Crazy Marriage (Chapter 2)

Crazy Marriage

coverJONGIN

Crazy Marriage || Kai’s wifey ( @Rurijongin88 ) ||Teen || Kim Jong In, Park Ji Hwa, Byun Baek Hyun, other cast

THIS STORY IS MINE,OK? SORRY FOR TYPO(S). DON’T BE A SILENT READERS AND PLAGIARISM!

Chapter 2

— Crazy Marriage —

Baek Hyun menatap kosong gelas minumannya yang telah habis. Penampilan lelaki itu tampak kacau. Beberapa hari ini, Baek Hyun menjauhi wanita yang bernama Park Ji Hwa. Sungguh, Baek Hyun sangat ingin menghajar lelaki yang bernama Kim Jong In itu. Baek Hyun menatap keluar jendela dari café yang sekarang ia kunjungi. Langit kota Seoul terlihat agak gelap. Sepertinya, akan hujan. Baek Hyun mendesis dan mengambil ponsel yang berada disaku kemejanya.

Lelaki tampan itu membuka ponselnya, dan ia hanya bisa menghembuskan nafas panjang melihat banyak pesan masuk dan telepon dari sahabatnya, Park Chan Yeol yang juga merupakan kakak lelaki wanita yang ia cintai.

“Tidak ada pesan dari Ji Hwa, huh?”gumam Baek Hyun. Lelaki itu meletakkan ponselnya diatas mejanya. Ia mengusap rambutnya kasar. Dan, sekarang lelaki itu lebih kacau lagi dengan rambut hitam legamnya yang berantakan. Baek Hyun menoleh ke pintu masuk café saat pintu itu berbunyi tanda ada pengunjung. Lelaki itu membulatkan matanya saat melihat sahabatnya yang sedang mencari tempat duduk. Saat, sahabat Baek Hyun itu melihat kearahnya, Baek Hyun pun langsung melambaikan tangannya.

“Wah, kau tampak kacau sekali setelah Ji Hwa menolakmu, hmm..” Lelaki itu, yang tidak lain adalah Lu Han, sahabat Baek Hyun dan juga sahabat Jong In. Baek Hyun tersenyum getir menanggapi perkataan Lu Han.

“Jangan seperti ini, Baek Hyun-ah. Kau membuatku semakin kasihan melihat penampilanmu yang kacau ini. Biarkan Ji Hwa berbahagia dengan Jong In, Baek.” Lu Han tersenyum ke Baek Hyun, yang langsung dibalas deheman oleh Baek Hyun. Sahabat Baek Hyun itu sangat kesal dengan tingkah Baek Hyun. Hanya karena wanita, dia sekacau ini? Ini sulit dipercaya.

“Kau mengenal Jong In?” Lu Han menganggukkan kepalanya pelan. Lalu, lelaki itu memanggil pelayan dan memesan sebuah makanan dan minuman untuk dirinya. Setelah pelayan itu pergi, Lu Han kembali menatap serius Baek Hyun.

“Bisakah kau ceritakan sedikit tentang Kim Jong In?”

“Baiklah. Kim Jong In merupakan CEO Kim Company, ia sahabatku sejak kecil, maaf aku tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu. Hm, Jong In itu seorang player, sangat suka mempermainkan wanita, lalu setelah itu membuangnya dengan kasar. Ya, itu dia Kim Jong In. Bahkan, aku pun bingung, kenapa bisa aku memiliki seorang sahabat seperti dia,” Lu Han tersenyum saat pesanannya telah sampai dimejanya. Lelaki itu langsung memakan makanan itu tanpa menawarkan kepada Baek Hyun yang sedang menatap lapar makanan Lu Han. Baek Hyun berdeham, dan langsung membuat Lu Han mendongakkan kepalanya.

“Apaaah?”tanyanya dengan mulut penuh. Baek Hyun menelan ludahnya kasar.

“Kau tidak mau menawariku?”tanya Baek Hyun. Lu Han langsung menepuk keningnya dan memberikan senyum tiga jari ke Baek Hyun. Lu Han kembali memanggil pelayan.

“Pesanlah, nanti kau yang bayar.”ujar Lu Han dan kembali fokus ke makanannya. Baek Hyun mengangguk, dan sedetik kemudian dia terdiam mengingat perkataan Lu Han tadi. Wajah Baek Hyun memerah seketika.

“Tidak jadi.”

“Aku kira kau yang akan mentraktirku, Lu Han.”ucap Baek Hyun kesal setelah pelayan wanita itu pergi dengan wajah ditekuk. Lu Han membersihkan mulutnya setelah menghabisi makanannya. Ia mendorong piringnya ke Baek Hyun.

“Makanlah.”

“Kau gila? Piringmu saja sudah kosong. Tidak mungkin aku memakan piring itu!”geram Baek Hyun. Lelaki itu memukul kening Lu Han yang lebar itu. Lu Han langsung mengelus keningnya sambil menatap jahil Baek Hyun.

“Kau kan seorang dokter, uangmu banyak. Kenapa harus aku yang mentraktirmu?” Baek Hyun berdecak, lalu memberikan sebuah jitakan ke dahi Lu Han. Lelaki itu meringis dengan tangan mengelus dahinya.

“Tapi, bukankah keinginanmu dulu menjadi seorang penyanyi?”

“Aku menjadi dokter karena Ji Hwa.”

“Kau tahu, Baek? Entah kenapa aku itu sangat suka dengan orang yang berprofesi dokter. Bukankah mereka itu hebat? Mereka bisa menyembuhkan penyakit orang.” Baek Hyun Tersenyum getir mengingat masa lalunya yang sangat bahagia saat Ji Hwa masih berada disampingnya.

“Tapi, seorang dokter tidak bisa melukai perasaan sakit, Ji Hwa.”gumam Baek Hyun dengan kepala ditundukkan. Lu Han yang melihat Baek Hyun murung hanya tersenyum miring. “Show time~”

— Crazy Marriage —

Jong In tersenyum menatap seorang wanita yang sedang makan didepannya. Bahkan, lelaki itu tidak mau mengalihkan tatapannya kemanapun. Ya, Jong in sedang makan siang dengan Ji Hwa. Wanita yang sedang ia incar beberapa bulan ini. Jong In menatap kebagian dada Ji Hwa yang agak kelihatan karena wanita itu memakai kemeja yang terlalu besar. Jadi, saat wanita itu menunduk untuk memakan, otomatis dada wanita itu terpampang jelas dimata Jong In. Lelaki itu menatap mesum, lalu menelan ludahnya pelan.

“Jangan berpikiran hal yang mesum, Tuan Kim.” Jong In tersadar dari lamunannya yang cukup menegangkan. Wanita itu menatap Jong In kesal.

“Aku tidak mau menikah denganmu, Jong In-ah.”

“Kenapa? Bisa kau beritahukan kepadaku, apa alasanmu, Nona Park?”tanya Jong In. Ji Hwa terdiam untuk mencari jawaban dari pertanyaan Jong In.

“Karena..”

“Karena kau masih menyukai lelaki yang bernama Baek Hyun itu, aku benar bukan?”potong Jong In. Ji Hwa menatap Jong In sambil tersenyum kecil. Buat apa lelaki ini bertanya, sedangkan dia sendiri sudah mengetahuinya.

“Kau harus menikah denganku. Aku tidak mau mendengar kata tidak dari bibirmu yang menggoda itu. Kalau kau tetap tidak menyetujuinya, aku bisa saja melakukan hal yang menurutmu gila disini. Dan, kalau ibuku tahu aku melakukan hal itu kepadamu, sudah aku pastikan kau sudah menjadi Nyonya.Kim saat itu juga.”

Sudah 2 minggu lebih, Jong In dekat dengan Ji Hwa, bahkan wanita itu sudah tak bersikap dingin terhadap Jong In. Dan, itu membuat seorang Kim Jong In senang. Jong In menatap serius sebuah map yang sedang ia baca. Setelah selesai membacanya, lelaki itu langsung menghempaskan map itu ke atas meja dengan kasar. Ji Hwa, yang berdiri didepannya, menatap Jong In tidak percaya. Wanita itu harus bersabar dengan sikap Jong In yang menurutnya sangat menyebalkan.

 

“Ada apa, hah? Apa laporanku salah?” Jong In menatap Ji Hwa. Lelaki itu berdiri dan berjalan mendekati Ji Hwa yang sedang duduk disofa ruangannya. Ji Hwa meremas tangannya, ia takut melihat tatapan lelaki ini.Tatapannya seperti.. gairah? Jong In mengunci tubuh Ji Hwa, hingga wanita itu tidak bisa lari dari Jong In. Dengan perlahan, Jong In mendekatkan wajahnya ke Ji Hwa.

 

Yang saat ini, Ji Hwa rasakan adalah sebuah benda kenyal dan basah sedang melumat bibirnya. Ji Hwa mengerjapkan matanya dan menatap Jong In yang tengah melumat kasar bibirnya dengan mata terpejam. Jong In menggigit bibir bawah Ji Hwa, yang membuat wanita tersebut membukakan bibirnya. Jong In menekan tengkuk Ji Hwa, seperti tidak ingin melepaskan bibir ranum milik Ji Hwa. Tangan lain lelaki itu mulai masuk ke dalam kaos kerja Ji Hwa. Mengelus, membelai punggung Ji Hwa yang halus. Jong In beralih mencium leher Ji Hwa, hingga menimbulkan sebuah kissmark merah yang banyak dileher jenjang Ji Hwa.Wanita itu mengaduh dan mendesis saat Jong In menggigit lehernya.

 

“Kalian harus menikah secepatnya!” Jong In langsung menatap seorang wanita paruh baya yang merupakan ibunya. Sebuah senyuman kecil muncul diwajah lelaki tampan itu. Ia bersorak dalam hati, karena rencananya berhasil yaitu, untuk menjadikan Ji Hwa miliknya. Ji Hwa menggelengkan kepalanya.

 

“Aku mau menikah denganmu, tapi ada satu syarat yang harus kau ingat!”tegas Ji Hwa. Jong In meminum cappuccino miliknya dan langsung mengiyakan ucapan Ji Hwa.

“Tunggu aku mencintaimu, aku baru mau melakukan hubungan badan denganmu.” Jong In menatap Ji Hwa datar, sebuah seringaian muncul menghiasi wajah tampan Jong In. Lelaki itu tampak berpikir mengenai persyaratan Ji Hwa yang menurutnya sangat tidak menguntungkan untuk dirinya.

“Baiklah. Tapi, kalau kau memintanya saat malam pertama, aku mau melakukannya dengan wanita cantik seperti dirimu.” Ji Hwa menutup mulutnya, seakan-akan seperti menahan mual. Jong In terkekeh, lalu memakan rainbow cake milik Ji Hwa.

“In your night mare, Sir.”

“Baiklah, kita bertaruh. Siapa yang mencintai terlebih dahulu, itu dianggap yang kalah. Dan, yang kalah harus melakukan apa yang diinginkan oleh si pemenang. Dan, kalau aku yang menang. Aku hanya meminta satu saja. Aku ingin mengambil keperawananmu itu. Tapi, tunggu dulu, kau masih virgin, bukan?” Ji Hwa menunjukkan kepalan tangannya tepat ke wajah Jong In.

“Tentu saja aku masih virgin. Aku tidak seperti wanita-wanita yang pernah tidur denganmu. Bahkan, aku sangat yakin, kau sudah tidak perjaka.”jawab Ji Hwa ketus.

“Dan kenyataannya, aku masih perjaka. Kau tidak percaya? Kajja, aku buktikan hehe. Dan, kalau kau yang menang, apa yang kau inginkan, sayangku?”

“Kalau aku yang menang? Aku ingin bercerai denganmu, calon suamiku yang tampan.”

“In your night mare, Ji Hwa. Kau tidak akan bisa lepas dariku, walaupun kau meminta bercerai denganku, aku tidak akan mau melakukannya. Mengerti, sayangku?” Ji Hwa mendengus kesal. Kenapa setiap kali aku berdebat dengan lelaki mesum ini, selalu dia yang menang dan aku lah yang kalah?

“Ya, kau tidak akan bisa terlepas dariku. Karena aku tidak akan pernah mau melepaskanmu.”

 

 

— Crazy Marriage —

Dengan perlahan, Chan Yeol membuka pintu kamar Ji Hwa. Sudah jam 12 malam, pantas saja adik perempuannya itu sudah terlelap tidur dengan polosnya. Chan Yeol berjalan mendekati Ji Hwa dan duduk dipinggiran kasur. Ia membelai lembut kepala Ji Hwa. Menatap adiknya tidak rela. Ada perasaan tidak rela didalam hati lelaki itu, saat tahu seminggu lagi adik kesayangannya itu akan menikah. Bukankah itu berarti Ji Hwa akan tinggal bersama Jong In?

“Aku masih tidak rela untuk memberikanmu ke lelaki itu, Ji Hwa.” Chan Yeol menjauhkan tangannya dari kepala Ji Hwa, saat wanita itu mulai bergerak. Ji Hwa membuka matanya perlahan, ia tersenyum saat melihat kakak lelakinya ada didepannya. Ji Hwa merubah posisinya menjadi duduk dalam keadaan masih mengantuk.

“Ada apa?”

“Aku menyanyangimu, adikku. Bahkan, aku masih belum rela kau menikah dengan Jong In. Dia memang baik, tapi kalau kau menikah dengannya, lalu aku tinggal sendirian di apartment? Pasti akan sepi tanpamu.”ucap Chan Yeol. Ji Hwa yang sudah sepenuhnya sadar hanya bisa diam mendengar perkataan kakaknya itu. Wanita itu juga sebenarnya, masih ragu dengan keputusannya menyetujui pernikahan dengan Jong In. Dia masih tidak ingin hidup jauh dari Chan Yeol dan ia juga sebenarnya masih menyukai Baek Hyun.

“Aku akan baik-baik saja. Aku jamin, aku pasti akan sering berkunjung ke apartmenmu, oppa.”ujar Ji Hwa dengan senyuman lebar. Dengan reflek, Chan Yeol pun tersenyum lebar lalu memeluk tubuh adiknya itu. Ia memegang kedua bahu Ji Hwa, menatap wanita itu intens.

“Dan, secepatnya, aku ingin mendapatkan seorang keponakan. Boleh, kah?” Ji Hwa terdiam. Ia hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ucapan Chan Yeol.

“Hm, satu lagi. Kau tidak ingin menemui Baek Hyun? Sekedar basa-basi?”

“Aku akan menemuinya besok. Dan, aku ingin tidur bersamamu.” Chan Yeol menatap Ji Hwa sambil tersenyum. Lalu, mulai tidur disamping Ji Hwa dengan tangan melingkar dipinggang wanita itu.

“Well, it’s very interesting. You are very very amazing, my best friend.”

 

— Crazy Marriage —

Keadaan hening menyelimuti Ji Hwa dan Baek Hyun. Dua orang itu tidak tahu harus memulainya darimana. Baek Hyun mengetukkan jarinya diatas meja hingga terdengar bunyi ‘tuk tuk’. Sedangkan, Ji Hwa menatap sebuah hot chocolate yang baru diantar oleh seorang pelayan. Padahal, wanita itu belum memesan apapun. Ji Hwa mengambil sebuah kertas yang tertempel digelas minuman itu.

‘Gudmorning, my sweetyheart. Aku sengaja memesankan minuman kesukaanku, supaya kau terus mengingatku. Ya, siapa tahu, karena aku membelikanmu minuman ini, kau langsung jatuh cinta kepadaku. Dan, semoga saja kau tidak membatalkan pernikahan kita hanya karena Baek Hyun sedang duduk didepanmu. Lihat kearah jam 3, sweety. I’m here.’ Dengan perlahan, Ji Hwa menoleh kearah jam 3. Betapa kagetnya, wanita itu saat melihat Jong In dengan pakaian santainya tengah sarapan. Bahkan, lelaki itu tidak sadar kalau banyak wanita-wanita yang melihatnya dengan tatapan memuja. ‘Aku cemburu, Jong In.’

“Kim Jong In.”desis Ji Hwa. Baek Hyun mendongakkan kepalanya dan menatap Ji Hwa yang sedang melihat sesuatu atau apalah. Lelaki itu tersentak saat tahu apa yang tengah Ji Hwa lihat. Baek Hyun berdeham kencang yang membuat Ji Hwa menoleh kepadanya.

“Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya, hah? Kau mengajakku kesini hanya untuk melihat kekasihmu itu, heh? Lebih baik aku pergi.” Ji Hwa menahan Baek Hyun.

“Dia bukan kekasihku.”ucap Ji Hwa. Baek Hyun mengerjapkan matanya. Dan, sedetik kemudian sebuah senyuman tulus muncul diwajah Baek Hyun. Lelaki itu bahkan ingin mendengar ulang ucapan Ji Hwa tadi. Kim Jong In bukan kekasihnya, bukankah itu berarti ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Ji Hwa?

“Tapi, dia calon suamiku, Baek Hyun-ssi.” Bagaikan ditiban sebuah baja yang sangat berat, Baek Hyun hanya terdiam mendengar ucapan Ji Hwa. Ok, wanita ini sukses membuat Baek Hyun nge-fly lalu langsung menghempaskannya secara kasar. Ji Hwa menatap Baek Hyun.

“Aku akan menikah dengannya, minggu depan.” Ji Hwa pun berdiri. Ia segera berjalan menuju meja yang sedang diduduki oleh Jong In, calon suaminya. Baru 2 langkah ia berjalan menjauhi Baek Hyun, lelaki itu langsung menghentikan Ji Hwa dengan menahan tangannya.

“Aku akan menikah dengannya. Secepat itu, kah? Apa kau hamil? Oleh sebab itu, kau dan lelaki asshole itu akan menikah minggu depan?” Ji Hwa menatap tidak percaya Baek Hyun. Sebuah pukulan sukses mengenai wajah tampan Baek Hyun. Ji Hwa menatap Jong In yang ternyata sudah berdiri disampingnya. Jong In menatap Baek Hyun dengan dingin.

“Jaga ucapanmu, bro. Aku menikah dengannya, karena aku memang mencintainya. Aku mana mungkin mensia-siakan wanita sebaik dia. Lebih baik, aku menikahinya minggu depan. Lebih cepat lebih baik, bukan?” Baek Hyun memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Lelaki itu berjalan mendekati Jong In dan Ji Hwa.

“Dan, kau harus bertanya ke CALON ISTRIMU itu! Apa dia mencintaimu?” Jong In terdiam. Lelaki itu menatap Ji Hwa dan menggenggam tangan Ji Hwa dengan erat. Sama halnya dengan Jong In, Ji Hwa pun hanya diam mendengar pertanyaan Baek Hyun yang seperti menyindirnya. Ji Hwa menarik nafas panjang-panjang.

“Aku mencintainya, Tuan Byun. Maaf, kami harus melakukan fitting pakaian sekarang juga. Dan, aku berharap kau bisa hadir ke acara pernikahanku sebagai sahabatku. Bye.” Dengan cepat, Ji Hwa menarik tangan Jong In keluar dari café. Baek Hyun menatap sendu kepergian Ji Hwa dari jendela.

Jong In dan Ji Hwa saat ini sedang berada didalam mobil menuju sebuah butik. Jong In sedang menyetir, tapi lelaki itu terus melirik Ji Hwa yang tengah menundukkan kepalanya. Sebersit ide muncul diotak Jong In, kalau ini anime atau film, pasti ada sebuah lampu pijar bernyala-nyala diatas kepala Jong In dengan bunyi ‘tuing-tuing’.

“Benar dugaanku.”ucap Jong In, Ji Hwa langsung menoleh ke lelaki itu dengan bingung.

“Lelaki yang bernama Baek Hyun itu ternyata pendek.”sambung Jong In. Ji Hwa hanya menggumam tidak jelas menanggapi ucapan lelaki itu. ‘Bahkan, dia jauh lebih baik daripadamu, Jong In.’batinnya.

“Kau mencintaiku?” Ji Hwa menoleh ke Jong In.

“Tentu saja tidak. Itu hanya akting, calon suamiku.” Jong In terkekeh mendengar ucapan Ji Hwa yang ketus.

“Lalu, bagaimana denganmu, hmm? Kau tadi mengatakan kalau kau mencintaiku. Apa itu benar, Tuan Kim yang tidak akan lama lagi akan menjadi suamiku?” Jong In terdiam sebentar. “Tentu saja tidak. Itu hanya akting, calon istriku.”jawab Jong In.

Lelaki itu memakirkan mobilnya didepan sebuah butik. Ia langsung menyuruh Ji Hwa untuk keluar. Dengan tak sabar, Jong In menarik tangan Ji Hwa masuk kedalam butik. Di dalam butik, sudah ada seorang wanita dan ibu Jong In.

“Kalian sudah datang? Hm, Ji Hwa silahkan kamu mau pilih yang mana?” Ji Hwa melihat-lihat pajangan gaun pengantin yang semuanya indah. Ji Hwa menunjuk sebuah gaun putih tanpa lengan dengan tali spaghetti untuk leher, sedikit renda dibagian atas baju itu dan dibagian pinggang terdapat sebuah pita biru muda yang sangat cocok. Ji Hwa memegang gaun itu sambil tersenyum kagum.

“Kau coba saja. Kalau memang kau menyukainya, aku akan membelikannya khusus untuk calon istriku yang paling aku sayangi.” Ji Hwa memutar bola matanya jengah, ia langsung masuk kedalam ruang ganti. Pemilik butik dan ibu Jong In langsung pergi untuk melihat-lihat yang lain. Dan, hanya tersisa Jong In diruangan itu.

“Bagus sekali.” Jong In menatap ruang ganti yang ditutupi oleh gorden. Lelaki itu penasaran ingin melihat penampilan calon istrinya dengan menggunakan balutan gaun pengantin. Jong In berjalan masuk kedalam ruang ganti dan memeluk Ji Hwa dari belakang.

“Kau cantik.” Jong In menghirup aroma Ji Hwa. Lelaki itu membalikkan tubuh Ji Hwa dan langsung melumat lembut bibir Ji Hwa. Hanya sebentar, Jong In pun langsung menjauhkan wajahnya saat ibunya berteriak memanggil namanya.

“Setelah ini kau mau kemana, sweety?”tanya Jong In.

“Aku ingin pulang saja.”jawab Ji Hwa dengan ketus. Mungkin wanita itu kesal dengan ciuman Jong In yang terlalu tiba-tiba. Jong In mengacak rambut Ji Hwa gemas.

“Aku kira kau mau ke hotel.”

Ucapan Jong In tadi, langsung diberikan hadiah pukulan oleh Ji Hwa tepat didahi lelaki itu.

— Crazy Marriage —

“Kau tidak mengatakan kepadaku kalau Ji Hwa akan menikah dengan lelaki itu minggu depan? Sialan kau, Park Chan Yeol.” Baek Hyun menatap kesal Chan Yeol yang sedang bermain ayunan ditaman kota yang sedang sepi.

“Untung saja taman ini sedang sepi. Kenapa bisa aku memiliki teman seidiot dia?”gumam Baek Hyun. Lelaki itu langsung memberikan senyuman lebar saat tahu Chan Yeol tengah berdiri didepannya dengan tangan dilipat. Chan Yeol menatap Baek Hyun dingin.

“Kau malu memiliki teman sepertiku, hmm?” Baek Hyun menelan ludahnya takut. Aura-aura mencekam mulai menghinggapi Baek Hyun. Sungguh, Chan Yeol kalau marah sangatlah mengerikan. Chan Yeol kembali tersenyum saat melihat kumpulan anak kecil sedang bermain bola.

“Aku ingin bertanya kepadamu, Yeol.” Chan Yeol langsung merubah ekspresinya menjadi datar saat menoleh ke Baek Hyun.

“Kau menyetujui adikmu menikah dengan Kim Jong In?”tanya Baek Hyun yang langsung dibalas anggukan kepala singkat oleh Chan Yeol. Lelaki itu mengetukkan ujung sepatunya, menunggu Baek Hyun.

“Tapi, kenapa?”tanya Baek Hyun, lagi. Chan Yeol menghela nafas panjang.

“Itu pilihan adikku. Aku tidak bisa membantahnya dan sekarang aku ingin pulang. Dan, kau jangan ikuti aku.” Chan Yeol langsung pergi meninggalkan Baek Hyun yang sedang terdiam. ‘Apa dia marah? Ah, mulutku ini memang tidak bisa dijaga.’

Baek Hyun berjalan sambil menundukkan kepalanya. Lelaki itu mendudukkan dirinya dibangku halte. Tangannya ia gunakan untuk mengacak rambutnya, frustasi. Baek Hyun menoleh ke kanan saat mendengar suara tangisan yang keluar dari mulut seorang yeoja yang pakaiannya cukup berantakan. Baek Hyun menyentuh bahu wanita itu.

“Kau tidak apa-apa, Nona?” Wanita itu langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Baek Hyun diam. Baek Hyun tersentak saat melihat wajah wanita itu. Wanita itupun juga tak kalah kaget, ia berdiri dan mulai berjalan menjauhi Baek Hyun. Tapi, sebelum itu Baek Hyun berhasil menahan wanita itu.

“Dokter Mira, ada apa? Kenapa kau menangis?” Mira, yang merupakan temen Baek Hyun dirumah sakit hanya diam membeku sambil menatap Baek Hyun intens. Bulir air mata mulai mengalir diwajahnya lagi. Baek Hyun langsung panik saat orang-orang yang lalu lalang mulai menatap dirinya curiga.

“Berhentilah menangis. Orang-orang berpikiran aneh terhadapku.” Mira pun berhenti. Baek Hyun menyuruhnya untuk kembali duduk. Mereka berdua diam. Baek Hyun ingin bertanya, tapi menunggu wanita itu tenang terlebih dahulu.

“Kau kenapa? Kita teman, bukan? Ceritalah kepadaku. Jangan membuatku bingung dengan sikapmu.”ucap Baek Hyun. Mira menatap Baek Hyun sendu. Dengan masih senggukkan, Mira menjelaskan semuanya kepada Baek Hyun.

“Aku hamil.”

“Aku hamil.”

 

“Aku hamil.” Perkataan itu terngiang-ngiang ditelinga Baek Hyun. Temannya yang tampak polos.. hamil? Bagaimana bisa? Baek Hyun menatap tidak percaya Mira yang kembali menangis.

“Aku tidak tahu kenapa aku bisa hamil, Baek Hyun.”

“Tolonglah, aku.”sambung Mira dengan menyatukan kedua tangannya dan mengangkatnya diudara. Memohon kepada Baek Hyun, agar lelaki itu mau menolong dirinya.

“Siapa yang menghamilimu?”tanya Baek Hyun. Mira hanya diam dan masih menangis.

“Aku tidak tahu siapa nama lelaki itu. Yang hanya kutahu dia..” Mira menggantungkan ucapannya yang membuat Baek Hyun menggeram kesal melihat tingkah temennya yang polos itu.

“Dia siapa, hah? Cepat jawab!”bentak Baek Hyun. Mira mencoba menatap Baek Hyun.

“Dia CEO Kim Company, aku tidak tahu siapa namanya. Saat itu, aku sedang stress karena pekerjaan, lalu aku pergi ke salah satu club. Dan, aku bertemu dengan lelaki itu. Kami melakukan hal zinah dimata Tuhan dan keesokan harinya, aku terbangun dalam keadaan naked dengan banyak noda merah diselimut. Aku ada dihottel itu sendirian.”jelas Mira. Baek Hyun mengepalkan tangannya, rahangnya mulai mengeras mendengar semua cerita Mira dan wajahnya mulai merah padam menahan amarahnya yang memuncak.

“Aku akan menghajar Kim Jong In.”

“Jangan, dia tidak salah.”

“Lalu, siapa yang salah, hah? Asshole! Dan, kandunganmu sudah berapa bulan?”tanya Baek Hyun masih dalam keadaan marah. Lelaki itu memegang kedua bahu Mira dan mendesaknya untuk segera menjawab pertanyaannya.

“Sebulan. Tolong aku, Baek Hyun.”

“Aku akan menolongmu, Mira.”

To Be Continue

Hayoloh, itu siapa Mira? Aduh sepertinya dia memiliki niat jahat sama abang jongin. AAAA,ok bagaimana chapter kali ini? Sengaja dibikin gantung, soalnya saya sering digantungin ama gebetan. Wkwk.

Ditunggu komentarnya, kalau ada yang ingin kenalan sama aku add aja Ruri Sibuea. Dan, satu lagi aku itu ga punya wp u,u Makanya gabisa balas komentar kalian. Maafkan, aku-,-

— Kai’s wifey —

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s