Forbidden Feeling (Chapter 5)

Forbidden Feeling – Part 5

Poster Kai 1

By Ririn Setyo

Kim Jongin | Oh Sehun | Park Chanyeol | Song Jiyeon.

Other : Xiumin | Kim Suho | Huang Zitao

Romance ( PG – 15 )

NB : Beberapa Scene dan jalan cerita sudah diubah dan disempurnakan dari versi asli yang Publish di Blog pribadi Saiiya http://www.ririnsetyo.wordpress.com

_

_

_

 

Kim House

Jongin’s Room – Morning

Pagi ini Jiyeon terbangun dengan rasa bahagia, senyum lebar tak henti terlukis di wajah cantik Jiyeon sejak tadi. Sejak gadis itu membuka mata pertama kali pagi ini dan menemukan bibi Jung bersama sang ibu membangunkannya dengan sebuah cake besar lengkap dengan lilin kecil berjumlah 17 batang. Jumlah yang melambangkan usia Jiyeon saat ini.

Ya hari ini adalah hari ulang tahun Song Jiyeon.

Jiyeon menatap Jongin yang berdiri di depannya dengan tersenyum, menanti ucapan selamat ulang tahun yang sudah di tunggunya sejak tadi. Sejak gadis itu datang ke kamar Jongin untuk melakukan tugas paginya, namun nihil karena sejak tadi Jongin hanya terlihat diam dan tidak bersemangat hingga membuat Jiyeon mengerutkan dahinya, merasa sedikit binggung karena Jongin yang tidak memarahinya pagi ini. Jiyeon menatap wajah Jongin yang terlihat sedikit pucat, mengerakkan tangannya di kening Jongin dengan sedikit menjijitkan kakinya, mengerjab saat Jongin menepis kasar tangan gadis itu seraya menatap Jiyeon dengan tatapan dinginnya.

Oppa sakit? Kening Oppa hangat,” Jongin tidak menjawab, laki-laki itu hanya memerintahkan Jiyeon untuk membawakan tas sekolahnya. “OppaJiyeon menahan lengan Jongin hingga langkah laki-laki itu terhenti.

“Tidak usah berlebihan aku tidak sakit, hanya sedikit demam.” Jongin kembali ingin melanjutkan langkahnya, namun lagi-lagi Jiyeon menahannya.

“Sakit dan demam itu sama saja Oppa, kau harus minum obat.”

Jiyeon terlihat mulai panic seraya bergegas mengeluarkan obat penurun panas yang selalu tersedia di dalam tasnya, menyodorkannya pada Jongin yang sejak tadi menatap semua gerak gerik gadis itu dengan senyum tipisnya. Jiyeon memang selalu akan mengkhawatir Jongin sejak dulu, jika laki-laki itu terlihat tidak baik-baik saja.

“Ini! Oppa harus,—“ ucapan Jiyeon terputus saat Jongin menyambar botol obat penurun panas berbentuk cairan di genggamannya dan langsung meminumnya tanpa kata.

“Kau puas?” ucap Jongin seraya menyerahkan botol obat kembali pada Jiyeon, namun sesaat kemudian Jongin terdengar mendengus sebal saat Jiyeon lagi-lagi menahan langkahnya. “Apa lagi, Song Jiyeon!”

Jiyeon tersenyum lebar sesaat setelah memasukkan kembali obat ke dalam tasnya. “Apa oppa tidak ingat ini hari apa? Oppa tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?”

Seketika senyum lebar Jiyeon pudar tak berbekas saat Jongin hanya berpaling, seraya berlalu begitu saja dari hadapan Jiyeon tanpa jawaban. Meninggalkan Jiyeon yang terlihat sudah memajukan bibirnya kesal, lalu terlihat berjalan cepat menyusul Jongin saat teriakkan laki-laki itu mulai terdengar.

****

Jiyeon terlihat sibuk dengan semua barang yang ada di tangannya, tas Jongin yang berat dan tas miliknya yang belum dia letakkan di atas bahu. Berjalan tergesa menuruni anak tangga dengan menunduk, hingga tidak sadar jika Jongin yang berjalan beberapa langkah di depannya berhenti. Seketika Jiyeon terlonjak terkejut saat kepalanya membentur punggung Jongin, gadis itu mengaduh dan menjatuhkan tas di tangannya ke lantai tangga. Jiyeon mengusap kepalanya seraya menengadah, menatap Jongin yang menatapnya dengan dingin lalu memberi perintah tanpa suara pada Jiyeon untuk menatap seseorang yang sudah berdiri di ujung tangga.

Seorang laki-laki yang baru saja kembali dari perjalanan bisnis yang panjang di daratan Eropa, seorang laki-laki dengan cake besar di tangannya, berbalut kemeja putih dengan jas hitam sebagai luarannya. Bermata tajam dengan pandangan dingin persis seperti yang di miliki Jongin, berwajah tampan dengan tinggi menjulang hingga mencapai angka 188 centi meter yang kini sudah tersenyum hangat ke arah Jiyeon, dengan serangkaian kata yang membuat Jiyeon menjerit bahagia.

“Saengil Chukae, Jiyeon-ah,”

“AYAH!!!”

Dengan cepat Jiyeon menuruni anak tangga seraya menghambur ke dalam pelukan laki-laki itu, hingga hampir membuat cake besar di tangannya terjatuh. Jongin masih berada di posisinya, menatap ayahnya yang kini tengah meminta Jiyeon untuk membuat permintaan, sesaat sebelum Jiyeon meniup lilin ulang tahunnya. Jongin mengalihkan tatapannya ke tas mereka yang tergeletak di tangga, tanpa kata Jongin meraih kedua tas lalu meletakkannya di atas bahunya yang bidang. Berjalan turun dari tangga setelah dia melihat Jieun menghampiri Jiyeon dan ayahnya, bergabung dengan acara pemotongan kue ulang tahun Jiyeon.

“Kenapa ibu tidak mengatakan padaku jika semalam ayah sudah pulang?” Jiyeon memajukan bibirnya dalam rangkulan erat Jonghyun, gadis itu terlihat sangat bahagia hingga tidak sadar jika Jongin sudah berdiri di antara mereka.

“Ini kejutan untuk mu Sweet heart—,” Jonghyun mengusap kepala Jiyeon dengan sayang, laki-laki itu terlihat mengalihkan pandangannya menatap Jongin yang hanya diam di tempatnya berbijak.

Selalu seperti itu sejak dulu, Jonghyun dan Minji sering kali melupakan kehadiran Jongin, jika sudah menyangkut keberadaan Jiyeon di dekat mereka. Jiyeon mengikuti arah pandang Jonghyun, menatap takut saat mendapati tas punggungnya ada di bahu kanan Jongin bersama tas punggung laki-laki itu. Jiyeon benar-benar takut jika Jongin akan murka karena hal itu, Jiyeon memajukan tubuhnya seraya melepaskan diri dari rangkulan Jonghyun. Namun saat Jiyeon baru saja hendak bicara Jongin sudah meraih jemarinya dan menarik gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

“Kami sudah hampir terlambat ayah,” ucap Jongin saat Jiyeon menahan langkahnya seraya menatap Jonghyun dan Jongki bergantian, Jongin tahu jika Jiyeon memintanya untuk mengucapkan sesuatu pada ayah mereka.

Sejak insiden hujan yang hampir merengut nyawa Jiyeon 5 tahun yang lalu, hubungan Jongin dan Jonghyun menjadi kaku. Jongin selalu merasa bersalah pada Jonghyun karena telah membuat Jiyeon terluka, terlalu merasa tak pantas menjadi putra dari laki-laki yang selalu percaya padanya bisa menjaga Jiyeon dengan baik. Menjaga seorang gadis yang sudah Jonghyun anggap sebagai putri kandungnya sendiri dan Jonghyun tahu pasti tentang semua rasa sesal yang Jongin simpan selama ini.

Jonghyun menatap Jongin dengan lekat, menatap anak laki-laki yang mewarisi rahang dan tatapan dingin miliknya. Menatap anak laki-laki yang selalu di banggakan Jonghyun pada teman-temannya, tanpa sepengetahuan Jongin termasuk Minju sang istri. Walau Jonghyun terlihat lebih menyayangi Jiyeon, namun sejujurnya Jonghyun sangat menyayangi Jongin, melebihi dia menyayangi nyawanya sendiri.

“Baiklah! Nanti malam kita akan makan malam bersama, untuk merayakan ulang tahun Jiyeon.” Jonghyun melangkah mendekati Jongin, tersenyum hangat dengan usapan lembut di bahu putra tunggalnya itu. “Jadi pastikan kalian tidak pulang terlambat hari ini,” Jonghyun tersenyum saat Minji sudah berdiri di sampingnya, kembali menatap Jongin dengan anggukan kecil sesaat sebelum kembali bersuara.

“Berhati-hatilah dan jaga adik-mu dengan baik,” Jongin menunduk hormat begitu pula dengan Jiyeon, gadis itu terlihat tersenyum lalu melambaikan tangannya saat Jongin kembali menariknya untuk keluar dari rumah mereka.

****

YeomKwang High School – 08.00 am

Jiyeon Class

Senyum Jiyeon masih tersisa di ujung bibir dengan semua kejutan ulang tahun yang di berikan teman-teman 1 kelasnya, gadis itu juga mendapatkan cake biru ukuran jumbo dari Xiumin yang memeluknya dalam suka cita hingga membuat laki-laki bermata bulat tanpa kelopak itu terharu. Jiyeon bahkan hanya bisa tertawa bahagia, dengan semua hadiah yang di dapatnya hari ini, termasuk dengan sebuah kado aneh dari Park Chanyeol —laki-laki yang juga sangat disayangi Jiyeon, layaknya dia menyayangi seorang Oh Sehun.

Laki-laki tinggi dengan kadar tertawa di atas rata-rata orang normal kebanyakan, memberikan Jiyeon pakaian renang sebagai kado ulang tahun yang di klaim Chanyeol berharga hampir 10 juta won. Padahal Chanyeol dan yang lainnya tahu pasti jika Jiyeon tidak boleh berenang, gadis itu tidak boleh berendam di air dingin terlalu lama karena akan membahayakan jiwa gadis itu.

Park Chanyeol! Memang selalu aneh dalam segala hal.

Sehun memberi Jiyeon sepasang sepatu high hell bertinggi 10 centi meter dari seorang perancang sepatu terkenal dengan harga ratusan juta won, sepatu yang memang sudah Jiyeon inginkan sejak beberapa bulan terakhir ini. Namun semuanya terasa tidak sempurna di mata Jiyeon karena seseorang yang di nantinya, justru tak memberikan kata selamat padanya. Terlihat tak peduli sama sekali dengan hari penting di hidup Jiyeon.

“Jongin oppa, kau menyebalkan!” gumam Jiyeon saat dirinya baru saja menghempaskan tubuhnya di bangku kelas.

****

Jongin Class

Jongin menatap malas seorang gadis yang berdiri di depan mejanya, gadis cantik yang sudah lama menaruh hati pada Jongin. Semua orang yang berada di kelas menatap ke arah mereka, termasuk seorang guru music yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan genting di kelas itu. Pasalnya gadis itu merupakan anak dari perdana mentri Korea Selatan yang bersekolah di YeomKwang High School, sang guru music —Kim Jongwoon— memilih bungkam dan berpura-pura tidak melihat semuanya demi masa depannya di sekolah itu.

Oppa aku ingin mengutarkan perasaanku padamu,”

Gadis itu —Kwon Eunji— menarik napasnya pelan saat Jongin hanya menatapnya dingin, dengan bolamata coklat yang berputar malas. Merasa sangat tidak minat dengan gadis cantik yang menjadi idola di sekolah mereka, gadis yang untuk kedua kalinya ingin menyatakan cinta pada seorang Kim Jongin.

“Aku menyukaimu dan—“

“Dan aku tidak menyukaimu! Bisakah kau mengerti tentang itu?” Jongin menghembuskan napasnya, melirik Sehun yang duduk di sampingnya sekilas. Menatap laki-laki yang tampak hanya mengunyah permen karet dengan santai dan acuh, seolah olah tidak pernah terjadi apapun di sebelahnya.

“Dengarkan aku Kwon Eunji! Aku mencintai seorang gadis dan itu bukan kau, aku menginginkan seorang gadis melebihi apapun dan itu juga bukan kau. Jadi berhentilah mempermalukan dirimu seperti ini, kau mengerti?”

****

“Jiyeon-ah Kwon Eunji sedang mengutarakan cinta pada kakakmu di kelas,” ucap Chen yang baru saja masuk ke dalam kelas, hari ini guru Fisika mereka tidak bisa hadir karena sakit, membuat kelas Jiyeon hanya terlihat ricuh tanpa kegiatan belajar mengajar.

“Jinjjayo?” tanya Jiyeon semangat, gadis itu selalu merasa senang jika melihat kakak laki-laki nya dalam menghapi gadis-gadis yang mengejarnya.

Karena sejak dulu pula Jongin selalu menolak semua gadis dengan alasan yang tidak jelas, Jongin selalu beralasan jika dia telah menyukai gadis lain. Gadis yang sama sekali tak di ketahui keberadaannya oleh Jiyeon, hingga sampai sekarang selalu membuat Jiyeon penasaran siapa gadis yang Jongin maksud.

“Kenapa oppa selalu menolah gadis gadis itu? Mereka semua cantik dan pintar,”

“Karena aku— menyukai gadis lain,”

“Nugu?”

“Dia— gadis yang sangat cantik, selalu tertawa dan sangat hobi menangis. Suatu hari nanti aku akan mengenalkannya padamu,”

***

“Nugu?”

Eunji mengepalkan tangannya menahan semua rasa malu yang telah di torehkan Jongin di wajahnya, mata Eunji mengerjab pelan saat Jongin lagi-lagi hanya menghela napas malas yang membuat Eunji semakin marah berbalut malu. Jongin telah meluluhlantahkan hati dan harga dirinya sebagai putri dari orang penting di negara ini.

“Aku tidak perlu memberitahukannya padamu,—“

Ucapan Jongin terputus saat tiba-tiba Eunji menangkupkan kedua tangannya di wajah Jongin, menariknya seraya menautkan bibirnya di bibir Jongin. Jongin terkejut membulatkan matanya seraya mendorong tubuh Eunji dengan kuat, hingga gadis itu tersungkur di lantai dengan kaki yang membentur meja di belakangnya.

Semua orang menatap mereka dengan terkejut termasuk Sehun yang segera bangkit dari posisinya, namun sesaat kemudian Sehun kembali terkejut saat menatap sosok Jiyeon yang membeku di ambang pintu kelas. Gadis itu terdiam dengan wajah memucat sesaat sebelum membalikkan tubuhnya, meninggalkan kelas yang sudah sangat ricuh karena insiden ciuman Eunji dan Jongin.

***

Sehun berjalan cepat keluar dari kelas, laki-laki itu mengedarkan pandangannya mencari sosok Jiyeon yang di yakini Sehun tidak baik-baik saja. Mengenal Jiyeon sejak gadis itu menjadi bagian dari keluarga Jongin, membuat Sehun hafal betul dengan semua ekpresi rasa yang tergambar di wajah Jiyeon. Sehun dapat melihat dengan jelas wajah terluka Jiyeon saat melihat Eunji mencium Jongin, Sehun juga dapat merasakan jika akhir-akhir ini Jiyeon selalu menatap Jongin dengan cara yang berbeda.

Sehun tersenyum lega saat mendapati Jiyeon yang duduk di sebuah bangku taman sekolah, laki-laki itu pun memutuskan melangkah mendekat dengan sebatang permen kapas di tangannya. Permen kapas yang di belinya waktu melewati kantin sekolah saat mencari Jiyeon, karena Sehun hafal betul jika suasana hati gadis itu yang sedang sedih akan segera membaik jika Jiyeon menyantap permen kapas kesukaannya.

“Eoh!”

Jiyeon terkejut saat mendapati sebatang permen kapas sudah menyapa tepat di depan wajahnya, gadis itu menoleh dan langsung tersenyum dengan kehadiran Sehun yang sudah duduk dan tertawa pelan di sebelahnya.

Oppa?” ucap Jiyeon seraya menerima uluran permen kapas Sehun padanya, menyantapnya lahap dengan senyum senang yang sudah membingkai wajah cantiknya. “Biasanya oppa hanya membelikanku permen kapas jika aku sedang menangis? Apa ini hadiah tambahan, karena aku sedang berulang tahun hari ini?”

Sehun hanya tersenyum dengan tangan yang sudah mengacak rambut hitam Jiyeon yang tergerai. “Aku hanya merasa jika saat ini kau sedang sedih,” Jiyeon memalingkan wajahnya, kembali memasukkan permen kapas ke mulutnya seraya menatap Sehun dengan lekat.

“Sedih? Tidak aku baik-baik saja, Sehun oppa.” Jiyeon menatap Sehun dengan mata yang memicing, merasa sedikit binggung dengan apa yang di maksud Sehun.

“Kau mungkin tidak menyadarinya tapi aku sangat yakin jika saat ini kau sedang sedih, bahkan mungkin— kau sedang merasakan sakit,” Jiyeon terdiam sesaat menahan gerakan tangannya yang ingin memasukkan permen kapas ke dalam mulutnya.

“Aku hanya,—“

“Merasa tak rela jika Eunji mencium Jongin?” potong Sehun dengan cepat, mengabaikan wajah Jiyeon yang terkejut. “Merasa sakit karena ciuman mereka di kelas tadi, benar begitu Jiyeon?”

Jiyeon memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan gundah hati yang bahkan tidak di mengerti olehnya, perasaan yang timbul karena sesuatu yang di jabarkan Sehun barusan. Mungkinkah? Entahlah Jiyeon benar-benar binggung dengan apa yang di rasakannya saat ini.

“Untuk apa aku merasa tidak rela?” Jiyeon bergumam pelan. “Dia kakakku ‘kan.” lanjut Jiyeon dengan kembali menatap ke arah Sehun.

“Tanyakan pada hatimu Jiyeon, karena dalam hal ini hanya kau sendiri yang tahu jawabannya.” jawab Sehun dengan mulut yang menggangga, lalu meminta Jiyeon menyuapinya dengan permen kapas. Membiarkan Jiyeon berkutat sendirian, dengan sebuah perasaan yang samar-samar mulai terbaca oleh hati dan pikiran gadis itu.

****

Kim Swimming Pool

Porch – 17.30 pm

Heart Attack

Jiyeon berjalan menuju kolam renang yang ada di halaman belakang dengan ukuran yang sangat luas, di tangannya terdapat secangkir coklat panas buatan sang ibu untuk selanjutnya dia berikan pada Jongin yang sedang berenang sejak 1 jam yang lalu. Kegiatan yang sering Jongin lakukan jika ada waktu senggang di rumah, kegiatan yang ingin sekali di lakukan Jiyeon sejak dulu namun tak mampu di lakukannya karena keterbatasan fisik yang di milikinya. Langkah kaki Jiyeon terhenti tepat di depan kolam renang yang bersebelahan dengan beranda, menatap sosok Kim Jongin yang baru saja muncul dari dalam kolam renang, berjalan pelan hingga mencapai tangga kolam renang tepat beberapa langkah di depan Jiyeon.

Jiyeon mengerjab saat menatap wajah Jongin yang basah, dengan tetesan air yang berasal dari rambut Jongin, menetes melewati bahunya yang bidang. Menatap tetesan air yang jatuh dari dagu sempurna Jongin, meluncur ke arah dada coklat Jongin terus turun melewati otot perut Jongin yang terbentuk sempurna. Sebenarnya Jiyeon sudah sangat terbiasa menatap Jongin tanpa pakaian dan hanya mengenakan celana pendek di tubuh tingginya, namun kali ini Jiyeon merasa berbeda, merasa jika ada sebuah rasa yang menelusup ke dalam jiwa hingga gadis itu merasa udara di sekitarnya memanas.

Jongin melangkah semakin mendekat lalu menekan kening Jiyeon saat gadis itu hanya memandanginya, membuat Jiyeon tersadar dengan gelengan kecil di kepalanya. Menatap Jongin yang kini sudah duduk di undakan tangga paling atas, sedangkan Jiyeon memilih untuk menekuk kedua kakinya dan menumpukan tubuhnya di sana, duduk tepat di samping Jongin yang melayangkan pandangannya pada langit sore yang mulai terlihat jingga karena matahari mulai menenggelamkan diri di balik cakrawala.

Oppa,—“ panggil Jiyeon pelan bermaksud untuk menyerahkan coklat panas yang di bawanya pada Jongin.

Tanpa di duga Jongin menoleh dan membuat ujung hidung mereka bersentuhan, memberikan sensasi yang membuat mereka terdiam seketika, membeku dalam detakan jantung yang tiba-tiba saja bertalu terlalu kencang. Mengikat keduanya hingga tak mampu berpaling dan memilih untuk terkungkung di ruang rasa yang samar-samar saling bertaut, menjalin halus yang mengetarkan tiap denyut nadi keduanya.

Mereka berdua terdiam di posisi mendebarkan itu hingga beberapa detik ke depannya. Hingga semilir angin senja menyapa mereka, membuat mereka berdua pada akhirnya sama-sama mengerjab dan menjauh dengan gugup. Jongin diam seraya berpaling, melirik Jiyeon dengan ragu yang terlihat duduk gelisah di sebelahnya, bahkan gadis cantik itu sudah kehilangan semua bait kalimat yang menjadi tujuannya datang menghampiri Jongin.

“Jiyeon-ah apa yang kau lakukan di sana, ayo cepat kemari!” seketika Jiyeon menolehkan kepalanya, menatap Minji yang memanggil namanya dengan tangan yang melambai.

Jiyeon memukul keningnya sendiri kala ingat dengan apa yang sedang di kerjakannya bersama Minji di dapur, mereka sedang membuat capcuke strawberry kesukaan ayahnya. Jiyeon bangkit dari posisinya dan berniat untuk melangkah, namun langkah kaki gadis itu terhenti dengan tubuh yang membungkuk saat tiba-tiba Jongin menarik tangannya.

“Tadi… kenapa kau memangilku?” tanya Jongin dengan gugup yang kembali menyergap, begitu pula dengan Jiyeon yang terlihat kembali terpaku karena jarak yang terlalu dekat di antara mereka.

Eoh! Ini,—“ Jiyeon mengerjab mencoba tersadar dari rasa aneh yang menyelimuti hatinya, dengan cepat gadis itu melepaskan genggaman Jongin di tanganya seraya menyerahkan secangkir coklat panas yang di bawanya tadi pada Jongin.

“Coklat panas, ibu memintaku untuk memberikannya padamu, oppa.

Jongin menerima cangkir itu dengan diam, menatap Jiyeon yang dalam satu gerakan cepat sudah berlalu menjauh. Jongin menarik napasnya membuang pandangannya jauh ke depan kolam renang super luas di rumahnya ini, menyesapi coklat panas dengan mencoba menghalau laju perasaan terlarang yang semakin mendominasi hati dan pikiranya. Perasaan terlarang pada sosok yang berpredikat sebagai adiknya sendiri, pada sosok seorang—- Song Jiyeon.

***

Jiyeon’s Room – 08.00 pm

Jongin terlihat sudah rapi dalam balutan jas hitam dengan kemeja putih sebagai dalaman yang di biarkan menjuntai keluar, dasi kupu kupu berwarna hitam juga sudah terpasang manis di kerah kemejanya. Laki-laki itu terlihat berjalan pelan menuju kamar Jiyeon yang berada di samping kamarnya, terlihat tidak peduli dengan teriakkan Jonghyun yang meminta Jongin merapikan penampilannya malamnya ini. Memasukkan kemeja ke balik celana dan mengancingkan jas hitam yang di kenakannya, namun Jongin mengabaikannya dan memilih untuk melangkah masuk ke dalam kamar Jiyeon.

Jongin tersenyum menatap Jiyeon yang sudah terlihat cantik dalam balutan dress pendek di atas lutut tanpa lengan yang melekat di tubuh langsing Jiyeon dengan sangat sempurna, rambut panjang gadis itu di cepol ke atas. Jiyeon terlihat asik membaca ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya di tumpukan kartu ucapan yang ada di atas meja di depannya, hingga tidak sadar jika Jongin sudah berdiri di tepat di belakangnya.

Tanpa kata Jongin menyentuh rambut Jiyeon, menarik pelan ikat rambut Jiyeon hingga rambut panjang Jiyeon tergerai seketika. Jiyeon terkejut hingga menjatuhkan kartu ucapan di tangannya, membalikkan tubuhnya seraya menatap Jongin yang tengah sibuk menyisir rambut panjang Jiyeon dengan jari-jarinya. Membuat Jiyeon merasa bila bulu-bulu halus di lengan dan tengkuknya meremang, merasa tubuhnya tak bisa bergerak terpaku di tempatnya berpijak.

Jongin mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya, sebuah jepit rambut biru berbentuk kupu-kupu dengan hiasan batu opal hitam dan Montana biru, serta berlian yang di lindungi oleh platinum dari Blue Book Collection yang di keluarkan oleh merek perhiasaan Tiffany and Co, merek perhiasan yang sangat di sukai Jiyeon dengan harga mencapai puluhan juta dolar.

“Kau terlihat jauh lebih cantik jika membiarkan rambut hitammu tergerai,” ucap Jongin seraya menempelkan jepit kupu kupu di rambut Jiyeon yang tergerai.

Jiyeon hanya diam terpaku dalam tatapan hangat Jongin yang mengunci pandangannya, tenggelam dalam luapan rasa yang terasa asing namun berefek mendebarkan yang membuat Jiyeon bahagia. Jiyeon pun semakin membeku saat Jongin memajukan wajahnya, mencium kening Jiyeon untuk kedua kalinya seraya berucap sebaris kalimat yang di tunggu Jiyeon sejak tadi.

Saengil Chukae, Song Jiyeon.”

Tak ada jawaban dari Jiyeon gadis itu hanya mengerjab pelan dengan rona merah jambu yang menghiasi kedua pipinya, menarik napasnya pelan dengan deguban jantung yang kembali memacu cepat saat Jongin mengenggam jemarinya erat. Melafalkan kalimat yang membuat Jiyeon tak bisa lagi berkata-kata hingga hanya terdiam, saat Jongin menarik tubuhnya ke dalam pelukan erat Jongin yang terasa hangat dan mendebarkan jiwa.

“Jangan pernah berfikir jika aku melupakan hari ulang tahunmu, Jiyeon-ah. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan hari, di mana seseorang yang sangat penting untuk hidupku terlahir ke dunia ini.”

****

Restaurant

The Blue Dinner

Jonghyun membersihkan mulutnya dengan serpet putih yang ada di tangannya, tersenyum dengan menggengam tangan Minji dan Jiyeon yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Sedangkan Jongin yang duduk tepat di depan Jonghyun, hanya menatap Jonghyun dengan tatapan datarnya. Jonghyun tersenyum lebar seraya menatap Minji yang sudah mengangguk, memberikan sebuah kabar yang terdengar buruk di telinga Jongin namun memberi efek membahagiakan untuk Minji dan tentu saja untuk Kim Jonghyun.

“Hari ini adalah hari yang penting untuk keluarga kita, hari ini Jiyeon sudah genap berusia 17 tahun dan ayah berniat untuk menjadikan Jiyeon benar-benar menjadi bagian dari keluarga kita, benar-benar menjadi keluarga Kim yang sesungguhnya.”

Jiyeon menatap Jonghyun dengan deguban jantung yang entah mengapa kini bertalu dengan begitu cepat, merasa mulai takut dengan terkaan kalimat yang akan Jonghyun teruskan sebentar lagi. Mata bening Jiyeon melirik Jongin yang hanya memandang lurus ke depan, terlihat dingin dalam tatapan tajam dengan pemikiran yang tak terbaca.

“Ayah akan mendaftarkan Jiyeon ke pemerintah sebagai seorang Kim Jiyeon!”

Seketika Jiyeon membeku di tempatnya dengan sebuah fakta yang sebenarnya sudah di tunggu Jiyeon sejak lama, namun sekarang Jiyeon justru merasa tidak menginginkan kabar gembira ini, kabar yang membuat Jiyeon menatap Jongin yang kini terlihat sudah mengeraskan rahangnya dengan tatapan dingin yang terlihat kecewa.

“Aku tidak setuju!” dalam satu gerakan yang sama kini semua mata beralih pada Jongin yang baru saja bersuara, menatap dalam tatapan tidak mengerti yang jelas terbaca saat Jongin balas menatap mereka.

“Kenapa?” Jonghyun menajamkan tatapannya, menanti kalimat jawaban yang akan Jongin jabarkan padanya.

“Karena—-“ belum sempat Jongin merangkai kata untuk penolakannya, Jonghyun sudah lebih dulu memotongnya dengan kalimat dingin yang membuat rahang Jongin semakin mengeras dengan kepalan tangan yang memutihkan buku-bukunya.

“Karena kau tidak menyukai Jiyeon, karena sejak awal kau menentang kehadirannya di keluarga kita, benar begitu?”

Tak ada jawaban ataupun sanggahan yang terlontar dari bibir Jongin yang kelu, merasa sulit untuk mengatur kalimat akan sebuah fakta tabu yang tersemat di ujung lidahnya yang kelu. Jongin hanya mampu mengepalkan tangannya saat Jonghyun kembali bersuara, kembali memojokkan Jongin dengan fakta yang bahkan tidak pernah Jongin pikirkan kembali sejak beberapa tahun yang lalu.

“Sejak dia di bawa ke keluarga kita kau selalu menolaknya, kau selalu membencinya padahal Jiyeon sangat menyayangimu. Dan sekarang kau kembali menentang keputusanku terhadap Jiyeon. Hey! Ayolah Jongin, umurmu sudah 18 tahun bahkan beberapa bulan lagi kau sudah berumur 19 tahun, haruskah kau tetap bersikap kekanakan dengan membenci adik angkatmu?”

“Jangan pernah menilaiku karena ayah tidak tahu apapun tentangku sejak 5 tahun yang lalu. Sejak ayah hanya sibuk bekerja dan jarang kembali, sejak ayah hanya mengaturku dan menjadikan aku seperti yang ayah inginkan, tidak lebih.”

“Kim Jongin!”

Merasa terkejut Jonghyun bangkit dari posisi duduknya, menatap lekat sosok Jongin yang kini juga terlihat sudah bangkit dari bangkunya. Menguarkan aura dingin yang mencekam di tengah acara keluarga mereka, Minji dan Jiyeon bahkan hanya bisa saling menatap tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Ya! Ayah benar aku memang membencinya, aku memang menentang keputusanmu. Aku tidak akan pernah setuju jika ayah menjadikan dia sebagai Kim Jiyeon dan berpredikat sebagai adik-ku sampai kapan pun.”

“KIM JONGIN!!!”

Satu dorongan keras hingga menimbulkan bunyi dencitan kaki kursi beradu dengan lantai mengakhiri keberadaan Jongin di restaurant itu, berjalan diam meninggalkan ruangan tanpa pernah peduli dengan teriakkan murka Jonghyun di belakang sana.

“KIM JONGIN KEMBALI!!!”

****

Kim House

Kemarahan Jonghyun belum surut saat memasuki rumah besarnya, laki-laki itu melebarkan langkahnya dengan napas yang memburu. Di belakangnya Minji dan Jiyeon terlihat saling merangkul dengan wajah panic, terlalu takut jika Jonghyun dan Jongin kembali adu mulut yang meremangkan bulu kuduk. Minji menatap Jiyeon dan memerintahkan putrinya itu untuk naik ke kamar tidurnya, sedangkan Minji berjalan cepat menyusul Jonghyun yang berjalan menuju ruang kerjanya, berniat untuk menenangkan sang suami di dalam sana. Jiyeon menatap sekilas ruang kerja sang ayah yang perlahan tertutup, menarik napasnya sejenak sebelum menaiki anak tangga.

Langkah Jiyeon terhenti saat menatap pintu kamar Jongin yang tertutup rapat, dengan ragu Jiyeon berjalan mendekat mengerakkan tangannya untuk memutar knop pintu. Jiyeon menghembuskan napasnya guna mengusir rasa takut yang mendebarkan jantungnya, memajukan wajahnya guna menelitik ke dalam. Kamar itu kosong tak terdapat Jongin di dalamnya, Jiyeon terlihat panic seraya masuk ke dalam kamar untuk memastikan keberadaan Jongin. Namun nihil laki-laki itu benar-benar tidak ada di kamarnya, membuat Jiyeon mulai meneriakkan nama Jongin dengan kalut.

“Jongin oppa!”

Jiyeon mengeluarkan handphone dari dalam tas kecil yang di genggamannya, mencoba menghubungi Jongin namun ternyata Jongin tidak mengaktifkan handphonenya. Jiyeon pun memutuskan untuk keluar dari kamar, terlihat semakin cemas dengan berjalan mondar mandir di beranda. Jiyeon mendudukkan tubuhnya di lantai tepat di depan pintu kamar Jongin, kembali berusaha menghubungi Jongin lewat ponselnya. Menahan air mata panic yang sudah memenuhi kedua soket mata, menggigit jemarinya yang telah beku dengan gumaman kekhawatiran yang pada akhirnya membuat air mata gadis itu berjatuhan di pipinya yang memucat.

“Oppa! Kau di mana?”

****

Sehun’s House

Porch

“Ayah memutuskan untuk mengadopsi Jiyeon secara resmi,”

Jongin kembali menunduk saat menuntaskan kalimat yang terasa sangat berat untuk di ucapkan, tak begitu peduli dengan tatapan menyesal Sehun padanya saat ini. Jongin menyandarkan tubuh tegapnya di sandaran sofa panjang yang dudukinya bersama Sehun di beranda, mencoba menepis rasa sakit yang kian menyakiti relung hati.

“Seharusnya sejak awal aku tidak membiarkan rasa terlarang ini tumbuh, hingga mampu melumpuhkan di tiap denyut jantungku. Seharusnya sejak awal aku tidak mengubah cara pandangku pada Jiyeon, hingga membuatku tanpa sadar telah menjalin suatu ikatan yang sekarang sangat sulit untuk aku lepaskan, seharusnya—“

“Tidak ada yang salah dengan perasaan cintamu pada Jiyeon, Jongin.” Sehun mengusap bahu sababatnya itu dengan lembut, mengetahui dengan pasti jika bahu itu sekarang sudah bergetar, menahan semua luapan rasa yang tak mampu lagi untuk di tahan.

“Dia adikku Sehun, dia akan selalu menjadi adikku dan seharusnya aku tidak jatuh cinta pada adikku sendiri.”

Jongin tetap menunduk, menyembunyikan tetesan air mata yang berjatuhan di atas kepalan tangannya yang mendingin. Menyembunyikan luka hati untuk sebuah hubungan yang bahkan, belum pernah di mulai sedikit pun.

“Aku harus bagaimana Sehun? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan pada ayah ataupun pada Jiyeon.” Jongin mengusap kasar sisa air mata di pipinya, memalingkan wajahnya ke arah Sehun yang terlihat mengeleng pelan atas pertanyaannya yang terlalu rumit untuk di jawab.

Ini Korea Selatan negara yang menjunjung tinggi semua tradisi leluhur mereka secara turun temurun, tradisi yang mengakar di tiap warganya tanpa celah untuk di bantah. Tradisi jika akan selalu menganggap saudara angkat selayaknya saudara sedarah, saudara yang tidak bisa di miliki dalam sebuah hubungan cinta antara dua insan apalagi hubungan untuk sampai menikah.

“Akan terlihat terlalu egois jika aku memintamu untuk melupakan kisah cinta terlarang ini Jongin, tapi akan semakin terlihat mengada ada dan tidak bijaksana, jika aku memintamu untuk terus bertahan di hubungan yang tidak mungkin ini.”

“Aku tahu! Aku juga tahu jika hanya aku yang menginginkan hubungan ini, aku juga tahu jika aku memaksakan ini semua hanya akan menyakiti Jiyeon, benar begitukan Oh Sehun?”

Sehun mengangguk ragu, merasa tak tega saat teringat akan prasangkanya, tentang perasaan Jiyeon pada Jongin. Namun Sehun harus berfikir realistis dengan menggunakan logika, harus kembali menyakini jika hubungan ini pada akhirnya akan tetap berakhir sia-sia. Jongin dan Jiyeon tidak akan pernah bisa bersama sampai kapan pun, dengan status yang melekat di antara mereka.

“Jadi aku harus melupakannya? Melupakan hubungan yang bahkan belum terjalin sedikit pun?”

Jongin mengepalkan tangannya, merasa jika jantungnya tak berdetak saat Sehun kembali mengangguk, merasa tak menemukan oksigen di paru-paru saat pada akhirnya dia menyetujui pilihan yang di lontarkan oleh Sehun. Jongin memutuskan untuk melepaskan Song Jiyeon, melepaskan dunianya, melepaskan gadis yang sangat di cintai melebihi dia mencintai dirinya sendiri.

****

Jongin berjalan lunglai dan menunduk saat memasuki rumah besarnya, dengan jas hitam di atas bahunya yang bidang. Sesekali laki-laki itu menendang nendang udara kosong di depannya, mengacak acak rambut hitamnya dan mengerang di sepanjang langkah pelan Jongin menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya.

Jongin merasa binggung, merasa tak tahu apa yang harus di lakukan dengan keputusan sang ayah yang membawanya ke dalam jurang kecewa, berbalut rasa takut akan kehilangan sosok yang di cinta karena keputusan sang ayah tersebut. Keputusan yang pada dasarnya sudah Jongin perkirakaan akan terjadi cepat atau lambat, keputusan yang sudah menghantuinya sejak dia memutuskan untuk menautkan perasaan terlarangnya pada Jiyeon, pada sosok adik angkat yang entah sejak kapan sudah membuatnya terpesona karena panah asmara.

Langkah lunglai Jongin terhenti menatap dengan mata sedikit membesar ke arah sosok Jiyeon yang tertidur di depan pintu kamarnya, sosok yang terlihat kedingingan dengan hanya menggunakan dress pendek yang di pakainya sejak acara makan malam keluarga, tanpa baju hangat yang melindungi tubuh gadis itu.

Dengan panic Jongin menghampiri Jiyeon yang masih tertidur, mengerakkan tangannya ke arah kening Jiyeon yang terasa menghangat. Jongin membingkai wajah Jiyeon yang terasa beku, memanggil nama gadis itu hingga pada akhirnya mata bening Jiyeon terbuka, menatap terkejut wajah Jongin yang berada sangat dekat di depan wajahnya.

“Op—-oppa?” Jiyeon mengerjab seraya menghambur memeluk Jongin hingga laki-laki itu terkejut. “Syukurlah oppa sudah pulang, aku benar-benar khawatir saat melihat oppa pergi begitu saja dari restaurant dan tidak bisa menemukan oppa di rumah.” Jiyeon mengeratkan pelukannya, meluapkan rasa lega yang menjalari tubuhnya.

Jongin terdiam menahan tangan bergetarnya untuk tidak membalas pelukan Jiyeon, menahan semua rasa terlarang yang lagi-lagi mendorongnya untuk tidak peduli pada status yang melekat di antara mereka. Jongin memejamkan matanya menyakinkan hati pada keputusan yang sudah di ambilnya, keputusan untuk melepaskan Jiyeon dan melupakan perasaannya pada gadis itu secepat mungkin.

Satu dorongan kuat Jongin layangkan pada bahu Jiyeon hingga pelukan gadis itu di tubuhnya terlepas, menatap tajam sosok Jiyeon yang terkejut. Jongin menarik napasnya berusaha dengan susah payah untuk menampilkan ekspresi tak suka, pada sosok yang sungguh ingin sekali Jongin bawa ke dalam pelukannya. Hingga pada akhirnya semua terlihat samar, hingga semua perasaan cinta itu tak terjabar dan tetap tersembunyi di balik tatapan dingin Jongin saat ini.

“Apa yang kau lakukan di sini?” suara berat Jongin menghujam Jiyeon, membuat gadis itu terpaku di tempatnya tanpa jawaban. “Apa kau sengaja mencari masalah hingga ayah akan kembali memarahi ku, berprasangka jika akulah yang membuat mu sakit karena suhu dingin malam ini?”

Jiyeon mengeleng pelan menatap takut ke arah Jongin yang memaksanya untuk berdiri, laki-laki itu menumpukan kedua tangannya pada pintu kamar di belakang punggung Jiyeon, membuat gadis itu kini terkunci di antara lengan kokoh Jongin. Jiyeon mengerjab menatap mata Jongin yang berkilat marah, menahan air mata yang tiba-tiba sudah memenuhi sudut mata, karena rasa takut yang datang membelengu tubuhnya.

“Apa kau senang jika ayah membenciku karenamu?” Jiyeon kembali mengeleng pelan. “Tidak! Aku hanya mengkhawatirkanmu, oppa.”

Tawa sumbang Jongin mengudara menatap Jiyeon dengan tatapan tajam yang tak mengendur sejak tadi, memasang topeng untuk menutupi semuanya pada Jiyeon hingga terlihat nyata untuk gadis itu. Jongin mulai membangun dinding kokoh di antara mereka, dinding untuk memberi jarak hingga mampu menutupi semua rasa cintanya pada Jiyeon.

“Berhenti mengkhawatirkanku, berhenti peduli padaku dan menjauhlah dariku mulai saat ini. Arraseo?” Jongin menjauhkan tubuhnya, mendorong tubuh Jiyeon ke arah samping dengan lengannya, hingga gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh.

Oppa!” Jiyeon berusahan menahan Jongin dengan merangkul lengan laki-laki itu, namun dengan kasar Jongin melepaskan rangkulan Jiyeon di lengannya, membalikkan tubuhnya dengan jari telunjuk yang mengarah pada wajah pucat Jiyeon.

“Dengar! Aku adalah orang yang sangat tidak suka dengan kehadiranmu di rumah ini, aku adalah orang yang sangat benci saat harus berbagi perhatian dari kedua orang tuaku, aku adalah orang yang sangat muak dengan sosokmu yang selalu membuatku, terlihat tidak berarti di depan orang tuaku sendiri.”

“Sekarang tertawalah Jiyeon karena kau sudah menang, kau akan segera menjadi keluarga Kim yang sesungguhnya. Kau senangkan?”

Jongin kembali mengepalkan tangannya saat air mata Jiyeon mulai berjatuhan di kedua pipi gadis itu, terisak dengan semua kata-katanya yang menyakitkan. Segera Jongin memutar knop pintu kamarnya, menutupnya dengan kencang seraya bersandar di baliknya dengan mata yang terpejam.

Sesaat kemudian Jongin terlihat sudah beringsut di lantai, merasa kakinya terlalu lemah untuk sekedar menahan bobot tubuhnya sendiri. Merasa jika jantungnya terasa sesak hingga sulit untuk sekedar menarik oksigen, merasa jika pandangan matanya mengabur saat genangan crystal telah memenuhi kedua pelupuk matanya.

Jongin meremas tangannya di depan dada saat linangan air mata pesakitan yang merentaskan jiwa, mulai berjatuhan di kedua pipi coklatnya yang memucat. Menyembunyikan kepalanya di antara kedua kakinya yang terlipat, terisak pilu dengan semua kisah cintanya yang sungguh terasa begitu berat.

Dan Jongin tidak pernah tahu jika Jiyeon masih berdiri di sana, berdiri di balik pintu dengan ribuan air mata yang rasa sakitnya sama dengan apa yang di rasakan Jongin saat ini.

****

The Morning

Jiyeon berdiri diam di depan pintu kamarnya, menatap pintu kamar Jongin yang tertutup rapat. Ragu untuk mendekati pintu guna melakukan tugas rutinnya di pagi hari, Jiyeon memutuskan untuk melangkah menjauh. Namun baru tiga langkah Jiyeon terlihat berbalik, berjalan tergesa seraya langsung memutar knop pintu.

“Eoh!”

Jiyeon terkejut seketika mendapati sosok Jongin yang berdiri tepat di hadapannya, sosok yang muncul dari balik pintu tepat saat Jiyeon baru saja hendak memutar knop pintu. Sosok yang membuat Jiyeon hampir terjatuh karena bertabrakan dengannya, jika saja tangan Jongin tidak menahan pinggang gadis itu dan membuat Jiyeon kini berada di dalam rangkulannya dengan wajah yang bersandar di dada Jongin.

Detik berlalu dalam keheningan tak ada yang bergerak dari posisi masing-masing, dengan debaran jantung yang sama-sama bertalu terlalu kencang. Jongin bahkan harus mengerjab berulang-ulang untuk menyadarkan dirinya dari keadaan yang tidak benar ini, hingga pada akhirnya Jongin melepaskan rangkulannya dengan tubuh yang menjauh perlahan.

“Mianhae—“

Jiyeon hanya mampu berucap satu kata dengan wajah setengah menunduk, meremas jemari yang mendingin saat Jongin tak menjawab ucapannya. Laki-laki itu memilih untuk berpaling, berjalan melewati Jiyeon tanpa sepatah kata pun. Jiyeon menegakkan kepalanya, menatap punggung Jongin yang baru saja menghilang di tikungan anak tangga yang meliuk indah di bawah sana, menatap sosok yang tanpa sadar selalu membuat jantungnya berdetak cepat tanpa mampu untuk dia kendalikan.

***

YeomKwang High School

Jongin’s Class

“Hari ini Jiyeon terlihat sedih dan murung, apa kau memarahinya lagi?”

Chanyeol berucap seraya mendudukkan tubuhnya di bangku kelas tepat di hadapan Jongin dan Sehun, menatap Jongin yang terlihat tak berniat untuk menjawab pertanyaannya dengan bolamata berputar. Laki-laki bermata bulat dengan deretan gigi berukuran besar yang tertata rapi itu terdengar mendengus, laki-laki yang hobi tertawa tanpa sebab dan selalu mengklaim Jiyeon sebagai belahan jiwanya itu terlihat mengerling ke arah Sehun, meminta penjelasan atas apa yang dia pertanyakan pada Jongin.

“Aku tidak tahu,” jawab Sehun acuh, kembali berkutat dengan soal sejarah yang harus dia selesaikan sebelum bel sekolah berbunyi.

“Berhentilah memarahinya Jongin, aku benar-benar tidak tega melihat wajah takutnya, tiap kali kau memarahinya.” ucap Chanyeol dengan kembali menatap Jongin.

“Bukan urusanmu!”

Jongin mengangkat kepalanya menatap tajam ke arah Chanyeol yang tak bergeming, menatap laki-laki yang sejak dulu juga sangat menyayangi Jiyeon layaknya Sehun menyayangi Jiyeon. Jongin beranjak dari bangku yang di dudukinya, berjalan keluar kelas tanpa mengindahkan panggilan Sehun yang mengingatkan jika pelajaran akan di mulai sebentar lagi.

***

Jongin berjalan menyusuri lorong panjang di sekolahnya, mengabaikan sapaan para gadis yang menyapanya dengan begitu manis. Jongin hanya ingin melangkahkan kakinya tanpa tahu tujuan, hanya untuk menenangkan pikirannya yang terasa begitu kusut dan memusingkan.

Memutuskan untuk tidak berbicara dan mengabaikan keberadaan Jiyeon di dekatnya, adalah keputusan terberat yang pernah Jongin lakukan. Merasa jika harinya terasa hampa dengan penampilan yang jauh dari sempurna, karena pagi ini tak ada seorang Song Jiyeon dengan tugas paginya. Tugas pagi yang membuat Jongin selalu bangun lebih awal di tiap harinya, tugas pagi yang selalu membuat Jongin gugup dalam balutan rasa bahagia yang mendebarkan dan meresap hingga ke dalam relung sanubari.

Jongin terus melangkah dengan sesekali mengacak rambut hitamnya yang memang sudah acak acakkan sejak tadi, hingga pada akhirnya langkah kaki Jongin terhenti saat matanya telah menatap sosok Jiyeon yang berdiri di depan sana, berdiri di depan pintu kelas bersama Xiumin dan terlihat tertawa dengan obrolan di antara mereka. Jongin memperhatikan sekitarnya, tak menyangka jika kakinya melangkah ke lorong di mana kelas Jiyeon berada.

Namun sesaat kemudian Jongin sudah berbalik dengan segera saat tiba-tiba Jiyeon memalingkan wajah ke arahnya, menjauh dari tempat itu secepat yang dia bisa hingga tidak tahu jika hingga saat ini Jiyeon tetap menatap ke arahnya dengan tatapan sendu.

***

Kim’s House

Living Room

Jonghyun tersenyum dengan memandang selembar kertas yang ada di tangannya, menatap puas ke arah pengacara Lee yang duduk tenang di hadapannya. Pengacara keluarga yang di minta Jonghyun untuk menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan, dalam mengurus kependudukan Jiyeon yang baru sebagai seorang, Kim Jiyeon.

“Anda dan nona Jiyeon tinggal menandatangani surat pelimpahan hak asuh ini tuan Kim, setelah itu anda dan nona Jiyeon harus memenuhi satu kali panggilan pihak pengadilan untuk mengesahkannya dan nona Jiyeon resmi menjadi putri anda, menjadi seorang Kim Jiyeon.”

Jonghyun mengangguk dengan senyum lebarnya, merasa tak sabar untuk menyampaikan kabar gembira ini pada putri tercintanya. Pada sosok anak angkat yang di sayangi Jonghyun layaknya dia menyayangi putra kandungnya—Kim Jongin— pada sosok gadis berhati lembut yang juga sangat, menyayanginya dan seluruh anggota keluarganya dengan begitu tulus, hingga membuat Jonghyun yakin untuk menjadikan Song Jiyeon memiliki marga yang sama dengannya.

“Terima kasih untuk semuanya, pengacara Lee.”

Pengacara Lee membungkuk seraya bangkit dari duduknya, menerima uluran tangan Jonghyun dengan senyum hangat sesaat sebelum beringsut dari ruangan itu. Meninggalkan Jonghyun yang sudah tertawa pelan dalam kebahagian yang sayangnya, akan menjadi sebuah luka lara mendalam untuk putranya sendiri, Kim Jongin.

***

“Dia sedang tidak bertengkar dengan Jiyeon, Chanyeol!”

Seruan Sehun membuat Chanyeol mengurungkan niat untuk melahap ramen pedas yang di pesannya, dari koki handal di kantin sekolah beberapa menit yang lalu. Memicingkan mata penuh kecurigaan saat Sehun kembali bersuara dengan mencodongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Chanyeol seraya membisikkan kalimat panjang ke telinga Chanyeol, hingga mereka berdua di perhatikan oleh siswa-siswa yang menatap aneh ke arah mereka berdua, karena jarak yang terlalu dekat di antara mereka.

Mungkinkah mereka sedang berada di satu hubungan cinta yang rumit? Sepertinya itu adalah prasangka yang paling memungkinkan, jika melihat tatapan orang-orang saat ini pada Sehun dan Chanyeol.

MWO???”

Chanyeol berseru dengan kencang, membuat mereka kembali mendapat tatapan aneh dari penghuni kantin. Namun sayangnya Chanyeol dan Sehun tidak peduli, mereka kini terlihat sama-sama menghembuskan napas pelan dengan wajah prihatin.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka?” Chanyeol memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, terlihat seperti orang yang sedang berfikir.

“Entahlah aku juga tidak tahu,”

“Tapi menurutmu apa Jiyeon juga mempunyai rasa yang sama dengan Jongin, Sehun-aa?” tanya Chanyeol ragu, namun sesaat kemudian Chanyeol sudah melebarkan matanya, saat Sehun mengangguk.

“Ya Tuhan! Lalu sekarang mereka,”

“Jongin memutuskan untuk melepaskan Jiyeon.”

***

Meanwhile

Jongin’s Class

Dengan malas Jongin menatap satu pesan yang baru saja memenuhi inbox ponsel pintarnya, dengan mata memicing Jongin membaca sebaris pesan singkat dari seorang laki-laki bernama Yixing. Laki-laki yang sejak dulu selalu saja terlibat masalah berujung perkelahian dengan Jongin, baik perkelahian dengan masalah yang jelas maupun perkelahian tanpa sebab.

Dan Kim Jongin laki-laki yang selalu menyelesaikan semua masalah dengan kaum berandalan sekolah dengan cara berkelahi, terlihat hanya tersenyum tenang seraya melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Untuk menemui laki-laki yang juga berpredikat sebagai sepupu dekat, dari seorang gadis yang pernah Jongin tolak pernyataan cintanya beberapa waktu yang lalu.

“Aku menunggumu di gudang belakang!”

Jongin melangkah dengan tenang menuju gudang yang di maksud, menatap pintu tua yang sudah termakan usia hingga menimbulkan bunyi dencitan saat Jongin mendorongnya untuk terbuka. Di dalam gudang sudah terdapat Yixing dan beberapa siswa lainnya, menatap bengis ke arah Jongin yang terlihat santai dengan senyum samar di ujung bibir.

“Eoh! Akhirnya kau datang juga, Kim Jongin.”

“Tentu saja, aku pasti akan memenuhi undangan dari laki-laki pengecut seperti mu dengan senang hati, Zhang Yixing.”

Zhang Yixing mengeratkan kepalan tangannya seketika, laki-laki kelahiran China yang memiliki darah Korea dari sang ibu menatap tajam sosok Jongin di depannya. Sosok tenang dengan tatapan dan seringai tajam tak bersabahat yang sangat di benci Yixing, tatapan yang seolah-olah menjatuhkan harga dirinya hingga ke tingkat terendah.

“Kau mengundangku ke sini untuk mengajakku makan siang bersama pengikut bodohmu, atau kau ingin membandingkan kemampuan material art yang kau miliki dengan ku, Yixing?”

Kembali Jongin melayangkan tatapan merendahkan yang membuat emosi Yixing semakin tersulut, namun Jongin tidak peduli laki-laki itu justru memajukan langkahnya, memutar pergelangan tangannya dengan santai. Seraya berucap sebaris kalimat dengan tenang, kalimat yang membuat Yixing langsung melayangkan satu begoman ke arah Jongin.

“Apa perkelahiannya bisa kita mulai sekarang, pecundang rendahan,”

Jongin tersenyum dengan bibir yang tertarik ke atas saat menatap raut kecewa Yixing karena pukulan laki-laki itu mampu di tepisnya, laki-laki itu mengerang sesaat sebelum kembali melayangkan tinjunya. Dalam hitungan detik Jongin dan Yixing sudah terlibat perkelahian sengit, beberapa kali Yixing terlihat terhuyung saat Jongin berhasil menghantam wajah dan perutnya.

Begitu pula dengan Jongin laki-laki itu juga terlihat tersengal dengan luka robek di sudut bibirnya, Jongin pun hanya terkekeh seraya mengusap darah yang mengalir dari lukanya. Menatap Yixing yang bahkan sudah terlihat memuntahkan darah segar dari mulutnya, pelipis laki-laki itu robek dengan luka lebam di hampir semua bagian wajahnya.

Tiba-tiba pintu gudang terbuka menampilkan sosok seorang laki-laki paruh baya yang berdiri murka di ambang pintu, laki-laki paruh baya yang berpredikat sebagai guru sastra Prancis di sekolah mereka yang terkenal bengis layaknya seorang tiran tanpa belas kasihan— Kim Heechul.

Laki-laki itu mengerakkan balok kayu yang ada di genggamannya berjalan pelan menuju Jongin dan Yixing, menarik napasnya yang memburu kasar seraya mengayunkan balok kayu ke udara dengan teriakkan yang memekakkan telinga. Teriakkan yang menghentikan perkelahian Jongin dan Yixing, hingga membuat mereka semua berakhir di depan meja kepala sekolah mereka.

“BERANDALLLLLL!!!!!”

***

Jiyeon berjalan tergesa sesaat setelah Xiumin memberi kabar jika Jongin kembali terlibat perkelahian, berjalan menuju taman belakang sekolah di mana Jongin berada setelah mendapat hukuman membersihkan taman dari kepala sekolah. Di tangan gadis itu terdapat obat luka, kapas, cairan anti septic dan perban, terlihat pucat pasi saat membayangkan wajah Jongin yang penuh luka, walau kenyataannya Jiyeon sudah terbiasa dengan situasi seperti ini sejak dulu.

Jiyeon menarik napasnya sejenak saat matanya sudah mampu menemukan sosok Jongin, duduk bersandar di bangku taman yang menjadi tempat favorit mereka untuk menghabiskan bekal makan siang. Ragu untuk duduk di hadapan Jongin, Jiyeon memilih berdiri memaku tanpa sepatah kata yang mampu terucap dari lidahnya yang kelu. Merasa takut saat mengingat kemurkaan Jongin semalam, hingga Jiyeon hanya menatap Jongin yang setengah menunduk dengan tangan yang memegangi lehernya.

“Untuk apa kau datang kemari?”

Jiyeon terlonjak kaget saat Jongin tiba-tiba bersuara tanpa menatap ke arahnya, terlihat tidak suka dengan kehadiran Jiyeon yang pada akhirnya memutuskan untuk duduk di hadapan Jongin. Gadis itu memperhatikan luka di sudut bibir Jongin, tanpa kata Jiyeon menyiapkan cairan anti septic dan obat luka di atas meja, bermaksud untuk mengobati luka Jongin seperti yang biasa dia lakukan selama ini. Namun baru saja tangan Jiyeon bergerak ke arah Jongin, laki-laki itu sudah menepisnya dengan kasar. Menatap tajam Jiyeon hingga gadis membeku di tempatnya, dengan mata yang mengerjab takut.

“Bukankah sudah ku katakan padamu semalam untuk tidak pernah lagi menunjukkan kepedulianmu padaku dan menjauh dariku, Song Jiyeon!” ucap Jongin seraya menopang kepalanya di atas satu tangan, dengan bolamata yang berputar tak berniat untuk kembali menatap Jiyeon.

“Oppa—“

“Apa kau tuli? Apa kau terlalu bodoh untuk mengerti semua perkataanku semalam dan saat ini, aku sangat muak dengan wajahmu, kau mengerti?”

Jongin memalingkan wajahnya, mengepalkan tangannya dengan kuat saat kembali menatap Jiyeon yang terlonjak karena bentakannya, semakin merasa bersalah saat menatap butiran crystal yang sudah menghiasi mata bening dari gadis yang di cintainya itu.

“Aku tahu kau membenciku oppa, tapi aku mohon jangan seperti ini. Berhentilah berkelahi dan membuatku khawatir, jika ayah tahu kau mendapat skorsing karena hal ini ayah pasti,—“

“Itu bukan urusanmu!” potong Jongin dengan dingin seraya kembali berpaling.

Jongin melirik sosok Jiyeon yang menyeka air mata dari sudut matanya, menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak memeluk Jiyeon dan mengatakan jika semua kalimat menyakitkan ini hanyalah kebohongan semata. Namun dengan cepat Jongin menepisnya, kembali pada keputusan untuk melepaskan Jiyeon demi masa depannya, masa depan Jiyeon dan demi nama baik keluarganya.

Apa kata orang-orang di luar sana, jika mengetahui tentang sekandal cinta terlarang antara dia dan Jiyeon?

Tentu saja itu sangat memalukan dan akan melukai harga diri keluarganya. Dan Jongin benar-benar tidak rela, jika kedua orang tuanya mendapat malu karena dirinya.

Dalam satu gerakan Jongin memutuskan untuk beranjak, meninggalkan Jiyeon sebelum hatinya kembali luluh dan berbelok untuk kembali menatap ke arah malaikat hatinya itu. Sebelum semuanya menjadi semakin sulit untuk Jongin.

“Oppa—“

Jiyeon ikut beranjak saat Jongin mulai melangkah menjauh, mengejar Jongin yang berjalan cepat di depannya. Hingga pada akhirnya langkah Jongin terhenti saat satu tangan Jiyeon menahan lengannya, menatap laki-laki itu lewat mata bening yang sangat Jongin sukai sejak dulu, menatap Jongin dengan tatapan dalam penuh kekhawatiran yang sulit untuk di tepis.

“Aku tahu kau membenciku, aku tahu kau sangat tidak suka dengan kehadiranku di keluargamu. Aku tahu kau sangat tidak suka jika sebentar lagi, aku akan menyandang marga yang sama denga mu, tapi jangan membuat masalah hanya karena oppa membenciku, hanya karena oppa tidak suka padaku “

Jongin terlihat semakin tak bisa menahan luapan rasa kesal karena semua prasangka Jiyeon padanya, semakin tak mampu menahan lidahnya untuk tidak berucap apa yang sebenarnya menjadi alasan dia menjauhi Jiyeon.

“Iya aku memang membencimu dan tidak suka padamu!” teriak Jongin tak tertahan, merasa sudah tak mampu untuk menahan semuanya. Jongin meraih bahu Jiyeon, mencengkramnya seraya menguncangnya dengan kuat, hingga gadis itu meringis menahan sakit.

Op—oppa,”

“Aku tidak suka padamu sejak kau datang di keluargaku, aku tidak suka padamu yang selalu tersenyum dan tidak pernah marah padaku walau aku selalu menyakitimu. Aku juga tidak suka saat wajahmu selalu memenuhi pikiran u, aku tidak suka saat aku merindukan senyummu, aku tidak suka saat aku selalu khawatir ketika tak mampu menemukanmu di kuasa pandanganku, aku tidak suka saat aku harus menahan diri untuk tidak memelukmu,—“

“Dan aku… aku sangat tidak suka saat kau tidak pernah menyadari jika aku… JIKA AKU SANGAT MENCINTAIMU,—-“

Jiyeon terkejut, pupilnya melebar berbalut rasa tak percaya, dengan apa yang Jongin ucapkan hingga tanpa sadar menampar laki-laki itu. Tak menyangka jika kakak laki-lakinya itu menyimpan rasa cinta untuk dirinya, rasa yang sejujurnya lamat-lamat juga terasa di relung hatinya. Namun Jiyeon mengabaikannya, membiarkan rasa itu hanya menjadi ambigu yang tak pernah di izinkan, untuk naik ke permukaan karena status saudara yang dia sandang.

PLAKK!!!—-

Membeku seketika di tempat dengan tatapan tidak percaya, Jongin menatap Jiyeon yang sudah terisak dengan memandangi tangannya yang baru saja memberi tamparan keras di pipi Jongin, menatap Jiyeon yang menatapnya dengan air mata yang sudah membanjiri pipi pucatnya. Perlahan cengkaraman Jongin terlepas, memandang Jiyeon yang semakin menangis tersedu dengan kata maaf yang terucap di bibirnya yang bergetar.

“Mianhae—- aku— aku tidak bermaksud—,“ Jiyeon ingin sekali meraih pipi Jongin yang baru di tamparnya, merasa sangat bersalah karena sudah menampar Jongin. Namun gadis itu hanya mampu mengantungkan tangannya yang bergetar di udara dan kembali terisak dengan air mata yang semakin tak mampu di tahan.

“Aku adik-mu oppa! Jadi kau tidak boleh jatuh cinta padaku, kau dengar oppa, AKU ADIKMU!!!” Jiyeon memundurkan tubuhnya, membekap mulutnya saat isakannya semakin terdengar nyata.

Jiyeon benar-benar takut, benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan Jongin, jika Jonghyun mengetahui ini semua. Jiyeon pun semakin memundurkan langkahnya, tersedan dengan rasa binggung yang membelengu, tersedan dengan rasa takut hingga gadis itu tidak menyadari rasa sakit yang di rasakannya saat kini.

“Jiyeon-ah”

Langkah kaki Jongin tertahan saat Jiyeon mengeleng pelan dengan kembali melangkah mundur, kembali tersedu dengan tatapan terluka yang terlihat sama dengan tatapan Jongin saat ini. Gadis itu kembali mengucapkan kata maaf, kembali terisak saat menatap butiran air mata yang perlahan ikut jatuh dari mata coklat Jongin yang menatap Jiyeon dalam kebekuan.

Dalam satu gerakan Jiyeon membalikkan tubuhnya, berjalan cepat menjauh dari Jongin yang terpaku di tempatnya berpijak. Meninggalkan Jongin dalam keheningan hati yang membunuh relung jiwa, menghempaskan semua rasa ke jurang nestapa hingga tak bernyawa, meninggalkan Jongin yang menatap kepergian Jiyeon dengan kepingan asa yang memudar tanpa sisa.

Mianhae—- Oppa mianhae—“

Dalam satu gerakan Jiyeon membalikkan tubuhnya, berjalan cepat menjauh dari Jongin yang terpaku di tempatnya berpijak. Meninggalkan Jongin dalam keheningan hati yang membunuh relung jiwa hingga meninggalkan rasa hampa tak bernyawa, meninggalkan Jongin yang menatap kepergian Jiyeon dengan kepingan asa yang memudar tanpa sisa.

~ TBC ~

15 pemikiran pada “Forbidden Feeling (Chapter 5)

  1. sedih banget liat perjalanan hidupnya mereka berdua dimulai dari yg ga saling kenal eh pas kenal suka jadi adek kakak yg akhirnya si kakak jqtuh cinta ama adeknya

  2. Jongin~~ andwae Jiyeon jangan tinggalin jongin hiks hiks chapter ini bener2 menguras emosi bgt sedih. Bahagia semuanya kena banget feel y!
    tapi kasian jonginnya huwaaaa hiks hiks
    next chapnya jangan lama-lama y thor gila ini chap daebak bgt!

  3. Kalo jadi kai pasti itu rasanya kayak nyesek2 gitu. Di sisi lain kalo dia ngakuin kalo dia itu suka sama sijiyeon itu bakalan merusak harga diri keluarganya, jadi gimana ya?
    Y udah lah, apa daya ku hanya seorang pembaca..
    Thorr updatenya jan lama2 yaa
    Fighting!!

  4. Sumpah nyesek banget ini feelny dpt banget thor, miris sama mereka yg terjebak di rasa yg seharusnya ngga mampir di hati mereka. Tp mereka emang gasalah dg perasaan yg mereka punya tp kondisinya yg salah
    Lanjut thor lanjut

  5. Ya ampun kasihan sekali jongin harus selalu menahan rasa cintanya pada jiyeon. Jiyeon pun sama ia juga ada rasa pada jongin namun ia tak ingin mengecewakan jonghyun,appa angkatnya yang sudah ia anggap seperti appanya sendiri kecewa mengetahui bahwa jongin mencintainya sangat dalam.
    Ia mencoba menahan agar perasaan pada jongin pun tidak bertumbuh.
    Namun harua bagaimana status mereka yang tak bisa membuat jongin memiliki jiyeon sampai ia menolak semua gadis yang mengutarakan perasaannya padanya.
    Next chapternya ya thor

  6. astaga sedih banget 😥 kasian jongin udah luka* malah ditampar, tapi pasti hatinya lebih sakit dari tamparan itu huhuhuhuhu 😥 . Next chap thor

  7. APA INI JONGIN FINALLY SHOWED HIS FEELING HAH W BAPER PLS INI TYPINGNYA AMPE CAPS SEMUA😭 sumpah penganut alayers w. Ini jiyeon gaya lo doang kan sok2an nolak perasaan jongin pdhal kan lo suka iyakan? Pas jongin kissed eunji kan lo marah iyakan? Halah kebanyakan begaya doang ini jiyeon, oke kak rin fighting terus ya bikin story yang gampang bikin gue baper gini i love it💕💕

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s