Osimnyuk High School (Lessson 5)

Osimnyuk High School (Lessson 5)

1416987

Length : Series

Author : Sessil

Main Cast : Park Chan-Yeol, Oh Sehun, Ham Eun Jang

Additional Cast : All of Exo Member

Note : Miaaan.. Author ngaret sebulan lebih, Astaga?! Maaf banget kalau udah lupa sama ceritanya.. diusahain next chapter bisa tepat waktu yah… terimakasih atas komentar di part sebelumnya, terimakasih juga yang udah suka ceritanya..

Eun-Jang merasakan panas menepuk-nepuk sekujur tubuhnya. Beberapa kali ia menyalakan water wisely, membasuh wajah, kemudian memandang dirinya sendiri pada cermin. Ia lantas menggeleng.

Seonsangnim, kenapa kau terus saja mengambil alih perhatianku?

Kurang ajar?! Bocah bernama Park Chan-Yeol itu berhasil membuat wanita yang dasarnya tak pernah tahu arti seorang pria luluh lantak dibuatnya. Ia mendecak, kemudian menarik tissue dan mengeringkan wajahnya. Eun-Jang frustrasi.

“Ck.. apa yang ada di pikiran lelaki itu? Astaga berani-beraninya mempermainkan seorang guru?!”

Eun-Jang membuang segumpal tissue. Sejak awal masuk ke dalam lingkungan sekolah Osimnyuk inilah yang ia khawatirkan, tidak bisa menjaga jarak dengan muridnya yang didominasi para pria muda. Apalagi sekolah ini terkenal akan lulusannya yang berkualitas, tidak hanya di bidang akademik tapi dalam hal proporsi tubuh mereka.

“Lihat saja, lain kali kalau dia melakukannya lagi akan kuberi pelajaran!” Terus saja ia menggerutu sambil berjalan melewati koridor kelas. Pelajarannya sudah usai, tapi efeknya masih terasa berdenyut-denyut di seluruh persendian. Mengatur siswa itu lebih melelahkan dibandingkan melakukan olahraganya sendiri.

Langkahnya terhenti di pintu masuk ruang kepala sekolah. Tak sengaja matanya melirik ke arah celah yang sedikit terbuka menunjukkan keadaan di dalamnya. Dua orang siswa berseragam dengan satu diantaranya nampak kesulitan berjalan sementara satu yang lainnya membantu pria itu untuk melangkah menuju pintu.

“Do Kyung-Soo? Byun-Baekhyun?” gerak matanya bergantian mengamati kedua orang yang semakin menedekat, Eun-Jang segera menyingkir agar seseorang lainnya tidak lain adalah Pyo Tae-Suk, tahu kalau dirinya sedang bertindak seperti mata-mata. Padahal tugas utama dia datang ke sekolah ini pun karena alasan satu itu—menjadi mata-mata.

Satu dari pintu dobel nan besar itu ditarik. Kyung-Soo keluar lebih dulu kemudian disusul Baek-Hyun yang menarik daun pintu cokelat tersebut dan menutupnya. Saat kepalanya bergerak, ia sadar Eun-Jang sedang berdiri di samping pintu masuk.

Seonsangnim?”

Eun-Jang segera menaruh jari telunjuk di mulutnya sendiri, memberi sinyal pada Baek-Hyun untuk mengecilkan suaranya. Baek-Hyun menangkupkan tangan, lupa.

Jeosonghamnida” ungkapnya agak berbisik.

Bukan muridnya Byun Baek-Hyun yang jadi fokus Eun-Jang saat ini, melainkan wajah penuh tanda tanya Do Kyung-soo. Ia jelas-jelas bukan menahan rasa sakit, justru ia bimbang kalau saja gurunya ini mau tahu tentang masalah apa yang sedang terjadi.

Darawa.” Pinta Eun-Jang agak tergesa.

***

Eun-Jang memberikan dua botol jus untuk kedua muridnya yang sedang duduk termenung. Ia sudah menduga, pasti ada sesuatu yang tidak beres diantara perbincangan di dalam ruang kepala sekolah tadi.

“Minumlah dulu.” Rasa khawatir menggelayuti Eun-Jang melihat wajah pasi kedua orang ini.

Eun-Jang menarik napas. Ia kemudian mengambil posisi duduk di depan mereka di taman belakang sekolah.

“Sampai saat ini, apa kau akan tetap bungkam mengenai alasan pengeroyokan waktu itu?” ia melirik tegas ke arah Kyung-Soo. Pria bermata bulat itu hanya melirik sebentar, kemudian kembali mengalihkan pandangannya.

“Kau, apa ini caramu untuk melindungi temanmu ‘eoh?” kali ini gantian, Baek-Hyun yang ditunjuk. Ia hampir tersedak saat untuk ketiga kalinya meneguk jus botolnya.

Sebenarnya Baek-Hyun berada dalam posisi serba salah. Bagaimana mungkin ia mengungkapkan masalah Kyung-Soo di depan temannya itu, tapi justru sudah beberapa kali Eun-Jang mendesaknya. Betul memang, bukan begini cara dia melindungi Do Kyung-Soo. Meskipun Baek-Hyun menganggap seluruh elite dan civitas di sekolah ini justru berada dalam garis yang sama—tidak memihak pada mereka—tapi rasanya ia perlu mencoba, di depan Eun-Jang mungkin saja akan berubah.

Baek-Hyun melirik sebentar ke arah Kyung-Soo yang masih melihat ke lain tempat.

“Kepala sekolah baru saja memberikan peringatan pada kami.”

Untuk masalah 2 minggu absen, Eun-Jang memang tidak bisa membantu banyak karena itu memang kesalahan mereka karena tidak memberi kabar pada wali kelas dan pihak sekolah.

“Dia bilang, Kyung-Soo akan dikeluarkan.”

Botol jus yang baru saja isinya akan diminum, terjatuh. Eun-Jang terkejut bukan main.

Mworago?”

Keumanhae, Baek-Hyun~ah!” Kyung-Soo menggoyang lengan temannya.

“Hanya karena tidak masuk 2 minggu? Bukannya sudah jelas dia bisa melihat keadaan kaki Kyung-Soo yang diperban? Astaga!” Eun-Jang gerah.

Agak ragu, dengan wajah agak tertunduk Baek-Hyun memberanikan diri untuk menjelaskan biduk perkaranya. “Bukan karena itu, karena Kyung-Soo keras kepala untuk mempertahankan artikelnya.”

Artikel? Artikel apa? Eun-Jang baru mengenalnya saja setelah peristiwa itu.

“Maksudmu?”

Sebelum Baek-Hyun sempat mengeluarkan suaranya, Kyung-Soo akhirnya mau membuka mulut.

“Aku punya kesulitan. Satu-satunya alasan aku masuk ke sekolah ini karena beasiswa yang disebarkan oleh salah satu perusahaan besar Korea. Tapi sejak awal mereka tidak mengatakan kalau beasiswa pendidikan itu bukanlah beasiswa penuh. Aku hidup dengan nenek dan kakekku, kedua orang tuaku sudah meninggal sejak aku kecil karena sebuah kecelakaan. Karena beasiswa itu hanya mendanai biaya akademik di sekolah jadi aku harus mencari cara untuk membiayai kehidupan sehari-hari kami mengingat kakek bukanlah pegawai negeri.”

“Caramu untuk mencari uang itu adalah dengan membuat masalah?” Eun-Jang mengernyit.

“Dia memang gemar cari masalah.” Celetuk Baek-Hyun mengubah raut serius Kyung-Soo jadi raut ingin menghajarnya. “Ya!” bentak Kyung-Soo.

“Sejak lama cita-citaku adalah menjadi seorang jurnalis. Setelah tahu ada peluang seorang freelancer sebagai pembuat artikel berita, akhirnya aku memilih topik tentang kehidupan para donatur sekolah.”

“Jadi kau memenuhi kehidupanmu dengan menjadi seorang penulis artikel?” Eun-Jang mulai masuk dan tenggelam dalam cerita berderai-derai yang disampaikan oleh seorang murid paling pendiam di Osimnyuk.

Baek-Hyun menyela. “Itu masih belum cukup, dia juga jadi kasir di supermarket.” Sahutnya seolah mengumpankan Kyung-Soo yang sudah terlanjur membuka kehidupannya.

“Semula aku hanya menyoroti kehidupan positif mereka hingga akhirnya tak sengaja ternyata mengetahui sisi gelapnya malah membuatku merasa tertantang.”

Seperti sudah bosan mendengarnya, atau mungkin justru terlalu menyalahkan Kyung-Soo akan pilihan dia untuk mengambil langkah tersebut, Baek-Hyun berdiri mengembuskan napas berat.

Eun-Jang diam menyimak dengan penuh ketidak percayaan. Seolah mengatakan wow! Berani sekali anak ini. Disaat orang-orang yang telah profesional di bidangnya menghindari permasalahan elite karena konsekuensi berat yang akan mereka terima, Kyung-Soo justru nekat mengancam kehidupannya sendiri untuk mengungkap sebuah rahasia.

“Para elite itu melakukan sumbangan dana besar pada dunia sosial karena untuk membersihkan nama mereka dari harta kotor mm—pp “ Baek-Hyun segera membungkam mulut Kyung-Soo karena sudah terlalu jauh. Dia itu diam, tapi setelah diberikan kesempatan maka kalimatnya akan menusuk siapapun. Eun-Jang hanya mengerjap-ngerjap dengan detak jantung tak beraturan. Ia menelan ludah gugup.

“Kepala sekolah bilang kalau Kyung-Soo masih berkeras untuk melanjutkan tulisannya, maka risikonya dia akan dikeluarkan. Sementara beberapa pihak menyatakan ketertarikan mereka terhadap artikel Kyung-Soo dan anak ini baru saja mendapatkan tawaran yang amat tinggi.” Jelas Baek-Hyun.

Eun-Jang berpikir sejenak.

“Memang, ada berapa orang yang kau masukkan dalam artikel mu?”

“Ada 10 orang, padahal aku hanya memasukkan nama mereka sebatas inisial saja, bukankah orang-orang tidak akan sadar kalau yang dimaksud itu mereka?”

Babo..” Baek-Hyun menjitaknya gemas. “Masyarakat memang tidak akan tahu, tapi orang yang jadi objek artikelmu itu pasti tahu. Yang kau bahas itu terlalu rinci, bukan pokok.” Ia frustrasi karena temannya itu mengkal, terlalu sulit untuk dinasihati.

“Karena objeknya adalah donatur Osimnyuk, sebagian dari mereka menarik ikatan bisnis dengan sekolah ini, merasa telah dikhianati. Itulah yang menyebabkan kepala sekolah marah besar terhadapku.” Kyung-Soo menunduk. Bisa dikatakan ia memang keras kepala, sudah mendapat kecaman seperti itu, masih bisa-bisanya ia berani menunjukkan wajah di sekolah. Dan pengeroyokan kemarin sudah dipastikan ada hubungannya dengan orang-orang yang dimaksud Kyung-Soo dalam artikelnya. Entahlah siapa, tapi pasti salah satu diantara mereka.

Tidak ada yang bisa Eun-Jang perbuat. Kepalanya seperti mau meledak. Meskipun ia melakukan pengaduan terhadap ayahnya sebagai pemilik sekolah, pasti pria tua itu tidak akan membenarkan perbuatan Kyung-Soo.

“Ini bukan masalah mudah. Hal yang paling riskan bukanlah dikeluarkan dari Osimnyuk, karena kalaupun nama baikmu sudah tercoreng kau masih bisa melanjutkan sekolahmu di pedalaman. Tapi masalah hidupmu, bukan tidak mungkin kau akan menjadi buruan bagi orang-orang itu, melalui kaki tangan mereka.”

Kyung-Soo tidak berpikir sejauh itu. Kedua orang itu segera mengangkat kepala mereka, merasa ada desakkan mengejutkan masuk. Sungguh, Kyung-Soo sama sekali tidak mengira kalau langkahnya ini terlalu berani sebagai siswa SMA. Pola pikirnya memang rumit, disaat yang lain hanya dipusingkan dengan masalah remaja mereka seperti cara mendapatkan nilai di sekolah, berprestasi, dan urusan asmara, justru Kyung-Soo sudah melangkah jauh. Minatnya memang bukan di sana.

***

Di kelas F sangat riuh, semuanya berbicara, saling melempar baju olahraga yang baru saja dilepas dan mengganti pakaian mereka dengan seragam formal. Baru saja mereka menuntaskan pelajaran olahraga yang biasanya monoton dan membosankan jadi sangat menyenangkan karena pengajarnya adalah guru muda cantik dibandingkan dengan pengajar dulu yaitu seorang pria tambun yang menyeramkan seolah akan menelan mereka hidup-hidup kalau saja melakukan sedikit kesalahan meskipun imbasnya sangat positif—mereka beberapa kali menang dalam kejuaraan olahraga tingkat sekolah.

Sehun melemparkan botol yogurtnya begitu saja saat tanpa sengaja mengenai wajah seorang pria yang tengah berjalan masuk kelas.

Ups!” bukannya minta maaf, ia malah tertawa.

Chan-Yeol mendesis geram. Tapi ia sedang malas bersiteru. Setelah memakai seragam lengkap ia memilih duduk di tempatnya paling pojok.

“Hey, Park Chan-Yeol, aku lihat hubunganmu dengannya semakin buruk saja.” Seorang siswa berkacamata mengambil posisi duduk di depannya sambil mendelik ke arah Sehun. Chan-Yeol tidak berminat, ia tak menggubrisnya sama sekali.

Siswa itu lantas mencondongkan tubuhnya, melalui sebuah seringaian tajam ia membisikkan sesuatu.

“Kenapa tidak kau umbar saja, kalau ibunya tidak lebih baik dari seorang wanita penghibur?”

Darahnya langsung naik ke otak. Dalam sekali hentakan Chan-Yeol segera menarik kerah seragam temannya itu. Bola matanya berubah jadi merah menyala. Ia marah. Kalimat yang dikeluarkan sungguh tanpa adab. Bagaimana bisa ia menilai orang tua siswa lain serendah dan sehina itu. Meskipun Chan-Yeol berpikiran hampir serupa, tapi sebelum ada bukti, ia tidak berani untuk menjudge.

Mendengar suara gemeretak meja yang saling beradu saat Chan-Yeol berdiri, semuanya menghentikan aktivitas mereka. Begitupun Sehun, yang sejak tadi sibuk menyambar minuman teman-temannya yang ditinggalkan di atas meja masing-masing.

“Kau bahkan lebih hina dari orang-orang yang kau anggap hina itu.” Ujar Chan-Yeol dengan nad bergetar karena marah. Siswa itu tersenyum, meledek.

“Kau itu kenapa? Aku hanya mengjakmu untuk bersekongkol.” Ia susah payah menarik tangan Chan-Yeol dari kerah bajunya. “Kalau nyatanya kau menolak ajakanku, maka aku akan melakukannya sendiri. Menjatuhkan Oh Sehun.” Ia tersenyum menantang.

“Andaikan sesuatu terjadi padanya, maka yang paling awal kutuju adalah dirimu.” Chan-Yeol balik mengancam, ia melirik ke arah Sehun yang sedang diam dengan raut bingung. Chan-Yeol kembali duduk, meredam emosinya yang berangsur turun.

Sehun yang tidak sadar jadi objek perbincangan dua orang ini, kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda kali ini seenaknya saja dia mencomot makanan teman-temannya sampai mereka tampak sangat risih tapi hanya bersikap mengalah saja mengingat Sehun adalah anak dari salah satu donatur sekolah, maka tak berani mereka berkutik.

***

Perbuatannya tidak bisa ditoleransi. Dia sudah melampaui batas, apa kau mau sekolah milik ayahmu ini redup hanya karena satu orang siswa sementara imbasnya adalah pada 447 siswa? Dalam sebuah bisnis, tidak ada kata manusiawi. Kalau hanya itu yang kau pikirkan, maka hasilnya adalah bisnismu akan tenggelam. Dalam dunia bisnis sekuler, hanya ada untung dan rugi, bukan harus atau tidak.”

“Lalu apa yang mesti kulakukan?”

Kembalikan kepercayaan mereka, apa lagi?”

“Itu pasti sangat sulit, aku tidak mungkin melakukannya. Paman tidak bisakah kau memberiku keringanan?”

Turnamen nasional. Kalau kau berhasil membimbing anak didikmu untuk memenangkan pertandingan, maka sponsor akan berdatangan, selain kita akan mendapatkan aliran dana dari donatur baru, mungkin saja donatur lama akan kembali menaruh kepercayaan mereka pada pihak Osimnyuk.”

Sepintas percakapan tadi dengan pamannya Pyo Tae-Suk, terus saja menari-nari di otaknya. Dari sana Eun-Jang memutar siasat, mencari celah, dan peruntungan tentunya demi satu orang nama Do Kyung-Soo. Ia dibuat pusing dengan masalah runyam yang datang silih berganti, tapi setidaknya Eun-Jang sudah menemukan jalan keluar hanya perlu peluang untuk menang maka semuanya terselesaikan. Ada jaminan, kalau saja Kyung-Soo berhasil mempertahankan posisinya sebagai siswa Osimnyuk, maka setelah anak itu berhenti menguntit kehidupan orang, kehidupannya kembali normal. Tapi justru sebaliknya, kalau saja kemenangan para siswa di turnamen tidak terlaksana maka selain Kyung-Soo harus keluar dari Osimnyuk, dia juga pasti jadi sasaran empuk bagi para elite setelah serangan terang-terangan waktu itu. Dia tidak akan hidup tenang. Kyung-Soo menjadi umpan dalam pergolakan ini.

Hari sudah menjelang sore, tapi Eun-Jang masih sibuk melamun sambil memegang sederet nama peserta turnamen.

“Jong-In, Jong-Dae, Min-Seok, Yixing, Baek-Hyun, Jun-Myeon.” Alisnya mengerut, ia berhenti di sederet nama Kim Jun-Myeon yang kemarin diam-diam memintanya untuk memasukkan dirinya ke dalam peserta. Kesemua daftar nama yang berjumlah 50 orang adalah formasi yang dibuat Eun-Jang berdasarkan prediksi yang ia buat setelah mengobservasinya satu persatu. Bahkan yang sebelumnya tidak terdaftar, tahun ini menjadi kandidat utama. Dong-Gu belum mengetahui pergantian formasi ini, kalaupun ia tahu maka ia akan menolaknya.

Yang jadi alasan adalah apakah kesemua daftar peserta itu setuju dengan dipilih menjadi perwakilan Osimnyuk?

Eun-Jang menelan ludah pahit. Waktunya satu bulan lagi, dan itu pasti dirasa sangat singkat baginya. Dia bukan guru olahraga, lalu bagaimana cara membimbing mereka untuk menang dalam lomba? Eun-Jang memang pernah ikut serta dalam lomba maraton, itupun berakhir di posisi ke-120 dari 300 peserta. Keringat dingin membanjiri telapak tangannya.

Seonsangnim..” ia terlonjak. Tanpa suara tiba-tiba saja Sehun sudah duduk di belakangnya. Pria itu nyengir.

Eun-Jang membuat gerakan untuk memukulnya, tapi tidak jadi.

“Ada apa lagi? Kemarin kau sudah membuat pekerjaanku tidak selesai, sekarang apa lagi?”

“Kau itu, kenapa tempramental sekali. Aku Cuma ingin duduk di sini, merasakan udara sore.”

“Pelajaran kan belum berakhir, kenapa kau membawa-bawa tasmu? Atau kau—“

Sehun duduk bersilang kaki, sambil menyandarkan punggungnya di kursi.

“Aku bosan. Siapa juga yang tahan selama 15 jam berada di ruang kelas?”

Aku sudah 16 tahun mengenyam pendidikan, apa bisa dibandingkan denganmu yang masih seumur jagung? Batin Eun-Jang

“Biar saja, nanti masa depanmu yang akan menjawabnya.”

“Pikiranmu kolot sekali, seperti nenekku. Aku itu sudah cerdas, lihat saja nilai matematikaku. Aku bisa memecahkannya seperti lesatan peluru. Pak!” Ia memperagakan sebagai seorang penembak, tapi tiba-tiba saja sesuatu merasuki kepalanya. “Nenek?” yang ia ingat adalah janjinya untuk menjemput sang nenek yang baru saja datang dari desa. Sehun berniat untuk memamerkan motor barunya dan mengajak sang nenek untuk ikut dalam petualangannya berkeliling kota. Ia segera bangkit, kemudian bergegas pergi.

“Seonsangnim, katakan pada tuan Kim kalau aku izin. Aku akan pergi berkencan dulu dengan nenekku.” Dalam sekali hempasan, Sehun menghilang.

Eun-Jang menggeleng heran.

***

Chan-Yeol kalah telak dari kekeraskepalannya. Dia telah mengakhirinya pada sebuah keputusan. Matanya terus tertuju pada sebait kalimat di layar ponsel dari pesan yang baru saja ia kirim sekitar 5 menit lalu.

Seonsangnim, aku telah memutuskannya. Sekarang aku sedang ada di rumah sakit Seoul.”

Napasnya tersengal sengal begitu bau obat menguar dari bilik-bilik bangsal rumah sakit, dahinya mengernyit melihat pria berbaju putih berlari-lari saling beradu kecepatan dengan..nyawa? Ya, nyawa seorang pasien kecelakaan yang tergeletak tak sadarkan diri di atas brankar yang dikerumuni beberapa perawat. Ia agak penasaran, melongok begitu mereka lewat di depannya. Tangannya gemetaran, rasanya ia mau lari saja dibandingkan harus masuk ke dalam salah satu ruangan di sana, sekalipun hanya ruang konsultasi.

Waktu telah berlalu, hingga saat dia dipanggil masuk, orang yang ia harapkan jadi walinya belum kunjung datang.

“Chan-Yeol~ssi, mari masuk.” Salah seorang perawat dengan senyum ramahnya, menuntun langkah Chan-Yeol.

Perasaan pria itu jadi tak karuan. Yang benar saja, dia seolah akan dikeroyok karena berada di dalam ruangan itu seorang diri dengan dua orang yang saling bersekutu—seorang dokter dan perawat—dalam bayangannya, justru senyuman yang merekah di wajah mereka adalah senyum mengintimidasi. Can-Yeol menelan ludah gugup. Wajahnya tiba-tiba pias.

“Duduklah dulu.” Pinta dokter, menaikkan wajahnya dari selembar kertas. Matanya nampak bergerak-gerak, seperti sedang mencari sesuatu. “Wali-mu mana? Em.. yang waktu itu.“ ia agak salah tingkah, membuat wajah datar Chan-Yeol semakin tanpa ekspresi.

Wali? Ha, maksudmu perempuan yang waktu itu datang bersamaku? Batin Chan-Yeol. Tiba-tiba saja ia merasakan gejolak aneh.

“Aku tidak mau melakukannya.”

Lalu apa maksudnya dia datang ke rumah sakit kalau tidak bersedia melakukan tindakan endoscopi?

Air muka dokter tadi berubah.

“Lalu apa yang kau lakukan dengan datang ke sini?”

Dia tidak bisa membuat alasan.

“A..aku.. hanya penasaran dengan harganya saja?” jelasnya tanpa dosa.

Dokter muda itu hanya tersenyum sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. Tangannya bergerak menjangkau sebuah brosur yang ditumpuk jadi satu

***

Sepak Bola, Judo, Hockey, Anggar, Panahan , Lompat tinggi, Bowling, Renang, Sprinter, Alkkagi?

Alkkagi?” Eun-Jang hampir terjungkal saat menumpu dirinya di atas bangku kayu. “Alkkagi? Aissh..” ia baru saja melihat daftar perlombaan yang akan dipertandingkan, dan yang paling membuatnya tak habis pikir adalah ‘alkkagi’ semacam catur tradisional korea. Rasanya sangat mustahil memasukkan kandidat ke dalam bidang itu, siapa juga yang mau?

“Bukannya cari dulu, kenapa malah langsung dicoret?” Kyung-Soo duduk di sampingnya dengan raut wajah yang lebih ringan dibandingkan kemarin. Eun-Jang agak terkejut, bukankah kemarin dia bilang kalau kepala sekolah memberinya hukuman untuk tidak berada di sekitar Osimnyuk?

“Kakiku memang tidak menjamin kalau aku bisa menang dalam pertandingan fisik, tapi mungkin aku bisa menggunakan sedikit fungsi otakku.” Bibir hatinya merekah. Kedua orang itu saling tersenyum di bawah pohon cherry blossom dengan bunga-bunganya yang bermekaran menimpa kepala masing-masing.

Gomawoyo..” ungkapan singkat itu membuat Eun-Jang berhenti dari memeriksa berkas.

Mwoga?”

“Tadinya aku berpikir untuk tetap mempertahankan pendirianku dan melawan kecaman kepala sekolah, tapi setelah kupertimbangkan lagi, ada saatnya.. ya ketika aku sudah lebih kuat dan dewasa, aku baru akan mewujudkan impianku, menjadi seorang jurnalist, yang profesional, seperti Seonsangnim.”

Rahang Eun-Jang hampir jatuh mendengar pujian yang begitu mencengangkan. Seorang profesional? Dirinya? Do Kyung-Soo, anak ini pasti mengada-ada.

“Butuh waktu untuk menjadi seorang profesional, aku itu baru mengajar di sini 2 minggu.”

Kyung-Soo menggeleng.

Aniyo, maksudku kau itu bisa jadi profesional dengan caramu sendiri.”

Eun-Jang masih belum mengerti.

“Eiy.. atas dasar apa kau menilaiku sebagai orang yang profesional? Kau tidak tahu kalau aku kerepotan mengatur kalian?”

“Baru saja aku dari ruang kepala sekolah, katanya aku diberi keringanan. Bukankah Seonsangnim yang melakukannya?”

“Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Lagipula aku juga sedang mencoba dan hasilnya ada dua pilihan, menang atau gagal.” Eun-Jang merendah.

“Bagaimanapun juga, Jeongmal gamsahamnida..”

Eun-Jang menggerakkan tangannya, mengacak rambut halus Kyung-Soo, membuat siswanya itu membatu untuk sesaat.

“Kalau begitu, kau juga harus membantuku.”

Guru wanitanya itu berdiri, melakukan stretching ringan untuk sejenak, kemudian berjalan meninggalkan muridnya yang masih diam tak berkutik mengawasi punggung gurunya yang mulai menghilang di pertigaan menuju ruang guru.

***

Sehun sibuk menggerakkan pensil lancipnya pada selembar kertas. Tidak ada yang mampu menarik minatnya selain menggambar struktur abstrak, menentukan deviasi, dengan parameter manual ia belajar secara otodidak. Keahliannya memang patut diapresiasi, menggambar perspektif bukanlah sesuatu yang mudah. Ya, dia senang sekali membuat sketsa. Paling banyak memang gambar kaku yang bersudut-sudut, tapi detik ini dia sedang mengasah kemampuannya untuk menggambar wajah dari layar ponselnya.

Mulutnya tak mau menutup saat tangannya berbelok ke berbagai arah menggambar setiap detail. Bukan cuma tangannya yang bergerak, tubuhnya pun tidak mau diam. Memang sudah karakter.

“Itu wajah orang?” temannya melongok penasaran, Sehun, seperti anak TK yang baru belajar membuat angka 1, ia segera menutup gambarnya tak mau dilihat.

“Ya!” pekiknya merasa terganggu.

Teman lelakinya tersenyum jahil, kemudian dengan meminta komplotan yang lain, mereka semua datang bergerombol dan menahan tangan Sehun dari sana.

“Ya, Geumanhae..” Sehun menepis, lantas semuanya tertawa begitu melihat sketsa wanita yang sedang duduk dalam sebuah ruangan.

Yeoja?” semuanya tercengang, saling diam, dan selang beberapa detik langsung menertawakannya terbahak-bahak, sampai berguling di lantai, bahkan yang tadinya diam ikut andil dan turut menertawakannya. Wajah Sehun merah padam.

“Aish.. Sincha..” ia kesal sendiri, kemudian merebut buku sketsanya, dan berlalu keluar ruangan.

Di pintu masuk, ia yang baru akan keluar kemudian tidak sengaja bagian bahunya menabrak bahu Chan-Yeol membuat buku yang dipegangnya jatuh. Chan-Yeol melihatnya sambil meringis. Sehun bangkit, saat ia menoleh dan sadar siapa yang baru saja berpapasan dengannya, kedua orang itu saling pandang untuk beberapa saat dengan sebuah tatapan yang tak dapat dinarasikan. Dalam, tapi jauh, jauh sekali di sana terselip sebuah penyesalan sekaligus permintaan maaf. Tapi keduanya, sama-sama kurang fasih dalam mengendalikan emosi, keduanya sama-sama keras.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Keduanya terlonjak. Eun-Jang tiba-tiba muncul di antara mereka dan memandangnya bergantian.

“Cepat masuk!” titahnya dengan senyuman menyeramkan.

Ne, Seonsangnim..” Sehun menurut. Lain halnya dengan Chan-Yeol, pria itu melenggang saja tanpa mau memberikan sapaan formal kepada gurunya. Eun-Jang mencibir, merutuki kelakuan muridnya itu.

“Dasar bocah tengik!”

Begitu Eun-Jang masuk, beberapa siswa yang tidur di atas meja, yang memainkan jendela kelas bahkan tak tahu maksudnya apa, yang saling tumpang tindih di atas lantai, mereka semua segera bergegas menuju tempatnya masing-masing, meski ada beberapa yang tidak menghiraukan—seperti dua orang yang main gitar di belakang—setelah ketua kelas menggubrisnya, ia pun menurut. Jadi yang paling berperan besar dalam mengkondisikan kelas bukanlah seorang guru, melainkan ketua kelas yang kadang membuat jeritannya seperti halilintar.

Eun-Jang berdiri di depan, membuat semua muridnya fokus sebelum memulai bicara. Setelah mereka berhenti dan menumpahkan perhatiannya pada perempuan itu, barulah Eun-Jang membuka mulut.

“Kalian sudah tahu tentang turnamen olahraga nasional yang akan diselenggarakan?” Matanya bergerak untuk sesaat, memastikan. “Sebagai guru olahraga di Osimnyuk, aku sudah membuat daftar siswa yang akan diikutsertakan sebagai kandidat. Bagi nama yang kutuliskan, setelah jam pulang nanti kita berkumpul di lapangan sekolah. Aku mengharapkan kerjasama dari kalian semua.”

Di depan sana, wanita itu tampak sedang menyembunyikan beban berat di pundaknya. Chan-Yeol mampu membaca raut Eun-Jang, meskipun ia sedang diliputi rasa kesal karena pesannya yang belum direspon malam tadi, tapi entah kenapa ia merasa khawatir. Pada gurunya. Ya, bukankah wajar seorang murid mengkhawatirkan gurunya? Hanya saja itu terlalu berlebihan bagi seorang Park Chan-Yeol yang bahkan tidak bisa memahami dirinya sendiri.

Seonsangnim, untuk nama yang sudah ditulis, apa bisa dihapus?”

Seorang pria bertubuh kekar mengangkat tangannya. Tampaknya ia sedang mengantisipasi kalau dirinya diikutsertakan.

“Kita akan membicarakan itu sepulang sekolah nanti.” Singkat Eun-Jang, kemudian menyerahkan secarik kertas pada ketua kelas, dan segera pergi.

***

Ia kesal karena namanya tidak tercantum, tidak tahu harus mencurahkan kekesalannya ini pada siapa tapi rasanya setiap kali berpapasan dengan orang-orang, Chan-Yeol tak bisa menurunkan intensitas kekecewaan di wajahnya.

Setelah jam pulang berakhir, seluruh siswa yang tercantum dalam daftar peserta turnamen segera bergegas melaksanakan perintah Eun-Jang untuk datang ke lapangan. Sudah dua jam Chan-Yeol duduk menunggu di luar—tepatnya ia ingin ada yang menawarinya untuk masuk—tapi nyatanya, orang-orang itu cuma lewat saja, bagai angin. Sementara beberapa guru, tampak meninggalkan ruangan mereka.

“Park Chan-Yeol~ssi?” Min-Seok tampak mengembangkan senyumnya. Chan-Yeol tak langsung merespon, tampang sumringah orang itu sungguh membuatnya tersindir. Entahlah, mungkin ia yang terlalu melebih-lebihkan.

“Ehm..” Chan-Yeol berdeham. “Kau juga terpilih?”

Min-Seok mengangguk. “Semua formasinya berubah, tidak seperti tahun lalu.” Ungkapnya kemudian dengan nada antusias.

“Aku masuk dalam bidang sepak bola.”

Seolma.. Bukankah kau—ani kenapa bisa?”

“Ternyata guru baru itu benar-benar di luar dugaan. Kurasa dia memang melakukan bagaimana semestinya.” Min-Seok melirik arlojinya. “Ah.. Mianhae, sepertinya aku harus segera pergi.” Ia menepuk pundak Chan-Yeol kemudian berlari dengan senyuman. Ada gelenyar aneh saat Min-Seok menepuknya, lantas apa ini yang dirasakan dia setelah sekian lama tidak bersosialisasi dengan teman-teman lelakinya? Astaga. Chan-Yeol bergidik.

Selepas itu ia berjalan santai, menyisir koridor sekolah yang berbentuk etnik, hingga tiba-tiba sesuatu menghentikan langkahnya. Kerahnya ditarik ke belakang, ia diseret paksa oleh seseorang sampai membuatnya hampir mati karena tercekik.

“Ya!” pekiknya saat tiba dalam ruangan dengan interior acak-acakan. Sejenak ia terpaku pada tempat yang baru didatanginya pertama kali setelah hampir 3 tahun berada di Osimnyuk, tapi ia buru-buru menepis penasarannya dan beralih pada seseorang di belakan.

Neo?”

Sehun tengah berdiri dengan sapu dan handuk kuning yang melingkar di leher. Ia meluruskan pinggangnya ke kiri dan kanan.

“Semua tulangku rasanya hampir remuk.” Akunya dengan wajah kuyu. “Kau itu kemana saja? Sudah dua jam aku disini sendirian, kenapa tidak muncul-muncul?” ia membentaknya.

Chan-Yeol tidak terima.

“Memangnya ada apa denganku? Lagipula kau tidak berhak mengatur hidupku!”

“Aish.. Kau seharusnya menghargai upaya Ham Seonsangnim mengumpulkan murid berandalan itu di lapangan. Sementara kita yang tidak terpilih, setidaknya ikut memberikan sumbangsih juga.”

Ia mengangkat benda kebanggaannya detik itu. Sebuah sapu lantai, dan lap basah.

Chan-Yeol mencibir. Aneh sekali, bukankah Oh Sehun terkenal akan kenakalannya di seantero sekolah, dia juga paling sering bolos. Kalau ditinjau dari segi prilaku, meskipun tidak jauh dari Chan-Yeol, tapi Sehun lebih parah. Dialah siswa paling membangkang. Justru kenyataannya, sekarang murid bernama Oh Sehun, bahkan dengan kesadaran diri super tinggi menuruti perintah seorang guru yang baru mengajar dua minggu di Osimnyuk? Sulit dipercaya!

Chan-Yeol tidak mengngubris, dia bersiap melenggang ke luar ruangan. Sehun menggusur meja, menghalangi jalannya.

“Sejak kapan kau jadi begitu tunduk pada orang lain?” nada suara Chan-Yeol tampak merendahkan.

Sehun menyunggingkan bibirnya.

“Cepat lakukan sebelum kau membuatku kesal!” ia mengancam. Keduanya saling melesatkan tatapan tajam. Sorot matanya seolah mengeluarkan sebuah konektor sehingga saat saling beradu di tengah-tengah terbentuk titik sinapsis.

“Oh Sehun~ssi?” Eun-Jang muncul dengan kemejanya yang digulung, bersiap untuk ikut berpartisipasi membersihkan aula tersebut.

Sehun menoleh, menghentikan gejolak jiwanya untuk sejenak. Lain halnya Chan-Yeol, pria itu malah memalingkan wajahnya, kemudian bergerak meletakkan tas di sudut ruangan, secepat kilat ia bersikap seolah-olah sudah berada di sana sejak lama—berpura-pura menghapus debu di lantai—dengan sapu meskipun ia tampak kerepotan karena tidak biasa.

“Aku baru mengeluarkan isinya, itupun memakan waktu dua jam. Teman-teman sudah pulang lebih dulu.” Sehun menjawab, ia mendorong meja yang menghalangi jalan.

Eun-Jang melihat-lihat aula yang sudah kosong itu. “Tidak buruk.” Kemudian mengembangkan senyuman dan menepuk-nepuk lengan Sehun. Pria itu tersipu.

Sementara di sudut lain, Park Chan-Yeol yang tak sengaja melihatnya, ia segera melempar lap basah kotornya. Gemas.

“Dasar guru aneh, kenapa senang sekali melakukan skinship dengan muridnya?” ia merutuk sendiri, tanpa alasan. Eun-Jang yang masuk ke dalam, jangankan menyapanya, ia bahkan bergerak saja acuh seolah di sana hanya ada dia berdua dengan Sehun, tanpa Chan-Yeol. Atas dasar apa, Chan-Yeol sendiri pun tidak jelas. Padahal jelas-jelas yang membuat kesalahan itu Eun-Jang karena telah mengacuhkan sms permintaannya semalam.

“Ruangan ini akan kugunakan sebagai tempat latihan, kecuali untuk bidang sepak bola, latihannya akan dilakukan di lapangan.”

Seonsangnim, kenapa kau tidak memasukanku di daftar peserta?”

“Kalau ada cabang atletik lain, aku pasti akan memasukanmu sebagai pembalap.”

Sehun tersenyum, merasa tersanjung. Chan-Yeol semakin geram dibuatnya, ia baru akan menyudahi pekerjaannya dan kabur keluar sebelum akhirnya kedua kakiny tersandung dan membuatnya tersungkur hingga pintunya berdebum keras, tertutup.

BRUKKK

Eun-Jang dan Sehun langsung menoleh.

Malu karena diperhatikan, Chan-Yeol bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Ia heboh sendiri. Pinggangnya agak ngilu. Eun-Jang dan Sehun meringis.

“G-waencanayo?” Eun-Jang akhirnya bicara. Pertama kalinya selama seharian ini ia mengeluarkan suara di depan pria itu. Chan-Yeol tak menjawab, baru saja ia akan membuka pintu, teryata kenopnya tak berfungsi. Chan-Yeol panik.

“Waeyo?” ia bergumam sendiri, kemudian melirik ke arah Eun-Jang dan Sehun yang saling asik membersihkan ruangan.

Tangan Chan-Yeol terus bergerak. Wajahnya tiba-tiba pias. Tidak mungkin kita terkunci disini kan?

“Ada apa?” Sehun bertanya kuatir. Chan-Yeol Cuma menggeleng, tidak mau disalahkan.

Penasaran, Sehun akhirnya menangkupkan tangan di kenop pintu. Keras sekali ia melakukannya, berulang-ulang sama paniknya dengan Chan-Yeol dan Eun-Jang yang menduga-duga akan nasib mereka bertiga.

“Enghh..” sampai Sehun meneran untuk coba membuka, pintu itu tetap diam, tidak bergeming.

Trek!!

Chan-Yeol dan Eun-Jang sumringah, ada harapan. Mereka pikir pintunya berhasil dibuka. Tapi kemudian, Sehun menoleh dengan raut penuh penyesalan sambil memperlihatkan kenop pintu yang patah.

Mian..” ucapnya hampir menangis. “Aku rasa pintunya memang sudah rapuh.”

Detik itu juga, Eun-Jang, Chan-Yeol dan Sehun, ketiga orang itu tahu kalau mereka sedang berada di situasi rumit di hari yang sudah mulai gelap. Terkunci. Dan sialnya lagi, besok adalah hari libur, jadi yang ada dalam bayangan mereka adalah tergeletak seperti rangka hidup karena dehidrasi.

To Be Continue…

Satu pemikiran pada “Osimnyuk High School (Lessson 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s