Wirklichkeit

Wirklichkeit

kai37

By : Ririn Setyo

Kim Jongin || Song Jiyeon || Park Chanyeol

Genre : Romance ( PG – 15 )

FF ini juga publish di blog pribadi saya : http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Kim Jongin adalah seorang pria yang terlahir dengan semua kemudahan hidup dan kesempurnaan dunia yang tak terbantahkan. Fatamorgana yang selalu menjadi acuan Jongin dalam mengarungi hidupnya selama 20 tahun.

Dia terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga konglomerat, ayahnya adalah pemilik perusahaan pipa baja terbesar di Asia. Ibunya seorang pengacara handal yang dimiliki negaranya, Korea Selatan. Jongin sendiri dianugerahi otak encer hingga mendapat predikat jenius, jangan bicarakan tentang fisik ragawinya, karena Jongin akan semakin tertawa jumawa dalam senyum congkak serasa menjadi penguasa dunia.

Dia tinggi 182 centimeter, pahatan wajahnya lebih sempurna dari kata rupawan, senyumnya dingin namun sangat menyihir detak jantung untuk bertalu lebih cepat tiap kali pria itu menarik kedua sudut bibirnya. Manik matanya hitam pekat, tajam dan melumpuhkan. Seringainya angkuh namun mampu membekukan susunan tulang, pelukannya serasa candu dan ciuman panjang dari bibir seksinya selalu membuat mabuk kepayang hingga para gadis rela menyerahkan diri mereka secara suka rela pada pria itu.

Namun seperti pepatah, jika tidak yang yang abadi di dunia ini.

Termasuk dengan kesempurnaan yang dimiliki Jongin, semua itu tidaklah abadi.

Jongin mengalami kejadian tak terduga, hingga semua kesempurnaan Jongin serasa hilang dan sia-sia. Pria itu bertemu seorang gadis secara tidak sengaja di bandara Incheon, gadis yang tidak menatapnya sama sekali seperti gadis kebanyakan yang selama ini ditemui Jongin. Kejadian langka yang terjadi hanya satu kali di dalam hidup Kim Jongin, bahkan hingga kini Jongin tetap tidak percaya jika dia akan mengalami kejadian itu, kejadian yang melekat di dasar hati sampai detik ini.

Jongin masih sangat ingat dengan kejadian tak biasa itu. 1 minggu lalu, pukul 10 pagi, tepat di dekat pintu kedatangan penumpang pesawat semua kejadian itu bermula.

Hari itu Jongin terpaksa ke bandara untuk pertama kali, karena tidak tahan dengan renggekan Chanyeol yang minta dijemput pagi itu. Perlu diketahui, jika sejak Jongin lahir hingga sekarang, ia selalu mengunakan jet pribadinya yang terparkir di halaman belakang rumahnya tiap kali ia ingin pergi ke negara lain di belahan dunia manapun.

Sahabatnya Park Chanyeol, pria Casanova yang selalu menempel pada Jongin selayak perangko pada amplop surat itu tengah mendapat kesialan. Chanyeol mendapat hukuman dari orangtuanya, jet pribadi Chanyeol diblokir 10 menit sebelum lepas landas, pewaris tunggal dari peusahaan property terbesar di Korea Selatan itu lagi-lagi menghabiskan puluhan juta Dollar, hanya untuk membuat pesta gila bersama para model tanpa busana di London sana.

Jongin pusing bukan kepalang sejak ia menginjakkan kakinya di dalam bandara Incheon, bandara internasional yang termasuk salah satu bandara tersibuk dan terluas di dunia. Ia berjalan cepat menuju pintu kedatangan seraya mengedarkan pandangan ke segala arah, berharap segera menemukan Chanyeol dan menyelesaikan semua kekonyolan ini lebih cepat dari yang sudah ia perkirakan sebelumnya.

Jongin berkacak pinggang dengan umpatan yang tak henti mengalun dari bibirnya yang sudah maju dari posisi yang seharusnya. Wajah rupawannya tertekuk, menanti kedatangan Chanyeol yang hingga di menit ke 15 belum juga menyembul dari balik pintu kedatangan yang tampak hiruk pikuk pagi ini.

“Aku janji akan membunuhmu, jika kau tidak keluar dalam 5 menit Park Chanyeol.” gumam Jongin, semakin geram dan kesal.

Jongin mengerling tanpa minat saat beberapa gadis yang melintas menatap antusias ke arahnya, walau pagi ini Jongin belum membersihkan diri, rambutnya tidak tertata rapi hingga terpaksa ia sembunyikan dibalik sebuah topi, pakaiannya pun tak layak untuk seseorang yang punya sejuta harga diri. Jongin tetaplah pria memikat dengan semua pesona yang terlalu sulit untuk dipatahkan.

Sekali lagi Jongin berdecak kesal, membalikkan badan dalam satu kali gerakan, lalu terpaku lebih cepat dari hitungan detik jarum jam.

Saat ini tepat di depan Jongin, lebih tepatnya tepat di atas dada pria itu, menempel sesuatu yang dingin, basah, dengan aroma manis seperti campuran madu dan vanilla yang menari-nari di ujung hidung bangir Jongin. Meresap perlahan, menembus hingga ke dalam lapisan kulit Jongin dan berhasil membuat pria jangkung itu membatu. Semakin diam tak bergerak saat sepasang iris sebening kristal milik gadis jelita di depanya menatap lekat manik cokelatnya, menenggelamkan Jongin ke dasar rasa asing yang menghipnotis kesadarannya hampir tak tersisa.

Eoh, es krim favoritku.”

Gumaman pelan milik gadis berkulit seputih susu dan bersurai hitam sebatas pinggang, mengalun selembut beludru di telinga Jongin. Pijakan kaki Jongin terasa semakin lemas hingga ia yakin jika tulang kakinya telah menghilang, ketika jemari lentik nan cantik dengan kuku berpoles nail polish biru muda itu mulai menyentuh permukaan dadanya. Merengkuh satu scoop ice cream untuk kembali ke atas cone yang setia berada di balik ruas-ruas jemari gadis itu.

Gadis itu kembali menatap Jongin, mengerjab pelan ketika pria itu masih berdiri diam selayak patung di depannya. Terdengar desahan pelan dari gadis itu saat Jongin tak menunjukkan tanda-tanda untuk memberinya jalan, ia pun memilih mengeser kakinya ke kanan, melewati bahu Jongin, berjalan menuju tong sampah besar di dekat escalator seraya membuang ice creamnya dengan ragu.

“Kim Jongin!”

Suara tak merdu milik Chanyeol menyadarkan Jongin dan menarik pria itu dari alam bawah sadar untuk kembali ke alam yang seharusnya. Jongin memutar pandangan, mengeluarkan umpatan takkala menyadari jika gadis jelita yang menyihirnya telah menaiki escalator, menuju lantai atas bandara yang jauh lebih ramai dari lantai yang dipijak Jongin saat ini.

Dengan langkah cepat nyaris berlari Jongin segera menuju escalator, alih-alih mempedulikan teriakkan Chanyeol di belakang sana, pria Casanova itu berteriak selayak wanita jompo yang panik karena meninggalkan gigi palsunya di rumah. Jongin tidak peduli, dia harus menemukan gadis itu secepat yang ia bisa sebelum gadis itu benar-benar menghilang dari jarak pandangnya.

Namun lagi-lagi kali ini hidup Jongin tidak sempurna, ia harus menerima kenyataan jika semua hal tak selamanya berjalan mulus seperti yang sudah-sudah.

Jongin kehilangan jejak sang gadis jelita.

Jongin mengatur napasnya yang memburu tanpa melepaskan pandangan mata untuk menyisir ke tiap sudut bandara, menyakinkan diri sendiri jika keberuntungan dan kesempurnaan masih sangat setia kepada hidupnya, membuang pikiran jika kali ini nasib akan membelot dan menghianatinya tanpa kompromi lebih dulu.

Hey! Apa yang terjadi, Jong?”

Tepukan samar di bagian bahu membuat langkah kaki Jongin melambat, tanpa menoleh ke arah pria yang mengajaknya bicara, Jongin menjawab.

“Aku baru saja bertemu seorang gadis.”

“Apa?”

“Apa penerbangan tak biasamu kali ini, membuatmu tuli Park Chanyeol?”

Jongin kembali mempercepat langkahnya, memaksa Chanyeol melebarkan langkah kaki untuk mengimbangi Kim Jongin.

“Maksudku terlihat aneh jika kau harus… sekalut ini hanya karena bertemu seorang gadis.”

“Dia Malaikat-ku, Chanyeol.”

“Malaikat?” Chanyeol mengernyit. “Jangan bilang dia Malaikat pencabut nyawa dan sekarang kau berusaha menghindar…,” satu pukulan keras mendarat di kepala Chanyeol, hingga kalimat pria itu terhenti begitu saja.

“Berhenti bicara dan bantu aku untuk menemukan gadis itu.” ucap Jongin dalam satu tarikan napas.

“Baiklah.” jawab Chanyeol kemudian, mengabaikan fakta jika dirinya belum paham apa yang sebenarnya terjadi pada Jongin.

“Sebutkan ciri-cirinya.” pinta Chanyeol.

“Dia cantik, matanya bening, rambutnya hitam sepinggang, kulitnya seputih susu.”

“Lebih spesifik.”

“Terdapat noda ice cream di jari tangannya.”

Eoh?”

Jongin menunjuk noda ice cream yang mulai mengering di pakaiannya.

“Dia menabrakku, bukan, aku yang menabraknya, bukan. Hemm… kami bertabrakan, mungkin…,” Jongin meragu.

“Lupakan.” jawab Chanyeol cepat. “Pakaiannya?”

“Dress selutut berwarna biru.”

“Ok!”

****

3 Month’s Later

Jongin’s Apartement

Living Room

3 bulan berlalu, Jongin tak juga mampu menemukan ataupun menghapus jejak gadis jelita yang ia temui di bandara tempo hari dari dalam pikirannya. Gadis bermata bening itu selalu muncul seperti hantu, di manapun, kapanpun. Mengikuti Jongin tanpa lelah, menganggu tidur Jongin hingga selalu terjaga di malam hari dan membuat Jongin menghabiskan sisa malamnya dengan menghayalkan gadis itu.

Tak jarang Jongin terlihat tersenyum tanpa sebab, terlihat sedih dan kalut di tengah keramaian. Jongin juga selalu datang ke bandara Incheon di waktu yang sama dengan waktu yang mempertemukan dirinya dengan gadis itu, mengelilingi bandara tanpa lelah dengan harapan dapat menemukan gadis-nya.

Oh! Jongin mulai terlihat seperti pria tidak waras.

“Lupakan gadis itu, lanjutkan hidupmu, Jongin.” kalimat yang sama lagi-lagi terlontar dari bibir Chanyeol, pria itu mulai mengkhawatirkan sahabatnya.

“Itu sama saja seperti kau memintaku untuk mengakhiri hidupku, Park Chanyeol.” jawab Jongin, pria itu masih membelakangi Chanyeol, menatap hamparan laut biru dari balik jendela kaca apartemen yang memagari deretan gedung pencakar langit.

“Berlebihan.” Chanyeol mencibir, menyandarkan punggungnya pada sofa besar berbentuk bundar yang tengah didudukinya. “Kau bahkan tidak tahu nama gadis itu.”

“Akan segera tahu.” jawab Jongin yakin.

“Semoga.” lagi-lagi Chanyeol mencibir, menatap Jongin dengan gelengan kecil seraya meloloskan napas panjang dan dalam.

Selama 3 bulan ini, Jongin sudah mendatangkan setidaknya selusin pelukis sketsa wajah terbaik untuk membantunya mengambar wajah gadis jelita-nya itu, namun tidak ada satu pelukis pun yang mampu memuaskan Jongin. Wajah gadis yang digambarkan para pelukis, selalu tidak sama dengan apa yang ada di pikirannya. Jongin pun mulai merasa jika semua kekayaannya yang berlimpah tidak berguna dan sia-sia, karena hingga detik ini semua itu tak mampu untuk menemukan gadis-nya.

****

1 Week’s Later

Incheon Internasional Airport

10.00 AM

Dejavu

Jongin memasuki bandara dengan terburu-buru, berpenampilan sama seperti 3 bulan lalu, berdiri di depan pintu kedatangan, tepat di mana ia pernah menunggu Park Chanyeol. Semalam Jongin bermimpi bertemu dengan gadis-nya, mimpi yang terasa sangat nyata. Jongin bahkan bisa merasakan detak jantungnya sendiri, tarikan napasnya yang tersengal selama ia bermimpi. Dan tiba-tiba saja Jongin berpikir dan percaya jika hari ini takdir berpihak padanya, Tuhan akan mengabulkan doanya selama 3 bulan terakhir ini. Hari ini dia akan bertemu dengan sang gadis jelita, pujaan hati yang selalu membuat Jongin tersenyum bahagia.

Jongin menarik napasnya dengan mata yang terpejam, berusaha keras menahan degupan jantung yang terasa bertalu terlalu kencang. Perlahan Jongin membalikkan tubuhnya, sesaat setelah ia melirik jarum jam yang melingkar di tangan kanannya sudah menunjukkan waktu yang sama dengan waktu ia bertemu gadis itu 3 bulan lalu.

Dan seperti adegan berulang, Jongin melihat gadis yang telah ia tunggu-tunggu, berjarak 3 langkah, berdiri di depannya dengan menggenggam cone berisi ice cream yang sama, ice cream rasa vanilla madu. Dengan cepat Jongin memundurkan tubuhnya, sebelum gadis itu kembali menabraknya seperti waktu itu. Memberanikan diri menyapa lebih dulu dan membatalkan acara tabrakan untuk ke dua kali di antara mereka.

“Nona.” satu kata yang terasa sangat sulit untuk diverbalkan, mengalun samar dan membuka satu ruang percakapan yang tak pernah Jongin duga sebelumnya.

Eoh, maaf. Aku terlalu asik dengan es krimku.”

Suara yang begitu ingin Jongin dengar mengalun, terlihat semakin indah dan sempurna kala gadis itu menarik sudut-sudut bibirnya hingga tercipta senyuman manis yang membuat Jongin lupa untuk sekedar menarik napas.

“Kita bertemu lagi.” ucap Jongin, kembali terdengar sangat samar. Ucapan yang justru membuat kerutan tercipta di kening putih gadis itu.

“Maksudmu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” gadis itu menjawab seraya sesekali menjilati es krim yang di genggamnya, tak begitu peduli dengan tingkat cahaya wajah Jongin yang turun drastis setelah mendengar pertanyaannya.

“Kau…,”

Ah, aku tahu.” potong gadis itu cepat, menahan semua tatanan kalimat Jongin di ujung lidah pria itu. “Kau pasti berpikir aku adalah seseorang yang kau kenal, benar ‘kan?” gadis itu tertawa pelan, membuat Jongin serasa di kelilingi puluhan kupu-kupu cantik yang menebarkan angannya hingga menembus atap bandara.

“Wajahku ini terlalu pasaran.” ucap gadis itu lagi, tak memberi celah pada Jongin untuk menanggapi. Tapi sepertinya Jongin tidak peduli, ia bersedia menjadi dan melakukan apapun asal selalu berada sedekat ini dengan gadis itu.

Dia juga selalu mengatakan hal itu, menyebalkan.” bibir tipis semerah cerry milik gadis itu mengerucut, menjabarkan rasa kesal yang belum sepenuhnya bisa Jongin mengerti.

Jongin lebih tertarik pada kata ganti orang yang tadi sempat diucapkan gadis itu.

“Dia?”

Hemm… dia.” gadis itu memiringkan tubuhnya, lalu mengerakkan telunjuknya. “Dia, pria menyebalkan yang telah mengubah nama depanku menjadi Oh.” senyum gadis itu semakin merekah setelah ia menuntaskan kalimatnya.

Namun tidak demikian dengan Jongin.

Hening. Jongin merasa dunia runtuh dan menimpanya hingga ia hancur berkeping-keping, meleburkan jiwanya menjadi butiran debu yang tak berarti. Jongin mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga semua bukunya memutih, memberanikan diri untuk berbalik dan menatap objek yang sama dengan apa yang kini tengah ditatap oleh gadis itu.

Di sana, berdiri seorang pria tinggi berwajah tampan dalam balutan kemeja biru pas badan, senyum pria itu hangat dan bersabahat. Bahkan pria itu sedikit membungkukkan kepalanya sebelum menyapa gadis yang masih berdiri di samping Jongin.

Sweet Heart.”

Gadis itu melambaikan tangannya, melirik Jongin sekilas sebelum melangkah melewati pria itu tanpa kata. Namun gadis itu berhenti tepat dilangkah ketiganya, berbalik seraya tersenyum dan diakhiri dengan sebaris nama yang tak lagi ingin Jongin ketahui.

“Aku Oh Jiyeon, senang bertemu denganmu.”

Jongin membeku, hatinya membiru, menerima kenyataan yang terasa begitu menyesakkan jiwanya. Kenyataan yang dalam sekejab menerbangkannya ke puncak langit ke tujuh namun di detik selanjutnya telah membuatnya jatuh ke dasar bumi. Sekali lagi Jongin menatap gadis yang kini telah berada di dalam rangkulan pria berkemeja biru di depan sana, sebelum akhirnya Jongin memilih untuk berbalik, berjalan tertatih, berusaha mengumpulkan serpihan hati yang tercecer karena hempasan keras kekecewaan.

~ THE END ~

14 thoughts on “Wirklichkeit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s