memeluk sang ibu yang semakin kalut, mengusap punggung Minji dengan air mata yang juga sudah memenuhi soket matanya. Menahan semua rasa bersalah yang kembali merentas hati, Jongin semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang ibu, mengerakkan bibirnya yang kaku guna mengeluarkan sederat kalimat yang semakin membuat Minji tersedu di dalam pelukan Jongin yang kian mengerat.

“Maafkan aku ibu, aku tidak bisa menepati janjiku padamu untuk selalu menjaga Jiyeon dengan baik hingga membiarkannya kembali terluka,”

****

Jongin duduk di pinggir ranjang di mana Jiyeon masih tertidur, ia membungkuk, tangannya bergerak menyibak rambut yang berada di samping pelipis tepat di atas telinga Jiyeon, di sana terdapat bekas luka jahitan yang tak akan hilang sampai kapan pun. Luka karena Jongin yang sengaja mendorong Jiyeon yang saat itu berada di ayunan hingga tersungkur di bebatuan, tepat 3 bulan setelah gadis itu tinggal di rumah keluarga Kim.

Pandangan Jongin beralih pada telapak tangan kanan Jiyeon, di sana terdapat luka sayat melintang dari tengah hingga mencapai urat nadi di pergelangan tangan. Lagi-lagi luka yang di akibatkan ketidak sukaan Jongin pada Jiyeon di masa kecil mereka. Jongin menggenggam tangan Jiyeon erat, mencium telapak tangan Jiyeon dengan luapan rasa menyesal yang selalu menghantuinya hingga kini, sungguh Jongin menyesal untuk semua luka yang telah di torehkannya pada Jiyeon. Pada gadis yang akan selalu membela Jongin di depan orang tuanya, pada gadis yang akan selalu tersenyum dengan tulus walau Jongin selalu membuatnya terluka.

Dan kini lagi-lagi Jiyeon terluka karena dirinya, terluka karena masalah yang di perbuatnya hingga gadis itu ikut terseret di dalamnya. Bahu Jongin bergetar dengan genggaman yang mengerat, kembali mencium telapak tangan Jiyeon dengan air mata yang perlahan mulai berjatuhan membahasi wajah pucat Jongin.

“Mianhae— Song Jiyeon.”

~ TBC ~

Iklan

11 pemikiran pada “Forbidden Feeling (Chapter 2)

  1. kakkkkkkkk…chapp inii bikin merindingg,,apalagi waktu adegan mereka di keroyok 3 brandalan gak tau diri ituu,.aku bisa bayanginn bgt gmna usaha jongin buat ngelindungii jiyeonn..kata” yg jiyeon bukan kelemahanku melainkan dia menjadi kekuatannku knpa efeknya besar bgt eoh kak.,ngena bgt aku bacanyaa..kek kata” itu memiliki arti yg woahh,.berarti bgtt..
    aq jadi bisa bayangin sberapa besar cinta jongin ke jiyeon,.yahh mungkin sikapnya aja yg sering dingin + kasar tp kan itu gegara jongin pengen menghindari perasaan yg tdk seharusnya kannn..ck,.kereenn bgt kakkkk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s