Guardian Devil High School (Chapter 1)

Guardian Devil High School (Chapter 1)

Cover with name

Title : Guardian Devil High School (Chapter 1)

Author : Nichan

Main Cast : EXO OT 12 & OC

Otehr Cast : Find it~

Length : multihapter

Genre : Fantacy, School-life, Romance, Mystery, Comedy

Summary :

Bagaimana jika 12 orang gadis yang tidak pernah mengira akan memiliki kekuatan aneh pada diri mereka, justru menjadi demon yang harus melindungi para Angels?

_

1

Choi Min Ra
Okey. Aku tau hidup ku memang cukup menyenangkan karena parasku yang cantik. Tapi mau bagaimanapun, aku gak pernah nyangka akan jadi begini. Demi apa aku terpilih jadi murid special? Dan dapet lencana emas? Hey, nilai ujianku tidak lebih dari 70 loh! Tidak lebih! Bagaimana ceritanya aku bisa jadi murid khusus? Dan yang lebih megherankan lagi, Chan Chan yang ngerjain ujian masuk sambil tutup mata pun bisa masuk kelas khusus. Yakin gak ada yang salah nih?

Dan lebih buruk lagi, kenapa hari pertama masuk sekolah sudah mengharuskan muridnya untuk belajar? Harusnya kan ada perkenalan kek, ini kek, itu kek, apa kek, ya apalah yang lain. Yang penting jangan belajar.

Well, aku bukannya keberatan kalo hari pertama langsung belajar. Ya, secara aku tau banget kalo Green Leaf ini terkenal sama sistem belajarnya yang ketat. Tapi, setidak nya mereka juga mikirin nasib anak-anak dengan otak pas-pasan seperti ku,dong.

Ngomong-ngomong soal sekolah, kelasku ini ternyata lumayan menyenangkan. Kelas luas dengan cat berwarna putih dengan langit-langit dicat biru langit yang cerah. Juga lengkap dengan 4 lampu yang masing-masing tepasang di setiap sudut dan satu lampu yang paling besar tergantung dengan megahnya di tengah-tengah kelas seakan menunjukkan kehebatannya pada lampu-lampu kecil yang lain.

Pintu geser tembus pandang yang berada di dinding sebelah kiri. Di ikuti dengan jendela panjang di masing-masing sisi kelas yang membuat kelas ini tampak terang-benderang tanpa penerangan lampu sekalipun. Sepasang ac yang terpasang di dinding yang di punggungi murid membuat punggung menjadi adem ayem tak berkeringat. Meja-meja kayu yang bersih dari coretan di lengkapi dengan laci pada masing-masing meja yang dapat di gunakan sebagai wadah untuk menyimpan alat-alat kosmetik—maksudku buku pelajaran yang banyak nya minta ampun. Kursi dengan bantalan yang membuat bokong masing-masing murid menjadi nyaman dan betah berlama-lama duduk di kelas—yang pastinya tidak akan terjadi padaku—untuk sekedar bercengkerama dengan teman. *author: jadi bukan untuk belajar, nih?

Sebenarnya aku belum terlalu kenal teman-teman sekelasku yang baru. Hanya tiga orang di kelas ini yang aku kenal. Sudah pasti teman se-geng ku sejak SMP. Yaitu, Kwon Da Yeon – si cantik yang licik—, Shin Chan Chan – gadis imut yang otaku nya gak ketolongan—, dan yang terakhir, Kang Gi Seul – gadis manis yang tau segalanya. Yah mesti bukan semuanya juga, tapi setidaknya dia selalu tau segala informasi yang kami butuhkan. Itu makanya kami biasa memanggil Giseul si Mbak Google—

Walaupun aku mengatakan kalau kami Geng sejak SMP. Sebenarnya, kami sudah berteman sejak jaman bocah-bocah. Ini karena orang tua kami udah saling kenal. Aku gak tau kenapa kami bisa sekompak ini dari jaman orok sampai saat ini. Padahal, orang bilang biasanya persahabatan ciwi-ciwi itu gak akan bertahan lama karena ada aja masalahnya. Baik masalah gosip, salah paham, sampai masalah cowok sekalipun bisa meruntuhkan persahabatan cewek.

Entah ini karena obrolan kami semua yang gak pernah serius – yah, gak semuanya gak serius juga sih.—atau karena emang kami yang gak niat cari sensasi buat berdrama ria atau emang kehendak Tuhan yang maha esa agar kami semua terus bersama seperti ini. Yang pasti, aku seneng kok kami selamanya terus ber-empat. Yah, tapi ini bukan berarti kami tidak mengizinkan orang lain untuk masuk ke kehidupan kami. Boleh-boleh saja kok jika ada cewek yang ingin ikut berteman dari kami. Tapi, biasanya mereka gak akan tahan lama-lama gabung sama kami. Karena biasanya anak yang mencoba untuk gabung sama kami, akan merasa di cuekin atau apalah itu.

Sebenarnya, anak-anak di kelas ini cukup bikin aku kagum. Yah, karena murid cewek disini memiliki wajah yang hampir di atas rata-rata semuanya. Dan para cowoknya, gak usah di tanya deh! Aku heran, sebenarnya proses pembagian kelas ini berdasarkan apa sih? Apa berdasarkan tampang? Yah, bukannya aku kepedean yah, tapi aku rasa, dengan segala paras sempurna yang aku miliki, sepertinya aku pantas berada di antara orang-orang yang mencolok ini.

Yah, tapi memang gak ada mampu mengalahkan dia sih. Baiklah, aku tau ini kelas khusus. Tapi, apa itu tidak berlebihan? Apa harus ada anak aneh begitu di kelas ini? Dia emang gak jelek. Cantik malah. Tapi, apa dia harus cosplay di hari pertama masuk sekolah? Mana jadi Hatsune Miku,lagi. Oke, aku sebenarnya gak tau apa-apa tentang tokoh ini. Tapi, inilah efek dari berteman dengan salah satu otaku terakut di dunia, Chanchan. Yah, Chanchan emang sering banget ngomongin anime kalau udah ngobrol. Gak heran, ada sedikit yang nyantol di kepalaku.

Yang lebih nyeremin lagi dari ngeliat cewek cantik cosplay di hari pertama masuk sekolah adalah di sebelah cewek tersebut terdapat cowok yang terbilang cakep dengan beberapa tindikan di telinga kirinya, dan dengan lingkaran hitam di bawah mata sipitnya, memakai seragam yang di kancing asal-asalan dan tanpa menggunakan dasi. Dan apa itu dibelakangnya? Tombak? Ah entah lah – WOY APAAN ITU? PANAH?— Pokoknya, gak ada yang lebih mencolok dari mereka berdua saat ini.

Mendadak di hadapanku sudah ada seorang pria tengah meletakkan kedua telapak tangannya ke meja dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku. Dia… siapa?

“Hai, apa kamu sudah selesai meneliti seisi kelas, gadis manis? Bolehkan kamu memperhatikanku? Aku akan sangat sedih jika dicuekin oleh gadis secantik kamu.”

What the—

“Saya Cho Kyuhyun. Wali kelasmu. Kamu siapa?”

Apa barusan dia bertanya padaku?

“ Sa-saya Choi Min Ra”

Demi Paris Hilton idolaku, ekspresiku pasti tidak beraturan sekali saat ini. Apa-apaan orang ini? Wa- wajahnya terlalu dekat! Oke, ini bukan berarti aku tidak terbiasa terhadap pria ya! Asal tahu saja, aku ini playgirl! Playgirl!

“ Baiklah, Choi Minra yang manis. Tolong perhatikan saya, ya.” Ia mengedipkan sebelah matanya dan mengacak-acak rambutku pelan dengan tangan besarnya. Apa itu barusan? Barusan dia menggodaku? Yang benar saja!

Uh. Dan kini,satu kelas tengah menatapku dengan pandangan aneh. aku juga melihat dua teman sekelasku yang duduk di pojong kiri paling belakang kini tengah menertawakanku dan sekali-kali saling menepuk bahu setelah menambah –nambah ejekan mereka padaku. Siapa dua orang kurang ajar itu?

Aku melipat tangan di didada saat kini guru yang aku tidak peduli namanya siapa itu menepuk kepala dua bocah yang sedari tadi menertawakanku. Tidak kuat, pastinya. Dan sekarang dia justru ikutan tertawa bersama bocah caplang dan teman sebangkunya yang pendek itu. Dasar guru kurang ajar!

“Baiklah, seperti yang sudah saya katakan tadi. Saya adalah Cho Kyuhyun. Wali kelas kalian selama setahun kedepan. Ah, tidak. Mungkin saya akan tetap menjadi wali kelas kalian selama 3 tahun masa SMA kalian.”

Gila. Aku tak akan sudi.

2

Kwon Da Yeon

Ngakak.

Astaga, bisa-bisanya Min Ra di buat tak berkutik oleh guru tadi. Ini pertama kalinya aku melihat Min Ra yang playgirl dibuat terdiam oleh cowok. Ah, senangnya bisa melihat wajah kacaunya tadi di kelas. Hahaha, aku tidak jahat ya. Ini hanya kesenangan semata saja.

“ Sudah, dong. Lo gak perlu nahan ketawa sampe sebegitunya juga,kan. Bisa-bisanya lo yang jelas-jelas duduk di sebelah gue tadi gak berbuat apa-apa.” Min Ra berhenti menyeruput Jus Orange miliknya dan mulai mengomel. Yah, ciri khasnya.

“ Sori deh, sori. Gue kan juga shock guru itu ngomong begitu, Ra.” Yah, harus ku akui, aku memang rada shock juga tadi. Aku gak pernah ngebayangin ada guru yang bisa-bisanya dengan santai menggoda murid begitu.

“ Yah, dari informasi yang gue dapet,sih. Cho Kyuhyun, umurnya 25 tahun. Lulusan dari Universitas Jepang dengan nilai yang memuaskan. Udah jadi guru di Green Leaf selama 3 tahun. Dan dalam waktu singkat itu, beliau telah berhasil menjadi wakil kepala sekolah. Ia merupakan guru yang dekat dengan murid cewek. Dan murid cowok, meski menganggapnya saingan, tetap tak bisa membencinya. Ia memang selalu mengucapkan hal-hal manis ke cewek dan nggak pernah nyakitin cewek dengan ucapannya. Walaupun udah banyak cewek yang sakit hati dibuatnya akibat udah menolak beribu pernyataan cinta, tetapi tetap bersikap manis layaknya tidak terjadi apa-apa.”

Gila. Kemampuan Mbak Google makin eksis aja rupanya.

“Dih Giseul, lo nyeremin amat sih. Mana punya daya ingat fotografis lagi. Lo dapat info itu dari mana coba?” Chanchan ternyata juga sama shocknya dengan ku. Aku akui, Giseul emang keren banget. Dia ratunya gosip, tapi bukan sembarang gosip. Dia bisa ngumpulin informasi apa aja dan entah dari mana. Yang nyereminnya, baru-baru ini, Giseul ngungkapin ke kami kalau ternyata selama ini dia punya daya ingat fotografis. Ia tidak akan lupa dengan apa yang telah di lihatnya. Nyeremin juga kalo semisalnya, dia bisa manfaatin kemampuannya ini dalam belajar. Jamin deh, dia pasti bakal jadi juara kelas melulu. Tapi, yang namanya Giseul, emang paling lemah sama yang namanya belajar. Jadi, dengan ada atau tidaknya kemampuan uniknya ini, dia tetap saja tidak bisa masuk ke kategori orang pintar. Walaupun aku juga,sih.

“Gue tau dari abang temen nya temen anak mak temen gue.” Entah karena ucapan Giseul yang terdengar meyakinkan, atau karena Chanchan yang keamat bego, hingga bisa-bisanya Chanchan percaya dan manggut-manggut kagum. Ini anak bikin aku greget saja.

Ngomong-ngomong, Kenapa Minra melamun ? Biasanya kan dia yang paling cerewet kalau Chan Chan udah mulai lola. Siapapun tau kalau sekarang fikiran Minra memag nggak ada di sini. Andai saja sekarang aku lebih peduli pada Minra dan menanyakan masalahnya, mungkin hal mengerikan yang belakangan ini ku ketahui akan menimpa kami semua tidak akan terjadi.

3

Kang Gi Seul

Bel pulang sekolah merupakan hal yang paling dinanti oleh setiap siswa sekolah di dunia, termasuk aku. Hari pertama masuk sekolah kali ini bukan merupakan sesuatu yang special kurasa. Hari pertama begitu disibukkan dengan pembagian jadwal pelajaran untuk 5 hari kedepan, jadwal piket, dan tentunya kamar asrama. Sebenarnya, pelajaran hari ini masih belum begitu berat. Karena beberapa pelajaran masih pada tahap perkenalan dan pembukaan materi. Untunglah, setidaknya otakku yang pas-pasan ini tidak perlu terlalu keras bekerja hari ini.

Sebenarnya, bel sekolah sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu. Entah karena ini masih terlalu siang untuk pulang ke asrama atau karena memang malas pulang ke asrama, sekolah elit ini masih tetap di penuhi oleh murid-muridnya. Yah, aku sebenarnya tidak terlalu heran. Karena berdasarkan pemberitahuan wali kelasku – yang kalian tahu siapa, Green Leaf memiliki berbagai macam ekstrakulikuler. Mulai dari Atletik, kesenian , olahraga bola kecil, olahraga bola besar, sastra, renang, bela diri, latih pedang, berkuda, dan selebihnya merupakan ekstrakulikuler tidak resmi.

Setiap cabang ekstrakulikuler pastilah memiliki ruangannya masing-masing. Dan ruang-ruang itu semuanya berada di gedung 2. Di lantai 1 terdapat Aula, kolam berenang indoor, Lapangan Indoor khusus basket, dan ruang klub renang. Di lantai 2 terdapat ruang Klub Olahraga Bola Besar dan Kecil. Seperti, Sepak Bola, Basket, Voli, Badminton, Kasti, Baseball, dan Softball. Di lantai 3 terdapat Lapang Indoor serbaguna yang mecakup sebagai lapangan beberapa klub olahraga bola besar dan kecil, sedangkan klub atletik dan tentu saja klub sepak bola menggunakan lapangan outdoor yang memang cukup luas—sangat luas malah. Di lantai 3 juga terdapat ruang klub atletik, berkuda, bela diri, dan latih pedang. Kemudian, dilantai 4 terdapat ruang klub kesenian dan sastra.

Aku sempat heran mengapa di lantai 4 hanya terdapat 2 ruang. Dan yang lebih anehnya lagi, ruang klub sastra lebih besar 3 kali lipat dibandingkan ruang klub kesenian yang berada di sebelahnya. Bahkan kurasa lebih luas dari lapangan indoor serbaguna. Entah apa yang mereka lakukan di ruangan itu. Tapi pastinya, tidak ada satupun murid maupun guru yang mempermasalahkan hal ini.

Berdasarkan informasi yang kudapat, siswa yang bergabung dalam klub sastra merupakan siswa-siswa pilihan. Dan pastinya, tidak semua orang dapat bergabung dalam klub sastra. Konon katanya, siswa yang cerdas dan di anggap layak akan mendapatkan surat berlabel rahasia. Surat itu sendiri berupa undangan untuk bergabung ke klub sastra. Memang hanya sedikit murid yang dapat bergabung dengan klub sastra. Tapi, apabila siswa tersebut telah mendapat undangan dan malah menolak untuk bergabung, siswa itu akan dikeluarkan dengan tidak terhormat. Yah, cara yang lumayan ekstrim menurutku.

Dengan malas-malasan aku berjalan menaiki tangga. Aku baru saja selesai mengisi absen di ruang guru yang ada di lantai satu dan bersiap untuk pulang ke asrama sebelum Chanchan mati kebosanan di sana. Tapi sialnya aku teringat kalau komik Chanchan yang tadi sempat kupinjam tertinggal di dalam loker kelasku. Dan aku harus rela capek- capek mengambilnya ke lantai empat kalau tidak ingin besok di temukan tewas di goreng oleh teman sekamar sendiri.

Aku mengumpat dalam hati. Kenapa ruang kelas sepuluh harus ada di lantai empat? Sedangkan senior kelas dua belas ada di lantai dua. Tidak semua murid kelas sepuluh itu segar-segar dan rela naik-turun tangga yang banyak nya nauzubillah setiap hari. Contohnya, aku. Sepertinya aku harus mengajukan proposal agar pihak sekolah membuatkan lift.

“Apa ini?” Dahiku berkerut saat mendapati sesuatu yang seharusnya tidak ada di dalam lokerku saat ini. Seketika mulutku menganga saat melihat label emas yang tertera di halaman awal surat yang ku dapat. Bagaimana tidak, jelas-jelas tulisan KLUB SASTRA terpampang besar-besar di amplop hitam yang bertengger manis di dalam lokerku. Hei, apa ini artinya aku baru saja di undang?

Gawat. Sepertinya hidupku tidak akan tenang di SMA ini.

Diundang seperti ini berarti aku tidak boleh menolak kalau tidak ingin membuat orang tua ku berderai air mata akibat aku dikeluarkan dari sekolah. Aku menghela nafas. Tapi kalau aku masuk ke klub sastra berarti otomatis aku akan jadi murid beken, bukan begitu? Sayangnya aku tidak terlalu berminat jadi murid beken. Ya, aku lebih suka jika aku low profile. Meski berteman dengan Chanchan yang heboh nya kayak monyet Afrika sudah membuat ku di kenal satu sekolah sebagai pawang monyet Afrika, aku tidak masalah.

Aku mengeluarkan selembar kartu undangan berwarna hitam dengan simbol “Klub sastra” yang sama dengan yang ada di amplop. Di bawahnya tertera namaku, Kang Gi Seul yang di sertai simbol tengkorak berawarna putih. Hei, apa ini penghinaan? Aku tak terima namaku disejajarkan dengan simbol tengkorak.Ah, sudahlah. Lebih baik Aku membuka undangan itu.

SELAMAT!

Kamu telah terpilih menjadi anggota Klub Sastra, klub paling bergengsi di Green Leaf. Mulai hari ini, kamu akan di perkenalkan dengan anggota serta visi misi klub sastra.

Datanglah ke ruang klub sastra tepat setelah kamu menerima surat ini.

Jangan beritahu siapa-siapa.

 

Tertanda,

Ketua klub sastra.

 

PS : Jangan berfikir untuk mengabaikan undangan ini, kalau tidak ingin besok pagi kamu di keluarkan dari sekolah.

 

 

Dan ternyata, aku memang di undang ke klub sastra. Tapi mengapa? Ini tidak masuk akal! Aku bahkan mendapat lencana emas dari kepala sekolah tadi pagi. Bukannya mau rendah hati, tapi aku memang tidak memiliki sesuatu yang special. Cantik? Minra dan Dayeon lebih cantik dari pada aku. Humoris? Tentu saja ini keahliannya Chanchan. Pintar? Hoho, jika maksudmu nilai lima saat ujian masuk adalah pintar. Kaya? Ayahku hanyalah pegawai biasa sedangkan ibuku hanya seorang penulis novel. Jadi sebenarnya, apa yang mereka lihat dariku?

4

Shin Chan Chan

Aku mengendap-endap menaiki tangga sambil sesekali melirik kanan-kiri untuk memastikan bahwa aku memang sendiri. Saat ini, aku tengah menjalani misi yang sangat penting. Dan misiku saat ini adalah untuk sampai ke ruang klub sastra tanpa di ketahui siapapun.

Ini semua karna undangan— yang disertai emot tengkorak imut— di lokerku saat aku mau pulang sekolah tadi. Aku bahkan sempat melompat-lompat girang karna tau aku mendapat undangan dari klub yang sepertinya cukup hebat bagi murid-murid di sekolahku. Tapi satu kalimat yang kubaca berikutnya membuatku berkeringat dingin.

 

Jangan beritahu siapa-siapa. Itu sulit, sungguh. Aku bahkan sudah ingin berteriak memamerkan surat itu ke Giseul tadinya, namun yang kemudian ku urungkan dengan berat hati. Aku bahkan sampai harus pura-pura kebelet boker untuk menghindari ajakan Minra untuk pergi ke asrama bersama—yang gak tau kenapa aku jadi beneran boker. Dia bahkan memandangku jijik tadi, yang sebenarnya tidak perlu karna aku pasti mencuci tanganku setiap kali selesai panggilan alam. Aku juga harus meninggalkan Giseul yang tengah tidur di kelas sambil mengorok tadi.

Seketika aku menyesal.

“Kenapa tadi gue gak ngejepit hidungnya Giseul kayak biasa,ya?” Aku menepuk kepalaku saat sadar kalau aku baru saja melupakan hal yang sangat penting. Aku lupa menjepit hidung Giseul dengan penjepit jemuran yang selalu kubawa ditas dan selalu kugunakan untuk menjepit hidung Giseul kalau dia sudah tidur sambil mengorok. Ah, ini semua gara-gara surat undangan beremot tengkorak imut itu!

“ Kamu terlambat.”

Tiba-tiba suara rendah mirip kodok yang entah dari mana membuatku terduduk sambil berceloteh tak jelas. Semacam, ‘eh, kutu sekarat!’ Atau ‘Eh, kecoa di panggang!’ , atau ‘eh kambing congek!’, dan sebagainya. Pria yang bersuara kodok tadi hanya memandangku bingung. “ Onta dari mana, nih?” Mungkin begitu pikirnya sekarang. Entah kenapa aku jadi nyebut-nyebut unta. Mungkin karna orang yang menertawaiku keras-keras di sebelah pria bersuara kodok itu mirip unta, barangkali.

“Latah lo keren amat, sih. Belajar dari mana tuh?” Si onta—eh maksudku, Pria dengan garis rahang keras dengan snapback di kepalanya itu bertanya.

“Pencerahan dari Sungokong.” Jawabku asal. Dan Si on- cowok dengan snapback itu tertawa makin kencang. Sedangkan si suara kodok—maksudku,cowok kelewat putih dengan rambut warna-warni yang tadi mengagetkanku hanya menatap ku datar.

“Eh, lu temen sekelas gue kan? Gue inget banget nih rambut lu, soalnya sepanjang pelajaran bikin gue kepengen makan es krim.” Tebakku. Aku yakin banget kalau si rambut pelangi ini emang temen sekelasku. Karna selain sudah memproklamirkan bahwa dia mengganti semua hurup S menjadi T, dari tadi Cuma dia yang rambutnya paling hula-hula satu sekolahan. Selain si Hatsune Miku, tentu saja. Ya, iyalah. Mana ada yang bisa ngalahin rambut biru yang panjangnya sampe menjulur ke lantai itu.

“Ya, aku juga ingat kamu. Bocah paling pendek di kelat yang kukira anak ETD nyatar.” Ujarnya yang membuatku bengek setengah mati ingin membalas ejekannya. Aku menatap si cowok bersnapback yang kini makin tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan kini sudah hampir terduduk di lantai sambil memegangi perut.

“Dan kalian, si kodok dan si unta. Cocok bener di jadiin judul sinetron baru.” Ejekku melipat dada. Si rambut pelangi menatapku kesal dan kubalas menatapnya sambil berdecak sebal. Emangnya dia kira Cuma dia yang bisa ngina orang?

“Huwahahaha” kegiatan tatap-menatap maut kami diinterupsi oleh suara ketawa yang memenuhi satu koridor sekolah. Aku dan si rambut pelangi menatap ilfill temannya yang kini gelojotan di lantai sambil terbahak tidak tau malu. Kayak orang bener aja.

“Temen lo?” tanyaku spontan.

“Bukan, nemu dijalan tadi.” Jawabnya asal sambil berusaha sedikit menjauh dari temannya yang kini kejang-kejang di lantai.

“Eh, kamu mau keruang klub tatra,kan ? bareng aja ya. Aku malu liat anak ini.” Ajaknya yang kubalas dengan anggukan pelan, meski butuh beberapa menit untukku mengerti bahwa kata ‘tatra’ tadi berarti ‘sastra’.

Akhirnya, kami pergi ke ruang sastra meninggalkan orang gila yang sampai sekarang masih gelojotan di lantai sambil kejang-kejang, pura-pura gak kenal.
“Selamat datang.” Suara halus bak malaikat nya ketua osis langsung terdengar saat aku membuka pintu. “ Wah, dan ada Sehun juga.” Sambungnya sambil tersenyum. Oh, jadi si rambut pelangi namanya Sehun.

Aku memandang sekeliling. Berdecak kagum melihat ruangan luas di hadapanku. Aku gak pernah berfikir kalau klub sastra memiliki ruangan yang sebesar ini. Bahkan luasnya dua kali lipat kelasku.

“Dimana Chen, Sehun? Seingatku tadi dia bersamamu.” Tanya ketua osis sambil mengarahkan kami masuk.

“Kelojotan di lantai.” Jawab Sehun. Jadi si onta yang kelojotan tadi namanya Chen? Aku tertawa dalam hati kepikiran sesuatu yang aneh. Chen si Onta, bukankah cocok? Aku semakin terkekeh memikirkannya.

Ketua osis mengernyitkan alisnya bingung dan kemudian tersenyum memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Aduh, dahi berkerut gitu aja masih cakep. Apalagi senyumnya gak ilang-ilang dari tadi. Serasa ingin ku bawa ke penghulu.

“Silahkan Masuk.”

Aku ternganga saat Ketua Osis mengangkat salah satu Ensiklopedia dari rak buku raksasa yang menutupi dinding ruangan dan kemudian rak buku itu bergeser membuka jalan rahasia yang menghubungkan ke ruang satunya lagi yang ternyata bahkan lebih luas. Wow! Aku menganga semakin lebar. Tampaknya aku bakalan jadi orang yang hebat, nih.

Aku terdiam menyadari bahwa cukup banyak orang di dalam sana. Dahiku berkerut menyadari kalau ternyata Giseul juga ada di ruangan ini. Apa-apaan? Kenapa ada dia? Aku melihat ke seluruh ruangan dan mataku semakin melotot. Bahkan ada Minra dan Dayeon disini! Hei! Jangan-jangan mereka juga di undang?

**

Satu ruangan terdiam. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu. Duduk di meja panjang melingkar begini rasanya kurang nyaman bagiku. Aku tidak biasa berada dalam suasana serius seperti ini. Apalagi dalam keadaan yang begitu hening. Bahkan ketua osis pun tidak lagi mengeluarkan suaranya.

Aku tersenyum lebar sambil melambaikan tanganku pelan pada gadis yang duduk di hadapanku. Aku mengenalnya, karna tadi pagi aku memang sempat heboh mengajaknya berkenalan dan meminta nya untuk foto bersama. Dia adalah Han Nichan, gadis yang bikin heboh satu sekolahan pagi ini dan membuat orang satu-satu menyingkir saat melihatnya. Pasalnya, gadis cantik itu datang ke sekolah dengan dandanan cosplay yang tak tanggung-tanggung. Dengan memakai salah satu costum member vocaloid nya Hatsune Miku, dia berjalan dengan santai tidak perduli pada siswa satu sekolahan yang bengong melihatnya. Di tambah lagi dia memakai wig biru yang panjangnya menjulur ke tanah dan diikat dua. Benar-benar persis Hatsune Miku. Tapi anehnya, tidak ada guru yang memarahinya. Bahkan pelajaran hari ini pun diikutinya dengan berpakaian seperti itu. Aku sempat dengar kalau dia anak kepala yayasan. Makanya bisa berkeliaran bebas di sekolah ini.

Bukannya balas tersenyum, dia hanya menundukkan kepalanya sopan. Sekarang dia sudah memakai seragam sekolah yang normal. Dia pun sudah tidak mengenakan wig lagi. Dan ternyata rambut aslinya berwarna hitam gelap yang diikatnya tinggi ke belakang. Dalam hati aku kagum melihat rambutnya yang mencapai pinggang meskipun sudah diikat. Pasti rambutnya benar-benar panjang saat di lepas. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku sebelum sifat jahil ku keluar. Aku tidak mau kalau-kalau aku nanti melompat kesana dan melepaskan ikatan rambutnya diam-diam.

“Greekk”

Tiba-tiba rak buku terbuka. Semua mata tertuju kesana, penasaran ingin melihat siapa yang datang. “ Ah, Chen. Kau terlambat. Silahkan duduk.” Oh, si Onta!!! Rupanya dia sudah selesai kelojotan, meskipun ternyata lumayan lama.

“ Baiklah, pertemuan ini kita mulai sekarang.” Suara Ketua Osis membuatku kembali fokus menatapnya di depan.

“ Pertama-tama, izinkan saya memperkenalkan diri saya. Nama saya Kim Joonmyeon, atau lebih dikenal sebagai Suho. Saya adalah ketua osis Green leaf yang sekaligus menjabat sebagai ketua klub sastra.” Dia mengambil jeda sebentar sebelum akhirnya kembali melanjutkan penjelasan panjangnya.

“ Mungkin beberapa dari kalian sudah tau, bahwa nama klub sastra hanya kedok semata. Karna sebenarnya, kegiatan klub ini tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan sastra. Ya, tentu saja hal ini hanya di ketahui oleh anggota klub saja. Maka dari itu hari ini saya akan menjelaskan kegiatan yag sebenarnya dari klub ini. Tapi pertama-tama, mari saya jelaskan satu hal yang paling penting.”

“ Huaahh..”

Semua mata kini tertuju pada orang yang baru saja menginterupsi suara malaikat ketua osis, atau mari kita sebut Suho, dengan suara nguapnya yang kelewat kencang. Aku tertawa pelan saat melihat siapa yang ternyata menganggu acara sakral kami ini. Dia Park Chanyeol, kalau tak salah. Aku sempat berkenalan dengannya tadi pagi. Dan aku juga ingat banget kalau dia dan temannya sebangkunya yang bernama Byun Baekhyun paling heboh di kelas selama pelajaran tadi.

“Maaf, maaf. Udah gue coba tahan dari tadi tapi ternyata gak bisa. Maaf, maaf.” Ucapnya sambil menggaruk kepala. Pasti dia malu banget sekarang.

“ Hahahaha” Kini semua orang sudah mengalihkan pandangannya dari Chanyeol dan justru menatap orang yang kini tertawa dengan badan bergetar sambil sesekali memukul-mukul meja gemas. Ah, si onta! Aku sudah tidak heran lagi melihatnya seperti itu. Sepertinya dia memang punya penyakit kronis tentang ‘ tidak bisa berhenti tertawa’ atau ‘ kerap kali menertawakan hal yang tidak lucu.’

Ketua osis berdehem, membuat semua mata kembali tertuju padanya. Aku juga mendengar suara tawa si onta sudah tidak lagi terdengar. Ketua osis memamerkan senyum malaikatnya sebentar sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya yang sempat di interupsi oleh dua anak yang sama-sama konyolnya, menurutku.

“ Hal yang ingin saya jelaskan adalah sesuatu yang mungkin berada di luar akal sehat kalian. Kalian pasti tau kalau satu harian ini kita selalu terkait satu sama lain. Pertama, kita masing-masing memiliki lencana emas yang terpasang di seragam sekolah kita. Kedua, kita semua satu kelas. Kelas 10-E, kecuali Kim Ah Ra. Ketiga, kita adalah anggota klub sastra.Kkalian tidak berfikir ini kalau ini semua hanya sebuah kebetulan yang berturut-turut kan?”

Sekitarku mulai sedikit rusuh. Semuanya sibuk memikirkan perkataan Suho barusan. Benar juga. Sepertinya aku pernah melihat wajah orang-orang di ruangan ini. Dan kalau di ingat-ingat lagi, ternyata memang mereka semua adalah teman sekelasku, kecuali gadis yang duduk di samping ketua osis. Dan kami semua juga memiliki lencana emas yang tertempel rapi di seragam kami. Dan kini, kami semua adalah anggota klub sastra. Aku rasa ini memang cukup aneh untuk jadi sebuah kebetulan.

“ Suho, apa tidak bisa langsung di jelaskan intinya saja? Aku sudah siap menunjukkan apa yang kupunya.” Tiba-tiba sebuah suara berat memenuhi ruangan. Aku menoleh pada arah suara itu dan mendapati seorang pria yang duduk dengan sebelah kaki terangkat. Dia Kris, kalau tidak salah. Aku langsung memperhatikannya saat masuk kekelas tadi pagi. Karna selain wajahnya yang terlihat seperti orang luar, aku juga agak sedikit shock melihatnya yang tinggi menjulang dan membuat leherku sakit setiap kali melihatnya. Alhasil aku harus berada di jarak setidaknya dua meter dari nya, kalau tidak ingin terlihat seperti kurcaci.

“Benar! Aku juga masih harus mengerjakan tugas dari Jiho- seonsangnim.” Pria yang sedari tadi tidak memperhatikan ketua osis pun ikut angkat bicara. Aku penasaran melihatnya yang tidak mengacuhkan ketua osis dari tadi dan justru sibuk mencatat entah apa. Sepertinya dia dapat tugas tambahan.

“Baiklah baiklah, kita skip ke sesi perkenalan power saja kalau begitu.” Ujar ketua osis masih berusaha tersenyum walaupun sudah di interupsi berkali-kali. Aku jadi kagum dengan ketabahan ketua osis. Benar-benar suami idaman.

“ Saya yakin kalau ada beberapa dari kalian tidak pernah tau kalau sebenarnya kalian berbeda, dengan kata lain tidak normal.” Ujar ketua osis yakin. Hei, apa maksudnya kami gila atau semacamnya?

“Ada hal di dalam diri kalian yang membuat kalian tidak bisa di katakan normal, dalam hal baik tentunya.” Koreksi ketua osis cepat sebelum ada yang salah paham dan mencakar mukanya tidak terima di katai gila.

“ Seperti ini.” Tepat setelah berkata seperti itu, tiba-tiba saja teh yang dihidangkan di atas meja bergerak keluar dari dalam gelas. Aku dapat mendengar cewek-cewek langsung heboh dan hampir berteriak, termasuk aku. Sialnya, aku yang paling heboh. Sampai terjatuh dari kursi segala.

Aku buru-buru berdiri malu karna kelewat heboh barusan. Tapi tetap saja, mataku tak berhenti melotot dan mulutku dengan setia melongo melihat air teh itu kini berkumpul di tengah meja dan kemudian melayang. Sesekali air teh itu bergerak melewati kami dan menari-nari membuatku semakin melongo. Tiba-tiba saja air teh itu membentuk kelinci dan melompat-lompat di udara. Bagaimana ini bisa terjadi??? Apa ini mimpi? Aku mencubit pipiku kuat dan kemudian menjerit sendiri karna sekarang pipiku terasa nyut-nyutan. Ini bukan mimpi.

“ Kira-kira seperti itu.” Kata ketua osis sambil menggerakkan jari telunjuknya dengan gerakan memutar. Air teh itu pun ikut memutar seirama dengan gerakan jari ketua osis. Aku mendecak kagum. Apa yang barusan itu perbuatan ketua osis?

“ Apa maksudnya itu? Apa ini semacam sulap?” tanya Giseul tiba-tiba. Masa sih? Tapi dimana letak trik nya kalau yang tadi itu memang sulap?

“ Kalian semua bisa melakukannya.” Ucapan ketua osis membuatku diam-diam menggerakkan jari telunjukku memperagakan yang tadi dilakukannya sambil melototi air teh yang ada di cangkirku. Hasilnya nihil. Apaan! Kenapa aku tidak bisa?

“ Tentu saja dalam bentuk yang berbeda-beda.” Sambung Ketua osis saat melihatku setengah mati melotot sambil membaca mantra berharap air di dalam cangkirku dapat membentuk hewan-hewan lucu seperti yang dilakukannya tadi.

“ Tunggu.” Aku menoleh ke sisi kiriku. Benar saja, gadis dengan rambut sebahu yang duduk di sampingku ini yang membuka suaranya tadi. Suaranya begitu tenang dan penuh wibawa.

“ Jadi maksud nya ini semua nyata? Saya tidak yakin, karna saya memang tidak pernah percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal atau sebagainya. Awalnya saya mengira dengan bergabung bersama klub sastra dapat menambah pengetahuan saya tapi sepertinya tidak. Karna saya juga tidak ingin membuang-buang waktu untuk melakukan hal tidak masuk akal seperti tadi. Saya permisi.”

Aku terbengong saat kini dia membungkuk pelan dan menggeser kursinya bersiap untuk pergi.

“ Ayumu Katou-ssi, tunggu sebentar.” Gadis itu berhenti di tempatnya dan kemudian menoleh kembali menatap ketua osis yang tersenyum simpul padanya.

“ Ini bukan sesuatu tidak masuk akal seperti yang kamu fikirkan. Karna ini semua ada alasannya. Hal ini di wariskan dari nenek moyang kita dulu. Dimana yang hanya akan terjadi setelah tujuh generasi. Dan disinilah kita berada, para generasi ketujuh yang ke dua belas. Berkumpul bersama untuk saling melindungi. Atau dalam bahasa yang lebih mudah, kita ini adalah mutan. ” Gadis itu mengernyit, tidak paham. Begitu pula aku. Bedanya, dia mengernyit dengan anggun. Sedangkan aku sambil melongo. Apa ini? Otakku rasanya tidak sampai untuk mencerna semua ini.

“ Kelompok kita terbagi jadi dua. Yang pertama Angel. Kelompok yang berasal dari generasi murni. Yang di takdirkan untuk dilindungi. Kedua ada Devil. Kelompok yang berasal dari generasi tidak murni. Dan kelompok ini yang tadi saya sebutkan, dimana hanya akan ada di setiap generasi ketujuh, dan bertugas untuk melindungi. Intinya, sespecial apapun kelompok angel, devil masih jauh lebih special karna hanya akan terlahir setelah tujuh generasi.” Ketua osis berhenti sejenak mengambil jeda.

“ Dan di sekolah ini, kelompok devil sudah di awasi sejak mereka masih dalam kandungan. Bukankah kalian berasal dari daerah yang berbeda-beda? Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari luar negeri, benarkan ayumu-ssi?” semua menatap sisi kiriku sekarang. Sedangkan dia hanya mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan ketua osis. Wow, dia dari luar negeri?

“ Itu tidak aneh. karna memang kedatangan kalian kesekolah ini sudah di atur. Untuk melindungi kami, The Angels.” Akhir Ketua osis dan kemudian meneguk tehnya . barangkali dia haus.

Melihatnya yang minum membuatku berfikir. Kenapa tidak dia gerakkan saja teh itu dengan tangannya dan langsung dimasukkan kemulutnya. Seketika aku tergelak membayangkan apa yang baru saja kufikirkan. Namun buru-buru berhenti tertawa saat kini satu ruangan menatapku aneh. ‘perasaan tidak ada yang lucu dari tadi’ pasti begitu pikir mereka.

“Jadi siapa saja kaum Angels dan Devils itu?” Nichan yang duduk dihadapanku mulai angkat suara.

“ Pertanyaan yang bagus, Han Nichan-ssi.” Jawab ketua osis seraya mengulum senyum. Entah kenapa sekilas dia jadi terlihat licik.

“ Kaum Angels tidak pernah terlahir sebagai perempuan. Begitu pun sebaliknya. Kaum devils tidak pernah terlahir sebagai laki-laki.” Seketika satu ruangan terdiam. Aku sendiri terdiam karna dari tadi tidak mengerti apa yang dikatakan oleh ketua osis. Maklum lah, aku kan butuh proses lebih lama untuk berfikir.

“ Oke. Anggaplah ini memang nyata. Kalau begitu apa perbedaan antara devils dan angels selain gender mereka?” tanya gadis disamping kiriku lagi. Wow, sepertinya dia pintar ya. Karna biasanya hanya orang pintar yang mau bertanya panjang lebar.

Ketua osis lagi-lagi, untuk entah yang keberapa kalinya tersenyum sebelum menjawab gadis yang terus-terusan bertanya padanya itu.

“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Angels dilindungi dan devil melindungi. Jadi, devil disini adalah semacam demon bagi para angels. Apa bila devil semakin kuat, maka angel pun akan semakin kuat. Dan peraturannya, satu devil untuk satu angel. Apabila angel mati, maka devil sebagai demonnya juga akan mati. Tapi tidak sebaliknya. Jadi, untuk para devil, jagalah angel mu sebaik mungkin.” Aku melongo, lagi.

Mati? Apa barusan dia menyebutkan sesuatu tentang mati?

“M-mati?”

upss, aku langsung menutup mulut saat sadar bahwa pertanyaan itu keluar dari mulutku sendiri. Owh, apa kini aku mencoba untuk menjadi pintar?

“ Kalian akan tau tentang itu seiring perkembangan kekuatan kalian. Sekarang kalian hanya perlu untuk mencoba mengeluarkan kekuatan kalian untuk yang pertama kalinya. Pertama-tama biarkan para Angels menunjukkan apa yang mereka punya lebih dulu.” Setelah ketua osis berkata seperti itu, Chanyeol dan Baekhyun langsung heboh menyingsingkan lengan baju mereka dan bangkit dari kursi. Begitu pula dengan anak-anak cowok yang lain. Dan para cewek pun ikut bangkit dari duduk nya meskipun tidak tau apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, termasuk aku.

Tiba-tiba saja barang-barang yang ada di ruangan ini menghilang. Seakan-akan kami berada di sebuah tempat tanpa ujung, tanpa sudut, dan tanpa akhir. Tidak ada apa-apa disini selain kami. Bahkan meja yang melingkari kami pun sudah hilang entah kemana.

“Selamat datang di ruang waktu tanpa ujung teman-teman. Dan mari saya perkenalkan dengan salah satu Angel kita. Huang Zi Tao, the time controller. Saat ini, kita berada di bawah kendali milik Tao. Dengan kata lain, kita berada di ruang waktu miliknya.” Aku mengalihkan pandanganku pada pria yang tadi ditunjuk oleh ketua osis. Pria yang namanya Tao itu kini menundukkan kepalanya pelan sebagai perkenalan dirinya yang singkat. Aku mendelik saat melihat wajahnya yang tidak ramah, tanpa dihiasi senyum sedikitpun. Di tambah dengan kantong matanya dan beberapa tindikan di telinga membuat dia semakin mirip abang preman yang sering nongkrok di poskamling dekat rumahku.

Tiba-tiba saja salju jatuh dari atas kepala kami. Dan kini kami sudah berada di ruangan yang di penuhi salju. Tapi entah kenapa rasanya tidak dingin. Justru menyenangkan melihat salju di tengah-tengah musim panas seperti ini.

“Perkenalkan, Xiumin, The Frost.” Ujar ketua osis seraya memperkenalkan pria imut yang berada disisi kanannya. Ah, dia yang dari-tadi sibuk menulis entah apa. Sejenak aku sadar bahwa dia yang telah membuat ruangan ini jadi dipenuhi oleh salju. Membuatku teringat salah satu tokoh favoriteku, Jack Frost.

“ Selanjutnya gue!” suara Baekhyun memenuhi seisi ruangan. Dan dia sendiri hanya cengar-cengir menunjukkan giginya yang rapi sambil melambaikan tangan centil. Dan seiringan dengan lambaian tangannya, aku dapat melihat sebentuk cahaya yang keluar dari telapak tangannya. Cahaya itu tampak sedikit menyilaukan saat keluar dari dalam tangannya. Menjadi lebih besar, lebih besar, lebih besar dan…

“ Ahhkk” teriakku kesilauan seraya berusaha menutupi pandanganku dengan tangan. Ini terlalu terang!!! Alhasil satu ruangan heboh menjerit kesilauan akibat cahaya super terang yang keluar dari tangan Baekhyun.

“ Wa, waa!!! gue lupa cara matiinnya!!!” samar-samar aku dapat mendengar suara baekhyun yang berteriak heboh. Apa katanya tadi?????

“Ohookk!!” Cahaya itu menghilang seiringan dengan suara batuk Baekhyun. Kini dia memegangi dadanya sambil terus-terusan terbatuk. “ Suho-hyung! Kenapa kau memukulku? Protesnya dengan mata berair.

“Maaf, semuanya. anak ini masih dalam masa belajarnya. Dan perkenalkan, dia Byun Baekhyun, The Lighter.” Ketua osis berkata sambil menepuk-nepuk kepala Baekhyun. Masih dalam masa belajar? Hah, gila! Kalau gitu kenapa dia sok-sokan pamer? untung saja tadi tidak ada yang mati kesilauan dibuat nya.

“Sekarang giliran gue. Perkenalkan semuanya, gue adalah The most handsome Kai. Dan gue adalah The Teleport Angel.”

Semuanya berdecak kagum padanya. Bukan hanya karna perkataannya yang seratus persen benar melainkan karna dia yang menampilkan senyum evil di wajahnya yang kelewat tampan. Sumpah, anak ini kelewat cakep!

Aku baru saja akan bertepuk tangan kagum saat tiba-tiba dia menghilang dari tempatnya dan tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah kami semua kalau saja tidak ada yang sedikit janggal di sana. Aku menjerit heboh saat dia meninggalkan bagian kakinya di tempat awal dan berpindah hanya dengan separuh badannya. Dan alhasil para cewek semuanya berteriak ngeri akibat ulahnya.

Anjir! Ini tontonan orang dewasa!!! Aku kan masih polos. Apa yang kubicarakan? Ah, lupakan!

“Kai! Kau kelewatan. Jangan lakukan itu sekarang, dong. Ini pertama kalinya bagi mereka.” Aku menutup mata dengan kedua telapak tangan sambil berusaha mengintip untuk melihat suara merdu siapa yang baru saja kudengar. Seorang pria bermata belo kini sudah berada di samping Kai sambil menepuk bahunya pelan. Ternyata bentuk tubuh Kai sudah normal sekarang. Ahh, syukurlah. Kukira aku bakalan muntah disini tadi.

“Perkenalkan, saya Do Kyungsoo, atau biasa di panggil D.O. saya adalah The Earth Controller.” Ujar pria bermata belo yang ternyata bernama D.O itu sambil membungkuk dalam-dalam.

Tiba-tiba saja kami sudah berada di atas tanah entah sejak kapan. Dan sekarang sudah ada bola-bola tanah yang menggelinding mengitari kami yang aku sendiri bingung asalnya dari mana. Hey, apa dia semacam avatar? Avatar bumi barangkali?

Aku buru-buru menggeleng kuat saat kini tanah yang kami pijaki sudah hilang, begitu pun bola tanah besar yang tadi menggelinding tak tentu arah. Aku membuang fikiranku jauh-jauh tentang avatar bumi, karna mau di lihat dari sudut manapun, D.O tidak lah botak.

Satu-satu mereka memperkenalkan diri seraya menunjukkan kekuatan mereka yang membuatku tercengang saking anehnya. Contohnya saja, si onta yang bernama Chen itu. Demi Tuhan, kami semua hampir menangis ketakutan – atau tepatnya aku yang menangis—saat tiba-tiba saja disekeliling kami di penuhi halilintar. Di tambah lagi suara petir yang semakin menggelegar diiringi suara tawanya. Semakin dia tertawa, maka semakin kuat pula suara guntur yang dihasilkannya. Rasanya dia benar-benar cocok berperan sebagai penyihir jahat kalau di ajak bermain film fantasi.

Ada pula pria super tampan dengan lesung pipi yang membuatnya semakin manis. Dan jangan lupakan suaranya yang kelewat merdu itu, guys. Sesuai dengan image nya, pria bernama Lay itu ternyata bisa menyembuhkan segala macam penyakit! Entah itu luka lecet, kudis, bisul, cacar air, campak, flu burung, atau bahkan HIV pun mungkin bisa di sembuhkan olehnya. Andai ada banyak orang dengan kekuatan sepertinya, aku jamin tidak akan ada lagi yang namanya penyakit di dunia ini.

Dan ada juga si tiang listrik super tinggi Kris. Satu hal yang membuatku sadar, dia tidak se-cool yang terlihat. Dia lebih……. Ehm, bloon kurasa?

“Kekuatan ku adalah Fire & Dragon.” Umumnya bangga. Para cewek pun sudah menatapnya dengan takjub mendengar kata-kata ‘dragon’ yang tadi diucapkannya. Membayangkan akan ada naga di ruangan ini membuatku jadi sedikit deg-degan.

“Whoaa!!!”

Semua berdecak kagum saat melihat Kris yang kini melayang diudara. Bahkan di telapak tangan dan di kakinya terdapat beberapa percikan api yang membuat kami semakin berdecak kagum.

“Mana naganya?” Dayeon, untuk yang pertama kalinya membuka suara.

Benar juga. Dilihat dari manapun, tidak ada naga disini. Yang ada hanya kris yang melayang seperti layangan dengan beberapa percikan api di beberapa daerah tubuhnya.

“Kalian tidak melihat naga? Dia ada di telapak kakiku!!!” Mendadak Kris histeris, membuat kami semua mendelik. Sungguh, tak ada naga di sana, selain Kris yang melayang-layang semakin mirip layangan.

Untungnya Ketua osis yang mulia langsung menenangkan kris dan menjelaskan pada kami kalau ternyata Kris juga masih dalam tahap pembelajaran. Kurasa level Kris masih tidak jauh beda dengan Baekhyun tadi.

Rasanya aku kasihan pada Chanyeol. Pasalnya, dia baru saja pamer tentang kekuatannya yang katanya dapat mengendalikan api seperti Kris, namun jauh lebih hebat dari milik Kris. Tapi faktanya, meski dia setengah mati mengeden berusaha memunculkan kekuatannya – yang membuatku mengira dia kebelet boker—namun tetap saja kekuatannya tidak muncul-muncul. Hingga lagi-lagi ketua osis yang super mulia membujuknya berhenti mengeden dan menyemangatinya untuk mencoba lain kali. Rupanya masih ada yang lebih bodoh ketimbang Baekhyun dan Kris.

Ada juga Luhan—cowok si murah senyum— yang dengan isengnya membuat kami semua melayang di udara, dan belakangan aku tahu kalau dia bisa telekinesis. Lalu anak berambut pelangi tadi—yang namanya Sehun—membuat heboh anak cewek karena kekuatannya. Sebenarnya, kami semua sempat kagum saat pusaran angin keluar dari telapak tangannya. Tapi, rasa kagum itu langsung berubah jadi hujatan dan celaan saat angin- angin itu dengan nakalnya mengibar-ngibarkan rok anak cewek. Di tambah lagi tadi aku pakai dalaman Doraemon, makin lah rasanya aku kepengen getok kepala si rambut pelangi itu karna sudah membongkar aib tentang dalamanku.

Intinya, sedikit dari mereka yang benar-benar normal. Selain fakta kalau kami semua memang bukan manusia biasa.

.

.

Ngomong-ngomong, apa kekuatan kami? Kalau para Angels saja kekuatannya bisa sekeren itu, bukankah Devils yang merupakan demon para Angels seharusnya memiliki kekuatan yang jauh lebih hebat?

.

.

To be continued

3 pemikiran pada “Guardian Devil High School (Chapter 1)

  1. Cepet next thor kereeeeeen banget semoga si chanyeol sama chan chan wkwkw nanti apa yg mereka hadapi emg mereka punya musuh? Ahhh pengen cepet baca yg chapter 2 hehe jgn alamat ya thor

  2. Wow keren bangeeet , ini keren banget sumpah 😀 Aku antara kagum ama fantasynya atau pengen ngakak baca monolognya chanchan . Eh btw thor aku suka deh kalo chanchan ama sehun kayaknya klop deh kalo mereka berdua di pasangin , oke d tunggu nextchaptnya yah thor . Di postnya jangan lama-lama yah^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s