Two Moons

Two Moons

Tittle: Two Moons
Writer: whirlwindseu
Genre: AU, Scifi, Semi fantasy
Length: Oneshoot
Rating: PG-15
Cast: Sehun and others

Disclaimer: Copyright to Whirwindseu. Have been posted in Exo Bedtime Story. Any plagiarism is PROHIBITED.

.

ENJOY

.

Bahkan hingga hari ini tiba, aku masih tidak bisa meyakini keajaiban yang terjadi. Aku lelah bertanya apakah ini hanya mimpi belaka. Mereka lelah menjawab pertanyaanku dengan satu kalimat yang sama. Identik dengan yang telah terucap. Aku menelan ucapan mereka dengan cara sama seperti yang sudah-sudah.

“Kau tidak sedang bermimpi, Sehun,” yang tertua di antara kami, Minseok, mengelus surai hitamku dengan lembut sembari mengucapkan satu kalimat yang membuatku muak. Aku tidak dungu. Aku mengulang pertanyaan yang sama bukan karena aku tidak mendengar atau tidak paham. Aku hanya tidak percaya.

“Mengapa aku yang lebih dulu?” tanyaku. Aku bermain-main dengan angin yang berhembus. Membelokkan arah tiupan mereka dan menghempaskannya ke arahku. Minseok bergidik ketika angin malam yang kupermainkan menyapu permukaaan kulitnya. Aku tahu itu dingin. Tetapi Minseok hanya diam dan aku ingin ia menjawab pertanyaanku. Meskipun aku sendiri tidak yakin kepada siapa pertanyaan tadi ditujukan. Minseok atau langit malam yang sedang menangis.

“Udara bergerak dari tempat bertekanan tinggi ke tekanan rendah, Sehun.”

“Aku tahu, Minseok. Tapi hukum itu tidak lagi berlaku sejak setiap partikel udara di bumi ini tunduk padaku,” timpalku sambil menyeringai. Minseok tertawa renyah. Laki-laki itu kemudian menghadapkan telapak tangannya pada langit. Menanti hingga beberapa tetes hujan membasahinya. Lalu dengan sekali helaan nafas, air hujan itu berubah menjadi butiran es.

“Mungkin itulah alasan mengapa Junmyeon sangat takut padamu,” candaku. Kali ini Minseok tertawa terbahak-bahak dengan melodi yang menyenangkan. Gema tawanya memantul di udara dan membelai daun telinga.

“Bersyukurlah aku tidak tahu caranya membekukan angin.”

Obrolan kami berlanjut. Aku menikmati saat-saat seperti ini. Berbagi tawa dan cerita. Mungkin sesekali sesal dan air mata. Minseok adalah pendengar yang baik. Aku nyaman ketika bersama dengannya. Semakin larut, semakin sedikit pula nada-nada ceria yang terdengar. Semakin kami sadar akan apa yang hendak menghampiri. Saat air mata langit telah habis, Minseok beranjak dari posisinya. Siap untuk berlalu.

“Apapun yang terjadi, jangan seperti Zitao.”

Minseok menepuk pundakku dan perlahan meninggalkanku bersama dengan hawa dingin yang selalu menguar dari tubuhnya. Aku termenung menghadap bulan. Kali ini kubiarkan angin berhembus sesuai kodratnya. Desaunya menciptakan harmoni untuk telingaku. Beberapa saat memejamkan mata dan membayangkan semuanya, aku menjadi benar-benar yakin.

Kemarilah, masa depan. Aku menyambutmu.

.

.

.

Mungkin kau bertanya tentang apa yang terjadi. Keadaan ini asing bagimu. Aku manusia sama sepertimu. Aku memijak tanah bumi yang kau pijak. Hanya saja, aku hidup di abad ke sekian. Belasan abad setelah generasimu yang keseratus lahir. Bumi masih bumi namun tidak lagi sama.

Sejak beberapa abad yang lalu, para alien dari ratusan exoplanet menyerang kami. Mengoyak atmosfer dan menggantinya dengan lapisan ciptaan mereka sendiri. Mereka memiliki apa yang tidak kami miliki. Kami punya apa yang tidak mereka punya. Dan mereka mengincarnya. Bumi adalah idaman para penghuni alam semesta. Maka aku berhak bertanya padamu dan segenap generasimu. Mengapa kau tega merusak bumi sepanjang hidupmu? Kami butuh setidaknya lima abad untuk memulihkan bumi yang telah dihancurkan oleh para pendahulu. Kedatangan alien adalah bukti keberhasilan kami. Kekuatan mereka maha dahsyat.

Pada zamanku, sejarah bukanlah tentang perang dunia. Itu wawasan kuno yang hampir punah. Sejarah adalah tentang seorang ilmuwan maha pandai yang menjadi pendiri kami. Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk menciptakan manusia sepertiku. Menyusun cairan-cairan kimia demi menjadikan setiap dua belas dari tujuh milyar orang memiliki kekuatan yang berbeda-beda untuk melawan serangan dari luar angkasa sana. Betapa hebat seseorang bernama Lee Sooman. Dua belas orang dengan keistimewaannya terlahir satu kali dalam beberapa abad namun dalam periode yang sama. Maka orang yang mengendalikan angin sepertiku tidaklah mustahil. Hanya sangat langka.

Para ilmuwan mencari kami. Menyatukan dua belas kepala dari berbagai pelosok bumi dan melatih kami di suatu fasilitas yang tidak bisa kau bayangkan. Setiap beberapa waktu yang ditentukan, satu dari kami dilepaskan dan dikirim ke exoplanet yang bahkan tidak kami ketahui bagaimana medannya. Menyusup dan menyelidiki apa yang dilakukan para alien. Mencari cara untuk menghentikan penyerangan sambil membunuh populasi mereka. Dua dari kami telah dilepaskan dan kabarnya tidak diketahui. Memang itu resikonya. Kami tidak bisa berkata tidak. Indikasi keberhasilan kami hanyalah jumlah alien yang memasuki bumi. Apakah bertambah atau berkurang. Tapi bahkan jika mereka tidak gagal, mereka tidak pulang. Yifan dan Luhan tidak bisa pulang. Dengan kata lain, kami hanya aset bumi yang dikorbankan. Tidak ada yang tahu alasannya selain Lee Sooman.

Ini giliranku dan Zitao. Kepergian kami tertunda karena Zitao berontak. Ia kabur dan menghilang tanpa jejak. Semua orang di fasilitas mencarinya tapi aku tidak. Aku tahu Zitao berontak dari awal. Dia benci terlahir sebagai salah satu dari dua belas orang yang dicari. Lebih tepatnya, dia takut pada dirinya sendiri. Takut pada energi tubuhnya yang dapat menghentikan waktu sesuka ia mau.

Aku berpikir kritis. Takdirku ada di tangan fasilitas ini. Aku dibutuhkan di sini. Aku buntu dalam perjalananku. Aku selamanya menjadi Sehun yang menunggu waktunya untuk meninggalkan bumi tiba. Bunga mawar sekalipun diberi nama melati, ia akan selamanya tetap berduri. Maka aku menuruti kata-kata Minseok.

Apapun yang terjadi, aku tak akan mengikuti Zitao.

.

.

.

Ini waktuku. Aku menunggu di suatu lapangan luas di tengah gedung fasilitas. Orang-orang ada di sekelilingku. Pendampingku bilang akan ada roket tanpa awak yang mendarat di sini dan membawaku melintasi antariksa. Entah berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai exoplanet tujuanku. Setibanya di sana aku akan melaksanakan semuanya sendirian. Menyusup, menghilangkan jejak, menyamar, berbaur, menyelundup, meneliti, mempelajari, bersandiwara, dan membunuh alien di sana. Sendirian. Tapi itu wajar karena semua ilmu dan teknik untuk itu telah kupelajari di fasilitas. Jika aku beruntung, mungkin aku akan berjumpa dengan Luhan dan Yifan.

Saat langit menunjukan bulan kembar nanti, saat itulah waktu terakhirku di bumi. Aku akan pergi ketika bulan kembar telah nampak. Jangan kaget, bulan masih tetap bulan yang sama ketika zamanmu. Yang satunya hanya buatan ilmuwan kami. Hatiku seolah terbakar. Aku di pintu perpisahan. Waktu tersia-siakan untuk sebuah penantian. Terlalu sia-sia hanya untuk melewati satu malam terakhir di bumi.

Aku menggeram layaknya seekor serigala. Seolah dengan geraman itu akan ada dua dewi yang menggantung di langit dengan cantiknya. Aku mendesis tak sabar. Perasaan dan sensasi ini, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Sekujur tubuhku menggigil. Kujauhkan angin dari sekitar tempatku berdiri. Kulihat Minseok berdiri jauh dariku. Tapi aku tetap menggigil sampai ke ujung rambut. Menyengat sekali.

Bulan akan nampak segera. Dewi kembar itu akan menerangi langit malam sebentar lagi. Aku bersiap sambil menikmati detik-detik terakhirku. Melihat wajah teman-temanku. Dari Minseok hingga Jongin. Sesaat setelah helaan nafasku, langit menjadi lebih cerah. Di sanalah tertampang dua buah bulan yang sama terang sinarnya.

Sebuah roket mendarat dengan suara khas mesin zaman sekarang. Suaranya halus meski tanpa peredam. Aku menegakkan tubuhku dan mulai beranjak.

“Malam ini ada dua bulan di langit malam. Ayo pergi,” bisikku pada diriku sendiri.

Aku pergi. Tanpa ada kata kembali lagi.

.

.

.

Cahaya putih yang baru itu semakin benderang. Langit terlihat kelabu dan bergetar. Dua tempat dengan perbedaan ruang waktu yang tidak kukenal. Tidak ada waktu untuk sebuah penjelasan, aku harus pergi. Jalan paralel menuju dunia empat dimensi hanya akan terbuka sekarang. Saat dua buah bulan muncul bersamaan. Di dunia baruku nanti, mungkin aku tidak akan menjadi Sehun yang lalu. Aku mungkin tetap sama dari luar, tetapi jangan harap aku tidak berubah untuk beberapa hal. Setelah ini, satu ditambah satu mungkin bukan dua.

Tidakkah menjadi orang terpilih itu menyenangkan? Aku tidak akan kembali pada perangkap ini. Lihatlah dua bulan kembar itu. Aku si ksatria bumi yang ditunjuk untuk berperang. Pergi, menempuh perjalanan, melaksanakan tugas. Dan aku tak punya waktu lagi. Aku berada di dalam roket dan mengencangkan sabuk pengamanku.

Detik kepergianku di sini.

END.

A/N: Hai, terimakasih kepada admin yang sudah mem-publish FF aku ^^ Terimakasih juga kepada kalian yang sudah membaca ^^ Karena FF ini masih banyak kesalahan, aku mohon kritik dan saran dari kalian ya J don’t be silent reader, please? See you in other exo fanfics of mine~

Iklan

Satu pemikiran pada “Two Moons

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s