Werewolf (Chapter 11)

Werewolf [Chapter 11]

Title : Werewolf [Chapter 11]

Author : gabechan (@treshaaruu)

Genre : Fantasy, Tragedy, Thriller, and maybe Romance?

Length : Chapter (on going)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol, Lee Hyejin, Wu Yifan (Kris), Oh Sehun

Support Cast : Ken (VIXX), Suho (Kim Junmyeon), Xiumin (Kim Minseok)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

Halo! Karena ini sedang libur kenaikan kelas, aku jadi punya banyak waktu untuk ngelanjutin ff ini. Ternyata bikin ff ini gak gampang. Aku sempet ngeblank ga tau mau apa lagi untuk ngelanjutin ff ini. Tapi setelah baca chapter-chapter sebelumnya, ide itu datang dan syukurlah aku bisa lanjutin hehe. Memang di chap ini masih belum jelas segala sesuatunya (aduh bahasanya /0\), dan kemungkinan di chap selanjutnya (yg mungkin agak lama diposnya) akan terjawab kenapa dichap 10 kemarin aku nulis ‘meskipun harus mengorbankan nyawa’. Hehehe silahkan ditunggu :). Dan bagi readers yang punya wattpad, silahkan follow aku: @gabechan. Di sana mungkin kalian bisa ngasih aku ide untuk chap selanjutnya, atau lewat twitter juga boleh kok. Terakhir, makasih banyak untuk readers yang masih setia baca dan bahkan nungguin ff ini kapan selesenya. Makasih juga untuk komen dan likenya, aku jadi semangat lho hehe. Semoga kalau ff ini selesai, dapat memuaskan kalian yaaaa!

Happy reading!

Chapters:

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 |

Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10

 

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

_____

“Aku tidak melakukan hal itu untukmu, aku melakukannya untuk Sehun dan diriku. Memangnya kau pikir aku seputus asa itu sampai rela mati hanya untuk menyelamatkan manusia bodoh sepertimu?”

_____

 

10:05 AM

 

BRUKK.

“APA KAU BODOH?! BAGAIMANA BISA KALUNG ITU ADA PADANYA?!”

“Aku tidak tahu! Ughh..”

Cengkeraman tangannya mengendur, membuat Sehun bisa kembali bernapas. Keduanya saling memaki dan berteriak. Saling menyalahkan atas peristiwa yang menimpa mereka sebelumnya. Chanyeol yang telah dikuasai oleh amarah, lepas kendali. Lelaki itu membiarkan dirinya berubah. Dinding api setinggi dua meter mengelilingi mereka, membakar apapun yang menghalangi.

“Chanyeol, hentikan. Tidak ada gunanya kau melakukan hal ini! Ingin membunuhku? Silahkan. Aku tidak akan melarikan diri,” seru Sehun.

“Kau seharusnya tetap mengikuti rencana, brengsek! Kalian hampir terbunuh! Aku hampir terbunuh!”

Lolongan itu terdengar memekikkan telinga. Geraman penuh amarah membuat siapapun yang mendengarnya ketakutan. Namun, perlahan-lahan tubuhnya kembali seperti semula. Taring dan kuku-kuku tajam menghilang.

Tak secepat perubahan dirinya menjadi normal, dinding api setinggi dua meter yang mengelilingi mereka masih berkobar liar melahap dedaunan serta batang-batang pohon di sekitarnya.

Chanyeol menghela napas, “Maaf.”

“A..apa kau bisa… akhh..”

Ketika suara lemah itu memasuki telinga keduanya, barulah mereka menyadari kehadiran gadis itu. Hyejin tersungkur di dekat sebuah batang pohon tua, memegang perutnya. Air mata mengaliri pipinya dan bibir kecilnya sedari tadi mengeluarkan rintihan lemah yang hampir tak terdengar.

“Apakah kau bisa…?”

Sehun menatap luka bakar pada perut Hyejin, menyingkirkan tangan gadis itu dengan lembut, “Diamlah. Kau akan baik-baik saja.” Lelaki pirang itu berbalik menatap Chanyeol, yang masih terpaku di tengah-tengah bukaan dengan napas terengah-engah, “Lihat apa yang telah kau lakukan.”

Chanyeol melangkah mendekati Hyejin. Pandangannya tertuju pada luka bakar itu. Kepalanya terasa sakit, berdenyut nyeri berulangkali namun ia mengabaikannya. Ia ingin berbicara, namun bibirnya yang sudah terbuka tak mengeluarkan satu kata pun. Ia mengabaikan tatapan tajam dari Sehun dan terus saja melangkah. Sampai suara gadis itu menghentikannya.

“Jangan mendekat satu langkah pun. Aku tidak perlu bantuanmu, kau monster.”

Monster… aku monster…?

Hal yang diingatnya adalah angin yang berhembus kuat selagi Sehun membawa Hyejin entah kemana, dan dirinya yang masih terdiam di tengah-tengah bukaan itu seperti orang bodoh.

Chanyeol memandang kosong kedua tangannya. Manik matanya beralih memandang tak percaya keadaan di sekitarnya. Rumput liar dimana ia memijakkan kaki telah hangus terbakar, menyisakan tanah berwarna hitam. Api-api kecil masih berusaha membakar ranting-ranting yang berjatuhan, namun langsung padam ketika lelaki itu mengulurkan tangan, lalu mengatupkan seluruh jemarinya.

Chanyeol berusaha menetralkan pikirannya. Ia menarik napas berkali-kali dan menghembuskannya, mengisi paru-parunya dengan oksigen sehingga ia dapat berpikir kembali dengan jernih. Tak ia sangka, satu kata yang gadis itu ucapkan mampu membuatnya merasa kalut.

Monster.

Dirinya adalah monster. Dirinya adalah makhluk terkutuk. Apakah selama ini ia lupa siapa jati dirinya? Apakah ia lupa bahwa ia adalah makhluk kotor dan terkutuk yang selalu memutus kehidupan seseorang hanya dengan mengambil jantungnya?

Ia bahkan tidak pantas untuk mengecap kehidupan. Ia tidak pantas untuk merasakan kebahagiaan, kesedihan, dan rasa sakit yang sebenarnya. Merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai.

Karena dialah yang merenggut semua hal itu dari kehidupan gadis itu.

_____

Setelah diberikan pengobatan supernatural, Hyejin sudah bisa menggerakkan tubuhnya seperti biasa. Walau lukanya masih belum sembuh sempurna, gadis itu memaksakan diri untuk bangkit dan berjalan-jalan. Sehun sudah berpesan padanya untuk berhati-hati, jangan pergi terlalu jauh dan bla bla bla. Hyejin sudah hapal betul apa yang harus ia waspadai di hutan magis ini.

Gadis itu telah mengenakan pakaian baru; kaus lengan panjang berwarna hijau tua yang kemudian dilapisi lagi dengan sweater berwarna coklat, serta rok semata kaki. Perpaduan warna yang unik, menurutnya. Semua itu diberikan Sehun secara cuma-cuma dengan melemparnya dari atas pohon. Entah darimana lelaki itu mendapat pakaian senyaman ini, Hyejin merasa harus berterimakasih.

Sehun menghilang, Hyejin segera pergi menuju bukaan tempat pertama kali mereka kembali dari peristiwa-buruk-menyangkut-Kris. Gadis itu merasa sangat jahat setelah sadar apa yang telah ia katakan pada Chanyeol. Karena itu, ia memutuskan untuk menemuinya sekaligus meminta maaf.

Hyejin tidak pernah tahu waktu semenjak ia keluar dari rumahnya dan tinggal di hutan ini bersama Chanyeol dan Sehun. Ia bahkan tidak tahu hari apa ini atau sudahkah kiamat terjadi, Hyejin tidak tahu. Ia hanya mengira-ngira sesuai dengan cuaca serta pancaran sinar mentari. Suara kicauan burung pun dijadikannya penunjuk waktu.

Ini sudah siang. Kicauan burung sudah jarang terdengar dan sinar mentari semakin terang. Bayang-bayang pepohonan seolah mengikut di belakangnya. Hyejin menghirup udara. Sudah lama sekali ia tidak bisa menikmati suasana damai hutan ini. Pikirannya terasa lebih segar, begitu pula tubuhnya. Walaupun bekas luka-luka yang pernah ada di tubuhnya belum menghilang sepenuhnya, Hyejin tak pernah merasa sebugar ini.

“Halo?” serunya ketika sampai pada bukaan yang ia tuju. “Aku kembali, kalau kau ingin tahu.”

Tidak ada jawaban.

Hyejin mendudukkan dirinya pada sebuah batang pohon besar yang tampaknya telah patah dan jatuh melintang di tanah,lalu mengayunkan kedua kakinya. Gadis itu tidak sadar bahwa Chanyeol ada di sana dan telah memperhatikan gerak-geriknya dalam perjalanannya menuju ke tempat ini.

“Mau apa kau?”

Hyejin menoleh. Gadis itu terjatuh dari tempatnya duduk dengan cara yang memalukan. “Kau mengagetkanku!” Chanyeol, tanpa rasa bersalah, segera meraih tangan Hyejin, membantunya kembali duduk.

Chanyeol diam sambil mendudukkan dirinya di sebelah Hyejin. Keduanya membiarkan keheningan meraja, sementara pikiran mereka melayang entah kemana. Hyejin yang telah beberapa kali memeriksa luka pada perutnya, tak sadar dengan tatapan sesal dari lelaki di sebelahnya.

“Apa kau bisa mengantarku kembali? Sepertinya aku memerlukan pengobatan supernatural Sehun,” ucapnya dengan nada riang.

“Tetaplah di sini. Kalau kau banyak bergerak, lukanya tidak akan sembuh.” Chanyeol berdeham, “Lagipula, aku yang melukaimu. Seharusnya aku yang mengurusmu.”

Hyejin menelengkan kepala, “Mengurusku?”

“Maksudku, mengurus luka itu.”

“Aku baik-baik saja. Hanya perlu kekuatan ajaib Sehun sedikit lagi. Jadi, kau bisa    

“Maaf,” potong Chanyeol, “aku lepas kendali. Maafkan aku.”

Selama sepersekian detik, Hyejin membeku. Ia tidak mengharapkan kata maaf dari lelaki itu. Ia datang ke tempat ini karena ia ingin mengecek keadaannya. Seharusnya gadis itu yang meminta maaf. Ia sudah menyebabkan banyak sekali masalah. Ya, banyak sekali.

Alih-alih menanggapi permintaan maaf Chanyeol, Hyejin tersenyum sambil menatap lelaki itu, “Omong-omong, aku suka pilihanmu. Melakukan teleportasi? Cukup keren. Kalau sempat, bagaimana kalau kita bertiga menghibur diri dengan teleportasi? Bukankah menyenangkan?”

Chanyeol memandang Hyejin tanpa ekspresi, “Kalau kita selamat, aku akan bersedia melakukan teleportasi bersamamu dan Sehun. Kemanapun.”

Yeah, well. Aku tidak bilang kita tidak akan selamat, kan? Kupegang kata-katamu.” Hyejin tersenyum, “Tapi, kau tahu, bukankah aneh? Kenapa kau punya kekuatan supernatural untuk berteleportasi? Kau, kan, bisa meloncati dua atau tiga pohon sekaligus. Untuk apa berteleportasi?”

“Kau terlalu banyak bicara,” ucap Chanyeol dingin.

Hyejin menjawab ‘oke, aku diam’ dengan cepat, takut kalau-kalau rambutnya habis terbakar oleh api yang Chanyeol buat untuk mendiamkannya. Tidak, terimakasih. Selama ini Hyejin sangat menyayangi rambutnya walaupun selalu terlihat seperti habis tertiup topan. Hyejin harus mulai belajar bersyukur.

Namun diam bukanlah kebiasaan gadis itu. Faktanya, diam bagi Hyejin adalah siksaan bagi mulut kecilnya. Apalagi dengan kepala yang berisi otak yang selalu membuat segudang pertanyaan yang menuntut minta dijawab. Ugh, Hyejin benci hal itu.

“Jadi.. tidak ada rencana untuk melawan? Atau kita akan menyerahkan diri?” celetuk Hyejin, “Aku lebih suka selamat.”

Chanyeol bangkit, lalu segera mengambil langkah lebar-lebar untuk pergi dari tempat itu. Hyejin yang tak bisa melakukan apapun untuk menghentikan lelaki itu, segera turun dari batang pohon tempatnya duduk, lalu berteriak sekuat tenaga, “Kalau kau ingin semuanya berakhir, serahkan aku pada Kris! Ia akan berhenti mengejarmu dan Sehun, dan kau tidak perlu repot untuk terus bersembunyi! Aku tidak akan menawarkanmu untuk kedua kalinya! Hei!”

Setelah berteriak kencang, yang hampir menghabiskan suaranya, Hyejin terbatuk-batuk. Memalukan sekali, pikirnya. Well, ia ingin terlihat dramatis ketika mengucapkan kalimat panjang itu pada Chanyeol.

“Tenggat waktu kita tinggal sedikit. Kita akan mati,” Hyejin hampir berteriak ketika suara dingin itu terdengar tepat di belakang telinganya.

Gadis itu segera membalikkan tubuhnya, “Aku tidak.”

“Kalau aku seorang yang egois, aku akan menyerahkanmu sejak dulu! Aku akan mengambil kembali kalung itu dan membiarkanmu mati, gadis bodoh!”

“Bukankah memang seharusnya seperti itu? Keegoisan adalah sifat alami manusia,” suara Hyejin bergetar, “bersyukurlah kau bukan sepenuhnya hewan.”

Chanyeol ingin protes, namun entah karena apa, ia memilih untuk menutup mulut. Sebenarnya, ia mengiyakan ucapan gadis itu. Ia mau mempercayai tiap perkataan yang gadis itu ucapkan. Ia mau. Ia sadar, hal yang dipikirkannya hanya mati, mati, dan mati. Ia tidak pernah memikirkan bagaimana jika ia hidup dengan tenang, lepas dari semua permasalahan ini? Apakah ia akan hidup dengan lebih baik?

“Kukira kau sudah mati,” Hyejin berucap, “kukira kau mengorbankan dirimu agar aku dan Sehun bisa kabur dari tempat itu. Syukurlah kau masih menggunakan otak setengah hewan-setengah manusia milikmu.”

Chanyeol tersenyum sinis, “Aku tidak melakukan hal itu untukmu, aku melakukannya untuk Sehun dan diriku. Memangnya kau pikir aku seputus asa itu sampai rela mati hanya untuk menyelamatkan manusia bodoh sepertimu?”

Hati Hyejin terasa sesak dan sakit. Kalau memang keberadaan dirinya saat ini hanya sebagai beban saja, mengapa mereka tidak membiarkan dirinya menghilang tanpa mereka sadari?

Hyejin menundukkan kepalanya sambil menghela napas, berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar, “Kau benar. Sebenarnya alasanku datang ke sini hanya untuk melihat keadaanmu, memastikan dirimu baik-baik saja. Aku minta maaf karena kata-kataku sebelumnya. Tidak seharusnya aku mengatakan hal itu padamu, walau sebenarnya itulah kenyataannya. Kau sudah membiarkan monster dalam dirimu menguasai seluruh tubuh dan pikiranmu, Chanyeol, sehingga hatimu tumpul. Kau hanya bisa memikirkan dan melakukan semua hal jahat yang kau ketahui. Kau hanya mengandalkan monster dalam dirimu untuk bertahan hidup.”

Kedua mata Hyejin yang telah dipenuhi air mata memandang manik mata kecoklatan Chanyeol dalam-dalam. Gadis itu ingin melihat seberapa sadar Chanyeol bahwa dirinya juga manusia. Gadis itu ingin melihat apakah Chanyeol menangkap maksud dari kata-katanya, bahwa sebenarnya yang harus diselamatkan adalah dirinya. Namun Hyejin tidak bisa melihat kesadaran itu. Yang dilihatnya hanyalah kegelapan hati dan kemarahan yang terbendung.

 

_____

12.05 AM

 

Hyejin bermimpi.

Dalam mimpinya, Hyejin merasa seluruh tubuhnya begitu ringan hingga ia merasa dirinya bisa terbang kapan saja. Ketika ingin merasakan kedua tangannya, barulah Hyejin sadar bahwa dirinya hanya berbentuk seperti sebuah bayangan, tak terlihat.

Hyejin berada di tempat lain. Sekarang ia sedang berdiri di salah satu ruangan cukup luas dan sedikit gelap dengan tempat tidur ukuran besar di bagian tengah serta lemari pakaian di bagian lainnya. Langsung saja gadis itu berasumsi bahwa tempat yang dimasukinya secara tidak sengaja ini adalah kamar seseorang.

 

Kenapa aku bermimpi memasuki kamar orang lain? Apa yang kau pikirkan sebelum tidur, Hyejin! Memalukan sekali!

 

Merasa malu, Hyejin melangkah ke sudut ruangan yang lebih gelap, dekat sebuah lukisan tua yang tergantung di dinding. Walaupun dirinya sekarang hanya sebuah bayangan, Hyejin masih bisa merasa tubuhnya bereaksi terhadap atmosfer seram. Tak lama setelah ia berpindah posisi, seluruh tubuhnya langsung diserang rasa takut. Hyejin tahu ada sesuatu yang tidak benar.

“Kami menemukannya.”

Hyejin terkejut setengah mati ketika mendengar sebuah suara berat terdengar tak jauh di sebelahnya. Pria dengan balutan kaus putih yang dilapisi sweater abu-abu bersandar di dekat pintu, menatap lawan bicaranya dengan malas. Hyejin kebingungan melihat hal itu karena ia yakin tak ada seorang pun di dalam ruangan ini selain dirinya (yang tak terlihat) dan pria pemalas (Hyejin memutuskan untuk menyebut pria yang baru datang itu dengan ‘pemalas’).

“Ketiganya?”

Suara lain menyahut. Napas Hyejin terasa sesak ketika dilihatnya seorang pria memunculkan diri dari sisi lain ruangan, tepat di dekat jendela. Wajah tak ramah dengan senyum licik langsung membuat Hyejin tahu siapa orang itu. Well, ia sudah bertemu dengan pria itu beberapa kali dan hampir terbunuh olehnya.

“Ya, di tempat yang sama. Selama ini mereka bersembunyi, mengandalkan suatu selubung transparan di sekitar mereka dan bau tubuh hewan-hewan lain sehingga keberadaan mereka tak diketahui. Mereka cukup pintar, kau tahu,” jawab pria yang sedang berdiri dekat Hyejin.

“Mereka memang pintar.”

Yeah. Bahkan cukup pintar untuk mengelabui kita waktu itu dan menyebabkan kematian salah satu teman kesayanganmu.”

Kris melangkah mendekati lawan bicaranya dengan langkah tegas. Ia berhenti tepat di hadapan pria dengan balutan sweater abu-abu, lalu menghela napas, “Kejar mereka. Bunuh kedua orang itu, biarkan yang satunya hidup. Ia akan kuurus secara pribadi.”

Pria berbalut sweater abu-abu itu mengangguk, kemudian melangkah keluar ruangan. Hyejin masih tak bisa bernapas lega karena Kris tepat berdiri di hadapannya dengan iris mata biru terang, mengamati lukisan yang tergantung di dinding di belakang Hyejin. Ketika ingin berpindah tempat, Hyejin terpaku. Bahkan selama sepersekian detik, Hyejin berhenti bernapas. Kedua mata beriris biru itu sedang menatapnya. Hyejin ingin berteriak sekencang-kencangnya. Demi apapun, ia ketakutan! Ini hanya mimpi namun terasa begitu nyata seolah Kris ingin menghabisinya dengan menyerap habis seluruh tenaganya.

“Ini hanya mimpi, hanya mimpi. Tutup matamu, Hyejin. Ia tidak benar-benar ada.”

“Ya, tutup matamu dan persiapkan dirimu, gadis kecil.”

JLEB.

Tusukan menyakitkan yang berpusat di perutnya membuat Hyejin melotot. Ia sudah berteriak sekuat tenaga atas rasa sakit yang dirasakannya, namun tidak ada suara apapun yang keluar. Dilihatnya perutnya yang terus mengeluarkan darah, dihujam oleh kuku-kuku tajam Kris. Tusukan itu makin dalam dan membuat tubuhnya makin lemah. Penglihatannya mengabur dan semuanya menghitam.

“AARGHHH!”

“Hyejin! Lee Hyejin!”

Guncangan keras pada tubuhnya membuat Hyejin terbangun. Peluh membasahi wajah Hyejin dan napasnya tak beraturan. Gadis itu memandang kedua tangannya serta Sehun dan Chanyeol yang sudah berjongkok di sampingnya dengan wajah khawatir.

 

Mimpi itu.. mimpi itu tidak nyata, kan?

 

“Apa yang terjadi?” Hyejin tidak menjawab. Ia melihat perutnya dengan pandangan tidak fokus serta napas terengah-engah.

“Lee Hyejin! Sadarlah! Ceritakan apa yang terjadi!” bentak Sehun, mulai khawatir dengan kondisi gadis itu.

“…ia menusukku…kuku itu…” ucap Hyejin terbata-bata.

Chanyeol mengguncang pelan bahu Hyejin untuk menyadarkannya sekali lagi. Setelah mendapat perhatian Hyejin, Chanyeol bertanya dengan lembut, “Ceritakan dengan perlahan mimpimu.”

Hyejin menggeleng, “Tidak, tidak ada waktu. Mereka mulai bergerak… mereka mencari… kita akan mati!”

“Siapa yang kau maksud?” tanya Sehun.

“Pria itu… mereka akan datang…”

Semuanya terdiam. Mereka tahu siapa ‘pria itu’ yang Hyejin maksud. Sehun mulai bergerak-gerak gelisah, sementara Chanyeol masih memegang kedua bahu gadis itu. Apa yang ia takutkan akan terjadi dan ia tak tahu harus melakukan apa.

Chanyeol menghela napas, “Kita harus pergi.”

_____

[To be Continued]

Please give your comment and like! Thank you for reading!

 

6 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 11)

  1. Author!!!!! Daebak. Imajinasinya sampe ke sana. Ya Tuhan suka bangetttt. Feel dark nya kerasa bgt!
    Btw aku komen disekaligusin di sini ya, udab baca dr part 1 marathon😂😂😂
    Ditunggu bgt kelanjutannyaaah! Plisplis jgn lama2 lg huhuhu

  2. thor… lanhutin ff ini dong.. aku jadi penasaran sama ff ini.. terutama pada hyejin.. kok aku ngerasa kalo hyejin jadi punya kekuatan super juga yah.. hahaha habis, dia bisa ngeliat apa yg akan terjadi.. dan aku mulai curiga sama chanyeol.. kayanya dia tau apa yg telah terjadi sama hyejin… seneng deh ngeliat sehun berpihak sama chanyeol.. dan sepertinya sehun juga udah menyayangi hyejin seperti teman/sahabatnya sendiri.. mungkin dia ngerasa kalo hyejin satu”nya orang yg dapat mengerti dia kali yah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s