Forbidden Feeling (Chapter 4)

Poster Kai 1

Forbidden Feeling – Part 4

By Ririn Setyo

Kim Jongin | Oh Sehun | Park Chanyeol | Song Jiyeon.

Other : Xiumin | Kim Suho | Huang Zitao

Romance ( PG – 15 )

NB : Beberapa Scene dan jalan cerita sudah diubah dan disempurnakan dari versi asli yang Publish di Blog pribadi Saiiya http://www.ririnsetyo.wordpress.com

_

_

_

 

Kim House

Jongin Room – 06.30 am

Jongin memutar bolamata coklatnya dengan erangan pelan yang menguar di udara, menatap Jiyeon yang berdiri dengan jarak 1 jengkalan tangan di depannya. Gadis itu hanya diam dengan tangan yang tidak bergerak, dari kancing kemeja no 3 dari atas yang Jongin kenakan sejak 5 menit yang lalu. Jiyeon hanya terlihat menerawang, bahkan gadis itu tidak menyahut panggilan Jongin sejak tadi.

Satu sentilan di dahi membuat Jiyeon tersadar, gadis itu mendongak seraya mengerjap pelan. Menatap Jongin yang sudah menekuk wajahnya, balas menatap gadis itu dengan tatapan dingin yang meremangkan bulu kuduk Jiyeon seketika. Jongin melirik ke arah kancing kemeja seraya memberi tatapan —cepat selesaikan pekerjaan mu!–– hingga membuat Jiyeon sadar jika dia baru saja mengabaikan Jongin dan itu berarti, bukanlah hal yang baik untuk gadis itu. Jongin akan murka sebentar lagi.

“Apa yang kau lakukan sejak tadi, Song Jiyeon? Kau bisa membuat kita terlambat sampai ke sekolah, hanya karena kau bersikap seperti orang aneh pagi ini.”

Suara dingin Jongin mulai terdengar, membuat Jiyeon terdiam dan segera menyelesaikan pekerjaannya. Mengancingkan kemeja Jongin, membantu memakaikan jas sekolah laki-laki itu dan terakhir memakaikan dasi di leher Jongin tanpa sepatah kata pun. Jongin pun terlihat semakin kesal saat Jiyeon menariknya untuk duduk di tepi ranjang, tetap diam saat merapikan rambutnya.

Jongin meraih kedua tangan gadis itu hingga kegiatan Jiyeon di rambut Jongin terhenti, menariknya hingga Jiyeon membungkuk dengan wajah yang sangat dekat dengan Jongin, bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan. Tindakan yang justru kini membuat Jongin terdiam, dengan bunyi detakan jantung yang bertalu-talu, tenggelam dalam mata bening Jiyeon yang mampu memikat hatinya dengan begitu kuat.

“Mianhae—“ ucap Jiyeon pada akhirnya, gadis itu tidak mengubah posisinya. “Hari ini adalah hari pertama aku kembali bersekolah, aku hanya— merasa gugup.” Jiyeon menunduk, menarik sedikit wajahnya menjauh.

Nde?”

Hanya kata itu yang keluar dari mulut Jongin yang kaku, laki-laki itu masih terlalu gugup untuk berkata lebih dari itu saat ini. Jiyeon kembali menatap Jongin namun kali ini dengan tersenyum seraya menegakkan tubuhnya, menarik tangannya dari genggaman Jongin lalu kembali melanjutkan pekerjaannya— membuat tatanan rambut Jongin menjadi sempurna.

Jiyeon beranjak menuju meja belajar Jongin, sedikit menunduk saat merapikan beberapa buku Jongin yang masih tercecer di atas meja. Sesekali terlihat Jiyeon mengerakkan tangannya di atas rambut panjangnya sewarna black pearl yang tergerai, menyelipkan di belakang telinga dengan tangan yang masih sibuk dengan buku-buku Jongin.

Jongin menatap semua gerak gerik Jiyeon tanpa terlewat sedikit pun, laki-laki itu bergerak hingga berdiri di samping Jiyeon. Jongin menjejalkan tangannya ke dalam saku celana, mengeluarkan sebuah ikat rambut berwarna biru yang seharusnya akan dia berikan pada Jiyeon saat sudah tiba di sekolah.

Menatap sekali lagi ikat rambut yang di belinya semalam saat pulang dari rumah Sehun, sebelum pada akhirnya tangan Jongin bergerak ke arah rambut Jiyeon, menyisihkan semua helai rambut ke bahu sebelah kanan gadis itu. Jiyeon terkejut gadis itu terdiam saat merasakan jemari Jongin menelusuri tiap helai dari rambut hitamnya untuk pertama kali, mengepang dengan gerakan lembut yang membuat Jiyeon kehilangan kata-kata dengan tubuh yang memaku di tempatnya berpijak.

“Untuk apa merasa gugup, kau hanya 10 hari tidak datang ke sekolah.” tangan Jongin masih sibuk mengepang rambut Jiyeon, tak sadar jika tubuh Jiyeon sudah membeku tak bergerak karena sentuhannya. “Sekolah masih terlihat sama, teman-teman mu juga masih sama, hanya Chanyeol yang berubah—” Jongin menghentikan ucapannya seraya tersenyum saat selesai mengepang rambut panjang Jiyeon, mengikat bagian ujung rambut dengan ikat rambut yang di belinya.

Jongin memutar tubuh Jiyeon hingga mereka berdiri berhadapan. “Laki-laki bodoh itu menganti warna rambutnya menjadi sehitam rambutku,” Jongin tertawa pelan hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi, saat mengingat gaya berlebihan Chanyeol dengan warna rambut barunya 2 hari yang lalu, membuat Jiyeon tanpa sadar ikut tersenyum.

Eoh!” ucap Jiyeon seraya menatap ikat rambut biru, dengan hiasan berbentuk pita kecil di bagian atasnya yang kini sudah mengikat manis di ujung rambut. Jiyeon tersenyum dengan rasa yang sulit untuk terlukiskan oleh kata.

“Ayo cepat kita sudah terlambat!” ucap Jongin kemudian seraya berlalu keluar dari kamar tidurnya begitu saja, Jiyeon pun mengangguk seketika dengan menyambar tas punggung Jongin ke dalam dekapan tangannya, sesaat setelah meletakkan tas punggung miliknya ke salah satu bahunya.

****

YeomKwang High School

“Sehun oppa!

Jiyeon berteriak saat baru saja turun dari mobil, menatap sosok Sehun yang berdiri di samping Chanyeol di depan sana, 2 laki-laki tinggi itu juga baru saja tiba di sekolah. Jiyeon tersenyum berlari pelan saat Sehun bergerak mendekat, menghambur dalam dekapan Sehun dengan teriakkan kecil di belakangnya, saat Sehun mengangkat tubuh Jiyeon seraya memutarnya pelan. Kebiasaan Sehun sejak dulu di kala Jiyeon memeluknya, selalu membuat tubuh gadis itu berputar di udara dalam dekapan eratnya.

Oppa aku bukan anak kecil lagi,” ucap Jiyeon saat Sehun sudah menurunkan gadis itu hingga kembali berpijak di bumi, Sehun tidak menjawab hanya tertawa hingga mata sipitnya tertarik ke atas dan terlihat ikut tertawa.

“Bagiku kau tetaplah adik kecil-ku,” Sehun mengerakkan tangannya di atas kepala Jiyeon, mengukur tinggi badan gadis itu yang hanya sebatas bahunya. “Lihat! Tinggi mu saja tidak bisa melebihi bahu ku,” ucap Sehun dengan tertawa hingga mendapatkan pukulan kecil di bagian lengan dari Jiyeon.

“Jangankan tinggi badanmu, tinggi badanku saja tidak akan mampu di lampuinya, Oh Sehun.” Kini Jiyeon memutar pandangannya dengan wajah kesal, menatap Jongin yang sudah berdiri di depannya, berdiri di antara Sehun dan Chanyeol.

“Kau jangan ikut bicara, Chanyeol oppa!” ucap Jiyeon dengan dingin, saat Chanyeol juga ingin membandingkan tinggi badannya.

Yang benar saja! Tinggi badan Chanyeol 185 centi meter, jangankan Jiyeon, Jongin dan Sehun saja tak mampu melampuinya.

Tiga laki-laki tinggi itu pun pada akhirnya tertawa senang karena sudah membuat pagi Jiyeon menjadi suram, tak begitu peduli saat Jiyeon memukuli mereka bertiga dengan tangan secara membabi buta, menarik apa saja yang melekat pada tubuh tiga laki-laki jangkung di depannya karena mereka yang terus menertawakan gadis itu.

“Jiyeon ada apa dengan rambutmu? Sejak kapan kau suka mengepang rambutmu seperti ini?” Jiyeon menghentikan kegiatannya menarik rambut Chanyeol yang membuat laki-laki bermata bulat itu mengaduh kesakitan, memutar kepalanya menatap Sehun yang kini tengah memandangi kepangan rambutnya.

Eoh!” Jiyeon melepaskan tangannya dari rambut Chanyeol, mengabaikan Chanyeol yang segera membuka tas punggungnya, guna mencari sisir untuk merapikan tatanan rambut hitam laki-laki itu yang sudah hancur berantakan. “Ini—“ ucapan Jiyeon terputus saat tiba-tiba suara Xiumin memanggil namanya.

“Jiyeon-ah!”

“Ya Tuhan kenapa laki-laki pendek itu harus ikut bergabung,” gumam Chanyeol dengan menatap Xiumin yang berjalan mendekati mereka. “Wae? Dia sahabatku Chanyeol oppa,” balas Jiyeon seraya tersenyum ke arah Xiumin.

“Xiumin-ah bogoshipo.” Jiyeon memeluk Xiumin sekilas, tertawa lebar saat Xiumin mengusap kepalannya. “Ah! Aku juga, selama 10 hari ini aku merasa tak bersemangat sama sekali,”

Xiumin menekuk wajahnya dengan bibir yang mengerucut, terlihat lucu dan mengemaskan di mata Jiyeon. Namun tidak untuk Sehun dan Jongin, mereka bahkan membuat gerakan seperti orang yang ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.

“Selalu berlebihan,” ucap Jongin dengan pandangan malasnya, terlalu bosan dengan semua kata-kata berlebihan Xiumin pada Jiyeon.

Pada laki-laki yang Jongin izinkan untuk berteman dekat dengan Jiyeon-nya, laki-laki yang di izinkan Jongin memeluk Jiyeon selain Chanyeol dan Sehun. Laki-laki yang di perintahkan Jongin untuk menjaga Jiyeon selama dia tidak ada, perintah yang tidak pernah di ketahui Jiyeon hingga saat ini.

“Jongin Oppa aku ke kelas dengan Xiumin saja ya,” ucap Jiyeon dengan menarik paksa sisir birunya yang kini tengah berada di tangan Chanyeol, membuat laki-laki tinggi itu mengerang kesal. “Aku belum mengizinkan kau menggunakan sisir ku, Chanyeol oppa.

Jiyeon menatap Chanyeol dengan wajah tidak pedulinya, sesaat sebelum merangkul lengan Xiumin untuk selanjutnya berjalan menuju kelasnya, meninggalkan Chanyeol yang sudah berteriak tidak terima di belakang sana. Bahkan laki-laki itu tetap berteriak memanggil Jiyeon untuk kembali, walau Jongin sudah memukul kepalanya dan Sehun sudah menyeret laki-laki itu untuk menuju kelas mereka.

“JIYEON-AA BAGAIMANA DENGAN RAMBUTKU!!!”

****

Lunch – In The Park

Jiyeon duduk di salah satu bangku taman dengan 2 kotak bekal di tangannya, membuka tutup bekal dengan menghirup aroma lezat dari potongan daging asap bertabur banyak bumbu yang membuat lambungnya bergejolak. Jiyeon benar-benar lapar saat ini. Gadis itu mengedarkan pandangannya, berharap sang kakak yang di tunggunya segera tertangkap di pandangan matanya. Hingga dia bisa menyantap menu makan siangnya dan membuat lambungnya berhenti menjerit di dalam sana, namun sesaat kemudian mata bening gadis itu melebar dengan senyum kaku yang sudah terbentuk di ujung bibir, menatap sosok laki-laki yang kini sudah berdiri di depannnya.

Bukan! Laki-laki itu bukan Jongin, melainkan laki-laki yang di perintahkan Jongin untuk di jauhinya. Laki-laki yang tempo hari mendapat begoman keras di bagian wajah oleh Jongin, laki-laki yang pada kenyataannya selalu mampu membuat Jiyeon merasa nyaman dan bisa tertawa lepas jika sedang berada di dekat laki-laki itu.

“Suho-ssi!”

Jiyeon terlihat gugup terlalu takut jika Jongin datang dan melihat Suho berada di dekatnya, bahkan laki-laki itu kini sudah duduk di bangku yang ada di seberang meja kayu di depan Jiyeon. Duduk tenang dengan senyum hangat yang tertuju untuk Jiyeon, senyum yang membuat Jiyeon  ikut tersenyum.

“Apa kau sedang menunggu kakakmu?” Jiyeon hanya menganguk pelan. “Aku lihat dia masih asik menantang beberapa siswa di lapangan basket.” Lanjut Suho pelan, memandang Jiyeon dengan tatapan menyesal yang tersembunyi di balik senyum hangatnya.

“Benarkah? Ah! Jongin oppa selalu seperti itu, selalu melupakan makan siangnya hanya karena basket.” Jiyeon memajukan bibirnya kesal.

Suho tersenyum dengan ekspresi Jiyeon, ekspresi yang membuatnya perlahan tanpa sadar benar-benar menyukai gadis itu. Gadis yang sejak awal hanya di jadikan Suho sebagai jalan, untuk menghancurkan dan mengalahkan Kim Jongin. Namun ternyata Jiyeon terlalu tulus untuk di sakiti, terlalu menaruh kepercayaan pada dirinya dan selalu membuatnya merasa berarti.

Membuat Suho selalu ingin pergi ke sekolah lebih cepat, membuat Suho merasa jika masih ada orang yang peduli padanya tanpa alasan licik yang selama ini dia peroleh dari teman-temanya, teman-teman yang hanya memanfaatkan kekayaan dan ketenarannya semata. Membuat Suho mampu tersenyum dan tidak merasa sendirian di dunia ini.

Suho selama ini merasa selalu sendirian karena tak pernah mampu menemukan teman sejati dan kedua orang tuanya yang sibuk bekerja.

“Apa kau baik-baik saja?”

Suho menahan semua kata menyesal yang akan di ucapkannya sebentar lagi, kata-kata yang telah di susunnya sejak Jongin menghajarnya tempo hari. Kata-kata yang mungkin akan membuat Jiyeon membencinya, kata-kata yang mungkin akan membuat Suho kehilangan senyum matahari-nya untuk selama lamanya. Namun Suho tidak peduli akan semua itu, Suho akan tetap mengatakannya. Mengaku yang sebenarnya pada Jiyeon, dengan segala resiko yang akan terbentuk di belakangnya. Suho benar-benar menyesal, dengan hal buruk yang terjadi pada Jiyeon karena dirinya.

“Iya aku baik-baik saja, aku hanya terkena flu.” Jawab Jiyeon dengan berbohong, ya hanya Sehun dan Chanyeol yang tahu tentang kejadian kelam di halte.

Suho mengangguk sekilas, menarik napas sedikit panjang guna melonggarkan pernapasannya yang mulai tersumbat. Suho benar-benar gugup.

“Jiyeon-aa aku… aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” Suho kembali menarik napasnya, menatap Jiyeon dengan gugup. “Aku ingin membuat pengakuan padamu, aku tidak peduli jika setelah ini kau membenciku. Aku hanya tidak ingin di hantui rasa bersalah padamu,”

Mwo? Apa maksudmu, Suho-ssi?” kening Jiyeon mengerut tak mengerti dengan arah pembicaraan Suho saat ini, gadis itu menatap Suho yang terlihat semakin gelisah.

“Aku—,”

Ucapan Suho mengangtung di udara saat tiba-tiba seseorang menarik bahu laki-laki itu, memaksa Suho untuk bangkit dari duduknya. Suho terkejut menatap sosok jangkung yang menatapnya dengan rahang yang mengeras dan belum sempat Suho menjelaskan semuanya, sebuah pukulan keras mendarat ke wajahnya. Suho tersungkur di atas rumput taman, hingga membuat Jiyeon menjerit tertahan.

“Jongin oppa!”

Laki-laki itu —Kim Jongin— tak mengindahkan teriakkan Jiyeon, laki-laki itu menarik kerah kemeja Suho dan memaksa laki-laki itu untuk kembali berdiri tegak. “Apa lagi yang ingin kau lakukan pada adik-ku hah!!” Jongin berteriak, kembali melayangkan pukulannya pada Suho hingga laki-laki itu ambruk dengan darah yang mengalir di sudut bibirnya.

“HENTIKAN OPPA!!”

Jiyeon mendekat, menahan Jongin yang kembali ingin menghajar Suho. Gadis itu menatap Jongin dengan raut wajah marah, membiarkan air matanya mengalir melewati kedua pipinya yang memucat. Jiyeon terisak menatap menyesal ke arah Suho yang masih tersungkur di atas rumput, gadis itu menunduk berniat untuk membantu Suho berdiri.

“Jangan menyentuhnya Jiyeon!” gerakan tangan Jiyeon terhenti saat Jongin mencengkram lengannya dengan sangat kuat, hingga Jiyeon mengeryit menahan sakit, gadis itu berbalik seraya menatap Jongin dengan dingin.

Wae?”

“Karena dia tidak pantas mendapatkannya, dia hanya akan menyakitimu.”

“Tapi kenyataannya kaulah yang selalu menyakiti ku, Oppa.” Jiyeon meneteskan air matanya saat cengkaraman Jongin semakin menyakiti lengannya, menatap Jongin yang menatapnya dengan tatapan yang tak mampu Jiyeon artikan. “Oppa! Kau menyakiti lenganku,” Jiyeon memegangi lengannya saat Jongin melepaskan cengkramannya.

“Kita pergi dari sini,” Jongin ingin menarik Jiyeon namun gadis itu menepisnya.

Wae? WAEEE!!!” Jiyeon menatap Jongin dengan tidak percaya, menatap laki-laki yang selalu bersikap berlebihan hanya dengan alasan untuk melindunginya. “Kenapa kau selalu memukulnya oppa? Kenapa kau selalu berprasangka buruk padanya? Dia teman ku, aku berhak berteman dengan siapapun!” Jiyeon terisak menatap Jongin yang tak bergeming.

“Apa salah Suho hingga kau selalu menghajarnya tanpa alasan yang jelas, aku muak dengan sikapmu yang berlebihan. Dan satu hal yang perlu oppa ingat, oppa tidak berhak melarangku untuk berteman dengan siapapun, aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menjaga diriku sendiri!”

Jongin menatap Jiyeon dengan tatapan kecewanya, tak menyangka Jiyeon akan membentaknya hanya karena laki-laki brengsek yang kini telah kembali berdiri saat Jiyeon membantunya. Menatap dengan gigi yang bergeretak menahan semua emosi yang meluap hingga ke ubun-ubun, menatap Jiyeon yang menatapnya dingin dengan memapah lengan Suho di bahunya.

“Tinggalkan dia Jiyeon!” Jiyeon menoleh menatap Jongin yang menahan pergelangan tangannya.

“Tidak!” gadis itu menghempaskan cengkraman Jongin begitu saja.

“Song Jiyeon!”

“Kenapa kau seperti air hujan yang selalu menyakitiku, Jongin oppa?

Setetes air mata kembali jatuh di pipi Jiyeon sesaat sebelum gadis itu berpaling, berjalan melewati Jongin yang terdiam di tempatnya. Meninggalkan Jongin yang sudah mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih, meninggalkan Jongin yang menatap kepergiannya dengan sebuah luka yang tanpa sadar sudah Jiyeon torehkah karena sebaris kalimat yang di ucapkan gadis itu.

****

Jongin’s Class

Jongin menghempaskan tubuhnya di atas bangku tepat di samping Sehun yang sedang bercanda dengan teman mereka Luhan, menatap dengan alis terangkat wajah kalut Jongin yang duduk dengan memejamkan kedua matanya. Sehun terdiam memandang Jongin yang tiba-tiba bergumam pelan.

“Aku kembali menyakitinya Sehun, dia bahkan menyamakanku dengan hujan yang selalu akan membuatnya sakit,”

“Jongin,—“

“Kau benar seharusnya kaulah yang menjadi kakak laki-laki untuknya, bukan aku. Bukan laki-laki brengsek yang selalu saja menyakitinya, membuatnya menangis dan terluka. Luka yang bahkan terus membekas hingga sekarang.”

****

Suho Private Room

Mianhae—“ ucap Jiyeon untuk kesekian kalinya, gadis itu masih sibuk mengoleskan obat anti lebam ke bagian wajah Suho.

Suho menatap wajah sempurna Jiyeon yang duduk di hadapannya dengan lekat, wajah yang hanya berjarak 1 jengkalan tangan. Wajah yang membuat Suho selalu merasa merindu, wajah yang membuat Suho tak bisa lagi menahan semua rasa sesal untuk gadis itu.

Suho menahan tangan Jiyeon saat gadis itu ingin mengoleskan kembali krim di pipinya, laki-laki itu tersenyum samar seraya menjauhkan wajahnya. Suho menarik napasnya sesaat, memejamkan matanya seraya mulai mengucapkan semua kata penyesalan untuk Jiyeon, menjabarkan semua penyebab penyerangan di halte malam itu.

“Akulah yang membayar orang-orang berandal itu untuk menyerang Jongin, akulah yang membuat kakakmu terluka malam itu dan—“

PLAKK!!!—

 

Suho memejamkan matanya menahan rasa perih yang kembali menyakiti wajahnya, namun rasa perih itu tak sebanding dengan rasa perih di dalam hati saat menatap mata bening Jiyeon menjatuhkan butiran crystal dengan isak yang tertahan.

Tangan gadis itu bergetar menatap Suho dengan semua rasa tidak percaya, membeku dengan semua rasa yang kini bergejolak di dalam hati. Ternyata Suho yang menyerangnya dan Jongin malam itu, Suho lah yang membuatnya mendapatkan tindakan pelecehan yang membuatnya trauma hingga sekarang. Suho lah yang seharusnya dia benci bukan Jongin, bukan laki-laki yang malam itu membahayakan nyawanya demi melindungi dirinya.

“Aku tahu aku tak pantas mendapatkan kata maaf darimu, tapi aku benar-benar menyesal Jiyeon. Aku benar-benar tidak meminta mereka untuk melakukan hal serendah itu padamu,”

“Cukup!” air mata Jiyeon semakin tak terbendung. “Kau tahu Suho, aku benar-benar tidak percaya kau tega melakukan ini padaku dan kakakku, aku benar-benar tidak menyangka dengan pikiran rendahan tak bermoral yang ada di otak pintarmu. Dan satu hal yang sangat aku sesalkan adalah,—“ Jiyeon menghentikan kata-katanya, merasa terlalu sakit untuk meneruskan ucapannya.

“Karena kau aku membentak kakakku hari ini, karena kau aku menyakiti perasaan kakakku yang selalu melindungi ku. Aku bahkan membela mu, membela laki-laki yang justru telah menyakiti kakakku.” Jiyeon menyeka air matanya dengan kasar, seraya bangkit dari duduknya. “Seharusnya aku mendengarkan kata-kata kakakku, aku benar-benar menyesal sudah pernah mengenalmu, Kim Suho!”

Dalam satu gerakan Jiyeon membalikkan tubuhnya, berjalan cepat dengan air mata yang terus berjatuhan di pipi pucatnya. Meninggalkan Suho dengan semua kesunyian penyesalan yang akan terus membayangi laki-laki itu di belakang sana.

“Mianhae— Song Jiyeon.”

****

Jiyeon mempercepat langkahnya berlari kecil untuk sampai lebih cepat ke tempat yang ingin di tujunya —kelas Kim Jongin— Jiyeon terisak di sepanjang langkah cepatnya, merasa dadanya mulai sesak saat tanpa sadar gadis itu sudah berlari di sepanjang koridor sekolahnya. Jiyeon meraba dadanya yang kian menyempit, napas gadis itu tersengal merasa seperti ada ribuan jarum yang menyakiti jantungnya.

Jiyeon mengerjab saat pandangannya mengabur, potongan-potongan kata-kata Jongin yang mengingatkannya tentang Suho berputar acak di kepalanya, membuat gadis itu semakin menangis dalam rasa bersalah yang membalut hatinya. Jiyeon menyesal dengan semua sikap kasarnya pada Jongin, pada sosok laki-laki yang dengan segenap jiwa selalu berusaha untuk melindunginya.

Pandangan Jiyeon semakin menghitam gadis itu terhuyung saat napasnya semakin tak bisa dia temukan di paru-parunya yang kian menyempit, samar gadis itu mendengar suara seseorang memanggil namanya sesaat sebelum akhirnya gadis itu jatuh, tak sadarkan diri di lantai tepat di depan pintu kelas Jongin.

“Oppa— mianhae.”

****

Health Room – 2 Hour’s Later

Jongin menatap Jiyeon yang masih terbaring lemah di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuh gadis itu. Napas Jiyeon juga sudah terlihat teratur, tidak seperti beberapa jam yang lalu saat Jongin menemukan Jiyeon yang ambruk di depan pintu kelasnya, sesaat setelah Jongin keluar dari kelas karena hendak ke toilet. Seketika itu juga Jongin yang terkejut dalam kepanikan segera membawa Jiyeon ke ruang kesehatan, memanggil petugas kesehatan sekolah untuk memasangkan alat bantu pernapasan pada gadis itu, seraya menelphone dokter Park —dokter pribadi yang sudah sangat mengerti dengan keadaan Jiyeon— hingga pada akhirnya Jiyeon kembali siuman dan bisa bernapas normal.

Jongin kembali menatap wajah pucat Jiyeon yang tertidur dengan tangan yang terulur, membenarkan tata letak selimut abu-abu yang menutupi tubuh gadis itu.  Jongin beranjak dari tempatnya, berjalan ke pinggiran jendela saat samar-samar butiran air hujan turun membahasi bumi, hujan yang sangat di sukai Jongin namun justru membuat malaikat-hatinya dalam bahaya.

Op—pa,”

Seketika Jongin memutar pandangannya, menatap Jiyeon yang terlihat sudah bangun dan ingin mendudukkan tubuhnya. Sekuat tenaga Jongin menahan rasa khawatir pada sosok Jiyeon yang kini menatap ke arahnya, memasang wajah dingin guna menutupi rasa cemas yang samar-samar berganti dengan rasa lega karena kini Jiyeon sudah kembali baik-baik saja.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Jiyeon?” Jongin melipat kedua tangannya di depan dada, menghujam Jiyeon dengan tatapan menusuk yang sejak dulu mampu membuat gadis itu menjadi takut. “Kemana otak mu hah! Bagaimana mungkin kau berlari di sepanjang koridor sekolah? Kau lupa jika jantung mu tidak mampu memompa oksigen, jika kau berlari lebih dari 10 menit?”

Jiyeon terdiam menatap Jongin dengan air mata yang kembali jatuh. Bukan! Jiyeon menangis bukan karena Jongin memarahinya saat ini, Jiyeon menangis karena rasa sesal pada laki-laki itu. Menyesal karena sudah membentak Jongin hari ini, menyesal karena sempat tidak percaya dengan apa yang Jongin katakan tentang Suho, menyesal karena masih saja berprangsa pada laki-laki yang lagi-lagi menyelamatkan jiwanya.

“Berhenti menangis! Kita pulang sekarang!”

Ucap Jongin seraya menarik Jiyeon untuk mengikuti langkahnya, mengabaikan isakan dan air mata Jiyeon yang tetap mengalir di sepanjang langkah mereka meninggalkan ruang kesehatan.

****

Kim’s House

Living Room

Jiyeon mempercepat langkahnya berusaha menyamakan langkah panjang Jongin yang tak mengendur, walau gadis itu memanggil nama laki-laki itu. Laki-laki yang hanya bungkam di sepanjang perjalanan pulang mereka hari ini, membuat Jiyeon semakin merasa bersalah. Gadis itu tahu pasti jika Jongin tidak akan dengan mudah, memaafkan sikap tidak sopan gadis itu siang tadi.

Oppa!” Jiyeon menahan lengan Jongin saat laki-laki itu baru saja hendak menaiki anak tangga yang meliuk indah, dengan karpet merah marun berbulu sangat halus sebagai alasnya. “Maafkan aku Oppa! Aku sudah tahu semuanya tentang Suho, dia yang sudah menyerang kita di halte, dia,—“

Namun dengan kasar Jongin menghempaskan tangan Jiyeon hingga ucapan gadis itu terhenti, persis seperti yang di lakukan Jiyeon siang tadi di taman. Jongin menatap dingin Jiyeon yang mulai terlihat takut, menahan semua rasa kecewa yang kembali naik saat menatap wajah malaikat-nya saat ini.

“Aku sedang tidak ingin membicarakan apapun denganmu, jadi jangan mengangguku, kau mengerti?”

Suara Jongin begitu dingin tanpa celah untuk di bantah, tatapan laki-laki itu juga sangat tajam menghujam hati Jiyeon hingga gadis itu semakin merasa menyesal dengan semua sikapnya. Jiyeon pun terdiam di tempatnya, menatap Jongin yang mulai menaiki tiap anak tangga dalam balutan sesal yang meneteskan air matanya tanpa perintah.

****

5 Year’s Ago

Kim House – Porch

The Rain Tragedy

“Apa yang kau tunggu Jiyeon, ayo cepat turun dan ambilkan bola basketku!”

Perintah dingin Jongin pada Jiyeon yang hanya membeku di tempatnya kembali terdengar, gadis kecil itu terlihat menatap tetesan air langit yang turun dengan begitu deras sore itu dengan wajah yang semakin kalut. Jiyeon menggengam kedua tangannya yang sudah sedingin es dengan kuat, menatap takut ke arah Jongin yang kembali mengeluarkan perintahnya. Jiyeon menatap bola basket yang sudah basah di ujung tangga beranda, tersentak saat Jongin kembali membentaknya dengan kuat.

“CEPAT AMBIL BOLA ITU, SONG JIYEON!!!”

Jiyeon mengerjabkan matanya, tetesan air mata ketakutan gadis itu mulai mengalir dengan wajah memucat. Jiyeon melangkahkan kakinya mendekati pinggiran beranda, percikan air hujan mulai mengenai ujung sandal rumah yang di kenakannya.

Oppa aku— aku tidak boleh bersentuhan dengan air langit,”

Jongin tertawa seketika, laki-laki itu mendorong bahu Jiyeon dengan kuat. Memaksa gadis itu untuk menuruni tangga beranda, bahkan Jongin melepaskan cengkraman ketakutan Jiyeon di lengannya saat laki-laki itu semakin mendorong tubuh Jiyeon untuk turun ke bawah. Jongin juga mengabaikan ucapan memohon Jiyeon, laki-laki itu justru mendorong Jiyeon lebih kuat membuat gadis itu terjatuh, berguling hingga tubuh kecil Jiyeon beringsut di bebatuan halaman belakang rumah mereka.

Jongin membulatkan matanya tak menyangka jika gadis itu akan terjatuh karena dorongannya, namun dengan cepat Jongin menghilangkan rasa khawatir yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Jongin teringat akan satu hal yang tadi sempat di utarakan Jiyeon, satu hal yang ingin sekali di buktikan oleh Jongin. Satu hal tentang Song Jiyeon yang alergi dengan air hujan.

Cih! Mana ada alergi seperti itu di dunia ini! — pikir Jongin seraya menepis semua kenyataan yang pernah di dengarnya dari kedua orang tuanya.

“Jongin-ah Jiyeon mempunyai alergi aneh, dia alergi air hujan. Jadi jangan biarkan Jiyeon terkena air hujan karena itu bisa membahayakan nyawanya, kau mengerti?”

“Ne—“

“Dan satu lagi— karena alergi anehnya itu Jiyeon juga tidak bisa berlari lebih dari 10 menit dan Jiyeon tidak bisa terlalu lama di suhu yang terlalu dingin tanpa baju hangat, karena jantungnya akan beraksi lebih cepat menyempit di bandingkan dengan jantung orang kebanyakan.”

Jiyeon meraih bola basket dengan tubuh yang mulai terasa beku, tubuh Jiyeon kini sudah basah kuyup dengan napas yang mulai terasa berat saat dia merasakan suhu panas di bagian kepala. Tubuh Jiyeon semakin menegang tak bergerak saat semua sendi-sendi tulangnya kaku, membeku sedingin es hingga bola basket di tangan gadis itu jatuh mengelinding seiring dengan tubuh Jiyeon yang ambruk tak sadarkan diri.

***

Seoul International Hospital

Jiyeon VVIP Room – 08.00 pm

“Jongin benar-benar keterlaluan!” Kim Jonghyun mengusap wajah frustasinya, menatap ke dalam ruang kaca di mana Jiyeon terbaring dengan semua alat yang tertempel di bagian dada. Lengkap dengan alat bantu pernapasan yang menutupi hidung hingga mulutnya.

Jonghyun yang kala itu sedang menghadiri pesta salah satu koleganya bersama sang istri Minji, langsung meninggalkan pesta saat bibi Jung —pengurus rumah yang bertugas menjaga dan mengurusi Jiyeon dan Jongin— memberi kabar jika keadaan Jiyeon kritis di rumah sakit karena air hujan.

Minji langsung menangis dengn rasa kalut yang membelengu, bahkan wanita itu nyaris kehilangan kesadarannya, saat dokter menyatakan jika jantung Jiyeon kian melemah hingga para dokter terbaik Korea, harus memberikan sengatan listrik dari alat defibrillator untuk memacu detak jantung Jiyeon yang semakin tak bisa di temukan.

Hampir 3 jam para dokter bekerja keras untuk menyelamatkan Jiyeon, hingga pada akhirnya keajaiban datang dan Jiyeon bisa selamat dari maut. Namun keadaan gadis itu masih sangat lemah dan masih harus di bawah pengawasan dokter.

Di ujung kaca ruangan Jiyeon terlihat Jongin yang berdiri diam di tempatnya berpijak sejak Jiyeon di bawa ke rumah sakit ini, sejak gadis itu di bawa oleh para pengawal dengan tubuh beku sedingin es, bibir yang membiru dan kepala yang sepanas bara api. Jongin tak mengeluarkan sepatah kata pun, tetap berdiri dengan wajah pucat pasi, tangan yang bergetar seiring detak jantung yang terus memacu sejak tadi.

Jonghyun mengalihkan pandangannya, menatap Jongin dengan semua rasa tak percaya yang berkecambuk di dalam hati. Tak percaya saat seorang pelayan di rumahnya, mengatakan jika Jongin lah yang mendorong Jiyeon hingga gadis itu berada di derasnya air hujan sore itu.

“Apa benar kau yang membuatnya berdiri di bawah hujan, Kim Jongin?”

Suara dingin Jonghyun memecah kebekuan Jongin seketika, laki-laki berusia 13 tahun itu tak bergeming dengan tangan yang kian gemetar, tetap menatap lurus ke arah Jiyeon yang terbaring lemas di atas ranjang pasiennya.

“Kim Jongin!”

Jongin menoleh saat suara Jonghyun terdengar semakin dingin, menatap kosong wajah sang ayah dengan sebaris kata-kata yang pada akhirnya keluar dari lidah Jongin yang kelu, kata-kata yang membuat Jonghyun mengangkat tangannya ke udara.

“Ne! Akulah yang mendorongnya hingga dia jatuh dari tangga beranda, akulah yang memaksanya untuk mengambil bola basket di bawah hujan yang sengaja aku buang di sana. Aku lah yang melakukannya ayah karena aku— aku tidak menyukainya, aku membenci Song Jiyeon kalian.”

“KIM JONGIN!!”

Oppa! Hentikan!” Gerakan tangan Jonghyun yang hendak menampar Jongin terhenti saat Minji menghalaunya, wanita itu menatap Jonghyun seraya mengingatkan jika Jongin adalah putra mereka. “Jiyeon sudah sadar!” ucap wanita itu kemudian, Jonghyun mengerang dengan frustasi, menatap Jongin yang hanya membisu tanpa rasa menyesal sedikit pun.

“Seingatku aku punya 1 putra yang bisa aku banggakan, 1 putra yang tidak pernah tega untuk menyakiti orang lain apalagi untuk menyakiti saudaranya sendiri. Tapi kini Ayah benar-benar kecewa dengan sikapmu Jongin, kau benar-benar telah mengecewakan ayah.”

Jonghyun membalikkan tubuhnya seraya menarik Minji bersamanya, laki-laki itu terlihat mengusap setetes air mata yang tiba-tiba sudah jatuh di pipinya, air mata kecewa akan sikap sang anak yang menjadi kebanggaannya. Sang anak laki-laki yang sangat di sayanginya melebihi Jonghyun menyayangi nyawanya sendiri, melangkah dalam kesunyian yang semakin membekukan Jongin dengan segudang rasa menyesal di belakang sana.

******

Now

Jiyeon’s Room

Jiyeon menumpukan sikunya di atas pinggiran jendela kamarnya, menatap tetesan air langit yang masih saja jatuh ke permukaan bumi sejak beberapa jam yang lalu. Menatap tetesan air yang sejak dia terlahir ke dunia sudah menjadi sesuatu yang akan membuatnya sakit, bahkan gadis itu bisa kehilangan nyawanya hanya karena air yang justru sangat di sukai oleh banyak orang.

Termasuk yang di sukai oleh seorang laki-laki yang dulu pernah membuatynya sekarat dan harus di larikan ke rumah sakit, laki-laki yang diam-diam datang menemuinya di dalam kamar pasien yang saat itu sedang pura-pura tidur. Laki-laki yang menangis dengan ratapan menyesal karena sudah membuat Jiyeon kritis, laki-laki yang mengenggam erat tangannya semalam hingga Jiyeon tahu jika laki-laki itu bukanlah orang jahat. Dia adalah laki-laki yang menyayangi Jiyeon di balik tatapan benci yang selalu di tampilkan laki-laki itu dan laki-laki itu adalah Kim Jongin— kakak laki-lakinya.

Jiyeon menoleh saat sadar jika pintu kamarnya terbuka, menatap terkejut sosok yang baru saja ada di dalam pikirannya kini sudah berdiri di ambang pintu. Berjalan mendekat hingga berdiri menjulang di samping Jiyeon yang menegang, menahan semua luapan kata yang kembali ingin di utarakan hingga laki-laki itu tahu jika kini Jiyeon sangat menyesal dengan semua bentakan yang menyakiti hati laki-laki itu.

Oppa! Aku,—“

“Aku tidak ingin membahasnya,” potong laki-laki itu dengan cepat, memutar tubuhnya seraya membingkai bahu Jiyeon dengan kedua tangannya.

Menatap Jiyeon yang kini terbalut sweater tebal berwarna cream dengan corak bunga berwarna marun, menatap Jiyeon yang menatapnya dengan lekat hingga membuat Jongin tersenyum seraya mengusap kepala gadis itu dengan sayang. Jongin menghadapkan tubuhnya ke arah jendela, membuka jendela hingga sapuan angin dingin menyapa wajah mereka. Jongin meraih tubuh Jiyeon hingga gadis itu berdiri di depan tubuhnya, mendorong secara perlahan sampai ke pinggiran jendela.

Oppa apa yang ingin kau lakukan?” tanya Jiyeon dengan binggung, percikan air hujan mulai semakin terasa di tangan Jiyeon saat gadis itu menggenggam pinggiran jendela.

“Seingatku alergi akan kambuh jika seluruh tubuhmu terkena air hujan, jika hanya tanganmu yang terkena air hujan aku rasa… tidak akan menjadi masalah,”

Jongin melinggarkan tangannya di tubuh Jiyeon, meraih jemari Jiyeon dalam genggaman seraya merapatkan tubuh mereka. Perlahan Jongin mengulurkan tangan Jiyeon yang berada di genggamannya hingga berada di luar jendela, pelan tapi pasti kini tangan mereka berdua sudah berada di tetesan air hujan yang jatuh dari atap jendela kamar Jiyeon.

Jiyeon terdiam membeku dalam ketakutan saat dia merasakan tetesan air hujan membahasi jemarinya yang semakin digenggam erat oleh Jongin, merasa jika jantungnya berhenti saat Jongin membuat telapak tangannya terbuka, hingga Jiyeon benar-benar bisa merasakan air langit membahasi telapak tangannya. Samar-samar senyum bahagia merekah di bibir Jiyeon, merasa tidak percaya jika dia bisa kembali merasakan air hujan.

“Inilah air hujan Jiyeon,” Jongin berbisik dengan suara rendahnya, merapatkan tangannya hingga kedua tangan mereka menyatu seraya menyandarkan dagunya di bahu Jiyeon. “Apa rasanya masih sama seperti 5 tahun yang lalu?” Jiyeon hanya mampu mengangguk pelan, terlalu terbawa rasa bahagia dalam hiporia air hujan yang mengetarkan jiwa.

“Heemm tapi kali ini air hujan tidak menyakitiku,”

Detik berlalu dalam keheningan mereka berdua sama-sama menikmati air hujan yang membasahi genggaman tangan mereka, namun di detik berikutnya Jiyeon terdengar menjerit tertahan saat Jongin memercikkan sedikit air hujan pada wajah gadis itu.

Oppa!”

Jongin tersenyum seraya menarik tangan mereka menjauh dari tetesan hujan, menutup jendela dengan segera menarik Jiyeon untuk duduk di atas sofa yang ada tak jauh dari jendela. Tanpa kata Jongin meraih baju hangat yang baru untuk Jiyeon dari dalam lemari gadis itu, memerintahkan gadis itu untuk berganti baju hangat yang sudah terasa lembab, lalu memakaikan sarung tangan yang juga di ambil laki-laki itu dalam lemari gadis itu.

“Sudah cukup untuk hari,” Jongin meraba kening Jiyeon yang sedikit menghangat. “Minum obat penurun panas mu setelah ini,” Jongin bangkit dari sofa dan membalikkan tubuhnya, menahan langkah kaki seraya mengutarakan sebaris kalimat yang membuat Jiyeon terdiam.

“Aku ingin kau tahu tentang satu hal, jika tidak selamanya hujan akan menyakitimu, terkadang hujan juga akan membuatmu tersenyum dan tertawa bahagia, Song Jiyeon.”

Jiyeon semakin terdiam di atas sofa yang di dudukinya, menatap punggung Jongin yang mulai melangkah menjauh. Namun tiba-tiba tanpa sadar Jiyeon bangkit dari duduknya, berjalan cepat dan akhirnya memeluk punggung Jongin hingga membuat langkah laki-laki itu terhenti seketika.

“Mianhae oppa!” Jiyeon menetaskan air matanya, gadis itu benar-benar tak bisa memaafkan dirinya. “Seharusnya aku mendengarkanmu, seharusnya aku menuruti semua kata-kata mu, seharusnya aku selalu percaya padamu,” Jiyeon mengeratkan pelukannya dengan isakkan yang mulai terdengar.

Jongin meraih lengan Jiyeon dan melepaskan pelukan gadis itu, memutar tubuh Jiyeon dengan jemari yang sudah menghapus air mata Jiyeon yang masih mengalir.

“Sejak dulu aku selalu menyakitimu dan membuatmu terluka, hingga aku selalu tak mampu untuk memaafkan diriku sendiri. Dan kini aku tidak akan pernah rela jika ada orang lain yang menyakitimu Jiyeon, cukup aku saja yang menorehkan semua luka padamu,”

Jongin tersenyum samar dengan usapan lembut di pipi Jiyeon yang pucat, menyalurkan semua rasa sayang yang tak terbendung untuk gadis itu seorang. Hingga pada akhirya Jongin memajukan wajahnya, mencium kening Jiyeon dengan dalam seraya meluapkan semua rasa yang semakin sulit untuk di tahan. Kecupan yang Jiyeon rasakan untuk pertama kali, hingga membuat gadis itu membeku di tempatnya.

“Aku sangat menyayangimu, Song Jiyeon.”

Jongin membalikkan tubuhnya, berjalan cepat meninggalkan kamar Jiyeon dengan semua rasa yang tak kan pernah pudar sampai kapan pun, meninggalkan Jiyeon yang terpaku di sebuah ruang rasa yang tak di mengerti oleh gadis itu sedikit pun. Hingga perlahan tanpa sadar Jiyeon sudah mengerakkan tangannya, meraba dadanya dengan wajah yang telah berubah merah muda, karena kini untuk pertama kalinya jantungnya sudah berdetak dengan irama sangat cepat tanpa pernah bisa dia kendalikan.

TBC

Iklan

11 pemikiran pada “Forbidden Feeling (Chapter 4)

  1. woahhh so sweett bgttt jonginn., ihh aku irii ma.jiyeonn..mau dong jadi adik angkatnya jongin,.beneran dehhh..
    ..beruntung bgt jiyeon., yah walopun sikapnya kadang dingin..tp dia sngt menyayangimuuu jiyeonn..huwaaaaa sii jiyeon uda mulai tanda” niiihh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s