Beautiful Pain (Chapter 2a)

Untitled-1yi

Author             : ndmyf

Cast                 : Oh Sehun, Kim Rian (OC), Park Chanyeol

Genre              : Romance, Friendship, Family

Length             : Chapter

Rating             : PG-16

Summary         : Sehun, Chanyeol dan Rian bersahabat sejak kecil. Kedekatan mereka bahkan seperti saudara, Sehun lebih dekat dengan mereka berdua ketimbang dengan keluarganya sendiri. Kehidupannya berubah sejak bertemu dengan mereka, juga sampai akhirnya cinta mulai menyapa mereka.

 

Maaf-maaf jika masih banyak typo-typonya ^m^

Makasih yang udah baca FF-ku..

 

Selamat membaca ^o^

Gomawo~~

 

****

Seorang wanita paruh baya dibalik layar komputer terlihat mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya, lalu mengulurkan tangannya menyerahkan sebuah Id card. Kemudian menjelaskan singkat mengenai pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan. Rian mengangguk cepat, walau sesekali mengerutkan dahi mendengar penjelasan yang terlalu cepat dari wanita itu.

Raut wajahnya teramat bahagia yang terihat dari sorot mata coklatnya, setelah pekerjaan impiannya yang kini ia dapatkan. Setelah menyelesaikan tiga setengah tahun study-nya, kini ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus membebani kedua orang tuanya lagi.

Senyuman lebar terlukis diwajahnya, menatap satu persatu-satu wajah-wajah yang ia temui saat berpapasan, setelah mendapat instruksi dari bagian HRD. Devisi dry food menjadi tempat dimana ia kini menjalankan pekerjaannya sebagai admin pembelian. Bersama dengan seorang mentor, Rian memerhatikan dengan seksama penjelasan dari wanita yang kira-kira tiga tahun lebih tua darinya. Jurnal kecilnya penuh dengan coretan membentuk kalimat penjelasan tentang pekerjaan barunya.

“Kau mengerti?”

Rian mengangguk mengerti, “Jika ada yang tak kau mengerti tanyakan saja,-“

Sekali lagi Rian mengangguk dibarengi senyuman, kursor diambil alih olehnya, dan sang mentor mengamati pekerjaannya dengan sesekali dibarengi dengan intruksi-instruksi membenarkan.

Langkahnya terhenti saat menemukan kerumunan beberapa teman seperjuangannya berhenti didekat koridor. Id cardnya bergelantung disisi bagian kanan kemeja putihnya saat tubuhnya hendak ikut membungkuk, dan menguping beberapa kalimat yang dikatakan mereka. Pintu sebuah ruangan tengah tertutup rapat, yang tak lain tempat tujuannya menemui manager toko untuk memberikan laporan.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Ketiganya sekaligus terkesiap berbalik mengarahkan pandangan dibelakang mereka, “Ya! Kau mengagetkan kami,”

“Kalian sedang apa?” tanyanya pelan sekali lagi, kini pandangannya ikut mengarah ke pintu yang tengah tertutup itu, dengan sesekali melirik ketiga temannya secara bergantian. “Kau tahu, pemilik Kingdom yang baru itu? dia benar-benar tampan, sekarang ia sedang berada didalam disana,“ ucapnya sembari mengarahkan telunjuknya kepintu. Gadis itu mengangguk, mencoba mengikuti arah pembicaraan mereka, “Rian-ah, kau sudah bertemu dengannya kan?”

“Belum,-“ Rian tersenyum enggan yang mampu mengundang helaan napas berat dari ketiganya. “Kau harus melihat ketampanan CEO kita, dia benar-benar sempurna,-“ ucapnya dengan bangga, fantasinya muncul ketika membayangkan wajah tampan bak pangeran dalam cerita dongeng.

“Eheey, tidak mungkin, tidak ada orang yang seperti itu,-“ ucapan yang mampu membuyarkan fantasy ketiga gadis itu, yang nampaknya tidak setuju dengan ucapan Rian, seketika gadis itu terkesiap setelah ekpresi kesal dari ketiga temannya mengintrupsi. Senyum penyesalan menjadi permintaan maaf simbolik dari gadis itu. “Aaa, Mian,-“ ujarnya acuh.

Masih belum terjadi apa-apa didepan sana, pintu masih tertutup rapat belum ada tanda-tanda ia akan keluar. “Memangnya siapa CEO kita?” Satu decakan mengintimidasi, Rian memutar bola matanya kesal, ia memang tidak tahu apa-apa soal ini, atau mungkin terlalu malas untuk mencari tahu topik utama pembicaraan karyawan-karyawan baru bahkan karyawan tetap sekalipun.

“Oh Sehun, kau pernah mendengar namanya?-”

‘Oh Sehun?’ Sepasang alisnya nyaris bertaut mendengar nama itu, percaya atau tidak percaya satu wajah itu kembali teringat. ‘Apa mungkin itu kau? Hun-ah? Tapi..’ Rian menggigit bibirnya tidak yakin. ‘Jika itu kau, kenapa setelah sekian lama pergi, kenapa baru sekarang kau kembali?’.

Engsel pintu memutar, seketika ketiga gadis itu terengah membuang muka bersembunyi dibalik tembok, terkecuali Rian mengamati seksama sosok yang mulai melangkahkan tungkainya keluar dari dalam sana. Perawakan tubuh nan tinggi, dengan gaya jet black hair yang malah membuatnya terlihat lebih mirip seorang model ketimbang seorang pimpinan perusahaan.

Suara-suara jeritan mulai terdengar tak karuan tepat disampingnya, Rian mengamati wajah itu mencoba mengingat seseorang yang kentara mirip dengannya, namun gadis itu masih ragu. ‘Hanya saja, matanya benar-benar tak asing’.

“Ya! Ya, hey!,-?” Ketiga gadis itu berlarian hanya tinggal Rian yang masih tersisa disana, gadis itu mematung masih memandangi objek yang sama.

Sesuatu entah apa itu telah mengusiknya, Rian menggigit bibir, dua pasang mata itu saling bertemu. Namun tak ada respon apapun hanya saling bertatapan dengan sejuta tanda tanya dari benak keduanya. “Neon gwenchana?” Satu lagi yang berhasil mengusiknya, suara lembut itu berhasil menghipnotisnya, ketika CEO bermarga ‘Oh’ itu berdiri tepat dihadapannya.

“Kau! karyawan magang, apa yang kau lakukan disini?” Nada suaranya agak meninggi, Rian mengela napas kemudian membungkukan tubuhnya.

“Jwesonghamnida, Saya ingin meminta persetujuan anda,-” beberapa lembar faktur ia serahkan pada laki-laki paruh baya, yang berdiri tegak berdampingan dengan sang lelaki yang sedari tadi ia tangkap oleh pandangannya. “Aah, Kalau begitu, saya permisi,” setelah membungkuk singkat, laki-laki paruh baya itu memberi gesture agar Rian mengikutinya.

Bak dua kutub magnet berbeda yang tarik menarik, dua pasang mata itu kembali bertemu. Ya, begitulah, Pandangan pertama selalu menimbulkan kesan yang paling mendalam, terhadap hati maupun dalam pikiranmu.

‘Ia begitu tak asing bagiku’

**

Makan siangnya di atas nampan hanya jadi sasaran pengaduannya, campur aduk tak beraturan. Ia pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri, perasaan aneh itu muncul saat tatapannya menusuk melewati matanya. Yang pasti perasaan itu muncul, bukan hanya karena sekonyong-konyong teringat kenangan masa lalunya yang kembali muncul, tapi juga tentang perasaan yang dulu ia kubur yang muncul kembali. Rian menghela napas sebelum akhirnya ia terkesiap saat sesuatu yang membuatnya terpesona tepat berada dihadapannya.

Mulutnya menganga, namun terlihat seperti bergumam tanpa suara, sebagai respon pertama darinya. Berlawanan dengan respon pertama dari sosok didepannya itu, wajah datarnya berhasil menyembunyikan perasaan aslinya, sembari mengangkat alisnya ia menjejalkan sesuap nasi kedalam mulutnya.

“Sa-jang-nim?” Kata Rian mengeja, namun detik itu juga bibirnya terkatup saat sebuah gesture berhasil menghentikan kata-kata lain yang hendak ia lontarkan. “Sssstt,-” suaranya kentara lembut, lalu kembali melahap makan siangnya.

‘Sekarang aku tahu apa arti kata sempurna yang mereka katakana tadi. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. Sesuatu yang mampu mengingatkanku pada sesuatu telah yang telah kulupakan, atau lebih tepatnya.. Sesuatu yang tidak bisa kulupakan’. Rian mendesah frustasi, ia belum ingin menyerah dengan perasaannya, ingin meyakininya namun masih merasa ragu. Sesuatu menarik perhatiannya saat pandangan pertamanya itu, dan sekarang waktu yang tepat untuk membuktikannya.

Namun, belum apa-apa selentingan-selentingan mulai terdengar mengusik indera pendengarannya. Padangannya mulai beredar mengelilingi ruangan yang penuh dengan tatapan mengintimidasinya, yang tentu saja membuatnya merasa tidak nyaman.

“Hey, bukankah dia karyawan magang? Kenapa berani-beraninya duduk disana?”

‘Eeeyy, tsk,-‘ Disanalah Rian dengan sejuta kekesalannya. Dihari pertamanya bekerja selentingan-selentingan intimidasi berhasil membuatnya resah. Namun, berbeda dengan sang CEO yang duduk tenang melahap makanannya.

‘Bagaimana mungkin bisa ia setenang ini ditengah-tengah tatapan mengintimidasi orang-orang, Aaa- atau lebih tepatnya mereka mengintimidasiku’. Rian mendengus kesal. Lengannya melipat didada, teramat kekenyangan untuk kembali melahap makan siangnya. Mengurungkan niatnya dan berencana membuktikannya lain kali saja.

Ia hanya diam dengan sesekali memerhatikan lelaki itu, dan tak jarang juga memerhatikan sekeliling yang masih mengintimidasinya dengan tatapan kecemburuan. Jadilah ia dengan mulut terkatup rapat dengan segudang pertanyaan dikepalanya, ia ingin segera pergi namun ada sesuatu yang mengganjal perasaannya terhadap laki-laki itu. Rian memanyun.

“Kau tidak memakannya?,-” sembari menunjuk lelaki itu mencoba menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, agar Rian mau kembali bicara, namun kenyataannya nihil. Gadis itu hanya menjawab dengan satu gelengan kepala. Sehun mencoba melambat-lambat mengeksekusi makan siangnya. Melirik gadis itu dari ujung matanya, sesekali tersenyum saat Rian bergumam tak karuan. ‘Ternyata ia diam cukup lama’.

Kurang lebih sepuluh menit tanpa percakapan. Hanya terjadi sesekali kontak mata singkat diantara mereka. Tak ada yang mau menjadi sukarelawan memulai pembicaraan, keduanya terlalu terkekeuh dengan keinginannya masing-masing. Tapi sejurus kemudian lengan yang awalnya terlipat kini terkuai kesal di atas meja, tubuhnya mendongak menatap kesal kearah lelaki itu.

“Apa sekarang kita sedang berlomba untuk diam?” Alis matanya terangkat, mengintip Rian dari sana. Ujung bibirnya tertarik ke aras seperti mau tertawa, namun bukan itu yang terlihat melainkan senyuman, ia tersenyum sambil menopang dagu memerhatikan Rian.

Rian terkesiap.

“Ada yang ingin kau katakan?”

“Aaa..,” Rian membuka mulut pelan-pelan, kata-katanya tertahan diujung lidahnya. “Aaapa yang anda lakukan disini?” Ia berusaha keras mengucapkannya, walau bukan itu yang seharusnya ia tanyakan, bukankan sudah jelas mengapa ia berada disini. ‘Geure, sekarang aku merasa bodoh, itu bukan pertanyaan, bukankah sudah jelas ia berada disini’, Rian menggigit bibir, kesal.

Rian mengetuk-ngetukkan ujung sumpitnya ke nampan, sementara lelaki dihadapannnya hanya tersenyum sambil menautkan semua jarinya kemudian menopang dagu.

Apa lagi sekarang? Permainan isyarat? Apa sekarang aku sedang dipermainkan olehnya?’ Sambil berdecak Rian memutar bola matanya kesal. “Kim Rian-Ssi, kau satu-satunya gadis yang sepertinya tidak tertarik padaku, kau seperti karyawan lainnya,-” Rian Hanya menatapnya datar.

‘Mwo? Memangnya kau siapa? Idol? Setelah lama bungkam kalimat itu yang ia katakan? Jangan membuatku tertawa’, Samar-samar bibirnya terangkat senyuman singkat singgah disana, lalu kemudian menggeleng sambil menopang dagu di atas meja. “Mm, aku tidak mudah tertarik pada orang lain, terlebih kau orang asing bagiku,-” ucapnya berdusta, faktanya saat pertama bertemu dengannya, Rian malah tak bisa memalingkan matanya dari laki-laki itu, begitu membuatnya terpesona hingga sepersekian detik, selain itu ia bahkan terlihat tak asing baginya, walau sebagian besar ia masih meragukkannya.

Raut wajahnya berubah walau masih tak bergeming dari wajah datar nan tenangnya, pelan-pelan ia mengangguk menanggapi pernyataan tadi. Rian menelan ludah, lelaki itu tetap memesona walaupun hanya diam.

“Mm, tapi sepertinya kau tertarik dengan pembicaraan singkat kita,-” ujung bibirnya terangkat lalu berdeham, samar-samar ia tersenyum “Eoh?” Rian terusik dengan suara deheman itu, matanya mengerjap dengan dua lengannya yang bersidekap di atas meja. Air mukanya berubah kesal dengan menyadari bahwa faktanya ia benar-benar tertarik pada laki-laki itu, tubuh yang awalnya mendongak kini bersandar terkuai lemas disandaran kursi. ‘Wae? Apa kau ingin tertawa? Tertawa saja tidak usah ditahan, tsk- tanpa sadar aku memandanginya selama itu– aku kalah telak,’.

Bahunya naik turun menahan tawa, tampaknya reaksi gadis itu yang justru menjadi hiburan baginya.

“Well,-” terdengar suara decitan kursi saat ia menggesernya kebelakang, gerakkan tangannya bersiap memegangi nampan, dan kemudian beranjak berdiri.

“Aku tidak sabar menantikan lagi pembicaraan menyenangkan ini,-” keningnya berkerut bersamaan dengan langkah kaki jenjangnya yang mulai berjalan menjauhinya, semakin lama menghilang dari pandangan matanya.

Rian berusaha keras mencerna apa arti dari kalimat tadi, apakah pembicaraan aneh ini akan terjadi lagi? Rian tertawa, hanya itu respon yang bisa ia berikan pada kalimat tadi, lalu kembali menatap nampannya yang sangat tidak terlihat menarik dan berantakan.

**

Lambaian tangannya sontak membuat air mukanya berubah, senyuman manis terukir diwajahnya. Tungkainya berjalan ringan menghampiri sosok laki-laki yang menunggunya beberapa meter darinya.

“Apa kau menunggu lama?” Rian berhenti beberapa senti meter dihadapannya, “Tidak juga, aku baru sampai,-” tangannya terulur menyikap beberapa helai rambut lalu menyelipkannya dibelakang telinga gadis itu.

“Apa aku terlihat kacau?” Gadis itu ikut membenahi penampilannya, memandangi satu per satu setip barang yang ia pakai. “Sepertinya moodmu sedang buruk,-” Tawa renyah mampu mengusik perhatian gadis itu, terlebih ketika cubitan dikedua pipinya, bibirnya terlihat bergumam mengintrupsi.

Lelaki itu menarik tangannya dan menempatkan gadis itu disebelah kirinya sementara ia berjalan di sebelah kanan. Mentautkan jemari keduanya lalu memasukkannya kedalam saku coatnya.

“Chan-ah, aku mau tteoppoki,-”

**

5 thoughts on “Beautiful Pain (Chapter 2a)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s