Forbidden Feeling (Chapter 8)

Forbidden Feeling – Part 8

By Ririn Setyo

Poster Kai 1

Kim Jongin | Oh Sehun | Park Chanyeol | Song Jiyeon.

Other : Xiumin | Kim Suho | Huang Zitao

Romance ( PG – 15 )

NB : Beberapa Scene dan jalan cerita sudah diubah dan disempurnakan dari versi asli yang Publish di Blog pribadi Saiiya http://www.ririnsetyo.wordpress.com

_

_

_

 

Kim’s House

After Back From Lantern Festival

Jongin mengakhiri sambungan teleponenya pada Yerie, gadis itu kini sudah berada di rumahnya, dia memutuskan untuk pulang dengan taxi, saat tidak bisa menemukan Jongin dan Jiyeon di arena festival.

“Dia sudah pulang ke rumah, jadi kau tidak perlu khawatir lagi,” ucap Jongin untuk menjawab rasa penasaran Jiyeon yang berdiri di sisi tubuhnya.

Ya Jiyeon sangat khawatir saat mereka kembali ke area festival dan tidak menemukan sosok Yerie di sana. Jiyeon pun memaksa Jongin untuk mencari gadis itu dan meminta Jongin untuk menelphonenya, memastikan jika Yerie baik-baik saja sebelum mereka pulang ke rumah.

Jongin tersenyum menautkan jemarinya di jemari Jiyeon lalu mulai melangkahkan kakinya, menarik Jiyeon untuk ikut melangkah menuju beranda rumah yang ada di depan mereka. Jiyeon dan Jongin terlihat tersenyum bahagia dengan apa yang terjadi di antara mereka, mengeratkan genggaman tangan yang terasa hangat hingga menembus lapisan kulit terdalam dan menjalar hingga ke dalam hati.

Namun saat Jongin baru saja hendak memutar knop pintu, Jiyeon menahan lengan laki-laki itu hingga membuat Jongin berpaling. Menatap Jiyeon yang terlihat cemas, wajahnya pun sudah memucat, gadis itu mengeleng pelan menahan kepanikan yang mulai tidak terkendali. Jongin menangkupkan tangannya di wajah Jiyeon yang kalut, mensejajarkan pandangan mereka dalam satu keyakinan untuk hubungan mereka yang baru saja dimulai.

Oppa.

“Tenanglah! Semua akan baik-baik saja, aku akan membicarakan semua ini secepatnya pada ayah dan ibu”

“Bagaimana jika mereka marah dan menolaknya?”

“Kita akan tetap bersama Jiyeon-ah, walaupun dunia menolaknya.”

Jongin mengecup lembut kening Jiyeon, menenangkan gadis itu sekali lagi sebelum akhirnya mereka sama-sama masuk ke dalam rumah. Dan bersiap menghadapi hal terburuk dari sebuah hubungan terlarang yang kini terjalin nyata di antara mereka.

***

High School

In The Park

“Maafkan aku.”

Jongin kembali mengeluarkan kata maaf pada Yerie yang berdiri di depannya, merasa sangat menyesal karena sudah menyakiti hati gadis itu. Namun Jongin tidak punya cara lain selain mengakhiri hubungan mereka, hubungan yang sejak awal hanya akan selalu menyakiti hati mereka berdua.

“Jujur aku merasa sakit Kim Jongin. Aku merasa sedih karena kau memutuskan hubungan kita secepat ini, tapi aku juga tahu pasti jika sejak awal kau tidak pernah menginginkanku, kau tidak pernah menyukaiku, benar begitu?”

Jongin tidak menjawab, laki-laki itu hanya menatap Yerie dengan tatapan menyesalnya, menatap Yerie yang berusaha untuk tersenyum walau Jongin tahu jika gadis itu kini sedang menahan air matanya.

“Aku tahu kau menyukai gadis lain, aku tahu kau sangat mencintai gadis itu.” Yerie kembali tersenyum, saat Jongin menatapnya terkejut. “Mungkin setelah ini aku akan sedikit membencimu karena telah mencampakkanku, tapi setelahnya aku janji akan menemukan pengantimu. Seorang laki-laki yang benar-benar menginginkanku.”

“Terima kasih, Seo Yerie. Kau pasti akan menemukannya.” Jongin tersenyum saat Yerie pada akhirnya berlalu, meninggalkan dirinya yang tetap berdiri disana dengan tersenyum lega.

Seo Yerie gadis yang sangat baik.” pikir Jongin dalam senyum samarnya.

***

Kim’s House

Living Room – 04.00 pm

Dengan jemari yang bertaut Jongin dan Jiyeon memasuki rumah mereka, menertawakan beberapa hal lucu yang terjadi di sekolah dengan tubuh yang merapat. Sesekali terlihat Jongin mengusap kepala Jiyeon dengan sayang, tetap berjalan beriringan menaiki anak tangga di rumah mereka. Tak sadar jika sejak tadi Minji memperhatikan mereka, berdiri di undakan tangga paling bawah, bergabung bersama rasa cemas yang kian terasa tak mampu Minji sembunyikan.

“Jongin dan Jiyeon terlihat sangat bahagia, mungkinkah mereka sudah mengikat hubungan mereka dalam satu tali rasa yang sama?” Pikir Minji dalam benaknya.

Namun saat ini Minji hanya mampu menarik napasnya dan berharap, jika semuanya masih berada dijalur yang semestinya. Jika semuanya masih berada diposisi yang seharusnya, hingga tidak perlu menimbulkan hubungan yang sudah sangat jelas, akan membuat semuanya lebih rumit tanpa pernah ada jalan keluarnya.

“Minji-ah,”

Minji menoleh segera, menatap Jonghyun yang baru saja kembali dari kantor. Berdiri di ambang pintu, senyum pria tinggi itu mengembang. Jonghyun mendekati Minji, mengecup singkat kening wanita yang sudah dinikahinya sejak puluhan tahun yang lalu itu. Laki-laki itu merangkul bahu Minji yang tersenyum hangat untuknya, Ia membisikkan sebuah kabar yang entah mengapa justru membuat Minji merasa kedua kakiknya lunglai.

“Suruh Jiyeon dan Jongin untuk segera turun, hari ini aku dan Jiyeon akan menandatangi dokumen hak asuh Jiyeon. Dan besok setelah negara mengesahkannya, kita berdua akan memiliki seorang Kim Jiyeon di rumah ini.” ucap Jonghyun senang, kembali mengecup kening Minji lalu berlalu menuju kamar tidur mereka, meninggalkan Minji yang masih termangu di tempatnya berpijak.

Minji sangat takut jika hal buruk yang dia pikirkan akan datang sebentar lagi dikeluarganya, sangat takut membayangkan hal-hal yang ada diluar jangkauan pikirannya menjadi kenyataan, hal mengerikan untuk sebuah hubungan tabu yang Minji mulai nyakini, sudah tumbuh di antara kedua buah hatinya.

***

Living Room

The Day

Jonghyun tersenyum lebar saat Jongin dan Jiyeon baru saja memasuki ruang kerjanya, di sampingnya sudah duduk Kim Minji yang terlihat gelisah, meremas jemarinya yang mendingin, menghembuskan napasnya yang kian gundah, seraya berdoa didalam hati agar semuanya tetap berjalan dengan semestinya. Minji menatap Jiyeon dan Jongin yang duduk di seberang sofa yang di dudukinya bersama Jonghyun, semakin terlihat kalut saat menatap Jongin yang mengenggam jemari Jiyeon diatas pangkuan. Minji memejamkan matanya sejenak, menoleh dan melihat Jonghyun mengeluarkan dan meletakkan kertas dokumen di atas meja kaca didepan mereka.

Dokumen penting yang akan mengubah nasib Jiyeon dikemudian hari.

“Jiyeon-ah ini adalah dokumen hak asuhmu, hari ini kita akan menandatanganinya bersama. Besok kita ke pengadilan untuk mengesahkan semuanya dan—-“

“Ayah.”

Ucapan Jonghyun terhenti diudara saat suara Jongin menguar, laki-laki itu menatap Jongin yang telah menatapnya dengan sangat serius. Di sebelahnya Jiyeon menegang, kalut, dan cemas, hingga jemari gadis itu mendingin dalam genggaman Jongin yang mengerat.

“Aku mencintainya.”

“Apa?”

“Aku mencintai Song Jiyeon.”

Jonghyun membatu, diam tak bergerak seperti patung.

Bagai dilembar gong besar Jonghyun tetap diam dalam puluhan detik berlalu, terlalu tidak siap dengan deklarasi mengejutkan yang dilayangkan Jongin padanya. Namun saat otaknya mampu menghentikan keterkejutannya, Jonghyun mendongak, menatap Jongin dan Jiyeon yang masih duduk tenang di depannya. Setidaknya untuk Jongin, tidak untuk Jiyeon.

Gadis itu pucat pasi, napasnya sesak dan hampir menangis, terlalu takut akan kemurkaan Jonghyun yang Jiyeon yakini akan pecah sebentar lagi. Begitupun dengan Minji, wanita itu hanya mampu membekab mulutnya, memaku ditempat tanpa sepatah kata yang mampu terverbal dari lidahnya yang kelu. Minji membeku dalam ketakutan, akan hal buruk yang pasti terjadi dikeluarganya sebentar lagi.

“Ini tidak lucu Kim Jongin, ini awal musim dingin bukan awal musim semi, dimana kau bisa bermain lelucon untuk menyemarakkan April Fools Day.” Jonghyun berseru, menahan gundah hati yang mulai datang menghampiri kala Jongin tak bergeming.

“Aku tidak bercanda Ayah, aku mencintainya dan dia mencintaiku. Jadi—“

“CUKUP!”

Jonghyun bangkit berdiri, menghantar hening di antara mereka untuk beberapa saat, laki-laki tinggi itu tampak murka dengan tangan dan rahang yang mengeras. Menatap marah pada sosok Jongin yang kini juga ikut berdiri, menarik Jiyeon untuk berdiri disisi tubuhnya. Jiyeon sudah terisak dalam wajah menunduknya, merapatkan tubuhnya pada sosok Jongin untuk sekedar menahan bobot tubuh yang Jiyeon rasa semakin lunglai, untuk sekedar berdiri tegak diatas kedua kakinya sendiri.

“Dia adikmu Jongin, bagaimana bisa kau jatuh cinta padanya, dan kau Jiyeon—-“ telunjuk Jonghyun menghujam Jiyeon, mendongakkan kepala gadis itu seketika saat Jonghyun meneriakkan namanya.

“Apa benar kau mencintai Jongin? Kau mencintai kakakmu sendiri?”

Jiyeon terisak membiarkan deraian air mata ketakutan yang semakin memucatkan wajahnya, gadis itu bergetar hebat hingga tak mampu berucap selain hanya terisak. Merasa sangat bersalah karena telah membuat sedih dan terluka, sosok laki-laki terpenting dihidup Jiyeon setelah Jongin.

“KATAKAN!”

Jiyeon terlonjak dari tempat dia berpijak, bisa dirasakannya jika Jongin mengeratkan genggaman tangannya. Jiyeon menatap nanar sosok Jonghyun yang menahan murka didepannya, gadis itu terlihat sangat sakit saat raut wajah Jonghyun menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam sesaat setelah dia memberikan jawabannya.

“Iya… aku mencintai kakakku. Maafkan aku Ayah… maafkan aku.”

Jiyeon semakin tak mampu menahan laju air matanya, dadanya terasa nyeri menyaksikan Jonghyun yang pada akhirnya kembali terduduk di atas sofa. Diam tak bergerak walau Minji berusaha menenangkan laki-laki itu. Sungguh Jiyeon sangat menyayangi Jonghyun, tidak pernah ingin menyakiti Jonghyun sedikit pun, gadis itu bahkan rela jika harus menukarkan nyawanya untuk Jonghyun, untuk sang ayah yang sangat dicintainya.

“Jiyeon, Jongin kembalilah ke kamar kalian, kita akan membicarakan ini lagi nanti.” Minji mengambil jalan tengah disituasi tegang ini, namun ucapan wanita itu tertahan saat Jonghyun menyela dengan sebaris kalimat yang terdengar sangat dingin.

“Kalian saling mencintai, benar begitu?” Jonghyun menghempaskan tangan Minji dilengannya, laki-laki itu menegakkan tubuh tingginya dalam sunyi yang mencekam.

“Tinggalkan rumah ini sekarang juga,” Jonghyun menatap kejam ke arah Jiyeon dan Jongin.

“Jonghyun?” Minji berseru, tak percaya dengan apa yang Jonghyun suarakan, wanita itu menatap Jiyeon dan Jongin yang juga terlihat terkejut.

“Kalian tidak dengar? Pergi dari rumahku sekarang juga dan jangan pernah kembali, kalian bukan lagi bagian dari keluargaku, kalian mengerti?”

“Kim Jonghyun apa yang,—-”

“Jangan membantahku Kim Minji! Pastikan mereka pergi dari rumahku secepat mungkin, tanpa membawa apapun. Aku ingin lihat seberapa besar cinta kalian diluar sana.”

Dengan pandangan marah yang kian berapi-api Jonghyun berlalu dari ruang kerjanya, mengebrak pintu sangat keras hingga Minji dan Jiyeon kembali terlonjak ditempat mereka berpijak. Minji hanya mampu mematung, menatap kepergian Jonghyun tanpa mampu berbuat apa-apa. Wanita itu tahu pasti jika ucapan Jonghyun kali ini tidak akan berubah, walau dia yang datang sendiri meminta pada Jonghyun.

Keputusan Jonghyun sudah final.

Minji menatap Jiyeon dan Jongin, isaknya tertahan, berjalan mendekat lalu memeluk dua buah hatinya dengan begitu erat. Wanita itu tak mampu berucap, hanya mampu menangis dan membelai wajah Jiyeon dan Jongin yang sangat disayanginya, mengeleng pelan saat Jiyeon meminta maaf berulang-ulang untuk semua rasa terlarangnya pada Jongin. Minji membekab mulutnya, rasa sesak semakin menyakiti dadanya, memerintahkan beberapa pelayan untuk mengemasi seragam sekolah dan buku-buku pelajaran Jongin dan Jiyeon.

Minji tidak peduli walau Jonghyun melarang membawakan barang-barang Jiyeon dan Jongin, dia juga meminta pelayan untuk mengemasi beberapa pakaian dan juga meminta pelayan membawakan coat tebal untuk mereka berdua. Wanita itu merangkul Jongin dan Jiyeon di balik kedua lengannya, berjalan pelan menuju pintu keluar yang menjulang kokoh di depan mereka. Minji semakin terisak, memeluk Jongin sekali lagi dengan begitu erat setelah memasangkan coat sepanjang lutut ditubuh Jongin, semakin tersedu kala Jongin mengucapkan kata maaf tepat ditelinganya.

“Maafkan aku Ibu, maafkan aku.”

“Berjanjilah untuk hidup dengan baik setelah ini, dan kau Jiyeon… kau harus tetap hangat dimusim dingin yang akan datang sebentar lagi.” Minji mengusap wajah Jiyeon yang pucat linangan air mata gadis itu semakin deras tak terbendung, Minji memakaikan coat tebal ke tubuh Jiyeon dan memastikan putrinya yang rentan dengan suhu dingin itu tetap hangat.

“Ibu—-“ Jiyeon tak mampu menahan diri untuk tidak kembali memeluk Minji, mengeratkan pelukan terakhirnya sebelum Jongin menariknya menjauh.

Berjalan keluar dari rumah besar Jonghyun dengan air mata yang mengiringi langkah tertatih mereka, meninggalkan semua kenangan manis yang tertinggal dibelakang sana, kenangan yang terlukis dipeta kehidupan mereka bersama kedua orang tua mereka. Meninggalkan Minji yang tetap terisak di ambang pintu, meninggalkan Jonghyun yang pada akhirnya meneteskan air mata, kala menatap kepergian mutiara hati dari balik kaca lantai dua di rumah besarnya yang kini terasa begitu hampa.

***

Jongin mendekap erat tubuh Jiyeon yang masih menangis, mereka kini tengah berada di dalam bus yang akan membawa mereka pergi entah kemana. Jongin juga belum tahu kemana dia dan Jiyeon akan pergi malam ini, dimana mereka akan berteduh setelah ini. Jongin benar-benar tidak tahu.

Oppa,”

Jiyeon bergumam dari balik dekapan Jongin, tersirat rasa kalut yang teramat sangat dari nada suara Jiyeon saat ini. Jongin mengeratkan pelukannya, mengecup hangat puncak kepala Jiyeon berulang ulang. Kembali menyakinkan Jiyeon jika mereka akan tetap baik-baik saja, asalkan tetap bersama, mereka pasti bisa menjalani ini semua.

“Kita akan baik-baik saja, percayalah padaku.” ucap Jongin sekali lagi dengan senyum tipisnya, membuat Jiyeon pada akhirnya mengangguk, menghapus air mata yang masih saja mengaliri pipinya yang pucat.

Jongin mengeluarkan hanphone dari balik saku coat yang dikenakannya, menekan beranda google dan mencari info dimanakah dia bisa menemukan sewa kamar yang murah, untuk dirinya dan Jiyeon bisa tempati sementara. Jongin mendesah pelan, dia tidak punya kartu kredit dan Jongin pun sangat yakin, jika rekening tabungannya pasti sudah diblokir oleh sang ayah. Saat ini Jongin hanya punya beberapa lembar uang didompetnya, hanya cukup untuk membayar ongkos bus. Jongin mengusap wajah Jiyeon sekilas saat gadis itu menarik diri dari pelukannya, menatap layar hanphone dan mulai mencari tempat sewa yang bisa memberinya jeda membayar, setidaknya setelah dia mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang.

Jiyeon mengalihkan pandangan pada pemandangan kota dari balik jendela kaca yang berkabut, udara terasa mulai lebih dingin diawal musim salju yang akan datang sebentar lagi. Dia mengeratkan coat biru yang membungkus tubuhnya, menjejalkan tangannya ke dalam saku coat dan sedikit terkejut saat jemarinya menyentuh sesuatu di dalam sana. Jiyeon melebarkan matanya, mendapati puluhan lembar uang yang terselip di dalam saku. Seketika Jiyeon memandang ke arah Jongin, memperlihatkan uang kertas itu tanpa sepatah kata. Jongin tersenyum samar dan menarik napas leganya, Jongin pun berjanji didalam hati dia akan mengembalikan uang sang ibu setelah dia mendapatkan pekerjaan.

“Simpan saja, kita akan mengunakannya sebentar lagi.” Jongin meraih tas punggungnya, memasangkan tas punggung Jiyeon ke bahu gadis itu lalu menarik satu koper besar ditangan kanannya, mereka memutuskan untuk turun di halte yang ada didepan mereka.

“Apa ibu sengaja memberi kita uang?”

Jiyeon bertanya saat mereka sudah turun dari bus, menatap Jongin yang hanya mengangguk sekilas. Laki-laki itu merangkul bahu Jiyeon dengan erat, menarik koper di satu tangan bebasnya yang lain. Jongin tersenyum lalu mengajak Jiyeon untuk melangkah ke sebuah alamat yang didapatnya dari beranda Google, alamat dimana dia dan Jiyeon bisa menyewa sebuah kamar kecil dengan kamar mandi untuk mereka tempati.

Oppa kita mau kemana?”

“Ke sebuah tempat yang lebih hangat.” Jawab Jongin dengan tersenyum, menceritakan beberapa adegan lucu dicerita Pororo yang dihafalnya, berusaha menghibur Jiyeon agar tidak kembali menangis.

***

“Sewanya 350 ribu won. Kalian harus membayar tepat waktu, atau aku akan mengusir kalian dari tempat ini tanpa kompromi,”

Wanita paruh baya si pemilik sewa berseru dingin, menyungingkan senyum tidak bersahabat di ujung bibirnya yang tertarik ke atas. Senyum yang terlihat lebih mirip sebagai sebuah seringai mengerikan, hingga Jiyeon merasa bergidik dengan bulu kuduknya yang perlahan meremang. Rambut pendek sebahu milik si pemilik sewa yang mulai memutih termakan usia dibiarkan tergerai, mengunyah sesuatu yang entah apa itu didalam mulutnya sedari tadi. Sejak Jongin dan Jiyeon datang untuk menyewa satu bilik kamar yang berjejer rapi di depan rumahnya, di halaman depan masih dalam satu pekarangan yang sama dengan beranda rumah milik sang penyewa.

“Lakukan apapun yang kalian mau, tapi jangan terlalu berisik ditengah malam.”

Wanita paruh baya si pemilik sewa yang diketahui namanya adalah Lee Minseok, mengedipkan sebelah matanya penuh arti hingga alis tebal Jongin mengeryit. Wanita itu juga tampak menahan tawa saat melihat Jiyeon yang terlihat takut, hingga menyembunyikan sebagian tubuhnya dibalik lengan Jongin yang dirangkulnya dengan erat. Minseok pun menyerahkan kunci pada Jongin, menghitung ulang uang sewa yang Jongin bayarkan padanya.

“Aku tidak peduli siapa kalian, sepasang kekasih yang kabur dari rumah atau adik kakak yang tersesat. Aku hanya meminta pada kalian, untuk membayar uang sewa sesuai dengan yang sudah kita sepakati saat ini, kalian mengerti?” Jongin mengangguk setuju, tersenyum sekilas saat Minseok berlalu dari hadapan mereka tanpa kata tambahan dan menghilang dibalik pintu beranda berpelitur coklat didepan mereka.

Jongin melirik Jiyeon dari ujung matanya, tertawa pelan menatap Jiyeon yang masih merangkul lengannya dengan sangat erat, mengusap kepala Jiyeon hingga gadis itu mendongak tanpa melepaskan rangkulannya. Menatap memicing ke arah pintu beranda yang sudah tertutup rapat, sebelum kembali beralih menatap ke arah Jongin.

“Bibi itu seram sekali.”

“Bibi Minseok.”

“Iya dia seram sekali, oppa.” Jiyeon memastikan sekali lagi, jika Minseok sudah menghilang dibalik pintu beranda dan tidak akan kembali tiba-tiba.

Jongin lagi-lagi hanya tertawa, membuka pintu dengan kunci yang ada ditangannya, mengeser pintu kayu yang terlihat sangat terawat, hingga kini mereka berdua bisa melihat sebuah ruangan kecil yang terasa hangat. Jongin menatap Jiyeon sekilas lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam, memandang sekeliling ruangan kecil itu dengan napas leganya.

Ruangan yang hanya sebesar kamar mandi yang ada di rumahnya, dengan sebuah jendela dibagian kanan ruangan dan kamar mandi tepat didepan pintu. Lemari kayu dua pintu berukuran tidak terlalu besar berdiri disamping jendela, sebuah meja kayu bundar di sudut ruangan dengan kompor kecil di atasnya. Jiyeon membuka lemari dan mendapati satu buah alas tidur, satu bantal dan sebuah selimut tebal di dalamnya. Kening gadis itu sedikit mengeryit lalu mengeluarkan alas tidur dari dalam lemari, membentangkan di atas lantai lalu menatap ke arah Jongin.

“Hanya satu.” Tiba-tiba saja Jiyeon terlihat gugup, menatap alas tidur dan Jongin secara bergantian.

“Lalu?” Jongin pun terlihat ikut gugup dengan berdehem pelan.

Jiyeon mengeleng ragu namun akhirnya gadis itu tersenyum. “Tidak masalah, mungkin… hanya sedikit sempit, benar begitu?”

Jongin menganguk setuju, memilih untuk membereskan pakaian dan buku-buku sekolah mereka, ketimbang tetap berada diperbincangan yang membuat suasana kaku di antara mereka yang tiba-tiba saja datang itu semakin terasa. Jiyeon pun memutuskan untuk membantu Jongin membereskan pakaian sekolah mereka ke dalam lemari, 3 stel pakaian santai, 1 pasang pakaian tidur, handuk dan beberapa pakaian dalam yang ibu mereka siapkan untuk mereka. Jiyeon juga menyiapkan pelajaran sekolah mereka besok pagi dan sontak tertawa senang saat menemukan ramen didalam tas mereka.

Jiyeon menatap satu panci kecil yang tergantung di dinding tepat diatas kompor, mengambil air dari dalam kamar mandi lalu memasak ramen dengan segera. Jiyeon tiba-tiba merasa lapar. Tak sampai 10 menit mereka kini sudah duduk berdampingan di depan meja bundar, mengaduk ramen seraya tertawa bersama. Menyantap mie panas itu dengan lahap dan sesekali saling menyuapi satu sama lain, mengenyampingkan sesaat semua beban hati yang membelengu hingga mereka kembali terdengar tertawa bersama. Bahagia.

Kini Jiyeon sudah terbalut dalam pakaian tidurnya, membungkus setengah kakinya di dalam selimut, menanti Jongin yang masih membersihkan diri di dalam kamar mandi. Gadis itu mendesah pelan, meletakkan wajahnya di atas kedua lututnya yang tertekuk, merasa matanya kembali memanas kala mengingat semua kemurkaan ayahnya dan air mata sang ibu.

“Maafkan aku Ayah, Ibu… maafkan aku.”

Setetes air mata kembali menetes dari sudut mata Jiyeon yang terlihat sedikit bengkak, tak sadar jika Jongin sudah keluar dari kamar mandi, memandanginya lalu duduk tepat disamping Jiyeon yang mulai terisak. Satu sentuhan di bahu mengangkat kepala Jiyeon seketika, menatap Jongin yang tampak segar, tangan laki-laki itu kini sudah berada diatas kepalanya. Jiyeon menatap Jongin, butiran air matanya kembali mengalir, hanyut dalam rasa bersalah pada orangtua mereka yang sedari tadi terus saja mengelayuti hatinya.

“Apa kau ingin kembali dan melupakan semua yang terjadi di antara kita?” Jiyeon terdiam sesaat lalu mengeleng ragu. “Kalau begitu berhentilah menangis dan tersenyumlah bersamaku, Song Jiyeon.”

Jiyeon tetap terisak lalu menganguk pelan, tersenyum samar saat Jongin menghapus air mata di pipi pucatnya, memerintahkan gadis itu untuk merebahkan tubuhnya di atas alas tidur mereka. Jongin ikut merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka sebatas pinggang. Jiyeon memiringkan tubuhnya, menatap Jongin yang ikut memiringkan tubuhnya hingga kini mereka berdua berbaring berhadapan, dalam jarak hanya sejauh satu helaan napas.

Oppa, apa Ayah akan memaafkan kita?”

“Aku tidak tahu,”

“Aku harap suatu hari nanti Ayah bisa mengerti dan memaafkan kita.”

Hemm, aku juga berharap begitu,” Jongin tersenyum, mengusap lembut wajah pucat Jiyeon hingga gadis itu juga ikut tersenyum. “Sekarang tidurlah ini sudah tengah malam.”

Jiyeon kembali menganguk lalu tanpa sadar bergulung ke dalam pelukan Jongin, membenamkan wajahnya di dada Jongin yang hangat saat tangan laki-laki itu bergerak memeluknya. Udara malam ini terasa lebih dingin, Jongin kembali menarik selimut lebih tinggi, membungkus seluruh tubuh Jiyeon lalu menyembunyikannya dengan sempurna didalam dekapannya yang mengerat. Jongin sangat takut jika Jiyeon sakit, karena suhu dingin yang sejak dulu adalah musuh terbesar Jiyeon selain hujan. Perlahan keduanya tampak mulai memejamkan mata, hanyut dan terbawa dalam dunia bawah sadar dan berharap, jika esok hari dunia akan menyambut mereka dalam senyum berbalut bahagia, tanpa air mata lara dan derita yang menyesakkan jiwa.

***

Kim’s House

Jonghyun Room

Morning

Jonghyun menatap pantulan bayangan tubuhnya dari balik kaca yang berdiri kokoh di depannya, memperlihatkan seluruh bagian tubuhnya dan hampir dari seluruh sisi ruang kamarnya. Mata coklatnya yang tajam, menatap Minji yang sejak semalam hanya diam dari pantulan kaca, dan pagi ini Jonghyun mendapati Minji duduk diam mematung di pinggir ranjang. Tak bergerak atau pun berucap walau itu hanya satu kalimat, tidak ada pelukan, kecupan, ataupun sentuhan didasinya, seperti yang biasa wanita itu lakukan selama mereka menikah. Jonghyun membalikkan tubuhnya bermaksud berjalan mendekati Minji, namun tertahan saat Minji tiba-tiba beranjak seraya menatap dingin ke arahnya. Jonghyun memaku melihat air mata yang masih tertinggal di pipi Minji yang pucat, walau wanita itu baru saja menghapusnya.

“Sekarang kau puas? Puas karena sudah membuang anak-anakku dan membuat rumah besar ini terasa sangat hampa dan mati?”

Dalam kesunyian yang kian membelenggu mereka, Minji kembali mengeluarkan sebaris kalimat yang membuat Jonghyun membeku, tangannya mengepal kuat dan tetap diam saat Minji melangkah meninggalkannya keluar dari kamar.

“Kau tahu, jika semalam kau bukan hanya kehilangan Jongin dan Jiyeon, tapi kau juga kehilangan diriku, Kim Jonghyun.”

***

High School

In The Park

“Apa! Kalian pergi dari rumah?” Sehun berseru kencang, di sampingnya berdiri Park Chanyeol, tampak syok dengan menutup mulutnya yang mengangga.

“Bukan pergi, tapi Ayah mengusir kami berdua dari rumah.” Jongin menjawab dengan tenang.

“MWOYAA?” Sehun dan Chanyeol berseru bersama, segera duduk berdesakan di antara Jongin wajah mereka masih terkejut.

“Apa maksudmu Kai?” Sehun kembali bertanya.

“Aku mengatakan hal yang sesungguhnya pada ayah dan ibu semalam, aku mengatakan jika aku mencintai Jiyeon.”

“Kau sudah gila.” Sehun mengerang, tangannya terulur, mengajak rambut Chanyeol hingga Jongin membelalakkan matanya, lengan Sehun baru saja menghantam ujung hidungnya.

“Aku mencintainya, Sehun.” Jongin menghalau tangan Sehun yang ingin kembali meraih rambut Chanyeol yang ada disisi kanan tubuhnya.

“Aku tahu.”

“Lalu kau mau aku bagaimana? Kemarin ayahku meminta Jiyeon untuk menandatangani dokumen hak asuh dan hari ini, seharusnya ayahku akan membawa Jiyeon ke pengadilan dan mengesahkan status Jiyeon menjadi Kim Jiyeon.” Jongin mengambil jeda seraya mengembuskan napasnya.

“Aku tidak mungkin membiarkan ayah menjadikan Jiyeon selamanya sebagai adikku, membayangkannya saja sudah membuatku tidak bisa bernapas, apalagi jika benar-benar terjadi. Mungkin—- aku akan mati.”

“Aku tahu tapi—-“ Sehun masih terlihat sangat kalut dan syok.

“Apa?” Jongin berseru kencang, menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku kayu yang meraka duduki.

“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?”

“Selain selalu bersamanya untuk menghabiskan sisa hidup ku, aku tidak tahu Oh Sehun.”

“Kalian tinggal dimana sekarang?” kali ini Chanyeol ikut bertanya.

“Kami menyewa sebuah bilik kecil milik seorang bibi paruh baya, sewanya murah dan tempatnya sangat nyaman.” Jelas Jongin dengan senyum samarnya.

“Apa Jiyeon baik-baik saja?” Sehun tampak kembali cemas.

“Tenanglah Sehun aku akan menjaganya dengan baik, selayak aku menjaga nyawaku sendiri.”

Jongin mengusap bahu Sehun yang tampak menegang, tersenyum menyakinkan saat Sehun pada akhirnya mengangguk setuju. Mereka bertiga tampak menghembuskan napas secara bersamaan, memandang lurus-lurus dan untuk beberapa detik berlalu sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing.

“Ngomong-ngomong, apa saja yang kau lakukan semalam bersama Jiyeon, Kai?” tanya Chanyeol dengan nada menyelidik.

Seketika Jongin dan Sehun menatap Chanyeol, menyatukan kedua alis dengan mata yang memicing. Memandang Chanyeol yang justru kini terlihat menyungingkan cengiran lebar, mengisyaratkan sesuatu hal yang terselebung dan terlihat tidak begitu baik.

“Apa kalian merencanakan sesuatu?” mata bulat Chanyeol memicing curiga.

“Apa?”

Hemmm… mungkin kalian sedang merencanakan, untuk menjadikanku sebagai seorang paman dalam waktu dekat.”

“YAK!!!”

Dalam hitungan detik dua pukulan sudah mendarat diatas kepala Chanyeol, membuat laki-laki tinggi itu mengaduh kesakitan.

“Aku sangat menyayangi Jiyeon, aku tidak akan melakukan hal semacam itu, hingga kami berdua merasa yakin untuk melakukannya, kau mengerti?” jelas Jongin kesal, matanya berputar malas.

“Dasar pria mesum,” ucap Sehun, dia kembali memukul kepala Chanyeol.

“Syukurlah kalau begitu,” jawab Chanyeol santai, lengkap dengan cengiran lebar, hingga deretan gigi putihnya yang tertata rapi terlihat.

“Lalu sekarang, bagaimana caranya kalian meneruskan hidup?”

“Aku akan mencari pekerjaan, Sehun.”

“Bekerja?” Sehun dan Chanyeol sama-sama menatap Jongin yang hanya mengangguk pelan.

“Bagaimana jika kalian tinggal di rumahku saja, Kai? Jadi kau tidak perlu bekerja.” Jongin menatap Sehun. “Aku rasa lebih baik jika kalian tinggal bersama keluargaku.”

Yeah! Tapi aku rasa ayahku pasti tidak akan tinggal diam, aku tahu jika ayahku saat ini sedang menghukumku dan Jiyeon. Aku ingin membuktikan pada ayahku, jika aku dan Jiyeon bisa hidup dengan baik walau tanpa ayahku.”

Sehun dan Chanyeol menganguk mengerti. “Kau bisa mengandalkan kami jika butuh sesuatu.” ucap Chanyeol seraya mengusap bahu Jongin, memberi dukungan penuh pada sahabat mereka.

“Oppa!”

Dalam gerakan yang sama Jongin, Sehun dan Chanyeol menolehkan kepala mereka ke sumber suara, sama-sama bangkit berdiri dan tersenyum menatap Jiyeon yang sudah berjalan menghampiri mereka. Sekejab Jiyeon sudah berada dalam rangkulan Sehun, membiarkan Chanyeol mengusap kepalanya seraya tersenyum pada Jongin yang berdiri didepannya.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Jiyeon yang kini sudah beralih dalam rangkulan Chanyeol.

“Membicarakanmu,” Chanyeol menjawab.

“Membicarakan kalian berdua,” Sehun menambahkan.

Jiyeon melayangkan tatapannya pada Jongin yang terlihat mengangguk pelan. “Aku sudah menceritakan semuanya pada mereka.” ucap Jongin untuk menjawab tatapan Jiyeon saat ini.

“Dan siang ini pulang dari sekolah, aku dan Chanyeol akan melihat rumah baru kalian.” Sehun tersenyum saat Jiyeon berteriak senang.

Jinjjayo?

Eoh, Aku juga ingin memastikan jika kau punya segala keperluan, untuk menghangatkan tubuhmu dimusim dingin yang akan datang sebentar lagi.”

“Aku sudah cukup hangat, oppa tenang saja. Jongin oppa menghangatkan-ku dengan sangat baik,” Jiyeon menghentikan ucapannya tanpa rencana, menyadari jika kata-katanya barusan membuat Sehun dan Chanyeol menatapnya curiga.

“Maksud ku… kami punya selimut tebal di rumah, benar begitukan Jongin oppa?”

Jongin hanya menganguk sekilas, menarik Jiyeon untuk berdiri disisi tubuhnya. “Sudahlah! Aku tahu kalian berdua berpikir yang macam-macam, tapi sayangnya aku tidak ingin membahasnya panjang-panjang.” Jongin meraih jemari Jiyeon lalu mengenggamnya dengan erat. “Kembali ke kelasmu sekarang,” ucap Jongin lalu menarik Jiyeon, meninggalkan Sehun dan Chanyeol begitu saja yang masih terlihat menatap curiga dibelakang sana.

***

Jongin Home

After Back From School

“Apa! Kalian tinggal di kamar sempit ini?”

Teriak Chanyeol berlebihan, melangkah duluan memasuki kamar yang disewa Jongin dan Jiyeon. Laki-laki itu berjalan mondar mandir, mengukur ruangan dengan jengkalan tangan, bergumam ini itu tanpa jeda, memeriksa tiap inci tembok ruangan, kamar mandi, jendela dan lemari. Chanyeol kembali berseru kencang saat mendapati alas tidur dan selimut di dalam lemari yang menurutnya tidak layak, membentangkan di atas lantai dan kembali memeriksa ditiap bagiannya. Namun tidak ada seorang pun yang peduli pada keluh kesah dan omelan Chanyeol, Sehun dan Jongin memilih untuk duduk di dekat pintu, memperbincangkan hal yang lebih penting ketimbang ikut berkeluh bersama Chanyeol. Sedangkan Jiyeon, gadis itu justru terlihat sibuk di depan kompor, memasak 3 bungkus ramen yang dibeli Sehun dalam perjalanan mereka sebelum pulang.

“Rencananya kau ingin bekerja di mana, Kai?”

“Di sebuah tempat pengisian bensin yang ada di depan jalan, tadi pagi aku melihat papan pengumumannya. Mereka sedang membutuhkan beberapa karyawan untuk bekerja paruh waktu, dari pukul 6 sore hingga 11 malam.”

“Lalu bagaimana dengan Jiyeon?” Sehun melayangkan pandangannya pada Jiyeon, gadis itu terlihat sedang tertawa bersama Chanyeol yang kini tengah membantu gadis itu di depan kompor.

“Aku belum membicarakan rencanaku ini pada Jiyeon.”

Sehun kembali menatap Jongin. “Aku sedang berpikir ingin membelikanmu sebuah kendaraan,”

“Sehun?“

Hey, tenanglah,” Sehun tertawa dengan memukul pelan bahu Jongin yang bidang. “Aku bukan ingin membelikanmu mobil mewah ataupun motor besar seperti milik Chanyeol, aku hanya akan membelikanmu sebuah kendaraan kecil yang aku rasa akan sangat kau butuhkan.”

“Terima kasih.” Jongin tersenyum tulus untuk apa yang dilakukan sabahat baiknya itu. Sehun adalah sahabat baiknya sejak mereka kecil dan bahkan sudah dianggap Jongin sebagai saudaranya sendiri.

“Mie nya sudah matang!”

Teriak Chanyeol dengan semangat penuh, meletakkan panci di atas meja kayu. Laki-laki itu menegakkan tubuh tingginya, menatap kesekeliling untuk mencari alat makan. Namun nihil Chanyeol tidak bisa menemukan apapun, selain dua sumpit yang kini tengah dipegang Jiyeon.

“Kami belum membeli barang apapun,” Jongin menjawab tatapan Chanyeol, duduk di depan meja bersama Sehun. Jongin melambaikan tangannya pada Jiyeon, meminta gadis itu untuk duduk di depan meja.

“Kita bisa pakai sumpit ini,” Sehun tersenyum seraya mengusap kepala Jiyeon yang mengambil tempat disampingnya, mulai mengaduk mie panas di dalam panci.

Chanyeol yang masih terlihat bingung akhirnya ikut bergabung, duduk di depan Jiyeon tepat di samping Jongin. Laki-laki itu mendesah pelan tanpa alat makan, memperhatikan Sehun yang sedang menyuapi dirinya sendiri disela-sela menyuapi Jiyeon. Namun itu tidak berlangsung lama, karena kini Chanyeol sudah terkejut saat Jongin menyenggol lengannya, menyodorkan mie yang sudah bergulung disumpitnya tepat di depan mulut Chanyeol. Chanyeol tersenyum sebelum membuka mulutnya, menerima suapan dari Jongin yang membuat mereka berempat pada akhirnya tertawa. Saling menyuapi, berbagi cerita apa saja yang membuat mereka tertawa terbahak, mengusir gundah hati yang sejujurnya masih menyelimuti hati Jongin dan Jiyeon.

“Terima kasih.” ucap Jongin sekali lagi, disela-sela acara mereka makan bersama.

“Untuk apa berterima kasih, bukankah memang seharusnya seperti ini, kita keluargakan? Satu keluarga harus selalu mendukung dan bersama hingga mati?” Chanyeol menjawab pasti, membuat Sehun dan Jiyeon menatapnya lekat. “Wae? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?”

Namun bukannya menjawab Jiyeon justru memeluk Chanyeol, diikuti Sehun dan Jongin yang ikut memeluk laki-laki tinggi itu. Chanyeol yang tidak siap pada akhirnya terjungkal ke belakang, dengan Jiyeon yang tepat berada diatas dadanya, disusul Sehun dan Jongin, namun Sehun dan Jongin cepat beranjak sebelum Jiyeon kehabisan napas.

Hey! Ditindih dua laki-laki sekaligus, bukanlah hal yang mudah untuk Jiyeon. Gadis itu bahkan menjerit tertahan, disela-sela tawanya tadi.

Kini mereka berempat sudah berbaring di lantai, berjejer dengan posisi terlentang, menatap langit-langit kamar dengan sisa tawa yang membuat ujung iris mereka berair. Jiyeon menatap sekilas Chanyeol yang membagi lengannya sebagai bantal untuk kepalanya, meraih tangan Sehun dan memeluknya di depan dada, menoleh menatap Jongin yang berada di sebelah Sehun. Jiyeon tersenyum bahagia bersama tiga laki-laki yang dimilikinya di dunia ini sejak dulu, tiga laki-laki yang sangat disayanginya, tiga laki-laki yang akan dengan sukarela melakukan apapun untuknya. Dan Jiyeon benar-benar beruntung dengan fakta itu, hingga membuat gadis itu merasa kuat dan sanggup untuk menjalani hidupnya hingga nanti.

“Oppa aku sangat menyayangi kalian.”

“Nado.” jawab Sehun dan Chanyeol.

“Sarangae,” ucap Jongin hingga membuat Sehun mengalihkan tatapannya.

“Nado.” jawab Jiyeon sebelum akhirnya mereka berempat kembali tertawa.

***

The Morning

Jongin Home

“Mulai hari ini aku akan bekerja.”

“Nde? Bekerja?”

Jongin menganguk seraya menegakkan tubuh tingginya, memandang Jiyeon yang baru saja merapikan tatanan rambutnya. Gadis itu terlihat gusar dan Jongin tahu pasti penyebab tentang hal itu. Jongin menarik Jiyeon yang masih duduk bersimpuh di lantai untuk berdiri, membelai lembut wajah gadis itu, menatapnya dalam seraya meyakinkan Jiyeon jika semuanya akan tetap baik-baik saja.

“Gwenchana, aku akan bekerja di pengisian bensin hingga jam 11 malam, jangan keluar rumah hingga aku kembali, kau mengerti?”

Suara ketukan dari arah pintu mengalihkan pandangan Jongin dan Jiyeon yang kini tengah berdiri berhadapan, bersiap untuk berangkat sekolah. Tubuh langsing Jiyeon sudah terbungkus seragam sekolah, lengkap dengan coat tebal berwarna biru yang menghangatkan tubuhnya, begitu pula dengan Jongin laki-laki itu juga sudah memakai seragam ditubuhnya. Jongin dan Jiyeon kembali saling menatap, sebelum pada akhirnya Jongin menjauhkan tangan Jiyeon yang masih berada di lehernya, menunda pekerjaan Jiyeon untuk memakaikan dasi di balik kerah kemeja putihnya.

“Siapa yang bertamu sepagi ini?” gumam Jiyeon pelan, menyambar tas sekolah Jongin di tangan kanannya, setelah menyampirkan tas punggungnya di bahu terlebih dahulu.

Jongin hanya menaikkan bahunya, berjalan ke arah pintu dan membukanya, sedikit terkejut dengan beberapa laki-laki berbaju hitam dan dua sosok laki-laki berdiri paling depan yang dikenalnya. Membungkuk hormat ke arah Jongin dan Jiyeon, namun Jongin lebih tertarik pada beberapa kotak kardus berukuran besar yang ada di belakang kedua sosok tersebut. Termasuk sebuah sepeda baru yang terparkir di samping kardus yang berukuran paling besar.

“Paman,—- ini?” tanya Jongin pada salah satu laki-laki yang dikenalnya, sebagai pengawal dari keluarga Oh Sehun.

“Tuan muda Oh Sehun meminta saya menyerahkan sepeda dan barang-barang ini, untuk tuan muda Kim.” jawab paman yang berdiri disisi kanan.

“Dan Tuan muda Park juga meminta saya menyerahkan barang-barang ini, untuk tuan muda dan agasshi.” jawab paman yang berdiri disisi kiri.

Jiyeon tersenyum seraya merangkul lengan Jongin, “Ternyata mereka benar-benar mengkhawatirkan kita.” Jongin tidak menjawab, laki-laki itu hanya menatap Jiyeon sekilas lalu mempersilahkan pengawal Sehun dan Chanyeol untuk memasukkan barang-barang ke dalam ruangan.

“Ruangannya sangat sempit, jadi aku rasa ada beberapa barang yang tidak bisa aku terima.” ucap Jongin saat menatap kardus berlebel kulkas dua pintu dan tivi LED berukuran 32 inchi.

Jongin menatap barang-barang dengan seksama dan memutuskan hanya sebagian barang saja yang bisa diterima. Jongin menerima mesin penghangat ruangan berukuran tidak terlalu besar, tiga kantong beras, rice cooker, alat-alat makan lengkap dengan raknya yang berukuran kecil, beberapa alat masak, lima kotak daging asap siap saji, satu kardus ramen dan beberapa paper bag berisi selimut tebal, baju hangat, coat, syal, dan sarung tangan.

“Aku rasa Sehun yang membelikan ini untukmu.” Jongin menarik satu syal berwarna biru langit, dari salah satu paper bag berlebel merek ternama, melilitkan ke leher Jiyeon seraya tersenyum samar saat menatap wajah senang Jiyeon.

“Paman sisa barang-barangnya tolong dikembalikan dan terima kasih banyak untuk sepedanya.” Jongin membungkuk sekilas ke arah dua paman di depannya, setelah mengunci pintu laki-laki itu menarik Jiyeon untuk mengikuti langkahnya.

“Kami harus pergi sekarang, annyeong.” ucap Jongin setelah meminta Jiyeon untuk duduk diboncengan sepeda dan memangku tas sekolahnya, dia pun menaiki sepeda barunya dan mulai mengayuh.

Jongin tersenyum saat merasakan Jiyeon yang memeluk pinggangnya, terus mengayuh disisi pinggir jalanan yang tampak padat pagi ini. Jongin menengadah sekejap, menatap langit yang membentang luas di atasnya. Langit yang pagi ini tampak di penuhi awan tebal berwarna kelabu, menyembunyikan sececah sinar mentari yang sedang berusaha keras menyibak awan yang kian menutupinya. Jongin mengalihkan pandangan, menatap jemari Jiyeon yang pucat, masih berada di atas perutnya. Udara dipenghujung musim gugur sudah mulai tidak bersahabat, sangat dingin dan menusuk lapisan kulit hingga kedalam tulang. Hingga wajar kiranya jika langkah-langkah kaki di sepanjang trotoar dipenuhi oleh coat-coat tebal dan panjang yang menutupi hingga melebihi lutut, syal di sekeliling leher lengkap dengan sarung tangan.

Ah! Jongin melupakan sarung tangan Jiyeon.

Jiyeon mengeryit saat Jongin menghentikan sepeda mereka, laki-laki yang bahkan tidak memakai jaket di tubuhnya. Jongin meraih jemari Jiyeon yang mendingin, lalu memasukkan ke dalam saku jas sekolah yang dipakainya. Jongin menoleh ke belakang, tersenyum samar kala Jiyeon menatapnya bingung, laki-laki itu mengerakkan tangannya ke arah wajah Jiyeon, menaikkan syal yang melilit di leher Jiyeon hingga kini menutupi setengah dari wajah cantik gadis itu. Tanpa kata Jongin kembali ke posisi semula, kembali mengayuh sepeda dengan cepat. Jiyeon yang pada akhirnya paham akan tindakan Jongin, terlihat tersenyum senang seraya mengucapkan terima kasih, ia pun mengeratkan pelukannya.

Satu fakta yang tidak berubah sejak dulu, Kim Jongin akan selalu menjaganya dengan sangat baik, melindunginya dari apapun yang bisa membahayakan kesehatan dan dirinya di dunia ini. Jiyeon menyandarkan kepalanya di punggung Jongin, memejamkan matanya sejenak dan mengucapkan sebaris kalimat untuk meluapkan semua rasa-nya untuk seorang Kim Jongin. Untuk sosok laki-laki yang begitu di sayanginya, melebihi dia menyayangi dirinya sendiri.

“Neomu Saranghanda, Jongin Oppa.”

***

Paradise Kim Enterprise

Jonghyun Office Room

“Tuan muda Kim menyewa sebuah bilik kecil yang tidak terlalu jauh dari sekolah, selama ini mereka masih hidup dengan sangat baik. Sahabat Tuan muda Kim, Oh Sehun dan Park Chanyeol kerap membantu kebutuhan pangan mereka, tuan muda kini bekerja paruh waktu di tempat pengisian bensin.”

Jonghyun menghentikan gerakan tangannya yang tengah menandatangani berkas penting perusahaan, laki-laki itu menatap lurus-lurus, tersenyum samar yang nyaris tidak terlihat. Jonghyun mengalihkan pandangan pada sosok tangan kanan kepercayaannya yang berdiri tegap di depan meja kerjanya, dia ditugaskan untuk memantau semua gerak gerik yang dilakukan Jongin dan Jiyeon diluar sana.

“Apa sejauh ini ada yang mengenali Jongin sebagai putraku?”

“Tidak Presdir, selama bekerja Tuan muda menggunakan masker yang menutupi setengah wajahnya.”

“Bagus! Biarkan mereka bersenang-senang untuk beberapa saat dan pastikan mereka tetap tidak terlihat selama aku pergi.” ucap Jonghyun dingin dan tenang. “Atur pertemuanku dengan Jongin, tanpa sepengetahuan Jiyeon setelah aku kembali dari Manhattan.”

Nae algaesumnida,”

Jonghyun kembali melajutkan pekerjaannya, saat orang kepercayaannya sudah beringsut keluar dari ruang kerjanya. Laki-laki konglomerat pemilik sederet hotel bintang lima bertaraf internasional yang tersebar di sepanjang benua Asia hingga Eropa itu, terlihat terdiam sesaat untuk semua masalah keluarga yang kini membelitnya. Masalah buah dari hubungan tidak wajar dan sangat tabu untuk dilakukan dikebudayaan negaranya, masalah yang samar namun pasti membuat Jonghyun mulai kehilangan orang-orang yang dicintainya.

~ TBC ~

9 pemikiran pada “Forbidden Feeling (Chapter 8)

  1. apa yg bakal dilakukan ayahnya jongin, jangan sampek mereka dipisahkan. sukak banget ngeliat chanyeol sama sehun :* next chapter thorr, fanficnya keren aku suka 🙂

  2. Tegang bacanya😶
    Appanya Jongin tega yak. Biarin bersatu aja seh, kasian tau liatnya 😔
    Next chap bakalan tegang lagi aku bacanya :v hohoho
    Fast updates and keep writing thorr
    Fighting ☺️😆

  3. Sehun Chanyeol baik bangeeet! Jongin beruntung banget punya temen kaya mereka! Dan suka ma karakter jongin dichap ini makin dewasa dan bertanggung jawab, aah pengen banget punya kakak kaya gitu ~ Semoga Jonghyun setuju ma hubungan jongin-jiyeon kasian mereka kalau dikekang terus
    Penasaran ma chap selanjutnnya semangat thor!

  4. Semoga saja jonghyun tak memisahkan mereka aku takut bahwa nanti jiyeon dan jongin terluka terlebih minji sangat kecewa atas keputusan yang telah jonghyun tetapkan yaitu mengusir jongib dan jiyeon.
    Semoga masalah mereka terselesaikan aku tak sanggup melihat mereka berdua menderita dan juga siapa itu mantan kekasihnya jongin tak berbuat yang macam-macam pada jiyeon karena ia tau kelemahanannya .

  5. wajar aja si menurutku kenapa ayah kai kayak gitu
    siapa yg kesel coba anak-anaknya saling jatuh cinta
    ya walopun mereka bukan saudara kandung
    memang kebanyakan seorang ibu yang lebih mengerti bagaimana keadaan anaknya
    i love my mom so much!!

    semoga abis ini ayah kai mau menerima jiyeon sebagai wanita yang disayangi kai bukan sebagai adik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s