Undercover Love (Chapter 2)

UNDERCOVER LOVE

Undercover Love

Eshyun Storyline

Do Kyungsoo (EXO) || Kang Jihwa (OC)

Marriage Life – Romance – Action

Chaptered | PG-15

Disclaimer : Cast adalah milik Tuhan, ortu, agency dan fans mereka sedangkan cerita ini adalah milik saya! Tolong jangan memplagiatnya. Jika ada kesamaan harap dimaklumi karena itu hanya sebuah ketidaksengajaan.

Hello, chapter 2 it’s here!

Happy reading^^

.

.

.

“Direktur Kang, kau mendapat sebuah pesan dari Tuan Lee. Aku sudah meletakkannya di mejamu.”

“Ah, ne. Apa saja jadwalku hari ini?”

“Hmm, tidak banyak. Hanya saja sore nanti Komisaris Kang mengadakan rapat dan mengundang semua petinggi.”

“Rapat? Aku tak mendengar hal itu sebelumnya.”

Ne, Komisaris Kang tiba-tiba menjadwalkan rapat tersebut dan beliau mengharapkan kehadiranmu.”

Arraseo, ingatkan aku setengah jam sebelum rapat dimulai. Aku akan memasuki ruanganku.”

Ne.”

Jihwa berjalan dengan santai menuju ruangannya. Matanya tertuju pada selembar surat yang tergeletak diatas mejanya.

Tangan gadis itu mengambil surat tersebut dan mulai membacanya.

“Direktur Kang, aku mengundangmu untuk makan malam bersama. Besok, pukul 8 aku menunggumu di restoran hotel milikku, kuharap kau bisa meluangkan sedikit waktumu untuk sekedar bercengkrama denganku.

Tuan Lee”

Gadis itu segera menekan sebuah tombol di salah satu telepon yang terdapat disana.

“Kosongkan jadwalku besok jam 8 malam, Tuan Lee mengundangku untuk makan malam bersama.”

Ne, Direktur Kang.”

.

.

.

Seorang lelaki tengah sibuk dengan kegiatannya dirumah, lelaki yang tak lain adalah Kyungsoo itu terlihat sedang membersihkan setiap sudut rumah.

Kalian bertanya-tanya bukan apa lelaki itu tak memilki pekerjaan sehingga selalu berada dirumah?

Yap! Lelaki itu memang seorang pengangguran atau lebih tepatnya setelah ia menikah, Jihwa melarangnya bekerja. Kenapa? Karena gadis itu tak ingin keberadaan Kyungsoo diketahui banyak orang. Cukup hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu.

Lagi pula Kyungsoo adalah anak dari seorang konglomerat, jadi biarpun lelaki itu tak bekerja ia tetap mendapatkan uang dari orang tuanya. Satu hal penting yang membuat Jihwa melarang Kyungsoo bekerja yaitu Jihwa tak ingin seluruh orang di perusahaan mengetahui lelaki culun itu adalah suaminya, yang artinya jika mereka bekerja ditempat yang sama maka bisa dipastikan hal mengerikan akan terjadi.

Kembali pada Kyungsoo.

Lelaki itu terus-terusan melihat sebuah jam besar yang bergantung di dinding, seperti tengah menunggu seseorang.

Tak lama kemudian suara bel berbunyi, lelaki itu melesat dengan cepat menuju pintu.

Eomma!” Kyungsoo memeluk wanita paruh baya dihadapannya itu.

“Kyungsoo-ah, aku merindukanmu.” Sang wanita itu membalas pelukan Kyungsoo. “Kau sendirian eoh? Eomma membawakan beberapa lauk untuk kalian.”

Kyungsoo mengambil barang bawaan Eomma-nya dan membawanya kedapur.

“Jihwa-ku sedang b-berkeja. Jadi a-aku tinggal sendirian dirumah.”

Wanita yang di panggil ‘eomma’ itu duduk diatas sofa, diikuti oleh Kyungsoo.

“Kau setiap hari sendirian dirumah sebesar ini eoh?”

Kyungsoo mengangguk-angguk. “Gwaenchana. Aku le-lebih senang berada dirumah dan bisa me-menyambut kepulangan Jihwa-ku setiap hari.”

Aigoo.” Wanita itu mengelus-elus rambut anak sematawayang-nya itu. “Kau sangat menyukai Jihwa?”

Kyungsoo mengangguk kuat.

“Jadi kau senang dengan pernikahan ini?”

Ne, ten-tentu saja aku senang Eomma. Jihwa-ku sangat cantik, dia-dia juga sangat baik. Aku senang b-bisa menjadi suaminya.”

Wanita itu tersenyum. “Ne tentu saja, ternyata Eomma tak salah memilih Jihwa sebagai pendamping hidupmu. Selama kau senang, maka Eomma ikut senang.”

Kyungsoo tertawa senang. “Jihwa-ku benar-benar baik. A-aku mencintainya.”

“Hmm tapi … apa kau sudah melakukan yang Eomma suruh?”

“Me-melakukan apa?”

“Membuat seorang cucu untuk Eomma.” Wanita itu berbisik pelan.

Seketika itu juga wajah Kyungsoo memerah, matanya membulat dan bergerak kesana-kemari.

Eomma! Kau … kau membuatku ma-malu.” Kyungsoo berdiri, sedetik kemudian lelaki itu melesat menuju kamarnya, meninggalkan Eomma-nya yang tertawa melihat tingkahnya tersebut.

“Kyungsoo-ah. Kau meninggalkan Eomma eoh? Mianhae karena telah membuatmu malu. Keluarlah Kyungsoo-ah.” Wanita itu kini berada didepan pintu kamar Kyungsoo. “Kyungsoo-ah? Eomma tidak bisa berlama-lama disini. Kau tak ingin melihat Eomma-mu lagi eoh? Kalau bergitu aku pulang ne?”

Eomma!” Pintu terbuka bersamaan dengan suara Kyungsoo yang menahan langkah wanita itu. “Kau a-akan pulang? Se-secepat ini? Aku … aku masih ingin bersamamu.”

Eomma tak bisa berlama-lama disini Kyungsoo-ah, banyak hal yang harus Eomma lakukan.”

“Tapi Eomma-“

“Sebentar lagi Jihwa pulang bukan?”

“Sepertinya Jihwa-ku a-akan pulang terlambat hari ini.”

“Begitukah? Eomma jadi tak tega meninggalkanmu sendirian dirumah sebesar ini.”

“Jadi Eomma a-akan tinggal disini lebih lama?” Mata Kyungsoo berbinar-binar, membuat wanita itu merasa berat hati untuk meninggalkannya.

Mianhae Kyungsoo-ah. Eomma ingin tinggal lebih lama, tapi banyak hal yang harus aku kerjakan.”

“O-oh, arraseo. Aku tahu Eomma pasti si-sibuk sekali.” Kyungsoo tertunduk, membuat kacamatanya sedikit merosot.

Wanita itu mengandeng tangan anaknya dan membawanya menuju pintu.

Eomma pergi dulu ne?”

Kyungsoo mengangguk lemah, lelaki itu tak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena wanita paruh baya itu tak bisa tinggal sedikit lebih lama lagi.

“Aku harap Jihwa-mu akan segera pulang. Bye-bye Kyungsoo-ah.” Setelah mengucapkan selamat tinggal, wanitu itu menghilang dibalik pintu.

Kyungsoo menarik napas panjang, masih merasa kesal. Ia berbalik menuju sebuah ruangan yang dipenuhi berbagai macam buku, ruangan itu adalah tempat Kyungsoo menghabiskan waktu selama ia berada dirumah.

.

.

.

Jihwa baru saja menginjakkan kakinya di ruang rapat. Ruangan itu masih sangat kosong, ia sengaja datang lebih awal.

“Apa agenda rapat kali ini?” Gadis itu bertanya pada sekretarisnya yang berada di sampingnya.

“Tidak jelas. Komisaris Kang hanya menyuruh seluruh petinggi untuk berkumpul.”

“Apa sebenarnya tujuan ayah mengadakan rapat dadakan ini?”batin Jihwa.

Tak berapa lama satu-persatu orang mulai memasuki ruangan itu. sama seperti Jihwa, mereka semua saling berbisik menyakanan situasi tersebut. Keadaan menjadi hening ketika seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Ayah Jihwa memasuki ruangan itu.

BRAK!!

Pria itu menggebrak meja dihadapannya, padalah ia belum sempat duduk diatas kursinya. Semua yang berada disana memandangnya terkejut. Bertanya-tanya apa yang membuat pria tua itu sedemikian marahnya.

“BODOH! KALIAN SEMUA BODOH!” Kata-kata itu meluncur dari bibirnya.

“Ayah- maaf maksudku Komisaris Kang, apa sebenarnya yang membuat anda marah seperti ini?” Jihwa yang pertama kali membuka suaranya.

“Kau masih berani bertanya?” Kilatan mata pria tua itu membuat Jihwa kehilangan kata-kata. “Apa sebenarnya yang kau lakukan selama ini, Direktur Kang? Kenapa perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar eoh?” Beberapa lembar kertas melayang dan jatuh mengenai wajah Jihwa.

Jihwa memungut kertas-kertas itu, matanya membulat sempurna ketika membaca setiap kata yang tertera disana.

“Ini tidak benar! Aku bahkan sudah mendapatkan kontrak kerjasama dengan Tuan Lee. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Tidak, pasti ada kesalahan.”

“Kerjasama? Omong kosong! Kau bisa lihat sendiri bukan apa yang dilakukan Tuan Lee? Dia bahkan menarik seluruh sahamnya dan menyebabkan kerugian besar bagi perusahan kita!”

Jihwa tertunduk dengan sebelah tangan menopang keningnya, gadis itu terlihat frustasi. Ia merasa kesal sekaligus malu dihadapan Ayah dan juga rekan kerja lainnya.

“Jika seperti ini maka namamu akan aku coret sebagai salah satu pewaris Kang Jihwa!”

“AYAH!” Gadis itu berteriak, ia tak terima dengan perkataan Ayahnya itu. “Aku sudah menuruti semua permintaanmu, bahkan menikah dengan lelaki yang kau pilih! Tidak semudah ini kau-“

“Jangan pikir karena kau darah dagingku maka kau bisa berbuat semaumu!” Pria itu memotong perkataan Jihwa dan memberikan penekanan pada akhir kalimat. “Perusahaan ini milikku, dan aku berhak melakukan apapun demi kebaikan perusahaan.”

Jihwa melayangkan pandangan dingin pada Ayahnya itu.

“Hubungi Tuan Lee dan atur jadwal dengannya. SEKARANG!” Ia berteriak pada sekretarisnya, kemudian berjalan dengan angkuh meninggalkan ruangan.

.

.

.

-Jihwa POV-

Sial, benar-benar sial! Bagaimana bisa aku di permalukan di depan umum seperti tadi eoh? Habis kau Kang Jihwa. Setelah ini pasti seluruh petinggi yang mengincar jabatanmu akan tertawa senang.

Aku menghempaskan tubuhku ke atas sofa yang empuk, menarik ikat rambutku lalu melemparnya ke lantai. Kubiarkan rambut panjangku tergerai menutupi sebagian wajahku, aku tak peduli dengan penampilanku saat ini yang aku pedulikan hanyalah harga diri.

Mianhae Direktur Kang, aku sudah mencoba menghubungi Tuan Lee tapi beliau sedang sangat sibuk dan menolak untuk bertemu denganmu.”

“APA KATAMU?” Aku berteriak, melampiaskan kekesalanku pada gadis tak bersalah itu.

Mi-mianhae.” Gadis itu tergagap. Ia bahkan tak berani menatapku.

Aku mencoba mengatur napasku, meredam kemarahanku.

“Biar aku yang coba menghubunginya.” Aku mengambil telepon genggamku, mencari sebuah nomor lalu membuat panggilan.

Pada dering kelima panggilan tersambung.

Yoboseyo.”

“Tuan Lee, maaf aku mengganggumu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu, jadi apa kau-“

“Oh Jihwa-ssi, maaf hari ini aku tak bisa bertemu denganmu. Kau ingat aku mengundangmu makan malam besok? Jadi bersabarlah hingga esok hari.” Pria itu memotong perkataanku, dan sekarang sebelum aku membuka mulutku panggilan itu terputus.

Yoboseyo? Tuan Lee? Yoboseyo? SIAL!” Tanganku menghempaskan benda canggih itu ke atas lantai hingga pecah berkeping-keping.

Pria tua itu benar-benar membuatku merasa kesal. Apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan huh?

Aku baru sadar jika sekretarisku masih berada didalam ruangan. Kualihkan pandangan padanya yang masih tertunduk.

“Kau keluarlah, sebelum aku menjadikanmu pelampiasan kemarahanku. Ah sebelumnya urus benda itu, sepertinya aku harus mengganti ponselku, lagi.”

Gadis itu mengangguk ia memungut ponsel yang tak berbentuk itu lalu berangsung mundur.

Aku memungut ikat rambutku yang tadi aku buang, merapikan kembali rambutku dan beranjak menuju kursi disebalik meja kerjaku.

Baru saja tanganku akan menyentuh sebuah berkas, tiba-tiba telepon di atas meja berdering.

Ne?”

“Komisaris Kang menunggumu di ruangannya, Direktur Kang.”

Arraseo.”

Aku meletakkan gagang telepon dengan sedikit kasar. Ada apa lagi Ayah memanggilku? Apa dia belum puas mempermalukanku didepan orang banyak?

Setelah memastikan penampilanku sudah benar-benar rapih aku keluar menuju ruangan Ayahku.

“Direktur Kang sudah disini.” Bisa kudengar suara sekretaris-nya yang sedang memberitahukan kedatanganku dari dalam sana.

“Suruh dia masuk.”

Sekretaris itu keluar dari ruangan Ayahku dan mempersilakanku masuk.

“Ada apa lagi Ayah mencariku? Belum puas mempermalukanku tadi?” Tanpa disuruh aku sudah duduk atas sofa yang tersedia disana.

“Kau yang mempermalukan aku.”

Wae? Aku sudah menuruti semua perkataan Ayah, bahkan aku menyetujui perjodohan konyol yang Ayah atur! Kau tega-teganya menyuruhku untuk menjadi istri dari seorang lelaki bodoh.” Aku berkata dengan dingin, bahkan tanpa melihat lawan bicaraku.

“Jangan sebut dia lelaki bodoh, Kang Jihwa. Bagaimanapun Do Kyungsoo adalah suami sahmu sekarang.”

“Tapi dia benar-benar bodoh Ayah! Aku muak melihat tingkah polosnya itu dan penampilannya sungguh membuatku tak ingin berdekatan dengannya.”

“Pernikahan itu dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan. Ingat itu.”

“Aku tahu Ayah, jika tidak demi perusahaan maka jangan harap aku rela melepas masa-masa berhargaku untuk menjadi istrinya.” Aku membuang napas dengan kasar. “Jadi … apa tujuan Ayah memanggilku kesini? Jangan bilang kau hanya ingin membahas lelaki bodoh itu. Jika memang seperti itu, aku memilih untuk pergi. Kepalaku sebentar lagi akan meledak jadi kau jangan-“

“Aku ingin membahas tentang jabatanmu.” Dia memotong perkataanku dengan pernyataan yang membuatku sedikit terkejut.

Jabatan? Ada apa dengan jabatanku. Jangan bilang jika dia akan menurunkanku dan benar-benar mencoret namaku dari daftar atas pewaris perusahaan.

“Besok akan ada seorang Direktur baru, dan dia masuk dalam salah satu daftar calon pewaris.”

NE? PEWARIS? AYAH!” Aku berteriak, tak terima dengan keputusannya itu.

“Jangan berteriak. Dengarkan aku terlebih dahulu. Namanya Oh Sehun, lelaki itu sangat pintar tapi terkesan dingin. Alasanku merekrutnya adalah untuk perbaikan perusahaan. Kau tahu sendiri bukan akhir-akhir ini perusahaan kita diambang kehancuran, jadi aku mencari berbagai macam cara untuk membuat perusahaan kembali berjaya.”

“Tapi kenapa kau memasukkannya dalam daftar calon pewaris? Bukankah aku yang seharusnya menjadi satu-satunya pewaris sah disini?”

“Sudah kukatakan, aku akan melakukan hal apapun demi kebaikan perusahaan. Jadi jika kau kalah saing dengan lelaki itu, maka dengan senang hati aku akan menjadikannya sebagai pewaris utama.”

“AYAH!”

“Jangan berteriak.” Pria itu menjawab dengan santai. “Berusahalah sekeras mungkin agar posisimu tak tergantikan olehnya. Sekarang kau boleh keluar, aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan.”

Aku melayangkan tatapan dingin pada pria yang aku panggil Ayah tersebut, bagaimana bisa dia memutuskan hal yang tak masuk akal seperti itu eoh? Dengan perasaan dongkol aku meninggalkan ruangan besar yang terasa sangat pengap.

.

.

.

Sepasang muda-mudi terlihat tengah berbicara santai disebuah kafe.

“Jadi … besok kita akan kedatangan Direktur baru dan dia hmm sainganmu?” Suara berat seorang lelaki terdengar dengan jelas.

Gadis dihadapannya yang tengah sibuk menyesap minuman hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

“Siapa tadi namanya?”

“Oh Sehun. Aish! Bisakah kau tak membahasnya terus, Park Chanyeol? Aku mengajakmu keluar bukan untuk membahas semua masalah yang terjadi di perusahaan.”

Chanyeol terkikik. “Baiklah Nyonya Do.”

Ya! Jangan panggil aku seperti itu.” Gadis itu mendelik kearah Chanyeol.

Wae? Bukannya kau sudah menjadi istri sah seorang Do Kyungsoo? Berarti margamu telah berganti menjadi Do.”

“Sudah kukatakan untuk tak pernah membahas tentang lelaki itu.” Gadis itu menggeram kesal.

“Dia suamimu, apa salahnya?”

“Oke, dia memang suamiku tapi aku tak pernah menginginkan seorang suami sepertinya.”

“Karena dia errr … culun?” Chanyeol mengecilkan volume suaranya pada di akhir kalimat.

YA! BAGAIMANA KAU BISA TAHU?” Gadis itu berteriak cukup kuat, membuat mereka berdua menjadi bahan pembicaraan orang-orang disana.

Yak! Berhenti berteriak!” Chanyeol menutup kedua telinganya dan menatap Jihwa dengan pandangan aneh. “Kau lupa dengan kejadian malam itu?”

“Malam itu? Kap- Oh jangan bilang malam saat kita mengadakan perayaan itu?”

Chanyeol mengangguk. “Memang malam itu.”

“Astaga Chanyeol! Jadi malam itu aku tak pulang sendirian eoh?”

“Pulang sendirian? Dalam keadaan mabuk berat seperti itu, huh untuk berjalan saja kau kesusahan Kang Jihwa.”

“Jadi kau-“

Ne, aku yang mengantarmu. Kau tak ingat?”

Jihwa menggeleng. “Berapa banyak aku minum saat itu eoh?”

“Sangat banyak. Aku bahkan tak pernah melihatmu minum sebanyak itu sebelumnya. Kau … depresi atau bagaimana?”

Jihwa melotot, ia sangat tak menyukai kata ‘depresi’ yang keluar dari bibir sahabatnya itu.

“Kau … kenapa bisa menikah dengan lelaki seperti itu eoh?” Kali ini Chanyeol berbicara tepat disebelah telinga Jihwa.

“Demi perusahaan, tentu saja. Jika aku menikah dengan lelaki pilihan Ayah, maka dia akan menjadikanku pewaris tunggal.”

“Jadi itu alasanmu menyembunyikan identitas suamimu eoh?”

Jihwa mengangguk. “Kau bisa bayangkan bagaimana malunya aku jika seluruh dunia tahu bahwa suamiku seseorang yang culun dan gagap? Aku bahkan tak pernah berperilaku layaknya seorang istri pada lelaki bodoh itu, semua pekerjaan rumah dia yang mengerjakannya dan hebatnya lagi lelaki itu selalu patuh padaku. Dia tak pernah sekalipun membantah perkataanku.”

“Aku tahu. Saat itu kau membentaknya dihadapanku dan dia berkata bahwa itu sudah biasa terjadi saat aku memarahimu. Sepertinya kau sedikit keterlaluan, Kang Jihwa.”

Wae? Jadi aku harus memperlakukannya dengan baik? Bersikap seperti seorang istri? It’s not funny, Chanyeol! Aku mau tinggal serumah dengannya saja itu sudah lebih dari cukup.”

Chanyeol tiba-tiba menegakkan punggungnya, sekali lagi ia mendekatkan bibirnya pada telinga Jihwa. “Bagaimana dengan malam pertamamu?” Ia berbisik, sangat pelan.

“PARK CHANYEOL!”

Chanyeol tertawa keras melihat ekspresi terkejut Jihwa. Tentu saja lelaki itu tahu tak mungkin Jihwa menjalani malam pertama dengan suami yang seperti itu. Jika saja dia di posisi Jihwa, maka ia tak akan berpikir berulang kali untuk tak melakukan hal itu.

Arraseo, aku tahu kau tak mungkin melakukannya. Aku hanya bercanda, Jihwa.”

Ya! Aku sudah menceritakan semua tentang lelaki itu padamu, jadi aku harap kau tak menyebarkan cerita ini, Park Chanyeol. Ancamanku yang terakhir kali masih berlaku jika kau membiarkan mulutmu berbicara sekehendakmu!”

“Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku.”

“Aku mempercayaimu, jadi kuharap-“

Arraseo!” Chanyeol memotong kata-kata Jihwa, ia sudah tahu bagaimana kebiasaan gadis itu. Sebelum dia mendapatkan kejelasan yang pasti maka ia akan terus mengulangi setiap perkataannya.

Jihwa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Chanyeol-ah, sepertinya aku harus segera pulang. Ada beberapa berkas yang harus aku selesaikan dan persiapan untuk pertemuan ulang dengan Tuan Lee. Kau sudah dengar bukan masalah yang disebabkan pria tua itu?”

Ne, aku sudah mendengarnya. Ini juga sudah larut malam. Tak baik seorang istri meninggalkan suaminya hingga larut seperti ini.”

“Park Chanyeol, neo!”

Mianhae, aku hanya bercanda.” Lelaki itu terkekeh. “Kajja, aku akan mengantarmu.”

Setelah membayar tagihan, keduanya berjalan menuju tempat dimana mobil Chanyeol terparkir.

.

.

.

-Jihwa POV-

“Selamat datang Direktur Oh.” Suara berat Ayah memenuhi telingaku, ia kini tengah berjabat tangan dengan seorang lelaki muda berkulit pucat dan tubuh tinggi semampai.

“Terimakasih Komisaris Kang, aku akan melakukan semua yang terbaik demi perusahaan.” Lelaki itu mengukir sebuah senyum diwajahnya, hmm lumayan.

“Perkenalkan, dia Kang Jihwa. Putri tunggalku.” Ayah meletakkan sebelah tangannya di atas pundakku, dengan terpaksa aku memasang senyuman. Sebenarnya aku terlalu malas menghadiri pertemuan ini, jika bukan karena Ayah maka bisa dipastikan aku tak ingin melihat tampang seorang Oh Sehun.

“Oh, aku sudah mendengarnya. Kau sangat cantik, Jihwa-ssi.” Kata-katanya itu membuatku melotot, rayuan murahan.

“Ah, sayang sekali Direktur Oh, putriku sudah menikah sebulan yang lalu. Kau tak memiliki kesempatan untuk merayunya.” Ayah tertawa, diikuti oleh lelaki itu. Cih, tawanya membuat tingkat kebencianku bertambah.

“Ayah, aku harus pergi. Banyak pekerjaan yang menungguku.” Tanpa menunggu jawaban dari Ayah, aku sudah melangkah.

“Tunggu sebentar Jihwa-ah, kau bisa sekalian mengantar Direktur Oh ke ruangannya bukan?”

Aku mengentakkan kakiku kesal. “Baiklah, Ayah.” Dengan berat hati aku mengiyakan keinginan pria paruh baya itu. “Silahkan lewat sini, Direktur Oh.” Aku membuka pintu dan mempersilahkan lelaki itu keluar terlebih dahulu. Oh ini hanya sekedar akting belaka, jika bukan karena Ayah maka jangan pernah membayangkan aku melakukan hal rendahan seperti itu.

Lelaki itu berdiri di tempat, sepertinya menungguku. Sikap yang lumayan sopan, menurutku.

“Ternyata rumor tentang dirimu tak sepenuhnya benar.”

Ne?” Aku berbalik melihat ke arahnya ketika ucapan tersebut terlontar dari bibirnya. Apa maksudnya?

“Oh, kau belum pernah mendengar rumor tentang dirimu?”

Aku menggeleng, diikuti dengan tatapan penuh tanya. “Memangnya rumor seperti apa?”

Lelaki itu tiba-tiba melangkah meninggalkanku. Astaga! Aku akan menarik kembali kata-kata sopan tadi! Sedikit berlari aku menyusul langkah panjangnya.

“Kenapa kau meninggalkanku? Kau tak punya sopan santun eoh? Jangan hanya karena kau lulusan dari luar makanya kau-“

“Ternyata benar.” Lelaki itu memotongku, aish! Dasar tak tahu aturan!

Ne?” Aku menghentikan langkahku tepat di depannya. “Kau benar-benar tak memiliki sopan santun eoh? Bisa-bisanya kau memotong perkataanku!”

“Oh maaf, aku tak tahu jika kau tak suka jika perkataanmu aku potong. Maaf.” Ia tersenyum, tsk memuakkan. “Hmm … kau bisa tidak menghalangi jalanku? Aku rasa pekerjaanmu adalah mengantarku ke ruanganku, bukan mengajakku berbicara.”

NE? APA YANG KAU KATAKAN BARUSAN?” Aku berteriak, terlalu kesal dengan perkataannya. Berani-beraninya dia melontarkan kata-kata itu kepadaku.

“Apa perkataanku salah, Jihwa-ssi?”

“Panggil aku Direktur Kang, kita sedang di kantor.”

“Oh baiklah Direktur Kang. Jadi … bisakah kau langsung mengantarkanku- oh tidak, sepertinya kau sangat sibuk, aku akan mencari ruanganku sendiri.”

Sebelum makian keluar dari bibirku, lelaki itu terlebih dahulu meninggalkanku. Aku mengenggam ujung bajuku geram, menahan agar kata-kata kotor tak aku teriakkan. Sepertinya lelaki itu telah mengibarkan bendera peperangan di antara kami, oke dengan senang hati aku akan mengikuti alur permainannya. Kau telah salah memilih lawan, aku harap kau tak menyesal Oh Sehun.

Aku hendak beranjak dari sana, namun sesuatu di kantong bajuku berbunyi.

Yoboseyo?”

“…”

Arraseo, aku akan kesana sekarang.”

Bertepatan dengan putusnya sambungan telepon, aku mulai melangkah menuju ruanganku dimana berbagai tugas seakan menjerit meminta untuk segera diselesaikan.

.

.

.

“Direktur Kang, kau ada janji dengan Tuan Lee malam ini.”

“Oh, hampir saja aku melupakannya. Segera siapkan mobil, dua puluh menit lagi aku akan turun.”

Ne.”

Jihwa kini tengah dalam perjalanan menuju sebuah restoran mewah yang sebelumnya telah ditentukan oleh Tuan Lee. Gadis itu merasa sedikit tegang, ia sebenarnya terlalu malas untuk bertatap muka dengannya jika ia tak memikirkan nasib perusahaan yang kini berada di tangan pria paruh baya itu.

Setengah jam berlalu, gadis itu baru saja menginjakkan kakinya di sebuah restoran mewah. Seorang pelayan membawanya menuju sebuah ruangan dimana pria paruh baya itu tengah menunggunya.

“Selamat datang, Jihwa-ssi.” Kedatangan Jihwa disambut oleh pria itu.

Jihwa menunduk sopan. “Maaf telah membuatmu menunggu.”

Gwaenchana. Silahkan duduk.”

Jihwa menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi berhadapan langsung dengan pria itu.

“Kau sendirian?”

Jihwa mengangguk. “Aku langsung saja Tuan Lee, ini masalah kontrak kerjasama kita.”

“Oh, kau sepertinya sangat tak sabaran. Kita membicarakan tentang pekerjaan nanti saja, setelah kita menyelesaikan makan malam.”

Tanpa bisa membantah gadis itu hanya mengangguk-angguk. Tak lama kemudian beberapa pelayan datang membawa berbagai macam makanan.

“Ah, aku sudah memesan semuanya sebelum kau datang. Aku harap kau menyukai makanan disini.”

Jihwa hanya menjawab dengan tersenyum. Jika bisa memilih, maka gadis itu akan segera menyelesaikan tujuannya dan pergi dari sana. Ia selalu merasa tak nyaman jika berhadapan dengan pria paruh baya itu.

Jihwa makan dalam diam. Sesekali Tuan Lee mengajaknya berbicara, namun ia hanya menjawab seperlunya saja.

Hampir satu jam mereka berada disana, dan selama itu pula Jihwa merasa sangat tak nyaman. Pria itu sepertinya sengaja mengulur-ngulur waktu, entah apa maksud dan tujuannya.

“Jadi Tuan Lee, aku rasa sekarang kita bisa membicarakan tentang kontrak-“

“Jangan terburu-buru Jihwa-ssi.” Pria itu memotong perkataan Jihwa.

“Ah mianhae. Aku hanya ingin segera menyelesaikannya, sepertinya sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia.”

Pria itu mengukir sebuah senyuman aneh, membuat gadis itu mengerutkan keningnya. Jihwa mulai menjaga jarak, ia telah merasakan hawa aneh bahkan ketika pertama kali mendapat undangan dari pria itu.

“Aku dengar kau baru menikah?”

Ne, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal pribadi.”

“Perjodohan bukan?”

“Maaf Tuan Lee, seperti yang aku katakan sebelumnya sekarang bukan saatnya membicarakan hal pribadi.”

Pria itu tertawa. Tawa yang sangat menjengkelkan bagi Jihwa.

“Kau ingin kita langsung ke topik utama? Baiklah, aku akan membuatnya menjadi lebih mudah.” Pria itu berdiri dan kini duduk tepat di samping Jihwa.

Gadis itu merasa sangat tak nyaman, ia menggeser kursinya. “Tuan Lee, tak bisakah kau duduk sedikit lebih jauh dariku? Aku merasa- YAA!” teriakan itu keluar bertepatan dengan tangan pria tersebut yang dengan sengaja menyentuh paha Jihwa. “APA YANG KAU LAKUKAN EOH?” Gadis itu sontak berdiri dan menjauh.

Pria itu kembali tertawa. “Jangan seperti itu Jihwa-ssi. Tenang, aku tak akan menyakitimu, aku hanya ingin sedikit menyentuhmu.”

“Jaga sikapmu Tuan Lee! Jika kau mendekat, maka aku akan berteriak.”

“Berteriak sesukamu, tak ada satu orangpun yang akan peduli.” Pria itu berdiri, ia menghampiri Jihwa.

Langkah Jihwa tersudut, gadis itu tak bisa pergi kemana-mana. Ia hanya bisa melotot pada pria kurang ajar itu yang kian mendekatinya.

Mata Jihwa terpejam saat tangan besar pria itu merengkuh wajahnya. Ia berusaha memalingkan wajah namun tangan pria itu lebih kuat dari yang ia duga.

“Biarkan aku merasakan bibir manismu ini.”

Wajah pria itu semakin dekat, sedangkan Jihwa masih bertahan disana tanpa bisa berbuat apapun.

BRAAAK!!

Tiba-tiba seseorang mendobrak pintu, dengan suara keras itu keduanya melayangkan pandangan secara bersamaan.

“Jangan bergerak. Kami dari NIS(*) dan kepolisian telah mengepung tempat ini. Tak ada jalan untuk kau kabur lagi, Tuan Lee.”

-TBC-

(*)National Intelligence Service (NIS). NIS mempunyai tugas utama menjaga keamanan nasional dan mengenalkan kepentingan nasional. NIS menyediakan laporan intelijen tentang keamanan, dan investigasi kejahatan untuk menjamin keamanan nasional, sesuai dengan Pasal 15 Undang-Undang Organisasi Pemerintah Korea Selatan. Tugas NIS terbagi menjadi beberapa bagian, dan kebanyakan agen NIS akan menyamar sehingga tak ada satupun yang mengetahui identitas asli mereka. Tujuannya agar musuh tak mudah melacak dan juga karena kerahasiaan sangat dijaga dengan ketat.

Hello~~ Bagaimana dengan chapter 2 nya? xD

Maafkan untuk segala typo, alur kecepatan, dan apapun itu yang membuat kalian tak nyaman saat membaca FF ini. Jangan lupa untuk meninggalkan komentar sesudah membaca ya~~ Kamsahamnida^^

11 pemikiran pada “Undercover Love (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s