Unlogical Married (Chapter 6)

Unlogical Married

 CoverUnlogical

Title : Unlogical Married (Chapter 6)

Main Cast :

  • Oh Se Hun
  • Seo Young Ji (OC)

Other :

  • Do Kyung Soo
  • Park Chan Yeol
  • Byun Baek Hyun
  • Baek Dam Bi (OC)
  • Oh Dong Hoon (OC)
  • Hong Jang Mi (OC)
  • Son Na Ra (OC)
  • etc

Genre : Comedy-Romance, Marriage-life

Author : Lee Young

Lenght : Multichapter

Rate : PG-19

Summary : Let’s make it more logic

Note : Saya sih ngakak waktu menulis chapter ini… nggak tau deh teman-teman bisa merasakan ke-ngakak-an saya atau nggak *kriik. Saya gemes aja sama Se Hun yang kadang pikirannya nggak jelas, lol. Oke, saya tunggu responnya 😀

(Chapter 6)

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke dalam kamar Young Ji, bersamaan dengan suara jam weker yang berdeking nyaring. Benda bulat menyebalkan itu bergerak di permukaan meja akibat getaran yang dihasilkan.

Tangan kecil Young Ji bergerak-gerak untuk meraba permukaan meja. Dia memencet jam weker asal, dan menariknya ke dalam selimut.

Pukul 06.00.

Young Ji menggumamkan sesuatu yang tidak jelas ketika mendapati dirinya bangun satu jam lebih siang dari biasanya.

Gadis itu berniat untuk bangkit dari tempat tidur ketika mendadak dia mendengar suara dengkuran halus dari arah belakang.

Mata Young Ji membulat. Sebentar, sebentar, sepertinya Young Ji lupa sesuatu. Kening gadis itu terlipat. Young Ji hati-hati mengingat setiap kejadian yang dia alami sebelum dia membuka matanya pagi ini.

“Astaga, Tuhan!!!” pekik Young Ji lalu menarik selimut hingga sebatas wajah.

Young Ji yang masih miring ke sisi kiri secara perlahan menggerakkan tubuhnya untuk melihat ke belakang. Bingo! Oh Se Hun masih tertidur pulas sambil sesekali menggaruk wajahnya yang entah gatal atau tidak. Satu detik berikutnya, laki-laki berkulit putih susu itu bergerak miring kearah Young Ji. Dia bahkan mendengkur dengan amat sangat tidak beradab!!!

Young Ji segera memejamkan matanya kuat-kuat ketika Se Hun menggerak-gerakkan tubuhnya, hingga separuh tubuh bagian atas laki-laki itu terlihat jelas tanpa busana.

Young Ji ingat 100% dengan apa yang telah mereka lakukan, semalam.

Mengingat semua itu, membuat Young Ji ingin membenturkan kepalanya ke tembok saat ini juga. Tapi, dia sama sekali tidak bisa bergerak.

Dia tidak mungkin keluar dari kamar dengan kondisi seperti ini–tanpa sehelai pun kain yang menempel di tubuhnya. Bagaimana kalau tiba-tiba Se Hun bangun dan melihatnya?!!! Ah, tidak mungkin!!!!!! Tidak mau!!!

Young Ji memukul kepalanya berulang kali.

Kenapa semalam dia bisa seperti sapi yang ditusuk hidungnya sih? Kenapa dia bisa menurut begitu saja ketika bocah itu menariknya menuju kamar? Walau pun ya…. Young Ji akui, semalam Se Hun begitu berbeda… tapi.. tetap saja! Ini bukan pernikahan sungguhan! Dan kejadian tadi malam malah memperburuk suasana! Young Ji merasa sudah menjadi istri yang sesungguhnya karena hal itu!!! Bodoh kau, Seo Young Ji!

“Bagaimana ini….” Young Ji merengek.

Dia semakin menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut. Bahkan gadis itu sesekali menggerak-gerakkan kakinya sebal karena harus terperangkap di bawah selimut yang sama dengan Oh Se Hun. Mana jantungnya dag dig dug der, lagi!! Aduuh… Young Ji ingin sekali menghentikan jantungnya sendiri.

Dengkuran Se Hun semakin lama semakin terdengar pelan. Tampaknya gerakan kaki Young Ji berhasil membuat Se Hun terbangun. Laki-laki itu membuka matanya perlahan, lalu mengerjap beberapa kali sebelum mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Young Ji mendadak tegang. Dia langsung pura-pura tidur.

Suara Se Hun ketika laki-laki itu merenggangkan tangannya terdengar jelas. Young Ji bisa merasa jika tangan Se Hun terulur melewati wajahnya ketika laki-laki itu mengambil jam weker yang tergeletak di samping kepalanya.

“Pukul 06.04? Tsk, masih pagi,” gumam Se Hun.

Young Ji membuka satu matanya, bersamaan dengan Se Hun yang kembali meletakkan jam weker ke meja. Laki-laki itu sedikit tersentak ketika melihat satu mata Young Ji terbuka perlahan. “Kau sudah bangun?” tanya Se Hun.

Young Ji langsung memejamkan matanya lagi. Padahal jelas-jelas dia sudah tertangkap basah!

Se Hun berdecak. “Jangan bertingkah bodoh. Aku tahu kau sudah bangun, Young Ji-a,” kata Se Hun.

Young Ji mau tidak mau membuka kedua matanya. Dia melirik kearah Se Hun yang sudah duduk bersandar di ranjang sebari menatapnya. Jantung Young Ji semakin berdegup kencang.

“Kemarin kau tidak pergi ke dukun untuk membuatku terjatuh ke dalam rencana mesum-mu, kan?” Young Ji memilih bertanya dengan nada sarkastik.

Se Hun mengangkat satu alisnya. “Dukun?”

Young Ji menghela napas.

Dia membuka selimut yang menutup separuh wajahnya, lalu hati-hati ikut duduk bersandar sebari menahan selimut agar tetap menutupi tubuhnya. Young Ji menyipitkan mata. “Kesepakatan kita, pernikahan ini hanya pura-pura. Tapi kenapa kau melakukan semua ini kepadaku? Kau tidak merasa bersalah?!” tanya Young Ji dengan nada sinis.

Se Hun memutar bola matanya, jengah. “Kenapa harus merasa bersalah jika itu sudah hak dan kewajiban kita sebagai suami-istri? Lagipula kau juga mau! Bukan sepenuhnya salahku,” balas Se Hun.

Apa? Hak dan kewajiban?!!

“Kau bilang ini hanya pura–”

“Ayahku belum meninggal, dan kita akan tetap seperti ini hingga beliau tiada,” potong Se Hun.

Young Ji menahan diri untuk tidak mengumpati laki-laki itu. Gadis itu masih sangat ingat jika dulu Se Hun berkata jika dia boleh langsung menggugat perceraian sesaat setelah menikah! Tapi apa? Mereka sudah terlalu jauh dari perjanjian yang telah disepakati.

“Ya! Oh Se Hun! Kau bilang, aku boleh menceraikanmu setelah kita menikah. Kau bilang, yang terpenting adalah foto dan wedding vow yang kita ucapkan. Tapi kenapa sekarang kau malah mempersulit semuanya, eoh?”

Se Hun menghembuskan napas keras. Dia sama sekali tidak menatap Young Ji di sampingnya. “Ya, aku ingat telah mengatakannya. Tapi aku pun juga ingat jika kondisi ayah akan semakin memburuk jika keinginannya tidak berjalan sesuai harapan!”

Se Hun menoleh, “Jika kau ingin menceraikanku, silakan saja. Aku tidak keberatan. Tapi, jika ayahku meninggal karena kau menceraikanku, aku akan menyalahkanmu atas kematian beliau,” suara Se Hun menajam di ujung kalimat.

Young Ji menelan ludah. Tidak bisa dipercaya.

Hening.

Se Hun sibuk meraih handuk yang berada tepat di bawah ranjang, lalu melingkarkan di tubuhnya melalui bawah selimut.

Laki-laki itu berhasil beranjak dari ranjang tanpa harus membuat Young Ji memekik karena melihat hal yang tidak semestinya. Wajah Young Ji tampak gusar.

“Aku mandi dulu, aku harus berangkat sekolah,” kata Se Hun sebari melangkah keluar kamar.

Young Ji tidak menjawab. Gadis itu hanya mengikutkan pandangannya kearah Se Hun sebelum akhirnya memukul kepalanya keras.

Bodoh!! Dia merasa begitu bodoh karena membiarkan dirinya terjebak di dalam sebuah status konyol yang tidak diketahui akan berakhir hingga kapan!

***

“Jika sel sperma bertemu dengan sel telur, yang terjadi adalah fertilisasi.”

Suara guru Biologi Jung, menggema di seluruh penjuru kelas. Hari ini mata pelajaran Biologi memasuki bab Sistem Reproduksi, dan kelas Se Hun mendadak ricuh karena pertanyaan-pertanyaan aneh yang muncul dari para siswa.

Tapi tidak dengan Oh Se Hun. Laki-laki itu sejak awal pelajaran sudah sibuk menelan ludahnya berulang kali.

Apa? Reproduksi? Fertilisasi? Zigot? Jangan-jangan apa yang dilakukannya semalam bisa menimbulkan fertilisasi, lagi–Se Hun berlagak sok saintis.

“Fertilisasi terjadi jika sel telur masih berada di tuba falopii,” guru Jung menunjuk organ tuba falopii dengan pointer. Se Hun memperhatikan semakin lekat. “Sel sperma yang masuk akan menuju ke tuba falopii untuk menemui pujaan hatinya

Gelegak tawa pecah di kelas Se Hun.

“Tapi jika sel telur sudah berada di rahim, kemungkinan terjadinya pembuahan sangat kecil atau bahkan tidak ada kemungkinan sama sekali. Jadi jika kalian sudah menikah nanti, kalian harus bisa memperkirakan, kapan program anak bisa dilaksanakan”

Lagi-lagi, satu kelas tertawa sadis.

“Mungkin ada yang ditanyakan?” guru Jung mulai membuka pertanyaan. Se Hun langsung mengangkat tangan-nya tinggi-tinggi. Laki-laki itu bahkan berdiri ketika mendapati begitu banyak temannya yang ingin bertanya.

Guru Jung sampai mengerutkan keningnya heran, “Iya, Oh Se Hun? Kau mau bertanya?”

Se Hun mengangguk antusias. Guru Jung mempersilakan. “Apa pertanyaanmu?”

“Tentang fertilisasi, saem! Apakah setiap kali…” Se Hun membuat tanda kutip dengan kedua tangannya. Beberapa temannya terkikik geli. “…pasti akan terjadi fertilisasi?”

Guru Jung tersenyum, “Tentu saja tidak. Banyak faktor yang memengaruhi proses itu, Se Hun”

“Apa, saem?” Se Hun semakin antusias. Teman-temannya yang lain ikut mengangguk-angguk–menunggu jawaban.

“Masa subur, kualitas sperma, kondisi saluran reproduksi wanita. Banyak”

“Masa subur?” kening Se Hun berkerut. Sebentar, sebentar, masa subur Young Ji sudah seminggu yang lalu, kan?

“Iya, masa subur. Jadi begini, pada wanita yang memiliki siklus haid normal, sel telur dilepaskan dari ovarium di hari ke-7 sejak haid berakhir. Sel telur akan terus bertahan selama kurang lebih 3 hari di dalam saluran telur, dan jika di waktu itu ada sel sperma yang masuk, maka kemungkinan terjadinya fertilisasi sangat besar,” jelas guru Jung.

Satu teman Se Hun menyusul mengangkat tangan. “Saem! Kalau begitu, bukankah semakin lama jarak sel telur dengan sperma makin dekat, ya? Kenapa malah kemungkinan fertilisasinya semakin rendah?”

Nah, Se Hun juga akan menanyakan hal itu.

Guru Jung tersenyum. “Pertanyaan yang bagus. Itu, berhubungan juga dengan kondisi saluran reproduksi wanita. Semakin lama, pH saluran akan semakin rendah, sementara sperma hanya mampu hidup di kondisi basa atau tidak terlalu asam. Tapi tidak menutup kemungkinan fertilisasi akan tetap terjadi walau kondisinya ekstrim. Kau bisa mendapatkan anak perempuan jika seperti itu. Penjelasan lengkapnya ada di genetika, tentu saja. Oh ya, jangan-jangan kalian sudah ada yang menyusun program anak?”

Satu kelas kembali terbahak tanpa adab, akibat celetukan guru Jung tentang program anak. Ya, satu kelas, kecuali Oh Se Hun.

Lagi-lagi, Se Hun menelan ludah.

Tidak mungkin… Jadi, Young Ji masih bisa hamil karena perbuatannya semalam? Se Hun sama sekali tidak terpikir hingga sejauh itu. Sekarang dia tahu kenapa Young Ji berkata jika Se Hun mungkin akan mempersulit semuanya. Ternyata, ada begitu banyak hal yang gadis itu khawatirkan.

Se Hun mengusap wajahnya. Bicara soal hamil, itu artinya Se Hun akan menjadi seorang ayah.

Se Hun ingin mengumpat ketika dia sadar jika seorang ayah minimal harus bekerja untuk membeli susu formula anaknya (-_-“)

Pikirannya random tiba-tiba. Padahal belum tentu juga Young Ji hamil, kan? Dan kenapa tiba-tiba pikiran Se Hun malah jadi kebapakan seperti ini, sih?

Se Hun memukul kepalanya berulang kali.

Oh Se Hun, benar-benar…

***

“Jadi kapan aku bisa mulai bekerja?,” Se Hun bertanya dengan suara pelan. Saat ini dia tengah berada di taman sekolah, menelepon ayahnya.

Se Hun sudah memutuskan untuk menerima tawaran Dong Hoon terkait bekerja paruh waktu di perusahaan keluarganya sendiri. Aplikasi yang dia kirimkan beberapa hari lalu tidak lolos, yang artinya Se Hun tidak berhasil mendapatkan uang.

Dan dari beberapa pekerjaan kasar yang Dong Hoon sebutkan, Se Hun memilih menjadi driver alias kurir yang bertugas mengantarkan barang-barang konveksi ke seluruh penjuru Korea.

Gajinya lumayan. Yaa… cukuplah untuk membeli susu formula.

“Kau hubungi manajer Jang jika kau serius dengan itu, Se Hun”

Se Hun menghela napas. Entah kenapa dia merasa jika Dong Hoon benar-benar memberikan waktu-waktu terberat dalam hidup Se Hun. “Berapa nomor manajer Jang, ayah?” tanya Se Hun setelah mati-matian menahan diri untuk tidak mengumpat.

Dong Hoon mengeja nomor manajer Jang, sementara Se Hun berusaha mengingatnya. Laki-laki itu bahkan menerawang langit siang sebari menghafalkan nomor manajer Jang.

“Sudah kau hafal?”

“Eoh, sepertinya sudah, ayah. Baiklah kalau begitu–”

“Peek a Boooo!!!!”

“Aigo, kkamjjakiya!!!” Se Hun refleks melemparkan ponselnya ketika suara tiga teman imbisilnya terdengar mengagetkan dari belakang.

Ponsel Se Hun melayang di udara, sebelum sukses mendarat di rerumputan. Sambungan terputus.

Se Hun langsung berjongkok mengambil ponselnya ketika ketiga manusia itu terbahak sebari memegangi perut. Wajah Oh Se Hun konyol sekali!!

“Hhaa-hhaa-hha seharusnya kau melihat wajahmu, Se Hun hha-hha-hhaa,” Baek Hyun terbahak paling sadis.

“Kau tampak begitu bodoh, kau tahu?!” kini Chan Yeol menepuk-nepuk pundak Se Hun yang tengah merana meratapi ponselnya.

Se Hun mendengus. “Kalian pikir apa yang kalian lakukan eoh?!!” bentak Se Hun.

Hening.

Tawa ketiga manusia itu langsung terhenti. Apa Se Hun baru saja membentak mereka? Bukankah mereka hanya bercanda?

“Kau– kau tidak apa-apa?,” tanya Baek Hyun dengan wajah pias. Bagaimana tidak jika ide mengagetkan Se Hun adalah miliknya?

Se Hun belum menjawab. Laki-laki itu sibuk mengumpat lirih sebari terus menggumamkan nomor asing.

“Se Hun-a, kami hanya bercanda,” suara Kyung Soo kini terdengar. Se Hun masih belum menggubris. “Se Hun-a”

“Bisakah kalian diam?!! Aku sedang menghafalkan nomor telepon. Aku bisa mati jika aku gagal menghubunginya!” teriak Se Hun. Wajah Kyung Soo – Baek Hyun – Chan Yeol berubah cengo seketika. Apa tadi?

***

Na Ra memutar bola mata ketika gadis itu kehabisan jari tangannya hanya untuk menghitung sudah berapa banyak Seo Young Ji mondar-mandir di depan ruang pribadinya.

Young Ji tampak gusar sebari sesekali menggigit kuku jemarinya.

Sejak Na Ra pertama kali melihat Young Ji hari ini, wajah gadis itu tidak pernah sekali pun terlihat tenang. Young Ji hanya tersenyum ketika ada pelanggan yang mendekatinya, atau pegawai yang menyampaikan komplain pelanggan. Itu pun senyum Young Ji terlihat aneh sekali.

“Young Ji-a,” panggil Na Ra.

Young Ji tidak menggubris. Gadis itu masih saja mondar mandir sambil memainkan jemarinya gusar. “Ya! Seo Young Ji! Bisakah kau duduk di dalam ruang pribadimu saja? Ada apa denganmu, eoh? Kau membuatku pusing, tahu?!”

Young Ji langsung menatap Na Ra.

Na Ra menghela napas setelah Young Ji berhenti mondar-mandir, namun gadis itu malah menatapnya dengan sorot mata gelisah. Mirip sekali dengan kucing kelaparan. Na Ra mengerutkan keningnya. “Kau… kenapa?,” tanya Na Ra lirih.

Young Ji segera beringsut mendekati Na Ra.

Gadis itu menarik Na Ra untuk masuk ke dalam ruang pribadinya dan duduk di sofa kecil yang ada di dalam. Na Ra ingin protes sebenarnya, tapi Young Ji langsung menelungkupkan kedua tangannya di wajah. Gadis itu merengek. “Aku bisa gila, Na Ra-ya!!! Aku bisa gila!!!”

Na Ra semakin mengerutkan kening. “Kau gila? Wae?”

Young Ji menatap Na Ra sebari mendekatkan wajahnya ke wajah Na Ra. Na Ra sampai harus memundurkan tubuhnya. “Oh Se Hun…. laki-laki itu yang membuatku gila!,” wajah Young Ji berubah marah, tapi sesaat kemudian dia kembali merengek lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Absurd!

“Bocah itu, bocah itu mempersulit semuanya, Na Ra! Aku kesulitan untuk bercerai dengannya, kau tahu? Aku bisa gila Na Ra!! Tolong aku!!!!,” kini Young Ji mulai bergelayut di lengan Na Ra.

Na Ra memutar bola matanya. “Aigo… jadi kau masih ingin bercerai dari suamimu?”

Young Ji tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dengan wajah bersungutnya. Na Ra menghela napas. “Kenapa? Toh rumah tangga mu baik-baik saja, kan? Lagipula kalian tidak memiliki alasan untuk bercerai.”

“Aku punya!,” Young Ji langsung menegakkan tubuh. “Aku punya banyak alasan untuk bercerai”

Na Ra menaikkan satu alisnya.

“Alasan pertama, pernikahan kami bukan pernikahan sungguhan. Kedua, Oh Se Hun selalu membuatku merasa terancam dengan pikiran mesumnya. Ketiga, Oh Se Hun melanggar kesepakatan jika aku boleh bercerai setelah kami menikah. Keempat…. ” wajah Young Ji berubah aneh. Dia menggigit ujung-ujung kuku jemari tangan kanannya. “Dia telah menipuku, semalam,” suara Young Ji mencicit di ujung kalimat.

Ah, ya, tentu saja. Menipu. Kata itu cukup tepat untuk mengungkapkan jika mereka telah melakukan hal yang sudah semestinya mereka lakukan sejak dulu–Na Ra menghela napas sekali lagi. Sepertinya otak Young Ji butuh direparasi.

“Tapi kau mau ditipu, kan?” cibir Na Ra. Young Ji menggeleng, lalu mengangguk, eh menggeleng lagi.

“Sungguh!,” Na Ra berdesis. “Young Ji-a, berhentilah bersikap aneh. Kau ingin bercerai dengan alasan itu? Kau akan berkata kepada hakim jika kalian pura-pura menikah? Ya! Yang ada kau bisa dipenjara atas tuduhan penipuan. Kau mau?” Na Ra menunjuk wajah Young Ji. Young Ji mengeleng.

“Sudah kutebak jika kau tidak mau. Dan yang kedua, kau ingin bercerai karena Oh Se Hun selalu berpikiran mesum denganmu? Astaga Tuhan, kau ini istrinya dan dia suamimu,” Young Ji mengerutkan wajahnya, tidak setuju. Na Ra menarik napas panjang. “Oke, begini saja. Kau wanita, dan dia pria. Kalian tinggal seatap selama lebih dari 48 jam. Kalian menggunakan kamar mandi yang sama, sofa yang sama, meja makan yang sama, dan mungkin ranjang yang sama”

“Aku tidak pernah mengijinkannya tidur di ranjang!,” tegas Young Ji.

Well, aku ralat. Sebelum tadi malam, kalian tidur terpisah, begitu?” Young Ji mengangguk. Na Ra berdesis mendapati sahabatnya ini masih begitu keras kepala. “Apapun itu, kau tahu tidak? Imajinasi seorang pria berlipat-lipat lebih fantastis ketimbang imajinasimu. Tidak mungkin jika Se Hun bisa menahan diri jika setiap hari harus melihatmu yang seperti ini. Oh ayolah, lagipula Se Hun juga tidak bersalah jika dia berpikiran mesum. Dia mesum di tempat yang benar.”

“Kau malah akan dicap sebagai istri tidak berguna jika melaporkan suamimu karena dia menginginkan-mu,” lanjut Na Ra.

“Tapi dia telah melanggar perjanjiannya tentang segera bercerai, Na Ra. Kau tahu, aku mau menikah dengannya hanya karena itu. Aku hanya berniat menolongnya saja. Dia ingin membahagiakan ayahnya sebelum ayahnya meninggal,” Young Ji masih membela diri.

“Sekarang aku tanya, ayahnya sudah meninggal atau belum?”

Young Ji menggeleng. Na Ra menaikkan bahu. “Ya sudah, kau belum saatnya bercerai,” kata Na Ra sebari melipat tangannya di depan dada.

“Apa?!” pekik Young Ji. Ah, Na Ra sama sekali tidak membantu. Gadis itu malah membuat perasaan Young Ji semakin kalut.

“Lagipula, semalam kalian sudah sah menjadi suami-istri sungguhan,” Na Ra menoleh dengan tersenyum lebar.

“Ritual pernikahan, tinggal seatap, dan malam pertama. Rasanya luar biasa, kan? Suamimu sudah menyebarkan benih di ladang kehidupannya. Aku tunggu hasilnya, ya? Aku ingin keponakan laki-laki,” lanjut Na Ra dengan wajah cerah. Bahkan gadis itu menepuk-nepuk perut Young Ji sebelum beranjak keluar ruangan.

Young Ji ternganga. Apa-apaan itu tadi? Menyebar benih? Hasil? Keponakan? Tidak mungkin!!!!

***

Young Ji hati-hati membuka pintu apartemen. Masih gelap. Gadis itu mengerutkan keningnya sebari menyalakan lampu.

Young Ji melihat jam tangan. Pukul 10 malam, dan apartemennya masih kosong dengan gorden yang terbuka.

Gadis itu menghela napas, lalu menutup gorden. Tidak biasanya Oh Se Hun belum pulang hingga jam segini. Tapi, Young Ji menaikkan bahunya. Kenapa dia harus peduli sih? Toh Young Ji bisa sedikit leluasa sebelum Se Hun pulang.

Young Ji bersenandung lirih. Gadis itu sudah berganti pakaian dan bersiap untuk membuat sedikit makan malam. Ah, rasanya kebebasan Young Ji sudah kembali lagi. Young Ji sampai senyum-senyum sendiri ketika membuat nasi campur untuk dirinya. Bahkan dia makan dengan begitu lahap. Tidak sekali pun teringat Oh Se Hun.

Jarum jam terus bergerak. Kini sudah hampir pukul 12 malam. Dan Oh Se Hun sama sekali belum membuka pintu apartemen mereka.

Young Ji yang tengah duduk di sofa, semakin lama semakin kepikiran. Gadis itu sudah berulang kali melihat jam dinding dan pintu masuk apartemen secara bergantian. Wajahnya berkerut, matanya tampak gusar. Dia khawatir.

“Tsk, kemana perginya bocah itu, eoh?” gumam Young Ji setelah mendapati jika jam dinding menunjuk pukul 11.55 PM.

Entah kenapa, semakin lama dia merasa semakin gelisah.

Dan… apakah laki-laki itu latihan basket lagi? Kira-kira dia sudah makan belum ya? Young Ji tidak bisa memungkiri jika Oh Se Hun mulai memenuhi kepalanya, hingga membuatnya bangkit dari sofa dan menuju dapur.

Well, malam ini dia akan berbaik hati membuatkan sesuatu yang hangat untuk Oh Se Hun.

***

Pukul 1 dini hari.

Young Ji sudah berdiri gusar di depan pintu apartemen ketika Se Hun belum juga pulang.

Pikiran Young Ji sudah kemana-mana. Jangan-jangan Se Hun… ah tidak, tidak, Se Hun bisa menjaga diri dengan baik. Mungkin dia pulang ke rumah orang taunya. Ah, iya, kenapa Young Ji tidak kepikiran jika Se Hun pulang ke rumah Dong Hoon ya? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, tidak mungkin. Se Hun tidak ingin jika Dong Hoon tahu hubungan mereka sama sekali tidak baik.

Kalau begitu, kemana perginya laki-laki itu? Young Ji sudah hampir putus asa setelah mengirimkan pesan singkat–mengancam melarang Se Hun masuk apartemen jika dia pulang lewat tengah malam, hingga mencoba menghubunginya. Tapi semua gagal. Se Hun tidak menjawab sama sekali.

Young Ji sudah hampir menghubungi kantor polisi ketika secara tiba-tiba pintu apartemennya terbuka.

Oh Se Hun muncul dengan wajah kuyu, dan seragam sekolahnya yang tidak rapi sama sekali.

Young Ji segera menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu menatap Se Hun yang hanya meliriknya sekilas. Laki-laki itu sama sekali tidak merasa bersalah.

Young Ji mendengus. “Ya! Kemana saja kau hingga pulang selarut ini, eoh?”

Se Hun yang tengah meletakkan tas di sofa tidak segera menanggapi. Laki-laki itu malah duduk di sofa lalu melepaskan kaos kakinya. “Aku ke rumah temanku,” jawab Se Hun singkat. Suara laki-laki itu tidak biasanya terdengar begitu lirih.

“Apa? Ke rumah temanmu?,” tanya Young Ji–gagal menyadari perubahan suara Se Hun.

Se Hun tidak menjawab. Laki-laki itu malah berjalan menuju ke dispenser dan mengambil air putih. Jika saja Young Ji bisa melihat wajah Se Hun dengan lebih jelas lagi, gadis itu akan tahu jika suaminya tengah kelelahan.

Mata laki-laki itu pun berbinar lain. Ya, tentu saja! Se Hun berbohong tentang berkunjung ke rumah temannya. Hari ini, hari pertama Se Hun bekerja mengantarkan barang.

Young Ji berdecak, “Bisa-bisanya kau tidak merasa bersalah karena hal itu? Dan apa? Ke rumah temanmu? Ah, jinjja..,” omel Young Ji.

Se Hun menghela napas. Laki-laki itu kembali duduk di sofa. Tubuhnya pegal sekali. Setelah pulang sekolah tadi, dia langsung mengantarkan barang ke daerah-daerah di luar Seoul hingga membantu mengangkat gulungan-gulungan besar kain.

Harapan Se Hun, hari ini dia bisa mendapat sedikit saja ketenangan setelah pulang ke rumah, tapi faktanya apa? Young Ji malah marah-marah tidak jelas. Well, tapi Se Hun tidak bisa membela diri. Dia yang salah karena bermain rahasia sejak awal.

“Bagaimana jika besok saja kita lanjutkan pertengkaran ini? Aku lelah sekali,” Se Hun berkata lirih sebari bersandar di sofa lalu memejamkan mata. Dia pun merasa jika tubuhnya memanas. Ah, tidak mungkin! Jangan bilang kalau dia sakit! Payah–Se Hun diam-diam mengumpati dirinya sendiri.

Young Ji mendengus. Dia lanjut mengomel, namun demi Tuhan, omelan Young Ji hanya terdengar sayup di telinga Se Hun. Se Hun sudah kehilangan tenaganya setelah seharian bekerja.

Mata laki-laki itu terpejam kuat. Keningnya berkerut. Wajahnya mulai basah oleh keringat.

Young Ji yang semula sibuk mendengus bagai banteng rodeo, semakin lama semakin sadar dengan perubahan Oh Se Hun. Kening gadis itu berkerut. Kenapa laki-laki itu jadi pendiam seperti ini sih? Dan.. omo… kenapa keringat Se Hun banyak sekali di tengah malam seperti ini?

Young Ji segera menelan ludah ketika gadis itu beringsut mendekat. Tangannya ragu menyentuh pipi Se Hun yang terpejam. Panas. Gadis itu kelabakan membandingkan suhu wajah Se Hun dengan suhunya tubuhnya. Tidak mungkin. Laki-laki ini sakit!

“Astaga…” gumam Young Ji ketika mendapati wajah Se Hun semakin berkerut aneh.

Young Ji langsung bangkit dari sofa dan berlari ke seluruh penjuru apartemen. Dia mengambil satu baskom air dingin, selimut, obat, dan makanan yang dia buatkan beberapa saat lalu.

“Apa…..apa… yang kau lakukan di rumah temanmu hingga kau sakit seperti ini, eoh?” Young Ji bertanya lirih–suaranya mencicit, sebari memposisikan Se Hun agar tidur. Gadis itu susah payah menaikkan kaki panjang Se Hun ke sofa.

Se Hun hanya menanggapi dengan gerakan kecil kepalanya di bantal. Rasanya tubuh Se Hun bertambah semakin tidak karuan. Se Hun berada di ambang kesadaran dan tidak.

Young Ji segera menyelimuti tubuh Se Hun, lalu mengompres kening Se Hun dengan begitu telaten. Sialan. Young Ji tidak tahu kenapa dia merasa semakin khawatir seperti ini.

Gadis itu beralih menelusupkan tangannya ke bawah selimut, berniat meraih tangan Se Hun yang berkeringat untuk dia bersihkan dengan air. Tapi, gadis itu harus tersentak ketika mendapati kuku ibu jari Se Hun sedikit bermasalah. Jari laki-laki itu berdarah, seperti terkena benturan.

“Ya Tuhan,” pekik Young Ji. Gadis itu kelabakan membersihkan jari Se Hun sebelum mengolesnya dengan obat merah. Entah kenapa, mata Young Ji memerah. Gadis itu merasa ada yang janggal.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan, eoh?” lagi-lagi Young Ji bertanya dengan suaranya yang bergetar. “Kenapa kau selalu memberiku waktu-waktu sulit? Kenapa kita tidak segera mengakhirinya saja, Oh Se Hun?,” lanjut Young Ji sebari menempelkan plester di jari Se Hun.

Se Hun yang setengah sadar masih bisa mendengar suara Young Ji, sayup. Entah kenapa, hati Se Hun ngilu sekali. Laki-laki itu merasa jika tidak seharusnya mendengar kalimat itu lagi.

Apakah Young Ji tidak pernah sekali pun berpikir untuk membuat hubungan ini berjalan normal? Apakah Young Ji tidak pernah sekalipun seperti dirinya, yang selalu terpikir untuk sadar posisi dalam rumah tangga? Mata Se Hun memanas.

Tapi Se Hun masih bertahan untuk tetap terpejam.

Entahlah, dia hanya ingin menikmati setiap sentuhan Young Ji yang merawatnya malam ini. Tidak peduli sentuhan itu tulus atau tidak. Tapi ijinkan sekali ini saja, Se Hun merasa sebagai seorang suami yang sesungguhnya. Suami yang dirawat oleh istrinya.

“Kau tahu, kadang aku menyesal karena memutuskan untuk membantumu. Kau bilang, kita bisa langsung bercerai setelah menikah nanti, tapi faktanya, kau malah membuatku menjalani semua ini terlalu jauh. Tidak tahukah kau jika aku takut?,” suara Young Ji hampir hilang di ujung kalimat. Gadis itu mulai terisak.

“Awalnya, aku takut jika menikah denganmu akan melukai harga diriku, tapi semakin lama….. semakin lama aku takut jika aku tidak bisa membuat hubungan ini logis, Se Hun. Aku takut melukai harga dirimu sebagai suamiku, aku takut orang-orang mengira rumah tangga ini konyol karena karirku lebih tinggi ketimbang dirimu, dan aku takut, jika ini semua dilanjutkan…..”

“…. kau kehilangan masa mudamu hanya karena status bodoh menjadi suamiku”

Young Ji mengusap airmatanya. Dia terkekeh, “Konyol, kan? Aku tidak menyangka jika harus menangis seperti ini. Tapi apa pedulimu? Kau tidak akan pernah tahu,” kata Young Ji.

Hening.

Young Ji menatap Se Hun yang terpejam di sofa, sebelum akhirnya beranjak untuk masuk ke dalam kamar.

Suara pintu ditutup terdengar, bersamaan dengan mata Se Hun yang terbuka. Mata laki-laki itu sudah memerah, berkaca, hingga satu bulir airmata berhasil lolos dari sana.

Dadanya terasa begitu sesak mendengar semua itu terlontar dari mulut Seo Young Ji.

Apakah menikah dengannya akan semenderita itu? Apakah menjadi istrinya akan merasa tertekan hingga seperti itu? Apakah dia benar-benar tidak pantas menjadi seorang suami?

Se Hun memejamkan matanya sekilas, sebelum menatap ke arah permukaan meja.

Satu mangkuk sup rumput laut, nasi, dan beberapa daging panggang, tampak bertengger di samping kotak obat dan satu gelas air putih.

Sementara di kamar, Seo Young Ji sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Gadis itu masih terdiam di bawah selimut sebari menatap lurus kearah foto yang baru saja dia ambil dari laci nakas. Foto pernikahannya dengan Oh Se Hun.

Satu bulir airmata berhasil lolos tanpa seijin Young Ji. Young Ji mengusapnya cepat, lalu mengumpati dirinya saat dia mulai merasa jika dadanya berdesir dengan begitu tidak nyaman. Young Ji seperti dipermainkan oleh perasaannya sendiri, ketika satu pertanyaan baru melintas di kepala Young Ji malam ini.

Apakah… dia benar-benar harus bercerai?

To Be Continued

30 pemikiran pada “Unlogical Married (Chapter 6)

  1. Aaaa aku sukaaaa sehun yg kyk gtu.. Hahaha kan kbnykn ff yg castny sehun dia jd badboy gtu, dsni wow bkn nyesek posisi dia,
    god job thor (Y)

  2. Ternyata sudah dilanjut.
    Sayang sekali pas bagian yg di”tunggu tunggu” malah di skip 😦
    Kasian ya sehun, yg sabar huna

  3. FF ini udah di tunggu lama,,ehhh pas di liat udah di post 🙂
    si Youngji kapan nyadarnya sih kalo dia suka sama sehun??
    si Sehun juga kenapa main rahasia-rahasian tentang pekerjaan nya?kan Youngji jadi salah paham terus ngomel-ngomel gitu^^
    kebawa emosi nih thor 😀
    daebak(y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s