Forbidden Feeling (Chapter 9)

Forbidden Feeling – Part 9

By Ririn Setyo

Poster Kai 1

Kim Jongin | Oh Sehun | Park Chanyeol | Song Jiyeon.

Other : Xiumin | Kim Suho | Huang Zitao

Romance ( PG – 15 )

NB : Beberapa Scene dan jalan cerita sudah diubah dan disempurnakan dari versi asli yang Publish di Blog pribadi Saiiya http://www.ririnsetyo.wordpress.com

_

_

_

 

Jongin Home – 12.00 am

Jiyeon duduk bersandar di antara pintu yang dibiarkan sedikit terbuka, menatap berulang-ulang ke arah pintu gerbang, berjibaku dalam rasa khawatir yang sejak tadi mengelayuti hatinya. Sudah seminggu lebih Jongin bekerja di pengisian bensin hingga pukul 11 malam, bahkan kadang sampai jam 3 pagi agar mendapat uang lembur yang menurut Jongin, cukup lumayan untuk kebutuhan hidup mereka bulan depan.

Jiyeon mendesah pelan, mata beningnya terlihat berkabut, kala mengingat wajah lelah Jongin di malam hari, ataupun saat Jongin tertidur di kelas dan perpustakaan sekolah. Laki-laki yang tidak pernah bekerja sebelumnya itu terlihat lebih kurus padahal baru sepekan lebih dia bekerja, Jiyeon bahkan tidak bisa membayangkan keadaan Jongin bulan depan jika laki-laki itu terus-terusan bekerja hingga dini hari, terlebih disuhu malam yang semakin dingin menusuk hingga ke dalam tulang belulang.

Dalam satu gerakan Jiyeon segera menegakkan tubuhnya saat pintu gerbang terbuka, menatap sosok Jongin di atas sepeda yang tersenyum ke arahnya. Jiyeon membuka pintu lebih lebar, menyongsong kepulangan Jongin, memberikan pelukan erat yang terasa hangat. Jiyeon bahkan tidak ingin melepaskannya, meneteskan air mata yang sejak tadi tertahan saat Jongin membelai rambutnya, laki-laki itu membenamkan wajahnya yang lelah disela leher jenjang Jiyeon dengan pelukan yang mengerat.

Jiyeon tahu jika Jongin sangat lelah.

“Kau menangis?”

Jongin melepaskan pelukannya saat mendengar Jiyeon terisak pelan dari dalam pelukannya, laki-laki itu meraih dagu Jiyeon yang tertunduk hingga kini pandangan mata mereka bertemu. Mengerakkan jemarinya menghapus jejak air mata Jiyeon yang tertinggal di sana, menatap ke dalam bolamata bening Jiyeon seraya mencium kening gadis itu dengan segudang rasa cintanya yang tak pernah berkurang.

“Aku baik-baik saja Jiyeon, percayalah?”

Jiyeon menggenggam jemari Jongin yang masih berada di pipinya, ia kembali terisak, mencium tangan Jongin yang masih menguarkan bau bensin yang menyengat indra penciumannya. Jiyeon menangkupkan tangannya di wajah Jongin, membelainya lembut. Wajah tampan Jongin tampak sedikit sayu, Jiyeon pun mengutaraan sebaris kalimat yang sudah pernah ia sampaikan sejak dua hari yang lalu, sebaris kalimat yang mengubah kadar cahaya di wajah Jongin menjadi sedikit suram.

“Bolehkah aku juga bekerja? Jadi Oppa tidak perlu bekerja hingga selarut ini, Aku janji tidak akan kelelahan.”

“Tidak!”

Jongin memudurkan tubuhnya, mengunci pintu lalu berlalu ke dalam kamar mandi. Menahan Jiyeon bersama kata sanggahan yang sudah disiapkan gadis itu, Jiyeon ingin bekerja hingga bisa membagi rasa lelah Jongin ke atas kedua bahunya. Jiyeon merasa sangat bersalah, jika hanya Jongin yang lelah bekerja sedangkan dia hanya berdiam diri di rumah.

Jiyeon memilih menunggu Jongin di atas alas tidur yang sudah terbentang di atas lantai, memandang kesekeliling ruangan yang kini tampak lebih penuh, dengan barang-barang karna ulah Sehun dan Chanyeol. Jiyeon melipat kedua kakinya, menyembunyikan wajahnya di atas lengan yang terlipat, memeluk kakinya erat. Hingga Jongin keluar dari kamar mandi, menutupi tubuhnya dengan handuk putih yang melilit dari pinggang hingga lututnya.

Jiyeon mengalihkan pandangannya saat Jongin berganti pakaian hingga Jongin duduk dihadapannya, menggunakan kaos panjang dan celana panjang lengkap dengan kaos kaki. Udara malam semakin terasa lebih dingin, laki-laki itu juga mengarahkan penghangat ruangan ke arah alas tidur mereka, mengerakkan handuk kecil di kepalanya tanpa sepatah kata. Jiyeon tersenyum, berdiri di atas kedua lututnya yang dia tekuk lalu mengambil alih handuk, mengantikan tangan Jongin untuk mengeringkan rambut laki-laki itu. Jiyeon menatap Jongin yang masih saja diam, memajukan bibirnya kesal karna Jongin terlihat tidak menganggap kehadirannya.

Oppa marah padaku?”

“Tidak.” Jongin mengambil handuk dari tangan Jiyeon, meletakkannya di atas jemuran kayu, di sebelah pintu kamar mandi yang baru saja dibeli Jiyeon bersama Chanyeol tiga hari yang lalu.

“Mengaku saja jika Oppa marah padaku.”

“Aku bilang aku tidak marah padamu, Jiyeon.”

“Tapi Oppa mengacuhkanku.”

“Tidurlah ini sudah malam,” Jongin berniat untuk merebahkan tubuh lelahnya, namun Jiyeon kembali bersuara hingga membuat Jongin mengurungkan niatnya.

“Aku belum mengantuk.”

Jongin mengusap wajah Jiyeon lembut, menyentuhkan ujung telunjuknya pada kelopak mata Jiyeon yang terlihat sayu, menahan rasa kantuk yang sayangnya terlalu terbaca di mata Jongin. “Matamu tidak bisa membohongiku.”

Jiyeon memajukan bibirnya, menatap Jongin dan ingin melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda. Namun sia-sia karna lagi-lagi, Jongin terlihat kembali dingin dan berbicara sangat tegas seperti yang sudah-sudah.

Oppa.”

“Aku bilang tidak, ya tidak Jiyeon. Tidurlah ini sudah tengah malam.” Jongin kembali berniat merebahkan tubuhnya, namun lagi-lagi tertunda saat Jiyeon menahan bahunya. “Apa lagi Jiyeon?”

Kali ini Jiyeon tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum lalu memutar bahu Jongin, hingga dia berada di balik punggung laki-laki itu. “Baiklah aku tidak akan membantahmu, aku tidak akan bekerja dan hanya tinggal di rumah.”

Jongin tersenyum senang.

“Tapi aku akan bekerja untukmu, Tuan Kim.”

Kening Jongin mengernyit, “Nde?

“Aku akan memijat bahumu sebelum tidur, aku tahu kau sangat lelah.” ucap Jiyeon dan mulai memijat bahu Jongin yang terasa menegang.

Nde aku memang sangat lelah, terima kasih Nona Song.”

Jiyeon tersenyum dan terus memijat bahu Jongin, namun gerakan Jiyeon terhenti saat Jongin menarik kedua tangannya hingga tubuh mereka merapat.

“Berjanjilah untuk selalu tersenyum Jiyeon dan jangan menangis lagi, percayalah jika kita akan selalu baik-baik saja selama kita bersama, arrachie?”

Jiyeon mengangguk saat Jongin menolehkan kepalanya, gadis itu memeluk erat bahu Jongin yang bidang, menyandarkan dagunya di atas pundak Jongin hingga tubuh mereka bergerak pelan.

“Nae aku janji.” Jiyeon mengeratkan pelukannya, memejamkan matanya saat Jongin mengusap lembut lengannya. “Aku mencintaimu, Jongin oppa.”

“Nado.” Jongin kembali mengusap lengan Jiyeon, tersenyum tertahan saat merasakan hembusan napas Jiyeon yang teratur menerpa kulit lehernya.

Jiyeon sudah tertidur.

Perlahan Jongin membalikkan tubuhnya dan merangkul tubuh Jiyeon hati-hati. Merebahkan di atas alas tidur, menarik selimut hingga menutupi dada mereka. Jongin memandangi wajah tenang Jiyeon, memandang lekat ditiap inci dari wajah gadis yang sangat dicintainya di dunia ini. Wajah yang hanya dengan memandangnya saja, sudah membuat Jongin tersenyum bahagia dan menguapkan rasa lelahnya tanpa sisa. Sesederhana itulah definisi bahagia untuk seorang Kim Jongin.

Pelan Jongin menelusupkan satu tanganya di bawah leher Jiyeon, menarik tubuh kecil Jiyeon hingga berada di dalam pelukannya. Dia mengecup lembut kening Jiyeon, meletakkan kepalanya di atas kepala gadis itu sesaat sebelum memejamkan kedua matanya. Jongin baru akan merasa tenang, jika sudah memastikan Jiyeon ada di dekatnya, memeluk dunia-nya sebelum dia tertidur. Jongin benar-benar takut kehilangan Jiyeon, apapun alasannya.

***

Kim’s House

Jonghyun Room – After Back From Manhattan

Jonghyun melangkah memasuki rumah besarnya yang terasa sangat sunyi, dingin tanpa sambutan hangat yang dulu kerap kali didapat Jonghyun jika dia pulang ke rumah. Senyum hangat dari sang istri tercinta, tawa dan pekikan bahagia dari Jiyeon yang akan membuat Jonghyun, memeluk putri tercintanya hingga membuatnya melayang di udara. Ataupun tatapan dingin namun menyiratkan kerinduan dan kelegaan dari Jongin, putra tunggalnya yang sangat Jonghyun sayangi di dunia ini.

Semua kini sudah berubah.

Jonghyun terus melangkah hingga menaiki tangga beralas permadani mewah, sewarna marun yang meliuk indah di tengah ruangan, membawa laki-laki itu ke lantai dua dimana terdapat kamar tidurnya dan kamar tidur putra dan putrinya. Tanpa sadar Jonghyun berjalan menuju kamar paling ujung tepat di depan beranda, kamar yang pintunya saling berhadapan, sebuah sofa biru panjang terdapat di antara kamar, sofa yang kerap diduduki Jonghyun bersama Minji dan Jiyeon untuk berbagi cerita hidup mereka.

Atau beranjak lebih ke depan, di atas beranda luar tempat dimana Jonghyun sering menghabiskan waktunya, bersama Jongin, Jiyeon dan Minji untuk bermain tebak kata atau bermain kartu. Jonghyun tersenyum samar saat hatinya bahkan masih bisa mendengar tawa bahagianya bersama mereka, namun bayangan kebahagian itu pudar kala memorinya berlari cepat ke saat dia mengusir Jiyeon dan Jongin. Hingga Jonghyun merasa matanya memanas dan membuat dia duduk lemas di atas sofa biru, merasa kakinya tidak punya daya hanya untuk sekedar menahan bobot tubuhnya sendiri.

Jonghyun menunduk, merasakan soket coklat pekatnya meneteskan butiran air mata yang tak mampu dia cegah, mengeratkan kepalan tangannya untuk semua hal yang sejujurnya juga sangat menghancurkan hatinya. Jonghyun sangat menyayangi semua anggota keluarganya, dia bahkan rela melakukan apa saja demi tawa bahagia mereka. Dia yang meringkuk seorang diri di ruang kerjanya sesaat setelah mengusir Jongin dan Jiyeon, Jonghyun benar-benar sakit untuk kehilangan yang membuatnya kesepian.

Suara gesekan dari pintu yang terbuka, menegakkan kepala Jonghyun seketika. Dengan cepat laki-laki itu menghapus air matanya dan menatap seseorang yang masih berdiri di ambang pintu kamar Jiyeon. Minji berdiri disana, bekas air mata dikedua pipinya yang pucat masih sangat jelas terlihat. Tidak ada kata yang terucap di antara mereka, terdiam dalam tatapan yang menyatu, berbalut rindu yang sejatinya saling mengelayut dihati masing-masing.

“Minji-ya.”

Jonghyun beranjak dari duduknya saat Minji tiba-tiba saja melangkah, berniat menjauh darinya tanpa sepatah kata. Ia menahan lengan Minji, menariknya pelan hingga wanita itu membalikkan tubuhnya dan mereka kini berdiri berhadapan. Jonghyun menatap memohon kepada Minji yang berusaha melepaskan genggaman Jonghyun dilengannya, menatap wanita yang tidak pernah lagi berbicara dengannya sejak dia mengusir anak-anak mereka dari rumah. Jonghyun sakit dan sangat takut jika dia benar-benar kehilangan satu-satunya wanita yang dicintainya di dunia ini, benar-benar terpuruk saat sadar jika wanita yang sejak dulu selalu berdiri dipihaknya kini mulai menjauh. Melantangkan kalimat tidak setuju untuk tindakannya kali ini, tindakan kalut dari rasa takut dan malu karna sebuah hubungan tak biasa di antara kedua buah hati mereka.

“Maaf,—-“ Jonghyun tidak mengalihkan pandangannya dari Minji yang masih sedingin bongkasan es, “Jangan pergi! Jangan meninggalkanku sendirian,” tangan Jonghyun terulur, menghapus jejak air mata yang tertinggal dipipi Minji, merasa dadanya nyeri saat menyadari jika dialah yang membuat Minji menangis.

“Bisakah setelah ini aku mendapatkan istriku kembali? Bisakah aku melihat senyummu lagi di rumah ini, Kim Minji?”

Minji mengerakkan bolamatanya, balas menatap Jonghyun, menatap satu-satunya laki-laki yang dicintainya di dunia ini. Laki-laki yang sayangnya menjadi tokoh utama, membuatnya sangat sedih dan terasa mati, untuk apa yang sudah dia lakukan pada kedua buah hati mereka. Minji tahu jika Jonghyun merasakan hal yang sama, dia tahu jika Jonghyun bahkan jauh lebih terpukul dari dirinya atas hubungan tabu dari perasaan terlarang yang menjalin di antara kedua buah hati mereka. Perlahan Minji mengerakkan tangannya, mengusap wajah Jonghyun dengan lembut. Menarik bibirnya hingga senyum samar terlukis di wajahnya, menjinjitkan kakinya, tangannya yang sedikit gemetar mulai bergerak membenarkan tata letak dasi Jonghyun yang tidak terpasang sempurna. Mengusap dada yang menjadi sandaran Minji untuk semua suka dan dukanya di dunia ini, setelah dia jatuh cinta pada Jonghyun dan mengubah nama depannya dari Park menjadi seorang Kim.

Minji memajukan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada Jonghyun, tangannya kini sudah melingkar di punggung Jonghyun. Memeluk Jonghyun dengan erat seperti yang biasa dia lakukan sejak mereka menikah 22 tahun yang lalu, mengusap lembut dada Jonghyun dengan satu tangan, memejamkan matanya saat merasakan tangan Jonghyun yang bergerak membalas pelukannya, memeluk erat tubuhnya. Samar namun pasti senyum Jonghyun mengembang, mengeratkan pelukan dan menyandarkan kepalanya tepat di atas kepala Minji, membenamkan wajahnya dihelaian rambut Minji yang menguarkan wangi bunga Freesia favoritnya. Jonghyun tersenyum kian melebar, merasa sangat lega jika ternyata dia belum benar-benar kehilangan Minji, merasa beban dihatinya sedikit menguap saat sadar jika hingga detik ini dia masih memiliki seorang Park Minji di dunia ini.

“Tetaplah disisiku dan bertahan bersamaku, walau aku melakukan sebuah kesalahan, Minji-ya.” gumam Jonghyun tepat di telinga Minji, menghujani puncak kepala wanita itu dengan kecupan hangat saat Minji pada akhirnya mengangguk setuju.

***

High School

In the Park

“Bekerja?”

Alis tebal Xiumin mengernyit, mata sipitnya memicing segaris, menatap Jiyeon yang hanya terlihat menganguk ragu sebagai jawaban dari pertanyaan Xiumin barusan. Ia terlihat berpikir sejenak, bibirnya bergumam kata-kata yang tidak terlalu jelas, matanya mengerjab memandang lurus-lurus ke arah dedaunan maple yang gugur berserakan, menutupi hampir dari seluruh hamparan rumput taman.

“Kau yakin?” tanya Xiumin sambil mengeratkan coat hitam yang membungkus tubuhnya, udara dipenghujung musim gugur sudah terasa sangat dingin, ditambah hembusan angin yang beberapa hari ini bertiup lebih kencang dari biasanya.

Nae, aku tidak bisa membiarkan Jongin oppa bekerja sendirian Xiumin, sedangkan aku hanya duduk diam di rumah.” Jiyeon mendorong helaian rambutnya yang dipermainkan angin hingga menutupi wajahnya ke belakang telinga, gadis yang bahkan sudah memakai coat tebal, syal dan sarung tangan itu, tetap saja terlihat pucat karna menahan suhu dingin yang membuatnya sedikit menggigil.

“Tapi bukankah Jongin melarangmu untuk bekerja?”

“Iya, karna itulah kau harus merahasiakan ini dari kakakku, jangan sampai dia tahu jika aku sedang mencari pekerjaan, arra?”

“Baiklah,” Xiumin menghembuskan napasnya pelan, merangkul bahu Jiyeon dan mengajak gadis itu menjauh dari taman, tak tega melihat Jiyeon yang terlihat kesusahan melawan suhu dingin yang menjadi musuh Jiyeon sejak dulu.

“Kau bisa membantuku?”

“Akan aku usahakan, kau tenang saja eoh?”

Jiyeon tersenyum senang, merangkul lengan Xiumin dan melangkah bersama menuju kantin yang di lengkapi penghangat ruangan.

***

Jongin’s Class

Sehun menatap Jongin yang terlihat sangat mengantuk, merasa prihatin untuk semua rasa lelah di mata Jongin yang mati-matian disembunyikan laki-laki itu darinya. Sehun tahu ini sangat berat untuk Jongin, mereka yang terbiasa mendapatkan fasilitas mewah untuk hidup sejak lahir, sungguh tidak terbiasa bekerja keras diusia mereka yang bahkan belum genap 20 tahun. Sehun meletakkan satu gelas coklat panas di atas meja, tepat di depan wajah Jongin yang kini tengah menyandarkan kepalanya di sana. Dia tersenyum lebar saat Jongin sedikit terkejut dan memandangnya dingin, namun itu tidak berlangsung lama karna kini Jongin sudah menikmati coklat panasnya, sama-sama duduk bersandar di sandaran bangku kelas bersama Sehun.

“Kau baik-baik saja?”

Heemm….“ Jongin kembali menyesapi coklat panasnya, tanpa menoleh ke arah Sehun yang kini menatapnya.

“Dia… juga baik-baik saja?”

“Bukankah selama aku bekerja, kau dan Chanyeol kerap menemaninya di rumah hingga larut malam?”

“Bukan itu, maksudku, apa dia baik-baik saja dengan semua kelelahan-mu, Jongin?”

Jongin mengalihkan pandangan, memandang Sehun yang sejak tadi menatapnya. “Apa maksudmu?”

“Jiyeon… merasa sangat bersalah karena kau kelelahan, merasa tidak rela jika hanya kau yang bekerja sedangkan dia hanya di rumah.”

“Lalu kau ingin aku mengizinkan dia bekerja, begitu?” Jongin mendesah pelan lalu kembali menatap lurus ke depan. “Ini musim dingin Sehun bukan musim panas, Jiyeon tidak akan bisa melakukan banyak hal disuhu yang semakin menggila, bahkan untuk sekedar bernapas jika nanti salju sudah turun.” Jongin memberi jeda pada ucapannya. “Kau tidak lupa dengan hal itu kan?”

“Aku tahu Jongin, aku tahu jika dia rentan dengan suhu dingin dan hujan.”

“Lalu?”

“Aku hanya tidak punya cara untuk menjelaskan dan membuatnya mengerti, jika kau benar-benar baik-baik saja.” Jongin tersenyum samar untuk semua kekhawatiran Sehun, Chanyeol benar seharusnya Jiyeon menjadi adik dari Oh Sehun bukan dirinya.

“Aku sudah menjelaskannya.”

Nde?

“Aku sudah menjelaskannya dan kami sudah sepakat. Dia tidak akan bekerja, setidaknya untuk saat ini.”

Sehun menganguk sekilas dan membiarkan suasana di antara mereka senyap, terdiam dalam pikiran masing-masing dipuluhan detik berlalu. Hingga sosok jangkung Chanyeol datang, wajahnya cemas, mata bulatnya bergerak gelisah, duduk tergesa di depan Sehun dan Jongin.

“Ada apa?” Sehun bertanya.

“Semalam Ayahku baru saja bertanya sesuatu padaku.” mata bulat Chanyeol semakin gelisah, menatap Sehun dan Jongin bergantian hingga kening Jongin mengernyit.

“Apa?”

“Bertanya apa yang kau lakukan di tempat pengisian bensin semalam, apa kau sedang dihukum ayahmu dengan bekerja di pengisian bensin itu?”

Nde?

“Ayahku dan rekan bisnisnya yang sayangnya adalah juga rekan bisnis Ayahmu, semalam melihatmu di pengisian bensin tempat kau bekerja Jongin.”

“Lalu?” Sehun penasaran.

“Ini tidak baik Sehun. Sangat tidak baik untuk Paman Kim, kau mengerti maksudku, ‘kan?” Chanyeol menajamkan tatapannya. “Apa yang akan dikatakan rekan bisnis ayahmu setelah ini, mengetahui anak dari seorang Kim Jonghyun, pewaris tunggal untuk Paradise Kim Enterprise bahkan juga untuk JGreen Corporation bekerja paruh waktu ditempat seperti itu?”

“Ayahku pasti akan murka setelah ini.” Jongin menjawab samar, seraya meloloskan satu hembusan napasnya yang terdengar berat.

“Tepat sekali.” Chanyeol kembali berucap, “Harga diri, adalah harga mati untuk orang-orang kalangan atas seperti keluarga kita, Jongin. Ingat itu!”

Jongin hanya diam, beradu ragu dalam pikiranya sendiri. Membayangkan hal apa yang akan dilakukan ayahnya pada dia dan Jiyeon setelah ini, apa yang akan ayahnya perbuat untuk sebuah eksitensi harga diri didepan para koleganya. Di depan para kawanan sampah bangsawan yang bahkan, mampu membuat ayahnya melupakan senyum bahagia dari orang-orang yang dicintainya.

***

After School – 03.00 pm

Oppa, hari ini aku ingin pergi bersama Xiumin ke suatu tempat, bolehkah?”

Jongin yang baru saja selesai melepas gembok pada rantai sepedanya di parkiran khusus sepeda mengernyit, menatap memicing pada Jiyeon yang terlihat gugup.

“Kemana?”

“Menemani Xiumin ke suatu tempat, aku janji hanya sebentar.”

“Rahasia?” mata coklat Jongin kian memicing curiga, ini pertamakalinya Jiyeon menyimpan sesuatu hal dari dirinya.

“Iya rahasia. Tapi aku janji akan menceritakannya nanti. Aku pergi oppa, annyeong.”

Belum sempat Jongin mengeluarkan suaranya, Jiyeon sudah berlalu dari hadapannya, berlari kecil menuju mobil Xiumin yang terparkir di depan gerbang sekolah. Jongin dapat melihat Xiumin melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil, membawa Jiyeon pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui Jongin.

“Rahasia? Sejak kapan kau merahasiakan sesuatu dariku, Jiyeon-ah.” gumam Jongin lalu mengendarai sepedanya, mengayuhnya menuju pengisian bensin tempat dimana dia bekerja.

***

Coffee Shop

“Kau yakin tidak apa-apa jika aku bekerja di sini, Xiumin?”

Sekali lagi Jiyeon menahan langkahnya yang membuat Xiumin juga ikut menahan langkahnya, Jiyeon mengeratkan rangkulan tangannya di lengan Xiumin. Xiumin menarik napasnya pelan, tersenyum seraya memutar tubuhnya menghadap Jiyeon. Dengan kedua tangannya Xiumin membingkai bahu mungil Jiyeon, mensejajarkan pandangan mereka seraya kembali berucap kata-kata yang sama, seperti yang sudah dikatakannya sebanyak lima kali sejak mereka masih berada di dalam mobil.

“Jiyeon-ah ini cafe pamanku, beliau memang sedang mencari seorang kasir. Jadi tidak akan menjadi masalah jika kau bekerja disini, lagipula aku tidak bisa menemukan pekerjaan yang lain untukmu, selain bekerja di cafe pamanku ini.”

Jiyeon hanya menatap Xiumin tanpa sepatah kata.

“Percayalah padaku Jiyeon, eoh?”

“Terima kasih.” Jiyeon tersenyum.

“Nde.”

“Kau ingat janjimu kan?”

“Iya! Aku tidak akan mengatakan tentang pekerjaan ini pada kakakmu, bahkan pada Sehun dan Chanyeol.” Xiumin mengerakkan tangannya di depan bibir, membuat gerakan mengunci bibir lalu tersenyum hingga mata sipitnya menghilang.

Jiyeon tersenyum semakin lebar, gadis itu melingkarkan tangannya di bahu Xiumin, memeluk erat laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak hampir 3 tahun lalu. Merasa sangat bersyukur memiliki sahabat sebaik Xiumin, sahabat yang selalu ada disaat senang dan disaat susah. Jiyeon benar-benar merasa sangat beruntung.

***

Jiyeon melebarkan langkahnya, sedikit berlari kecil dari halte menuju rumahnya, dia harus tiba di rumah sebelum Jongin tiba di rumah, jika tidak maka Jongin pasti akan mencurigainya. Jiyeon menarik napas lega saat melihat rumahnya masih gelap, lampu belum dinyalakan, itu berarti Jongin belum kembali. Segera Jiyeon masuk ke dalam rumah, membersihkan diri, menyiapkan makan malam yang dibelinya di dekat café, dan menunggu Jongin pulang dengan duduk manis di atas alas tidurnya.

Gadis itu mendesah pelan, memijat pelan pundaknya yang terasa pegal, “Ternyata bekerja itu kesenangan yang melelahkan,” gumam Jiyeon seraya tersenyum.

Jiyeon merenggangkan tubuhnya yang lelah, menoleh cepat saat mendengar suara gesekan pintu yang terbuka. Menatap terkejut sekaligus senang, sosok Jongin yang menjulang di depan pintu, laki-laki itu menenteng bungkusan putih ditangannya. Terlihat sedikit kecewa, karena ternyata di atas meja, juga sudah tersaji makanan yang sama persis dengan yang dibelinya.

Pasta panas dan daging asap. Kesukaan mereka berdua.

“Tadi aku membelinya dengan sisa uang yang Ibu berikan pada kita.” ucap Jiyeon pelan, mereka kini sudah duduk berhadapan di depan meja.

“Bos ditempatku bekerja datang dan memberi bonus untuk kami semua, malam ini dia sedang berulang tahun.” Jelas Jongin dan Jiyeon pun menganguk sekilas.

“Tidak apa-apa, kita makan sampai puas dan kekeyangan malam ini, oppa setuju?”

Senyum Jiyeon mengembang, menyiapkan sumpit dan sendok, dia terlihat begitu semangat. Jongin mengangguk setuju, menggerakkan tangannya, mengusap kepala Jiyeon dan menerima suapan satu sendok pasta yang Jiyeon sodorkan di depan mulutnya.

“Bagaimana rasanya?”

“Enak.” Jawab Jongin, lalu kembali menerima suapan dari Jiyeon.

Mereka tertawa bersama seraya menghabiskan makan malam mereka hari ini, menceritakan apa saja yang mereka alami dan temui hari ini. Hingga puluhan menit waktu berlalu di antara mereka, menghabiskan semua menu makan malam dan membuat perut mereka berdua, terlihat lebih buncit dari biasanya. Jiyeon berdiri dari duduknya disusul Jongin yang kini juga sudah beranjak, bermaksud untuk berpindah ke alas tidur mereka. Mereka berdua sangat kekenyangan dan ingin segera tidur.

Jiyeon berdiri di atas alas tidur seraya menatap ke arah luar jendela, melebarkan mata beningnya, lalu tersenyum saat mendapati butiran bola-bola putih mulai berjatuhan dari langit. Gadis itu menundukkan tubuhnya, menarik Jongin yang baru saja hendak membaringkan tubuh, membawa Jongin ke arah pintu. Jiyeon membuka pintu, kembali tersenyum yang kali ini terlihat lebih lebar, menatap Jongin lalu kembali menatap butiran bola-bola halus seputih kapas di luar kamar.

“Salju.” gumam Jongin seraya menatap langit.

Nde, salju pertama kita oppa,” Jiyeon ikut menatap ke arah langit.

Jongin mengangguk setuju, laki-laki itu mendekatkan tubuhnya hingga bahu mereka bersentuhan. Perlahan Jongin melingkarkan tangannya di bahu Jiyeon, menariknya pelan hingga gadis itu kini sudah bersandar nyaman di dadanya yang bidang. Jiyeon ikut melingkarkan tangannya di pinggang Jongin, memejamkan matanya sesekali saat Jongin mengecup puncak kepalanya berulang-ulang.

“Apa kau sudah membuat permintaan?” tanya Jongin seraya menyandarkan kepalanya di atas kepala Jiyeon, mengeratkan pelukan hingga tubuh Jiyeon hampir menghilang di balik lengannya.

“Sudah.”

Eoh!” Jongin menunduk, menatap Jiyeon yang semakin membenamkan wajahnya di dada Jongin yang hangat. Berlindung dari udara musim dingin yang sejak dulu, selalu tak bisa Jiyeon taklukan.

“Aku meminta pada Tuhan… agar tetap mengizinkanku untuk selalu bisa bersama kakakku, pelindungku, dan kekasihku, Kim Jongin.”

Tanpa perintah senyum Jongin merekah, menghujani pipi dan puncak kepala Jiyeon dengan kecupan hangatnya. Mengeratkan pelukan pada sumber kebahagiannya di dunia ini, kebahagian yang membuat Jongin rela menentang takdir tabu di antara meraka. Mereka masih saling memeluk satu sama lain, menikmati salju pertama dikehidupan baru mereka. Berharap jika semuanya akan tetap berjalan baik, berharap jika masih ada kesempatan dan celah yang dunia berikan untuk masa depan mereka suatu hari nanti.

****

Paradise Kim Enterprise

Jonghyun Office Room – 01.00 pm

Salju turun kian lebat kala Jonghyun berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya yang berkabut, langit membentang luas berwarna putih nyaris abu-abu yang menaunginya, terlihat tak merasa peduli kepadanya sama sekali, kepada kehancuran dan pesakitan yang mendera hatinya. Tetap menurunkan salju yang kian menutupi hampir seluruh jalanan kota, membuat hati Jonghyun semakin terasa dingin dan hampa.

Jonghyun menghirup udara sebanyak yang dia bisa, melayangkan pandangan pada pucuk pepohonan maple yang sudah tertutup salju, putih, membeku. Sebeku perasaannya saat tidak bisa lagi berdoa bersama kedua anaknya, saat salju turun pertama kali seperti yang biasa dia lakukan selama 6 tahun terakhir ini. Tidak bisa lagi menikmati coklat panas buatan Minji, duduk di depan perapian dan Jiyeon di dalam rangkulan. Bercerita panjang lebar, membela Jiyeon saat Jongin menyalahkan Jiyeon yang rentan dengan udara dingin, membuat mereka semua tak bisa bermain ice skeating di bawah salju.

Semua jejak manis itu masih tertinggal terlalu nyata dipeta hidupnya, masih terasa begitu jelas hingga terlalu sulit untuk dihapus. Satu helaan napas panjang lolos dari kerongkongan Jonghyun, menimang permintaan Minji semalam untuk menjemput Jiyeon dan Jongin kembali. Permintaan yang terdengar sangat tidak masuk akal untuk dilakukan, permintaan yang akan semakin membuat sulit keadaan yang sudah terlalu kusut untuk diluruskan.

Tidak ada seorang pun yang menikahi saudara angkatnya sendiri di negaranya hingga detik ini.

Suara ketukan dari arah pintu mengalihkan pandangan sayu Jonghyun, menatap lurus ke arah seorang laki-laki tegab yang baru saja membungkuk hormat padanya. Seorang laki-laki kepercayaannya yang dia tugaskan untuk mengawasi Jongin dan Jiyeon, laki-laki yang memberinya kabar tidak begitu baik siang ini.

“Presdir Choi pemilik dari Hyundai Corporation bersama Tuan Park Seungho, semalam… mereka bertemu dengan Tuan muda Kim di tempat pengisian bensin dimana Tuan muda bekerja. Mereka tidak sempat bertanya, tetapi… Tuan Choi merasa sedikit tertarik dengan penemuannya ini, Presdir.”

“Choi Kiwon?”

Nae, Tuan Choi bahkan meminta seseorang untuk bertanya, kepada pemilik tempat penjualan bensin itu, Presdir. Memastikan apa benar, Tuan muda Kim Jongin bekerja di sana.”

Jonghyun mengepalkan tangannya, pandangannya tenang namun mematikan. “Sepertinya dia masih kesal padaku, karna menolak bekerja sama dengannya tempo hari.” ucap Jonghyun dingin, untuk rasa kesalnya pada Choi Kiwon, rekan bisnis yang tidak begitu disukai Jonghyun, karna sifat personalnya yang terlalu banyak bicara dan selalu ingin tahu segala hal yang bukan urusannya.

“Lalu bagaimana dengan Seungho? Apa dia juga ingin mengetahui sesuatu?”

“Sejauh ini Tuan Park tidak melakukan apapun,”

Eoh, Dia mungkin menanyakan sesuatu pada putranya.”

“Ada kemungkinan seperti itu, karna Park Chanyeol, putra Tuan Park berteman dekat dengan Tuan muda Kim Jongin.”

“Ya aku ingat itu.”

Jonghyun membalikkan tubuhnya, berjalan menuju kursi kuasanya. Duduk di sana dengan meletakkan kedua tangan di atas meja, menopang dagunya di atas genggaman tangan yang mengeras dengan mata yang memicing tajam.

“Aku ingin bertemu Jongin sore ini, Jaebin.” ucap Jonghyun masih dengan suara dinginnya.

Nae algaesumnida,” Lee Jaebin pun mengangguk mengerti, sesaat sebelum meninggalkan ruang kerja Jonghyun, meninggalkan Jonghyun yang berkutat sendirian, dalam pikiran kalutnya di belakang sana.

****

Jongin membungkuk pada pelanggan yang baru saja selesai mengisi bensin untuk mobilnya, laki-laki itu tampak menerawang dan sedikit bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang sebenarnya tengah Jiyeon lakukan bersama Xiumin. Sudah beberapa hari ini Jiyeon tidak pulang sekolah bersamanya, selalu meminta izin untuk pergi bersama Xiumin.

Jongin cemburu?

Bukan. Bukan cemburu, Jongin bahkan tidak pernah memikirkannya, dia terlalu percaya pada perasaan Jiyeon yang disematkan untuk dirinya. Jongin hanya merasa jika Jiyeon menyembunyikan hal penting darinya, hal yang membuat wajah gadis itu terlihat lebih pucat dan lelah. Jongin terlalu mengenal Jiyeon, terlalu hafal dengan semua yang melekat di tubuh gadis itu. Dari ekspresi, perubahan warna wajah, dan gerak-gerik Jiyeon yang diluar dari kebiasaan, Jongin yakin ada sesuatu hal penting yang sedang Jiyeon sembunyikan darinya.

Jongin menghembuskan napasnya sebentar dan kembali membungkuk, saat sebuah mobil hitam berhenti di depan mesin pengisian bensin yang dia jaga. Jongin membenarkan tata letak masker yang menutupi setengah wajahnya, laki-laki itu mulai menekan tombol layar di mesin pengisian bensin dan memasukkan nominal uang yang dibayarkan padanya, dari seseorang di balik kaca mobil yang hanya terbuka sedikit, hanya cukup untuk menjulurkan beberapa lembar uang kertas padanya. Jongin menatap sekali lagi mobil hitam yang terparkir di depannya, mobil yang dirasa Jongin dikenalnya dengan baik, mobil yang terlihat seperti salah satu mobil milik sang ayah. Saat Jongin masih berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba kaca mobil bagian depan terbuka lebih lebar, menampakkan sosok seorang laki-laki yang dikenal Jongin sebagai orang kepercayaan ayahnya.

“Paman Jaebin?”

“Tuan muda, Presdir ingin bertemu Tuan muda sekarang juga.” ucap Jaebin yang duduk di balik kursi kemudi, laki-laki itu menatap Jongin, menundukkan kepalanya, memberi salam hormat untuk putra majikannya.

Selajutnya pintu geser mobil mewah itu terbuka, Jaebin kembali menatap ke arah Jongin, menundukkan kepalanya lagi seraya tersenyum samar, menatap Jongin dalam diam. Tatapan yang menyiratkan sebuah perintah tanpa celah bantahan, perintah yang pada akhirnya membuat Jongin masuk ke dalam mobil dan membawanya bertemu sang ayah kembali, Kim Jonghyun.

****

Coffee Shop

Dari pinggiran cangkir putih yang di pegangnya, menempel di ujung bibirnya, Jonghyun menyesap kopi panas kesukaannya dengan tenang, menampik kekhawatiran yang ingin sekali dia verbalkan dalam kalimat hangat, pada sosok Jongin yang duduk di depannya. Menatap sosok sang putra yang rindukannya, menatap putra yang mewarisi tatapan dingin dan rahang pipinya yang tegas, dan mewarisi sifat keras darinya namun memiliki hati yang sangat lembut seperti ibunya.

Jonghyun meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca di antara mereka, mereka duduk di kursi cafe tepat di tengah ruangan yang tampak lengang, kasir cafe dan semua para pegawai cafe lainnya kini ada di luar cafe untuk menjaga pintu. Dengan bantuan selembar cek bernilai jutaan won yang dia sodorkan pada manager cafe, Jonghyun melarang siapapun untuk masuk ke dalam cafe selama dia dan Jongin berbincang. Jonghyun memandang lurus-lurus pada Jongin yang sedari tadi hanya mengaduk minumannya, tanpa niat untuk mencicipinya walau hanya sekedar satu hesapan. Kim Jongin, terlihat gusar dan kalut.

“Apa yang ingin Ayah bicarakan padaku?” ucap Jongin yang seketika memecah keheningan di antara mereka, terlalu enggan berbasa-basi hingga suasana tegang terasa begitu kental menyelimuti meja mereka.

“Tinggalkan Song Jiyeon dan kembalilah ke rumah.” ucap Jonghyun dingin dan tenang, merasa tak peduli saat keterkejutan tersirat jelas dari balik mata coklat Jongin yang melebar.

“Tidak!”

“Tinggalkan dia,”

“Aku bilang tidak, Ayah!”

“Tinggalkan dia atau Ayah yang harus memaksamu untuk meninggalkannya?”

Jongin menajamkan tatapannya, menarik napas pelan guna menahan emosinya yang kian tersulut. “Kalau begitu, tinggalkan Ibu, Ayah.”

“Apa?”

“Bisakah?”

“Kim Jongin!”

Wae? Ayah tidak bisa meninggalkan Ibuku? Kalau begitu, aku juga tidak bisa meninggalkan Jiyeon-ku.”

Jonghyun menatap Jongin geram, kepalan tangannya mengeras, mensejajarkan pandangan mereka dalam kemarahan yang mulai menyelimuti hati keduanya. Jonghyun tahu jika melawan Jongin sama saja seperti dia melawan dirinya sendiri, Jongin terlalu mirip dengannya, dingin, keras kepala, dan terlalu sulit untuk dibantah. Jonghyun tersenyum samar, kembali mengucapkan matlamat angkuhnya, hingga membuat kemarahan Jongin kian memuncak.

“Dia Adikmu, semua orang tahu kau dan Jiyeon adalah saudara angkat. Jadi sampai kapanpun, tidak akan ada tempat untuk kalian di negara ini.”

“Kami akan pergi.” jawab Jongin tiba-tiba dan tanpa rencana, dia masih menatap Jonghyun tajam dalam kemarahan yang tidak berkurang.

“Pergi? Dengan apa? Dengan cinta yang tak lebih dari omong kosong diusia remaja, lalu menghancurkan masa depan mu dan masa depan Jiyeon, demi sebuah masa depan kalian yang bahkan belum bisa dipastikan terjadi, begitu?”

Senyum meremahkan dalam tatapan seramnya yang mengintimidasi, hanya di balas Jongin dengan seringai tanpa rasa gentar yang terulas di sudut bibirnya. Hingga Jonghyun merasa jika gigi-giginya mulai beradu satu sama lain, seirama dengan hembusan napasnya yang kian terhembus kasar menahan emosi.

“Aku tidak akan mengorbankan nama baik dan harga diriku hanya untuk cinta remaja kalian, jika kau tidak mau meninggalkannya, maka aku yang akan memaksa-mu untuk meninggalkannya, cepat atau lambat.”

Jongin mendorong bangku yang di dudukinya, hingga menimbulkan suara dencitan saat kaki bangku bergesek cepat dengan lantai marmer cafe yang sewarna putih tulang, terlalu muak untuk melanjutkan pembicaraan yang hanya akan membuatnya lupa, jika laki-laki yang ada di hadapannya saat ini adalah ayah kandungnya.

“Aku muak dengan orang-orang yang mengubahmu Ayah, aku muak dengan sekelompok sampah bangsawan yang kau puja-puja dan kau anggap lebih penting dari keluargamu. Dan perlu Ayah ketahui… jika aku tidak peduli dengan nama baik dan harga diri yang selalu kau angung-angungkan itu, jadi berhentilah berpikir jika aku akan meninggalkan gadis yang aku cintai hanya karena ancamanmu, Tuan Kim Jonghyun.”

Jonghyun mengeraskan kepalan tangannya hingga buku-bukunya memutih, seperti mendapatkan lembaran telak bola besar yang menghantam wajahnya. Jonghyun merasa wajahnya memanas, terhuyung lalu jatuh ke dalam jurang yang juram dan dalam, hingga dia tidak bisa menemukan oksigen untuk paru-parunya. Jonghyun sangat marah untuk kata-kata penekanan Jongin, di bagian akhir kalimatnya. Namun saat Jongin baru saja ingin melangkah menjauh, Jonghyun kembali bersuara. Melayangkan sebaris kalimat yang membuat Jongin kembali mengeratkan genggaman tangannya, menatap Jonghyun dengan rasa kecewa yang membuatnya mati rasa.

“Tapi sayangnya kau harus tetap meninggalkannya, dan Ayah akan berpikir ulang tentang kebahagian Song Jiyeon. Jika tidak… Ayah pastikan kau akan menyesal, Kim Jongin.”

****

Jiyeon merapatkan coat biru yang dipakainya, merasa masih terlalu dingin walau syal dan sarung tangan juga sudah melindungi tubuhnya. Berjalan dari cafe ke halte yang hanya berjarak 50 meter, terasa begitu jauh dan sulit untuk Jiyeon. Dia meraba keningnya yang memanas, mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu halte dengan melipat kedua tangan di depan dada. Menatap senja yang semakin putih, beku, dan mampu merobek pertahan tubuhnya, mengigil hingga giginya beradu. Hari ini Jiyeon meminta izin pulang lebih cepat, karna merasa jika tubuhnya tidak terlalu dalam kondisi baik.

“Jika oppa tahu aku demam, dia pasti akan memarahiku.”

Jiyeon bergumam dalam kepanikannya, menjejalkan tangannya ke dalam tas punggung yang di bawanya, guna menemukan botol obat penurun panas yang biasa dibawa kemanapun dia pergi. Segera Jiyeon meminum obatnya, memeriksa sekali lagi suhu tubuhnya dengan meraba kening dan pipinya. Berharap jika suhu tubuhnya kembali normal, sebelum Jongin pulang ke rumah malam ini.

Bus yang ditunggu Jiyeon pun tiba, gadis itu segera menaiki bus yang ternyata tidak terlalu penuh, duduk di bangku tengah mengarah ke jendela. Dia mengusap tangannya, memandang ke arah luar jendela dari balik kaca yang berkabut. Dalam pikiran yang menerawang Jiyeon bersandar, bermaksud untuk memejamkan matanya sejenak. Namun tiba-tiba bus yang ditumpanginya mendadak berhenti, semua penumpang termasuk Jiyeon terkejut, gadis itu menjulurkan lehernya ke depan, mencari tahu apa penyebab bus berhenti ditempat yang tidak seharusnya.

“Paman Jaebin?”

Jiyeon terkejut saat menatap sosok laki-laki yang menjadi orang kepercayaan ayahnya, tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu seraya membungkuk hormat ke arahnya. Pelan tapi pasti tangan Jiyeon membeku, bergetar, dalam rasa ketakutan yang sudah menyergap perasaannya. Lee Jaebin berjalan mendekatinya, membungkuk hormat, mengucapkan sebaris kalimat. Santun, tenang, seperti biasa. Dan tanpa perlu berpikir keras, Jiyeon pun yakin jika ada hal buruk yang akan menimpanya sebentar lagi.

Agasshi… Presdir ingin bertemu sekarang juga.”

****

Jongin’s Home – 09.00 pm

Berjalan mondar mandir di depan pintu, tangan mengepal, napasnya memburu cepat, bergulat dalam rasa panik yang membelitnya, itulah yang Jongin lakukan sejak beberapa menit yang lalu. Menekan tombol cepat dilayar hanphonenya untuk menghubungi Jiyeon, namun nihil karna gadis itu tidak menjawab panggilannya. Jongin sangat panik saat tidak menemukan Jiyeon saat dia pulang ke rumah beberapa menit yang lalu, dia segera menghubungi Xiumin untuk mengetahui keberadaan Jiyeon saat ini.

Jongin yang kalut terlihat sangat marah kala mengetahui, apa yang Jiyeon lakukan di belakangnya. Hal yang diketahui Jongin dari Xiumin, setelah dia mendesak Xiumin untuk mengatakan yang sebenarnya. Jiyeon bekerja paruh waktu, di cafe milik kerabat Lee Xiumin. Jiyeon menghianatinya, mengabaikan titahnya yang melarang gadis itu untuk bekerja. Mata coklat Jongin melebar saat pintu gerbang terbuka, menampakkan sosok Jiyeon yang tergesa memasuki pelataran. Wajah gadis itu sangat pucat, terlihat semakin pucat saat terkejut menemukan sosok Jongin di depan pintu. Jongin melipat tangan di depan dada, tatapannya dingin sarat kemurkaan yang tergambar jelas di wajahnya yang mengeras. Saat itu juga, Jiyeon pun menyadari jika kini Jongin sudah mengetahui semuanya.

“Kenapa kau lakukan ini, Jiyeon?”

Jiyeon hanya menunduk takut di depan pintu tanpa jawaban, meremas jemarinya yang terbungkus sarung tangan, cemas dalam balutan rasa bersalah karena sudah membohongin Jongin untuk pertama kalinya. Jiyeon bahkan sudah hampir menangis, saat Jongin berteriak di depan wajahnya. Jiyeon sangat takut saat ini, karna sejak dulu dia akan merasa sangat takut jika Jongin memarahinya.

“Kenapa kau bekerja!”

“Ak… aku,”

Jiyeon tergagap, masih menunduk menatap lantai marmer yang pijaknya, tak punya nyali untuk menengadah menatap Jongin yang Jiyeon yakin masih sangat marah. Namun tiba-tiba Jiyeon merasakan sesuatu yang panas dan pekat, mengalir di dalam hidungnya, menetes di jemarinya yang mengepal. Seketika Jiyeon mendongak, jari telunjuknya sudah berada diujung hidung, menahan cairan merah pekat yang terus mengalir dari sana. Jongin membulatkan matanya seketika, panik, dan kalut hingga membuatnya memaku untuk beberapa saat.

Op…oppa.”

Jiyeon bergumam hingga menyadarkan Jongin, laki-laki itu menyambar handuk di atas jemuran kayu, menyumbat hidung Jiyeon dan meminta gadis itu untuk mendongak. Menggiring Jiyeon untuk duduk di lantai, menahan tengguk dan kening Jiyeon hingga gadis itu bisa mendongak dengan nyaman. Jongin memandang wajah Jiyeon yang sangat pucat, menahan luapan emosi sarat rasa bersalah, karna merasa telah membuat Jiyeon jatuh sakit.

Jiyeon mengerjap pelan, menatap wajah Jongin yang ada di atas wajahnya, “Maafkan aku oppa,” gumam Jiyeon pelan, menahan desakan air mata yang sudah berlomba untuk turun dari ujung matanya. Jongin tidak menjawab, dia justru memeriksa hidung Jiyeon dan memastikan jika sudah tidak ada darah mengalir di sana. Jongin mengukur suhu tubuh Jiyeon, menempelkan tangannya di kening Jiyeon, beralih untuk mengambilkan segelas air untuk gadis itu.

Oppa… maaf.”

Jiyeon menahan lengan Jongin saat laki-laki itu ingin beranjak, memeluk erat tubuh Jongin seraya kembali melafalkan kata maaf. Jiyeon benar-benar merasa bersalah karena tidak mematuhi ucapan Jongin, membuat laki-laki itu marah dan membuat dirinya dalam bahaya. Perlahan Jongin balas memeluk Jiyeon, mengusap lembut bahu dan punggung Jiyeon yang sedikit bergetar.

“Bisakah kau tidak mengulanginya lagi?” Jongin mengeratkan pelukannya.

“Maafkan aku.”

“Kau membuatku sangat takut Jiyeon, jadi… berhenti bekerja dan turuti kata-kataku, kau mengerti?” Jiyeon segera menganguk berulang, mengeratkan pelukan untuk meluapkan semua rasa bersalahnya pada Jongin.

“Dan berjanjilah… untuk tidak akan pernah meninggalkanku, apapun alasannya.”

“Nde?”

“Berjanjilah Jiyeon?”

Jiyeon bingung namun tetap mengangguk, “Iya aku tidak akan meninggalkanmu oppa, walau dunia menolak dan melempar kita keluar… aku akan tetap selalu bersamamu.”

Jiyeon meneteskan air matanya saat pelukan Jongin kian mengerat, memejamkan matanya saat bayangan untuk sebuah fakta yang baru disetujuinya datang dan memenuhi pikirannya. Merasa sangat takut pada sebuah fakta mengerikan yang kini mengejar ditiap langkahnya, meminta gadis itu untuk segera merealisasikan semua kesepakatan yang sudah dibuatnya demi masa depan Jongin. Hingga Jiyeon tidak pernah tahu, jika saat ini Jongin juga telah meneteskan air matanya, air mata kalut untuk sebuah pilihan sulit yang harus diambilnya cepat atau lambat.

TBC

Iklan

11 pemikiran pada “Forbidden Feeling (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s