Forbidden Feeling (Chapter 7)

Forbidden Feeling – Part 7

Poster Kai 1

By Ririn Setyo

Kim Jongin | Oh Sehun | Park Chanyeol | Song Jiyeon.

Other : Xiumin | Kim Suho | Huang Zitao

Romance ( PG – 15 )

NB : Beberapa Scene dan jalan cerita sudah diubah dan disempurnakan dari versi asli yang Publish di Blog pribadi Saiiya http://www.ririnsetyo.wordpress.com

_

_

_

 

Kim’s House

Jiyeon Room – 08.00 pm

“Berjanjilah untuk terus tersenyum dan hidup dengan baik setelah ini Jiyeon-ah, aku sangat mencintaimu.”

Dalam gerakan yang sangat cepat Jongin bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari kamar Jiyeon tanpa pernah berniat untuk berbalik. Meninggalkan Jiyeon yang terisak dalam pesakitan hati di belakang sana, meninggalkan Jiyeon yang samar namun pasti menjawab rasa yang Jongin sematkan untuk gadis itu.

Nado sarangae, Jongin oppa.”

Air mata Jiyeon semakin mengalir dan menyesakkan paru-paru, membuat Jiyeon sulit untuk bernafas. Menatap pintu kamarnya yang berpelitur biru muda, dalam kehampaan yang menghantarkan jiwa dalam jurang lara yang merentas asa. Jiyeon terisak, menekan dadanya yang kian sesak, menahan semua perasaan cinta yang kian mendominasi raganya.

Dalam kepanikan yang tak terencana Jiyeon menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya, bergegas turun dari ranjang hingga tubuhnya terhuyung ke depan. Jiyeon membuka pintu kamarnya, berjalan menghambur hingga berdiri memaku di depan pintu kamar Jongin yang tertutup rapat. Gadis itu mengerakkan tangannya yang gemetar, berniat memutar knop pintu dan mengatakan semuanya pada Jongin. Mengabaikan status yang sebentar lagi akan dia sandang, mengabaikan semua kenyataan jika dia adalah adik Kim Jongin.

“Op—oppa,”

Gumaman Jiyeon tenggelam dalam isakan yang kian menyumbat kerongkongannya, berusaha menahan bobot tubuhnya yang terasa mulai tak mampu di topang, oleh kedua kakinya yang mendingin. Jiyeon membekab mulutnya dengan satu tangan, saat pada akhirnya tubuhnya semakin lemah dan beringsut ke lantai, membiarkan pipi pucatnya kian basah dalam jutaan bulir air mata kehilangan yang begitu menyakitkan.

“Aku mencintaimu… aku mencintaimu, Jongin oppa.”

Jiyeon terpuruk dalam kesendirian yang membekukan hati, tak punya nyali untuk mengatakan hal yang sebenarnya hingga semuanya harus tertahan di sanubari. Membiarkan semuanya pudar dalam kesunyian hati yang menyapanya dengan dingin, membiarkan angin malam tetap membisu hingga Jongin tak pernah tahu tentang fakta cinta yang di sematkan Song Jiyeon untuk dirinya.

***

The Morning

Jongin terpaku dengan pupil yang melebar saat matanya menatap sosok cantik Jiyeon, sudah berdiri di depan pintu kamarnya saat laki-laki itu baru saja membukanya. Terdiam membisu menatap Jiyeon yang sudah tersenyum hangat, mengulurkan tangannya ke arah pergelangan tangan Jongin seraya menariknya pelan, hingga kini Jongin sudah duduk di sofa biru yang ada di antara kamar mereka.

Perlahan Jiyeon mengerakkan jemarinya pada rambut hitam Jongin yang berantakan, merapikannya dengan terampil seperti yang biasa gadis itu lakukan di pagi hari, sejak beberapa tahun yang lalu. Jiyeon menunduk dengan kembali tersenyum, mendapati Jongin yang tengah memandang ke arahnya.

“Sudah lama sekali aku tidak melakukan pekerjaan pagiku, penampilan Oppa sangat buruk tanpa bantuanku.” Jiyeon tertawa pelan saat Jongin bangkit dari duduknya, kembali mengerakkan tangannya yang sedikit gemetar ke arah kemeja putih Jongin yang belum terkancing.

“Kapan Oppa bisa mengancingkan kemeja dengan benar?” Jiyeon mulai mengancingkan kemeja Jongin, gadis itu berusaha untuk tidak meneteskan air matanya dan tetap tersenyum. Membulatkan tekad demi melakukan apa yang Jongin inginkan, berjanji untuk tetap tersenyum bahagia sebagai adik angkat dari laki-laki itu.

“Mulai hari ini Oppa tidak boleh lagi lupa mengancingkannya, Yerie… pasti tidak suka dengan penampilan Oppa yang berantakan.”

Gerakan tangan Jiyeon terhenti saat dengan tiba-tiba, Jongin sudah mengenggam jemarinya yang hendak mengancingkan kancing kemeja di posisi paling atas. Jiyeon mendongak, merasa jika nafasnya terhenti saat tanpa di duga pandangan mata mereka bertemu, menyatu dalam debaran jiwa yang terasa begitu hangat. Terdiam dalam peraduan cinta yang belum terjabarkan, membiarkan detik berlalu dalam diam, mengulung mereka dalam rasa rindu yang terlarang untuk berada di permukaan. Hingga harus membiarkan semua rasa itu, tetap tenggelam di dalam dasar hati, entah sampai kapan.

“Gomawo.”

Jongin melepaskan genggaman tangannya seraya memundurkan tubuhnya, menahan inginnya untuk memeluk Jiyeon, hingga semuanya tetap berada di posisi yang seharusnya. Begitu pula dengan Jiyeon, gadis itu pun hanya mampu mengangguk pelan, menunduk saat selaput crystal tanpa perintah kini telah mengaburkan pandangannya.

“Sehun sudah datang untuk menjemputmu di bawah, bergegaslah… dia tidak suka menunggu.”

Lagi Jiyeon hanya mampu mengangguk, berjalan pelan di samping Jongin menuruni anak tangga yang meliuk indah dalam diam. Kembali memasang senyum manis saat menatap Sehun yang tengah berbincang santai dengan ibunya di meja makan, memeluk sang ayah yang pagi ini akan segera bertolak ke Jerman untuk urusan pekerjaan.

Jiyeon mendudukkan tubuhnya di samping Sehun tepat si sebelah kiri ayahnya, menerima oat jagung yang disiapkan sang ibu dengan tersenyum. Jiyeon menatap sekilas ke arah Jongin yang duduk di seberang tempat duduknya, memandangi wajah laki-laki yang semakin hari semakin sulit untuk di tiadakan dari dalam hatinya. Tanpa sadar Jiyeon tersenyum saat memperhatikan Jongin yang terlihat hanya memainkan sarapannya, menekuk wajah tampannya hingga bibirnya sedikit mengerucut. Namun tiba-tiba suara berat Jonghyun mengalihkan pandangan Jiyeon seketika, begitu pula dengan Sehun yang tampak terkejut dengan segera menatap khawatir ke arah Jongin dan Jiyeon bergantian.

Sehun dapat melihat Jongin yang menguatkan genggamannya pada sendok yang tengah di pegangnya, tahu pasti jika saat ini Jongin sangat marah sekaligus takut, akan kenyataan yang sudah semakin sulit untuk di hentikan, tahu pasti jika saat ini Jiyeon tengah menahan air mata kalut di balik wajahnya yang menunduk.

“Jangan lupa untuk menandatangani berkas mu Jiyeon, ayah hanya 2 hari di Jerman. Setelah ayah pulang kita akan segera ke pengadilan, arrachie?

Mengangguk pelan, itulah yang mampu Jiyeon lakukan. Menunduk dengan pandangan kosong, menahan air mata yang sialnya kembali sudah memenuhi soket matanya. Tak pernah tahu jika saat ini Minji juga merasakan kekalutan yang sama, rasa kalut yang kini justru berubah menjadi rasa sedih saat harus menatap wajah terluka dari kedua belahan jiwanya. Minji mulai binggung akan apa yang harus di lakukannya, merasa mulai tak sanggup saat menatap wajah Jiyeon yang pucat dan selalu menghangat sejak sang suami, meminta gadis itu untuk benar-benar menjadi bagian keluarganya. Semakin tak sanggup saat menatap Jongin yang terlihat jelas, mati-matian menyembunyikan sayatan hati dan luapan rasanya pada sosok Jiyeon karena status mereka.

Haruskah dia menyakiti kedua buah hati yang begitu di sayanginya? Atau haruskah dia melanggar aturan sakral di negaranya demi mereka dan melawan suaminya sendiri?

Entahlah! Yang pasti Minji tahu pasti jika Kim Jonghyun, tidak akan pernah bisa menerima hubungan ini, tidak akan pernah rela mengorbankan harga diri demi hubungan tabu yang tidak biasa ini.

Dan acara sarapan pagi kali ini sungguh terasa begitu sunyi, terasa begitu menyayat hati hingga membungkam lisan dari semua orang yang ada di meja makan. Semua orang —kecuali Jonghyun— terkungkung dalam rasa kalutnya masih-masing, menahan semua perih untuk sebuah fakta yang sebentar lagi akan benar-benar membunuh jiwa mereka tanpa sisa.

****

YeomKwang High School – 07.00 am

Jiyeon membenarkan tata letak tas punggungnya saat baru saja turun dari mobil hitam milik Sehun, tersenyum saat Sehun membelai kepalanya sesaat sebelum mereka berjalan menuju kelas. Jiyeon pun merangkul lengan Sehun erat, mendengarkan celotehan Sehun tentang kisah Pororo yang di tontonnya semalam. Gadis itu mencoba menyingkirkan sejenak beban hati yang sudah lebih dari satu minggu, selalu membuat suhu tubuhnya menghangat.

“Jiyeon,”

Sehun menghentikan langkahnya, mengalihkan tatapannya pada sosok Jiyeon yang masih merangkul lengannya. Sehun tersenyum samar saat memandang Jiyeon yang hanya tersenyum, menanti ucapannya yang mengambang di udara. Sehun memutar tubuhnya, membelai wajah pucat Jiyeon dengan lembut. Sehun tahu pasti jika gadis yang begitu di sayanginya itu, sedang berusaha keras menyembunyikan luka hati yang sayangnya sangat terbaca oleh Sehun.

“Apa kau sangat terluka dengan hubungan Jongin dan Yerie?”

Mata bening Jiyeon mengerjab, tak siap untuk pertanyaan Sehun yang begitu terasa menyesakkan. Jiyeon hanya mampu terbata tanpa mampu menjawab, mengerakkan pupil matanya yang sudah berembun dengan gusar. Berusaha menghindar saat Sehun kembali mengulang pertanyaan yang sama, memaksa gadis itu untuk mengatakan yang sesungguhnya.

“Jika kau sangat terluka dengan hal itu, aku akan benar-benar merasa bersalah padamu.”

“Nde?”

“Akulah yang memberi ide pada Jongin untuk menjalin hubungan dengan Yerie, akulah yang meminta Jongin untuk melupakan kisah cintanya padamu.”

“Oppa, aku—“ tanpa mampu dicegah setetes air mata jatuh di pipi pucat Jiyeon, menatap Sehun yang menatapnya dengan wajah menyesal.

“Aku tahu Jiyeon! Aku tahu kau mencintainya, walaupun kau tidak pernah mengatakannya. Aku tahu kau menahannnya begitu keras hingga semuanya terlihat samar, aku tahu jika kalian berdua sama-sama terluka,”

Tanpa perintah Jiyeon sudah menghambur memeluk Sehun dengan erat, menangis tertahan di dada Sehun guna meluapkan semua rasa yang kian ingin meledak. Jiyeon sudah tidak tahan, sudah semakin tak punya kekuatan untuk menyembunyikan semuanya.

Oppa—“

“Maafkan aku Jiyeon, aku hanya tidak ingin kalian berdua semakin terbelit, masalah yang jelas-jelas tidak ada jalan keluarnya.” Sehun mengeratkan rangkulan tangannya di tubuh Jiyeon yang bergetar, merasa jika kini matanya juga sudah berembun saat Jiyeon semakin menangis.

“Karena sampai kapan pun, kalian akan tetap menjadi saudara.”

***

Jongin mengepalkan tangannya kuat, menatap kesal sosok Sehun yang memeluk Jiyeon dengan begitu erat di depan sana, tepat di bawah balkon sekolah yang kini tengah di pijaknya. Bukan, Jongin bukan cemburu pada Sehun karena memeluk Jiyeon, Jongin tahu pasti jika sejak dulu Sehun sudah sangat menyayangi Jiyeon seperti menyayangi adiknya sendiri. Jongin kesal karena dia tahu jika saat ini Jiyeon pasti sedang menangis, merasa kesal karena tak mampu lagi menghapus laju air mata di wajah gadis yang begitu di cintainya itu.

“Aku lihat Sehun dan Jiyeon sangat dekat,” Jongin menatap sekilas gadis yang sedari tadi berdiri di sampingnya dengan malas, tak menghiraukan sedikit pun sosok cantik yang menjadi incaran para siswa di sekolahnya. Sosok gadis yang kini telah menyandang, status sebagai kekasihnya.

“Apa mungkin Sehun menyukai adikmu?” kali ini Jongin mengalihkan pandangannya, memandang dingin Yerie yang tersenyum manis hingga mata sipitnya membentuk bulan sabit.

“Urus saja urusanmu sendiri Soe Yerie, tidak usah mengurusi adik-ku.”

Dalam satu gerakan Jongin membalikkan tubuhnya, berjalan cepat meninggalkan balkon dan Yerie yang sudah berteriak di belakang sana. Gadis berambut panjang berwarna coklat marun itu, tampak berlari kecil guna mengejar langkah lebar Jongin, berusaha menahan pria dingin itu untuk mendengarkan kalimatnya yang belum terselesaikan.

“Jongin tunggu dulu.” Jongin tidak menjawab, melepaskan rangkulan Yerie di lengannya dengan sedikit kasar. “Kapan kau akan mengenalkan aku pada adikmu? Dan bisakah kau bersikap sedikit manis padaku? Kau tidak lupakan, jika aku ini adalah kekasihmu?”

“Sudah selesai?”

“Mwo?”

“Jika sudah selesai, aku mau pergi! Ocehanmu membuatku pusing.” ucap Jongin dingin seraya berlalu dari hadapan Yerie yang terpaku, dengan mata yang membulat dan wajah kesal atas semua sikap acuh Jongin padanya.

***

Jiyeon’s Class

Jiyeon memandang kosong sosok guru Kimia mereka yang kini tengah menjelaskan mata pelajaran di depan sana, tak begitu mendengarkan semua yang telah di jabarkan dengan begitu jelas. Gadis itu hanya memainkan pulpen berbandul bola berbulu di tangannya, memandang sesekali ke arah luar jendela, menopang dagu dan mengerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Pikiran Jiyeon masih terlalu kusut untuk menerima materi pelajaran, merasa jika beban yang tengah di pikulnya saat ini, terasa terlalu berat hingga tak mampu memikirkan hal lainnya.

Tiba-tiba sebuah bolpoin melayang dan mendarat tepat di atas meja Jiyeon, membuat gadis itu dan seluruh murid di kelas terkejut. Menatap takut ke arah Jiyeon yang tergagap, begitu pula dengan Xiumin yang duduk di samping gadis itu. Merasa menyesal karena tak sempat memberikan peringatan pada Jiyeon, dan kini suara keras dari guru Kimia mereka yang terkenal kejam, sudah mengema lantang di dalam kelas.

Memerintahkan Jiyeon untuk keluar dari kelas tanpa bantahan, berdiri dengan posisi satu kaki di angkat dan tangan yang memegang kedua telinganya. Jiyeon pucat seketika, ini untuk pertama kalinya gadis yang selalu mendapat posisi 5 besar, sebagai murid terpandai di sekolahnya itu mendapat hukuman. Bahkan guru mereka —Kim Kibum— tak memberi kesempatan untuk Jiyeon membela diri, ataupun menjawab satu pertanyaan dari materi pelajaran saat ini yang Jiyeon yakin, bisa menjawabnya walau dia tak memperhatikan penjelasan dari sang guru.

Jiyeon hampir menangis saat Kibum membentaknya dengan keras dan memerintahkan Jiyeon untuk bergegas berdiri di luar. Berjalan tertatih dan melakukan hukuman yang sudah di jatuhkan, Jiyeon memejamkan matanya sejenak, menarik nafas panjang dan mulai menjalankan hukumannya. Tak lama berselang Jiyeon kembali mendengar Kibum berteriak, kali ini dengan menyebutkan nama Lee Xiumin. Dan benar saja kini Jiyeon dapat melihat sosok laki-laki bergigi kelinci yang sangat manis itu, sudah berdiri dengan kekehannya saat mendapati Jiyeon yang binggung. Mengambil posisi tepat di samping Jiyeon dan melakukan hukuman yang sama dengan gadis itu.

“Xiumin?”

“Aku akan menemanimu di sini,”

“Kau?”

Wae? Kau tidak mau aku menemanimu?”

Xiumin kembali terkekeh pelan saat Jiyeon menatapnya dengan tatapan tidak percaya, laki-laki itu sengaja membuat keributan hingga di usir dari dalam kelas, hanya untuk menemani Jiyeon menjalani hukuman.

“Aku sudah berjanji pada kakak-mu, untuk selalu menjagamu dan menemanimu, Jiyeon-ah.”

Nde? Kakakku?”

Jiyeon menoleh dengan tubuh yang sedikit terhuyung karena posisi berdiri dengan satu kaki, membuat Xiumin mendekatkan bahunya pada bahu Jiyeon hingga Jiyeon dapat meletakkan setengah beban tubuhnya, di tubuh Xiumin yang ahli dalam ilmu beladiri tingkat professional dan juga terkenal sangat kuat.

“Ya Tuhan!” Xiumin mengalihkan pandangannya, merasa menyesal dan menyalahan lidahnya yang tak bisa menjaga rahasia.

“Xiumin?”

Xiumin melirik Jiyeon dari ekor mata sipitnya, menimang sebentar keputusan untuk memberi tahu Jiyeon tentang perintah Jongin selama ini. Perintah untuk menjadi sabahat Jiyeon, menjaga gadis itu dan melindunginya dari apapun selagi Jongin tidak ada di dekat Jiyeon.

Ah! Baiklah!” ucap Xiumin saat Jiyeon mendesaknya. “Kim Jongin, kakakmu membayarku untuk menjadi bodyguard mu, tanpa sepengetahuanmu Jiyeon. Dia sangat takut kau terluka dengan alasan apapun, sangat takut kau tidak punya teman dan sendirian karena kalian berada di kelas yang berbeda.”

Jiyeon hanya mampu terdiam, memandang Xiumin yang sudah tersenyum lebar hingga gigi kelincinya kembali terlihat. Samar tapi pasti Jiyeon mengembangkan senyumnya, merasa sangat bahagia jika ternyata selama ini rasa sayang Jongin sangatlah besar untuk dirinya, merasa sangat beruntung memiliki seorang Kim Jongin di dalam hidupnya.

“Kau… tidak marahkan, Jiyeon-ah?”

Xiumin menanti jawaban dari Jiyeon yang terlihat hanya mengelang, sedikit kesusahan karena harus memegang kedua kupingnya. Jiyeon tertawa pelan saat Xiumin terus menatapnya, gadis itu mendorong pelan bahu Xiumin dengan bahunya seraya kembali mengeleng. Kembali tertawa pelan hingga membuat Xiumin, ikut tertawa bersama gadis itu.

“Tidak Xiumin-ah,”

“Kita tetap menjadi sahabatkan?”

“Tentu saja. Aku justru ingin berterima kasih padamu, terima kasih karena sudah menjaga ku dengan sangat baik, terima kasih karena sudah menjadi sahabat ku selama ini. Kau tahu kan jika aku sangat sulit beradaptasi, untuk mendapatkan seorang teman.”

Xiumin mengangguk, kembali merapatkan bahunya pada bahu Jiyeon hingga gadis itu kembali bisa membagi bobot tubuhnya pada Xiumin. Dan selanjutnya, mereka berdua tampak bahagia menjalani hukuman mereka, tertawa pelan namun tertahan dengan cerita lucu yang Xiumin ceritakan di sepanjang hukuman.

***

“Sehun oppa!

Jiyeon berlari kecil saat melihat Sehun yang baru saja keluar dari kelasnya, laki-laki tinggi berambut blonde itu pun tersenyum seraya memeluk Jiyeon sekilas. Membelai kepala Jiyeon dan memastikan suhu tubuh gadis cantik itu.

Gwenchana?

Oppa tenanglah aku sudah tidak demam lagi,” Jiyeon memajukan lehernya sedikit menelitik ke dalam kelas. “Aku tidak melihat Chanyeol oppa, kemana dia?”

“Hari ini dia tidak datang ke sekolah, kucing peliharaan ibunya mati semalam jadi dia sedang berduka.” jawab Sehun dengan senyum tertahan.

Mwoya?” Jiyeon melebarkan matanya, terlihat tertawa pelan hingga membuat Sehun pada akhirnya juga ikut tertawa.

Sejak dulu Chanyeol yang bukan pecinta hewan itu, akan selalu berkabung jika salah satu hewan peliharaan sang ibu —seorang aktifis hewan yang pernah mendapat penghargaan dari WHO— mati. Dan semua itu di lakukan Chanyeol hanya untuk menjaga nama baiknya di keluarga, agar dia tetap berada di urutan paling atas sebagai pewaris dari Park Sugar Corporation milik sang ayah, salah satu perusahaan merek dagang makanan terbesar yang ada di Seoul.

Sangat berlebihan!!! Karena faktanya Park Chanyeol adalah anak tunggal di keluarga mereka.

“Aku yakin saat ini Chanyeol oppa sedang berakting menangis,” Sehun mengangguk setuju.

“Seharusnya dia menjadi actor setelah kita lulus nanti.” Mereka kembali tertawa bersama, membuat Sehun senang karena bisa kembali melihat Jiyeon tertawa.

Namun tawa Jiyeon hilang seketika saat mendapati Jongin dan Yerie baru saja keluar dari dalam kelas, terpaku saat menatap tangan Yerie yang merangkul lengan Jongin dengan begitu erat. Jongin pun terlihat terkejut saat pandangannya tak sengaja bertemu, dengan manic bening Jiyeon yang sangat di sukainya. Terdiam sesaat dalam tautan pandangan rindu, sebelum akhirnya suara Yerie mengalihkannya.

Eoh! Song Jiyeon? Annyeong.” sapa gadis cantik itu saat melihat Jiyeon yang sudah mengangguk pelan, berdiri merapat ke arah Sehun yang menyesal tidak segera membawa Jiyeon menjauh dari depan kelas, hingga membuat mereka bertemu Jongin dan Yerie.

“Apa kabar?” jawab Jiyeon dengan sedikit gugup, mencoba terlihat sewajar mungin walau hatinya terasa berdenyut.

“Akhirnya aku bertemu denganmu, kakakmu yang dingin ini selalu menolak tiap kali aku memintanya mengenalkanmu padaku.” Yerie tersenyum ceria, melepaskan rangkulan tangannya di lengan Jongin dan menjabat tangan Jiyeon. “Sepertinya aku akan meminta sedikit bantuan padamu, bagaimana caranya membuat kakakmu tersenyum. Kau pasti tahu banyak tentang kakakmu kan?”

Jiyeon mengangguk pelan. “Aku? Aku juga tidak terlalu tahu tentang kakakku.” Jiyeon menatap sekilas ke arah Jongin yang tengah memalingkan wajahnya.

“Yang aku tahu Jongin oppa memang tidak suka tertawa, tapi dia akan selalu berusaha membuat orang-orang di sekelilingnya tertawa. Selalu akan melindungi dan menjaga siapapun yang di sayanginya dengan segenap jiwa, jika nanti kau telah telah benar-benar mengenalnya, maka kau akan tahu jika Jongin oppa adalah laki-laki yang sangat baik dan hangat.”

Oppa menyukai semua makanan asal tidak terlalu pedas, menyukai minuman coklat panas dengan tambahan sedikit susu. Suka pancake strawberry tanpa tambahan krim di atasnya, tidak suka di bangunkan jika dia sedang tertidur. Dulu dia selalu memarahiku, jika aku nekat membangunkannya.” Jiyeon tertawa pelan, mengingat saat dulu Jongin suka memarahinya.

Oppa juga tidak suka diganggu jika sedang berolah raga, jadi kau cukup menungunya di pinggir lapangan. Oppa juga tidak suka dengan gadis yang manja, lakukan semuanya sendiri dan jika kau beruntung maka Oppa akan membantumu, sebelum kau sempat menyebutkan permintaanmu.”

Jiyeon merasa jika mata beningnya mengabur, merasa jika tumpuan kakinya melemah, merasa semakin merindu pada sosok Jongin yang kini tengah memandanginya. Yerie terdiam sesaat tak sengaja menangkap tatapan Jongin pada Jiyeon, tatapan dalam penuh makna berjuta sayang yang membuat Yerie tertegun. Tatapan yang membuat Yerie meragu dan menduga-duga hubungan apa yang sebenarnya terjalin antara Jongin dan Jiyeon, namun dengan cepat Yerie menepisnya dan menganggap jika Jongin hanya terlalu menyayangi Jiyeon.

Ah! Jinjjayo? Wah! Kau terlihat sangat mengenal dan menyayangi kakakmu, Jiyeon.” Yerie tertawa pelan. “Jika aku jadi kau aku pasti— sudah jatuh cinta pada Jongin.” Yerie kembali tertawa, kali ini terdengar sedikit sumbang, berusaha tetap bersikap biasa saat tak seorang pun ikut tertawa bersamanya.

Jiyeon memaku di tempat, terlihat terkejut hingga tubuhnya sedikit terhuyung. Membuat Sehun buru-buru merangkul bahu Jiyeon dengan erat, laki-laki itu tahu pasti jika ini sangat berat untuk Jiyeon. Begitu pula dengan Jongin laki-laki itu bahkan sudah memejamkan matanya, merasa ingin menyeret Yerie menjauh secepat mungkin dari hadapan Jiyeon dan Sehun.

“Kita pulang sekarang,” ucap Sehun cepat lalu melangkah tanpa kata meninggalkan Jongin dan Yerie di belakang sana.

****

Kim’s House

Porch – 06.00 pm

Minji yang tengah menikmati teh hijau hangatnya di beranda, terlihat tersenyum saat Jiyeon datang menghampirinya. Bergabung menikmati nyayian angin sore yang membelai indah wajah mereka, memandangi lembayung yang mengantung di ufuk barat, tampak temaram saat sang mentari mulai semakin bersembunyi di balik kokohnya langit senja.

Sejak dulu Minji dan Jiyeon sering menghabiskan waktu bersama di beranda saat senja menyapa, menikmati teh hijau dan beberapa potong cookies yang di buat Minji di saat Jiyeon masih berada di sekolah. Bercerita tentang apa saja yang terjadi di sekolah hari itu, tertawa dalam balutan hiporia rasa sayang antara ibu dan anak. Terkadang Jongin dan Jonghyun juga ikut bergabung, bermain tebak kata yang selalu saja di menangkan Jiyeon dan Jonghyun. Karena Minji dan Jongin akan selalu mengalah, demi melihat tawa bahagia Jiyeon jika gadis itu tengah memenangkan permainan tebak kata.

Jiyeon menyandarkan kepalanya di bahu Minji, menikmati usapan sayang Minji di lengan dan wajahnya. Mendengarkan senandung lagu lawas favorit Minji yang sejak hari pertama gadis itu menjadi bagian dari keluarga Kim, selalu Minji nyanyikan sebagai penghantar tidur Jiyeon di malam hari. Jiyeon benar-benar menyayangi Minji seperti ibu kandungnya sendiri.

“Jiyeon-ah,”

Ne?”

“Lihatlah album foto ini.” Jiyeon menegakkan kepalanya, menatap sebuah album foto berukuran besar yang kini sudah berada di atas pangkuan Minji. “Foto di saat kau baru menjadi bagian dari keluarga kami,” Minji tersenyum seraya membuka lembar demi lembar bagian foto Jiyeon bersamanya dan Jonghyun.

Foto Jiyeon berusia 11 tahun, di mana Jiyeon merayakan ulang tahun pertamanya bersama keluarga Kim, setelah Minji menjadikan Jiyeon sebagai putri angkatnya. Foto Jiyeon berusia 13 tahun dan menerima piala saat memenangkan olyampiade Matematika dan Fisika. Foto Jiyeon dan Minji saat mereka menghabiskan liburan bersama, di berbagai negara beberapa tahun yang lalu. Dan sebuah foto yang membuat Jiyeon menutup wajahnya, merasa malu dengan gaya yang di tampilkannya di foto itu. Bergaya sedang memeluk batang pisang buatan yang ada di ruang keluarga, tepat satu tahun silam

“Ayah dan Oppa yang memaksaku bergaya seperti itu sebagai hukuman, karena aku terlambat bangun saat kita hendak berlibur ke pantai Ocho RiosKaribia waktu itu.” Minji mengangguk seraya tertawa pelan, mengusap wajah Jiyeon dan kembali membuka lembaran album foto.

Tawa Jiyeon menghilang seketika berganti dengan sebuah senyum tipis di ujung bibir, menatap selembar foto Jongin dan Sehun yang sedang bergaya di dalam pesawat pribadi milik keluarga Sehun. Waktu itu mereka hendak mengunjungi keluarga Sehun yang ada di Autria, ya sejak dulu keluarga Jongin dan Sehun sangat dekat, karena Jonghyun dan Nam Sooyeong ibunda Sehun adalah teman baik semasa kecil hingga dewasa.

“Jongin dan Sehun benar-benar sahabat dekat, mereka berdua juga sangat menyayangi, Jiyeon-aa.” Jiyeon tidak menjawab dan tanpa sadar jemarinya sudah bergerak, membelai wajah Jongin di dalam foto.

“Pernahkah kau berpikir jika bukan aku yang mengadopsimu, tapi Sooyeong dan Richard lah yang mengadopsimu, Jiyeon?” Jiyeon mengalihkan pandangannya seketika, menatap Minji yang tersenyum hangat dan kembali menatap ke arah foto. “Apa kau pernah berpikir jika Sehun yang menjadi kakakmu, maka semuanya akan jauh lebih baik?”

“Ibu—“

“Pernahkah kau menyesal karena akulah yang menjadi ibumu, Jonghyun lah yang menjadi ayahmu dan— Jongin lah yang menjadi kakak laki-laki untukmu?”

Jiyeon mengeleng, menatap mata senja Minji yang terlihat berkaca-kaca. Wanita yang masih sangat cantik di usia 40 tahunnya itu mengerakkan tangannya, membelai wajah Jiyeon dengan luapan rasa sayang yang tak pernah berubah sejak dulu, sejak Minji membawa Jiyeon untuk menjadi putri angkatnya.

“Aku tidak pernah menyesal telah mengenalmu ibu, aku sangat bahagia mendapatkan ibu angkat sepertimu. Ibu yang sangat menyanyangiku seperti aku adalah putri kandun mu sendiri, aku bahkan rela menukar nyawaku untukmu ibu,”

Minji menarik Jiyeon ke dalam pelukannya, mengeratkannya dengan cucuran air mata yang tiba-tiba saja sudah berjatuhan di pipinya. Merasa tak sanggup jika sebentar lagi putri tersayangnya itu, akan di rundung rasa lara yang tak berkesudahan.

“Kau putri ibu, sampai kapan pun kau tetaplah putri ibu. Tak ada satu pun yang akan mengubahnya, Jiyeon-ah.” Minji mengeratkan pelukannya, mengusap kepala dan bahu Jiyeon yang bergetar karena ikut menangis.

Minji melepaskan pelukannya, menghapus air mata Jiyeon yang masih mengalir. “Sejak dulu ibu selalu merasa sedih jika melihat mu menangis, merasa selalu tak sanggup jika melihat mu terluka sayang. Jadi berjanjilah untuk terus bahagia setelah ini apapun yang terjadi,” Minji kembali memeluk Jiyeon dengan erat.

“Ibu yakin, suatu hari nanti kau pasti akan menemukan kebahagian yang lebih dari hari ini, Jiyeon-ah.”

Jiyeon memejamkan matanya, mengangguk dalam air mata yang kian mengalir. Sungguh Jiyeon tak mampu jika harus kehilangan Minji, kehilangan wanita yang sangat menyayanginya dan sangat di sayangi Jiyeon.

“Aku janji untuk selalu bahagia dan selalu menjadi putri ibu sampai kapan pun.”

“Jiyeon, ibu sangat menyayangimu.”

****

YeomKwang High School – 01.00 pm

Library

The Angle Secret

Yerie berjalan pelan memasuki perpustakaan, guna mencari sosok Jongin yang menurut Park Chanyeol tengah menghabiskan waktu istirahat siangnya, dengan tidur di perpustakaan. Berjalan mengendap saat menemukan ruangikit tertutup yang menjadi tempat favorit Jongin bersama 2 sahabatnya Sehun dan Chanyeol. Gadis cantik itu tampak tersenyum tertahan saat mendapati Jongin yang sudah terlelap, dengan meletakkan kepalanya di atas meja dan tangan yang di biarkan menjuntai di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Yerie pun memutuskan untuk memelankan langkahnya, tak berniat untuk membangunkan Jongin yang tampak pulas di tidurnya saat ini.

“Saat tidur pun kau terlihat tampan,” gumam Yerie sesaat setelah mendudukkan tubuhnya di bangku tepat di depan Jongin, meletakkan kepalanya di meja seraya memandangi wajah Jongin di tiap lekuknya.

Tanpa sadar Yerie mengerakkan telunjuknya ke arah wajah Jongin, menelusuri tiap inci wajah Jongin yang terpahat nyaris sempurna itu dengan senyum kecilnya. Dari kening, pipi, hidung dan bagian bibir. Namun tiba-tiba saja Jongin menepis tangannya, berteriak dengan menyebutkan nama seseorang yang membuat Yerie termangu.

“Yak! Jiyeon-ah berhenti menganggu tidurku!”

Yerie tergagap dengan mata yang membulat saat sepasang mata coklat Jongin terbuka, menatap Yerie dengan tatapan tak kalah terkejut dari gadis itu. Jongin mengalihkan pandangannya, menyadari jika dia berada di perpustakaan, menyadari jika gadis yang menganggu tidurnya adalah Seo Yerie bukan, Song Jiyeon.

“Kau?”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menganggu tidurmu.” jawab Yerie dengan wajah yang masih terlihat terkejut.

Jongin tidak menjawab laki-laki tinggi itu justru menegakkan tubuhnya dan bergegas meninggalkan perpustakaan, tak peduli dengan Yerie yang masih terkejut. Yerie pun bergegas bangkit dari duduknya saat Jongin baru saja menghilang di balik rak buku, menahan langkahnya saat menatap handphone Jongin yang tertinggal di atas meja.

Dengan ragu Yerie meraih hanphone berwarna silver dan berlayar sentuh dalam genggamannya, menyentuhkan jemarinya pada layar handphone yang ternyata tidak di lindungi kata sandi. Seketika mata Yerie membulat, menatap foto yang menjadi wallpaper di handphone milik Jongin. Foto Song Jiyeon yang tengah tertidur pulas.

Penasaran Yerie pun mulai membuka handphone Jongin lebih dalam, membuka file foto dan semakin terkejutlah Yerie saat melihat ratusan foto Jiyeon dalam berbagai ekspresi. Yerie pun semakin memaku di tempat saat sebuah pesan singkat masuk memenuhi inbox, bukan isi pesannya yang membuat Yerie terkejut tapi nama yang di pasang Jongin untuk kontak tersebut.

From : My Angel

Oppa, jangan pulang terlambat, nanti malam ayah sudah pulang ke rumah.

“Apa yang kau lakukan pada handphoneku?”

Yerie terlonjak terkejut saat tiba-tiba Jongin sudah berdiri depannya, menatapnya dingin dengan segera menyambar handphone miliknya dari tangan Yerie.

“Aku… aku menemukannya di meja, aku baru saja hendak memberikannya padamu.”

Jongin menajamkan matanya menatap sebuah pesan singkat yang sudah terbuka, kembali menghujam Yerie dengan tatapan butuh penjelasan.

“Aku tidak melihat isi pesan itu sungguh, aku tidak sengaja menekan tombol karena terkejut kau datang tiba-tiba.”

Yerie menarik nafasnya saat Jongin pad akhirnya menyimpan handphone ke balik saku jas sekolahnya, berlalu tanpa memberi pertanyaan yang sungguh membuat Yerie menjadi takut.

Ah! Hampir saja,” gumam Yerie seraya mendudukkan tubuhnya kembali di kursi perpustakaan.

Pikiran gadis itu kembali melayang pada fakta baru yang di temukannya, merangkainya dengan beberapa kejadian yang mengangjal pikirannya. Jongin membatalkan acara kencan mereka dan meninggalkannya begitu saja, setelah mendapat kabar Jiyeon terserang demam tinggi di rumah. Tatapan Jongin juga terlihat berbeda jika sedang menatap Jiyeon, seperti tatapan laki-laki pada gadis yang di cintainya.

Yerie mengelengkan kepalanya dengan cepat, membuang prasangka yang semakin mengelitik rasa penasarannya. Mungkinkah Jongin jatuh cinta pada Jiyeon? Mungkinkah Jongin mencintai adiknya sendiri? Atau— mungkinkah Jongin dan Jiyeon saling mencintai?

***

“Jiyeon-ah,”

Jiyeon menoleh mendapati Yerie yang sudah berdiri di dekat pintu kelasnya, gadis cantik itu tersenyum seraya memeluk Jiyeon sekilas.

“Hari ini festival seni Lantern baru saja di mulai, aku ingin mengajakmu dan kakakmu ke sana. Tapi sepertinya kakakmu menolak, karena ayahmu akan datang malam ini, benarkah?”

Eoh! Ayahku akan kembali dari Jerman malam ini.”

“Begitu ya, sayang sekali.” ucap Yerie dengan wajah kecewanya.

“Kau benar-benar ingin ke sana?” Yerie mengangguk pelan. “Baiklah aku akan meminta Jongin oppa untuk pergi, tapi tidak lama karena ayah tidak suka aku dan kakakku terlambat pulang.”

Jinjjayo?

Nde, bersiaplah nanti sore ku pastikan kita akan bertemu di Cheonggyecheon Stream.”

Gomawo Jiyeon-ah.” ucap Yerie sebelum berlalu dari hadapan Jiyeon, meninggalkan Jiyeon yang terdiam dan sedikit menyesal dengan usulannya barusan. Bagaimana mungkin dia bisa melihat kebersamaan Jongin dan Yerie?

***

Kim House

Jongin’s Room

“Aku bilang tidak, ya tidak Jiyeon!”

Oppa ayolah aku ingin sekali melihat festival itu,”

“Kau atau Yerie yang menginginkannya?”

Jiyeon terdiam mencari-cari alasan masuk akal untuk menjawab pertanyaan Jongin, sudah lebih dari 30 menit Jiyeon membujuk Jongin yang tidak menyukai keramaian itu, untuk datang ke Cheonggyecheon Stream. Sungai buatan dengan panjang mencapai 18 kilometer, tempat berlangsungnya festival seni Lantern. Festival lampu lampion warna warni dengan berbagai bentuk dan ukuran.

“Aku dan Yerie yang menginginkannya.”

Jongin tidak menjawab hanya menatap Jiyeon yang sudah siap dengan dress hitam pendeknya, rambut panjang gadis itu di ikat hingga membentuk cepolan manis. Tatanan rambut yang tidak begitu di sukai Jongin, laki-laki itu lebih suka jika Jiyeon mengerai rambutnya, ataupun mengepangnya ke arah samping.

Jongin berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Jiyeon, mengerakkan tangannya melepaskan ikat rambut Jiyeon hingga rambut panjangnya tergerai. Tak ada kata yang terucap di antara keduanya, Jiyeon hanya terdiam membeku saat merasakan jemari Jiyeon menelusuri tiap helai dari rambutnya yang sewarna mutiara hitam.

Mengepangnya ke arah samping dengan tubuh yang merapat, membuat Jiyeon merasa jika jantungnya berdetak terlalu cepat dengan desiran aneh yang membuat pipinya merona merah jambu. Jongin menatap hasil kepangannya dengan tersenyum, menyematkan ikat rambut biru di ujungnya lalu membelai wajah Jiyeon sekilas.

“Baiklah kita akan melihat festival itu, kau senang?”

Jiyeon mengangguk sekilas, merasa masih terlalu gugup untuk menjawab lebih. Jiyeon meraba dadanya yang masih berdetak cepat, menghembuskan nafasnya dan segera berjalan menuju walk in closet milik Jongin, saat laki-laki itu meneriakkan namanya.

“Jiyeon-ah bantu aku untuk bersiap!!”

****

Jungnangcheon – Yeongdap, Seongdong Seoul

Cheonggyecheon Stream

Jiyeon turun dari mobil hitam Jongin dengan senyum yang mengembang, menatap puluhan lentera warna warni di sepanjang sungai buatan Cheonggyecheon. Memutar pandangannya sejenak guna menemukan sosok Yerie, di tengah keramaian penduduk kota Seoul yang memenuhi area sungai. Jiyeon mengalihkan pandangannya, menatap Jongin yang hanya diam dengan kelapa yang menunduk. Terbalut kemeja hitam dan jas hitam sebagai luarannya, tak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka berada di mobil saat hendak menuju Cheonggyecheon Stream.

Oppa!” panggilan Jiyeon terhenti saat suara lain memanggil namanya, Jiyeon pun melambaikan tangannya mendapati Yerie yang berdiri tak jauh dari tempat mereka kini.

Hi! Apa kalian menunggu lama?”

“Tidak! Kami juga baru sampai.”

Yerie tersenyum lebar menyapa Jongin yang hanya diam, gadis itu terlihat cantik dengan dress pink di atas lutut. Sangat manis membalut tubuh langsing Yerie, gadis itu tersenyum kecut saat menatap penampilan Jiyeon dan Jongin dalam baluta pakaian dengan warna yang sama.

Ah! Seharusnya aku juga menggunakan baju berwarna hitam ya, jadi kita terlihat sama. Jika begini kalian yang terlihat seperti pasangan, bukan aku dan kakakmu Jiyeon-ah.”

Jiyeon terkejut tak menyadari jika dia dan Jongin, menggunakan baju dengan warna yang sama, hitam. “Bukan begitu, ini hanya kebetulan. Lagi pula hitam dan pink juga terlihat serasi, benar begitu kan?” Jiyeon tertawa sumbang seraya mengusap wajahnya, mengalihkan pandangan saat Yerie mulai mendekati Jongin.

Jiyeon mulai berjalan menyusuri sungai, gadis itu benar-benar merasa sakit saat melihat Yerie merangkul lengan Jongin. Ingin menangis saat Yerie mencium pipi Jongin saat kakak laki-lakinya itu hanya diam, membuat Jongin mendorong Yerie menjauh.

Ini sakit, bahkan lebih sakit dari yang sudah Jiyeon bayangkan sebelumnya. Melihat orang yang kau cintai, berjalan dengan gadis lain? Sungguh Jiyeon ingin menyudahi ini secepat mungkin, sebelum hatinya semakin terentas berkeping-keping tanpa sisa.

Eoh!”

Jiyeon terkejut saat tiba-tiba tangan hangat Jongin, menggenggam jemarinya. Menariknya pelan untuk menyusuri pinggiran sungai, yang telah di penuhi lampion besar dengan berbagai bentuk. Lampion yang mulai tampak terang, saat lampu-lampu di dalamnya di hidupkan.

Jiyeon berusaha melepaskan genggaman Jongin di jemarinya, menatap Yerie yang menekuk wajahnya di belakang sana. Jiyeon tahu ini tidak benar, ini pasti menyakiti Yerie, menyakiti gadis yang telah di pilih Jongin untuk menjadi kekasihnya.

“Oppa! Lepaskan tanganku.” Jiyeon menatap Jongin dengan tatapan memohon.

“Wae?”

“Yerie lah yang harus kau pegang, bukan aku.”

“Dia tidak akan hilang di keramaian Jiyeon, sedangkan kau? apa kau lupa jika kau selalu akan hilang arah di tempat ramai seperti ini?”

“Itu dulu saat aku masih berusia 13 tahun, sekarang aku sudah 17 tahun aku bisa menjaga diriku sendiri. Oppa! Aku mohon?” Jongin tetap tak bergeming. “Kau yang memilih Yerie, jadi tidak pantas rasanya jika kau juga yang menyakitinya.”

Hey! Ada apa?”

Seketika Jiyeon menarik tangannya dari genggaman Jongin, tersenyum ke arah Yerie seraya menggeleng pelan. Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka, menikmati lampion yang di suguhkan di sepanjang sungai yang sungguh memenjakan mata.

Senja pun semakin merangkak menjauh, berganti malam yang mulai datang menyapa. Menjadikan festival lampion semakin semarak, semakin gemerlap karena semua lampu telah di hidupkan. Berbagai bentuk dari perjalanan dinasti sejarah Korea tersaji, menjadi satu kesatuan yang menceritakan tentang perjalanan negeri Korea di masa lampau.

Jiyeon semakin melangkahkan kakinya, terpana dengan semua keindahan lampion, tak sadar jika dia sudah terpisah dari Jongin yang sengaja di tarik Yerie menjauh, saat Jiyeon sedang menikmati lampion berbentuk bangunan dari berbagai negara dengan predikat sebagai keajaiban dunia.

Jiyeon menoleh, sedikit terkejut saat tak mendapati Jongin ataupun Yerie di dekatnya. Mulai panik saat tak ada sautan saat gadis itu meneriakkan nama Jongin dan Yerie. Jiyeon panic seketika, mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Menjijitkan kakinya untuk dapat menemukan Jongin dan Yerie, di tengah keramaian yang semakin membuatnya binggung.

“Jongin oppa!”

Dan Jiyeon pun semakin kalut saat merasakan setetes air langit, jatuh di atas lengannya. Jiyeon yang alergi dengan air hujan itu, akan sangat panik dan tak mampu melakukan apapun, karena rasa takutnya yang luar biasa akan tetesan air yang bahkan bisa membunuhnya.

***

Jongin mengedarkan pandangannya dengan cemas, saat menyadari jika Jiyeon sudah tidak ada di dekatnya. Menghempaskan tangan Yerie dari lengannya dengan sedikit kasar, terlihat marah saat Yerie justru terlihat santai dan menganggap jika Jongin berlebihan.

“Ayolah Jongin, Jiyeon sudah 17 tahun dia bukan anak kecil lagi, dia pasti bisa menemukan kita atau dia pasti bisa berjalan ke parkiran mobilkan.”

Jongin tidak menjawab laki-laki hanya terus melangkah, tetap berusaha untuk menemukan Jiyeon. Jongin menghentikan langkahnya saat merasakan tetesan hujan gerimis, jatuh membasahi tangannya. Mendongak untuk memastikan jika saat ini memang gerimis, bukan percikan air dari sungai.

Wuah! Gerimis!” Yerie berseru. “Ini benar-benar romantis.” ucap Yerie seraya ingin kembali merangkul Jongin.

Namun laki-laki itu menepisnya, wajah Jongin terlihat pucat dan sangat kalut. Bergumam tak jelas lalu segera berlari dengan meneriakkan nama Jiyeon, beberapa orang pengunjung festival bahkan menatap Jongin dengan aneh. Namun laki-laki itu tidak peduli dan tetap mencari Jiyeon, Jongin mengeluarkan handphone miliknya, mencoba menelphone Jiyeon, namun nihil gadis itu tidak menjawab panggilanya.

“Tuan, apa kau melihat gadis ini?” tanya Jongin pada orang yang berlalu lalang, memperlihatkan foto Jiyeon yang ada di hanphonenya, namun sayangnya tak ada yang melihat Jiyeon di tempat ramai itu. Jongin tak lelah untuk kembali berteriak dan menanyakan pada siappun yang berlalu lalang, demi menemukan di mana Jiyeon berada sekarang.

Nafas Jongin kian memburu, merasakan gerimis kecil yang terus turun membasahi bumi. Gerimis yang mungkin bagi sebagian orang justru membuat suasana menjadi lebih romantis, mungkin bagi sebagian orang justru tidak merasa peduli dan tidak berefek apapun pada tubuh mereka.

Tapi bagi Jiyeon? Gadis penderita alergi akut pada air langit itu, justru akan sangat berbahaya jika sampai terkena karena air hujan dan bahkan bisa menyebabkan kematian jika sampai membasahi seluruh tubuhnya.

“Jongin tenanglah, kita pasti akan menemukannya.” Yerie yang kewalahan mengikuti langkah terburu Jongin, terlihat kelelahan dengan nafas yang tersengal.

“Apa kau bilang tenang? Langit sudah menjatuhkan airnya tapi aku belum bisa menemukan Jiyeon, dan kau justru meminta ku untuk tenang.”

“Ayolah ini hanya gerimis.”

Jongin mengepalkan tangannya dengan kuat, menatap Yerie dengan mata yang berkilat marah. “Dengar! Jiyeon tidak bisa sendirian di tengah keramaian, dia pasti akan hilang jika aku tidak memegangnya, karena itulah aku tidak pernah suka berada di tengah keramaian festival.”

“Dan satu hal lagi yang harus kau tahu Seo Yerie, Jiyeon— adik perempuan ku, alergi dengan air hujan. Dia akan berubah menjadi sangat kalut saat air hujan menyentuh tubuhnya, dia— tidak akan bisa bergerak apalagi berteduh. Dan jika air hujan ini terus membahasi kepala dan tubuhnya, makan dia— dia bisa kehilangan nafasnya. Kau mengerti?”

Yerie terpaku di tempatnya, tak mampu berucap saat Jongin mulai berlari menjauh darinya. Jiyeon alergi dengan air hujan? Benarkah itu?

***

Jongin terus berlari dengan kalut menyusuri pinggiran sungai, merasa bersyukur karena gerimis tak berubah menjadi hujan besar. Tapi tetap saja laki-laki itu tidak bisa tenang jika belum menemukan Jiyeon, Jongin sangat berharap gadis itu kini tengah berada di sebuah tempat yang melindunginya dari air hujan.

“Jiyeon-aa kau di mana?

Jongin mengusap wajahnya yang kian kalut, terus memutar pandangan di tengah kemaian festival yan kian meriah.

“Aku mohon berteduhlah.”

Dan di detik berikutnya Jongin merasa terkejut dan juga sangat lega, karena dari jarak pandangnya kini laki-laki itu dapat melihat Jiyeon yang berdiri mematung, tepat di depan puluhan lampion ikan warna warni. Dengan langkah seribu, Jongin menghampiri Jiyeon yang gemetar, wajah gadis itu pucat dan memerah di bagian pipi.

“Jiyeon-aa,”

Jongin meraba kening Jiyeon yang mulai menghangat, rambut gadis itu terlihat lembab dengan tangan yang mulai berubah sedingin es.

Op—oppa! Hujan— hu—jan, ak— aku.”

Dengan cepat Jiyeon melepaskan jas yang di kenakannya lalu membungkuskannya di tubuh Jiyeon, membalikkan tubuhnya dan menarik Jiyeon ke atas punggungnya. Dengan berbalut rasa kalut yang teramat sangat, Jongin berlari menyusuri sungai, mencari tempat berteduh untuk dirinya dan Jiyeon.

Beberapa kali Jongin bertanya kepada beberapa orang, di manakan dia bisa menemukan café, restaurant atau mungkin klinik di dekat Cheonggyecheon Stream. Tapi sayangnya kawasan sungai buatan itu memang jauh dari tempat yang ingin di cari Jongin, laki-laki itu terlihat sedikit putus asa dengan mangatur nafasnya yang kian memburu. Jongin kembali berjalan cepat bahkan nyaris berlari, saat seorang pendayung lampion mengatakan jika ada sebuah klinik kecil di ujung hulu sungai.

“Bertahanlah Jiyeon, aku mohon padamu.”

Jongin merasakan jika suhu di kepala Jiyeon semakin panas, rangkulan tangan gadis itu pun kian mengendur saat suhu badannya mulai mendingin layaknya es. Jongin semakin melebarkan langkahnya, menerjang gerimis yang terus turun membahasi tubuh Jiyeon yang kian melemah.

Oppa—“

“Bertahanlah Jiyeon, kau dengar? Aku bilang bertahan!”

Jongin menarik nafas leganya yang memburu saat menatap sebuah klinik kecil berdiri di depannya, dengan cepat Jongin memasuki klinik seraya berteriak dengan sangat keras.

“DI MANA DOKTERNYA!!!”

Seorang laki-laki paruh baya dan seorang wanita berpakaian suster yang terkejut, karena teriakkan Jongin tampak keluar dari sebuah ruangan. Menatap Jongin yang tersengal dengan kaki yang gemetar, meminta sang dokter untuk segera menolong Jiyeon.

“Adikku… alergi air hujan.” Ucap Jongin saat dia baru saja merebahkan tubuh Jiyeon di ranjang pasien.

Mwo?”

“Dokter harus segera meminumkannya obat penurun panas dan membalut tubuhnya agar segera hangat.”

Dokter itu mengangguk mengerti, memerintahkan sang suster untuk mengambilkan obat penurun panas dalam bentuk syrup dan dalam bentuk suppositoria —obat yang di masukkan ke dalam lubang anus.

Jongin berdiri gemetar di sisi ranjang, mengenggam tangannya yang membeku, dengan tatapan yang tak beralih dari Jiyeon yang baru saja di minumkan obat dan di beri suppost dengan dosis yang lebih tinggi dari ukuran normal. Sang suster melepaskan jas hitam yang sudah setengah basah dari tubuh Jiyeon, menyelimuti Jiyeon dengan selimut tebal seperti apa yang Jongin ucapkan. Jongin sudah hafal di luar kepala pertolongan apa yang harus di lakukan, jika Jiyeon terkena air hujan.

“Sejak kapan adik mu mengidap alergi aneh ini?” tanya sang dokter.

Jongin melangkah mendekati ranjang, mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Meraih jemari Jiyeon yang masih membeku dan mengosoknya pelan. “Sejak lahir, dia— sudah di diagnosa mengidap alergi ini.”

Jongin membelai kepala Jiyeon dengan lembut, menyentuhkan tangannya di kening Jiyeon yang perlahan mulai menghangat, tak sepanas saat sebelum di beri obat dari golongan parasetamol dan ibu profen yang di masukkan ke tubuhnya.

Sang dokter mengusap bahu Jongin sekilas, memastikan jika Jiyeon sudah melewati masa kritisnya. Beruntung karena tubuh Jiyeon belum total terkena air hujan, hingga pertolongan pun tak menemukan kesulitan. Jongin berterima kasih pada sang dokter, terus mengenggam jemari Jiyeon yang dingin, menatap Jiyeon dengan lekat di tiap lekukan wajah dari gadis yang sangat di cintainya itu.

Op—oppa—“

Jongin membungkukkan tubuhnya, mengusap kepala Jiyeon yang masih hangat. Menatap Jiyeon yang perlahan mulai membuka matanya, memandang Jongin yang tengah tersenyum hangat ke arahnya.

“Jongin oppa?”

Heemm— tenanglah semua sudah kembali baik-baik saja,” jemari Jongin yang bebas mengusap wajah Jiyeon yang pucat, dengan tangan yang lain masih mengenggam jemari gadis itu. Tak melepaskannya seraya membawanya tepat di depan dada.

“Apa aku— kembali menyusahkan mu?” Jongin hanya mengeleng dan menahan Jiyeon yang hendak beranjak dari posisi tidurnya.

Yak! Apa yang ingin kau lakukan?”

“Aku baik-baik saja, mianhae-— aku pasti kembali menyusahkan mu dan mengacaukan kencan mu bersama Yerie.”

“Aku tidak peduli.” Ucap Jongin lalu memaksa Jiyeon untuk kembali merebahkan tubuhnya. “Tubuh mu masih dingin dan kepala mu masih hangat, jadi jangan bergerak apalagi beranjak, kau mengerti?”

Jongin membenarkan tata letak selimut yang sepertinya tak cukup untuk menghangatkan Jiyeon, Jongin pun berpikir sejenak, teringat kala sang ibu yang memeluk Jiyeon untuk membuat gadis itu merasa hangat lebih cepat saat tragedi air hujan beberapa tahun yang lalu. Tanpa kata Jongin pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Jiyeon, menarik tubuh Jiyeon yang terpaku dan membawa gadis itu ke dalam pelukan eratnya.

“Oppa—”

“Diamlah! Jika tubuhmu masih saja panas dingin, maka kita akan bermalam di klinik ini. Dan jika itu terjadi ayah dan ibu pasti akan cemas.”

Jongin semakin menarik Jiyeon dalam pelukannya, meletakkan dagunya di atas kepala Jiyeon, hingga membuat gadis itu tenggelam di balik rangkulan Jongin yang kian mengerat. Mengusap punggung dan rambut Jiyeon dengan lembut, bernafas lega karena kini Jiyeon sudah semakin membaik.

“Cepatlah sembuh Jiyeon-aa, berjanjilah untuk tidak lagi membuat ku takut dan membuat ku benar-benar tidak bisa bernafas karena sangat mencemaskanmu.”

Jiyeon meneteskan air mata yang tanpa perintah sudah berkumpul di ujung soket beningnya, memejamkan matanya seraya mengangguk pelan. Membiarkan Jongin memeluk tubuhnya, menenggelamkan wajahnya di dada Jongin yang hangat. Dan demi Tuhan Jiyeon sangat ingin jika waktu berhenti berputar, hingga dia dapat terus berada sedekat ini dengan Jongin, bersama laki-laki yang begitu di cintai Jiyeon dengan segenap jiwa dan raga, tanpa rasa takut akan status yang ada di antara mereka.

***

Detik berlalu dalam diam, perlahan Jiyeon membuka matanya saat tiba-tiba dia teringat akan sosok Seo Yerie, sosok gadis yang menurut Jiyeon tidak pantas untuk di sakiti, tidak pantas untuk di abaikan oleh Jongin karena laki-laki itulah yang memilih Yerie bukan sebaliknya. Dan Jiyeon juga tidak pernah tahu jika sosok gadis yang di khawatirkannya itulah yang justru, membuatnya terpisah dari Jongin di arena festival dan menghantarkannya pada situasi yang membahayakan nyawanya.

Oppa—“

Heemm—-“ Jongin yang masih mengusap punggung Jiyeon, terlihat menunduk menatap Jiyeon yang masih bersandar nyaman di dadanya.

“Apa kau tidak ingin menghubungi Yerie?”

“Tidak!”

Oppa dia gadis yang baik, kau tidak boleh menyakitinya.”

“Aku tidak menyukainya, Sehun yang meminta ku menjalin hubungan dengan gadis manja itu.”

Nde? Tapi— tetap saja oppa harus bertanggung jawab,”

“Berhenti bicara dan tidurlah! Aku tidak ingin membahasnya.”

“Tapi—-“

“Aku mengencaninya hanya karena ingin melupakanmu.”

Jiyeon terdiam seketika, mendongak menatap Jongin yang sudah menatapnya dengan lembut. Memaku dalam pikiran binggung hingga hanya mampu membisu, membiarkan pandangan mereka berdua saling menyatu.

“Aku ingin sekali melupakan kehadiranmu, ingin sekali menghilangkan rasa cinta terlarang ini dari dalam dasar hati ku. Tapi semakin aku mencobanya, aku justru semakin menginginkanmu, semakin ingin memelukmu, semakin tak mampu untuk meniadakanmu dari dalam pikiranku. Apa kau punya cara untuk membantuku melupakanmu, Jiyeon?”

Jiyeon semakin membeku, merasa jika matanya kembali berembun. Jiyeon merasa dadanya sesak, tak mampu menahan air mata yang kian mendesak untuk menetes. Merentas hati saat tak mempunyai jawaban atas pertanyaan Jongin, semakin terdiam saat merasakan jemari hangat Jongin membelai lembut pipinya yang basah, merasa jika dirinya pun merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Jongin saat ini.

“Aku ingin sekali menghapus mu dari jejak hidup ku, tapi— aku— merasa itu sangat sulit, aku—“ ucapan Jongin terputus seketika, saat Jiyeon mengucapkan sebaris kalimat yang membuat pupil coklatnya membulat. Tubuhnya mematung terkejut dengan jantung yang Jongin rasa, lupa untuk sekedar berdetak.

Sarangae—“

Air mata Jiyeon semakin mengalir tak terbendung di pipinya yang pucat, memandang Jongin yang masih terkejut dengan ucapannya barusan. Jiyeon merasa sudah tak kuat menahan luapan cintanya untuk Jongin, sudah merasa tak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ucapan cinta yang kembali di suarakan oleh bibirnya yang gemetar.

Sarangaeo, Jongin oppa.”

Jiyeon terisak pelan saat Jongin pada akhirnya mengecup keningnya, membelai wajahnya dengan senyum kelegaan yang terbaca mata. Jongin benar-benar tidak percaya jika Jiyeon juga merasakan hal yang sama, tidak percaya jika Jiyeon juga jatuh cinta pada dirinya, tidak percaya jika rasanya selama ini akhirnya bersambut.

Jongin membelai wajah Jiyeon sekali lagi, semakin mendekatkan wajahnya seraya menautkan bibirnya di bibir Jiyeon. Mengecupnya dengan sangat lembut dan perlahan, meluapkan rasa cintanya pada Jiyeon, pada sosok adik angkat yang selalu mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Yang selalu mampu membuatnya khawatir dan selalu mampu membuatnya sakit karena terlalu merindu.

Gomawo aku sangat mencintaimu, Song Jiyeon.”

Jiyeon mengangguk pelan dalam isak yang belum beranjak, kembali menenggelamkan wajahnya dan menangis di dalam pelukan Jongin yang mengerat, merasa sangat lega karena mampu menyuarakan perasaannya pada Jongin. Dan mengabaikan semua hal buruk yang akan terjadi pada mereka sebentar lagi, hal buruk dari pertautan rasa terlarang yang terjalin di antara mereka.

~ TBC ~

Iklan

10 pemikiran pada “Forbidden Feeling (Chapter 7)

  1. yeeeyyy.. akhirnya.. keluar juga.. aku suka chap ini.. mereka berdua sudah bisa mengutarakan perasaan mereka weeww.. wahhh… tapi gimana sama status kakak adik mereka ya? orang tua mereka kan sangat anti sama hubungan terlarang mereka? wuiihhh penasariiiinnn…
    next chap thor..

  2. Ahhh… sedihnya, aku jadi nangis beneran. Kebayang cinta mereka berdua gga bisa bersatu. Baik Jiyeon maupun Jongin sama-sama tersiksa dengan keadaan perasaan cintanya mereka,dan semoga aja hubungan mereka nantinya baik-baik aja. Aku suka banget sama Ffnya!!
    KEEP WRITING!! And
    Good Job..

  3. Poor Yerie 😥😥
    Diphp-in sama sijongin
    Udah lah, pindah aja ke indonesia terus pacaran :v *abaikan
    Fast update and keep writing thorr
    Fighting 😁❤️

  4. Akhirnya jiyeon mengutarakan perasaannya sejujurnya pada jongin bahwa ia mencintai jongin seperti jongin mencintai.
    Mengapa jonghyun tak bisa membuat jongin bahagia dengan pilihannya yaitu jiyeon aku tau status mereka tapi kan mereka bukan saudara kandung dan belum sampai di pengadilan juga berkasnya.
    Kumohon buatlah mereka bisa memiliki satu sama la

  5. astaga nagaaaa
    jongin sweet banget sumpah

    aku suka sama cara sehun memperlakukan jiyeon (jadi pingin punya kakak cowok)
    jadi aku pikir, kenapa gak orang tua sehun aja yang beneran ngadopsi jiyeon?
    itu akan lebih baik
    author: gak seru dong ceritanya
    me: hahaa peace kak, just kidding ^^

    semangat ya kak
    tengkyuuuu :*

  6. akhirnya jiyeon ngungkapin perasaannya jugak sama jongin 🙂 tapi sedih jugak karna sebentar lagi mereka bakal sah jadi kakak adik 😥

  7. Meltinggggg banget kereeeen banget jongiiiin OMG romantic pisan ga kuat bayangin tiap adegannya! ^^
    Sumpah ga bohong ini bagus banget! Bahasanya makin keren, gaya tulisannya ga ribet, dan alurnya ga buru-buru semuanya pas! Bikin feelnya makin dapet!
    Pokoknya next chapnya jangan lama-lama y thor kami tunggu! ^^

  8. ohhh astagaaaaaa…bikin deg degan beneran dehhh,..ughh akhirnyaa jiyeonnn jujur juga maa jonginn..huaaaa betapa bahagianya dirikuu,.
    .engga perduliii sama masalah apa yg bakalan hadirr..yg penting mereka saling mencintaiiiiiiii..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s