Membantumu (Pergi, Sana!)

MEMBANTUMU ( PERGI, SANA! )

Summary :

Sulli pikir dia cuma membantu Sehun ( karna dia kelihatan kesepian dan- yah- suram ) tapi Sehun pikir Sulli itu parasit ( Seriusan, siapa yang bilang ia akan mengikuti orang lain sampai ke-ujung dunia? Kurang kerjaan iya.)

Masalahnya, setiap kali Sehun mengusir gadis itu untuk pergi dari hidupnya, niat gadis itu untuk selangkah lebih dekat dengannya malah bertambah.

Ah, kalau saja jin yang bisa mengabulkan 3 permintaan itu benar-benar ada– Sehun cuma punya satu permintaan saja kok.

Take a Peek.

“Kau kesepian kan? Aku bisa tahu itu dari matamu,”

Sehun hampir menabrak wastafel di belakangnya karna gadis ini tiba-tiba muncul ( jangan-jangan dia hantu!? datang tak diundang pulang tak- ) dan dia menoleh ke kanan kiri untuk memastikan apa ia jangan-jangan tidak sengaja pergi ke tempat yang salah lalu memandang gadis itu dengan ekspresi horor.

“Kau sadar kau sedang ada di dalam KAMAR MANDI PRIA?

i / ii : membantunya ( pergi! )

Dimana hari yang biasa menjadi berantakan.

“Oh-ho, jadi kau tinggal di apartemen seperti ini– sendirian?”

Sulli menengok ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada satupun pemandangan yang meng-enakkan untuk dilihat. Kali ini Sulli jurinya- untuk menilai sebagus apa sih ruang ini. Tangannya di lipat di depan dada dan yah- mungkin Sulli akan memberi nilai 0 bagi siapapun yang mendekorasi ruang ini.

“Hei,”

Tidak ada gambar, jam dinding tidak bewarna, ayolah! Sulli tahu ini kamar apartemen tapi pajanglah sesuatu nek? ( karna kata kek terlalu mainstream ) Sulli lalu berputar 180 derajat, tipe putaran seperti cewek di iklan sampo yang biasa kau lihat untuk menunjukkan betapa bagusnya- lebatnya- bersihnya- rambut mereka. Dan Sulli menatap laki-laki dengan rambut berantakan dan tatapan membunuh itu.

“Kau sudah tinggal sendiri, kamar apartemen mu begitu kosong,” Sulli ( dengan posisi tangan di dagu ) melihat Sehun dari atas sampai bawah. Wow! Kaos putih biasa dan celana hitam– sangat– mengejutkan.

“Pantas saja kau suram!”

Jari telunjuk Sulli mendorong hidung Sehun, tapi Sehun tidak mengganti ekspresi blank-nya.

“…Kau mau keluar sendiri atau kulempar lewat jendela?”

part i/ii : membantumu ( pergi, sana! )

Harusnya, seharusnya, ini jadi pagi yang bagus untuk Sehun. Lagipula ini hari minggu. Dengan dia terus berada dalam mimpinya meng-enakkan ( abaikan bahasa absurd author plis ) tubuhnya di atas pulau kapuk, selimut menutupi badannya, dan langit cerah di luar apartemennya.

Kali ini mimpi Sehun juga indah. Ia barusan beberapa hari lalu bertemu manusia yang tidak ingin ia temui dalam hidupnya. Ever. ( Tapi ia tetap bertemu dengannya lagipula, takdir memang kejam ) kemarin. Namanya Choi Sulli. Ia tidak tahu dosa apa yang telah ia perbuat sampai ia harus bertemu ( dan diikuti, 24 jam, ) oleh gadis itu. Ia terus berkata hal-hal seperti–

“Kau butuh teman!”

“Kalau kau sakit siapa yang akan menjengukmu hayo?”

Dan hal-hal yang sudah dikatakan orang-orang jaman terdahulu juga, atau teori ( persetan dengan teori kalau hasilnya aku diikuti oleh orang ini ) seperti–

“Manusia pada dasarnya itu mahkluk sosial!”

Dan saat kemarin, Sehun hanya terus makan bekalnya di saat istirahat tanpa menunjukkan sikap kalau ada orang di sampingnya- dengan- yah, susah payah- ( padahal orang yang ada di sampingnya itu terus mengoceh keras dan jelas-jelas sulit untuk tidak di notice ) walau ia berusaha keras untuk tidak kasar pada gadis ( bodoh ). Sementara murid-murid lain berbisik tentang Sulli yang berani mendekati si menyeramkan bernama Sehun itu.

“Kalau kau tidak sosial sama sekali-”

Sehun hampir tersedak saat tangannya yang menggenggam sendok yang ada di ujung mulutnya di pegang oleh gadis itu. Terlalu dekat. Semuanya terlalu dekat, mata hazelnya, hidungnya, wajahnya terlalu dekat dengan Sehun. (Oh tuhan, apa gadis ini bahkan tau apa artinya personal space? Mungkin tidak. Gadis ini sepertinya terlalu bodoh untuk itu- kata Sehun ) kenapa tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya seperti itu? apa ia mau mati?

Ia memandang Sehun dan pandangan menuduh. “Berarti kau bukan manusia!”

“Kau-”

Sehun ( susah payah ) meneguk makanannya. Susah sekali rasanya mungkin karna wajah cantik gadis bodoh itu terlalu dekat dengannya, sebelum ia melanjutkan. “-bisa pergi dari sini?”

Gelengan kepala Sulli rasanya terlalu cepat, seperti anak kecil yang ditanya apa ia mau dicubit atau tidak karena tidak menurut. “Lalu meninggalkanmu sendirian dan kesepian disini? Tidak!”

Lalu hal selanjutnya yang terjadi- hah- Sehun capek untuk mengingat itu lagi. Itu kan kemarin. Kenapa memori kemarin masuk otaknya lagi? tapi yang jelas peristiwa kemarin membuatnya tidak habis pikir. Apa gadis itu paham kata ‘aku tidak kesepian’ atau tidak. Karna Sehun jelas-jelas tidak kesepian.

( Iya kok, sungguh. )

Ia sudah terbiasa makan sendiri, mengabaikan sapaan dan siapapun yang menyatakan cinta padanya ( cinta itu bodoh, membuat orang lemah dan pokoknya itu bodoh ) tidak membuat teman, meh, teman itu bisa menjadi musuhmu pada akhirnya. Menusukmu dari belakang dan hal lain yang dramatis. Ia malah sering bertengkar malah- jadi bisa ia bilang ia melakukan pekerjaan seperti- menghindari orang-orang- dengan baik.

Tapi gadis ini, sesusah apapun ia mengindarinya- sepertinya gadis ini punya kekuatan sihir yang membuatnya bisa muncul di sebelah Sehun kapanpun dia mau ( termasuk di kamar mandi pria, Sehun perlu membawa Sulli dengan perut gadis itu di bahunya dan kepala terjungkal di belakang punggung Sehun sementara teriakan perempuan seperti ‘SEHUN LEPASKAN AKU’ dan teriakan Sehun yang menjerit- ‘SAKIT, BODOH!’ menggema, ( juga, rasa sakit di punggungnya karna jotosan gadis itu bukan main ) baru ia bisa mengeluarkan Sulli dari tempat yang seharusnya terlarang bagi perempuan.  )

Jadi, mungkin, tadi malam ia berharap ia bisa bebas dari gadis itu dan jadi sendirian lagi.

Dan, mungkin itu terbawa di mimpi.

Di mimpinya, ia melihat Sulli menghilang di hadapannya. Ia menangis karna ia akan pindah ke luar kota- tidak di Seoul lagi dan ia jadinya tidak bisa menemani Sehun..

“Nanti aku akan pergi dan kau akan kesepian–”

“Aku tidak pernah kesepian, bodoh!”

Ia sudah senang Sulli masuk ke dalam pesawat, melambaikan tangannya dan yang membuat laki-laki itu bahagia adalah ia akhirnya bisa bebas sendiri lagi- tanpa parasit. Dan akhirnya ia bisa menikmati hidupnya seperti sebelumnya- sebelum-

“Sehun! Bangun!”

Ah ibu, ia pikir ia sudah senang dengan mimpinya. “Aku mau istirahat lebih lama lagi,” ia bergumam. Agak kecewa bayangan bandara dan pesawat ( serta Sulli yang menyedihkan itu menangis ) itu menghilang. Ia pikir yang perlu ia lakukan hanya menutup mata lagi, dan melajutkan mimpinya ( itu sering terjadi kan? )

“Baiklah! Tidak apa! Aku ada di sini kok biar kau tidak kesepian!”

Tunggu. Ibunya kan– tidak tinggal bersamanya lagi, ia sEKARANG HARUSNYA ADA DI APARTEMEN DAN TINGGAL SENDIRI. JANGAN-JANGAN SUARA INI-

“SEDANG APA KAU DISINI!”

Mata sehun yang membuka lebar dan ia duduk tiba-tiba ( gara-gara itu kepalanya langsung pusing, semua ini gara-gara Sulli ) di atas kasur bertemu mata coklat Sulli yang dengan santainya berdiri di tengah ruang Sehun, tangan dilipat di depan dada dan ia mengamati ruangannya itu.

“Oh, kau sudah mau bangun?”

Sehun buru-buru berdiri dan loncat dari kasurnya ( rasa pusingnya seakan bertambah, Sehun menyalahkan Sulli untuk itu ) dan sementara ia mendengar gadis di depannya mengoceh tentang alasan kenapa ia suram dan bagaimana kosongnya kamar apartemennya itu, Sehun menyipitkan matanya padanya.

“…Kau mau keluar sendiri atau kulempar lewat jendela?”

Sulli cemberut dengan perkataan ( tidak baik ) Sehun. “Aku mau kau-keluarkan lewat jendela karna awalnya aku memang masuk lewat situ, tapi jangan di lempar!”

Oh. Jadi seperti itu caranya masuk. Sehun menghela nafas dan memijat dahinya. Rasanya- ia sudah mengunci jendelanya tadi malam ( Ia orang yang waspada, kau tahu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak mengunci jendelamu, tapi yah, ada hal yang terjadi juga walaupun ia sudah mengunci jendelanya ). Sulli menatap secara inosen ke sehun, lalu melepas salah satu jepit rambutnya yang ia gunakan untuk membuat poninya tidak jatuh ke dahinya-

“Ini!” Sulli berkata dengan bangga ( dan senyuman lebar- terlalu lebar kalau kau tanya Sehun ) dan Sehun mengamati jepit kawat ( yang bisa dibuat untuk membuka kunci seperti yang terjadi di film-film- ) yang Sulli pegang.

“Sekarang, kau mau keluar tidak?”

Sehun tidak perlu bertanya kenapa Sulli ada disini karna pasti jawabannya tidak akan jauh dengan kata-kata ‘untuk menemanimu yang kesepian!’ tapi Sulli hanya menggelengkan kepala pada perkataan Sehun. “Aku bahkan memasakkan sarapan pagi untukmu! Nanti kita bisa makan bersama!”

Sehun menatap meja makannya- benar saja ada makanan- tapi begitu ia mendekati meja makannya itu ia meringis. “Kau menyebut ini– makanan?” dan ia menggantungkan roti gosong yang bewarna hitam di tangannya ( seriusan itu hitam sekali. Apa gadis ini tahu cara membakar roti? ) serta mengamatinya dengan berkedip tidak yakin.

“Aku setidaknya sudah berusaha! Hei, ayo mak–”

“Tunggu,”

Sulli berhenti berjalan ( dengan bahagia ) begitu tangan Sehun memberhentikannya. “Akan ada orang yang mengirim koran di depan pintu apartemen, aku ingin kau mengambil korannya baru kita bisa makan,”

“Ohhh ada servis seperti itu juga ya?” Tidak. Tidak ada. Sepertinya ada bintang kebahagiaan di mata Sulli- karna- Sehun setuju mau makan bersamanya. Ini perkembangan! artinya Sehun sudah terbuka dengan Sulli kan? “Waaah! Kita benar-benar akan makan bersama!” Sulli memasukkan jari-jarinya ke sela-sela tangannya, menaruh kedua tangannya ke pipinya. “Rasanya seperti suami istri saja!”

Jika Sehun sedang minum saat itu ia sudah pasti akan tersedak.

Jadi Sulli tanpa curiga pergi keluar untuk melihat lorong apartemen, hanya untuk bingung. Lalu menoleh ke bawah- kanan- dan kiri- “Yah! Sehun, tidak ada apa-apa disin–” dan melihat pintu apartemen-nya tertutup tepat di depan mukanya. Dan menyadari betapa bodohnya dia. ia berusaha membuka engsel pintu- terkunci. 

“SEHUUUUN! BUKAAAAAA!”

Sehun dengan santainya duduk di depan meja makan, mengamati kedua roti dan berpikir apa yang harus ia lakukan pada kedua benda hitam itu. ( diberikan ke kucing jalanan? Bagaiamana kalau mereka keracunan? Atau- ia buang? Ah. Tidak bisa. Ibunya selalu berkata untuk tidak mubadzir. ) lalu ia melirik pada kedua telur yang ada di tengah meja.

Sulli cemberut saat gedoran pintunya tidak dibalas oleh Sehun. Tidak sopan! Ia bahkan menyiapkan makanan untuk Sehun dan rela bangun pagi-pagi lalu pergi ke alamat yang sudah Kai berikan padanya hanya untuk diusir begini? “Ah, sudahlah,” Sulli mendesah, lalu tersenyum lagi.

“Sampai jumpa besok di sekolah!”

Sementara di dalam apartemen, lelaki itu tersedak karna rasa asin yang tidak tertahankan dari telur buatan Sulli.

Jika Sehun mengingat lagi kenapa ia bisa ada di situasi ini, ia akan menyalahkan keputusan guru.

Salahkan keputusan guru untuk memasukkannya ke kelas 6-A- kelas yang sialnya- ada parasit ( Hint : bernama Choi Sulli ) di dalamnya. Pertama kali ia masuk kelas itu ia pikir ia akan biasa saja- seperti hari biasa- abaikan orang-orang di sekelilingmu dan beri pelajaran pada mereka yang membuat masalah. Tapi ia tidak sadar ada dua orang murid yang berbisikkan dari jauh di hari pertama ia masuk.

“Hoi, Krystal, kenapa di sendirian?”

“Sehun sendirian? Itu sudah biasakan? Kenapa perlu dipertanyakan? Dia memang seperti itu. Kelihatannya dia memang tidak suka berteman. Aku dengar dia berkali-kali bertengkar dengan anak lain loh, masalahnya sepele sih, karna si ceweknya orang kuat ini suka pada Sehun dan Sehun mengabaikan pernyataan cintanya. Tapi tetap saja, dia seram, jangan dekat-dekat– hei, Ssul? Kau mau kemana!?”

Dan itulah asal mula di mana ia punya parasit. Gara-gara ia masuk kelas 6-A. ( Gara-gara Krystal juga, sebenarnya ) dan pokoknya, semuanya salah.

Pagi ini, yang ia inginkan hanyalah agar tidak bertemu orang yang ada di apartemennya secara tiba-tiba seperti kemarin. Memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket, ia menghela nafas.

“Hei! Hun!”

Ia menoleh dan melihat Kai menunjukkan giginya. Entah, Sehun menilai-nya sebagai versi kurang ekstrim dari Choi Sulli. kalau Choi Sulli ada di level 5 dalam game aku-akan-berada-di-sisi-sehun-selamanya! Kai cuma ada di level 1, di mana ia tidak separah gadis yang tidak akan pernah Sehun pahami itu. Kai melingkarkan tanganya ke lelaki suram itu sementara Sehun buru-buru mencegah Kai agar tidak melakukan itu. Menyebabkan tangan Kai menggelantung di sisinya dan ia cemberut.

“Bisa tinggalkan aku sendiri?”

“Oh, geez, kau benar-benar tidak ingin punya teman ya?”

Kata-kata Kai mengingatkan Sehun pada sesuatu. “Kau benar-benar tidak mau punya teman ya? Semua orang butuh teman tahu! Bahkan orang paling pendiam sekalipun! Mereka butuh satu teman sejati di sampingnya!” Tentu saja. sehun menggelengkan kepala. Tentu saja ia kan teringat pada kata-kata Choi Sulli kemarin. Siapa lagi.

“Ah, ngomong-ngomong aku dapat sms dari Krystal!”

Kai menatap HP-nya dengan antusias, dan Sehun tidak paham bagaimana ia bisa se-antusias itu. “Bagaimana soalmu dan Sulli? Kalian terlihat sangat dekat,”

“APA?”

Pandangan Kai menuduh, ia menyipitkan matanya dan kepalanya ia dekatkan ke Sehun. Sementara murid-murid lain melihat mereka karna Sehun yang tiba-tiba berteriak ( seriusan, siapa yang tidak akan kaget dibilangi seperti itu? ) dan setelah murid-murid lain melanjutkan aktifitasnya lagi karena mereka mendadak diam ( ternyata Sehun sadar apa yang suara kerasnya perbuat ) dan ia baru membalas- “Jangan bodoh!”

Sehun berusaha menetapkan suara cool-nya tapi gagal. “Memangnya siapa yang mau berhubungan dengannya? Dia cuma stalker gila.” Kai tetap memandanginya dengan tidak yakin, sebelum menegakkan posturnya dan tersenyum lebar.

“Kau tahu cerita tentang orang yang jatuh cinta pada orang yang ia benci? hati-hati loh, Hun,”

“Sudah kubilang jangan ngawur!”

Dan Kai merasakan jitakan mendarat di kepalanya.

“Ini,”

Sehun berkedip pada bungkusan yang Krystal berikan, sementara Kai mengintip dari belakang Sehun dengan penasaran.

“Sulli bilang ini buatmu, dan ia bilang, kau harus makan pagi,” Krystal berusaha mengingat, mengabaikan pesan Sulli untuk bilang bahwa makanan itu ditaburi dengan cintanya dan ia dengan ikhlas membuat makanan itu walaupun buru-buru. ( dan juga, kecupan di pipinya- ia bilang salurkan itu pada Sehun biar ia tidak kesepian- Krystal meringis dan berpura-pura mencuci pipinya 7 kali di wastafel ) “Jadi makan ya, awas kalau tidak,”

Krystal tidak menunggu, ia mendorong bungkusan itu ke dada Sehun. “Ia tidak bisa datang hari ini,” cuma itu yang Krytal katakan padanya, lalu entah bagaimana, Kai menghilang dari sampingnya dan mengikuti Krystal. Ia berkedip, Sulli tidak datang? Yay! Harusnya- ia bahagia kan? Tentu saja ia harus bahagia! Setelah apa yang gadis itu lakukan di hari minggu dan hari-hari sebelumnya.

Tapi entah kenapa Sehun merasa aneh.

Tahu seperti apa makanan yang Sulli buat, Sehun tidak melakukan apa yang Krystal katakan. Tidak ‘tidak kaumakan’ jadi ia menaruh bungkusan makanan itu ( kelihatannya itu burger ) ke loker sebelah ( yang bahkan ia tidak tahu milik siapa ) , pergi ke kelas dan duduk ke kursinya seperti biasa.

Ia masih ingat kemarin-kemarin– di kursi inilah Sulli datang kepadanya dengan senyum lebar. Sehun pikir Sulli adalah gadis lain yang ingin menyatakan cintanya- jadi Sehun cuek saja dan fokus ke novel yang ia bawa ke ( sembunyi-sembunyi ) ke sekolah.

“Hei, kamu Sehun kan? Aku Sulli!”

Pembukaan yang payah untuk menyatakan cinta. “Kamu kelihatan kesepian,”

Huh? Bukan menyatakan cinta ya? Sehun melirik malas ke gadis itu dan kalau saja perasaannya tidak di tutupi oleh ego- ia bakal bilang gadis di depannya itu bidadari. Dengan rambut panjangnya yang ia ikat ke samping, senyum lebarnya yang secerah matahari di luar sekolah, dan kedua tangan di balik badan serta ia yang menjinjit jinjit- sepertinya terlalu antusias.

“Aku tidak pernah merasa kesepian. Kalau kau kesini cuma untuk meng-judge, kau bisa pergi dari sini dan lakukan itu dari bangkumu, aku tidak peduli,” -tapi kemudian pandangan tulisan yang ada di depannya berubah seraya gadis itu mengangkat bukunya. Ia barusan mau menembak gadis itu dengan death glare- tapi gadis itu dengan inosennya berkata- “Aku tidak meng-judge kok, aku cuma mau kesini untuk bilang aku mau jadi temanmu!”

Dan ternyata definisi teman bagi Sulli adalah orang yang mengikuti dirinya kemana-mana, Sehun menggelengkan kepala pada memori itu. Tapi yah, kali ini, hari ini, tidak ada lagi yang mengganggunya.

Istirahat pun juga sepi, Kai entah kemana, kelihatannya menghabiskan waktunya dengan si teman Sulli itu- siapa namanya? Krista? Krysi? Terserah, mana Sehun peduli. Dan ia sepertinya mendengarkan sesuatu yang menarik di siang itu–

“Kau tahu, di lokerku tadi ada burger- sepertinya dari salah satu fans-ku!” suara laki-laki itu membanggangkan diri sementara Sehun mendengus. Kau tidak akan sebahagia itu kalau ka tahu fans mu adalah Sulli. 

“Rasanya, oh tuhan, seperti surga!”

Sehun pasti salah dengar. Yang benar saja, ia yakin lidahnya tidak bermasalah kemarin. Rasa asin di telur itu membuatnya ingin mati. Jadi, lidah siapa yang sebenarnya bermasalah?

“Kenapa kau mendekati Sehun seperti Sulli?”

Tatapan cemberut Krystal membuat Kai ingin mencubit bibirnya- tapi, yah. Ia akan kena omel nanti. Jadi Kai hanya tersenyum sambil mengelus rambut pacarnya itu. “Yah, kau tahu, guru Park kemarin memanggilku ke kantor,”

“Kau tahu murid bernama Oh sehun itu?”

“Uhm, ya pak,”

Kai sebenarnya takut setengah mati saat dibilang ia dipanggil ke ruang guru. Apa yang dilakukannya? Kai bersumpah ia adalah anak baik. Ia bahkan tidak pernah bertengkar seperti apa yang dilakukan murid yang disebutkan gurunya itu.

“Bisa kau mencoba berteman dengannya?”

“A-apa? T-tapi– kenapa?”

Lalu guru Park memberitahu- satu- tidak, mungkin beberapa rahasia tentang seseorang tertentu ( kau tahu siapa ) dan sementara Pak Park memberitahu lebih banyak rahasia kerutan di dahi Kai semakin menghilang dan berubah jadi ekspresi  yang lebih lunak.

“Ah, kalau begitu kasihan Sehun,”

“Yah, aku juga berpikir begitu,” Kai ikut melihat lantai bersama pacarnya itu. Lalu melanjutkan, “Tapi kelihatannya Sulli melakukan tugas yang lebih baik dengan menjadi temannya daripada ak–”

“Hei kalian,”

Mata mereka berdua membelalak pada arah suara yang familiar itu,

Oh Sehun, 

Kai menggigit bibirnya. Jangan-jangan ia dengar itu semua? Hal-hal tentang kenapa Kai dekat ( setidaknya, ia berusaha ) dengan Sehun. Sial! Hal itu kan seharusnya jadi topik sensitif, apalagi bagi Sehun. Terus, menyangkut masalah pribadinya. Membaca ekspresi resah Kai, Krystal memeras tangan Kai dan maju- berusaha untuk setidaknya mengeluarkan alasan terbaik-

“Sehun, kami-”

“Aku tidak pernah bertanya kenapa– Sulli tidak masuk,”

Sunyi.

Dan sebelum Sehun sempat memberi tatapan aneh pada mereka, Krystal terbata-bata menjawab- “Rumah sakit! Rumah sakit terdekat dari sekolah, kau tahu kan? Ibunya tiba-tiba jatuh sakit tadi pagi,”

Sunyi lagi.

“Oh,”

Dan Sehun beranjak untuk pergi. mereka terlalu tenggelam pada kemungkinan bahwa Sehun akan marah kalau mereka membahas tentang kehidupan pribadi Sehun sampai mereka tidak memperhatikan ada yang janggal- “Sehun, kau dengar apa yang sebelumnya kami bicarakan?” Kai berani menanyakan.

Sehun berhenti sejenak. ( Dan itu membuat Kai sangat-sangat, takut ) lalu memutar badan dan memberikan tatapan bosannya seperti biasa. “Tentang gombalan kalian pada satu sama lain? Aku bahkan tidak mau mendengar itu.”

Dan Kai bisa bernafas lega, –ia tidak dengar. Sebelum matanya terbelalak, menyadari sesuatu yang janggal itu bersamaan dengan Krystal. “Dan Sehun! Berjuanglah mengejar cintamu!”

“Iya Sehun! Jaga Sulli baik-baik untukku!”

Sehun hampir tersandung walaupun tidak ada batu di depannya.

“Ibu, aku bertemu orang,”

Tangan Sulli menggenggam tangan ibunya erat. Senyum lemah terdekorasi ke wajah lelah ibunya sementara suara ‘beep-beep’ familiar masuk ke telinga nya dari mesin detak jantung. Bius masuk ke tangan ibunya ( yang tidak dipegang Sulli, tentu saja ) dan bau rumah sakit masuk ke hidungnya.

“Dia tidak suka mempunyai teman, tapi aku ingin berteman dengannya,”

Ibunya berkedip pada gadisnya itu. “Tapi gara-gara itu dia selalu mengusirku- Padahal dia seharusnya tidak bersikap seperti itu kan?” Sulli cemberut, menatap kerutan di tangan ibunya.

“Tidak semua orang bersikap seperti yang kau inginkan, sayang,” Sulli menatap ke mata ibunya. “Kalau ia memang kesepian, dia lama-lama akan membiarkanmu jadi temannya.”

“Menurut ibu dia butuh aku?”

Ibu Sulli tersenyum. “Apa menurutmu ia membutuhkanmu?”

Sulli termenung sebentar. “Kalau kalian memang membutuhkan satu sama lain- nantinya ada suatu hari dimana kalian bersatu.”

Suatu hari. Sulli berpikir setelah menyuruh ibunya untuk tidur dan beristirahat- mengenang bagaimana tadi pagi ibunya jatuh pinsang di dapur dan adiknya yang menjerit. Ia sudah bilang pada ayahnya untuk kerja saja- dan adiknya untuk sekolah saja- dan sms Krystal untuk bilang bahwa dia Izin. Setelah ibunya menutup mata, Sulli menatap jendela di sebelah kasur ibunya- yang memperlihatkan langit biru- awan yang menutupi matahari.

Apa hari itu– akan datang ya?

Sulli menarik tas-nya, wajahnya lebih cerah dan ia mengepalkan tangannya. Akan kubuktikan kalau begitu- kalau kita memang butuh satu sama lain! Akan kubuktikan Sehun itu sebenarnya kesepian tapi ia sendiri menolak fakta itu! Dan ia keluar dari rumah sakit, lalu mulai berlari- Karna aku, tidak akan membuatnya kesepian lagi, aku adalah pasangan hidupnya!

Sehun tidak yakin kenapa ia ingin pergi menjenguk Sulli- mungkin karna ia tidak punya kerjaan? Absurd. Ia ingin tanya kenapa burgernya bisa secara ajaib jadi enak? Canggung sekali. Ia kangen pada keberadaan Sulli? Hah. Itu bodoh sekali. ( walaupun mungkin itu alasannya, Sehun tidak mau mengakuinya lagipula. Jadi ia berhenti menanyakan dirinya kenapa. )

Tapi tidak jauh dari blok di dekat rumah sakit, ia mendengar sesuatu yang ganjil.

“AHH!”

“Apa? Anak cantik tidak bisa melawan?”

Bukan tidak bisa melawan- sebenarnya- Luhan berusaha sekuat tenaga untuk melawan- tapi 3 lawan 1- yang benar saja. Ia takut setengah mati sekarang, orang-orang di depannya tersenyum sadis. Ia memang sering dibully karna wajah cantiknya- ejekan dan bahkan tendangan memang sering dilontarkan tapi sekarang- ini berbeda- kenapa mereka merobek bajunya?

Ia berusaha memegangi bajunya yang sudah dirobek itu untuk menutupi dadanya yang terlihat. Ekspresi takut jelas terlihat di matanya. Ia tahu kalau ia berhak mendapatkan ini, ia tahu ia tidak berguna jadi ia berhak di-bully, lagipula. “Sini kau,” salah satu anak meraih tangannya ke Luhan dan Luhan menutup matanya, apapun yang akan datang- ia siap. “Sudah tidak ada artinya untuk melawan, bukan?”

“Bukannya tidak ada artinya juga untuk menindas orang?”

Mereka ber-4 menoleh balik untuk melihat seseorang berdiri di ujung gang, tas disampirkan ke belakang punggungnya ( keren, Luhan pikir ) dan matanya memancarkan hawa membunuh. “Tidak ada artinya juga sampah seperti kalian hidup kalau tujuan kalian adalah menindas,”

Itu seperti sudah ada bensin- lalu kata-kata Sehun seperti korek api yang dinyalakan- lalu dilemparkan ke cairan itu. Api kemarahan membara di tubuh para bully dan mereka membelalakkan matanya. “Beraninya kau, sudah bosan hidup, bocah?” Dan dengan itu, si bos, menunjukkan tangannya ke arah Sehun. “Beri dia pelajaran!”

(Cih, pengecut.)

Ini satu alasan lagi Sehun membenci orang-orang, walaupun Sulli bilang manusia adalah makhluk sosial seperti yang dikatakan siapa itu, Sehun memilih untuk tidak bersikap sosial karna manusia pada dasarnya jahat seperti yang dikatakan siapa itu. Sehun tidak suka orang A menindas orang B hanya karna si A punya kekuatan lebih, dan dengan alasan si B ini berbeda, walaupun sebenarnya si A dan si B adalah sama, mereka sama-sama manusia.

Pengalaman-nya bertengkar dulu-dulu tidak membawa kerugian pada pertarungannya saat ini. Ia belajar dari pengalaman, jadi ia menunduk, menghindari tendangan ke samping dari salah satu orang dan dengan cepat berdiri untuk mendorongnya ( sementara satu kakinya masih di udara ) sehingga badannya menghantam tembok. Orang kedua datang dan Sehun tahu gerakan yang akan ia lakukan selanjutnya beresiko- tapi ia lakukan- karna ia tidak punya begitu banyak waktu lagi pula, menumpukan kedua kakinya ke dinding kiri, ia meloncat hingga kakinya mendarat ke dinding kanan, ( posisinya lebih tinggi dari mereka sekarang ) dan ia mengayunkan kakinya ke atas sementara orangkedua itu melongo melihat Sehun, sebelum kakinya mendarat di atas kepalanya.

Dan ketika orang ketiga muncul, meneguk ludah pada kedua orang yang sudah tumbang, Sehun menaruh satu kakinya pada punggung orang kedua sebagai pijakan, dan mendarat ke tubuh orang ketiga. Orang ketiga punggungnya menghantam semen dan ia menoleh kesamping ketika tinju Sehun mendarat ke pipinya.

Ia lalu melihat ke arah Luhan sebentar, yang gemetaran dan tidak tahu harus berbuat apa.

“A-aku–”

“Kau, tidak apa-apa?”

Luhan menatap bawah, ragu-ragu, lalu menatap ke arah mata coklat ( mata itu gelap, itu agak mengerikan,) meneguk ludah, ia mulai bicara. “Kau tidak perlu melakukan itu,”

Ekspresi Sehun berubah menjadi lebih gelap sementara Luhan tidak tahu itu karna ia menunduk lagi. “Aku ini sudah tidak berguna, jadi aku pantas mendapat perlakuan ta–”

Kata-kata Luhan berhenti saat ia merasakan bajunya ditarik ke atas- badannya terpaksa berdiri- dan ia melihat mata coklat milik Sehun- ( api. disitu ada api dan emosi yang tidak bisa Luhan jelaskan ) “TIDAK BERGUNA APANYA? TIDAK ADA SIAPAPUN YANG BERHAK MENDAPAT PERLAKUAN SEPERTI ITU, TAHU!”

Luhan hampir lupa caranya bernafas, dan Sehun berusaha membuat dirinya tenang. “INI KENAPA AKU BENCI KALIAN ORANG-ORANG! BER-ASUMSI, ASUMSI SAJA YANG BURUK SOAL DIRIMU LALU TERUSLAH DAPATKAN PERLAKUAN BURUK DARI MEREKA! APA ITU, YANG KAU MAU?”

Apa itu yang Luhan mau? Luhan tidak yakin. Seharusnya- seharusnya jawabannya pasti tidak mau kan? Luhan memperhatikan kalau genggaman Sehun pada Luhan melemah. Dan Sehun mulai menatap tanah dan terlihat bersalah sudah berteriak- pada orang yang bahkan ia baru kenal beberapa menit- atau- detik yang lalu?

“Mungkin karna itu aku tidak mau mencoba terbuka- lalu berteman dengan orang yang salah-” Sehun terlihat seperti berbicara sendiri tapi ia sudah tidak peduli, sebelum- kesadaran memukulnya dan ia kembali melihat ke arah Luhan lagi, “Maaf, aku cuma mau bilang, semua orang termasuk kau, berhak mendapat kebahagiaan-”

Sehun hampir mau pergi- Ah. Dia kan tujuannya ke rumah sakit, kenapa sekarang ia malah berteriak marah-marah ke lelaki ini? Ia tidak bisa pergi ternyata, karna ada seseorang yang menariknya lagi dan ia merasakan kedua tangan memeluk tubuhnya.

“Aku tidak pernah mendengar siapapun bilang begitu padaku-” Luhan malu-malu, dan Sehun membelalakkan mata tidak percaya bahwa ia ada di pelukan lelaki ini- “Terima ka–”

“Sehun?”

Suara- yang sudah sangat familiar masuk ke telinga Sehun. Sulli memandang horor laki-laki di depannya- Sehun memegangi baju lelaki lain ( cantik, kenapa ia sangat cantik dan tampan dalam waktu yang sama? ) itu sudah robek. dan mereka- oh, tuhan, mereka- sangat dekat.

Sekarang Sulli tahu alasan kenapa Sehun terus mengusir keluar Sulli dari hidupnya.

“Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau tidak tertarik pada lawan jenis?”

8 pemikiran pada “Membantumu (Pergi, Sana!)

  1. Pliss gw gabisa berhenti ketawa..
    Saolooh ini sulli uda inosen, salah pokus juga njirr
    Dan Luhan juga terlalu melankolis galau baper ++ di pelukan sehun mantan pacarnya (?)
    Aah pokonya harus ada kelanjutannya thor..lucu bgt, bagus, keren, joahae

  2. thor mau nanya itu sulli udh gede atau masih kecil sih?:’v volos nya gak ketulungan,, dan sumpahnya aku baru baca luhan di peranin kaya begituan?! KEREN LAH THOOOR,,,
    .

    .

    .
    oe tunggu kelanjutanya thor….:-*

  3. thor mau nanya itu sulli udh gede atau masih kecil sih?:’v volos nya gak ketulungan,, dan sumpahnya aku baru baca luhan di peranin kaya begituan?! KEREN LAH THOOOR,,,
    .

    oe tunggu kelanjutanya thor….:-*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s