Wave Find Beach (Chapter 7)

Wave Find Beach (Chapter 7)

mn

Author                      :   –     Ayse_Lyn

Main Cast                :   –     Park Chanyeol                   –   Oh Sehun

–      Ma Jinhwa (OC)               –     Lee Soonji (OC)

Genre                       :   –     Angst, Friendship, Romance *little bit*

Length                      :   –     Chaptered

Rating                       :   –     (+15)
Pesan & Saran       :

Udah pernah dipost di wp pribadi ^^
Please don’t be plagiator yaa…., soalnya ff ni murni buatan saya dengan inspirasi dari berbagai sumber, dan tolong jangan dianggep serius soalnya ni ff cuma buat hiburan semata, mengingat imajinasi saya yang emang absurd horor nggak karu-karuan. Makasih banget buat readers yang udah nyempetin baca. Mianhae ne klw typo-nya bertebaran kayak butiran debu, soalnya –lagi- saya nulis ni ff sambil mikirin suami-suami(?) saya *ngelirik EXO -digantung EXO-L*. Well, langsung saja ke TKP……
Eh… ada yang nyelip,

Warning!! DON’T LIKE, DON’T READ…….

<EXO ♥ JJANG>

Preview

“Sttt…. Bagaimana kalau kita pura-pura tak tahu saja? Biarlah kartu AS kita lenyap, kita bisa memikirkan cara lain untuk membalas anak itu”.

Aku tidak menyukainya secepat ini kan? tanyanya dalam hati. Dia butuh 100 orang untuk disurvey dengan hasil terbanyak mengatakan, “Tidak. Kau tidak menyukainya. Hanya terlanjur kagum saja”.

“Tolong carikan kontak Lee Soonji lewat nomer Park Chanyeol yang kunamai Park Idiot. Dengan nomernya kau pasti bisa mendeteksi ponsel Chanyeol beserta data di dalamnya kan, hyung?”

“Jangan terlalu peduli padaku, Sehun –ssi. Kumohon berhentilah bersikap seperti ini. Kau hanya membuatku semakin tertekan”.

“Kubilang berhenti, Oh Sehun!”

Mungkin karena aku yatim-piatu tak berguna dia lebih memilih Chanyeol yang memiliki segalanya.

Aku harus segera mengembalikannya.

<EXO ♥ JJANG>

Chapter 7

 

Empat menit setelahnya Jinhwa sudah berada di ruang penyiaran informasi. Dia meminta petugas untuk segera mengumumkan barang yang telah ia temukan.

“Diberitahukan kepada seluruh murid, guru-guru, beserta para staf, bahwa telah ditemukan sebuah cincin di depan ruang musik lama. Sekali lagi, diberitahukan kepada seluruh murid, guru-guru, dan para staf, bahwa telah ditemukan sebuah cincin di depan ruang musik lama. Bagi yang merasa kehilangan cincin tersebut silahkan menuju ruang penyiaran. Sekian terimakasih atas perhatiannya”.

Sayangnya sang pemilik cincin –Oh Sehun- tengah tiduran di atap sekolah ditemani lagu pop-rock bervolum maksimal dari headphone yang menghias telinganya. Jelas saja Sehun tak akan tahu pengumuman tersebut, terlebih tiga serangkai juga telah dijemput pulang oleh orangtua masing-masing.

Jinhwa menengok arlojinya dengan bosan. Hampir satu jam dia mendekam di ruang penyiaran, namun belum ada juga yang datang untuk mengakui hak kepemilikan atas cincin tersebut. Bahkan dia sampai harus mengorbankan waktu KBM nya gara-gara cincin tak jelas itu. Karena tak tahan, Jinhwa memutuskan kembali ke kelasnya.

“Seonsaengnim, saya titip cincin ini, ya. Nanti kalau pemiliknya datang berikan saja padanya. Saya harus mengikuti pelajaran”, ujar Jinhwa seraya melepas kalungnya dan menyerahkan cincin tersebut pada petugas.

“Arraseo, memang sebaiknya kau tidak meninggalkan pelajaran seperi ini”, sindir petugas itu halus sembari menerima cincinnya.

“He..he..”, Jinhwa meringis malu lalu pamit undur diri.

Bel pulang berdentang, menggugah semangat mayoritas murid yang mulanya terkantuk-kantuk pada jam pelajaran terakhir. Dengan cepat Jinhwa memberesi peralatan sekolahnya dan melesat keluar setelah gurunya meninggalkan kelas. Bahkan dia sampai menerobos kerumunan para murid yang beranjak pulang saking tergesanya. Ketika tiba di ambang pintu ruang penyiaran, dengan agak tersengal gadis itu bertanya, “Bagaimana…seonsaengnim?”

Petugas yang tadinya merapikan berkas-berkas itu menoleh ke arah Jinhwa dengan tatapan simpati.

“Sayangnya tak ada yang mengakui cincin ini”, petugas itu mengembalikan cincinnya ke Jinhwa.

“Apa?” tanya Jinhwa kecewa.

“Apa kau yakin cincin ini milik salah satu warga SMP Seungri?”

Jinhwa memandang cincin itu lalu meraihnya, “Ne”, jawabnya lesu.

“Simpan saja dulu, besok aku akan mengumumkannya lagi”, ujar petugas itu pengertian.

Jinhwa mengangguk kemudian membungkuk sopan, dia pun melanjutkan untuk pulang.

Aku yakin kemarin ada yang mencarinya, batin Jinhwa tak habis pikir.

 

            ` 05.10 pm KST.

            Oh Sehun menumpahkan kepenatan yang membludak di kepalanya dengan melakukan break dance di sebuah ruang latihan yang juga di gunakan anak-anak lain, di mana usia mereka antara 10-18 tahun. Yap, sebut saja ini tempat trainee. Sehun memang seorang trainee di sebuah agensi kecil berjalan hampir 2,5 tahun ini, dan itulah mengapa dia sering –hampir setiap hari- terlambat, Sehun tidak bisa membagi waktunya dengan baik. Dengan peluh bercucuran yang membuat rambut serta kaos putihnya basah kuyup, Sehun menari tanpa mempedulikan tatapan heran anak-anak lain.

“Sepertinya dia sedang marah”.

“Benar. Mimiknya penuh emosi, tariannya juga penuh emosi”.

“Arrgghh!!” teriak Sehun selepas menghentikan tariannya. Dia berjalan menuju tasnya untuk mengambil minuman dengan membiarkan musiknya terus berputar. Dia tak mempedulikan anak-anak lain yang tampak terkejut mendengar teriakannya tadi.

Sehun membuka tutup botolnya dan menghabiskan isinya dalam tiga teguk.

‘Ceklek’, seorang pria berusia 27 tahunan memasuki ruang latihan. Sontak semua trainee –minus Sehun- bangkit dari duduk mereka lalu membungkuk hormat.

“Annyeong, pelatih!” sapa mereka serentak.

“Annyeong, anak-anak”, balas pria itu a. k.a dance coach ramah.

“Sehun –ssi”.

Sehun yang dipanggil oleh pelatihnya pun beranjak menghampirinya.

“Ne?”

“Maaf ya anak-anak, tapi aku ada sedikit urusan dengan Sehun –ssi”.

“Yah…padahal aku tak sabar ingin menunjukkan progressku pada pelatih”, ujar seorang anak lelaki berusia 15 tahun.

“Aku juga ingin segera diajari dance baru lagi”, timpal anak lelaki lain yang sebaya.

“Aku juga… aku juga”, anak-anak yang lebih kecil ikut menyuarakan protes.

“Ha..ha..ha… Geure, geure”, sahut pelatih geli akan tingkah anak didiknya yang kekanak-kanakan.

“Tapi pelatih dan Sehun –ssi keluar sebentar dulu, anak-anak. Pelatih janji akan kembali secepatnya”.

“Yaksok?” tanya anak lelaki yang pertama bersuara.

“Yaksok”.

“Baiklah, asal pelatih kembali”.

“Baiklah, baiklah”, dan para anak kecil kembali ikut-ikutan.

Tanpa membuang waktu lagi pelatih itu menggiring Sehun menemui seseorang di ruang penerima tamu. Pelatih dan Sehun duduk bersebelahan, sedangkan seseorang yang dimaksud duduk di seberang mereka.

“Jadi, apa anak ini yang kau rekomendasikan padaku?” tanya pria paruh baya itu penuh wibawa.

“Ya, pak. Dia salah satu yang menonjol, bahkan facenya juga mendukung”, jawab pelatih.

“Hm… kupikir dia boleh juga. Memang siapa namamu, nak?”

Sehun yang sedari tadi diam dan menebak-nebak maksud perbincangan ini, mengarahkan manik cokelat tuanya pada pria tersebut.

“Oh Sehun. Maaf, tapi bisakah anda menjelaskan tujuan anda ke mari? Lalu apa hubungannya dengan saya?”

“Sehun –ssi”, tegur pelatih dengan ucapan Sehun yang terkesan tidak sopan.

“Tak apa, Jay –ssi. Biar aku jelaskan padanya”, ujar pria itu yang ditujukan untuk pelatih –Jay Park-.

“Tapi, pak…”

Pria itu mengangkat tangannya, menyuruh pelatih diam.

“Jadi, nak. Telah jauh hari aku membuat kesepakatan dengan pemilik agensi ini. Yang isinya adalah kami akan bertukar trainee apabila di pihaknya ada seseorang yang sangat berbakat menari dan di pihakku ada yang berbakat menyanyi”.

Mwoya ige? remeh Sehun dalam hati.

“Mungkin bagimu ini terdengar konyol, namun inilah solusi tepat untuk mendongkrak agensi kami agar menjadi agensi besar di kancah hiburan. Agensi kami memang jalan sendiri-sendiri, namun kami membangun kepercayaan untuk saling bekeja sama menggapai kejayaan”.

“Lalu kenapa harus saya?”

“Bukankah pelatihmu yang merekomendasikanmu padaku?”

Sehun beralih ke pelatihnya.

“Hanya kau yang bisa diharapkan, Sehun –ssi. Kau beruntung karena akan pindah ke agensi yang lebih baik dari agensi kami”, pelatih menjawab tanya di mata Sehun.

“Kenapa malah pelatih yang mengurusnya? Kenapa bukan pemilik agensi ini? Aku bahkan tak pernah melihat sosoknya sejak 2,5 tahun yang lalu. Lalu dengan seenaknya dia melibatkanku dalam permainan bisnisnya. Apa dia pikir aku hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa dan mau-maunya dibodohi?”

“Bukan seperti itu, Sehun –ssi”.

Sehun bangkit dari duduknya, “Maaf, tapi aku bukan budak yang harus menuruti ambisi kalian”, tolak Sehun yang merasa direndahkan.

Pria paruh baya itu tersenyum tipis lalu mengeluarkan sebuah kartu nama, “Ambillah. Aku yakin sewaktu-waktu kau akan berubah pikiran”.

“Tak akan”, tepis Sehun tegas.

Pria paruh baya itu berdiri diikuti pelatih.

“Jeosonghamnida, sajangnim. Saya akan berusaha membujuknya”, ujar pelatih merasa bersalah.

“Aku tak akan terbujuk, pelatih”.

“Ya, ya, aku mengerti, Jay –ssi. Terimakasih sudah merekomendasikannya. Kupercayakan semuanya padamu”, pria paru baya tersebut tak menghiraukan omongan Sehun dan memutuskan pamit.

“Sekali lagi maafkan dia, pak. Dia masih labil”.

Pria paruh baya itu hanya tersenyum kebapakan, “Aku mengerti”.

Sementara Sehun mengepalkan kedua telapak tangannya, bukannya sirna, amarah yang mendidih ini kian menjadi-jadi.

Kenapa semua orang senang sekali mempermainkanku?

08.48 pm KST.

            Sehun menendang-nendang kaleng bekas minuman dan kerikil-kerikil yang menghalangi jalannya. Diremasnya sebuah kartu nama dalam genggaman. Masih terngiang bayangan tentang pelatihnya yang memohon bahkan sampai mempertaruhkan harga diri dengan berlutut di hadapannya, hanya supaya Sehun bersedia menjadi trainee di agensi yang memang namanya mulai melejit itu. Pelatihnya bilang masih banyak trainee di luar sana yang berebut untuk masuk agensi itu, namun tidak semua mendapat buah yang manis, sedang Sehun yang ditawari dan bukannya harus mengerahkan tenaga malah menolak. Pelatihnya menasehatinya agar meninggalkan tabiat sombongnya itu.

Sombong katanya?

“Memang siapa yang sombong?” Sehun menendang keras sebuah kaleng minuman bermerek terkenal.

‘DUK’.

“Appo”, rintih seseorang.

Sontak Sehun mendongak, begitu matanya beradu dengan mata seseorang yang terkena kaleng sasarannya, seluruh persendiannya terasa kaku. Lagi-lagi jantungnya menggila, pipinya pun ikut merona. Ya, siapa lagi yang akan membuatnya seperti ini kalau bukan gadis itu? Lee Soonji jelas-jelas berada tujuh meter darinya. Gadis itu berdiri di depan gerbang panti asuhannya sembari membawa sebuah blazer yang terlipat rapi. Melihat Sehun yang terdiam dengan raut datar, tanpa ba bi bu Soonji melangkah mendekati lelaki yang tampak acak-acakan itu.

“Terimakasih”, Soonji menyodorkan blazer tersebut ke pemiliknya tanpa senyuman.

Sehun hanya diam mengamati gadis yang berjarak 1,5 meter darinya.

Soonji merasa risih ditatap seperti itu, “Kubilang terimakasih. Tolong cepat ambil blazermu, aku harus segera pulang”, nada Soonji berubah ketus.

Sehun perlahan mengarahkan kedua tangannya untuk mengambil blazer, namun bukannya menyentuh blazer, Sehun malah menarik kedua tangan Soonji hingga jarak mereka berkurang 1,2 meter. Soonji yang mendapat perlakuan tak terduga, tiba-tiba merasa gugup.

“Kau…”

“Nado gumawo”, potong Sehun.

Sementara dahi Soonji mengerut tanda tak paham.

“Berkat kau mereka bertiga mendapat ganjarannya”, jelas Sehun datar. Lelaki itu masih tersinggung akibat pernyataan Soonji di UKS.

Seketika otak Soonji mempertontonkan kejadian dua hari lalu.

FLASHBACK

Soonji naik ke lantai dua menuju kelas Chanyeol guna mengembalikan buku fisika lelaki itu yang dipinjamnya. Namun langkah Soonji terhenti di depan pintu kelas IX-1 yang sedikit terbuka saat melihat tiga murid lelaki membalik tas seseorang. Soonji pun mengintip aksi mereka dari balik pintu. Tiga murid itu secara tak berperasaan menginjak-injak peralatan sekolah yang keluar dari tas tersebut. Soonji jadi kesal melihatnya. Dia pun bergegas mencari Chanyeol untuk melaporkan tindakan semena-mena tersebut. Dan sayangnya Soonji sama sekali tak mengetahui perihal cincin karena dia keburu pergi.

Begitu gadis itu menuruni tangga, kebetulan dia berpapasan dengan Chanyeol, orang yang dicarinya.

“Hai, Soonji –ya”, sapa Chanyeol diiringi senyum khasnya.

“Gawat, Chanyeol –ah”, ujar Soonji panik.

Spontan senyum Chanyeol menghilang, “Ada apa?’”

Dan Soonji pun menceritakan semua yang dilihatnya tanpa menambah atau malah mengurangi informasi.

“Jinjja!” dengus Chanyeol kesal, emosinya tersulut.

“Gumawo, Soonji –ya”, ujarnya kemudian.

“Cheonma. Tolong urus kasus ini sebaik-baiknya”, pinta Soonji.

“Arraseo”.

END FLASHBACK

“Ah itu….”, Soonji tak mampu menemukan kalimat yang tepat.

“Apa kau melihat mereka mengambil sesuatu dari barang-barangku?” tanya Sehun to the point.

“Ne? Barang? Apakah barangmu ada yang hilang?”

Sehun pun melepas tangan Soonji dari tangannya dan mundur beberapa langkah.

“Jadi kau tak melihat mereka mengambil sesuatu?”

Soonji menggeleng, “Molla. Aku tak melihatnya”.

Sehun menghela napas berat, dia lalu menyambar blazernya.

“Hati-hati di jalan”, ucapnya dingin lantas menuju panti asuhan, meninggalkan Soonji yang mematung dengan tangan yang seolah masih membawa blazer.

Entah kenapa hatinya jadi tak enak akan sikap Sehun yang dingin seperti tadi.

Oh Sehun, dia sulit ditebak.

<EXO ♥ JJANG>

Tak terasa waktu bergulir cepat. Pagi jadi siang, siang jadi sore, sore jadi malam, dan malam kembali diambil alih pagi. Dari detik menuju menit, menit menuju jam, jam menuju hari, hari menuju minggu, minggu menuju bulan, bulan menuju tahun, dan tahun berkembang menjadi abad demi abad. Cuaca juga makin labil, kadang sehari panas menyengat, kadang hari berikutnya malah dingin menusuk, benar-benar bagaikan remaja yang kadang sehari tertawa tak henti-henti, besoknya malah diam seribu bahasa ditambah awan mendung yang menaunginya, benar-benar labil. Jalannya masa itu layaknya minum es dawet setelah lari marathon keliling kampung, cepat habisnya. Namun umumnya kita tak menyadari, hingga kebanyakan waktu berharga kita terbuang percuma. Ya, waktu yang katanya hanya satu menit akhirnya ditangisi juga bila saatnya tiba. Bumi sungguh ironis karena mayoritas dihuni manusia kufur nikmat (termasuk yang ngetik tulisan ini). Benar-benar ter…la…lu. Baiklah, abaikan saja narasi tidak nyambung ini. Sekarang kita fokus pada cast beserta alur ceritanya.

4 months later, 09.10 am KST

            Satu hari sebelum ujian nasional, tiga orang sahabat yang merupakan Chanyeol, Jinhwa, dan Soonji, sepakat untuk belajar bersama. Yap, hubungan mereka bertiga sudah membaik seperti sedia kala, bahkan bisa dikata lebih akrab dari sebelumnya. Dan yang menjadi tempat singgah untuk belajar bersama yaitu rumah Chanyeol. Soonji tiba lebih dulu dan berdiri di depan gerbang rumah Chanyeol. Dia mengirimi Jinhwa sms yang berisi dirinya telah sampai. Beberapa detik berikutnya Jinhwa membalas bahwa dirinya kurang belasan meter lagi akan tiba. Mereka berdua memang telah janjian untuk masuk ke rumah Chanyeol bersama-sama. Soonji menyimpan ponselnya di tasnya dan tak lama berselang terdengar suara Jinhwa menyapa.

“Soonji –ya!”

Soonji menoleh dan melambai pada Jinhwa yang berlari kecil menghampirinya. Akhirnya mereka membunyikan bel dan bergegas seorang security membukakan gerbang. Soonji dan Jinhwa pun membungkuk hormat.

“Annyeonghaseyo, ahjussi. Kami sudah janjian dengan Chanyeol untuk belajar bersama”, ujar Soonji sopan.

“Ah….kalau begitu silahkan masuk”, security berumur itu lalu mempersilahkan Soonji dan Jinhwa agar menemui sang tuan rumah.

Kedua gadis itu kembali membungkuk dan berjalan berdampingan menuju pintu rumah yang sedikit terbuka.

Sesampainya di depan pintu, Soonji pun mengetuknya.

‘Tok…tok…tok…’

‘Tok…tok…tok…’

Kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi. Dia berjalan tergesa-gesa sembari mengecek handphonenya tanpa menyadari kehadiran dua orang tamu.

“Annyeonghaseyo, Chanyeol eomma”, sapa Soonji dan Jinhwa serempak.

Wanita tersebut yang merupakan ibu Chanyeol menghentikan sejenak langkahnya dan memandang dua gadis remaja di sampingnya. Akan tetapi, bukannya menyahut dengan sikap ramah seperti biasanya, ibu Chanyeol malah tersenyum sinis dan segera meninggalkan keduanya tanpa berucap apa-apa. Kontan hal tersebut membuat kedua gadis remaja itu saling pandang dengan heran.

“Ya chingudeul! Mari masuk!” mendadak Chanyeol muncul di ambang pintu dan mengajak Soonji dan Jinhwa agar segera masuk.

Ketika mereka sedang berkutat dengan soal-soal di buku detik-detik ujian nasional, Jinhwa berhenti memeras otaknya. Dia hanya memegang pensil dan diam-diam mengamati Soonji dan Chanyeol yang fokus sendiri-sendiri. Entah kenapa perilaku ibu Chanyeol tadi begitu mengusiknya, membuatnya gusar. Kemudian Jinhwa berusaha memantapkan hati guna menanyakan hal itu pada Chanyeol.

“Chanyeol –ah”.

“Ne”, sahut Chanyeol tetap sibuk mengerjakan soal-soal.

“Aku ingin bertanya sesuatu”.

Chanyeol menghentikan aktivitasnya lalu menatap Jinhwa, “Apa ada soal yang tidak kau mengerti?”

“Ani, bukan itu. Emm…. apakah…apakah eommamu sedang punya masalah?”

Mendengar pertanyaan Jinhwa sontak Soonji ikut menghentikan tangannya yang sedang menulis rumus mencari persamaan garis lurus saat sejajar.

“Masalah? Tidak juga. Keadaan di rumah selalu kondusif. Memangnya eommaku kenapa? Yang kutahu eomma tidak kenapa-napa”, jawab Chanyeol jujur, sekarang dia mulai bingung.

“Tapi….”, Jinhwa segan untuk meneruskan kalimatnya. Dia takut Chanyeol tersinggung. Selama ini Chanyeol selalu percaya bahwa ibunya sangatlah baik, Jinhwa pikir Chanyeol pasti tak akan percaya omongannya.

“Mana mungkin eommaku bersikap sinis pada kalian?”

Jinhwa memperkirakan kalimat itulah yang bisa jadi Chanyeol lontarkan apabila mendengar ucapannya.

“Tapi kenapa?” pertanyaan Chanyeol membuyarkan lamunan Jinhwa.

“Eh? Tapi… tapi…”

“Tapi tadi eommamu bersikap tidak ramah pada kami. Beliau tersenyum sinis saat kami menyapanya”, lanjut Soonji mewakili isi hati Jinhwa.

“Apa? Mana mungkin eommaku bersikap begitu pada kalian?” sangkal Chanyeol.

Tuh kan, batin Jinhwa yang perkiraannya tak meleset.

“Ya sudahlah, eommamu juga manusia. Jadi kami bisa memakluminya”, ujar Soonji yang sepertinya ingin mengakhiri topik ini.

“Tapi eomma tak mungkin memperlakukan teman-temanku dengan tidak baik”, Chanyeol tampaknya masih ingin mendebat.

“Maaf, Chanyeol –ah. Kami tak bermaksud menjelek-jelekkan ibumu”, Jinhwa sumbang suara.

“Sudahlah, jangan diungkit lagi. Aku benar-benar butuh konsentrasi mengerjakan soal-soal ini”, sela Soonji yang menatap Jinhwa seolah berkata tolong-jangan-dilanjutkan.

Jinhwa pun menunduk dan menyibukkan diri mengerjakan soal-soal yang belum terjawab.

Sementara itu Chanyeol terdiam seraya memegang erat pensilnya. Dia tahu teman-temannya tak punya niat buruk, dan dia juga percaya dengan pengakuan mereka. Kini yang membuat hatinya terganjal yaitu perihal ibunya. Ada gerangan apa ibunya tiba-tiba bersikap seperti itu? Apa ibunya menyembunyikan sesuatu yang penting darinya?

08.14 pm KST.

Jinhwa sedang asyik memandangi ribuan bintang di langit gulita sana dari balkon rumahnya. Dia tak menyangka ujian tinggal sehari lagi, oh ujian… Jinhwa sungguh tak menyukai kata tersebut. Disentuhnya bandul kalung peraknya, cincin emas itu. Jinhwa telah berupaya mencari pemiliknya, namun tak ada seorang pun yang mengakui cincin itu, seperti anak terbuang saja. Petugas penyiar memang sudah mengumumkannya tiga hari berturut-turut, namun nihil (sebab Sehun tidak masuk dua hari dari tiga hari itu karena mendadak terserang flu berat. Mungkin dia drop gara-gara beban pikirannya. Sedang tiga sekawan pun saat itu masih dirawat di rumah sakit yang sama).

“Jinhwa –ya, ini makanlah”, ibu Jinhwa masuk ke kamar anaknya seraya membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat sepiring kecil brownies, sepiring kecil lain potongan buah kiwi, serta segelas susu segar. Beliau meletakkannya di meja belajar Jinhwa yang penuh buku, bahkan kasurnya telah dipenuhi buku-buku berserakan. Cara belajar Jinhwa sungguh ribet.

“Eomma”, Jinhwa beranjak dari balkon lalu mengambil sepotong brownies dan duduk bersebelahan dengan ibunya di tepi kasurnya.

Jinhwa menawari ibunya brownies di tangannya, dan ibunya melahap brownies yang tinggal seperempat itu. Ibu dan anak tersebut pun tertawa bersama, suasana penuh kehangatan cinta. Di saat Jinhwa membelakangi ibunya guna mengambil soal-soal matematika, tiba-tiba ibunya mendekapnya dari belakang dengan sayang.

“Uri Jinhwa –ya, sebentar lagi anak eomma akan SMA, lalu kuliah, lalu bekerja, lalu menikah, ah… eomma pasti jadi kesepian”.

“Eomma… Siapa yang mau menikah? Lagi pula mana tega aku meninggalkan eomma sendiri”, protes Jinhwa sembari memegang lengan ibunya.

“Ha…ha… kau ini. Tentu saja kalau sudah dewasa kau akan menikah. Baguslah kalau kau tak mau berpisah dengan eomma. Eomma juga tak mau dipisahkan darimu”.

“Eomma…”, ujar Jinhwa terharu. Chanyeol benar, ibunya itu baik, teramat sangat baik.

“Tinggal sehari, uri Jinhwa akan ujian. Jangan lupa berdoa ya. Kalau mengerjakan soal jangan gugup, jangan juga terkecoh teman. Kau harus percaya pada kemampuanmu. Anak eomma ini pintar, dia pasti akan melakukan apa pun sepenuh hati”, ibu Jinhwa lalu membelai lembut rambut anaknya.

Jinhwa melepas perlahan dekapan ibunya lalu menghadapnya.

“Eomma…”, dan Jinhwa langsung menubruk ibunya, memeluknya erat sambil menangis.

“Uri Jinhwa –ya, uljima”, ibunya juga tersentuh, beliau pun mencium puncak kepala anaknya.

Jangan pernah tinggalkan eomma sendiri, Jinhwa –ya. Eomma tak mau berpisah denganmu. Hanya kau yang eomma punya, dan air mata pun mengalir di pipi ibu Jinhwa. Entah kenapa firasat yang janggal tiba-tiba bersarang di hatinya.

Chanyeol’s House, 08.30 pm KST

Chanyeol berdiri di depan pintu kamar ibunya. Dia bimbang antara mengetuk pintu tersebut atau tidak. Selang setengah menit bergelut dengan pikirannya, dia pun beranjak mengetuk pintu. Namun belum sempat melakukannya, ibunya sudah terlebih dulu membukanya. Cepat-cepat Chanyeol menurunkan tangannya dan mencoba bersikap wajar.

“Oh! Chanyeol –ah? Waeyo?”

“Eomma….”, Chanyeol menarik napas dalam-dalam.

“Ada yang ingin kutanyakan pada eomma”, lanjutnya dengan mengesampingkan rasa nervousnya.

Sekarang di sinilah Chanyeol dan ibunya berada, duduk berdua di sofa ruang keluarga.

“Apa yang ingin kau tanyakan, Chan?” tanya ibunya sambil memanggil nama kecil Chanyeol yang jarang diucapkannya.

Chanyeol sedikit terkejut, dia merasa ibunya pasti tahu apa yang akan dia tanyakan.

“Kenapa appa belum pulang juga?” Oke, ini hanya basa-basi. Chanyeol tahu ayahnya sedang ke luar kota mengurusi pekerjaannya selama seminggu ke depan, yah setidaknya itulah yang ibunya jelaskan padanya beberapa hari silam.

Namun, mendengar pertanyaan Chanyeol, hati ibunya terasa pedih. Ada sebuah fakta yang dia tutupi dari anaknya tersebut.

“Tumben kau bertanya tentang appa?” tanya ibunya berusaha meredam guncangan di hatinya.

“Hanya ingin bertanya saja”, jawab Chanyeol seadanya.

“Eomma tahu, bukan itu kan yang sebenarnya ingin kau tanyakan?”

Chanyeol menghela napas berat, dia pun memandang ibunya.

“Eomma sangat mengerti aku. Tetapi… eomma terlihat menyembunyikan sesuatu dariku. Memang, setiap manusia pasti punya rahasia yang tak bisa dia ungkapkan pada orang terdekatnya sekali pun. Namun, aku hanya ingin tahu kenapa eomma bersikap kurang baik pada Jinhwa dan Soonji. Eomma telah mengenal mereka dengan baik, tapi kenapa eomma memberi kesan seperti itu?” tanya Chanyeol menuntut jawaban.

Ibu Chanyeol terdiam beberapa saat. Kemudian wanita itu bangkit dan berlutut di depan Chanyeol sembari memegang erat kedua tangan anaknya.

“Eomma…”, lirih Chanyeol tak menyangka. Hatinya terenyuh menyaksikan ibunya yang mulai terisak.

“Eomma, mianhaeyo. Aku… aku tak bermaksud…”

“Chanyeol –ah….. Tolong dengarkan eomma. Tolong jangan membenci eomma nantinya. Eomma melakukan ini demi kebaikanmu. Jujur saja…………….”

Dan Chanyeol hanya mampu terpaku mendengar penuturan ibunya. Di kala ibunya mengakhiri kalimatnya, Chanyeol mengangguk pasrah, langsung saja ibunya memeluknya sambil menangis pilu.

Eomma, rupanya aku benar-benar tak mengerti eomma, batin Chanyeol dengan sesak di dadanya.

Felon Headquarter, 09.06 pm KST.

“Apa?!” sentak seorang lelaki yang merupakan pimpinan seraya membanting sebendel koran ke atas meja di depannya. Seseorang itu baru saja membaca hot news berjudul ‘Pengusaha Yayasan Sosial Harapan Kita’.

“Jadi wanita itu mengancammu?”

“Benar, ketua. Dia bilang dia memberi kita kesempatan untuk menyerahkan diri dan berhenti melakukan hal ini, tapi jika kita masih berulah, dia tak segan melaporkan kita pada polisi”.

“Hah? Kenapa dia memberi kita kesempatan?”

“Sebab adik ketua alasannya”.

“Ha..ha.. babo!! Dia melebarkan sayap sebagai pengusaha yayasan sosial yang katanya mengayomi para anak dan orang terlantar, mempengaruhi banyak orang dan mengerahkan banyak aparat memata-matai kita, lalu apanya yang kesempatan? Kau lihat! Gara-gara ulahnya yang sok baik itu bisnis illegal kita menduduki peringkat terendah tahun ini. Bahkan banyak negara tetangga yang memutuskan hubungan kerjasamanya dengan kita. Ini benar-benat serius kau tahu?” rupanya dia adalah pimpinan dari bisnis perdagangan gelap organ tubuh manusia. Harta yang didapatnya memang melimpah, namun dia selalu bisa menyembunyikan itu semua agar tak terendus polisi. Bahkan dia rela menjadi orang miskin dengan dandanan ala kadarnya, namun wanita pengusaha yayasan sosial itu rupanya telah mengetahui latar belakangnya.

“Jadi sebelum dia bertindak, kita harus lebih dulu mematahkan niatnya”.

“Ne?”

“Aku punya rencana. Kumpulkan semua anggota, kita rapat sekarang!”

“Siap!”

Lee Boyoung, kurasa inilah saatnya.

<EXO ♥ JJANG>

Hari H, 06.30 am KST

            Oh ujian, meski pun Jinhwa membencinya, namun demi ibunya dia bertekad membuat ujian bertekuk lutut di hadapannya. Di hari bersejarah ini, Jinhwa terpaksa jalan kaki karena roda sepedanya bocor akibat ulah gigi tikus semalam. Kalsium yang terkandung pada gigi tikus itu pasti berlebih, sampai-sampai hewan pengerat itu mampu membuat rodanya berlubang sebesar pentul jarum. Tengah nyamannya berjalan sambil bersenandung, tanpa dinyana rintik hujan turun.

“Aahhh…”, Jinhwa menaungi dirinya dengan tasnya kemudian berlari mencari tempat berteduh.

Begitu hujan yang awalnya gerimis lalu berubah deras mengguyur bumi yang kian renta, tampak seorang anak lelaki, sebut saja Park Chanyeol, sedang menggoes sepedanya sambil mengenakan jas hujan guna melindungi seragamnya agar tak basah. Chanyeol pun turut bersenandung mengimbangi bising air langit. Dia berusaha keras untuk melupakan permintaan ibunya yang ibarat menyuruhnya untuk menelan sebilah pedang. Di depan ibunya dia akan berpura-pura, namun begitu di belakang, dia hanya ingin mengikuti kehendak hatinya.

Tiba-tiba…

‘Bruk’, seseorang menubruk Chanyeol serta sepedanya dari samping, hingga dia oleng dan mendarat tepat di kubangan. Sudah jatuh, Chanyeol pun tertimpa sepedanya sendiri.

“Yaaa!!!!” teriaknya kesal. Dengan jas hujan penuh lumpur –bahkan wajah dan rambutnya pun terpercik lumpur- Chanyeol susah payah berdiri.

“Hisshhh…. Neo!” tunjuk Chanyeol, tetapi dia langsung terbelalak dan kehabisan kata-kata begitu melihat dalang penubrukan.

“Chanyeol –ah, hikss…. tolong aku………”

Lee Soonji berdiri di hadapannya memakai baju tidur lengan pendek dan training abu-abu yang basah kuyup, terdapat luka di muka dan tangannya disertai darah yang mengering di sana, dan dia menangis dengan memilukan.

“Mereka mau membunuhku”.

<EXO ♥ JJANG>

TBC ^^

7 pemikiran pada “Wave Find Beach (Chapter 7)

  1. huaaaa thor, maaf telat komen T.T penasaran diriku dengan ‘sebilah pedang’ yang di telan oleh bang chanyeoll :v next chap aku tunguuu!!!!!! pokoknya aku gak mau ff ini pupus tengah jalaaannn T.T oke thorrr sip sip yaaa (y) keep writting buat authorr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s