Present Unreal (Chapter 4)

5 preun1q

PRESENT UNREAL

 (Into Your World)

| Author : Hyuuga Ace |

| Genre : Romance, School-life, Fantasy, AU| Length : Multichapter | Rate : PG |

|Main Cast : Min Heejin (OC), Kim Jongin (EXO), Oh Sehun (EXO),  Park Chanyeol (EXO), Min Heejin (OC), Choi Shinyeong (OC) | Other Cast : EXO Members and OCs |

|Desclaimer : Plot’s story and original character are mine, do not plagiarism. Thank you|

Summary :

Dia seseorang yang tidak pernah kutemui dan juga seseorang yang tidak pernah kuketahui kebaradaannya. Dia hanyalah semacam delusi, ya delusi… Karena dia memang tidak ada.

Dia adalah sebersit ingatan dalam alam mimpiku yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun..

Aku mencintainya.

Song : t Yoon Mirae ‘Touch Love’ & ‘I’ll Listen To Your Story’

 

///

Seorang gadis kecil dengan boneka beruang di tangannya berlarian kecil ke arahku yang sudah menunggunya di bawah pohon oak. Aku tersenyum lebar ketika melihat gadis itu menghampiriku dengan wajah cerianya. Hari ini dia tidak menangis..

Oppa!”

Oppa, di sini.” 

BRUGG

Seperti biasanya gadis kecil itu lantas menerjangku dengan pelukan hangat yang sangat ku rindukan. Kuusap lembut kepala gadis kecil itu, aroma dari shampoo-nya selalu menjadi favouriteku. Cherry.

“Senang rasanya kau tidak dalam keadaan menangis ketika bertemu lagi denganku.”

Gadis kecil itu menarik wajahnya dari dadaku dan menengadah. Mata bulatnya yang indah dan jernih menatapku geli.

“Heejin bertemu dengan teman yang baik. Namanya Jo Minhye, dia seumuran Heejin. Tapi dia sangat dewasa, dia selalu melindungi Heejin kalau teman- teman yang jahat mulai menjahati Heejin lagi.”

Aku bisa melihat ketakutan itu lagi di matanya, ketakutan yang menghantui kehidupannya sejak 3 tahun lalu. Bahkan setahun pertama sejak kejadian itu, anak ini kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Tapi dalam alam mimpinya, setiap kali aku bertemu dengannya ia selalu menangis. Seakan- akan itulah satu- satunya hal yang ingin ia lakukan di dunianya.

Menangis.

Menunjukan pada dunia bahwa ia juga memiliki perasaan.

Tapi ia tidak bisa karena mulutnya yang terkunci rapat. Kemudia aku teringat bahwa aku tidak pernah bertemu dengan orang lain yang memiliki masa kecil semenyakitkan anak ini.

Lewat cerita- ceritanya, kuketahui bahwa ibunya meninggal karena seorang paman jahat –aku tidak tahu siapa dia karena Heejin tidak pernah menceritakan apakah ia kenal atau tidak dengan si paman jahat. Tapi yang pasti, kurasa paman jahat itu memiliki gangguan jiwa karena membunuh seseorang sebaik Heejin eomma. Ibu anak ini, dia pasti adalah orang yang sangat baik. Aku yakin, karena anaknya adalah anak yang benar- benar baik.

Tapi semua orang menyatakan bahwa Heejin eomma bunuh diri, bukannya dibunuh. Itu yang membuat Heejin yang sudah terpuruk dan ketakutan semakin hidup dalam kegelapan yang menaunginya seakan- akan itu adalah untuk selamanya.

Lalu dua tahun setelah itu, Heejin bisa kembali berbicara. Sebuah kemampuan yang dikembalikan padanya, namun seakan belum cukup dengan penderitaan.. kemampuan lain justru diambil darinya.

Ingatannya akan ayahnya.

Mengapa anak ini melupakan keberadaan ayahnya? Apakah satu- satunya cara untuk mengangkat sedikit dari luka hatinya adalah melupakan salah satu dari alasan mengapa ia terluka?

Karena Heejin telah melupakan ayahnya, sekarang hanya tersisa akulah yang tahu kebenaran soal Min Heechul –ayah Heejin.

Sebelum Heejin melupakan ayahnya, sekali dalam waktu yang panjang.. ia pernah bercerita bahwa ayahnya meninggalkannya sendirian di rumahnya yang kosong tepat setelah ibunya meninggal dunia, lelaki itu tidak pernah kembali lagi. Dan rupanya hal itu benar- benar mengguncang jiwa Min Heejin. Tentu saja..

Anak kecil mana yang bisa menanggung luka dan derita seperti anak ini?

Ibunya dibunuh tepat di depan matanya –bahkan dia melihat pelakunya, orang- orang malah membully-nya karena cerita bohong tentang ibunya yang bunuh diri, kemudian seakan belum cukup. Dia kehilangan kemampuannya untuk berbicara, membuatnya harus menanggung sendirian kebenaran yang sebenarnya.

Dan kemudian, satu- satunya orang yang seharusnya bisa mengembalikan keceriaannya, justru pergi dan menghilang. Ayahnya.

Tapi aku bersyukur, karena aku –seperti takdir, bertemu anak ini. Karena hanya akulah  satu- satunya temannya yang mendengar semua cerita dan kesedihannya. Dan karena aku bertemu dengannya, dia kembali bisa berkomunikasi.

Walau harus lewat alam mimpi semacam ini. Setidaknya alam bawah sadarnya tahu bahwa ia tidak sepenuhnya kesepian. Masih ada seseorang yang mau mendengar ceritanya dan bermain bersamanya.

Aku.

“Jo Minhye…”

Gadis kecil ini kembali membuka mulutnya dan seperti biasanya, aku hanya menatapnya lembut sambil mendengar semua ceritanya. “Dia percaya padaku ketika aku bilang bahwa eomma tidak bunuh diri.”

“Kau harus menjaganya dengan baik. Dia calon sahabat terbaikmu di masa depan, Jinie-ya.”

“Tentu saja! Tidak banyak yang Heejin punya di dunia ini, eomma yang menyayangi Heejin juga sudah direbut begitu saja sama si paman jahat.” Dia lagi- lagi tidak mengatakan soal ayahnya. “Tapi ketika Heejin akhirnya bisa mendapatkan sesuatu yang berarti di hidup Heejin, Heejin tidak mau membuangnya begitu saja.”

Aku tersenyum. Anak ini… dia akan tumbuh menjadi anak yang sangat cantik dan luar biasa baik hati di masa depan. Apakah aku masih bisa menemaninya hingga nanti?

“Begitupun denganmu, oppa!”

“Aku?”

“Heejin tidak tahu siapa sebenarnya oppa. Tapi oppa selalu ada untuk Heejin sejak kejadian itu, oppa mau mendengarkan semua cerita Heejin. Jadi oppa adalah salah satu orang yang paling berarti di hidup Heejin.” Kenapa anak ini bisa begitu tulus dan jujur di saat yang bersamaan?

Kenapa dia harus menatapku seakan- akan aku adalah alasan kenapa dia masih bisa tersenyum hingga saat ini?

Apa yang sudah kulakukan padanya?

Aku hanya mendengarkan ceritanya.

“Lebih dari apapun, oppa sudah menjadi sahabat terbaikku.”

Heejin berdiri dan memberikan sebuah kecupan ringan di pipi kananku. Membuatku merasakan perasaan itu lagi.

Perasaan yang seharusnya hanya dimiliki seorang manusia. Bukan jiwa tanpa tubuh sepertiku.

Perasaan ingin melindungi seseorang.

Aku hanyalah sebuah jiwa yang tidak jelas bagaimana bentuknya, tidak memiliki nama, tidak memiliki kehidupan. Tidak memiliki apapun yang berarti atau sesuatu untuk diperjuangkan.

Kami hanyalah kaum yang mengisi mimpi- mimpi dari manusia. Kami menemaninya selama ia terlelap lalu membuatnya melupakan kami ketika ia terjaga. Kami tidak lebih dari sesuatu yang biasanya kau sebut dengan… penjaga mimpi.

Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa ingin seseorang mengingatku ketika ia hidup di dunianya. Aku ingin dia mengingatku. Dan yang paling penting, aku ingin hidup di dunianya dan menjaganya. Melindunginya dari berbagai macam derita yang mungkin saja akan ia alami di masa depan.

Karena perasaan itulah…

Suatu saat aku berhenti menghapus ingatannya akan sosokku dalam alam mimpinya. Hari itu adalah ketika ia sudah mulai tumbuh sebagai remaja yang sangat cantik dan menyenangkan.

Musim panas 5 tahun yang lalu.

Aku tidak tahu kenapa seseorang dengan luka yang ia tanggung seumur hidupnya, bisa hidup dengan begitu baik dan bahagia…

Di atas semua lukanya, ia tersenyum bahagia.

Apakah kau tahu betapa cantiknya ia saat ia tersenyum? Betapa menyenangkannya kepribadiannya?

Apakah aku boleh berharap bahwa alasan kenapa ia bisa hidup baik seperti sekarang adalah diriku?

Ketika aku berhenti menghapus ingatannya padaku, aku memiliki semakin sedikit waktu untuk bertemu dengannya. Itulah peraturan bagi kaum kami. Dulu saat ia masih kecil, aku bisa bertemu dengannya kapanpun dan selama apapun. Tapi mulai saat itu? Aku hanya bisa bertemu dengannya selama 4 kali dalam setahun.

Dan aku memang sengaja memilih setiap pergantian musim sebagai saat bagiku untuk bertemu dengannya. Tapi tidakkah kau tahu itu sedikit banyak menyiksaku? Karena sepertinya ada perasaan lain selain perasaan ingin melindungi yang mulai merayapi diriku.

Aku ingin selalu bertemu dengannya.

Apalagi setelah aku tahu bahwa dia menyukaiku. Bagaimana mungkin ia bisa menyukaiku? Aku bahkan bukanlah makhluk nyata! Kenapa ia menyukaiku?

Dia tidak bercanda ketika ia mengatakan bahwa ia menyukaiku. Jinie-ku tidak bercanda.

Dan aku tahu dia tersiksa lagi karena adanya perasaan itu.

Kau tahu semenjak mengenal dirinya, hal yang paling kubenci dan kutakutkan adalah ketika ia mulai menangis. Dan karena perasaan konyolnya pada makhluk tidak jelas sepertiku, ia menangis lagi.

Sejak saat itupun aku memutuskan…

Min Heejin. Jinie-ya. Kau membuatku meninggalkan duniaku dan datang ke duniamu.

Agar kau bisa berhenti menangis.

>>>Author’s PoV<<<

“Maaf, Nyonya. Anakmu dan sahabatnya kecil kemungkinan untuk bisa bertahan hidup. Kecelakaan yang mereka alami terlalu berat, semua alat vital mereka bahkan bisa dikatakan mati apabila tanpa bantuan alat medis.”

Kim Yuri masih ingat persis kata- kata dokter padanya saat itu. Kata- kata yang sempat membuat jiwanya terasa kosong selama lebih dari 2 bulan. Dia hampir frustasi dan berencana mencabut semua alat medis yang menyokong kehidupan anaknya dan sahabat dekatnya.

Kim Jongin –anaknya yang ia sayangi lebih dari apapun di dunia ini. Dan Oh Sehun –sahabat anaknya yang ia bantu juga kehidupannya dengan alat medis itu.

Sehun tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini karena orang tuanya telah meninggal dunia saat ia masih berusia 10 tahun. Saat Sehun mengalami keterpurukan itulah, anaknya bertemu dengan namja itu, menjadikannya sahabat sejatinya.

Yuri tahu, kalau ia tega mencabut alat medis pada tubuh Sehun. Anaknya pun akan berhenti untuk bertahan hidup. Dia akan kehilangan anaknya juga. Dan dia tidak mau.

Entah ada ikatan apa antara kedua anak itu, tapi mereka saling menyayangi selayaknya mereka adalah sepasang saudara kembar.

Hingga pada sebuah malam yang sangat panjang bagi Kim Yuri. Jongin dan Sehun –seperti keajaiban yang hanya ada di dalam cerita dongeng- terbangun dengan sendirinya dari tidur panjangnya. Itu aneh, bahkan secara kedokteraan pun hal itu amat teramat mustahil.

Tapi rupanya Tuhan telah mendengar doa- doanya selama ini.

Anaknya yang sangat ia kasihi dan sahabat yang sangat anaknya sayangi, telah bangkit dari kematian. Dan sampai detik ini pun Yuri tidak bisa mempercayainya bahwa anaknya telah kembali ke pelukannya.

Namun sayangnya…

Yeoja paruh baya itu merasakan ada sesuatu yang aneh juga terjadi dalam hidupnya.

Setelah kesembuhan Jongin dan Sehun yang dirasa sangat tidak wajar, Kim Yuri –dia tidak bisa lagi mengingat bagaimana Jongin dan Sehun di masa sebelum kecelakaan itu terjadi. Kenangan- kenangan mereka selama mereka kecil, ia melupakan semuanya. Bahkan bagaimana sifat dan kenakalan yang sering mereka timbulkan pun ia lupakan sedalam- dalamnya. Ingatan masa lalunya akan kedua anak itu hanya sebatas Sehun yang yatim piatu di umur 10 tahun dan Jongin yang menjadi sahabatnya sejak saat itu.

Apakah ini pertanda untuknya? Bahwa ia adalah manusia lemah yang tidak boleh menuntut banyak hal kepada sang pemilik kehidupan?

Jongin telah kembali hidup, tapi ia melupakan bagaimana Jongin sebelum kecelakaan itu.

Terkadang ia merasa begitu hampa –apalagi setelah ia menyutujui dengan sangat mudahnya ketika mereka meminta untuk tinggal di apartemen dan terpisah dari dirinya. Tapi ia perlu bersyukur akan satu hal, perasaan sayangnya terhadap kedua anak itu tidak hilang… masih begitu nyata dan hidup.

Tidak mudah hilang seperti ingatannya akan mereka dulu.

Memang, seseorang tidak mudah menghilangkan perasaan mereka dibandingkan dengan apapun –ingatan sekalipun.

Eomoni!”

Yuri terlonjak dari lamunan panjangnya. Bola matanya bergerak gusar mencari dari arah mana pemilik suara riang itu berasal.

“Aku di sini, eomoni.” Berbalik, ternyata anak itu sudah berada tepat di belakangnya dengan sebuket bunga di kedua tangannya. Astaga dia manis sekali..

“Kau membawa bunga, eoh?”

“Asther biru. Kesukaanmu.”

Terkejut, Kim Yuri mulai merasa tersentuh. Tidak banyak orang yang tahu apa bunga kesukaannya. Bahkan suaminya yang sudah meninggalkannya pun tidak mengetahuinya. “Kau mengetahuinya?”

“Tidak ada hal yang tidak keketahui.” Kedipan nakalnya membuat Yuri ingin sekali membawa namja itu ke dalam pelukannya. Membuatnya merasakan bahwa ia memiliki anak lain selain Jongin yang siap untuk diberikan cinta yang mendalam.

“Oh Sehun, terima kasih, sayang.”

Oh Sehun.. sahabat anaknya itu. Kim Yuri tidak ingat bahwa ia ternyata lebih dekat dengan anak ini daripada anaknya sendiri.

Bahkan setelah pindah apartemen, Jongin tidak pernah lagi mengunjunginya…

Sementara Sehun hampir mengunjunginya setiap hari.

“Jangan berpikiran jelek tentang Jongin, eomoni. Dia juga sangat menyayangimu lebih dari apapun.”

Tersenyum tulus, yeoja itu membawa Sehun ke dalam pelukannya. “Terima kasih, Sehunnie.”

Eomoni?” Sehun melepas pelukannya setelah hampir semenit dan mengeluarkan sesuatu dari jaket kulitnya. Selembar foto. “Boleh aku bertanya sesuatu?”

Yuri mengangguk dan Sehun langsung menanyakan apa yang ia ingin tanyakan. “Apakah Jongin pernah mengenal yeoja dalam foto ini?”

///

“Jadi bagaimana?” Membanting setir ke kanan, Jongin mengarahkan mobil mahalnya ke jalanan lain yang lebih lengang di banding jalanan yang sedari tadi ia lewati. Kemacetan adalah masalah manusia yang paling membuatnya pusing.

“Ibumu tidak tahu kalau Jongin mengenal Heejin.”

“Dia tidak berbohong?”

Suara dengusan dan gumaman tidak percaya lolos dari mulut Sehun. Bagaimana bisa si bodoh ini menanyakan hal itu padanya? “Kau lupa aku bisa membaca pikiran orang lain?! Tidak ada yang bisa membohongiku!”

Benar juga.. “Kalau begitu apakah kau ingat untuk membuka ingatan masa lalunya, maksudku bagian apakah ia tahu hubungan Jongin dan Heejin.”

“Aku tidak sebodoh itu, Kim Jongin. Dan bisakah pembicaraan kita tidak memusingkan seperti sekarang? Kau memiliki nama Kim Jongin sekarang.. lalu kau menanyakan Jongin. Jongin dan Jongin. Pusing tahu!”

Berdecak sebal karena Sehun harus mengeluhkan soal panggilan yang memusingkan, Kai memilih jalan tengah. “Panggil aku Kai mulai sekarang, dan aku akan membuat semua orang juga memanggilku dengan nama itu. Puas?”

Bersiul, Sehun merasa salah satu misi temannya itu sudah terpenuhi. “Nama bagus dari siapa itu?”

“Entahlah, tercetus sendiri dari mulut Jinie.” Komentar Kai cepat sambil menekan pedal rem dengan kakinya. Cih! Di sini juga macet.

“Kai..”

Mwo?!” Masih setengah kesal dengan keadaan jalanan, namja itu tidak memperhatikan nada murung di balik panggilan Sehun.

“Aku tahu kita sama- sama dalam keadaan sulit. Dan kemampuan kita membuat segalanya jadi lebih mudah. Tapi kita tidak bisa mengatur perasaan seseorang seperti kemauan kita, Kai.”

“Ada apa?”

“Sesekali temuilah ibumu, tapi tolong… jangan pengaruhi apapun kehendaknya. Ketika ia ingin memelukmu, biarkanlah. Ketika ia ingin mengatakan padamu betapa ia sangat menyayangimu, biarkanlah. Dia adalah yeoja yang sangat baik… kau tahu setiap kali aku bertemu dengannya dan membaca pikirannya. Aku selalu merasa bersalah.. aku telah menghapus semua ingatan bahagianya dengan Jongin dan Sehun yang asli dari ingatannya.” Sehun berhenti sejenak. “Dia tidak pantas mendapatkan hal itu.”

“Sehun-ah..”

“Aku tahu, Kai. Kita memiliki tujuan masing- masing datang ke tempat ini, tapi kita meminjam tubuh manusia yang ada di sini. Dan manusia itu memiliki orang- orang di sekitarnya yang menyayanginya.” Jongin eomma, contohnya. Sehun tidak pernah melihat cinta yang lebih besar dibanding cinta ibu pada anaknya. Kim Yuri kepada Kim Jongin.

“Kim Jongin dan Oh Sehun yang asli… sudah tiada.”

Kai menutup matanya, mengingat saat di mana jiwa Kim Jongin dan Oh Sehun berjalan bersama keluar dari jalur kehidupan mereka. Mereka sudah berada di sisi lain dari kehidupan. Jiwa mereka sudah meninggal. Dan 2 jiwa dari dunia mimpi yang segera mengambil alih tubuh mereka. Menyelamatkan tubuhnya agar tidak mengikuti jejak jiwa dan rohnya.

“Tapi hanya kita berdua yang tahu bahwa mereka sudah meninggal.”

Sehun benar.

“Jadi kau mengerti, kan apa maksudku? Walaupun kita hanya berada di dunia ini dalam 3 bulan. Kumohon buatlah Kim Yuri bahagia dalam 3 bulan itu. Sebelum kita kembali ke dunia kita dan meninggalkan dua tubuh ini kosong tanpa jiwa di dunia.” Tubuh kita akan mati dalam 3 bulan. Dia akan meninggalkan Heejin lagi setelah 3 bulan.

Kai tidak ingin kembali ke dunianya. Dia ingin bersama Heejin di dunia ini dan jadi manusia yang memiliki keterbatasan. Bukan jiwa yang tidak pernah mati seperti yang dimilikinya dulu.

Pikiran ini… selalu tidak pernah ia pikirkan apabila berada di dekat Sehun. Karena ia tahu, temannya itu ikut datang ke tempat ini salah satunya karena sebuah alasan :

Membawa jiwa Kai kembali ke dunia mereka berasal setelah 3 bulan.

Sehun pernah kehilangan seseorang di dunia tempat mereka berada ini. Belahan jiwanya –seseorang yang memiliki kemampuan sama dengannya, memanipulasi ingatan orang lain. Yeoja itu berjanji akan kembali padanya setelah 3 bulan berada di dunia. Tapi yeoja itu tidak pernah kembali.. sampai sekarang.

Hingga Sehun sedikit merasa trauma akan hal itu. Dia tidak mau sahabatnya juga pergi meninggalkannya setelah 3 bulan. Maka dia ikut ke tempat ini.

“Sehun-ah, kalau ternyata kau bertemu lagi dengan Aeri di dunia ini… apakah kau akan memilih jalan yang sama dengan yang dipilih Aeri bertahun- tahun yang lalu?” Para penjaga mimpi seperti Sehun dan Kai tidak memiliki nama di dunia mereka. Tapi mereka bisa mendapatkan sebuah nama ketika belahan jiwa mereka memberikan nama itu kepada mereka.

Sehun memberikan nama belahan jiwanya … Aeri.

Tapi yeoja itu tidak pernah memberikan Sehun nama sebelum kepergiannya ke dunia.

Sampai detik ini pun sebenarnya Kai dan Sehun sama- sama tidak tahu alasan kenapa Aeri sampai perlu pergi ke dunia dan kenapa ia tidak kembali lagi dalam 3 bulan –membuat semua akses untuk kembali tertutup dan membuatnya jadi manusia selamanya.

“Kai… manusia di dunia ini. Apakah kau tahu berapa jumlahnya?” Sehun tertawa pahit. “Apakah ada kemungkinan bahwa aku akan menemukan Aeri dalam 3 bulan? Jangan lupakan fakta bahwa aku tidak tahu seperti apa wujudnya di dunia ini. Mungkin?”

Kai terdiam. Dia bisa merasakan kefrustasian sahabatnya. “Kalau aku menemukannya. Mungkin aku akan mempertimbangkan pemikiran yang selalu kau tutupi dariku selama ini.”

Sehun, tahu?

“Tentu saja aku tahu. Menjadi manusia selamanya…”

“Sehun-ah, bukan maksudku –“

“Kau jatuh cinta dengan anak kecil itu, Kai. Aku tahu. Anak kecil yang sekarang sudah tumbuh menjadi remaja cantik itu sudah mengambil hatimu. Karena itu kau bahkan rela melakukan apapun untuk bersamanya.”

Jatuh cinta. Apakah aku pantas mencintai Min Heejin?

“Aku pernah dan masih mencintai seseorang, aku tahu perasaanmu.”

“Jadi apakah kau akan membiarkanku berada di sini?”

“Tidak.”

Kai menutup matanya. Suara Sehun sekarang bukanlah suara yang bisa diganggu gugat. Ia sudah memutuskan, dan itu yang akan ia lakukan.

“Kecuali aku menemukan Aeri. Mungkin aku akan berhenti memaksamu kembali.”

///

“Apa yang sedang kau lakukan, bro?” Suara Minhye terdengar dari sambungan telepon dan ketika itulah Heejin sampai di ruang tari yang selam 2 hari sudah dijadikannya tempat melatih tubuh robotnya agar bisa lolos KKM untuk test senam lantai hari  Selasa nanti.

“Berusaha keras agar bisa ikut liburan bersama keluargamu.”

Hening sejenak dan Heejin memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik matras yang berada di ujung ruang tari ke tengah- tengah ruangan.

“OH!”

Slow responding sekali, Jo Minhye. “Sudah paham?”

“Sepertinya kau berlatih keras.”

Mengangguk kecil, Heejin melihat  dari kaca kedatangan pelatihnya datang dari arah koridor barat. “Saking kerasnya aku berlatih, aku jadi lupa memberitahumu siapa yang selama ini melatihku.”

“Kau tidak menyewa pelatih lumba- lumba untuk membantumu bukan? Kuingatkan saja kau bukan lum –“

“Kau sudah gila yah.” Tandas Heejin tanpa perasaan. Kenapa juga pembicaraan mereka sampai ke pelatih lumba- lumba segala. “Sudah yah, kututup dulu. ‘Pelatihku’ sudah datang. Annyeong!”

“HEY! Katakan dulu siapa pelatih –“

BIPP

Annyeong… K..Kai.” Sapa Heejin kikuk saat namja itu sudah memasuki ruangan. Hari ini namja itu kelihatan santai dengan kaos V-neck berwarna biru tua dan jeans berwarna abu. Tapi yang membuatnya kelihatan sedikit berbeda adalah gaya rambutnya. Heejin tidak ingat namja itu pernah menaikan poninya ke atas selain hari ini. Biasanya rambutnya malah terkesan acak- acakan.

“Kenapa begitu gugup?” Kai menyisir penampilan Heejin dari atas sampai bawah. Yeoja itu lagi- lagi memakai celana training –namun bedanya sekarang sepanjang ¾, dan kaos kebesaran yang sebenarnya lebih cocok dipakai untuk tidur daripada bertemu dengan seorang namja.

Apakah yeoja ini tidak menganggapnya sebagai seorang namja?

Hell, kalau iya ia akan sangat tersinggung.

Sesungguhnya Kai sudah cukup berusaha untuk terlihat acuh tak acuh di depan yeoja yang menjadi alasan mengapa ia harus sampai datang ke tempat ini. Dia benar- benar ingin memeluknya dan mengatakannya, bahwa ia sudah di sini. Kau sedang bertemu dengan seseorang dalam mimpimu.

Sayangnya… aturan nomor satu tentang para penjaga mimpi adalah untuk tidak menunjukan identitasnya kepada siapapun. Apalagi manusia.

Kalau sampai Heejin tahu dia adalah penjaga mimpi yang disukainya, Kai tidak yakin orang- orang di dunianya akan membiarkannya berkeliaran di dunia manusia secara bebas. Ia akan dipaksa pulang  melalui pintu hitam dan prosesnya akan terasa menyakitkan.

Dia tidak takut akan rasa sakit itu, ia lebih takut rasa sakit karena ia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Min Heejin. Jinie-nya. Karena sekali kau melewati pintu hitam itu, tandanya kau sudah melanggar aturan utama. Dan kau tidak berhak lagi datang ke mimpi siapapun.

“Kai!”

“AH NE?!” Kai terlonjak kaget dan pikirannya tentang pintu hitam enyah seketika.

“Kau melamunkan sesuatu? Bola matamu sampai berubah hitam semua saking kosongnya pikiranmu, tahu?!” Dengus Heejin sambil menyipitkan matanya pada namja di hadapannya ini. Tanpa ia sadari, jarak di antara mereka menjadi begitu dekat. Dan percayalah ketika kukatakan bahwa seorang Kai baru saja menahan napasnya dalam- dalam.

Tidak bisakah ia menjadi dirinya sendiri? Tidak bisakah ia menunjukan bahwa ia sangat menyayangi yeoja di hadapannya ini?

Haruskah ia menjadi orang lain untuk membuat yeoja ini menyukainya dan melupakan perasaannya pada sosok dalam mimpinya yang adalah dirinya sendiri?

Kenapa ini semua begitu rumit?

 “Jinie-ya..”

DEG

Kenapa aku merasa pernah mendengar hal ini sebelumnya?

“Apakah kau pernah mengenalku sebelum sekarang?”

Ne?!”

Secara teratur, Min Heejin berjalan mundur. Baru saja ia merasa seakan- akan familiar dengan cara namja itu memanggilnya, tiba- tiba dia dikejutkan dengan pertanyaan aneh. Mengembalikan akal sehatnya, ia menggeleng tegas.

“22 Maret. Pertama kali kita bertemu.”

Kai terdiam sesaat sebelum mengangguk ringan. “Geurrae.”

Yeoja ini tidak mengenaliku sebagai sosok dalam mimpinya –tidak atau belum?

Dan yeoja ini juga tidak pernah mengenal Kim Jongin yang asli. Lalu pertanyaannya, kenapa Jongin memiliki fotonya? Apa yang Kai lewatkan di sini?

Kaja! Kita harus membuatmu lolos dari test senam lantai.” Kai meregangkan otot- ototnya dan berjalan ke arah matras di tengah ruangan. Sementara Heejin masih berdiam diri di tempatnya.

“Kai… kenapa kau mau membantuku?” Suara yeoja itu terdengar ragu, tapi matanya memancarkan rasa penasaran yang menurut Kai membuat yeoja itu semakin terlihat lucu.

“Kenapa yah?”

“Iyah, kenapa?”

“Kau menanyakan alasanku?”

“Hmm..”

“Apakah butuh alasan untuk membantu seseorang?”

Ah dia benar.

“Aku tidak bisa membaca pikiranmu –tidak ada yang bisa lagipula. Tapi dari rautmu kau baru saja menyetujui perkataanku.” Kai menepuk matras dan tersenyum cerah ke arah Heejin. Yeoja itu pernah bilang kan kalau senyuman namja ini… sangat menyenangkan? Ia bisa saja jatuh cinta pada, senyumannya.

“Ternyata kau orang baik, Kai.”

Sebuah tawa geli meluncur dari mulutnya dan seketika Heejin merasakan kehangatan yang cukup aneh. Dia merasa familiar lagi. Tapi dia tidak tahu apa yang harus dibandingkan untuk menjawab anomalinya sendiri? Apa dan apa yang familiar? Siapa dan siapa?

“Apa yang kau pikirkan?”

“Aku juga tidak tahu apa yang kupikirkan.” Aku Heejin jujur sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa dia jadi kikuk begini di hadapan seorang namja? Tidak biasanya.

GREP

“Kemarilah.” Lalu seakan- akan tubuhnya adalah robot dan Kai baru saja menekan remote controlnya, tubuh Heejin berjalan sendiri mengikuti tangan namja itu yang memegang pergelangan tangannya. Dia juga tunduk di bawah remote control bernama Kai ketika namja itu membungkukan tubuhnya dan mengatur posisi tubuhnya secara sempurna untuk melakukan roll depan.

Lalu dia berguling.

Dan anehnya… dia berhasil secara mulus dan tepat.

Benar, Min Heejin. Kau sekarang mendapatkan sebuah kunci untuk lolos test besok lusa. Pikirkanlah seakan- akan tubuhmu bergerak sesuai arahan Kai. Namja berkulit tanned itu adalah remote controlmu. Jangan pikirkan yang lain, lakukan saja seperti yang sudah diprogramkan remote controlmu.

Lalu kau akan bisa melakukannya.

“Wow! Hari ini kau sudah banyak kemajuan, tidak sia- sia aku mengorbankan akhir pekanku untuk membantumu di sini.” Puji Kai sambil memberikan dua jempol tangannya untuk Heejin. Yeoja itu hanya tersenyum.

“Sekarang aku tahu kuncinya agar berhasil melakukannya. Ternyata hal- hal seperti ini bukan ditentukan oleh fleksibilitas tubuh saja. Melainkan pikiran seseorang juga. Selama ini aku selalu berpikiran banyak hal –aku tidak bisa, aku takut, aku akan cidera, dan lain sebagainya-, jadi aku tidak pernah bisa. Tapi beberapa saat yang lalu aku memutuskan untuk tidak berpikir apapun dan bergerak hanya sesuai petunjuk dari remote controlku.”

“Remote control?”

“Kai, kau remote controlku bukan?”

///

Hari Selasa yang mendebarkan bagi seorang Min Heejin telah tiba. Setelah bekerja keras selama akhir pekan. Akhirnya ia bisa juga melakukan semua gerakan dengan mulus –walau tidak sempurna juga. Tapi dengan peningkatan ini, dia pasti bisa lolos standar minimal.

Dia sedang berganti pakaian menjadi seragam olah raganya ketika ia melihat Kai juga keluar dari ruang ganti pria bersamaan dengannya keluar dari ruang ganti wanita yang berada di seberangnya. Oh yah catatan, di Chonguk siswa dan siswi memiliki jam olah raga yang sama namun diajar oleh guru yang berbeda. Seorang guru namja dan yeoja. Materi yang diajarkannya pun berbeda. Jadi mereka pasti tidak seruangan ataupun setopik pembahasan setiap kali ada pelajaran olah raga.

“Kai!”

Kai menoleh padanya dan Heejin tersenyum lebar. Sepertinya semenjak ia bisa melakukan salah satu hal yang menurutnya paling tidak mungkin ia lakukan, ia jadi lebih sering tersenyum. Terutama kepada pelatihnya ini.

“Kalau aku lolos standar minimal –lagipula hanya itu sih targetku, aku berjanji akan menraktirmu makan siang di mana pun kau ingin. Eotte?”

Namja itu menyeringai kecil sebelum menyetujui imbalan hasil kerja keras membimbing yeoja itu. Sebenarnya ia tidak butuh imbalan, tapi yang ia butuh adalah waktu berdua bersama Min Heejin. “Call. Jangan ingkar janji yah, Jinie-ya.”

Mengusap puncak kepala yeoja itu secara singkat, Kai kemudian berbalik kembali dan berjalan ke arah Sehun dan teman- teman namjanya yang memanggilnya. Sementara Heejin membeku di tempatnya.

Perlakuan macam apa itu?

Kenapa kedua pipinya mendadak memanas?

///

Kai dan Sehun sedang berjalan ke arah lapangan futsal outdoor yang berada di halaman belakang sekolahnya yang luas. Ketika tiba- tiba Sehun menghentikan jalannya dan wajahnya terlihat kosong. Cirinya ketika ia sedang konsentrasi membacakan pikiran orang lain.

Ah aku lupa memberitahu Hang songsaengnim kalau ruangan tari tidak bisa dipakai oleh kelasnya karena ada keperluan mendadak yang harus dikerjakan tim tari di sana. Mungkin dia akan menggunakan aula. Tapi aula juga sedang dipakai rapat pengawas komite sekolah. Mungkin dia akan mengadakan kelasnya di atap mengingat atap merupakan salah satu tempat di sekolah yang sama luasnya dengan ruang tari atau aula. Perlukah aku mengeceknya?

“Kai..”

Mwo?”

“Siapa nama guru olah raga para yeoja?”

“Hang Boyung.”

Ah sialan! Kenapa juga aku harus iseng membaca isi pikiran orang- orang yang sedang berlalu lalang?! Dan disitu juga terdapat pikiran karyawan yang bertugas mengatur pemakaian ruangan di sekolah ini! Aishhh.. Sehun mengutuk dalam hati.

“Dengar. Jangan lakukan apapun, Kai. Aku tahu kalau kau akan melakukan sesuatu. Tapi..” Sehun tidak sengaja menggantungkan ucapannya. Menimbang apakah ia harus mengatakannya atau tidak.

“Katakan, Oh Sehun! Ada apa?! Apa yang kau ketahui?!”

Tapi percuma juga berbohong pada Kai. Akhirnya Sehun memilih untuk mengatakannya saja.

“Aku tahu dari pikiranmu kalau Heejin tidak pernah berani menginjak atap atau ketinggian di mana pun. Tapi sekarang Hang songsaengnim sepertinya memutuskan untuk menjadikan atap sebagai tempat mereka berolah raga hari ini.”

Cih benar kan!

Sahabatnya ini sudah lebih dari pada kata freaking out. “K..kau.. bilang.. a..APA?!”

“TENANG DAN JANGAN LAKUKAN APAPUN!” Sehun membentak Kai karena baru saja ia mendengar apa yang mau dilakukan namja ini untuk mencegah Heejin sampai di atap.

“Ada rapat pengawas komite hari ini! Kau tidak boleh mengacaukan keadaan dengan mengatur semua kehendak orang- orang di sini.” Kai masih kelihatan freaking out dan Sehun menggeram. “KAI!”

“APA??! Yeoja itu takut sekali dengan atap!!” Sehun terdiam karena otaknya yang tiba- tiba menyuruhnya untuk membantu sahabatnya membuat yeoja itu tidak sampai ke atap.

“KAU KETERLALUAN KAI! KAU MELAKUKAN HAL ITU JUGA PADAKU!”

Lalu sebelum Kai melakukan hal gila lainnya karena tanpa ia sadari, mereka sudah mulai berlari ke arah atap. Sehun segera menghapus ingatan Kai akan apa yang baru saja ia katakan.

Kai memang memiliki kemampuan untuk membuat orang- orang berkehendak sesuai dengan kehendaknya. Tapi Sehun memiliki 2 kemampuan yang membuatnya mampu menghentikan Kai.

Membaca pikiran dan memanipulasi ingatan seseorang.

“Apa yang kau lakukan?” Kai terlihat lebih tenang dan mereka berdua sudah berhenti berlari. Sehun menghela napas lega. “Sehun kau baru saja melakukan sesuatu padaku.” Desis Kai tajam.

“Ya, Kai. Aku terpaksa. Tapi kau tidak bisa memaksaku mengembalikan ingatanmu akan sesuatu itu, karena kau bahkan tidak tahu apa yang mau kau lakukan tadi. Sekarang kumohon tenanglah.” Pinta Sehun dengan nada frustasi karena Kai terus mencoba untuk memengaruhi kehendaknya. Tapi kemampuannya tidak akan bekerja ketika ia sendiri pun bingung akan kehendaknya sendiri.

“Kembalikan ingatanku, Oh Sehun!” Kecaman Kai membuat Sehun menghela napas.

“Andai kau bisa membaca pikiranku. Sekali saja. Agar kau mengerti hal yang kulakukan padamu adalah yang terbaik untuk semuanya. Heejin-mu bisa melewatinya, kau seharusnya percaya padanya.” Sehun mulai melangkahkan kakinya kembali ke arah lapangan futsal.

“Aku akan mengembalikan ingatanmu sekitar 2 jam lagi. Bersabarlah.”

///

“Sialan, Oh Sehun!”

Berlari gusar, Kai membuat semua orang minggir dan tidak menghalangi jalannya menuju atap. Dia bahkan tidak ingat tubuh manusianya yang kelelahan karena bermain futsal selama 2 jam. Ketika Sehun mengembalikan ingatannya tepat setelah 2 jam –yang berarti jam olah raga telah berakhir-, namja itu merasakan kekalapan yang ia lupakan karena ulah sahabatnya itu.

Apakah Heejin baik- baik saja?

“Aku takut ketinggian oppa. Tubuhku akan menggigil dan kebas ketika aku berada di ketinggian. Terutama atap –aku bahkan tidak pernah naik ke atap rumahku sendiri sejak saat itu.”

Bayangan- bayangan Heejin kecil di mana ia menangis sambil mengatakan ia takut tempat tinggi malah memenuhi otaknya dan membuatnya semakin panik.

Menaiki puluhan tangga menuju atap, Kai mulai merasa kakinya ngamuk padanya. Namun sesungguhnya ia tidak peduli. Ia benar- benar berharap bisa berteleportasi sekarang.

BLAM

Membuka kemudian membanting pintu atap secara kasar, Kai menemukan yeoja itu sendiri di tempat itu. Sedang meringkuk di atas matras. Keadaan yeoja itu tidak tampak… baik- baik saja.

“JINIE-YA!!”

>>>Heejin’s PoV<<<

Aku benci ketinggian.

Aku benci atap.

Aku takut terjatuh apabila berada di tempat seperti ini.

Tapi tidak ada yang tahu hal itu. Aku bahkan tidak pernah menceritakannya pada Minhye. Aku hanya akan selalu mengelak dan menolak dengan berbagai alasan agar aku tidak berada di tempat sejenis ini.

Sayangnya, hari ini aku harus menghadapi ketakutanku sekali lagi. Bersamaan dengan test yang sangat ingin kulampaui. Aku tidak tahu bagaimana hasil test-ku tadi, hanya tubuhku yang gemetaran hebat yang kuingat.

Tempat ini outdoor sehingga angin membuat rambut- rambutku bertebaran, dan untuk pertama kalinya aku pun takut melihat rambutku yang bergerak sendiri karena tiupan angin.

2 jam aku tersiksa di tempat ini, semua orang mencemaskan keadaanku –tapi aku tidak bisa mengatakannya. Fakta bahwa aku sangat ketakutan sekarang. Kenapa aku tidak bisa mengatakannya?!

Lalu setelah semua orang pergi, aku memaksa diriku sendiri untuk berbicara.

“A.. aku yang.. a..kan mem…bawa turun matras.” Masih teringat jelas bagaimana suaraku  yang bergetar bahkan di telingaku sendiri. Minhye akan membantuku tapi tiba- tiba seseorang dari komite menyuruhnya segera berganti pakaian dan datang ke rapat di aula karena para pengawas meminta beberapa pekerjaannya yang harus dipresentasikan. Ia harus memilih antara aku atau komite dan aku harus membuatnya memilih komite. Sehingga aku berkata aku baik- baik saja.

Sesungguhnya.. aku tidak baik- baik saja.

Kakiku bergetar hebat dan aku takut terjatuh di tangga kalau kupaksakan berjalan –itulah alasan kenapa aku meminta diri membawa matras, sehingga aku yang terakhir turun dari sini. Aku memilih mendekam dalam ketakutanku sendiri di tempat ini. Meringkuk seperti seorang bayi di atas matras.

Dalam hati aku berharap seseorang menemukanku dan membantuku berjalan tanpa harus menanyakan alasan kenapa aku terlihat seperti ini.

Dan orang itu belum juga datang..

Sebenarnya siapa yang kuharapkan?

“JINIE-YA!!!”

Namja itu…

Seseorang menarik tubuhku, memaksa kakiku bangkit, dan memelukku dalam kehangatan yang sangat kurindukan. Aku sudah gila sekarang… karena aku baru saja merasakan bahwa dia ada di sini.

“Kau datang. Kenapa kau baru datang sekarang?!”

TES TES

Lalu aku menangis lagi, sekencang dan semenyedihkan tangisan yang selalu kutahan seumur hidupku. Aku tidak tahu bagaimana bisa gadis kecil seperti diriku mengalami begitu banyak hal dan tidak menangis di dunia nyata. Bahkan ketika eommaku meninggal tepat di hadapanku pun aku tidak menangis, aku malah membisu. Sepanjang satu tahun lamanya.

“AKU TAKUT!!!! AKU TIDAK MAU BERADA DI ATAP!!!”

“Jinie-ya, uljima. Maafkan aku.” Suaranya terdengar lembut membuatku semakin ingin berteriak kencang. Melampiaskan ketakutan dan amarahku yang terpendam seakan- akan untuk selamanya.

OPPA!!!!! KAU TAHU AKU TIDAK BISA BERADA DI SINI!! KAU SATU- SATUNYA ORANG YANG TAHU, TAPI KENAPA KAU TIDAK MENOLONGKU?!!!!”

“Aku tidak akan lagi membiarkanmu seperti ini, aku berjanji, Jinie-ya.”

Oppa.. hiks… hikss…”

Setelah waktu yang cukup panjang, aku melepaskan pelukannya dan menengadah untuk melihat wajahnya. Sepasang mata hazel menatapku sedih. Membuat akal sehatku kembali secepat roller coaster bergerak.

Oppa.. siapa yang baru saja kupanggil oppa?

Di hadapanku sekarang bukanlah namja itu.

Seseorang yang memelukku sedari tadi dan membisikan kata- kata yang seharusnya dikatakan dia untukku. Memanggilku dengan cara familiar itu…

Kai.

TO BE CONTINUE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s