Great Doctor, Kim Jong In (Chapter 1)

Great Doctor, Kim Jong In

Great Doctor

Title : Great Doctor, Kim Jong In (Chapter 1)

Cast :

  • Kim Jong In
  • Wu Yi Fan
  • Do Kyung Soo
  • EXO Member
  • Baek Soo Jin (OC)
  • Eom Ji Young (OC)

Genre : Medical, Angst, Life-slide, little Romance

Author : Choi Rae Han

Lenght : Multichapter

Rate : PG-11

Inspirated by : Team Medical Dragon (Iryu 1 -3), Good Doctor, Doctor Stranger, Medical Top Team, and drama atau dorama lain dengan genre medis.

Note : Apa ya? Saya bingung *krrik, suara jangkrik. Fanfiksi ini sebenarnya adalah fanfiksi terlantar karena tertelan kesibukan, hha-hha, dan muncul kembali dengan berbagai perbaikan karena saya terhimpit kesibukan (?). Makanya itu covernya udah cover lama lol. Lihat noh muka Jong In masih yang culun :p dan gambar cast ceweknya pake Jessica ama Yuri lol, tapi nggak apa-apa ya? Cuma poster. Selamat menikmati dan saya sangat butuh responnya 😀

Semua yang saya tulis disini TIDAK untuk dipraktekkan, karena saya cuma based on literatur, video, dan dorama–bukan praktek secara langsung di lapangan. Saya bukan mahasiswi bidang kesehatan, jadi jika ada salah, harap koreksinya, dan tampar saya dengan saran dan kritik yang membangun 😀

 

(Chapter 1)

Ckiiiit… Braaaaaak!!!!

Mobil-mobil yang melaju di belakang mengerem mendadak. Para pengemudi langsung berhamburan keluar. Mereka segera melongok ke bawah, kearah sungai di bawah jurang yang terletak tepat di pinggir jalan. Suara-suara panik terdengar menghubungi kepolisian, ambulan, dan tim SAR.

Sebuah mobil sedan hitam baru saja menghantam pembatas dan meluncur bebas ke bawah sana.

***

Ruang Operasi, N University Hospital.

Ctttitt… cttiit… ctttitt…

Suara elektrokadiogram menjadi yang mendominasi ruang operasi. Kesibukan berjalan tanpa suara, hanya gerakan cekatan para anggota tim operasi, hingga suara deringan nyaring memecah keheningan. Telepon yang menempel di dinding, berdering.

Seorang perawat cekatan mengangkat telepon sebelum menganggu proses operasi lebih jauh lagi. Dia menempelkan ganggang telepon di telinga, mendengarkan informasi dari seberang dengan seksama. Matanya melebar. Dia menjauhkan ganggang telepon dari telinga, lalu menatap seorang pria bertubuh tinggi yang tengah serius menjalankan prosedur operasi.

“Yi Fan seonsaengnim”

Pria itu menghentikan gerakan tangannya. Dia mengangkat wajah untuk sekedar melirik perawat yang berdiri sebari menggenggam ganggang telepon. Beberapa orang ikut menoleh, menatap perawat yang berdiri gusar di sudut ruangan.

Kris-pria itu, bisa melihat sorot kekhawatiran terpancar jelas dari kedua mata perawat. Wajah perawat yang tertutup masker tidak menghalangi Kris untuk bisa membaca situasi yang tengah terjadi. Sesuatu yang buruk sedang terjadi…

“Telah terjadi sesuatu yang buruk dengan Joon Myeon euisa-nim, saem. Sekarang beliau berada di unit ER (UGD)”

Hening.

Semua orang di dalam ruang operasi membelalakkan mata. Tapi kontrol diri mereka sebagai tim operasi cukup membuat tidak ada satu pun yang memekik keheranan. Begitu pula Wu Yi Fan–Kris. Pria itu hanya mengeratkan genggaman tangannya pada scapel yang sudah berjarak 2 mili dari pembuluh aorta pasien.

Satu detik berikutnya, pandangan penuh tanya langsung menghujam Kris yang masih terdiam.

Kris menelan ludah, lalu kembali menatap dada pasien yang sudah terbelah, menampilkan jantung dan pembuluh darah yang harus mereka reparasi.

“Lanjutkan prosedur Aorta replacement,” titah Kris, setelah terdiam selama lebih dari 5 detik. Pria itu jelas-jelas ingin seluruh anggota tim kembali fokus.

Suction,” asisten Kris mengarahnya suction pump ke rongga dada pasien. Suara berdesing kecil segera terdengar.  

“Metzenbaum,” Kris melanjutkan perintahnya. Seorang perawat tampak mengusap kening Kris yang mulai berkeringat.

“Aku ingin semua anggota tim kembali fokus,” kata Kris lirih. “Kita harus menyelesaikan operasi ini sebelum mencari tahu kabar mengenai dokter Joon Myeon,” lanjutnya.

Pria itu mulai memotong pembuluh aorta pasien penderita aorta dissection di hadapannya. Pembuluh aorta yang rusak berhasil diangkat. Kris meletakkan aorta yang robek ke wadah yang telah disiapkan perawat di sampingnya. Keheningan kembali mendominasi ruang operasi, hanya menyisakan suara berdeking elektrokardiogram dan suara lembut heart-lung machine.

Lengang.

“Yoo Ra-ssi,” suara Kris terdengar diantara keheningan ruangan, “Siapa yang menanggani Joon Myeon saat ini?,” pria itu bertanya sebari melakukan prosedur penjahitan pembuluh aorta sintetis yang baru saja dipasang ke jantung pasien.

Ekspresi Kris masih sama, masih fokus menatap pasien di hadapannya dengan tangan yang cekatan menjahit pembuluh.

“Saat ini… dokter Joon Myeon tengah ditangani oleh dokter Jong Dae, seonsaengnim”

***

Pintu otomatis ruang operasi, terbuka.

Kris keluar dengan langkah tergesa sebari melepaskan masker yang menempel di wajahnya. Pria itu masih menggunakan baju hijau toska khas surgeon, dengan masker yang kini menggantung di leher. Dia harus menuju ke ruang gawat darurat. Dia harus melihat sendiri kondisi Su Ho saat ini.

Kris berbelok ke koridor rumah sakit, dan segera mendapati seorang gadis ber-jas dokter berlarian kearahnya. Kris menghentikan langkah.

“Su Ho kritis, Kris,” kata Soo Jin begitu dia sampai di depan Kris. Kris membelalakkan matanya tidak percaya.

“Apa katamu?” tanya Kris retoris.

Soo Jin mengangguk cepat. “Saat ini Jong Dae sedang berusaha mengembalikan kondisi Su Ho. Sesuatu yang buruk terjadi padanya,” suara Soo Jin bergetar.

Fakta jika Soo Jin sudah mengetahui kondisi Su Ho sejak 30 menit lalu, dan gadis itulah yang menghubungi Kris ketika operasi barusan, tidak membuat Soo Jin lantas tegar menerima berita ini. Bagaimana pun juga, kabar tentang Su Ho yang kritis membuat semua staff medis shock berat.

“Seolma….” gumam Kris. Pria itu segera melanjutkan langkah. Soo Jin mengekor dari belakang. “Bagaimana kondisi lengkapnya?” Kris bertanya sambil terus berjalan cepat.

“Su Ho kritis dengan perdarahan hebat di kepala, hipotermia, dan lebam di bagian dada,” Soo Jin menjelaskan. Kris mengerutkan keningnya, mulai was-was. Penjelasan Soo Jin belum selesai. “Hasil rongent menunjukkan bahwa tulang rusuk Su Ho patah”

Kris menghentikan langkahnya sekali lagi. Kening pria itu semakin berkerut. Tulang rusuk patah?

Soo Jin menghela napas. Dia mengangguk sebari memasukkan telapak tangannya ke dalam saku jas. “Ada patahan tulang yang menancap di jantung sebelah kanannya, Kris” Soo Jin seperti bisa membaca pikiran Kris.

Kris seperti kehilangan seluruh tenaganya. Pria itu merasa jika sekujur tubuhnya lemas.

Dia menatap Soo Jin dengan wajah pias. “Apa kau bilang?”

Soo Jin mengangguk. Gadis itu pun sama pias-nya dengan Kris. Mereka berdua tahu kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi kepada Su Ho. Jantung Su Ho bisa konsleting, yang berakibat pada jantung berhenti secara mendadak.

Ya, kemungkinan buruknya, patahan tulang akan membuat tegangan miokardium–otot jantung tidak seimbang, karena patahan tulang mungkin saja mengenai simpul sino-atrial jantung Su Ho. Sementara Kris maupun Soo Jin tahu jika simpul sino-atrial bisa diibaratkan sebagai gardu listrik terbesar yang memacu agar jantung tetap berdetak. Lagipula mengandalkan sinus atrioventricular (AV) untuk menggantikan SA, jelas bukan sebuah hal yang menenangkan bagi Kris.

Sederhananya, Su Ho tengah berada dalam ancaman kematian besar.

Mata Kris membesar. Pria itu tidak bisa mengatakan apapun kecuali segera berlari menuju ruang gawat darurat. Soo Jin menghembuskan napasnya keras, sebelum berlari kecil menyusul Kris yang kesetanan berlari ke unit ER.

***

Sinar kemerahan matahari senja menyorot seluruh bagian dinding losmen yang menghadap langsung ke pantai.

Tidak ada bangunan lain yang berada di sekitar losmen sederhana ini, hingga membuat penghuni kamar sama sekali tidak keberatan jika angin menggerakkan ranting-ranting besar pohon ‘menggedor-gedor’ jendelanya. Toh mereka tengah menikmati kebersamaan atas nama cinta satu malam. Lebih tepatnya, nafsu satu malam.

Bayangan hitam yang terpantul karena sorot kemerahan matahari sore, samar bisa tertangkap mata dari luar. Tapi siapa yang sudi memperhatikan, jika aktivitas di dalam sulit untuk dideskripsikan? Walau angin sore pantai dengan suka rela menerbangkan suara-suara aneh keduanya, tapi yakinlah, tidak ada yang mau mendengar. Terlalu.. errr… menjijikkan. Tapi apapun itu, seorang pria kekar berkulit kecoklatan tengah memenuhi kebutuhan terkait insting kelaki-lakiannya. Jangan ditebak!

***

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini, babe?” pertanyaan bernada manja terdengar ketika pria itu sibuk memakai kaos-nya.

Dia tersenyum miring, sama sekali tidak menoleh kearah wanita yang tengah tiduran di ranjang dengan hanya tertutup selimut sebatas dada.

“Apa tebakanmu?,” pria itu membalikkan pertanyaan, sebari mengubah lengkungan bibirnya menjadi sedikit lebih menggoda.

Wanita itu tersenyum, lalu pura-pura mengeryit sebagai tanda kalau dia berpikir. Ah, biasa, tebar pesona. Pria itu tertawa meremehkan dalam batin.

“Kau akan bekerja, dan mungkin berniat menemuiku lagi. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan yang tadi?”

Pria itu mendekat, lalu duduk di tepi ranjang–tepat di samping wanita yang telah dia gunakan beberapa saat lalu.

Dia masih tersenyum. “Mungkin kau benar,” katanya, yang disambut oleh kikikan genit sang wanita. “Tapi yang pasti, tadi itu sangat menyenangkan,” lanjutnya sedikit berbisik. Bahkan dia mendekatkan wajahnya ke telinga sang wanita, memberikan sebuah hembusan napas.

“Aku tahu jika kau suka,” balas wanita itu setengah mendesah, membuat pria itu tersenyum miring sekali lagi.

Pria itu berdiri, lalu meraih jaket jins yang tersampir di kursi. Dia merogoh saku jaket dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana. “Ini untuk satu jam paling menyenangkan yang telah aku lewati. Simpan kembaliannya,” katanya sebari meletakkan lembaran uang di atas selimut.

Wanita itu menaikkan satu alisnya. “Well, selain tampan, kau pun kaya. Aku suka,” tanggapnya. Pria itu tidak menggubris. Dia memakai jaket jinsnya dengan gerakan memutar, mengambil ranselnya, lalu berjalan menuju pintu keluar.

“Kau tidak berniat membiarkanku tahu siapa namamu?,” wanita itu melanjutkan ketika pria itu sudah memutar knop pintu.

Pria itu menarik sebuah napas panjang, lalu tersenyum. Dia melanjutkan memutar knop, dan membuka pintu kamar losmen selebar tubuhnya.

Dia menoleh, “Aku tahu kau pasti akan mudah melupakan namaku, tapi panggil aku…. sang namja (the real man)”

“Sang namja?”

Dia tidak menanggapi pertanyaan bernada retoris dari sang wanita yang sudah mengerutkan keningnya heran, melainkan tetap melenggang keluar kamar lalu menutup pintu hingga menimbulkan suara tegas. Lengkung senyum menggoda yang sempat terukir, hilang seketika. Dia menarik ujung jake jinsnya, lalu menggulung lengan jaket hingga sebatas siku.

Dia terkekeh, “Sang namja? Bodoh. Aku, Kim Jong In”

***

Jong In membuang sepah permen karet yang sudah tidak berasa ke tong sampah di pinggir gang, langsung dari mulutnya.

Pria berkulit gelap itu mengusap mulutnya dengan punggung tangan kanan, sebari melirik kearah sebuah kedai soju. Lampu jalan terletak tepat di samping kedai, memberikan efek lighting kedai soju sederhana dengan beberapa orang yang sibuk keluar masuk.

“Sudah lama sekali…” Jong In bergumam. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku jaket sebari menatap lekat kedai soju di hadapannya. Ya, rasanya sudah lama sekali dia tidak meneguk minuman itu.

Semenjak dia menjalani kehidupan super-kacau-nya di Negara tetangga, dia sama sekali tidak sempat menegak arak beras tradisional yang dulu tidak pernah luput dari daftar minuman wajibnya.

Jangankan minum soju, menghubungi keluarganya di Seoul saja, Jong In tidak pernah. Pria itu hanya mengirimkan kabar dan beberapa uang sebagai tanda jika dia baik-baik saja. Hingga tibalah hari ini, ketika dia harus pulang karena sesuatu yang penting dalam hidupnya, terancam.

Jong In menghela napas. Dia merogoh permen karet di dalam saku celana, lalu mengunyahnya lagi. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk minum soju. Dia harus mendapatkan sebuah tempat penginapan murah, sebelum tengah malam.

***

Sudah hampir satu jam Jong In berjalan di sepanjang trotoar kota Seoul, dan tidak ada satu pun penginapan yang cukup untuk dibayar dengan uang yang tertinggal di kantong Jong In saat ini. Well, uang tunai Jong In habis untuk membayar wanita sore tadi.

Jong In mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kota, sebari menggunyah permen karet yang sudah hampir kehilangan rasa. Tidak ada yang Jong In temukan kecuali orang-orang yang berlalu lalang, restoran, kafe, tempat karaoke, dan tempat-tempat lain yang sama sekali tidak bisa digunakan untuk menginap. Jong In menghela napas. Jangan bilang dia harus tidur di teras toko lagi, malam ini.

Jong In berniat melanjutkan langkah ketika secara tiba-tiba seseorang menyenggol bahunya. Jong In terhuyung, hampir terjungkal ke depan.

“Ah, maafkan aku! Aku sedang buru-buru!,” orang itu–laki-laki pendek berwajah kecil yang masih berlarian melewati Jong In, tampak menganggukkan kepalanya sungkan beberapa kali. Setelah itu dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebelum akhirnya kembali berlari kesetanan.

Jong In berdecak sebari menggelengkan kepalanya heran. Bisa-bisanya ada manusia yang terburu di jam-jam seperti ini? Bukankah sekarang jam-jamnya orang pulang kerja? Jong In sampai tidak habis pikir. Tapi, ah, lupakan masalah itu. Toh setiap orang memiliki kesibukan sendiri-sendiri,kan? Seperti dirinya saat ini, yang sibuk setengah mati mencari sebuah penginapan murah meriah di kota metropolitan.

Dooor!!

Jong In memutuskan untuk berbalik arah ketika secara tiba-tiba suara tembakan terdengar dari arah depan.

Pekikan orang-orang langsung menggema di keheningan malam, bersamaan dengan seorang pria paruh baya yang memegang dadanya sebari membelalakkan mata.

Mata Jong In membulat. Pria itu membutuhkan waktu kurang dari dua detik untuk mencerna suasana, sebelum akhirnya berlari menghampiri pria paruh baya yang sudah tumbang di trotoar jalan. Orang-orang langsung mengerubungi sebari memekik tertahan.

“Aigoo… bagaimana ini….…”

“Astaga, Tuhan! Dokter! Panggil dokter!! Ambulan!!”

Jong in susah payah menerobos kerumunan massa yang ricuh memberikan solusi tanpa berbuat apapun. Darah sudah meluber kemana-mana.

“Seseorang tolong panggil ambulan!!!,” teriakan panik seorang laki-laki pendek yang sempat menabrak Jong In tadi, membuat Jong In segera sadar jika bukan hanya dirinya yang berjongkok di dekat korban penembakan.

Laki-laki itu sibuk mengumpat sebari terus berusaha melilitkan syal ke dada bagian atas korban penembakan. Jong In tahu jika laki-laki itu berusaha keras menghentikan perdarahan, tapi lihatlah, darah korban tetap saja tidak mau berhenti. Luka tembak itu cukup parah jika hanya dihentikan dengan lilitan syal. Bahkan cairan merah kental itu malah merembes menembus syal.

Laki-laki itu berdesis,. “Aish… bagaimana ini.. darahnya banyak sekali.” Kedua tangannya sudah berlumuran dengan darah segar korban. Jong In bisa melihat tangan laki-laki itu sedikit bergetar.

“Mana ambulannya?!! Kalian sudah panggil atau belum, eoh?” teriaknya sekali lagi–emosi.

Jong In menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa membiarkan laki-laki ini melakukan hal tidak berguna sambil berteriak-teriak. Pria paruh baya itu bisa kehabisan darah!

“Singkirkan tanganmu!,” suara Jong In terdengar untuk pertama kalinya.

Laki-laki itu tersentak, kaget dengan keberadaan Jong In yang secara tiba-tiba menyuruhnya untuk menyingkirkan tangan. Mata bulatnya semakin melebar. “Apa?”

“Aku bilang, singkirkan tanganmu!!!!,” bentak Jong In.

Laki-laki itu segera menurut dengan menyingkirkan tangannya yang bergetar dari tubuh korban. Jong In mengambil alih dengan meraba dada korban dengan tangan kanan, mencari lubang akibat peluru yang melesat beberapa detik lalu. Keributan yang masih terjadi di sekelilingnya sama sekali tidak dihiraukan. Jong In memejamkan matanya sekilas, hingga tangannya berhenti di satu titik.

Tepat di luka tembak.

Jong In segera memposisikan dua jari tangan kanannya untuk menutup luka mengganga di tubuh korban.

Dia menatap laki-laki bermata bulat di hadapannya. “Batu!”

“Batu?,” laki-laki itu mengerutkan keningnya. Oh ayolah, untuk apa mencari batu?!!!

“Cari batu atau orang ini akan mati dalam sepuluh menit!,” lagi-lagi Jong In membentak. Seperti terhipnotis, laki-laki itu langsung kelabakan meneriakkan kata ‘batu… batu’, hingga salah seorang diantara kerumunan menyerahkan dua bongkah batu berukuran sedang.

Laki-laki itu menyerahkan batu kepada Jong In yang masih sibuk menahan aliran darah dari tubuh korban. Jong In menerima dengan tangan kiri. “Kau letakkan syal tepat di atas jariku, satu lapis,” perintah Jong In. Laki-laki itu menurut. Dia melakukan perintah Jong In dengan begitu tepat.

Jong In mengangguk samar. Dia menarik jemarinya dari bawah syal bersamaan dengan tangan kirinya yang menekan batu ke bagian lubang di tubuh pasien. Laki-laki itu memperhatikan sebari ternganga lebar. Sesekali, dia menatap Jong In yang tengah sibuk melilitkan syal ke tubuh korban, hingga darah tidak lagi mengalir.

Hebat!!

Bahkan dia sama sekali tidak terpikir menggunakan batu untuk menghentikan perdarahan.

Suara berdeking ambulan terdengar tepat setelah Jong In menyelesaikan simpul terakhir syal di tubuh korban. Orang-orang langsung menyingkir, memberi jalan petugas ambulan. Jong In dan laki-laki itu sontan membantu petugas mengangkat korban ke tandu, untuk selanjutnya dibawa ke dalam ambulan.

“Siapa yang bertanggungjawab?,” salah satu petugas ambulan bertanya. Jong In menunjuk laki-laki bermata bulat di sampingnya. “Dia”

“Kami!,” ucap laki-laki itu, bersamaan dengan Jong In.

Apa? Hei, hei, hei, apa yang dikatakan laki-laki itu?! Apa Jong In baru saja dilibatkan ke dalam urusan ini setelah dia dengan baik hati mau menolongnya menghentikan perdarahan di dada korban?

Jong In membelalakkan matanya. “Apa katamu?,” pekik Jong In.

Laki-laki itu menatap Jong In dengan wajah serius, “Anda harus ikut ke rumah sakit, untuk menjelaskan tentang batu yang anda tempelkan ke tubuhnya. Bagaimana pun juga, aku tidak akan pernah bisa menempelkan batu pada luka mengangga. Bisa infeksi,” kata laki-laki itu.

Jong In terkekeh tak percaya. “Kau lebih memikirkan infeksi ketimbang nyawa? Ah, sulit sekali dipercaya,” kata Jong In, bersamaan dengan laki-laki pendek itu yang mendorong tubuh Jong In agar masuk ke dalam ambulan.

“Anda… harus ikut ke rumah sakit!!”

***

Jong In menatap malas korban penembakan yang kini terbaring di antaranya dan laki-laki aneh yang baru dia temui. Sesekali Jong In melirik, dan mendapati laki-laki itu sibuk mengecek kondisi vital korban dengan wajah panik.

Jong In bersandar di dinding mobil. “Kau mengecek kondisi vitalnya setiap 30 detik sekali,” kata Jong In. Laki-laki itu menoleh, “Aku khawatir. Dia kehilangan banyak darah,” jawab laki-laki itu.

Jong In hanya mengangguk. Ya, dia tahu. Jong In hanya berniat mencibir laki-laki berwajah bulat yang dengan seenaknya melibatkan Jong In dalam masalah ini. Tidak tahukah jika Jong In tengah sibuk mencari penginapan?!! Dan, ngomong-ngomong, sebenarnya mereka akan menuju rumah sakit apa sih?

Jong In menghela napas. “Ngomong-ngomong, kita tengah menuju rumah sakit apa?”

Laki-laki di hadapannya mengangkat wajah. Keningnya terlipat ketika mendapati Jong In bertanya dengan wajah jengah. Bukankah simbol rumah sakit yang akan mereka tuju sudah tertera di badan ambulan? Jong In tidak sempat melihat?

“Anda tahu Universitas N?”

Jong In mengangguk.

“Kita akan menuju rumah sakit-nya. N Hospital,” jawab laki-laki itu tegas. Jawaban yang secara otomatis membuat mata Jong In membulat sempurna. Tubuh Jong In pun langsung tegak menatap laki-laki berwajah kecil yang dengan bangga menyebutkan nama rumah sakit yang akan mereka tuju saat ini. Apa dia bilang? N Hospital?

Laki-laki itu tersenyum. “Oh, ya, aku lupa jika kita belum berkenalan. Aku, Do Kyung Soo. Residen tahun pertama, N Hospital. Apa anda juga seorang dokter? Kalau tidak keberatan, bolehkan aku tahu nama anda?”

“Apa katamu? N Hospital?!!,” nada bicara Jong In meninggi di ujung kalimat. Jong In sama sekali tidak menggubris pertanyaan bernada riang Kyung Soo.

Sialan! Kenapa harus N Hospital? Tidak tahukah laki-laki itu jika N Hospital adalah satu diantara beberapa tempat yang ingin Jong In hindari di seumur hidupnya?!!

***

Ambulan berhenti tepat di depan pintu unit ER. Petugas ambulan langsung melompat turun lalu membuka pintu belakang, membantu Kyung Soo dan Jong In menurunkan korban penembakan dengan menggunakan tandu. Lebih tepatnya, membantu Jong In yang terpaksa menurunkan pasien dari dalam ambulan. Karena kalau boleh memilih, Jong In memilih untuk tidak keluar dari ambulan sama sekali. Tapi, mustahil. Jong In tetap harus turun dari ambulan jika tidak ingin diusir paksa oleh petugas.

Petugas unit ER menyambut pasien lalu melarikannya ke dalam. Kyung Soo tampak mengikuti dengan berlari kecil di samping ranjang dorong yang melaju cepat di lorong unit.

Jong In memejamkan matanya, sesaat. Pria itu menggigit bibirnya ketika kakinya secara refleks hampir ikut bergerak mengikuti pasien. Sial! Jong In menyumpahi seluruh anggota tubuhnya yang masih belum sepenuhnya mau lepas dari pekerjaan ini!!

“Seonsaengnim!! Anda harus ikut masuk ke dalam!!!! Kenapa masih disitu?!,” teriakan Kyung Soo terdengar ketika Jong In hanya berdiri gusar di ambang pintu unit.

Masuk ke dalam? Gila! Bahkan pikiran Jong In ingin agar dia segera berbalik dan berlari sejauh mungkin. Pria itu menggeratkan genggaman tangannya di samping jahitan. Apa yang harus dia lakukan sekarang?!!

“Seonsaengnim!!”

Jong In menghela napas. Oke, dia masuk! Lagipula, ini unit ER,kan? Dia tidak akan dikenali di unit asing. Well, Jong In harap orang-orang hanya akan menganggapnya sebagai saksi mata kasus penembakan yang bisa melakukan first aid untuk korban.

“Astaga, aku tidak percaya dengan diriku sendiri!,” umpat Jong In ketika dia akhirnya ikut berlari kecil mengikuti pasien dan Kyung Soo yang sudah melaju di lorong unit.

Mereka masuk ke dalam ruang penanganan pertama bagi korban-korban kecelakaan. Petugas cekatan memindahkan tubuh pasien ke ranjang di sudut ruangan, sebelum akhirnya seorang perawat kelabakan melepaskan syal yang melilit dada korban.

“Batu?” pekik perawat.

Jong In yang berdiri di kejauhan, menaikkan satu alisnya.

“Bagaimana bisa kau menggunakan batu untuk menutup lukanya?!” seorang perawat senior menoleh kearah Kyung Soo. Kyung Soo kelabakan menunjuk Jong In di sampingnya. “Buk… bukan aku! Seonsaengnim ini yang memberinya batu, seonbae”

Jong In menghela napas tidak percaya. Jadi dia sedang disalahkan?

“Aku hanya berusaha menghentikan perdarahannya. Lepas saja batunya jika kau tidak percaya,” kata Jong In dengan nada jengah.

Perawat mendengus lalu melanjutkan melepaskan syal dari tubuh pasien, dan ketika batu diambil. Crooooot. Aliran darah segar segera muncrat, membasahi seragam dan sedikit memercik ke wajah. Suasana berubah panik dalam sekejap.

Kyung Soo membelalakkan mata. Sementara perawat ternganga lebar.

“Astaga Tuhan!!”

“Bagaimana ini?! Mana dokternya, perawat Im?!!!,” Kyung Soo kebingungan melihat kondisi semakin parah.

“Dokter? Astaga, tidak ada dokter?!! Ya!!! Yeudaera!!! Kami butuh bantuan dokter, segera!! Aigooo…” tidak ada satu pun dokter yang datang. Hanya ada perawat dan beberapa dokter muda yang sama-sama sibuk menanggani pasien luka. Kyung Soo semakin panik. Perawat Im tampak berlarian mencari dokter ke seluruh penjuru unit.

Jong In memutar bola matanya. Sungguh. Pelayanan macam apa ini, eoh? Jong In sampai tidak habis pikir kenapa rumah sakit sebesar ini bisa memiliki pelayanan yang tidak ada bedanya dengan sampah.

“Ya! Bukankah kau dokter?” Jong In bertanya dengan nada sarkastik kepada Kyung Soo. Kyung Soo menggeleng dengan wajah pucat, sebari menggerakkan tangannya untuk menutup luka menganga di dada korban. Kyung Soo meniru gerakan Jong In, beberapa saat lalu. “Aku hanya residen, saem!”

“Residen atau professor, tapi kau tetap dokter jika berhadapan dengan pasien seperti ini. Minggir!!,” Jong In meminta jalan untuk mendekati pasien, dengan jemari Kyung Soo yang masih setia menempel di dada pasien.

Jong In membuka kemeja pasien, lalu menghela napas. Sialan! Dia tidak bisa membiarkan orang ini mati konyol,kan? Jong In menoleh kepada Kyung Soo yang masih berwajah panik.

“Alkohol” Jong In memerintah begitu saja. Satu tangannya cekatan menggantikan Kyung Soo untuk menghentikan perdarahan sementara. Kyung Soo langsung mengangguk, dan bergerak cepat mengambil seabreg first aid yang ada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Jong In menyahut satu botol besar alkohol lalu menyiramkannya begitu saja ke dada pasien. “gauze!” lanjut Jong In.

Kyung Soo kelabakan mencari kapas, menyerahkannya kepada Jong In. Jong In menekan luka tembak dengan kapas untuk beberapa detik, lalu menoleh. “Kassa dan perban,” lanjut Jong In. Kyung Soo segera menyerahkan kassa kepada Jong In, sementara dirinya bergerak menuju kearah luka. Siap-siap memasang perban.

“Bagaimana? Apakah kau masih belum berbiasa melakukan first aid seperti ini? Ini sangat mudah seperti yang kau lihat,” cibir Jong In ketika Kyung Soo melilitkan perban di tubuh korban. Kyung Soo melirik sekilas, lalu mengangguk sungkan. Membuat Jong In menghela napas. Laki-laki itu berkacak pinggang.

“Sekarang kita perlu hasil X-Ray dan Echo untuk tahu sejauh mana peluru itu melukainya. Dan, ngomong-ngomong berapa vital terakhirnya?,” Jong In seperti bergumam di akhir kalimat, menatap monitor yang baru beberapa menit lalu terhubung ke dada korban.

Echo?,” tanya Kyung Soo, sebelum kembali kelabakan berlari untuk menarik mesin echo yang ada di ujung ruangan.

“Tekanan darahnya lumayan, 85/38,” Jong In berkata datar, membuat Kyung Soo yang baru tiba dengan mesin echo membelalakkan mata. “Apa? 85/38? Berapa denyut nadi dan saturasinya?,” Kyung Soo berkata sebari melihat sendiri informasi di layar monitor.

“Lumayan juga, 84 dan 87. Lumayan membahayakan,” jawab Jong In ringan, sebelum mendaratkan detector echo ke dada korban. Kyung Soo sudah menelan ludah. Orang tua ini bisa mati kalau dibiarkan. Tapi lihatlah, ekspresi Jong In datar-datar saja. Pria itu malah sibuk melihat monitor echo dan bergumam. “Sudah aku duga”

“Apa maksudmu, saem?” Kyung Soo bertanya panik. Jong In menggerakkan dagunya ke monitor echo. “Kau bisa lihat sendiri,” Kyung Soo segera menatap layar monitor ketika tiba-tiba suara berdeking elektrokardiogram terdengar nyaring.

Jong In menghela napas. “Traumatic cardiac, kau tahu apa artinya”

“Aigooo… bagaimana ini!!”

Jong In menggelengkan kepala. Laki-laki pendek itu lucu sekali–dalam artian konyol. Dia mengangkat bahu sekali lagi, sebelum mundur beberapa langkah untuk melihat dari kejauhan. Well, dia sudah terlibat terlalu banyak.

“Ini dokter, pasien korban penembakan yang harus segera ditangani,” suara perawat Im terdengar sesaat kemudian. Kyung Soo yang sibuk mengitari ruang ER kembali ke samping pasien yang sudah disambangi oleh satu orang dokter tinggi berdagu tegas.

Vital?” tanyanya.

“Tekanan darah 85/38, denyut jantung 84, saturasi oksigen 87, dan suhu 34.03, Jong Dae seonsaengnim!,” jelas Kyung Soo. “Apa sudah dilakukan X-Ray? Dan bagaimana dengan hasil echo? Oke, ambilkan aku echo,” Jong Dae mulai memerintah.

Kyung Soo menatap panik. “Kami sudah melakukan echo dan hasilnya dia mengalami cardiac tamponade, saem,” jawaban itu berhasil membuat mata Jong Dae melotot.

“Apa?! Lakukan X-Ray secepatnya dan bawa dia ke ruang operasi. Aku sendiri yang akan masuk kesana!,” perintah Jong Dae, dia menatap Kyung Soo di sampingnya. “Kau ikut, residen. Dan ngomong-ngomong, siapa yang kau maksud dengan kami?”

Kyung Soo mengangguk, sebelum menoleh ke belakang. “Aku dan–loh? Mana?,” mata Kyung Soo membulat. “Saem! Aku yakin tadi dia disini. Orang yang melakukan first aid, tadi ada disini. Aku berani bersumpah!!”

“Orang yang melakukan first aid? Dokter rumah sakit ini?,” Jong Dae bertanya dengan keningnya yang terlipat. Kyung Soo menggeleng. “Bukan, tapi aku yakin dia seorang dokter”

Jong Dae segera melihat kearah pintu keluar dengan kening yang semakin terlipat penasaran. Orang yang melakukan first aid di rumah sakit yang bukan instansinya? Orang lancang macam apa yang melakukan semua itu, eh? Jong Dae semakin penasaran.

“Saem! Hasil X-Ray sudah bisa kau lihat,” suara Kyung Soo membuyarkan lamunan Jong Dae. Tapi pria itu malah menatap Kyung Soo dengan matanya yang memicing, sebari meraih hasil X-Ray korban barusan.

“Jadi kau baru saja membiarkan orang asing bekerja di unit ER-ku? Setelah operasi kau harus menemuiku di ruang kerjaku, Do Kyung Soo”

Eh?”

***

Jong In berlari kesetanan sambil sesekali menoleh ke belakang. Dia tidak henti-hentinya mengumpat ketika mendapati dirinya hampir tertangkap basah oleh laki-laki itu. Kim Jong Dae, berhasil membuat Jong In kehilangan nyali untuk tetap bertahan berdiri tegak di ruang ER. Sialan! Jong In hanya ingin menghindar dari dunia ini jauh-jauh!

“Aish!! Aku bisa mati jika seperti ini!!!” umpat Jong In masih terus berlari.

Dia menambah kecepatan kakinya, bahkan ketika hampir berbelok keluar unit ER. Tapi, kemunculan beberapa orang yang lain, membuat Jong In mau tidak mau mengerem mendadak. Mata dan mulutnya membulat ketika melihat Kris berjalan bersama beberapa dokter di dekat pintu ER menuju ke lorong yang menghubungkan dengan departemen organ dalam lain.

Jong In segera bersembunyi di balik tiang, sebari mati-matian menahan napasnya yang tersengal.

“Kita belum bisa melakukan operasi jika kondisinya masih seperti itu. Setidaknya kita harus menunggu suhu tubuh dan tekanan darahnya sedikit saja lebih meningkat,” suara Kris masih bisa terdengar oleh Jong In.

Jong In ingin mengumpat ketika melirik dan mendapati pria tinggi itu malah berhenti dan berdiri tepat di belakang tiang–persis segaris dengan dirinya.

“Lagipula, hal pertama yang harus ditangani sebenarnya adalah perdarahan di kepalanya. Aku tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan nyawa temanku sendiri. Su Ho tidak boleh mati konyol seperti ini,” kalimat terakhir yang diucapkan Kris mampu membuat Jong In membelalakkan mata.

Apa tadi? Su Ho tidak boleh mati konyol? Su Ho dokter spesialis obat dalam itu? Kim Joon Myeon?

Jong In hampir kehilangan keseimbangan tubuh, dia terhuyung hingga membuat perawat yang mendorong peralatan first aid tersentak kaget. “Aigoo.. kkamjjakiya!!” pekik perawat ketika Jong In nyaris jatuh menimpanya.

Sontan, Jong In kembali menempelkan tubuhnya ke tiang sebari menggeleng samar. Jangan berteriak, aku mohon!! Tapi terlambat, Kris yang berdiri tidak jauh sudah mengerutkan kening. Pria yang terlihat sangat berwibawa dengan balutan jas dokter itu segera berjalan mendekat sebari menyipitkan matanya, menimbulkan suara langkah kaki yang membuat keberanian Jong In semakin runtuh.

Jong In menahan napas. Dia masih berharap Kris akan pergi, tapi aroma parfum maskulin Kris yang tercium membuat Jong In berakhir menghela napas pasrah. Baiklah, Jong In menyerah. Bersamaan dengan itu, Kris membelalakkan matanya, tidak percaya.

Hening. Jong In memutuskan untuk menghadap Kris, lalu tersenyum aneh.

“Lama tidak berjumpa, Wu Yi Fan” ucap Jong In kemudian.

“Kim Jong In,” gumam Kris, masih menatap Jong In yang tampak tidak nyaman menghadapi tatapan penuh tanda tanya para dokter yang menyertai Kris malam ini. Oh tentu saja, mereka semua tahu siapa Kim Jong In.

Tapi Jong In berusaha untuk pura-pura tidak tahu. Dia menggosok hidungnya, lalu meringis. “Sepertinya, aku harus pergi dari sini. Aku baru saja mengantarkan korban penembakan dan tidak ada maksud lain,” kata Jong In sebelum akhirnya melangkah untuk pergi.

Kris yang sudah mengepalkan tangannya di samping jahitan segera menoleh. “Benarkah? Jadi kau kembali hanya untuk menunjukkan kepadaku jika kau benar-benar pecundang? Bagus sekali”

Apa?

Jong In sontan menghentikan langkahnya. Dia mengambil napas dalam. Jong In terkekeh. “Geurae. Aku memang pecundang,” Jong In menghentikan kalimatnya, sebelum melanjutkan. “Pecundang diantara pecundang lain yang lebih payah daripada pecundang yang satu ini,”

Jong In menoleh. Dia tersenyum lalu mengangkat tangan kanannya. “Selamat bekerja, dan semoga pasien-pasienmu selalu ingat dengan jasa yang kalian berikan. Oh ya, boleh aku memberi masukan? Tolong sampaikan kepada direktur kalian jika residen memiliki hak untuk menangani pasien sejauh mereka mampu, jangan menghancurkan kepercayaan diri, dan jangan membuat orang menilai kalian hanya karena kasus yang muncul di media massa. Aku pamit,” Jong In mengakhiri kalimatnya.

Kris tampak terkekeh tidak percaya. Dia menarik napas panjang lalu berkata tajam. “Keangkuhan yang luar biasa, Kim Jong In. Aku sangsi apakah kau masih mampu menggunakan tanganmu di atas harapan pasien. Kau boleh berkata jika kami pecundang, tapi setidaknya kami masih berada disini”

Jong In tidak menanggapi, walau pun faktanya dia masih terdiam di tempatnya. Kris tampak berjalan mendekat, lalu tersenyum miring di samping Jong In dengan tangan yang masuk ke dalam jas putih. “Apa aku benar menebak seperti itu? atau kau tidak terima?”

Jong In mengepalkan tangan di samping jahitan. Kris semakin tersenyum lebar.

“Jika aku benar, maka aku bisa membicarakan hal ini baik-baik kepada direktur, bahwa Kim Jong In, dokter kardiovaskuler terbaik yang pernah bekerja di N Hospital, memutuskan kembali hanya untuk melakukan perlawanan internal terhadap kekuasaannya”

“Jaga mulutmu, Kris” gumam Jong In tajam.

“Tapi jika tidak, kau masih punya kesempatan untuk membuktikan jika direktur memang pantas mundur dengan menggunakan usaha terbaik yang kau lakukan, dan ini rahasia,” Kris berbisik. “Aku harap, lisensi dokter mu masih kau pertahankan,” Kris menepuk pundak Jong In beberapa kali.

“Oh ya, aku belum membalas sapaanmu. Geurae, lama tidak berjumpa, Kim Jong In”

Jong In semakin mengeratkan kepalan tangannya di samping jahitan. Emosinya tersulut. Kalimat Kris jelas-jelas telah meremehkannya hingga titik terendah kemanusiaan. Jong In tertawa sinis, sebelum berakhir berjalan dengan langkah kasar keluar unit ER.

Persetan dengan seluruh manusia di rumah sakit ini!

To Be Continued

Bagaimana? Masih bingung sama konfliknya? Wajar, masih chapter 1 hhihi. Apakah readers bisa merasakan karisma yang meluap-luap dari abang-abang ketika jadi dokter? Saya sebagai author sih, iya lol.

Ditunggu komentarnya, nggak apa-apa komentar pendek, yang terpenting saya tahu kehadiran kalian di ff saya 😀

Kamus :

Electrokardiogram : alat yang berfungsi mengetahui kondisi vital (tekanan darah, denyut nadi, dll) pasien

Scapel : Peralatan operasi yang berfungsi selanyaknya pisau untuk memotong jaringan

Kondisi Vital (Vital) : meliputi kondisi tekanan darah, suhu, saturasi oksigen, dan denyut nadi pasien.

Suction : kegiatan untuk menghilangkan cairan operasi termasuk darah, serpihan tulang-tulang kecil, dengan menggunakan suction pump

Aorta dissection : kondisi pembuluh aorta yang sobek

Metzenbaum : peralatan operasi yang berbentuk seperti gunting, dan berfungsi untuk memotong jaringan rawan.

Prosedur Aorta Replacement : Prosedur operasi pemotongan pembuluh aorta yang rusak dan mengganti dengan aorta sintetis.

Heart-lung machine : Mesin yang berfungsi mengalihkan aliran darah pasien sehingga memungkinkan menjalankan operasi dengan jantung yang berhenti berdetak, dengan kata lain menggantikan fungsi jantung memompa darah.

Simpul Sino-atrial (SA) : salah satu dari tiga simpul yang berfungsi dalam aliran listrik jantung, dan merupakan simpul utama yang menyediakan tegangan listrik terbesar untuk jantung.

Simpul Atrio-ventrikular (AV) : simpul yang memiliki fungsi dalam kelistrikan jantung, dan berperan meneruskan tegangan listrik dari SA ke serat purkinje, namun jika SA tidak berfungsi AV bisa mengambil alih, walau pun tegangan yang diberikan tidak sebesar SA, dan hal itu memungkinkan terjadi ketidakseimbangan tegangan otot jantung.

Hipotermia : Kondisi suhu tubuh dibawah suhu normal

Gauze : Kapas

Echocardiogram (Echo) : Alat yang berperan untuk memvisualisaikan jantung (katup, ruang jantung, dll sbg :p) dengan menggunakan gelombang suara.

Traumatic cardiac : Trauma jantung karena suatu kejadian seperti benturan, dll sbg, yang ditandai dengan detak jantung yang tidak normal.

Cardiac tamponade : akumulasi cairan pada lapisan pericardial (selaput yang membungkus jantung), menimbulkan tekanan yang menyebabkan kerja jantung tidak seimbang, aliran darah menurun, hingga menyebabkan pasokan darah ke organ-organ lain terganggu. Berakibat pada kematian jaringan pasien (cardiac tamponade juga merupakan penyebab traumatic cardiac). Kondisi ini harus segera ditangani.

Oke sekian. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Salam sayang, Choi Rae Han 😀

7 pemikiran pada “Great Doctor, Kim Jong In (Chapter 1)

  1. Bagus Thor, walaupun susah memahami alat2 dan istilah kedokterannya. Saya tetap suka ceritanya. Oh ya Thor banyakin kyungsoo ya hehe
    Semangat Thor, di tunggu lanjutannya
    Ngomong2 author dokter ya?

  2. Sumpah keren. Baru kali ini nemu ff bergenre gini, perlu perjuangan pasti, agak susah kalau medical gini, Apa kamu kuliah dokter atau anak kesehatan chingu? Alurnya bagus, bahasa muda dimengerti, ngak berbelit. Aku penasaran masalah Jong In sampai keluar, apa dia akan kembali untuk menolong suho. Kris saingan kai kah, aaah kyungsoo jadi couple tim jong in kayanya. Sok tahu. Hahaha. Next ya chingu. Smangat. Aku tunggu. Kebetulan aku kuliah kesehatan jadi suka juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s