Psycopath

PSYCOPATH

CAST

PARK CHANYEOL

KIM YOORA

 

Akan ada suatu masa dimana kau akan mengutuk segala kebenaran. Akan ada suatu masa dimana kau akan merasa bahwa kebenaran adalah satu satunya tembok penghalang antara kau dan kebahagiaan. Dan kau terjatuh, untuk hal yang tak pernah kau bayangkan, memporak-porandakan semua yang pernah kau tersenyum karenanya.Tetapi, sekarang kau mengutuk karenanya.Setidaknya, itu yang terjadi padaku.

***

Sore ini memang tak secerah apa yang biasanya berjalan, langit mendung, pertanda badai salju akan turun hari ini juga. Perkiraan Badan Meteologi Geofisika meleset jauh, yang perkiraannya baru akan datang paling tidak minggu depan. Aku melirik kearah sampingku, dimana wajah manis namjachinguku terlelap ditengah huru-hara para pengunjung restoran yang bergegas pulang melihat langit kelam. Aku baru berduka, jadi aku biarkan Chanyeol lelap dengan tidurnya, dan aku yang sibuk dengan pikiranku.Appa dibunuh minggu lalu.Dengan darah menetes dari luka tusukan di dadanya.Matanya membelalak.Keluargaku belum bisa melepas bayang-bayang itu.Termasuk aku.

Pedih.

Pagi itu, Appa ditemukan tewas di kamar mandi rumah ketika seisi rumah kosong. Kala itu, Eomma pergi ke Departement Store, Suho-oppa kuliah, dan aku, aku dua jam menunggui Chanyeol yang meleset dari jam janjian.Ibunya mendadak kambuh dari sakitnya.

Entahlah aku tak pernah bisa menceritakan kepedihan pembunuhan Appa.Bahkan pada diriku sendiri.Aku pingsan begitu pulang, Chanyeol tidak bisa datang.

“Chagiya,” Chanyeol beringsut dari tidurnya.Matanya menatap langit mendung diluar.

“Ne?Apa kita harus pulang? Badai akan datang tak lama lagi.”Kataku.

“Ani.Biarkan saja badai datang.”

Aku melotot, tapi urung.Biakan saja.Aku juga tak ingin buru-buru pulang. Wajah Eomma yang tirus-kurus penuh luka pasti akan menyambutku, juga wajah menyedihkan Suho-oppa yang benar-benar buruk untuk dipandang. Yah, aku tidak bisa berkata apa-apa soal diriku, yang pasti tidak berbeda dari mereka.

“Aku pusing sekali, Yoora…” suara lirih Chanyeol membangunkanku dari lamunan menyedihkanku.

Aku mendelik,mengangkat wajah kekasihku itu, memeriksa raut wajahnya yang memang terlihat redup.Dan seolah menyambut kata-katanya soal sakit kepala barusan, setetes darah mennetes dari hidungnya.Pekat.

Aku tersentak.“Chanyeol, kau sakit?!”

Chanyeol menyeringai, membuatku makin jerih.“Ya, aku sangat sakit. Jiwa dan raga..”

“Apa maksudmu?Ayo pulang.Biar aku yang menyetir.”Aku bangkit.Merah tangannya yang menahanku. Chanyeol menarikku untuk kembali duduk,

Bodoh.Disaat seperti ini dia malah memelukku.

“Aku ingin begini saja.”Ujarnya.Tangan besarnya mempererat kunciannya di tubuhku.

Setetes darah mengenai pipiku.

“Chanyeol..”

“Sst, diamlah..”

Kemudian, pelukannya mengendur.Chanyeol terkulai tak sadarkan diri.

***

Empat jam sudah aku duduk di ruang tunggu. Chanyeol masuk ruang gawat darurat, dan sang dokter belum keluar, sekalipun. Aku terduduk pasrah.Chanyeol sakit, bukan sakit main-main.Bukan hanya kelelahan seperti dugaanku. Entah apa. Bukan hal yang bagus, itu yang aku tahu.

Setengah jam kemudian, orangtua Chanyeol datang. Disusul sang dokter yang keluar ruangan dengan wajah kusut lima belas menit setelahnya. Eomma Chanyeol merangsek maju, menginterogasi dokter yang disambut gelengan demi gelengan.Aku terpaku.

“Sangat disayangkan, sel kanker yang menyerang otaknya melumpuhkan sebagian besar organ tubuhnya.Kanker ini sudah berkembang kemungkinan empat tahun.Suatu keajaiban, Chanyeol bisa menahannya lama.Merahasiakannya dari orang-orang terdekatnya. Suatu keajaiban juga untuk dia…”

Aku tersengal. Kalimat-kalimat sang dokter setelahnya begitu menyakitkan untuk didengar. Apa ini mimpi? Bukankah tadi pagi Chanyeol masih tersenyum manis padaku? Bukankah tadi pagi Chanyeol masih mengecup lembut puncak kepalaku?Bukankah tadi pagi aku masih merasakan jari-jari hangat Chanyeol diantara jemariku?Bukankah tadi pagi itu nyata?Senyata sinar riang mata Chanyeol yang menatapku tulus?

Aku sedang mimpi dan akan segera bangun dari ini. Aku akan bangun dan menemukan pesan selamat pagi dari Chanyeol. Aku akan bangun dan membalas sapaannya dengan senyum manis untuknya. Aku akan bangun…

Tapi aku sepenuhnya salah.Semua ini bukan mimpi yang aku bisa bangun setelahnya.Ini kenyataan yang entah bagaimana bisa aku menghadapinya.Seperti kenyataan saat aku melihat Eomma berteriak.Dan wajah kakak laki-lakiku yang kosong.Saat melihat Appa yang bersimbah darah.Memori itu berkelebat.Berputar.Menghalangi jarak pandangku yang semakin kabur. Sebuah nama bergaung dalam kepalaku. Mengharapnya agar tetap tinggal.

“Maafkan kami, ini usaha terbaik yang bisa kami lakukan terhadap Chanyeol..” suara dokter itu lagi.

Chanyeol.. Chanyeol..

***

“Chanyeol?”

Sosok tinggi didepanku tersenyum beku.“Ne, chagiya.Maafkan aku.”

Aku tersenyum.Sudah kuduga, semua ini hanya mimpi. Lihat, Chanyeol sama nyatanya denganku. “Kau hampir membuatku ikut mati, bodoh!”

“Jangan mengatakan apa-apa dulu, dan lihat siapa yang bodoh.”Chanyeol menyeringai. Seringainya sama. Seringainya nyata.

“Maafkan aku” ulang Chanyeol.

“Maaf? Maaf untuk apa?”

“Aku ini psikopat.”

Aku tertegun, tapi buru-buru tersenyum.“Jangan bergurau dengan hal itu, kau tahu aku benci apapun tentang psikopat.”

“Dan ku mencintai orang yang seharusnya kau benci, bukan?”

“Kau ini bicara apa?! Kau bahkan belum memelukku sekarang!” aku mengeraskan suaraku, sebuah ekspresi jengkel yang bisa aku tunjukkan.

“Memangnya bicaraapa aku?! Aku bicara kebenaran! Dan kau akan lebih membenciku begitu tahu aku yang membunuh ayahmu, bukan?!” seru Chanyeol menusuk. Menusukku sangat dalam.

Aku tersentak. “Apa maksudmu…”

“Kau harus tahu bahwa aku menyimpan rahasia besar darimu. Kau harus tahu bahwa ayahmu,pernah menghancurkan keluarga kandungku.”

“Maksudmu… Keluargamu sekarang bukan keluargamu?” aku mencicit, lebih karena aku menahan airmat atas kebenaran yang sekarang tersuguh di depan mataku.

“Ibu kandungku pergi bersama selingkuhannya, meninggalkan aku dan ayahku.Meninggalkan kami yang tidak punya apapun untuk meneruskan hidup.Untuk kau tahu, ibu kandungku konglomerat. Itu yang membuat ayahmu..”

“Kau bohong!Hentikan!” jeritanku terdengar parau, menyedihkan.Mata dingin Chanyeol menusukku.Menatapku tak senang karena omongannya dipotong.

“Aku bicara kebenaran. Bukan seperti hidupmu yang penuh kebohnongan! Diam dan dengarkan aku!” hardi Chanyeol. Tepat di depan wajahku.

Aku menangis.Sekarang aku yakin, Chanyeol benar-benar seorang psikopat.

“Ibuku pergi! Kami miskin! Kami nestapa! Kau tahu? Karena ayahmu! Ayahmu membunuh ayahku tak lama setelah itu. Lalu, ibuku.. Ayahmu membunuh ibuku dan berbohong pada dunia kalau ibuku meninggal karena serangan jantung! Itu sebabnya keluargamu kaya raya, bisnisnya mendunia! Karena apa? Karena dia merampok hidup keluarga seorang konglomerat. Dan aku..Aku menyaksikan semuanya dalam diamku, menyaksikan ayahku dibunuh, menyaksikan ibuku mati diracun.Menyaksikan harta kekayaan ibuku berpindah tangan dengan begitu mulusnya.Tanpa tercium media.Benar benar mengesankan.”

Aku terisak, airmataku makin deras mendengar kata-kata Chanyeol yang makin memelan di setiap katanya.Seolah menyiratkan kepedihan.Aku mengerti mengapa Chanyeol tidak memenuhi janjinya kala itu.Ibunya tidak sakit.Dia ada dirumahku, membunuh Appa.Semuanya terang benderang.Semuanya jelas sekarang.

“Dan aku bertemu denganmu, yang ternyata anak gadis dari orang yang selama ini aku cari..”

“Jadi kau mendekatiku, untuk membalas dendam pada ayahku?! Tak kusangka..”

“Ya! Dan aku benci ketika tahu, aku benar-benar mencintaimu! Bagaimana bisa aku mencintaimu?! Sangat mencintaimu! Dan aku benci karena kau membuatku tak bisa membencimu!”

Aku tertegun.Lagi.Aku mendongak, menatap manik mata Chanyeol yang sekarang sempurna basah. Chanyeol menangis ketika ia mengatakan bahwa ia mencintaiku, guratan putus asa tersirat disela kilatan matanya.

“Itu membuatku merasakan perasaan, empati pertamaku.Aku jatuh cinta padamu, yang membuatku ragu, yang membuatku selalu merasa tertekan dengan dendam masa laluku yang harus kubalaskan demi ayahku.Bagaiman bisa aku membunuh ayah dari orang yang aku cintai? Kau harus tahu, berkatmu, aku merasakan empati itu, empati seorang manusia..”

“Tapi, kenapa, Chanyeol?Kenapa harus membunuh Appa?”

“Karna aku psikopat! Hanya itu! Dendamku harus dibalaskan karena aku psikopat, dan ayahmu…”

“Apa?! Apa yang akan kau katakana soal Appa?!”

“Ayahmu adalah seorang psikopat dengan darah jauh lebih dingin dariku!”

Aku terdiam, dengan sengalan akibat menahan airmata.Dan Chanyeol beringsut memelukku yang jatuh terduduk.Pelukannya sejenak memberi rasa hangat.

“Bencilah aku, karena merahasiakan semuanya.Bencilah aku karena merahasiakan sakitku, bencilah aku karena membunuh ayahmu.Bencilah aku sesuka yang kau mau. Tapi, kau harus mengerti, bahwa aku selalu mencintaimu…”

“Aku membencimu, Chanyeol. Aku membencimu yang tidak bisa membuatku berhenti mencintaimu..”

***

Pemakaman Chanyeol sudah berlangsung kemarin.Semuanya memang bukan mimpi.Chanyeol memang pergi, justru pertemuan mengharukan setelah kepergiannya itu yang mimpi.Mimpi ketika aku pingsan setelah mendengar dokter berbicara soal Chanyeol.Semuanya terjadi begitu saja, amat cepat.Dan berita pembunuhan Appa tersiar dimana-mana. Menurut tim penyidik, pembunuhnya lihai karena tidak meninggalkan jejak apapun yang berarti. Kemungkinan besar seorang psikopat.

Chanyeol memang benar.Dan biarlah semua berjalan seperti air. Appa akan tenang. Chanyeol akan tenang. Biarlah semua seperti itu adanya. Entah kebenaran menyakitkan apalgi yang akan aku terima setelahnya,aku tahk mau tahu. Yang jelas semua tidak akan pernah berubah, dan aku tidak ingin merubahnya. Biarlah semua menjadi kenangan manis, meski ada hitam dibaliknya.

Kenyataan bahwa aku mencintai seorang psikopat, tidak akan berubah.

END

One thought on “Psycopath

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s