Chenderella

Chenderella

Chenderella

Title: Chenderella

By sharonhda

Main Cast:

Kim Jong Dae as Jongdae (Chen)

Support Cast:

Oh Se Hun as Park Se Hun

Kim Jong In as Park Jong In

Tn. Park In Jung ( O C )

Oh Hye Jin ( O C )

Genre: Fantasy, Fairytale.

Length: One-shoot.

Disclaimer:

This fanfiction was inspired by Cinderella.

Also inspired by a novel with title

“Cinderella Journey”

by Shin Min Young.

Original version to ©Walt Disney

***

Dikisahkan seorang janda kaya keturunan bangsawan bernama Park Hye Jin yang tinggal di istana megah bersama dengan putra satu-satunya yang masih balita, Jongdae. Walaupun memiliki latar keluarga yang kaya raya, Jongdae kecil malah makin rendah hati. Sikapnya baik, jujur, sopan, serta bisa membuat semua orang tertawa.

Setelah ayahnya meninggal, Ibu Jongdae dilamar dan menikah lagi dengan seorang seorang pedagang bangkrut bernama Tuan Park In Jung. Tuan Park In Jung membawa kedua putranya bernama Park Sehun dan Park Jongin. Namun, baru beberapa tahun kebahagiaan, Ny. Park Hye Jin dipanggil Tuhan.

Keadaan ini mengharuskan Jongdae tinggal dengan Tuan Park In Jung dan kedua saudara tirinya. Seolah sudah jatuh tertimpa tangga, Jongdae ditekan oleh keluarga barunya. Ia dipaksa bekerja, membereskan rumah layaknya seorang pembantu. Namun, ia tidak menyerah. Ia yakin pasti suatu saat kebahagiaan akan menimpa dirinya lagi.

Tapi, ada satu hal yang sangat disayangkan:

Ia tidak tahu bahwa ia adalah keturunan bangsawan yang sebenarnya.

Itu adalah kebohongan Park In Jung dan kedua putranya, yang mengaku-ngaku bahwa seluruh asset istana diberikan pada mereka, bukan kepada Jongdae.

***

Sinar matahari pagi menerpa wajah Jongdae, membuatnya terbangun. Ia tersenyum senang, melihat pagi menyambutnya lagi. Ia segera membereskan tempat tidurnya, membuka gorden sederhananya dan berganti baju.

“Pukul berapa ini? Sudah pukul 7! Aku harus memberi makan ayam.” Katanya. Jongdae lalu mengambil sekarung biji-bijian dari gudang besar, kemudian pergi ke peternakan di belakang istana megah milik ibunya dahulu. Ia menebarkan biji-bijian kepada ayam dan beberapa burung. Ia juga tidak lupa memberi jerami pada kuda putih milik Park Sehun dan kuda cokelat milik Park Jongin. Para hewan sangat menyukai Jongdae, karena ia ramah, baik juga menyayangi mereka. Berbeda dengan Tuan Park In Jung yang selalu menyiksa, mencambuk bahkan lupa memberi makan hewan-hewan tersebut.

Setelah mengurusi binatang, waktunya Jongdae menyiapkan sarapan untuk Tuan Park In Jung serta kedua putranya yang pemalas itu. Ia membuatkan tiga buah sandwich yang segar. Ia juga membuatkan dua gelas susu cokelat panas dan secangkir teh.

“Permisi, ini sarapannya sudah siap.” Tubuh kekar Jongdae memasuki kamar Tuan besarnya itu. Tuan Park In Jung sedang mengelus-elus anjing betina peliharaannya, Lucy.

“Ya, taruh saja di meja.” Suruh Tuan Park In Jung. Jongdae sigap langsung menaruh sajiannya itu di atas meja milik Tuannya. “Oh, iya, Jongdae. Nanti malam akan ada pesta dansa untuk Tuan Putri In Hye Jin. Bisakah kau siapkan setelan jas untuk Sehun dan Jongin? Jangan lupa dasi yang mengilap juga ikat pinggang emas milik mereka.” Lanjut Tuan Park In Jung. Jongdae yang mendengarnya hanya bisa mengangguk senang. Aku juga ingin ikut! Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Pikir Jongdae dalam hati. Ia lalu keluar dari kamar Tuan Park In Jung, kemudian membangunkan Sehun dan Jongin.

“Apaan sih bangunin pagi-pagi! Kita ini kan ga banyak kerjaan kaya kamu! Dasar sok rajin!” marah Sehun saat dibangunkan oleh Jongdae. Jongdae hanya bisa tersenyum simpul.

“Sehun, Jongin, aku disuruh Tuan Park In Jung agar menyiapkan setelan jas kalian, untuk pesta dansa nanti malam. Kalian ingin yang mana?” Tanya Jongdae.

“Terserah saja. aku mau setelan yang terbaik. Soalnya tuan putri In Hye Jin sangat menawan dan cantik. Aku ingin segera menemuinya.” Perintah Jongin yang sudah membayangkan bahwa dialah yang akan berdansa mesra dengan putri yang di idam-idamkan seluruh kaum pria di desa ini.

Setelah memberi sarapan kepada ayah tiri dan kedua kakaknya, Jongdae pergi ke tempat dimana ia biasa menggunakan jasa cuci.

“Bibi Jung, tolong dua setelan jas yang aku taruh untuk di cuci. Aku menaruhnya sekitar 2 minggu yang lalu.” Kata Jongdae ramah.

Seorang nenek tua yang dipanggil Bibi Jung itu langsung pergi ke ruangan dengan ratusan lemari. Ia mencari dua jas yang dimaksud Jongdae. Bibi Jung lalu memberikannya kepada Jongdae sambil tersenyum puas.

“Ini, setelan jas yang kau maksudkan. Apakah kedua kakakmu akan pergi ke pesta dansa yang digelar Raja In Jin Woo? Baguslah. Apa kau akan ikut juga?” ujar Bibi Jung. Jongdae menggeleng. Sebenarnya ia sangat ingin kesana, namun ia tahu diri.

“Aku bukan bangsawan, bi. Aku pasti tidak bisa pergi kesana. Lagipula aku tidak punya setelan jas mewah. Aku ini bukan apa apa. Padahal sebenarnya aku ingin sekali ikut. Tapi pasti Tuan Park In Jung akan langsung menertawakanku serta menamparku.” Jawab Jongdae sedih. Bibi Jung langsung diam membeku.

“Begini saja, Jongdae-ku sayang.” Kata Bibi Jung. “Saat mereka akan berangkat, kamu keluar dengan pakaian rapi, lalu berkata bahwa kau akan ikut. Jika mereka menolak, kau harus segera pergi ke sini, menemui Bibi. Jika kau boleh pergi, silahkan pergi saja.” saran Bibi Jung. Walaupun Jongdae sedikit bingung, ia mengangguk cepat lalu segera pergi ke rumahnya, mengingat waktu terus berjalan.

***

Beberapa jam sebelum keberangkatan mereka Tuan Park In Jung dan kedua putranya, Jongdae sibuk memakaikan mereka dasi, ikat pinggang, serta Jongdae harus menata rambut mereka agar Tuan Putri In Hye Jin tertarik pada mereka. Sehun sudah hampir siap, ia hanya harus menggunakan ikat pinggangnya. Berbeda dengan Jongin, ia baru selesai mandi. Setelah menyiapkan semuanya, Jongdae pergi ke kamarnya lalu berganti pakaian, sesuai dengan yang diperintahkan Bibi Jung. Saat mereka sudah di depan pintu ingin keluar, Jongdae turun dari tangga dan memperlihatkan dirinya.

“Tuan Park, bolehkah Jongdae ikut?” katanya manis sambil tersenyum, memperlihatkan ujung bibirnya yang cantik.

Sesuai dugaannya, Tuan Park In Jung tertawa terbahak-bahak. Bahkan pundaknya sampai terangkat-angkat karena tawa. Sehun dan Jongin juga tertawa sampai sakit perut.

“APA KAU BERCANDA JONGDAE? Hahahaha! Kau bukan siapa-siapa. Kau tidak boleh ikut. Kau hanya sekedar pembantu disini!” teriak Sehun.

Deg. Seperti tertimpa ribuan batu, hatinya sakit. Dengan air mata yang berlinang deras, Jongdae berlari lewat pintu belakang, menuju ke tempat Bibi Jung. Ia begitu sedih dengan kenyataan bahwa ia bukan siapa-siapa. Lalu ia mengetuk rumah Bibi Jung dengan lembut.

“Nak Jongdae? Kau menangis? Tenanglah. Ayo masuk ke ruang tamu.” Kata Bibi Jung ramah. Jongdae hanya menuruti. “Sejujurnya, ada yang ingin Bibi sampaikan.”

Jongdae bergumam, tanda bahwa ia mendengarkan.

“Park In Jung dan kedua putranya bukanlah keturunan bangsawan.”

Kali ini Jongdae melotot.

“Park In Jung membunuh ibumu dengan racun, lalu memalsukan surat warisan. Sebenarnya juga sebelum ibumu menikahinya, ia adalah seorang rakyat jelata. Saat kau remaja, ia mengaku sebagai yang punya istana. Namanya juga bukan Park In Jung. Tapi Oh In Jung. Ia memalsukan namanya agar ia masuk daftar keturunan bangsawan Park. Dan namamu sebenarnya bukan Kim Jongdae, tapi Park Jongdae.” Cerita Bibi Jung.

Jongdae terbelalak kaget. Artinya saat perwakilan keluarganya dipanggil oleh Raja, dialah yang harusnya menghadap tuan Putri! Bukan Sehun dan Jongin.

Bibi Jung lalu mengambilkannya setelan Jas dan celana putih mengilap dengan bahan mahal, lalu memakaikannya sepatu cokelat. Bibi Jung juga memakaikannya dasi emas dan menata rambut cokelat Jongdae dengan gaya yang memperlihatkan dahinya yang bersih. Jongdae bahkan sampai kagum dengan dirinya saat ini. Lengkap dengan sarung tangan putih yang muat di tangannya.

“Nah, silahkan naiki kuda putih di belakang rumah bibi. Pergilah kesana. Temuilah Tuan Putri. Berdansalah dengannya. Aku tau kau pasti bisa memikatnya. Kau begitu tampan dan menawan. Namun, ada satu syarat. Kau harus kembali kemari sebelum tengah malam. Jika tidak, sihir yang diturunkan di setelan jas itu akan hancur, lalu kau bisa merobek dan terjebak dalam lubang hitam, selamanya.”

Setelah mendengarkan arahan Bibi Jung, ia berlari dengan secepat kilat, menaiki kuda dengan terburu-buru. Selama perjalanan, gadis-gadis desa banyak yang meliriknya, lalu berbisik bisik genit. Tapi Jongdae tak tertarik, ia hanya ingin mendapatkan apa yang harusnya ia dapatkan: Marga, Tuan Putri, nama baiknya, dan seluruh asset istana. Bukannya ia haus kekuasaan, tapi itu semua harusnya dijatuhkan padanya.

Saat sampai, ia masuk ke aula besar. Spontan Jongdae melihat banyak tamu yang tampan.

Tiba-tiba, ia mendengar teriakan yang bergema.

“Perwakilan dari Bangsawan Park! Harap maju dan menemui sang putri.”

Jongdae melihat sang putri. Sang Putri sangat cantik dengan gaun putih dan mahkota peraknya. Ia juga mengenakan sepatu kaca yang mengilap. Lalu ia melihat Sehun dan Jongin maju dengan jas hitam. Sang putri hanya tersenyum palsu.

Kemudian, secara tiba-tiba, sang Putri menatap Jongdae. Jongdae juga menatapnya. Mata mereka bertemu. Lalu tiba-tiba putri In Hye Jin berdiri, berjalan pelan ke arah Jongdae sambil tersenyum.

“Akhirnya, ada juga yang memikat hatinya.” Bisik Sang Raja lega.

Mereka lalu berdansa. Berputar putar di tengah aula. Lantunan biola dan gitar menemani mereka. Ia tersenyum menatap mata putri. Sang penyanyi kerajaan mulai menyanyikan lirik dari lantunan biola dan gitar.

Neol nabakke mollasseodeon igijogin naega
ne maeumdo mollajwodeon musimhan naega
ireohke deo dallajyeodaneunge najocha midgiji anha.

Keegoisanku, yang hanya memperdulikan diri sendiri
Kejamnya aku, yang tidak menyadari semua perasaanmu
Aku bahkan tidak percaya, bisa menjadi seperti ini.

( Chen’s part in Miracle In December )

“Siapa kau?” Tanya sang putri yang sudah terpesona akan tingkah baik Jongdae dan tata kramanya. Jongdae tersenyum, ia tidak pernah begitu senang seperti ini.

DENG, DENG, DENG, DENG… DENG, DENG, DENG, DENG…

Tidak! Itu dentengan pukul 12! Aku harus pergi dari sini!

Tanpa menjawab pertanyaan putri Hye Jin, Jongdae lari dengan segenap kekuatannya. Ia menuruni tangga dengan panik dan terburu-buru. Karena panas, ia membuka sarung tangannya dan tiba-tiba sarung tangannya terjatuh. Ia berhak mengambilnya, namun waktu terus berjalan. Akhirnya Ia meninggalkan sarung tangan yang jatuh lalu berlari ke rumah Bibi Jung.

***

Keesokan harinya Jongdae bekerja rutin seperti biasa. Memberi pakan ayam, menyiapkan makanan untuk Tuan Park (atau Oh?) In Jung serta kedua anaknya yang manja itu.

Tok tok tok! Ketukan pintu terdengar oleh Jongdae. namun karena kalah cepat, Sehun membuka pintunya dahulu.

“Selamat pagi, kami dari Kerajaan Raja Jin Woo ingin mencobakan sapu tangan yang tertinggal pada pesta dansa tadi malam. Yang cocok tanpa sempit atau longgar akan dinikahkan dengan tuan putri.” Kata seorang pria dengan baju kerajaan, lengkap dengan aksesoris emas.

Saat pria itu menunjukan sarung tangan yang dimaksud, Jongdae langsung tersenyum senang. Itukan sarung tanganku yang jatuh! Pikirnya. Sarung tangan berwarna putih dengan bahan katun halus, tidak bisa melebar atau menciut. Sehingga hanya orang dengan tangan yang pas-lah yang bisa memakainya.

Namun senyuman itu juga datang dari lekuk bibir Tuan Park In Jung. Ia mendorong Sehun dan Jongin untuk mencobanya.

“Pasti ini muat padaku, tanganku kecil.” Kata Sehun. Jleb! Saat dimasukan sarung tangan itu kedalam tangan mungil Sehun, ternyata sangat kebesaran. Bahkan ujung pergelangan sarung tangan itu menggantung pada tangan Sehun. Setelah Sehun, kali ini giliran Jongin. Dengan angkuh dia mencobanya, ternyata malah kebesaran. Tangan Jongin lumayan lebar sehingga membuat sarung tangannya terlihat sesak. Melihat kedua putranya tidak bisa mencoba, Tuan Park In Jung langsung ingin mengusir pria kerajaanz tersebut. Namun tiba-tiba Jongdae muncul dari dapur.

“Bolehkah aku mencobanya?” katanya ramah. Pria yang sudah pergi di ambang pintu itu berbalik, lalu memasangkan sarung tangan itu pada Jongdae.

Ternyata, sarung tangan itu pas.

Dan saat Jongdae membukanya dan tidak sengaja terbalik, tertulis buram pada sarung tangan itu:

Untuk Putraku Park Jong Dae,

Dari Ayahmu, Park Jong Ki,

Bangsawan Park.

***

Pernikahan Jongdae dan Putri In Hye Jin berlangsung megah. Nuansa putih dengan sedikit aksen emas membuat pernikahan mereka diidamkan semua orang. Jongdae tersenyum senang. Kini ia akan tinggal di Istana megah bersama Istri barunya. Sedangkan Tuan Oh In Jung dan kedua putranya yang manja dituntut dan masuk penjara atas tuduhan pemalsuan surat resmi serta penekanan akan seseorang. Jongdae kini tau identitas aslinya, ia adalah seorang Bangsawan besar. Jongdae juga sangat disukai oleh kedua orang tua Hye Jin karena sikap baiknya. Kini ia tahu bahwa dibalik semua penderitaan dan kebohongan, ada sesuatu yang baik dan besar akan terjadi padanya.

***

A/N: I need your critics or comments. So please don’t be a silent reader. Thank you so muchJ

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s