Seonsaengnim (Chapter 12)

Title: Seonsaengnim

Author: @diantrf

Main Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol, Kim Junmyeon/Suho (EXO) | Park Cheonsa (OC)

Other Cast:

Oh Sehun, Kim Jongdae/Chen, Kim Minseok/Xiumin, Zhang Yixing/Lay, Wu Yifan/Kris (EXO) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Jinyoung (B1A4) | Lee Gikwang (Beast) | Kang Jihyun/Soyou (Sistar)

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Prev:

Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5 | Part-6 | Part-7 | Part-8 | Part-9 | The Princess of Darkness (Teaser) | Intro Charas | The Princess of Darkness (1) | The Princess of Darkness (2) | Part-10 | Part-11

0o0

Sayang, ayo bangun…

 

Uh, mungkin telingaku mengalami gangguan saat ini. Seperti ada suara lembut yang membangunkanku, namun aku terlalu malas dan lelah hanya untuk membuka mata. Ayolah Cheonsa, paksakan matamu terbuka atau kau tak akan pernah tahu siapa yang membangunkanmu saat ini.

“Cheon, kau harus masuk sekolah, remember? Ayo bangun, sayang.”

Oke, dengan kalimat barusan, mataku resmi terbuka, membuatku langsung menatap wajah Luhan yang mungkin hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Tuhan, mengapa ada makhluk setampan ini di muka bumi? Namun aku malah terdiam, mengedip beberapa kali melihat Luhan yang memandangiku dengan tatapan lembutnya.

“Mimpi buruk lagi?” tanyanya sambil menangkup sebelah pipiku dengan tangannya. Aku menggeleng pelan, lalu Luhan hanya tersenyum dan mengelus kepalaku.

“Hm, apakah kau merasakan sesuatu yang aneh pagi ini?”

Tuhan, aku ingin mengatakan tentang yang semalam. Tentang semuanya, tentang masa lalu itu. Tentang Chanyeol yang ternyata suamiku, lalu Sehun anakku dan Junmyeon adalah kakakku. Namun aku tak bisa, suara ini tercekat dengan sendirinya, tertelan kembali setiap aku ingin mengutarakannya pada Luhan. Aku tak mengerti mengapa bisa seperti ini.

Maka dari itu, aku lebih memilih memberitahukan Luhan fakta lain yang aku alami, “Tidak ada. Hanya saja, tenggorokanku sedikit kering.” Aku tidak bohong untuk yang satu ini, tenggorokanku memang sedikit, ani, sangat kering.

“Benarkah?” Luhan tertawa kecil setelahnya, lalu jarinya bergerak menuju lehernya, menggoreskan kukunya yang entah mengapa bisa menjadi tajam dalam waktu singkat.

“Bahkan gigimu ini masih terlalu kecil untuk disebut taring,” Luhan menarik pinggangku agar mendekat padanya, menuntun kepalaku menuju lehernya dan membuatku akhirnya menempelkan bibirku tepat pada darahnya yang mengalir kecil.

“Minumlah, dan setiap tenggorokanmu kering, kau harus bilang padaku, mengerti?”

Aku mengangguk kecil, masih sambil mengisap darahnya perlahan. Sebenarnya agak aneh juga, karena setiap ucapan Luhan seakan sebuah perintah bagiku. Ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan bahwa aku harus mengikuti segala yang ia ucapkan, segala yang ia perintahkan.

Luhan memang kembali menjadi Luhan saat pertama aku mengenalnya, penuh kelembutan dan kasih sayang yang membuatku jatuh dalam dirinya. Tapi ada suatu hal lain yang berbeda—bahkan sangat berbeda, dan aku tak suka dengan kenyataan satu ini.

Aku ingin lari, tapi secara tidak langsung Luhan mengikatku dalam dirinya. Aku tak bisa ke mana-mana lagi, aku terjebak di sini. Karena sejujurnya, aku merindukan Chanyeol, merindukan segalanya yang seperti dulu.

Tak peduli dengan apa yang kuanggap aneh pada awalnya, tak peduli dengan rasa lelahku merangkai puzzle menyedihkan hidupku, aku hanya ingin kembali berada dalam pelukan hangat Chanyeol. Aku tahu ini salah, aku tahu hal-hal aneh kemarin bukan hanya sekadar mimpi buruk. Segalanya nyata, semua itu memang sebuah kenyataan dan entah mengapa Luhan ingin agar aku tidak mengingatnya.

Mungkin Luhan memang vampir terkuat, mungkin ia memang Sang Master yang telah tercipta sejak dulu. Namun memori tak bisa menghilang dari peredaran. Memori selalu tersimpan dalam hati dan tak ada siapapun yang bisa menghapusnya, bahkan Luhan sekalipun.

“Luhan,” aku mendorong dadanya perlahan, membuat kami bertatapan satu sama lain. Hening, aku tak bisa mengatakannya. Aku tak bisa!

“Kurasa sudah cukup, terima kasih. Aku akan bersiap,” alih-alih hanya itu yang mampu kuucapkan lalu bangkit dari ranjang, mengambil handuk dan melangkah menuju kamar mandi, tanpa melihat lagi ke arah Luhan.

Aku memang ingin hidupku kembali normal. Namun, ketika kau telah mengetahui segalanya berjalan dengan rotasi dan alur cerita yang aneh sedang kau ingin kembali, kurasa itu adalah hal paling mustahil yang pernah ada.

Karena seperti apa yang aku katakan tadi, mungkin memori dapat berubah dan terlupakan, namun ia akan kembali suatu saat nanti, menghantuimu dan membuat segalanya yang berawal dengan baik kini menjadi sebuah kepalsuan. God, I hate it. I hate myself.

0o0

Pandanganku kosong, aku seperti berada dalam dunia lain dan terperangkap untuk selamanya. Agak aneh mendapati tatapan heran dari teman sekelas begitu aku masuk ke kelas. Hebat, ini bukan sesuatu yang masuk dalam nalar, namun ini terlampau hebat sampai membuatku tercengang.

“Cheon, kemarin adalah pesta pernikahan terhebat yang pernah aku hadiri!”

“Cheonsa sangat cantik kemarin. Apa Luhan Seonsaeng yang meminta agar kau mewarnai rambutmu dan memakai grey lens itu? Kau luar biasa, Cheon!”

Yap, itulah yang membuatku tercengang. Itu, dan rasanya aku ingin benar-benar menemukan sungai dan menceburkan diriku ke sana. Bukan ke muaranya lagi, melainkan langsung terjun ke laut dan berharap ada nessie atau megalodon baik hati yang mau mengadopsiku di laut. Oke, khayalanku terlalu tidak rasional.

Bagaimana bisa semua orang mengingat pernikahanku di saat bahkan aku sendiri yang berdiri di altar tidak bisa mengingat semuanya? Aku mulai gila—ani, aku memang telah gila sejak dilahirkan.

Bicara soal telah-gila-sejak-dilahirkan, aku jadi merindukan Chanyeol. Bahkan setelah bel berbunyi pun Chanyeol tidak ada di tempatnya. Jika memang benar segalanya hanya mimpi buruk dan aku hanya mengalami amnesia pasca penghapusan tanda-tanda aneh di tubuhku, harusnya semuanya kembali normal pada tempatnya.

Seharusnya ada kakek yang menyapaku di pagi hari dengan segelas morning tea-nya, seharusnya ada Chanyeol yang membangunkanku dengan brutal seperti biasa. Seharusnya aku bertemu dengan Sehun dan Myungsoo yang sedang melaksanakan patroli paginya, seharusnya aku bertemu Kris Seonsaeng, Minseok Seonsaeng

Akh! Aku lelah mengulang kata seharusnya dan kurasa aku lebih baik mati jika seperti ini!

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Ekspresiku datar, hanya senyum tipis yang mampu kutunjukkan. Berbanding terbalik dengan teriakan hatiku yang hampir mati, aku malah ingin menggali segalanya lebih dalam lagi.

Yang lain hanya mengangguk. Tuhan, bahkan aku dulunya tak terbiasa bicara bergerombol seperti ini dengan gadis-gadis kelas. Aku hanya akan bicara dengan Chanyeol, atau mungkin dengan anak laki-laki lainnya. Aku tak pernah bicara dengan teman perempuanku. Ini bukanlah diriku, dan ini menjengahkan.

“Apa kalian melihat Chanyeol?” Mataku memancarkan harapan yang sangat, berharap segalanya baik-baik saja dan efek mimpi buruk itu memang sangat menggelikan. Aku menunggu satu detik yang rasanya selamanya aku jatuh dan tak akan bisa bangkit dari kegelapan lagi.

“Kudengar Chanyeol sedang mengikuti lomba debat Bahasa. Ia ditemani Junmyeon Seonsaeng, mereka take off pukul enam tadi pagi menuju London.”

Eoh? Kudengar Ketua OSIS kita itu—Sehun, dan Myungsoo juga pergi bersama dengan Kris Seonsaeng ke Roma untuk lomba forografi.”

Jinjayo? Padahal baru kemarin Jongdae dan Jinyoung Sunbae ditemani Minseok Seonsaeng pergi ke Berlin sebagai perwakilan pelajar teladan dari Korea.”

Hebat, padahal aku hanya menanyakan keberadaan Chanyeol, namun semuanya menjadi jelas seiring dengan gosip yang mereka ucapkan tanpa aku minta. The power of gossip girls kah?

Kenapa semuanya seperti tersusun dengan sempurna? Kenapa semua vampir yang kukenal pergi di saat yang sama? Oh, atau mereka benar-benar pergi? Aku masih belum bisa menerima segala tinta abu-abu ini. Sepertinya mulai saat ini warna abu-abu adalah satu yang paling kubenci dari yang lainnya. Serius, aku benci dengan diriku sendiri.

“Pagi anak-anak, silakan kembali ke tempat masing-masing.” Luhan datang seperti biasa. Ah, pelajaran Matematika, aku malas sekali belajar saat ini. Dan ternyata ia tidak sendiri, ada seseorang yang ikut di belakangnya.

“Kita kedatangan murid baru, beruntung saya yang mengajar kalian saat ini. Ayo perkenalkan dirimu.”

Oh, kurasa aku mengenal gadis itu. Rambut pirang merah dengan mata rubi yang jernih namun memancarkan sesuatu yang aneh. Untuk beberapa detik, aku terpaku menatapnya tanpa berkedip.

Annyeonghaseyo, saya Kang Jihyun dan semoga kita bisa menjadi teman baik.”

Hell, aku lupa kapan dan di mana aku pernah melihatnya.

Aku terlalu asyik dengan pikiranku sendiri, sampai Jihyun duduk di bangku seberangku dan Chanyeol. Luhan menatapku sekilas sebelum mengambil spidol dan menuliskan materi baru yang akan kami pelajari. Aku malas, dan jadilah seperti biasa aku membuka notebook dan mengenakan headset—karena mengenakan headphone akan sangat mencurigakan.

Aku tahu bahwa Luhan tengah memerhatikan tingkahku yang bandel ini, namun aku cuek dan membuka folder kerangka novelku yang mungkin sudah beberapa minggu ini aku abaikan. Aku mengetik dalam diam, bahkan kurasa teman sekelasku kini tengah memerhatikanku. Bagus, kini aku menjadi pusat perhatian.

What? I’ve done with that chapter, so may I have a rest time now? You can give me some task later. Thanks.

Memang terkesan angkuh dan sombong, serasa aku adalah murid terpintar yang mampu mengerjakan logaritma dan segala hal sejenisnya hanya dalam hitungan detik—walaupun pada kenyataannya aku memang bisa. Namun sombong bukanlah kebiasaanku, hanya saja saat ini aku terlalu malas untuk berperilaku manis seperti biasa.

Bukannya marah atau apa, Luhan malah tersenyum padaku. “Okay, enjoy your rest time, sweetheart. Kau bisa mengambil tugas untuk dua minggu mendatang di kantorku saat jam istirahat. Baiklah anak-anak, kita mulai…”

Aku sudah tak mendengarkan omongannya lagi dan fokus dengan notebook-ku. Kubuka fav-page dan mencari naskah Represalii yang kusimpan. Ketimbang belajar Matematika yang menyebalkan itu lebih baik aku mencari hal-hal lain yang mungkin saja bisa kutemukan.

Tunggu! Hal lain… yang bisa… kutemukan…

Bingo!

Memoriku membawaku mengingat kembali saat aku membuka chapter Triangle Lost Soul. Teka-teki yang membuatku bingung, hal yang aku pertanyakan tentang mengapa Junmyeon Oppa membuat perbandingan jiwa dengan waktu. Ya, kini aku mengerti. Satu teka-teki lagi berhasil kususun dan membat puzzle ini semakin mendekati ending-nya.

Aku yakin, sangat yakin. Triangle Lost Soul, chapter 39 row 1, tulisan membingungkan namun tersirat dengan jelas apa yang hendak Junmyeon Oppa bicarakan.

Perbedaan waktu selalu menjadikan dimensi tiap kehidupan menjalani tingkat variasinya masing-masing, mulai dari tingkat stagnasi abadi sampai air mengalir yang entah ke mana akan bermuara. Segala hal tentang waktu tak dapat diprediksikan, kapan ia datang atau kapan ia pergi berlalu seolah tak pernah dirinya terlihat oleh semua pasang mata.

 

Dimensi waktu juga memengaruhi jalannya dimensi yang lainnya, dari hal masuk akal sampai yang tidak menyentuh titik logis, bahkan sebuah kepastian yang bertemakan kehidupan dan bertitelkan jiwa. Jiwa pun sama halnya dengan waktu, memiliki dimensinya sendiri yang bisa dikumpulkan, diikat menjadi satu dan dipergunakan sesuai dengan yang diinginkan.

Aku membubuhkan bold di beberapa kalimat yang mungkin dapat dijadikan petunjuk. Aku membuka word sheet baru, menyalinnya sehingga membentuk kalimat yang menurutku masuk akal.

Perbedaan waktu tak dapat diprediksikan kapan ia pergi berlalu seolah tak pernah dirinya terlihat oleh semua pasang mata. Waktu memengaruhi jalannya hal yang tidak menyentuh titik logis, bahkan waktu bisa dikumpulkan, diikat menjadi satu dan dipergunakan sesuai dengan yang diinginkan.

 

Lalu aku meng-scroll ke ayat berikutnya. Tepat di ayat 6-7.

Memang mengenaskan. Bersumpah di atas darah, diselimuti gelap malam dan tarian lilin merah yang kejam. Takdir selalu memiliki caranya tersendiri untuk datang, bahkan terkadang lari dari apa yang seharusnya dan yang tidak seharusnya terjadi.

 

Begitulah, dan semenjak saat itu aku baru sadar akan satu hal. Sekuat apa pun kekuatan yang Sheol berikan untukku, aku hanyalah manusia lemah yang dikutuk atas hidup yang menyakitkan ini. Menjadi iblis mengerikan yang bahkan aku ingin sekali menyayat tubuh ini menjadi potongan kecil dan kulemparkan ke jurang pengampunan. Sungguh, ini hanyalah satu dari sekian banyak kejahatan yang Sheol sembunyikan dalam paras indahnya.

 

Tentang pengaturan takdir, tentang kejahatan Sheol yang tak terhitung lagi jumlahnya. Junmyeon Oppa mencoba membuat berbagai macam petunjuk. Ia tahu hal ini akan terjadi. Ia bahkan sangat tahu bahwa suatu hari nanti aku akan mengalami dilema seperti ini.

Junmyeon Oppa tahu, karena ia memang bisa membaca masa depan. Bahkan walaupun sebuah kemungkinan memiliki cabang yang tak terhingga, Junmyeon Oppa telah membuat petunjuk dengan jumlah tak terhingga pula. Ini seperti bermain teka-teki dengan takdir.

Permainan yang Junmyeon Oppa sebutkan pada Chanyeol bukan tentang pertukaran jiwa. Triangle Lost Soul bukanlah sebuah permainan. Hal itu hanya merupakan pion catur yang Luhan gunakan. Inilah permainan sesungguhnya, memutar dimensi dan waktu sesuai kehendaknya hingga membuatku terjebak di dalamnya.

Perfect plan, Luhan. Tapi aku bersyukur memiliki otak cerdas untuk mencoba keluar dari permainan bodohmu ini.

Sehun adalah pengatur takdir dan bisa juga memutarbalikkan waktu.

Namun tiba-tiba otakku memutar penggalan memoti yang lainnya. Jongdae Sunbae pernah mengatakan hal itu padaku, namun aku lupa kapan dan di mana tepatnya. Sehun memang bisa mengendalikan takdir juga waktu, dan Sehun terikat bersama Luhan dalam janji darah yang bodoh itu.

Sehun. Sampai sekarang ini pun aku masih belum mengetahui apa sebenarnya yang tersembunyi dalam tubuhnya. I mean, I really didn’t know that. Aku sama sekali tak tahu apa yang membuat Luhan begitu tertarik menggunakan Sehun. God, he’s seventeen at the moment. Mengapa Luhan mau menggunakan anak kecil yang bahkan mungkin tak tahu bagaimana cara mengeluarkan taringnya?

Tapi, wait a minute. Hubungan Sehun dan Luhan, ya? Bukankah fakta yang pertama kuketahui tentang mereka berdua adalah bahwa Sehun ialah Master dari Luhan?

Oke, aku tahu bahwa mungkin semua orang akan menertawakan pikiranku yang satu ini. Namun ini sangat menggangguku.

Mugkinkah Luhan tidak sekuat apa yang orang lain elukan? Luhan tidaklah sekuat itu. Bahwa Luhan masih memanfaatkan Junmyeon Oppa juga Myungsoo dan Sehun. Luhan yang memiliki backing berupa Kris Seonsaeng dan Jinyoung Sunbae. Lalu Jongdae Sunbae

Aku adalah penasihat kerajaan kala itu …

 

Do you know what I feel now?

… Dan kita memang pernah hampir dijodohkan.

 

God must be crazy. Sure that.

“Cheonsa?”

Lamunanku buyar saat suara lembut menyapa pendengaranku. Itu Jihyun, berdiri di samping mejaku dengan tatapan khawatir. Apa kini aku terlihat seperti zombi atau apa pun itu karena terlalu serius berpikir? Kulihat sekitar, sepertinya ini sudah jam istirahat.

“Kau tidak ingin ke kantin? Atau mungkin ke suatu tempat?”

Satu hal yang mungkin akan terjadi ialah, Jihyun merupakan salah satu tokoh yang akan terserap lebih jauh dalam jalan cerita ini. Jihyun memegang satu dari jutaan kunci menuju gerbang yang akan membawaku keluar dari semua hal aneh ini. Dan satu hal yang pasti sangat kuketahui tentang Jihyun.

“Apakah kau vampir yang bisa memakan makanan manusia juga?” gurauku dengan senyum manis. Mengatur ekspresi dalam satu detik memang sudah bagian dari pekerjaanku sebagai makhluk Tuhan.

Ia nampak terkejut, namun tak lama karena senyum yang tak kalah manis itu menyapaku dengan hangat. “Tidak, hanya, kurasa kau butuh udara segar karena sebentar lagi Luhan Seonsaeng akan memberikanmu hukuman mengerjakan soal lebih banyak dari yang lainnya. It’s just me, don’t serious it.”

Kami tertawa setelahnya. Mungkin Jihyun memang orang yang menyenangkan dan easy going. Juga, hampir saja aku lupa jika saja Jihyun tidak mengingatkanku.

“Oh ya, aku harus ke ruangan Luhan Seonsaeng. Mungkin lain kali kita bisa jalan-jalan?” tawarku yang langsung bangkit dari duduk.

Ia mengangguk, berjalan selangkah di depanku lalu kemudian membalikkan tubuhnya, “Take it. Aku akan melihat-lihat sekolah ini.”

Ia pergi keluar kelas, dan aku berjalan pelan setelahnya menuju ruangan Luhan. Aku harus menyimpan semua memori ini dengan baik dan setelah sampai rumah nanti, kita lihat saja apakah aku masih bisa berpikiran segala hal kemarin lalu itu memang benar hanya mimpi belaka, atau justru permainan bodoh yang sangat menegangkan.

“Kurasa kau lebih baik menggunakan otak cerdasmu itu untuk keperluan yang lebih baik. Being a wise Strămoș, maybe?”

Samar aku mendengar suara yang cukup aku kenali dari balik ruangan Luhan. Ia sedang bicara dengan seseorang di dalam, dan kurasa aku sedikit banyak tahu siapa orang yang ada di dalam sana.

“Oh, you scared me. Thanks for the suggest, I’ll try to get it, or maybe?”

Jelas bahwa kalimat Inggris bernada itu ialah milik Luhan. Nada angkuhnya kembali, dan ini semakin memperkuat dugaanku bahwa segalanya bukan hanya sekadar mimpi buruk yang menyebalkan.

Aku tersentak mundur saat pintu tiba-tiba terbuka, dan aku bersumpah akan segera menemukan sungai tercantik di dunia dan tenggelam dengan tenang di sana.

Jongdae Sunbae sedikit terkejut saat melihatku, lalu setelahnya kembali normal dengan senyum manisnya yang khas. “Eoh? Cheonsa, ada perlu apa dengan Luhan Seonsaeng?”

Ini aneh. Seharusnya Jongdae Sunbae mengatakan hal lain padaku, seperti “Cheonsa, kau tak pernah menikah dengan Luhan!” atau “Semua ini hanyalah tipu muslihatnya.”

Namun aku harus menelan kepahitan sekali lagi karena tak ada hal lain yang ia ucapkan. Hanya sebuah pertanyaan klasik anak sekolahan.

“Ingin mengambil tugas Matematika. Aku main notebook saat pelajarannya dan sepertinya soal merupakan hukuman yang adil untuk anak nakal sepertiku.”

And you will finish it easily,” sambungnya, membuatku hanya bisa tertawa. Mungkin memang ada hal yang tidak sebaiknya aku ketahui. Tapi yang pasti, aku akan mengingat hal ini dan menambahkannya dalam salah satu petunjuk menuju jalan keluar.

You pretty know, expected,” adalah kalimat terakhir yang kuucapkan lalu kami berpisah setelahnya. Aku mengetuk pintu dan kulihat Luhan sedang memeriksa beberapa kertas jawaban.

Matanya menangkapku, lalu ia menyuruhku duduk dan menatapku agak lama. Karena salah tingkah, aku memutuskan untuk berdiri lagi dan duduk di sofa yang ada di sisi kanan ruangan. Aku mengambil bantal yang ada di atasnya, memeluknya dan memejamkan mata.

Sebenarnya aku tidak berniat kemari, toh aku bisa meminta soal itu di rumah nanti. Aku hanya ingin istirahat dengan tenang. Suasana kelas cukup ribut dan membuatku lumayan merasakan sakit di kepala, apalagi setelah memikirkan hal-hal aneh yang aku pun bingung bagaimana semua itu harus masuk dalam nalarku.

Saat sedang memejamkan mata di menit ketiga, aku merasakan sofa ini sedikit bergoyang, dan ada seseorang yang tengah merangkul pinggangku—yang tentunya Luhan, memangnya siapa lagi?

Satisfied on me, sweetheart? Seharusnya aku tadi melemparkan salah satu buku tebal itu ke wajahmu. Jangan lakukan hal tidak sopan seperti tadi ke guru yang lain, mengerti?”

Luhan mencubit pipiku, dan aku hanya mengangguk kecil. Masa bodoh jika saja ia tadi memang benar melemparku dengan buku, aku tak peduli.

Mungkin ketenangan ini hanya bertahan beberapa detik saja, karena kini Luhan tengah menenggelamkan wajahnya di leherku, menciuminya perlahan dan membuatku geli sendiri. Ini agak membuatku tidak nyaman. Entah, kebanyakan gadis memang menyukai hal seperti ini, dan mungkin aku termasuk dari kebanyakan gadis itu.

Tapi ada yang aneh karena aku teringat dengan Chanyeol yang sering menciumiku seperti ini. Aku rindu Chanyeol, dan terakhir kuingat Chanyeol memang sedang tak sadarkan diri. Jika semuanya bukan mimpi, pasti Chanyeol sedang mengkhawatirkan keberadaanku.

“Rasanya ingin cepat pulang dan hanya memelukmu seperti ini sepanjang malam,” bisik Luhan, mungkin lebih pada dirinya sendiri, karena sepertinya ia tengah menikmati kegiatannya dan tidak melihatku yang ingin sekali kabur detik ini juga.

Tangannya bergerak naik, dan aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk jika aku tak cepat menghindar darinya. “Luhan, ini di sekolah dan—“

“Memangnya kenapa?”

Aku tak ingin Luhan menyentuhku, aku tak ingin seperti ini. Lebih baik aku kabur atau semuanya akan menjadi lebih aneh lagi di masa yang akan datang. Feeling-ku mengatakan bahwa semuanya akan semakin memburuk jika aku menuruti keinginan Luhan saat ini.

“Luhan, hentikan—mmphh.”

Ciumannya penuh nafsu, dan aku tak suka Luhan yang seperti ini. Semua ini membuatku merasa bersalah pada Chanyeol. Ini bukanlah hal yang benar, aku harus kembali pada kenyataan dan keluar dari ilusi ini. Aku yakin bahwa semua ini tidak nyata dan aku hanya tertidur dalam pelukan Chanyeol, mengalami mimpi buruk tentang Luhan dan setelahnya aku terbangun dan segalanya baik-baik saja.

Aku hanya bisa memejamkan mata dan terdiam, tidak membalas ciuman Luhan ataupun menikmatinya. Ini menyiksaku, rasanya aku hanya ingin menangis dan terus menangis. Chanyeol, tolong Cheonsa sekarang. Kumohon tolong aku…

Cheonsa? Kau bisa mendengarku?

 

Suara itu…

Chanyeol? Chanyeol, keluarkan aku dari kegilaan ini, tolong….

Aku mungkin memang sudah gila dan telah menyentuh titik batas kegilaan yang tak seharusnya terlewati. Itu suara Chanyeol, dan aku mendengarnya dengan sangat jelas bahwa Chanyeol mencoba bicara padaku dari alam yang lain. Kurasa semua ini memang benar-benar ilusi yang Luhan ciptakan. Tuhan, aku ingin pulang, kumohon…

“Sayang? Cheonsa, kau telah sadar?”

Mataku sangat berat hanya untuk terbuka. Namun aku bisa merasakan dengan jelas tangan dingin yang memainkan jemariku dengan lembut. Aku mencoba sadar sepenuhnya, walau dengan mata yang masih tertutup. Butuh waktu cukup lama sampai aku kembali menetralkan diriku dari hal-hal aneh yang kualami beberapa saat lalu.

“Cheonsa masih belum sadar juga?” Kudengar suara dari kejauhan, dan sepertinya itu suara Jinyoung Sunbae yang tengah berjalan ke arahku—dan mungkin juga Chanyeol—saat ini.

“Aku yakin ia telah kembali, hanya saja matanya belum bisa terbuka.” Ah, Chanyeol memang sangat mengetahui bahwa hanya untuk membuka kelopak mataku sendiri saja butuh perjuangan yang sangat besar.

“Ke mana Jongdae? Aku sangat berhutang padanya karena telah berhasil melacak keberadaan Cheonsa.”

Apa? Jadi memang benar bahwa aku terjebak dalam dimensi lain yang Luhan ciptakan? Dan keberadaan Jongdae Sunbae di ruangan Luhan tadi memang benar karena ia sedang mencariku? Lalu bagaimana dengan kejadian dan petunjuk yang aku dapatkan dalam ilusi itu? Apakah itu hanya salah satu bagian dari ilusi atau memang aku berhasil menemukan fakta baru? Entahlah, yang penting aku bisa kembali dan kini masih mencoba untuk membuka mataku.

“Euh, Chanyeol?” ucapanku lebih kepada lirihan kesakitan, seakan-akan aku koma untuk watu yang lama. Kulihat Chanyeol terkejut dan ada raut bahagia yang nampak jelas padanya. Ia mungkin sangat bersyukur karena masih dapat melihatku membuka mata di hadapannya.

“Oh Tuhan, terima kasih. Sayang, kau baik-baik saja? Tidak ada yang sakit atau—“

I’m fine. Thanks for bring me back.”

Mereka berdua tersenyum lega, dan aku masih mencoba mencerna semuanya. Mataku menerawang, dan aku memikirkan satu hal yang mungkin memang perlu untuk ditanyakan pada mereka.

“Chanyeol, apa kau kenal dengan gadis bernama Jihyun? Apa ia salah satu orang dari masa lalu yang masih ada sampai saat ini?”

Chanyeol terlihat kaget untuk sesaat, lalu ia menatap Jinyoung Sunbae, mungkin meminta agar ia saja yang menjawab pertanyaanku.

“Kau bertemu dengan gadis yang bernama Jihyun?” Jinyoung Sunbae berusaha memperjelas, dan aku hanya mengangguk  pelan.

Kulihat ia tengah berpikir, namun setelahnya ia mau menjawab pertanyaanku. “Kurasa Junmyeon lebih tahu tentang Jihyun ketimbang kami semua. Kau bisa tanyakan pada kakakmu nanti setelah kondisi tubuhmu membaik.”

Jawaban yang cukup mencurigakan, mengingat ini tentang seorang gadis dan hanya Junmyeon Oppa yang bisa menjawab pertanyaanku. Apakah Jihyun kekasih Junmyeon Oppa atau semacamnya?

Keadaan kembali hening, dan mataku menangkap Chanyeol yang sepertinya ingin mengucapkan sesuatu. “Jangan pernah pergi lagi, Cheon. Aku khawatir.” Sungguh, aku tak tega melihat raut wajah Chanyeol yang lelah.

Sebenarnya aku ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku ingin menanyakan berapa lama aku tak sadar dan apakah Chanyeol telah kembali sehat sepenuhnya. Namun lagi-lagi semua itu hanya mampu kutelan kembali dalam rasa penasaran yang ada pada diriku, karena aku tak sanggup melihat wajah Chanyeol yang lelah itu semakin memperjelas kekhawatirannya.

Karena sebisa mungkin, aku tak ingin lagi ada orang yang sedih hanya karena memikirkan dan melindungiku. Aku tak ingin menambah beban siapapun. Tak ingin sama sekali.

TBC

Setelah ini ada side story lagi, about Sehun and Luhan dengan sudut pandang seseorang.

Karena mitosnya angka 13 memiliki kekuatannya sendiri, chapter 13 nanti bakalan diprotect dan ada sesuatu dalam cerita itu yang bikin semua orang bakalan pasang wajah begini > -_- *siapsiappasanglilin* Annyeong^^

14 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 12)

  1. Hiyaa jd justru yg ilusi itu yg bareng luhan bukan chanyeol..
    Astagaa hahha
    Untung cheonsa bisa balik lagi..
    Gasabar baca chapter selanjutnya..
    Daebakk!!
    Junmueon aku padamuu.. *naonnn

  2. Luhan makin jahat aja Ya Tuhaaan😭😭😭
    Kasian lama2 sm Cheonsa. Semoga Park Couple bahagia *dan sampe skrg msh berharap happy ending dan titik cerah dari masalahnya😂*
    Keep writing Author! Fighting!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s