Secret

SECRET

Title : Secret

 

 

Author : Marie Rose Jane (Uname twitter : @janeew_)

 

 

Rating : PG-15

 

 

Length : Oneshoot

 

 

Main Cast : – Oh Sehun

                     – Jang Surin (OC)

                     – And the other EXO’s member

 

 

Genre : Romance

 

 

Hello! Ini sudah kedua kalinya aku mengirimkan fanfiction-ku ke exofanfic ini setelah ‘After A Long Time’. Kali ini aku bawakan fanfic sederhana berjudul Secret! Selamat membaca!

 

 

Oh ya, kalau mau baca fanfiction-ku yang belum aku publish dimanapun selain di wordpress pribadiku, berkunjung lah ke http://ohmarie99.wordpress.com

 

 

Thanks and happy reading!

**

“Memangnya kalian berdua tidak bosan seperti ini terus? Setiap hari kalian berdua hanya berkutat pada buku dan segala hal yang berbau pelajaran-pelajaran membosankan itu. Sesekali kalian juga harus merasakan yang namanya cinta.”

Suara Baekhyun menggema di ruang perpustakaan kampus yang hanya berisikan mereka bertiga, serta satu orang penjaga perpustakaan yang sedari tadi seakan risih atas keberadaan mereka, ralat, mungkin bukan risih dengan keberadaan mereka, akan tetapi risih atas keberadaan Baekhyun yang sedari tadi terus mengoceh padahal ia sendiri sudah tahu bahwa kini ia sedang berada di ruang perpustakaan, dimana setiap dinding pun menyuruhnya untuk tetap menjaga ketenangan melalui kertas-kertas peringatan berlaminating yang tertera.

Baekhyun buru-buru meminta maaf pada penjaga perpustakaan itu dengan senyuman tidak bersalahnya. Sementara kedua orang lainnya yang berada di depan Baekhyun tampak masih sibuk dengan laptop dan bukunya masing-masing, seakan mengabaikan keberadaan Baekhyun membuat laki-laki berambut cokelat itu mulai kesal.

Baekhyun bangkit berdiri lalu berjalan ke arah kedua orang yang masih tidak mempedulikannya itu. Baekhyun mengambil kursi yang berada tidak jauh darinya, lalu ia menempatkan kursi itu diantara kursi kedua orang itu. Mereka kini hanya menatap Baekhyun bingung. “Kali ini kalian benar-benar harus menuruti apa kataku.” Ujar Baekhyun membuat kedua orang itu hanya menghela napas.

“Byun Baekhyun, aku benar-benar harus mengerjakan essay yang deadline-nya adalah esok hari, jadi aku mohon kau—” Baekhyun segera menepuk bahu perempuan yang berada disebelah kirinya, bermaksud untuk memotong pembicaraannya barusan. Sementara seorang laki-laki bertubuh jangkung yang berada disebelah kanan Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mau tidak mau ia juga memandangi Baekhyun dengan ekspresinya yang datar, ekspresi yang menurut Baekhyun tidak pernah berubah sejak ia pertama kali bertemu dengannya yaitu saat mereka duduk di bangku taman kanak-kanak.

“Oh ayolah, aku ini teman kalian sejak kita duduk di bangku taman kanak-kanak, dan aku merasa kasihan pada hidup kalian yang sedari dulu sama sekali tidak pernah berubah. Belajar, belajar, dan belajar. Apa kalian benar-benar tidak pernah merasa penat dan bosan?”

Suasana hening sejenak, kedua orang tersebut seakan baru saja menyadari sesuatu, membuat Baekhyun merasa ia telah memenangkan suasana. “Kalian sudah dewasa. Sudah saatnya memikirkan pasangan hidup. Benar, kan? Dan aku disini, akan membantu kalian untuk mempertemukan kalian pada pasangan hidup kalian itu.” Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada lalu tersenyum penuh arti.

Perempuan bernama lengkap Jang Surin yang duduk disebelah kiri Baekhyun hanya berdeham lalu memperhatikan laki-laki yang berada disebelah Baekhyun, Oh Sehun. Laki-laki itu tampak diam saja lalu tidak lama kemudian kembali berkutat pada laptopnya dan mulai mengerjakan tugasnya kembali.

Surin memang merasa apa yang dikatakan Baekhyun ada benarnya. Selama ini ia seakan mengurung diri dari dunia luar, berusaha mengunci dirinya dengan tugas-tugasnya, buku-bukunya, dan segala hal lainnya yang berhubungan dengan kehidupan pendidikannya. Selama ini Surin merasa hanya itulah jalan yang harus ia tempuh untuk menunjang kehidupan karirnya di masa mendatang setelah ia menyelesaikan pendidikan akhirnya. Sampai-sampai Surin tidak menyadari bahwa jalan yang telah ia tempuh itu hanyalah sebuah jalan lurus yang membosankan dengan lampu-lampu jalan monoton berwarna putih terang, berusaha menyinari jalanan gelap berwarna hitam pekat itu. Ya, ia sedang mengibaratkan kehidupannya yang hanya berwarna hitam dan putih.

Hidupnya memang monoton dan membosankan. Tapi tidak dengan kehidupan percintaannya. Ia menyukai seseorang. Seseorang yang membuat jalan hidupnya yang berwarna hitam gelap itu memiliki lampu-lampu jalan berwarna putih terang. Lampu-lampu jalan itulah yang berhasil membuat kehidupan Surin tidak hanya berwarna hitam, namun juga berwarna putih. Setidaknya ia mempunyai dua warna walaupun kedua warna tersebut tidak semenarik warna merah ataupun biru dan warna-warna lainnya.

Surin kemudian meringkas semua ucapan Baekhyun barusan dalam kepalanya. Ia berkata bahwa ia akan membantu Surin bertemu dengan pasangan hidupnya. Namun, bagaimana bisa laki-laki itu akan membantunya kalau ia saja tidak tahu bahwa orang yang hanya Surin inginkan menjadi pasangan hidupnya adalah orang yang juga ia tawari bantuannya?

Ya. Orang yang hanya Surin inginkan sejak ia duduk di bangku taman kanak-kanak, tidak lain tidak bukan adalah orang yang kini duduk disebelah kanan Baekhyun, Oh Sehun. Orang yang juga akan dibantu Baekhyun untuk menemukan pasangan hidupnya kalau saja laki-laki itu menyetujui perkataan Baekhyun. Surin sempat bersyukur setengah mati Sehun tampak tidak tertarik dan langsung melanjutkan tugasnya kembali. Bagaimana bisa Surin meneruskan hidupnya yang hanya berwarna hitam dan putih itu kalau sang putih hilang begitu saja dan bersanding dengan kehidupan perempuan lain diluar sana? Tidak. Surin tidak ingin hidup sendiri dengan warna hitam gelap yang menyeramkan itu.

“Aku tidak tertarik.” Sehun bersuara membuat Surin hampir saja memekik girang. “Kalau begitu, kau pasti tertarik kan, Jang Surin?” Baekhyun menepuk bahu Surin dengan nada suara yang memaksa. Surin baru saja akan bersuara namun Baekhyun langsung menyuruhnya diam dan merebut laptopnya begitu saja.

“Kau tenang saja Surin-a. Cara ini adalah cara terampuh yang pernah aku coba.” Surin menatap Baekhyun yang tengah mengetikan sesuatu pada laptopnya itu dengan ragu. Surin hanya menghela napas pasrah. Ia tahu ia kini tidak bisa lagi menolak.

“Nah. Ini dia. Aplikasi yang saat ini tengah terkenal dan digunakan hampir sembilan puluh lima persen anak muda Korea Selatan.” Surin yang juga penasaran akhirnya mendekatkan duduknya dengan Baekhyun lalu melihat apa yang kini tengah Baekhyun lakukan. Surin baru tahu kalau selama ini ada aplikasi yang sedang terkenal bernama ‘Secret’. Maklum saja, selama ini Surin hanya menggunakan Instagram dan Twitter yang itupun sudah lama tidak digunakan, serta Line untuk chatting. Diluar dari tiga aplikasi itu, Surin merasa tidak membutuhkannya karena ia tahu bahwa aplikasi semacam itu hanya akan membuang-buang waktunya yang dapat ia gunakan untuk hal yang lebih berguna dibandingkan dengan berkutat dengan ponsel ataupun laptopnya berjam-jam.

“Aplikasi ini tidak membutuhkan akun. Kau hanya perlu mengisi kolom nomor ini. Nomor inilah yang nantinya akan menjadi username-mu. Biar aku yang buatkan. Nomor ini tidak apa?” Surin mengangguk ketika melihat nomor yang adalah tanggal dan bulan lahirnya. Baekhyun pun mulai mengajarkan Surin yang masih bingung itu. “Mari kita mulai.” Baekhyun mengklik sebuah tombol yang baru Surin tahu adalah sebuah tombol untuk memposting sebuah tulisan atau kalimat mudahnya adalah seperti fungsi tombol ‘compose tweet’ pada Twitter.

“Kau dibebaskan untuk menulis apapun disini. Semua orang yang menggunakan aplikasi ini nantinya akan membacanya melalu timeline. Mereka bisa memberikan komentar. Jika kau mau bertukar identitas asli, ataupun chatting, kau dapat menggunakan tombol yang berbentuk surat ini.” Baekhyun menunjukan tombol tersebut membuat Surin hanya menganggukan kepalanya malas.

“Aku berkenalan dengan seorang perempuan bernama Jimi dan kami sudah bertemu hari minggu kemarin. Ternyata kami memiliki banyak kesamaan, bahkan ia memiliki tanda lahir pada jari tangannya seperti milikku ini. Siapa yang tahu kalau nanti aku benar-benar berakhir dengannya, iya kan? Kau harus coba aplikasi ini.” Baekhyun menggeser laptop yang ada dihadapannya kembali ke tempatnya semula yaitu dihadapan Surin yang kini hanya menatap layar laptop tersebut dengan tatapan kurang yakin.

“Bagaimana kalau aku malah bertemu orang jahat? Memangnya kau tidak pernah mendengar kasus-kasus menyeramkan yang banyak terjadi di sosial media?” Baekhyun hanya tertawa santai sementara Surin menatapnya serius, benar-benar memaknai kata-katanya barusan.

“Percayalah padaku semua pasti aman-aman saja. Lagi pula, kau bisa membatasi orang yang muncul di timeline-mu.” Baekhyun berujar santai lalu kembali mengambil alih laptop tersebut ketika ia dapat membaca tampang Surin yang semakin bingung dan ragu.

“Kau bisa mengubah pengaturan lokasinya. Kalau menurutmu, Korea ataupun Seoul jangkauannya terlalu luas dan terlalu berbahaya, kau bisa memilih salah satu tempat saja misalnya universitas ini.” Baekhyun mengarahkan kursor laptop tersebut pada tulisan ‘Seoul University’ lalu mengkliknya.

“Nah, sekarang orang yang muncul di timeline-mu hanyalah orang-orang yang juga memasang lokasi mereka khusus di daerah sekitar kampus ini saja.” Baekhyun membuka timeline aplikasi tersebut. Surin memperhatikan timeline yang ramai itu dalam diam. Setiap detik pasti ada saja orang yang memposting sebuah tulisan pada timeline tersebut. Entah keluhan karena dosen galak, tugas yang banyak, makan siang kantin kampus yang tidak enak, bahkan ada pula yang terang-terangan bahwa ia sedang mencari kekasih. “Wah, ternyata lumayan banyak. Aku pikir jika memilih lokasi khusus seperti ini dapat memperkecil kemungkinanmu menemukan pendamping hidupmu itu. Ternyata tidak juga.” Baekhyun menggeser laptop itu kembali ke hadapan Surin yang masih bergeming.

“Kalau sampai terjadi apa-apa padaku, kau yang bertanggung jawab ya, Byun Baekhyun.” Surin menekankan kata demi kata yang keluar dari mulutnya barusan membuat Baekhyun langsung menepuk bahunya berkali-kali, bermaksud untuk menenangkan. “Urusan keamanan serahkan saja padaku. Tapi kalau kau benar-benar berhasil menemukan calon pendamping hidupmu itu melalui aplikasi ini, berjanjilah kau akan mentraktirku makan sepuasnya.” Baekhyun tertawa sementara Surin hanya mendengus mendengarnya.

Mungkin ini memang gila, tapi Surin merasa ingin mencobanya. Surin ingin mencoba sesuatu yang baru. Sesuatu yang dapat memberikan warna lain selain warna hitam dan putih dalam cerita kehidupan masa mudanya. Sesekali mencoba hal yang sedang tren di kalangan anak muda lainnya, tidak ada salahnya kan?

“Baiklah Jang Surin, semoga kau beruntung. Dan kau, Oh Sehun, jangan menyesal kalau Surin benar-benar menemukan orang spesial itu lebih dulu dari padamu. Aku pergi dulu. Ada janji dengan Jimi.” Baekhyun segera bangkit dari tempat duduknya lalu meninggalkan ruang perpustakaan tersebut dengan berlari kecil, meninggalkan Surin dan Sehun serta keheningan yang tiba-tiba tercipta tanpa diundang itu.

Surin berdeham membuat Sehun meliriknya sebentar. “Kau tetap akan memainkan aplikasi bodoh itu? Kau ingin memiliki kekasih yang di dapat dari aplikasi itu seperti apa yang dikatakan Baekhyun? Entah mengapa aku jadi merasa kasihan pada kehidupan percintaanmu.” Ujar Sehun dengan gaya sarkastik yang sedari dulu memang sudah menjadi miliknya itu. “Aku rasa tidak ada salahnya jika mencoba. Kau sendiri bagaimana? Tetap tidak mau melakukan apapun pada hidupmu yang membosankan itu?”

Surin menutup laptopnya dengan gerakan kasar lalu pergi dari ruang perpustakaan itu dengan kesal. Meskipun ia menyukai Sehun lebih dari apapun dan siapapun, Surin merasa tidak terima jika Sehun merendahkannya seperti tadi.

Surin tahu Sehun memang tipe orang yang langsung mengungkapkan apa saja yang ada di kepalanya maka itu seringkali ucapan Sehun terlewat menyebalkan untuk di dengar. Dan kali ini bukan kata menyebalkan lagi yang keluar dari mulutnya, untuk pertama kalinya, ucapan Sehun bukan lagi menyebalkan tapi menyakitkan. Kali ini Surin yakin akan keputusannya walaupun tadi ia sempat ragu. Ia harus menemukan ‘orang spesial’ seperti yang dikatakan Baekhyun untuk membalas ucapan Sehun barusan.

Terdengar suara bantingan pintu membuat sang penjaga perpustakaan berdecak kesal sembari menoleh ke arah seseorang yang kini tampak mengacak rambut hitam pekatnya dengan asal, merasa menyesal atas apa yang baru saja terjadi.

Bukan, bukan itu yang ingin Sehun katakan pada Surin. Sehun hanya bermaksud untuk menasehati Surin agar ia tidak melakukan hal yang dapat merugikan dirinya sendiri. Sehun hanya ingin memperingati Surin mengenai hal-hal buruk yang mungkin saja dapat terjadi pada gadis itu jika ia menemui orang melalui sosial media, tempat dimana seseorang dapat menyembunyikan dan menciptakan seribu bahkan ratusan kebohongan di dalamnya.

Dan sesungguhnya jika Sehun boleh jujur, Sehun tidak mau gadis itu benar-benar menemukan pendamping hidupnya lebih dulu. Sehun mau ialah yang lebih dulu. Lebih dulu meminta Surin untuk menjadi pendamping hidupnya sampai akhir nanti. Ia ingin menjadi yang lebih dulu dari laki-laki yang kini Surin cari. Namun apa daya, menunjukan rasa khawatirnya saja malah membuat Surin sakit hati dengan perkataannya, apa lagi kalau ia menunjukan dan menyampaikan rasa cintanya? Sungguh baru kali ini Sehun benar-benar merasa membenci dirinya yang sedari dulu tidak bisa berkata dengan tata bahasa yang sedikit lebih halus itu.

Sehun menghela napas lalu memperhatikan layar laptopnya. “Aku harus melakukannya.” Sehun mulai mengetikan sesuatu lalu seketika aplikasi ‘Secret’ yang tengah terkenal itu muncul. Sehun mengisi kolom nomor yang nantinya akan menjadi usernamenya, lalu mengatur pengaturan lokasi, kemudian tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menuliskan sesuatu pada timeline yang kini tampak ramai dengan berbagai postingan baru yang seakan tidak mau berhenti.

@9404 : Aku disini untuk melindunginya.

Setelah berpikir sambil memperhatikan postingannya itu selama lima detik, Sehun buru-buru menghapus postingannya yang sudah di ‘like’ oleh dua belas orang itu. Ia merasa tulisan pada postingannya barusan terlalu menggelikan. Meskipun tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa ialah yang baru saja menuliskan postingan tersebut, namun tetap saja ia merasa malu. Selain itu, menurutnya Surin pasti tidak akan menanggapi postingan semacam itu. Sehun kemudian memutar otaknya, mencari ide postingan macam apa yang mungkin akan Surin tanggapi. Sehun menjentikan jarinya dengan cepat ketika ia menemukan sebuah pertanyaan bagus. Ya, pertanyaan.

@9404 : Bagaimanakah cara terbaik untuk menyatakan cinta pada orang yang sudah sedari kecil kau kagumi?

Sehun mengetukan jari-jarinya pada meja perpustakaan dengan tidak tenang. Ia terus membaca kalimat pertanyaan itu berulang-ulang, menunggu seseorang untuk merespon pertanyaannya melalui kolom komentar yang sedari tadi berhasil menarik seluruh perhatiannya. Sehun yakin kini Surin juga sedang memainkan aplikasi ini. Anak itu memiliki rasa penasaran yang besar luar biasa, jadi sudah pasti apa yang diyakinkan Sehun barusan itu memang benar adanya. Kemungkinan Surin membalas postingannya melalui kolom komentar tersebut sangat amatlah besar mengingat timeline yang seketika juga tidak begitu ramai. Sehun membuka matanya lebar-lebar ketika salah satu komentar yang baru saja masuk menarik perhatiannya.

@0130 : Astaga, kau juga menyukai teman kecilmu? Hm, sebenarnya ada banyak cara untuk menyatakan cinta, hanya saja kalau kau perempuan seperti aku, maka hal itu akan berbeda. Apalagi kalau orang yang kau kagumi itu seakan sudah sangat nyaman dengan label ‘teman sejak dari taman kanak-kanak’. Namun, kau jangan menyerah seperti aku. Berjuanglah! Nyatakan saja. Jika kau laki-laki maka jangan ragu lagi, karena menurutku, perempuan itu hanya dapat menunggu.

Sehun menahan tawanya ketika membayangkan bahwa Surin lah yang mengirimkan komentar tersebut. Gaya bahasa komentar gadis yang tidak ia ketahui identitasnya itu benar-benar mirip dengan gaya bahasa Surin. Surin selalu menyelipkan sedikit curahan hatinya setiap ia memberikan saran atau nasehat untuk orang lain. Lagipula lihatlah nomor pada usernamenya, 0130. Benar-benar sudah tertebak dengan mudah oleh Sehun. 01-30 adalah bulan dan tanggal lahir Surin, maka sudah pasti gadis dengan username 0130 itu adalah Surin. Dengan keyakinannya ia memutuskan untuk mengirimi gadis tanpa identitas itu sebuah pesan privasi, dimana yang dapat membuka pesan tersebut hanya mereka berdua saja.

@9404 : Jang Surin? Ini benar kau, kan?

Sehun mengetukan jari-jarinya pada meja perpustakaan tersebut dengan tidak tenang. Bagaimana kalau ia salah orang? Sehun bahkan sudah merasa malu duluan walaupun orang itu tidak tahu-menahu tentang identitas aslinya.

Sehun hanya berharap gadis itu benar-benar Surin. Sehun tidak siap jika Surin menemukan orang lain lebih dulu bahkan sebelum ia sempat menyatakan rasa cintanya pada gadis itu.

**

Suasana sepi taman belakang kampus serta angin yang tiba-tiba bertiup menimbulkan bunyi gesekan daun-daun kering dengan rerumputan membuat seorang  gadis yang kini tengah menatap layar laptopnya dalam diam dan setengah tidak percaya itu semakin ketakutan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang mengikutinya. Ia menutupi layar laptopnya dengan kedua telapak tangannya lalu kembali mengecek keadaan sekitar. Suasana masih sepi, sama seperti pertama kali ia menginjakan kakinya pada taman belakang kampus itu sepuluh menit yang lalu.

Ia memegang tengkuknya, merasa bulu kuduknya mulai berdiri. Pasalnya ia baru saja mendapatkan sebuah pesan privasi dari seseorang pada aplikasi ‘Secret’ yang baru hari ini ia mainkan itu. Sebuah pesan tidak terduga, yang mampu membuatnya ketakutan setengah mati seperti sekarang ini. Berkali-kali ia memastikan bahwa aplikasi itu sama sekali tidak menunjukan identitasnya, dan berkali-kali juga hasilnya sama. Aplikasi itu memang tidak menunjukan identitas dirinya sama sekali. Hanya username nomor yang Surin sendiri yakin bahwa kampus sebesar dan seluas ini tidak sesempit itu sampai-sampai ada orang yang tahu kalau nomor pada username itu adalah angka perpaduan dari bulan dan tanggal lahirnya.

Lalu, siapa yang baru saja mengirimkannya pesan tersebut? Bagaimana bisa orang itu tahu nama lengkapnya?

Surin membaca pesan itu sekali lagi. “9404. Siapa kau sebenarnya?” Gumam Surin pelan, masih membaca pesan tersebut dengan sangat serius. Ia merasa ragu untuk membalasnya, namun ia juga penasaran akan identitas sang pengirim. Surin mulai mengetikan sesuatu dan menekan tombol ‘enter’ pada laptonya. Beberapa detik kemudian ia merasa menyesal telah mengirimnya.

@9404 : Jang Surin? Ini benar kau, kan?

@0130 : Dari mana kau tahu nama lengkapku? Siapa kau?

Surin menepuk dahinya sendiri setelah membaca ulang pesan tersebut. Seharusnya ia tidak bertanya seperti itu. Seharusnya ia menutupi identitasnya, bukan malah membukanya dengan berkata seperti itu. Surin memekik ketika sebuah balasan dari username 9404 itu muncul pada layar laptopnya.

@9404 : Aku adalah pelindungmu selama kau memainkan aplikasi ini. Jangan coba-coba chatting dengan laki-laki yang tidak kau kenal ya.

Surin tidak habis pikir dengan orang itu. Pelindungnya? Dan apa barusan? Orang itu baru saja melarangnya untuk chatting dengan laki-laki yang tidak Surin kenal? Surin saja tidak mengenali siapa orang dibalik username 9404 itu, berarti orang itu baru saja melarang Surin untuk berbicara dengannya, bukan begitu?

@0130 : Aku tidak mengerti maksudmu. Sebenarnya kau siapa? Cepat beritahukan identitasmu padaku.

Surin bergerak-gerak gelisah, menunggu jawaban orang itu. Tidak lama kemudian sebuah pesan baru muncul di layar laptopnya. Sebuah pesan yang mampu membuat jantungnya hampir lepas begitu saja.

@9404 : Kau tidak perlu tahu siapa aku. Sebenarnya kalau kau jenius, kau bisa saja menebaknya lewat dari username-ku. Namun sepertinya otakmu yang kecil itu tidak mampu berpikir banyak, ya sudahlah. Oh ya, tadi kau bilang kau juga menyukai teman kecilmu? Siapa dia? Oh Sehun? Byun Baekhyun? Park Chanyeol? Atau jangan-jangan Kim Jongin?

Dunia sosial media ini memang sepertinya sudah gila. Sungguh, Surin benar-benar tidak tahu apapun dibalik angka 9404 itu. Surin mencoba untuk berpikir namun pikirannya malah tertuju pada seorang Oh Sehun, orang yang baru saja merendahkannya dan seakan melarangnya untuk memainkan aplikasi ini. Ya, kalau anak itu memainkan aplikasi ini juga mungkin saja username itu adalah milik Sehun karena 94 adalah tahun kelahirannya dan 04 adalah bulan lahirnya. Namun. Surin tahu Oh Sehun itu orang yang seperti apa. Menurut Surin, Sehun sudah menolak untuk memainkan aplikasi ini sejak awal Baekhyun beritahu, maka sekali ia menolak, anak keras kepala itu sudah pasti tidak akan pernah merubah keputusan awalnya.

Baiklah, lupakan tentang Oh Sehun dan mari kita kembali lagi pada orang beridentitaskan 9404 itu. Darimana orang itu tahu kalau Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol dan Kim Jongin adalah teman kecil Surin? Surin merasa menyesal ia sempat berkomentar pada postingan orang gila itu. Sekarang orang itu tahu salah satu rahasia Surin. Rahasia yang bahkan tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali dirinya dan buku diary kecilnya yang sudah tidak ingin lagi Surin ungkit mengingat buku itu berisikan tentang hal-hal yang berbau Sehun bahkan sampai ada foto-foto Sehun yang Surin ambil secara diam-diam. Surin merasa ia benar-benar ingin menutup aplikasi itu sekarang juga kalau saja rasa penasarannya tidak lebih besar dari pada logikanya yang menyuruhnya untuk segera menutup aplikasi itu secepatnya.

@0130 : Baiklah tuan 9404, otakku memang kecil tapi tidak seharusnya kau berkata kasar seperti itu dengan orang yang baru kau kenal di sosial media. Dan memangnya otakku sekecil itu sampai-sampai aku harus memberitahumu siapa nama orang yang aku sukai itu? Tidak semudah itu, stalker.

@9404 : Wow, tenang dulu nona 0130. Oke, baiklah aku minta maaf jika aku sudah berkata kasar padamu. Kau benar-benar ingin tahu siapa aku sebenarnya?

@0130 : Tentu saja aku ingin tahu. Aku juga ingin tahu bagaimana kau mengetahui segala informasi tentangku bahkan tentang nama-nama teman kecilku.

@9404 : Aku akan memberitahumu setelah kau menjawab pertanyaanku yang pertama. Dari antara nama-nama itu, nama mana yang dapat membuatmu jatuh cinta sejak kau duduk di bangku taman kanak-kanak?

@0130 : Baiklah, tapi kau harus berjanji terlebih dahulu kau akan memberitahuku tentang identitasmu.

@9404 : Ya, baiklah.

@0130 : Aku menyukai… Oh Sehun.

@9404 : Kau serius? Aku tidak salah baca, kan? Jang Surin ini benar dirimu, kan?

@0130 : Ya memang ini aku, Jang Surin, gadis paling cantik satu Seoul University. Nama Jang Surin itu langka sekali. Hanya milik seorang mahasiswi jurusan sastra Inggris dari sekian banyaknya jurusan di kampus ini. Sekarang, beritahu aku tentang identitasmu!

@9404 : Ah, ternyata ini benar kau. Hahahhaa. Yang pasti aku laki-laki.

@0130 : Maksudku namamu, bukan jenis kelaminmu!

Apa-apaan laki-laki itu? Apa ia baru saja mencoba untuk berbuat curang? Surin benar-benar harus mengetahui identitasnya karena ia sudah mengetahui rahasia terbesar Surin! Astaga, sekarang Surin benar-benar merasa bodoh karena sudah menjawab jujur pertanyaan itu. Sebenarnya ada apa dengan otaknya?

Surin menunggu selama sepuluh menit namun layar laptopnya tidak kunjung memunculkan balasan membuatnya menjadi tidak sabar karena rasa penasaran yang terus menggerogoti. Sepuluh menit berganti menjadi dua puluh menit, namun jawaban dari tuan 9404 itu tidak kunjung tampak, membuat Surin menjadi bosan. Ia kemudian membuka timelinenya, kemudian membaca postingan-postingan yang ada disana. Mata Surin terbelak ketika ia menemukan username 9404 itu dua puluh menit yang lalu baru saja menulis sebuah postingan baru.

@9404 : Aku serius, bagaimana cara menyatakan cinta yang baik dan benar pada orang yang kau sukai?

Surin hampir saja menghancurkan keyboard pada laptopnya ketika ia mengetikan balasan untuk postingan si tuan 9404 itu.

@0130 : Hei! Dasar curang! Jawab dulu pertanyaanku yang belum kau jawab itu!

Surin bertekad akan terus berkomentar pada setiap postingan laki-laki itu sampai ia mengetahui siapa sebenarnya nama dibalik username 9404 itu.

**

Sehun meletakan buku-buku tebalnya pada meja makan tempat ia biasa makan siang itu dengan gerakan sangat bersemangat, membuat orang yang sudah lebih dulu menempati tempat itu langsung menyapanya dengan wajah yang tidak senang. Ya, siapa lagi kalau bukan Surin. Sehun mengacak rambutnya dengan gemas setelah ia berhasil menempatkan dirinya di sebelah Surin. Kali ini wajah Sehun berbeda dari biasanya. Ia tampak lebih cerah dan bersemangat. Bahkan laki-laki bertubuh tinggi itu kini terus saja mengembangkan senyumannya membuat Surin hanya menatapnya dengan bingung.

“Apa-apaan sih, kau ini. Aku masih marah padamu soal kemarin dan sekarang kau bertingkah seperti tidak ada apa-apa.” Surin mengercutkan bibirnya kemudian menyesap minuman choco oreonya tanpa memandang Sehun yang kini hanya tersenyum tipis.

Sehun merebut choco oreo Surin lalu segera meminumnya membuat gadis itu langsung memukuli lengannya berkali-kali. Sehun tahu gadis itu masih kesal padanya, ditambah lagi adegan merebut minuman itu, tentu saja amarah Surin semakin tersulut. Tapi hal itu tidak menghentikan Sehun begitu saja. Sehun malah senang melihat Surin marah-marah, memukulinya walaupun pukulannya tidak ada rasa, menyapanya dengan wajah garang, dan sejenisnya. Siapa yang tahu kalau selama ini dibalik hal itu semua ternyata Surin menyimpan rasa yang sama dengan apa yang dirasakannya selama ini?

“Ada apa denganmu? Sepertinya kau senang sekali. Apa karena melihatku marah-marah seperti ini, huh?” Surin merebut choco oreonya kembali lalu meminumnya sampai habis. Sehun hanya tertawa lalu merangkulnya dengan wajah yang kelewat gembira membuat Surin merasa aneh. “Kau lucu kalau sedang marah-marah. Tentu saja aku jadi senang.” Surin langsung melepas rangkulan Sehun dengan cepat lalu dengan susah payah, ia berusaha untuk tidak mengembangkan senyumannya yang sepertinya tidak mau bersembunyi itu. “Sudah, senyumnya jangan ditahan-tahan seperti itu. Senyum saja kalau mau senyum.” Sehun tertawa lalu Surin langsung memukul lengannya berkali-kali, bermaksud untuk menutupi rasa salah tingkah yang tiba-tiba hinggap pada dirinya.

“Bagaimana aplikasi itu? Sudah membawa jodoh untukmu?” Tanya Sehun sembari membuka satu buku tebalnya lalu bersiap untuk membacanya. “Aku tidak main aplikasi itu untuk mencari jodoh, catat itu, Oh Sehun yang menyebalkan!” Surin berujar membuat Sehun hanya terkekeh. “Tapi kalau ternyata kau memang menemukan jodohmu karena aplikasi itu, bagaimana?” Surin terdiam. Rasanya ia ingin meneriaki laki-laki yang kini masih mempertahankan senyumannya yang tidak jelas itu, kalau yang Surin mau hanyalah dirinya dan semua tingkah lakunya yang menyebalkan itu. Bagi Surin memang tidak ada yang lain selain seorang Oh Sehun. Namun sepertinya laki-laki itu tidak akan pernah tahu dan mengerti.

“Hei, aku bertanya padamu. Mengapa malah melamun sambil memperhatikanku seperti itu?” Surin langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun Sehun sudah lebih dulu menangkap aura salah tingkah dari Surin membuatnya semakin senang dan bersemangat untuk menjahili gadis itu. “Ulangi pertanyaanmu.” Ucap Surin tanpa memandang Sehun. “Bagaimana kalau kau memang benar-benar bertemu dengan jodohmu karena aplikasi itu?”

“Ya mana ku tahu. Kalau memang bertemu karena aplikasi itu ya justru bagus sekali karena kisah cintaku akan menjadi kisah yang lucu ketika aku menceritakannya pada anakku dimasa depan. Tapi bagiku pribadi, aku tidak mengharapkan akan bertemu jodohku dari aplikasi itu.” Sahut Surin asal membuat Sehun langsung tertawa. “Apa yang lucu dari ucapanku?” Sehun masih tertawa membuat Surin hanya mendengus. Padahal barusan, Surin baru saja memberinya sebuah clue. Yaitu pada kata-kata terakhirnya yang berarti ia tidak mengharapkan siapapun kecuali Sehun dan harusnya laki-laki itu merasa peka, bukannya malah tertawa seperti orang kesetanan.

“Menurutku kisahmu dan aplikasi itu kelak memang patut kau ceritakan pada anakmu dimasa depan.” Timpal Sehun setelah ia berhasil menghentikan tawanya. “Tentu saja. Anakku kelak pasti akan berpikir kalau kisah cintaku itu adalah kisah cinta yang di dambakan orang-orang diluar sana. Bertemu seseorang melalui sosial media, dan berakhir menikah. Sunggu cerita cinta yang singkat namun manis. Benar, kan?” Sehun tertawa lagi. Ucapan Surin benar-benar semakin asal dan sepertinya gadis itu juga tidak menyadari apa yang baru saja di ucapkannya.

Seandainya gadis itu tahu kalau Sehun sedari tadi membicarakan tentang dirinya dan gadis itu. Tentu saja Surin pasti akan menemukan jodohnya melalui aplikasi itu, karena orang itu adalah Sehun sendiri. Berkat aplikasi itu, kini Sehun merasa tidak ragu lagi untuk segera menyatakan perasaannya pada Surin.

Hanya saja, Sehun masih terlalu bingung bagaimana cara untuk mengungkapkannya. Sungguh, percayalah, Sehun tipe orang yang sangat payah dalam hal menunjukan perasaannya secara langsung, apalagi dalam sebuah rangkaian kata.

“Aku bisa pinjam hari Sabtumu?”

Surin mempertajam telinganya ketika mendengar ucapan Sehun barusan. “Maksudmu?” Sehun merangkul bahu Surin lalu mengacak rambut gadis itu dengan satu tangan yang kini bertengger pada bahu Surin. “Dasar gadis berotak kecil. Hari Sabtu ini kau ada acara tidak? Kalau tidak, aku pinjam hari Sabtumu.” Sehun hampir saja tertawa ketika kembali menangkap gadis itu bergerak-gerak tidak tenang, tampak sangat salah tingkah.

“Se-Sepertinya bisa.” Sehun mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku jemput jam tujuh malam dirumahmu. Dandanlah yang cantik.” Sehun membereskan buku-bukunya, lalu bangkit berdiri hendak pergi dari tempat itu. Surin berdeham lalu menahan lengan Sehun yang hampir saja melangkah pergi itu. “Ka-kau serius akan apa yang baru saja kau bicarakan?” Surin meyakinkan setiap rincian adegan pembicaraan yang baru saja terjadi.

Untuk pertama kalinya, laki-laki itu mengajak Surin keluar dengan cara formal seperti itu. Biasanya Sehun hanya akan membobol pintu apartment Surin yang password kunci pengamannya sudah ia hafal diluar kepala itu, masuk begitu saja dengan kaos oblong, celana pendek selutut, serta sandal jepit. Tanpa basa-basi lagi bertanya Surin bisa atau tidak, ia pasti akan langsung memboyong Surin yang hanya mengenakan baju rumah dan bahkan seringkali piyama yang hanya berbalutkan cardigan pinjaman Sehun. Laki-laki itu biasanya membawa Surin ke mini market yang berada di dekat apartment Surin, warung tteokbokki, atau ya paling hanya ke toko kaset PS dan DVD langganan mereka. Tapi kali ini? Sehun seakan baru saja mengajaknya berkencan membuat Surin tidak habis pikir.

“Tentu saja aku serius.” Jawab Sehun dengan senyuman yang menurut Surin malah menjerumus pada senyuman jahil miliknya. “Memangnya dalam rangka apa?” Surin masih terus memastikan, takut-takut laki-laki berwatak menyebalkan itu benar-benar hanya mengerjainya saja.

“Kau ini bawel sekali. Sudah bagus kau masih ada yang mengajak bermalam minggu. Apalagi malam minggunya dengan laki-laki tampan seperti aku. Tugasmu itu hanya bersiap-siap. Aku yang menentukan kita akan kemana. Sudah dulu ya, nona bawel. Aku ada urusan dengan dosen yang bawelnya sama persis sepertimu. Annyeong, aegi-ya.” Sehun mencubit pipi Surin lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan Surin yang kini hanya memegangi kedua pipinya. Ia mengelus pipinya yang baru saja dicubit oleh Sehun itu dengan perlahan lalu mencubitnya kembali dengan tangan kanannya sendiri.

“Aw!” Jeritnya lalu memukul tangan kanannya. Ternyata sakit. Ternyata ini bukanlah mimpi. Oh Sehun. Laki-laki yang selama ini ia dambakan itu baru saja mengajaknya bermalam minggu bersama. Laki-laki yang selama ini ia dambakan itu akhirnya mengajak dirinya pergi berkencan, menyuruhnya untuk berdandan yang cantik, dan berjanji akan menjemputnya jam tujuh malam di hari sabtu. Laki-laki yang selama ini ia dambakan itu baru saja memanggilnya dengan sebutan ‘aegi’ yang berhasil membuat bulu kuduk Surin berdiri ketika mendengarnya.

Ia harus menyiapkan semuanya dari sekarang. Surin tidak akan melewatkan kesempatan emas ini. Tidak akan.

**

@0130 : Pembicaraan apa yang menarik untuk di bicarakan saat tengah berkencan?

Surin memeluk gulingnya dengan erat sembari menunggu balasan dari orang-orang yang mungkin tertarik untuk memberinya saran atau sekedar petunjuk agar hari sabtu nanti Surin tidak terdiam sepanjang ‘kencan pertama’nya.

Kamarnya kini berantakan seperti kapal pecah sementara gadis itu kini hanya berbaring dengan nyaman diatas kasurnya dengan laptop serta sebungkus snack yang tergeletak begitu saja disampingnya. Lemarinya terbuka, baju-baju berserakan dimana-mana. Ya, benar. Alasannya adalah karena hari Sabtu yang sudah ditunggu-tunggunya itu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam lagi akan segera tiba. Surin baru saja menggeledah lemarinya, dan ia menemukan beberapa dress yang malah membuatnya semakin bingung hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk meletakan dress-dress tersebut dengan asal di atas kasurnya, menyarankan dirinya untuk beristirahat sebentar dan memilahnya lagi nanti.

Surin buru-buru merubah duduknya ketika melihat notifikasi pada kotak masuknya. Ia segera membukanya dan benar saja dugaannya, sang pengirim adalah si 9404, tuan misterius yang asal dan identitasnya sampai sekarang tidak Surin ketahui.

@9404 : Memangnya kau mau kencan? Dengan siapa? Wah pasti seru sekali ya. Ini pasti akan menjadi pengalaman kencanmu yang pertama, kan?

Surin hanya mendengus begitu membaca pesan itu. Memangnya laki-laki itu tidak membaca pesan Surin yang terakhir mengenai pertanyaan tentang siapakah identitas laki-laki itu sebenarnya? Alih-alih membalasnya, laki-laki itu malah mengirimkan pesan baru, pesan yang terkesan menganggap pesan Surin yang terakhir itu tidak pernah ada.

@0130 : Apa-apaan kau ini? Kau malah mengirimiku pesan baru padahal kau belum menjawab pertanyaanku yang terakhir.

@9404 : Tidak ada pesan apapun yang masuk. Mungkin aplikasinya error saat kau mengirimiku pesan.

@0130 : Baiklah, karena aku sedang senang, kau bisa lolos kali ini.

@9404 : Senang karena kemarin baru saja di ajak berkencan?

@0130 : Dari mana kau tahu kalau kejadian itu tepat kemarin? Astaga, selama ini kau menguntitku dan laki-laki pujaanku itu? Awas saja kalau kau berani menyakitinya. Kau berurusan denganku.

@9404 : Untuk apa aku menyakitinya?

@0130 : Ya, siapa tahu saja. Biasanya kan penggemar rahasia, apalagi yang sudah level atas sepertimu itu dapat melakukan apapun untuk mendapatkan sang pujaan hatinya.

@9404 : Maksudmu aku adalah penggemar rahasiamu? Astaga dasar otak kecil hahahahha! Aku benar-benar tertawa sekarang.

Surin membaca kembali kata-kata ‘otak kecil’ itu. Mengapa kata-kata itu terasa begitu familiar? Sepertinya seseorang juga sering memanggilnya dengan sebutan itu. Seketika bayangan Sehun sedang tertawa jahil sambil menyebutnya ‘gadis berotak kecil’ lewat di benaknya, membuatnya sempat berpikir yang tidak-tidak. “Ah, laki-laki itu memang sering bicara seenaknya saja, mungkin hanya kebetulan semata. Ya, benar. Mungkin hanya kebetulan.”

@0130 : Kau tahu? Kau benar-benar mengingatkanku pada seorang Oh Sehun. Tapi mana mungkin, iya kan? Seorang seperti Oh Sehun tidak akan membuang waktunya untuk membuka aplikasi bodoh seperti ini, apalagi meneror seorang gadis.

@9404 : Sekarang kau menuduhku sedang menerormu, begitu? Baiklah, padahal tadinya aku ingin membantumu agar acara kencan pertamamu itu berjalan lancar.

@0130 : Benar kau mau membantuku?

@9404 : Ya. Apa saja. Cepat sebutkan.

Surin memekik girang. Ia mengambil salah satu dressnya dari antara keempat dress yang masih tergeletak di kasurnya, lalu segera berlari ke kamar kecil yang berada di sudut kamarnya. Tidak lama kemudian, gadis itu telah selesai memakai dress hitam selutut. Dress pilihannya yang pertama. Ia segera berdiri tegap setelah mengarahkan laptopnya untuk melihat pantulan dirinya dari kamera depan laptopnya. Dengan segera ia menyalakan ‘timer’ pada kamera depannya lalu dalam tiga detik, foto yang tidak memperlihatkan bagian kepala itu sudah terpampang dilayar laptopnya. Surin melakukannya empat kali dengan dress yang berbeda-beda.

Gadis itu lalu segera mengirim foto-foto yang sudah diambilnya itu pada 9404, bermaksud untuk meminta pendapatnya.

@0130 : Bagaimana? Dress yang berwarna putih itu bagus tidak? Atau lebih bagus yang merah? Atau yang pink? Atau yang hitam?

@9404 : Apanya yang berbeda dari semua dress itu? Sepertinya modelnya sama saja hanya berbeda warna.

@0130 : Aish, walaupun sama-sama selutut dan lengannya sama-sama sebatas siku, keempat dress itu memiliki perbedaan pada motifnya! Rupanya laki-laki memang tidak akan memperhatikan hal seperti itu, ya. Padahal perempuan sampai sangat bingung hanya untuk menentukan mana yang paling bagus. Kalau begitu aku pakai jeans oblong dan kaos biasa saja untuk hari sabtu.

@9404 : Selama kau merasa nyaman, kenapa tidak? Kau terlihat cantik dengan pakaian jenis apapun, jadi jangan malah memusingkan dirimu sendiri seperti itu.

Senyum Surin mengembang tanpa ia sadari. Surin benar-benar merasa ia tengah berbicara dengan Sehun dan Surin sendiri pun sedang berusaha untuk menghapus pemikiran tersebut. Surin jadi teringat akan satu kejadian dimana Surin pernah memakai high heels yang tingginya tujuh centimeter hanya karena ada seorang mahasiswi baru yang tengah berusaha mendekati Sehun.

Tidak seperti dirinya yang tingginya hanya sebatas lengan Sehun, perempuan itu hanya berbeda lima centi dari Sehun membuat Surin tidak mau kalah. Karena ia memaksakan memakai heels ke kampus, kakinya terkilir saat menuruni tangga dengan tergesa. Saat itu Surin bermaksud untuk menghentikan Sehun yang sepertinya akan pulang bersama dengan perempuan cantik itu. Sehun yang mendengar teriakan Surin segera menoleh dan berlari ke arahnya. Sehun menggendong Surin ke salah satu ruang kelas kosong terdekat lalu mengambil kotak P3K yang memang tersedia di setiap kelas. Dan saat itu juga, Sehun benar-benar memarahinya karena menggunakan sepatu tinggi.

“Kalau kau merasa tidak nyaman untuk apa dipakai? Kakimu ini tetap terlihat cantik walaupun kau hanya mengenakan sneakers yang tidak dicuci selama hampir enam bulan itu. Lain kali aku tidak mau kau memaksakan dirimu seperti ini.”

Sungguh, siapapun orang dibalik username 9404 itu, pasti sifat dan perilakunya benar-benar mirip dengan Sehun.

@0130 : Terima kasih 9404-ssi! Semoga kau juga segera berkencan ya dengan temanmu yang sudah kau sukai dari kecil itu! Nyatakanlah cintamu, jangan ragu lagi. Tugas perempuan memang hanya menunggu sampai hari itu datang. Kalau keduanya saling menunggu, lalu siapa yang akan memulai? Iya, kan?

Surin tersenyum singkat. Tiba-tiba ia jadi ingin bertemu dengan Sehun. “Ayolah Sabtu, cepat sedikit!”

**

“Memangnya kita akan kemana, sih?” Sehun yang kini tengah menyetir hanya memperhatikan jalanan yang lengang itu dengan tenang sementara Surin sedari tadi benar-benar tidak bisa diam. Ia bahkan sudah mengucapkan kalimat ‘kita akan kemana’ itu sebanyak dua puluh kali jika Sehun tidak salah hitung.

Pasalnya Surin memang tidak mengerti mengapa mereka tidak kunjung sampai padahal sudah hampir satu jam mereka menempuh perjalanan yang hanya di isi dengan kecanggungan antara satu sama lain itu membuat Surin tidak betah untuk tidak berbicara.

“Bersabarlah sedikit, nona bawel.” Tanggap Sehun setiap Surin melontarkan kalimat tanya tentang tempat tujuan mereka. “Oh ya, aku belum sempat mengatakannya saat dirumahmu tadi karena sibuk meminta ijin pada kedua orangtuamu, kedua kakak laki-lakimu yang galak, serta satu adikmu yang sama bawelnya denganmu itu. Kau mau tahu aku akan mengatakan apa?” Sehun menoleh ke arah Surin yang kini hanya memperhatikan jalanan lewat kaca jendela mobil yang berada disebelahnya.

“Memangnya apa? Kau mau meledek dandananku ini? Ya, memang sudah seharusnya kau meledekku. Aku tidak bisa berdandan sama sekali.” Sehun tertawa mendengar kepesimisan Surin. “Sok tahu sekali kau ini. Justru aku ingin berkata sebaliknya.” Sehun berujar santai sementara Surin sudah tidak santai lagi dengan kata-kata yang baru saja diutarakan Sehun.

Sehun yang menyadari hal itu hanya menahan tawanya dengan susah payah dan tetap mempertahankan sikap tenangnya. “Menurutku, kau tampak… cantik.” Ujar Sehun akhirnya dengan nada suara yang canggung. “Sedikit. Ya, setidaknya tidak berantakan seperti biasanya.” Sehun menambahkan, walaupun kata-katanya yang terakhir itu hanya ia buat-buat saja agar suasana tidak semakin canggung. Surin langsung memukul lengannya membuat Sehun hanya tertawa jahil.

“Kau memang paling pintar memainkan suasana hati seseorang ya.” Surin berujar sarkastik diselingi dengan senyumannya yang berusaha ia tutup-tutupi, dan pipinya yang sedari tadi sudah bersemu merah layaknya tomat matang. Ia hanya berharap laki-laki yang kini tengah asik tertawa itu tidak tahu kalau saat ini, jantungnya benar-benar serasa ingin keluar.

Disisi lain, seorang laki-laki yang duduk tepat disebelah Surin sedang mengutuk mulutnya sendiri yang dari dulu memang tidak pernah bisa diajak bekerja sama. Namun jauh dalam hati, Sehun memang benar-benar memaknai kata-katanya barusan. Mungkin tidak untuk kalimat ‘sedikit’ tadi karena hari ini Surin memang tampak semakin cantik dengan dress selutut berwarna merah gelapnya. Ia juga mengenakan heels yang tidak terlalu tinggi, membiarkan rambutnya terjuntai dengan sedikit gelombang pada bagian bawahnya, serta memoleskan make-up tipis pada wajahnya. Perpaduan semua hal itu mampu membuat seorang Oh Sehun berpikir bahwa gadis itu tampak semakin cantik walaupun hanya dengan dandanan yang sederhana. Dan Sehun menyukainya. Ya, benar-benar menyukainya.

Setelah dua puluh menit berlalu, mereka sampai pada tempat tujuan. Sehun segera memarkirkan mobilnya sementara Surin hanya melihat kesekitarnya dengan bingung. “Ini kan gedung sekolah dasar kita dulu. Untuk apa kau mengajakku ke sekolah ini?” Sehun keluar dari mobil tersebut lebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Surin seraya mengulurkan tangannya. Surin hanya tersenyum lalu segera menyambar tangan yang dua kali lebih besar dari miliknya itu. “Tutup matamu.” Pinta Sehun lalu Surin segera menurutinya.

Sehun menuntunnya dengan perlahan, menaiki tangga demi tangga yang tidak Surin tahu sama sekali tangga itu akan menuju kemana. Sehun bahkan menghitung tangga itu satu persatu membuat Surin sempat tertawa karenanya. “Oh Sehun, ini benar-benar bukan gayamu.”

Hitungan Sehun terhenti pada hitungan yang ke-dua ratus, menandai bahwa mereka telah sampai pada tempat yang tidak Surin tahu sama sekali dimana itu. Sehun segera menempatkan Surin pada sebuah kursi dan menutup mata gadis itu dengan kedua telapak tangannya.

“Kau siap?” Sehun berujar membuat Surin hanya mengangguk. “Berjanjilah kau tidak akan menertawakanku setelah ini.” Sehun langsung melepaskan kedua telapak tangannya dan Surin dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya. Ia langsung menutup mulutnya sendiri, tidak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang ini.

“O-Oh Sehun.”

Surin benar-benar takjub akan apa yang dilihatnya sekarang ini. Perjuangannya dan Sehun menaiki anak tangga yang jumlahnya dua ratus itu rupanya untuk mencapai lantai tiga gedung sekolah dasar tersebut. Lantai tiga itu merupakan lapangan kedua setelah lapangan utama yang berada di lantai bawah. Sedari Surin bersekolah di gedung sekolah dasar tersebut, lapangan kedua ini hampir tidak pernah di pakai. Tempat ini adalah tempat rahasia Surin yang tidak lama diketahui oleh Sehun. Sejak setelah itu, mereka selalu bermain di lapangan atas saat waktu istirahat dan pulang tiba.

“Bagaimana? Kau suka tidak? Aku sudah mempersiapkan semua ini dari kemarin sore. Untung saja pihak sekolah mau membantuku.” Sehun berterus terang sementara Surin sudah ingin menangis. Pasalnya, lapangan atas yang tidak terlalu luas itu kini berubah menjadi sebuah ‘mini theatre’ dengan sebuah proyektor dan layar putih besar yang berada di hadapan Surin sekarang ini. Di sekitarnya pun di hiasi dengan lampu-lampu berbentuk bintang berwarna kuning terang, menambah keindahan dari tempat itu. Tidak hanya lampu-lampu itu yang dapat membuat Surin takjub, foto-foto kecilnya bersama Sehun saat masih duduk di sekolah dasar pun bergantungan di antara lampu-lampu itu membuatnya terlihat sangat manis.

Sehun segera mengeluarkan laptopnya dari tas ransel yang ia bawa, lalu menyambungkannya pada proyektor yang berada tidak jauh darinya. Setelah berhasil mempersiapkan semuanya, Sehun langsung menempatkan dirinya pada sebuah kursi kosong yang berada tepat disebelah Surin. “Aku akan menunjukan sesuatu padamu.”

Sehun memutarkan sebuah video dokumentasi yang berhasil membuat Surin menangis ditempat. “Oh Sehun, kau pasti sengaja membuatku menangis seperti ini pada kencan pertamaku, iya kan?”

Video itu berisikan wawancara Sehun dengan semua teman-teman Surin, bahkan juga keluarganya.

Surin tertawa sambil menangis ketika wajah datar dan galak seorang Hwang Taerin muncul pada layar besar itu.

“Untuk apa wawancara segala, sih? Langsung saja nyatakan perasaanmu padanya.” Suara Taerin terdengar nyaring pada video itu membuat Sehun dan Surin tertawa bersama.“Baiklah karena aku sedang dalam waktu luang, aku bersedia. Tadi apa pertanyaannya? Oh ya, pertanyaanmu tadi adalah Surin itu membutuhkan seorang laki-laki yang seperti apa, iya kan?”

“Jang Surin itu orang yang keras kepala, cengeng, dan terkadang sangat kekanakan. Menurutku Surin membutuhkan seorang laki-laki yang bersedia mendengarkan semua kekerasan kepalanya, menanggapi tangisannya walaupun hanya karena disebabkan oleh hal-hal kecil sekalipun, dan menjadikannya seorang yang lebih dewasa. Ku rasa kau sangat masuk ke dalam kriteria itu. Semangat Oh Sehun! Kau pasti bisa menyatakan perasaanmu padanya. Sudah dulu ya, annyeong Surin-a! Jangan berani-berani untuk menolak laki-laki tampan seperti Sehun ya!”

Surin tertawa sementara Sehun terdiam, merasa menyesal menaruh wawancara dengan Taerin pada bagian pertama dokumentasi itu. Kini seseorang muncul dalam layar besar itu dengan pose yang membuat Sehun dan Surin tertawa seketika. Ya, gadis yang sedang tertidur dengan mulut setengah terbuka dan kacamata yang letaknya sudah tidak beraturan itu adalah Park Cheonsa, salah satu teman dekat Surin selain Taerin.

“Oh Sehun, kau mengganggu tidur siangku, kau tahu?!” Cheonsa tampak menguap dengan lebar sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. “Baiklah karena ini untuk masa depan Surin, aku akan membantumu. Hm, kau menanyakan tentang tipe ideal Surin? Seingatku Surin pernah memberitahuku bahwa ia menyukai seorang laki-laki yang bersifat tenang, bertubuh tinggi, berkulit putih susu, bibirnya berwarna pink merona, matanya tajam, alisnya tebal dan terlihat lucu saat bertaut, rambutnya lembut menutupi dahi, lalu apa lagi ya? Aku lupa. Tapi sepertinya itu merupakan ciri-ciri orang yang ia sukai, bukannya tipe ideal.”

“Lalu menurutmu, siapa orang itu?”

“Kalau dilihat dari ciri-ciri yang diberikan Surin, aku tidak bisa menebak orang lain selain dirimu. Semua itu jelas adalah ciri-ciri seorang Oh Sehun. Surin-a, kau memang tidak pintar menyembunyikan rahasia. Aku tahu kau menyukai Sehun sejak dari lama, jadi terima saja pernyataan cintanya ya? Sudah dulu. Aku ingin melanjutkan tidur siangku yang terpotong. Annyeong!”

Cheonsa berganti menjadi empat orang yang hanya menunjukan rambutnya saja. Dalam kurang dari tiga detik, empat orang itu menunjukan diri mereka. Mereka tidak lain tidak bukan adalah Chanyeol, Jongin, Baekhyun, dan Jimi yang berada di antara ketiga laki-laki tersebut.

Jimi adalah adik kandung Surin yang mungkin tidak akan pernah Surin ketahui kalau adik satu-satunya itu ternyata adalah orang yang Baekhyun sebut-sebut selama ini kalau saja gadis yang kini menduduki bangku kelas terakhir tingkat SMA itu tidak memberitahunya. Ya, Baekhyun malah bertemu dengan adik Surin melalui aplikasi bernama ‘Secret’ itu. Pantas saja saat pertama kali Baekhyun bercerita bahwa ia baru saja bertemu dengan gadis bernama ‘Jimi’ karena aplikasi itu, perasaan Surin tidak enak, curiga bahwa Jimi yang dimaksud adalah Jimi adik kandungnya. Ternyata benar saja, sesampainya dirumah, Jimi bercerita hal yang sama dengan Baekhyun. Dunia benar-benar sempit,

“Annyeong, Surin unnie!” Suara Jimi terdengar nyaring sementara ketiga laki-laki yang berada di dekatnya juga tidak kalah heboh. Mereka meniupkan terompet dan membawa balon-balon berbentuk hati bertuliskan ‘Se-Hun-Su-Rin’ yang masing-masing orang memegang satu kata.

“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan Sehun oppa tadi. Alasan Surin unnie harus menerima Sehun oppa adalah karena ia sangat tampan seperti manga-manga yang ada pada komik Jepang! Jangan berpikir panjang lagi, kau harus segera menerimanya untuk keturunan yang terjamin seratus persen kualitasnya!”

Sehun dan Surin tertawa terbahak bersama ketika mendengar ucapan Jimi barusan. “Adikmu itu benar-benar kau kedua.” Komentar Sehun sementara Surin masih asik tertawa.

“Surin-a, alasan kau harus menerima Sehun adalah karena dia sudah menyukaimu sejak kita duduk di bangku taman kanak-kanak! Jangan membuatnya menunggu lagi, aku kasihan melihatnya. Bahkan rasanya aku ingin mewakilinya untuk menyatakan perasaannya padamu.” Jongin bersuara dan ketiga orang lainnya tampak mengangguk menyetujui.

“Menurutku kau harus menerimanya karena Sehun adalah tipe laki-laki yang tidak akan kau temukan dimana pun juga. Kalau kata quotes tumblr yang baru saja aku baca, ‘marry someone who wants to bother you until both of you can’t even laugh anymore’. Sehun adalah orang itu, Surin-a! Dia siap mengganggumu sampai kalian berdua tidak lagi bisa tertawa.” Chanyeol mengambil alih membuat yang lain langsung berseru dengan heboh.

“Dan yang terakhir, alasan kau harus menerima Sehun adalah karena laki-laki itu sangat sayang pada Vivi, anak anjingnya!” Baekhyun berujar membuat yang lain langsung memukulinya dengan balon-balon berbentuk hati tersebut. “Aish, aku belum selesai. Kalau pada anak anjing saja sudah sangat sayang, apalagi dengan anak kalian kelak. Iya, kan?”Baekhyun berujar membuat yang lain langsung tertawa terbahak.

Surin bahkan kini sudah menangis sambil tertawa. Surin tidak berani untuk sekedar menoleh ke arah Sehun yang berada di sebelahnya. Mungkin karena gadis itu belum dapat mempercayai apa yang baru saja ia dengar dan lihat. Sehun menyodorkan tissue dan Surin langsung mengambilnya. “Mau dilanjutkan atau tidak?” Ujar Sehun membuat suasana semakin canggung dan tidak enak. Surin hanya mengangguk sambil sesenggukan.

“Ini yang terakhir.” Ujar Sehun lalu menekan tombol ‘play’ pada video yang sempat ia pause itu.

Kedua orang tua serta kedua kakak laki-laki Surin tampak muncul pada layar besar itu membuat tangisan Surin semakin kejar. Keempat orang yang duduk berjajar itu tampak tersenyum lembut memperhatikan kamera.

“Baiklah, kami disini hanya ingin membantu Sehun. Kami sangat setuju jika kau bersanding dengannya, Surin-a. Sudah kita ketahui bahwa ia adalah anak muda yang sangat baik. Ia juga yang sudah melindungimu selama lebih dari delapan belas tahun ini. Kami mengharapkan yang terbaik untuk kalian.” Ayahnya bersuara sementara yang lain langsung mengangguk menyetujui.

“Eomma juga sangat mendukung kalian. Setelah sesi ini berhasil, kalian langsung menikah saja!” Ibunya berujar membuat yang lain langsung tertawa terbawa suasana. “Kami berdua selaku kakak kandungmu juga setuju. Tidak boleh yang lain selain Oh Sehun.” Kakak pertama Surin mengambil alih sementara kakak keduanya hanya mengacungkan jempolnya sambil tertawa. “Aku juga satu suara dengan mereka.” Ujar kakak keduanya, mengakhiri wawancara tersebut.

Surin masih tidak bisa berhenti menangis membuat Sehun segera bangkit berdiri lalu berlutut di hadapan Surin. Ia menangkup wajah Surin yang sudah basah itu dengan sebuah senyuman yang tidak bisa berhenti berkembang. Sehun menghapus air mata Surin dengan kedua ibu jarinya. “Jangan menangis dulu, masih ada satu lagi yang harus aku beritahu padamu.”

Sehun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu mengetikan sesuatu disana. Seketika suara notifikasi ponsel Surin memecah keheningan. Surin segera mengambil ponselnya dari dalam tas kecilnya lalu membuka notifikasi yang ternyata dari aplikasi ‘Secret’ itu. Ia mulai membacanya dengan perlahan.

@9404 : Cengeng. Gadis cengeng.

“Handphone-ku error. Tunggu sebentar. Mana ya file yang mau aku tunjukan padamu itu?!” Ujar Sehun sementara Surin masih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Surin memutuskan untuk membalas pesan tersebut.

@0130 : Oh Sehun aku tahu ini dirimu. Dasar laki-laki kurang ajar. Lihat saja, dalam hitungan ketiga aku akan menghabisimu!!!!

@9404 : Tunggu! Jawab dulu pertanyaanku.

@0130 : Pertanyaan apa? Cepat. Aku tidak sabar untuk menghitung sampai tiga.

@9404 : Jang Surin, gadis paling cengeng sedunia, maukah kau menjadi pendampingku sampai akhir nanti?

@0130 : Kau bahkan sudah mengetahui jawabanku sejak awal. Untuk apa masih bertanya?

@9404 : Aku anggap itu sebagai iya.

@0130 : 1

@0130 : 2

@0130 :

Surin baru saja akan mengetikan angka ‘3’ namun seketika ia merasakan gerakan tangan Sehun yang menarik tangannya dengan cepat, dan dalam hitungan detik yang Surin tahu adalah kini bibir berwarna pink merona milik Sehun sudah mendarat dengan sangat cepat pada bibirnya. Surin berusaha untuk menggerakan tangannya namun Sehun malah memperdalam ikatan bibir mereka, seolah melarang Surin untuk menghentikan pernyataan cintanya.

“Terima kasih.” Sehun berujar seraya menyelipkan rambut Surin kebelakang daun telinga gadis itu. “Aku yang seharusnya berterima kasih.” Surin menatap kedua bola mata tenang itu, berusaha menyalurkan perasaannya yang sesungguhnya.

“Aku mencintaimu, 9404.” Surin memeluk leher Sehun dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Sehun yang lebar. Surin sangat mencintai laki-laki itu, sampai ia sendiri tidak mampu lagi untuk mengungkapkannya dalam kata-kata.

“Aku juga mencintaimu, 0130.”

Dan Sehun berjanji akan terus mencintainya. Gadis 0130, gadis yang selamanya akan menjadi warna terang dalam kehidupannya.

-FIN

Hope you enjoyed it! Please send your thoughts about this fanfic. Thanks and see ya! Kunjungin juga wordpress aku untuk ff yang lain ya! Here’s the link : http://ohmarie99.wordpress.com

19 thoughts on “Secret

  1. demi bulu ketek biawak/? Gila ini ff sweet banget thorr. Ga terlalu panjang dan ga bertele2 juga, konfliknya ga gitu berat tapi ga ngebosenin, seru banget. Pemilihan bahasanya juga bagus. Suka banget!! Keep writing ya, ditunggu karya selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s