Surprise ! – HeLL (o), Dear ! (Chapter 7)

Surprise ! – HeLL (o), Dear 

HeLLo, dear

Title        :              Surprise ! – HeLL (o), Dear !

Author   :               usney or mee-icha

Main Cast:             Kang Hye Yeon, EXO

Length    :              Chapter

Disclaimer             :               http://asniishere.wordpress.com/

Note : Hai all readers… I’m back with this chapter. Maaf karena lama banget ga update. Lagi dan lagi alasan adalah karena kerjaan yang semakin menuntut dan kalau udah lelah males banget untuk buka laptop dan nulis karena tiba-tiba ide menghilang entah kemana.

Persiapkan diri kalian karena chapter kali ini bakal panjang banget. Aku sendiri ga sadar kalau ternyata ceritanya udah sepanjang ini dank arena udah males ngedit berkali maka jadinya chapter super panjang ini bahkan lebih panjang dibanding one shot yang pernah aku buat.

Well, kalau ada kesalahan dalam pengejaan yang tidak diinginkan, mohon dimaklumi.

Jangan bosan untuk tekan scroll kebawah ya. Yah kalo udah mulai bosan sih, ditunda dulu bacanya dari pada jadi silent reader yang ga bisa ngehargai hasil karya orang lain.

Last but not the least. Well, I hope all of you will like it. But always feel free to tell me if you disappointed with this chapter. Well, enjoy it and don’t forget to write your comment.

^^^

~ Sebelumnya ~

“Aku mau pulang. Aku lelah. Sunbae, ku tegaskan bahwa kita itu tidak saling kenal jadi berhentilah bersikap seperti ini.” Eunji berucap pelan sambil berusaha melepaskan tangan Baekhyun dari lengannya.

Baekhyun kembali meraih lengan Eunji kemudian menatap dengan serius. “Beri aku kesempatan untuk mengenalmu. Biarkan aku mengenalmu lebih jauh jika itu yang kau inginkan supaya aku bisa dekat denganmu.”

~ Lanjut ya ~

Eunji duduk sambil memandang lurus jalanan yang ada dihadapannya. Tangannya saling menangkup diatas pangkuannya. Sesekali dia mengarahkan pandangannya ke sisi jendela sambil berpikir tentang apa yang sebenarnya sedang dilakukannya sekarang. Helaan nafas pelan terdengar sebelum dia melirik kearah bangku pengemudi disampingnya. Disana duduk seorang namja yang belakangan ini sering kali hilir mudik dipikirannya. Siapa lagi kalau bukan sang sunbae yang bernama Byun Baekhyun.

Baekhyun sedang mengarah pandangannya pada jalan raya yang tengah padat diisi oleh kendaraan karena sekarang waktunya jam pulang kantor. Sebelah tangannya memegang kemudi sedangkan sebelahnya bertumpu pada dinding jendela sehingga dia bisa menyandarkan kepalanya. Meski terkadang kesal dengan sifat Baekhyun yang terlalu blak-blakan, Eunji menyadari bahwa namja ini memang punya pesonanya sendiri yang bisa membuat siswi-siswi disekolahnya saling melirik dan berbisik jika dia melewati mereka.

Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mereka berdua sejak berada didalam mobil itu 15 menit lalu. Eunji masih bertanya-tanya sendiri apa maksud kalimat Baekhyun saat mereka keluar dari pintu rumah sakit. Ingin sekali rasanya dia bertanya langsung tapi entah mengapa ada sesuatu yang menahannya untuk melakukan itu. Sedangkan Baekhyun sedang berusaha mencerna keadaan yang terjadi pada dirinya. Dia bingung dengan sifat nekatnya barusan. Mereka berdua seakan berada didunianya sendiri padahal sangat menyadari bahwa ada kehidupan lain disekitarnya. Dan parahnya sekarang mereka malah terjebak dalam macet yang membuat mereka harus menghabiskan waktu bersama lebih lama dalam keadaan awkward.

“Kau suka musik apa?” Baekhyun berusaha menghilangkan suasana aneh yang mendekam mereka sejak tadi.

Eunji agak terkejut dengan pertanyaan Baekhyun kemudian hanya memandang bingung pada namja tersebut seakan ingin bertanya lagi tentang kalimat yang barusan diucapkan Baekhyun.

“Kau suka musik? Tidak masalahkan kalau aku hidupkan radio?” Baekhyun memperjelaskan pertanyaannya.

Ne. Si…silahkan saja.” Eunji menjawab dengan sedikit tergagap bingung.

Tanpa berkata apapun lagi Baekhyun segera menyalakan radio yang sedang memutarkan lagu Mamacita yang salah satu boyband ternama di korea. “Ini bagaimana? Kau suka?” Baekhyun berusaha menyesuaikan pilihan lagunya dengan selera gadis itu.

Ne, aku suka kok.”

“…” Kembali hanya diam diantara mereka berdua. Hanya suara klakson dari kendaraan yang berpadu musik dari radio yang mengisi pendengaran mereka. Sudah 10 menit berlalu begitu saja dan mobil tersebut hanya bergerak sekitar 100 meter dari tempat sebelumnya.

“Kalau begini keadaannya kurasa akan butuh waktu lama untuk bisa sampai dirumahmu. Apa kau ada tidak masalah kau terlambat?” Baekhyun berkata sambil memandang kemacetan yang sedang mengelilingi mereka.

“Kurasa aku tidak punya pilihan lain.” Ujar Eunji kemudian mulai membuka tas dan mencari sesuatu. Baekhyun menoleh penasaran. Ternyata dia mengeluarkan ponsel miliknya dan segera mengetikkan sebuah pesan singkat tapi sebelum pesan singkat itu sempat dikirim, ponselnya malah duluan berdering nyaring yang lagi-lagi membuat Baekhyun merasa penasaran.

Eunji mulai berbincang dengan lawan bicaranya. “Oh Dae hyun-a, baru saja aku mau mengirimkan SMS padamu.” … “Mianhe, aku terjebak macet jadi aku belum bisa pastikan jam berapa bisa sampai dirumah. Mau ditunda besok saja atau tetap hari ini tapi jamnya dimundurkan?” … “Ok, aku akan menghubungimu jika sudah sampai dirumah.” … “Mmm… belum sih tapi setelah sampai dirumah aku pasti akan langsung makan” … “Ok. Nanti akan kuberi kabar. Bye.” Saat Eunji mengakhiri perbincangan tersebut, dia mendapati Baekhyun sedang meliriknya dengan pandangan sedikit kesal, mungkin?

Tanpa memandang Eunji sedikitpun, Baekhyun bertanya dengan nada ketus “Siapa?”. Sebenarnya Baekhyun mendengar dengan jelas Eunji menyebut nama lawan bicaranya tapi bukan itu informasi yang ingin diketahuinya melainkan apa hubungan gadis itu dengan orang yang bernama Dae hyun itu.

Eunji mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu. Dia bingung dengan perubahan nada bicara Baekhyun. “Temanku.”

“Oh, teman.” Ulang Baekhyun sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Baekhyun berdeham singkat seakan ingin menyampaikan dia masih kurang puas dengan jawaban seadanya yang diberikan oleh Eunji. “Kau sedang ada janji dengannya?”

“Ne.” Lagi-lagi Eunji membalas dengan singkat.

Baekhyun menoleh sekilas pada Eunji. “Janji apa?” Dia terus bertanya seakan tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Nafasnya mulai menderu karena perasaan kesal yang tiba-tiba muncul.

Eunji menatap pada namja dibelakang setir mobil tersebut.“Haruskah aku memberitahumu tentang hal itu? Kenapa kau begitu ingin tahu tentang urusanku dengan Dae hyun?”

Baekhyun sempat mendelik kaget mendengar ucapan Eunji. Dia menjalankan mobilnya sedikit demi sedikit mengikuti arus macet yang tak kunjung membawa mereka pada keadaan jalan yang lebih normal. Setelah kembali mengerem mobilnya, Baekhyun mengalihkan pandangannya dari setir mobil pada Eunji. Mereka berdua saling beradu pandang selama beberapa detik. Kemudian Baekhyun menghela nafas dengan cukup kentara dan berucap dengan nada rendahnya. “Terserah kau saja.”

Saat menatap Eunji, entah mengapa kekesalan itu semakin terasa memuncak didalam diri Baekhyun. Rasanya ingin sekali berteriak dan marah-marah pada gadis itu tapi dia tidak bisa. Dia masih bingung apa yang sebenarnya dirasakannya terhadap gadis itu hingga bisa membuatnya begitu merasa kesal seperti saat ini.

Eunji masih menatap Baekhyun meskipun namja itu sudah mengalihkan kembali pandangannya kearah lain. Dia menyipitkan matanya sembari berpikir sesuatu dibenaknya. Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti itu?. Kemudian Eunji mengalihkan pandangannya kearah lain namun sedetik kemudian kembali memandang pada Baekhyun. Tidak mungkin dia sedang cemburu ‘kan? Ah, tidak mungkin. Tunggu dulu, apa maksud ucapannya dirumah sakit tadi karena dia menyukaiku? Mungkinkah? Ah, tidak. Tidak mungkin. Ah, apa yang sedang kau pikirkan Eunji. Mana mungkin dia menyukaiku dan karena aku ada janji dengan Dae hyun maka dia tiba-tiba cemburu. Itu adalah yang paling tidak mungkin terjadi. Eunji berusaha menyakinkan dirinya. “Huh, tidak mungkin.”

“Apanya yang tidak mungkin?” Baekhyun tiba-tiba bertanya.

“Aniyo. Eopseoyo.” Balas Eunji cepat karena baru sadar dia kelepasan bicara sebelumnya.

“Kau tidak sedang berpikir bahwa aku mungkin saja cemburu karena telepon dari temanmu barusan ‘kan?”

Eunji mendelik kaget. Matanya membulat sempurna tapi dia bersyukur bahwa pandangannya sedang bertolak belakang dari pandangan Baekhyun sehingga namja itu tidak bisa melihat betapa terkejutnya dia karena kalimat namja itu barusan. Dia bingung bagaimana harus merespon kalimat tersebut. “Aniyo. Buat apa kau cemburu? Telepon itukan tidak ada hubungannya denganmu.” Nada suaranya berubah sedikit tinggi. Seakan takut ketahuan bahwa ucapan Baekhyun memang benar adanya.

“Keundae, ottokae…Kurasa… aku memang cemburu.” Balas Baekhyun sambil memandang kearah Eunji.

Sontak saja Eunji mendelik kaget dan langsung memandang kearah Baekhyun. Pandangannya kembali bertemu. Kali ini mereka saling memandang dalam waktu yang cukup lama hingga terdengar klakson yang mengalihkan pandangan Baekhyun dan segera menjalankan kembali mobilnya. Eunji sendiri masih tetap memandang Baekhyun selama beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya kearah jendela dan tenggelam dalam kekhawatiran serta kebingungannya sendiri. Sisa waktu perjalanan itu benar-benar terasa sangat aneh. Tidak ada satu katapun lagi yang keluar dari mulut mereka. Eunji memilih terus menerus menghindar untuk memandang Baekhyun. Sedangkan Baekhyun sedang sibuk dengan pikiran dan suasana hatinya yang bergejolak.

^^^

Sehun masih berdiri disana, tanpa bergeser satu sentimeter pun meski diruangan itu hanya ada dirinya dan Hye yeon. Menit demi menit berlalu tanpa kata. Dan dia paling benci dengan keadaan seperti ini.

“Duduklah, kau tidak capek berdiri terus.” Hye yeon menunjuk sofa disamping tempat tidurnya dengan sudut matanya.

Sehun berjalan menuju sofa tersebut kemudian melepaskan tas yang masih menggantung dipundaknya sejak tadi. “Kau serius dengan pertunangan ini?” Pandangan lurus Sehun hanya bisa melihat sosok kiri Hye yeon.

“Kurasa begitu. Kenapa? Kau tidak suka dengan keputusanku?” Hye yeon balik bertanya tanpa mau mengubah ke arah pandangnya pada Sehun.

“Menurutmu?” Nada suara Sehun terdengar agak menantang. Dia penasaran ingin tahu apa yang dipikirkan gadis itu tentangnya.

“Entahlah. Yang kutahu… kau setuju dengan keputusanku. Masalah pikiran dan hatimu ikut setuju atau tidak, itu bukan urusanku.” Balas Hye yeon sambil menoleh sekilas pada Sehun.

“Oh ya?” Sehun memandang tajam pada gadis itu. Ada gemuruh kekesalan yang didadanya setelah mendengar ucapan gadis itu. “Apa alasanmu sehingga kau mengubah keputusanmu?”

Hye yeon mengernyit(?) mendengar pertanyaan Sehun, seakan sedang meminta penjelasan lebih lanjut tentang maksud kalimat Sehun barusan.

“Seingatku, kau sangat menentang pertunangan ini. Sepertinya saat dipemakaman tempo hari kepalamu sempat terbentur hingga kau mengambil keputusan bodoh seperti itu. Apa para dokter itu sudah mengecek kepalamu? Apa perlu aku yang berbicara pada dokter untuk mengecek ulang keadaanmu? Aku tidak ingin punya pasangan yang setengah gila.”

Hye yeon mendengus seakan tidak percaya mendengar kalimat Sehun barusan. “Gila? Bodoh? Aku? Terus aku harus menyebutmu apa? Idiotkah? Karena telah menyetujui keputusan orang bodoh sepertiku?” Hye yeon sungguh tersinggung karena kalimat Sehun barusan. Sejujurnya dia sudah berniat untuk tidak bertengkar atau membuat masalah lagi dengan namja yang akan menjadi tunangannya dalam beberapa hari kedepan. “Kau pikir aku rela bertunangan kemudian melepaskan masa depanku untuk orang sepertimu? Kau pikir sehebat apa dirimu itu? Dasar Idiot!”

Sehun berkali-kali menghela nafasnya untuk mengatur nafasnya yang memburu akibat perkataan Hye yeon yang terdengar sangat seenaknya itu. “Idiot? Sekarang katakan padaku apa alasanmu sebenarnya mau bertunangan dengan orang yang kau sebut idiot ini?”

Hye yeon kembali mendengus. “Apa itu penting bagimu?”

“Katakan saja.” Kesabaran Sehun hampir habis menghadapi tingkah Hye yeon. Dia pikir Hye yeon telah berubah sejak dia menyelamatkan gadis itu.

“Hanya untuk menyenangkan para orang tua.” Balas Hye yeon cuek sambil berusaha menahan emosinya yang sempat menggebu-gebu. Alasan itu tidak sepenuhnya kebohongan. Selain itu, karena dia juga punya janji pada ibunya namun tidak mungkin dia mengatakan hal itu pada namja tersebut.

Kali ini Sehun yang mendengus kemudian menyeringai. “Are you kidding me? Untuk menyenangkan para orang tua?” Sehun mengulang kalimat Hye yeon seakan ingin mengejeknya. “Alasan macam apa itu? Aku tidak pernah menyangka bahwa calon istriku ini adalah orang yang sangat mulia.” Sehun mulai dengan jelas mengejek gadis itu.

“Calon istri? Aku tidak menyangka kau berpikir sejauh itu tentang hubungan ini. Asal kau tahu saja, aku sudah memberi syarat pada orangtuaku jika pertunangan ini tetap ingin dilanjutkan.”

“Syarat?” Sehun terlihat tertarik dengan kalimat barusan.

“Kau pikir aku mau bertunangan denganmu begitu saja, huh!” Kali ini Hye yeon berkata dengan seringaian kecil diwajahnya. “Berhenti berpikir bahwa dirimu hebat.”

Mata Sehun semakin menyipit karena kesal. Gadis ini benar-benar menguji tingkat kesabaran yang dimilikinya. Andai saja gadis itu tidak sedang berada diatas tempat tidur rumah sakit seperti saat ini, mungkin dia sudah meneriaki bahkan memaki-maki gadis itu. “Apa syaratmu?”

“Bahwa tidak akan ada pernikahan hingga kita masing-masing menyelesaikan kuliah. Itu berarti masih sekitar 4 tahun lagi untukku tapi untukmu… mungkin bisa lebih. Yah, mengingat otakmu yang tidak seberapa itu.”

Sehun jelas merasa tersinggung dengan kalimat Hye yeon barusan, yang secara tidak langsung mengatakan bahwa dia bodoh atau lebih tepatnya… idiot. “Apa kau bilang?” Nada suara Sehun kembali meninggi.

Hye yeon tidak peduli dengan protes yang didengarnya. “4 tahun itu jangka waktu yang lama. Banyak hal yang bisa terjadi. Aku saja bisa mengubah keputusanku dalam waktu beberapa hari, apalagi beberapa tahun. Banyak cara yang bisa dirancang untuk membuat kita tidak menikah bahkan memutuskan hubungan pertunangan ini. Jadi, kau tidak perlu repot-repot memikirkan pernikahan. Karena itu mungkin tidak akan pernah terjadi antara kita.”

“Baguslah kalau begitu.” Ujar Sehun. Namun perasaan kesal itu bukannya malah hilang tapi semakin menjadi-jadi dalam dirinya. Seharusnya dia lega mendengar ide tersebut tapi ada bagian dalam dirinya yang tidak menyukai ide itu.

Sedangkan Hye yeon tersenyum samar dengan ide cemerlangnya barusan. Sejujurnya dia belum menyampaikan syarat itu pada orangtuanya maupun orangtua Sehun. Ide itu muncul begitu saja saat dia merasa tersinggung akibat beberapa ucapan Sehun barusan dan menurutnya itu adalah ide bagus yang harus segera diwujudkannya. Menikah muda bukan salah satu hal yang pernah diharapkan akan terjadi dalam hidupnya. “Sekarang giliranku yang bertanya, kenapa kau menyetujui ide pertunangan ini? Kau bisa saja menolaknya kalau kau mau. Kenapa?”

Sehun diam selama beberapa saat. “Kau tahu, saat itu kau terlihat sangat menyedihkan. Aku hanya kasihan padamu.”

“Apa?” Hye yeon mendelik kesal.

Ada senyum samar yang terekam dari wajah Sehun. Giliran untuk membalas kekesalan yang dirasakan beberpa menit yang lalu telah tiba. “Aku hanya tidak ingin membuatmu terlihat lebih menyedihkan lagi.”…“Apa lagi dihadapan ayahmu. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini tapi kurasa kau juga harus tahu. Selama kau koma, ayahmu selalu merasa bersalah dan menganggap dirinya gagal sebagai orangtua. Ayahmu sudah cukup menderita. Bisa kau bayangkan perasaan ayahmu jika saat itu aku menolakmu.” Sehun berujar dengan serius.

“Tidak. Aku tidak bisa membayangkannya dan aku tidak ingin membayangkannya.” Hye yeon berujar ketus.

“Wah, kasihan sekali ayahmu punya anak yang tidak peduli sepertimu.”

Hye yeon menatap tajam Sehun dari sudut matanya. Kalimat itu yang terkesan candaan itu sukses menyinggung perasaannya. “Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Jadi usah repot-repot mengomentari hidupku, mengerti?” Hye yeon terdengar sangat marah. Giginya saling beradu membuat suara yang keluar dari mulutnya terdengar sangat pelan bahkan lebih mirip sebuah desisan.

Sehun sedikit tertegun dengan perubahan sikap Hye yeon karena kalimat asal-asalannya barusan. Mendengar kata-kata tajam dari gadis itu terasa lebih baik dari pada mendengar desisan seperti itu. Gadis itu terlihat sangat berbahaya saat ini. Dia tidak menyangka bahwa topik ini menjadi sangat sensitif bagi gadis itu. Dia mulai salah tingkah. Sesaat terpikir untuk minta maaf atas kalimatnya barusan tapi sebelum dia sempat menyampaikannya, Hye yeon sudah kembali bersuara.

“Tinggalkan aku sendiri.” Hye yeon memalingkan wajahnya.

“A… ak… aku…”

“Aku tidak ingin bicara apapun lagi denganmu.” Potong Hye yeon.

Sehun mendesah pelan kemudian berjalan perlahan menuju pintu keluar. Dia menoleh sekilas pada Hye yeon yang sedang menatap kosong pemandangan diluar jendela. Ada raut menyesal yang tersirat diwajah namja itu sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu tersebut.

Sehun masih berdiri dibelakangan pintu itu ketika dia mendengar sesegukan yang akhirnya pecah menjadi sebuah tangisan. Sehun membuka lagi pintu itu tapi hanya cukup memberinya celah untuk melihat bahwa gadis itu sedang memeluk kedua kakinya dan menangkupkan kepala untuk bisa mengeluarkan tangisan yang terasa sangat memilukan itu. Sehun menutup kembali pintu itu. “Apa yang baru saja aku lakukan?”

^^^

“Aduh… Apa mungkin Kyungsoo oppa masih disana?” Namjoo berlari secepat mungkin menuju tempat mobilnya terparkir. “Ah, tugas-tugas itu benar-benar menyebalkan… huh… huh…” Namjoo terus menggerutu sambil terengah-engah karena berlari tanpa henti. Begitu tiba didepan mobilnya, dia cepat-cepat membuka mobil tersebut. Dia sudah terlambat 15 menit dari waktu yang dijanjikannya.

“Namjoo-a…”

“Siapa lagi sih?” Namjoo menolehkan kepalanya sekilas untuk melihat siapa yang memanggilnya. “Huh… kenapa lagi dengan nenek sihir itu?” Namjoo mulai kembali menggerutu sendiri. Hyorin datang mendekatinya. Sejak awal Namjoo memang tidak menyukai Hyorin dan sekarang Hyorin malah hadir disaat genting seperti ini semakin membuatnya kesal terhadap Hyorin.

“Ada apa eonni?” Namjoo bertanya dengan tampang acuh tak acuh. Dia berdiri tepat disamping pintu mobilnya. Dia benar-benar ingin kabur secepatnya dari tempat itu.

Hyorin mendekatinya dengan sebuah senyum manis yang terpampang diwajahnya. “Namjoo-a, mobilku mogok. Aku boleh numpang mobilmu? Rumah kita ‘kan searah.” Suaranya dibuat semanis mungkin namun hal itu malah semakin membuat Namjoo merasa kesal.

Mianhe eonni, aku ada urusan. Jadi aku tidak langsung pulang ke rumah. Eonni naik taksi atau minta tolong temanmu yang lain saja. Eonni, aku harus pergi sekarang. Aku sedang buru-buru. Bye.” Namjoo langsung menutup pintu mobilnya dan pergi dari tempat itu tanpa sedikitpun peduli dengan ekspresi yang terpampang diwajah Hyorin.

Hyorin sempat tersentak kaget saat Namjoo menutup pintu mobilnya begitu saja tanpa membiarkannya kembali bersuara. “Apa-apaan anak itu. Kalau saja aku tidak menyukai oppa-nya pasti sudah kumaki-maki dia. Tidak sopan sekali.” Hyorin menggerutu sambil menatap mobil Namjoo yang semakin menjauh. Sedetik kemudian dia menoleh kanan kiri untuk bisa menemukan seseorang yang bisa dijadikan ‘sopir’ untuk mengantarnya pulang. “Ah, panasnya. Kenapa sepi sekali? Apa aku telpon taksi saja?” … “Huh…. Menyebalkan” Hyorin berjalan menuju salah satu kursi taman sekolah setelah memutuskan untuk menelpon taksi untuk pulang karena tidak menemukan siswa lain yang bisa dijadikan ‘korban’nya.

Sementara itu, Namjoo mulai menggigit bibirnya saking khawatir karena mungkin saja Kyungsoo sudah pergi duluan dan meninggalkannya sendiri. Dia tidak bisa menghubungi Kyungsoo karena ponsel miliknya sudah mati total sejak 2 jam lalu. Namjoo menyipitkan matanya memandang ke arah halte bus. Perlahan tapi pasti senyum mengembang diwajahnya. Kyungsoo sedang duduk sambil menunduk membaca buku dipangkuannya.

“Thank’s God.” Namjoo menghela nafas perlahan kemudian buru-buru keluar dari mobil untuk menghampiri Kyungsoo. “Oppa, mianhe. Aku terlambat. Aku tadi dapat tugas tambahan dari Min sonsaengnim.” Ucap Namjoo begitu tiba didepan Kyungsoo.

Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menatap Namjoo. “Gwencana.” Balas Kyungsoo maklum setelah mendengar alasan Namjoo. Beberapa siswa menatapnya penasaran, seakan itu adalah pemandangan aneh karena seorang kutu buku seperti dia bisa dekat dengan salah satu yeoja terpopuler disekolah itu. Bisik-bisik mulai terdengar dari beberapa siswa. Hal itu membuat Kyungsoo merasa tidak nyaman dan jadi salah tingkah.

Namjoo yang menyadari hal tersebut langsung mengajak Kyungsoo pergi dari situ melirik kesal pada mereka. “Oppa, kajja.”

Kyungsoo tidak berbicara apapun lagi dan langsung berjalan menuju mobil Namjoo. Selama perjalanan Kyungsoo hampir tidak berbicara sama sekali. Dia hanya mengeluarkan suara saat ditanya saja, itu pun hanya dijawab dengan sangat singkat.

Oppa, kenapa kau dari tadi hanya diam saja?” Namjoo menoleh singkat pada Kyungsoo yang ada dibangku penumpang. Ya, Namjoo-lah yang jadi supir hari ini.

“Tidak ada apa-apa.” Kyungsoo membalas singkat.

“Kau memikirkan orang-orang di halte bus tadi? Hal seperti itu tidak usah dipikirkan.” … “Kau pikirkan aku saja.” Canda Namjoo.

“Ne?” Kyungsoo terlihat bingung.

Namjoo tertawa pelan karena melihat ekspresi kaget Kyungsoo. “Aku bilang kau pikirkan aku saja. Kau tidak usah memikirkan orang lain saat bersamaku. Cukup pikirkan aku saja. Oke?” Ujar Namjoo kali ini dengan sedikit serius karena sebenarnya memang itu yang dia inginkan dari namja dikursi penumpang itu.

Kyungsoo kembali pada ekspresi seriusnya. “Namjoo-si, kenapa kau bersikap baik padaku?”. Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama sekali ingin ditanyakannya tapi dia tidak pernah berani melakukannya sebelum ini.

Saat itu, mobil tepat berhenti sesaat karena terkena traffic light. Hal itu memberi kesempatan pada Namjoo untuk menatap Kyungsoo selama beberapa saat lalu tersenyum.

“Kenapa memandangku seperti itu, Namjoo-si?” Tanya Kyungsoo tanpa berani menatap Namjoo sama sekali.

Namjoo terkikik pelan. “Kenapa aku baik padamu, oppa? Itu karena kau adalah orang yang baik. Dan karena itu pula aku jadi ingin dekatmu.”

Kyungsoo menoleh cepat. “De…de…dekat denganku?” Tanyanya sambil memandang Namjoo penasaran.

“Ne.” Namjoo menjawab tanpa ragu sedikitpun.

“Tapi… kenapa?” Saat itu pula terdengar bunyi klakson.

“Oh, sudah lampu hijau.” Ujar Namjoo kemudian cepat-cepat melajukan mobilnya. Sedangkan Kyungsoo hanya bisa memendam rasa ingin tahunya karena dia tidak berani lagi untuk mengulang pertanyaanya barusan hingga mereka tiba ditempat yang dituju.

Oppa, jadi kita belikan apa untuk Hye yeon eonni?”

“Bagaimana kalau memberinya hadiah sebuah novel saja. Dia ‘kan suka membaca novel, selain itu juga dapat membantunya ‘membunuh’ kebosanannya selama dirumah sakit.” Usul Kyungsoo sambil menunjuk kearah area yang memajang berbagai novel terkenal, baik itu karya lokal maupun internasional.

Namjoo mengedik bingung bercampur curiga. Dia menyiptkan matanya. “Oppa, jujur padaku. Hubunganmu dan Hye yeon eonni sudah sejauh apa? Sepertinya kau sangat mengenalnya dan dekat dengannya.”

“Ne?” Kyungsoo tertegun dengan perubahan ekspresi Namjoo. Ada yang salah dengan ucapanku ya, batinnya.

“Kau suka dengan Hye yeon eonni?” Kali ini Namjoo terang-terangan menunjukkan maksud pertanyaannya.

Kyungsoo mengedipkan matanya beberapa kali kemudian menjawab pertanyaan Namjoo setenang mungkin. “Aku memang suka padanya… tapi…” Kyungsoo menahan kalimatnya sebentar.

“Tapi apa, oppa?” Namjoo mendesaknya hingga dia harus mencengkram lengan kiri Kyungsoo.

“Tapi… Hanya sebagai teman.” Lanjut Kyungsoo sebentar. Entah ide dari mana, tapi dia benar-benar ingin tahu ekspresi gadis itu.

Lagi-lagi Namjoo menyipitkan matanya. “Teman?” Ulangnya “Oppa, serius hanya teman? Tidak lebih?”

Kyungsoo mengangguk perlahan sambil berkata. “Ne. Hanya teman. Kenapa?”

Namjoo terlihat sedikit lega selama beberapa saat namun sebuah pertanyaan tiba-tiba menghambur keluar begitu saja dari mulutnya. “Oppa, apa sekarang kau sedang suka pada seseorang?”

“Kita kesini untuk mencari kado buat Hye yeon atau kau hanya ingin menginterogasiku?” Alih-alih menjawab pertanyaan Namjoo, Kyungsoo malah bertanya balik pada gadis itu.

“Tentu saja mencari kado untuk Hye yeon eonni. Tapi jawab dulu pertanyaanku. Apa oppa sekarang sedang menyukai seseorang?” Kali ini Namjoo sudah meletakkan kedua tangannya di lengan Kyungsoo untuk menahan gerak namja itu.

Kyungsoo menghela nafas singkat. “Tidak… atau lebih tepatnya belum. Sudah puas dengan jawabanku? Bisakah kita mulai mencari kado untuk Hye yeon, kalau tidak, kita akan terlambat mendatangi acara itu.”

Meski tidak puas dengan jawaban itu, tapi Namjoo merasa cukup untuk saat ini. Dia hanya butuh konfirmasi itu terus berjalan pada misinya(?). “Baiklah oppa. Jadi kita mau beli apa?” Namjoo mengalihkan kembali perhatiannya pada jejeran rak buku sambil mulai berjalan dengan tangan kanannya melingkar pada lengan kiri Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum tipis karena ulah Namjoo tersebut. Mungkin karena dia mulai terbiasa dengan sikap gadis itu padanya makanya dia tidak terlalu canggung lagi mendapat perlakuan seperti ini. Hanya saja, jantungnya itu tetap berdebar hebat saat gadis itu sudah berada dekat dengannya. “Seperti yang kukatakan tadi, Novel.”

“Novel?” Ulang Namjoo. Gadis itu berusaha kembali mengingat-ingat perbincangan awalnya saat memasuki toko buku Kyobo ini. Hatinya sedang sangat senang sekarang dan itu membuatnya sedikit kehilangan konsentrasi tujuan utamanya ke toko buku ini. “Bagaimana kalau ditambah dengan buku diary? Cewek ‘kan biasanya suka menulis di buku diary. Itu juga bisa menghilangkan suntuknya selama dirumah sakit, ya ‘kan?”

“Kau juga suka menulis di buku diary?” Kyungsoo bertanya sekedar ingin tahu dan Namjoo langsung membalasnya dengan sebuah anggukan kepala. “Baiklah kalau begitu. Kita belikan sebuah novel terbaru plus buku diary yang kau sebutkan.”

“Call.” Namjoo berujar semangat. “Oppa, dua bulan lagi aku ulang tahun. Kau juga akan membelikanku hadiah ‘kan?”

“Mmm… Tentu saja.”

“Janji?” Namjoo melepaskan tangannya dari lengan Kyungsoo dan langsung mengangkat jari kelingkingnya. “Janjiiiiiii?” Ulang Namjoo lagi masih mengacungnya jarinya dan nada sedikit memohon bercampur aegyo andalannya.

“Ok.” Balas Kyungsoo sambil tersenyum malu-malu dan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Namjoo.

“Awas kalau kau lupa, oppa. Aku akan terus menagihnya.” … “Sekarang mari kita lanjutkan misi kita” Lanjut Namjoo sambil kembali melingkarkan tangannya di lengan Kyungsoo kemudian menarik Kyungsoo untuk mempercepat langkahnya.

^^^

Eunji masih menggunakan seragam sekolahnya saat menjemput Hye yeon di rumah sakit. Saat itu, Hye yeon sedang ditemani oleh Min ajhumma. Kemarin malam Eunji memang sudah berjanji untuk menjemput Hye yeon sepulang sekolah dan bersama-sama pergi ke Fun Frezh Café. Mereka akan diantar oleh Kim ajhussi menuju lokasi tersebut.

Saat mereka tiba di café tersebut, Namjoo dan Kyungsoo sudah duduk disalah satu sudut café. Mereka terlihat berbincang satu sama lain tapi bisa dipastikan bahwa Namjoo-lah yang mendominasi obrolan mereka.

“Oh, eonni. Yeogiseoyo…” Panggil Namjoo saat melihat Hye yeon dan Eunji memasuki café tersebut.

“Sudah lama?” Tanya Hye yeon membuka suara sambil duduk disebelah Kyungsoo sedangkan Eunji duduk didepannya dan tepat disamping Namjoo.

“Belum kok. Baru sekitar 10 menit yang lalu. Eonni, hari ini kau terlihat lebih segar.” Balas Namjoo tersenyum sumringah. “Benar ‘kan, oppa?

Ne. Kau sepertinya sudah sehat dan siap beraktifitas kembali.” Tambah Kyungsoo sambil menoleh pada Hye yeon.

Kyungsoo-si, kupikir kau orangnya cukup tertutup tapi sepertinya kau cukup mudah dekat Namjoo.” Tukas Hye yeon sambil melirik mereka berdua secara bergantian. Namjoo hanya tersenyum malu mendengarnya sedangkan Kyungsoo pura-pura membetulkan posisi duduknya sambil sedikit berdeham singkat. “Oh iya, sepertinya waktu itu aku belum sempat mengenalkanmu pada temanku. Ini Eunji, sahabatku saat masih duduk di Sekolah Dasar. Eunji, ini Kyungsoo, dia teman sekelasku sekaligus rival utamaku.” Eunji dan Kyungsoo saling bersalaman secara singkat.

“Aku tahu. Dia adalah salah satu sunbae yang juga sangat terkenal disekolah.” Sahut Eunji setelah melepas tangan yang saling berjabat sebelumnya.

“Oh ya? Aku tidak tahu kalau aku terkenal.” Kyungsoo berusaha berkilah namun ada ekspresi malu-malu yang berusaha ditutupinya.

“Tentu saja kau terkenal, sunbae. Piala akademik sekolah setiap tahun selalu menjadi langgananmu dan setahuku tidak ada nama lain yang akan disebutkan oleh siswa sekolah jika mereka ditanyakan siapakah orang yang paling pintar disekolah kita.” Eunji menyakinkan mereka dengan fakta yang memang tidak bisa dibilang sebuah kebohongan.

“Tenang saja, sebentar lagi akan ada nama lain yang akan disebutkan. Kyungsoo-si, percaya padaku dan kau tidak usah sungkan memberikan piala itu padaku tahun ini.” Hye yeon berucap sok percaya diri dengan sedikit terkikik saat melihat ekspresi mereka semua yang siap membantah ucapannya.

Aniyo. Aku yakin Kyungsoo oppa akan tetap jadi yang pertama.” Protes Namjoo.

Mianhe Namjoo-si dan sunbae tapi aku percaya sahabatku ini akan meraih piala itu tahun ini.” Eunji mendukung Hye yeon dan mereka langsung ber-hi five memperlihatkan kekompakannya.

Namjoo sempat mengerucutkan bibirnya karena melihat tingkah mereka.

Hye yeon-si, kau bilang kalian berdua sudah berteman sejak kecil? Berarti sudah lama sekali dong. Tapi kenapa aku tidak pernah mendengar Eunji tidak memanggilnya dengan sebutan eonni atau sunbae? Apa karena kalian sudah begitu akrab sehingga ingin memakai kata sapaan seperti itu?” Kyungsoo bingung dengan persahabatan kedua yeoja tersebut.

“Aku juga sebenarnya sudah lama ingin bertanya tentang hal itu.” Tambah Namjoo

Eunji yang semula bingung dengan arah pembicaraan itu akhirnya mulai mengerti dan terkikik geli. “Eonni? Sunbae? Kepada dia? Gadis ini? Hye yeon?” Tunjuk Eunji pada sahabatnya itu seakan tidak percaya sambil menahan tawa yang siap meledak.

“Tentu saja. Kenapa kau tertawa seperti itu Eunji-si? Kau juga Hye yeon-si. Memangnya ada hal yang lucu?” Kyungsoo semakin kebingungan.

Hye yeon sudah tidak tahan melihat ekspresi kebingungan di wajah Kyungsoo dan Namjoo akhirnya berusaha menjelaskannya. “Eunji dan aku adalah teman sekelas ketika kami masih duduk disekolah dasar. Seharusnya aku juga berada ditingkat yang sama dengannya disekolah tapi karena dulu aku pernah mengikuti kelas akselerasi makanya sekarang berada satu tingkat diatasnya. Intinya kami berdua itu seumuran.”

“Oh, pantas aku tidak pernah melihatmu diantara murid kelas tiga yang pernah kutemui sebelumnya.”

“Aku tidak pernah menyangka kau suka memperhatikan murid-murid sekolah ini.” Sindir Hye yeon.

“Bukan begitu. Hanya saja…” Baru saja Kyungsoo berusaha menjelaskan tapi malah langsung disela oleh pekikan tertahan dari Namjoo.

“Oppa…” Namjoo berseru saat menyadari Sehun dan Baekhyun sedang berjalan mendekat kearah mereka. Kyungsoo hanya memasang ekspresi datar saat melihat kedatangan kedua namja tersebut bahkan malah cenderung menghindari tatapan mereka. Sedangkan Hye yeon sempat mendelik kaget saat melihat Sehun yang sekilas menatap padanya. Kalau Eunji, gadis itu memilih langsung berusaha mengalihkan pandangannya kearah berlawanan saat pandangan matanya bertemu dengan mata Baekhyun.

“Oppa, bukankah kemarin kau bilang tidak bisa datang karena sibuk? Tapi sekarang kenapa kau bisa disini?” Namjoo masih bingung dengan kehadiran oppa-nya itu.

“Memangnya kenapa kalau aku disini? Aku tidak boleh ikut bergabung dengan kalian?” Sehun balik bertanya seakan kehadirannya tidak diharapkan.

“Bukan tidak boleh. Hanya saja kemarin kau bilang kau tidak bisa datang dan sekarang tiba-tiba ada disini. Wajarkan kalau aku kaget dan ingin tahu alasannya?” Ujar Namjoo membela diri.

Sehun melirik sekilas pada Hye yeon. “Janjiku batal dan aku tidak ada acara lain makanya aku kesini.”

Namjoo hanya mengangguk-angguk perlahan sambil tersenyum penuh arti pada Sehun. “Duduklah oppa.” Sebelum Sehun sempat bergerak Baekhyun telah mendahuluinya dan duduk tepat disamping Eunji. Itu berarti Sehun tidak ada pilihan lain kecuali duduk tepat disamping Hye yeon.

Setelah semua duduk tenang, Namjoo memberi isyarat pada sang waiters untuk membawa keluar kue ulang tahun yang sebelumnya dia telah dipesannya. Saat kue ulang tahun tersebut tiba di meja mereka, Selain Namjoo tidak ada yang terlihat tertarik pada kue tersebut.

“Hallllllooo… kita tidak sedang dipemakaman atau semacamnya ‘kan? Kenapa kalian semua hanya diam. Kita kesini untuk merayakan ulang tahun Hye yeon eonni. Kuenya sudah ada disini. Ayo kita mulai pestanya. Let’s have fun.” Namjoo berujar semangat sambil bertepuk tangan dan senyum lebar yang dipaksakan.

Kyungsoo oppa, bagaimana kalau kau yang memimpin untuk menyanyikan lagu ulang tahun untuk Hye yeon eonni?” Tawar Namjoo.

Kyungsoo terlihat ragu untuk memenuhi permintaan Namjoo kali ini.

Oppa, please lakukan saja. Aku frustasi melihat kalian seperti ini. Ne?” Namjoo terlihat sedikit memaksa.

Kyungsoo menarik nafasnya dan melihat ke sekelilingnya. “Hye yeon-si, selamat ulang tahun. Dan untuk merayakannya mari sama-sama kita menyanyikan lagu ulang tahun untukmu. Satu… dua… ti…”

“Haruskah kita menyanyikannya? Kita ‘kan bukan anak kecil lagi.” Sehun menyela. Saat itu pula dia langsung mendapatkan death glare dari ketiga yeoja yang berada disana.

Sehun-si, kalau kau tidak ingin menyanyikannya, kau bisa diam saja. Kenapa harus merusak suasana dengan mengatakan hal tersebut?” Kali ini Eunji berucap sambil memandangnya tanpa takut sedikitpun. Eunji memang tidak terlalu suka dengan Sehun tapi sejak namja itu menolong sahabatnya, dia berusaha berpikir positif tentang namja itu.

Awalnya Sehun berniat membalas kalimat Eunji barusan tapi dia malah mendapat tendangan kecil dari Baekhyun dan akhirnya memilih mengurungkan niatnya.

Sunbae, kurasa kau bisa memulainya lagi.” Eunji berucap sambil menoleh pada Kyungsoo dengan seulas senyum.

“Baiklah. Satu… dua.. tiga… saengil chukahamnida, saengil chukahamnida…” Syair lagu ulang tahun terdengar selama beberapa detik ke depan. Kemudian suara tepuk tangan mengisi kemeriahan kecil dari acara tersebut.

“Eonni, make a wish… make a wish… palli…” Desak Namjoo sambi terus menerus tersenyum. Eunji mengangguk setuju saat Hye yeon memandang kearahnya.

Hye yeon menutup kedua matanya secara perlahan sambil menangkup kedua tangan dan memohon sebuah permintaan dalam hatinya. Beberapa detik kemudian dia membuka mata.

“Sudah? Sekarang tiup lilinnya, eonni.” Namjoo terlihat bersemangat sekali. Mau tidak mau, Hye yeon juga tertular semangat positif dari gadis tersebut.

“Make a wish, sudah. Tiup lilin, sudah. Sekarang waktunya kado… jeng jeng. Itu untukmu, eonni. Saengil chukae.” Lagi-lagi namjoo berujar seolah menjadi MC untuk acara tersebut. Gadis itu menyerahkan sebuah bungkusan bercorak bunga warna warni.

“Gumawo, Namjoo-a”

“Ini dariku. Saengil chukae dan semoga kau cepat kembali masuk sekolah.” Ujar Kyungsoo yang memberikan sebuah bungkusan dengan corak teddy bear.

“Dan ini dariku. Saengil chukae. Aku berharap semua keinginanmu segera terkabul. Cepat sembuh supaya kita bisa hang out bareng lagi.” Eunji menyerahkan sebuah amplop berwarna biru.

“Apa ini?” Hye yeon terlihat bingung dengan kado pemberian sahabatnya itu.

Eunji tersenyum misterius. “Kujamin kau pasti suka. Tapi jangan dibuka sekarang.”

Baekhyun terlihat sibuk mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Hye yeon-si. Selamat ulang tahun. Ini dariku dan Chanyeol. Semoga kau suka.” Ujarnya sambil menyerahkan sebuah bungkusan yang terlihat sedikit lebih besar dari pada yang lain.

“Terima kasih, Baekhyun-si.” Hye yeon berujar dengan senyum tipis diwajahnya. Kemudian dia menoleh pada Sehun yang berada tepat disampingnya. Entah mengapa tapi ada bagian dari dirinya yang memang berharap mendapat sesuatu dari namja itu.

Sehun menjadi salah tingkah dan memilih untuk melirik kearah lain. “Mianhe… Aku tidak bawa kadoku.”

Hye yeon tidak berkata apa-apa tapi Sehun sempat mendengar desah nafas pelan dari gadis itu. Hye yeon memaksakan sebuah senyum diwajahnya. Jelas ada sebuah kekecewaan yang mengusik hatinya. Tapi dia tidak boleh menunjukkannya. Toh, dia dan namja itu memang bukan siapa-siapa, setidaknya untuk saat ini.

Oppa, kau benar-benar tidak membawa kado untuk Hye yeon eonni?” Namjoo mengerutkan jidadnya. Dia benar-benar bingung dengan sikap oppa-nya. “Terus untuk apa kau datang kesini?” Namjoo yang masih labil itu jarang peduli dengan efek ucapannya yang terkadang sangat blak-blakan itu. Mau apa lagi, mungkin itulah bentuk kekecewaan yang dirasakannya terhadap oppa satu-satunya itu.

Sehun tidak menjawab. Dia hanya melirik sekilas pada Namjoo kemudian meminum segelas air mineral yang sudah tersaji sejak tadi.

Menit demi menit terasa berlalu begitu lama bagi Sehun. Ada perasaan berat yang membebaninya sejak mendengar desahan nafas kecewa dari Hye yeon. Suasana acara perayaan ulang tahun Hye yeon sebenarnya terasa menyenangkan tapi setiap kali mereka semua melihat Hye yeon dan Sehun beradu pandang, suka atau tidak suka langsung bisa mengubah keadaan menjadi awkward seketika.

Eunji dan Baekhyun yang biasanya suka mengambil alih keadaan lebih banyak memilih diam sambil berpura-pura mencari kesibukan sendiri. Hanya Namjoo yang benar-benar bisa diharapkan untuk ‘menghidupkan’ suasana pesta kecil-kecilan itu.

“Oh, ayolah. Apa hanya aku yang merasa excited dengan acara ini? Kenapa kalian semua terlihat tidak ada tertarik menikmati acara ini?” Namjoo berucap sambil memandang wajah mereka satu persatu.

“Bagaimana kalau kita sudahi saja acara ini? Badanku mulai terasa lelah.” Hye yeon akhirnya berucap.

“Maksud eonni kita pulang sekarang? Eonni dari tadi ‘kan hanya duduk saja kenapa bisa lelah?” Namjoo protes dan terlihat kecewa.

Eunji melihat ekspresi perubahan diwajah Hye yeon karena kalimat Namjoo barusan. “Namjoo-si, Hye yeon ‘kan belum sepenuhnya sembuh. Wajar saja dia mudah lelah meski tidak banyak beraktifitas.”

Namjoo hanya menggangguk pelan mendengar kalimat penjelasan dari Eunji. “Ne. Mianhe Hye yeon eonni.”

“Begini saja, nanti saat aku sudah keluar dari rumah sakit dan cukup sehat, kita bisa adakan pesta lagi. Aku yang traktir. Kita bisa adakan disini atau mungkin dirumahku. Kita bisa barbeque-an ditaman belakang rumahku. Bagaimana?” Hye yeon berusaha memberikan tawaran yang terdengar menyenangkan.

“Jinjja? Oke kalau begitu.” Manik mata Namjoo terlihat kembali berbinar. “Baiklah. Kalau begitu kita pulang sekarang. Eh, Sehun oppa, aku tidak ikut pulang denganmu. Kyungsoo oppa bisa bantu aku? Ada tugas yang tidak kumengerti. Kau ‘kan pintar pasti bisa membantuku tidak seperti oppa-ku satu itu.” Ujar Namjoo sambil melirik sekilas pada Sehun tanpa rasa berdosa sedikitpun.

Sehun langsung memberikan death glare pada Namjoo. “Ada ucapanku yang salah?” Tantang Namjoo tanpa takut.

“Kalau begitu kami duluan. Kim ahjussi sudah menunggu diluar. Bye all.” Hye yeon memotong pertengkaran singkat kakak beradik itu kemudian melirik sekilas pada Sehun dan Baekhyun lalu beralih pada Namjoo dan Kyungsoo sambil tersenyum. “Oh ya, kyungsoo-si, jangan lupa besok. Aku tunggu.” Hye yeon menyipitkan matanya seolah ingin mengancam.

Arraseo. Pastikan saja besok kau sudah lebih baik.” Balas Kyungsoo agak canggung.

Namjoo melirik Hye yeon dan Kyungsoo secara bergantian. “Memangnya kalian ada urusan apa besok?”

“Top secret.” Sela Hye yeon cepat sebelum Kyungsoo sempat mengatakan apapun. Namjoo langsung cemberut mendengar jawaban tersebut.

“Eunji-si…” Baekhyun akhirnya membuka mulutnya dengan ragu-ragu. Khawatir Eunji keburu pergi sebelum dia mendapatkan penjelasan apapun tentang hal kemarin.

Eunji memilih berpura-pura tidak mendengar namanya dipanggil. “Hye yeon-a, kajja. Bye Namjoo-si dan sunbae-deul.” Kemudian Eunji buru-buru menarik Hye yeon tanpa mempedulikan tatapan Baekhyun padanya.

^^^

“Eunji-a, ada yang ingin kau ceritakan padaku?” Hye yeon bertanya tanpa memandang wajah sahabatnya itu. Mereka berdua sedang berjalan dilorong rumah sakit menuju ruang inap Hye yeon.

“Huh?” Eunji berseru kebingungan karena dari tadi pikirannya sedang melayang entah kemana. Hye yeon hanya tersenyum geli melihat reaksi Eunji. “Waeyo?” Eunji masih bingung dengan sikap Hye yeon.

Hye yeon menghentikan langkahnya sesaat dan menatap singkat pada sahabatnya itu. “Apa ini ada hubungannya dengan Baekhyun?”

“Ne?” Eunji terlihat sangat terkejut dengan pertanyaan Hye yeon tersebut. Karena bingung harus menjawab apa, Eunji malah jadi salah tingkah. Hal itu malah membuat Hye yeon semakin yakin dengan spekulasi yang sejak tadi berputar dikepalanya.

Hye yeon memilih untuk diam sambil tersenyum jahil melihat sikap salah tingkah dari Eunji. Namun, begitu dia mengambil posisi duduk diatas tempat tidurnya, dia kembali membuka suaranya dengan tenang. “Jadi… apa yang terlewatkan olehku selama beberapa hari belakangan ini? Apa yang terjadi antara kau dan Baekhyun?”

Eunji tahu sahabatnya ini tidak akan berhenti begitu saja setelah apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. “Tidak ada apa-apa.”

“Oh ya? Terus mengapa kau seperti menghindarinya diacara tadi? Aku yakin sekali kau mendengarnya memanggil namamu? Karena aku mendengarnya dengan cukup jelas meski suaranya memang pelan.” Cecar Hye yeon.

Eunji mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kemudian menghela nafas perlahan. “Kemarin saat aku pulang menjengukmu, aku diantar pulang olehnya.”

Hye yeon masih belum menemukan hal aneh yang bisa dijadikan alasan kenapa sahabatnya terlihat sangat berat menceritakan hal ini. “Terus apa yang aneh dengan hal itu?”

“Tidak ada yang aneh dengan hal itu.” Ujar Eunji dengan pandangan yang menerawang entah kemana. “Yang aneh adalah… dia tiba-tiba ‘menembak’ku.”

Hye yeon terlihat sangat terkejut. “Ne? Baekhyun ‘menembak’mu?”… “Baekhyun teman Sehun itu?” Eunji hanya menjawab dengan anggukkan kepala saja.

“Terus kau jawab apa?” Kali ini Hye yeon benar-benar penasaran dengan jawaban yang diberikan Eunji pada teman sekelasnya itu.

“Kau pikir dia akan seperti tadi jika aku sudah menjawabnya?” Eunji balik bertanya.

Hye yeon mengangguk mengerti. “Tapi sampai kapan kau akan menahan jawabanmu? Memangnya apa yang kau rasakan padanya? Kau menyukainya juga?”

“Micheoso…” Hardik Eunji cepat.

“Terus mengapa kau tidak menjawabnya saja? Katakan saja kalau kau tidak menyukainya. Kasihan anak orang kau ‘gantung’kan seperti itu.”

Eunji mengedikkan bahunya. “Entahlah. Aku juga bingung mengapa aku tidak melakukannya sampai saat ini.” … “Kau sendiri, kau juga terlihat menghindari Sehun. Apa yang terjadi setelah aku meninggalkan kalian berdua? Kalian membicarakan masalah apa?” Eunji akhirnya menemukan celah untuk mengalihkan pembicaraan tentang dirinya dan Baekhyun.

Hye yeon yang mendapat ‘serangan balik’ dari Eunji hanya bisa terdiam selama beberapa detik. “Entahlah. Aku juga bingung. Kenapa aku harus bersikap seperti tadi.” Ujar Hye yeon sambil mengingat-ingat kembali sikapnya di café tadi.

“Hye yeon-a, apa kau benar-benar akan menikah dengannya? Kenapa kau tiba-tiba menyetujui rencana orangtua kalian?” Eunji bertanya dengan sangat hati-hati.

Sebuah senyum sedih terukir singkat diwajah Hye yeon. “Aku hanya menyetujui pertunangan itu. Sedangkan pernikahan itu… pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.” Ujarnya yakin sambil memandang lurus kearah jendela ruang inapnya.

“Maksudmu?” Eunji kebingungan.

“Aku harus menyetujui pertunangan itu supaya hidupku bisa damai, setidaknya untuk saat ini. Sedangkan pernikahan itu, aku sudah mengajukannya sebagai syarat untuk menyetujui pertunangan ini.”

“Syarat apa?”

“Pernikahan itu hanya akan terjadi jika kami sudah lulus kuliah. Banyak hal yang bisa terjadi hingga masa itu tiba. Aku bisa menyiapkan berbagai rencana untuk membatalkan ide pernikahan bodoh itu. Empat tahun itu jangka waktu yang lama, bahkan bisa lebih lama jika kau mempertimbangkan otak namja itu.” Ujar Hye yeon sambil memandang pada sahabatnya itu. Ada seringai kecil yang terbentuk disudut bibir Hye yeon.

Eunji bisa melihat ada ekspresi bangga bercampur sedih yang terpampang diwajah sahabatnya itu saat mengucapkan hal itu. Eunji bisa merasakan bahwa temannya itu sangat tertekan. “Apapun rencanamu, pastikan dulu kau sudah kembali sehat sehingga semua rencanamu bisa berjalan lancar tanpa merepotkan aku. Maaf saja aku sibuk.” Ujar Eunji berusaha mencair lagi suasana dengan sedikit lelucon. Hye yeon mau tak mau hanya bisa tersenyum geli mendengar ucapan gadis yang berada diseberang sofa itu.

“Ne, nona Eunji. Sekarang saja sepertinya kau sepertinya sudah sibuk karena wajah Baekhyun berkeliaran didalam kepalamu.” Hye yeon mulai dengan keusilannya.

“Ya!” Eunji langsung melemparkan bantal kecil yang ada disofa duduk tersebut. Hye yeon yang sempat mengelak hanya tertawa terbahak-bahak karena keusilan berhasil membuat muka Eunji menjadi merah padam.

“Mukamu merah Eunji-a. Kurasa kau juga menyukainya ‘kaaan?” Hye yeon tampak makin semangat meledek Eunji.

Hye yeon-a, hentikan.” Eunji sedikit membentak.

Hye yeon malah terus tertawa tanpa henti dan PLETAK. Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Hye yeon. “Ah, appo. Arraseo…arraseo…”

“Oh ya, aku pinjam komikmu dong. Aku sedang tidak ingin pulang ke rumah. Pasti rumah sepi. Eomma bilang dia ada arisan dengan teman-temannya. Kalau sudah seperti itu bisa dipastikan bahwa beliau akan pulang larut malam. Aboeji juga belakangan ini disibukkan dengan proyek barunya makanya dia sering lembur. Aku malas sendiri dirumah.”

“Terserah kau saja. Komiknya di laci itu.” Tunjuk Hye yeon pada nakas yang berada disamping tempat tidurnya.

Eunji berjalan menuju laci tersebut sedangkan Hye yeon memilih untuk ke toilet dan menukar bajunya dengan seragam(?) pasiennya lagi.

Hye yeon-a, ini kado dari siapa?” Tanya Eunji sambil mengangkat sebuah kotak dengan bungkus kado berwarna pink saat Hye yeon kembali berjalan menuju tempat tidurnya.

Hye yeon menggeleng bingung. “Molla.”

Eunji menyerahkan bungkusan kado tersebut saat Hye yeon sudah duduk diatas tempat tidurnya. “Ini. Bukalah. Mungkin kau punya secret admirer dari salah satu dokter atau perawat pria disini. Hihi…” Eunji terkikik geli memikirkan pikiran bodohnya barusan.

“Hentikan khyalayan tingkat tinggimu itu. Dokter yang merawatku itu lebih tua dari aboeji-ku dan tidak pernah ada perawat pria yang merawatku. Jadi hal itu tidak mungkin terjadi.” Hye yeon mendengus kesal sambil mulai membuka bungkusan kado itu.

“Terus dari siapa dong?” Eunji mengerutkan keningnya karena terlalu penasaran. Entah kenapa dia kembali membuka laci tadi karena berpikir mungkin saja ada surat dari sang pengirim dan… BINGO. Dia menemukan sebuah amplop kecil yang menyelip disudut laci. “Hye yeon-a, ternyata ada suratnya. Kubuka yah?” Tanyanya bersemangat.

Belum sempat Eunji membuka surat tersebut, perhatiannya malah teralih dengan isi kado yang telah terbuka sempurna dan berada digenggaman tangan Hye yeon. “Uwaaahh… cantiknya. Boleh kulihat. Ini, kau saja yang buka suratnya.” Eunji menyerahkan surat itu dan mengambil alih kado yang berupa bola kaca yang berisi boneka salju yang jika digerak-gerakan seolah-olah salju turun menutupi permukaannya. “Eh, ini apa?” Gumamnya karena excited dengan bola kaca itu. Dia memutar bagian yang berbentuk kunci dan beberapa detik terdengar alunan nada lembut mengisi ruangan tersebut. “Wah, ini keren. Nada lagu ini indah. Sudah kau cek siapa pengirimnya?” Eunji beralih pandang pada Hye yeon setelah sibuk dengan bola kaca itu selama beberapa menit.

Hye yeon tertegun. Gadis ini lupa dengan amplop pink ditangannya. Dia terlalu menikmati alunan melodi yang keluar dari bola kaca tersebut. Tangannya mulai bergerak untuk membaca sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan si pengirim.

Happy Birthday Hye yeon-si.

Maaf jika kalimatku kemarin menyinggungmu,

aku tidak bermaksud apapun mengatakan hal itu.

Semoga kau suka dengan hadiahku.

Dan cepat sembuh.

                                                                            -Sehun-

Selama beberapa detik Hye yeon hanya memandangi kartu itu tanpa kata. Eunji yang melihat tingkah Hye yeon segera mendekatinya dan mengintip kata-kata yang tertulis dikartu itu hingga membuat sahabatnya itu terdiam seperti itu. Eunji memandang Hye yeon sesaat belum memutuskan untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.

“Kurasa dia bukan orang yang jahat. Pantas saja dia tadi tidak memberikan kado apapun padamu. Tapi kapan dia kesini dan meletakkannya di laci itu?” Eunji tampak berpikir namun beberapa detik kemudian dia terpekik pelan karena melihat Hye yeon meremas surat itu dan melemparnya sembarangan.

“Hye yeon-a…” Eunji berseru pelan dengan hati-hati tapi Hye yeon malah meluruskan kakinya diatas tempat tidurnya dan langsung menarik selimutnya. Eunji menghela nafas dengan berat. Dia hanya bisa menatap miris pada punggung sahabatnya itu.

^^^

“Nilai tertinggi kali ini dipegang oleh Kyungsoo dan Hye yeon. Selamat untuk kalian berdua. Kyungsoo sepertinya kau mendapat lawan yang seimbang.” Ujar Go Songsaenim sambil melihat memperhatikan lembaran ditangannya satu persatu.

Hye yeon memandang singkat pada Kyungsoo dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Sedangkan Kyungsoo hanya menanggapinya dengan gerakan membetulkan letakkan kacamatanya. Harus diakuinya kalau Hye yeon memang lawan yang tangguh. Dengan banyak kertertinggalan mata pelajaran, gadis itu masih bisa mengerjakan tes itu dengan sangat baik.

“Untuk yang lain, aku harap kalian lebih rajin apalagi dalam beberapa bulan ke depan kalian akan menghadapi ujian akhir kalian. Baiklah, yang namanya saya panggil silahkan maju ke depan untuk mengambil hasil tes kalian.” Tambah Go Songsaenim lagi lalu mulai memanggil nama murid dikelas itu satu persatu.

Lonceng tanda istirahat berbunyi tepat saat nama murid yang terakhir dipanggil oleh Go Songsaenim. “Baiklah. Sampai bertemu besok dan pastikan kalian sudah mengerjakan semua tugas yang kuberikan.” Ujarnya sebelum meninggalkan kelas.

Hye yeon berjalan menuju meja Kyungsoo saat hampir lebih dari setengah penduduk kelas itu berlarian keluar menuju tempat tujuan masing-masing. “Ini bukumu. Gumawo.” Hye yeon berujar sambil menyerah buku catatan Kyungsoo yang dipinjamnya beberapa hari yang lalu.

“Kau juga harus berterima kasih padaku karena nilaimu barusan. Kau tidak akan nilai setinggi itu tanpa buku yang kupinjamkan.” Tukas Kyungsoo cuek.

“Bukumu memang berkontribusi atas nilaiku tapi itu hanya sebagian kecil. Nilai itu kudapatkan karena memang pada dasarnya aku pintar.” Balas Hye yeon tidak mau kalah. “Sudah kubilangkan kau harus bersiap-siap menyerahkan peringkat satu itu padaku.”

Kyungsoo mendelik kesal. “Jangan pernah berharap. Itu tidak akan terjadi.”

“Oh ya?” Hye yeon mulai iseng mengejeknya.

Tanpa Kyungsoo dan Hye yeon sadari, percakapan mereka telah membuat seseorang yang juga merupakan pendudukan kelas itu merasa kesal. “Apa-apaan mereka berdua itu? Apa dia sedang mencari seseorang yang bisa dijadikan alasan untuk memutuskan pertunangan ini? Kenapa harus orang itu? Si kutu buku itu bahkan tidak lebih keren dariku. Satu-satunya hal yang dimiliki oleh si kutu buku itu lebih dariku hanyalah otaknya saja. huh!” Sehun menggerutu melihat keakraban Hye yeon dan Kyungsoo.

Tawa Chanyeol tiba-tiba menyentak Sehun dari dunianya. “Kenapa kau tertawa seperti itu?”

Chanyeol masih saja tertawa selama beberapa waktu. “Kau bilang kau tidak akan menyukainya tapi sekarang kau malah mengerutu tidak jelas karena melihat mereka berdua berbincang seru. Aiiihh… uri Sehun sedang cemburu. Hahaha…” Chanyeol kembali meledakkan tawanya.

Sehun sontak kesal karena ucapan Chanyeol barusan. “Apa maksudmu? Aku ti…”

“Sehun oppaaaaa…” Seru seorang gadis yang entah kapan memasuki kelasnya dan langsung bergelayut manja disisi Sehun.

Sehun berusaha sebisa mungkin untuk melepas lengannya dari pelukan gadis itu. “Hei, apa-apaan kau ini, seperti anak kecil saja.”

Kemudian tanpa sengaja Sehun melihat pada Hye yeon. Untuk sesaat dia lupa kalau Hye yeon masih berada dikelas. Dia memperhatikan bahwa Hye yeon tidak memandangnya sedikitpun melainkan memang gadis disebelahnya dengan pandangan kesal dan benci.

Sehun oppa, kenapa belakangan ini aku jarang sekali melihatmu di lapangan basket?” Pertanyaan gadis itu membuyarkan tanda besar yang sedang berputar dikepalanya tentang hubungan Hye yeon dengan gadis manja itu.

Hyorin-si, bisakah kau melepaskan tanganmu. Kau membuatku gerah.” Sehun berusaha berucap sebaik mungkin namun seakan ada nada mengancam dalam suaranya.

Gadis bernama Hyorin itu langsung melepaskan lengannya dengan perlahan. “Oppa, aku membawakan bekal untukmu. Aku sengaja bangun pagi-pagi untuk membuatkan ini khusus untukmu.” Ujarnya sambil membuka kotak bekal yang disiapkannya.

Pada saat yang sama Namjoo berjalan masuk ke kelas itu dan saat itu pula Hyorin ingin memanggil Namjoo untuk merasakan masakannya. Namun sebelum bisa mengeluarkan suaranya, Namjoo malah menuju meja yang berbeda dan menyerukan nama seseorang yang pernah dikenalnya.

“Kyungsoo oppa… Hye yeon eonnni…” Namjoo tampak tersenyum sumringah saat memanggil nama mereka.

“Hye yeon?” Gumam Hyorin kemudian memperhatikan dengan seksama orang yang tersebut. Matanya membulat sempurna saat melihat wajah gadis yang dipanggil Hye yeon itu.

“Kang Hye Yeon.” Panggil Hyorin mantap.

Hye yeon terdiam sesaat saat namanya dipanggil. Tatapannya terlihat berubah. Kyungsoo dan Namjoo yang sedang berbincang dengannya langsung bisa merasakan perubahan suasana yang terjadi. Hye yeon menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Dia tahu siapa yang menyerukan namanya.

“Hai, Jung Hyorin.” Balas Hye yeon berdiri dari duduknya dan menatap tajam ke arah Hyorin. Tanpa disadarinya kedua tangannya mengepal sempurna. “Long time no see.”

 

To Be Continued

Nah loh… Panjangkan? Benerkan ?

Yang masih pengen FF ini dilanjutkan mohon partisipasinya untuk mengkomentari hasil kerja saya ini. Jangan jadi silent reader yang bangga baca hasil karya orang seenaknya.

Speak your mind in your comment and don’t be a silent reader

See you in next chapter… bye

Satu pemikiran pada “Surprise ! – HeLL (o), Dear ! (Chapter 7)

  1. Yaampunn baruu di update setelah sekian lama aku jadii lupa ama cerita sebelumnyaa
    Ditunggu kelanjutannya authornimm
    Fightingg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s