Vow of the Pureblood : Two Souls (2/2)

A Storyline Present by @diantrf

 

Vow of The Pureblood: Two Souls

(Seonsaengnim’s Reveal of Story)

Main Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol, Kim Junmyeon/Suho (EXO) | Park Cheonsa (OC)

Other Cast:

Oh Sehun, Kim Jongdae/Chen, Kim Minseok/Xiumin, Zhang Yixing/Lay, Wu Yifan/Kris (EXO) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Jinyoung (B1A4) | Lee Gikwang (Beast) | Kang Jihyun/Soyou (Sistar)

Genre: Fantasy, Romance, Mystery, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Prev:

Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5 | Part-6 | Part-7 | Part-8 | Part-9 | The Princess of Darkness (Teaser) | Intro Charas | The Princess of Darkness (1) | The Princess of Darkness (2) | Part-10 | Part-11 | Part-12 | Two Souls (Teaser) | Two Souls (1)

0o0

Langkah kakinya menggema menelusuri lorong terang, terdengar angkuh namun memiliki makna tersendiri di dalamnya. Hingga langkah terakhirnya berpijak di depan sebuah kamar dengan pintu berdaun dua kecokelatan. Ia diam sesaat, dan setelahnya memutuskan untuk langsung membuka pintu tanpa harus mengetuknya.

Matanya menelisik ruangan bernuansa biru dan ungu itu, mencari seseorang yang ia butuhkan untuk meluruskan apa yang terus menggantung dalam pikirannya. Hingga ia menemukannya, gadis berambut cokelat keemasan yang sedang menatap ke luar jendela kamar dengan pandangan sayunya.

“Kurasa seseorang harus mengajarkan sopan santun padamu.”

“Bawalah kembali Ayah dan Bunda dari neraka untuk itu. Aku ke sini hanya untuk menanyakan bagaimana kabar bayi itu.” Mata Sheol berkilat terang, namun gadis di hadapannya masih enggan menatap sang kakak.

Hening untuk sesaat, sampai Sheol kembali melanjutkan, “Trina, aku bicara padamu.”

Hingga akhirnya Trina bangkit dari duduknya, berdiri tepat di hadapan Sheol dan memancarkan kilatan merah yang sama dengan kakaknya. “Maka bawalah dirimu ke neraka untuk itu. Tak cukup kah menyiksa înger dan Diavol? Aku tak ingin membuat bayi yang bahkan belum meneteskan darahnya di dunia tersiksa hanya karena otak tak warasmu.”

Trina berlalu begitu saja, menjauh dari Sheol. Sebelum tiba-tiba tubuhnya jatuh berlutut di lantai, dengan satu tangan memegang kuat dadanya. Sesak.

Tidak ada jeritan kesakitan, namun Sheol tahu pasti bahwa adiknya sedang mengalami kesakitan yang luar biasa. Ia berjalan pelan menghampiri Trina, ikut berlutut di hadapannya dan memandangi sang adik. “Kautahu? Aku paling tak suka jika adik kecilku yang manis ini berucap sekasar itu.”

Mata Sheol menjadi semakin terang, seiring dengan ambruknya tubuh Trina. Kembali berdiri, Sheol melangkahkan kakinya keluar kamar, kembali menyusuri lorong terang sebelumnya. “Jika ikatan darah tidak lagi dapat digunakan, maka aku akan langsung menyelesaikan ini dengan caraku sendiri,” bisiknya pada ruang hampa, sebelum akhirnya menghilang di ujung lorong, entah ke mana tujuannya selanjutnya.

0o0

înger masih tenggelam dalam mimpi panjangnya. Wajahnya yang pucat ditimpa sinar mentari yang menerobos melalui celah jendela. Entah apa yang ia impikan, yang jelas itu cukup untuk membuatnya betah berlama-lama di dalam sana.

Anhel masih belum kembali, entah apa yang ia lakukan hingga meninggalkan înger sendirian dalam kamar. Siapapun yang melihat înger saat ini mungkin mengira bahwa gadis itu telah mati, mengingat betapa pucatnya ia.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat, sangat pelan dan mungkin gemanya hampir tak terdengar dalam penjuru ruang. Suara langkah kaki yang semakin mendekat pada înger, hingga akhirnya terhenti tepat di hadapan ranjang, duduk di salah satu kursi yang ada.

“Sayang, apakah kau tidur dengan nyenyak?”

Ia menatap înger dengan sayu, menelisik keadaan gadis di hadapannya. Sesekali tangannya mengelus surai panjang înger yang dibiarkan terurai di sisi tubuhnya, memberikan sebuah rasa nyaman dalam tidur sang putri.

Mungkin înger terlalu lelah hingga tak tergugah dengan segala sentuhan kecil yang diberikan. Gadis itu mengalami hari-hari yang buruk dan tentunya melelahkan. Hanya sedikit tidur mungkin lebih dari cukup dari yang bisa didapatkannya, mengingat semua ini terasa membosankan dan menyebalkan.

“Bagaimana keadaanmu selama aku tak ada?”

Lagi, kini ia memainkan jemari înger dengan sayang, menyalurkan sebuah perasaan yang mungkin tak akan pernah tersampaikan. Sebuah rasa sulit yang terus menghinggapi bahunya, sampai tak ada ruang untuknya membuka diri, menunjukkan pada orang lain bahwa ia tak sepenuhnya seperti yang mereka semua anggap.

Ia melihat mata înger yang mulai terbuka, memunculkan bulatan abu-abu cantik yang memancarkan cahayanya sendiri. înger menoleh ke samping kirinya, mendapati pria itu tengah menatapnya dengan gurat khawatir. “Morning.”

“Sheol?” ucap înger dengan suara serak. Ia masih tak menyangka dengan apa yang ia lihat. Apakah ini efek mimpinya semalam sehingga kini ia seperti melihat Sheol berada di sampingnya?

“Kau tidak bermimpi, jika kau menanyakan itu.”

Sheol masih setia menggenggam tangan înger, membuat gadis itu hanya mampu terdiam dan menatap kosong wajah tampan di hadapannya. înger bingung dengan dirinya sendiri.

Ada sebuah ketakutan yang besar dalam dirinya, namun hati kecilnya selalu berkata bahwa Sheol tidak seburuk yang selama ini ia kira. Tetapi logikanya kembali merumuskan bahwa Sheol adalah sebuah bentuk kekejaman yang nyata, karena ia bisa melakukan apa pun yang ia kehendaki, baik perbuatan yang berorientasi pada kebenaran atau bahkan sebuah kelaliman.

“Bagaimana tidurnya?” tanya Sheol akhirnya karena bingung sendiri melihat înger yang hanya terdiam.

“înger?”

Mata kosong itu perlahan terisi dan menatap penuh Sheol, mulai menaruh sedikit minat dengan pembicaraan kecil yang Sheol awali. “Iya? Tidurku baik, terima kasih.”

înger mencoba tersenyum kecil, membuat matanya menyipit untuk beberapa saat. Mungkin Sheol sering tidak menyadari, betapa cantiknya malaikat di hadapannya. Kini giliran înger yang bingung melihat Sheol hanya terdiam sembari memandangnya.

“Sheol?”

Panggilan lembut itu membuat Sheol tersadar dari alam pikirannya, kembali memfokuskan matanya pada înger. Gadis itu terlihat ingin beranjak dari ranjangnya, maka dari itu Sheol membantunya untuk bangkit perlahan. “Thanks,” ucap înger pelan, membuat Sheol hanya mampu tersenyum kecil sebagai balasannya.

“Ke mana Anhel?” Sheol mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tidak ada tanda-tanda keberadaan Anhel, bahkan tidak di istana ini. Anhel tidak ada di sini, dan itu membuat Sheol agak penasaran dibuatnya.

înger yang kini telah duduk sempurna di pinggir ranjang menatap penuh pada Sheol, “Anhel? Entah, malam tadi ia masih ada di sampingku. Mungkin ada urusan penting?”

Sheol hanya mengangguk seiring înger yang mengendikkan bahunya tanda tak tahu. Keheningan menelan mereka dalam dunia masing-masing, masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini.

Mungkin înger terlalu berbaik hati karena masih bisa bersikap baik pada Sheol yang sepertinya telah masuk dalam daftar makhluk terlaknat versi Anhel. Namun seperti yang sering ia perdebatkan dalam hatinya, ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya dapat melihat Sheol dari sisi yang berbeda, entah apa itu.

Menurut înger, Sheol tidak sepenuhnya jahat apalagi rendah seperti yang sering Anhel dan vampir lain katakan. înger mengetahui sesuatu yang tidak orang lain ketahui tentang Sheol, namun bahkan dirinya sendiri masih bingung akan hal itu.

Sheol agak menggeser duduknya mendekati înger, membuat gadis itu menoleh dan justru terperangkap dalam sebuah ruang yang hanya terisi oleh mereka berdua. Sheol memulai pembicaraan yang menjadi tujuannya kemari.

“Lusa adalah malam purnama terakhir dari kehamilanmu,” ujar Sheol sebagai awalan, membuat înger sedikit mengerutkan keningnya karena masih belum bisa menangkap sepenuhnya apa yang Sheol maksud.

Melihat înger yang hanya terdiam, Sheol kembali melanjutkan, “Aku butuh bantuanmu.”

Sungguh, biasanya kedatangan Sheol yang menemui înger hanya sekadar urusan umum antara Master dengan Ergasist-nya, yaitu untuk meminta darah atau hal lain yang berhubungan dengan itu. Maka untuk kali ini înger sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya Sheol inginkan.

Tak biasanya Sheol seperti ini. Ia seorang Master Darah Murni, memangnya apa lagi yang kurang dari dirinya sehingga ia perlu meminta bantuan vampir lain?

Ia mendekatkan wajahnya pada înger, mengacak poni gadis itu dengan sayang, “Besok aku akan ke sini lagi,” ucapnya pelan, diakhiri dengan sebuah ciuman manis di bibir înger.

Hanya sesaat, sampai înger membuka mata dan mendapati kamarnya kosong, tanpa kehadiran Sheol seperti sebelumnya. Pria itu menghilang, lagi-lagi meninggalkan înger sendirian dalam keheningan.

Mengendikkan bahu, înger kembali berkutat dalam pikirannya. Sheol memang mengunjunginya beberapa kali selama masa kehamilan, namun yang kali ini merupakan yang paling aneh. Mengapa mengungkit soal purnama dan sejenisnya? Menyeramkan.

“înger?”

Lamunannya pecah saat înger mendengar suara Anhel, dan tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan pandangan sayu, seperti orang kelelahan. “Anhel? Dari mana—hey!”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Anhel langsung mengambil tubuhnya ke dalam pelukan hangat, menggendongnya dan otomatis membuat înger refleks memeluk leher Anhel. Agak canggung memang, terutama bagi înger, namun ia hanya terdiam sambil menunggu hendak ke mana mereka ini.

Anhel tidak berteleportasi seperti biasanya, kini ia berjalan perlahan dengan înger dalam gendongannya. Ia hanya terdiam, dan itu membuat înger semakin bingung dan hanya bisa diam menunggu semuanya menjadi jelas.

Hingga Anhel berhenti tepat di depan pintu ruang kerjanya, tempat di mana banyak terdapat buku seperti malam sebelumnya. Sungguh, ini semakin membuat înger tak mengerti dengan apa yang tengah Anhel pikirkan.

Terus berjalan ke dalam ruangan, Anhel lalu mendudukkan tubuh înger di atas mejanya, memerangkap tubuh mungil itu dalam kedua lengannya yang ditopangkan pada meja.

Matanya berkilat biru sesaat, menelisik sesuatu yang menurutnya agak aneh dalam diri înger. Namun lagi-lagi nihil, pikiran înger sedang dikunci oleh Sheol sehingga Anhel tidak dapat menemukan apa pun sebagai petunjuk. Apa yang Sheol lakukan saat menemui înger?

What’s wrong?” tanya înger pelan, agak takut merasakan aura Anhel yang lebih dingin dari biasanya.

Masih menatap înger cukup lama, sampai akhirnya Anhel mendekatkan wajahnya tiba-tiba, mencium înger dengan lembut seperti biasanya. Darah langsung mengalir dalam mulut înger, membuatnya agak kaget atas apa yang Anhel lakukan.

înger memegang lengan Anhel dengan kuat, merasakan mual karena terlalu banyak darah yang Anhel berikan.

“Uhuk…uhuk…”

Karena tidak kuat, dengan paksa înger mendorong dada Anhel, membuat pria itu mundur beberapa langkah. înger memuntahkan semua darah yang telah diasupnya ke lantai, cukup banyak hingga membuatnya ngeri sendiri.

Ini menjadi semakin aneh. Tidak biasanya tubuh înger menolak darah pemberian Anhel. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada înger, dan Anhel memiliki firasat bahwa apa pun hal itu, sama sekali bukan sebuah berita baik baginya.

“Sheol ke sini lagi?” tanya Anhel yang masih setengah syok melihat darahnya menempel di pakaian înger dan separuhnya di lantai. înger terdiam, mulutnya seakan tidak sinkron dengan pikirannya. Ada apa ini?

“înger Naloudi, jawab aku atau—înger?!”

Tubuh mungil itu langsung ambruk jika saja Anhel tak sigap memeluknya. Tubuh înger sangat dingin bagai es, wajahnya pucat bak mayat dan bibirnya tidak semerah biasanya. Langsung saja Anhel berteleportasi menuju kamar mereka, membaringkan tubuh istrinya di ranjang dengan mata masih mengawasi sekitar.

Segalanya semakin aneh. Anhel rasa Sheol telah memulai permainannya yang lain, dan lebih berbahaya dibandingkan sebelumnya. Baru saja Anhel hendak memanggil seseorang, langkah kaki mendekat diiringi dengan ketukan heels yang menggema dalam kamar.

What are you doing here?”

Kedua orang itu masih saja tak menggubris pertanyaan Anhel dan langsung mendekati înger yang masih terbaring. Anhel masih terpaku melihat pergerakan mereka yang salah satunya kini mengangkat înger dalam gendongannya, sedangkan sang wanita menatap Anhel dengan pandangan lelah.

“Kami akan mengamankan înger untuk sementara waktu. Sheol menjadi semakin gila dan jika tidak dihentikan, mungkin înger hanya tinggal nama nanti,” ucap pria itu, dengan înger dalam gendongannya.

Anhel memegang lengan sang pria, “Păzitor, kurasa aku bisa mengatasinya sendiri—“

“Hentikan omong kosongmu dan percayalah pada kami. Para Strămoș harus turun tangan jika seperti ini kasusnya. Sebentar lagi Sheol akan datang dan jika kita terlambat sedikit saja, kau akan tahu akibatnya.”

Hanya bisa pasrah—karena sebenarnya ia juga sangat lelah untuk mengatasi semuanya sendiri—Anhel akhirnya menurut dan membiarkan Păzitor membawa înger pergi.

“Anhel?” Wanita itu memanggil Anhel yang masih melamun melihat kepergian Păzitor. Tersadar, ia menoleh dan mendapati wanita itu tengah memandangnya lembut.

“Aku tahu rasanya sangat berat, tapi ini demi kebaikan semuanya. Kakakku terlalu keras kepala dan egois.” Suaranya turun, membuat Anhel mendekatinya dan mengusap bahunya dengan lembut.

“Tak apa. Setidaknya alam sangat beruntung karena seorang Millan Trina tidak terganggu otaknya seperti sang kakak.”

Trina hanya bisa mengangguk kecil, sebelum kembali berbicara, “Untuk saat ini lebih baik kau istirahat. Jika mengkhawatirkan înger, kami menjaganya di mansion Arsyelan. Sudah tugas Strămoș menjaga vampirnya dengan sebaik mungkin.”

Hampir saja wanita itu menjauh, hingga ia teringat sesuatu. “Untuk saat ini, tolong jangan memercayai Diavol. Sheol sedang menggunakannya sebagai alat penghancur, jika kau mengerti maksudku.”

Suaranya hilang seiring tubuhnya yang tak nampak lagi. Keheningan kembali menenggelamkan Anhel dalam dunia yang entah apa namanya, ia sudah tidak peduli lagi. Tubuhnya ia dudukkan sejenak di pinggir ranjang, mencerna segala apa yang telah ia lalui beberapa hari belakangan.

Biasanya satu hari akan terasa seperti lima menit bagi Anhel. Namun sekarang bahkan satu hari terasa seperti seribu tahun lamanya, dan itu dikarenakan seorang wanita yang sangat ia khawatirkan hidupnya.

“Entah, ini salah Sheol yang terlalu kejam, atau salahku yang mau saja terlibat dalam hidup menyusahkan milik Diavol,” gumamnya pelan, bertanya pada dirinya sendiri.

“Bulan purnama nanti akan menjadi yang terburuk selama abad terakhir ini. Bersiaplah kehilangan, Anhel.”

 

Suara nanar Arsyelan masih jelas terngiang dalam pikirannya. Bersiap kehilangan? Apakah ia harus menyerahkan înger secepat ini dan membuat Diavol kecewa? Apa harus secepat ini cinta yang baru saja berbunga dan hendak mematangkan buahnya itu tertelan kepahitan?

“Trina, mengapa kakakmu itu sangat menyusahkan?” Itulah racauan terakhir Anhel sebelum memejamkan matanya, mengistirahatkan sejenak tubuhnya dari rasa aneh yang membebani kehidupannya belakangan ini.

Karena segalanya terasa membingungkan di balik sebuah dinding batu yang keras itu. Sebenarnya apa tujuan Sheol melakukan segala hal licik ini?

0o0

“Ke mana Jongdae membawa Cheonsa pergi?”

 

Entahlah, aku kehilangan Cheonsa untuk dua hari itu, dan langsung mendengar kabar bahwa istana Jinyoung hancur akibat amukan Luhan. Jongdae dan Jihyun menghilang, Jinyoung terluka parah sedangkan Kris dan Minseok berusaha mencari sekiranya di mana Cheonsa.

Hingga mereka menemukan keganjilan dalam mansion rahasia milik Junmyeon. Aroma pekat darah yang sangat khas milik Cheonsa, lengkap dengan tubuhnya yang terkapar mengenaskan. Perlu waktu beberapa minggu untuk memulihkan tubuh Cheonsa yang kehabisan darah.

“Tunggu, ini sedikit mengerikan. Maksudmu kehabisan darah?”

 

Untuk detailnya aku kurang tahu pasti. Aku dilarang menemui Cheonsa oleh Jinyoung, namun Kris yang memang memiliki hati terlewat dingin dengan gamblang memberitahukanku sesuatu. Bahwa tubuh Cheonsa ditemukan sekarat di ranjang dalam kamar Junmyeon.

Ia telah melahirkan, terbukti dari jejak darah di bagian kakinya. Darahnya hampir habis—untungnya ia telah menjadi vampir sehingga tidak mati konyol karena kehabisan darah. Di lehernya terdapat luka gigitan. Bukan hanya sekadar luka tancapan taring biasa, mungkin bisa dibilang luka robek yang serius.

Dan sampai saat ini masih aku ingat jelas, juga sering aku pertanyakan. Ke mana bayi kami saat itu? Mengapa harus di mansion milik Junmyeon dan jika benar Luhan sangat terobsesi dengan cintanya pada Cheonsa, mengapa ia tega meninggalkan tubuh mengenaskan Cheonsa seorang diri?

“Pertanyaan yang bagus. Luhan semakin mengerikan jika kejadian masa lalu telah diungkap seperti ini.”

 

Lebih buruk dari menyeramkan. Ia adalah seorang iblis dan selamanya akan tetap menjadi iblis mengerikan yang ingin rasanya kupenggal kepala itu dengan salah satu koleksi pedangku.

“Oh, sepertinya kita kehilangan fokus. Lalu, bagaimana jadinya dengan Sehun?”

 

Sehun? Ah ya, mungkin karena aku adalah laki-laki dan tak pernah melahirkan seorang anak. Begitu mengetahui bahwa anakku telah meninggal dan Luhan memanfaatkan tubuhnya untuk dimasuki dengan salah satu sihir hitamnya, rasanya aku ingin langsung membunuh bayi itu.

Namun berbeda dengan Cheonsa. Ia memang sempat pingsan saat mengetahui kematian Sehun. Namun begitu saat sedikit lagi aku akan membunuh bayi itu, Cheonsa sadar dan melarangku dengan sorot mata tajam yang menandakan bahwa ia serius.

Bahwa bayi itu tetaplah anaknya dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu.

0o0

înger terbangun oleh sinar biru rembulan yang menelusup melalui jendela kamar. Entah, ia seperti tidak asing dengan suasana ini. Menjelajahi seluruh ruangan dengan matanya, ia mendapati figura besar dengan pinggiran beraksenkan emas, sebuah foto keluarga yang terpajang cantik di dinding kamar.

Itu adalah foto ayahnya bersama sang selir, dengan Diavol yang masih bayi dalam gendongan sang ibu. Mungkinkah ini mansion pribadi Diavol yang pernah ia datangi dulu saat masih kecil?

“înger?”

Gadis itu menoleh ke arah pintu, mendapati siluet seorang pria yang tengah berdiri menatapnya. Kain tirai ranjang ini membuatnya tak mampu melihat siapa gerangan dengan jelas. Namun yang pasti, pria itu tengah berjalan ke arahnya.

“Aku tidak percaya dengan apa yang ada dalam pikiran kalian—akh!”

Tidak asing, înger hampir tahu siapa itu sampai sebuah suara teriakan dari luar membuatnya terpaksa memejamkan matanya sejenak. Sebuah pilihan yang salah. Karena ketika mata itu terbuka, înger mungkin lebih memilih untuk tidak dapat melihat selamanya ketimbang harus mendapati Sheol yang seakan siap memangsanya.

Ia tak ingin menatap mata kemerahan itu, hingga matanya tak sengaja mendapati Diavol yang berdiri di belakang Sheol, menatapnya dengan pandangan datar. “Diavol, help me, please…” rintih înger yang kesakitan akibat cengkraman kuat Sheol di pergelangan tangannya.

Percuma, karena Diavol langsung menghilang di balik pintu, disusul dengan satu teriakan pilu seperti sebelumnya. Berani bertaruh, înger rasa bahwa itu adalah teriakan Trina. “Sheol, please…”

Mata bulat itu memohon dengan segala kerendahan hatinya, namun akan menjadi percuma jika berhadapan dengan makhluk yang tercipta tanpa hati yang bisa melihat. Sheol memenjarakan tubuh mungil itu dengan kedua lengannya, tak memedulikan înger yang menangis karena takut.

Why are you crying? înger, be relax…”

Sheol mengusap pipi pucat înger dengan lembut, kontras dengan cengkraman kuatnya pada lengan înger. Ini semakin menyeramkan, dan gadis itu rasanya tak ingin memikirkan apa pun lagi. Cukup mati dan tidur dengan tenang di surga, mungkin hanya itu yang ia butuhkan saat ini.

“Kapan kau sadar? Kapan kau mengingat semuanya, înger? Tidakkah kautahu betapa melelahkannya menunggu selama ini hanya untuk kembali melihatmu berada dalam pelukan orang lain? Tak bisakah kau mengingat semuanya?”

Raut wajahnya menyiratkan kepedihan yang sangat, dan belum pernah înger melihat semua itu terlukis jelas dalam wajah angkuh milik Sheol. Apa yang ia lupakan? Apa yang seharusnya ia ingat? Ada apa dengan semua ini?

“Aku bukanlah monster seperti yang kau pikirkan. Tidakkah kau mengingatnya? înger, kumohon cobalah untuk mengingat sesuatu. Tentang aku, tentang kita. Kumohon…”

înger menghentikan tangisnya, digantikan dengan air mata Sheol yang turun tanpa bisa dihentikan lagi. înger tersentak, seperti ada sesuatu yang bergerak dalam hati terdalamnya. Sebuah memori yang mengalir namun terhalang oleh sebuah dinding bernama kenyataan. înger bingung, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang aneh.

“Kau yang membuatku menjadi monster, înger. Kuharap kau bisa mengingat semuanya sebelum aku tak bisa bertahan untuk mempertahakanmu.”

Sebuah cerita pahit yang ditutup dengan cantik oleh kilauan mata merah dan jeritan înger yang menahan sakit. Sheol benar-benar berubah menjadi monster mengerikan yang haus darah, menghisap setiap tetes darah milik gadis yang sangat dicintainya itu tanpa memikirkan bagaimana rasa sakit yang înger rasakan.

Juga waktu yang mungkin telah membuka jalannya bagi Sheol. Darah segar mengalir dari kaki înger, membuat Sheol tahu bahwa sang bayi mungkin telah siap dilahirkan namun sang bunda terlanjur pingsan karena kehabisan darah.

Maka tanpa belas kasih sedikitpun, Sheol merobek tubuh înger dengan tangannya sendiri, mengeluarkan seorang bayi mungil yang masih berlumuran darah, tanpa tangisan yang menyelimuti malam.

“Kautahu? Kau bisa menyalahkan ayahmu kelak atas nasibmu sekarang. Karena aku benar-benar akan menunjukkan padanya bahwa iblis yang sesungguhnya dalam dongeng ini ialah dirinya sendiri,” bisik Sheol pelan pada bayi mungil itu, lalu hendak melangkah keluar pintu jika saja tak ada orang yang menghalanginya.

Păzitor berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, memandang Sheol yang masih menggendong bayi mungil itu yang tertidur dengan tenang. “Kau yakin bisa mengurusnya?”

Sheol hendak menyentuh kepala Păzitor, namun pria itu segera menepis jemari Sheol. “Kau lupa jika aku memiliki seorang anak?”

Memiliki? Maksudmu, pernah memiliki?” tanya Păzitor sarkastis, membuat Sheol menurunkan pandangannya.

“Dengar, kau boleh membenciku sebesar apa pun, namun jangan lupakan darah siapa yang mengalir di tubuhmu.”

Mendengar suara lemah Sheol membuat Păzitor tertawa miris. “Hanya darah Arsyelan yang mengalir di tubuhku—“

“Dan darah înger, juga darahku. Kelak jika semua hal menyebalkan ini telah usai, aku akan membawamu kembali. Aku bersumpah untuk itu.” Setelah mengucapkan semua hal itu, Sheol langsung menghilang dari hadapan Păzitor.

Pria itu menerawang langit-langit, lalu setelahnya menatap tubuh înger yang terbaring mengenaskan. Setetes air mata turun di pipinya, bersamaan dengan sebuah bisikan lirih pada angin malam yang masuk melalui jendela. “Cepatlah kembali, înger.”

Ia pun menghilang di balik pintu, benar-benar meninggalkan gadis itu seorang diri dalam terpaan cahaya bulan.

0o0

“Dan akhirnya Sehun dijadikan alat balas dendam oleh Luhan, begitu?”

 

Mungkin. Kurasa inilah karma yang memang seharusnya aku dapatkan atas apa yang telah kuperbuat. Kuhancurkan sebuah keluarga, maka karma juga menghancurkan keluargaku dengan cara yang tak akan pernah bisa kumengerti bagaimana alurnya bekerja.

“Menghancurkan sebuah keluarga? Maksudmu?”

 

Oh, kurasa sudah cukup sampai di sini. Cheonsa telah selesai diobati oleh Yixing Hyung. Sepertinya ia mengalami trauma yang sangat sulit untuk dihadapi.

“Tapi, hey! Ini belum selesai!”

 

Semakin sedikit kau tahu, maka itu akan semakin baik. Mungkin kita bisa bertemu lagi nanti. Atau tidak sama sekali, siapa yang tahu?

FIN

SS yang ini selesai, kkk. Ada yang bisa mencium bau-bau ga beres di fic ini? Chapter 13 diprotect ya. Annyeong^^

4 pemikiran pada “Vow of the Pureblood : Two Souls (2/2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s