Young Lady “meet cassanova” (Chapter 1)

Young Lady “meet cassanova” (Chapter 1)

Untitled

1st

Hurt/comfort

PG 17 +

Kim Jongin – Park Hana (OC) – Oh Sehun

.

Hidup itu..

diibaratkan seperti sebuah roda? Tidak berlebihan.

Semua orang pasti pernah merasakan susah dan senang selama ia hidup.

Tapi Bagaimana jika kau yang sebagai seorang keturunan anak konglomerat dengan kekayaanya bahkan diprediksi tidak akan pernah habis selama 7 turunan merasakan hidup susah?

Park Hana, mengalaminya.

Aset berharga beserta rumah yang menjadi tempat satu – satunya ia bernaung telah tersita habis oleh para pihak bank dan seakan belum cukup penderitaanya terus berlanjut,

ayahnya terlibat banyak sekali hutang dengan perusahaan lain.

Semua bermula dari tragedi itu yang kejadianya bahkan belum genap sampai setahun.

Hana dan ibunya mengalami kecelakaan lalu lintas.

Ibunya tewas di tempat akibat menerima benturan keras pada bagian kepala, sementara dirinya selamat karena terpental jauh di atas rerumputan sisi trotoar.

Ayahnya seakan terperosok jatuh ke dasar jurang paling dalam ketika mengetahui hal tersebut.

Hana tau bahwa ayahnya begitu sangat mencintai ibunya. Bayangkan ketika sosok seseorang yang paling kau cintai di dunia ini pergi untuk selamanya,

Ayahnya menyalahkan Hana atas semua kejadian tersebut karena hana lah yang mengajak ibunya untuk pergi ke pantai dihari itu.

Hana mengakui semua adalah kesalahanya dan ia sangat amat menyesal.

Hana benci dirinya yang sampai hati membuat ayahnya terpuruk, walau memang kejadian itu adalah di luar kontrolnya.

Ayahnya bukan seorang penjudi dan pemabuk.. dulunya, tetapi sekarang semua berubah 180 derajat.

Hana seperti melihat sosok asing setiap melihat ayahnya pulang.

Sosok itu berubah kasar dan hana bisa melihat tatapan kebencian di mata ayahnya ketika ia menatapnya.

Hana merasa seperti dihempas dari langit tertinggi hingga membuatnya hancur berkeping – keping.

Ia sendiri bukanlah tipikal gadis yang senang menghamburkan uang serta pamer sana – sini atas kekayaan orang tuanya, ia cenderung pendiam dan tidak banyak tingkah.

Tetapi hidup terbiasa bergelimang harta pasti lah memiliki dampak negatif,

Hana tumbuh menjadi sosok gadis yang kurang mandiri.

dan semua terasa sempurna ketika kenyataan pahit seperti ini harus ia terima.

Hana harus membiasakan diri untuk melakukan segala sesuatunya sendiri dan mulai melakukan part time selepas sekolah.

Tak jarang ia juga jatuh sakit akibat terlalu memaksakan diri.

Tetapi itulah faktanya Cara seorang Park Hana untuk tetap bertahan hidup..

.

“Lihat lady kita datang”

segerombolan yeoja berseragam sekolah itu tertawa mengejek menatap pada kehadiran sosok gadis bertubuh mungil tersebut.

“Ani, ani tidak cukup lady! Tapi.. lady-yang-jatuh-miskin” tegas salah seorang yeoja.

Sontak mereka tertawa pecah setelahnya.

Hana hanya diam dengan kepala setengah menunduk menyembunyikan wajah di balik surai rambut panjangnya.

Gadis itu tetap melangkah acuh kakinya seraya melewati lorong sekolah.

Ia pribadi sudah terbiasa mendengar ocehan tidak bermutu semacam itu setiap harinya, hanya saja..

Lady?

Ia muak dengan julukan itu, entah siapa yang nenjadi pelopor untuk memulainya.

Julukan itu sendiri sudah lama melekat padanya karena selain embel – embel kekayaan yang orang tuanya miliki dulu, Hana juga terkenal dengan kecerdasan otak serta wajah cantiknya yang menawan.

Tidak terhitung berapa banyak namja yang terpikat pada pesona yang Hana miliki. Tetapi gadis itu sendiri sangat susah untuk didekati karena sifatnya yang pendiam.

“Annyeong!” Suara kekanakan itu segera menyapa indera pendengaranya.

Sedetik kemudian Hana terlihat balas tersenyum seadanya pada kehadiran sosok seorang gadis yang entah sudah sejak kapan berjalan di sisinya itu.

“Yaak Hana! setidaknya kau harus balas menyapaku”

Gadis manis berponi itu nampak menggembungkan kedua pipinya kesal karena merasa tidak puas atas respon tadi.

Hana mengehentikan laju langkahnya seketika, menatap langsung pada wajah menggemaskan chingunya itu lalu terdengar menghela nafas singkat.

“Annyeong Sora” ucapnya dengan seulas senyum tulus menghiasi wajah cantiknya.

Senyum tulus?

Tidak terlihat begitu bagi Sora.

Baginya senyum Hana terlihat seperti..

penuh dengan tekanan.

Sebagai seorang sahabat terdekat Sora tau cobaan berat apa yang sedang di hadapi oleh Hana.

Tetapi sampai sejauh ini, Sora sendiri tidak mampu berbuat banyak.

Sebisa mungkin ia selalu ada untuk membantu Hana, tetapi gadis itu selalu tegas menolak uluran tanganya kerena Hana benci dikasihani.

Gadis itu lebih memilih untuk bekerja keras membanting tulangnya dari pada harus menerima rasa belas kasihan dari orang lain.

Sedetik kemudian, Sora seketika mengernyit saat mendapati suatu keganjilan pada wajah cantik di hadapanya tersebut.

“Ahjussi.. memukulmu lagi?” Sora menatap prihatin pada bekas memar kebiruan di sudut mata dan pipi Hana.

“A-Aku.. aku terjatuh semalam” dustanya lalu memalingkan wajah.

Hana terpaksa berbohong. Ia sendiri tidak ingin membuat sora mengungkitnya karena itu sama saja dengan menaburi garam pada lukanya, perih dan sakit.

Ia tidak ingin mengingat lagi kejadian semalam, di mana ayahnya itu mengahajarnya habis – habisan hanya karena ia tidak menyukai rasa masakkan yang Hana buat.

dan Sora tau Hana berbohong karena gadis itu sekilas terlihat olehnya sedang menggigit singkat bibir bawahnya.

Tentu saja sebagai seorang sahabat Sora tau tentang semua kebiasaan gadis ini.

Hana selalu melakukan kebiasaan itu jika ia sedang dalam keadaan gugup dan kebingungan.

“Hana”

Gadis itu terlihat kembali mengalihkan perhatianya seraya kedua manik coklat terangnya menatap Sora penuh dengan tanda tanya.

“FIGHTING!” Ucap Sora penuh semangat sambil mengepalkan sebelah telapak tanganya menatap Hana.

Gadis itu menampakan sebuah senyum indah yang begitu tulus setelahnya, sebuah senyuman yang benar – benar tulus.

Hana sangat bersyukur,

setidaknya dengan banyaknya hal berat yang ia hadapi sampai detik ini hana masih memiliki seorang sahabat yang selalu setia bersamanya,.

.

.

Setelah bel berbunyi nyaring seluruh murid nampak bersemangat untuk segera bergegas keluar ruangan dan hanya menyisakan segelintir orang di dalamnya.

Gadis itu melipat malas kedua tanganya di atas meja lalu merebahkan sisi kepalanya.

Tidak terhitung sudah berapa kali ia hampir saja tertidur saat sang guru sedang berkoar – koar di depan kelas tadi.

Mata indahnya terpejam sempurna mencoba menyesapi waktu istirahatnya yang singkat.

Saat Hana hampir terlarut dalam tidur, ada saja hal yang mengusiknya.

Seseorang sedang menggoncang bahunya pelan. Mau tidak mau dengan terpaksa ia kembali membuka kedua matanya malas.

“Hana.. kau tidak lapar? Ayo ke kantin” rengek Sora.

“Ani, kau saja. Aku mau tidur”

“Yaak! Ini masih pagi dan kau sudah mengantuk!?” Ucap Sora mengerucutkan bibirnya kesal menatap Hana yang nampak kembali memejamkan kedua matanya acuh.

Akhir – akhir ini, gadis itu susah sekali untuk diajak ke kantin. Hana selalu saja memiliki beribu macam alasan untuk menolaknya dan mau tidak mau Sora hanya puas pergi sendiri.

Sebenarnya.. sudah sedari tadi pagi, Hana belum makan apa- apa. Ia hanya meminum air putih 1 gelas untuk mengganjal perutnya yang kosong.

Ketika Sora mengajaknya ke kantin,

jujur.. Hana tidak punya uang sepeser pun saat ini karena gajihnya sudah digunakan untuk membayar uang sewa rumah dan membeli beberapa persedian mie instan.

Mungkin bisa saja sora mentraktirnya, tetapi merepotkan orang lain bukan lah sifatnya.

Hana benar – benar terlelap.

Sampai kemudian terdengar suara alarm hand phone di atas meja membangunkanya. Ia sendiri sengaja menyetel alarm 10 menit sebelum jam pelajaran selanjutnya dimulai. Gadis itu nampak mengucek singkat kedua matanya, lalu beranjak dari bangku untuk menuju toilet.

Ia perlu membasuh wajahnya untuk menghilangkan sisa – sisa kantuk yang masih ada.

Bunyi deru kran air yang sedang mengalir itu menimbulkan suara gema mencolok saat ia memutarnya.

Berulang kali Hana membasuh wajahnya yang terlihat lelah.

Padahal ini baru jam pelajaran kedua, tetapi ia sudah merasa selelah ini.

Bagaimana tidak? Selepas part timenya di restoran cepat saji yang melelahkan, malamnya Hana harus tetap melaksanakan kewajiban utamanya yaitu belajar.

Sebagai sorang murid teladan ia harus tetap mempertahankan peringkatnya di posisi teratas jika tidak ingin beasisiwa yang baru saja beberapa bulan diajukanya itu dicabut.

Itulah harga mahal yang harus Hana bayar, merelakan tenaganya untuk dikuras.

Gadis itu menatap sekilas pantulan gambar dirinya di depan cermin.

Tubuhnya terlihat sedikit kurus, entah berapa kilo berat badanya telah menyusut. Kulit putihnya pun terlihat lebih pucat, menyedihkan..

“Woah! ternyata ada lady kita di sini”

Hana dapat menangkap beberapa sosok yeoja yang terlihat di lorong tadi pagi baru saja nampak kehadiranya masuk ke dalam toilet.

Baiklah, ia sendiri tidak ingin berurusan dengan keempat yeoja tersebut dan lebih memilih untuk beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Tetapi sebelum ia sempat lolos melewati gerombolan yeoja tersebut seorang yeoja dengan cekatan menahan lenganya.

“Mau kemana? Kami ingin berbincang sebentar. Apa kau keberatan.. lady?”

Para yeoja itu kembali tertawa geli.

Hana tetap diam di posisnya tidak bergeming sama sekali. Matanya menatap lurus pada yeoja yang sedang menahan lenganya.

“Aku turut prihatin dengan bangkrutnya perusahaan Park Corporation, ku dengar.. kau sekarang tinggal di sebuah rumah sewa bersama ayahmu.. apa sekarang pekerjaanmu? Ah.. aku tau! Gadis cantik nan jatuh miskin sepertimu, pasti hanya bisa.. menjual diri bukan?”

Kembali terdengar suara gelak tawa itu pecah setelahnya.

Gadis tersebut tetap diam dengan kepala setengah menunduk. Sejenak kedua matanya terpejam mencoba meredam amarah.

“Jaga bicaramu” desisnya.

Hana memang miskin dan sangat membutuhkan uang untuk melunasi hutang – hutang ayahnya. Tetapi ia tidak akan pernah sudi untuk melakukan hal sehina dan serendah itu.

Keempat yeoja tersebut terhenyak seketika. Baru kali ini mereka mendengar gadis yang terkenal pendiam itu bicara dengan nada tajam seperti tadi.

Tetapi seorang yeoja yang nampak sedang memegangi kuat lenganya itu tersenyum miring setelahnya.

Lady seperti mu bisa marah juga ternyata. Wae? Kau tersinggung karena aku menyebutmu miskin atau-”

Belum sempat yeoja itu menyelesaikan kalimatnya dengan kasar Hana segera menarik paksa lenganya yang tengah ditahan oleh yeoja tersebut hingga cengkramanya terlepas.

Seketika ia juga dapat merasakan kuku dari yeoja itu menggores permukaan kulitnya hingga meninggalkan bekas yang terasa perih. Tetapi Hana nampak tidak memperdulikanya.

Gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan tempat tersebut berserta amarah yang mati – matian ia pendam di dalam hati.

Ingin rasanya ia memberi pelajaran pada ‘mulut pintar’ yeoja itu kalau tidak ingat ini masih berada di lingkungan sekolah.

Sayangnya, Hana tidak ingin mendapatkan predikat buruk yang bisa saja itu mempengaruhi reputasinya sebagai seorang penerima beasiswa.

Gadis itu– Park Hana cukup pintar untuk mengendalikan diri sampai sejauh ini.

.

.

Ruangan bergaya classic khas Eropa ini suhunya tidak dapat dikatakan hangat karena adanya sebuah nyala AC.

Tetapi pada kenyataanya, tidak hanya suhu tetapi juga hawa di ruangan ini kelewat hangat bahkan mungkin

cenderung panas.

Kedua insan itulah penyebabnya.

Yeoja yang diketahui statusnya adalah seorang sekretaris itu sedang terduduk tepat di atas pangkuan seorang namja yang tak lain adalah atasanya sendiri.

Yeoja itu bergerak tidak karuan dengan kondisi rok kerja tersingkap sampai sebatas pinggang serta 3 kancing kemeja putih teratasnya terbuka sempurna menampilkan sesuatu yang sangat menggoda iman.

Jari – jari lentiknya terselip diantara anak rambut namja tampan yang sedang sibuk mencumbu liar lehernya itu.

Entah sudah sejak kapan, namja tersebut menyusupkan salah satu tanganya masuk untuk merabai kulit punggungnya secara langsung. Sementara tanganya yang lain ia gunakan untuk merabai paha jenjang yeoja tersebut dengan gerakan menggoda, sangat terkesan ahli.

Tidak terhitung sudah berapa kali yeoja itu mendesah nikmat dibuatnya dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena ruangan ini telah sejak awal dibuat kedap suara.

Sadar saat tangan yeoja itu mulai merambat turun berusaha untuk membuka sabuk celananya, namja itu segera bergerak cepat untuk menahanya.

“Ku rasa cukup sampai di sini” Jongin berbisik seduktif tempat di telinga yeoja yang terduduk di atas pangkuanya itu.

“Wae.. kita bisa melakukan yang lebih”

Saat tanganya akan bergerak naik untuk menyentuh wajah rupawan tersebut, namja itu segera menahan kuat tanganya. Tersirat jelas amarah pada kedua manik mata hitam yang ia miliki.

“Ku pikir kau sudah tau peraturanya.. sekretaris Lee” ucapnya dingin.

Jongin sangat membenci ketika seseorang menyentuh wajahnya, entah siapapun itu.

Raut wajah cantik itu jadi berubah takut seketika.

Tatapan itu

Namja ini bisa dengan mudahnya mengintimidasi seseorang hanya dengan sorot tatapan matanya.

Benar – benar sosok seorang CEO sejati.

dan sebenarnya, ia juga sedikit dibuat shock. Serta tidak dapat dipungkiri, bahwa ia turut menyimpan rasa kecewa dalam hati.

Ini adalah pertama kali Jongin menolaknya.

Apa.. namja ini sudah mulai berubah bosan?

Pada awal mulanya, ia sendiri terlalu percaya diri, bahwa ia pasti bisa menaklukan hati namja dingin bernama lengkap Kim Jongin tersebut dan ternyata

ia salah karena terlalu berharap lebih.

Dengan berat hati yeoja itu mulai melangkah turun dari pangkuan namja tersebut lalu merapikan pakaianya yang nampak sudah tidak karuan.

“Kapanpun aku siap jika kau membutuhkanku”

Yeoja itu tersenyum semanis mungkin mencoba untuk mengembalikan rasa percaya dirinya.

Jongin menatap tidak berminat pada kepergian yeoja tersebut.

Awalnya ia hanya sekedar iseng meladeni yeoja itu, tetapi sepertinya memang benar.

Jika sesuatu yang sudah kau pakai berulang kali rasanya tentu akan jadi berbeda setelahnya, ia bosan.

Kedua matanya terpejam ringan hanya sesaat sampai suara pintu yang membuka itu kembali mengalihkan perhatianya.

“Pria itu tidak ada”

Nampak kehadiran seorang pria bersetelan jas hitam masuk ke dalam ruanganya.

Namja yang sedang duduk santai di kursi kebesarnya itu hanya mengernyit seolah meminta penjelasan.

“Rumah tuan Park telah lama disita oleh pihak bank, dia tidak ada di rumah” lanjutnya.

Pria itu terlihat kembali memejamkan kedua matanya sambil menggenggam erat bolpoin yang ada dalam genggamanya, seakan coba untuk melampiaskan rasa amarah.

“Cari pria tua itu kemana pun.. pastikan hari ini juga kalian menemukanya” geramnya tertahan.

Chanyeol mengangguk singkat tanda mengerti kemudian segera beranjak pergi dari ruangan tersebut.

Jongin tidak akan membiarkan satu orang pun lolos dari hadapanya ketika seseorang itu telah berhutang banyak padanya.

Cinta uang? Tidak juga.

Ia tidak terlalu mempermasalahkan uang, tentu saja dalam jumlah tertentu.

Pria tua itu telah berhutang dengan nominal yang tidak dapat dikatakan sedikit.

Ia bisa menggunakan uang sebanyak itu untuk membangun tiga buah hotel berkelas bintang 5.

Sial

Apa pria tua itu mencoba kabur darinya?

Kalau begitu bisa ia pastikan pria tua itu akan menyesal seumur hidup karena telah berani berurusan dengan seorang Kim Jongin..

.

.

Sayup – sayup kedua matanya yang lelah mencoba untuk membuka saat mendengar suara pintu yang sedang digedor – gedor nyaring tersebut.

Itu ayahnya

Hana segera mengumpulkan kesadaran terlonjak dari kasur bergegas lari untuk membuka pintu.

Aroma alkohol segera menyeruak masuk menuju indera penciumanya ketika mendapati pria yang tak lain adalah ayahnya itu sendiri tengah berdiri lunglai di depan pintu.

“APA KAU TULI HAH!? KENAPA LAMA SEKALI”

Dengan marah pria itu memberikan sebuah tamparan keras di wajah anaknya tersebut, hingga gadis itu terhempas jatuh di lantai.

Hana teruduk sambil menundukkan kepalanya dalam, tidak menagis.

Pipinya terasa sangat perih dan panas. Ada cairan asin yang ia rasakan keluar dari sudut bibirnya.

“CIH! KAU PASTI SENANG MELIHATKU BEGINI!!?”

Hana tetap diam, tidak bergeming sama sekali.

“YA! SUDAH KU DUGA!! KAU PASTI SENANG MELIHATKU BEGINI!!” Racau pria tersebut.

Tanganya kembali bergerak kasar meraih helaian rambut panjang Hana lalu menariknya kuat hingga gadis itu terpaksa berdiri.

Ia meringis kesakitan saat merasakan banyak dari helaian rambutnya yang terlepas. Gadis itu mencoba merenggangkan cengraman tangan ayahnya dengan cara menahanya, tetapi justru itu membuat ayahnya semakin keras untuk menyentak helaian rambutnya.

“KAU ANAK SIAL!! KAU MEMBUNUH IBUMU SENDIRI! KAU YANG SEHARUSNYA MATI!! KAU!!”

Pria paruh baya itu berteriak marah di hadapan wajahnya dan setelah itu ia kembali menghempaskan sembarang tubuh mungil tersebut.

Seketika dahinya terbentur keras dengan sudut tajam sebuah meja kayu di dekatnya.

Hana menangis dalam diam.

Bukan kerena dahinya yang sekarang telah mengeluarkan banyak darah. Tetapi karena ia telah mendengar secara jelas ucapan ayahnya tepat di hadapan wajahnya tadi.

Padahal ia sudah sering mendengar ayahnya mengatainya seperti itu. Tetapi entah menggapa kali ini perkataan itu terasa sungguh amat menyakitkan baginya.

Pandangan matanya berubah kabur seketika.

Samar – samar hana masih dapat mendengar sebuah suara pintu yang diketuk dari luar sebelum kemudian ayahnya terlihat membukanya lalu secara perlahan penglihatanya mulai berubah menjadi gelap.

Gadis itu terkapar pingsan di lantai.

“Selamat malam-” pria tersebut sedikit mengernyit saat kedua matanya mendapati sosok seorang gadis yang tengah terkapar mengenaskan di tengah ruang tamu.

“Tuan park” lanjutnya kemudian.

Pria paruh baya itu berubah tegang, tentu saja ia tau siapa kedua sosok pria yang tengah berdiri di hadapanya ini, kaki tangan Kim Jongin.

“Sepertinya anda sudah mengetahui secara jelas maksud dan tujuan kami datang ke mari”

Apa yang harus dilakukanya sekarang?

Ia tidak punya uang sepeser pun saat ini.

“A-Aku tidak punya uang sekarang” ucapnya jujur.

Chanyeol menghela nafas panjang setelahnya, tentu saja ia sudah memprediksikan hal ini sebelumnya.

“Kalau begitu kau harus ikut kami, kau bisa menjelaskanya pada sajangnim”

Jelas pria berbadan besar yang nampak berdiri di sisi chanyeol, tanganya sudah bergerak untuk menahan lengan pria paruh baya tersebut.

Menjelaskan? Cih! yang benar saja! ia tau betul bagaimana sifat dan karakter CEO muda itu, sangat tempramental.

Jika ia datang dan menemui pria tersebut itu sama saja dengan ia menghantarkan nyawanya.

“T-Tunggu!! Kumohon berikan aku kesempatan terakhir!!”

Merasa kalimatnya tidak digubris pria paruh baya tersebut kembali menginterupsi.

“Kalian boleh membawa anak itu sebagai jaminanya!”

Kedua pria itu nampak terdiam sejenak sambil berlempar tatapan penuh pertimbangan.

“D-Dia anak ku. Kalian boleh membawanya pergi sebagai jaminan sampai aku bisa melunasi semua hutangku”

Chanyeol menghela nafas frustasi, sebenarnya bukan wewenangnya untuk memutuskan hal ini.

“Baiklah”

Pria paruh itu dapat kembali bernafas lega setelahnya.

Saat pria berbadan besar itu akan bergerak masuk ke dalam rumah chanyeol segera menyela.

“Biar aku saja”

Perlahan pria pemilik wajah baby face itu mendekat pada sosok mungil yang tengah terkapar pingsan di atas lantai marmer tersebut. Kedua matanya memperhatikan dengan seksama.

Hampir saja ia menduga bahwa gadis berpakaian baby doll pink ini sudah tewas, jika saja ia sendiri tidak memastikan terlebih dulu untuk mengecek deyut nadi di tangan gadis tersebut.

Gila

Mungkin pria tua itu memang sudah tidak waras dengan menyiksa darah dagingnya sendiri sampai seperti ini.

Darah segar mengalir dari dahi serta sudut bibir tipisnya yang merah.

Lebam biru keungguan terlihat kontras di sekitar area kulit wajahnya yang putih pucat.

‘Apa yang sebenarnya pria tua itu lakukan pada gadis ini’ gumam Chanyeol tak habis pikir.

Dengan hati – hati ia meraih tubuh rapuh itu dalam bekapanya secara perlahan.

“Kau orang tua yang menyedihkan” Ucap Chanyeol sebelum berlalu meninggalkan pria itu sendirian.

.

.

Setelah mobil sedan hitam itu terpakir dengan rapi di sebuah pekarangan rumah mewah, pria itu segera melangkah turun lalu membopong sosok seorang gadis dari belakang kemudi dalam bekapanya.

Ia harus siap memerima kenyataan setelah ini karena baru saja ia telah berbuat lancang dengan seenaknya bertindak untuk mengambil sebuah keputusan.

Walaupun Chanyeol dan Jongin sudah berteman akbrab sejak duduk di bangku SMA, Chanyeol sangat menyadari statusnya sebagai seorang bawahan.

Tetapi.. hati nuraninya benar – benar terguncang saat melihat kondisi gadis ini, ia merasa sangat iba dan kasihan.

Saat ia sudah berada tepat di hadapan sebuah pintu kayu berukiran megah tersebut tanpa mengetuk terlebih dahulu tanganya segera bergerak menarik ganggang pintu itu kemudian nampak lah sosok seorang pria bertubuh tegap berbalutkan baju santai sedang berdiri membelakanginya menatap ke arah luar jendela.

“Aku sudah dengar semuanya” Ucap suara itu datar.

“Jangan mengulanginya. Walaupun kita berteman aku tidak akan toleransi atas kelancanganmu Park Chanyeol” desisnya tajam.

“Aku mengerti” jawab pria itu setelahnya.

Jongin membalikan badan kemudian berjalan santai mendekat ke arahnya lalu menatap tanpa ekspresi gadis yang ada dalam bekapan pria tersebut, sedetik kemudian nampak sebuah raut bingung menghiasi wajah tampanya.

“Pria tua itu menganiyaya anaknya”

“Aku tidak perduli. Aku tidak membutuhkanya”

timpal Jongin masih tetap sibuk mengamati wajah babak belur gadis itu.

Chanyeol nampak sedikit mengeratkan bekapanya pada tubuh mungil tersebut.

“Kau bisa memperkerjakanya sebagai salah satu pembantu di rumah ini. Kau bisa memanfaatkan tenaganya, Setidaknya itu lebih baik”

Sebelah alisnya terangkat miring menatap Chanyeol penuh dengan pertimbangan. Tidak buruk. Memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh pria ini barusan. Setidaknya masih harus tetap ada pertanggungjawaban.

“Bawa dia ke bibi jung”

Ucap jongin tak ingin ambil pusing.

Sial.

Bukanya mendapatkan uangnya kembali ia malah diberikan seorang gadis yang masih terlihat sangat muda belia seperti itu sebagai jaminan.

Apakah ia terlihat seperti seorang Ahjussi mesum?

Menggelikan,

Ahjussi? Umurnya saja bahkan masih 21 tahun sekarang.

TBC?

###

Ini adalah project pengganti dari fanfic yang judulnya “sixth sense” *kalau ada yang inget juga sih wkwkwkwkwk

Untuk chapter 2 dan karyaku yang lain bisa liat langsung di

https://shexmil.wordpress.com/

Silahkan readers yang baik hati jangan sekedar baca ya tapi tinggalin juga jejak kalian,

terima kasih..

Iklan

19 pemikiran pada “Young Lady “meet cassanova” (Chapter 1)

  1. Kereeeen thor kereen jongin OMG bad boy pisan seneng banget kalau dpet ff yang jongin karakter y bad boy ^^ bahasa dan gaya penulisannya udah bagus thor! Alur ceritanya juga menarik ga sabar buat tau kelanjutannya. Kasian banget ma hana masa cuman gara2 kecelakaan yg udh takdir itu ayahnya sampai nyiksa dia segitunya, moga aja jongin bisa nerima hana ampe ayahnya bisa lunasin hutangnya ke jongin
    Next chapnya jangan lama2 y thor! Semangat! ^^

  2. wowww…. emang kamu mesun jong in.. tapi tetep guannteng hehhee..
    hemm, di awal chapter, hanudah tertindas begitu.. pasti nanti bahagia sama jong in..
    tapi tetep ada percikan moment romantis hehehehe

  3. Kkkekkekeekkekeke
    Baru part 1
    Tapi sepertinya aq udah kena virus FF ini
    Huaaaaaaaaa
    Kasian bgt Hana
    Bapaknya tega bgt sihh
    Emosi nie gue

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s