Beautiful Pain (Chapter 3)

Beautiful Pain

Untitled-1yi

Author             : ndmyf

Cast                 : Oh Sehun, Kim Rian (OC), Park Chanyeol

Genre              : Romance, Friendship, Family

Length             : Chapter

Rating             : PG-15

Summary         : Sehun mencoba mencari kembali kebahagiaan yang pernah ia tinggalkan dulu. Mencoba kembali merajut asanya setelah bertemu lagi dengan Rian teman semasa kecilnya. Namun, Sehun menunjukan sikap yang berbeda setelah bertemu dengannya.

Makasih yang udah ngikutin ceritaku dari awal,,

Semoga ceritanya gg GJ,, hihihi ^^

Gomawo~~

 

 

****

Rian berdiri diujung meja dengan nampan berisikan makan siangnya. Bibirnya hanya menampilkan seutas senyum seadanya. Mengingat tatapan intimidasi masih menyapa sejak kemarin, begitu pula dengan selentingan-selentingan yang membicarakannya. Namun sepertinya ia masih beruntung, ketika mereka bertiga masih mempersilahkan satu ruang kursi kosong tersisa.

Mereka duduk di ujung ruang kafetaria menghadap jendela. Belum apa-apa mereka bertiga langsung menyerangnya dengan satu pertanyaan yang sama, berbarengan. “Apa hubunganmu dengan CEO kita?”

Bibirnya terkatup rapat, giginya menggertak. Rian mencoba berdalih, namun ia tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran. Rian tersenyum hati-hati. “Tidak ada apa-apa, hanya kebetulan ia duduk bersamaku,-” Rian hampir tersedak dengan ludahnya sendiri.

Masih dengan tatapan yang kelewat penasaran, satu lagi pertanyaan yang membuatnya kesal “Benarkah? Tapi sepertinya kemarin kalian membicarakan hal yang menyenangkan,-”

Rian tertawa namun raut frustasinya kentara terlihat. Mereka bertiga mengalihkan pandangan ke satu sama lain, alisnya nyaris bertaut melihat ekpresi Rian yang aneh “Tidak-tidak, bukan hal-hal yang menarik seperti yang kalian bicarakan, asal kalian tahu, hal yang kemarin kami bicarakan benar-benar membosankan,” katanya berdusta, Rian kembali tersenyum lalu menjejalkan satu suapan besar nasi kemulutnya.

Tetapi Rian tak dapat menjelaskan, dan andai bisa, ia tak ingin membicarakannya. “Ada pertanyaan lain?” Masih banyak pertanyaan-pertanyaan dibenak mereka bertiga. Tapi belum apa-apa Rian sudah menunduk kesal. Ketiganya menggeleng bersamaan.

Rian Kembali mengambil garpu menjejalkan lagi makanan ke mulutnya. Menyisakan pipinya yang membulat penuh makanan dimulutnya. Hidungnya kempang-kempis menarik napas dengan seribu kekesalan dibenaknya.

Satu dehaman keras tepat disebelah mejanya. Hampir semua orang menoleh kearah yang sama bersamaan. Kepalanya otomatis menengok, Rian membekam mulutnya yang hampir tersedak. Tangannya yang bebas meraih botol minumnya, meneguk hingga setengah kosong. Mata coklanya membulat dengan tautan kedua alisnya kebingungan penuh tanya.

“Omo~omo~” satu kata yang sama bersamaan terucap, bersamaan dengan tatapan mata yang menjelma seisi kafetaria.

Rian mendesah.

Matanya tertutup, dua tangannya menekan kedua sisi wajahnya. Bahunya terkulai lunglai. Ia menggeleng sangat pelan, seolah ingin mengusir sesuatu dari pikirannya. Gadis itu kembali menunduk, membiarkan rambut gelapnya terurai menutupi wajahnya. Sehun sudah menatapnya ketika Rian bersusah payah mengintip dari celah-celah rambutnya, saat sekilas beradu pandang.

‘Senyuman yang mampu membuatku terpesona, entah kenapa pandanganku tak ingin berpaling darimu’. Tanpa sadar ujung bibirnya tertarik keatas menyunggingkan senyum.

**

‘Kafetaria esok hari ..

Rian bertemu dengan tatapanya, dan kemudian menunduk.

Sehun mengangkat bahu.

Rian menggerang ditempat. Meremas nampan dikedua tangannya. Setelah sosok yang ia kenal beradu pandang dengannya. Sehun berjalan santai yang mulai menghampirinya. Rian kembali berjalan memutar, menjauh. Tanpa memikirkan apapun, Sehun menangkap belakang blazzernya. Ia tersentak berhenti.

Kerutan di antara kedua alis Rian semakin dalam. Ia tak habis pikir dengan sikap menyebalkan dari sang CEO. Sehun duduk setelah menarik kursi disebelahnya, kemudian menggeser kursi satunya dan menyuruh Rian duduk disampingnya. “Duduklah,”

Rian sengaja memblokir suara-suara yang masuk lewat celah telinganya. Juga bersusah payah menghalau setiap tatapan intimidasi dari setiap orang, lalu ia berangsur duduk. Rian meremas-remas tangannya, mengamati Sehun yang melahap makanannya dalam diam. Didorongnya nampan miliknya dan mulai angkat bicara.

Rian mencondongkan tubuhnya di atas meja ke arah Sehun.

“Sajangnim..”

Sehun meliriknya sebentar dari sela-sela bulu matanya. “Mm..?” Responnya singkat.

Rian membiarkan imajinasinya berkembang. Ia membayangkan apa sebenarnya motif Sehun yang selalu menganggunya. Rian menatap setiap gerak-gerik yang kentara di wajah Sehun, matanya serius sampai-sampai mengundang sautas senyuman tipis diwajah laki-laki itu. Namun gadis itu tak menyadarinya. “Sajangnim, apa kau dendam padaku?” Rian makin mendongak.

Sehun menoleh menatap Rian. Alis hitamnya bertaut menunggu pertanyaan yang terdengar belum selesai olehnya. “Amm, maksudku kau selalu membuat orang-orang mengintimidasiku dengan tatapan dan omongan mereka, apa kau tidak sadar dengan apa yang kau perbuat?” Tangan kanannya memegangi leher.

Sehun mendeham.

Jantungnya berdegup kencang ketika senyuman itu membuatnya makin terpesona. Rian menggigit bibir.

“Bukankah itu kau sendiri?” Sehun menunjuk memberi Rian isyarat, kemudian menyilangkan lengan didada dan bersandar dikursi. Senyuman masih belum hilang diwajahnya.

Rian berangsur menjauh setelah menyadarinya. ‘Kebodohan yang sangat luar biasa, Kim Rian’ bibirnya memanyun kesal.

“Sepertinya beberapa hari ini kau menghindariku, wae..?” Sehun terpaku pada sebagian kecil dari sepasang mata lebar berwarna coklat miliknya. Namun Rian segera menghindar setelah sekilas beradu pandang. Ia tidak ingin mengambil resiko lebih besar yang berakibat pada kejiwaannya.

“Ya? Mm..?”

‘Itu karena aku tak bisa menahan diriku saat berdekatan denganmu—itu karena, senyumanmu’ Rian menyerah dan menatap matanya. “Itu karena aku ingin berbaur,” ia menahan senyum.

Sehun mengangguk mengerti. Lagi, tatapannya terpaku pada mata cokelat lebar yang sama. Pipinya merona merah dan ia menunduk, malu karena tertangkap sedang menatap Sehun balik.

‘Semua orang menatapku juga hari ini, apa sikapku terlalu berlebihan? Ah tidak-tidak, aku hanya ingin—Rian-ah kau bisa merasakannya, ini aku’. Sehun menoleh untuk menyembunyikan senyumnya. “Makanlah, kau bahkan belum menyentuhnya sama sekali,” Rian mengangguk terlalu cepat, malah terlihat terlalu antusias. Ia menarik nampannya, mengambil garpunya menjejalkan jamur ravioli kemulutnya.

“Eoh, Sajangnim kau tidak memakan bawangnya? Kau memingatkanku pada—” Rian mematung. Sehun memiringkan wajahnya berusaha menatap Rian yang setengah menunduk. “Waeyo?”

Rian mengangkat wajahnya. Tersenyum hati-hati sebelum akhirnya menggeleng. “Tidak apa, hanya teringat seseorang yang mirip denganmu,” Rian mengambil secuil raviolinya dan mulai memakannya tanpa suara. Ia mengunyah sebentar, lalu menggelengkan kepala penuh pertimbangan.

“Aaa,-” Sehun mengangguk tersenyum. Dua kepala namun satu kenangan yang sama. Rian kembali teringat pada ingatan itu, begitu juga Sehun.

*

‘Istirahat sekolah..

“Hun-ah, kau tidak boleh menyisakan makananmu,-”

“Waeyo? Aku tidak menyukai bawang, rasanya aneh,-” kusisihkan bebera bawang bombay yang menutupi sebagian bulgogiku, meletakkannya dipinggir kotak makan siangku. Kali ini aku tidak sendirian saan menyanyap makan siangku, bersama dua sahabat baruku.

“Kau juga harus memakannya,” Gadis itu kembali meletakan bawang yang tadi sudah kupisahkan, ia menatapku seakan memerintah, namun tetap kubersikeras meletakkannya lagi dipinggiran. “Aku tidak mau, aku tidak suka,-”

“Ya!” ia menggerutu, bibir bawahnya terangkat cemberut. Kujulurkan lidah dan ia semakin cemberut. “Aku bilang, aku tidak mau,” kujejalkan beberapa potong telur gulung miliknya kemulutku yang menyisakan bulatan besar dimulutku.

“Aaaa Hun-ah,-”

Tawaku pecah setelah menelahan habis semua makanannya. Tanpa kusadari ia mengulurkan tangannya dan mencubit lenganku. Tawaku beralih menjadi rintihan kecil. “Aaaa Rian-ah, sakit-sakit..”

“Hun-ah, kau menyebalkan.. Kembalikan telur gulungku”

“Ya! Kalian berdua berhentilah berdebat karena makanan,-” kami berdua menoleh berbarengan kearah yang sama. Chanyeol yang kesal dengan silangan dua lengannya didada. Mata hitamnya mengamati kami bergantian, raut wajahnya terlihat menakutkan saat itu. Rian menarik langi tangannya, kembali bersikap biasa begitu juga denganku.

“Jwesonghamnida,-” ucapku pelan, entah ia mendengarnya atau tidak. Lalu kembali memakan bulgogiku tanpa bawang bombay.

*

Sehun tersenyum dalam nostalgia manisnya, dua ujung bibirnya terangkan menyunggingkan senyuman.

Rian menghirup napas dalam-dalam, kemudian pelan-pelan bicara dengan lebih tenang. “Jwesonghamnida Sajangnim, saya permisi,” Ia mendesah perlahan dan berdiri, kembali mengambil nampan makanannya bersamanya dan meninggalkan Sehun sendirian.

Sehun tersenyum. ‘Gomawo, Rian-ah..’

Rian perlahan pergi, meninggalkan Sehun dibelakang. ‘Aku tidak tahu, hanya saja—seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan,’ Rian berhenti berjalan dan menoleh kebelakang. Sehun menatap retakan yang menjalar di sudut jauh kafetaria, dua mata hitamnya begitu fokus memerhatikan setiap inci retakan itu. Dan Rian masih termangun di tempat. Sampai akhirnya Sehun ikut beranjak membawa nampannya, dengan sebelah tangannya bersembunyi dibalik saku celanannya.

Keduanya saling tersenyum ketika kembali beradu pandang.

**

Rian mencondongkan tubuh ke depan. Tangan kanannya memegangi leher. Dan itu menarik perhatian laki-laki itu. “Apa yang sedang kau pikirkan? Mm..?” Rian bergidig ketika sentuhan lembut menyapa kulit pipinya. Sepasang mata hitam mengamatinya penuh khawatir.

Rian mendesah otaknya berpikir keras dengan apa yang belakangan ini menimpanya. “Mm, hanya—hanya ada sesuatu yang mengganggu pikiranku,” Dia menilai ekspresi Rian. “Waeyo?” Dua tangannya bersidekap di atas meja, namun wajahnya mendongak ketika pesanan tteoppokinya siap. Rian memerhatikan wajah yang tersenyum sopan itu.

‘Ah benar, bukan berarti aku menyukainya, hanya saja—Aah mungkin aku mnyukainya sebagai hubungan baik pemimpinan dan karyawannya, aaah iya iya itu baru benar.’ Rian mendesah, dengan segela kebodohan yang ia rasakan ‘Benarkan, hanya itu?’.

Rian terdiam, perlahan-laham mengeras menjadi monumen rasa bersalah. “Chan-ah?” Katanya pelan. Menarik tangannya, mendekap lengannya rapat-rapat di dada, dan mengepalkan tangan. Tubuhnya bergetar seakan kedinginan. Menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.

Laki-laki itu kembali mendongak setelah melahap tteoppokinya yang sedikit menyisakan cairan merah dibibirnya. “Mm?”

Suasana kembali mencair, terlebih untuk dirinya sendiri. “Heol? Apa kau sengaja menyisakan saus tteoppoki dibibirmu, agar aku menyekanya?” Tangannya terulur dengan selembar tisu yang menyisakan noda merah. “Eoh? Bukankah itu terlihat romantis,?” Ia kembali tersenyum dengan memamerkan sederatan gigi putihnya, terlihat memesona diwajah tampannya.

“Eoh? Benarkah?” Bibirnya sedikit merekah, dan matanya terlihat hangat. Tegakah ia berbuat seperti itu? ‘Tidak boleh ada kesalahan. Jangan tambah lagi perasaan itu, kau hanya menyukainya sebagai seorang pimpinan dan karyawannya’.

Rian meyakinkan dirinya sendiri, dan itu membuatnya sedikit lebih baik. Namun tidak mengurangi rasa bersalahnya pada laki-laki itu.

Cuaca mulai dingin ketika mereka pulang. Hembusan angin beberapa kali membuatnya bergidig. Namun tak melunturkan nuansa indah saat bunga sakura ikut berguguran tertiup angin, bersamaan lampu-lampu jalan yang berderet sepanjang mata memandang.

Keindahan yang mampu menghentikan langkah sejenak memerhatikan suasana dimalam-malam musim semi. “Kau menyukainya?” Chanyeol berdiri disamping kanannya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya ketimbang memerhatikan bunga sakura. Bibirnya tersenyum menatap Rian. “Mm, sangat—sangat menyukainya.”

“Mm, nado!” Balasnya singkat.

“Mwoya?”

“Anio,-”

Rian mendecak, juga terselip tawa renyah disana.

Chanyeol memperhatikan wajahnya saat ia merasakan hembusan angin menerpa kulit wajahnya, Secercah senyum muncul di sudut bibirnya.

“Ya, Park Chanyeol,-” Rian balas menatap Chanyeol dengan tatapan lekat miliknya. Mengulurkan tangannya menyentuh pipinya mengalihkan pandangannya kearah lain. Keduanya saling melempar senyum.

“Gomawo, Rian-ah,-” ucapnya kemudian, wajahnya mendongak memandang langit. Pandangannya lurus ke atas menatap hitam pekatnya langit. Rian melirik kearahnya, “Terima kasih telah bersamaku selama ini, aku—aku bahagia,”

Chanyeol tersenyum melihatnya dan mendaratkan satu kecupan ringan dipipinya sambil merengkuhnya ketika Rian mendekat. Rian menatap matanya dan menangkap sebersit warna kelam di sorot mata pemuda itu.

‘Waeyo? Chan-ah,’

**

Nuansa putih mendominasi setiap ruangan. Asap putih mengepul menandakan penghangat ruangan tengah dinyalakan. Semuanya masih sama sejak kemarin, suara pendeteksi jantung masih berbunyi ‘beep-beep’ terdengar menggema diruangan kosong. Cairan infus setengah kosong masih menetes hingga akhirnya berganti dengan kantung yang baru. Setelah keluar dari ruang operasi tadi malam, belum ada tanda-tanda ia akan sadar, matanya terkatup rapat dengan tubuh kaku terkapar di atas ranjang.

Lengannya terulur merekatkan selimut hingga menutupi sebagian dadanya, sorot matanya tak pernah lepas memerhatikan sosok yang terkapar di sana. Sinar matahari mulai menyapa diufuk barat, sinarnya mulai menampakan dirinya memasuki celah-celah ruang kamar. ‘Pak Tua, kau,-‘ gumamnya pelan, disentuhnya tangan hangat yang mulai terlihat keriput dibeberapa bagian kulit punggung tangannya, kemudian menggenggamnya erat. Sambil memejam buliran air mata itu terjatuh tanpa dikompromi lagi, ia tahu betul bagaimana rasanya kehilangan, ia tak mau lagi merasakan hal itu, terlebih ia tak mau kehilangan kakeknya yang selama ini merawatnya. Mengingat Kakeknya adalah orang tua satu-satunya yang ia milikki sekarang.

“Pak Lee, sebenarnya Kakek sakit apa?” Bibirnya kembali terkatup setelah satu pertanyaan ia layangkan pada pria paruh baya yang baru saja memasuki ruangan. Langkahnya terhenti beberapa meter dari lelaki itu. Setelah membungkuk ia kemudian angkat bicara, “Kakek anda yang akan menceritakannya nanti, ia akan segera sadar,-” lelaki itu menghela napas panjang, dengan segera ia menghapus air matanya hingga tak menyisakan sedikitpun jejaknya disana.

“Begitu banyak rahasia diantara kalian, kalian saling melempar nama untuk mengulur waktu dan mengalihkan perhatianku, aku bukan Oh Sehun berumur 12 tahun lagi, yang dengan gampang kalian bodohi,-” satu usapan kasar mendarat diwajahnya, dibalik telapak tangan itu matanya memejam mencoba menenangkan diri walau sepersekian detik. “Jwesonghamnida, saya hanya menjalankan tugas,-” lagi-lagi pria itu membungkuk, kini dengan dibarengi wajah menyesal yang kentara terlihat. “Aku mengerti,-” tukas ia singkat. Suasan kembali hening, tak ada lagi percakapan disana, hanya terdengar suara pendeteksi jantung di sana.

“Tuan Oh, kita harus segera kembali ke kantor, ada-” satu gerakan refleks dengan mengacungkan jari telunjuknya mampu menghentikan lanjutan dari kalimat yang hendak pria itu katakan. Tanpa menoleh ia mulai membuka mulutnya mengintrupsi. “Oh Sehun, Sehun, sudah ku bilang aku tidak suka dengan sebutan itu, cukup panggil saja namaku,-”

**

BMW putih berhenti tepat didepan pintu Kingdom grup, tungkainya melangkah sembari mengancingkan jas hitamnya, laki-laki itu tidak banyak bicara hari ini, senyuman yang biasa ia layangkan pada setiap karyawannya kini seperti menghilang entah kemana.

“Rian-ah,-” tubuhnya terhuyung ketika satu tarikkan menarik lengannya, mata itu langsung jelalatan mencari sosok itu. Alisnya bertaut sedetik kemudian, bola matanya melirik sosok itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kakinya menghentak-hentak lantai kegirangan dengan lengannya yang mengait ke lengan Rian. “Bukankah ia sangat tampan, Rian-ah?” Rian melirik gadis itu, matanya terlihat mengintimidasi memerhatikan gadis itu, mencoba mengingat sejauh mana daya ingatnya.

“Eoh, He Ran-ah,”

‘Kim He Ran, rambutnya sebahu, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman manis, mwo? Bukankah kemarin ia mengintimidasiku?’, lalu pandangannya belarih tepat didepan sana, lelaki itu tampak menyisir kasar rambutnya dengan jari, beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan. Suara jeritan kecil itu muncul lagi didekat telinganya. Matanya yang bulat menatap gadis itu lurus, ia berhenti melangkah sejenak. Namun, mata itu tidak pergi kemana-mana, pandangan mereka saling bertemu kembali, namun terlihat sangat berbeda. Sikap dinginnya lebih mendominasi ketimbang beberapa hari yang lalu dengan senyuman manisnya. Banyak sejuta perasaan yang tersirat didalam sana. Dadanya naik turun menarik napas setelah akhirnya ia berlalu tanpa sepatah katapun.

Selagi otaknya mencerna arti pandangan tadi, tubuhnya terpaku disatu titik, diam ditempat. ‘Aku yakin mengenal tatapan itu’ dan—apa kau baik-baik saja? Kenapa hari ini kau—terlihat berbeda?, Ia melirik He Ran seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu sambil tersenyum tipis Rian berjalan pergi, semakin lama semakin cepat. Menyisakan pertanyaan bagi He Ran dengan sikap anehnya.

Jam makan siang akan segera berakhir, namun moodnya hari ini sedang tidak ingin memakan apapun. Hanya melamun dengan sesekali memejam mengingat kejadian pagi tadi. Dibiarkannya layar ponselnya menyala memperlihatkan foto tiga anak kecil dengan senyuman lebar disebuah taman. Pipinya menempel dimeja menatap ponsel itu dari samping. Memainkan dua jarinya di atas layar ponselnya, ‘Zoom-in, Zoom-out’ foto ketiga anak kecil itu. Matanya terlihat sendu memikirkan sesuatu, ingatannya kembali mundur ke beberapa jam pertemuan mereka pagi tadi.

*

‘Sebelumnya..

08.30 KST, Kingdom Group.

Sekian banyak pemandangan arsitektur gedung megah Kingdom, pandangannya terpaku pada pintu kayu mewah yang tertutup rapat, yang di pisahkan dengan ruangan berukuran sedang dibalik pintu kaca. Wanita berkacamata dibalik meja yang bertuliskan ‘Sekertaris’ beberapa kali memandangi bingung ke arah gadis yang berdiri tidak jelas didepan pintu kaca.

Beberapa kali panggilan itu ditujukan padanya, namun saat itu pula beberapa kali mengabaikan suara-suara panggilan itu. Rian berdiri lama sekali, sampai-sampai ia tidak menyadari raut wajah kesal dari wanita berkacamata itu. Mini skirtnya memeperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sepasang kaki putih jenjangnya, pintu kaca itu terbuka. Rian yang masih belum bergeming tidak menyadari beberapa deheman dari seseorang yang berdiri disampingnya.

“Kim Rian-Ssi,-” nada suaranya masih bisa ditolelir pendengarannya, namun masih tidak menggubris suara itu, sampai pada akhirnya titik kekesalan dari wanita itu memuncak. “Kim Rian-Ssi,-” nada suaranya meninggi, dan Rian tersentak, dibulatkan mata coklat beningnya menyadari sesuatu yang tidak beres dengan konsekuensi yang menunggunya. Tubuhnya membungkuk detik itu juga, dengan hawa panas yang mulai menghinggapinya karena terkejut.

“Apa yang kau lakukan disini? Kau sengaja meninggalkan pekerjaanmu?” Wanita itu menunggu jawaban yang belum kunjung terdengar, Rian masih mengatupkan bibirnya rapat, memilah alasan yang tepat untuk ia katakan. Namun otaknya terasa buntu dan hanya membuka mulutnya tanpa suara. Wajah kesalnya terlihat seperti seorang guru yang tengah menanyai siswanya yang ketahuan mencontek, Rian merasa terpojok.

“Apa kau sedang menguntit?” Satu lagi pertanyaan yang membuatnya terpojok, “Eoh?” Aneka pikiran buruk mengontaminasi benaknya, menyebalkan. Apakah ia akan dikeluarkan dan dicabut dari status karyawan magang? Mengingat ia masih dalam masa percobaan. Dituduh seperti sesaeng fans yang mengendap-ngendap menguntit idola mereka.

“Sa sa-ya,-” mulutnya menganga tak karuan seperti ikan yang memunculkan kepalanya ke atas permukaan air.

“Nona Han?”

Mulutnya kembali terkatup ketika satu kalimat singkat cukup keras menarik pandangannya kedalam ruangan yang ditutupi pintu kaca itu. Pintu kayu mewah itu terbuka beberapa sentimeter, didekatnya berdiri pemilik dari ruangan itu, dada bidangnya terlihat sempurna dengan balutan Shirt putih tanpa jas melekat ditubuhnya.

“Sajangnim,?-” wanita berkacamata itu membungkuk berbeda dengan Rian yang hanya mematung menatap sang CEO.

“Kim Rian, apa yang kau tunggu, cepat kembali bekerja,-“

*

‘Bahkan ketika ku teliti air mukanya, berusaha mencari celah perubahan sikap dinginnya, tapi tidak ketemu. Apa denganmu?’.

Rian memejam kemudian menghela napas.

****

Seminggu berlalu, sikap dinginnya masih belum ingin pergi. Sang CEO bahkan tak banyak bicara, hanya mengucapkan kata singkat ‘Iya,’ berulang-ulang. Senyuman manis yang biasa ia lemparkan kini berganti dengan senyum tipis seadanya. Hal itu berulang hingga akhirnya sepekan penuh. Ada yang mengganjal dalam dadanya, sikap ramahnya saat pertama kali bertemu berkesan mendalam untuknya, sepasang mata yang mampu menarik perhatiannya.

‘Kim Rian, jebal berhentilah sebelum perasaan itu benar-benar mendalam, dan…’ Rian menggigit bibir menyadari kesalahannya. Malam itu ia terbaring di atas tempat tidur lama sekali dalam keadaan terjaga. Tiba-tiba ia menyadari, perutnya kelaparan. Rian mengintip jam wekernya, ‘Setengah sembilan malam’, mengelus pelan perutnya yang tengah berbunyi tak karuan. Naya belum kembali ke apartement sewaan mereka, dalam waktu singkat ia menemukan dambaan hati yang ia gadang-gadangkan serupa dengan seorang pangeran. Rian menelan ludah pahitnya, segera menyibakkan selimut kemudian bergegas mencari makan diluar sana.

Asap putih masih mengepul, namun tekadnya terlalu keras untuk segera menyantap ramyun panasnya. Wajahnya mengernyit sambil menguyah juga menahan panas. Bibirnya tersenyum dengan sejuta jejelan macam makanan didalam mulutnya, suara perutnya kini berganti dengan lagu kemerdekaan.

Malam mulai larut, menampakan hitam pekatnya langit malam. Terdengar sayup suara rintik hujan yang mulai menampakan titik-titik air berjatuhan dari atas sana. Tak ada udara sesejuk ketika sedang hujan, bau tanah menjadi wawangian khas hujan yang menenangkan. Hujan yang turun tanpa komando itu semakin lama semakin menampakan wujudnya, suaranya tak lagi terdengar sayup.

Terlihat seseorang berlari kearah minimarket, dengan hoodie menutupi tengkuknya lalu berdiri membelakangi minimarket. Tangannya membersihkan jejak air yang terlihat setengah membasahi tubuhnya. Ia memakai jins hitam, sepatu sport hitam dipadu dengan blouse polos putih yang ditutupi jaket katun navy. Rian kembali menjejalkan ramyunnya setelah mengamati lelaki tadi, suapan terakhir Rian menyeruput kuah ramyunnya hingga menyisakan bulatan penuh dimulutnya. Sambil menahan batuk dan muntah, matanya membulat menatap seseorang yang mengernyit memerhatikannya.

“@#*-@#” lelaki itu makin mengernyit, entah apa yang dikatan gadis itu. “Sebelum kau menyemburku dengan semua isi dimulutmu, sebaiknya kau telan makananmu,-” ia meraih tangan gadis itu yang terkuai lalu membekam mulut yang penuh dengan makanan itu.

“Sa-Jang-nim, apa yang kau lakukan disini?”

Rian menunggu.

Namun Tak ada jawaban.

Rian mulai memanyunkan bibirnya sembari memutar bola matanya.

Mulutnya bergerak pelan-pelan, seperti terdapat ritme saat ia mengunyah makanannya. Rian memerhatikan tontonan langka itu. Gadis itu jarang menonton tv, bahkan iklan. Tontonan yang seperti ini yang malah membuatnya lebih tertarik, lebih nyata, terlebih bintang utamanya yang sangat menarik perhatiannya. “Sepertinya kau memang tertarik padaku,-” wajahnya tersentak bukan karena kalimat kebenaran itu, melainkan suaran hentakkan botol air mineral di atas meja.

“Eoh?”

“Kau memerhatiakanku seakan ingin memakanku,-” gadis itu ingin menimpali, namun rasanya bibirnya terkunci tak ingin bicara. Kalimat sebelumnya seakan melesak kedalam hati dan otaknya, ingin sekali rasanya ia menolak namun kenyataannya memang seperti itu. Rian menelan ludah.

“Apa kau tertarik padaku?” Tubuhnya mendongak sambil menopang dagu, wajahnya tenang ambigu menyembunyikan perasaannya.

Sehun menunggu.

Ingin rasanya gadis itu mengangguk bukan malah menggeleng seperti sekarang ini, tapi ia yakin itu yang seharusnya ia lakukan. “Well, kalau begitu aku yang tertarik padamu,-” wajahnya masih setenang tadi, berlawanan dengan raut wajah frustasi Rian, bahkan posisi duduknya sudah melorot. Detik itu tawa frustasinya terdengar berkisar beberapa detik lalu berhenti tanpa menghilangkan raut frustasinya dan berkata “Andwe!”.

Sehun mengangkat wajahnya, menyilangkan lengan didadanya dan bersandar dikursi. “Wae?” Timpalnya singkat. ‘Kim Rian Jebal, hentikan—hentikan. Sial kenapa ia begitu memesona,’- Rian menghembuskan napas pelan, mencoba mengubah raut wajahnya, alhasil “Meskipun kau tertarik padaku tidak akan merubah apapun, aku sudah punya kekasih,-” raut wajahnya terlalu berlebihan yang malah membuat lelaki itu mengernyit seperti tadi. ‘Nugu? Geu namja nugu-yaa?’ Sehun bedeham pelan lalu tersenyum manis amat teramat manis “Gwenchana, akan ku tanggung resiko itu, aku menyukaimu,-”

Badannya seketika kaku. Rasa ngeri dan takjub merasuk hingga menyesakkan dadanya. Entah laki-laki itu mempermainkannya atau tidak, terlepas dari itu, secercah kebahagiaan menyergapi dirinya. Ia tak bisa berkata-kata, tak bisa menggerakkan tubuhnya ditambah dengan senyuman manis yang ia tunggu membuatnya terpana dalam diam.

****

2 thoughts on “Beautiful Pain (Chapter 3)

  1. Aaaaakkkkk ayolah cepet sadar kalo kalian itu temen kecil! Huhu greget😭
    Trs itu Chanyeol kenapa…?
    Ditunggu kelanjutannya Author-nim!😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s