Under the Moonlight (Chapter 4)

Under the Moonlight

Wolf

Tittle    :           Under the Moonlight

Author :           Ddangkoplak

Genre  :           Fantasy, Mistery, Friendship

Cast     :           Yoo Anna

Shim Simi

All member exo

…Chapter 4…

When the Fullmoon comes, you can’t avoid what will happen to you

 

“Bagaimana mungkin mereka menemukan kita?” geram Kris.

“Entahlah. Aku tidak pernah tahu jika insting mereka sekuat itu.” Sahut Suho panik.

Kini keempat namja itu berlari menuju loteng. Dari jendela loteng mereka dapat melihat bayangan-bayangan hitam besar tengah berusaha mendekati pondok.

“Berapa jumlah mereka?” tanya Kris.

“Ratusan” sahut Chen.

“Adakah yang bisa memberitahuku jam berapa sekarang?”

“Dua lewat lima belas. Tiga jam empat puluh lima menit lagi sebelum matahari terbit” jawab Suho.

Kris tampak memejamkan mata sembari menghela nafas sejenak.

“Kris! Kris! Gawat! Gawat! Mereka menemukan kita! Kita sudah dikepung! Kita dikep…”

Plak

Dengan satu tamparan keras tangan Kai di dahi Simi, maka berakhir pula teriakan heboh yeoja itu. Simi mengusap-usap dahinya dengan merengut dan melempar death glare pada Kai.

“Yak! Kenapa kau menampar dahikuubhpk…” protesnya terpotong lantaran kedua bibirnya dijepit oleh tangan kai.

“Tidak bisakah kau diam dan tenang? Kami sedang memikirkan jalan keluar…” ucap Kai jengah. Yeoja itu mendadak diam menurut dan Kai menyingkirkan tangan yang menjepit bibir Simi.

“Ummm… Kris, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Chen pada namja berambut pirang itu.

Kris membuka matanya perlahan. “Sepuluh mil…”

Semuanya menaikkan alis begitu mendengar pernyataan yang terlontar dari sang pemimpin.

“Se… sepuluh mil?” tanya suho. Kris mengangguk tanpa melepas pandangannya dari jendela.

“Untuk dapat mencapai pos polisi terdekat, kita harus menempuh jarak sepuluh mil melewati hutan.” Ia menoleh ke tempat mereka berdiri.

“Kurasa kita harus cepat memberitahukan anak-anak itu. Beri mereka apa saja yang terbuat dari perak untuk berjaga-jaga. Kalian mengerti?”

“Tapi bagaimana caranya kita membawa mereka? Kau tahu kan, mereka tidak akan bisa berlari secepat kita…” celetuk Simi.

“Bukankah kita punya mobil di garasi? Kurasa mereka bisa menaikinya sementara kita berlari mengawal mereka. Dan, Suho oppa sudah membekali dirinya dengan senapan api…” sahut Anna.

“Kau ingin mengangkut delapan orang itu dengan sebuah mobil jeep untuk membelah hutan?” tanya Kai sarkatik.

“Tidak. Kita tidak bisa melakukan itu. Kurasa kita harus berpencar” Kris mengarahkan pandangannya pada Anna.

“Aku percaya kau adalah pengemudi terhandal yang pernah ku temui” ujar Kris sembari menepuk pundak Anna. Yeoja itu tersenyum meyakinkan. “Tentu saja. Serahkan mereka padaku”

“Suho… Kau kawal dia”

“Jangan khawatir. Aku akan menjaganya” sahut Suho.

Kini Kris beralih pada ketiga anak yang lainnya. “Aku akan bergabung bersama kalian. Kita lewat jalan dibawah tanah”. Chen mengernyitkan dahi.

“Apa? Bawah tanah? Tapi bukankah itu sangat berbahaya? Itu jalan mereka!”

“Memang. Tapi untuk saat ini, aku yakin tidak banyak yang bersembunyi dibawah tanah. Mereka semua keluar untuk mencari mangsa.” Jelas Kris. Mereka semua mengangguk paham.

“Baiklah. Ayo kita bangunkan anak-anak itu…”

***

Rasanya baru saja Sehun memejamkan kedua mata saat tubuhnya digoncang seseorang dengan suara Luhan yang terus-menerus menyuruhnya bangun. Ia mengerjapkan mata dan menggeliat sebentar sebelum akhirnya menyadari bahwa yang lain sudah terbangun.

“Wae? Apa ada masalah?” tanyanya pada Luhan.

“Sepertinya. Cepatlah bangun dan berkumpul di ruang tengah. Sepertinya ini darurat” ujar Luhan dan sejurus kemudian namja itu berjalan meninggalkannya untuk menyusul yang lain ke ruang tengah.

Sehun bergegas bangkit dan sama seperti Luhan, iapun pergi ke ruang tengah, dimana ia melihat semua orang tengah berkumpul dengan wajah yang tegang- bagi anak-anak “makhluk aneh” dan wajah penasaran bagi teman-temannya.

“Dengar kalian semua…” ujar Kris membuat semua perhatian terpusat padanya.

“Kita sudah tidak bisa berlindung disini lagi. Jadi kita akan pergi.”

Kedelapan anak itu melempar pandangan bingung.

“Kenapa kita harus pergi?” tanya Yixing.

“Karena mereka sudah mengepung kita…” jawab Chen singkat.

“Aku akan membagi kalian semua. Apa diantara kalian ada yang bisa berlari dengan cepat?” tanya Kris. Masih dengan wajah bingung, Tao memberanikan diri untuk maju.

“Aku… Aku bisa berlari dengan cepat” cicitnya. Dilihatnya Kris menaikkan alis.

“Hanya kau? Ada lagi?

“Minseok hyung dan Yixing gege juga berlari dengan cukup cepat” sahutnya. Kris mengangguk puas. “Alright. Kalian bertiga bisa ikut denganku. Kita akan berjalan melewati jalan pintas. Sisanya akan ikut bersama Anna dan juga Suho dengan mengendarai mobil.”

“Sorry. Tapi apa kau yakin akan membiarkan Yixing gege? Dia punya penyakit yang cukup serius” celetuk Simi membuat semua terkejut, terlebih Yixing sendiri.

“Eh? Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya bingung.

“Apa kau benar-benar sakit?” tanya Suho cemas. Yixing mengangguk ragu. “Err… Sebenarnya aku mengidap hemophilia…”

Krik krik…

Baik Kris, Suho, Kai, Chen, maupun Anna spontan menelan ludah mereka. Hemofilia… Itu benar-benar penyakit yang serius dan lebih serius lagi dalam keadaan seperti ini.

“Oke. Kalau begitu biarkan dia bersama Anna dan sebagai gantinya salah satu dari kalian berlima bisa bertukar posisi…”

“Aku bisa berlari cukup cepat” sahut Luhan menawarkan diri, membuat Sehun terkejut mendengarnya. “Hyung! Kau yakin?” Sehun tak percaya dengan yang didengarnya.           “AKu akan baik-baik saja. Jangan khawatir” balas Luhan sembari tersenyum menenangkan orang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.

“Well, masalah selesai. Kita bisa bersiap-siap sekarang”

Anna, Simi, dan Chen membagikan beberapa benda tajam dan alat-alat perak untuk mereka semua.

“Kenapa kita harus membawa ini?” tanya Sehun sembari memandang aneh garpu yang diberikan Simi padanya.

“Itu senjata, dude. Untuk berjaga-jaga” jawab Chen.

“Alright. Kita harus bergegas. Kalian bertiga ikut bersamaku dan lainnya ikuti Anna dan Suho ke garasi. Come on! hurry up…” Kris membalikkan badan.

“Tunggu!” cegah Minseok membuat keenam orang itu berbalik.

“Apa lagi? Waktu kita tidak banyak…” ujar kris setengah jengkel.

Minseok maju ke hadapan namja berbadan tinggi itu. Matanya menatap tajam Kris yang menatap kesal ke arahnya.

“Kau harus menjelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi”

Kris mengerang frustasi. “Come on! Kita tidak punya banyak waktu sebelum mereka menyerang kita”

“Mereka siapa? Apa yang akan menyerang kita? Kami bahkan tidak tahu samasekali apa yang mungkin akan membunuh kami…” potong Xiumin.

“Baiklah… baiklah! Akan aku ceritakan…” erang Kris, membuat semua orang terdiam.

“Kris, please… Kita sudah tidak punya waktu untuk…”

“Akan kuceritakan padamu. Tapi nanti, setelah kita bebas dari tempat terkutuk ini.” Ucapan Kris memotong kata-kata Anna. Nama tinggi itu lalu mendekati Minseok. Menaruh tangannya pada pundak Minseok dan menepuknya pelan. “Aku janji, tapi kumohon. Untuk kali ini saja, menurutlah dengan kami. Biarkan kami menyelamatkan kalian semua…”

“Bagaimana bisa kami mempercayaimu? Cih, bisa saja kalian juga ingin memangsa kami, kan?” seloroh Minseok.

“Jaga mulut kurang ajarmu…” secepat kilat Suho dan Chen menahan tubuh Kai yang akan menerjang Minseok.

“Tenang, Kai…” ucap Kris kalem. Ia kembali memandang Minseok, kali ini dengan wajah yang sangat tenang.

“Jika kami ingin memangsa kalian, untuk apa kami repot-repot mengumpulkan kalian di tempat ini” jawabnya tenang. Minseok tampak sedikit melunak, dalam hati membenarkan perkataan Kris.

“Dan jika kami ingin memangsa kalian, kami bisa melakukannya langsung, tanpa perlu memikirkan bagaimana membawa kalian keluar dari hutan ini” jelas Kris.

“Kris…! Cepatlah… mereka sudah dekat sekali…” seru Simi panik.

Brak…

Terdengar bunyi atap yang nyaris runtuh.

“Shit! Mereka sudah memanjat atap” umpat Kai.

Kris kembali memandang Minseok lalu tujuh orang dibelakangnya. “Kumohon percayalah dengan kami. Biarkan kami menyelamatkan kalian…”

Minseok tampak berpikir sejenak.

“Baiklah” ujar namja itu akhirnya. Kris tersenyum puas dan kini mereka semua berpencar sesuai pembagian masing-masing. Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, Sehun, dan Lay bergegas mengikuti Anna dan Suho ke garasi sementara Minseok, Luhan, dan Tao mengikuti Kris, Kai, Chen, dan Simi menuju ke basement.

“Aku akan berada didepan. Kai, kau paling belakang di barisan. Simi, kau bantu Kai dan Chen bantu aku.”

“Nde…” jawab Kai, Chen, dan Simi.

“Kalian bertiga tetap berada diantara kami. Jika terjadi sesuatu yang mendesak, gunakan alat-alat yang kami berikan untuk mempertahankan diri. Mengerti?” Minseok, Tao, dan Luhan mengangguk.

“Baiklah, kita siap…”

“Kencangkan sabuk pengaman kalian…” perintah Anna yang sudah memposisikan diri di bangku kemudi.

“Ndeee…” jawab yang lainnya.

“Kau yakin bisa menyetir?” tanya Chanyeol yang kini duduk di samping bangku kemudi. Anna hanya menggumam sebagai jawaban, sementara dirinya tengah sibuk memeriksa seluruh kelengkapan.

“Yak! Sejak kapan kau bisa menyetir? Apa kau sudah memperoleh surat ijin? Dan, oh… apa kau tahu cara mengganti persneling? Kurasa kau belum cukup mahir dalam…”

“Sepuluh Tahun…” ucap Anna memotong celotehan Chanyeol.

“Aku bisa menyetir sejak sepuluh tahun yang lalu. Jika kau ingin lihat surat ijin mengemudiku kau bisa lihat nanti di dompetku. Dan masalah teknis, kau tidak perlu khawatir karena aku sudah sangat berpengalaman. Jadi jika kau mau berbaik hati untuk diam dan tidak memprotes maka dengan senang hati aku akan mengubah keinginanku untuk melemparmu turun dari mobil”bentak Anna, sembari memasangkan sabuk pengaman di kursinya. Hal itu membuat Chanyeol spontan menutup mulutnya.

Bayangan-bayangan itu kini semakin mendekat ke sebuah pondok kayu kecil di kaki bukit. Sosoknya terlihat semakin jelas dibawah sinar rembulan. Sosok yang besar dengan tinggi lebih dari dua meter, mata kemerahan dan juga kuku-kuku yang panjang disetiap jari. Oh, jangan lupakan rambut-rambut panjang disekujur tubuh juga taring besar di mulut. Monster? Jika kau membayangkan hal itu, mungkin kau memang benar. Dan bisa kau bayangkan apa jadinya jika sekawanan makhluk semacam itu tengah berbondong-bondong mengepung rumahmu, didalam hutan lebat tanpa bisa kita harapkan bantuan darimanapun…

Tapi itulah yang mereka rasakan saat ini. Tak ada pilihan lain selain menghadapainya, tentu saja.

Bunyi geraman monster berbulu-mari kita sebut mereka seperti itu- menghiasi suasana malam yang mencekam itu. Lampu pondok sudah mati, dan masih hening. Kawanan monster berbulu itu sudah sangat dekat. Salah satu yang badannya paling besar di terlihat di paling depan barisan, mengaum keras untuk menantang para penghuni pondok. Beberapa ekor kawanannya mulai memanjati dinding, menciptakan suara-suara bising akibat rusaknya kayu dinding yang mereka panjati…

Pondok itu masih hening. Para penghuninya masih bergeming…

Bruak

Tiba-tiba dari balik dinding kayu itu sebuah mobil jeep keluar, menabrak beberapa ekor monster yang tengah memanjat dinding dan membuat badan besarnya terpental. Seluruh kawanan monster dibuat terkejut sementara. Namun saat mereka bersiap untuk menyerang, mobil besar itu langsung melaju kencang membelah lautan monster berbulu dihadapannya. Menabrak bahkan menggilas semua yang ada didepan.

“Aaaaaaaa…..” teriak chanyeol, baekhyun, kyungsoo, yixing, dan juga Sehun. Dikursi kemudi, Anna tengah berkonsentrasi melajukan mobil membelah gelapnya hutan. Di kabin paling belakang, Suho tengah berdiri sembari menembak monster-monster yang berusaha menyerang mobil mereka dengan senapan apinya. Tak terhitung berapa kali sudah mobil yang mereka tumpangi menabrak monster berbulu itu. Membuat semua anak itu menjerit ketakutan.

Brak

Seekor monster berhasil menghindari tabarakan dan kini tengah memanjat keatas mobil. “Oppa…. Awas” jerit Anna. Suho cepat tanggap dan mengarahkan senapannya pada monster itu. Namun belum sempat ia menembak, monster itu sudah menyerangnya dan menepis senapannya hingga terpental jauh. Suho kini melawan monster itu dengan tangan kosong, hanya mengandalkan kuku-kuku tajam yang mulai tumbuh di jari-jari tangannya. Matanya perlahan menghijau saat monster itu hampir membuatnya terjungkal. Taring-taringnya mulai Nampak, dan saat monster itu akan menyerangnya lagi, ia bangkit dan menerjang monster itu hingga terpental lalu jatuh ke kap depan mobil hingga membuat kaca depan pecah. “Aaaaaaa” teriak mereka. Hal itu mengejutkan semuanya, terutama Anna yang tengah menyetir.Gadis itu sempat shock namun masih sanggup menguasai keadaan.

“Ggg…gwenchana?” gagap Chen.

“Gwenchana. Dia sudah jatuh” jawab Anna dengan nafas tersengal.

Brak

“Kyaaaaaa….”

Monster berbulu tadi muncul dari kaca samping, tepat disebelah Chanyeol. Tangan besarnya meninju kaca hingga retak, berusaha menggapai-gapai salah satu dari mereka. Anna membanting setir kekiri, membuat mobil menyerempet pohon besar dan makhluk itu terpental. Namun hal itu membuat Anna kehilangan kendali, mobil menjadi tidak stabil dan bergerak tak beraturan hingga terperosok ke jurang di pinggir jalan setapak. Mobil besar itu berguling, menabrak semak-semak dan ranting pepohonan disekitarnya selama beberapa saat. Hingga akhirnya tersangkut pada dua batang pohon besar dalam posisi terbalik…

“Aargh…” erang semua anak. Anna membuka pintu disebelahnya, dan mencoba untuk keluar meskipun sedikit sulit karena pintunya terganjal. “Tunggu sebentar” seru Suho yang ada di luar. Namja itu mengangkat pintu mobil hingga terlepas dan membuangnya,lalu membantu Anna keluar.

“Berikan tanganmu” perintah Anna pada Chanyeol yang setengah tak sadar dengan kepala bercucuran darah. Namja itu menurut, dan Anna menarik tubuh jangkungnya keluar dari mobil. Sementara Suho melepas pintu jok belakang untuk mengeluarkan anak-anak lainnya.

Grrr…

Suara geraman itu tertangkap oleh indera pendengaran Anna. Yeoja itu mendelik waspada. “Oppa.. mereka disini!” jeritnya pada Suho yang saat itu tengah berusaha mengeluarkan Kyungsoo dari mobil. “Mwo?”tanya namja itu tak jelas

Rawr…

Dari sisi lain mobil seekor monster kembali menerjang suho, membuatnya terlempar. “Aaaaaa….” Jerit Kyungsoo yang tubuhnya baru saja keluar dari mobil.

“hyung… tolong aku” jerit Sehun yang masih tertinggal didalam mobil. Anna spontan berlari ke mobil untuk membantu Kyungsoo mengeluarkan Sehun. “Sehun-ah, raih tanganku” seru Kyungsoo. “Aku terjepit, hyung…” rintih Sehun. Dengan sekuat tenaga, ia dibantu dengan Anna yang menarik tangan Sehun yang lain berusaha mengeluarkan Sehun.

Brak

“Aaaaaa…” jerit Sehun saat pintu disebelahnya dibuka paksa oleh monster berbulu itu. Tangan monster itu menarik tubuh Sehun dengan kuat, dan menyeretnya pergi. “Tidaaaaaaaaak” jerit Kyungsoo berusaha memasuki mobil namun…

Grawr

Sesosok monster yang lain muncul didekat pintu mobil tempat Sehun tadi. Anna kontan menyeret Kyungsoo dari tempat itu dan berlari menjauhi mobil. Mereka dapat melihat Suho yang baru saja mengalahkan monster yang menyerangnya dan bergegas mendekati Chanyeol, Baekhyun, dan Yixing. Kelimanya tengah dihadapkan dengan seekor monster yang berjalan pelan ke arah mereka sembari menyeringai memamerkan taring-taring tajamnya dan menatap mereka buas melalui mata merahnya. Saat monster itu bersiap melompat, sesuatu menerjang dari belakang mereka. Sesosok monster yang serupa namun dengan kedua bola mata hijau. Mereka berdua tengah bergulat dengan beringasnya.

Dari belakang Baekhyun, sosok monster lain menerjangnya. Namja mungil itu berusaha berontak meskipun kulitnya terkoyak oleh kuku tajam. Yixing, yang melihatnya langsung berlari ke arah sahabatnya dan jleb… sebuah pisau perak menancap dipunggung monster itu. Monster itu meraung keras dan menggelepar kesakitan kemudian menghilang di ke arah semak-semak. Yixing baru saja membantu Baekhyun berdiri saat Kyungsoo mendekatinya sembari memapah Chanyeol yang lemah karena banyaknya darah yang mengucur dari tubuh namja itu. Disebelahnya, suho dengan bertelanjang dada ditemani seekor monster berbulu dengan kedua bola mata hijau tengah yang mendekati mereka sembari menggeram. Membuat Yixing dan Baekhyun meloncat dan gemetaran. Suho hanya tertawa.

“Dia tidak jahat. Tenang saja… Dia adalah Anna…” jelas Suho. Yixing dan Baekhyun mendelik kaget mendengarnya.

“Benar. Dia Anna, yang sedang bertransformasi. Aku melarangnya berubah jadi manusia karena kalau dia berubah, dia akan… eumm. Telanjang” lanjut suho gugup. Dijawab dengan geraman monster itu. Yixing dan Baekhyun masih menatapnya dengan mulut menganga.

“Kita sudah semakin dekat. Jalan raya tinggal dua mil lagi dari sini. Kita sudah tidak punya kendaraan jadi kami akan membawa kalian” jelas Suho. Yixing yang baru saja tersadar mengerjapkan mata seraya menggelengkan kepala.

“A…Apa?” tanyanya bodoh.

“Kami akan membawa kalian. Aku mungkin bisa membawamu beserta Chanyeol sementara Anna akan membawa Kyungsoo dan Baekhyun yang tubuhnya lebih kecil” jelas Suho kalem.

“Ba…Baiklah…” gagap Yixing. Dan saat itu juga, bola mata Suho berubah hijau. Kulit-kulitnya yang halus dan putih kini mengeras dan ditumbuhi rambut yang menjalar. Tepat saat itu Baekhyun pingsan….

Kini Suho sudah bertransformasi seutuhnya. Yixing bergegas menaikkan tubuh Chanyeol yang saat ini sudah kehilangan kesadarannya keatas tubuh besar Monster Suho lalu dirinya sendiri naik. Disebelahnya, tampak Kyungsoo dan baekhyun yang juga pingsan sudah berada diatas tubuh Anna yang berwujud monster. Dengan satu geraman monster Suho dan satu anggukan monster Anna sebagai jawaban, kedua monster itu lalu berlari kencang. Melaju membelah hutan ditengah gelapnya malam bersama keempat anak manusia diatas punggung mereka…

“Kenapa aku harus ikut berjalan juga!” racau Simi. Gadis ini rupanya sebal karena ia satu-satunya perempuan dalam tim runner-(well,kita sebut itu untuk tim yang berjalan melalui jalan pintas)

“Lalu menurutmu apa yang membuatmu tidak harus ikut berjalan?” balas Kai. Mereka bertujuh kini tengah berjalan menyusuri lorong-lorong bawah tanah. Dibarisan paling depan ada Kris lalu disusul Chen. Setelah itu Minseok, Luhan, Tao, lalu Simi dan terakhir Kai.

“Aku kan perempuan. Bagaimana bisa aku berjalan sejauh ini. Dan… oh, pikirkan jika terjadi sesuatu dan kita harus berlari. Huh, aku kan lemah. Harusnya aku berada di mobil dengan Anna…”gerutunya. Sejujurnya, telinga Kai sudah sakit karena ocehan dan keluhan yeoja ini namun ia masih berusaha bersabar karena tidak ingin Kris memarahi mereka didepan ketiga anak asing ini.

“Jadi lari keliling lapangan selama dua puluh kali di hampir setiap harinya tidak cukup untuk membuatmu menjadi kuat, Shim Simi?” celetuk Kris tiba-tiba.

“Tentu saja. Biar bagaimanapun aku ini tetap perempuan yang lemah” rajuk Simi dengan suara yang dibuat imut dan bibir pout. Ketiga anak didepannya terkikik geli, sementara Kai malah memasang tampang ingin muntah.

“Baiklah… Kalau begitu saat kau kembali kesekolah hukumanmu akan kutambah dua kali lipat. Jadi kau harus berlari lima puluh kali kalau kau terlambat. ” ujar Kris dengan nada selembut mungkin.

“Bwahahahahahahahaha rasakan!” tawa Kai terbahak-bahak. Ketiga anak didepannya sempat menoleh kearahnya dengan terkejut. Pasalnya, baru kali ini mereka melihat sosok Kai yang terkenal sangat dingin di sekolah itu bisa tertawa lepas seperti saat ini.

“Jangan tertawa”

“Aduh. Hahahahaha” Kai meringis sebentar saat Simi menyikut rusuknya tapi ia kembali tertawa. Simi yang sebal mendengus kesal dan berlari mendahului mereka semua. “Yak! Kau mau kemana?” seru Kris yang tidak diindahkan Simi. Gadis itu masih terus berlari hingga sesuatu membuat dirinya berhenti mendadak.

Ooops…

“Huahahahahaha” suara Tawa Kai masih terdengar. Mereka baru saja sampai ditempat dimana Anna terdiam. Kris yang berada dibelakang Anna melihatnya aneh. “Kau kenap…”

“Sssst…” seketika mereka terdiam oleh peringatan Anna. Namun terlambat. Seekor monster yang sedang mengoyak daging tak jauh dari sana telah menyadari keberadaan mereka. Makhluk itu mengangkat tubuhnya perlahan dan berbalik menghadap mereka semua. Kris, Anna, Chen, dan Kai sigap melindungi ketiga anak lainnya. Monster besar itu melolong keras dan sejurus kemudian ia melompat ke arah mereka semua.

“Aaaaaa….” Jerit Minseok, Tao, dan Luhan.

Sebelum sempat mencapai mereka, Kris sudah terlebih dahulu menerjang dan memiting makhluk itu. Meski masih berwujud manusia, namun badan Kris yang bongsor cukup kuat untuk menahan makhluk itu. Ia mengeluarkan pisau perak dari sakunya dan menancapkannya ke punggung monster.

“Cepat lari, ikuti aku” perintah Chen yang dituruti semuanya. Kris menyusul beberapa saat kemudian setelah mencabut pisaunya, meninggalkan monster itu yang tengah menggelepar dengan tubuh yang mulai terbakar.

Mereka berlari menyusuri lorong dengan Chen yang kini memimpin. Namun serangan kembali datang dan kali ini Chen berhasil menusuk monster itu saat ia melompat. Mereka kembali berlari dan kali ini ada tiga ekor yang menyerang. Chen dibantu Kai melawan mereka semua sementara Simi dan Kris mengarahkan ketiga manusia itu untuk berlari. Hingga akhirnya Kris menghentikan mereka saat namja itu melihat bayangan monster-monster itu kira-kira sepuluh meter dari sana. Jumlah mereka cukup banyak. Belasan dan mustahil untuk melawan mereka semua saat ini. Terlebih mereka tampak tengah berpesta daging, tentunya mereka akan bertambah kuat setelah mendapat asupan gizi.

Kris sedikit merundukkan tubuhnya diikuti semua anak, termasuk Chen dan Kai yang sudah bergabung. “Apa yang akan kita lakukan?” bisik Simi.

“Sepertinya kita harus menyamar” ucap Kris.

“Mwo? Menyamar? Kau yakin kita bisa?” tanya Chen. Kris mengangguk meyakinkan.

“Mereka tidak akan menyadari kita. Mereka hanya tahu bahwa kita sama seperti mereka. Yang perlu kita lakukan hanya berubah dan membawa anak-anak itu seakan-akan anak-anak itu adalah mayat. Lalu kita bisa melewati mereka dengan… aman” Kris berusaha menekan kegetirannya di akhir kalimat.

“Tapi kris, apa kau yakin?” Simi terdengar khawatir. Kris menghela nafas pelan. “Untuk saat ini itu cara satu-satunya.” Ia menatap mereka semua satu-persatu. “Mungkin kalian akan shock untuk sementara, tapi kumohon dengan sangat, jangan berteriak. Tetaplah tenang” ucap Kris pada Minseok, tao, dan Luhan yang kebingungan.

“Memangnya kalian mau apa?” tanya Tao. Kris menyeringai.

“Kalian akan tahu sendiri. Untuk saat ini, kumohon pura-puralah mati”

Namja itu lalu bergabung bersama Kai, Chen, dan Simi yang telah mengambil posisi sedikit jauh dari mereka untuk berrunding sebentar. “Jadi Simi akan membawa Minseok sementara Chen bawa Tao dan juga Luhan. Aku dan Kai akan melindungi kalian jika mereka mendekat. Kita mungkin tidak akan bisa keluar bersama-sama lagi, namun kalian harus bertanggung jawab sepenuhnya atas nyawa ketiga manusia itu” nasihat Kris. Semuanya mengangguk paham. Kini mereka mengambil jarak dan mulai berkonsentrasi.

“Hey! Kalian mau apa!” seru Luhan.

“Tolong sumpal mulut kalian dengan tangan kalau ingin berteriak” ucap Simi.

Bersamaan dengan itu, mata keempatnya berubah hijau. Kulit-kulit mereka menjadi kasar dan dipenuhi bulu. Taring-taring menghiasi mulut mereka yang semakin besar.

Nyaris saja Luhan berteriak kalau saja ia tidak ingat untuk mennyumpal mulutnya dengan tangan. Disebelahnya minseok menatap mereka dengan wajah pucat. Kedua tangannya mencengkeram tanah dengan erat. Tao malah sudah pingsan…

Grrr

Salah satu dari mereka menggeram, sembari mengulurkan tangan pada Minseok. Namja itu tersadar, meski masih dengan mata mendelik. Ia seakan terhipnotis dan menurut saja untuk naik ke bahu salah satu yang paling kecil diantara mereka. Sementara Luhan menyambut dengan gemetar uluran tangan monster dihadapannya. Sangat mudah bagi monster itu untuk membawa Tao yang tidak sadarkan diri. Luhan langsung memejamkan mata, berpura-pura sudah mati diatas pundak makhluk itu.

Kini mereka semua berjalan melewati kawanan yang tengah berpesta daging dengan langkah yang dibuat sesantai mungkin.

Grrr

Beberapa dari kawanan itu melompat untuk merebut Tao dari gendongan Chen namun dengan sigap Kai menendangnya hingga terpental. Hal itu menarik perhatian yang lainnya. Begitupun saat ada yang mendekati Simi, Kris menyikutnya hingga terpental. Kini mereka beralih mengepung Kris dan yang lain. Tampaknya semua bernafsu mendapatkan daging yang masih segar itu.

Rawr

Kris langsung menendang seekor yang berusaha melompat. Sementara itu Kai juga berhasil menghentikan beberapa ekor yang menyerang. Kris melolong pada Chen dan Simi lalu keduanya berlari menjauhi kawanan itu. Sialnya baru sekitar lima belas meter, mereka berdua kembali dihadang.Untung hanya tiga ekor karena tidak begitu sulit bagi Chen untuk menerjang dua sekaligus. Simi yang kebagian diserang seekor berusaha melawan. Naas, itu membuat Minseok terjatuh dari punggungnya.

“Arrrrh” namja itu mengerang, lupa kalau ia harus berakting tewas. Seekor monster yang tadi menyerang Chen kini beralih menerjang Minseok. Berusaha mengoyak daging namja itu dengan cakar tajamnya. Minseok masih melawan walaupun daging di tangannya sedikit terkoyak dan darahnya mengucur dari kulit yang tergores dimana-mana. Sampai akhirnya Simi yang berwujud monster bermata hijau menerjang hingga monster yang mengoyak Minseok terlempar cukup jauh. Namun monster lain yang bermata merah berhasil melompat dan menyerang dari punggung Simi, membuatnya agak kesulitan melawan. Minseok mengerang kesakitan. Semakin banyak darah mengucur dari sekujur tubuhnya yang dipenuhi luka. Ia menyeret tubuhnya mendekati Tao dan Luhan yang terlentang tak jauh dari situ. Keduanya juga dipenuhi luka.

Tak lama berselang, muncul dua ekor monster bermata hijau lagi yang langsung menolong kawan-kawannya. Kini tiga monster bermata merah tadi menggelepar setelah Kris dengan wujud monsternya menusukkan belatinya pada tubuh mereka. Keempat monster bermata hijau tadi kembali mendekati Minseok, Luhan , dan Tao yang terbaring lemas. Langsung saja Chen dan Simi membawa mereka bertiga sementara Kris dan Kai melindungi disegala sisi.

Sinar matahari membuat Tao membuka matanya perlahan. Namja itu mengerang setelah syarafnya mulai mendekteksi rasa sakit akibat luka-luka disekujur tubuhnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, mencoba membiasakan diri dengan keadaan. Hingga akhinya ia sadar sepenuhnya dan otaknya mulai mengingat rentetan kejadian tadi malam. Seketika matanya mendelik dan tangannya mencengkeram erat semak-semak disekitarnya.

“Sudah bangun?” sapaan seseorang mengagetkannya. Ia menoleh dan mendapati Shim Simi, yeoja bertampang ceria itu mendekatinya. Yeoja itu memakai dedaunan untuk menutupi tubuhnya. Well-jika kau pernah menonton tarzan di tv, mungkin seperti itulah keadaannya sekarang.

“Tenang saja. Sekarang sudah pagi jadi tidak akan ada monster yang mengganggumu lagi. Kita sudah sangat dekat dan berhubung kami semua kelelahan, jadi kami istirahat sebentar. Tidak apa-apa kan?” Simi tersenyum dengan mata bulan sabitnya. Sementara lawan bicaranya hanya terdiam dengan mulut masih menganga.

“Yak, ayam jelek! Pakai ini. Kau seperti tarzan saja…” celetuk Kai yang tiba dengan membawa sebuah dress tidur pink khas ahjumma-ahjumma. Simi yang melihatnya hanya mengernyit.

“Sudah, pakai saja. Kau mau orang-orang mengira kau anak yang hilang di hutan lalu dibesarkan oleh seekor monyet sebagai tarzan?” ledek Kai. Simi mendengus namun toh ia tetap mengambilnya dari tangan Kai.

“Ngomong-ngomong kau dapat ini darimana?” tanyanya yang baru saja mengenakan dress.

“Dari sebuah rumah kosong disekitar sini. Ada jemuran dihalamannya, jadi ku ambil saja” jelas Kai. “Cih, dasar pencuri” gumam Simi. Kai hanya berdecak menanggapinya. “Tapi bagaimana bisa di hutan seperti ini ada penduduknya?” gumam Simi sambil berlalu.

“Kurasa istirahatnya sudah cukup. Ayo kita lanjutkan perjalanan… Oh, kau sudah sadar rupanya” Kris melihat Tao yang melihat mereka semua dengan mata mendelik dan mulut menganga.

“Well, kami akan menjelaskan padamu nanti di kantor polisi. Jadi, apa kau mau berjalan? Atau salah satu dari kami menggendongmu seperti kemarin?” dan tak usah menunggu pertanyaan Kris akan dijawab karena namja itu kembali pingsan. -___-

“Kris!” pekik Anna begitu melihat kakak tertuanya muncul. Ia menyongsong Kris yang tengah menggendong Tao di punggungnya. Beberapa polisi tampak berlari untuk membantu anak-anak yang baru datang itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kris cemas. Tangannya menakup wajah Anna terlihat sangat lelah.

“Aku baik-baik saja. Tapi…” gadis itu menunduk, tak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Tapi apa?” selidik Kris. Anna menggigit bibir bawahnya keras. Lidahnya terasa kelu untuk sekadar memberitahu apa yang terjadi. Pandangan Kris kini beralih ke sudut ruangan dimana Kyungsoo tengah duduk dengan pandangan kosong. Begitu pula Yixing yang duduk disebelahnya. Bahkan Baekhyun yang terkenal pecicilanpun hanya duduk sembari menatap kosong ke depan.

Kris melihat Suho mendekat, dan bisa ia baca dari raut wajahnya kalau namja itu tengah mengalami kesulitan. Kris meninggalkan Anna sejenak dan mengampiri Suho. “Katakan apa yang terjadi, suho-ya” ucapnya pelan. Bahkan Suho pun terasa sulit untuk mengatakannya.

“Kami…Kami…”ucapnya terbata-bata.

“Baekhyun-ah… Dimana Sehun dan Chanyeol?” Luhan yang sudah sadar menghampiri Baekhyun. Namja bermata sipit itu tersadar namun tidak mampu berkata-kata.

“Hey! Kenapa kau diam saja?” tegur Luhan.

“Chanyeol sedang menjalani pengobatan karena lukanya yang paling parah” jawab Suho.

Luhan mengangguk. “Lalu… Sehun? Apa lukanya juga parah?” tanya Luhan.

Sh*t. Kali ini tidak ada yang sanggup menjawabnya. Kyungsoo mulai menitikkan air mata. Baekhyun malah sudah terisak dan Yixing menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Kenapa kau menangis? Hey! Baekhyun… dimana Sehun?” nada Luhan sedikit meninggi.

“Mianhae, hyung” hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan Baekhyun. Luhan mengerutkan alis. “Apa maksudmu? Kenapa kau minta maaf? Kau harus beritahu aku dimana Sehun” kedua tangan Luhan mencengkeram pundah Baekhyun yang semakin menangis.

“Sehun… dia… Sehun…”

“AKu berusaha menyelamatkannya tapi makhluk itu…” Kyungsoo melanjutkan kata-kata Baekhyun. “Dia membawa Sehun…” namja itu lalu menundukkan kepalanya.

“Tidak… Sehun tidak mungkin, tidak… Tidaaaak!” jerit luhan histeris. Kris, Suho, dan beberapa polisi memeganginya yang histeris.

“Sehun pasti selamat… Tidaaaaaak” Luhan semakin meronta. Sementara yang lainnya hanya bisa menunduk pasrah.

“Kurasa kita harus bergegas” ujar Kris begitu keluar dari ruang polisi seraya memasukkan beberapa berkas kedalam sebuah tas. Kelima anak lainnya memandangnya tak percaya.

“Bergegas kemana? Bukankah urusan kita belum selesai?” tanya Chen.

“Urusan kita sudah selesai dan kita harus pulang untuk bersiap-siap” jawab Kris singkat.

“Tapi bagaimana dengan mereka? Bukankah kita harus memastikan mereka benar-benar sehat?”

“Tugas kita hanya membawa anak-anak dalam keadaan hidup semampu kita. Hanya itu. Dan untuk selanjutnya biar mereka yang berhak yang menanganinya…”

“Kris! Kita tidak bisa meninggalkan mereka. Maksudku… bukankah kita berjanji akan menjelaskan semua pada mereka?” seru Anna. Kris menghentikan kegiatannya merapikan berkas-berkas. Ia kembali memandang Anna.

“Mereka… hanya akan mengingat ini semua sebagai mimpi buruk. Mereka akan beranggapan kalau ketakutan membuat mereka bermimpi mengenai sekelompok anak yang berubah wujud sebagai monster. Right? Sekarang bergegaslah karena kita akan segera berangkat ke Seoul”

“Kris, please. Setidaknya jelaskan pada kami apa yang sudah terjadi” sergah Chen. Kris menghela nafas sejenak sebelum akhirnya ia mulai berkata.

“Polisi sudah menyimpulkan kasus ini sebagai serangan binatang buas. Resort itu akan ditutup untuk selamanya dan anak-anak itu akan dikirim kembali pada keluarga mereka.”

“Tapi bagaimana dengan warga sekolah yang lain?” tanya Kai. “Hampir seluruh warga sekolah mengikuti acara ini dan kita hanya bisa membawa beberapa dari mereka…”

“Untuk kasus itu… biarkan polisi yang mengurusnya. Dengar, semakin lama kita disini maka orang-orang akan mencurigai kita. Cepatlah, semakin cepat kita meninggalkan anak-anak itu semakin bagus” perintah Kris. Sejurus kemudian, sebuah mobil Suv hitam berhenti didepan mereka semua.

“Itu mobil yang akan mengantarkan kita pulang. Ayo semuanya” dan bersamaan dengan itu, mereka semua memasuki mobil. Anna yang berjalan paling terakhir menoleh sebentar kea rah kantor polisi. Sejenak mengamati orang-orang yang tengah sibuk memasukkan anak-anak itu yang diangkut dengan tandu kedalam ambulance.

“Anna, ppaliwa…”seru Suho dari dalam mobil.

“Nde…”

***

Kring kring…

Bunyi bel terdengar saat sepeda itu berbelok di persimpangan jalan. Dengan dikendarai seorang gadis muda berambut cokelat yang memakai dress berwarna pastel pink, sepeda berwarna putih itu melaju pelan disepanjang Robson Street. Bibir mungilnya mengunggingkan senyum, menyapa suasana siang hari di kota Vancouver yang ramai dengan hiruk-pikuk manusia. Tak berapa lama, gadis itu menghentikan sepedanya di depan sebuah bangunan sedang bergaya vintage dengan cat krem mewarnai dindingnya. Sebuah papan bertuliskan Happy Coffe menggantung tepat didepan pintu masuk yang terbuat dari kaca. Setelah memarkir sepedanya dengan aman, gadis itu melangkah memasuki tempat itu…

Tring

Bel yang digantung didepan pintu itu berbunyi begitu pintu terbuka. Seorang namja berkemeja putih langsung beranjak dari tempat duduknya, berniat menyapa pelanggan yang baru saja masuk.

“Aish… Kukira ada pelanggan.” gerutunya saat melihat gadis tadi memasuki coffe.

“Apa kau yang menaruh papan ‘looking for a pattisier’ didepan?” tanya gadis itu dibalas dengan anggukan dari namja berkemeja putih.

“Kenapa jam segini kau sudah pulang kuliah?” tanya namja itu.

“Eoh. Dosen untuk kelas terakhir tidak bisa mengajar jadi kami semua dipulangkan” jawabnya seraya mengambil satu set seragam dari rak diujung ruangan.

Namja itu kini berbalik menuju tempatnya semula. “Hey Kai!” panggil gadis itu yang kini sudah selesai berganti pakaian. Namja itu melongok dari balik meja kasir. “Wae?”

“Kemana perginya orang-orang?” tanya gadis itu sembari memasang name tag bertuliskan ‘Anna’ pada kemeja putih yang merupakan seragam kerjanya.

“Simi sedang dirumah, sebentar lagi akan kemari. Chen sedang part-time di perpustakaan. Suho mengurus beberapa surat di kantor notaries.”

“Kris?”

“Di kantor, tentu saja. Bukankah hari ini hari pertamanya bekerja?”

“Orang itu! Dia yang mengusulkan agar kita membuka coffe tapi dia sendiri yang bilang ‘managing a coffe is not my style’ dia semasekali tidak mau membantu” gerutu Anna. Dari tempatnya, Kai terkekeh pelan.

Ting

Bel kembali berbunyi. Kali ini, seorang pria bertopi tampak memasuki coffe. Anna bergegas menyambutnya.

“Good afternoon sir. Please take a seat…”

“Maaf, apakah disini memerlukan seorang pattisier?” tanya orang itu dengan bahasa korea yang fasih. Anna membulatkan matanya terkejut. Dari meja kasir, Kai yang sama terkejutnya dengan Anna mendekati mereka.

“Mwo?”

Pria itu melepas topi dikepalanya yang menutupi sebagian wajahnya. Kini, tampaklah seorang laki-laki dengan wajah yang sangat mereka kenal tengah tersenyum kearah mereka.

“Hai… Lama tidak bertemu…”

-TBC-

Don’t forget to leave a comment, okay? Karena saya sangat perlu itu untuk memperbaiki tulisan-tulisan saya kedepannya. Maaf kalau makin lama ceritanya makin ngebosenin dan alurnya kecepetan juga pemilihan kata-kata yang kurang bagus. Mohon kritik dan sarannya ya…And special thanks buat readers yang udah ninggalin comment di chapter-chapter sebelumnya… (Nadya Nurul, isty novianty,Shin Hana,Mely,Kalimentary,wyfexokingdom,vierly cornelia,ulfah rahma putrid, anasetiandari, kimsihyun,meme, afifah,Sania, inhan 99,noonanunanoonim, anti95line,Rara Kim,HS,Cjienriiw,Amilia Fithri, Min Soo Ra, tyka_, Jeselyn, dan Tasya…) Tetep support saya ya, terima kasih ^^

Satu pemikiran pada “Under the Moonlight (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s