Just With Fantasy About You

Just With Fantasy About You

a

Cast : Na cheonsa (Cheonsa -OC-)

: Kim jongin (Kai -EXO K-)

: Oh sehun (Sehun -EXO K-)

Author : Fitri ana (Na cheonsa)

Genre : Romance, Fluff

Rating : PG-13

Length : Ficlet

Quote : Tahukah kau? Aku bisa bertahan sejauh ini, walau hanya dengan fantasi tentangmu…

Disclaimer : OC and plot is mine. If there’s some similarity with the story is not intended.

Ku goreskan kuas yang ku pegang secara perlahan. Mataku terpejam mencoba memunculkan sosok paling sempurna yang pernah ku temui selama 26 tahun hidupku.

“hahh”ku hembuskan nafas melalui mulut dan dengan perlahan membuka kelopak mataku.

Sudut bibirku tersungging ke atas. Akhirnya lukisan namja itu dapat ku selesaikan juga setelah mengorbankan tidur malamku. Ku lirik jam digital yang tergantung di dinding. 07.27.

“masih ada waktu”gumamku membangkitkan tubuhku dari kursi.

“aigo..”aduhku karena pinggangku kram sekali.

Ku renggangkan tubuhku untuk memberi ruang agar tulang tulangku dapat bernafas. Dengan tubuh sedikit membungkuk, ku bereskan piring, gelas dan bungkus snack yang ada di meja persegi sebelah kanvas.

“annyeong, Kai-ya”sapaku pada lukisan yang baru saja ku selesaikan. Lukisan keberapa? Entahlah! Bwa![1] Setiap sisi dinding kamar ini pasti tersemat potret wajah tampannya. Aku tersenyum pada lukisan lukisan itu seakan berhadapan langsung dengan orangnya.

“saranghae”bisikku lalu melangkah pergi dengan kedua tanganku yang penuh dengan sampah.

*

“annyeonghaseyo”. “annyeonghaseyo”. “annyeonghaseyo”.

Ku bungkukkan badanku dan tersenyum membalas sapaan orang orang yang berpapasan denganku.

“noona?!”

Ku lambaikan tanganku dengan senyum yang terkembang 3x lipat. Ku hampiri namja yang notabene sepupuku itu.

“aishh noona, sejak kapan kau membuat semua ini?!”tanyanya menatap lukisan lukisan yang terpajang disetiap sekat.

“godeunghakgyo”[2]jawabku sembari menerawang ke lukisan lukisan itu. Aku kembali tersenyum ketika padanganku terhenti pada lukisan close up sebuah mata yang sangat sangat ku kenali.

“itu yang pertama”ujarku menunjuk lukisan itu.

“jeogeun?”[3]tanyanya sembari menunjuk lukisan itu.

“eum”

“mata siapa itu?”tanyanya menatapku heran.

“berapa usiamu Sehun-ah?”tanyaku sebelum menceritakannya pada Sehun.

“21”jawabnya.

“jinjja?!”pekikku tak percaya.

Ia mengangguk. “wae?”

“ani”aku menggeleng. Tak ku sangka Sehun sudah 21 tahun. Ku tatap wajahnya lekat lekat, sama sekali tak mencerminkan usia 21. Bocah ini, ku kira ia baru 17 tahun!

“yaa! Noona kenapa kau melihatku seperti itu?!”tegurnya dengan tersenyum malu.

Aku tersenyum geli. Apa ia benar benar 21?

“neo yeojachingu isseo?”[4]tanyaku.

Ia tersenyum menatapku. “mullon”[5]

“geurae, kalau begitu aku bisa menceritakan ini padamu”

“mwo?”tanyanya penasaran.

“Cheonsa-ssi?!”panggil seseorang dengan keras membuatku menoleh ke arahnya.

“ne?!”. “Sehun-ah, aku akan menemuimu lagi nanti. Annyeong!”pamitku meninggalkan sepupuku itu yang kini sibuk menengkuri lukisan mata tadi.

“waeyo?”tanyaku pada wanita seusiaku yang ku percaya mampu membuat pameran ini berjalan lancar.

“mereka mencarimu”ucapnya menunjuk segerombolan orang yang sedang menatap lukisan bunga sakuraku sambil saling melontarkan pendapat.

Aku tersenyum tulus. Namja itu ada disana. Ia ada disana dengan teman temanku lainnya.

“gomawoyo”

Kakiku melangkah mendekati gerombolan yang hanya terdiri dari 3 namja dan 2 yeoja itu.

“eottae?”tanyaku langsung dari belakang mereka.

Dengan serentak mereka membalikkan tubuh menatapku.

“daebak!”puji salah satu temanku.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“kau tidak melukis kami?”tanya Kai.

Aku menoleh menatapnya yang kini menautkan alisnya.

“mullon. Di balik sekat ini”jawabku tersenyum.

Ia tersenyum manis. Sangat manis. Ku rasa aku akan meleleh.

“jinjja?! Ayo lihat!!”

Dengan segera mereka menuju sekat dibalik sekat ini. Kecuali Kai, namja itu masih disana.

“kau sudah bekerja keras”ucapnya tersenyum lebar lalu melangkah meninggalkanku yang masih menatapi punggungnya yang menjauh.

“aku bisa bertahan sejauh ini berkatmu Kai”gumamku.

“namjachingumu noona?”tanya Sehun yang membuatku menatapnya.

“ani. Chinguman”

Ia menganggukkan kepalanya seakan mengerti sambil membentuk huruf ‘o’ dengan bibir tipisnya.

“ku rasa aku tahu lukisan siapa itu”ujar Sehun menunjuk lukisan close up mata yang tadi ia tekuni. Jika Sehun tahu, apa Kai juga tahu?

“namja itu?!”tebaknya.

Aku tersenyum dan menarik tangannya keluar gedung.

“bukan tempat yang baik untuk mengobrol”ucapku menuntutnya agar mengikutiku yang melangkah menuju kedai bubble tea di sebelah galeri.

*

“geu namja eui ireumeun Kai”[6]ucapku menyedot bubble tea yang ada di meja.

“geul joahae?”[7]

“eo”

“kelihatannya kalian tidak begitu akrab”

“memang. Kau tahu sendiri aku seperti apa”

“na neomu ara”bangganya.

“noona, jika kau melukis mata itu saat godeunghagyo. Geuraeseo..”ucapannya terputus. Ia menatapku dengan mata membulat.

“eo”sahutku membenarkan dugaannya.

Ia menggelengkan kepalanya tak percaya lalu bertepuk tangan dengan cukup keras beberapa kali. Hingga beberapa pengunjung kedai ini menoleh ke arah kami.

“yaa! Sehun-ah hajima!”suruhku.

“noona, kenapa kau bisa bertahan menyukainya selama ini?!”

Aku tersenyum melihatnya yang kini memasang wajah innocent, kagum, tak percaya (?)

“ia inspirasi untuk lukisanku. Objek lukisan yang sempurna” kataku ketika wajah namja itu yang sedang tersenyum manis terlintas di otakku.

“kau sering bertemu dengannya noona?”

Aku menggeleng. “aku baru bertemu lagi dengannya tadi setelah 4 tahun tak bertemu karena ia pergi ke Ilbon[8] setelah reuni”. Ku putar bola mataku, mencoba menghitung umurku saat reuni itu. “saat umurku 22 tahun, setahun setelah aku lulus daehakgyo”sambungku.

Ia kembali menggeleng tak percaya.

Aku menatap saku celana jeansnya saat ku dengar suara dering ponsel. Dengan segera ia meraihnya dan menempelkan pada telinganya.

“eo”. “dengan Cheonsa noona di kedai bubble tea dekat galerinya”. “arasseo. tunggu aku. Annyeong” aku hanya menghisap bubble teaku sambil terus menguping pembicaraannya.

“noona?!”panggilnya.

“ka!”suruhku tahu bahwa ia harus menjemput yeojachingunya.

“annyeong noona!!”pamitnya.

**

Ku rebahkan tubuhku ke kasur dengan tangan terlentang.

“neomu jichinhae”keluhku sembari memejamkan mata.

Aku tersenyum saat wajah tampan namja itu menampakkan dirinya di fikiranku. Dalam bayanganku, ia tersenyum mengepalkan tangannya ke udara dan mengatakan, ‘fighting!’.

“Kai-ya?!”gumamku pelan memanggil namanya.

Ku buka mataku dengan lekas dan berlari menuju kamar mandi. Ku siram air ke tubuhku dengan cepat hingga suara debuman air yang membentur lantai terdengar cukup keras.

Segera ku kenakan pakaianku dan menguncir kuda rambut panjangku. Ku dudukkan pantatku menghadap kanvas kosong yang lebar. Ku gerakkan tanganku pelan memulaskan warna warna pada kain putih polos di hadapanku.

Sesekali aku tersenyum dan memejamkan mata mencoba menghadirkan figur teristimewa dalam hidupku itu.

‘Kai-ya, apa kau tahu aku menyukaimu sejak godeunghakgyo? Apa kau tahu alasan teratasku bertahan hingga saat ini? Motivasi terbesarku untuk terus meraih mimpiku? Dan lumbung ide terbesarku saat aku melukis? Neoya. Kau alasan teratasku bertahan hingga saat ini. Kau motivasi terbesarku untuk terus meraih mimpiku. Kau lumbung ide terbesarku saat aku melukis. Walau kau tak pernah ada disisiku, setidaknya fantasiku tentangmu menemaniku, menggantikan posisimu yang tak bisa kau hadiri. Saranghae, Kai-ya’.

..The end..

[1] Lihatlah!

[2] SMA

[3] Itu?

[4] Kau sudah punya pacar?

[5] Tentu saja!

[6] Nama namja itu Kai

[7] Kau menyukainya?

[8] jepang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s