PRESENT UNREAL (Chapter 3)

preun2

 

 PRESENT UNREAL

 (Team!)

| Author : Hyuuga Ace |

| Genre : Romance, School-life, Fantasy, AU| Length : Multichapter | Rate : PG |

|Main Cast : Min Heejin (OC), Kim Jongin (EXO), Oh Sehun (EXO),  Park Chanyeol (EXO), Min Heejin (OC), Choi Shinyeong (OC) | Other Cast : EXO Members and OCs |

|Desclaimer : Plot’s story and original character are mine, do not plagiarism. Thank you|

Author’s Note :

HALO!! Semoga chapter 3 Present Unreal ga mengecewakan yah, dan bagi yang bertanya- tanya tentang keberadaan Kai dan Sehun, sabar sedikit lagi yah.. semua akan diperjelas di chapter 4! Hehehe jadi di chapter ini mari kita tebak- tebakan dulu, sebenarnya ada apa dengan mereka?

Baiklah! Selamat membacaa~ makasih banyak yang udah baca dan ninggalin komen ^^

Summary :

Dia seseorang yang tidak pernah kutemui dan juga seseorang yang tidak pernah kuketahui kebaradaannya. Dia hanyalah semacam delusi, ya delusi… Karena dia memang tidak ada.

Dia adalah sebersit ingatan dalam alam mimpiku yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun..

Aku mencintainya.

Song : t Yoon Mirae ‘Touch Love’ & ‘I’ll Listen To Your Story’

 

///

>>>Author’s PoV<<<

Seorang yeoja melempar tatapannya keluar jendela kamar dengan gerakan gelisah. Well, sejak hari itu dirinya selalu merasa gelisah. Hatinya merasakan sebuah firasat yang tidak enak. Membuatnya banyak merenung hari- hari terakhir ini.

Yeoja itu adalah, Choi Shinyeong.

Kenapa hari itu ia berbalik dan berjalan pulang –tidak jadi menemui Jongin di apartemennya?

Ia yakin sekali hatinya tidak menginginkan hal itu. DIA HARUS BERTEMU DENGAN KIM JONGIN!

Lalu kenapa otaknya menyuruh seluruh organ tubuhnya untuk melakukan hal sebaliknya dari keinginan hatinya?

Dengan pertanyaan yang tertinggal itulah, yeoja berambut pirang itu membenamkan dirinya sendiri dalam lautan yang ia ciptakan sendiri. Lautan kebingungan dan keresahan, yang membuat jiwanya bertanya- tanya.

///

“Kai…”

Min Heejin terhenyak sendiri. Apa yang baru saja dikatakannya?!

Dia hendak berjalan mundur dan meninggalkan ruang lukisnya ketika namja itu menyadari keberadaannya. Menatap tepat di manik matanya, dan membuatnya membeku di tempat. Belum lagi kaca yang memisahkan mereka, hari ini rupanya di lap sebegitu bersihnya oleh karyawan sekolah, sehingga raut namja di hadapannya amat terlihat jelas.

Raut yang belum pernah ia lihat di wajah dingin namja itu –dia sebenarnya tidak banyak juga melihat raut beragam pada diri Jongin. Tapi kali ini, namja itu terlihat… entahlah Heejin tidak terlalu yakin, rautnya begitu complicated.

Tapi mata hazelnya, menunjukan sesuatu yang bisa membuat jiwa Heejin menari- nari riang di bawah cahaya bulan purnama.

Matanya menatap Heejin dengan begitu hangat. Dan ini pertama kalinya bagi yeoja itu ditatap seperti ini oleh seorang namja.

Yeoja itu.. senang.

“Ehmm.. Kim Jongin-ssi?” Suaranya sendiri menghentikan acara tatap-tatapan di antara mereka, setelah mendengar suaranya Jongin buru- buru berdeham kecil. Namun dia masih belum beranjak sama sekali. Menjadikan keadaan mereka cukup awkward karena tubuh yang terhalang tembok –mata mereka terhalang kaca.

“Kau mengatakan sesuatu sebelumnya.” Bukan jenis pertanyaan, melainkan sebaliknya –pernyataan. Heejin bergerak gelisah karena dia juga tidak tahu apa yang baru saja ia ucapkan. Tapi yang pasti bukan kata- kata kasar atau jorok!

“Itu bukanlah sesuatu yang penting. He he…” Garing, yeoja dengan tinggi sebahu Kim Jongin itu hanya tersenyum canggung. “Lanjutkan apapun yang sedang kau lakukan di dalam sana.” Imbuhnya sambil mulai berjalan mundur. Tapi rupanya namja itu tidak membebaskannya begitu saja.

“Kau mengatakan sesuatu..”

Aishhhh!

Mulai sebal karena nada paksaan yang terdengar dari suara si anak baru, Heejin memberengut. Dan dia baru saja melupakan fakta bahwa beberapa menit yang lalu dia mendapati dirinya sendiri senang karena tatapan hangat seorang Kim Jongin. Tatapan hangat –cih, sekarang matanya menatapnya dengan tatapan menintimidasi yang menyebalkan!

“Aku tidak mengatakan apapun.”

“Apa itu… Kai?”

Min Heejin menggigit bibirnya, menahan kesal. Namja itu mendengarnya apa yang baru saja ia katakan, dan untuk kepentingan apa dia memaksa yeoja itu untuk mengungkapkan apa yang baru saja ia katakan. Mendengus, Heejin yakin bahwa berdebat dengan si anak baru ini tidaklah penting. Jadi lebih baik dia keluarkan saja apa yang ada di pikirannya kira- kira  5 menit yang lalu.

“Aku melihatmu melihat lukisanku. Lukisanku yang berwujud pintu, lalu otak ngacoku ini seakan- akan terhipnotis oleh sesuatu yang tidak pasti dan juga membuat diriku sendiri bingung.” Menarik napas, Heejin mencoba mengutarakannya secara baik – baik –tidak dengan nada emosi atau terpaksa. “Pintu. Membukanya.”

Ekspresi Jongin masih tidak terbaca. Mengangkat bahunya acuh, Heejin melanjutkan kalimatnya yang terpotong. “Kai.. artinya membuka dalam Bahasa Mandarin. Kkeut!”

Heejin menutup matanya, mencoba memahami bahwa kadang- kadang otak dan mulutnya selalu bersinergi membuatnya terlihat seperti orang aneh. Dia hanya berharap Kim Jongin tidak men-judgenya sebagai siswi Chonguk yang rada miring otaknya. Tapi di sisi lain, tanpa sepengetahuan Heejin yang tengah menutup matanya;

Kim Jongin tersenyum.

“Sudah?” Membuka matanya kembali, Heejin baru saja kehilangan senyuman yang sempat bertahan beberapa detik di wajah tampan seorang Kim Jongin. “Dan oh yah, jangan salah paham! Aku tidak bisa berbahasa mandarin… kata- kata itu, aku hanya mengingatnya dari satu novel yang kubaca. Jadi jangan meminta bantuanku –terutama ketika ulangan- setiap pelajaran Bahasa Mandarin, arasseo?”

Jongin mengangguk geli. Mati- matian ia menelan rasa gelinya. Sementara Min Heejin sudah siap- siap angkat kaki dari tempat itu. Tidak betah dengan posisi awkward yang tercipta antara dirinya dan Jongin, dan juga tembok-kaca sebagai saksinya.

“Sudah yah! Aku mau pulang.” Tandasnya ringan, namun sebelum dia benar- benar beranjak yeoja itu mendapati ponselnya yang bergetar dari saku roknya. Sebuah panggilan masuk.

Dan dia berharap pelakunya adalah Jo Minhye. Karena ia butuh tumpangan pulang untuk hari ini –sedang malas menghabiskan uang jajannya di bus.

Tapi ternyata… alterntif lain untuk tumpangan pulang!

“CHANYEOL!”

Saking senangnya, ia sampai tidak sadar bahwa ia baru saja memekikan nama seseorang yang muncul di layar ponselnya.

Jongin di sisi lain, menatap tidak suka  pada sesuatu yang sedang ditampilkan di depannya. Berbanding terbalik dengan kegirangan si tokoh utama yang membuatnya kesal –Heejin.

Heejin mengarahkan jarinya menuju layar ponselnya. Dan Jongin ‘mencoba menghentikannya’, namun gagal di usaha pertama. Cih.. dia memang tidak mempan!

Yeoboseo, Chanyeol sunbae!”

Jongin tidak terlalu peduli dengan percakapan mereka sehingga dia tidak perlu repot- repot mendengarkan dengan baik. Yang pasti, saat Heejin melangkah ringan meninggalkan spot di mana sedari tadi ia berdiri.  Namja bermarga Kim itu membuntutinya di belakang.

Sampai ke arah koridor utama di mana Jeep dan Park Chanyeol yang berada di belakang setirnya menunggu Heejin dengan tenang. Tapi kemudian, sesuai kehendaknya… Jeep itu berangsur- angsur bergerak –sebenarnya bukan Jeepnya yang bergerak sendiri, Jongin baru saja membuat Chanyeol melajukan Jeepnya secara otomatis sesuai kehendaknya. Dan tentu saja Jeep dan penghuninya itu meninggalkan Heejin yang baru saja mau mendekatinya dengan terbengong- bengong. Jongin melihat ekspresi kaget Heejin dan hampir tertawa kalau bukan karena..

“YAAA!!!! PARK CHANYEOL!!!!!!!!”

“Oi! Pulang denganku saja.”

Dengan gerakan horror, Heejin menoleh dan rasanya ia lebih rela mengeluarkan uang jajannya untuk perusahaan bus umum dibanding mengiyakan ajakan namja yang membuatnya kesal sedari tadi.

Ya kesal-lah! Namja itu baru saja memaksanya untuk menunjukan betapa anehnya dirinya!

“Aku bisa pulang sendiri, terima kasih atas itikad baiknya.” Kata Heejin, masih mencoba ramah. Namun keramahannya tidak bisa bertahan lama karena Jongin baru saja melangkahkan kakinya lebar- lebar ke arahnya dan menarik paksa Heejin mengikutinya!

Man, genggaman namja ini di pergelangan tangannya tidak main- main!

“YA! ANAK BARU, KURANG AJAR!! APA MAUMUUUUU????!!!!”

Dan sepanjang perjalanan dari koridor utama ke parkiran luas Chonguk, gendang telinga Jongin hampir saja pecah karena teriakan Min Heejin yang tidak main- main. Untung saja sekolah sudah sepi sehingga ia tidak perlu menanggung malu karena kelakuan yeoja yang duduk tepat di depannya saat di kelas ini.

Heejin masih terus memberontak, sampai mereka berdua berhenti di hadapan sebuah mobil berwarna biru yang amit- amit mewahnya. Sampai- sampai bola mata Heejin mencoba mencari cara keluar dari rongganya.

NEW AUDI R8 SPYDER

Terpampang nyata dan jelas di depan hidungnya.

“Ini mobilmu, anak baru?” Hanya itu yang tersisa dari teriakan binal yeoja itu beberapa saat yang lalu.

Eoh. Masuk.”

Bagai magnet, Heejin mendekati mobil itu dan dengan noraknya ia mengusap- usap body samping mobil mahal itu dengan lembut. Dia bukan pecinta mobil mahal, tapi dia kebanyakan baca novel dengan tokoh utama yang kaya bukan kepalang. Sehingga ia selalu ngiler setiap kali melihat barang mewah dan mahal seperti yang ada di novel- novel.

Dan ketika ia menyadari tindakannya, buru- buru ia meloncat mundur. Menimbulkan reaksi terkejut dari Jongin yang baru saja mau membuka pintu masuk untuknya.

Wae?”

“Kenapa aku harus pulang denganmu?”

Jongin menyeringai dan Heejin mulai merinding. “Tiga hal, Min Heejin. Satu, karena aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian di saat aku bisa mengantarmu pulang. Dua, karena aku mau pamer mobil baruku padamu –“

WHAT?!!! Kau sombong sekali, anak baru!” Potong Heejin cepat. Dia bahkan jadi tidak fokus pada alasan pertama karena distraksi alasan kedua.

“Ketiga, karena kau baru saja membuatku senang.” Lalu Jongin tersenyum cerah ke arahnya dan rasanya Heejin ingin segera kabur dari tempat itu karena bisa- bisa ia jatuh cinta pada senyuman –INGAT, SENYUMAN! BUKAN ORANGNYA!

Senyuman Kim Jongin, maniiiiiiiiissssss sekali!

Tapi tunggu –

Memangnya apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat namja itu senang? Bahkan sampai tersenyum semanis itu?

Well, kau memiliki kekuatan mistis –eh, jangan sebut seperti ini- magic saja magic! Ulangi..

Kau memiliki kekuatan magis, Min Heejin.

Karena kau baru saja berhasil membuat namja yang kelihatan dingin –dan menyebalkan, ini sih bukan kelihatan- tersenyum manis kepadamu.

100 points out of 100!

///

Jo Minhye sedang meregangkan otot- ototnya yang pegal karena rapat komite yang kelamaan ketika ia melihat sosok Oh Sehun yang berjalan mendekatinya. Matanya menyipit melihat kedatangan namja itu –yang aneh sekali belum pulang sampai jam segini.

Dan ngomong- ngomong jam segini yang ia maksud adalah –melirik sekilas ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya- jam 7 malam. Sekolah sudah sepi dan gelap! Cocok untuk shooting adegan horror di sekolah.

Tepat ketika Sehun sudah berada 1 meter di depannya. Namja itu tersenyum konyol.

Senyum mencurigakan yang membuat bulu kuduk Minhye merinding, nah ini jadi lebih serem daripada adegan horror di sekolah yang sudah gelap dan sepi. Senyum ada maunya!

“Apa yang kau lakukan di sini? Dan apa maumu dengan senyuman konyol itu?” Tanyanya to the point. Dan Sehun hanya mengangguk- angguk geli, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan namja itu karena Minhye tidak bisa membacanya –tentu saja.

“Jongin membeli mobil baru.”

LALU?! Sewot Minhye dalam pikirannya. Mencoba menghubungkan apa hubungannya Jongin dan mobil baru dengan dirinya.

“Nah karena biasanya si bodoh itu tidak suka menyupir, jadi dia memperbudakku secara kejam.”

Ini orang… apa sih yang dia bicarakan?!

“Jadi aku membawa New Audi R8 Spydernya ke sekolah dan berharap akan pulang dengan mobil yang sama dengannya. Seperti biasa. Tapi… orang itu membuang ketidaksukaannya pada kegiatan menyetir karena seorang yeoja. Seperti di cerita- cerita romantis.” Sehun terlihat berbinar sekilas, sebelum tatapannya semenyedihkan anak anjing yang dibuang ke sungai Han di malam hari yang mendung.

Lalu apa urusannya denganku sih?!

Minhye terus mengumandangkan ketidaksetujuan dalam benaknya. Tapi mulutnya masih bungkam, belum mau mengutarakannya. Mungkin karena ia terlalu lelah? Jadi ia malas berbicara sekarang.

“Tapi sayangnya, dia jadi menelantarkan aku seperti sekarang. Dan.. aku tidak mau pulang naik bus karena.. its not my style, okay?”

“Jadi apa maksud dari cerita tidak pentingmu ini, Oh Sehun?” Desis Minhye pada akhirnya. Dia menyerah bertahan dalam kondisi bungkam.

Sehun kelihatan tersinggung, tapi kemudian tidak jadi karena dia tahu jelas di mana posisinya sekarang. “Yeoja yang diantarkan pulang oleh sahabatku adalah sahabatmu, Jo Minhye!”

Sahabatku yang mana…

Eh tunggu sahabatku kan cuman satu…

Loading…

MIN HEE JIN??!!!!

“Nah benar! Kau mengerti kan kondisiku sekarang? Jadi kau sebagai sahabat dari yeoja itu harus bertanggung jawab.” Masih belum connect dengan perkataan lanjutan Sehun, Minhye masih stuck pada fakta Kim Jongin –anak baru yang kelihatannya lebih pendiam daripada si bawel Sehun- mengantar pulang Min Heejin.

“Antar aku pulang, Jo Minhye.”

Dan Minhye bersumpah seumur- umur ini adalah kali pertama ia bertemu dengan seorang namja yang meminta dirinya di antarkan pulang oleh seorang yeoja!

ARE YOU KIDDING ME?!

///

Hari Jumat.

Hari yang sempat dilupakan Heejin karena kegalauan hatinya akibat tes olah raga minggu depan. Si senam lantai sialan!

Tapi hari ini datan juga! Memaksa Heejin sekali lagi mengingat apa yang harus ia kerjakan sekarang? Tugas kelompok sejarah bersama si Pemaksa KIM JONGIN.

Setelah kejadian diantar pulang dengan mobil idaman –bukan namja idaman untungnya- 2 hari yang lalu. Jongin dan Heejin tidak berinteraksi lagi. Dan yang paling hebat adalah, Heejin lupa menagih kontak manusia itu!

Sekarang bagaimana caranya bertemu dengan Jongin di karnaval? Jam ketemuannya?

Oh kacau! Semua ini akan kacau –

TIN TIN

Terlonjak kaget, dan efeknya yang lumayan. Susu hangat yang sedang diminum Heejin sampai tumpah ke celana trainingnya –sebenarnya ini adalah celana yang sama yang dipakai Heejin kalau mau tidur-, memekik sebentar sebelum siap memaki si pelaku yang baru saja menglakson mobilnya berdekatan dengan rumah Heejin sehingga suaranya yang heboh itu mengagetkannya.

Mengabaikan rasa hangat yang aneh di pahanya, yeoja itu berlari ke jendela rumahnya dan menemukan sang mobil idaman terparkir indah di depan gerbang rumahnya.

Keinginan yang sama untuk berlari ke arah mobil indah itu dan mengelus- elusnya seperti orang tolol –seperti saat itu juga!- merupakan keinginan pertama Heejin pagi itu.

Tapi ketika sesosok manusia menyebalkan bernama Kim Jongin keluar dari sisi kiri mobil, bersama kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Membuat Heejin ingat tugasnya untuk memaki orang yang sudah membuatnya kaget.

“Kalau kau memakiku, aku akan pulang dan tidak jadi mengerjakan tugas sejarah bersamamu.”

WHAT THE –

“Kau membaca pikiranku?!” Mundur selangkah, Heejin mulai merasa was- was.

Mengangkat bahunya acuh, Jongin berkata. “Sayangnya, bukan aku yang memiliki kemampuan itu.”

Dan Heejin hanya menganggapnya sambil lalu, seakan – akan perkataan Jongin sama ‘pentingnya’ dengan ‘Kau belum membersihkan susu hangatmu yang tumpah.’

OH ASTAGA –

Pandangan Heejin jatuh pada keadaan kacau celana trainingnya. Dia melupakan keadaannya yang memalukan dan semoga Jongin belum menyadari noda basah di paha kanannya.

“Kau baru saja menumpahkan sesuatu ke celanamu, seperti anak kecil saja..”

SHHHH

“Tutup mulutmu!” Hardik Heejin sambil menutupi rasa malunya. “Aku tidak akan memakimu, jadi kita harus jadi mengerjakan tugas sejarah hari ini. Tunggu sebentar, aku mau ganti baju dulu.”

Lalu Heejin kabur ke dalam rumahnya, meninggalkan Jongin dalam senyum yang diam- diam mulai terkembang dan mari kita lihat seberapa lama senyum itu akan menghiasi wajahnya hari ini…

Heejin kembali dengan setelan santai –tshirt berwarna biru langit dan bawahan rok selutut berwarna putih. Jongin sempat terpesona sedetik sebelum melemparkan tatapannya ke arah lain.

Tanpa banyak bicara lagi yeoja yang hari ini mengikat satu rambutnya itu masuk ke mobil idamannya dan Jongin yang buru- buru menyusul langkahnya. Selama perjalanan, mereka berdua lebih banyak diam. Karena tidak tahu mau membahas topik apa lebih tepatnya.

Merasa tidak nyaman dengan keheningan yang menurutnya mencekam ini, Heejin mulai mencari topik dalam benaknya. Dan melihat Jongin yang menyetir dengan oh-so-smooth sekali, membangkitkan ingatannya pada percakapannya dengan Minhye di telepon tadi malam.

“Jongin-ssi, kudengar kau tidak suka menyetir?”

Lewat sudut matanya, Heejin memperhatikan bahwa Jongin sempat menegang selama sedetik sebelum rileks kembali. “Mmmm… dari mana kau mengetahuinya?”

“Minhye mengatakannya padaku, dan sahabatku itu tahu dari sahabatmu.”

“Sehun?” Tebak Jongin dan yeoja di sampingnya itu hanya mengangguk kecil. Lagipula siapa lagi sahabat namja bernama Kim Jongin ini?

Kim Jongin tengah mempertimbangkan apakah dia harus mengatakannya atau tidak. “Kenapa?” Tapi pertanyaan yeoja itu mengganggunya.

“Tubuhku dan Sehun, pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan mobil yang sangat berat, yang membuat mereka… mati.” Suara Jongin terdengar serak dan lewat pancaran matanya, ada sesuatu yang tidak terbaca terkurung dalam pupilnya yang berwarna hazel itu.

Aniyo, kalian belum meninggal. Jangan mengatakannya seperti itu.” Heejin buru- buru meralat kalimat namja yang mempunyai aroma tubuh seperti kue jahe itu. Tapi namja itu hanya tersenyum simpul, senyumannya menyembunyikan banyak sekali makna yang Heejin tidak bisa menebak –apalagi ketahui.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Firasatnya ketika pertama kali melihat Sehun dan Jongin, muncul kembali.

“Mungkin semacam simpati atau entah rasa bersalah… Jongin yang mengendarai mobil malam itu.”

Heejin terhenyak.

“Sejak mengetahui hal itu, aku tidak suka menyetir.”

Jongin yang mengendarai mobil malam itu.

Aku tidak suka menyetir.

Kenapa dia berbicara layaknya Jongin dan dirinya adalah dua orang yang berbeda?

Setelahnya, Heejin memilih untuk bungkam. Dan tidak lagi menanyakan perihal menyetir kepada namja itu. Dia tidak mau lagi menangkap keanehan- keanehan lainnya. Karena pada dasarnya dia tidak mau berasumsi apapun terhadap siapapun –apalagi orang yang belum terlalu dikenalnya ini.

///

“BENAR- BENAR GILA!”

Sama sepertinya, sepertinya Kim Jongin juga memiliki bakat mengeluh. Semenjak masuk dalam zona karnaval, namja yang awalnya Heejin kira sebagai namja cool itu terus menerus mengeluh.

“Aku tidak suka keramaian.”

“Sialan kenapa guru itu menyuruh kita melakukan hal semacam ini! What the hell with you assignment!” –Yang ini berhasil membuat Heejin melangkah menjauhi namja itu dalam 3 langkah lebar.

“Semenjak mencari tempat parkir sampai ‘meliput’ satu- persatu benda bersejarah, jujur saja aku tidak menikmatinya sama sekali.”

“Ini benda bersejarah terakhir yang harus kita ‘liput’, kan?” Meringis, Heejin mengangguk menanggapi keluhan Jongin yang sekali lagi masuk ke dalam telinganya. Yeoja itu berhenti dari kegiatannya mencatat berbagai informasi dan tangannya yang lain mengabadikan keadaan dan benda bersejarah lewat kamera ponselnya. Dia berbalik dan mendapati Jongin yang berada tepat di belakangnya.

“Jongin-ssi, apakah kau sedang berusaha menghancurkan imagemu di hadapanku?”

Jongin tampak terkejut, namun dia menutupinya dengan baik. Lalu memasang wajah sok-coolnya. Astaga setelah ini Heejin tidak akan bisa lagi melihat Jongin memakai kacamata cool karena keluhan- keluhannya akan terus terngiang- ngiang di benaknya!

Sekarang ia tahu perasaan Minhye setiap kali ia mengeluhkan sesuatu. Dia benar- benar harus belajar menghilangkan sikap jelek ini. Terima kasih, Jongin-ssi. Karena telah menyadarkanku. Hiks.

“Untuk ukuran seorang namja, kau terlalu banyak mengeluh.” Memasukan kembali notes dan ponselnya ke dalam tas selempangnya, kedua tangan Heejin yang bebas kini bergerak ke arah tangan kanan namja yang sekelompok dengannya tapi tidak tampak melakukan sesuatu yang berarti sejak mereka sampai di sini 2 jam yang lalu. “Ikut aku. Kita selesaikan tugas ini dalam 5 menit.”

Lalu dengan tangan yang terjalin ke pergelangan tangan Kim Jongin, Heejin membawa namja itu ke sebuah patung yang menurutnya paling berarti di tempat ini –paling berarti karena paling ia sukai. Sebuah burung elang dengan gagah melebarkan sayapnya. Membuat siapa saja yang melihatnya seakan- akan merasa aman dalam naungan sayapnya.

“Kau tahu, aku ingin sekali menaiki seekor burung dan terbang bebas di langit yang cerah… Sayangnya..”

Kau tidak bisa melakukannya.

“Aku takut ketinggian.”

Bahkan kau tidak pernah bisa menyentuh atap rumahmu lagi.

Kim Jongin merasa jantungnya berdetak dengan menyakitkan. Kenangan tidak mengenakan yang telah membekas dalam ingatannya sejak waktu yang lama membuatnya hanya ingin merengkuh yeoja itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Memastikan bahwa yeoja itu akan selalu merasa aman dalam naungannya.

Tapi dia tidak bisa.

“Jongin-ssi! KIMCHI.”

KLIK

Lalu foto paling absurd di mana Min Heejin tersenyum cerah ke arah kamera ponselnya –yang sudah dikeluarkan lagi dari dalam tasnya- dan Kim Jongin yang tidak siap –dia melotot kaget ke arah Heejin- menjadi highlight dalam tugas sejarah mereka kali ini.

“Kau bisa membuat presentasi, kan? Kalau dipikir- pikir, sepanjang hari akulah terus yang bekerja mencari bahan. Kau hanya mengeluh, Jongin-ssi! Jadi supaya kau juga bekerja, giliranmu yang membuat power point! Arasseo?” Heejin kira Jongin akan mengeluh lagi, namun namja itu hanya melihatnya dan mengangguk. Wow, kenapa tiba- tiba namja ini terlihat seperti ini?

Setelah 2 jam berkutat di karnaval yang disesaki oleh lautan manusia –bahkan tadi mereka bertemu dengan teman satu sekolah lainnya yang sedang mengerjakan tugas yang sama dengan mereka-, akhirnya Jongin dan Heejin sampai kembali ke dalam mobil. Meluruskan kakinya yang merasa pegal, Heejin merasa lebih baik.

Jongin baru saja hendak menawarkan yeoja itu untuk makan siang bersamanya. Ketika dia mendengar suara yang menahannya.

“Bisa kau antar aku halte bus terdekat? Aku memiliki beberapa urusan yang harus diurus.” Pinta yeoja itu dengan suara tidak yakin yang membuat Jongin curiga.

“Mau makan siang dulu?”

“Oh ya! Makan siang.. aku membawanya.” Heejin meraih tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal yang berukuran sedikit besar. “Aku juga membuatkannya untukmu –“

“Kau tidak bisa memasak.”

“Aku membawa sand`wich.”

“Oh..”

Jongin sepertinya tidak menyadari ucapannya karena ia sedang sibuk menyelamatkan mobil kebanggaannya dari lecet, sulit sekali bergerak di kepadatan seperti ini. Untungnya ia berhasil beberapa menit kemudian.

Sementara Heejin sedikit heran dengan perkataan Jongin sebelumnya. Dia mengatakan bahwa yeoja itu tidak bisa memasak dengan nada yakin yang membuat dirinya semakin bingung. Namja itu tahu?

“Kau tahu aku tidak bisa memasak?”

Fokus Jongin teralihkan dari jalanan dan mobilnya sejenak dan menatap Heejin dengan tatapan dalam, setelah itu matanya bergerak seakan- akan mencari alasan untuk berkelit. Membuat yeoja itu merasa bingung. “Yeoja brutal sepertimu tak tampak cocok di dapur.”

Dan itulah yang keluar dari mulut Jongin yang membuat Heejin bersumpah akan mengikuti kelas masak bersama Park Heenam –Minhye ahjumma– mulai sekarang! Cih.

“Awalnya aku mau memberikanmu sandwich yang kubuat. Tapi karena kau mengatakan hal menyebalkan, kuurungkan kembali!” Tersinggung. Heejin memakan sendiri roti di kotak bekal besarnya. Saking sibuknya ia makan, ia sampai tidak memperhatikan Jongin yang menghela napas lega.

Mobil meluncur di jalanan Seoul yang padat, lama sekali rasanya sampai di halte bus yang dimaksud. Dan ketika mereka sampai di sana, sandwich jatah Heejin sudah habis semua dan sedang tercerna dalam pencernaannya.

Karena tidak tega, well dia yakin Kim Jongin sangat kelaparan sekarang. Kotak bekal yang berisi beberapa sandwich itu ia letakan di atas dasbor, tapi kemudian ia tidak mengatakan apapun lagi yang menyangkut kotak berwarna kuning spongebob tersebut. Dari geriknya, Jongin tahu maksud yeoja itu dan tanpa ia sadari senyuman terlukis dengan sendirinya.

Well, gomawo sudah mengantarku. Aku pergi dulu. Hati- hati di jalan.” Sesingkat itu Min Heejin meninggalkan Jongin dan mobil idamannya. Beranjak terburu- buru ke arah halte dan melambai singkat pada mobil beserta namja tampan yang berada di dalamnya.

Jongin di sisi lain mulai menjalankan mobilnya meninggalkan Heejin sendirian, tapi merasa ada kejanggalan karena sikapnya yang sangat terburu- buru. Dia memutar balik mobilnya, merasa perlu untuk membuntuti apa yang sebenarnya ingin dikerjakan yeoja itu.

Bertemu Park Chanyeol-kah?

No!

Dia melihat Heejin baru mau menaiki bus umum berwarna hijau yang membosankan itu, dan dari situlah aksi stalker Kim Jongin dimulai. Oh ya, jangan lupakan tangannya yang mulai meraih kotak bekal milik Heejin. Dia sudah tidak sabar ingin merasakan sandwich buatan yeoja itu.

Semoga rasanya tidak seburuk kimchi fried rice yang pernah ia buat ketika usianya masih 15 tahun.

“Untunglah…” Bernafas lega, Min Heejin mulai melangkah riang memasuki pelataran sekolahnya. Sebenarnya alasan kenapa ia buru- buru sekali adalah karena ia takut Hwang ahjussi –satpam sekolahnya- menutup akses masuk menuju sekolahnya.

Hari ini memang diliburkan secara nasional karena tanggal merah, tapi Heejin tahu biasanya sekolah masih dibuka hingga pukul 1 siang saat hari libur, setelahnya barulah dikunci oleh Hwang ahjussi. Dia harus datang ke sekolah karena ia harus berlatih.

Iya benar, si senam lantai sialan itu!

Mengendap- endap, Heejin langsung ngacir ke lantai 3 di mana ruang tari berada. Dan ia akan berlatih di ruang tari karena selain karena satu sisi dindingnya merupakan kaca –memudahkanya mengobservasi gerakannya yang salah- di ruang tari juga terdapat matras yang ia butuhkan!

Alasan lain adalah gudang tempat matras untuk olah raga berada adalah di lantai 5 yang maksudnya adalah lantai teratas, dan dia takut ke sana. Jadi ruang tari adalah pilihan terbaik!

Menggeret matras ke bagian tengah ruangan, yeoja yang secara ajaib sudah menukar pakaiannya dengan celana training –yang berbeda dengan yang ia tumpahi susu tadi pagi tentunya- dan kaos oblong berwarna hitam, siap untuk mencoba melakukan gerakan pertama.

Roll depan.

Berdiri tegak di ujung matras, membungkuk, melebarkan jari- jarinya di atas matras, menekuk kepalanya sampai dagu menyentuh dada. Dan mulai menggulingkan tubuhnya sendiri! Perfect, dia menghapal teorinya dengan sangat baik.

Tapi apalah daya teori kalau pada nyatanya, Heejin tidak bisa mempraktekannya sesempurna pengetahuan teorinya. Percobaan pertama, kedua tangan yeoja itu tidak kokoh sehingga tubuhnya miring ke sana – sini. Percobaan kedua, dibanding terlihat seperti berguling di atas matras, yeoja itu lebih kelihatan nyungsep! Percobaan ketiga, ini yang paling berbahaya karena yeoja itu seharusnya menekuk kepalanya sampai dagu menyentuh dada, tapi sepertinya ia lupakan karena sekarang kepalanya tegak dan puncak kepalanya menjadi tumpuan rolling –seharusnya adalah bagian belakang kepala.

Dan sosok yang diam- diam memperhatikan yeoja dan kepayahannya dari awal itu tidak bisa diam lagi.

“Wow, wow, lady! Kau bisa membuat lehermu patah!”

Panik mendengar suara namja yang entah dari mana datangnya, Heejin malah nyungsep sekali lagi ke depan. Sebenarnya ia sudah ingin menangis sejak tadi karena tidak bisa menangani kepayahannya.

Jadi ketika Jongin berada tepat di hadapannya, ia bisa melihat mata yeoja itu yang memerah menahan tangis. Di situlah hatinya tergerak dan ia pun melakukan sesuatu.

“Minggir.”

Merasa seperti orang linglung dan kepalanya juga sudah sangat pusing karena dibenturkan dengan matras terus sejak tadi –ini karena faktor ketidakahliannya saja. Heejin bergeser ke samping.

Di hadapannya, Kim Jongin sedang membuka sepatunya dan naik ke atas matras. Dia hendak memeragakan gerakan- gerakan dalam senam lantai. Dan yang membuat Heejin terpesona sejenak adalah semua gerakannya terlihat begitu sempurna.

Roll depan, roll belakang, sikap lilin –yang ini dia tidak melakukannya-, kayang dari atas seperti memakan nasi bagi namja itu –saking mudahnya-, bahkan dia melakukan aksi backflip yang Heejin yakini kalau dia yang melakukannya besok dia akan terbaring di UGD karena patah tulang.

“Mau ku ajari?”

Dan inilah hal yang ditunggu- tunggu Heejin versi desperate sejak tadi. Seseorang mengulurkan tangannya untuk membantu. Maka pertanyaan kenapa namja itu bisa ada di sini pun dilupakannya. Heejin mengangguk cepat.

“Ada syaratnya.”

Cih!

Memutar bola matanya, seharusnya yeoja itu ingat Jongin adalah tipe yang menyebalkan. Tapi keadaannya bisa dibilang sedang suffering sekarang, jadi ia harus menerima bantuan dari siapapun. Pokoknya dia ingin menginap di vila bersama keluarga Minhye minggu depan! Bukannya terkurung menyedihkan di sekolah demi mengerjakan tugas remedial!

“Katakan, Jongin-ssi.”

Kim Jongin tersenyum menang dan melangkah mendekati Heejin dengan tatapan intimidasinya, refleks yeoja itu berjalan mundur sejauh yang ia bisa –tembok menghalanginya dalam 4 langkah. Sekarang ia terkurung di antara tembok dan namja bermobil keren, bermata hazel, bermulut tukang mengeluh, tapi berwajah tampan bernama Kim Jongin.

“Kau tahu aku sebenarnya tidak suka dengan nama Kim Jongin. Kenapa juga aku harus mendapatkan nama ini… Jongin, nama ini terdengar tua. Aku akan membantumu asal kau mau memanggilku…” Jongin terdiam sesaat dan percayalah jantung seorang Min Heejin sudah berdisko di dalam sana, belum lagi hawa panas yang merambat ke pipinya… JARAK HEY JARAK!!! Sialan ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan seorang namja..

“Kai.”

MWO?! KAI?”

Jongin –sekarang mau dipanggil Kai, mengangguk pasti. Disusul penjelasan yang masuk akal sebenarnya. “Saat di ruang lukis, aku tertarik dengan nama Kai karena menurutku nama itu keren. Belum lagi kau mengatakan artinya dalam bahasa asing, itu membuat nama itu semakin keren. Jadi mulai sekarang aku mau dipanggil Kai olehmu.”

“Baiklah, Kai-ssi.” Telunjuk panjang Kai menunjuk dahi Heejin dan hanya dibalas dengan mata yang semakin melebar dan jantung yang semakin berdisko.

“Jangan ditambahi embel- embel –ssi. Kaku sekali, arasseo.. Heejin-ah?!”

  1. ASTAGA.

HEEJIN-AH?!

“Kita belum sedekat itu, Kai-ssi.” Parau Heejin sambil mencoba menutup matanya karena aroma kue jahe milik namja yang ingin dipanggil Kai ini menusuk- nusuk indra penciumannya. Dan itu membuat akal sehatnya mulai geser 1 cm.

Kai menyeringai melihat ekspresi Heejin, dia malah semakin memepetkan tubuhnya pada tubuh yeoja itu. “Masih belum dekat?”

AISHHH!!!!

“BAIKLAH, KAI! KAI-YA, KAI-NIM, KAI KAI KAIIIIIIII! LEPASKAN AKU SEKARANG!” Tidak tahan, Heejin pun mengamuk pada akhirnya. Dan saat itu barulah Kai melepaskan kungkungannya.

“Sekarang ajari aku. Dan ingat! Saat mengajariku, kau pasti menyentuhku, bukan? Jangan menyentuh yang macam- macam atau aku akan melaporkanmu ke polisi sekarang juga atas tuduhan pelecehan, mengerti?!” Heejin yang parno dengan aksi Kai sebelumnya membuatnya harus mengeluarkan ultimatum terlebih dahulu. Dan menyebalkannya Kai hanya tertawa dalam menanggapinya.

“Oh yah, request. Aku mau memulai latihan dari gerakan kayang dari atas.”

Wae?”

“Supaya aku bisa memelukmu.”

ORANG INI BENAR- BENAR!

Tapi sebagaimanapun dia menggerutu dalam hati, Kai benar- benar memeluknya. Awalnya Kai menjulurkan tangannya ke bagian belakang tubuh Heejin –di daerah pinggang, sementara yeoja itu mulai sedikit demi sedikit melengkungkan tubuhnya ke bagian belakang. Dengan tangan yang siap meraih dasar matras dan membentuk sikap kayang.

Sayangnya.. karena ketidakstabilan posisi Heejin. Yeoja itu malah terjatuh ke belakang dan tangan Kai yang membantunya ikut membawa namja itu untuk jatuh menimpanya di atas matras dengan posisi tangan yang memeluk yeoja itu.

“Keinginanmu benar- benar terkabul.” Lirih Heejin tanpa sadar, matanya masih tertutup akibat ‘kecelakaan’ yang ia timbulkan. Sementara di atasnya, Kai hanya menatapnya lembut.

Sebuah tatapan yang tidak mungkin ia perlihatkan untuk yeoja itu ketika dia membuka matanya..

///

Sehun sedang bermalas- malas di kamar apartemennya. Hari Jumat yang indah tanpa Kai dan dia harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Melalui pikiran namja itu, Sehun membaca bahwa hari ini sahabatnya akan menghabiskan sepanjang hari bersama Min Heejin.

Sedikit berbahaya sih memang, tapi Sehun tidak bisa melarangnya sama sekali.

TING TONG

Seseorang datang? Sehun bergerak ke arah interkom apartemennya dan menemukan seseorang di balik rompi biru dan topi menunggu tepat di pintu masuk apartemennya.

Kurir.

Membuka pintu, sang kurir yang diketahui Sehun dari pikirannya itu menyerahkan sebuah kotak besar kepada Sehun. Kotak itu dialamatkan untuk Kim Jongin.

“Paket untuk, Kim Jongin-ssi. Ini adalah barang- barangnya yang dititipkan di salah satu loker, namun karena masa sewa loker telah berakhir. Perusahaan loker tersebut mengirimkan kotak ini kembali kepada pemiliknya.”

Well well.. tidak perlu menjelaskan karena sebenarnya Sehun sudah tahu hanya dengan melihat kurir ini. Terkadang memiliki kemampuan membaca pikiran itu sungguh menguntungkan.

Setelah menandatangani lembaran tanda terima, Sehun masuk kembali ke dalam apartemennya tanpa mengucapkan sepatah kata bagi si kurir berompi biru itu. Kemudian kotak besar itu ia simpan di atas meja dapur, sementara dirinya beranjak ke arah kamarnya berencana untuk segera mandi.

Sehun kembali setengah jam kemudian ketika langit sudah gelap, dan sesuatu mengusik hatinya ketika ia melihat kembali kotak besar itu. Melangkah mendekatinya, ia mulai membuka kotak tersebut.

Kenapa Kim Jongin menyimpan kotak ini di dalam loker? Kenapa tidak ia simpan di rumah saja?

Penutup kotak sudah terbuka, dan di situ terdapat bermacam- macam benda.

Entahlah itu memiliki sejarah apa bagi si Kim Jongin.

Ada sebuah buku berwarna biru yang menarik perhatian Sehun. Diary-kah? Well dia mulai penasaran kalau seorang namja menulis diary itu seperti apa. Lalu dibawanyalah ‘diary’ itu ke sofa panjang di depan TV.

Mencoba membuka lembaran demi lembaran, bukan diary ternyata. Isinya hanyalah kertas kosong. Mengecewakan.

Menyesal, Sehun mencoba mengembalikan buku itu ke tempatnya ketika lewat sudut matanya ia melihat selembar foto yang jatuh dari dalam buku itu. Tangan kanannya otomatis meraih foto dan ketika ia membaliknya dan menemukan siapa yang menjadi objek foto itu… hatinya mulai merasakan firasat yang aneh.

Meraih ponsel dari saku celananya, Sehun segera menghubungi Kai. Tersambung dalam deringan ke – 3.

“Sehun-ah, aku sedang si –“

“Kim Jongin yang asli sepertinya.. dia mengenal Min Heejin.”

TO BE CONTINUE

 

Present Unreal (Chapter 4 #Into Your World)

PREVIEW

“Maaf, Nyonya. Anakmu dan sahabatnya kecil kemungkinan untuk bisa bertahan hidup. Kecelakaan yang mereka alami terlalu berat, semua alat vital mereka bahkan bisa dikatakan mati apabila tanpa bantuan alat medis.”

///

“Dia tidak berbohong?”

Suara dengusan dan gumaman tidak percaya lolos dari mulut Sehun. “Kau lupa aku bisa membaca pikiran orang lain?! Tidak ada yang bisa membohongiku!”

///

“Aku tahu kita sama- sama dalam keadaan sulit. Dan kemampuan kita membuat segalanya jadi lebih mudah. Tapi kita tidak bisa mengatur perasaan seseorang seperti kemauan kita, Kai.”

///

Sesungguhnya.. aku tidak baik- baik saja.

Kakiku bergetar hebat dan aku takut terjatuh di tangga kalau kupaksakan berjalan. Aku memilih mendekam dalam ketakutanku sendiri di tempat ini. Meringkuk seperti seorang bayi di atas matras.

Dalam hati aku berharap seseorang menemukanku dan membantuku berjalan tanpa harus menanyakan alasan kenapa aku terlihat seperti ini.

Dan orang itu belum juga datang..

Sebenarnya siapa yang kuharapkan?

///

“Kai… kenapa kau mau membantuku?”

“Kau menanyakan alasanku?”

“Hmm..”

“Apakah butuh alasan untuk membantu seseorang?”

 

See you next chapter ~!

Don’t forget leave comment ^^

Iklan

2 pemikiran pada “PRESENT UNREAL (Chapter 3)

  1. Oh tidak bakalan terkuak masalah jongin yang sangat mengenal minhee tapi mengapa ia ingin melindungi jika ia baru mengenalnya apakah seperti perasaan ingin melindungi kah.
    Next chapternya ne

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s