Unspoken (Chapter 2)

Unspoken

Title: Unspoken

Author: tintinetoipots

Cast: Luhan, Sehun (main) & other EXO members

Genre: Drama

Length: Chaptered

Rating: T

Note: Foreword ->http://www.asianfanfics.com/story/view/892955/unspoken-drama-exo-luhan-sehun-hunhan

Chaptered 2 -> http://www.asianfanfics.com/story/view/892955/2/unspoken-drama-exo-luhan-sehun-hunhan

0o0

“Kau hanya hidup sekali.” itulah apa yang Sehun katakan jika kau bertanya kenapa dia saat ini dan di umurnya yang sekarang ini, masih menggunakan diary. Dia bosan dengan kehidupannya, bahkan dia berpikir demikian tapi banyak hal yang ingin dia utarakan. Hanya saja, dia tidak terlalu banyak bicara.

“Kembalikan, Luhan hyung.”

“Bagaimanapun juga,kenapa kamu masih menggunakan diary? Bukankah ini barang-barang perempuan?”

“Baik, kau hanya hidup sekali.”

0o0

“Luhannie, aku bahkan tidak mengerti kenapa kau mencobanya begitu keras,” Minseok menggelengkan kepalanya melihat temannya.

“Apa maksudmu?” Luhan mengatur pipinya yang menggembung karena sekarang dia sedang makan siang dengan sedikit terburu-buru.

“Bisakah kau tenang dan makan dengan pelan? Kau akan tercekik kalau seperti itu.”

“Aku harus cepat makan karena mungkin aku merindukan Sehun…”

“Itu apa yang sudah aku bicarakan, Lu. Kau ini semuanya Sehun dan Sehun saja setiap waktu. Itu membuat telingaku sakit tahu?”

“Apa? Aku hanya membantu anak itu dengan kelasnya. Di samping itu aku juga bosan.”

“Benarkah? Jika aku tahu ini akan terjadi, aku tidak akan membiarkanmu untuk berbicara dengan mereka selama pertemuan.”

“Apa kau sedang cemburu, Kim Minseok?”

“Ew, jangan berbicara seperti itu.”

“Tapi kau cemburu, kan?”

“Baik! Kau tidak pernah menghabiskan waktu dengan temanmu yang kesepian karena kau sangat sibuk bercumbu…”

“Diam, Seokkie! Aku tidak bercumbu!”

“Aku tidak akan peduli jika aku tidak akan tahu kau sedang bercumbu karena aku sudah mengetahuimu selama ini, bodoh!”

“Tidak! Aku seorang senior yang baik, hanya itu! Dan pernahkah kau melihat Jongin? Dia seperti seorang penariyang luar biasa.”

“Jadi, jika kau tidak bercumbu dengan Sehun lalu kau menggunakannya untuk mendapatkan Jongin?”

“Tidak! Kenapa kau secara tidak langsung menganggapku mempunyai maksud tersembunyi untuk melindungi mereka?”

“Karena aku mengetahuinya.”

Luhan menyerah setelahnya karena Minseok jelas mengetahui dirinya daripada siapapun. Jika dia jujur. Dia sebenarnya tidak bercumbu dengan Sehun, dia hanya tidak bisa menjelaskan ketertarikan pada mahasiswa yang pendiam dan terlihat dingin itu. Faktanya, dia tidak hanya sendiri karena Oh Sehun sudah membentuk fan base sendiri di kampus dan dia dijuluki sebagai Snow Prince.

Dan Luhan dengan senang hati ambil bagian karena dia adalah Prince Charming. ‘Title’ mereka sebenarnya cocok. Dia harus menghilangkan senyuman bodoh dari wajahnya karena dia sedang memikirkan itu.

Satu hal yang dia perhatikan dengan Sehun adalah dia pemalu dan pendiam. Benar-benar berlawanan dengan temannya yang ramah dan berisik. Dia bertanya-tanya bagaimana mereka bisa dekat. Perbedaan yang menarikkan, kan? Bagaimana jika mereka saling tertarik satu sama lain karena semua perbedaan itu? Dia sedikit ngeri karenanya.

Dia merasa sedikit sedih ketika dia melihat Jongin mengeluarkan ekspresi yang berbeda pada wajah Sehun yang biasa tampan tapi wajah dingin. Dia selalu berusaha untuk berbicara pada anak itu dan melihat jika dia bisa melakukan hal yang sama tapi yang dia dapatkan dari Sehun hanya anggukan sopan dan senyuman kecil. Selalu seperti itu. Cukup membuatnya frustasi karena dia sudah hampir melakukan hal yang tidak penting untuk mendapatkan perhatian.

Mahasiswa telah membuatnya ketertarikannya jengkel dan dia sekarang hampir lelah dalam menyelesaikan misteri yang dibuat oleh anak yang bernama Oh Sehun.

~Sehun’s Diary~

8/1

Ini adalah salah hari yang aku sangat aku benci. Aku benci membolos sekolah karena alasan yang bodoh dan tidak berguna. Ibuku bersikeras akan hal itu dan aku bilang aku sudah berhenti menjadi anak yang nakal karena setiap kali aku protes padanya, dia akan menangis. Aku tidaklah seburuk itu.

Jongin mendatangiku dan memberikan catatannya padaku setelah dia menanyakan bahwa aku baik-baik saja. Aku membiarkannya menceritakan hari-harinya dan mencoba berkali-kali untuk mengabaikan nama Kyungsoo hyung yang terucap dari bibirnya. Aku tidak pernah memperhatikan jika aku tetap menghitungnya dan sebelum aku pergi, dia sudah menyebut kalau nama senior kami ratusan dan tiga belas kali dalam jangka waktu empat jam.

Dia sungguh telah mendapatkannya.

Aku sedikit iri padanya karena dia dapat berbicara dengan bebas tentang orang yang dia sukai. Dia dapat dengan bebas menyukai orang yang dia sukai dan aku tidak. Aku tidak bisa. Aku hanya akan berakhir dengan menyakiti diriku sendiri ketika hal itu terjadi.

8/2

Aku tidak percaya aku baru saja melakukannya. Aku baru saja menumpahkan semua makanan siangku pada Luhan hyung. Aku sungguh bodoh. Bagaimana aku akan bisa menghadapinya besok?

Dan dia memanggilku Sehunnie. Itu membuatku sangat senang dan terasa berbeda ketika Jongin memanggilku seperti itu. Tidak ada segerombolan kupu-kupu di dalam perutku dan aku, wajahku tidak memerah pada Jongin. Semua itu hanya dengan Luhan hyung.

Aku seharusnya mengambil langkah mundur.

~end~

“Sehun, tidak apa. Aku sudah mengganti baju di lokerku,” Luhan memberikan senyumannya pada Sehun yang terlihat panik dan ketakutan.

“Aku sungguh minta maaf, hyung. Aku tidak bermaksud melakukannya. Itu, uhhh terlepas dari peganganku. Ayolah, lengan. Kau harus bekerja sama denganku!”

“Aku bilang, aku tidak apa-apa, Sehunnie. Aku tidak tersinggung.” Luhan meletakkan tangannya pada lengan Sehun dan para murid tersentak melihatnya. Itu bukanlah reaksi ketidaknyamanan yang dia buat. Hal itu adalah kehangatan menyenangkan yang dia rasakan ketika menyentuhnya dan memanggil namanya. Luhan merasa tersentak di hatinya pada reaksi orang lain dan hanya tersenyum lagi, dia berdiri dan pergi menuju lokernya.

Dia yakin mendengar ada suara langkah kaki yang mengikutinya dan dia tersenyum lagi. Sehun bisa manis ternyata. Dia sampai di lokernya dan membukanya lebar-lebar untuk mendapatkan tasnya yang berisi pakaian serapnya.

“Kau tidak harus mengikutiku, Sehunnie,” dia tidak berbalik karena dia sedang blushing dengan hebatnya karena suatu alasan. “Aku bisa menanganinya sendiri,” tapi dia menjawabnya dengan terkekeh pelan yang membuatnya berbalik seketika.

“Kau benar-benar, Luhan,” Minseok berbicara dengan gemetar diantara kekehannya.

“Diam!” dengan cepat Luhan meninggalkan lokernya menuju kamar kecil. Apa yang membuatnya berpikir Sehun akan mengikutinya? Dia bodoh dan menanggungnya dan ini semua sangat memalukan. Temannya mungkin sudah tahu petunjuk. Dia sudah tidak enak pada Oh Sehun.

“Apa yang terjadi, man?” Jongin mencoba menahan dirinya untuk tertawa ketika dia mendengar apa yang telah temannya lakukan. Itu tertahan di tenggorokannya ketika Sehun melihatnya dengan gelisah. “Apa? Apa yang salah?”

“Lenganku mati rasa seketika, Jongin. Aku tidak bisa merasakannya,” mata Sehun melebar dan mereka terlihat takut. Sekarang, Jongin bahkan merasa tidak enak memikirkan kelucuan temannya.

“Kau bilang kau baik-baik saja setelah mengunjunginya.”

“Aku memang baik-baik saja, Jongin. Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Awalnya aku baik-baik saja dan kemudian aku tidak bisa merasakan lenganku dan Luhan hyung berada di tempat yang salah karena itu makananku tertumpah padanya.”

“Aku minta maaf, Sehun.” Jongin menepuk punggung temannya agar lebih tenang. Sehun tidak berbicara banyak tapi dia cenderung ingin untuk menyampaikannya. Dan dia tidak lebih baik ketika dia ingin menyampaikannya. Itu mungkin lebih buruk. Mungkin ibu Sehun benar untuk meyakinkannya untuk keluar dari sekolah. Dia juga menginginkannya untuk dirinya tapi dia tidak ingin untuk keluar dari sekolah dengan alasan yang sama dengan Sehun. Dia pun tidak akan berharap pada siapapun.

“Kenapa kau tidak kembali..?”

“Tidak! Kau tahu bagaimana aku tidak ingin ke sana,” Sehun mencibir di kursinya.

“Mungkin itu akan membantumu, Sehun…”

“Tidak, Jongin. Apapun yang aku lakukan, semua ini tidak akan hilang. Mereka bilang begitu…”

“Kenapa kau seperti itu? Kau tahu terapi sangat membantu. Itu yang membuatmu menari hingga sekarang.”

“Lupakan itu, Jongin.”

TBC

😀 buat yang nantiin kelanjutan dari chapter 1, maaf ya baru update sekarang /kaya yang ada aja nungguin/ kirain ga bakal di posting sama adminnya, soalnya ini kan cuman ff trans, jadi ga terlalu pay attention buat ini. Tapi nyatanya di posting! Makasih admin, makasih buat reader yang mau nungguin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s