Hypocrites (Part 10)

poster1

Hypocrites (Chapter 10)

 | Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 10 |

Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

FANFIC INI PERNAH DIPUBLIS DI ; http://zelowifey.wordpress.com/2013/04/22/hypocrites-chapter-10/

Hangat.

Adalah hal pertama yang dirasakan oleh Suji ketika dia membuka matanya di pagi hari yang cerah ini. Entah mengapa rasanya seolah-seolah kehangatan tubuh Kai masih membekas pada kain ranjangnya, sepertinya Kai baru saja beranjak keluar dari dalam kamarnya. Suji pun tersenyum, ternyata Kai benar-benar menepati janjinya, janji yang menyatakan bahwa dia akan terus menemani dirinya hingga dia tertidur lelap. Suji mengangkat dirinya dan melepas kain selimutnya, kemudian dia pun beranjak turun dari atas ranjangnya. Namun sayangnya, begitu kakinya berhasil menyentuh bagian permukaan, rasa hangat tersebut perlahan memudar, dan lantai yang dingin kembali menyambut paginya.

Menggigil, Suji segera berlari ke kamar mandi dan bersiap-siap sebelum berangkat ke sekolah seperti biasanya, tipikal seorang pelajar pada umumnya. Setelah mengenakan seragam dan mengambil ranselnya, dia pun segera keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga. Dan betapa terkejutnya dia begitu menemukan pemandangan yang jarang dia temui di rumah ini. Tuan dan nyonya Kim dan juga Kai terlihat tengah duduk bersama di meja makan, mereka bertiga terlihat tengah sarapan bersama seraya berbincang satu sama lain. Sebuah hal yang jarang ditemui setiap pagi tentunya.

“Suji-ah” Nyonya Kim segera memanggil Suji begitu beliau melihat keberadaannya, sontak tuan Kim dan Kai pun menatapnya, “Kemarilah, sarapan dulu sebelum kau berangkat” Ujar nyonya Kim.

“Ne” Sahut Suji, kemudian dia pun ikut bergabung di meja makan bersama anggota keluarganya, ya … anggota keluarganya. Dia memang telah benar-benar menganggap nyonya dan tuan Kim, dan juga Kai sebagai bagian dari keluarganya.

Suji duduk tepat disamping Kai, sedangkan nyonya dan tuan Kim duduk bersebelahan. “Suji-ah makan yang banyak, arraseo?” Ujar tuan Kim seraya mengisi gelas Suji dengan lebih banyak air mineral, Suji pun segera mengucapkan ucapan terima kasih kepada tuan Kim. Di dalam benaknya Suji berpikir, sepertinya dia baru saja mengalami peristiwa yang dia yakini bernama Dejavu. Dia ingat ketika pertama kali dia sarapan bersama dengan anggota keluarga barunya, saat itu tuan Kim mengatakan dan juga melakukan hal yang sama seperti apa yang baru saja beliau lakukan kepadanya beberapa saat yang lalu. Suji pun tersenyum begitu sadar akan fakta tersebut.

“Suji-ah” Tuan Kim memanggil namanya dengan nada suara yang terdengar berbeda, seolah-olah beliau ingin mengatakan suatu hal yang penting kepadanya, “Sabtu ini appa akan pergi ke Jepang lagi, kakekmu meminta kami untuk membantu menjalankan perusahaannya yang sedang berjalan tidak stabil disana” Jelas tuan Kim dengan nada suara yang serius. Suji mengangguk pelan, dia tahu bahwa belakangan ini perusahaan kakeknya tengah mendapatkan beberapa masalah yang tidak mungkin dapat ditangani oleh kakeknya seorang diri, apalagi dengan kondisi kakeknya yang baru saja sembuh dari penyakit yang dideritanya, dan betapa leganya dia begitu mendengar bahwa tuan Kim sendiri yang akan turun membantu kakeknya. Namun kata ‘kami’ yang baru saja diluntarkan oleh tuan Kim membuatnya bertanya-tanya. Apakah nyonya Kim juga akan pergi ke Jepang? Lalu berapa lamakah mereka berdua akan menetap disana?

“Dan Kai,” Tiba-tiba saja tuan Kim kembali bersuara, “Yang akan menemaniku kesana.”

Suji sedikit tersentak begitu mendengarnya. Sontak dia pun mengalihkan perhatiannya kearah Kai yang terlihat acuh tidak acuh dengan perbincangan yang sedang berlangsung di ruang makan.

“Berapa lama appa dan juga Kai akan menetap disana?” Tanya Suji khawatir. “Kami masih belum tahu, mungkin hingga keadaan perusahaan kembali stabil,” Tuan Kim menjawab, “Mungkin akan memakan waktu dua hingga tiga bulan.”

Jantung Suji mulai berdegup begitu mendengarnya.

“La-lalu bagaimana dengan kegiatan sekolah Kai? Tidakkah seharusnya dia pergi ke sekolah?” Suji bertanya dengan nada suara yang terdengar binggung dan juga gugup, dia masih belum bisa mengerti sepenuhnya akan kabar yang terkesan mendadak ini.

“Aniyo,” Akhirnya Kai mengeluarkan suara, “Aku telah mendapatkan izin dari pihak sekolah, dan juga aku tidak perlu khawatir mengenai nilaiku nanti, lagipula aku sendiri yang memutuskan untuk pergi kesana. Maka dari itu diamlah dan jangan banyak bertanya lagi” Sahut Kai dengan nada suara yang terkesan dingin. Suji pun hanya dapat mencibir pelan begitu mendengarnya.

Beberapa saat kemudian, tuan dan nyonya Kim pun meninggalkan ruang makan terlebih dulu, dikarenakan mereka berdua harus segera menghadiri rapat pagi yang akan berlangsung di perusahaan milik mereka.

Suji mengalihkan perhatiaannya kearah Kai sekali lagi, “Apa kau benar-benar akan pergi?” Dia bertanya seraya menatap Kai dengan pandangan ragu. Dia meyakinkan dirinya sendiri mengenai apa yang baru saja dikatakan oleh Kai beberapa saat yang lalu, bahwa mungkin saja Kai hanya bercanda. Mungkin saja Kai berbohong kepadanya. Mungkin saja Kai hanya menceritakan rencana yang ingin dia lakukan, dan bukan yang akan dia lakukan.

Namun ketika Suji melihat paras pada wajah Kai yang tidak sedikitpun menunjukkan adanya tanda-tanda kebohongan ataupun lelucon, disana dia sadar bahwasanya Kai memang benar-benar serius dengan apa yang baru saja dia katakan kepadanya.

“Mungkin kau bingung dengan keputusanku yang terkesan mendadak ini, namun …” Kai kembali membuka mulutnya, seraya melenyapkan kehampaan yang mulai menguasai ruang diantara mereka berdua. “Belakangan ini aku sering bertanya-tanya,” Kai berbicara dengan nada suara yang datar seperti biasanya, namun pandangan matanya seolah mempertanyakan suatu hal yang bahkan tidak dapat dia pahami, pandangan matanya seolah tersesat dalam ruang dan waktu. “Apakah dua atau empat tahun lagi aku masih akan tetap menjadi seperti ini? Menjadi seorang Kai yang selalu mendapatkan segalanya dengan mudah, menjadi seorang Kai yang selalu disuapi, menjadi seorang Kai yang selalu menganggap segala sesuatunya pasti akan berjalan dengan lancar, disaat tidak ada satupun hal di dunia ini yang berjalan dengan lancar” Kai berbicara seraya menatap Suji lurus ke dalam bola matanya, seolah ikut menyeret Suji ke dalam dunianya yang terkesan rumit.

“Apa maksudmu, Kai?” Tanya Suji bingung, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kai. “Aku hanya ingin membantu appa dan juga kakekmu, dengan inisiatifku sendiri, itu saja” Jawab Kai yang setelah itu berdiri dari kursinya, dan bermaksud untuk beranjak meninggalkan ruang makan.

Walaupun Suji masih belum dapat sepenuhnya mengerti implikasi permasalahannya, namun dia benar-benar terkesan oleh Kai saat ini, Kai yang menurutnya terlihat begitu dewasa.

“Sejak kapan kau berubah menjadi seperti ini, Kai?” Tanya Suji dengan intonasi suara yang terkesan jahil. Kemudian secara tiba-tiba saja Kai menunduk dan menyamakan posisi wajahnya agar sejajar dengan wajah Suji, sehingga membuat Suji sedikit tersentak dan harus menarik wajahnya ke belakang.

“Molla, tapi mungkin,” Jantung Suji mulai berdetak lebih cepat begitu dia merasakan hembusan nafas Kai yang berhembus tepat di wajahnya, “Semenjak aku mengenal orang menyebalkan sepertimu” Jawab Kai yang kemudian mengedipkan salah satu matanya yang hanya dapat membuat jantung Suji menjadi semakin tidak karuan.

Melihat rawut wajah Suji, Kai pun menyeringai puas dan menarik dirinya kembali, setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan.

Suji disisi lain, tengah sibuk mencoba menstabilkan detak jantungnya yang benar-benar berdetak tidak karuan, “Aish! Kau memang lebih baik pergi yang jauh Kai!” Umpatnya kesal.

Namun walaupun bibirnya mengeluarkan kata-kata seperti itu, hati kecilnya tidak dapat memungkiri bahwa jauh di dalam sana, dia tidak ingin Kai pergi kemanapun.

—–

“Tidak, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu.”

Tepat di sebuah taman yang terletak di belakang sekolah, terdapat dua orang murid yang terlihat tengah beradu cekcok. Mungkin jika dilihat dari kejauhan, kedua murid tersebut terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar.

“Tapi mengapa kau tidak pernah mau menerima pernyataan cintaku, Hayoung?” Tanya Taejun dengan nada suara yang terdengar begitu depresi. Hayoung memicingkan matanya dihadapan Taejun, kemudian dia berkata dengan dingin, “Karena aku hanya mencintai Kai oppa.”

Mendengar hal tersebut, emosi Taejun pun memuncak ke permukaan.

“Mengapa selalu Kai, Kai, Kai, dan Kai yang ada dihatimu?! Mengapa kau sama sekali tidak pernah memberikan kesempatan padaku?!” Kini Taejun benar-benar frustasi, dia benar-benar marah begitu mendengar nama Kai, orang yang paling dia benci di dunia ini keluar dari dalam mulut gadis yang dia sukai.

Hayoung menaikkan salah satu alisnya keatas, nampaknya akal liciknya baru saja mendapatkan sebuah ide yang cemerlang.

“Kalau begitu,” Hayoung berkata, “Aku akan menerima pernyataan cintamu” Mendengar hal tersebut, seketika Taejun pun berubah menjadi begitu senang. “Tapi dengan satu syarat,” Hayoung menaikkan salah satu jari telunjuknya ke udara, “Kau harus membantuku menyingkirkan Suji dari Kai, karena jika aku tidak bisa memiliki Kai oppa, maka tidak ada seorang pun yang berhak memilikinya.”

Seringai licik pun mulai terukir dari sudut bibir Taejun, “Hanya itu?” Tanyanya percaya diri. Kemudian Hayoung menganggukkan kepalanya, “Baiklah.”

—–

Setelah bel pukul istirahat dibunyikan, para murid pun keluar dari dalam kelas mereka masing-masing.

“Suji-ah, aku harus pergi ke kantin lebih dulu karena Baekhyun telah menungguku disana, nanti kau harus segera menyusul, arraseo?” Tanya Minhee bersemangat seraya merapikan peralatan tulisnya diatas meja. “Arraseo, pergilah” Suji melambaikan tangannya ke udara.

“Annyeong” Balas Minhee ikut melambai.

Setelah Minhee telah benar-benar keluar dari kelas, Suji pun segera merapikan barang-barangnya yang berserakan diatas meja. Kemudian secara tidak sengaja dia menjatuhkan pensilnya ke bawah lantai. “Argh” Erang Suji, namun belum sempat dia mengambil pensilnya yang tergeletak di bawah sana, tiba-tiba saja ada orang lain yang memungutnya terlebih dulu.

“Kamsahamnida” Suji berterimakasih kepada orang tersebut, namun betapa terkejutnya dia begitu melihat bahwasanya orang tersebut tidak lain adalah … Taejun.

“Tae … Taejun-ssi?” Suji membulatkan matanya begitu melihat kehadiran Taejun yang telah berdiri tepat di hadapannya. Dan sejak kapan tidak ada seorangpun di dalam ruang kelas kecuali dirinya dan Taejun.

“Kau tidak perlu takut, aku tidak akan menyakitimu” Taejun berkata dengan nada suara yang begitu tenang, begitu tenang sehingga membuat Suji justru berubah menjadi takut.

Tanpa banyak pikir Suji segera merampas pensil miliknya dari tangan Taejun, sepertinya akan lebih baik jika dia segera meninggalkan ruangan ini.

“Apa kau tahu, Suji?” Tiba-tiba saja Taejun membuka mulutnya kembali, “Kedatanganku kemari adalah untuk meminta maaf padamu.”

“Kau sudah kumaafkan” Ujar Suji dingin, dia sama sekali tidak bermaksud untuk berkata tidak sopan apalagi menyinggung perasaan Taejun, namun entah mengapa rasanya dia memang benar-benar tidak menyukai namja bernama Taejun ini.

“Maafkan aku karena penah berbuat jahat terhadapmu saat itu, aku sama sekali tidak bermaksud, kau pasti mengerti sikap kasar seorang namja, bukan?” Tanya Taejun seraya menaikkan bahunya keatas. “Ne, kau tidak perlu membahas masalah itu lagi” Suji tersenyum simpul.

“Jadi mulai sekarang kita bisa menjadi teman?” Pertanyaan yang diajurkan Taejun membuat Suji bingung, dia juga merasa bimbang apakah dirinya dapat sepenuhnya percaya kepada seseorang seperti Taejun, seseorang yang sama sekali tidak pernah memberikan kesan positif sejak pertama kali mereka berdua bertemu.

“Ya,” Suji menaikkan salah satu alisnya, “Mungkin?”

Taejun menyeringai, kemudian secara tiba-tiba saja dia menarik bahu Suji dengan kedua tangannya dan memeluknya dengan erat dan penuh paksa. Suji membelalakkan matanya begitu tersadar akan hal apa yang baru saja dilakukan oleh Taejun, lalu tanpa berpikir panjang dia segera mendorong tubuh Taejun ke belakang.

“Apa kau gila?!” Hardik Suji dengan kedua alisnya yang menyerjit, dia benar-benar tidak menyukai sikap Taejun yang menurutnya terlalu agresif. Kemudian dia segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam kelas.

Taejun disisi lain, terlihat tengah kembali menyeringai puas. Dia mengalihkan perhatiannya kearah seorang gadis baru saja bersembunyi dari balik pintu yang kini juga ikut tersenyum menyeringai seraya mengibas-ngibas hasil gambar dari kamera polaroid ditangannya.

“It’s show time” Hayoung tersenyum licik.

—–

Sesampainya di kantin, Suji pun segera duduk di meja yang sama dengan Minhee dan Baekhyun, sebuah meja yang terletak disudut ruangan kantin, tempat yang biasa mereka bertiga duduki.

“Suji-ah mengapa rawut wajahmu cemberut seperti itu?” Tanya Baekhyun seraya mengobservasi wajah Suji kesana-kemari. “Tidak apa” Jawab Suji mencoba menenggelamkan rasa kesalnya, dia tidak ingin kedua temannya tahu mengenai kejadian yang baru saja terjadi diantara dirinya dan Taejun.

“Kau sedang menulis apa?” Tanya Suji mengganti topik pembicaraan.

“Biasa, aku sedang menyalin tugas Minhee” Baekhyun terkekeh pelan.

Minhee disisi lain, tidak dapat mengalihkan pandangannya kearah manapun, dia terlalu fokus memandangi Chanyeol yang sedang berkumpul bersama teman-temannya dari kejauhan. Suatu hal yang sering dia lakukan, dan telah berubah menjadi sebuah kebiasaan. Minhee memang telah menyerah dan mengerti bahwasanya dia tidak mungkin bisa memiliki Chanyeol. Namun bukan berarti dirinya juga harus berhenti menatap Chanyeol, bukan? Lagipula bisa dibilang bahwa kini mereka berdua telah menjadi teman. Minhee pun tersenyum kepada dirinya sendiri begitu memikirkan hal tersebut.

“Take a little look at the life of miss always invisible~” Tiba-tiba saja Baekhyun menyanyikan sebuah lagu hanya untuk meledek Minhee. Suji pun langsung menepuk bahu Baekhyun, dan memberikannya tatapan untuk menutup mulutnya. Keusilan Baekhyun memang tidak pernah ada habisnya.

Namun tiba-tiba saja Minhee memincingkan matanya dan berkata, “Yah … apa yang dia lakukan disana?” Suji dan Baekhyun pun mencari arah yang dimaksud oleh Minhee. Dan betapa terkejutnya Suji begitu melihat kehadiran Hayoung yang kini berada di tengah-tengah kelompok teman-teman Kai, terlebih lagi kini dia duduk tepat disamping Kai.

“Aish tidakkah dia memiliki rasa malu? Jelas-jelas Kai telah menolaknya mentah-mentah!” Hardik Minhee kesal. Sementara Minhee tidak berhenti mengumpat dan berkata hal buruk mengenai Hayoung, Baekhyun disisi lain, mengalihkan pandangannya ke arah sesuatu yang menurutnya aneh dan agak ganjil, yaitu ke arah Suji yang saat ini tengah memasang rawut wajah yang baru pertama kali dilihatnya, datar namun tajam ke satu arah. Baekhyun pun mengikuti arah pandang gadis itu.

“Yah … Suji. Kau terlihat seperti ingin memakan mereka berdua” Baekhyun tersenyum jahil seraya menunjuk Kai dan Hayoung dari kejauhan, “Kau cemburu?” Mata Suji pun melebar begitu mendengar pertanyaan Baekhyun.

“Cembu … mwo? Cemburu pada siapa?” Tanyanya panik, Suji memang tidak mahir dalam menyembunyikan perasaannya, ekspresi diwajahnya selalu dapat menjelaskan segala hal yang sedang terjadi kepada dirinya.

“Calm down Suji, kau memang sudah seharusnya cemburu” Tukas Baekhyun tanpa menghilangkan senyum jahilnya.

Merasa tidak tertarik lagi menanggapi ucapan Baekhyun, Suji pun membuang mukanya ke arah lain. Dia juga tidak tertarik lagi menatap Kai dan juga Hayoung yang menurutnya begitu mengesalkan. Bagaimana tidak? Baru saja dia melihat Hayoung dengan manja bergelayutan di lengan Kai sambil memamerkan sebuah foto yang membuat Kai kelihatan cukup tertarik atau bisa dibilang terkejut, dia tidak tahu, dia tidak ingin tahu. Dan yang membuatnya semakin kesal adalah, Kai bahkan terlihat tidak keberatan saat tangan Hayoung melingkar di lengannya.

Suji bangkit dari kursinya, dan secara tidak sengaja suara dercitan kursi yang dia timbulkan benar-benar nyaring, sehingga membuat pandangan semua orang disekitarnya tertuju kearahnya, termasuk Kai dan juga teman-temannya. Dan ketika pandangan mata Suji dan Kai bertemu, tidak seorang pun diantara mereka berdua yang terlihat enggan melepaskan pandangan tersebut.

Pandangan mata Kai yang menatapnya dengan datar namun tajam, membuatnya merasa seakan-akan terdapat sesuatu hal yang salah terhadap dirinya. Suji bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah dia berbuat suatu kesalahan terhadap Kai? Semua orang yang sedang melihat Kai saat ini pasti juga akan berpikiran hal yang sama dengannya.

Tidak tinggal diam, Kai pun juga ikut bangkit dari kursinya tanpa pernah sedetikpun meninggalkan perhatiannya dari Suji. Dan berkat hal tersebut, pandangan mata semua orang justru terkunci kepada mereka berdua.

Teman-teman Kai, dan juga kedua teman Suji menatap mereka berdua dengan heran. Suho yang berada disamping Kai pun menatap Kai dengan penuh tanda tanya, “Kau kenapa, Kkamjong? Tanyanya khawatir. Dia dapat melihat bagaimana pandangan mata Kai yang tidak pernah sekalipun meninggalkan wajah istrinya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan yang sama. Dia juga dapat melihat bagaimana tangan kiri Kanan yang sedang meremas sebuah kertas foto yang baru saja ditunjukkan oleh Hayoung, namun sayangnya dia tidak dapat melihat apa yang sebenarnya tercetak dalam foto tersebut.

“Aku permisi dulu” Suji menghentikan dirinya menatap Kai terlebih dulu dan melangkahkan kakinya untuk beranjak keluar. Melihat hal tersebut, Kai pun tidak tinggal diam. Dia mengabaikan pertanyaan Suho beberapa detik yang lalu, dia mengabaikan panggilan Hayoung yang tengah menyerukan namanya, dia mengabaikan semua panggilan teman-temannya, dan dia hanya membiarkan kedua kakinya melangkah dan berjalan membawanya ke arah yang sama sekali tidak dia sadari, yaitu tepat kehadapan Suji.

Kai menarik pergelangan tangan Suji, sehingga membuat gadis tersebut tersentak begitu sadar bahwa Kai lah yang baru saja menghentikan langkahnya.

“Ikut aku” Kai berkata dengan tajam, seraya menatap Suji dengan pandangan yang begitu dingin. Melihat hal tersebut, Suji enggan menuruti perintah Kai dan justru mencoba menarik tangannya kembali dari cengkraman tangan Kai. “Sirreo” Suji berbicara dengan nada suara yang datar, namun juga tidak kalah tajam dengan Kai.

Suji dan Kai, mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa perilaku mereka berdua telah menimbulkan sebuah tanda tanya besar bagi orang-orang disekeliling mereka. Saat ini mereka berdua benar-benar telah menjadi pusat perhatian.

Suji dapat mendengar suara bisikkan para murid yeoja yang mulai bergema diudara, dia juga dapat mendengar sebagian diantara mereka yang sedang menghardik dirinya, dan bahkan berkata hal buruk terhadapnya seperti, “Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?” atau, “Memang dia pikir dia siapa bisa mendekati Kai oppa seperti itu?!” atau, “Aku rasa gadis itu telah menggoda Kai oppa!”

Melihat pemandangan yang dirasanya mulai memanas, Suho pun tidak mah tinggal diam. “Mau kemana kau, Kkamjong? Kembalilah kesini!” Dia berteriak dari kejauhan, berharap Kai dapat mendengar suaranya.

“Hyung,” Kai mengeluarkan suaranya dengan cukup keras, tanpa sedetikpun mengalihkan perhatiannya dari wajah Suji yang sejak tadi enggan menatapnya, “Aku harus membawa istriku ke ruang istirahat, dia terlihat begitu pucat.”

Semua orang disana terkesiap begitu mendengar ucapan Kai. Sedangkan Suji hanya dapat membelalakkan matanya menatap Kai dengan tatapan tidak percaya.

Minhee, Baekhyun, Suho, Sehun, Chanyeol, dan juga D.O terlihat juga tidak kalah terkejutnya. Sedangkan Hayoung, bisa dibilang merupakan orang yang paling shock begitu mendengar kalimat yang baru saja keluar dari dalam mulut Kai, terlebih lagi dia sendiri tahu bahwa Kai bukanlah orang suka membuat lelucon. Mulut Hayoung menganga lebar, mungkin sebentar lagi dagunya dapat mendarat tepat dibawah lantai.

“Kai benar-benar sudah gila” D.O berkata seraya terkekeh pelan, sedangkan teman-teman Kai yang lain hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala mereka.

“Apa yang sebenarnya yang terjadi padamu, Kai? Mengapa kau menjadi seperti ini? Bagaimana jika kita dikeluarkan dari sekolah?” Tanya Suji dengan nada suara yang benar-benar terdengar khawatir dan juga ketakutan.

Kai mendengus sengit dan kembali menarik pergelangan tangan Suji, kemudian dia membawa Suji keluar dengan paksa.

“Yah apa yang mau kau lakukan?!” Suji membentak Kai, namun Kai justru mengeratkan pegangan tangannya. Suji mencoba untuk memberontak, dan mencoba membebaskan dirinya dari ikatan tangan Kai, namun sayangnya ikatan tangan namja tersebut begitu kuat dan erat dan juga sulit untuk dilepaskan. “Kau mau membawaku kemana?! Mengapa sikapmu menjadi aneh seperti ini?!” Suji berteriak, namun untung saja tidak terdapat banyak orang yang sedang berada disana. Tangannya pun mulai terasa sakit akibat cengkraman tangan Kai yang begitu memekik pergelangan tangannya. Kai membawa atau lebih tepatnya menyeret Suji menaiki tangga demi tangga, kemudian mereka berdua masuk ke dalam sebuah pintu, dan ternyata Kai membawa Suji ke atas atap sekolah. Begitu sampai disana, Kai segera melepaskan ikatannya dari tangan Suji.

Suji menatap Kai dengan menunjukkan rawut wajahnya yang benar-benar kesal sambil mengelus tangannya yang memerah. Namun sayangnya Kai sama sekali terlihat tidak peduli, dia justru berjalan mendekati Suji, sedangkan Suji hanya dapat memundurkan langkahnya, kemudian Kai kembali berjalan mendekati Suji, sedangkan Suji kembali memundurkan langkahnya, sampai akhirnya punggung Suji menabrak balkon yang berada tepat dibelakangnya. Dan kini dia benar-benar telah terjebak diantara pagar dan tubuh Kai.

“A-apa yang mau kau lakukan?” Suji gagap bersuara begitu melihat tingkah Kai yang tiba-tiba saja menjadi aneh. Kai menghiraukan segala pertanyaan yang diajurkan oleh Suji sejak tadi, dan hanya menatap mata Suji yang enggan menatap matanya sejak awal, kemudian dia membuka mulutnya. “Selamat,” Kai berkata dengan dingin, “Selamat atas ikatan persahabatanmu dengan Taejun.”

Mendengar hal tersebut, Suji pun hanya dapat membuka mulutnya lebar-lebar dan memandangi Kai dengan tatapan tidak percaya, “Mwo? Apa sebenarnya maksudmu?”

Kai tidak menjawab pertanyaan Suji, dia justru mengeluarkan selembar foto dari dalam sakunya, kemudian menunjukkan foto tersebut dihadapan Suji.

Mulut Suji pun semakin terbuka hebat begitu melihatnya, “Darimana kau mendapatkannya?” Tanyanya terkejut. Kai menyeringai, “Kalian terlihat sangat cocok” Tukasnya mengadili Suji.

“Apa maksudmu? Aku bahkan tidak mengerti mengapa bisa ada foto seperti itu,” Biarpun Suji berkata demikian, namun akal sehatnya mulai dapat mengerti implikasi permasalahan yang sebenarnya tengah terjadi, “Taejun yang tiba-tiba saja datang ke kelasku, dia memintaku untuk menjadi temannya, dan dia juga yang tiba-tiba saja memelukku” Suji mencoba menjelaskan semuanya kepada Kai, namun sayangnya dia sama sekali tidak menemukan satupun titik kepercayaan pada rawut wajah Kai.

“Taejun” Kai tertawa hambar, “Mengapa kau tidak menghiraukannya ditempat pertama?” Tanyanya dengan nada suara yang malas.

Suji menghela nafasnya “Lalu bagaimana denganmu? Mengapa kau membiarkan Hayoung mendekatimu?” Tidak ingin kalah, Suji justru balik bertanya.

Mendengar hal tersebut, Kai justru semakin menatapnya dengan tajam, emosinya pun mulai memuncak, “Itu urusanku, dan kau tidak berhak mencampurinya.”

Perkataan yang baru saja diucapkan oleh Kai seolah meremas tenggorokan Suji dan merobek jantungnya, namun Suji tetap memasang wajah pokerfacenya, dan mencoba untuk tetap tenang.

“Tapi … mengapa kau begitu marah, Kai?” Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulut Suji, Kai pun sedikit tersentak begitu mendengarnya, karena dia sendiri juga tidak mengerti mengapa dia bisa begitu marah.

Suji tahu bahwa sebenarnya Kai berkata hal tersebut hanya demi meluapkan amarahnya sesaat, dan Suji juga tahu bahwa Kai yang dia sukai masih ada disana, Kai yang sedang merasa begitu buruk karena telah memperlakukan dirinya dengan cara yang kasar, namun sepertinya Kai sendiri tidak akan meminta maaf dalam waktu dekat.

Kemudian tiba-tiba saja bel berbunyi, menandakan jam istirahat telah berakhir. Tanpa banyak berpikir Suji pun segera melangkahkan kakinya keluar dari atap sekolah, dia tidak ingin masuk ke dalam perkelahian mulut bersama dengan Kai lebih jauh lagi, karena hal tersebut sudah cukup untuk dapat membuat hatinya pilu.

Melihat Suji yang beranjak keluar, Kai sama sekali tidak menahannya. Dia hanya termenung ditempatnya, dan membiarkan angin musim dingin berhembus diwajahnya. Kemudian dia mengepal kedua tinjunya dengan erat. Entah perasaan kecewa ataukah amarah yang sedang dia rasakan saat ini, dia tidak mengerti. Namun yang jelas, dadanya terasa begitu memilukan.

—–

Sesampainya di rumah, Suji langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Hari ini merupakan salah satu hari yang buruk dalam hidupnya, dan dia begitu membencinya. Minhee dan Baekhyun menyuruhnya untuk menghubungi mereka berdua ketika dia sudah sampai di rumah, namun sayangnya dia sendiri berpikir bahwa mungkin akan lebih baik jika dia tidak menghubungi kedua temannya, dia tidak ingin membebani mereka berdua dengan urusan pribadinya.

“Itu urusanku, dan kau tidak berhak mencampurinya.”

Kalimat yang diucapkan oleh Kai di atap sekolah saat itu tidak pernah sedetikpun meninggalkan pikirannya.

Suji membuka sebuah laci meja yang berada tepat disamping ranjangnya, kemudian dia mengeluarkan sebuah cincin dari dalam sana. Suji terbaring diranjangnya seraya memain-mainkan cincin berlian tersebut dikedua jari telunjuknya, sebuah cincin yang tidak lain merupakan cincin pernikahannya.

Dia memang tidak pernah memakai cincin tersebut, karena dia tahu bahwa Kai sama sekali tidak pernah memakainya juga. Suji pun tidak dapat melakukan apapun kecuali merasa sedih saat ini. Dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apa yang sebenarnya Kai rasakan terhadap dirinya? Apa yang sebenarnya sudut pandang Kai terhadap dirinya? Apakah dirinya berharga dimata Kai? Apakah Kai benar-benar peduli terhadap dirinya, seperti apa yang Kai katakan malam itu?

Ataukah justru selama ini, hanya dirinya saja yang telah jatuh sendirian? Hanya dirinya saja yang telah jatuh hati terhadap namja yang tidak lain adalah suaminya sendiri? Terlalu banyak pertanyaan dalam pikiran Suji saat ini.

Mereka berkata bahwa wanita lebih pemikir. Profiler dan analisa. Setiap detail diletakkan di meja mereka untuk dihakimi dan diperiksa. Wanita berpikir terlalu banyak, dan mereka terlalu sedikit percaya. Imajinasi mereka juga jatuh terlalu tinggi. Mungkin mereka memang benar. Karena Suji memikirkan semua hal itu.

Seraya menggenggam cincin berlian ditangan kanannya, Suji bangkit dari ranjangnya dan mulai melangkahkan kakinya keluar kamar. Dia berpikir, mungkin saja secangkir coklat panas dapat membuat perasaannya menjadi lebih baik. Namun ketika dia berjalan menuruni anak tangga, secara tidak sengaja dia berpapasan dengan Kai yang sepertinya baru saja tiba ke dalam rumah.

Melihat Kai yang tiba-tiba saja berada tepat dihadapannya, Suji sama sekali tidak mengerti akan apa yang seharusnya dia lakukan, ataupun dia katakan. Suji dapat melihat pandangan bola mata Kai yang tetap menatapnya dengan dingin seperti terakhir kali dia melihat bola mata tersebut.

Kai disisi lain, mencoba menghiraukan kehadiran Suji dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya. Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini juga terasa begitu melelahkan baginya.

“Kai” Namun baru saja dia berhasil berjalan melewati Suji, tiba-tiba saja gadis itu memanggil namanya, dan berhasil membuatnya menghentikkan langkahnya sekali lagi.

Kai sama sekali tidak membalikkan tubuhnya, dan hanya berdiri di tempatnya, dengan punggungnya yang membelakangi tubuh Suji yang justru tengah berdiri menghadapnya. Suji mengerti bahwa Kai masih marah terhadapnya, namun Suji sendiri bukanlah orang yang ingin tinggal diam ketika menghadapi suatu masalah yang dia yakini bukanlah kesalahannya.

“Aku ingin bertanya … sebenarnya siapa aku dimatamu?”

Kai sedikit tersentak begitu mendengar pertanyaan Suji yang menurutnya terlalu mengejutkan. Namun saat ini dia tidak ingin mengatakan apapun, dan hanya mendengus sebelum akhirnya dia memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya.

Melihat kaki Kai yang kembali melangkah, Suji pun tidak tinggal diam, dan tanpa akal sehatnya sadari, dia segera menarik baju Kai, mencegahnya agar tidak pergi meninggalkannya.

“Dengarkan aku, kumohon” Walaupun tangan Suji tengah menarik baju Kai, namun wajahnya hanya dapat menunduk menatap anak tangga dibawahnya.

“Selama ini …” Suji kembali membuka mulutnya, “Walaupun kita berdua telah menikah, namun aku sama sekali tidak mengerti … apa sebenarnya arti diriku dimatamu. Walaupun kita berdua tinggal diatap yang sama, namun aku sama sekali tidak mengerti … apa yang sebenarnya kau rasakan padaku.”

Tanpa Suji sadari, air mata mulai membendung dari kedua matanya.

“Jadi tolong, apa kau bisa … menjawab segala hal tentang dirimu … yang tidak pernah kumengerti?” Suji bertanya dengan nada suara yang terbatah-batah.

“Who am I to you?”

 

 

TBC

17 pemikiran pada “Hypocrites (Part 10)

  1. Mimin yang ngepost hypocrites punyanya author zelowifey kan? Postin hypocritea yang part 12 – last dong min :’ plisss huaaaa kangen banget sama ff itu. Pengen baca ff itu lagi huaaa 😥 sekalian tanya, authornya sekarang dimana ya? Kangen banget ih sama author zelowifey huaaaa. Post in yang part 12- last plissssss ):

Tinggalkan Balasan ke ginggit Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s