The Magic Thief (Chapter 3)

The Magic Thief

The Magic Thief

Title: ‘The Magic Thief’

Scriptwriter: Jean Kim

Main Cast: Seo Jinhee, Baekhyun, Lay, Suho, Chanyeol, Kai.

Support Cast: D.O, Chen, Xiumin, Tao, Sehun, Shim Jaewon (Beatburger Jae), Kim Taeyeon (SNSD)

Genre: Romance, Fluff, Comedy, Fantasy, Supernatural, Sad.

Duration: Long-Movie

Rating: PG-15

Ketika semua energi yang kau keluarkan hanya untuk di curi semata. Dan itu semua tercuri tanpa kau sadari dan digunakan sebagai sumber kehidupan mereka. Tapi, ternyata di atas pencuri-pencuri itu ada lagi pencuri lainnya.

Author Notes: Jengjengjeng……….akan muncul tokoh-tokoh baru setelah ini.

Pantengin terus yaaaa ❤ Gomawo readers

T h e   M a g i c   T h i e f

“Oke, ini dimana?” seorang gadis membuka matanya, ia baru saja tiba di sebuah tempat dengan rerumputan yang luas. Langit yang begitu cerah menyinari gadis itu.

Agassi?” sebuah suara muncul entah darimana, seperti sebuah telepati.

“Han, ini dimana?” tanya gadis itu membersihkan roknya setelah ia duduk di padang rumput itu. Matanya sedikit menyipit menghindari silaunya matahari, ia tidak terbiasa terkena sinar.

“Ah, maaf, jaringan disini sangat susah Agassi, koordinatnya sedikit melenceng, joseonghamnida,” suara itu memelan, seperti hampir kelihangan jaringan. Wajah gadis itu tidak berekspresi.

Algaesseo, hati-hatilah jangan sampai kau ketahuan olehnya,” gadis itu tersenyum setelah melihat area yang dipijaknya, “benar-benar begitu indah,” gumamnya dalam hati.

Agassi sepertinya menyukai planet ini ya sampai bisa tersenyum,” ucapnya menyela momen gadis itu menikmati yang dilihatnya.

“Apa kau sudah merubah keahlianmu Han?” ejek gadis itu sambil berjalan beberapa langkah. Respon dari Han hanya sebuah tawa kecil.

“Keahlian apa Agassi?” suaranya mulai mengecil seiring gadis itu berjalan. Dia menyusuri rumput yang di pijaknya dengan senang hati. Ia begitu penasaran melihat planet ini. Ya, dia bukan berasal dari bumi ini. Biasanya orang menyebut dia alien.

Geugeo mwoyeyo?” matanya menyipitkan menatap sesuatu dari kejauhan. Dia tidak salah melihat, ada dua sosok yang berdiri sekitar hampir satu kilo meter dari tempatnya berdiri. Begitu jauh hingga ia hampir penasaran ingin mendekatinya, tetapi……

Jaa, kita siap berpindah,” ucap Han sambil menekan tombol.

Ya, Jongin!” ‘wussssssh’ gadis itu kembali hilang. Dia sempat melihat seseorang dikejauhan dan ingin memprotes kenapa dia langsung menghilang, tapi dia langsung menghilang tanpa jejak, seperti teleportasi yang baru saja dilakukan Jongin. Tapi, tidak meninggalkan bekas sedikit pun.

T h e   M a g i c   T h i e f

Museun iri…..,” kedua sosok yang di lihat gadis itu adalah Chanyeol dan Kai yang membawanya ketempat itu. Ia menarik-narik lengan Chanyeol yang sepertinya terlihat lelah. Maklum saja, kekuatan mereka sangat berbeda sumber. Kai yang sedang melejit dan Chanyeol yang notabene masih stabil popularitasnya memiliki perbedaan sedikit tapi lumayan fatal.

Hyung, aku melihat seseorang tadi,” ucap Jongin berdiri tepat diatas gadis itu berada tadi.

“Setidaknya kau jangan meninggalkanku disana dan langsung wusssssssh kemari dengan kekuatanmu,” omel Chanyeol dengan nafas tidak teratur.

Eo, benar hyung, mianhae,” kata Jongin santai, ia membantu hyungnya itu kembali ke posisi awal mereka di tepi hutan. Angin dengan pelan menghembus diantara mereka, membuat rerumputan melambai-lambai seperti lagu. Lalu mereka mendengar sebuah gemerincing lonceng. Itu tanda dari Suho yang mengirim pesan ke ponsel Kai.

“Aku akan menemukan sebuah petunjuk lalu kau bisa menjemputku kembali,” kata Chanyeol mengambil sebuah topi yang berada di rerumputan.

Araseo hyung, jangan sampai tersesat,” Jongin menatap Chanyeol heran, “aku tidak ingat hyung membawa topi kemari,” gumam Jongin pelan, tapi Chanyeol sudah berjalan menggenggam topi itu erat dan meneruskan pencariannya mencari jejak dari bau itu. Dia berjalan menuju sisi lain padang rumput itu yang penuh pohon. Sebenarnya ia hendak menghindari angin yang membuatnya ingin menguap. Udara yang hangat, nyaman dan juga angin yang berhembus sedikit dingin itu.

T h e   M a g i c   T h i e f

Yaaaa,” keluh gadis itu sambil menenteng sepatunya, “kira-kira kalau kau memindahkanku ketempat seperti ini,” ia mengayunkan tangannya ke dalam air. Ya, dia mendarat di sebuah kolam, entah apa yang terjadi pada pelayannya ‘Han’ mereka berpindah-pindah entah kemana.

Agassi gwaenchanayo?” tanyanya khawatir, suaranya begitu tidak jelas dan putus-putus. Gadis itu hanya tertawa pelan.

Gwaenchanayo, jangan khawatir begitu, ini hanya air,” saat tangannya menggenggam air di kolam itu airnya mulai menyurut seperti menyerap ke dalam tangannya.

Joseonghaeyo gongju….,”

“Jangan panggil aku begitu,” protes gadis itu sambil mengangkat rok yang basah, beranjak dari kolam itu, “Ppalii juseyo, aku sudah lelah berpindah,” tambahnya sambil membuat bajunya kering perlahan.

Agassi sepertinya perlu makan dulu, sepertinya tujuan kita selanjutnya memiliki tempat yang cocok,” ucapnya tidak ingin menambah permasalahan lalu mendapat senyum dari gadis itu meskipun ia tak bisa melihatnya.

Geurae, sebaiknya cocok dengan lidahku,” gadis itu menghela nafas sejenak lalu terdengar sesuatu.

Hyung, kau yakin koordinatnya menuju kemari? Suho hyung adalah yang terakhir…,” ia menyipitkan matanya, mencoba mendengarkan siapa yang datang itu.

Agassi, aku berhasil mengirimkan barang bawaan anda, apa sudah sampai?” gadis itu terlihat tidak fokus. Ia menyenggol sebuah koper coklat yang sudah berada di sampingnya, “Agassi?” panggilannya tak di hiraukan.

Raut wajah gadis itu berubah drastis, matanya yang menutup dan ia hanya berputar mencoba mendengarkan yang membuatnya penasaran.

Hyung, aku mendengar sesuatu di belakang,”

Gadis itu kaget dan menyenggol kopernya sekali lagi. Sepertinya ia ketakutan.

Agassi, kita siap berpindah,”

Gadis itu membenarkan posisi koper tanpa merespon pada panggilan pelayannya itu. Matanya membelalak seperti baru saja melihat sesuatu yang seram. Ia melihat ke sebuah rumah dekat kolam itu, samar-samar ia melihat sosok dengan baju putih.

Agassi….!”

‘Wussssssssh’

T h e   M a g i c   T h i e f

Jongin-ah, kemarilah,” Suho kembali ke dalam rumah bercat putih dengan wajah kosong.

Waeyo hyung?” Jongin yang baru saja sampai dengan membawa Sehun bersamanya menatap wajah Suho penuh tanya.

“Apa yang terjadi,” tanya Sehun kemudian dipotong oleh Suho, ia beralih ke sofa masih menggenggam sesuatu ditangannya. Membuat Kai dan Sehun penuh tanya.

“DIA, pergi lagi,” Suho menggenggam sesuatu, tapi tidak terlihat seperti sebuah benda.

“Maksud hyung?”tanya Sehun penasaran sementara Kai mendekati Suho.

“Gadis itu,” ia membuka genggaman tangannya didepan Sehun dan Kai. Butiran kristal mengkilap seperti debu hilang sejenak. Wajah mereka tampak kebingungan dengan benda atau apa yang ditemukan hyungnya itu.

“Bau itu lagi hyung?” jawab Kai yang sempat mencium baunya di ikuti anggukan Suho dan wajah Sehun yang sepertinya tidak mengerti karena belum bisa mencobanya.

“Aku tadi sempat melihatnya…….,sekilas dia,” ia tersenyum saat membayangkan bayangan di kepalanya itu tadi yang sempat melihat-Nya. Mata Sehun membelalak, ia menarik lengan baju Kai memberi isyarat atau telepati tepatnya. Seketika pun Kai menyambar lengan Suho yang berjalan menuju keluar dengan tatapan yang tidak biasa.

Andwaeyo…..hyung,” ucap Kai yang sepertinya mengenali tatapan itu. Sehun hanya membatu dari belakang sementara Suho bertahan dengan wajahnya yang membisu.

T h e   M a g i c   T h i e f

Entah kemana lagi gadis itu berpindah, saat ini dia telah sampai di sebuah kota. Dan kini dia sedang mampir ke sebuah hotel. Di dalam kamar ia nampak sibuk di depan sebuah layar, seperti sedang membuka sesuatu.

Agassi, semua peralatanmu berada di kopermu, sudah diperiksa?” gadis itu tersenyum sambil memindahkan laptop di tangannya itu ke meja yang berjarak beberapa langkah dari tempat tidurnya. Pria yang muncul di layar terlihat begitu lelah, seharian ia hanya duduk memperhatikan gadis itu apakah ia selamat atau tidak.

“Sudah pas kan?” ia melihat sosok pria yang terpancar di layar itu dengan senyum lega. Pria itu mengangguk puas di ikuti cengiran gadis itu yang kemudian menyambar gelas berisi coklat panas untuk diminumnya.

Agassi tidak ingin keluar sebentar? Ini sudah termasuk jam aman,” ucap pria itu sembari menguap. Gadis itu masih sibuk meniup gelasnya sebentar sambil menggeleng-geleng.

“Hmm, tapi jika aku keluar kau tidak boleh melacakku ya,” jawab gadis itu meraih kembali ke gelasnya dan menggeser kursinya mendekati kasurnya. Di tatapnya kopernya sejenak lalu mendapat komentar dari pria dibalik layar itu.

“Pakailah jaket Agassi, agar kau tidak kedinginan,” pria itu menasehati, gadis itu hanya mengangguk tak menjawab. Ia masih meniup coklatnya yang panas, saat ia menoleh layar laptopnya itu telah mati, mungkin waktunya pria yang telah mengawasinya itu tadi istirahat.

“Istirahatlah, aku sudah cukup kenyang untuk berjalan sendiri,” gumam gadis itu meletakkan gelas coklatnya, seperti dugaan sang pria tadi ia pun mengambil dan membuka kopernya. Gadis itu melihat beberapa potong baju yang di siapkan pria tadi, ia mulai tertawa pelan.

“Sebegini parahnyakah permasalahanmu sampai kau kembali lagi?” gumamnya melihat baju-baju yang tidak biasa dilihatnya, “berapa uang yang kau habiskan untuk semua ini,” ia menyusuri kopernya, dan menemukan sebuah dress putih.

“Ini sepadan dengan ini sepertinya,” ia melihat ke sisi lain koper yang berisi mungkin selusin jaket kulit, “Cool,” ia tersenyum lalu membawa baju itu ke kamar mandi. Tanpa ia sadari layar di laptopnya itu ternyata masih menyala sedari tadi. Pria itu hanya tersenyum geli dengan tingkah gadis itu, “sangat mudah di tebak,” bisiknya sambil merenggangkan ototnya yang terasa begitu pegal.

T h e   M a g i c   T h i e f

Dibawah sinar lampu-lampu taman hotel, gadis itu mengunci pintu kamarnya dan mulai berjalan keluar dari komplek perhotelan yang di tinggalinya sebentar itu di mainkannya kartu kunci kamarnya itu di jemarinya. Ketika kakinya berhenti melangkah di pintu pagar tak terkunci itu ia mulai menatap lampu jalanan dengan tatapan sayu. Ia menyelipkan kartu kuncinya itu ke dalam jaket, sekilas ia teringat headset yang di sematkan di jaketnya tadi.

‘Whats your song of the day my Princess?’ kilasan balik mengenai kenangannya di rumah terbesit saat ia mulai mengenakan earphonenya. Diraihnya tombol play pada kabel yang menyambung ke iphone putihnya di saku dalam jaket.

“Becareful miss,” seorang satpam yang baru saja sampai di posnya saat pergantian jam itu menyapa gadis itu. Ia hanya membalas dengan senyuman sementara satpam itu masuk ke dalam posnya memulai pekerjaannya.

Langit sudah begitu gelap tetapi udaranya terasa sangat dingin walaupun tidak ada angin berhembus kencang. Gadis itu masih memutar lagu dan mengikuti iramanya, kakinya berderap seiring musik bermain. Rumah-rumah yang ia lewati sudah tertutup rapat dan hanya menyisakan sebuah cahaya lampu yang mungkin itu ada di ruang tidur pemiliknya. Ia tidak menghentikan langkahnya, tanpa melihat ke arah depan ia hanya memandang jalanan yang di sinari cahaya itu. Sampai akhirnya kakinya itu membawanya ke sebuah jalan dan terlihat seperti alun-alun luas. Nafasnya sedikit terengah melalui tanjakan-tanjakan panjang tapi tidak begitu tajam itu.

“Woah, big ben kedua,” pujinya saat melihat jam besar, jam itu menunjukkan pukul 11.30 PM hampir tengah malam dan sangat sepi diluar sini. Udara di sekitar gadis itu mulai terasa dingin, nafasnya pun berubah menjadi embun-embun. Kakinya terus berjalan membawanya ke depan sebuah tempat dengan sekejap mata seperti tidak berjalan dengan kakunya sendiri, tempatnya mirip seperti theater outdoor, ia pun kemudian duduk.

“Mungkin tidak apa-apa jika sedikit,” ia mulai menggosok-gosokkan tangannya kemudian muncullah api dari tangannya. Sihir itu, lagi-lagi digunakannya. Ditiupnya api itu agar menyebar ke seluruh tubuhnya.

T h e     M a g i c     T h i e f

Ditempat lain didepan sebuah gedung dengan tangganya terlihat seseorang dengan jaketnya sedang bersantai menikmati malam ini. Ia menatap ke langit sesekali tapi lantai dibawahnya lebih sering dipandangi. Beberapa orang yang berlalu lalang di pinggiran jalan mungkin mengira orang ini habis putus cinta, satpam atau penduduk yang lewat hanya melihat ke arah pria itu sesekali. Ia meletakkan ponselnya di sampingnya sambil terus memutar lagu. Tapi tiba-tiba….

“Baek hyung, apa kau masih lama disana?” terdengar sebuah suara pria yang memanggil pria lain yang sedang menggunakan earphonenya itu duduk dengan santainya.

“Baek!” pekik seseorang yang lain membuat pria yang mengenakan earphone itu meringis karena kupingnya baru saja diteriaki.

“Aku masih belum tau, katamu dia ada di daerah sini,” omelnya sembari mengusap telinganya yang tidak begitu sakit itu. Suara pria di earphone itu hanya mengeluarkan helaan nafas.

“Jika sudah kau temukan kabari kami,” ujar suara pria di earphone Baekhyun dan kemudian memutuskan telefonnya. Baekhyun hanya meluruskan kakinya dan tetap duduk santai di kumpulan tangga itu.

“Hampir tengah malam,” ia melirik ke jam dibelakangnya. Dinginnya udara yang membuatnya memalingkan kepala untuk melihat sudah berapa lama ia terduduk menunggu jejak gadis itu.

Tak berapa lama ia mulai beranjak dari tempat itu, sepertinya ia sudah bosan berlama-lama duduk manis menanti. Ia lebih memilih untuk menggerakkan otot-ototnya agar tidak membeku, ia tetap berjalan dengan santai menyurusi jalan-jalan diantara rumah. Sampai………………

T h e   M a g i c   T h i e f

Gadis itu selesai menghangatkan tubuhnya, kali ini ia berjalan melewati gedung-gedung. Matanya berbinar ketika melihat ke sebuah mesin minuman. Sudah sangat malam, memang tidak ada lagi toko yang buka. Hanya orang-orang yang senang keluar malam dan gelandangan saja yang masih berkeliaran jam segini, itu pun mereka terlelap di tempat mereka berdiri ataupun duduk.

“Apa tidak ada semacam counter kecil disini?” gumamnya melangkahkan kakinya sambil menoleh mencari toko yang masih buka. Ia menenggelamkan tangannya ke dalam saku mantel sambil merapatkan mantelnya karena udara disini semakin dingin.

Sementara itu di antara beberapa bangunan perumahan yang ada salah satu sudut kota yang dikunjungi gadis ini, berjejer orang-orang dengan mantel menjuntai ke tanah. Dengan tinggi yang sedikit tidak normal, mereka seperti sedang bergerombol melihat sesuatu. Sebuah layar ponsel yang hanya terbuat seperti dari sepotong kaca bening itu memancarkan sinar seperti proyektor. Kemudian mulai muncul gambar gelombang suara yang bergerak-gerak seiring dengan munculnya sebuah suara.

Did you found her?” gelombang itu bergerak seiring dengan suara yang diucapkan.

We’re getting closer, it might be her but still unsure,” salah satu orang yang berada di depan layar menjawab suara itu dengan bahasa yang sama.

Don’t lose her,” gelombang itu juga bergerak lagi sesuai dengan ucapan yang keluar.

Alright sir,” semua orang yang memandang ke arah layar itu hanya menunduk seperti memberikan hormat kepada yang baru saja berbicara. Entah apa yang terjadi mereka tiba-tiba hilang seketika, seperti berpindah dengan teleportnya Kai.

Gadis itu sudah berhenti di dekat sebuah mesin minuman, disekitarnya hanya ada satpam yang sedang berkeliaran, ada beberapa warga yang lalu lalang dengan sepeda yang sepertinya sedang berolahraga malam. Di dekat mesin minuman itu tidak ada orang yang duduk-duduk, terlihat sekali kota ini sangat tertib dan rapi.

Ya…ppalliwa,” ia mengetuk-ngetuk kaca mesin minuman itu berharap sekaleng minuman hangat yang ditunggunya turun setelah ia memasukkan lembaran uang sesuai dengan harganya. Tangannya kelihatan geram menunggu mesin itu sambil mengetuk-ketuk kacanya. Matanya yang tadi fokus ke dalam mesin pun kembali melirik sekitar beberapa kali.

Aissh, eotteokhae, aku harus menggunakannya, joseonghaeyo,” tangannya mengepal dan cahaya berkilaunya bertabur glitter emas berkumpul di dalam genggaman tangannya. Ditempelkannya tangannya itu ke dalam mesin sambil diketuk lagi kacanya dengan tak sabar. Matanya pun ikut memejam berharap sihirnya kali ini berhasil.

‘Beep,’ mesin itu berbunyi tanda bahwa sebuah kaleng telah keluar.

“Yosh,” ucapnya dengan lega sambil meraih lubang di bawah mesin itu mengambil minumannya. Pertama kali yang di lakukannya adalah menempelkan kaleng itu dibawah pipinya yang mulai membeku. Setelah sejenak ia merasa hangat kakinya melangkah meninggalkan mesin itu, menuju ke sisi lain untuk dikagumi. Baginya, yang bukan penduduk asli planet ini tidak begitu sulit mengadaptasikan diri. Ia melihat beberapa orang yang menyapanya tidak begitu asing, mungkin ia akan berjalan diluar sedikit lama.

T h e     M a g i c   T h i e f

Sebuah langkah tergesa-gesa yang lelah berlari dalam gelap itu memelankan langkahnya sambil mengelap peluh yang dirasakan sehabis berlari mengejar koordinat yang disebut. Tidak terlihat satu orang pun yang berdiri, berjalan, ataupun berkeliaran di sekitar tempat yang diinjaknya itu. Nampaknya ia sedikit kesal karena tidak menemukan yang dicarinya itu.

“Yang benar saja, Sehunie, aku tidak melihat ada orang disini,” Baekhyun, pria yang sedang mencari targetnya itu terlihat menggenggam ponsel yang sudah terpasang earphone berwarna putih. Ia berdiri tepat di depan mesin minuman yang baru saja beberapa menit lalu ditinggalkan gadis itu.

Look at there, she’s nearby,” muncul suara dari kejauhan yang berasal dari gerombolan orang yang memiliki tinggi tidak wajar tadi. Baekhyun yang berdiri di depan mesin minuman itu masih belum menyadari kehadirannya.

Hyung, kau berada di jalan yang benar, ikuti saja feeling-mu itu hyung seperti biasanya,” jawab Sehun yang masih tersambung dengan Baekhyun melalui telefon.

“Arasseo,” ketika ia mulai menarik nafasnya dan berkonsentrasi, sedikit terasa wangi yang pernah tercium olehnya. Tangannya yang menggenggam ponselnya langsung menyimpan ponsel di sakunya lalu ia berjalan dengan cepat mengikuti instingnya, menyusuri jalan luar bangunan itu dan melirik sekilas melihat ke arah orang-orang yang terlihat biasa dimatanya padahal tidak.

-TBC-

3 pemikiran pada “The Magic Thief (Chapter 3)

  1. Wooah Keren bgt thor..
    Saya seolah abis Baca novel fantasy tokohnya exo
    Daebak…
    Ah kenapa selalu papasan sih mereka? Tapi baekhyun sdh hampir mengendus keberadaan alien cewe itu kan (?)
    Next chapter smg mereka bisa ketemuan..
    Joahae~~

  2. Uh hi😃
    Menurutku, alurnya agak membingungkan ya? Penggambaran karakter tokoh, latar tempat (mungkin ini rahasia), dan latar waktunya masih bikin bingung hehe
    Aku suka sama plotnya, cuma buat aku membingungkan siapa yang ngomong, kapan, dimana, kejadian ini nyambung sama yang mana.
    Dan saranku, kalau ada percakapan diakhiri titik (.) aja, jangan koma (,).😄
    Tanda tanda bacanya lebih di perhatikan lagi ya.
    Semangat!

Tinggalkan Balasan ke Oneysl [Eldey] Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s