Medical In Love (Chapter 5)

Medical in Love

medical-in-love

Author : Shim Na Na

Genre : Romance

Rating : General, Teenager

Length : Multichapter (3.970 words)

Cast :

Park In Jung (OC)

Kim Jongin (EXO – Kai)

Oh Sehun (EXO – Sehun)

Etc

Part 5

            Sudah seminggu sejak pertemuan In jung dan Sehun. Tidak ada kabar setelah itu, tidak ada obrolan lebih lanjut antara mereka berdua. In jung berusaha untuk tidak memulai menghubungi Sehun duluan, dia sedang mempertahankan image nya sebagai wanita yang bersikap wajar. Meskipun setiap saat rasanya In jung ingin sekali memulai pembicaraan dengan Sehun. In jung telah menyimpan nomer ponsel Sehun dan menambahkannya di kontak ponselnya, untuk berjaga-jaga ya paling tidak kalau dia sudah kehilangan akal sehat dia bisa menghubungi Sehun.

Kebetulan hari itu In jung tidak pergi ke tempat penitipan anak karena libur nasional. In jung berencana membenahi rumah kecilnya, rasanya sudah lama tidak bersih-bersih. In jung memulai paginya dengan membersihkan kamar tidur, berlanjut ke kamar mandi, lalu diikuti dengan ruangan berikutnya. In jung hanya beristirahat sebentar untuk sarapan, lalu melajutkan berbenah lagi, beristirahat lagi untuk makan siang, lalu lanjut lagi berbenah. In jung menggulung rambutnya, menutupi hidungnya dengan masker, lalu memakai sarung tangan, dia benar-benar melakukan persiapan matang untuk menjaga rumahnya tetap bersih.

Menjelang sore, In jung selesai membersihkan seluruh ruangan, kalau dia sedang bersemangat seperti itu memang tidak ada hal yang bisa menghentikannya. In jung berjalan menuju dapurnya, membuka kulkas dan mendapati beberapa tempat yang kosong di dalam kulkasnya.

“Hmm.. sepertinya kau perlu diisi ya biar kelihatan menarik. Baiklah, aku akan pergi ke supermarket untuk membeli persediaan untukmu. Kulkasku sayang, tunggu aku ya. Aku akan segera kembali.” In jung mengelus kulkasnya dengan penuh perhatian. Dia segera pergi untuk mandi sebentar seperti mandi burung, 5 menit kemudian dia siap untuk pergi ke supermarket.

Supermarket hanya berjarak kurang lebih satu kilo dari rumah In jung, dia memilih berjalan kaki karena dia tau belanjaannya tidak akan cukup di keranjang sepeda. In jung sangat cantik sore itu, dia mengepang rambutnya, memakai sweater rajutan berwarna merah maroon dengan bawahan rok motif bunga berwarna biru langit selutut dan memakai sneaker denim kesayangannya, berjalan dengan penuh semangat untuk menghabiskan sore dengan berbelanja.

Sesampainya di supermarket, In jung segera mengambil troli dan mulai menyusuri barisan-barisan persediaan rumah tangga. Di awali dari bagian meats and fish dan membeli beberapa jenis ikan, lalu pergi menuju bagian sayuran dan buah, memasukkan sebagian besar sayuran dan buah yang masih segar ke dalam trolinya, lalu beranjak lagi ke bagian lainnya. In jung berhenti di bagian minuman, memasukkan susu dan mencari orange juice dengan merk kesukaannya. Sayangnya orange juice itu terletak di rak atas, In jung kesulitan mengambilnya. In jung berusaha meraihnya, menjinjitkan kakinya dan mencoba melompat, untung saja dia masih punya akal sehat, kalau tidak dia akan memanjat rak tersebut. In jung melirik ke kiri ke kanan, tidak ada seorang pun di sana, tidak ada yang bisa dimintai bantuan. In jung masih bersikeras untuk mendapatkan jus itu, kali ini dia berusaha menjinjit lagi.

Sekitar 5 menit In jung masih berdiri di depan deretan jus, masih terus berusaha mendapatkan jus yang diinginkannya. Sedang asik menjinjitkan kaki, tiba-tiba dia melihat tangan seseorang mengambil botol jus yang diinginkannya. In jung langsung mengira pastilah orang ini malaikat yang akan menolongnya. In jung menoleh kepada pemilik tangan itu, betapa terkejutnya In jung melihat si pemilik tangan.

“Kau mau mengambil ini ya ? Ini, silahkan ambil.” Orang itu menyodorkan botol jus jeruk yang diambilnya pada In jung.

“KAI ?!” In jung tidak sengaja meneriakkan nama si pemilik tangan karena terkejut.

“Wah, kenapa ? Kau memanggil namaku bersemangat sekali.” Kai tertawa melihat In jung yang terkejut melihat kehadirannya. Di luar perkiraan sekali In jung bisa bertemu dengan Kai di tempat seperti ini.

“Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud berteriak padamu.” In jung menundukkan wajahnya karena malu.

“Hahaha, iya aku tau. Ini jusnya, bukankah kau mau mengambil ini. Sepertinya kau begitu menginginkan jus ini.” Kai masih memegang botol jus itu, dan menyodorkannya lagi kepada In jung. In jung menerimanya sambil membungkukkan badan tanda berterima kasih.

“Apakah jus dengan merk ini enak ? Sepertinya aku harus mencobanya ya.” Kai mengambil sebotol jus lagi dan memasukkan ke dalam trolinya.

“In jung-ssi, kau berbelanja disini juga ya ? Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini. Aku tadi melihatmu melompat-lompat, kupikir siapa yang begitu kesulitan mengambil jus, ternyata kau In jung-ssi.” Kai tersenyum kepada In jung. Ini kedua kalinya In jung melihat Kai tersenyum kepadanya, senyumnya begitu memikat.

“Ah bukan begitu, hanya saja.. jusnya diletakkan di tingkat atas, biasanya tidak diletakkan disana, aku jadi kesulitan mengambilnya.” In jung mengangkat kepalanya, berbicara sambil melihat ke arah Kai yang berdiri di sampingnya.

“Biasanya ? Berarti kau sering berbelanja disini ya ? Kenapa kita tidak pernah bertemu sebelumnya ya ?”

“Benarkah ? Apakah kau sering berbelanja disini juga ?” In jung melirik penasaran pada Kai.

“Hmm.. bukan aku sih yang berbelanja. Temanku yang sering berbelanja disini, aku sih hanya sesekali kesini untuk menemaninya.” jawaban Kai tidak membuat In jung merasa bahagia karena dia tau D.O lah yang dimaksud oleh Kai.

“Hmm.. baiklah kalau begitu. Terima kasih telah membantuku mengambil jus. Aku duluan ya.” In jung pamit dan berjalan meninggalkan Kai yang masih berdiri di tempatnya. Kai menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada In jung, lalu mulai mendorong trolinya ke arah berlawanan dari In jung. Mereka berdua berpisah.

In jung menenteng belanjaannya ke luar barisan kasir, dia telah selesai membayar semua belanjaannya. Tapi saat akan keluar dari supermarket, ternyata cuaca sedang sendu. Hujan deras mengguyur daerah Gangnam dan sekitarnya, In jung terjebak di supermarket. In jung tidak memiliki persiapan apapun, dia tidak membawa payung karena tidak menyangka sore itu akan hujan, padahal tadi ketika dia pergi langit masih terang, dengan cepat cuacanya berubah selagi In jung asik berbelanja.

“Wah, ternyata hujan ya.” Seseorang bergumam di samping In jung. In jung terkejut dan langsung menoleh, dia mengenal siapa pemilik suara itu.

“Ah, iya, ternyata hujan deras.” In jung berdiri persis di samping Kai. In jung perlu mendongak sedikit untuk melihat Kai. Kai lah yang bergumam tadi.

“In jung-ssi, apakah kau membawa payung ?”

“Aah.. akuu.. aku tidak membawa payung. Aku kira sore ini tidak akan hujan. Apakah kau membawa payung ?”

“Wah berarti nasib kita sama, aku juga tidak membawa payung. Aku kira sore ini cerah, tadi saat aku pergi tidak ada tanda-tanda akan hujan, jadi kupikir aku tidak perlu membawa payung kan.” Kai menengadahkan tangannya untuk merasakan air hujan yang jatuh di tangannya. In jung melihatnya, melihat dengan sangat jelas Kai tersenyum saat air hujan terus menjatuhkan diri ke tangannya. Sekarang In jung menyadarinya, Kai memang sering terlihat begitu dingin kepadanya, tapi terkadang dia menjadi begitu lembut, benar-benar membuat In jung penasaran.

Kai menoleh pada In jung, lalu memberikan senyumnya yang ramah. In jung hanya terdiam, dia tidak dapat mendeskripsikan perasaannya saat melihat Kai tersenyum begitu tulus seperti yang barusan dilakukannya. Secara refleks, In jung ikut menengadahkan tangannya seperti yang dilakukan Kai. Tangannya kini bisa merasakan dinginnya air hujan yang jatuh, untuk beberapa saat, mereka berdua tersenyum membiarkan tangan mereka basah terkena air hujan yang masih turun dengan derasnya.

“Hmm.. sepertinya hujannya belum mau berhenti. Bagaimana kalau kita masuk lagi ke food bar yang ada di dalam, aku rasa masih ada tempat disana selagi kita menunggu hujan reda, apa kau mau ikut In jung-ssi ?”

“Ya ? Aku.. aah baiklah, aku ikut. Sepertinya hujannya memang akan lama.” In jung sudah menenteng belanjaannya lagi. Lalu mengikuti Kai dari belakang. Pemandangan itu lebih seperti seseorang dengan pekerja rumah tangganya, Kai hanya membawa dua bungkus belanjaan sedangkan In jung di belakangnya membawa empat bungkus belanjaan dan semua berukuran besar. Ya kebanyakan orang yang melihat pasti berpikir seperti itu.

Untungnya di food bar masih ada kursi yang bisa ditempati mereka berdua. Kai menarik kursinya lalu duduk, sedangkan In jung masih sibuk meletakkan belanjaan di samping kursi yang akan didudukinya. Berbeda dengan Sehun, Kai sepertinya tidak begitu memikirkan apakah dia harus membantu In jung menarik kursinya atau tidak. In jung juga tidak mempermasalahkan Kai yang langsung duduk tanpa membantunya membereskan barang belanjaannya. Sekarang mereka sudah duduk saling berhadapan. Seorang pelayan memberikan mereka daftar menu, dan berdiri menunggu untuk mencatat pesanan mereka.

“Uumm.. aku akan memesan waffle with caramel ice cream, bagaimana denganmu In jung-ssi ?” Kai bertanya pada In jung dengan nada datar.

“Hmm.. aku memesan yang sama saja.”

In jung memilih memesan menu yang sama seperti yang dipesan Kai, dia tidak begitu mengerti dan kebingungan untuk memesan salah satu diantara sekian banyak pilihan yang ada di daftar menu. Tapi setelah dipikir-pikir, kenapa Kai memesan es krim disaat hujan begini, bukankah semestinya dia memesan sesuatu yang hangat, bodohnya lagi kenapa In jung malah ikut-ikutan. Tak berapa lama, pesanan mereka pun diantarkan oleh pelayan.

“Selamat makan, In jung-ssi.” Kai mulai melahap pesanannya sedikit demi sedikit, sedangkan In jung masih melihat pesanannya sendiri. Apakah dia akan baik saja setelah makan es krim di cuaca dingin seperti ini, tapi kelihatannya Kai menikmatinya. In jung pun mulai mengambil suapan pertama, ternyata memang rasanya dingin. Kai memperhatikan In jung yang sedang mencoba menghabiskan pesanannya.

“In jung-ssi, apakah kau baik-baik saja ? Tidak enak ya ? Apakah kau mau mengganti pesananmu ?”

“Aah, tidaak.. tidak usah. Aku baik-baik saja, hanya saja es krimnya terasa dingin sekali di tenggorokanku.” Ekspresi In jung berubah-ubah setiap kali dia menyendokkan makanannya ke dalam mulut, membuat Kai tertawa.

“Kau ini lucu sekali, tentu saja rasanya dingin, namanya saja es krim.” Kai tertawa sambil menggelengkan kepalanya. In jung baru menyadarinya, benar yang dikatakan Kai barusan, tentu saja dia merasakan dingin, yang dimakannya adalah es krim. Tapi maksud In jung bukan dinginnya es krim, hanya saja semestinya dia tidak memesan es di cuaca yang dingin. Tiba-tiba ponsel Kai berbunyi, Kai melihat ke layar ponselnya, lalu segera menjawab telpon.

“Yeoboseyoo.. iya hyung, ini aku, ada apa ?” Kai lagi-lagi berkata dengan nada datar. In jung memperhatikan Kai, siapa yang menelponnya.

“Ooh, iya baiklah. Tidak masalah, aku baik-baik saja. Aku sedang di supermarket, disini hujan deras.” Kai berbicara dengan seseorang yang menelponnya entah dari mana. In jung berpura-pura tidak mencuri dengar pembicaraan itu.

“Tenang saja, aku bisa melakukannya sendiri, lagi pula aku sedang bersama teman disini. Nikmati waktumu selama disana ya, jangan mengkhawatirkan aku.” Kai melihat ke arah In jung sambil terus mendengarkan seseorang yang berbicara padanya melalui sambungan telpon.

“Iya, aku tahu. Sampaikan salamku untuk Chanyeol dan Suho hyung, jangan lupa membawakanku oleh-oleh ketika pulang. Iya..Anyeoong.” Telpon itu berakhir, Kai pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan melanjutkan menghabiskan pesanannya. In jung langsung menerka siapa yang barusan menghubungi Kai. In jung menebak pastilah D.O, karena percakapan mereka barusan seakan-akan seperti seseorang yang begitu mengkhawatirkan keadaan Kai. In jung jadi ingat gambaran D.O yang diceritakan Sehun sebelumnya, bahwa Kai dan D.O memiliki hubungan yang sangat dekat.

“Tapi bukankah Kai tadi mengatakan dia sedang bersama teman, apakah teman yang dimaksudnya adalah aku ?” In jung bertanya di dalam hati. Apakah mereka sekarang teman ? In jung menggelengkan kepalanya berkali-kali, dia tidak boleh berharap berlebihan dengan perkataan Kai tadi.

Hujan sudah reda, meninggalkan genangan air dimana-mana dengan udara dingin yang masih bertiup kesana kemari sesuka hati. Waktu yang sangat tepat ketika In jung akhirnya berhasil menghabiskan pesanannya, sedangkan Kai sudah menghabiskan pesanannya lebih dahulu. Selama bersama, mereka berdua tidak banyak bicara, hanya obrolan kecil dan terdengar biasa saja. Rasanya sangat berbeda dengan ketika In jung bersama Sehun.

“Sepertinya hujan sudah berhenti, kita bisa pulang sekarang.” Kai berbicara sambil menatap mata In jung dengan dalam, membuat In jung merasa canggung untuk membalas pandangannya. In jung hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Kai berdiri terlebih dahulu sambil menenteng dua plastik belanjaannya, diikuti In jung yang berjalan disampingnya. Mereka berdua berjalan keluar dari supermarket.

Hujan masih tersisa di pepohonan di sepanjang jalan yang mereka lewati bersama. Jalanan terasa begitu sepi karena sebagian orang memilih untuk berdiam di rumah selama hujan tadi. Mereka berjalan dalam diam, lalu Kai membuka obrolan baru.

“In jung-ssi, sepertinya belanjaanmu berat sekali. Sini biar aku bantu membawanya.” Kai menawarkan bantuan terlebih dahulu setelah dia melihat In jung yang kesulitan membawa belanjaannya yang banyak.

“Aah.. terima kasih. Tapi bukankah akan merepotkanmu ?” In jung perlu memastikan bahwa Kai tidak terpaksa untuk membantunya.

“Tentu saja tidak. Lihat, aku hanya berbelanja sedikit.” Kai menggoyangkan dua plastik belanjaannya, menandakan bahwa dia masih bisa membawa beberapa bungkusan lagi. In jung tersenyum kepada Kai dan dengan pelan memberikan dua bungkusan belanjaannya pada Kai. Kai mengambilnya dengan senang hati. Lalu mereka melanjutkan obrolan sambil berjalan pelan.

“Hmm.. In jung-ssi, apakah kau besok ada waktu luang ?” Kai bertanya sambil menoleh pada In jung.

“Yaa ? aku ? Aaah..tidak ada, besok aku libur. Ada apa ?”

“Hmm…sebenarnya aku ingin sekali pergi ke kebun stoberi, temanku bilang bulan ini saatnya stoberi panen besar. Tapi kalau aku pergi sendiri tidak akan terasa menarik.” Kai berbicara tanpa melihat ke arah In jung. Dia tidak melihat wajah In jung yang langsung berubah ketika mendengar apa yang dikatakan Kai. Apa yang barusan dikatakan Kai, apakah maksudnya dia mau mengajak In jung untuk pergi bersama ? Tapi kenapa Kai tidak bertanya padanya ? Dia tentu saja akan mengiyakan kalau Kai mengajaknya pergi. Tapi sepertinya Kai tidak bermaksud seperti itu. In jung masih berharap Kai akan menawarkannya pergi bersama.

“In jung-ssi, apakah kau mau menemaniku pergi bersama kesana ?” Kai akhirnya menoleh ke arah In jung.

“Tentu saja !” tiba-tiba saja In jung menjawab pertanyaan Kai dengan lantang, membuat Kai terkejut.

“Astaga, apa yang aku lakukan barusan. Kenapa aku berteriak.” In jung berbicara dalam hati, langsung menyadari kesalahan yang barusan dilakukannya. Masih melihat ke arah Kai, In jung terdiam di tepat. Wajahnya mulai terasa panas, dia merasa malu sekali, tapi dia tidak bisa menolehkan pandangannya dari Kai. Kai langsung tertawa melihat eskpresi In jung.

“Hahaha…kau ini benar-benar lucu sekali In jung-ssi, kau menjawab penuh semangat sekali. Tadi juga kau memanggilku dengan suara lantang. Hmm.. baiklah. Besok pagi aku akan menjemputmu di rumah. Kau bisa bersiap saat tiba di rumah nanti. Oh iya, satu lagi. Bisakah kau memberitahukan nomer ponselmu padaku, jadi aku bisa menghubungimu besok.”

Kai dan In jung berhenti berjalan sementara, mereka secara tidak sadar sudah berada tepat di seberang jalan rumah In jung. In jung terdiam sesaat, berusaha mencerna apa yang barusan dikatakan Kai. Dia tidak salah dengar kan, Kai meminta nomor ponselnya, Kai akan menghubunginya. In jung masih terdiam sambil menatap Kai.

“In jung-ssi… In jung-ssi… apakah kau baik-baik saja ? Kenapa kau diam ?” suara Kai membuyarkan pikiran-pikiran yang berterbangan di kepala In jung.

“Ah tidaak… Nomer ponselku ya ? Berikan saja ponselmu, biar aku yang melakukannya.” In jung menengadahkan tangannya pada Kai, Kai hanya mengangkat bahunya dan kemudian memberikan ponselnya pada In jung. Untuk pertama kalinya In jung memegang ponsel seorang pria, entah kenapa seperti bukan dirinya sendiri. In jung bertindak bertolak dari kemauannya, gambaran gadis lugu akan hilang dalam sekejap kalau dia melakukan ini terus menerus di depan Kai.

In jung menerima ponsel yang diberikan Kai, lalu menekan nomornya sendiri, menyimpannya di dalam kontak ponsel Kai. Setelahnya In jung memberikannya kembali kepada Kai. Kai lalu menghubungi nomor kontak yang diberi nama In Jung Park itu. Tak lama, ponsel In jung berbunyi. In jung merogoh tas kecilnya, lalu melihat ke arah layar ponsel, ada nomer asing yang masuk ke ponselnya.

“Itu nomerku, jangan lupa menyimpannya di kontak ponselmu.” Kai langsung menginstruksikan In jung untuk segera menyimpan nomernya.

“Ooh .. ternyata nomermu, ku kira nomer siapa. Hahaha…” In jung lagi-lagi menunjukkan kikuk nya pada Kai, membuat Kai menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

Akhirnya mereka sampai di depan rumah In jung setelah menyebrangi jalan. Kai memberikan belanjaan milik In jung yang tadi dibawanya. In jung membungkukkan badannya dan mengucapkan terima kasih dan Kai melakukan hal yang sama. Kai segera melanjutkan perjalanannya untuk pulang, sedang In jung menunggu di depan pagarnya menunggu Kai berjalan menjauh. In jung memasuki rumah, senyumnya langsung terkembang. Dia berteriak kegirangan, dia tidak percaya besok akan pergi bersama Kai. Ini bukan mimpi, In jung sadar betul dia tidak sedang berkhayal. In jung meloncat kegirangan, akhirnya setelah sekian lama dia akan pergi bersama dengan seorang pria selain ayahnya.

“Apakah ini kencan ? Bagaimana dengan Sehun kemarin ? Bukankah ini sama ?” In jung berpikir sejenak, lalu meraih ponselnya. Sudah seminggu sejak dia terakhir kali bertemu dengan Sehun, setelahnya tidak ada satupun yang memulai untuk menghubungi satu sama lain.

“Aaah.. tentu saja dia tidak menghubungiku, dia kan tidak tau nomer ponselku. Pantas saja dia tidak bisa menghubungiku. Tapi aku tidak akan menghubungi Sehun lebih dulu, dia bisa saja mengira kalau aku mengejar-ngejarnya. Aniya ! Aku tidak harus memikirkan Sehun, sekarang yang terpenting adalah aku harus segera membereskan semua ini lalu bersiap untuk pergi besok. Stoberi, aku dataaaang !”

Keesokan paginya, In jung terbangun dengan penuh semangat, tentu saja karena dia akan pergi bersama Kai. In jung mempercepat geraknya, mempersiapkan semuanya untuk perjalanan hari ini. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi tapi sangat berharap kalau hari tidak diisi dengan kecerobohannya. Hari itu In jung memakai baju berwarna soft pink dan dipadukan dengan rok berwarna biru muda, dengan rambut yang di gerai dan memakai bandanya berwarna pink. Berdiri di depan cermin, In jung tersenyum lebar melihat pantulan dirinya, lalu ponselnya berdering. In jung dengan cepat mengambil ponsel yang diletakkannya di atas kasur. Dia berdehem untuk menegaskan suaranya, lalu mengangkat telpon.

“Yeoboseyo… Iya, aku sudah selesai bersiap. Baiklah, aku akan menunggumu di depan rumah. Iyaa… Anyeoong…” In jung tersipu membuat pipinya merona, Kai baru saja menelponnya. Sebentar lagi Kai akan menjemputnya. In jung bergegas mengambil tas ransel kecil yang ada di atas kasur, lalu segera keluar dari kamarnya. In jung memasukkan botol minumnya dan beberapa snack ke dalam tasnya, lalu berjalan menuju keluar pintu rumah.

Tak lama menunggu, akhirnya mobil Kai berhenti tepat di depan rumah In jung. Kai keluar dari dalam mobil, berjalan menuju In jung yang menunggunya di depan pagar. Kai tampan sekali mengenakan baju berwarna biru muda dan celana berwarna hitam. Secara kebetulan, Kai dan In jung memakai pakaian dengan warna yang sama.

“Selamat pagi In jung-ssi, apakah kau lama menunggu ?” Kai menyapa In jung yang terpesona melihat Kai yang begitu tampan.

“Tidak, aku baru saja selesai.”

“Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat.” Kai mempersilahkan In jung untuk masuk ke mobilnya. In jung masuk ke dalam mobil dengan senang hati sekaligus deg-deg an.

Perjalanan awal di mulai. Mereka akan berhenti di statiun untuk menaiki kereta menuju kebun stoberi. Selama perjalanan di mobil, sesekali Kai menanyakan kabar In jung sekedar memulai percakapan. Rasanya Kai tidak begitu biasa memulai percakapan dengan seorang perempuan, terlebih lagi hanya berdua saja. Tetapi jelas Kai merasa senang akan perjalanan itu. Sesampainya di statiun, Kai memarkirkan mobilnya, lalu pergi bersama In jung untuk membeli tiket. In jung dengan setia mengikuti Kai di belakangnya. Tapi tiba-tiba Kai berhenti, In jung yang terkejut tidak bisa mengontrol langkahnya dan menabrak Kai dari belakang. Kai segera membalikkan badannya.

“Nah kan, makanya kau jangan berjalan di belakangku In jung-ssi, berjalanlah di sampingku.” Kai menggerakkan kepalanya tanda isyarat agar In jung berjalan di depannya. In jung melangkahkan kakinya mendekati Kai sambil tangannya mengusap kepalanya. In jung tertawa pada Kai dan dirinya sendiri, baru memulai perjalanan saja dia sudah menabrak Kai.

Akhirnya mereka berhasil masuk ke kereta setelah mengantri 10 menit untuk mendapatkan dua tiket kereta. Kai memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, dan mempersilahkan In jung duduk berhadapan dengannya agar mereka sama-sama bisa melihat pemandangan selama perjalanan menuju tempat tujuan mereka.

Tidak berselang lama akhirnya kereta berhenti, mereka perlu mencari bus untuk membawa mereka ke area perkebunan. Tidak perlu menunggu lama, Kai dan In jung sudah duduk di dalam bus menuju perkebunan stoberi, dan dengan perjalanan 10 menit akhirnya mereka tiba di perkebunan. Suasana dan pemandangan di area perkebunan itu tidak akan membuat pengunjungnya kecewa, begitu menenangkan. Sudah banyak pengunjung yang tiba lebih dulu, In jung dan Kai bukan satu-satunya pengunjung yang terkesima saat pertama kali menginjakkan kaki disana. Area perkebunan begitu ramai di pagi itu, semua orang begitu semangat dan tak sabar untuk memetik sendiri stroberi yang mereka inginkan.

“Woaaah.. ini benar-benar diluar bayanganku. Tempatnya ramai sekali, tapi aku merasa senang. Bagaimana ? Bagus ya.” In jung melihat ke arah Kai yang menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan In jung.

“Ayo kita berkeliling. In jung-ssi, kau jangan berjalan jauh dariku, kalau nanti terpisah akan sulit mencarimu diantara orang-orang.” Kai menggunakan isyarat tangan agar In jung mendekat dengannya. In jung tersipu, dengan pelan dia berjalan di samping Kai, berusaha sedekat mungkin dengan Kai agar dia bisa mengikuti Kai kemanapun dia pergi.

Mereka berjalan menerobos keramaian untuk ikut memetik stroberi. Kai berjalan di samping In jung, sesekali memegangi bahu In jung untuk menahannya agar tidak terjatuh. Sampai di barisan stroberi yang siap panen, Kai menyerahkan keranjang pada In jung agar dia bisa ikut memetik stroberinya sendiri. In jung benar-benar merasa senang, dia melupakan rasa gugupnya yang biasanya muncul saat bertemu Kai. Kai dan In jung sama-sama berjongkok untuk memetik stroberi dan memasukkannya kedalam keranjang milik mereka, sesekali mereka tertawa karena hal konyol yang terjadi. In jung memetik sebuah stroberi merah besar dan menggigitnya.

“Woaah…rasanya benar-benar manis. Kai, apakah kau mau mencobanya ? Rasanya manis sekali.” In jung menyodorkan stroberi yang tadi digigitnya, Kai melihat In jung sesaat, lalu menggelengkan kepalanya.

“Aah iya, tidak mungkin kau memakan ini. Tunggu sebentar.” In jung memetik stroberi lainnya yang lebih besar dari sebelumnya lalu memberikannya pada Kai.

“Cobalah, kau harus mencobanya, sayang kalau kau tidak mencobanya selagi benar-benar disini, rasanya akan berbeda kalau nanti kau memakannya di rumah.” In jung masih berusaha agar Kai mau mencoba stroberi yang dipetiknya. Kai akhirnya menerima stroberi yang diberikan In jung, lalu menggigit ujung stroberi, mengunyahnya, dan menatap In jung yang melebarkan senyumnya sambil menganggukan kepala.

“Bagaimana ? Manis kan ?” In jung terlihat antusias, tapi Kai menggelengkan kepalanya.

“Huh ?! Apakah rasanya tidak manis ? Masa sih, semestinya rasanya manis.” In jung menengadahkan tangannya, meminta Kai memberikan stroberi yang dipegangnya, Kai memberikan stroberi yangsudah digigitnya. In jung menggigit stroberi yang diberikan Kai di sisi lain.

“Yaa ! Kai, apa kau tidak salah, rasanya manis sekali. Kau ini butuh semanis apa, coba lagi.” In jung menyodorkan stroberi itu ke mulut Kai, jaraknya sangat dekat bahkan Kai terpaksa membuka mulutnya dan memakan habis stroberi yang dipetik In jung tadi untuknya sambil menahan tawa.

“Hahaha..aku hanya bercanda, tentu saja rasanya manis. Sudahlah, kalau kita terlalu lama berjongkok disini isi keranjangmu akan melimpah In jung-ssi. Ayo kita timbang stroberinya.” Kai berdiri dan merenggangkan badannya, lalu bersama In jung pergi ke tempat penimbangan stroberi di ujung kebun.

Kai dan In jung sudah berdiri di depan seorang ahjussi untuk menimbang stroberi yang sudah mereka petik. Ahjussi itu melihat mereka berdua yang berdiri sambil tersenyum kepadanya.

“Waah..Pasangan lainnya ya. Kalian manis sekali semanis stroberi ini.” Ahjussi itu tersenyum sambil menimbang stroberi yang ada di keranjang In jung dan Kai.

“Aaah..tidaaak..Kamii…” belum sempat In jung merespon perkataannya, ahjussi itu sudah selesai menimbang stroberi yang barusan mereka petik.

“Aku sudah selesai menimbangnya, punya pasangan ini beratnya 3 kg, tapi karena aku senang melihat kalian sebagai pasangan yang bersedia menghabiskan waktu disini, kalian akan kuberikan potongan setengah harga.” Ahjussi itu berkata tanpa mendengan dulu apa yang akan dikatakan In jung. Bukannya mengklarifikasi apa yang dikatakan ahjussi tersebut, Kai langsung memberikan uang untuk membayar stroberi itu.

“Terima kasih ahjussi, kami sangat senang mendengarnya.” Kai membungkukkan badannya, lalu menjabat tangan ahjussi tersebut, sedang In jung menggerak-gerakkan tangannya untuk mengisyaratkan tidak setuju dengan yang dikatakan ahjussi itu dia tapi tidak bisa berkata sepatah kata pun.

Kai dan In jung berjalan keluar dari area memetik stroberi. Kai berjalan di depan sambil memegang bungkusan stroberi yang diberikan ahjussi, sedangkan In jung berjalan di belakangnya sambil memikirkan apa yang dikatakan ahjussi tadi. Mereka bukan pasangan, tapi ahjussi itu mengira mereka adalah sepasang kekasih. Dan terlebih lagi apa yang dikatakan Kai tadi, apa yang dikatakan ahjussi itu membuat Kai merasa senang, tapi bagian yang mananya yang membuatnya senang ? Apakah bagian ahjussi yang mengira mereka sebagai pasangan atau bagian pemberian potongan harga ? Haruskah In jung bertanya pada Kai ?

To be continued…

***

Note : Terima kasih untuk readers yang bersedia membaca ff ini, dan maaf juga buat para readers karena jarak upload dari chapter sebelumnya yang lumayan lama. Tapi author akan berjuang untuk melanjutkan ke chapter berikutnya yang sekarang lagi berjalan di chapter 7. Saranghaeyo readers XOXO. (Please commentnya, gomawo~)

Poster: redbaby

6 pemikiran pada “Medical In Love (Chapter 5)

  1. aku suka chapter ini isinya Kai-in moment 🙂 semoga chapter* berikutnya lebih banyak lagi kai-in momentnya 😀 dan semoga mereka cepat jadi sepasang kekasih. fanficnya keren banget thor, aku suka aku suka 😀

  2. Huaaaaa lanjut Authooor! Suka bangettt.
    Duh ga kebayang kalo misal sampe kejadian ada cinta segitiga KaiHunJung…fufufufu
    Semoga kalopun iya jgn ada yg bertepuk sblh tangan ya, kasian hahaha XD
    Ditunggu ya Author, jgn lama2 huehehe fighting! 😀

Tinggalkan Balasan ke alvianantia Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s