Beautiful Pain (Chapter 1)

D1
“Beautiful Pain”

Author : ndmyf
Cast : Oh Sehun, Kim Rian (OC), Park Chanyeol
Genre : Romance, Friendship, Family
Length : Chapter
Rating : PG-16
Summary : Sehun, Chanyeol dan Rian bersahabat sejak kecil. Kedekatan mereka bahkan seperti saudara, Sehun lebih dekat dengan mereka berdua ketimbang dengan keluarganya sendiri. Kehidupannya berubah sejak bertemu dengan mereka, juga sampai akhirnya cinta mulai menyapa mereka.

Chapter 1
****
Amplop coklat berserakan di atas meja, beserta CV dengan photocopy persyaratan lamaran pekerjaan lainnya, bukankah setelah lulus kuliah tujuan mu selanjutnya adalah mencari pekerjaan? Tentu saja hal itu sangat dimanfaatkan oleh semua orang terutama dengan tingkat pendidikan yang menjanjikan, kemampuan yang memumpuni dibidangnya tanpa terkecuali. Apalagi banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, mengharuskan kita bekerja lebih giat lagi.
Impian semua orang tua adalah saat melihat anak-anaknya tumbuh mandiri dan berhasil, hal itu juga yang tengah dibuktikan oleh dua orang gadis yang baru saja menyelesaikan pendidikannya diperguruan tinggi. Berusaha keras mencari peluang kesana-kemari menunggu hasil. Senin pagi, setelah menemukan beberapa lowongan dalam surat kabar dengan kriteria memenuhi persyaratan, mereka bersiap bertempur kembali.
“Naya-ah kaja,-” amplop yang tadi berserakan kini menumpuk di dalam map plastik berwarna hijau kemudian memasukkannya dalam ransel miliknya. Dengan setelan rapi, kemeja dengan blazer siap mengantarnya menumpuk asa pagi ini.
Distrik Gangnam, Seoul South Korea.
Jarum jam menunjukkan pukul 08:00 KST, semua orang sudah memenuhi setiap sudut kota Seoul, orang-orang berjas, siswa-siswa berseragam siap menyongsong pagi dengan aktivitas yang telah menunggu.
“Kau yakin?”
“Eoh!” Gadis itu merespon dengan satu anggukan percaya diri, namun sejurus kemudian kepercayaan dirinya menciut seketika, saat orang-orang mulai berdatangan dengan kepercayaan tinggi. Gedung megah tepat ditengah-tengah kota Seoul, Kingdom Shopping Hall, tepat berada disampingnya Kingdom Hotel, yang beberapa hari ini menjadi pusat pembicaraan dan sasaran para pencari pekerjaan, beberapa lowongan pekerjaan bak jajanan yang laku dilahap pembeli.
Sepasang matanya menyapu kesetiap sudut ruangan yang mulai sesak dipenuhi calon karyawan seperjuangan dengannya. Ia menelan ludah pahit, bersamaan kepercayaan dirinya yang ikut ia telan. Setelah dipersilakan memasuki ruangan yang diperuntukan untuk karyawan tepat dibelakang pusat perbelanjaan. “Naya-ah, kenapa kelihatannya ini lebih sulit dari sidang skripsi kita,” kegelisahannya memuncak seketika hawa dingin menyeruak saat langkah kakinya menginjak ruangan ber-ac. Ruangan luas dengan beberapa meja berderet dari depan ke belakang. Beberapa langkah didepan terdapat layar lengkap dengan ifocus mungil berwarna putih. Sesi tes yang pertama yaitu tes tertulis, diikuti tes interview setelahnya.
“Kau tau rumornya?” Keduanya menoleh kearah kerumunan orang-orang yang mulai menutupi dinding kaca, bersamaan dengan teriakan-teriakan kekaguman pada sosok yang bahkan tidak terjangkau oleh pandangan mereka berdua, tepat berada diseberang sana.
“Mwo?” Gadis itu menjawab malas, dengan menopang dagu, melirik sebentar kerumunan orang-orang yang mulai berkurang seiring menghilangnya objek pandangan dari jangkauan penglihatan mereka. Lalu beralih pandang pada lawan bicara yang duduk dimeja sebelahnya. “Pemilik Kingdom group sebelumnya, telah menyerahkan semua hak kepemilikannya pada cucunya, yang bahkan belum 48 jam tinggal di Korea,-” dua alisnya nyaris bertaut dengan raut wajah bingung, mungkin lebih tepatnya tak percaya dengan satu kalimat panjang yang baru saja menyapa pendengarannya.
“Apa kau tidak pernah membaca berita?”
“Ah Molla..” Satu elakkan dengan satu kata yang jelas-jelas memandakan ketidaktahuannya tentang perusahaan yang ia lamar, bukankah satu pertanyaan yang terkadang muncul dalam tes wawancara adalah, ‘apa yang kau ketahui tentang perusahaan kami?’.
Suasana terasa horror ketika seseorang wanita mulai menapaki langkahnya, gadis itu menelan ludah bersamaan dengan itu. Wanita berkacamata dengan setelan elegan mulai angkat bicara dihadapan semua calon karyawan, tentang bagaimana jalannya tes, juga sekilas penjelasan tentang Kingdom Group.
****
Tubuhnya bersandar dikursi setelah kembali dari rapat dewan direksi tentang pengalihan saham padanya, setelah 48 jam yang lalu kakeknya yang tak lain pemilik Kingdom Group jatuh sakit. Dua tangannya nampak mengusap wajahnya kasar, konstribusi dirinya mulai dipertaruhkan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan yang mulai saat ini resmi menjadi tanggung jawabnya.
Ia melirik arlogi yang melingkar dipergelangan tangannya, Sudah sesiang ini? Jam menunjukan pukul satu lewat, bahkan jam makan siangnya sudah terlewat satu jam. “Anda akan makan siang sekarang, Tuan?” Satu gelenggan kepala menjadi jawaban singkat darinya. Matanya memejam, pikirannya mulai terperangkap dalam berbagai kemungkinan yang akan ia dapatkan setelah ini. Penolakkan mentah-mentah dari beberapa kerabat kakeknya yang berdalih, ia masih terlalu muda untuk mengelola perusahaan besar yang telah berpuluh-puluh tahun berdiri, yang kemudian dialihkan pada anak kemarin sore. Jika saja kakek tidak…
’72 jam sebelumnya.
Senja mulai menjinggakan Langit dikota London. Lautan yang tenang dan lepas memantulkan sisa-sisa cahaya matahari, memberikan nuansa perak di tangit jingga itu. Suara deringan ponsel membuat Jemari tangannya kaku sebelum tali sepatunya membentuk pita sempurna. Pandangannya menegang menagamati satu nama yang tertera dilayar ponselnya, dengan satu gerakan ia mendekatkan ponsel ketelinganya.
“Sudah berapa lama kau baru menghubungiku lagi, Pak tua?” Ucapnya acuh, sembari menyandarkan punggungnya disofa, menunggu jawaban dari seseorang di ujung sana. Percakapan berlangsung biasa, sapaan yang pernah tertahan diantara Kakek dan Cucunya, namun alis tebalnya nyaris bertaut saat satu kalimat terngiang jelas ditelinganya.
“Aku ingin kau pulang ke Seoul.”
Dengan suara mencibir dan tanpa berpikir panjang satu kalimat yang meluncur dari bibirnya. “Tsk, Pak tua, apa kau sedang bercanda?”
“Aku ingin kau pulang ke Seoul malam ini juga,” ia mengusap wajahnya dengan kasar detik itu juga, sembari menelan ludah kesal, mulutnya terbuka dan mulai bicara.
“Apa yang kau inginkan?”
*
Ia mengigit bibir.
Matanya terbuka, dan langsung termangun dengan map yang tersimpan rapi di atas mejanya. “Ini apa, Pak Lee?” Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari map yang beberapa detik yang lalu ia buka. “CV dari beberapa calon karyawan yang lolos tes tahap pertama..” Ia mengangguk dengan sesekali tersenyum miring dengan lampiran pengalaman kerja beberapa calon karyawan yang berderet hingga beberapa digit nomor urut.
“Bukankah ini salah satu ajang memamerkan sederet pengalaman kerja semata? Bahkan jangka waktu mereka tak lebih dan tak kurang dari satu tahun,” ia meletakkan sembarang beberapa tumpukkan kertas di atas meja, hingga beberapa dari mereka tercecer dari urutan yang telah ditentukan.
“Pak Lee, jadwal kita setelah ini apa?” Belum sempat laki-laki paruh baya itu menjawab, ujung matanya menangkap sesuatu dalam tumpukan kertas di atas meja. “Ah, tunggu sebentar Pak Lee,” Satu lembar kertas tanpa berlembar-lembar lampiran pengalaman kerja, menarik perhatiannya. Photo ukuran 4×6 menempel rapi dikolom photo yang membuatnya seketika tersenyum. Sambil menopang dagu dua mata hitamnya mengamati setiap kalimat yang tertulis disana, sembari tersenyum ingatannya kembali mengenali sosok gadis dalam photo itu. “Kau sama sekali tidak berubah, Kim Rian..” Katanya pelan, diakhiri dengan senyuman manis setelah menyebutkan nama itu dari bibirnya.
“Apa yang kau inginkan?” Laki-laki itu menunggu, jadwalnya hari ini untuk bersenang-senang bersama teman-temannya dilapangan basket harus ditunda, dengan kabar yang baru saja mengejutkannya, sulit untuk menolak permintaan pria paruh baya di ujung sana.
“Aku ingin kau bekerja untukku,-”
Ia diam sejenak, masih menunggu kalimat lain diujung sana, dengan hembusan napas sebagai jeda dari kalimatnya, pria paruh baya itu melanjutkan kalimatnya, “Aku ingin kau mengelola Kingdomku,-”
“Mwo? Pak tua, apa tidak ada orang lain yang kau tunjuk selain aku?”
“Ya!,-” nada suaranya meninggi, laki-laki itu sedikit tersentak seraya menjauhkan ponsel dari telinganya, “Apa otakmu sudah tidak beres?, apa karena bertahun-tahun tinggal dinegeri orang, sopan santunmu kepada orang tua menghilang?”
“Jwesonghamnida, tapi Kakek, aku tidak mau, aku lebih suka tinggal disini” dengan mantap ia menganggukkan kepala, semata-mata setuju menyetujui pendapatnya sendiri. Hening seketika, tidak ada respon hanya terdengar suara gesekkan lembaran kertas diujung sana, beberapa detik kemudian suara itu menghilang digantikan dengan suara berdeham yang terlampau halus jika dikatakan batuk, mungkin bisa diartikan sebagai pemecah kehingan.
“Kau yakin? Padahal ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu, sebagai gantinya,”
“Kakek, apa kau sedang menyogokku? Itu tidak akan berhasil” Laki-laki itu mulai malas, meletakkan ponselnya dimeja dan menekan tombol loadspeaker sembari lengannya yang mulai sibuk membentuk simpul pita disepatunya yang sempat tertunda. “Ige mwoya?”
“Mm, kau ingat teman kecilmu saat di Seoul?” Satu kalimat sempurna meluncur dari ujung sana yang mampu mengusik ingatan masa lalu dalam memori otaknya. Satu nama yang terlintas dalam ingatannya yang kembali, mungkin lebih tepatnya satu nama yang tidak pernah ia lupakan.
“Kim Rian?”
*
Sementara ujung telunjuknya sibuk mengetuk-ngetuk meja, pandangannya tak lepas dari selembar kertas yang berada ditangannya, lebih tepatnya memandangi gadis dalam photo itu. “Pak Lee, kapan mereka akan dipanggil kembali?” Sepasang matanya melirik sebentar kearah pria paruh baya itu, lalu kembali ke arah pandangan yang sama. “Besok pagi, setelah bagian HRD selesai menghubungi semua calon karyawan.”
“Ok, sepertinya aku tertarik,” ucapnya lantang kegirangan bahkan terlihat terlalu bersemangat, Pak Lee hanya menghela napas terkaget dengan lonjakkan semangat laki-laki itu yang datang tiba-tiba. Ia masih tersenyum memamerkan deretan gigi putih di wajah rupawannya, dengan sekali gerakan ia membereskan tumpukkan CV lalu menyimpannya rapi dalam map tadi. Jika bukan karena Rian, aku tidak akan mau melakukan hal ini, walau butuh waktu yang lama untuk menolak permintaan Pak tua itu. “Kaja, Pak Lee sepertinya aku lapar..” Kaki jenjangnya mulai melangkah mendekat ke arah pria paruh baya yang berdiri beberapa langkah dari pintu. “Iya Tuan..” Timpalnya sembari membungkuk, sedetik kemudian kaki jenjang itu terhenti sesaat, “Pak Lee, jangan panggil aku Tuan, aku merasa sedikit, tidak nyaman,” senyuman enggan menjadi jeda kalimatnya, “Panggil saja aku Sehun, Oh Sehun.” Pria paruh baya itu hanya tersenyum sebagai responnya.
**
Malam mulai menjemput, gerimis tipis yang rapat membasahi jalan dengan sabar. Jalanan yang kian lama kian menggelap sampai akhirnya hitam pekat sama dengan langit di atas sana. Sepasang mata itu tak lepas memandangi jalanan yang mulai tersapu air hujan, lalu kemudian memasang senyum yang juga merubah air mukanya. Ponsel yang sedari tadi bersandar ditelinganya menjadi satu peraduan malam ini, sembari menyantap ramyun yang baru ia makan beberapa suap.
“Molla, sampai sekarang mereka belum menghubungiku lagi,” wajahnya tertekuk, memerhatikan sumpit yang tengah mengaduk ramyunnya, asap putih yang awalnya mengepul kini berangsur menghilang. Hanya respon ‘Mm, dan Eoh?,’ yang keluar kemudian menanggapi seseorang diujung sana, sampai akhirnya pandangannya beralih pada mobil BMW putih yang berhenti tepat didepan minimarket. Seseorang dengan hoodie menutupi kelapa keluar dari mobil saat seorang berjas membukakan pintu untuknya, dengan payung yang mengembang melindunginya dari hujan. Wajahnya tertunduk tak tidak terlalu jelas terlihat, ia mengenakan celana jins selutut dengan sepatu sport hitam tanpa kaos kaki dipadu dengan blouse polos putih yang ditutupi jaket katun berwarna abu.
Gadis itu tersenyum seadanya dengan helaan napas yang mengundang respon dari seseorang diujung sana, “Ya Kim Rian, apa kau menyerah, eoh?” Ia terdiam sebentar, menatap kembali hujan diluar sana. “Ah Molla..” Wajahnya kembali tertekuk sembari mengaduk lagi ramyunnya.
“Pak Lee, kau tunggu disini saja!” Ucapnya sebelum pintu kaca itu terbuka, kakinya mulai melangkah menghampiri sesuatu yang ia inginkan. Lemari pendingin menjadi tujuannya, mengambil beberapa kaleng cola lalu memasukkannya kedalam keranjang belanjaan, tak lupa dengan beberapa bungkus keripik kentang jumbo untuk menemaninya menonton pertandingan basket tengah malam nanti.
“Eheey..” Satu decakan terkaget saat satu teriakan menarik perhatian indera pendengarannya, matanya menyipit memerhatikan punggung yang mematung menghadap kaca yang mengarah keluar sana. Ia berdiri lama sekali memerhatikan bahkan serasa tanpa berkedip.
“Chan-ah, mereka baru saja menghubungiku, mereka ingin aku datang kembali besok.” Tubuh itu melompat-lompat kegirangan dengan kabar baik yang baru saja ia terima. Sejurus kemudian tubuh itu menjauh dan menghambur keluar sana, dengan ponsel yang masih menempel ditelinga ia berlari menembus hujan, dan menghilang kemudian.
Tanpa sadar laki-laki itu tersenyum, bahkan entah kapan bibir tipisnya mulai tersenyum. “Tuan? Tuan Oh? Oh Sehun?”
“Eoh? Pak Lee”
Matanya mengerjap beberapa kali, sesaat ia termangun pada gadis yang kegirangan tadi, namun sekarang pandangannya beralih pada pria paruh baya yang tengah berdiri dihadapannya. “Apa anda sudah selesai?”
“Ah, Ne.”
Ia mengangguk, lalu berjalan ke kemeja kasir.
****
*Catatan Kecil 1
Ku edarkan Pandangan mataku sebelum pada akhirnya mulai terpaku pada barisan hitam memanjang bak garis hitam namun bergerak, segerombolan semut hitam berbaris memanjang tepat didinding. Bibirku tekatup rapat tak ada sepatah katapun yang mau keluar dari mulutku. Hanya memandangi barisan hitam itu, entah apa yang kurasakan, namun perasaan cemburu itu memburu ketika memerhatikan mereka. “Jika dilahirkan kembali, aku ingin menjadi semut,” ku ucapkan kalimat yang mengarah pada segerombolan semut itu. “Kalian tidak akan kesepian, kalian memiliki banyak teman, juga keluarga, sedangkan aku..” Ku edarkan lagi pandangan kesetiap sudut ruangan kosong tanpa siapapun terkecuali diriku sendiri. Ruangan yang lebih mirip kamar tidur itu hanya dipenuhi barang-barang tak bernyawa yang mendominasi.
Tungkaiku mengajakku berdiri, berjalan menghampiri jendela, menyibakkan tirai putih yang menutupi sebagian kaca berframe kayu itu. Memandangi jalanan aspal yang dinginnya sama dengan hatiku, yang nyaris terkubur salju dan hanya hangatnya musim panas yang akan mencairkannya, sedangkan hatiku selalu merasakan musim dingin dan tak pernah terjamah sinar matahari. Butiran putih itu belum lagi terlihat jatuh dari langit, berhenti beberapa saat yang lalu, orang-orang dewasa mulai menampakkan dirinya membersihkan tumpukkan salju yang menutupi jalan. Terkecuali dua anak kecil yang mulai berlarian saling melempar bola-bola salju kearah berlawanan, anak perempuan dan anak laki-laki.
Suara tawa itu terdengar jelas olehku, walau dipisahkan beberapa radius meter dari tempatku, air muka mereka terlihat bahagia, terlihat lepas, bebas meluapkan kegembiraannya. Aku tidak cemburu ataupun iri, aku hanya ingin menjadi bagian dari mereka, berada ditengah-tengah tawa mereka, aku juga ingin merasakan hal itu, tapi kenapa terasa sulit walau hanya sedetik untuk merasakannya.
“Tuan Muda,?”
Suara berat nan serak terdengar setelah engsel pintu diputar, tanpa menoleh aku sudah tahu siapa yang ada disana, “Pak Lee, aku ingin bermain,-” ucapku polos, apakah terlalu sulit mengabulkan permintaan sederhana yang kuajukan. Kubalikkan wajah menoleh kearahnya, berharap kata ‘Iya’ meluncur dari bibirnya.
Entah perasaan apa ini, tapi apakah ini namanya kegembiraan? Bibirku tak hentinya tersenyum, bersama celotehan dari mulutku saat Kim Ajumma memakaikanku jaket dengan hoodie yang menutupi kepalaku, dengan bulu-bulu disekelilingnya. Aku berlari menghambur saat pintu gerbang itu dibukakan, kedua anak itu masih disana, masih dengan tawa yang menemani mereka. Tubuhku berhenti otomatis tepat beberapa sentimeter dari mereka.
“Bolehkan aku bergabung dengan kalian?”
Bingung. Mereka hanya diam, mengamatiku. Lalu kemudian menganguk.
Dan akupun tersenyum.
****

Iklan

7 pemikiran pada “Beautiful Pain (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s