Medical In Love (Chapter 6)

Medical in Love

 poster medical in love

Author : Shim Na Na

Genre : Romance

Rating : General, Teenager

Length : Multichapter (3.923 words)

Cast :

Park In Jung (OC)

Kim Jongin (EXO – Kai)

Oh Sehun (EXO – Sehun)

Etc

Kai berjalan di depan In jung, jarak mereka cukup jauh satu sama lain tapi mereka tidak menyadarinya. Kai dan In jung tidak mengatakan apa-apa setelah keluar dari area memetik stroberi. Hawa canggung yang berada di sekitar mereka secara tidak langsung menciptakan jarak diantara mereka berdua. In jung berada jauh di belakang Kai, berjalan tanpa melihat kesekelilingnya, memandang ke depan tetapi pikirannya entah jauh dimana. Dia berpikir haruskah dia menanyakan sesuatu kepada Kai, tapi dia tidak mau merusak suasana perjalanan mereka. Kai yang berjalan di depan akhirnya menoleh ke belakangnya, karena merasa janggal tidak mendengar suara In jung di dekatnya.

“Oh, In jung-ssi, kemana dia pergi ?” Kai mencari In jung yang tidak berada di dekatnya. Keadaan yang masih ramai membuat Kai kesulitan mencari In jung. Kai pergi ke tempat yang cukup lapang, lalu mencari In jung dari kejauhan. Beberapa kali dia meneriakan nama In jung sambil terus melihat ke segala arah, barangkali In jung tersesat, itulah yang dicemaskan Kai.

“Sepertinya ada yang memanggil namaku. Loh, dimana Kai ?” In jung akhirnya sadar dia terpisah dari Kai. In jung mencari Kai di tengah kerumunan pengunjung. Beberapa kali dia terdorong kesana kemari karena banyaknya orang yang berdesak-desakan. Akhirnya setelah beberapa menit, In jung bisa melihat Kai di luar kerumunan di samping sebuah stand suvenir. Kai juga melihat In jung di saat yang sama, pandangan mereka bertemu. Raut wajah Kai langsung berubah lega, sedang In jung merasa selamat karena menemukan dimana Kai berada.

Kai masih melambaikan tangannya ke arah In jung, perlahan dia berjalan menuju In jung, In jung berjuang keras keluar dari kerumunan orang yang mengelilinginya, badannya yang kecil cukup kesulitan untuk menahan desakan orang-orang yang berusaha masuk ke area pemetikan stroberi. Hanya tinggal sedikit lagi untuk keluar dari kerumunan, In jung kehilangan Kai. In jung tidak melihat Kai di tempat dimana Kai berdiri tadi, saat itulah seseorang mencengkram tangannya lalu menariknya keluar dari kerumunan. In jung tertarik keluar, lalu melihat siapa yang menarik tangannya, ternyata Kai.

“Kau ini In jung-ssi, hampir saja kau hilang lagi di dalam kerumunan itu. Kan sudah ku bilang jangan berjalan jauh dariku, nanti bisa bahaya.” Kai melihat In jung sambil menggelengkan kepalanya, seperti seorang ayah yang sedang menasehati anak perempuannya.

“Aah..jeosonghamnida. Aku tidak bermaksud begitu, hanya saja aku pikir kau ada di depanku.” In jung menatap Kai dengan ekspresi sedih dan menundukkan kepalanya. Kai yang awalnya memasang ekspresi serius langsung berubah setelah melihat In jung. Sekarang Kai merasa bersalah telah membiarkan In jung berjalan sendirian dan malah berbicara seakan akan In jung lah yang sepenuhnya salah.

“Aah.. anieyo.. semestinya akulah yang meminta maaf. Semestinya aku tidak membiarkanmu tertinggal jauh di belakang. Jadi mulai sekarang kita harus benar-benar jalan secara bersamaan agar kau tidak menghilang lagi In jung-ssi.” Kai melemparkan senyumannya ke arah In jung yang dengan seketika membuat In jung terkesima.

“Uhmm.. bagaimana kalau kita berkeliling sebentar, selagi masih disini, tadi aku melihat banyak stand disini, bagaimana menurutmu In jung-ssi ?” Kai berusaha bersikap lebih ramah agar In jung merasa nyaman.

“Hmm.. sepertinya begitu.” In jung melihat ke sekelilingnya, memang banyak stand yang berada di sekeliling area perkebunan.

“Bagaimana kalau kita kesana, sepertinya stand suvenir yang disana itu bagus.” In jung menunjuk salah satu stand suvenir tempat Kai tadi berdiri menunggunya. Kai memberikan anggukan kepala, mereka berjalan bersama menuju stand yang ditunjuk In jung. Kali ini giliran Kai yang berjalan sangat dekat dengan In jung, In jung merasa seakan-akan dia berjalan bersama seorang bodyguard karena Kai berjalan begitu dekat dengannya. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi In jung tidak bisa berbohong kalau dia merasa benar-benar bahagia bersama Kai.

In jung dan Kai berhenti di depan stand suvenir, pemuda pemilik stand menyambut mereka dengan ramah. Ternyata stand itu juga menjual pernak pernik, In jung mengambil sebuah bracelet berwarna biru merah dan mencobanya. Setelah bracelet itu terpasang di tangan kirinya, In jung menunjukkannya kepada Kai dengan senyuman lebar. Kai melihat In jung yang memasang wajah polosnya yang sedang tersenyum, membuat Kai tidak ingin mengedipkan matanya. Kai mengambil bracelet yang sama seperti milik In jung dan memakainya. In jung tentu saja terkejut melihat apa yang dilihatnya, Kai kini memakai bracelet yang sama persis di tangan kanannya.

“Ini berapa ?” Kai menanyakan harga bracelet yang dipakainya.

“Kau bisa mendapatkan keduanya dengan 20 ribu won tuan.” Pemuda itu tersenyum, seorang pengunjung akan membeli dagangannya. Kai memberikan uang pada pemuda itu sambil mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, kalian pasangan yang serasi. Semoga kalian selalu bahagia.” Pemuda penjual itu tersenyum lagi kepada Kai dan In jung. In jung lagi-lagi tidak sempat mengklarifikasi apa yang dikatakan oleh penjual itu bahwa mereka bukanlah pasangan kekasih, tapi Kai sudah berbalik badan untuk segera pergi dari depan stand suvenir itu. In jung hanya bisa tersenyum dengan ekspresi aneh pada pemuda itu dan segera berlari mengejar Kai yang sudah mulai berjalan.

“In jung-ssi, ayo kita ke stand yang disana, sepertinya bagus.” kata Kai setelah In jung sudah berhasil mengejarnya dan kini berjalan disampingnya.

“Ooh..iya, baiklah.” In jung menuruti perkataan Kai, dia sedang tidak bisa berkata apa-apa karena mulai merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Apakah ini karena dia berjalan disamping Kai ?

Kai sudah berhenti berjalan, dia berdiri memandangi kerumunan orang yang lalu lalang dengan latar pemandangan bukit hijau dan paduan cahaya matahari yang berwarna keemasan serta birunya langit di perkebunan itu. Kai mengeluarkan ponselnya untuk mengambil beberapa foto pemandangan yang ada, mengambil foto dari beberapa sudut yang berbeda. Saat akan mengambil foto berikutnya, tiba-tiba wajah In jung muncul di layar ponsel Kai. Kai menjepret fotonya dan secara tidak sengaja wajah In jung ada di dalamnya.

“Kai, kau sedang apa ?” In jung menghampiri Kai yang sepertinya tidak sadar bahwa wajahnya ada di dalam foto yang barusan diambil Kai.

“Tidak ada. Hmm.. In jung-ssi, kau merasa lapar tidak ? Bagaimana kalau kita makan dulu, pasti ada warung yang menjual makanan khas disini.” kata Kai yang buru-buru memasukkan ponsel ke dalam kantong celananya. In jung manganggukkan kepalanya. Mereka berjalan sampai tiba di sebuah warung makan sederhana milih penduduk di area perkebunan, dan segera masuk untuk mengisi perut yang sudah kelaparan.

Hari sudah mulai sore ketika In jung dan Kai selesai makan. Mereka berjalan menuju halte untuk menaiki bus yang akan mengantar mereka ke stasiun. Kai dan In jung sampai di stasiun kereta, menaiki kereta sesuai dengan tujuan yang tertulis di tiket. Kai dan In jung duduk bersebelahan karena hanya dengan begitu mereka bisa duudk di dalam kereta. Kereta sore itu dipenuhi orang-orang yang akan kembali dari wilayah perkebunan menuju tempat tujuan masing-masing. Kai dan In jung duduk di depan sepasang harabeoji dan halmoni yang menyambut mereka dengan senyuman.

Selama perjalanan, mereka saling bertukar cerita. In jung yang merasa lelah tidak kuat menahan rasa kantuknya. Matanya yang berat lama-kelamaan tertutup rapat, In jung tertidur. Karena tertidur dalam posisi duduk, beberapa kali kepala In jung terangguk-angguk ke segala arah dan rambutnya yang tergerai sudah berantakan menutupi wajahnya. Awalnya Kai hanya tersenyum melihat In jung yang tertidur, tapi karena merasa kasihan, Kai meminjamkan bahunya sebagai tempat kepala In jung bersandar. Kai menyentuh rambut In jung yang tergerai dan merapikannya, kini wajah In jung yang polos bisa dilihat dengan jelas oleh Kai. Kai terdiam memandangi wajah polos Injung yang tertidur dengan tenangnya. Kai membelai rambut In jung dengan sangat hati-hati agar In jung tidak terbangun. Senyuman Kai terlihat diwajahnya, merasa sangat bahagia bisa melihat In jung yang dengan polosnya tertidur di bahunya.

“Kau beruntung sekali nak, memiliki kekasih semanis dirinya. Kau pasti sangat menyayanginya.” Halmoni yang duduk di depan Kai tersenyum sambil memandangi In jung yang masih tertidur.

“Ah, ne.” Kai tersenyum mendengar perkataan nenek itu dan kembali melihat ke arah In jung. Kai berpikir, sudah beberapa orang yang mengira bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, padahal kenyataannya tidak. Tapi entah kenapa Kai tidak mengomentari perkataan orang-orang, dia hanya merasa sangat senang bisa berada disamping In jung seperti saat ini. Kai menyukai saat-saat dia bisa menghabiskan waktu bersama In jung.

Sebenarnya, In jung bukanlah satu-satunya wanita yang pernah Kai ajak untuk pergi bersamanya. Sebelumnya, Kai sudah sering pergi bersama wanita lainnya. Kai sering didekati oleh para wanita karena kharismanya yang begitu menarik perhatian. Kai tidak pernah benar-benar menanggapi serius wanita-wanita yang mendekatinya. Menurut Kai, wanita-wanita itu sama saja dengan lainnya, tidak ada yang spesial. Tapi saat bersama In jung, rasanya Kai benar-benar bahagia dan selalu ingin bersamanya, tapi dia memilih merahasiakan ini dari In jung ataupun lainnya, menurut Kai semua ini terasa begitu cepat. Kai menyadarkan kepalanya, memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar sebelum sampai di stasiun selanjutnya. Sisa perjalanan di kereta dihabiskan dengan beristirahat, Kai dan In jung yang tertidur pulas menjadi pemandangan yang lucu bagi para penumpang kereta lainnya. Para penumpang lainnya tersenyum melihat Kai dan In jung yang sedang tertidur.

Kai terbangun beberapa menit sebelum kereta berhenti. Kereta sudah lumayan sepi karena beberapa penumpang sudah turun di pemberhentian sebelumnya. Kai melihat ke arah jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kai melirik ke arah In jung yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Kai. Kai dengan hati-hati bergerak merenggangkan badannya yang terasa sedikit pegal, mencoba untuk tidak membangunkan In jung. Kai tidak tega membangunkan In jung yang masih tertidur pulas di samping. Kai berhati-hati menegakkan kepala In jung dari bahunya, tapi dia gagal karena tiba-tiba In jung tersentak dari tidurnya yang juga membuat Kai terkejut. Kai langsung melepaskan tangannya yang tadi memegang kepala In jung. In jung terbangun dan bertingkah seperti orang kebingungan, dia tidak menghiraukan Kai yang memasang wajah kebingungan di sampingnya.

“In jung-ssi, apakah kau baik-baik saja ?” Kai bertanya pada In jung yang masih terlihat linglung karena baru saja terbangun dari tidurnya. In jung melihat ke arah Kai.

“Hmm…biarkan aku tidur sebentar lagi.” In jung kembali menyenderkan kepalanya ke bahu Kai, tentu saja Kai tidak menyangka apa yang dilakukan In jung. Kai terlihat shock karenanya, tapi Kai memilih diam dan hanya membiarkan In jung meminjam bahunya sebentar lagi.

Kereta sudah berhenti di stasiun dimana Kai memarkirkan mobilnya tadi. Kai mencoba untuk membangunkan In jung, mencoba mengguncangkan dengan pelan tubuh In jung yang ada di sampingnya sambil memanggil nama In jung berkali-kali.

“In jung-ssi, kau tidak mau bangun ? Kita sudah sampai di stasiun. Kalau kita tidak cepat turun bisa-bisa kereta ini lanjut ke stasiun lainnya. In jung-ssi…In jung-ssi…..” Kai masih berusaha membangunkan In jung yang bergumam tidak jelas. Akhirnya In jung bangun dari tidurnya, melihat ke arah Kai dengan menyipitkan kedua matanya.

“Kai, kau kah itu ? Kita sudah sampai mana ? Kenapa keretanya berhenti ?” In jung menepuk-nepuk pipinya supaya kesadarannya kembali.

“Kita sudah sampai, ayo cepat kita turun sebelum keretanya bergerak.” Kai sudah berdiri menunggu In jung yang masih membereskan barang-barangnya.

Kai dan In jung turun dari kereta berjalan menuju parkiran mobil tempat Kai memarkirkan mobilnya. Kai berjalan sambil tersenyum, sedangkan In jung berjalan di sampingnya dengan mata sedikit tertutup, In jung masih merasa mengantuk. In jung melihat ke arah Kai yang sedari tadi masih saja tersenyum, membuat In jung bertanya tanya apa yang membuat Kai tersenyum seperti itu tapi In jung merasa bimbang untuk menanyakannya pada Kai. Akhirnya In jung memilih untuk bertanya pada Kai saat mereka sudah duduk di dalam mobil.

“Hmm… apakah ada sesuatu yang terjadi selama aku tertidur ?” In jung membuka percakapan nya dengan Kai.

“Tidak ada.” Kai menjawab singkat tapi masih tersenyum. In jung tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. In jung mencoba berpikir keras kenapa sedari tadi Kai hanya tersenyum sendiri, In jung curiga pastilah sesuatu terjadi saat dia tertidur di kereta. Apakah selama dia tertidur, dia mengigau ? Kalau benar pastilah itu yang membuat Kai tersenyum menahan tawa sedari tadi, tapi apa benar dia mengigau.

“Apakah aku mengigau saat tertidur ?” In jung bertanya lagi pada Kai. Kai hanya tersenyum geli, berusaha menahan tawanya dan berdehem beberapa kali untuk mengontrol diri agar tidak tertawa. In jung langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa malu sekali. In jung kira perjalanan kali ini akan berjalan lancar, tapi ternyata masih saja ada hal konyol yang dilakukannya tanpa sadar sehingga Kai bertingkah laku seperti itu. Kai melihat ke arah In jung yang menutup wajahnya karena malu, Kai hanya tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi.

“Hahaha..kau tidak perlu khawatir In jung-ssi. Tidak ada hal aneh yang terjadi saat kau tertidur, kau tidak usah berpikir yang aneh-aneh. Sudahlah jangan menutup wajah seperti itu.” Kai mengelus kepala In jung dengan lembut. In jung seketika terdiam karena merasakan tangan Kai yang menyentuh kepalanya, tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. In jung menekankan tangannya lebih kuat menutupi wajahnya, bukan karena malu dengan hal yang dipikirkannya tadi, tapi takut kalau-kalau Kai melihat wajahnya yang sudah berubah menjadi sangat merah.

Kai sudah memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah In jung yang menunggu kepulangan pemiliknya. In jung membuka pintu mobil dengan perlahan setelah Kai mematikan mesin mobilnya. Kai menemani In jung sampai ke depan pintu rumahnya.

“Ini, ambilah milikmu. Kau sudah memetiknya, sayang kalau kau tidak mengambilnya.” Kai menyerahkan kantong berisi stoberi milik In jung. In jung mengintip isi kantong yang diberikan Kai padanya, ternyata isinya banyak sekali.

“Tunggu, kita harus membaginya. Tidak mungkin stroberi sebanyak ini milikku semua. Tunggu sebentar.” In jung mengeluarkan beberapa kotak stroberi dari bungkusan plastik yang dipegangnya lalu menaruh kotak-kotak stoberi itu di atas meja kecil yang ada di depan teras rumahnya.

“Ini milikmu.” In jung menyerahkan kantong berisi stroberi milik Kai. Kai menerimanya tanpa mengatakan apapun.

“In jung-ssi, terima kasih karena mau menemaniku hari ini. Aku sangat senang sekali. Lain kali kau mau kan aku ajak pergi lagi ?” Kai memandangi In jung yang berdiri di depannya dengan jarak yang dekat, Kai bisa melihat dengan jelas wajah In jung yang sedang balas memandanginya.

“Aah.. seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena kau mau mengajakku pergi bersama. Hmm.. kita akan pergi lagi bersama-sama ? Aah..tentu saja tentu saja. Haha.” In jung jelas bingung menjawab pertanyaan Kai. Pikirannya langsung melambung jauh untuk menjawab pertanyaan Kai. Apakah benar Kai akan mengajaknya pergi bersama lagi, tapi kapan ? In jung berusaha mengontrol pikirannya yang melayang jauh, mencoba kembali fokus pada Kai yang masih berdiri di depannya.

“Baiklah, aku akan pulang.” Kai berjalan kembali ke arah mobilnya, In jung mengikuti untuk mengantarkannya sampai ke depan pintu pagar.

“Kai, terima kasih ya. Selamat beristirahat, hati-hati di jalan.” In jung membungkukkan badannya tanda terima kasihnya pada Kai. Kai memberikan anggukan kepala pada In jung.

“In jung-ssi, kau masuklah ke rumah, pergilah beristirahat. In jung-ssi, annyeong.” Kai sudah masuk ke dalam mobilnya, mulai menekan gas mobil dan mobil pun bergerak perlahan meninggalkan In jung yang berdiri di depan pagar sambil melambaikan tangannya ke arah mobil Kai yang makin lama semakin menjauh dari rumahnya. Kai melirik kaca spion mobilnya sambil tersenyum puas, melihat In jung yang masih melambaikan tangannya menunggu mobil Kai terlihat semakin kecil karena menjauh.

In jung masuk ke dalam rumah setelah selesai mengantarkan Kai berpamitan pulang. Segera setelah mandi, In jung bersantai di atas kasur kesayangannya sambil memandangi bracelet yang tadi dibelinya bersama Kai. In jung tidak pernah menyangka kalau sekarang dia memiliki barang yang sama dengan Kai. In jung tidak pernah menyangka sedikitpun bahwa dia bisa merasa sebahagia ini. Sedang asik tersenyum sambil memandangi braceletnya, tiba-tiba ponsel In jung berdering. In jung meraih ponsel yang ada di atas meja, melihat ke arah layar ponselnya dan betapa terkejutnya In jung. Sehun menelponnya, apa yang membuat Sehun tiba-tiba menelponnya ?

“Yeoboseyooo..” In jung mengangkat telpon.

“Eoh, yeoboseyo. In jung ah~ , wah sudah lama aku tidak mendengar suaramu. Bagaimana kabarmu ? Kau pasti terkejut kan aku menelponmu. Tunggu, jangan bilang kau belum menyimpan nomorku kan ?” Sehun berbicara dengan suaranya yang nyaring.

“Ne ? Ah tidak. Aku sudah menyimpan nomor ponselmu di kontakku. Haha..iya aku pikir siapa yang menelponku. Ada apa, Sehun ?” In jung sebenarnya benar-benar terkejut kenapa bisa Sehun menelponnya sedangkan seingatnya dia tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada Sehun.

“Hahaha..aku memang penuh kejutan kan. Tunggu saja 5 menit lagi aku akan sampai di depan rumahmu. Cepat bersiap, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

“Apa ? Sekarang ? Maksudmu malam ini ?” In jung masih tidak mengerti apa yang dikatakan Sehun.

“Sudah jangan membuang waktu, cepat bersiap dan tunggu aku ya.” Sehun mengakhiri telponnya. In jung terdiam sejenak sambil memandangi layar ponselnya. Apa dia tidak salah, barusan Sehun menelponnya. In jung melihat ke arah jam dindingnya, Sehun bilang 5 menit lagi dia akan tiba di depan rumah, kalau memang yang dikatakan Sehun, In jung tidak punya banyak waktu lagi dan harus segera bersiap-siap.

Benar saja, 5 menit setelah telpon ditutup, Sehun tiba di depan rumah In jung. Untunglah In jung sudah selesai bersiap sebelum Sehun tiba. Sebenarnya In jung merasa sedikit heran, kenapa tiba-tiba Sehun mengajaknya pergi. Apakah tidak masalah kalau dia pergi bersama Sehun, bagaimana kalau dia menolak pergi bersama Sehun. Tapi dipikir-pikir lagi kenapa juga In jung harus menolak ajakan Sehun, tapi apa benar dia akan baik-baik saja kalau mengiyakan ajakan Sehun. In jung berkutan dengan pikirannya sendiri, dan akhirnya memilih untuk tetap pergi bersama Sehun.

Seperti sebelumnya, Sehun memperlakukan In jung dengan sangat baik. Sehun membukakan pintu mobil untuk In jung dan menutupnya kembali setelah In jung duduk, itu yang membuat In jung merasa berbunga-bunga.

“In jung ah, kau belum makan malam kan ? Kita akan pergi ke tempat makan kesukaanku. Kau mau kan ?” Sehun lebih terlihat berbunga-bunga malam itu, dia sangat ceria. Tak berapa lama setelahnya, Sehun berhenti di sebuah rumah makan yang terlihat ramai pengunjung. Untungnya In jung tidak berekspektasi terlalu tinggi bahwa Sehun akan mengajakknya ke sebuah restoran yang mewah, karena kenyataannya Sehun mengajaknya ke sebuah rumah makan yang sederhana tapi ramai sekali pengunjungnya.

“In jung ah, kau sudah pernah makan disini belum ? Ini salah satu tempat makan kesukaanku. Disini sangat ramai, tapi untungnya aku sudah memesan tempat untuk kita berdua. Ayo cepat kita masuk sebelum menu favoritnya habis.” Sehun mendorong In jung segera untuk masuk ke dalam rumah makan itu, menerobos beberapa pengunjung yang masih mengantri untuk bisa masuk ke dalamnya.

Sesampainya di dalam, Sehun melambaikan tangannya ke salah satu pelayan disana, dengan segera pelayan itu bergegas mengantarkan mereka ke meja yang sudah dipesan Sehun sebelumnya. Sehun dan In jung menunggu pesanan mereka sambil bertukar cerita.

“Mianhaeyo In jung ah, aku belum sempat menghubungimu kemarin. Tau-tau setelah kita bertemu, aku ditugaskan pergi keluar kota, huh benar-benar melelahkan. Padahal aku berencana mengajakmu esok harinya. Aku ingin menghubungimu tapi saat disana ponselku rusak karena terjatuh. Saat aku mengganti dengan ponsel cadangan, nomormu tidak ada. Jadi aku tidak bisa menghubungimu sebelum ponselku ini selesai diperbaiki, mianhaeyo In jung ah~” Sehun memasang wajah memelasnya.

“Ne, gwaenchanaaa, tidak perlu dipikirkan. Aku juga tidak menghubungimu karena takut mengganggumu, aku pikir kau memang sibuk jadi aku tidak mau mengganggumu. Ah, tapi, bagaimana kau bisa punya nomerku ? Aku tidak memberimu kartu nama.”

“Aah..soal itu. Aku sudah menyimpan nomer ponselmu. Ingat waktu ponselmu tertinggal di mobil saat aku mengantarkanmu pulang ? Saat itu aku menyimpan nomermu. Haha, maafkan aku ya karena tidak sopan.” Sehun menggaruk-garuk kepalanya karena salah tingkah mengakui kelakuannya.

“Aah, begitu.” In jung hanya menganggukkan kepalanya. Pesanan mereka pun datang, Sehun dan In jung mulai menyantap makan malam mereka. Tiba-tiba In jung ingat satu hal yang membuat wajahnya memerah. Bukankah siang tadi dia juga makan bersama Kai, dan sekarang dia makan bersama Sehun. Bagaimana ini, apakah tidak apa-apa dia menerima saja semua yang sudah terjadi. Kai dan Sehun kan saling mengenal, In jung merasa tidak enak hati tapi dia tidak bisa menolak ajakan Sehun.

“In jung ah, kau kenapa ? Wajahmu memerah, apakah kau sedang sakit ?” Sehun bertanya sambil mengunyah makanannya. In jung menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun.

Setelah selesai makan, Sehun mengantarkan In jung pulang ke rumah. Sehun mengantarkan In jung sampai ke depan pintu rumah dengan membawa sebuah kotak bingkisan yang disembunyikan dibalik punggungnya.

“In jung ah, tunggu sebentar. Aku ingin memberikanmu ini.” Sehun menyerahkan bingkisan yang dipegangnya kepada In jung. In jung tentu saja kebingungan.

“Aah.. itu bukan apa-apa. Itu hanya barang kecil yang kubeli kemarin saat pergi keluar kota. Aku pikir tidak ada salahnya membawakanmu oleh-oleh dari sana. Lagi pula, hitung-hitung sebagai permintaan maafku karena belum sempat menghubungimu kemarin. Sudah ambil saja.” Sehun menjawab kebingungan yang tersirat di wajah In jung.

“Wah, kenapa kau repot-repot Sehun, aku jadi tidak enak padamu.” In jung menerima bingkisan itu. Bingkisan itu cukup berat dengan ukuran yang cukup besar. In jung mengguncang-guncang kotak bingkisan itu, mencoba menerka apa isi di dalamnya.

“Bukalah, kenapa kau cuma mengguncangnya ?” Sehun menganggukan kepalanya kepada In jung, menyuruh In jung agar segera membuka kotak bingkisan yang barusan diberikannya. Sehun melihat dengan antusias saat In jung membuka kotak itu. In jung melihat isi kotak yang sudah dibukanya, sebuah tas ransel wanita berwarna coklat terbuat dari kulit terletak di dalam kotak itu. In jung mengeluarkan tas itu dengan hati-hati dari dalam kotak, In jung tidak menyangka Sehun akan memberikannya tas itu sebagai oleh-oleh, tas itu tentu saja mahal harganya.

“Sehun, kau tidak bercanda ? Tas ini kan mahal, kenapa kau memberikannya padaku ?”

“Kenapa ? Kau tidak suka ? Itu hanya oleh-oleh, tidak usah dianggap serius. Jangan lupa dipakai ya. In jung-ah, sudah dulu ya, aku pamit dulu.” Sehun sudah memutar badannya saat In jung memanggilnya.

“Sehun ah, tunggu sebentar. Aku juga punya sesuatu untukmu. Tunggu disini ya.” In jung bergegas masuk ke dalam rumahnya, berlari menuju dapur dan membuka kulkasnya. In jung mengambil dua kotak kecil berisi stroberi yang tadi dipetiknya bersama Kai. Lalu bergegas keluar lagi menghampiri Sehun yang masih menunggu.

“Ini, ambillah, anggap saja balasan karena kau membawakanku oleh-oleh. Aah..memang tidak seberapa sih. Tapi aku memetiknya sendiri, jadi aku memilihkan yang terbaik di setiap kotaknya.” In jung menyerahkan kotak-kotak stroberi yang segar itu pada Sehun.

“Wah benarkah ? Gomawo In jung ah. Ngomong-ngomong kau habis darimana ? Memangnya disini ada kebun stroberi ?” Pertanyaan Sehun langsung membuat In jung sadar, stroberi yang diberikannya pada Sehun kan stroberi yang tadi dipetiknya bersama Kai saat mereka pergi bersama. In jung terdiam sesaat, wajah Kai tiba-tiba muncul di pikirannya. Kai, apakah dia tau kalau sekarang In jung sedang bersama Sehun ?

“In jung ah…In jung ah.. Kau kenapa diam ?”

“Aah tidak. Akuu..aku tadi pergi bersama temanku ke kebun stroberi, tentu saja bukan disini. Ah sudahlah, hari sudah malam. Besok kau harus ke rumah sakit kan, Sehun. Pulanglah, istirahatlah. Oh iya, untuk tas dan makan malamnya, gomawo.” In jung berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Oh benar juga. Baiklah, aku pulang dulu. In jung ah, anyeooong~” Sehun menepuk pelan bahu In jung dan berjalan menuju mobilnya. In jung melambaikan tangannya pada Sehun dan masuk ke dalam rumah setelah Sehun pergi. In jung berjalan menuju dapur mengambil kotak stroberi yang ada di dalam kulkas, membawanya masuk ke dalam kamar tidurnya. In jung meletakkan tas yang di berikan Sehun di rak tasnya. In jung berbaring di kasurnya, mengambil stroberi yang diletakkannya di atas meja. In jung menggigit stroberinya, dan lagi-lagi wajah Kai terbayang dibenaknya. Apa yang dilakukan Kai saat ini ? Haruskah In jung mengirimi Kai pesan singkat ? Lalu bagaimana dengan Sehun ?

TBC…

See you on next chapter ^^…..

Please RCL ^^

Author’s note:

Aaaaa!!! Akhirnya kita udah nyampai chapter 6 aja yaa….

Aduuh jadi terharu ToT

Maaf ya buat yang nunggu kelamaan buat chapter ini atau buat seterusnya, author banyak banget kerjaan lain, nggak kayak dulu pas chapter awal awal yang masih banyak waktu main…sekarang udah sedikit waktu main author ToT

Tapi author tetap ngerjain ff ini kalau lagi waktu luang kok ^^

Pokoknya author cuma minta dukungannya buat para readers tercinta❤

Jangan lupa comment yaa…

11 thoughts on “Medical In Love (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s