Medical in Love (Chap. 4)

medical-in-love

Medical in Love

 

Author : Shim Na Na

Genre : Romance

Rating : General, Teenager

Length : Multichapter (3.313 words)

Cast :

Park In Jung (OC)

Kim Jongin (EXO – Kai)

Oh Sehun (EXO – Sehun)

Etc

Prev: Chap-1 | Chap-2 | Chap-3

(Kejadian sebelumnya : Sore hari, In jung tiba di rumah sakit untuk mengembalikan ponsel seseorang yang secara tidak sengaja diambilnya. Tetapi dia tidak tau harus kemana untuk bisa menemui si pemilik ponsel tersebut. Dengan wajah kebingungan dan tingkah laku yang mencurigakan, seorang petugas keamanan menghampirinya. In jung menjadi panik dan membayangkan dirinya akan ditangkap, tapi saat itulah seorang laki-laki tampan dengan jas putihnya berlari ke arah In jung sambil melambaikan tangan.)

“Selamat sore Dokter Oh.” Petugas keamanan menyapa laki-laki itu.

“Selamat sore Kang woo. Bagaimana keadaan sore ini ? Amankah ?” Laki-laki itu menjabat tangan si petugas keamanan.

“Tentu saja dokter, aku akan berusaha menjaga keamanan rumah sakit ini dengan sekuat tenaga, haha.” Petugas keamanan membalas jabatan dari Sehun dengan bersemangat.

“Wah, bagus kalau begitu, aku akan sangat senang menambah jadwal praktek ku kalau kau semangat seperti ini demi menjaga keamanan.” Petugas keamanan langsung tersenyum mendengar ucapan Sehun, astaga, padahal mereka kan sesama pria.

“Dan kau nona, senang bertemu denganmu lagi. Kau masih ingat aku kan ?” Sehun memfokuskan pembicaraannya pada In jung yang masih berdiri di depannya dengan wajah melongo.

“Oh, apakah nona ini teman anda, dokter ? Baru saja aku ingin menanyainya tadi. Maafkan aku ya nona, aku kira kau tersesat tadi.” Petugas itu meminta maaf kepada In jung dan segera berpamitan dengan Sehun.

“Jadi, apakah kau yang menemukan ponselku ?” Sehun tiba-tiba saja menanyakan itu kepada In jung, membuatnya kaget.

“Ha ? Aku ? Oh iya aku, ah maafkan aku, maafkan aku.” In jung segera membungkukkan badan berkali-kali, meminta maaf atas kecerobohannya kemarin. In jung kembali panik, padahal seperkian detik yang lalu, dia hanya merasakan kebingungan.

“Oh maaf, aku yang salah. Uummm..sepertinya tidak enak mengobrol disini, bagaimana kalau kita ke suatu tempat. Oh, nona, apakah kau baik-baik saja ? Wajahmu terlihat pucat sekali.” Sehun menundukkan kepalanya, mencoba melihat ke wajah In jung yang memang terlihat pucat. In jung hanya menggelengkan kepala, badannya terasa lemas, pandangannya juga sedikit berputar-putar.

“Ah, sepertinya aku sedikit lelah.” In jung hanya bisa mengatakan itu, kepalanya mulai terasa berat.

“Kalau begitu kita ke kantin saja ya, sepertinya kau perlu beristirahat. Apakah kau masih bisa berjalan ? Ayo sini biar ku bantu.” Sehun mengambil tas yang dipegang In jung, lalu melingkarkan tangan yang satu lagi ke bahu In jung. In jung terkejut dan langsung bergeser beberapa langkah dari Sehun.

“Ah maafkan aku, aku tidak bermaksud tidak sopan, hanya saja kau seperti tidak kuat berjalan, aku hanya bermaksud membantumu.” Sehun segera menyadari tindakannya yang terlalu cepat. In jung merasa tidak enak, tapi sepertinya dia memang butuh bantuan.

“Ah bukan begitu, hanya saja aku tidak biasa. Aku masih bisa berjalan sendiri kok.” In jung menundukkan kepalanya, rambutnya yang panjang tergerai menutupi wajahnya yang memanas.

“Ah baiklah, kalau begitu, ayo kita pergi ke kantin.” Sehun berjalan di samping In jung, dia sengaja memperlambat langkahnya agar bisa jalan berbarengan dengan In jung. In jung mengikuti Sehun namum masih dengan wajah yang ditundukkan ke bawah. Sebenarnya itu karena dia merasa canggung, In jung sangat jarang jalan berbarengan dengan seorang laki-laki selain ayahnya.

***

Akhirnya mereka tiba di kantin rumah sakit. Kantin itu masih terlihat ramai, jam kunjungan sore hari baru saja dimulai. Sehun mencari tempat duduk di dekat jendela pintu masuk, sebenarnya mungkin karena hampir tidak tersisa kursi kosong untuk mereka. In Jung mengikuti Sehun dari belakang. Sehun menarik kursi di depannya, mempersilahkan In jung duduk terlebih dahulu, lalu setelahnya duduk persih berhadapan dengan In jung. Sekitar dua menit awal, mereka hanya duduk diam, yang terdengar malah suara ramai dari pengunjung lainnya yang sibuk dengan cerita masing-masing.

“Ah, jadii.. apakah kau mau minum sesuatu, ini menunya.” Sehun membuka percakapan sore itu sambil menyodorkan daftar menu kepada In jung. In jung membolak-balik daftar menu, dia tidak tau harus memesan yang mana. Kepala terasa begitu kosong sehingga tidak dapat berpikir seperti biasanya. Sehun memperhatikan In jung yang masih membolak-balikkan daftar menu.

“Bagaimana kalau kau memesan sesuatu yang manis, mungkin kau bisa mencoba ini.” Sehun menyarankan menu Honey tea pada In jung. Alih-alih melihat menu yang disarankan oleh Sehun, In jung malah melihat Sehun.

“Ah, maksudku ini hanya saran saja. Mana tau kalau kau meminumnya, kau akan merasa lebih baik. Kalau aku akan memesan Ice Green tea Latte, sesuatu yang manis juga, tapi dingin. Apakah kau sudah siap memesan ?” Sehun berbicara seperti sewajarnya, beda dengan In jung yang hanya bisa diam atau sesekali mengangguk, dia berusaha memberikan tanggapan terhadap Sehun, tapi rasanya sulit untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.

“Aku pesan Honey tea saja.” Akhirnya In jung berhasil merespon Sehun setelah menghirup napas dalam-dalam.

“Baiklah, Honey tea dan Ice Green tea Latte. Tunggu disini sebentar ya, aku akan pergi untuk memesan.” Sehun berdiri, berjalan ke salah satu konter minuman. In jung memperhatikan Sehun dari jauh, entah mengapa rasanya deg-deg an tiap kali Sehun mengajaknya berbicara, padahal ini baru kedua kalinya mereka bertemu setelah insiden tabrakan di apartemen.

In jung menyampingkan rambutnya, sekarang wajahnya bisa terlihat dengan jelas. Sementara Sehun masih menunggu pesanan mereka, In jung merasa sedikit bebas dan bisa menghirup napas dengan normal. In jung melihat ke arah lantai dua, tempat praktek para dokter. In jung tidak bermaksud berharap, hanya saja barangkali dia bisa secara tidak sengaja melihat Kai. Saat In jung sadar Sehun hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju kursinya, In jung segera memalingkan pandangannya dan kembali menundukkan wajahnya, berpura-pura tidak melihat Sehun.

“Ini pesananmu nona, silahkan diminum.” Sehun menyodorkan minuman yang dipesan In jung sambil tersenyum. In jung hanya sekilas melihat ke arah Sehun, ia tidak ingin berlama lama memandangi wajah Sehun.

“Jadi, bolehkah aku tau siapa namamu nona ? Aku belum sempat menanyakan namamu ketika kita bertabrakan kemarin. Oh iya, namaku Oh Sehun, kau bisa memanggilku Sehun.” Sehun mengulurkan tangannya pada In jung, isyarat berkenalan yang paling biasa dilakukan orang banyak. In jung menarik napasnya dalam-dalam, berusaha bersikap sewajarnya, berusaha menekan rasa gugupnya.

“Namaku Park In jung, kau bisa memanggilku In jung.” In jung menjabat tangan Sehun lalu segera menarik tangannya kembali. In jung hanya bisa merespon sesimpel itu, dia tau kalau lebih dari itu dia akan kesulitan untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya, jadi dia memilih hanya menjawab apa yang ditanyakan Sehun.

“Park In jung… Park In jung… Uummm… In jung. Nama yang bagus.” Sehun mengulang menyebutkan nama In jung beberapa kali dan mengakhirinya dengan senyuman. Jelas membuat In jung tersipu malu.

“Wah, sepertinya kita seumuran ya, berarti kita bisa memakai bahasa informal, biar lebih akrab. Kau santai saja ya.” In jung hanya membalas dengan anggukan, sebenarnya dia tidak yakin kalau Sehun seumuran dengannya, rasanya wajah Sehun lebih muda darinya.

“Oh iya, ini ponsel milikmu, dan aku rasa ini juga milikmu.” In jung mengeluarkan ponsel dan buku catatan serta nametag milik Sehun dari dalam tasnya, lalu menyodorkannya ke arah Sehun.

“Aah, ini dia yang aku butuhkan, ponsel dan buku catatanku, astaga, bahkan nametag­ ku juga ada. Aku pasti tidak melihat dengan benar kemarin.” Sehun langsung mengambil ponselnya, lalu mulai sibuk mengutak atik ponselnya. Hanya In jung yang merasa tidak enak, kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya In jung lah yang tidak memasukkan barangnya dengan benar saat barang mereka kemarin berserakan. Semestinya In jung tidak seceroboh itu.

“Maafkan aku, aku tidak sengaja memasukkannya ke dalam tasku, aku pikir semua barangmu sudah selesai kau bereskan, makanya semua barang yang masih tersisa kumasukkan ke dalam tas. Maafkan aku.” In jung menundukkan kepalanya di hadapan Sehun.

“Ya In jung ah~ jangan seperti itu. Kau tidak perlu merasa bersalah. Oh iya, apakah kau tinggal di apartemen itu ya ?” Sehun berhenti memainkan ponselnya dan fokus menghadap In jung.

“Hah ? Aku ? Aah tidaak. Aku..aku hanya ada keperluan disana, aku mengantarkan barang. Aku bukan tinggal di apartemen itu. Bagaimana denganmu ?” In jung mencoba untuk memutar balikkan pertanyaan. Dia berusaha agar pembicaraan ini menjadi pembicaraan dua arah.

“Ah, kalau aku ingin menemui temanku, dia tinggal disana. Dia juga dokter disini sih, rencananya aku ingin membicarakan sesuatu tapi karena buku catatanku hilang, ya tidak jadi, hehe…” Sehun mengatakan itu dengan gamblang, membuat In jung makin merasa bersalah. Lagi pula, teman yang dimaksud Sehun itu pasti Dokter Do. Lebih baik Sehun tidak tahu kalau In jung mengenal Dokter Do.

“Oh, baru saja dibicarakan, orangnya langsung muncul.” Sehun memalingkan wajahnya ke satu arah, In jung mengikuti arahnya, dan pemandangan itu membuatnya terkejut. Ada Dokter Do di lantai 2 sedang berjalan bersama dua laki-laki. In jung mengetahui salah satu dari kedua laki-laki yang berjalan bersama Dokter Do. Benar, Dokter Do berjalan bersama Kai, dan seorang lagi entah siapa, In jung belum pernah melihat laki-laki itu itu sebelumnya.

“D.O Hyung !” Sehun berteriak memanggil Dokter Do, tapi sepertinya dia tidak mendengar teriakan Sehun. In jung merasa cemas, kalau saja Dokter Do sempat mendengar teriakan Sehun dan berencana kemari, habislah In jung.

Sehun berteriak memanggil D.O sekali lagi, tapi sepertinya D.O tidak mendengarnya. D.O bersama Kai dan seorang laki-laki terus berjalan entah menuju kemana. Kai terlihat merangkul D.O sambil sesekali tertawa, sedangkan D.O terus tersenyum.

“Ah D.O hyung tidak mendengar aku memanggilnya. In jung ah~ kemarin seseorang menelpon ponselku berkali-kali kan ? Sebenarnya itu aku yang mencoba menelpon, hanya untuk memastikan apakah benar ponselku aman bersamamu. Tapi aku rasa yang terakhir menelponmu bukan aku. Yang terakhir menelpon kemarin itu D.O hyung. Laki-laki yang disana itu.” Sehun menunjuk ke arah D.O yang masih terus berjalan bersama Kai dan seorang laki-laki lainnya.

“Kalau yang disamping kanannya itu Kai, dia dokter juga sama sepertiku dan D.O hyung, dia dokter bedah. Kalau yang disebelah kiri D.O hyung itu Chanyeol hyung, dia kepala perawat disini. Mereka semua temanku.” Sehun memberitahu In jung semua informasi itu dengan wajah berseri-seri. In jung menganggukkan kepala dan terus menatap kearah tiga laki-laki itu sampai mereka menghilang dari pandangannya.

***

Setelah melihat D.O dan Kai jalan bersama seperti itu, In jung langsung berpikir keras. Sebenarnya sedekat apa hubungan D.O dan Kai, mereka berdua tinggal di apartemen yang sama, mereka bekerja di tempat yang sama, mereka bekerja dengan pekerjaan yang sama, mereka bukan kakak dan adik, lalu mereka itu apa ? In jung berpikir dengan sangat keras, bahkan dia tidak sadar kalau dahinya mengerut karena terlalu serius memikirkan hubungan D.O dan Kai. Sehun yang baru menyadarinya juga secara tidak sadar ikut mengerutkan dahi karena bingung melihat In jung.

“In jung ah~ apakah kau baik-baik saja ?” Sehun bertanya sambil memiringkan kepalanya.

“Hah ? Iya ? Kenapa ?” segera saja pikiran tentang D.O dan Kai buyar ketika In jung mendengar suara Sehun. Sehun memanggilnya seperti itu membuat In jung deg-deg an, mendengar suaranya saja sudah cukup membuat In jung gugup.

“Apakah kau baik-baik saja ? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu, dahimu sampai berkerut seperti itu.” Sehun masih memiringkan kepalanya. In jung masih terdiam, tiba-tiba dia ingin menanyakan sesuatu kepada Sehun, tapi dia tidak cukup berani untuk menanyakannya. In jung menarik napasnya dalam-dalam, lalu mulai merangkai pertanyaan yang akan ditanyakannya pada Sehun.

“Ah begini, aku sebenarnya ingin bertanya, apakah Dokter Do dan Kim itu sangat dekat ya ? Ah maksudku, melihat mereka tadi, sepertinya mereka memiliki hubungan yang sangat dekat ya, apakah semua dokter di rumah sakit ini sedekat itu ?”

“Hubungan mereka berdua ? Wah, sebenarnya ini bahasan yang menarik.” Sehun melipat kedua tangannya, bersiap menceritakan sesuatu seakan-akan bahasan ini akan menarik perhatian In jung.

“Mereka itu memiliki hubungan yang saaaaangaat dekat, bahkan aku rasa hubungan mereka lebih dekat dari dokter-dokter lainnya disini. Mereka itu seperti kakak – adik, D.O hyung kakaknya dan Kai adiknya. Mereka sering pulang bersama, pergi bersama, pokoknya apapun dilakukan bersama. Oh iya, bahkan mereka juga tinggal bersama. Aku sangat iri pada Kai, dia bisa tinggal bersama D.O hyung pasti sangat menyenangkan.”

Sehun bercerita dengan semangat berapi-api, sedang In jung memperhatikan dengan begitu bersemangat. Semua yang diceritakan Sehun bagaikan informasi penting untuk lebih memperjelas gambaran mengenai Kai dan D.O.

“Ah, In jung ah~ tunggu sebentar. Bukankah kau tadi mengatakan Dokter Do dan Kim ? Apakah kau mengenal mereka berdua ? Perasaan tadi aku tidak menyebutkan nama mereka seperti itu.” Giliran Sehun yang mengerutkan dahinya, melihat ke arah In jung penuh curiga.

“Hah ? Benarkah ?” In jung terdiam. Dia sudah kelepasan bicara. Apakah tadi dia mengatakan Dokter Do dan Kim. In jung mulai panik, apa yang harus dikatakannya untuk menjawab pertanyaan Sehun.

“Akuu.. aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi..tapi aku tidak tau kalau dia adalah temanmu. Aku hanya bertemu ketika menemani muridku yang sedang sakit, mereka dokter penanggung jawab waktu itu. Sungguh, hanya itu.” raut wajah In jung berubah merah, Sehun yang awalnya melihatnya curiga langsung tertawa karena melihat wajah In jung yang panik.

“Hahaha, In jung ah~ kau jangan seperti itu, wajahmu lucu sekali. Iya, aku percaya padamu, kau tidak perlu secemas itu. Ternyata kau ini lucu sekali ya.” Sehun tertawa melihat In jung, dia tertawa seperti anak kecil yang sedang bahagia sekali. In jung terpana melihat Sehun yang masih tertawa, wajah Sehun seperti anak kecil yang sangat bahagia. Untuk sementara waktu, In jung menikmati saat-saat melihat Sehun seperti itu, dia tidak menyesal telah salah mengambil ponsel milik Sehun kemarin. Buktinya dia bisa melihat Sehun yang sedang tertawa seperti sekarang.

***

Setelah menghabiskan beberapa jam untuk saling bercerita, akhirnya In jung melihat jam tangannya. Ternyata sudah sangat sore, dia harus segera pulang. Sehun menawarkan diri untuk mengantarkan In jung pulang.

“Kau mau pulang sekarang ya ? Biar aku saja yang mengantar, rumahmu cukup jauh kan dari rumah sakit kan, kebetulan aku juga mau pulang.” Sehun berjalan di samping In jung.

“Tidak usah, nanti kau malah repot. Aku bisa pulang naik bus. Aku rasa masih ada bus jam segini, tidak apa-apa, aku pulang sendiri saja.” In jung berusaha menolak penawaran Sehun dengan sopan.

“Ah jangan begitu, rasanya seperti baru saja ditolak.” Sehun menunjukkan wajah kecewanya, In jung yang melihatnya jadi merasa tidak enak. Sebenarnya In jung mau saja menerima tawaran dari Sehun, tapi apakah langkah ini tidak terlalu cepat. Mereka kan baru bertemu dua kali, bahkan pertemuan pertama adalah insiden. Tapi ketika melihat wajah Sehun seperti itu, In jung jadi merasa bersalah.

“Ah baiklah, sepertinya aku pulang denganmu saja Sehun, lagipula mungkin busnya juga akan lama. Apakah aku bisa pulang denganmu ?” In jung merubah pikirannya. Mungkin tidak apa-apa kalau menerima ajakan Sehun, kan mereka sekarang sudah berkenalan. Anggap saja Sehun adalah seorang teman baru.

“Wah, benarkah ?! Baiklah, tunggu disini ya, aku akan ke ruangan sebentar dan mengambil barang-barangku, lalu aku akan menjemputmu disini, jangan kemana-mana ya.” Sehun segera berlari kembali ke dalam rumah sakit sedangkan In jung duduk menunggu Sehun di kursi halaman di depan rumah sakit.

Tidak lama kemudian, Sehun datang dengan mobilnya untuk menjemput In jung. In jung berjalan ke arahnya, Sehun segera keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk In jung. In jung merasa deg-deg an, dia belum pernah diperlakukan sebaik ini oleh seorang laki-laki sebelumnya. Wajar saja, In jung tidak begitu banyak dekat dengan teman laki-laki, karena itu dia selalu merasa canggung tiap kali berbicara atau berjalan bersama seorang laki-laki. Tapi Sehun benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik.

***

Sepanjang perjalanan pulang, Sehun terus mengajak In jung untuk bercerita. Sehun terus menanyakan hal-hal yang menurutnya penting untuk lebih mengenal In jung, mulai dari dimana In jung bekerja, makanan kesukaan In jung, hobi In jung, film kesukaan In jung, bahkan musik kesukaan In jung. In jung menjawabnya dengan malu-malu, tapi In jung memang menikmati pembicaraan sore itu, karena rasanya sudah lama sekali tidak berbicara panjang lebar dengan seseorang. Biasanya In jung selalu menceritakan apapun kepada ayah dan ibunya, tapi setelah keluarga In jung pindah ke Busan dia menjadi sangat jarang untuk bisa bercerita panjang lebar pada ayah ibunya seperti yang sering dilakukan sebelumnya.

Mereka menghabiskan perjalanan pulang dengan saling bertukar pengalaman pribadi, terkadang cerita Sehun dengan sukses membuat In jung tertawa. In jung melupakan rasa gugupnya dan terus mendengarkan cerita Sehun.

“Oh iya, apakah kau suka kopi ? Aku ingat di dekat sini ada toko kopi yang enak, aku cukup sering kesana. Setauku ada di sekitar sini. Ah! Itu dia yang disana.” Sehun menunjuk Coffee Shop yang ada di seberang jalan.

“Oh yang itu, biasanya disana selalu ramai. Aku belum pernah kesana sih, tapi aku rasa toko itu terkenal di daerah sini, apa kopinya benar-benar enak ?”

“Hmm.. bagaimana ya, mungkin karena aku begitu suka kopi jadi ya aku merasa kopi dari coffee shop itu memang enak. Apa kau belum pernah mencobanya ? Kau harus mencobanya, atau mungkin kapan-kapan kita bisa pergi bersama kesana.” Sehun tersenyum pada In jung. Apakah Sehun baru saja menawarkan In jung untuk pergi bersama di lain waktu, wah semua ini benar-benar terasa begitu cepat. In jung memberikan anggukan kepala kepada Sehun, kali ini dia tidak akan menolak ajakan Sehun.

Akhirnya mereka sampai di depan rumah In jung. Sehun segera keluar mobil untuk membukakan pintu mobil In jung.

“Silahkaan.” Sehun membukakan pintu mobil dan tersenyum pada In jung. In jung hanya bisa tersenyum sambil menundukkan kepalanya, dia merasa begitu bahagia sore ini. Kapan lagi dia bisa merasakan diperlakukan seperti seorang putri oleh seorang dokter muda yang begitu ramah seperti yang Sehun lalukan. In jung keluar dari mobil, membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih kepada Sehun.

“In jung ah~ kau tidak perlu sungkan, lain kali kalau kau ke rumah sakit kabari aku ya, mungkin kita bisa bertemu. Ah iya, ini kartu namaku, simpan saja ya, mungkin akan berguna suatu saat.” Sehun lalu berpamitan dengan In jung dan masuk ke dalam mobilnya. Saat Sehun bersiap pergi, dia melihat sebuah ponsel di kursi yang tadi diduduki In jung.

“Ah, pasti ponsel ini milikinya.” Sehun meraih ponsel dengan case berwarna pink itu, lalu tiba-tiba saja senyum jahil tergambar di wajahnya. Sehun langsung mengutak atik ponsel In jung, tak lama setelah itu ponsel miliknya pun berbunyi.

“Beres, sekarang aku punya nomer ponsel miliknya.” Sehun tertawa seperti anak kecil yang baru selesai menjahili orang. Sehun memberhentikan mobilnya, lalu keluar untuk menyerahkan ponsel milk In jung.

“In jung ah~ tunggu sebentar, ponselmu ketinggalan.” Sehun berteriak dari luar pagar rumah In jung sambil melambaikan ponsel yang ada di tangannya. Untung saja In jung belum masuk ke rumah, dia segera berbalik badan saat mendengar teriakan Sehun.

“Apa ? Ponselku ? Ah benar itu ponselku.” In jung segera berlari menghampiri Sehun. Sehun menyerahkan ponsel pada In jung.

“Ini, hampir saja kau meninggalkan ponselmu. Kalau kau meninggalkannya, aku akan kesulitan kalau menghubungimu. Baiklah, aku pulang dulu ya. In jung ah~ annyeong.” Sehun lalu segera berbalik dan berjalan menuju mobilnya. In jung hanya terdiam sambil memperhatikan Sehun masuk ke dalam mobil. Sehun membuka kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah In jung. In jung membalas melambaikan tangannya pada Sehun, sambil tersenyum, In jung terus melambaikan tangan sampai mobil Sehun menghilang di ujung jalan.

In jung membuka pintu rumahnya sambil tersenyum sendiri. In jung merebahkan diri ke kasurnya, masih membayangkan betapa senangnya dia sore ini. Semua ini berkat Sehun, ah tidak, semuanya berkat kecerobohannya yang membawa keberuntungan, kalau saja dia tidak salah mengambil ponsel Sehun, dia tidak akan pernah bertemu dan mengenal Sehun. Wajah Sehun masih terbayang jelas di benak In jung, membuat In jung tidak berhenti tersenyum. Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah ini seperti kencan buta ? Dia datang tanpa mengenal Sehun sebelumnya, tapi dia merasa senang saat mendengarkan cerita Sehun, bahkan dia tertawa. In jung mengambil kartu nama Sehun yang ada di samping tasnya, memandangi kartu nama yang diberikan Sehun kepadanya. Apa maksudnya ya Sehun memberikan ini kepadanya, apakah Sehun secara tidak langsung memintanya menghubungi Sehun ?

“Ah, aku tidak akan menghubunginya terlebih dulu, rasanya gengsi sekali. Tapi apa perlu aku mengiriminya pesan terima kasih ya ?” In jung terus menatap kartu nama Sehun sambil menggenggam ponselnya.

“Seharusnya aku bisa menceritakan semua ini kepada eomma, tapi pasti mereka sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Hmmm.. sepertinya aku harus bersiap makan malam juga.” In jung bangkit dari kasurnya, berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan ponsel dan kartu nama Sehun di atas selimutnya.

***

TBC….

See you next chapter…

Poster: redbaby

Iklan

4 pemikiran pada “Medical in Love (Chap. 4)

  1. Sehun dasar jail banget! Seneng banget liat karakternya sehun disini bener2 mood maker tapi In Jung mudah banget deg2gan tiap ketemu para dokter itu,, hehe meskipun kalau ketemu ma mereka pasti uga bakal deg2gan hehe ^^ Thor saya tunggu nih scene jongin-in jungnya jangan lama2nya next chapnya ! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s