A Twist in My Story (Chapter 6)

11 ATIMS new

Title : [Chapter 6] A Twist in My Story

Author : Seijurossi (@chantyolk)

Cast : Cho Soyeon (OC), Byun Baekhyun, Kim Jongin, Park Chanyeol

Other Cast : Seo Sangmi (OC)

Genre : AU, School Life, Romance, Humor, Friendship, Family

Rating : PG-15

Length : Chapter

Disclaimer : Pure of her imagination. Casts are belong to God and themselves. She doesn’t own and surely not claiming them as hers.

Summary : Setiap orang pasti memiliki lika-liku dalam hidupnya. Bagaimana jika dalam sehari muncul dua orang yang membuat kehidupanmu berubah drastis?

(Pernah dipublish di blog WP pribadi author http://hellosillo.wordpress.com )

Chapter Six: Who’s That Girl?

Cho Soyeon Point of View

 

Aku selalu ingat. Dulu setiap kali aku merasa sedih akan sesuatu, aku selalu beranjak menuju tempat itu.

Tempat yang penuh dengan kenangan semasa kecil, bersama mereka. 

Saturday’s morning

Hari ini adalah minggu kedua hari Sabtu dimana sekolahku libur. Hal ini dikarenakan karena ada penilaian kinerja guru, jadi semua siswa diliburkan. Ini merupakan situasi yang sangat jarang karena sekolahku hanya sekolah pada umumnya yang mengusung enam hari masuk. Beda dengan sekolah Jongin. Karena dia bersekolah di sekolah seni jadi setiap Sabtu libur.

Seharusnya hari ini pun Jongin libur, tetapi kudengar dia sedang ada latihan ‘khusus’ jadi tetap masuk pada hari Sabtu. Apapun itu sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Asal dia tidak menggangguku itu sudah sangat cukup.

Hari ini aku sendirian. Appa dan Eomma dua-duanya sedang pergi ke Busan, menghadiri acara kantor Appa. Lagi. Jadi aku berpikir apa yang bisa kulakukan seharian ini?

Oh, bukannya kemarin-kemarin Sangmi sempat berkata padaku bahwa dia ingin mencoba kafe baru di daerah Myeongdong? Ide bagus. Lagipula aku yakin Sangmi tidak akan mempunyai acara lain hari ini. Jadi aku segera menanyakan tentang hal itu kepada Sangmi.

Yosh. Dia setuju. Kami akan pergi sekitar pukul sebelas. Aku harus bersiap-siap dari sekarang!

Saat akan menuju kamar mandi tiba-tiba aku teringat akan mimpi semalam. Aku bermimpi tentang tempat itu. Sebelum-sebelumnya aku tidak pernah bermimpi akan hal itu. Jadi aku bertanya-tanya, mengapa sekarang?

Ah, ya. Kalau dipikir-pikir, sudah cukup lama aku tidak pergi ke tempat itu. Jadi kuputuskan untuk pergi ke tempat itu sebentar sebelum bersiap-siap menuju ke tempat Sangmi. Kulangkahkan kakiku menuju ke taman yang ukurannya cukup mini, terletak persis di depan rumahku dan rumah Chanyeol. Taman itu sudah dibangun sebelum aku pindah ke rumahku, jadi usianya sudah cukup tua. Meski begitu kami tidak pernah khawatir karena setiap minggu selalu ada petugas taman yang mengurusi kebersihan dan keindahan taman tersebut.

Yang membuat taman itu begitu spesial bagiku adalah karena disitu terdapat pohon besar, di mana tempat itu berada.

Aku mendongak. Kupandangi sebuah rumah kecil yang terletak di atas pohon besar itu. Rumah kecil yang terbuat dari kayu itu masih nampak sama seperti dulu. Ya, tempat yang kumaksud adalah rumah kecil ini. Aku tersenyum. “Sudah lama tidak kemari.”

Aku semakin mendekati rumah itu. Merasakan nostalgia. Aku teringat ketika rumah kecil ini pertama kali dibangun ketika aku masih SD. Ada Park Ahjussi—Appa Chanyeol, yang bertugas untuk membangun. Sementara aku, Chanyeol, dan—

…eh?

Aku terus menatap rumah kecil itu. Waktu itu… ada siapa lagi? Aku seperti mengingat sesuatu. Sebersit percakapan terlintas di kepalaku.

‘Pokoknya sampai kita besar harus sering-sering bermain di sini, ya!’

‘Tentu saja, kita bertiga.’

Kurasakan pundakku ditepuk oleh seseorang. Aku menoleh, ternyata Chanyeol.

“Tumben kamu kemari.” Chanyeol menatapku sambil memamerkan cengiran lebarnya. Ah, kalau dipikir-pikir, sudah cukup lama aku tidak berbicara dengan Chanyeol seperti ini.

“Mhm, tiba-tiba saja kepikiran. Sudah lama tidak melihat rumah kecil ini,” jawabku.

Chanyeol tersenyum. “Cukup lama ya? Dulu kita sering bermain di sini.”

“Iya…” aku teringat sesuatu kemudian menatap Chanyeol. “Yeol, kamu ingat? Sewaktu rumah kecil ini dibangun oleh Park Ahjussi, di sini ada siapa saja? Ada aku, kamu, lalu—?

Hanya sekilas, tetapi kulihat senyuman Chanyeol memudar. Dia tidak berkata apapun.

Aku tertunduk. Mungkin percuma menanyakan hal ini kepada Chanyeol. “Aneh ya, rasanya beberapa ingatanku hilang ketika aku masih SD.”

Aku mendongakkan kepalaku lagi. Kali ini sinar matahari mulai silau, jadi aku menutupi mataku. Aku melihat tangga tua yang terpasang di sepanjang batang pohon besar itu. Tangga ini dulu sering digunakan untuk jalan masuk menuju rumah kecil. Kusentuh perlahan tangga tua yang sudah mulai lapuk ini.

‘Soyeon, jangan—‘

‘Nggak apa, Yeol. Ini nggak berbahaya.’

‘AWAS!’

Aku melepaskan tanganku dari tangga tua itu cepat. Detak jantungku seketika meningkat. Lagi-lagi sebuah ingatan yang tidak kumengerti. Apa… apa yang kulupakan?

“Yeon?” aku melihat Chanyeol menatapku khawatir. Aku memutuskan untuk bertanya kepadanya lagi mengenai ingatan yang baru saja terbesit di kepalaku.

“Chanyeol, apa benar dulu aku pernah terjatuh dari tangga ini?”

Chanyeol terkejut akan pertanyaanku. Tetapi lagi-lagi tidak berkata apapun. Dia terlihat bingung. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu.

“Eh, Soyeon, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu—“

“Jawab saja!” bentakku. Aku merasa perlu untuk mengingat ini semua. Tidak mungkin yang barusan adalah khayalanku semata, karena semuanya terlihat nyata. Kurasa semuanya pernah kualami. Dulu.

Chanyeol memalingkan wajah. Masih tidak berkata apapun. Aku menghela napas pendek. Kurasa dia memang tidak ingin membicarakannya sekarang. Aku tidak bisa memaksanya.

Aku menepuk pelan pundak Chanyeol. “Ya sudah, aku kembali ke rumah dulu, Yeol. Aku ada janji dengan Sangmi.”

Mungkin bukan saatnya Chanyeol memberitahuku sekarang.

~A.T.i.M.S~

Normal Point of View

“Memikirkan apa?”

Soyeon tersentak. Semenjak dari rumah kecil, Soyeon selalu melamun terus. Soyeon mengibaskan tangannya. “Nggak kok, Sangmi,” bantahnya.

“Hmm,” Sangmi melirik Soyeon, tetapi Soyeon mencoba untuk mengalihkan pandangannya. “Pasti ada apa-apa,” kata Sangmi, menyeruput minumannya dengan tenang.

Soyeon tidak ingin berkata apapun. Sahabatnya memang selalu peka jika menyangkut dirinya. Walaupun biasanya Soyeon selalu menceritakan semua masalahnya, tetapi kali ini dia ingin menyimpan untuk dirinya terlebih dahulu.

Sepertinya Sangmi mengerti. Jadi dia langsung mengalihkan topik. “Oh ya, bagaimana kencanmu dengan Baekhyun waktu itu?”

Soyeon yang sedang meminum minumannya langsung terbatuk-batuk. “Ap—apa?”

Sangmi tersenyum jail. Wajah Soyeon langsung memerah. “Itu bukan kencan! Aku hanya, kita hanya…. pergi bersama.”

“Ya, ya, aku tahu. Pergi bersama = kencan. Bukankah begitu?”

Soyeon langsung menghela napas. “Apa itu terlihat seperti kencan?”

“Yup. Kurasa Baekhyun benar-benar menyukaimu,” Sangmi menyeringai lebar. Langsung ditepis oleh Soyeon. “Tidak mungkin, dia hanya bersikap baik padaku.”

“Kurasa tidak hanya itu. Aku dengar dari Sehun, sewaktu SD Baekhyun naksir kamu.”

“Eh?” Soyeon menautkan alis. Sehun itu juga salah satu teman SD Soyeon, tetapi beda kelas.

Sebenarnya Soyeon sudah mulai termakan oleh perkataan Sangmi. Tetapi dia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Semua yang berhubungan dengan Baekhyun entah mengapa selalu membuatnya bingung. Apalagi karena terkadang Baekhyun selalu membicarakan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya. Seolah dulu pernah terjadi banyak hal antara mereka.

Sangmi memperhatikan Soyeon yang sudah tenggelam dalam pikirannnya sendiri. Dia hanya bisa tersenyum geli melihat Soyeon yang serius memikirkan perkataannya. Wajar. Selama empat tahun mengenal Soyeon, baru pertama kali dia didekati oleh cowok selain Chanyeol. Sangmi tidak tahu ketika Soyeon masih SD, sih. Tetapi mendengar Sehun berkata padanya waktu itu membuat dirinya bisa mempercayai Baekhyun.

Setidaknya Sangmi tahu bahwa Baekhyun tidak akan mengecewakan Soyeon.

Kim Jongin akhirnya melangkahkan kakinya ke tempat itu lagi.

Setelah terakhir kali dia pergi bersama perempuan itu untuk pertama kalinya. Saat itu dia memutuskan untuk melakukan apapun agar perempuan itu tersenyum padanya, sekali lagi. Meski keadaan tidak bisa kembali seperti dulu persis.

Jongin berhenti di depan toko yang penuh dengan kilau perhiasan itu. Seketika dia ingat perkataan Luhan dulu ketika berada di rumahnya.

‘Kau yakin? Kurasa dia tidak akan senang melihatmu seperti ini.’

Jongin mengepalkan tangannya. Dia tahu. Sangat tahu. Tetapi ada perasaan dalam dirinya yang ingin menolak semua kenyataan itu. Dan perasaan itu terus menghantuinya.

“Permisi, apa Anda ingin masuk ke dalam sini?” seorang sales dari toko itu menyadarkan Jongin dari lamunannya. Dia mengangguk kecil kemudian beranjak memasuki toko tersebut.

“Ah, kurasa saya ingat wajah Anda,” sales yang mengajak Jongin masuk kemudian berbicara lagi. “Dulu Anda sempat kemari juga, bukan? Walaupun hanya melihat-lihat dari etalase depan.”

Jongin mengangguk kecil lagi. Kali ini agak heran. Tidak menyangka ada yang masih mengingat wajahnya. Terakhir kali dia kemari itu sekitar… entahlah.

Yang jelas, itu adalah hari terakhir dia bisa bersama dengan perempuan itu.

“Ah, Soyeon, kamu mau aku antrikan krepe?” Sangmi menunjuk satu penjual krepe di pinggir jalan. Itu adalah krepe favorit Soyeon sejak dulu dan hanya dijual di daerah Myeongdong.

Mata Soyeon langsung berbinar. “Kapan aku berkata tidak pada krepe itu? Tentu saja! Kamu baik sekali~ Sangmi ~” Soyeon bergegas memeluk Sangmi erat. Yang dipeluk berusaha untuk melepaskan pelukan paksa Soyeon. “Lepaskan, Soyeon, ini mulai terasa tidak nyaman.”

Soyeon melepaskan pelukan untuk Sangmi kemudian menyengir lebar. Sangmi membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan. “Ini karena tadi kamu sudah mentraktirku di kafe, jadi kurasa sedikit balasan kecil tidak masalah.” Kemudian Soyeon memeluk Sangmi untuk yang kedua kalinya.

“Terima kasih Sangmi-ku! Kamu memang sahabatku yang ter~baik!”

“Iya, iya, sudah. Kamu tunggu disini. Aku mau mengantri dulu.” Sangmi berlari kecil menuju penjual krepe yang dimaksud. Soyeon memutuskan untuk melihat-lihat beberapa toko yang berderet di kawasan Myeongdong. Soyeon termasuk jarang bermain ke daerah Myeongdong. Walaupun dia tinggal di Yongsan—yang jika dipikir-pikir cukup dekat dengan Myeongdong, tetapi Soyeon termasuk jarang berpergian.

Ketika Soyeon akan melangkahkan kakinya ke dalam toko kosmetik, matanya menangkap seseorang yang tidak asing lagi, sedang berjalan sendirian. Menuju ke arahnya.

Kim Jongin.

Reflek Soyeon bersembunyi di balik panel toko. Dalam hatinya heran. Kenapa Jongin yang katanya sedang ada latihan khusus bisa ada di sini? Soyeon melihat Jongin sedang membawa plastik berisi kardus suatu barang. Apa dia habis belanja sesuatu? Pikir Soyeon.

Jongin terlihat sedang berjalan tanpa tujuan. Tetapi pandangannya fokus pada sesuatu. Soyeon yang penasaran mengikuti arah pandang Jongin. Kemudian tertuju pada dua orang yang sedang berjalan tidak jauh dari Jongin.

Dua orang. Perempuan dan laki-laki. Sedang berjalan bersama. Jemari tangan masing-masing tampak saling bertautan satu sama lain. Hanya dilihat sekilas Soyeon sudah tahu bahwa mereka berdua adalah pasangan kekasih.

Tetapi kenapa Jongin…? Soyeon dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Jongin lagi. Raut wajahnya terlihat sangat kesal dan penuh dengan kekecewaan. Jongin terlalu sibuk memerhatikan kedua orang tersebut sampai tidak menyadari bahwa Soyeon hanya berjarak dua meter dari tempatnya sekarang.

Perhatian Soyeon turun menuju barang yang dipegang Jongin. Walau hanya samar-samar, tetapi Soyeon sudah bisa menebak apa isi barang tersebut—terlihat dari plastik luarnya yang bertuliskan suatu brand yang cukup terkenal.

Buat apa? Dan kenapa? Berbagai pertanyaan mulai melanda pikiran Soyeon. Bahkan sampai dia kembali pulang ke rumah.

At home

Setelah kejadian tadi, Soyeon bisa merasakan perilaku Kim Jongin berubah.

Soyeon tidak berkata apapun kepada Jongin bahwa dia sempat bertemu dengannya di Myeongdong. Lagipula ekspresi Jongin sudah cukup menunjukkan bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Ketika makan malam hari ini, Jongin tidak berbicara sepatah kata. Satu-satunya kalimat yang dia ucapkan hanya: ‘aku lelah’ dan itu pun untuk menjawab pertanyaan Appa.

Soyeon kerap berpikir pasti ada hubungannya dengan kejadian yang dia lihat tadi. Karena terlalu penasaran dengan apa yang terjadi, diam-diam Soyeon memasuki kamar Jongin. Tentu saja Soyeon memilih waktu yang tepat. Dia masuk kamarnya ketika Jongin sedang mandi. Bisa didengar dari suara shower yang menyala di kamar mandi.

Soyeon tertegun melihat kamar Jongin. Meski sudah cukup lama dia tinggal bersama Jongin, ini baru yang keduakalinya Soyeon memasuki kamarnya. Yang pertama tentu saja sewaktu Soyeon sedang dikerjai oleh Jongin, yang pada akhirnya dia disuruh untuk membersihkan semua kamar di rumah mereka.

Perlahan Soyeon melangkahkan kakinya seraya melihat seluruh isi kamar Jongin. Cukup berantakan. Tetapi tidak terhitung sebagai kapal pecah. Agak mengejutkan mengingat wajah Kim Jongin yang terlihat seperti anak pemalas.

Kemudian Soyeon sadar akan sesuatu. Buat apa dia kemari? Karena penasaran? Hanya berada di kamar Jongin tidak cukup untuk membuatnya puas akan pertanyaannya. Jadi Soyeon memutuskan untuk keluar dari kamar.

‘Prak’. Soyeon menghentikan langkahnya. Dia menjatuhkan sebuah pigura foto. Secepat mungkin Soyeon harus mengambil pigura tersebut dan mengembalikannya di tempat semula sebelum Jongin selesai mandi. Tetapi yang terjadi justru Soyeon bergeming melihat foto yang terpajang di figura tersebut.

Foto seorang perempuan yang tidak Soyeon kenal. Sedang melihat ke samping dengan senyuman. Dilihat dari cara pengambilan, pasti ini foto yang diambil secara diam-diam.

Soyeon melihat tulisan kecil di pojok kiri pigura tersebut.

Yoo Jisoo.

‘Jisoo tidak akan senang melihatmu seperti ini.’

Percakapan antara Jongin dan Luhan yang tidak sengaja didengar oleh Soyeon waktu itu teringat kembali. Perempuan itu menyadari di sebelah pigura tersebut ada plastik barang yang dibawa oleh Jongin tadi.

Plastik itu berisi kalung bermerk terkenal, Soyeon sudah tahu itu. Kali ini dia berpikir sesuatu. Apa kalung itu untuk seorang bernama Jisoo ini?

Tidak ada suara shower yang terdengar di kamar mandi. Kemudian ketika pintu kamar mandi sudah mulai terbuka, Soyeon segera keluar dari kamar Jongin. Untung saja dia tidak tertangkap basah sedang berada di kamar Jongin.

Dengan langkah hati-hati, Soyeon kembali ke kamarnya yang terletak di hadapan kamar Jongin. Pikirannya masih tertuju kepada pigura, kalung, dan perempuan bernama Jisoo.  Sudah pasti Jisoo adalah orang yang disukai Jongin. Tidak mungkin menyimpan fotonya jika tidak menyukainya. Begitu bukan?

Dalam hati Soyeon masih tidak percaya. Seorang Kim Jongin yang selama ini selalu menyebalkan baginya, bisa menyukai orang lain.

Soyeon mulai menyadari ternyata ada banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Jongin. Ini sudah nyaris dua bulan Jongin menjadi Oppa barunya tetapi mereka berdua belum terlalu akrab. Bahkan saling bercerita mengenai diri masing-masing saja tidak pernah. Soyeon mengerti hari-hari Jongin selalu sibuk dengan aktivitas sekolahnya, jadi dia tidak dapat berbuat banyak akan hal itu.

‘Drrt drrt.’

Itu adalah KakaoTalk dari Chanyeol. Soyeon kembali terpikir akan kejadian tadi pagi di rumah kecil bersama Chanyeol. Memang tadi pagi sikap Chanyeol sangat aneh. Apa mungkin dia akhirnya mau mengatakan yang sebenarnya terhadap Soyeon?

 PCY92: Yeon, maaf terdengar mendadak. Tapi bisa kita bertemu nanti malam di tempat biasa?

Dugaan Soyeon benar.

2 pemikiran pada “A Twist in My Story (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s