Wave Find Beach (Chapter 9)

Wave Find Beach (Chapter 9)

mn

Author                      :   –     Ayse_Lyn

Main Cast                :   –     Park Chanyeol                   –   Oh Sehun

–      Ma Jinhwa (OC)                –     Lee Soonji (OC)

Genre                       :   –     Angst, Friendship, Romance *little bit*

Length                      :   –     Chaptered

Rating                       :   –     (+15)
Pesan & Saran       :

-ff ini adalah ff ketiga saya yang berani saya publish xD. Please don’t be plagiator, soalnya ff ni murni buatan saya dengan inspirasi dari berbagai sumber, dan tolong jangan dianggep serius soalnya ni ff cuma buat hiburan semata, mengingat imajinasi saya yang emang absurd horor nggak karu-karuan. Makasih banget buat readers yang udah nyempetin baca. Mian klw banyak typo-nya, soalnya –lagi- saya nulis ni ff sambil mikirin suami-suami(?) saya *ngelirik EXO -digantung EXO-L*. Well, langsung saja ke TKP……
Eh… ada yang nyelip,

Warning!! DON’T LIKE, DON’T READ…….

<EXO ♥ JJANG>

Preview

“Apa jangan-jangan kau sebenarnya tak dapat membaca pikiran? Kau hanya mau menipuku kan? Apa kau pikir aku bodoh?!”

“Sun…sunbaenim”.

“Chanyeol –ah…”.

“Ayo keluar dari sini, Soonji –ya”.

Serbuk di sapu tangan langsung menyeruak ke hidung Jinhwa, membuat matanya berkunang-kunang, samar-samar Jinhwa mampu mengenali seseorang yang kini membekapnya, dan semua pun menjadi gelap total.

“Kajja!”

“Ya! Kau murid SMP Seungri tolong aku!! Tolong aku!! Ya! Murid SMP Seungri!!! Kau murid SMP Seungri tolong aku!!!”

Sedangkan murid SMP Seungri yang dipanggil Jinhwa –yang ternyata adalah Oh Sehun- tidak jadi meneruskan langkahnya. Dia berbalik dan melihat kendaraan yang kembali melaju saat traffic light berganti hijau. Namun, matanya memicing melihat sebuah mobil terious hitam –di mana di situlah Jinhwa berada- yang melaju dengan cepat. Entah kenapa dia merasa ada yang tak beres di sana.

Mobil itu…benar-benar mencurigakan.

<EXO ♥ JJANG>

Chapter 9

Chanyeol’s House, 01.56 pm KST.

Park Chanyeol menggembok gerbang dengan kuat. Mengunci semua pintu dan menutup semua jendela, lalu merapatkan gorden. Sedang Soonji hanya berdiri menyaksikan tindakan antisipasi Chanyeol.

“Jadi, ke mana semua orang?”

“Orangtuaku ada urusan bisnis di luar kota. Para maid hanya bekerja pada malam hingga dini hari, security biasanya jam segini pergi mencari makan, dan tukang kebun mungkin masih sakit. Beliau telah absen sejak dua hari lalu. Jadi, intinya kita hanya berdua di rumah ini”, jelas Chanyeol detail.

Soonji hanya mengangguk kikuk.

“Aku punya sepupu perempuan yang sering datang ke mari, dia selalu meninggalkan beberapa lapis baju di lemari yang ada di kamar tamu. Apa kau mau kupinjami? Dia sebaya kita jadi kurasa itu akan pas jika kau pakai”, tawar Chanyeol.

“Igeon…”

“Jangan sungkan. Aku akan mengambilnya, jadi tunggulah sebentar di sini”.

Jadi seperti itulah, Chanyeol sangat baik, dan Soonji semakin terpikat karena sifatnya yang terhormat.

Beberapa menit berlalu, kini Chanyeol dan Soonji tampak lebih becus setelah mandi dan berganti pakaian. Chanyeol mengenakan hem kotak-kotak warna biru-putih dan celana levis, sedang Soonji mengenakan baju terusan dua senti di bawah lutut dengan lengan sesiku warna cokelat-cream bermotif bunga. Mereka tak sengaja berpapasan di tangga, saat itu Chanyeol akan naik dan Soonji akan turun. Chanyeol baru saja menggunakan kamar mandi di lantai dasar, sementara Soonji baru saja memakai kamar mandi di lantai dua atas saran Chanyeol.

“Chanyeol –ah, bisakah kita ke loteng saja?” ujar Soonji ragu. Dandanan Chanyeol yang tampan membuatnya lupa sejenak bagaimana caranya bernapas.

“Waeyo?”

“Entahlah, kurasa kita lebih aman di sana”.

“Tapi aku telah menutup semua jendela dan mengunci pintu”.

“Mianhaeyo, tapi aku merasa lebih aman di sana”.

Dan Chanyeol tak menolak. Dia mengungsikan beberapa buku pelajaran, beberapa novel plus komik, dan beberapa camilan serta minuman kaleng ke loteng. Sekarang Soonji tengah mengerjakan soal-soal bahasa inggris sambil duduk lesehan dan bersandar ke dinding, di sampingnya Chanyeol juga lesehan dan bersandar, bedanya dia serius membaca komik Conan.

“Chanyeol –ah”, Soonji membuka mulutnya.

“Hm…”, respon Chanyeol ala kadarnya.

“Mianhaeyo, gara-gara aku kau tidak mengikuti ujian nasional hari ini”, lirih Soonji bersalah, dia berhenti sejenak dari mengerjakan soal.

Chanyeol yang menyimak ucapan Soonji, menurunkan komiknya.

“Matta, tapi aku tidak menyesal”.

Soonji menoleh ke Chanyeol, “Waeyo?”

Chanyeol ikut menoleh, “Karena menolong orang yang membutuhkan lebih mulia dari pada meraih nilai 100 saat ujian”.

Soonji terdiam. Perkataan Chanyeol menghangatkan jiwanya.

“Jadi tak usah merasa bersalah. Tanpa kau minta pun aku pasti menolongmu”, Chanyeol tersenyum lembut.

“Jeongmal.…. gumawoyo, Chanyeol –ah”, Soonji hanya mampu menyuarakan kalimat itu.

Chanyeol benar-benar mengesankan.

03.03 pm KST.

Jinhwa kembali terbangun ketika merasakan seluruh tubuhnya pegal semua. Alangkah terkejutnya ia saat tahu tali tampar melilit tubuhnya, kedua tangannya diikat ke depan, kakinya juga diikat, dan mulutnya bukan disumpal kain tapi ditutup lakban. Apalagi dia ternyata masih di dalam mobil dengan posisi tidur miring dan di tempat yang sama, jok belakang. Bersyukurnya, dua orang sedang tertidur dan seorang lagi tentu saja menyetir. Diam-diam Jinhwa berusaha mengeluarkan ponselnya dari saku blazer dengan tangannya yang terikat. Dengan menangis dalam diam, Jinhwa memanggil nomer Chanyeol yang berada di tempat teratas pada daftar panggilan cepat. Dengan susah payah dia mendorong ponselnya sampai berada di dekat mulutnya. Panggilan tersambung, tinggal menunggu Chanyeol mengangkatnya.

Chanyeol’s House, 03.05 pm KST.

Lagu EXO-December, 2014 mengalun dalam keheningan, sedikit mengusik konsentrasi Chanyeol dan Soonji yang berpetualang dengan bacaan di tangan masing-masing. Dengan cepat Chanyeol menyambar ponselnya dan menekan tombol ‘receive’.

“Yeoboseyo”.

“…………..”

“Yeoboseyo”.

“Hemm…hem…”

Chanyeol menatap heran ponselnya.

Pasti salah sambung. Dia berniat memutus sambungan, namun melihat nama ‘Jin jin’ yang tertera sebagai penelepon, Chanyeol berubah haluan.

“Yeoboseyo, Jin jin”.

Suara tangis Jinhwa keluar begitu Chanyeol menyebut nama kecilnya.

“Heemm…hemm…”, sayang ucapan Jinhwa tak dapat dimengerti sama sekali gara-gara lakban sialnya. Apalagi tubuhnya yang terlilit membuat tangannya sulit untuk melepas lakban tersebut dari mulutnya.

“Jin jin, ini kau kan?”

“Hemm…hemm…”

Chanyeol, kumohon mengertilah.

“Hemm…hemm…hem..”

Aku diculik, aku takut.

Tangis Jinhwa bertambah keras.

“Hemm…hemmm…hemm…”

Kumohon mengertilah ucapanku.

“Heem…hemmm…”

Kumohon gunakan hatimu.

“Heemm…hemm..”

Aku butuh bantuanmu.

Karena terganggu dengan aktivitas Jinhwa yang mencoba meminta bala bantuan, seseorang yang memukul Jinhwa dengan tongkat bisbol terbangun. Dia menuju jok belakang dan meraih kasar ponsel Jinhwa.

“Heemmm!!”

Hajima!!

Kemarahan seseorang itu memuncak, dengan raut sengit dia membanting ponsel Jinhwa secara keji.

‘BRAK’, hingga layar ponsel itu pecah dan mati menghantam badan mobil.

“Heemmm!!!”

Andwe!! Jinhwa tak henti mengucurkan air mata. Gejolak hatinya sungguh tiada terkira .

Di sisi lain, seseorang yang menyetir hanya menunjukkan ekspresi datar melihat tragedi itu melalui spion dalam.

“Jin jin, Jin jin, kau masih di sana kan? Apa yang terjadi?”

Soonji menatap heran Chanyeol yang nada suaranya meninggi.

“Jin jin, kau dengar aku kan? Jin jin, Ma Jinhwa!!”

Ma Jinhwa? Jinhwa kenapa? tiba-tiba Soonji merasa khawatir luar biasa.

Chanyeol bangkit dari duduknya.

“Chan…”

“Sambungannya putus begitu saja. Sebelumnya ada suara orang menangis dan seperti sesuatu yang dibanting keras”, Chanyeol wara-wiri panik.

“Soonji –ya, aku harus pergi sekarang”, putusnya.

“Mwo?” Soonji tampak tak rela.

“Ini demi Jinhwa. Kau tak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya kan?”

Soonji menggeleng, “Dia sahabat kita. Aku tak mau dia kenapa-napa”.

“Kalau begitu aku pergi dulu”, Chanyeol mulai melangkah keluar loteng.

“Tapi…”, namun suara Soonji membuatnya berbalik, dan dia pun menghampiri gadis itu.

“Percaya padaku, Soonji –ya. Aku akan baik-baik saja, kau akan baik-baik saja, dan Jinhwa akan baik-baik saja, kita semua akan baik-baik saja. Aku tak akan membiarkanmu dan Jinhwa terluka”, ujar Chanyeol meyakinkan seraya memegang kedua pundak Soonji.

“Chanyeol –ah…”, Soonji menatap Chanyeol penuh keraguan.

“Aku janji akan segera kembali, jadi kumohon percayalah padaku”.

Soonji bimbang, tapi akhirnya nurani lebih menguasai dari pada ego.

“Geure. Jaga dirimu”.

Chanyeol tersenyum manis, “Terimakasih”, dan dia langsung melesat mencari keberadaan Jinhwa.

Sahabat lelaki Jinhwa itu meloncat dari pagar rumahnya dan berlari menyusuri jalanan. Dia terus berlari dan tempat yang kini bersarang di pikirannya adalah sekolah, siapa tahu gadis itu masih ada di sana. Walau Chanyeol tahu persentasenya kecil, tapi apa salahnya memastikan ke sana. Sembari berlari dia mencoba menelepon nomer Jinhwa. Satu kali tak berhasil, dia menelepon lagi, dua kali tak berhasil, dia kembali mencoba, begitu seterusnya dengan hasil yang sama, tak berhasil.

Jinjja! decak Chanyeol kesal, kepanikannya semakin merambah.

Dan ketika dia berbelok mengikuti alur jalan, kakinya tertahan, tubuhnya menegang, dengan perlahan dia menurunkan ponsel dari telinganya di mana suara operator yang terdengar dari seberang sana.

“Hai, nak!”

Rupanya para orang jahat itu telah berada beberapa meter di hadapannya, seketika rahang Chanyeol pun mengeras. Dia menggenggam erat ponselnya.

JS Entertainment, 03.22 pm KST.

♫~Dangdang hage haneureul bwa
Ije sijagil ppuniya eokkael pyeo
Ne ane gateun nega isseo
Himdeureodo pogi mara dasi hanbeon
Ireona soneul jaba dasi ireona~

Sehun dapat mendengar suara seorang peserta perempuan yang menggema di ruang audisi.

Dia tahu bakatnya tidak sih? Suaranya itu lebih cocok jadi tukang koran yang teriak-teriak mempromosikan dagangannya, komentar Sehun dalam hati. (Hei nak, dan apa kabar dengan suaramu? V^^*justkidding*)

Dia merasa jenuh berada di ruang tunggu. Dilihatnya nomer yang tertempel di dada, ‘18’, masih kurang sebelas peserta sampai gilirannya tiba. Setiap peserta diberi durasi 3-6 menit untuk menunjukkan talentanya. Dari dada, Sehun menurunkan tatapan ke telapak tangannya yang tengah memegang selembar kartu nama. JS Entertainment, itulah agensi milik pria paruh baya yang mendatanginya ke tempat traineenya empat bulan lalu. Sebelumnya Sehun memang menolak mentah-mentah tawaran pria paruh baya tersebut, namun setelah dipikir ulang secara matang, demi menggapai ambisinya secepat mungkin, Sehun pun rela mempertaruhkan harga dirinya. Sehun memang ditawari secara cuma-cuma, namun untuk menebus egonya yang mempertaruhkan harga dirinya, saat berada di ruang tamu gedung agensinya sebulan yang lalu, dengan percaya diri di hadapan pria paruh baya, pelatihnya, dan bahkan sang pemilik agensi tempatnya trainee pun hadir –ternyata pemiliknya masih muda dan tidak pernah terlihat karena menetap sementara di luar negeri dengan alasan bisnis-, dia bersikeras untuk ikut audisi seperti yang lain. Pria paruh baya pun setuju, berbeda dengan pelatihnya dan pemilik agensi yang tampak ragu. Pria paruh baya lalu meminta pelatih dan pemilik agensi untuk setuju, tetapi pria paruh baya itu mengajukan syarat untuk Sehun. Dan Sehun, tentu saja lelaki bermuka datar itu menyanggupinya.

Sehun memasang headphonenya, dengan tatapan dingin dan terkesan kejam, dia menatap setiap peserta yang merupakan saingannya. Para peserta tampak sibuk sendiri-sendiri menyiapkan penampilannya nanti di depan dewan juri.

Lihat saja, akan kubuat mereka menyesal seumur hidup, para pecundang yang bersembunyi di balik topeng sampahnya itu.

‘BUK!’ Chanyeol terhempas ke aspal jalan. Wajah tampannya penuh lebam dan berdarah, bahkan bajunya tak luput terkena noda darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Padahal sebelumnya dia telah berusaha maksimal untuk melarikan diri, namun akhirnya tertangkap juga, kini dandanannya pun kembali tidak karuan. Belum sempat Chanyeol bangkit, seorang penjahat menarik kerahnya kemudian melayangkan pukulan telak ke perutnya. Sontak Chanyeol menyemburkan darah kental yang mengenai jas pelaku pemukulan.

“Pegangi dia!” perintah pelaku yang jasnya terkena noda darah, sebut saja dia pimpinannya.

Dengan sigap dua penjahat lain memegangi kedua lengan Chanyeol. Sang pimpinan lalu membuka jasnya dan melemparnya sembarangan. Dia pun tak segan menjambak rambut Chanyeol.

“Katakan, di mana gadis itu?” tanyanya dengan nada mengancam.

Chanyeol berontak dengan sia-sia, tubuhnya terlalu lemah sedang pegangan pada lengannya sangat kuat.

“Molla!!” seru Chanyeol sengit, tubuhnya tak henti meronta.

“Apa kau berusaha melindunginya?”

“Apa pedulimu, hah?!”

“Tentu saja aku peduli, aku peduli pada keselamatan nyawamu. Tinggal katakan saja di mana dia, maka kami akan mengampuni dosamu”, ujar pimpinan dengan nada mengejek.

“Babo!!” umpat Chanyeol.

“Mwoya?” pimpinan merasa terhina.

“Kau tahu, tuan. Kau seperti binatang bodoh di mataku. Apa kau pikir nyawa semua orang adalah hakmu? Bodoh!!”

Pimpinan mundur beberapa langkah sambil mengepalkan tangannya menahan emosi yang telah sampai titik kulminasi. Namun, ketegangan teralihkan oleh lantunan lagu EXO-December, 2014 yang berasal dari ponsel Chanyeol yang sebelumnya dia letakkan di saku levisnya. Chanyeol terbelalak, dia lupa memode silent ponselnya. Barulah pimpinan yang merasa terhina itu tersenyum sinis. Rupanya Tuhan sedang baik padanya, tidak, tepatnya sang raja iblis yang bermurah hati padanya.

Chanyeol’s House, 04.00 pm KST.

            Soonji menghubungi nomer Chanyeol lewat telepon rumah Chanyeol. Sebelumnya dia susah payah memberanikan diri turun ke lantai dasar untuk melakukan hal ini. Dia tak menggunakan ponselnya karena benda itu tertinggal di rumahnya saat dia kabur dari kejaran para penjahat yang dia yakini merupakan komplotan kakaknya. Namun, Soonji tak tahu alasan masuk akal apa yang dipunyai kakaknya sampai dia tega menyuruh orang lain untuk membunuhnya, adik kandungnya sendiri.

‘Tut…tut…tut…’, telepon tersambung, namun belum ada yang mengangkatnya.

Angkatlah, Chanyeol –ah.

‘Klik’, seseorang mengangkat panggilan darinya.

“Chanyeol –ah”, dan Soonji senang dibuatnya.

Sementara itu, di tempat lain yang jarang dilewati, Chanyeol meronta mati-matian guna melepaskan diri, apalagi kini mulutnya ditutup dengan lilitan dasi. Dia marah, hatinya sakit. Pimpinan berhasil mengambil ponselnya dan sekarang pria jahat itu mengangkat telepon yang ternyata dari Soonji, orang yang seharusnya Chanyeol lindungi. Tapi saat ini dia malah menyeret gadis itu memasuki lubang buaya.

“Chanyeol –ah”, pimpinan memamerkan ponsel Chanyeol yang ditujukan untuk sang pemilik dan meloud speakernya hingga suara Soonji terdengar jelas.

“Heemmm!!!” Chanyeol bergerak mendekati pimpinan guna merebut ponselnya, namun apalah daya, itu sia-sia karena kedua lengannya yang dicekal kuat.

“Chanyeol –ah, ini kau kan?”

“Heemm!!”, Chanyeol masih berontak.

Aniya, Soonji –ya. Itu bukan aku.

“Chanyeol –ah, kenapa kau belum kembali?”

“Heemmm!!!”

Kumohon hentikan, Soonji –ya. Itu bukan aku.

“Apa kau belum menemukan Jinhwa?”

Soonji –ya, kumohon…, Chanyeol tak kuasa menahan air matanya yang telah tiba di pelupuk.

“Apa kau baik-baik saja? Apa telah terjadi sesuatu padamu?“ nada Soonji terdengar khawatir.

Pimpinan pun tersenyum miring ke arah Chanyeol.

Tidak, justru kau sedang tidak baik-baik saja. Kumohon matikan teleponnya, Soonji –ya, kumohon, dan air mata Chanyeol pun runtuh, bentengnya sudah tak mampu untuk membendung kesedihannya.

“Cepatlah kembali, ya. Aku takut sendirian di rumahmu…”

‘Klik’, pimpinan mematikan sambungan sembari tersenyum puas, sedang Chanyeol membulatkan matanya tak percaya, Soonji secara tak sengaja telah memberitahukan keberadaannya pada para penjahat yang berniat membunuhnya.

Andwe!! Andwe!! Andwe, Soonji –ya… , jerit Chanyeol dalam hati. Air matanya bertambah deras.

Pimpinan menghampiri lelaki yang terlihat kacau itu lalu membuka kasar penutup mulutnya.

“Bodoh!! Jangan pernah lukai dia!!! Bunuh aku saja, asal jangan dia!!!” bentak Chanyeol meledak-ledak.

“Ha…ha… kau benar-benar melindunginya ternyata”, pimpinan tertawa mencela. “Apa kau pikir air matamu ini mampu melindunginya?” remehnya kemudian.

“Diam, bedebah!!! Kau hanya sampah!! Jangan dekati dia atau kau benar-benar akan menjadi sampah masyarakat!!!” Chanyeol telah keluar batas. Dia tak pernah diajari untuk berbicara kotor. Orangtuanya mendidiknya menjadi anak yang bermartabat, namun kesantunan yang selalu dijunjungnya menguap begitu saja. Disinggung soal Soonji membuatnya tak bisa berpikir jernih.

“Mworago?” pimpinan naik pitam, diam-diam dia mengeluarkan silet dari saku celananya.

“Ya, kau hanyalah sampah masyarakat!! Sampah yang bahkan lebih busuk dari sampah yang sesungguhnya”, Chanyeol tak gentar walau pimpinan terlihat akan menghajarnya habis-habisan. Dia teramat murka mengingat Soonji dalam bahaya.

“Apa benar kau rela mati demi dia?” tanya pimpinan menjalankan permainannya.

“Apa kau akan melepaskannya kalau aku mati?” dan Chanyeol terkecoh olehnya.

Pimpinan mendekat ke telinga Chanyeol lalu berbisik, “Mungkin bisa kupertimbangkan”.

‘Jleb’, dan dia menusukkan siletnya ke perut Chanyeol. Membuat Chanyeol meringis kesakitan dan darah pekat merembes di bajunya. Pimpinan mencabut paksa siletnya hingga sobekan di perut Chanyeol melebar. Chanyeol menggigit bibirnya menahan sakit yang sungguh tak terlukiskan. Pimpinan menjauh dari Chanyeol. Dia mengisyaratkan agar dua penjahat tersebut melepas pegangan mereka pada lengan Chanyeol. Segera kedua anak buahnya menurut, mereka mendorong Chanyeol hingga terkapar tengkurap di pinggir jalan. Pimpinan membuang ponsel Chanyeol ke samping pemiliknya, menyebabkan casing ponsel sedikit retak. Dia pun menatap Chanyeol tanpa perasaan.

“Ayo pergi!” komandonya kemudian berbalik diikuti anak buahnya meninggalkan Chanyeol yang tengah meregang nyawa sendirian.

            04.13 pm KST.

Jinhwa yang tergeletak miring dengan kondisi masih terikat, membuka matanya pelan-pelan, dia merasakan pening luar biasa yang menghujam kepala belakangnya. Begitu penglihatannya terbiasa dengan keadaan sekitar, dia baru sadar bahwa dirinya sekarang tidak lagi ada di mobil, melainkan di sebuah ruangan yang kotor dan temaram, ruangan yang mirip dengan gudang. Dan rupanya dia tak sendiri. Ada beberapa anak kecil yang dekil dan berwajah sendu, menyulut rasa kasihan dalam kalbunya. Tak lama sekitar lima pria dewasa memasuki ruangan tersebut.

“Mana penghasilan kalian?” todong salah satu pria dewasa pada para anak kecil.

Para anak kecil pun mendekat, mereka menyerahkan uang di tangan mereka dengan takut-takut. Beberapa anak yang penghasilannya banyak disuruh kembali ke tempatnya semula, sementara anak-anak yang penghasilannya kurang langsung ditampar hingga hilang keseimbangan dan jatuh. Mata Jinhwa melotot, rasa kasihan itu terganti rasa marah. Anak-anak yang ditampar hanya bisa menangis dalam diam tanpa sanggup melawan. Parahnya, mereka tidak hanya ditampar, tapi juga dipukul dengan rotan, dimaki, dan ditendang-tendang dengan kejamnya.

“Hemmm!! Hemmm!!” teriak Jinhwa murka.

Akan tetapi para pria dewasa itu tak menghiraukannya.

“Hemmm!! Hemm!!!” gadis itu memukul-mukul lantai dengan kedua tangannya yang diikat.

Akhirnya salah satu pria dewasa –yang Jinhwa tahu sebagai orang yang telah membanting ponselnya- berjalan menghampirinya. Dia melepas paksa lakban di mulut Jinhwa.

“Apa, hah?!” sentaknya.

Jinhwa yang siap meluncurkan ceramah panjang, tiba-tiba jadi takut. Tatapan pria itu seolah melubangi bola matanya. Akhirnya sebuah ide melintas di benaknya.

“Aku…aku ingin pipis”, ujarnya gemetar.

“Haisshhh…”, pria itu membuang lakban yang melekat di tangannya lalu membuka tali tampar yang melilit kaki, tangan, dan badan Jinhwa.

Setelah Jinhwa berdiri, si pria lalu mengeluarkan pisau kecil dari balik jaketnya.

“Kalau kau macam-macam, pisau ini tanpa ragu menembus kulitmu”, ancamnya dengan senyum evil.

Jinhwa menelan ludahnya takut. Si pria lalu menggiring Jinhwa keluar ruangan dengan ujung pisau kecil yang berjarak satu senti tepat dari punggung gadis itu.

<EXO ♥ JJANG>

TBC ^^

7 pemikiran pada “Wave Find Beach (Chapter 9)

  1. lanjut Author😀 udah baca dari awal dan sekalian komen disini aja ya hohoho
    tp kalo bisa diperjelas lg dong Author soal suka menyukanya ke siapa, jd ga menerka2 lg hahaha agak ngambang pas baca😂 fighting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s