Beautiful Pain (Chapter 2)

D1

“Beautiful Pain”

Author : ndmyf
Cast : Oh Sehun, Kim Rian (OC), Park Chanyeol
Genre : Romance, Friendship, Family
Length : Chapter
Rating : PG-16
Summary : Sehun, Chanyeol dan Rian bersahabat sejak kecil. Kedekatan mereka bahkan seperti saudara, Sehun lebih dekat dengan mereka berdua ketimbang dengan keluarganya sendiri. Kehidupannya berubah sejak bertemu dengan mereka, juga sampai akhirnya cinta mulai menyapa mereka.

***

*Catatan kecil 2

 

Mereka masih menatapku, tak ada senyuman hanya tatapan bingung yang dibarengi dengan satu anggukan singkat. “Ya, Oh Sehun, ige mwoya? Eoh?” Ku kerjapkan mata beberapa kali, apa mereka mengenalku? Tapi sejak kapan? Padahal aku tidak mengenal mereka

“Wae? Kenapa kau menatap kami seperti itu?”

Anak laki-laki itu berjalan beberapa langkah kearahku, tubuhnya hanya beda beberapa sentimeter denganku,

“Ya, apa kau tidak mengenal kami?” Satu tepukan dibahu kananku, sebenarnya aku tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini, apa sekarang kita sedang memperkenalkan diri masing-masing? Kutatap satu persatu wajah yang tengah menatapku bingung dan menunggu jawabanku.

 “Eoh, kalian siapa? Kenapa bisa tahu namaku? Padahal aku tidak mengenal kalian” ucapku polos, anak perempuan itu tampak membuang napas, lalu berkata “Baiklah, aku Kim Rian,-” tangan kanannya terulur, aku mengangguk sembari menyambut uluran tangannya, “Dia Park Chanyeol, kita berdua teman sekelasmu disekolah,”

Hampir sebulan kepindahanku dari Gyonggi-do ke Seoul, tapi belum ada satupun anak-anak seumuranku yang kukenal termasuk teman-teman sekelasku, yang tak lain ternyata mereka berdua. Kim Rian, Park Chanyeol aku senang mendengar nama mereka berdua, untuk pertama kalinya ada orang lain yang memanggil namaku selain orang-orang yang selalu memanggilku Tuan Muda, aku sangat membenci sebutan itu. Akupun tidak mengerti apa arti dari sebutan itu, apa karena aku masih muda? Bukan-bukan aku kan masih anak-anak, seharusnya Tuan anak? Aiish, sudahlah tidak usah dipikirkan “Aah, Jinjja? Mianne,-” ucapku menyesal.

“Gwenchana, kajja kita bermain saja, ayo Chan-ah, Hun-ah,”

Hun? Aku suka sebutan itu.

 

Semuanya mulai berubah, aku tak lagi kesepian tentunya saat diluar rumah. Meraka teman pertamaku, mereka Kim Rian dan Park Chanyeol. Dua anak kecil yang sebelumnya ku yakini bahwa pertama kalinya aku bertemu dengan mereka saat itu, tapi ternyata aku salah, benar-benar salah. Hun satu sebutan paling ku sukai, walau hanya tiga huruf biasa namun benar-benar terasa istimewa buatku.

Semuanya masih berjalan sesuai dengan impianku, kami bertiga menjadi sangat akrab, Pak Lee merahasiakannya dari Ayah, dan Kakek, tidak tahu persis memang, tapi aku kira mereka berdua tidak akan mengijinkanku berteman dengan siapapun. Sama seperti saat di Gyonggido aku tak punya teman satupun, hanya teman-teman elektronik yang kupunya, mainan yang kuinginkan selalu mereka penuhi, terkecuali teman yang sesungguhnya.

 Sampai akhirnya Rian tak sengaja bertemu dengan Kakek, aku lupa Harabeoji pulang siang itu dari perjalan bisnisnya, namun Ayah tak tampak saat itu.

Rian mundur beberapa langkah saat Pak Lee membukakan gerbang untukku,

“Mana Chan?”

Kubuka hoodie yang menutupi sebagian tengkukku, aku sudah mulai bosan memakan mantel bulu, padahal udara tak sedingin kemarin, musim dingin akan segera beranjak berganti musim panas.

“Demam, kita akan menjenguknya sekarang, kau juga akan demam jika tidak mengenakannya,-” dengan hoodie bulu yang menutupi sebagian tengkukku, mataku mengerjap menatap Rian yang baru saja menatapakkan kakinya setelah berjinjit memakaikannya padaku.

“Kajja, Hun-ah,-”

Langkah kami terhenti saat satu bunyi klakson terdengar saat mobil BMW hitam berhenti beberapa senti meter di depan kami.

“Harabeoji,-”

Ucapku pelan, bisa kurasakan Rian mengalihkan pandangan padaku, ia sama termangunnya seperti yang kulakukan saat ini. Apa sekarang sudah berakhir? Memang lebih baik tidak menyembunyikan sesuatu dibelakang Kakek, tapi jika diberitahu Kakek akan melarangnya. Pintu itu terbuka, Kakek muncul kemudian, tatapannya bukan menatapku melainkan melihat Rian, sembari melangkahkan kakinya kearah kami berdua.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau harus belajar? Cepat masuk, Pak Lee!” suaranya bertambah keras saat menyebut nama Pak Lee, sekeras dengan satu kata sanggahan yang meluncur dari mulutku, “Aku tidak mau,-” untuk pertama kalinya aku menolak, terasa mendebarkan namun terasa lega didadaku, mungkin ini sesuatu yang menganjal dadaku sejak dulu, satu kata yang sulit untuk kuucapkan. Kakek balik menatapku, kini aku benar-benar takut.

“Hun-ah” Ucapnya pelan, teramat pelan jika dikatakan berbisik, atau mungkin hanya perasaanku saja? Sambil memejam kugenggam erat tangannya, mengumpulkan keberanianku lagi yang mulai menciut saat menatap wajah Kakek yang tidak suka mendapat penolakkan dariku.

“Oh Sehun!” Nada suaranya meninggi, Kakek sepertinya sangat terusik dengan penolakkanku,

“Ajjushi, kau membuat kami takut,-” pandangannya beralih pada Rian, begitu juga denganku, Rian memanyunkan bibirnya, dengan tubuhnya sedikit bergerak-gerak menunggu jawaban dari Kakek yang tak kunjung datang. “Ajjushi, kenapa kau melarang Hun untuk bermain? Kau tahu, Hun selalu kesepian,” terasa ada penekanan saat ia mengatakan ‘aku selalu sendirian’, genggaman erat tangannya seakan mengatakan dengan jelas bahwa kau tidak sendirian lagi, aku ada disini. Meskipun aku tidak tahu persis apa artinya itu, tapi perasaanku mengatakan hal itu.

“Agashi, apa kau yakin Sehunku kesepian?” Rian mengangguk detik itu juga, Air mukanya berubah, menghangat, malah ekpresi yang belum pernah ku lihat sebelumnya, tungkainya berhenti tepat dihadapan Rian, mensejajarkan tubuhnya gadis kecil itu. Dan Kakek tersenyum, menatap kami bergantian, kutundukkan wajah saat pandangannya beralih padaku. “Kalau begitu, agashi, kau mau berjanji, kau akan selalu bersama Sehun agar ia tidak kesepian lagi?,-“

“Mm, aku janji,-” ia tersenyum sambil melirikku sebentar, lalu kembali menatap Kakek yang telah menunggu saling mengaitkan jari kelingking untuk mengunci janji mereka.

 

Tanpa harus mengatakannya langsung, Rian tahu apa yang kurasakan sejak awal pertemuan kami pada awal musim dingin lalu, ia tahu aku selalu sendirian. Hanya menatap keluar jendela berharap seseorang datang menemaniku, namun tak ada satupun yang datang. Dan kali ini setidaknya ada seseorang yang menemaniku. Entah apa yang kurasakan waktu itu, memangnya apa yang diketahui anak berusia delapan tahun tentang perasaan ini, tapi dari sejak saat itu, ada sesuatu yang kurasakan, aku menyukaimu benar-benar menyukaimu, Kim Rian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*Catatan Kecil 3

 

Kutatap Rian, dia tersenyum. Itu adalah senyuman termanis yang pernah aku lihat. Gadis itu menyelamatkanku, menyematkan kebahagian besar padaku, walau mungkin orang lain menganggapnya hal biasa, namun buatku itu hal yang paling membahagiakan. Aku tidak sendirian lagi seakan bersorak-sorai pada diriku sendiri, aku tersenyum setiap saat. Hal yang paling kutakutkan berlalu, Kakek mengizinkanku berteman dengan siapapun, termasuk Rian dan Chan.

Namun hari berganti begitu cepat, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Sesuatu terjadi malam itu, perasaanku benar-benar tidak enak, perasaan yang bukan mengarah untukku, tapi untuk orang lain. Kakek bilang, “semuanya akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apa-apa, kau tidak perlu khawair” 12 April, tepat hari ulang tahunku yang ke-9, semua orang datang, keluargaku juga teman-temanku. Seperti acara ulang tahun anak-anak kebanyakan, aku memakai jas berwarna hitam dengan mahkota kecil dikepalaku, apa aku menjadi raja? Setidaknya itu yang ku lihat di TV. Semuanya bersuka cita, Rian dan Chan memberiku hadiah, padahal itu tidak perlu melihat mereka ingat dan datang untukku aku sudah bahagia, Kakek, dan Ayah semuanya ada disini.

Hingga beberapa menit kemudian, Ayah pergi dengan ponsel yang menempel ditelinganya. Padahal aku berharap Ayah rehat sejenak dari pekerjaannya saat dihari ulang tahunku. Hingga acara selesai Ayah tak kunjung kembali, ia tidak pergi keluar rumah, ia hanya pergi keruang kerjanya. Aku ingin menemuinya, dan memberikan sepotong kue ulang tahunku untuknya. Jas yang telah berganti dengan piama, kutelusuri lorong yang menuju ruang kerjanya, dengan nampan yang kugenggam erat.

Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, namun tak ada sedikitpun suara yang terdengar dari dalam sana, apa ia tertidur?. Tapi lampunya menyala, kucoba lagi mengetuk pintu, namun Ayah masih tak menyahut. Kuhela napas sekali, biasanya Ayah akan marah jika aku mengganggunya ketika sedang bekerja, kuputar engsel pintu, dan mulai berjalan perlahan setelah menutup pintu kembali.

“Appaa,-“

Ruangannya kosong, apa Ayah pergi? Padahal aku yakin Ayah tidak pergi kemana-mana selain menuju ruang kerjanya. Tungkaiku melangkah lagi, menuju ruang tengah yang dipenuhi orang-orang, bukan tamu-tamu tadi melainkan orang-orang bawahan Kakek yang terlihat lalu lalang.

“Ahjjushi, kau melihat Ayahku? Ahjjushi..” Tidak ada satu orang yang menyahut padaku, semua orang sedang sibuk, bahkan Kakek terlihat menyibukan diri dengan berdalih ada pekerjaan yang harus dikerjakan sekarang juga. Aku tidak yakin apa itu, tapi sepertinya sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Jantungku berdetak kencang, perasaan itu muncul lagi, malah entah kenapa aku benar-benar ingin menangis.

“Appa, Eomma..” Bibirku bergumam tak karuan, langkahku tak tentu arah, aku takut, bingung, dan..

 

“Bagiaman perasaan Tuan muda jika tahu soal ini.

“Jangan sampai ia tahu semua ini, jika ayahnya yang menghilang, tiba-tiba saja ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan,-“

“Kenapa tida-tiba ia ditemukan dalam mobil yang terjatuh kejurang? Padahal Tuan Sang Jin tidak suka bermabuk-mabukkan, mengapa mereka bilang ia menyetir dalam keadaan mabuk?”

 

Braak..

Nampanku terjatuh.

Hening.

Tubuhku gemetar, tak ayal air mataku terjatuh kemudian.

 

“Tuan muda,-” air muka mereka terlihat kontras dengan wajah datarku yang hanya meneteskan air mata. Namun tubuhku seperti terguncang hebat, tak ada tumpuan disana sehingga tubuhku terhuyung saat membalikkan badan mengayuh kakiku secepat yang kubisa.

“Sehun-ah..”

Aku mencoba tidak mendengar suara apa-apa lagi setelah menutup telinga dengan kedua tanganku.

Menutup sekujur tubuhku dengan selimut. Tanpa kusadari aku menangis semalaman disana.

“Aku benci hari ini, aku benci hari ulang tahunku, aku benci Ayah, aku benci semuanya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*Catatan Kecil 4

 

Aku hanya memejam.

Ada tangisan tanpa suara, namun raungan menggelegar dalam dadaku.

Buliran bening itu meluncur tanpa dibarengi suara, juga kata-kata seperti orang-orang kebanyakan. Banyak pertanyaan yang ingin kuutarakan, banyak kalimat yang ingin kukatan, kenapa Tuhan begitu tak adil padaku. Mereka berdua pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku, seperti Eomma, ia pergi setelah mengantarku tidur dan saat terbangun berita itu terdengar olehku, seakan deja vu, kejadian itu seperti sekarang ini. Setelah ayah mengucapkan ‘selamat ulang tahun untukku’ beberapa jam kemudian ia pergi, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Wae? Kenapa semua ini terjadi padaku? Sekian banyak anak didunia, kenapa hal memilukan ini terjadi padaku?.

 

“Hun-ah,” mataku terbuka, kilauan cahaya merasuk membuat mataku silau, Rian berdiri disampingku, ia menggenggam tanganku. Ia menatapku, begitu juga Chan. “Jangan menangis, Hun-ah,-“

“Aku tidak menangis,-” segera kuusap pipiku kasar yang masih basah, aku tidak boleh menangis, terutama dihadapan Rian, dan aku tak mau mendapat ledekan dari Chan. “Kau mau kemana?” Chan berjalan menghampiriku, keningnya cukup kentara terlihat mengintimidasiku 

“Aku tidak mau disini, kalian pulang lah,-” kubalikan badan, sebelum pipiku basah lagi dengan air mata sialan ini. “Aku tidak mau, aku ingin menemanimu,-” Lengan lembutnya menahanku beberapa saat, setelah akhirnya kukibaskan lengannya.

“Pergi lah, aku sedang tidak ingin menemui siapapun,-” entah sadar atau tidak, sepertinya nada suaraku meninggi.

“Hun-ah,” ucapnya pelan, bisa kurasakan Rian mundur beberapa langkah dariku.

“Ya, Oh Sehun!” Chan ikut meninggikan suara beratnya, yang mampu membuatku kesal.

“Mwo?”

Termangun sebentar saat kubalikkan badanku, menatap Rian yang menangis dihadapanku, ia menangis entah sejak kapan.

Ku mengigit bibir. Namun kemudian seakan berguman tak karuan.

“Rian-ah, kenapa kau menangis?” Ucapku pelan, teramat pelan sampai aku tak tahu, ia mendengarnya atau tidak. Namun akhirnya ia mendongak menatapku. “Aku menangis karena kau menangis Hun-ah,” katanya sambil tersenggal, dadanya naik turun menahan napas yang mulai memburu “Sudah ku bilang, aku tidak menangis,-” aku terkesiap, ternyata aku memang masih menangis, Rian menangkap air mataku, mengapusnya dengan ibu jarinya.

“Ya, kalian berdua berhentilah menangis,-”

“Chan-ah, kau tidak menangis?” Kata Rian polos,

“Untuk apa aku menangis,” Suara beratnya terdengar lagi, sambil membuang muka Chan sambil melipat lengannya didada, namun beberapa detik kemudian ia terlihat mengusap pelupuk matanya yang mulai basah. Mungkin ini semua yang kudapat setelah kehilangan kedua orang tuaku, dua sahabat baik yang selalu bersamaku, tertawa bersama, juga menangis bersama.

“Ya, kalian bertiga berhentilah menangis,”

Pak Lee kemudian ikut berkumpul bersama kami.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*Catatan Kecil 5

 

Waktu berjalan, seakan mengalir seperti air. Menangkan, menyejukkan bahkan terlihat sempurna indahnya. Kesedihanku berlalu, walau membutuhkan waktu cukup lama, tapi aku melewatinya. Malam itu Kakek pulang teramat larut, tak sengaja aku melihatnya, ketika dengan tiba-tiba tenggorokanku terasa kehauan, satu kalimat yang ku tangkap, “Cepat selidiki sebab kematian Sang Jin, dan Ji Hyun-“

Aku tidak mengerti, yang ku tahu adalah nama kedua orang tuaku yang kakek sebut, umur ku bertambah, dan akupun bisa merasakan sesuatu yang tidak beres disini. Kerap kali aku bertanya Kakek menjawab, semuanya akan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir, lama-kelamaan kalimat itu terlihat seperti sebuah alibi Kakek untuk menyembunyikan sesuatu. Alih-alih percaya, malah ketidak percayaanku meningkat.

 

“Hun-ah, kau kenapa?”

“Eoh?” Ingatan tentang kedua orang tuaku selalu datang, aku tahu betul apa yang tengah kurasakan, Aku merindukan kalian kerap kali melihat kedekatan satu keluarga kecil, rasa itu datang, iri, marah, kesal, ingin menangis, bahkan ingin berteriak Kenapa semua ini terjadi padaku? Namun semua itu lebih baik kutelan walau pahit, toh apapun sikapku tidak akan membuat mereka berdua kembali.

“Tidak apa-apa, ayo pulang..” Tahun kedua kelas 6, usiaku 12 tahun bukankah dengan usia segitu harusnya aku bisa menerima ini semua, namun nyatanya tidak, hatiku berkata lain, aku belum bisa menerima semua ini. Walau semua orang baik padaku, tapi rasanya berbeda. Langkahku terhenti, ketika suara Rian tak terdengar lagi, dan aku baru ingat aku meninggalkannya beberapa langkah dibelakangku. Saat ku menoleh ia tak ada disana.

“Kemana ia pergi? Eoh?”

Pantaskah anak berusia 12 tahun merasakan hal ini?

Satu senyuman manis diberikan untukku, wajahnya menoleh dibalik beberapa balon gas yang ia bawa. “Tada…” Senyuman itu benar-benar manis.

“Ige Mwo-ya?”

Mungkin nada suaraku sedikit terbata saat berbarengan dengan ludah yang kutelan semata-mata mereda getaran dalam dadaku. Seperti dalam drama TV, bunga sakura berterbangan saat kutangkap matanya dan menatapnya lebih lama, apa ini? Rasa itu muncul lagi, seperti waktu itu.

“Saengil chukkae, besok kau berulang tahun kan? Ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu besok,”

Tangannya terulur sembari memberikan balon-balon gas itu padaku, aku meraihnya tentu saja, setiap kali tangannya terulur detik itu juga aku meraihnya, kau memberiku semuanya, lebih dari cukup, bahkan terlalu banyak. Aku takut tidak bisa memberikan apapun padamu, bahkan sangat kurang meski harus ku memberikan segenap hatiku padamu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*Catatan kecil 6

 

Pak Lee membangunkanku, Ahjjuma membawa kue tart dilelapak tangannya. 12 April, terkadang aku takut apa yang akan ku dapatkan saat hari itu tiba. Bayangan saat Ayah pergi begitu saja masih saja terbayang olehku. Terkadang sesuatu yang bahkan belum terjadi lebih membuatmu tertarik dari pada secuil kebahagian yang kau dapatkan, salah satunya perlakuan hangat yang sering ku dapatkan dari orang-orang terdekatku. Seharusnya aku mensyukuri hal itu. Tidak terlalu banyak permintaan yang kuinginkan, cukup merasakan kebahagiaan lebih lama bersama orang-orang yang kusayangi.

Ahjjuma bilang, sejak bangun tidur tadi, senyuman tak hentinya terlihat diwajahku, Tentu saja ada sesuatu yang kutunggu. Pak Lee memarkirkan mobil tepat didepan gerbang sekolah, gadis itu masih belum menampakkan batang hidungnya, entah kemana perginya anak itu. Bahkan ucapan ulang tahun untukku tidak ia katakan sama sekali.

“Eoh?”

Sesuatu menutupi mataku, bukan dekapan telapak tangan tentunya seperti dalam drama saat memberikan kejutan, itu sesuatu yang lain.

“Chan-ah?”

“Itu topi kesayanganku, aku memberikannya untukmu,-“

Seketika bibirku membentuk huruf ‘O’, tidak seperti biasanya, Chan membiarkan atau membertikan topi-topinya untuk orang lain. Kupercepat langkahku mengimbanginya, merangkul lehernya dengan sebelah lenganku. “Mwo?” Satu kata singkat darinya, dengan sepasang mata hitam mengamati wajahku yang berseri, “Kau tidak mau mengatakan apa-apa lagi?”

“Obso,-” tungkainya berjalan cepat, menyingkirkan sebelah lenganku detik itu juga, sepertinya sikap dinginnya tidak akan pernah hilang. Kupercepat lagi langkahku mengimbanginya, kurangkul lagi lehernya, meskipun ia menolak tetap ku lakukan lagi. Kau termasuk dari kebahagian yang ku maksud dalam keinginanku.

Gadis itu bersikeras belum ingin memberikan yang ia maksud padaku, bahkan ia pura-pura lupa dengan itu semua. Sangat pintar sekali Kim Rian, kuputar bola mataku kesal. Namun senyuman manis itu mampu menghilangkan kekesalan apapun yang kurasakan.

Semua orang berhamburan ketika bis yang mereka tunggu menampakan kedatangannya, Rian berlari kekursi barisan paling belakang, menurutnya tempat itu paling menyenangkan karena bisa memerhatikan semua orang, dari ketika mereka menaiki bis, dan ketika keluar meninggalkan bis. Orang-orang datang dan pergi, ada pertemuan juga perpisahan, kelahiran dan kematian. Rian juga percaya mungkin suatu saat nanti kita akan berpisah, tapi kita memiliki satu sama lain untuk dirindukan.

“Kapan kau, Eoh? Ige mwoya?” Sebuah jurnal ia letakan tepat dipangkuanku, sampul berwarna coklat tua dengan namaku tertulis diujung bawah dengan tinta putih. “Buku Mimpi” tukasnya jelas, kupandangi ia sekilas lalu kembali mengamati jurnal itu.

“Kau bisa menuliskan apa saja disana, mimpimu, keinginanmu, bukankah kau akan melakukan apapun demi mencapai impianmu?” Senyum itu muncul lagi, hingga sepersekian detik dentuman itu muncul lagi, jantungku bedenyut cepat sekali. Senyuman yang telah menyelamatkanku. Bukankah ini moment yang tepat untuk mengatakannya? Rasa itu tumbuh entah sejak kapan dan tak pernah bisa kuhentikan. Tapi apa aku bisa mengatakannya? Satu kalimat sederhana yang tak yang terasa sulit untuk diungkapkan. Bibirku terkatup rapat, tak ada sepatah katapun yang terucap.

Tangan kanannya terangkat dan menyentuh kaca jendela berbarengan dengan bunga sakura yang bagai titik tertiup angin menempel dijendela. Rasanya aku diam lama sekali, memandanginya dalam ketenangan, namun tidak terjadi apa-apa, hingga akhirnya ku beranikan diri untuk mengatakannya “Rian-ah, aku aku menyukaimu,”

Aku terkesiap.

Cahaya menyilaukan itu masuk melalui celah kedalam mataku.

Ternyata aku tertidur, padahal aku tidak tahu sejak kapan mulai tertidur. ‘Buku Mimpi‘ kuhela napas, aku ingat sekarang sejak kapan aku tertidur, sejak memandanginya lama sekali ternyata itu mimpi. “Rian-ah, boleh aku mulai mengisinya sekarang?” Satu keinginan terlintas olehku, satu kalimat yang kuucapkan dalam mimpi, aku ingin menuliskannya dihalaman pertama. Banyak tulisan-tulisan menyemangati saat kubalik sampul itu, tertulis dengan apik bahkan terlalu sempurna untuk seusia anak sekolah dasar, ‘Dari mana ia dapatkan kata-kata seperti ini?‘ Sudah kusiapkan bolpoin ditanganku, siap-siap untuk menulis. Namun belum ada respon dari gadis itu.

“Rian-ah, Ya Kim Rian!,-”

Wajahnya tertunduk. Aku gemetar kuulurkan tangan mencoba Menyingkap rambut gelapnya yang menutupi wajah dengan tanganku, menyelipkannya ke balik telinga, tapi… Tanganku terkepal, kuurungkan niatku.

Kutelan ludah, mendongak menatapnya lebih dekat. “Rian-ah?” Tubuhku semakin mendongak, kuulurkan lagi tanganku, kali ini berhasil. Menyikap rambutnya dan menyelipkannya dibelakang telinga. ‘Dia tertidur’.

Bibirku tersenyum menyadari itu, untuk pertama kalinya memerhatikan wajahnya lebih dekat.

4 pemikiran pada “Beautiful Pain (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s