Revival of The Mad Emperor: The Princess of Darkness Part 2 – END (Seonsaengnim’s Reveal of Story)

A Storyline Present by @diantrf

 

Revival of The Mad Emperor: The Princess of Darkness

(Seonsaengnim’s Reveal of Story)

Main Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol, Kim Junmyeon/Suho (EXO) | Park Cheonsa (OC)

Other Cast:

Oh Sehun, Kim Jongdae/Chen, Kim Minseok/Xiumin, Zhang Yixing/Lay, Wu Yifan/Kris (EXO) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Jinyoung (B1A4) | Lee Gikwang (Beast) | Kang Jihyun/Soyou (Sistar)

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Prev:

Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5 | Part-6 | Part-7 | Part-8 | Part-9 | The Princess of Darkness (Teaser) | Intro Charas | The Princess of Darkness (1)

0o0

Perang demi perang silih berganti meramaikan zaman. Cita-cita Ragon dan Arsyelan untuk mengangkat kembali takhta dunia di bawah kuasa Strămoș berjalan dengan sangat lancar. Semenjak kebangkitan Sheol, dunia semakin kacau. Tak nampak lagi mana yang baik atau mana yang buruk. Segalanya terasa semu dan terlalu mirip.

Wilayah utara menjadi kacau sejak Diavol dengan terpaksa mengabdikan dirinya pada Sheol, ditambah lagi Putri înger yang dianggap sakit parah karena sudah hampir tiga bulan tidak sadarkan diri. Kulitnya sangat pucat bak mayat, bahkan ada yang menganggap bahwa înger telah mati.

Namun Păzitor tetap bersikeras bahwa înger masih hidup. Ya, ia telah mengerti dengan alur cerita yang terjadi di sini. Păzitor sama sekali tak percaya bahwa Master-nya sendiri ikut andil dalam kekacauan ini hanya demi kekuasaan.

Selama itu pula, Diavol diusir dengan tidak hormat dari istana, digantikan oleh Păzitor untuk sementara waktu sembari menunggu sadarnya înger. Terkadang Anhel juga datang untuk melihat keadaan înger. Walaupun rencana pernikahan mereka semata-mata hanya untuk menyatukan dua kerajaan, tapi sesungguhnya Anhel memiliki sedikit rasa pada înger.

Perang ketiga yang berlangsung saat ini menjadi semakin sengit. Dari jumlah total delapan Strămoș yang telah disepakati, baru ada lima Strămoș yang resmi menduduki kursi kepemimpinan; Ragon, Arsyelan, Helvete, Anhel dan Diavol.

Lalu bagaimana dengan Sheol? Bukankah ia adalah vampir terkuat?

Sheol tak ingin melibatkan dirinya ke dalam satu kumpulan menyebalkan itu. Ia lebih senang melakukan segala sesuatunya sendiri. Namun tetaplah Sheol ikut andil dalam pengambilan segala keputusan.

Juga, bagaimana dengan Diavol dan Anhel? Menurut Păzitor—dalam rapat rahasia mereka bertiga—Anhel dan Diavol memang lebih baik berada di dalam ikatan Strămoș itu agar tak terjadi hal-hal aneh lainnya. Dengan kata lain, Anhel dan Diavol mengawasi jalannya dunia, dan harus bereaksi jika Strămoș lain membuat kekacauan.

Selain itu, khusus bagi Diavol, ia merupakan boneka pribadi Sheol yang bertugas untuk menuruti segala keinginannya. Diavol diibaratkan menjadi tangan kanan Sheol, walaupun sebenarnya Diavol pun tak mau seperti itu. Hidup mempersulitnya dengan segala hal menyebakan.

Kini Anhel terdiam di depan jendela kaca. Cahaya rembulan menyinari wajahnya, menjadikannya berkilau dengan indah. înger masih belum sadar, dan Anhel hampir gila karenanya. Dunia seakan taman bermain mengerikan, yang terisi dengan tumpahan darah yang membuat para pejalan tergelincir dan pekikan memilukan.

Prang!

“Oh, God, what the hell it—“

“Maaf mengganggu, but there’s an urgent thing that I’ve to do here.”

Diavol menopang tangannya di lutut, merasa lelah dengan tekanan batin yang dialaminya—dan juga dengan apa yang baru saja ia lakukan. Anhel menatapnya malas. Mengenal Diavol sejak kecil membuat Anhel maklum dengan tingkah menyebalkan makhluk satu itu, entah saat ia masih manusia atau bahkan saat telah menjadi vampir.

Anhel menaikkan sebelah alisnya sembari mencibir, “Just telling you, there’s a useful stuff named door here. Demi Tuhan, Diavol, kenapa kau harus memecahkan kaca jendela seperti itu?!”

Tertawa kecil, Diavol hanya bisa membalas dengan gumaman yang bahkan angin pun tak dapat mendengarnya.

“Maafkan kami. Seluruh istana ini dimantrai dan hanya jendela yang tengah kau tatap ini yang bebas sihir,” ujar seorang pria yang tiba-tiba telah ada di samping Diavol. Anhel menepuk pelan keningnya. Ia lupa jika seluruh istana ditamengi sihir yang ia buat sendiri. Jenius, Anhel.

Who’s this guy?” Anhel meneliti penampilan pria itu dari bawah ke atas. Vampir baru, karena Anhel masih bisa merasakan darah manusia yang belum hilang sempurna dari tubuhnya.

He’s mine,” ucap Diavol seadanya, yang dihadiahi tatapan tak percaya dari Anhel. Sadar dengan apa yang terjadi, Diavol segera menggeleng dan melanjutkan, “Oh, hey, calm down. I mean, my Ergasist—“

“Apa kau lupa bahwa kau adalah Ergasist, Diavol? Bagaimana bisa seorang Ergasist memiliki Ergasist?! God, kill him now.” Anhel geleng kepala tak percaya dengan apa yang terjadi.

Diavol adalah manusia, dan ia diubah oleh Sheol. Ini gila, bagaimana bisa Diavol memiliki Ergasist dengan statusnya yang bukan darah murni?

Matanya berubah sayu, tatapannya lelah. “Sudah kubilang, aku ini boneka tentara milik Sheol yang dilengkapi persenjataan lengkap. Kekuatanku setara dengan darah murni, remember?”

Anhel memutar bola matanya dengan malas. Baiklah, he got the point of that hell shit. Anhel mengalihkan pandangannya pada serpihan kaca di lantai, dan sedetik kemudian kristal-kristal kecil itu melayang di udara, membentuk kumpulan lebar hingga kembali utuh menjadi kaca jendela. Pandangan Anhel kini kembali kepada Diavol dan pria di sampingnya. Oh, sepertinya Anhel kenal dengan orang itu.

“Kau Batial Huston, tabib kerajaan yang pernah mengabdi pada keluarga Sanders,” ujar Anhel datar dengan alis terangkat sebelah, menilik sekali lagi hingga ia yakin betul jika pria itu adalah orang yang dimaksud.

Orang yang dipanggil Batial tersenyum, “Ya, sebelum aku memutuskan kabur karena Sheol pernah hampir menancapkan taringnya di leherku.

Kini ganti Diavol yang memutar bola mata, “Sekarang namanya berubah menjadi Batial Athertons, dude.”

Batial terkikik kecil, begitu pula dengan Anhel. Agak lama mereka tertawa, sampai Anhel kembali menatap înger yang tidur dengan cantik. Bahkan pesona gadis itu masih tetap terlihat di saat seperti ini. Anhel menghampiri înger dan duduk di pinggir ranjang. Diavol dan Batial mengikuti dan berdiri di samping Anhel.

“Aku masih bisa mencium bau darah manusia dari tubuhnya. Transformasinya masih belum sempurna.”

Anhel membulatkan mata karena kaget. Ia menoleh mencari sumber suara, yang mana Batial hanya terdiam sambil memerhatikan tubuh înger. Diavol menatap Anhel dengan senyum bangga.

“Oh, kau merasa bangga karena berhasil menemukan blood controller dan mengubahnya menjadi Ergasist-mu?” tanya Anhel dengan wajah sebal, sementara Diavol hanya tertawa melihat kekesalan Anhel.

Tunggu, Anhel merasa ada yang ganjil di sini. “Jika kau tak mau Sheol mengubahmu, mengapa kau mau digigit oleh Diavol? Seratus persen, if I were you, I would choose Sheol than this weird guy. Seriously.”

Baru saja Diavol akan memuntahkan mantra penghancur untuk Anhel dari tangannya, Batial menengahi dengan înger sebagai bahan pembicaraan. “Aku merasakan ada yang aneh dalam tubuh înger. Aku hanya membutuhkan waktu tiga hari sampai benar-benar menjadi vampir. Namun bukankah ini sudah bulan ketiga înger tak sadarkan diri?”

Beruntung perkelahian konyol antara Anhel dan Diavol tak sempat bermula. Kini kedua orang itu terdiam, mencerna perkataan Batial yang memang sangat telak. Apa yang sebenarnya terjadi dengan înger?

“Mungkinkah…”

Diavol dan Batial serempak menoleh ke arah Anhel. Pria itu hanya mematung dengan sejuta tanya di kepala Diavol dan Batial. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang Anhel pikirkan tentang înger?

“Sheol benar-benar tak waras jika dugaanku benar, bahwa ia menanami înger dengan sebagian kekuatan besarnya. Ini gila! Aku yakin jika tubuh înger dilindungi mantra pengikat oleh leluhurmu, Diavol. Kini dua mantra itu berperang di dalam tubuh mungilnya.”

Diavol tanpa sadar menitikkan butir pertama air matanya, dan Batial syok hingga hampir terjungkal ke belakang.

“Dan hanya ada dua kemungkinan. Mati dengan tragis dalam damai, atau bangkit dengan segala rasa sakit yang akan menghantuinya selamanya,” lanjut Anhel yang tanpa sadar meraih jemari mungil înger, merasakan hawa dingin ekstrem yang menjalar dalam tubuh gadis itu.

0o0

“Leluhurmu menanamkan mantra pengikat pada Cheonsa tapi menelantarkanmu seolah kau tak ada. Mengapa bisa begitu?”

 

Pernah mendengar kisah tentang dewi surga yang turun ke bumi dalam wujud seorang gadis? Kakekku percaya bahwa înger merupakan gadis yang memiliki jiwa suci dalam dirinya.

“Maksudmu, Cheonsa adalah reinkarnasi seorang dewi?”

 

Tidak secara harfiah. Ia lahir di tahun yang oleh seluruh penduduk negeri percayai sebagai salah satu dari beberapa tahun di mana sang dewi akan turun ke bumi dan mendamaikan alam dari terbit fajar sampai terbit fajar esok harinya. Cheonsa lahir di tahun itu, dan otomatis semua orang percaya dengan mitos satu itu. Ditambah lagi fakta bahwa mata Cheonsa berwarna hijau padahal tidak ada gen dari kedua orangtuanya yang memiliki warna mata serupa. Hijau adalah warna kemurnian dalam sejarah negeri kami.

Lain hal juga, peramal kerajaan selalu mewanti-wanti Raja agar selalu menjaga istrinya kala hamil. Berbeda dengan ibuku yang hanya seorang Selir, kehamilan Ratu sangatlah diperhatikan oleh seluruh penghuni istana. Ibuku yang lebih tua dari Ratu turut menjaganya seperti adik sendiri.

Di bulan kedelapan kehamilan Ratu, semua penduduk negeri sangat bersyukur karena tak ada hal aneh apa pun yang terjadi pada beliau. Namun memori ini menghantuiku sejak beberapa hari aku diubah menjadi vampir.

Aku baru ingat, kala itu aku selalu melihat seorang pria berkeliaran di istana. Pria ini asing bagiku, namun aku hanya diam karena waktu itu aku masihlah seorang anak kecil yang polos. Saat aku menemani Ratu di kamarnya karena ibuku sedang membuatkan makanan untuk beliau, aku sangat sadar bahwa pria itu selalu memerhatikan Ratu dari sudut ruangan. Namun aku hanya diam, karena entah apa yang ada di pikiranku saat itu. Aku lebih memilih diam karena aku yakin bahwa hanya aku yang bisa melihat pria itu.

Dan saat ini aku baru sadar, bahwa pria asing itu adalah jiwa Luhan yang kala itu belum kembali ke tubuhnya. Luhan telah menandai Cheonsa bahkan sebelum ia dilahirkan.

“Ini sangatlah drama menurutku. Lalu bagaimana dengan Cheonsa? Apakah akhirnya ia bangkit dengan segala rasa sakitnya seperti dugaan Chanyeol?”

 

Cerita tentang kebangkitan ini dimulai saat seorang lain lagi hadir di antara kami. Putra kegelapan yang entah dari mana dan bagaimana caranya Sheol dapat menemukannya. Orang itu menguak satu misteri lagi yang sampai sekarang pun aku masih tak habis pikir.

Bagaimana seorang putri anggun—terlebih lagi itu adalah adikku sendiri—bermain-main dengan pisau yang disebut takdir, hingga aku mulai memercayai satu hal lain. Cheonsa memang benar-benar seorang dewi.

0o0

Langkah kaki menggema di setiap lorong. Berbelok ke kanan dan berdiri di pintu kedua dari ujung lorong, seorang pria dengan mata merah berkilaunya membuka pintu dengan sihir sederhana. Matanya menelanjangi seluruh ruangan, hingga menemukan gadis yang masih tertidur dalam mimpi panjangnya.

Sheol mendekat ke arah înger dengan langkah pelan. Tiga bulan mungkin menjadi terlalu lama bagi Sheol untuk menunggu, namun jika dibandingkan dengan kehidupannya yang panjang selama ini, mungkin tiga bulan hanyalah sebuah angka tak berarti kala ia mengetahui bayaran yang lebih besar menunggu di hadapannya.

Ia duduk di tepi ranjang, mengelus pipi înger yang kini sama dinginnya dengan kulit jemarinya. Terobsesi pada suatu hal memang membuat Sheol menjadi gila, namun mungkin inilah salah satu jalan hidupnya yang hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia bermula dan nantinya akan berakhir. Namun ini barulah awal dari sebuah kehidupan yang baru. Tentang cinta tak berdasar yang telah Sheol rasakan bahkan sebelum gadis itu lahir ke dunia.

Beralih ke lorong yang sebelumnya, Anhel bersama Diavol dan Batial berjalan menuju kamar înger tanpa mengetahui keberadaan seseorang di dalamnya. Batial adalah orang yang pertama kali sadar dan langsung berlari menuju kamar înger. Melihat Batial yang langsung menghilang di ujung lorong, Diavol ikut berlari mengejarnya sementara Anhel lebih memilih berteleportasi langsung ke kamar.

Benar saja, Batial mencapai pintu kala Anhel dengan mata birunya yang mengkilat memandang tajam Sheol, mencengkeram kerah kemeja hitam pria itu dan hampir saja mengeluarkan salah satu mantra pembunuhnya sebelum Diavol datang dan melerai mereka berdua.

“Minggir, Diavol, atau kau ingin mati sekarang juga,” ucap Anhel yang tengah bersiap menghabisi Sheol, sedang Sheol hanya tersenyum sinis menanti apa yang akan Anhel lakukan padanya.

Tubuh Diavol hampir meraih Anhel saat langkah kakinya terhenti tiba-tiba. Batial fokus menatap Diavol, menahan Master-nya itu agar tidak bertindak gegabah. Melihat Ergasist-nya yang hanya diam saja membuat Sheol bosan dan dengan sekali empasan tangannya berhasil membuat tubuh Anhel terpental dan hampir menabrak dinding.

Baru saja akan melayangkan sebuah ucapan sihir mematikan, jantung tiap orang dibuat kaget dengan suara batuk seorang gadis. înger terduduk di ranjangnya, mencengkeram selimut dengan kuat sembari terbatuk heboh. Dari mulutnya keluar darah cukup banyak dan wajahnya lebih pucat dengan aura dingin yang pekat.

Anhel dan Diavol membulatkan mata, Batial menilik aliran darah înger sementara Sheol menaikkan sebelah alisnya melihat înger yang seperti itu. Langkah kaki Sheol bagaikan dentang lonceng kematian bagi ketiga vampir lainnya. Sebelum yang lain berhasil menghentikan langkah Sheol, terdengar langkah kaki lain dari arah lorong.

Păzitor datang dengan tergesa, dan semakin terkejut kala melihat înger yang tengah kesakitan layaknya orang meregang nyawa. Ingin sekali Păzitor menghampiri înger dan bertanya apa yang membuatnya seperti itu, namun sayangnya ada hal lain yang lebih penting.

“Strămoș keenam telah ditemukan. Kalian akan kaget jika mendengar siapa dia. Hentikan perkelahian konyol ini dan cepatlah datang ke daerah barat. Arsyelan tak akan segan membunuh siapapun Strămoș yang tak datang.”

Hanya itu yang Păzitor katakan sebelum langkahnya terhenti oleh teriakan Diavol, “Bagaimana aku bisa menghadiri hal bodoh itu kala adikku tengah kesakitan di depan mataku?!—“

Sungguh, Păzitor ingin membentak balik Diavol karena mengatakan hal itu. “Kau pikir aku tak punya perasaan? Cepat datang atau kupenggal kepala kalian dan kugantung di balai istana!”

Anhel menatap tajam Păzitor dan Sheol bergantian. Diavol malah bergidik ngeri karena tak biasanya Păzitor yang ramah dan baik hati itu berubah menjadi iblis menyeramkan. Baru saja Diavol dan Anhel akan menghilang menuju daerah barat, Păzitor kembali muncul di ambang pintu dan menatap langsung dalam mata Batial.

“Kau juga ikut, Batial. Ragon telah memutuskan siapa Strămoș ketujuh tadi siang,” ujar Păzitor pelan, lalu matanya beralih pada Sheol yang hanya terdiam melihat tiga orang lainnya.

“Lakukan segala hal sesukamu, namun jangan harap ini akan bertahan lama. Aku muak melihat wajahmu. Dan kuperingatkan, jika kau menyakiti înger lebih dalam lagi, berdoalah, Sheol. Aku akan membunuhmu detik itu juga,” itulah kata terakhir Păzitor sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu dan keheningan kembali merajai malam.

Batial dan Diavol telah menghilang, disusul Anhel yang sebelumnya menatap Sheol yang tengah tersenyum miring ke arahnya. Setelah semuanya pergi, perlahan Sheol mendekati înger yang masih terbatuk hebat. Darah merah pekat mengotori gaun tidurnya. Sheol mengenal betul bau darah itu. Itu darahnya.

“Rupanya tubuhmu menolak darahku, ya? Baiklah kalau begitu.”

Sheol menggigit tangannya, mengisap darahnya sendiri untuk beberapa detik. Diraihnya dagu înger yang membuat Sheol sedikit tersentak. înger sangat berbeda saat ini. Kulitnya putih pucat, matanya sayu dan kelabu di saat bersamaan. Disentuhnya bibir pucat itu oleh bibirnya, mengalirkan kembali darah yang sebelumnya Sheol ketahui telah ditolak oleh tubuh mungil gadis di hadapannya.

Mungkin memang benar dugaan Anhel bahwa tubuh înger benar-benar mencoba sekuatnya untuk menolak racun milik Sheol. Namun vampir terkuat itu tak sebodoh yang diperkirakan semua orang. Sheol sudah memprediksikan hal ini dan ia telah menemukan solusinya.

Jika racun dalam darahnya tak dapat menembus pertahanan mantra dalam tubuh înger, maka Sheol akan menggunakan jalan memutar lainnya. Banyak jalan menuju Roma, jika pribahasa itu masih berlaku dalam dunia yang gelap ini.

Tangan sedingin es milik Sheol menyentuh kening înger, masih dengan pagutan di bibirnya. Mata înger yang seolah terbuka kini perlahan terpejam, kembali tak sadar dalam proses yang menurut Sheol mungkin tak lebih lama dibanding yang sebelumnya.

“Aku tak tahu sampai kapan ini berhasil. Tapi kurasa lebih baik mengunci mantra itu dalam jiwa terdalammu ketimbang menghilangkannya, bukankah begitu?” Sheol berbisik pelan pada înger yang kini kembali tertidur dalam mimpi panjangnya.

Sheol akan dengan setia menunggu, sampai înger yang sesungguhnya bangkit dan bersanding dengannya. Ya, walaupun suatu hari nanti înger akan kembali memberontak, setidaknya Sheol masih memiliki waktu yang cukup lama untuk memikirkan langkah selanjutnya.

Kita lihat saja apa yang nantinya akan terjadi.

0o0

“Kau akhirnya meninggalkan Cheonsa hanya berdua saja dengan Luhan? Menurutmu, apa yang pria itu lakukan?”

 

Aku tak yakin, tapi melihat kondisi Cheonsa saat ini, Luhan pasti mengurung—atau apalah namanya, aku tak terlalu peduli—mantra pengikat yang diberikan leluhur. Luhan cukup cerdas. Kekerasan tak akan pernah bisa menang melawan kelembutan. Karena musuh sesungguhnya setiap insan ialah kelembutan yang perlahan merangkak dan menusukmu dari belakang—atau bahkan menusukmu di depan matamu.

Intinya, Luhan berhasil mendapatkan Cheonsa dan aku merutuki kebodohanku selama ini. Bukankah kami kakak-adik yang malang?

“Oh, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Tapi, bukankah Jongdae tadi menyebut soal Strămoș keenam dan ketujuh?”

 

Ya, seperti yang telah disebutkan, Jinyoung dan Kris yang bertanggung jawab atas perekrutan Strămoș itu. Mereka menemukan Gikwang, yang telah kau tahu sejarahnya bahwa ia adalah Ergasist salah satu orang penting dalam peperangan. Ia putra kegelapan, dan Luhan berhasil mendapatkannya. Juga Yixing, ia menjadi Strămoș ketujuh walaupun aku tak tahu bagaimana caranya.

“Apa maksudmu… Luhan mendapatkannya? Artinya?”

 

Luhan mendapatkan lagi satu anak buah hebat yang bisa ia perdaya. Oh, dunia ini membuatku semakin gila dari hari ke hari. Mengapa aku tidak mati saja dan…

“Berhetilah bicara konyol, Junmyeon.”

 

Tidak, sungguh—maksudku—aku memikirkan sebuah kepingan puzzle yang hilang. Salah satu rangkaian kejahatan Luhan yang aku bersumpah sangat melaknat hal itu.

“Oh, Junmyeon, jangan bilang jika…”

Hell, bahkan Luhan telah mencoba mendekati Cheonsa sebelum kami semua—aku dan para vampir lain yang menyamar—mendekatinya. Luhan merasuki Gikwang. Gikwang yang dulu menjadi kekasih Cheonsa bukanlah diri Gikwang yang sadar dengan akal sehat. Itu adalah Luhan, dan aku benar-benar akan membunuh vampir tua itu dengan tanganku sendiri!

0o0

Tiga hari kemarin menjadi hari yang paling melelahkan bagi penghuni istana. înger benar-benar bangkit bagaikan dewi kematian. Hawa dingin menyelimuti kamarnya, benar-benar tak terkontrol lagi seandainya saja Batial dan Anhel tidak berkolaborasi untuk menghentikan kekacauan yang înger sebabkan. Mengamuk bagai monster, sungguh mengerikan.

Sheol benar-benar berhasil menguasai înger, dan tak ada satu orang pun yang bisa menghentikannya. Hingga hari ini tibalah saatnya. Pernikahan yang sempat tertunda. Hari ini akan menjadi puncak segala perang batin yang mengikat hati setiap orang.

înger, bagaikan seorang dewi kini tengah menatap pantulan dirinya di hadapan cermin besar. Gaun putih tanpa lengan dengan aksen pitanya yang panjang menyapu lantai, namun tak ada senyum yang terlukis di bibir merahnya.

Hatinya mati, segalanya mati seiring tubuhnya yang mungkin tak akan pernah dimeriahkan oleh detak jantung dan desiran darah lagi. Semuanya kaku, bak boneka porselen dalam etalase.

Kulitnya tak lagi putih susu, alih-alih pucat walaupun tak mengurangi kecantikannya. Hal itu justru membuatnya terlihat angkuh. Putri angkuh yang kehilangan kehidupannya yang damai.

Matanya kelabu, begitu pula dengan rambut panjangnya yang menyentuh pinggang. Ia tidak mengikat helaian panjang itu, membiarkannya terurai dengan dua jepit rambut lili putih di kedua sisi wajahnya. Segalanya kontras dengan mata hijaunya juga rambut pirang gadingnya yang menawan. Segalanya berubah. Mengerikan.

înger selalu membayangkan kesempurnaan hari pernikahannya bahkan sejak masih berusia enam tahun. Membayangkan dirinya berjalan menuju altar dengan seorang pria yang tersenyum menanti kedatangannya, menyambut jemarinya dan berdiri di sampingnya kala mengucap janji di hadapan Tuhan. înger seharusnya sangat menantikan hari ini, namun semuanya terlambat. Kecewa pun tak akan membuahkan hasil berguna.

Pintu terbuka, menampakkan pria tinggi dengan setelan putihnya. Rambut kemerahan dan tak luput dari perhatian kilauan mata birunya. Anhel menghampiri înger yang masih mematung memandangi cermin. Memesona, namun kaku dan mengenaskan di saat bersamaan. Melihat pantulan tubuh Anhel yang berdiri di belakangnya membuat înger membulatkan matanya sekilas, namun kembali normal di detik kemudian.

“Aku tahu ini sulit bagimu. Aku pun sebenarnya heran dan tak mengerti dengan jalan pikiran Sheol. Mengapa ia membiarkan penikahan ini berlanjut dan tak membuat kekacauan apa pun? Aku dan Diavol masih memikirkan hal itu,” Anhel menatap înger sekilas sebelum melanjutkan, “kurasa ada yang tak beres di sini. Namun karena kita sudah sejauh ini, aku ingin mengatakan sesuatu.”

Anhel membalik tubuh înger, memeluk pinggang kecil gadis di hadapannya. înger kembali membulatkan matanya kala bibir dingin itu mengecup keningnya, yang entah mengapa memberikan kenyamanan tersendiri baginya.

“Tak peduli dengan apa yang direncanakan vampir sialan itu, mulai saat ini aku akan menjanjikanmu sesuatu,” kini Anhel sepenuhnya menatap dalam mata înger, begitu pula sebaliknya.

“Aku mungkin tak bisa menjanjikan kebebasan atau rasa aman bagimu. Aku mungkin tak bisa mengembalikan kehidupanmu menjadi normal seperti dulu. Tapi, aku menjanjikan ketulusan dan segala cinta untukmu. Percaya atau tidak, kau adalah gadis yang membuat setiap makhluk ingin mencintai dan melindungimu, kautahu?”

înger ingin menangis, namun entah mengapa ia tak sanggup. Ia hanya menatap mata pria di hadapannya semakin dalam. Mungkin tak ada degupan jantung yang saling berpacu dalam kasus ini, namun înger percaya, ketulusan memiliki caranya tersendiri untuk muncul dan melingkupi suasana, bagaimanapun itu.

“Karena sudah sejauh ini, aku hanya bisa menjanjikan dua hal. Mencintaimu setulus hati, dan melindungimu segenap jiwa. Apakah itu cukup?”

Senyum Anhel tak pernah semanis ini sebelumnya, dan înger tahu hal itu. Wajah dingin dan angkuh yang biasa Anhel tunjukkan, kebijaksanaan dan wibawa sebagai pemimpin pun tak Anhel perlihatkan saat ini. Hanya wajah seorang pria normal yang ingin bahagia, ya begitulah kira-kira.

“Jadi, înger Naloudi Athertons, maukah kau menikah denganku?”

0o0

“Uh, bukankah Chanyeol sangat romantis?”

Tentu, bahkan aku ikut menangis saat mendengar Cheonsa yang terisak hebat dalam pelukannya. Bahkan kami semua yang mendengar merasa terharu dan—

“Kau menguping—tidak—KALIAN mencuri dengar dari balik pintu?! Gila, hm?”

 

Hey, kaupikir siapa yang punya ide agar Chanyeol menghampiri Cheonsa yang seperti mayat hidup hanya berdiri kaku di depan cermin? Tentu saja aku dan Yixing. Oh, dan Jongdae juga ikut mendengarkan semuanya.

“Baiklah. Tapi, aku jadi memikirkan satu hal. Bagaimana dengan Luhan? Ia membiarkan segalanya terjadi? Apa ia gila? Lalu mengapa dia mengubah Cheonsa jika hanya untuk membiarkan gadis itu jatuh dalam pelukan pria lain?! Dia sungguh gila, ya Tuhan aku—“

 

Ini semua masih sebagian kecil cerita dari segala yang terjadi. Ah, kurasa cukup sampai di sini dulu. Sepertinya Cheonsa akan segera datang kemari.

Namun ingatlah, ini baru permulaan. Ini barulah awal dari segala hal-hal aneh yang terjadi. Apakah kau tidak penasaran dengan Strămoș terakhir? Lalu Sehun…

Ah, kurasa ini benar-benar sampai di sini. Cheonsa telah masuk dan kini tengah menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti. Kuharap kau cukup bersabar karena mungkin aku tak akan bisa menjawab semua pertanyaanmu saat ini, tidak setelah aku harus melewati malam yang pastiya penuh dengan air mata.

FIN

Side story yang pertama selesai. Abis ini lanjut ke chapter 10 ya, tapi kedepannya masih banyak lagi side story yang sejenis ini, jadi perhatikan alurnya baik-baik ya, hehe. Happy reading^^

Iklan

56 thoughts on “Revival of The Mad Emperor: The Princess of Darkness Part 2 – END (Seonsaengnim’s Reveal of Story)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s